main

Daily LifeOpiniUncategorized

Ini Putaran Lari yang Berat, Putaran 20 Ini Memberikan Kita Banyak Cerita, Namun Kali Ini Ijinkan Ku Dahulu yang Bercerita, Silahkan Duduk dan Menikmati Kopi Bersama Ku Sejenak.

January 1, 2021 — by dewaputuam0

pexels-jeswin-thomas-1280162-960x640.jpg
Sumber Gambar  Skitterphoto from Pexels

Ku berlari menuju sebuah pemberhentian sementara dalam sebuah marathon yang sangat panjang. Sebotol air mineral kuteguk tergesa gesa, memang membuat tersedak dan naik salah jalur menuju hidung tetapi waktu ku rasa tidak boleh disia siakan. Putaran marathon ini terasa berbeda dari putaran sebelumnya. Di putaran  ini kita dipaksa untuk bergerak sendiri tak lagi beriring iringan bersenda gurau dan apa sulit juga melakukan apa yang dulu biasa kita lakukan saat menapaki setiap jalurnya. 

Pada marathon putaran 20 ini banyak kerikil tajam dan kadang menyakitkan. Tapi di putaran 20 ini harus ku akui banyak sekali pelajaran yang telah kita dapatkan. Pelajaran dari setiap tapak langkah kaki kita pada jalan berkerikil yang kita lalui hingga halang rintang sungai, bukit kecil menanjjak hingga jurang curam yang kita sudah jelajah bersama. 

Ku menyeka keringat dan sedikit mengingat awal dari putaran 20 ku. Sedikit melihat ke belakang sambil menikmati udara segar pepohonan, rerumputan dan tanah yang menghamburkan aroma menghanyutkan akibat diguyur hujan semalam. Sedikit melegakan kita sudah sampai sejauh ini namun sedikit berdebar mengingat apa yang ada di putaran 20 bukan tidak mungkin masih akan kita tantang di putaran 21. Sedikit mengecewakan semua belum selesai dengan sempurna, tetapi maraton ini tetap berlanjut. Masih ada hal hal seru menunggu di depan sana.

Perpindahan Jalur Lari di Putaran Ini Memang Berat dan Gelap, Namun Pelita yang Kita Nyalakan Bersama Mengubah yang Benar Benar Gelap Menjadi Sedikit Temaram dan Perjumpaan Awal Kita dengan Halang Rintang Renik Bermahkota

Putaran 20 memang salah satu  putaran yang  spesial buat ku karena di awal  putaran ini ku mencoba untuk melanjutkan perjalanan dengan hal yang baru, setelah 3 putaran sebelumnya bersama tim orange yang menjelajah banyak jalur hancur dan tangis sedih orang terbang bersama capung di atas rerumputan kering terbakar, melewati tanah terbolak balik dan terhempas deburan ombak, akhirnya pada putaran 20 ku mencoba peruntungan di jalur yang lain. Jalu ini memang masih terasa gelap dan masih sedikit orang yang ikut berlari bersama namun kucoba langkahkan kaki di jalur ini dan ku pun berpikir akan ada hal yang menarik akan kulalui selanjutnya. 

Di awal putaran ini tanah begitu basah dan banyak genangan yang membangkitkan kenangan di 3 putaran lalu yang biasa berhadapan dengan genangan dan kenangan. Sedikit gregetan dan jengah jemari ini untuk ikut turut terjun bersama teman lama namun tak bisa. Ku sudah di jalur yang berbeda dengan mereka sekarang, meski saat banyak genangan di awal tahun tersebut hati ingin kembali berbicara dan menari namun saya rasa cukup sudah diputaran ini ku perlu belajar lagi hal hal baru. Itu poinnya, banyak hal baru yang harus saya pelajari di awal putaran 20.

Berlari Dalam Gelap Photo by Michael Foster from Pexels

Sedikit demi sedikit ku belajar tentang jalur baru ini, ku coba peruntungan untuk belajar menggunakan sepatu yang berbeda dengan sepatu yang dulu dan tali temali untuk mengencangkannya. Membuat temali itu menjadi sedap dipandang, setiap tetes keringat hembusan angin malam yang mengiringi langkahku belajar ku yakin suatu saat akan ku petik. Ku belajar sambil berlari perlahan ikut melihat bersama orang dari dunia yang berbeda beda walau kadang ada sedikit kerikil yang menusuk sela antara jempol kaki dan jemari lainnya. Ku belajar menulis dengan ikut pelatihan menulis, memang bukan untuk berlari namun  saya rasa itu cukup penting. Ku juga belajar membuat gambar dari angka angka dengan ikut beberapa pelatihan online, tentu tidak sambil berlari, itu semua kulakukan sembari menyeruput secangkir kopi di warung anomali.

Ada beberapa kesempatan ku harus bergeser untuk berbalik sejenak ke jalur yang lama yah untuk melintas sejenak yang tak ku sangka cukup menyakitkan. Keluhan dan jengah kadang memang muncul tetapi ku tau tak bisa berlama lama rasa segan, ragu dan  bercampur lapar  ku langkahkan kaki untuk belajar. Namun raut wajah teman perjalanan yang dulu  ramah dan riang tak kusangka di putaran 20 ini sudah cukup banyak perubahan. Keramahan itu sudah sedikit hilang dan ku kecewa namun yah semua sudah berubah mungkin ada banyak permasalahan yang hinggap, akhirnya perjumpaan itu tidak berlangsung cukup lama. Padahal ingin rasanya untuk mendengar cerita cerita mereka. Ku sadar kecanggungan dan rasa asing itu memang normal terlebih saat kita berpindah jalur dari jalur lama yang banyak memberikan kesan. Rasa sentimentil kita kadang sedikit merapuhkan bahkan pada orang orang yang punya nafas  kuat sekalipun. Hehehe

Kita lanjutkan lagi, beberapa hal terus ku lihat, perhatikan dan pelajari  di sela perjalanan dan istirahat beberapa lembar koran bergambar diagram batang dan kue tart, Jalur jalur sigmoid coba ku coba ukir pada tanah di dekat tempat istirahat sementara kala itu sembari sesekali iseng bertanya kabar dengan teman teman lama. Semua itu kulakukan dengan persisten. Sembari melihat berita tentang halang rintang jauh di timur seberang laut sana yang sesekali ku menulisnya namun bukan tentang halang rintang renik bermahkota itu tetapi pada bagaimana kita tetap menjadi manusia. Yup halang rintang renik bermahkota kala itu masih jauh di seberang lautan, namun ada rekan tim lari maraton saya yang baru yang tiba ke jalur ini kami bersembilan beberapa kali  mengadakan pertemuan untuk men Cari! Beberapa hal yang pantas kami cari!, memetakan dan membuat jaring jaring permasalahan tentang maraton bersama rekan yang sudah lama di jalur ini, pak sanjungan namanya. Beberapa perbaikan jalur gelap kami coba nyalakan sedikit demi sedikit lentera, belum begitu terang namun cukup temaram untuk membimbing langkah kita bukan nya itu hal yang baik bukan hehehe. Soal halangan renik bermahkota itu, jangan ditanya lagi bahkan kini semua telah ada dimana mana ya yah sudah lah mau bagaimana lagi ya itu sudah masa lalu, mahkotanya pun sudah berganti ganti dan kita tidak tahu akan kemana lagi.

Berlari di Dua Jalur, Melelahkan Memang Namun Ada Kalian dan kamu yang Menyemangatkan dan Memberi Harapan

Setelah berkutat di Jakarta ku putuskan untuk kembali ke rumah di Lampung. Banyak perdebatan dan sesekali juga kerikil yang menyayat hati. Lihat tu tetangga si-A sudah bisa beli rumah, lihat tu tetangga si B sudah menikah dan punya anak dan gajinya sekian juta lihat si Z sudah seperti ini. Kenapa kamu tidak seperti A daftar di sini daftar di situ.  Hehehe menyebalkan memang, tapi ya sudahlah walau kadang menusuk sekali dan tak kuat mendengar kata kata menyebalkan seperti itu tetapi ku rasa perjalanan masih panjang dan ku kuatkan saja sembari membaca beberapa buku ringan. Everything is F*cked karya mark manson, Talk to Stranger karya Malcolm Gladwel dan beberapa buku yang sayangnya belum berhasil saya selesaikan seperti buku Leonardo Da Vinci karyanya Walter Isaacson, Data Science for Business karya Foster Provost.

Akhir maret tetiba ada miscall dari “kenalan lama”. Sudah lama ku coba untuk menghubunginya hahaha. Walau awalnya ku kira hanya misscall tetapi, saat itu perbincangan cukup seru. Dan komunikasi dengannya memang cukup sulit si, untuk sekedar berbincang dengan nya sudah bersyukur sekali, hehehe. Biasanya hanya hai apa kabar, hai selamat ulang tahun ya hai selamat A hai selamat B. Setelah sekian lama tak bertegur sapa akhirnya saya bisa lagi berkomunikasi dengan kawan lama, dia baik dan ramah meski terkadang sulit dipahami namun dalam setiap istirahat pekan belakangan ku coba menghubungi untuk bertanya kabar dan mendengar suara khas dan tawa renyahnya sekaligus berdiskusi ringan dan berat untuk mendengar pendapat pendapat yang tak jarang sulit ditebak 1 jam 2 jam dan 4 jam. Ku cukup senang dan bahagia untuk hal itu nice and thank you 🙂 . Oke next, anggap aja ini kisah sudah cukup lah ya ku ceritakan. Ku sediki belepotan kalau harus cerita cerita soal yang macam ini. Ku lanjut cerita ke hal lain kalau begitu.

Photo by Samuel Silitonga from Pexels

Pada akhir juni ku mendapat kesempatan untuk berdiri di dua jalur ku pun terbang ke arah tanah asal leluhurku dulu. Untuk bergeser saat itu cukup rumit, banyak hal yang perlu dipersiapkan dan sangat ketat aturannya. Banyak keraguan ku saat itu. Yang pada waktu biasa melompat kesana hanya butuh waktu satu jam namun karena halang rintang renik bermahkota semua menjadi rumit, dari memperoleh perizinan sampai segala tes harus dijalani. Berbagai protokol dan jalur jalur lewat yang relatif sulit juga harus ditempuh bahkan harus menginap di tempat penginapan di bandara.

Sesampainya di jalur baru ku juga menemukan banyak hal baru dan pemandangan baru walau karena jalurnya memang searah dengan jalur 3 putaran ku yang lalu sesekali ku berpapasan dengan kawan lama dan guru lama, beberapa orang yang memberikan banyak waktu dan banyak ilmu pada ku dulu tetap berlari searah tujuan. Salah satu dari mereka ada Beliau yang sempat berpesan bahwa kita masih satu nafas.  Sedih memang kalau mengenang beliau kini sudah tidak ada. Beberapa pimpinan jalur yang di 3 putaran lalu berlari bersama juga kini sudah menjadi pemimpin kelompok yang lebih besar dan memiliki tempat yang lebih berkilau, Beliau beliau ini saya salut dan segan karena meski di tempat baru yang lebih nyaman beliau beliau ini masih ramah dan bersahaja seperti dulu bahkan sesekali ada yang menghubungi sekedar saling mengingatkan dan bertukar kabar.

Perjalanan terus berlanjut, kakiku sedikit terasa pegal namun ku tau kita tidak boleh menyerah. Pada putaran kali ini ku mendapat  tambahan semangat semangat baru dan harapan baru.  Perjalanan terus bergulir, tak lagi hanya kerikil yang menyertai kadang yang menusuk bak duri dari tumbuhan putri malu dan ilalang yang sekedar menyapa merasuk hingga dua cm ke dalam kulit. Namun yang paling menghalangi diri justru dari dalam diri kita sendiri sebuah perasaan yang sangat sulit untuk menghadapi rasa jenuh, rasa malas, dan rasa ingin menyerah disaat hal sulit terus bergelayut kesana kemari. Memang tak jarang tak mampu kita atasi dengan baik terkadang ku menang melawan namun tak jarang juga ku harus rela mengaku kalah. Ini yang sulit bukan. Karena sulit ku juga harus ku akui ku bahkan sering tidak mengakui hal itu.

Yang Menguatkan di Putaran 20 dan Harapan di Putaran 21 yang Mungkin Sama gelapnya namun Ku yakin Kita Bisa Melalui yang Ini Lagi

Hal yang menguatkan ku di putaran 20  tidak lain karena ku telah berinvestasi pada banyak hal. Bukan bukan investasi pada emas, pada reksa dana, saham atau pada perangkat pendukung saja namun investasi terbesar yang paling memberikan arti paling besar bagiku selama putaran 20 ini adalah investasiku pada diri sendiri pada otakku, pada hatiku dan juga tentunya pada hubungan ku pada yang lain bertegur sapa dan bertanya kabar. Karena semua itu, ditambahkan berbagai macam keberuntungan dan usaha ku boleh anggap putaran 20 ini berhasil kulewati dengan cukup baik. Untuk itu melalui tulisan ini ku ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan berkah dan karunianya selama ini, pada diriku yang tetap bertahan dan tangguh di masa sulit, kepada orang tua kepada teman yang terus mendukung, kepada “Dia” yang menenangkan dan menyenangkan, dan juga kepada para “guru-guru” yang selama ini membimbing setiap jalanku, pada rekan baru yang memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berarti dan pada semuanya yang meski sekelebat namun memberikan peran dengan berbagai porsinya. Ku mensyukuri semua itu. Berkat semua hal yang kusebutkan tadi target target ku di putaran 20 ini banyak yang tercapai bahkan terlampaui berlipat lipat. Menyenangkan sekaligus menegangkan.

Menjadi manusia, itu saya rasa akan menjadi kunci kita kedepannya. Bukan hanya manusia yang menginginkan hidup, bernapas dan berkembang biak namun menjadi manusia yang berharap dan berusaha untuk menorehkan arti pada manusia lainnya dan pada segala di sekitarnya. Di putaran 21 ini fokus ku akan tetap berinvestasi pada otak dan hati dan juga pada hubungan, meneruskan hal yang tertunda. Membaca berbagai referensi tentang penyelesaian permasalahan yang terstruktur (Lean Analytics, Six Sigma) dan belajar dalam mengelola data berupa kata lanjutan dari putaran 20 dan juga beberapa literatur lain yang saya temukan nanti. Target 25 buku pada putaran 20 lalu yang hanya berhasil saya selesaikan 7 agaknya sangat nista dan saya berharap di putaran 21 ini saya berhasil menuntaskan 30 buku. Saya juga akan membaca berbagai artikel artikel lucu dari HBR, dan Medium. Oia saya juga berusaha menulis blog setidaknya seminggu sekali ya. Soal hubungan pertemanan dan percintaan saya hanya bisa berusaha lebih konsisten dan persisten saja lalu kemudian serahkan pada yang diatas hehehe. Untuk hal ini perlu ketulusan luar biasa yang perlahan meski sulit perlu kita terus pelajari dan kita terapkan dalam keseharian. Yah sekali kali khilaf tidak apa. Memang hal ini tidak berkaitan terlalu erat dengan perlombaan lari kita namun entah perasaan saya saja namun saya yakin akan bermanfaat di kemudian hari.

Photo by Jeswin Thomas from Pexels

Soal kesehatan sudah sepatutnya ku akan menjaga kebiasaan-kebiasan baik berjogging di setiap minggu, dan makan makananan yang enak macam babi guling es krim, mie ayam hehehe. Terkait karir ada hal yang memang perlu sangat saya perbaiki baik dalam manajemen waktu dan pengelolaan mood saat bekerja agar lebih produktif, saya akan mulai mengetatkan dan menyehatkan jadwal kegiatan saya. Dan terkait finansial yang dulunya saya berharap meningkat 10 kali lipat dibandingkan putaran 19 ternyata secara mengejutkan berhasil tercapai. Yang saya harapkan pada putaran 21 ini akan saya bukan coba sepuluh kali lipat lagi namun lebih dari itu ku ingin menjadi lebih bijak dalam mengelola keuangan. Lebih banyak berinvestasi pada hal hal yang berguna dan bermakna sembari meningkatkan dan berjaga jaga agar tidak terjebak pada orientasi pada uang yang berlebihan dan saya rasa itu jelek sekali dan merusak kesenangan kita dalam bekerja. 

Itu saja yang kuharapkan di putaran 21. Saya rasa tulisan ini sudah terlampau panjang dan mengarah tidak tahu jundrungannya. Rencana ini memang masih sangat abstrak dan belum terperinci, saya sadar hal itu. Namun saya rasa berlayar tanpa peta akan mengasyikkan. #mungkin.

Selamat tahun baru semua. Mari kita berlari lagi, dan lalui semua ini bersama, mungkin berat di depan sana namun tidak ada salahnya kita untuk tetap berharap.

Yah, memang akhirnya putaran ini berhasil kita lalui bersama, namun kita pun mengetahui kalau tidak sedikit  yang kurang beruntung hingga mereka tidak mampu mencapai titik ini. Mereka yang kita kenal yang berbicara diskusi dan bercengkrama mungkin tidak akan lagi bisa melanjutkan marathon ini menuju putaran 21 22 dan putaran putaran selanjutnya. Namun ku tersadar ini bukanlah sekedar perlombaan maraton. Ada berbagai tongkat mimpi yang saling kita pertukarkan antara pelari satu dan pelari lain. Ada tongkat harapan yang kita bagi antara pelari satu dan pelari yang lain.  Ada pula tongkat berbalut tetes keringat, tangis bahkan darah yang kita genggam bersama untuk membawa perjalanan kita berarti bagi pelari pelari berikutnya. Maraton putaran kali ini memang cukup berat. Namun bukan berarti tidak ada harapan sama sekali, tidak ada mimpi yang bisa digapai tidak ada pertolongan yang bisa diharapkan. Dalam putaran ini kita diajarkan bersama tidak berbatas pada bersama dalam jarak. Namun lebih dari itu, kebersamaan memiliki artian yang lebih luas, kita punya satu nafas, kita punya satu arah. Tetap bersama mari kita bersama berlari melanjutkan hal yang telah kita rintis di putaran putaran terdahulu bersama pelari yang dahulu untuk menyongsong jalur dan senyum yang baru. Dengan begitu kita akan tetap menjadi manusia. 

NB:

Feature Photo by Jeswin Thomas from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Cerita tentang Tak Pasti

December 9, 2020 — by dewaputuam0

pexels-pixabay-258510-960x720.jpg

Aku pasti jatuh lagi yah,..

kata seorang anak kecil berkaki kecil kepada ayahnya sambil menuntun sepeda kecil beroda dua. Dua roda mungil tambahan yang biasa terpasang di kanan dan kiri roda belakang sepeda hilang entah kemana. Ia memiliki keinginan keras untuk menaiki sepedanya, namun hilangnya roda tambahan yang selama ini menopangnya membuat ia berpikir lebih banyak dari biasanya. Jatuh adalah satu satunya yang terpikir olehnya, sebuah bayangan ketakutan akan sakitnya saat jatuh terus bergelayut di antara alam pikirnya yang masih sebatas mata memandang saja.

Belajar Sepeda itu Sulit dan Menyakitkan Apalagi saat Terjatuh

Sambil tersenyum jahil sang ayah pun memutar bola matanya dan seketika sudah berganti wajah menjadi penuh semangat dan gairah, ia dengan perlahan berkata 

“Pasti jatuh..? yakin ?” senyumnya tersungging kecil menggoda anaknya yang sedang bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Bahunya mulai melebar dan merentangkan tangan bersiap siap menjaga jaga segala kemungkinan seiring gerakan si anak kecil itu yang mulai bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Tanpa sepengetahuan si anak kecil, ia memang telah menyembunyikan kedua roda tambahan dari sepeda kecil anaknya. Trik sederhana dan kebohongan kecil yang sengaja dilakukan agar si anak kecil itu dapat memulai kayuhan pertamanya tanpa ditopang roda bantu lagi.

Sepeda (Sumber: Photo by Roman Koval from Pexels)

Anak kecil berkaki kecil itu kembali ke posisi siap mengayuh sepeda kecilnya lagi dan sang ayah berada di sekitar anak kecil itu. Kaki kanannya  mulai diletakkan di pedal sepedanya dan memulai kayuhan pertamanya. Sepeda Pun mulai bergerak namun terhuyung kekanan dan kiri, genggaman anak kecil itu pada setang sepeda kecilnya masih belum terlatih untuk menjaga putaran ban sehingga meliuk kanan dan kiri sebelum jatuh terjerembab. Berkali kali anak kecil itu terjatuh lagi dan lagi hingga akhirnya bersama jingga langit senja, samar samar terlihat siluet anak kecil itu mengayuh sepedanya jauh dan terus menjauh dari sang ayah.

Dari apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir, banyak hal yang saya pelajari dari hal yang sangat remeh seperti menyimpan buah pisang di dalam lemari es ternyata bukan ide yang bagus karena pisang akan rusak dalam waktu semalam saja. Pelajaran tentang bersepeda,  Hingga hal hal yang kurang begitu sederhana seperti yah sudah lah tidak perlu dibahas di sini. Hehe.

Ini Cerita Tentang Tak Pasti

Namun pelajaran yang menurut saya penting dan menurut saya tetap relevan setidaknya hingga beberapa dekade ke depan adalah tentang “Ketidakpastian”. Dari apa yang terjadi selama ini “Ketidakpastian itu satu-satunya yang pasti”. 

Ku banyak belajar tentang ketidak pastian ini dari berbagai kegagalan yang saya hadapi selama ini, saya rasa semua orang tentu pernah merasakannya. Tentunya dengan porsinya masing masing. Adanya ketidakpastian yang menari indah bersama ekspektasi yang tinggi ditambah dengan bumbu bumbu kurangnya keberuntungan, dan berbagai faktor x kadang membawa kita pada kegagalan. Namun dalam berbagai situasi yang bumbu bumbunya sama tidak jarang justru membawa kita pada keberhasilan yang bahkan tidak pernah kita duga sebelumnya.

Jika tidak mau disebut semua, saya akan PD berkata bahwa “Hampir segala” hal disekitar kita mengandung suatu ketidakpastian. Ada ketidakpastian di dalam permainan dadu, dan bahkan ada pula ketidakpastian arah terbitnya Sang Raja Siang. Sang Mentari tidak pasti selalu terbit dari arah Timur. Beberapa bulan ini condong ke Utara lain waktu condong ke Selatan. Secara semu terus aja begitu berganti arah terbit sambil menebar ketidakpastian pada angin, hujan, badai dan sanak perudaraannya. Dalam sesuatu hal yang kita anggap pasti bukan tidak mungkin tanpa diduga akan ada suatu penyimpangan yang membuat kadar kepastian itu tidak lagi 100%. 

Hal ini menjadi kian tidak pasti saat kita sama sama memasuki tahun 2020 yang oleh sebagian orang “mungkin” menjadi salah satu tahun terburuk yang pernah kita rasakan. Saya mengatakan “mungkin” karena pernyataan itu juga mengandung ketidakpastian. Tentunya saya tidak ingin melanjutkan kalimat kini pada kemungkinan kemungkinan lainnya mengingat sudah terlalu banyak kehilangan yang kita rasakan pada tahun 2020 ini. Entahlah dengan 2021 yang akan kita songsong dalam waktu dekat ini.

Saat saya membuat tulisan ini awalnya saya sangat PD bahwa “Pasti itu tidak ada”. Dan ternyata setelah dipikir pikir, bahkan pernyataan itu pun bukan pernyataan yang pasti. Hah sudahlah agaknya tidaklah perlu kita terlalu memikirkan dan mencurahkan segala pikiran kita pada sesuatu yang tak pasti. Jika meminjam istilah pada film yang baru saja tamat pada minggu kini, 

“Berlayar tanpa Peta” agaknya menjadi sesuatu yang menarik untuk dilakukan, tentunya bukan serta merta dengan bodohnya bergerak tanpa kendali dan arah yang pasti. Tetapi saya justru melihat berlayar tanpa peta juga berarti dalam menjalani hidup tidaklah perlu mempunyai perencanaan yang terlalu detail dan membebani. Peta yang ada saat ini, tidaklah secara pasti menggambarkan situasi saat ini, bukan tidak mungkin banyak perubahan yang terjadi yang menyebabkan saat kita terlalu terpaku pada peta justru kita tidak mampu merespon apa apa saja yang terjadi sekarang dengan cekatan. Semua hal berubah dari ombak hingga angin, bahkan tujuan kita juga terkadang dalam suatu situasi diharuskan berubah karena sesuatu dan lain hal. Kembali lagi pada tidak pasti.

Namun apapun itu justru dengan ketidakpastian itulah yang membuat perjalanan kita menjadi menarik bukan. 🙂 (Jadi penasaran apa yang akan terjadi kedepannya).

Yup apapun yang ada di depan ntah itu menyakitkan ataupun justru menyenangkan agaknya akan semakin seru dan menarik. Mungkin ini awalan yang cukup baik untuk memulai perjalanan baru ini sebuah perjalanan yang panjang. Sebuah perjalanan yang tak pasti.

Feature Photo by Pixabay from Pexels

BencanaOpiniPsikologiUncategorized

Cerita Tentang Riuh di “Stadion tanpa Pertandingan”

September 22, 2020 — by dewaputuam0

pexels-garret-schappacher-2115874-960x1174.jpg

Hei, bangun kawan.

Tetiba samar suara seseorang membangunkanku, kucoba buka mata dan mulai memasang telinga ini untuk kembali tersadar. Entah berapa lama ku tertidur hingga lupa saat ini sedang berada dimana. Suasana ini begitu asing bagiku. Puluhan, mungkin tidak, ini jelas lebih dari itu. Ratusan pun ku yakin sudah terlewat. Saya rasa ini ribuan. Mungkin sekitar 90 sampai 100 ribu, gumamku dalam hati. Atau kita anggap saja ini 99.354 orang. Kita samakan saja dengan kapasitas tempat duduk Stadion milik klub bola raksasa dunia Barcelona yakni Camp Nou. Angka yang cukup riuh ya. 

“Hei kenapa kamu malah bengong” suara yang membangunkanku kembali muncul dan kali ini tidak samar karena telingaku saat ini sudah mulai terpasang rapi untuk kembali bekerja seperti semula. Kantuk yang terawal tadi bergelayut kuat menutup kelopak mata dan dan menyayupkan ke semua indraku kini tergantikan dengan rasa bingung dan limbung khas layaknya orang yang memang baru bangun dari tidurnya.  

Ramai penonton sepak bola, saya tidak tahu ini stadion mana. Hanya keramaiannya saja yang ingin saya tampilkan dan ingin rasakan di sini (Photo by Riccardo Bresciani from Pexels)

Riuh suara ribuan orang perpaduan antara dengungan lebah madu beradu tidak karuan dengan teriak teriakan khas menyakitkan telinga ku yang baru beberapa detik lalu terlelap tidur bersama indra penglihatan dan indera perasa milikku. Genderang besar, lebih dari satu bergelegar bertabuh-tabuh tidak karuan dan tentu saja tidak membantu sama sekali dalam mengharmoniskan suara lebah dan teriakan orang orang yang ada.  Payah sekali memang, gumamku lagi dalam hati.

“Ku cari cemilan dan kopi dulu ya, sepertinya kamu masih ngantuk ya, dari tadi kulihat mata kamu masih kosong dan belum benar benar disini” Sapa orang tadi dan kemudian berdiri mengorek ngorek saku tasnya mengambil beberapa lembar uang kertas lalu beranjak pergi.

Benar saja, nampaknya ku memang sedang berada di sebuah stadion sepak bola yang sangat megah. Ku melihat sekeliling ku, orang orang disini sangat beraneka ragam. Dari warna rambut sampai warna kulit, meski sebagian jelas terlihat beberapa seperti berasal dari Indonesia, pahatan wajah dan gestur yang khas itu tampaknya masih jelas terlihat dari sekian banyak orang #mungkin. 

Ramai Riuh Mereka Mereka itu di sini, dari Tribun Penonton

Orang orang disekitarku sangat beragam dari usia dini sekali sampai usia senja yang tampaknya menuju malam. Ada yang sendiri duduk termenung sambil memakan cemilan dan minuman ringan. Ada yang berdua mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua. Ada yang bertiga bahkan ada yang rombongan, mungkin mereka itu sekeluarga. Dari kakeknya, neneknya, ibunya, dan cucu cucunya. Mereka bercanda dan bersenda gurau saling melemparkan senyuman dan berbagi camilan. Bahkan sesekali tampak pula seorang ibu yang sedang memangku anaknya yang masih sangat kecil. Heran sih kenapa anak sekecil itu dibawa ke tempat seramai ini. Namun saya membuang jauh jauh pertanyaan itu, ku yakin ada alasan spesifik yang memang mengharuskan anak sekecil itu dibawa kemari. 

Mataku menyapu sekeliling. Perhatianku tertuju pada seorang wanita, mungkin berumur 30 tahunan sedang kesulitan menelpon seseorang diluar sana. Dalam keriuhan seperti ini memang sulit untuk sekedar berbicara via telepon entah itu terganggu oleh keriuhan yang ada atau secara kejam terbawa angin dan membaur entah kemana. Angin tampaknya memang menjadi salah satu yang menghalangi keperluannya itu, sayup sayup suaranya bahkan sampai pada telingaku yang terpaut tiga bangku sebelahnya. Sayup terdengar “Jaga baik baik si kecil ya pa, jangan lupa makan…. Ssskkkkk”. Itu saja yang mampu ku dengar. Tampaknya ia sedang berpesan pada suaminya yang sedang mengurus anak di rumah. 

Ku tersenyum kecil melihatnya. Aneh, kenapa malah si ibunya yang pergi nonton di stadion ini bukan si ayah. Tersenyum senyum kecil ku melihat kejanggalan itu. Belum sempat senyum kecil ini ku tuntaskan, mataku kembali ditunjukan pemandangan yang sulit untuk dilewatkan. Seseorang di bawah ku sedang mengetikan sesuatu pesan pada ibunya. 

“Bagaimana kabar ibu di rumah?” ,.. Begitu kira kira sekilas pesan yang “tak sengaja” terbaca olehku. Oke, harus ku akui itu bukan tidak sengaja tapi memang sengaja ku lirik dengan sedikit trik (mengikat tali sepatu untuk menunduk dan mengintip pesan itu hehe). Laki laki seumuranku ini ternyata sedang mengirim pesan kepada ibunya.

Ku terus menyisir melihat hal hal yang kuanggap menarik untuk dilihat lagi, banyak sekali hal unik di sini. Entah apa yang mereka tunggu sendari tadi. Lapangan hijau di bawah sana belum ada tanda tanda akan ada sebuah pertandingan, disini juga tidak ada tanda tanda konser besar apalagi sebuah kampanye politik. Entah apa yang mereka tonton dari tadi. Untuk apa mereka bersorak bila tak ada pertandingan yang sedang mereka tonton, untuk apa pula mereka bersedih.

Ku berpikir kejanggalan-kejanggalan yang sebelumnya tidak tertangkap oleh sapuan mata ini kini mulai muncul perlahan lahan. Kenapa mereka ini, apa yang sedang mereka tontong. Mereka berpakaian biasa, bahkan ada yang berpakaian yang tidak umum kita temukan dalam sebuah pertandingan bola. Semula ku menganggap memang kostum kreatif mereka yang sedikit nyeleneh, sama seperti pertandingan bola yang terkadang ada saja yang berkostum aneh namun meriah. Namun kali ini berbeda, aneh dan tidak meriah bercampur jadi satu. Berbaju seperti dokter lengkap dengan masker dan perangkat seram lainnya. Meski ada yang berkaus bola namun kebanyakan dari mereka berpakaian biasa dari T-shirt biasa hingga jas yang rapi. Apakah ini memang pertandingan bola memang temanya tidak umum.

Ini minumanmu, Seperti yang Kamu Lihat Kami yang di Sini Beberapa Bulan Lalu Masih Bersama Kalian, Sebagian Lagi Baru Sedetik yang Lalu Datang ke Sini

Minuman ini untuk mu, segarkan sejenak pikiranmu dan coba lihat sekali lagi apa yang ada. Jangan ada yang tertinggal (Photo by Darius Krause from Pexels)

“Hei ini minuman untukmu” Orang yang diawal tadi membangunkanku membawaku satu cup minuman ringan. 

“Kenapa? Masih ngantuk kah, oia mungkin kamu heran dengan stadion ini ya. Kamu memang belum di sini, dan ku harap kamu tidak di sini si, ku harap begitu. Ku sengaja ajak dirimu sesaat kesini untuk sesekali mengunjungi kami. Kami hanya ingin bilang, 

Ini kami. Yang kamu lihat sekarang ini hanya satu dari sepuluh stadion yang ada. Seperti yang kamu lihat tadi kami seperti kalian ya, punya keluarga dan punya orang orang yang kami sayangi dan menyayangi kami. Kami bukan hanya angka kawan.” katanya lirih sambil memberikan senyuman kecil 

Ku terbangun dari tidurku, kali ini bukan di stadion yang riuh tadi. Hanya di sebuah sebuah kamar kecil yang sepi. Ku sejenak melihat jam tangan dan kemudian membuka laptopku untuk menulis tentang ini Cerita riuh stadion tanpa pertandingan.

Tulisan ini terinspirasi dari Video Narasi yang berjudul Mengapa Data dan Angka Kasus Positif di Indonesia Diragukan? | Buka Mata.

(Feature Photo by Garret Schappacher from Pexels)

Daily LifeOpiniUncategorized

Apa itu Kemerdekan?

August 17, 2020 — by dewaputuam0

pexels-bayu-jefri-1387037-960x638.jpg

Ku membuat tulisan ini sembari memandangi langit langit dalam kamar kosan 4×4 meter. Jemari menari di atas papan ketik, tidak tahu dan tidak tentu akan menulis apa, biarlah, kubiarkan ini semua terjadi. Sudah sekian lama mungkin ia menjerit dipaksa untuk menulis, dan menari untuk sesuatu hal yang lebih serius dari biasa biasanya. Mungkin ini dapat saya anggap sebagai sedikit dari sekian banyak arti dari kemerdekaan. Kemerdekaan untuk menjadikan jari jemari di atas papan ketik mengutarakan hal hal yang ingin diungkapkan tidak perlu mengikuti aturan aturan baku yang ada, tidak mengikuti arahan yang ada, tidak memerlukan tujuan yang spesifik. Meski tentunya hasilnya tidak akan seserius itu, namun setidaknya beberapa menit yang berharga ini kubiarkan jemari ini merdeka untuk menulis.

Merdeka itu tentang apa? APakah sekedar pada bebas melakukan apapun yang kita inginkan? sesederhana itukah hal yang diimpikan dan diperjuangkan oleh para pahlawan kita terdahulu? (Photo by ahmad syahrir from Pexels)

Kadang memang kebahagiaan akan kemerdekaan sesederhana itu saja, tidak lebih dan tidak kurang, hanya pada kemerdekaan spesifik, entah itu menulis, membaca, berlari, berteriak atau hanya sekedar menghempaskan  tubuh ke atas kasur, dan kemudian melekat dan dan bukan hanya untuk yang sesaat #taat. Terlalu dipaksakan ya, hahaha, tak apa, ini kemerdekaan menulis apa yang diinginkan oleh jemari ini untuk tertulis maka akan tertulislah. 

Saya tidak begitu paham dan mengerti apa yang akan dihasilkan tulisan ini namun ini terus mengalir tanpa perlu penjelasan sedikitpun. Tanpa perlu ada keraguan sedikitpun, hanya menulis apa yang ingin diungkap saja. Mari kita berbicara tentang hari ini, bukan sesuatu yang spesial namun hanya ingin bicara tentang hari ini saja, tidak lebih namun juga tidak begitu kurang. Apa itu kemerdekaan dimata kalian? 

Apa itu kebebasan?

Setiap orang bukan tidak mungkin atau malah bisa dikatakan sangat normal bila memiliki definisinya sendiri sendiri. Entah itu kemerdekaan dari sesuatu hal fisis, suatu esensi yang terjelaskan oleh kelima indra kita seperti ujaran yang tertangkap oleh indra pendengar, gerakan yang tertangkap oleh indra pendengar, sentuhan yang tertangkap oleh indra perasa, rasa asin, manis, pedas yang tertangkap oleh indera pengecap, bahkan kentut yang menusuk langsung tak terbendung ke relung hidung. Maaf saya terlalu frontal menyebutkan kentut, karena saya kurang begitu tau kebebasan seperti apa yang dapat terasa oleh indra penciuman kita selain kentut. Oia, mungkin kita bisa menggantikan sebagai kebebasan untuk memilih harum atau bau ? mungkin itu sedikit lebih enak terlihat di mata dan terbaca pikiran teman teman. Itu semua kemerdekan dari suatu hal fisis yang terjelaskan oleh apa yang ditangkap oleh kelima indra kita. 

Ada bentuk/esensi yang tentunya tidak boleh kita lupakan untuk dimerdekan. suatu esensi yang layak pula kita merdeka kan. Esensi ini tidak dapat kita rasakan dan tangkap melalui kelima indra kita, sebuah esensi yang sangat halus. Ia tak mampu terkekang dan terjajah oleh apapun di luar dari diri kita. Yah, hanya diri kita lah yang dapat dan sayangnya sangat sering mengengkang dan menjajah esensi ini. “Pikiran kita” dan “Perasa kita”. 

Kapan terakhir kali kita memerdekakan kedua hal itu?

Merdeka itu apa, kawan, apakah hanya sekedar pada kebebasan untuk bertindak dan melakukan apapun yang ingin kita lakukan. Apa hanya sesederhana itu saja yang diperjuangkan oleh para pahlawan kita sampai mereka rela mengorbankan jiwa dan raga mereka? Hanya seperti itukah. Atau kemerdekaan itu memiliki arti yang lebih luas lagi, memiliki arti yang juga merdeka tanpa terbatas oleh arti yang sempit dan mengengkang.

Dirgahayu yang ke 75 Negeriku —-:Indonesia:—-

(Dewa Putu AM, 17 Agustus 2020)

Disclaimer
Feature Photo by Bayu jefri from Pexels

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Normal Baru” untuk para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

May 10, 2020 — by dewaputuam0

man-in-black-jacket-in-front-of-bicycle-4008393-960x640.jpg
Dalam beberapa perjalanan kita, kadang ada tawa kadang ada tangis. Semua pengalaman itu memindahkan dan menggerakan kita dari situasi satu ke situasi lainnya ntah itu lebih baik ataupun lebih buruk. Kita memang merindukan perjalanan kita memang merindukan semua hingar bingar pesta itu, namun satu yang paling kita rindukan adalah “Momen Kebersamaan kita dengan orang orang yang kita cintai” (Photo by Rodolfo Quirós from Pexels )

Hai, bagaimana kabar teman teman sekalian sekarang, masih sehat kan. Semoga kita semua diberikan kesehatan ya dan semoga juga pandemi ini segera diselesaikan agar kita dapat hidup “Normal” kembali. Mungkin akan sama, mungkin akan sedikit berbeda, dan bukan tidak mungkin juga akan sangat berbeda dengan “Normal” yang sebelumnya kita rasakan. Apapun bentuk normal yang teman teman bayangkan dan percayai, ijinkan saya untuk mengutip satu quotes yang menurut saya akan sangat relevan untuk situasi sekarang ini dari seseorang yang hampir dari kita semu mengenalnya.

We can not solve our problems with the same level of thinking that created them.

-Einstein-

Sebuah permasalahan tidak akan dapat terselesaikan pada level berpikir yang sama dimana masalah tersebut terbentuk. Begitu juga dengan permasalahan Pandemi Covid19 ini yang tidak akan terselesaikan begitu saja pada level berpikir yang sama dimana permasalahan ini terbentuk. Dengan kata lain, agar permasalahan Per-Covid an ini segera berakhir kita perlu meningkatkan level berpikir kita, kemampuan kita, lebih jauh lagi kita harus menjadi pribadi yang lebih baik dari pada sebelumnya. “We must, come back better guys!”.

Jika teman teman yang sedang membaca artikel ini adalah orang orang terpilih yang berhubungan langsung dengan penangana Covid19 ntah itu para boss, rekan maupun kenalan saya di BNPB, praktisi kesehatan dan organisasi kemanusiaan lainnya terimakasih atas perjuangan kalian dan saya mohon berusahalah lebih keras lagi- sedikit lagi agar kita kelak bisa tersenyum sekali lagi. Kami semua disini percaya dan bergantung pada teman teman sekalian. Kalian luar biasa 🙂 .

Ku tahu memang berat namun percayalah kalain bisa. Dan untuk teman teman yang tidak tersangkut paut langsung dengan penanganan covid19 ini, percayalah teman teman juga sebenarnyalah salah satu kunci keberhasilan kita untuk melewati ini semua. Dalam setiap kisah perjuangan, berhasil atau tidaknya ada kontribusi teman teman di dalamnya.

Ini Sekolah kita bersama, Ini ujian kita. Mungkin sebagian dari kita tidak mampu melewati ini “Sendiri”. Tapi jika bersama, rasanya kita pasti bisa kok

Kita masuk sama sama kita juga harus lulus sama sama. Jika kata BillGates dan Istrinya, kelulusan ini bukan sekedar berjalan ke atas panggung dan mengambil lembaran ijazah. Lebih dari itu, kelulusan ini menandakan awal dari fase kehidupan kita selanjutnya yang tentunya sangat berarti untuk dirayakan terlebih karena kita berhasil melewati cobaan yang begitu berat (Photo by malcolm garret from Pexels)

Ada sebuah artikel menarik karya Bill dan Melinda Gates dalam blognya yang berjudul “Our message to the class of 2020”. Dalam tulisan tersebut Mereka menganalogikan pandemi ini sebagai sebuah kelas 2020. Sebuah kelas global dimana kita belajar banyak sekali hal baru. Dalam kelas 2020 ini kita belajar tidak hanya permasalahan yang jauh diseberang lautan namun sebuah permasalahan kita bersama wabah penyakit, segala macam bencana akibat perubahan iklim, ketidak setaraan gender dan juga kelaparan berdampak pada setiap dari kita di belahan bumi bagian manapun.

Kita memang berada dalam situasi yang sulit dan getir, kita tidak perlu menyangkal itu dan membohongi bahwa ini baik-baik saja. Bahkan untuk sebagaian dari kita mungkin saja akan mengalami situasi yang lebih pelik lagi dari semua ini baik dari kondisi kesehatan dan atau kondisi perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun membayar semua hutang. Meski banyak pelajaran yang menyedihkan melihat ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan kesakitan namun tidak sedikit pula pelajaran yang baik untuk kita bawa di kemudian hari nanti yang membuat kita tersadar tentang masih adanya sisi kemanusiaan didalam diri kita.

Saya jadi teringat pesan salah satu guru saya, 12 tahun yang lalu saat mau ujian nasional SMA. “Wa, kamu sama teman-teman mu kan masuk sekolah ini bareng bareng. Jadi lulus juga bareng bareng ya. Jangan lupa saling membantu ya”. Ini tentang ujian dan disana ada sebuah prinsip yang diajarkan yaitu kita masuk sama sama kita juga harus keluar sama sama, jangan sampai ada yang tertinggal. Dalam situasi seperti sekarang, kita masuk ujian yang sama yang bernama Pandemi Covid19. Sama seperti ujian pada umumnya, meskipun soal dan permasalahan yang diberikan memanglah sama namun kemampuan kita menanganinya tidaklah sama ada yang mudah saja mengerjakan dan melewatinya dengan nilai sempurna, ada yang mudah mengerjakan namun ternyata salah semua, ada yang berkeringat diri kesulitan saat menjawab namun hasilnya tidak buruk dan bahkan bisa dibanggakan namun tentunya ada pula yang kesulitan dan hasilnya pun merah menyala berkobar menyalakan getir dan nestapa. Tingkat kesulitan yang kita dapati saat menghadapi ujian ini tidaklah selalu sama.

Jika mengambil istilah posting intagramTV yang populer itu, “Kita tidak di perahu yang sama” meski kita menghadapi badai yang sama. Meski saya rasa sedikit kurang tepat cara meanganalogikannya sebagai badai, karena akan semakin mempersulit bagi kita untuk melihat hal baik dari badai dibandingkan “sebuah ujian”. Jadi saya lebih memilih menggunakan istilah ujian dibandingkan badai, bukan masalah benar atau salah tetapi sekedar untuk mengatur maindset saya agar melihat situasi ini sebagai sesuatu yang lebih dapat kita hadapi.

Ujian seperti ini “Nyontek dan Bekerja sama itu Legal!” Manfaatkan semua peluang agar kita bisa melewati ini semua bersama

Ini akan menjadi sejarah kawan. Kita akan menceritakan ini pada anak cucu kita kelak. Bukan hanya sebuah cerita tentang kebetulan dan takdir, namun lebih dari itu. Ini sebuah cerita tentang kita yang tidak pernah menyerah dan terus berjuang untuk hidup kita dan untuk dapat mewarsikan dunia ini pada generasi berikutnya. Kisah yang bagus bukan untuk jadi sejarah. Yuk kita mulai tulis cerita itu. ( Photo by Janko Ferlic from Pexels )

Jika di ujian lainnya kita tidak diperbolehkan mencontek, untungnya di ujian 2020 ini nyontek itu legal hehehe. Kita dapat meniru dan belajar hal yang baik dilakukan oleh orang lain. Menirunya pun tidak begitu sulit, dengan sedikit usaha untuk menelusuri melalui jejaring Internet, dengan mudah kita akan melihat apa apa saja yang telah dilakukan orang orang disekitar kita bahakan orang orang dibelahan bumi lainnya. Meski tentunya kita juga harus sedikit memilah milah kira kira mana yang relevan dan mana yang tidak relevan. Bukankah itu juga yang kita temukan kala kita nyontek? tidak selamanya kita menyontek orang yang jawabannya benar dan bisa saja kita akan mendapat zonk.

Untuk menentukan apakah itu jawaban yang benar atau salah tidaklah mudah. Terlebih dalam kelas 2020 ini kita semua sama sama berhadapan dengan sesuatu yang memang baru. Jika hal demikian yang terjadi, biasanya kita mencontek siapa? tentunya bukan pada orang-orang random tak jelas kredibilitasnya seperti saya kan. Kerdibilitas, kemapuan orang orang disini menjadi kunci, jadi untuk kita sekarang cukup percayakan saja pada ahlinya. Namun tidak sepenuhnya permasalahan ini kita jawab dengan melihat dan hanya mengikuti para ahli tersebut karena ini ujian kita masing masing. Setiap permasalahan tentunya memberikan dampak yang tidak selamanya sama. Untuk menyelesaikan permasalahan yang bersifat personal tersebut kita perlu juga mengambil langkah dan berjuang sendiri. Ntah itu permasalahan kesehatan ataupun Ekonomi kita, berhasil atau tidaknya ada kontribusi kita secara individual di situ. Jadi selain berjuang bersama, dalam waktu yang sama kita berjuang sendiri sendiri.

Satu-satunya cara untuk menguatkan diri agar permasalahan yang bersifat personal kita dapat teratasi adalah “Naik Level” ingat qoute dari mbah Enstein yang saya sandur di awal tadi. We can not solve our problems with the same level of thinking that created them. Kita harus berevolusi dan menjadi dirikita yang lebih baik lagi baik dari yang paling dasar dan abstrak seperti kemampuan pemikiran kita, emosi kita, hingga pada kemampuan fisik kita yang juga harus lebih sehat lagi.

Ada beberapa langkah sederhana yang telah saya lakukan dalam beberapa bulan karantina pribadi di kelas 2020 ini, mungkin kita melakukan hal yang sama mungkin juga tidak, mungkin ini dapat dijadikan ide untuk kalian sembari menjalani hidup kita dirumah, namun mungkin saja saran ini tidak begitu ada gunanya. Kita semua punya permasalahan masing masing kan :). Pada prinsipnya sih saya ingin waktu yang diberikan oleh kelas 2020 ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan saya secara vertikal (lebih mendalami bidang keahlian saya) dan juga horisontal (memperbanyak kemampuan kemampuan baru).

  1. Baca buku: kegiatan ini mungkin sedikit membosankan untuk sebagian orang namun dalam kondisi seperti sekarang agaknya membaca buku bisa menjadi salah satu alternatif untuk memperkaya pengetahuan kita. Ada tiga buku yang menurut saya bagus untuk dibaca kala pandemi:
    • Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl, buku tentang logoterapi yang ditulis oleh mantan tahanan kamp pengkonsentrasian nazi yang terkenal mengerikan yang dimana semua kebebasan direngut dan terus menghadapi hari antara hidup dan mati. Gagasan yang disampaikan dalam buku ini saya rasa sangat relefan untuk menghadapi masa yang sangat sulit dan penuh siksaan.
    • Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Ini adalah buku tentang filosofi Stoa atau Stoicsm. Melalui buku ini kita diajarkan berbagai hal namun yang paling mengena adalah soal dikotomi kendali yang memisahkan mana yang dibawah kendali dan mana yang di luar kendali kita. Buku ini bisa membuat kita tidak membuang buang waktu pada hal hal yang tidak bisa kita kendalikan dan lebih terfokus pada apa yang dapat kita kendalikan. Untuk ulasan lebih jelas soal buku ini bisa teman teman baca melalui link ini.
    • Everything is F*cked karya Mark Manson. Sebuah buku tentang harapan yang tidak hanya menyuruh kita berharap secara kosong namun lebih pada realisistis dan bertanggung jawab terhadap harapan harapan kita. Dalam bahasa indonesia buku ini diterjemahkan sebagai “Segala galanya Ambyar” sesuai sekali bukan dengan kondisi sekarang. Teman teman bisa membaca ulasannya melalui link ini.
  2. Ikuti Pelatihan dan Seminar Online. Saat pandemi seperti ini jadi banyak diskon untuk pelatihan/seminar online, bahkan ada beberapa yang mengeratiskan. Rugi rasanya kalau segala kesempatan ini kita lewatkan begitu saja #Iyakan. Sebagai contoh saya bulan lalu sampai sekarang mengambil paket premium yang diskon untuk pelatihan data sains dari DQLabs lumayan lah latian koding tipis tipis siapa tau kan dan saya yakin akan berguna saat kita lulus kelas 2020 nanti. Pelatihan yang dapat teman teman ikuti bisa berupa pelatihan komputer, pelatihan gizi anak, pelatihan memasak, menjahit, hingga pelatihan untuk olah raga di rumah untuk menjaga kebugaran. Semua itu terserah mana yang temen temen sukai dan minati.
  3. Tetap Menjaga silaturahmi dengan Kawan dan Sahabat: Komunikasi adalah kunci. Meski kita harus menjaga jarak selama pandemi ini namun jangan biarkan jarak fisik ini juga memisahkan memperjauh jarak komunikasi kita pada teman teman kita. (ku kemarin sempat keluar dari salah satu grup temen temen mantan kantor sik, bukan untuk melebarkan jarak tapi biar g ganggu saja kesibukan mereka sekarang soalnya saya rasa akhir akhir ini ku malah banyak ngeganggu hehehe) tapi secara personal tetap lah saya coba sesekali sekedar saling berbagi kabar dan candaan meski tidak jarang agak hambar dan gring tapi tak apa lah bisa dimaklumi dalam kondisi darurat seperti ini #Yekan.

Ketiga poin tersebut pada dasarnya adalah pengalihan Investasi. Investasi yang tidak hanya secara finansial namun juga personal kita. Saat situasi yang tidak begitu jelas ini. Berbagai instrumen investasi (Saham, Reksa Dana, Emas) menjadi goyang dan tak tahu akan kemana arahnya. Saat seperti inilah kita menggeserkan portofolio investasi kita pada investasi personal maupun interaksi interpersonal kita. Bisa ke otak dengan cara memperbanyak ilmu baik melalui buku bacaan ataupun pelatihan. Investasi juga perlu pada kesehatan kita dengan cara berolah raga secara lebih teratur (ini saya masih belum sih). Selain kedua hal itu kita juga perlu melakukan investasi pada hubungan interpersonal kita dengan orang orang didekat kita, teman kita, sahabat kita dan orang orang lain sebagai sesama masyarakat dunia ini 🙂

Kelas 2020 memanglah kelas yang berat dengan berbagai ujian yang tak kalah beratnya. Namun bukan karena beratnya ini membenarkan kita untuk egois dengan menyelamatkan diri kita sendiri dan meninggalakan teman teman kita, Abai. ntah lulus atau tidak. Itu jahat kawan. “Kita masuk kelas ini bersama jadi lulus juga akan indah bila tetap bersama bukan. Lalu kita akan rayakan kelulusan ini ditemani dengan secangkir teh dan biskuit sambil cerita tentang hari ini, tentang perjuangan kita, tentang sisi kemanusiaan kita yang tak pernah mati meski dihadang peliknya pandemi. Semua itu akan manis, asal kita lakukan bersama. Untuk menuju “Normal Baru” untuk kita para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

Yuk kita berjuang bersama

Sampai jumpa pada tahpan selanjutnya kawan

salam hangat dari saya

Dewa Putu AM.

(Feature Photo by Kate Trifo from Pexels)

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] Talking to Strangers: What We Should Know About the People We Don’t Know Karya Malcolm Gladwell

May 6, 2020 — by dewaputuam2

amanda-knox2-960x641.jpg
Saat semua ini selesai, kita akan kembali pada kebiasaan kita bertemu orang asing berbincang, berinteraksi, bertransaksi. meski terkadang tidak harus kenal dan ingat untuk kemudian hari. Tetapi orang orang asing selalu berpapasan dengan hidup kita entah disuatu tempat atau suatu masa (Photo by Aleksandar Pasaric from Pexels)

Ini salah satu penulis favorit saya. Malcolm Gladwell , seiap bukunya selalu memikat perhatian saya. Gagasan yang gurih dan sangat dekat dengan keseharian kita ia sampaikan dengan begitu mendalam namun masih tetap nyaman untuk diikuti dan nikmati. Fokus, itu yang saya suka dari karya karyanya Gladwell. Setiap bukunya selalu memuat hanya satu gagasan inti yang kuat untuk kemudian ia bahas dari berbagai sisi dan sudut pandang. Ini yang menurut saya Galdwell berbeda dari penulis kebanyakan yang tidak jarang terhanyut dalam ide idenya sehingga seringkali terlalu banyak gagasan yang diberikan, hingga fokus kita menyebar dan terlalu luas.

Sebagai awalan saya coba list satu per satu beberapa gagasan dalam setiap karya Gladwell yang saya suka. Kita dikenalkan pada konsep bagaimana sebuah informasi yang viral dan melekat melalui bukunya yang berjudul “Tipping Point”. Kita juga di ajak melihat dan mengingat tentang cara kita berpikir melalui “Blink”, kalau kata saya si berpikir pakai tulang belakang (reflek) hehehe, ternyata 80% kegiatan kita dipengaruhi oleh gaya berpikir kita yang rapuh ini. Gladwell juga menunjukan kepada kita konsep si lemah yang sebenarnya tidak lemah melawan si kuat yang sebenarnya justru lemah melalui buku “David and Goliath”. Lalu Konsep si jenius yang pencilan dan ternyata bukan “tidak sengaja menjadi” pencilan melalui bukunya yang berjudul “Outlier”. Kita diingatkan juga tentang “Ketidaktahuan kita” melalui buku berjudul What Dog Saw”.

Gladwell memang seperti itu, satu gagasan kemudian memberikan twist twist yang mungkin sebagian dari kita akan banyak mengalami “Lha” “What”, “Oh” dan “Aha” moment. Dan datang lah bukunya yang berjudul Talking to Strangers: What We Should Know About the People We Don’t Know . Setelah saya baca, jika harus memilih satu kata saja yang menggambarkan buku ini, satu kata tersebut adalah “Kapan Gwww bisa nulis seperti diaaaaa,..”. Mohon maaf saya kelepasan. Karena saya rasa buku ini keren banget dan memberikan saya pemahaman baru dan tidak jarang juga saya jadi merasa perlu merekonstruksikan lagi cara berpikir saya selama ini.

Kita sering menganggap bahwa kita “Mengenal” Siapa Orang Asing itu, bgaimana sikapnya dan apa yang ia sudah lakukan. Namun sayangnya kita tidak se “Cenayang” itu kawan

Orang tidak dikenal tidak selamanya tidak kita kenal sama sekali, bukan hanya orang yang kita kenal sekilas lalu saja. Namun bisa pula orang yang sangat dekat dengan kita dengan kehidupan kita. Hingga suatu hari tetiba sesuatu mengubah itu dan memporak randakan semua pemahaman kita tentang dirinya dan menggesernya dari dikenal menjadi “Tidak Dikenal” ( Photo by Tidekig from Pexels )

Secara garis besar buku ini menceritakan ke “sok tahu” an kita terhadap orang yang “tidak kita kenal”. Ada dua frasa yang saya berikan tanda petik disini karena dua frasa itu lah yang kemudian tersirat dibahas dengan mendalam dalam buku Gladwell ini. Keras memang bila mengatakan “sok tahu”. Namun saya rasa seperti itulah kita selama ini. Jangankan untuk orang orang awam seperti kita, bahkan Intelijen Amerika yang jika di film film kita rasa mereka memiliki insting dan kerangka berpikir yang tinggi hingga kita “rasa” juga tidak akan ada yang terlewatkan dari pengawasan mereka. Namun nyatanya merekapun tak luput dari kesalahan “mengenal” yang berakibat fatal dan membawa Ana Belén Montes, seorang mata-mata Kuba yang paling merugikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Yang menarik dari kasus Montes adalah keberhasilannya menjadi orang berpengaruh dalam salah satu institusi Intelijen di Amerika ( Defense Intelligence Agency ). Montes sebenarnya tidak begitu sempurna dalam menyamar dan menjalankan perannya sebagai agen ganda beberapa kali ia menunjukan hal hal mencurigakan dan rekan rekannya pun mengetahui itu. Namun “ketidak sempurnaan” cara berpikir kita jugalah yang kemudian memperdaya para rekan rekan Montes yang kemudian mentolelir segala kejanggalan yang ada.

Tidak hanya itu kejadian “Salah Mengenal” yang berakhir fatal. Sebelum masa perang dunia ke dua banyak petinggi dari beberapa negara juga ternyata salah mengenal The Führer (Hitler) yang dikira mereka tidak akan memecah perang dunia ke dua. Kasus pedopilia seorang yang sangat ramah. Kasus salah tangkap polisi pada Amanda Knox, karena sikapnya yang terlalu mencurigakan dan tidak umum (Ini gw jadi takut sik, orang orang seperti ini akan jadi kambing hitam pertama jika ada kasus kasus pembunuhan).

Ini Buku Tentang Kepolosan Kita yang Menganggap Semua Orang Selalu “Jujur” dan Ketidak Sadaran Kita bahwa Segala Hal Selalu Berkaitan dengan “Konteks”

Knoxx berjalan bersamanya di tempat kejadian perkara. Selagi memakai sepatu bot pelindung, Knoxx memutar badannya dan berkata “Ta-dah” ( Source: Time Magazine )

Jujur disini didefinisikan tidak hanya sebagai lawan kata dari bohong (kesesuaian antara kata dan kejadian sebenarnya) namun lebih luas lagi dari pada itu. Jujur didefinisikan sebagai kesesuaian kata, perbuatan dan atau sikap seseorang terhadap suatu hal. Sebagai contoh pada kasus Amanda Knox , meski tidak ada bukti kuat yang menunjukan bahwa ia pembunuh.

Penyidik utama kasus itu, Edgardo Giobbi, berkata dia meragukan Knoxx sejak Knoxx berjalan bersamanya di tempat kejadian perkara. Selagi memakai sepatu bot pelindung, Knoxx memutar badannya dan berkata “Ta-dah” —- Ini salah satu bagian dari buku yang menurut saya paling epic.

Saya membayangkan ini sosok Knoxx seperti Harley Queen, tengil aneh dan tidak sengaja buka pintu lihat ada mayat lalu dijebloskan dengan tuduhan pembunuhan yang setelah beberapa tahun ternyata terbukti bukan di yang bersalah. Ngenes ceritanya, Ini juga dimaksud sebagai ketidak jujuran antara apa yang terjadi (dia tidak membunuh) dengan sikapnya yang cenderung cuek dan tidak memiliki banyak empati, akhir membuat dirinya dituduh demikian.

Buku ini bercerita tentang kepolosan kita yang menganggap semua orang selalu “Jujur” dan ketidak-sadaran kita bahwa segala hal selalu berkaitan dengan “Konteks”. Kita selalu menganggap apa yang terlihat dan terdengar dari luar menggambarkan keadaan sebenarnya. Kita terlalu percaya pada orang kita juga terlalu percaya pada dirikita bahwa kita bisa membaca mimik orang dan mengenalinya seolah olah orang itu “selalu” memiliki mimik yang jelas bak pemain teater. Yang menunjukan mimik sedih saat dirinya dirundung pilu, tertawa saat bahagia, belingsakan misah misuh saat gelisah dan ada yang ditutupi.

Mengenal seseorang dengan baik emanglah rumit. Namun ternyata semua itu lebih sulit lagi karena ternyata sifat dan tingkah laku seseorang berkaitan erat dengan “Konteks”, dari konteks yang bersifat keruangan, Waktu hingga pada konteks yang bersifat situasional. Hal ini dicontohkan oleh Gladwell dengan kasus kasus kejahatan yang ternyata melekat pada lokasi lokasi tertentu saja, dan kasus kasus bunuh diri di London ternyata terikat pada situasi London dulu yang menggunakan gas alam (yang mengandung racun) untuk kebutuhan sehari hari. Dari buku ini kita diajarkan bahwa kita tidak lah mengenal semua yang ada didepan kita, mungkin hanya sedikit kenal namun tidak selamanya kenal cukup dalam. Yup tidak dikenal cukup dalam, dan semua itu akan semakin sulit dikenal saat ada minuman keras ikut berdansa dalam interaksi kita itu.

Seselesainya membaca buku ini, saya jadi berpikir. Apakah arti “orang asing” sebenarnya. Ia bukan hanya orang berjubah hitam yang berdiri di pinggir gank yang gelap berlatarkan hujan. Ia bukan hanya orang yang sepintas lalu, orang ntah dari mana yang sepintas berhenti, bersapa pada kita dan kemudian berlalu begitu saja. Tidak tidak hanya sampai segitu makna “orang asing”, bahkan orang yang palng dekat dengan kita pun terkadang dalam Konteks tertentu dapat dikatakan sebagai orang asing.

Buku terbaru karya Gladwell ini tampaknya akan menjadi satu dari 10 buku yang saya rekomendasiin untuk di baca di tahun 2020. Gladwell memang jarang mengecewakan. Yup meski saya kurang begitu suka dengan buku sebelumnya yang berjudul “What the Dog Saw” itu karena kesannya agak terlalu luas dan tidak jelas gagasan utamanya mengarah kemana (Source: NPR )

Oia, kurang rasanya jika saya hanya mengagung agungkan buku ini saja tanpa diimbangi dari kekurangan. Secara keseluruhan buku ini memanglah bagus menurut saya namun, dalam versi ebook terbitan gramedianya saya rasa buruk sekali, bukan permasalahan terjemahan namun lebih pada keberadaan watermark yang berupa text aktif (bukan gambar) yang justru sangat mengganggu saat ingin menandai atau menghighlight bagian bagian yang menarik. Keberadaan watermark yang berupa text menyebabkan huruf huruf pada kalimat didekatnya menjadi teraduk acak sehingga saat di highlight sulit untuk dibaca. Padahal highlight dan kemudahan penelusurannya merupakan fitur kunci dalam versi ebook yang membuat ebook lebih menarik dari versi cetaknya. Itu sangat saya sayangkan sehingga dalam google playnya saya terpaksa memberikan bintang 1 dari 5 untuk percetakan Gramedia.

Itu saja dulu dari saya, semoga bermanfaat dan mungkin bisa jadi rekomendasi buku yang akan teman teman baca saat harus tetap di rumah seperti sekarang ini. Salam hangat dari saya

Dewa.

BukuHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Segala-galanya Ambyar, Sebuah Buku Tentang Harapan karya Mark Manson

April 26, 2020 — by dewaputuam0

person-in-black-hoodie-sitting-on-train-bench-362948-960x640.jpg
Ambyar, itu judul yang cukup tepat untuk mengalihbahasakan kata “F*cked” pada judul asli buku karya Mark Manson.

Buku ini sudah cukup lama ingin saya baca, bahkan versi ebook dari buku Everything is F*cked karya Mark Manson ini sudah saya miliki namun karena sesuatu dan lain hal (*males) jadinya saya urungkan niat saya. Hingga kemudian saya menemukan versi fisiknya dan transletan bahasa Indonesia dengan judul Segala galanya Ambyar. Judul yang mengingatkan kita pada fenomena mewabah akhir akhir ini “Fenomena Ambyar” yang diciptakan oleh tidak lain dan tidak bukan King of broken hearth (*Didi Kempot) hehehe.

Mark manson adalah salah satu penulis yang unik, karyanya dari buku sebelumnya (Subtel Art Not Giving A F*ck) yang menjadi buku bestseller Internasional dan menawarkan beberapa gagasan yang membuka wawasan saya meski sesekali tajam, jahat serta melawan arus utama berpikir kita selama ini. Berkaca dari kesan pada buku pertama yang cukup mengesankan itu pula lah, yang akhirnya membuat saya ber”harap” agar buku ini akan menawarkan gagasan gagasan melawan arus lagi seperti buku pertamanya atau setidaknya sama. Itu saja sudah cukup.

Sekilas tentang Buku Kolaborasi Mark Manson dengan Didi Kempot

Secara fisik memang sedikit tebal (kira kira sekitar 300an halaman), jadi bagi beberapa orang yang kurang begitu suka membaca buku, tebalnya buku ini sudah cukuplah menciutkan nyali (termasuk saya 🙂 ) tapi saya cukup percaya kok kalau temen temen saya yang sedang membaca tulisan saya ini pasti mampu selesai membaca buku Ambyar satu ini. Banyak nilai yang dapat kita ambil dan pelajari disajikan dengan apik oleh penulis. Gagasan gagas yang ditawarkan juga saya rasa sangat relevan dengan apa yang terjadi sekarang, di tengah Pandemi Covid-19 yangtidak satupun dari kita yang tahu kapan akan berakhir, yup situasi saat ini menurut saya sama seperti judulnya “Segala-galanya Ambyar.

Photo by Steven Arenas from Pexels
“Kita adalah makhluk yang paling mudah terhipnotis saat tertimpa permasalahan besar, ketika hidup kita kacau balau, itu tanda bahwa nilai nilai yang kita anut telah mengecewakan kita, dan kita terhempas dalam kegelapan sembari meraba raba nilai-nilai baru untuk menggantikan yang lama.” -Mark Manson-

Masih dengan gaya bebasnya, Mark manson memberikian kita banyak sekali gagasan yang sebenarnya tidaklah baru, namun entah mengapa cukup berkembang pesat dalam beberapa tahun belakangan ini. Pada awalnya saya merasa buku ini akan membawa kita pada konsep Nihilisme yang menganggap segala hal yang ada didunia ini termasuk keberadaan kita sebenarnya tidaklah ada artinya. Bahkan dalam suatu bagian bab berjudul “Kebenaran yang menggelisahkan” Mark manson dengan santuy menuliskan gagasan ini.

Kelak, kamu dan semua orang yang kamu cintai akan mati. Dan dalam sekelompok kecil orang, selama waktu yang cukup singkat saja, hanya sedikit kata-kata atau tindakanmu yang masih berpengaruh. Inilah kebenaran yang menggelisahkan tentang kehidupan. Dan semua yang kamu pikir dan kerjakan hanyalah untuk menghindari kenyataan itu. Kita adalah debu kosmik yang tidak berguna, bertabrakan dan berputar-putar seperti titik biru yang kecil. Kita sendiri yang merasa sok penting, kita mencari-cari tujuan kita— Kita bukan apa-apa.

(Enjoy your Fucking Coffe)

(Mark Manson)

Buku ini menceritakan tentang harapan, tentang “harapan” yang membuat seseorang melakukan tindakan tindakan heroik mengorbankan diri dan menerima penderitaan begitu besar seperti para pahlawan kita yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk “harapan akan kemerdekaan”. Buku ini juga menceritakan tentang “harapan” yang sama juga yang membuat seseorang seperti Hitler dengan Nazi-nya yang melakukan pembantaian banyak orang secara kejam. Harapan seperti dua sisi mata uang yang memberikan gambaran sangat berbeda dalam kodisi dan kasus tertentu dapat ekstrim baik dapat juga ekstrim buruk. Namun ada satu yang serupa, segala galanya akan ambyar bila mana kita merasa harapan yang kita lambungkan tinggi tinngi tersebut nyatanya tidak kunjung terwujud.

Tidak hanya harapan, gagasan gagasan yang dismpaikan Mark Manson dalam buku ini pun ikut ambyar kemana mana

Kita semua saat ini dipertontonkan drama yang menyedihkan, atau bahkan kita juga terlibat didalamnya. Terimalah itu baik atau buruknya, jangan menyangkal dan hadapi meski tidak selamanya kita akan menang menghadapinya setidaknya kita pernah merasakan keras dan tangguhnya berjuang (Photo by Adrien Olichon from Pexels)

Banyak sekali gagasan menarik yang ditampilkan dan dipertontonkan oleh markmanson dalam buku “Everithing is F*cked”.

  • Dari kisah tentang harapan yang tidak hanya memberikan dampak positif namun juga sangat mungkin memberikan sesuatu yang “negatif”. Ini merupakan gagasan utama yang bolak balik di bahas dalam buku ini hingga pada pembahasan soal “Cara mebuat Agama Baru” hahaha cukup horor kan ya. Memang buku ini cukup horor e tapi setelah dibaca step step membuat agama barunya ternyata cukup masuk akal dan polanya sama dengan pola pola penyebaran agama agama kita yang ada sekarang. “Agama” dalam buku ini tidak terbatas pada Agama yang kita kenal sekarang yang dalam negara kita ada 6 Agama yang diakui oleh pemerintah. Ada tiga jenis agama yang dimaksudkan dalam buku ini yaitu.
    • Agama Spiritual yang mendapatkan harapannya dari kepercayaan kepercayaan “kuasa supranatural” agama-agama yang biasa kita kenal dari Islam, Hindu, Kristen Katolik, Yahudi dkk,
    • Agama Ideologis yang mendapatkan harapan harapan dari dunia natural seperti kapitalisme, komunisme, environmentalisme, fasisme dan liberalisme
    • Agama Interpoersonal yang mendapatkan harapan dari orang orang lain seperti cinta cinta romantik “Perbucinan”, anak anak, tokoh olah raga (viking dan the Jack Mania) ini ini juga disebut sebagai Agama oleh Mark Manson.
  • Gagasan lain tentang cara berpikir juga dijelaskan dalam buku ini. cara kita berpikir dengan otak pemikir dan perasa, kita yang selama ini dikelabui oleh cara pikir klasik yang menganggap otak pemikirlah yang memiliki kekuasaan atas otak perasa kita. Padahal hal terbaliknya lah yang sebenarnya terjadi dimana otak perasa kita yang pegang kendali akan kita sedangkan otak pemikirkita berada di samping otak perasa memberikan petunjuk petunjuk yang kadang diterima namun lebih sering berlalu begitu saja, karena otak perasa yang pegang kendali. Dari sini kemudian lahirlah banyak “trik trik” marketing modern yang menggunakan dan memanfaatkan gagasan tersebut pada berbagai iklannya seperti pada iklan rokok yang meski tidak pernah menunjukan bentuk rokoknya bahkan membeberkan fakta fakta merusaknya rokok itu, namun dengan penggambaran kesan bahwa “rokok” itu “keren dan tangguh” maka hingga sekarang rokok tetaplah laris dikalangan anak muda.

Sebenarnya masik banyak gagasan dan Insight yang dijelaskan oleh penulis dalam buku ini. Namun akan sangat panjang bila saya bahas dalam sebuah tulisan ini. Jadi saya rasa cukup itu dulu saja gagasan gagasan yang menurut saya paling menarik untuk saya ulas, sedangkan gagasan lainnya akan saya ulas secara tersurat pada tulisan tulisan saya berikutnya. Namun bila ingin di simpulkan secara keseluruhan gagasan yang sang penulis berikan menurut saya memiliki nuansa Stoicsm yang kental atau dalam buku Henri Manampiring disebut dengan Filosofi Teras. Yup berkali kali saya menyebut tentang Filosofi ini. Saya tidak tahu mengapa buku buku sekarang banyak yang mengadopsi filosofi ini. Selain itu secara tersurat Mark Manson banyak juga menyadur konsep konsep yang diberikan oleh Friedrich Nietzsche. Bahkan dalam beberapa bagian tidak hanya konsepnya saja yang dijabarkan namun kisah Friedrich Nietzsche lah yang secara terang terangan di kenalkan pada kita. Agaknya menarik bila kita membaca langsung buku buku Friedrich Nietzsche ya. Dalam buku ini, kita dianjurkan agar kita tidak terpesona secara berlebihan oleh “harapan” bahkan dalam situasi buruk pun (Situasi Ambyar). Kita dianjurkan untuk “Amor Fati” atau memncintai keadaan sekarang secara apa adanya baik ataupun buruknya. Itu saja.

Secara umum buku ini menurut saya sangat bagus dan masuk dalam buku yang sangat direkomendasikan untuk kita baca. Banyak hal menarik yang dapa kita ambil dalam buku ini. Meskipun harus saya akui pula, mungkin saking semangatnya mark manson menyampaikan gagasan gagasannya hingga ia sering kali seperti membanjiri kita dengan berbagai macam gagasan yang menurut saya sih masih kurang begitu rapi di susun sehingga membuat saya beberapa kali bingung tentang apa sebenarnya yang mark manson maksud. Bab terakhir yang berjudul dengan “Agama Terakhir” juga memberikan antiklimaks yang buruk untuk buku ini yang sendari awal menyarankan kita agar tidak berpegang dan terbuai pada harapan namun ia pula yang mengingkarinya dengan berharap pada “Harapan pada agama terakhir” yang ia berikan di paragraf akhir. Sayang sekali sih menurut saya.

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Mari Berpikir Positif Tentang Hari Ini” Agaknya Bukanlah Pilihan yang Baik untuk Saat Ini Kawan

April 19, 2020 — by dewaputuam2

person-standing-beside-car-1853537-960x1440.jpg
Sudah berapa lama ini semua terjadi, apakah akan kembali masa seperti dahulu, sebuah masa saat setiap paginya kita melihat wajah ceria wajah kusut bercampur aduk dalam kerumunan makhluk makhluk pagi yang berkerumun bergerak memulai aktifitas hari barunya, atau akan ada Normal yang baru yang mengubah semua? ( Photo by Artem Beliaikin from Pexels )

Haloo, setelah sekian lama akhirnya saya menulis lagi, mungkin ada yang rindu dengan gaya tulisan saya yang hambar tanpa hati, atau ada yang skip skip saja. Apapun kesan kalian, saya harap teman teman semua tetap diberikan kesehatan ya, tetap hidup dan kita akan bertemu esok hari #janji. Oke, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pikir dan gagasan yang tentu tidak serta merta muncul begitu saja dari saya, melainkan terinspirasi dari beberapa buku yang paling banyak mempengaruhi si  filosofi teras karya Henry Manampiring dan Everything is F*ck karya Mark Manson.

Ini tentang bahayanya berpikir positif dengan segala kiasan kiasan yang dibawa bersamanya seperti. “Hei semua baik baik saja, ini tidaklah seburuk itu. Setelah ini akan ada kebaikan. Itu terlalu berlebihan, cobalah lihat dari sudut pandang ini nilai yang besar itu akan tampak kecil kok. Pada intinya “berpikirlah positif” dalam kondisi apapun dan bagaimanapun termasuk situasi seperti sekarang ini. Dalam kondisi pandemi, yang meski dampak terburuknya adalah banyak nyawa melayang, namun dampak ekonominya juga tidak boleh serta merta kita sepelekan.

Berpikir positif seakan menjadi salah satu kiblat yang diagung agungkan bagi sebagian orang. Hal ini saya rasa oke oke saja, tidak masalah bahkan memang bagus. Sampai suatu hari saya menemukan sebuah tulisan tentang penyajian data kematian yang sebelumnya dibandingkan dengan jumlah terkonfirmasi sekarang diubah menjadi per satu juta populasi. Sampai di sini semua  masih saya anggap oke oke saja. Karena dengan cara itu setidaknya angka berubah menjadi kecil dan urutan Indonesia menjadi masih bisa dimaafkan lah dalam Pandemi ini. Terlepas dari teknik statistik preman yang digunakan, sudahlah tak apa yang terpenting terlihat cantik, bukannya fungsi statistik itu untuk menipu? Tidak ada yang benar dalam statistik, namun sebagian memiliki manfaat begitu kata seorang dosen statistika di kampus saya dahulu yang masih teringat oleh saya.

Jika semua baik baik saja, lalu dimana permasalahannya. Permasalahannya ada di kita. Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah artikel yang menarik, Saya tidak ingin membahas isinya, intinya cukup negatif yang menginfokan bahwa Indonesia sekarang sudah menduduki puncak klasmen sementara di kawasan Asia Tenggara. Cukup menyeramkan, namun dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas hal itu. Saya justru ingin berdiskusi tentang diskusi para Netizen di bagian komentarnya hahahha. Disana terlihat jelas mana orang orang yang pesimis dan mana pihak  yang berpikir positif. Mereka saling bertarung adu jempol. Kedua gagasan dari mereka terlihat masuk akal dan menyentuh ada yang menggunakan gagasan per satu juta yang tadi saya sebutkan hingga menganggap Indonesia tidak seburuk itu dan kemudian ada yang menimpali, seberapapun itu itu nyawa manusia bukan sekedar angka. Hampir setiap berita buruk selalu ditimpali seperti itu dan terkadang dibumbui hal hal positif yang menyentuh lainnya.

Berpikir negatif memanglah tidak baik dan membuat banyak permasalahan menjadi lebih berat dari seharusnya, apalagi jika yang kita pikirkan hanya yang negatif saja. Lalu bagaimana dengan berpikir positif? apakah itu menyelesaikan masalah atau memperingan masalah? Jika kita tarik kebelakang sebelum semua seperti ini kita sudah kenyang dengan puisi puisi positif yang menyatakan bahwa kita kebal Corona, bahkan banyak sekali memenya yang menebarkan aura positif. Apakah semua itu menghindarkan kita dari masalah? Terserah si mau diakui atau tidak, nyatanya semua sudah seperti sekarang. Itu saja cukup.

Ok, permasalahan Berpikir Positif kita kesampingkan dulu dan kita biarkan mengendap dulu dalam pikiran kita. Yang perlu dicatat sekarang adalah berpikir positif itu juga tidak lepas dari kekurangan, sama halnya dengan berpikir negatif. Sulit dicerna memang, saya pun merasakan demikian ketika menemukan gagasan ini dalam kedua buku karya Henry Manampiring dan Mark Manson sebelumnya.

Sembari menunggu mengendap, saya ingin ke topik lain yang rasanya cukup menarik untuk disampaikan di sini.

Ini bukan tentang memilih Kemanusiaan dan Ekonomi, karena pada dasarnya kesempatan kita memilih itu tidak ada.

Hei,.. Apa yang kamu pikirkan dan rasakan sekarang, masihkan kalian berharap atau justru sedang dalam proses jatuh yang tidak tau kapan mencapai dasarnya. ( Photo by Burst from Pexels)

Mari kita cicipi sebentar cara berpikir negatif, coba kita angankan berbagai kemungkinan terburuk yang sedang kita hadapi dan akan kita hadapi. Dalam filosofi Stoa, cara berpikir seperti ini cukup ampuh untuk merunut segala kemungkinan yang ada dan menyiapkan mental kita untuk segala kemungkinan tersebut, meskipun faktanya sesuatu terburuk yang kita pikirkan tersebut pada akhirnya tidak akan terjadi, atau paling tidak tidak akan terjadi dalam tingkatan yang kita pikirkan. #semoga.

Saya melihat, setidaknya ada dua isu yang dipertentangkan oleh kita sepanjang bulan bersama kekasih baru kita yang bernama Covid19 ini.

  • Kemanusiaan: dampak langsung dari virus corona yang paling dekat adalah kesehatan kita dan dengan berat hati harus kita akui nyawa kita pun terancam. Meskipun tingkat kematiannya tidak begitu besar #katanya, namun kemampuan persebarannya tidak dapat diremehkan sama sekali.  Ini teman teman pasti sudah sering dengar dan membaca, bahkan mungkin juga seperti saya yang sudah bosan mendengarnya. Tetapi saya disadarkan oleh sebuah artikel Tomas Pueyo dalam situs medium, kejadian pandemi seperti ini ternyata memberikan dampak kesehatan lainnya yakni penurunan kapasitas sistem kesehatan kita (rumah sakit maupun sdm nya). Jumlah sumber daya  medis yang kini banyak difokuskan untuk menangani corona. Dalam kondisi tertentu akan mengakibatkan penurunan kapasitas dalam penanganan kesehatan lainnya baik yang berupa kejadian kejadian yang biasa terjadi (kecelakaan dan penanganan penyakit kronis) maupun kejadian luar biasa seperti potensi bencana yang sewaktu waktu bisa saja terjadi. Dampak terburuk dari segi kemanusiaan yang terpikir oleh saya tentunya jumlah kematian yang tinggi, bukan hanya kematian langsung oleh virus namun juga kematian yang disebabkan oleh lumpuhnya fasilitas kesehatan kita. Hal ini dapat lebih buruk lagi bilamana terjadi bencana besar seperti yang beberapa tahun kemarin. Siapkah kita untuk ini?
  • Ekonomi: sudah mulai terasa untuk sebagian orang dampak dari corona ini terhadap kondisi ekonomi kita dari saham saham yang bertumbangan, omset omset usaha yang turun hingga pemecatan besar besaran.   Jika kita melihat secara sederhana, memanglah mudah menentukan prioritas antara kemanusiaan dan ekonomi. Namun pilihan tidaklah sesederhana itu. Coba kita pikirkan lagi deh, ini bukanlah sebuah pilihan yang sederhana, dimana saat kita menghempaskan satu pilihan maka pilihan lain akan menjadi pilihan yang teratasi dengan baik. Ekonomi itu mengikat banyak aspek kehidupan dan bahkan mengikat #kehidupan itu sendiri. Perekonomian yang hancur dapat menjalar pada permasalahan permasalahan dari yang remeh seperti tidak dapatnya terlalu hura hura hingga pada sesuatu yang serius seperti potensi kenaikan kriminalitas, kesehatan mental dan fisik kita dan juga keberlangsungan hidup. Beberapa kanal berita menyebutkan 60% ekonomi kita bergantung pada usaha nonformal, atau jika dihitung secara kasar 150 juta orang. Jika semua itu lumpuh, dan lapar maka semua hal dapat saja terjadi. Bukankah ini permasalahan kemanusiaan juga

Kita disini bukan untuk diskusi apakah pemerintah harus pilih yang mana? tapi lebih pada apapun yang diambil pemerintah, kedua dampak tersebut pasti akan datang pada kita. Kembali pada topik berpikir positif dan Negatif yang sebelumnya kita bahas, sisi mana yang ingin kita ambil sekarang. Apakah kita harus berpikir bahwa kita saat ini sedang baik baik saja, atau panik dan merasa putus harapan. Kedua pilihan tersebut tampak buruk.

Akui dan dan Menyerahlah, buanglah semua harapan kosong kita, tidak baik loh terlalu mabuk akan semua hal positif hanya untuk menghindar dari sesuatu yang buruk dan tidak kita inginkan.

Apakah keberdaan “Harapan” itu baik, meski memang ia yang menarik para hati pahlawan untuk melakukan hal hal heroik, namun “harapan” pula lah yang dipegang dan dijadikan pembenaran bagi Hitler dengan Nazi-nya serta para pemimpin otoriter kejam dalam melakukan aksinya. Lalu apakah “Harapan” itu masih baik? ( Photo by Designecologist from Pexels)

Kejujuran tidak hanya diterapkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Namun justru penting  kita jadikan sarat saat kita berinteraksi dengan diri sendiri. Jika memang tidak baik baik saja, janganlah menambah beban diri dengan berbohong semua baik baik saja. Akuilah bahwa kondisi ini memang tidak sedang baik baik saja bagi kita. Kita perlu akui itu karena kita hanya dapat mengubah sesuatu yang memang milik kita, milik “Aku”. Jika ingin mengubah sesuatu, langkah paling pertama adalah mengakui bahwa “itu” adalah masalah. Poin pentingnya disini adalah buang lah harapan, buanglah ekspektasi. Hal ini juga yang membuat kita terhindar dari cara berpikir negatif. Kita tidak akan putus asa dan juga tidak akan putus harapan jika tidak ada Asa dan harapan yang kita pegang dengan keras. Itu memang tidak mudah untuk kita lakukan 100%. Seiring datangnya masalah kita secara tanpa sadar akan melekatkan asa dan harapan di belakangnya. sebuah asa yang membuat kita berjuang namun membuat kita juga terpuruk saat tak mampu mencapainya.

Semua orang akan mendapatkan paket permasalahannya sendiri dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Akan sangat jahat dan bohong bila ada seseorang yang berkata “Aku paham apa yang kau rasakan”. Tidak, kita tidak akan pernah paham secara utuh apa yang orang lain rasakan. Kita berbeda, masalah yang sama tidak serta merta memberikan dampak yang sama untuk semua orang. Kita tidak dapat memukul rata semua permasalahan dengan satu solusi sederhana. Namun, ada suatu frasa yang menurut saya cocok dijadikan kandidat utama untuk  “solusi sederhana” yang pada kalimat sebelumnya saya sangkal.

Amor Fati

Amor Fati merupakan frasa dalam bahasa latin. Amor (Love) dan Fati (Fate), dalam bahasa Indonesia Amor Fati dapat diartikan sebagai  “Cinta Terhadap Takdir”. Kata Amor Fati sering saya temukan dalam berbagai buku terkait filosofi stoa baik dalam buku filosofi teras nya Henry Manampiring maupun buku Everything is F*ck nya Mark Manson. Amor Fati dalam bahasa sehari hari artinya mirip kata “Nrimo” dalam bahasa jawa, atau suatu frase yang digunakan untuk menggambarkan suatu sikap yang melihat segala hal dalam satu kesatuan sisi baik maupun buruknya secara utuh. Kalau kata mbah Surip “I love you full”. Kita harus mencintainya secara utuh. Ini langkah awal yang saya maksud “mengakui” sebelumnya. Kita perlu mengakui kalau memang ada masalah dan itu sudah takdir kita di zaman sekarang ini. Terlepas itu karma atau apapun alasan kita untuk menunda pengakuan permasalahan ini bukan lagi pada ranah kita.

Setelah kita akui tentang adanya permasalahan ini permasalahan memang belumlah selesai namun paling tidak kita tahu dan akui bahwa saat ini memang ada permasalahan, dan itu perlu agar kita dapat “kendali” untuk  menyelesaikan atau paling tidak kita siapkan untuk hadapi. Poin kendali disini menjadi penting untuk ditekankan karena kita memang tak bisa melakukan apapun pada sesuatu yang kendalinya tidak pada diri kita.

Saya mencoba merangkum sedikit dua poin utama masalah yang sebelumnya kita bahas. Permasalahan pertama adalah banyaknya kematian (mungkin kita akan termasuk di dalamnya), dan untuk permasalahan kedua terkait ekonomi kita bisa jatuh semakin miskin hingga sulit untuk menyambung hidup di tengah situasi yang juga sulit dan penuh kriminalitas. Jika di lihat lihat lagi ternyata serem juga ya.

Permasalahan kemanusiaan tidak hanya berkutat pada hidup dan mati. Namun untuk menyederhanakannya kita batasi saja pada terancamnya hidup banyak orang akibat virus ini. Ok, bila sebagian orang mengatakan rata rata tingkat kematiannya kecil hanya 4%, untuk kasus Indonesia 10%, namun jika persebarannya seluar biasa ini jangankan 10%, satu persen pun merupakan angka yang besar. Sebagai gambaran, menurut hasil survey BPS penduduk Jakarta tahun 2020  diperkirakan mencapai 10.5 juta orang, maka jika kita anggap 1% nya saja yang terpapar maka yang positif bisa mencapai 100k orang terpapar dan 4% dari itu sekitar 4000 jiwa. Ini perhitungan sangat kotor untuk menggambarkan kepada kita seberapa besar 4% itu. yang jadi pertanyaan apakah hanya 1% yang akan terpapar, bisa aja lebih rendah dari itu #semoga. Dan satu hal yang perlu kita ingat angka itu bukan sekedar angka tanpa makna. Angka itu mewakili kita, manusia yang memiliki orang yang menyayangi maupun disayangi.

Permasalahan yang ada disini adalah penyakit, baik persebarannya ataupun tingkat kematiannya. Melihat dan memilah hal yang ada dibawah kendali dengan yang diluar kendali maka secara global persebaran dan tingkat kematian di Indonesia apalagi global bukan dibawah kendali kebanyakan dari kita, kalaupun ada maka kendali itu sangatlah kecil. Namun dari kendali kecil itulah yang harus kita manfaatkan secara maksimal. Intinya kita tidak boleh berpartisipasi menyebarkan virus dan juga tidak boleh mati. Sesederhana dua itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Berikut ini setidaknya ada 3 aktivitas yang bisa saya list sampai saat ini, ketiga hal tersebut saya rangkum dari apa yang ada disekitar saya baik di lingkungan pertemanan maupun sosial media  saat ini. Ketiga aktifitas itu antara lain:

  1. Rebahan (tetap diam di rumah), ini jargon jargon yang sering berseliweran di sekitar kita ya, dan memang membosankan tapi mau bagaimana lagi itu hal paling minim yang memang berada dalam kendali kita. Saya cukup expert dalam bidang #rebahan ini, jika ada yang butuh saran dan konsultasi terkait trik trik rebahan bisa kontak saya 🙂
  2. Membantu apa yang bisa kita bantu, Selain rebahan dan diam di rumah kita juga dapat melakukan hal hal yang menurut saya heroik seperti ikut urun dana untuk membantu sesama melalui pihak pihak yang memang terpercaya. Hal hal lain yang dapat kita lakukan juga dengan cara urun pikiran dalam diskusi diskusi online, dan lain sebagainya. Kita semua memiliki peran berbeda untuk ini.
  3. Saling menguatkan, saling bertanya kabar dengan teman teman juga akan seru dan membantu, kita bisa sekali kali saling sapa melalui video call  bersama keluarga atau teman sekedar menghilangkan sedikit jenuh dan menjaga kewarasan jiwa kita bersama.

Lanjut ke permasalahan kedua. Ini tidak kalah penting dengan masalah kemanusiaan. Jika masalah kemanusiaan berkutat pada bagaimana kita mempertahankan dan menjaga orang orang di sekitar kita, maka ekonomi perlu untuk menjaga masa depan kita. Dunia setelah Pandemi ini akan sangat berbeda, maka kita perlu bersiap. Di dalam kondisi dunia yang semakin tidak pasti ini, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan segalanya, kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan kita selama ini. Putus asa dan harapan memang tidak membantu, namun terus ber asa dan berharap pun tidak pula banyak membantu. Amor Fati menjadi jurus andalan untuk kita pakai dalam situasi seperti ini. Kita terima dan cintai dulu kondisi yang kita alami sekarang baik dan buruknya. Memang tidak mudah bila hal hal itu terlalu buruk, namun akan lebih buruk bila kita menghabiskan energi dan waktu untuk hal hal yang sia sia seperti terus menyangkal kondisi sekarang yang memang sedang buruk.

Mana yang bernilai bagi kita, mana yang akan menjadi prioritas kita menentukan langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya. Dalam kondisi sekarang kita diberikan waktu sejenak untuk kembali memikirkan itu semua kawan. ( Photo by Helena Lopes from Pexels )

Ada sebuah tulisan dalam Ashley Abramson melalui platform medium yang saya baru baca beberapa hari lalu, yang saya rasa setidaknya dapat kita pegang sebagai kerangka kerja kita untuk menghadapi situasi sulit ini. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kemungkinan Come Back kita dari krisis ini dengan cantik.

  1. Mari kita evaluasi dan klarifikasi kembali nilai nilai yang ada dalam diri kita, yang mungkin membedakan kita pada yang lain dan selama ini selalu memberikan dampak pada kita baik positif maupun negatif. Kejujuran kita kah, kemampuan kita beradaptasi kah, keramahan kita kah,kemalasan kita kah, semua itu yang mungkin melekat pada kita coba untuk dievaluasi ulang mana yang masih relevan untuk hari ini dan esok dan mana yang sudah tidak relevan.
  2. Audit prioritas kita, selama ini kita disibukkan oleh banyak hal dan secar disadari atau tidak disadari seringkali kita melakukan hal yang tidak ada manfaatnya atau sia sia. Dalam kondisi dimana kita berdiam diri dirumah memberikan kita waktu untuk berdiam diri dan berkontemplasi tentang apa apa saja yang penting bagi kita dan apa yang tidak penting apakah itu keluarga, diri kita sendiri, persahabatan, kesehatan, uang atau apa? jika pada poin sebelumnya kita fokus pada nilai kita, kini kita fokus pada tujuan kita yang prioritas dan paling penting serta bermakna.
  3. Geser rutinitas kita. Setelah kita mengetahui posisi awal kita (nilai kita) dan memahami mana tujuan yang kita inginkan (prioritas) maka langkah selanjutnya adalah melihat jalan mana yang paling relevan. Apa yang kita perlu lakukan dan dapat kita lakukan. Jika ada kegiatan kita yang kurang relevan dengan nilai maupun prioritas kita maka jangan ragu untuk menggeser ke kegiatan yang lebih relevan.

Posisi Amor Fati tidak memilih positif atau negatif. Posis inilah yang saya rasa paling baik saat ini dimana kita tidak dirundung pada keputusasaan tanpa dasar dan juga tidak dimabukan oleh perasaan positif yang terlalu tinggi tanpa logika.

Lalu pihak mana sekarang yang teman teman pilih? tetap terpuruk dan memikirkan segala keburukan yang ada, mengeluh dan mengeluh setiap hari atau berpikiran positif dan selalu berharap akan ada pelangi di setiap selesainya badai. Atau Amor Fati,… Semua diserahkan pada kalian Teman 🙂

Feature Photo by Artem Saranin from Pexels

BukuDaily LifeOpiniPopular TheoryPsikologiUncategorized

Covid19 dan Kenapa “Mereka” menolak ‘fakta’ dan tidak menuruti anjuran dari “Yang Bukan Mereka”?

March 22, 2020 — by dewaputuam0

person-holding-sign-3951608-960x640.jpg
Tangan kita penuh warna, (Photo by Sharon McCutcheon from Pexels )

Beberapa minggu belakangan ini saya merasa mulai bosan dan suntuk dengan topik pemberitaan dan pembicaraan yang beredar di sekeliling saya. Mungkin teman teman juga merasakan hal yang sama. Pada awal awal pandemik bahkan sampai sekarang, meskipun bosan melanda saya tetap mengikuti terus perkembangan yang ada karena jujur saya sedikit panik dan skeptis dengan penanganan yang ada sekarang yang jika harus berkata jahat, yup kita sudah terlambat 2 bulan.

Tapi ya sudahlah, terlepas dari semua itu tidaklah penting memikirkan hal yang sudah lalu.., Oia saya juga risih dengan pemikiran beberapa orang yang terlalu fokus pada apa kedepannya. Entah itu mengatakan Indonesia hari ini adalah Italia 2 minggu lalu. What the #meeh do you think bro n sist? kalian ingin hal serupa terjadi di sini? yang harus lebih kita pikirkan adalah tentang hari ini, bukan tentang lalu ataupun esok. Boleh kita menatap kedepan, atau kebelakang itu tidaklah haram selama masih ada makna yang bisa kita ambil.

Stop misuh2nya, pada tulisan ini saya ingin sedikit berdiskusi tentang perilaku denial “Mereka“. Kata “mereka” sengaja saya gunakan untuk mengakomodir jikalau teman2 berkelok maaf saya tidak termasuk. 🙂

Fakta, Apa itu fakta. Kita tidak berpikir dan bertindak berdasarkan “Fakta” melainkan berdasarkan “Rasa”

Saya tidak tahu darimana harus memulainya tetapi Perkembangan covid19 semakin meresahkan belakangan ini menyebabkan pemerintah kita akhirnya mengambil kebijakan dan arahan sekaligus mengenalkan kepada kita beberapa istilah baru, canggih dan mungkin asing bagi sebagian orang (termasuk bagi saya hehe) yakni Social Distancing dan Work from home (WFH). Segala hal dilakukan pemerintah dan melalui berbagai media, baik media cetak,elektronik televisi, berita berita online, kanal youtube dan segala media yang ada bahkan melalui media purba seperti sms pun digunakan pemerintah kita untuk memberikan informasi dan “fakta” terkait Covid19 dengan segala printilannya yang saya yakin nih teman-teman sudah sering mendapatkannya dari yang info resmi maupun hoax.

Pemerintah dan kebanyakan dari para pengambil keputusan pun terus memperbaharui namu sayangnya juga beberapa kali diselingi dengan saling cekal dan klaim mulai dari tampilam mana yang paling bagus lagi canggih hingga isu yang “penting” tentang informasi siapa yang benar dan mana yang salah, mulai dari jumlah korban, jumlah positive,siapa yg berhak membagikan data itu, data dan fakta apa yg boleh dibagikan data dan fakta mana yang kurang perlu atau bahkan tak etis bila dibagikan.

Saking seru, heboh dan canggihnya mereka mengelola fakta dan informasi, hingga membuat kadang kita lupa pada sesuatu yang seharusnya menjadi pertanyaan inti dan terpenting untuk dijawab. Apakah informasi itu tadi efektif, dan mampu “Menggerakan” masyarakat kita?

yang dalam hal ini untuk diam di rumah dan menjaga jarak aman atau apapun itu arahannya. (coba lihat dan lirik sekeliling) jawabanya bisa jadi berbeda,.. berbeda dari yg diinginkan hingga tidak jarang muncul keluhan kenapa dia seperti ini kenapa masih saja tidak peduli dengan arahan dan masih pelesiran kemana2 melakukan aktifitas seperti biasa sembari berbagai penyakit. Kesal memang,.. dan kadang kita tidak habis pikir dengan tindakan yg orang orang tadi.

Memang sedikit tidak nyaman dan mengengkang, tetapi mau bagaimana lagi. Photo by cottonbro from Pexels

Apakah masyarakat kita memang sebodoh” ini apakah se denial ini terhadap kasus yang hingga saat ini telah menelan korban jiwa belasan ribu dan besar kemungkinan akan terus bertambah,.. mungkin dari negara kita akan menyumbang lagi (semoga tidak banyak atau bahkan cukup segini saja tidak usah ada tambahan lagi) itu tentu harapan kita bersama #meskikecilkemungkinan.

Apakah fakta yang mendukung kurang? apakah fakta2 dan informasi itu masih sulit dipahami? apakah mereka memang bodoh?

Sebelum menjawab itu semua,… baiklah, kita anggap dulu fakta dan informasi yang diberikan pemerintah dan berbagai praktisi lainnya masih kurang kuat dan kurang mudah dipahami dan masih sangat baru bagi otak otak beku kami kaum rebahan santuy ini. Namun coba duduk sebentar dan coba lirik disekitar kita, pernahkah teman teman melihat bungkus rokok? se-eksplisit apa dampak dampak (fakta) dari rokok yang jelas sekali digambarkan di bungkusnya? apa pendapat teman2, apakah fakta2 tersebut masih kurang, apakah fakta2 itu sulit dipahami, apakah fakta2 tersebut hal yang baru? kita tahu bersama seperti apa efektifitas fakta2 itu pada perokok dan calon perokok baru. efektifkah ?

“Dunia ini tidak digerakan oleh informasi, orang orang tidak membuat keputusan berdasarkan kebenaran atau fakta fakta.Dunia ini digerakan oleh perasaan , dan atau “sebuah nilai” yang akan mengambil posisi lebih tinggi dari fakta tersebut. 

Mark Manson (Everything is F*ck)

Beranjak dari gagasan inilah saya jadi berpikir apakah hal yang terjadi pada peringatan kesehatan pada bungkus rokok juga terjadi dengan peringatan pemerintah soal pengendalian Covid19 akhir akhir ini. Besar kemungkinan hal itu terjadi. Jika kita telusuri baik lagi konten yang beredar selama ini, informasi dan segala himbauan yang dibuat serta disebarkan baik oleh pemerintah kita maupun berbagai praktisi terkait sudah sangat banyak bahkan berlebih. Dari segi kekayaan informasinya serta variasi cara penyampaian maupun sudut pandangnya pun sangat beragam. Sehingga sedikit sekali aspek dan fakta terkait Covid19 yang terlewat dibahas oleh mereka mereka.

Segala media pun digunakan oleh teman teman kita itu dengan segala ancaman yang ada. Dari yang sekedar tulisan ringan dalam chat yang mudah di sebar, story Instagram, Infografis, video, podcast, berita, artikel online, berita elektronik hingga tulisan tulisan ilmiah terus menyebarkan fakta fakta yang ada. Hingga, kecil juga ada satu dari kita yang tidak terpapar informasi informasi tersebut.

Permasalahan kemudahan akses dan kemudahan untuk memahami isi dari pesan pesan itu pun menurut saya tidak menjadi masalah yang berarti, karena segala arahan sudah diinformasikan dengan sangat praktis dan mudah sekali dipahami juga dilaksanakan. Dan untuk pertanyan apakah kita kita yang denial segala informasi dan arahan itu orang bodoh. Mungkin saja sih, mungkin kami kami ini terkadang bodoh (atau sering) dan tidak patuh hingga menolak segala fakta yang ada. 🙂

Bukan Mereka Tetapi Kita lah yang seperti ini dan otak kita bekerja seperti ini, menyedihkan si, tapi memang itu adanya

Untuk orang orang yang memang suka berdiam diri di kosan atau rumah biasanya tidaklah susah untuk tetap diam dalam waktu yang lama. Namun untuk beberapa orang diam di rumah akan memberikan tekanan cukup besar. Ada yang tertekan hanya pada psikologisnya biasanya pada orang orang yang aktif di luar (ekstrovet), namun tidak sedikit pula yang tekanan datang bukan hanya pada psikologisnya namun juga akan menghadapi tekanan ekonomi secara kuat bila ia tidak beraktifitas normal.

Ada sebuah gagasan menarik saya temukan dari buku Everything is F*ck karya Mark manson dan buku berjudul Blink: The Power of Thinking Without Thinking karya Malcolm Gladwell. Dalam kedua buku tersebut terdapat sebuah gagasan tentang cara berpikir kita (manusia) yang pada dasarnya dipengaruhi oleh kedua otak kita yang memiliki karakter yang sangat berbeda. Untuk mempermudah kita sebut saja satu otak logis sedangkan otak lainnya adalah otak perasa. Umumnya kita “berpikir” bahwa bahwa otak logislah (sang pemikir) yang menentukan dan berkuasa pada setiap tingkah laku kita. Namun, dari kedua buku tersebut diperlihatkan bahwa pemahaman umum kita tadi tidaklah tepat. Alih alih dikendalikan oleh logika, kita justru dikendalikan oleh otak perasa.

Apakah dikendalikan perasaan menjadikan kita tak ubahnya seperti Monyet? 🙂 menurut saya ada ianya ada juga tidaknya terserah dari bagian mana kita memandang (Photo by Pixabay from Pexels )

Mark Manson menganalogikan bahwa kesadaran diri kita ibarat sebuah mobil dimana sang otak perasa duduk sebagai sopir dan otak pemikir duduk di samping sebagai navigator, tidak peduli seberapa ilmiahnya kita pada akhirnya otak perasa lah yang menyetir mobil kesadaran kita. Otak perasa menghasilkan emosi emosi yang membuat kit bergerak untuk bertindak, dan Otak Pemikir menyarankan dimana tindakan itu harus dilakukan. Kata kuncinya disini adalah menyarankan, karena otak pemikir tidak dapat mengendalikan otak perasa maka ia akan hanya mempengaruhi walaupun terkadang sangat kuat tapi tidak jarang pula sangat lemah karena pada dasarnya otak perasa memiliki karakter yang keras kepala. Jika ada suatu nilai yang ingin ia tuju maka dia akan memperjuangkannya meskipun banyak fakta dan data yang menghadang tujuan mereka itu.

Semua orang memiliki kepentingannya masing masing dan memiliki “suatu nilai” yang ia perjuangkan dan menurut mereka tidak dapat di halangi “hanya” oleh issu Corona dengan berbagai fakta dan data yang ia bawa. “Suatu nilai” inilah yang menjadi fokus utama kita. “Suatu nilai” yang telah lama mereka perjuangkan ini bisa berupa hal hal yang berwujud seperti orang tua, keluarga, teman, uang, makanan hingga nilai nilai tak berwujud (abstrak) seperti rasa bahagia, kekeluargaan, pertemanan, kedamaian, hingga keimanan mereka (yang sifatnya religius).

Melalui gagasan ini, dapat dijelaskan mengapa meskipun data dan fakta keburukan rokok begitu tergambar dengan gamblang, namun tetap saja permintaan akan rokok tetap tinggi. Hal ini dikarenakan pihak pengiklan modern terus mensugesti dan membuat nilai lain dari sebuah rokok dalam produk produk iklannya. Dalam iklan rokok yang tidak menunjukan bagaimana merokok itu tentu akan sering kita temukan simbol simbol yang memberikan kesan pria sejati, macho, jantan, kebebasan dan segala hal yang menurut kita keren lainnya. Tekhnik pemasaran seperti ini digagas oleh Edward Bernays sejak tahun 1928. Alih alih memberikan fakta fakta tentang suatu produk, ia justru melekatkan produk tersebut pada sebuah nilai penting.

Hal serupa saya duga juga yang terjadi pada informasi dan segala arahan terkait Covid19 yang tidak begitu mempengaruhi tindakan beberapa kalangan. Ini terjadi bukan sekedar karena kurangnya fakta dan data yang mereka dapatkan namun lebih pada kurangnya penekanan nilai yang mereka anggap penting. Semisal, dalam beberapa kasus ajakan untuk diam dirumah untuk sebagian orang justru bertabrakan dengan nilai keimanan mereka untuk selalu melakukan ibadah apapun yang terjadi. Bahkan jikalau hal buruk terjadi akan mereka anggap sebagai kebaikan. Ini bukan karena fakta dan data yang tidak mereka dapatkan atau pahami namun nilai yang ditekankan kepada mereka tidaklah sebesar nilai relijius mereka. Begitu pula dalam kasus kasus lainya dimana ajakan terkait kasus Covid19 harus berhadapan dengan nilai lain seperti kekeluargaan, pertemanan, ekonomi, dan nilai lainnya yang teman teman mungkin pernah mendapati berbagai jenisnya. Tentu bila seseorang “merasa” arahan terkait Covid19 yang diberikan itu memiliki nilai tidak setinggi nilai yang sedang mereka perjuangkan maka arahan itu tidak akan mereka turuti dan muncul sebagai tindakan denial seperti yang sudah sering kita temukan bersama.

Untuk menanggulangi permasalahan tersebut dan meningkatkan keefektifan dari informasi Covid19 yang diberikan ada baiknya tidak hanya fakta saja yang ditekankan namun juga perlu adanya penekanan pada nilai nilai penting lainnya seperti kekeluargaan, ekonomi, hingga pada nilai nilai religi. Tidak harus dipertentangkan, namun cukup di sinergikan saja dengan nilai nilai yang ada. Secara teori memang terlihat mudah namun dalam prakteknya saya akui memanglah sebuah hal yang sulit. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Nyatanya sudah banyak informasi informasi yang beredar sekarang sudah menyentuh hal hal tersebut, hanya kadang ada yang terlewat saja sehingga masih banyak yang denial.

Salah satu cara penyampaian pesan yang saya sukai adalah berita berita maupun gambar dokter yang sedang berjuang untuk “Nilai kemanusiaan”. Masih banyak kampanye lain yang entah dirancang khusus atau secara tidak sengaja menekankan pada sebuah nilai kekeluargaan dan nilai nilai lain yang merangsang otak perasa kita. Namun tidak sedikit pula kampanye dan informasi yang disampaikan hanya menyampaikan fakta fakta hambar tanpa penekanan pada makna yang jelas. Penekanan pada nilai yang merangsang rasa empati otak perasa kita menjadi lebih penting ketimbang hanya memberikan alasan alasan logis teoritis saja. Karena nilai nilai inilah yang mampu memberikan efek gerakan.

Itu saja sih yang ingin saya diskusikan dalam tulisan ini. Merangkum dari kesemua bahasan yang saya berikan panjang lebar sebelumnya. Arahan, Infromasi atau apapun itu yang bertujuan pada suatu pergerakan ntah itu pergerakan untuk membeli barang atau dalam kasus ini berupa pergerakan untuk melakukan dan taat terhadap arahan yang diberikan pemerintah. Fakta memanglah penting, namun jangan juga melupakan untuk penekanan pada suatu nilai yang merangsang otak perasa kita. Nilai nilai tersebut banyak macamnya dan perlu diurai lebih detail lagi dan disesuaikan dengan kasus yang ada.

Akhir kata saya ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi tingginya pada para pahlawan kemanusiaan yang kita miliki sekarang. Mereka yang digaris depan seperti petugas kesehatan dokter maupun perawat dan tenaga medis lainnya hingga para petugas dan praktisi dibelakang mereka, bagian data, administrasi, manajemeb kedaruratan dan segala pihak yang terlibat bukanlah manusia super yang kebal dengan segala hal, mereka juga takut. Mereka mengorbankan waktu tenaga bahkan kesehan mereka demi orang lain (salut saya buat temen temen disana).

Feature Photo by cottonbro from Pexels

BukuHiburan

[Buku] Berani Tidak Disukai by Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

February 24, 2020 — by dewaputuam0

IMG_20200223_143008-01-960x720.jpeg

Dari awal sekali buku karya Kishimi dan Koga menyajikan kita para pembaca sebuah cerita dengan alur dan sudut pandang yang menarik #itu. Berbeda dengan buku pengembangan diri kebanyakan yang sering kali berupa monolog dan uraian endalam dari kisah kisah sukses beberapa tokoh, buku ini justru menyajikan diskusi dan perdebatan seorang anak muda dan filsuf yang eksentrik. Gaya penulisan yang seperti ini disengaja oleh penulis agar sama dengan yang dilakukan para filsuf yunani kuno di zaman Sokrates yang bertukar pikiran dan pemahaman dengan cara berdebat. Yups sang penulis menulis alasan tersebut dalam bukunya.

Socrates tidak menulis ide ide dan pandangannya namun ia mendiskusikan dan mendebatkannya, Plato lah yang kemudian menuangkan gagasan gagasan brilian yang dicetuskan oleh Socrates tersebut dalam bentuk tulisan. Saya menuliskan hubungan antara Socrates dan Plato karena dalam buku ini Ichiro Kishimi secara tersurat mengungkapkan keinginannya untuk menjadi Platonya bagi Alfred Adler. Dan menariknya Fumitake Koga menjawab ungkapan Kishimi dengan menjadi Platonya bagi Kishimi. Membaca hal tersebut saya dalam hati menyeletuk, “oke kalau begitu saya ingin menjadi Platonya Fumitake Koga 🙂 .” Tetapi setelah membaca buku ini hingga selesai, saya menyadari ternyata apa yang dibahas memanglah suatu gagasan-gagasan yang “gila“.

Inilah sosok Alfred Adler, seorang ahli psikologi yang gagasannya secara umum dibahas dalam buku The Courage To Be Disliked (Berani Tidak Disukai) karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga (Sumber gambar: Gemba Academy)

Gagasan dari Adler ini menurut saya sangat kontroversial di jamannya bahkan harus diakui gagasan gagasan tersebut masih cukup nyeleneh bila kita bawa hingga masa kini. Gagasan-gagasannya tersebut tidak begitu mudah dipahami dan membuat saya mengenyitkan kening berpikir keras beberapa kali karena tidak jarang bertentangan dengan pemahaman umum yang ada selama ini. Bahkan dalam dalam satu bagiannya, sang filsuf, tokoh dalam buku ini berkata seperti ini

Konon, Untuk memahami betul teori psikologi Adler dan menerapkannya untuk benar-benar mengubah cara hidup seseorang, orang membutuhkan “separuh tahun kehidupannya” Dengan kata lain kalau mulai mempelajari pada usia empat puluh tahun, kau butuh dua puluh tahun, yaitu sampai kau menginjak enam puluh tahun. Kalau kau mulai belajar pada usia dua puluh tahun, kau butuh waktu sepuluh tahun, yaitu sampai kau menginjak usia tiga puluh tahun.

(Ichiro Kishimi)

Tapi jangan takut untuk membaca buku ini, meskipun tidak seratus persen gagasan gagasan dari Adler akan kita mengerti dan setujui langsung. Sang penulis dengan kecakapannya dapat sedikit meringankan gagasan-gagasan Adler tersebut agar lebih mudah dikonsumsi oleh kita yang memang tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu psikologi maupun ilmu filsafat. Dari pengalaman membaca saya, pertanyaan yang muncul dibenak kita sebagian besar terwakilkan oleh pertanyaan pertanyaan dari tokoh pemuda kepada filuf, yah meskipun terkadang agak sedikit over sih buat saya. Mengingat sosok pemuda yang digambarkan dalam buku ini jika digambarkan “Sad Boy” banget, yang putus asa dengan berbagai hal dan selalu emosional. Tetapi disitu menariknya.

Buku Berani Tidak Disukai tidak mengajak kita untuk menjadi orang yang tidak disukai?

Hiruk pikuk orang berjalan cepat berkeringat di stasiun kereta, sheler bus dan berbagai tempat padat lainnya, melihat itu semua terkadang saya berpikir apa yang sebenarnya kita cari selama ini hingga kita relakan waktu dan energi kita menghilang untuk seperti ini (Photo by Skitterphoto from Pexels )

Menurut Adler, semua permasalahan adalah tentang hubungan Interpersonal . Yup, semua permasalahan, tidak terkecuali. Ini salah satu gagasan yang menurut saya nyeleneh. Semua yang dimaksud disini berati tidak ada permasalahan atau persoalan apapun yang bukan tentang hubungan interpersonal. Gagasan ini menjadi topik pembahasan yang menarik karena tokoh pemuda dalam buku ini kemudian membantah gagasan yang menurut saya pun mengusik logika. Namun dari apa yang dibahas dalam buku ini. saya akhirnya berangsur angsur sedikit sepakat bahwa “Semua permsalahan kita berakar pada permasalahan tentang hubungan interpersonal”.

Untuk menguraikan dan menyelesaikan permasalahan tersebut Adler memberikan sebuah kunci yang dapat kita gunakan yakni “Pembagian Tugas”. Konsep pembagian tugas pada dasarnya serupa dengan konsep dikotomi kendali yang ada dalam filosofi Stoa (Stoicism) yang saya baca dalam buku Filosofi Teras karya Hendry Manampiring. Pembagian tugas disini pada dasarnya membagi hal berada dibawah kendali kita (tugas kita) dengan hal yang berada diluar kendali kita (bukan tugas kita). Dengan pembagian tugas yang jelas maka kita tidak akan berlarut larut dalam sesuatu yang diluar kendali kita dan lebih fokus pada apa yang berada dalam kendali.

Dari sini lah kemudian judul buku ini berasal. Buku Berani Tidak Disukai tidak mengajak kita untuk menjadi orang yang tidak disukai, tetapi lebih dari itu melalui buku ini kita diajak sang penulis untuk hidup dijalan kita sendiri (menggeluti apa yang memang menjadi tugas kita) dan tidak mencampuri tugas orang lain termasuk urusan dalam menyukai atau tidak menyukai kita. #Itu

Tetapi Memang Buku Ini Menabrak Banyak Gagasan yang selama ini kita pernah pahami

Salah satu, alasan awal saya memilih buku ini untuk dibaca adalah kata kata “International Bestseller”, meskipun nista banget pemilihan buku dengan cara itu tapi berhubung referensi buku saya belum begitu bagus yah jadi tidak apa dan memang buku ini tidak mengecewakan! #recomended lah

Membaca buku ini, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya membuat saya harus berpikir keras. Bukan berarti buku ini sulit sekali dipahami, namun saat membaca saya menemukan banyak nilai nilai yang saya anut selama ini ditabrakan dengan gagasan gagasan yang ditawarkan dalam buku ini. Mungkin juga akan memberikan sensasi yang sama dengan yang akan teman dapatkan ketika membaca buku ini. Dari sekian banyak gagasan nyentrik yang ada dalam buku ini, beberapa diantaranya melekat cukup erat dalam pikiran saya seperti

  • Tidak ada pengalaman yang dengan sendirinya menyebabkan keberhasilan atau kegagalan kita. Bahkan dalam teori psikologi Adler “Traum” secara definitif tidak diterima. Jadi dalm teori ini tidak ada lagi alasan alasan kita tidak bisa melakukan sesuatu hal karena mengalami trauma A atau trauma B di masa lalu. Psikologi adler tidak menganut Aetiologi (studi tentang hubungan sebab-akibat), tetapi menganut Teleologi (studi yang mempelajari dan menitikberatkan pada tujuan dari suatu fenomena, ketimbang penyebabnya).
  • Semua permasalahan adalah tentang hubungan Interpersonal. Lagi lagi sebutkan ini ya, tetapi menurut saya ide ini memang gila sih dan saya suka dengan ini. Hingga pada suatu bagian, sang penulis pun menunjukan kepada kita bahwasanya permasalahan permasalahan yang kita anggap pribadi seperti kepercayaan diri kita, kualitas kerja kita, bahkan permasalahan permasalahan yang lebih pribadi lagi tidak lepas dari permasalahan di hubungan interpersonal kita dengan orang lain.
  • Seringkali kita (atau mungkin hanya saya) menganggap konsep reward and punishment itu suatu konsep yang baik untuk perkembangan diri kita. Ketika seseorang mendapatkan reward ketika melakukan sesuatu yang benar dan mendapat punishment yang wajar saat kita salah maka semua akan baik baik saja bahkan menurut kita akan baik. Namun menurut pandangan Adler, hal itu adalah konsep dari hubungan Vertikal, yang sebisa mungkin atau dapat dikatakan harus kita hindari jika kita ingin membangun hubungan yang harmonis. Bahkan kita pun perlu menghindari ucapan ucapan reward ringan berupa pujian seperti “wah apa yang lu lakuin keren banget”, karena menurut Adler di sana dapat mengesankan dan memberikan hubungan yang bersifat vertikal dimana sang pengucap yang menilai tersebut berusaha memposisikan diri lebih tinggi dari yang diberikan ucapan. #NahLoh

Dari buku yang sedikit tebal ini (320-an lembar) ada banyak sekali ide brilian dari tokoh Adler yang saya rasa dapat kita ambil untuk kemudian dapat kita jadikan salah satu inspirasi bahkan bantuan bagi kita untuk menjalani hidup yang lebih sederhana. Sulit bagi saya untuk menjelaskan dan menguraikannya melalui sebuah tulisan. Benar kata HelloGiggles, yang tertulis dalam cover buku ini memanglah “Marie Kondo, tapi untuk jiwa”. Suatu langkah awal bagi kita untuk mengaplikasikan minimalisme dalam jiwa dan kehidupan kita. Ada satu frasa yang kusuka dari buku ini ada dihalaman 306. Dengan beberapa gubahan dari saya, kira kira sang penulis berkata seperti ini.

Dusta Kehidupan yang terbesar adalah tidak hidup di sini pada saat ini. Kita Justru menghabiskan energi untuk memandang pada masa lalu dan masa depan, mengarahkan sinar temaram pada seluruh kehidupan, dan percaya bahwa kita berhasil melihat sesuatu. Padahal justru pada saat itu kita melupakan “sesuatu yang terpenting”.

Ichiro Kishimi & Fumitake Koga dengan beberapa perubahan seperlunya 🙂

Salam hangat dari saya

Dewa Putu AM