BukuHiburan

[Buku] Lion, A Long Way Home

April 18, 2019 — by dewaputuam2

main

BukuHiburan

[Buku] Lion, A Long Way Home

April 18, 2019 — by dewaputuam2

Sampul Buku “Lion, A Long Way Home” Karya Saroo Brierley (Sumber Gambar: Amazon)

Awalnya saya membeli buku ini untuk menemani saya saat nyepi, agar dapat menghilangkan sedikit bosan dikala kita tidak melakukan apa apa, jauh dari gadget tidak bisa nonton televisi dan segala aturan pengendalian diri yang khas dalam perayaan nyepi. Secara nista, saat itu saya memilih buku ini karena masuk kedalam jajaran buku internasional best seller. Melihat ada tag tersebut sudah membuat rasa ingin tahu saya terpicu dan kemudian mengarahkan lengan saya untuk meraihnya hingga ke meja kasir. Saya akui saya termasuk lemah pada buku buku yang ada tag seperti ini, yah seperti international, new york times, national best seller dan best seller lainnya. hehehe

Buku yang saya baca kali ini adalah versi terjemahan bahasa indonesia oleh Agnes Cynthia penerbit Gramedia dari buku dengan judul yang sama “Lion, A Long Way Home” Karya Saroo Brierley & Larry Buttrose. Buku ini tidak terlalu tebal yakni 290 an halaman. Hal ini yang awalnya saya pikir dapat dilahap habis saat nyepi. Ternyata takdirpun berkata lain, saat nyepi saya hanya dapat menyelesaikan 30% dari buku ini dan kemudian terbengkalai karena say lebih tertarik membaca buku lain kemudian baru selesai tanggal 15 April kemarin. Secara normal buku ini seharusnya dapat dihabiskan dalam 2-3 hari lah.

Gambaran Umum Isi Cerita Buku Ini

Buku ini merupakan kisah nyata dari sang penulisnya yang sempat menghebohkan publik India atau bahkan dunia saat itu. Ini adalah cerita tentang seorang anak kecil (penulis sendiri) yang hidup dari keluarga sangat miskin dengan segala kebersahajaannya. Kehidupan anak kecil itu kemudian berubah, dari yang sebelumnya susah menjadi sangat susah saat ia tiba tiba tersesat akibat mengikuti kakaknya ke kota. Di-umur yang sangat muda tersebut Saroo kecil pun hanya mengingat dua kata yaitu “Ginestlay” dan “Berampur”. Hanya kedua kata tersebut yang ia ingat untuk menggambarkan dari mana ia berasal dan ternyata kedua kata itu tidak dapat membantunya pulang karena kedua kata tersebut begitu asing didengar.

Perjuangan saroo digambarkan sangat luar biasa disini, sebenarnya ingin saya pilih kata mengerikan dan menyedihkan namun apa yang diceritakan disini justru pada begitu “kuatnya” saroo saat itu menghadapi suatu kesusahan yang menurut saya sudah terlalu eksrim. Setelah beberapa lama hidup di stasiun dan sekitaran kota, saroo akhirnya dibawa masuk ke suatu rumah bagi anak anak terlantar untuk kemudian dibantu dan juga bila tidak berhadil ditemukan rumah ini juga sekaligus menghubungkan anak anak tersebut kepada orang tua yang ingin mengadopsinya. Dari rumah tersebut akhirnya Saroo diadopsi oleh sepasang suami istri yang berdomisili di Australia.

Kehidupan Saroo pun tiba tiba berubah 180 derajat. Saroo yang dulunya tinggal dan hidup miskin di perkampungan kumuh di India, kemudian menjadi seorang anak angkat dari keluarga yang cukup berada yang tinggal di Australia.

Saroo melanjutkan hidupnya dengan bahagia, meskipun terkadang diceritakan pula bahwa ada juga sedikit konflik antara dirinya dan kedua orang tua angkatnya. Namun semua itu dapat diselesaikan dengan dewasa dan terkadang cukup lucu.

Dengan tanpa meninggalkan dunianya yang baru, Saroo yang kian dewasa terus melakukan pencarian asal muasal dirinya dan keberadaan orang tuanya bertahun tahun. Bertahun tahun itu pula Saroo selalu menjaga ingatan setiap detail rumah dan tempat tinggalnya yang dulu, dengan harapan dapat membantunya kemudian hari dalam mencari rumahnya.

Tahun demi tahun berlalu Saroo terus mencari dimana rumahnya, dengan berbagai cara dari yang bersifat sporadis hingga pada cara cara yang sistematis dan terstruktur. Dengan menelusuri setiap nama tempat yang tercantum didalam Google Earth dan juga atas bantuan jejaring Facebook.

Foto Saroo Brierley bersama ibunya yang terpisah olehnya sangat lama namun karena kegigihannya akhirnya dapat dipertemukan kembali dengan cara yang tak diduga (Sumber Foto: Dailymails.co.uk)

Ombang ambing emosi Saroo tertulis dengan apik dalam buku ini. Apik yang saya maksud disini bukanlah suatu penggambaran naik turun emosi dan pendewasaan diri yang wah dengan segala keberlebihannya. Buku ini memberikan gambaran kepada kita perubahan saroo dari yang benar benar panik saat pertama kali terjebak di kereta, kemudian bangkit untuk sekedar tetap hidup, lalu jatuh lagi karena kegagalan menemukan rumahnya, lalu bangkit lagi dan begitu seterusnya dengan permasalahan permasalahan yang sebelumnya berkutat pada insting dasar makhluk hidup yakni untuk makan dan bertahan hidup, berubah pada pengambil alihan logika, lalu kemudian masuk pada sesuatu yang paling dalam yang ada pada diri manusia yakni perasaan.

Opini tentang Buku

Saya sebenarnya bingung bagaimana mencari suatu nilai dari buku ini. Hingga saya membaca ulasan di bagian belakang sampulnya, dan disana dituliskan bahwa “buku ini tidak hanya menceritakan perjalanan pulang kerumah, melainkan perjalanan psikologis untuk menemukan jati diri.” Saya sedikit mengenyitkan alis saya saat membaca hal tersebut. Saya merasa gagal karena kesulitan menemukan nilai tersebut didalam buku ini.

Nilai nilai saya tangkap justru sebuah nilai kemanusiaan yang sederhana yang dibalut dengan kepolosan sang pencerita hingga sesuatu yang sangat kelam bahkan untuk orang dewasa sekalipun diceritakan dengan bagus sekaligus mengerikan dalam buku ini.

Disini kita tidak dipertemukan dengan sosok antagonis. Hanya beberapa tokoh yang memiliki sudut pandang yang berbeda dan dengan pengalaman berbeda sehingga menghasilkan aksi yang berbeda yang mungkin menurut kita terlihat jahat, yang banyak justru sosok sosok figuran yang memiliki kesan tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Saya rasa ini adalah penggambaran yang paling sesuai tentang apa yang ada disekitar kita yang mana tidak ada yg benar benar jahat, dan yang paling banyak adalah kelompok kelompok yang tidak peduli.

Buku ini cukup bagus untuk dibaca, meski terkadang ada kesan membosankan hehehe.

Salam dari Saya

Dewa Putu AM

dewaputuam

I'm a Disaster Analyst, Agro-Climatologist, and GIS Analyst. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe reading too.

2 comments

  • Nobody

    May 13, 2019 at 3:20 am

    I’m your new fan, dewaaaa….. Lmao.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *