BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Orang-Orang Biasa, Andrea Hirata

April 18, 2019 — by dewaputuam0

main

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Orang-Orang Biasa, Andrea Hirata

April 18, 2019 — by dewaputuam0

Ilustrasi Buku Orang-Orang Biasa yang merupakan karya ke 11 Andrea Hirata, (Sumber gambar: MarkasBuku.com

Buku ini menceritakan kisah getir, keren nan bodoh dari Sepuluh sekawan. Sekawan-Sekawan biasanya hanya lima orang kan yak, Seperti yang Andrea Hirata dalam salah satu bab yang berjudul Idealisme ia juga mengatakan seperti itu. Dari bab yang sama pula penulis ini melakukan curhat colongan dengan keren sih menurut saya dan mengatakan bahwa menulis tokoh utama yang berjumlah sepuluh (sepuluh sekawan) bukan main susahnya. “Pengarang yang tak kuat mental akan mundur karena bukan main susahnya mengingat nama sepuluh orang itu”. Hahahah ni penulis songong amat yak, melalui tulisan itu dia secara langsung menyanjung dirinya sendiri bahwa ia adalah penulis yang kuat mental. Dan tentulah saya akui dia memang penulis yang seperti itu dan juga hebat (huaaaaa next novel please next novel…).

Sekilas tentang buku dan isi nya yang biasa-biasa ini

Menurut apa yang diruliskan di Mizanstore, buku “Orang-Orang Biasa” merupakan karya ke 11 dari seorang Andrea Hirata dan buku yang saya baca adalah terbitan Bentang Pustaka cetakan Februari 2019. Buku dengan sampul berwarna kuning dan bergambar seseorang menggunakan topeng monyet sedang memikul buntelan ini memiliki sekitar 300 halaman dan 40 bab. Saya rasa tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis untuk sebuah buku novel dan untuk normal akan dapat dilahap sekitar 1 hingga 2 hari.

Kembali pada segi cerita, Seperti yang sudah disebutkan diawal, Orang-Orang biasa merupakan sebuah kisah tentang Sepuluh sekawan yang rata rata memiliki tingkan inteligensi dibawah rata rata dengan segala kelakuan yang ajaib. Mereka terkumpul di barisan bangku paling belakang kelas baik secara alami maupun secara tidak alami (ada juga sedikit unsur kesengajaan). Ini bukan kisah sepuluh sekawan yang dengan kebersahajaannya saling bahu membahu dan kompak dalam menaklukan dunia, cerita mereka tidaklah sehebat itu namun tidak pula kurang hebat dari pada itu.

Kebersaman mereka terus terjaga hingga mereka tumbuh dewasa bahkan beberapa dari mereka sudah menikah (ada yang berkali-kali) dan sebagian pula telah memiliki anak. Hingga dewasa, kadar kekonyolan mereka tidaklah berkurang bahkan dapat dikatakan semakin meningkat. Namun semua berubah ketika salah satu anak mereka di terima di jurusan kedokteran salah satu kampus ternama di Negeri, namun sayangnya uang awal yang harus dibayar untuk masuk jurusan itu sangatlah besar sehingga tidaklah mampu orang tua dari si anak itu membayar bahkan untuk meminjam di koperasi simpan pinjam ataupun bank ia tidak bisa.

Seolah menjadi secercah harapan bagi kelompok mereka yang sedari dulu terikat dalam lingkaran setan kebodohan dan kemelaratan, mereka pun dengan sekuat tenaga dan kerjasama yang tidak kompak merencanakan suatu misi yang sangat besar yang kemudian mengubah wajah dan pandangan seisi kota.

Opini saya yang biasa ini untuk buku Orang-Orang Biasa

Ijinkan saya untuk sedikit mengatakan kalimat klise yang merupakan template dari berbagai opini saya tentang buku yang saya baca. Berikut frasa tersebut. “Buku ini sangat bagus dengan ide dan cara bercerita yang unik dan menarik.” yah kira kira seperti itu kalimat awal saya untuk memberikan opini pada buku ini.

Harus saya akui buku ini sangat bagus dan lucu. Meskipun penokohannya untuk beberapa karakter saya rasa tidak begitu kuat dai kesepuluh sekawan dan hanya beberapa yang saya anggap sangat menonjol, semacam kurang proporsional gitu. Karena hal tersebut saya melihatnya beberapa tokoh malah digendong oleh karakter tokoh lainnya tanpa memberikan suatu peran yang berarti. Justru beberapa tokoh sampingan banyak diceritakan dan lebih berkarakter dibandingkan sepuluh sekawan itu.

Jika kita lihat gambaran besarnya, sepuluh sekawan ini tetaplah diceritakan dengan baik dan fokus oleh sang penulis, jikalau proporsi masing masing karakter dalam sepuluh sekawan tersebut kurang optimum cukup masuk akal dan bisa dimaklumi sih karena untuk membuat 10 tokoh tersebut bukanlah hal yang mudah seperti yang dituliskan oleh sang penulis pada paragraf awal.

Ada satu lagi yang saya cukup sayangkan dari buku ini adalah, tokoh sepuluh sekawan pada akhir akhir cerita kenapa tergambar begitu keren ya, seolah kebodohan mereka yang dulu hilang begitu saja setelah rencana rencana mereka berakhir, meski ada satu kejadian konyol terjadi setelah rencana mereka berhasil dilaksanakan namun pada bagian akhir cerita sentuhan sentuhan kejenakaan yang kecil namun ngena yang pada awal awah terhambur begitu saja tiba tiba hilang dan muncul lah sosok baru yang benar benar beda dan keren.

Salah satu isi dalam buku Oran-orang Biasa (Sumber Gambar: Bentang Pustaka)

Ini sebuah cerita tentang kehidupan penghuni bangku belakang yang selama ini diidentikan dengan murid murid begundal dan bodoh, yup cukup begundal dan bodoh digambarkan pula dibuku ini. Namun lihat lah saat mereka bersatu dan beraksi, mereka tetaplah begundal dan bodoh. Namun mereka tidak dapat disepelekan dan direndahkan karena merka juga bisa hebat.

Ada suatu padangan saya tentang orang orang yang selama ini selalu duduk di bangku belakang, ini dari saya yang duduk di dua baris terdepan ya. Hal ini baru saya renungkan akhir akhir ini stelah membaca buku orang orang biasa.

“Orang orang bangku belakang bukanlah orang orang yang paling sedikit mendapatkan pelajaran di kelas. Bila orang orang yang duduk didepan belajar pada guru [saja]. Orang orang di bangku belakang lebih dari itu, mereka tidak hanya belajar dari guru, tetapi belajar pula dari murid murid lain didepan mereka, tidak hanya soal pelajaran tetapi juga tentang kehidupan” . Oleh karena itu adalah suatu yang sangat mungkin jikalau esok mereka justru lebih berhasil dari pada orang orang yang duduk di bangku depan #Kayaknyabegitusih

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa sekian dulu dari saya, saya merekomendasikan buku ini untuk teman teman baca sebagai salah satu hiburan sembari menikmati teh atau kopi. Karena buku ini sangat layak untuk dibaca hehehe

Salam hangat dari orang orang biasa

Dewa Putu AM

dewaputuam

I'm a Disaster Analyst, Agro-Climatologist, and GIS Analyst. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe reading too.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *