BukuHiburan

[Buku] Better Than Before

January 23, 2019 — by dewaputuam0

main

BukuHiburan

[Buku] Better Than Before

January 23, 2019 — by dewaputuam0

Buku Better Than Before (SUmber: gretchenrubin.com)

Akhirnya pecah telor juga bacaan saya tahun 2019 ini, judul bukunya pun menurut saya cukup keren untuk dijadikan bacaan pertama yang saya selesaikan di tahun ini. Agar informasi dan insight yang saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca tidak menghilang dan terlupakan maka sejak 2019 ini akan saya tuliskan beberapa catatan penting dan sedikit kesan dari setiap buku bacaan saya dalam blog. Alasan pertama yang mentriger saya dalam memilih buku ini untuk saya beli adalah judulnya yang saya rasa tidak terlalu heboh. Buku ini tidak ada kata kata lebay yang biasa muncul dalam buku buku pengembangan diri seperti “luar biasa”, “Terdahsyat” dan ter- ter- lainnya yang menurut saya akan memberikan kesan omong kosong hahaha. Ini sih persepsi saya ya mohon jangan di tiru, saya percaya masing masing punya nilai dan norma sendiri dalam memilih sesuatu, begitu pula saya yang tidak begitu suka sesuatu yang bersifat superlatif dan deterministik. Sebelum melenceng terlalu jauh, saya mulai saja ya. Tapi jika dipikir pikir sepertinya akan seru bila lain kali saya tulis tentang ke anti-an saya dengan hal yang superlatif dan deterministik sampai saya beberapa kali berdebat dengan teman, dosen bahkan profesor saya wkwkwk.

Deskripsi Singkat Buku

Buku “Better Than Before” karya Gretchen Rubin yang saya baca merupakan versi terjemahan bahasa Indonesia terbitan Elex Media Komputindo dan diterjemahkan oleh Ayu Yudha. Buku ini tidak terlalu tebal namun tidak bisa pula dikatakan tipis karena memiliki 359 halaman dan diterbitkan pada tahun 2018. Mungkin benar kata beberapa teman saya untuk lebih memilih buku asli dan bukan versi terjemahan karena kan banyak sekali informasi yang hilang. Beberapa buku terjemahan yang saya baca (kecuali Sapiens terbitan Narasi) menurut saya masih bagus bagus saja sih terjemahannya dan masih dapat dipahami maksud dan inti yang diperbicarakan dalam buku buku tersebut. Meskipun ada beberapa frasa yang terbaca cukup aneh tidak tahu karena tidak ada padanan kata atau istilah dalam bahasa indonesia atau karena seni pemilihan kata (diksi) penulis aslinya yang sedikit hilang karena proses penerjemahan. Mungkinalasan kedua lebih mendominasi pada buku ini.

Buku ini menurut saya ditulis dengan gaya penulisan yang cukup asik untuk buku pengembangan diri. Gaya penulisan yang mengalir seperti cerita kehidupan penulis (curhatan) membuat kita merasa buku ini adalah sebuah novel dan bukan buku buku pengembangan diri yang kaku. Hingga akhir tulisan, saya terkesan dengan apa yang diutarakan Gretchen Rubin oleh bukunya ini, konsep konsep tentang kebiasaan yang dia utarakan tidak hanya menjadi konsep abstrak yang ada di angannya atau konsep konsep yang ia intisarikan dari hasil kajian para ahli belaka. Namun, lebih dari itu Gretchen Rubin memberikan konsep konsep yang telah ia “coba” pada dirinya maupun orang orang disekitarnya. Membaca buku Gretchen Rubin ini, saya jadi merasa sedang membaca sebuah catatan harian seorang yang tergila gila dengan konsep kebiasaan dengan segala pertanyaan pertanyaan mendasarnya. Ia dengan semangatnya mencoba konsep konsep yang ia baca dan temukan kepada dirinya dan orang orang disekitarnya (suaminya, adik, ayah, rekan dan anaknya) terlihat seram namun hebat.

Insight Buku

Salah satu hal yang saya suka dalam buku ini adalah kesadaran penulis akan tidak adanya suatu konsep dan cara yang dapat berhasil mempengaruhi semua orang dan setiap waktu. Gretchen Rubin mengakui keunikan masing masing orang, yang dalam hal ini adalah para pembacanya. Hal tersebut tersurat maupun tersirat dalam buku ini. Untuk mempermudah pemahaman buku ini dan kemudian memilah cara cara apa yang dapat diterapkan dalam menciptakan maupun merubah kebiasaan kita Gretchen Rubin menyederhanakan kecenderungan manusia menjadi empat tendensi manusia  (Klik link ini untuk membaca tulisan Gretchen Rubin dalam terkait konsep ini dalam blognya). Konsep ini nih yang saya suka dalam buku Better Than Before Gretchen Rubin dan saya rasa salah satu hal yang menjadi Insight dalam buku ini. Konsep ini pada dasarnya suatu konsep pengelompokan manusia berdasarkan tendensi/ kecenderungannya dalam merespon ekspektasi internal (ekspektasi dari diri sendiri) maupun ekspektasi eksternal (ekspektasi yang datang dari luar baik orang luar, aturan dari luar, sistem, norma dan sebagainya). Konsep ini nih yang saya suka dalam buku Better Than Before Gretchen Rubin dan saya rasa salah satu hal yang menjadi Insight dalam buku ini. Konsep ini pada dasarnya suatu konsep pengelompokan manusia berdasarkan tendensi/ kecenderungannya dalam merespon ekspektasi internal (ekspektasi dari diri sendiri) maupun ekspektasi eksternal (ekspektasi yang datang dari luar baik orang luar, aturan dari luar, sistem, norma dan sebagainya).

Ada empat kelompok manusia berdasarkan Tendensinya, keempat kelompok tersebut antara lain:

  • Upholder: Kelompok yang dengan senang hati menerima dan menjalankan ekspektasi internal maupun eksternal.
  • Questioner: Kelompok yang selalu menanyakan ekspektasi yang diberikan padanya baik internal maupun eksternal, jika masuk akal maka akan ia penuhi, namun jika tidak masuk akal akan ia tolak.
  • Obliger: Kelompok yang mengalami kesulitan dalam memenuhi ekspektasi internal namun dengan mudah dan senang hati menyanggupi ekspektasi eksternal.
  • Rebel: Kelompok yang menolak semua ekspektasi internal maupun eksternal, kelompok ini memiliki kecenderungan menentang semua aturan yang ada dan sangat mengagumi kebebasan.
Empat Tendensi (Sumber: Valentina Thörner)

Dalam buku Better Than Before Gretchen Rubin menjelaskan dan menceritakan pengalaman-pengalaman dia tentang penerapan konsep konsepnya dalam kehidupan sehari harinya dan juga dilengkapi apakah konsep konsep yang ia jelaskan akan sesuai dengan orang ber tipe tendensi tertentu atau tidak pada tipe tendensi lainnya. Sebenarnya ada beberapa konsep pengelompokan lain yang juga diulas dalam buku ini seperti pengelompokan orang berdasarkan cara ia menolak sesuatu. Ada dua kelompok yaitu Abstainer (seseorang yang harus menolak secara keseluruhan) dan tipe Moderat (yang dapat menerima dalam kadar tertentu dan menolak jika berlebih) dan ada banyak konsep konsep menarik lainnya yang jika dituliskan satu satu dalam tulisan ini akan terlalu banyak dan terlalu panjang hehehe.

Sebagai akhir dari tulisan ini secara subyektif saya memberikan nilai pada buku Gretchen Rubin yang berjudul Better Than Before 4 bintang dari 5.

Sekian dari saya, terimaksih atas waktunya untuk menyimak tulisan saya ini dan akhir kata saya ucapkan

Salam

Dewa Putu Am

dewaputuam

I'm a Disaster Analyst, Agro-Climatologist, and GIS Analyst. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe reading too.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *