main

BencanaMeteorologiUncategorized

Jejak Banjir yang Sebelumnya Tak Terlihat dan Terceritakan

March 19, 2019 — by dewaputuam0

1552553794718-01-960x509.jpeg
Pemandangan Diluar Sebuah Kamar yang tampak bagus dan menggoda untuk dikunjungi namun sayangnya saat itu terlalu lelah dan tak sempat saya gapai hehehe (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Sebuah Perjalanan dari Bendungan ke Bendung dan Sand Pocket Penjaga Makasar

Pada pertengahan bulan Maret ini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi suatu lokasi yang pada akhir Januari lalu banyak diberitakan dengan segala kisah suram dan heroik didalamnya. Sebuah bencana banjir yang tanpa disangka sangka terjadi begitu saja dan merengut stidaknya 68 jiwa. Bencana tersebut tentunya menyita perhatian banyak pihak dari berbagai perspektif dari hal hal bersifas teknis hingga kejadian heroik seorang nenek yang berusaha menyelamatkan seorang cucunya.

Mendapat kesempatan untuk terjun ke lokasi, meskipun sudah cukup lama berlalu kejadiannya saya tentunya sedikit antusias hehehe namun sebenarnya ada sedikit rasa tidak enak dengan tim shift saya di kantor yang sering kali saya tinggal. Yah saya memang saat itu baru saja pulang dari cuti yang cukup panjang dan benar benar baru gabung kerja bersama tim lagi. Namun apaboleh buat dan sepertinya menarik, dengan sedikit sungkan sungkan tapi mau akhirnya saya menyanggupi untuk ikut berkunjung ke sebuah Waduk di Sulawesi Selatan yang sempat menjadi bahan perbincangan beberapa bulan lalu, “Waduk Bili Bili”.

Tentang Dua Pilihan Sulit di Waduk Bili-Bili yang kemudian “dipersalahkan”
Banjir yang Terjadi di Sulawesi Selatan yang Banyak diberitakan disebabkan oleh dibukanya Pintu Bendungan Bili Bili (Sumber Foto: KOMPAS.com/ABDUL HAQ)

Jika kita menelusuri kembali pemeberitaan pemberitaan terkait banjir di Sulawesi Selatan pada awaln tahun 2019, akan kita temui bahwa mayoritas dari pemberitaan menjurus pada satu kesimpulan bahwa kejadian banjir yang sangat besar tersebut dikarenakan (atau setidaknya diperparah) oleh dibukanya pintu wadu Bili-Bili. Begitu pula yang saya pikirkan pada akhir bulan Januari tersebut. Kemudian muncul suatu pemikiran dalam benak saya tentang apakah yang sebenarnya dilakukan oleh para petugas wadauk Bili-Bili pada saat kejadian.

Hingga saat kunjungan kewaduk tersebut, mereka menjelaskan tentang pilahan sulit yang mereka hadapi pada saat kejadian banjir tersebut. Tentang keadaan dimana mereka diharuskan memilih sebuah pilihan terbaik diantara yang buruk. Pilihan pertama adalah pilihan yang mungkin dipikirkan sebagian orang yakni tetap menutup waduk bili bili saat terjadi banjir besar di wilayah hilir. Pilihan ini sebenarnya juga dipikirkan oleh para petugas dan pengambil keputusan disana namun ada konsekuensi sangat besar yang membuntuti pilihan tersebut yakni peluang jebolnya Bendungan yang tentunya akan berdampak pada banjir yang jauh lebih besar. Didasari oleh pertimbangan tersebut dan untuk mengamankan bendungan lah akhirnya mereka memilih pilihan ke dua yakni membuka dan tentunya banjir yang sudah terjadi akan meningkat, namun setidaknya tidak akan sebesar bilamana bendungan Bili Bili Jebol.

Mendengar hal tersebut saya sebenarnya cukup terkejut karena saya bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu. Saya jadi merasa bersalah karena beberapa bulan yang lalu saat kejadian banjir disana sempa ada beberapa pemikiran bahawa ada suatu kesalahan besar yang terjadi disana saat itu. Yah meskipun tentunya tidak sepenuhnya benar namun untuk saat kejadian, pembukaan pintu bendungan tersebut masih dapat dimaklumi, dan mereka saat itu sebenarnya sudah menaikan batas tinggi air saat membukanya dan sedikit bermain dengan bahaya jebolnya tanggul agar memberi sedikit waktu yang bilamana harus mengikuti SOP pembukaan bendungan seharusnya justru dibuka lebih awal lagi.

Jejak Mega Longsor Masa Lalu, Kini Menjadi Berkah, Diambil Secara Serakah dan Kemudian Membawa Kita ke Bencana Air Bah
WIlayah terjadinya Mega Longsor pada Tahun 2004, Saat itu Salah satu dinding Kaldera Gunung Bawakaraeng runtuh dan materialnya terus tertransport melalui aliran sungai Jeneberang hingga saat ini saat artikel ini ditulis. (Sumber Foto: Medium.com)

Perjalanan pun berlanjut baik ruang dan waktu. Perjalanan waktu membawa kita kembali pada kejadian Mega Longsor Kaldera Gunung Bawakaraeng yang terjadi pada akhir Maret tahun 2004. Kejadiang longsornya sebuah kaldera gunung tersebut membawa material dengan julah yang sangat besar dan mengakibatkan setidaknya 30-an jiwa melayang (sumber: Seindes, Medium.com dalam link ini). Besarnya kejadian tersebut menyebabkan dampaknya masih dirasakan oleh Sulawesi Selatan Hingga saat ini. Material longsoran pada lima tahun yang lalu tersebut masih terus terbawa oleh aliran sungai Jeneberang dan mengendap di sekitarannya. Hal ini yang kemudian menghidupkan perkonomian disekitar wilayah tersebut dengan pertambangan batu yang sangat masif yang entah sampai kapan akan habis.

Material longsoran yang terbawa air jeneberang selain membawa berkah juga menjadi perhatian serius dari pengelola bendungan karena dapat menumpuk dibendungan dan mengakibatkan pendangkalan dini bendungan Bili-Bili. Hal ini berakibat pada penurunan kapasitas tampung bendungan tersebut yang jika tidak ditangani akan berdampak pada semakin pendeknya umur bendungan atau bahkan justru membahayakan wilayah hilir. Untuk mengatasi hal tersebut hingga saat ini telah di bangun 27 Sabo atau disebut sebagai Sand pocket yang berfungsi sebagai penampung material materlial agar tidak masuk kedalam bendungan.

Penambangan Batu di Sekitaran Sabo atau Sand Pocket yang Sebenarnya Membatu Pengendalian Sedimen Waduk Namun dalam Kondisi Tertentu Justru Sudah Mulai Merusak Fungsi Sabo dalam Menjaga Laju Sedimentasi di Waduk Bili Bili. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di sekitaran sand pocket itu kini menjadi wilayah tambang batu dan pasir yang sangat menjanjikan. Dalam kadar tertentu dan teratur sebenarnya penambangan ini membantu fungsi sand pocket agar ruang untuk pengendapan material tetap terjaga. namun yang terjadi saat ini seperti yang diceritakan salah satu petugas, para penambang justru mulai mengganggu fungsi sand pocket karena menambang dan memakan badan sungai yang mengakibatkan sungai menjadi semakin lebar dan fungsi sand pocket pun berkurang keefektifannnya sehingga saat terjadi banjir Awal Januari 2019 lalu 2 San Pocket pun rusak parah. Dengan rusaknya dua sand pocket tersebut tentunya berkurang pula fungsi perlindungan sand pocket untuk melindungi laju pendangkalan di Bendungan Bili Bili yang sangat tinggi. Hal ini tentunya berbahaya dan dapat menjadi bom waktu yang akan memberikan dampak besar dikemudian hari.

Untuk mengatasi hal tersebut saat ini para pengambil keputusan sedang melakukan berbagai cara seperti perbaikan dan penambahan peralatan guna mengeruk sedimen yang ada di bendungan dan menambah sand pocket di atas bendungan bili bili guna mengurangi laju pergerakan material longsoran dari Gunung Bawakaraeng. tentunya hal tersebut masih kurang efektif jika penambangan di sekitaran Sungai Jeneberang masih semasif sekarang dan tanpa pengaturan dan manajemen yang lebih baik lagi. Kita tentunya tidak dapat begitu saja, mematikan kegiatan ekonomi penambangan disana, dan justru sebenarnya dalam dosis yang pas penambangan tersebut sangat membantu dalam pengurangan sedimentasi. Untuk hal tersebut tentu perlu ada penataan kembali dan usaha serius dari berbagai pihak untuk mencarikan jalan keluar terbaik dan solusi yang saling menguntungkan dan tidak membahayakan masyarakat lain.

Ini Hanya Sebuah Cerita yang Tertutup oleh “Ketidaktahuan” dalam gelapnya menapaki jejak di Dunia Digital

Waduk Bili Bili, Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan yang tampak megah dan Indah, Untuk pengoperasiannya agar optimal perlu dukungan dari berbagai pihak agar fungsi fusngi bendungan dalam mengendalikan air saat banjir, sumber air pdam, listrik dan pengairan sawah tetap terjaga. (Sumber Foto: Kompas Regional)

Jika kita menelusuri informasi kejadian terkait banjir yang terjadi di Sulawesi Selatan, disana banyak dikatakan bahwa pembukaan bendungan Bili-Bili merupakan penyebabnya. Hal itu bukan lah suatu yang salah, pada kenyataannya bendungan Bili-Bili lah yang menyebabkan banjir yang terjadi di Sulawesi Selatan pada akhir Januari lalu menjadi begitu besar. Dengan adanya pembukaan bendungan bili bili masa air yang sebelumnya sudah banyak menggenangi bagian hilir Sungai Jeneberang menjadi semakin tergenang saat Bendungan Bili-Bili di buka. Akan tetapi kita perlu juga ingat bahwa tentunya pilihan untuk pembukaan waduk tersebut bukanlah pilihan yang mudah, dan mereka telah menentukan pilihan terbaik diantara yang buruk. Kita perlu lah mengapresiasi hal tersebut dan mengapresiasi pula keberanian mereka menentukan pilahan pelik tersebut.

Peristiwa di Bili-Bili mengajarkan saya akan suatu hal, bahwa kita bukanlah siapa siapa, dan tidak tahu apa apa jadi janganlah dengan mudah menyimpulkan suatu hal tanpa menanyakan langsung kepada orang orang yang terlibat. Informasi informasi yang bertebaran saat ini memang begitu mudah dan cepat kita dapatkan, namun sayangnya banyak dari informasi informasi tersebut telah terkontaminasi oleh pemikiran pemikiran subyektif dari para penulisnya (termasuk saya hehehe). Kasus Bili bili ini hanyalah sebuah cerita dari sekian banyak cerita yang tertutup oleh “Ketidaktahuan” dalam gelapnya menapaki jejak dalam dunia Digital.

Sekian dari saya, saya rasa sudah lagi lagi terlalu panjang. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Salam,

Dewa Putu AM

BencanaDaily LifePsikologiSains PopulerUncategorized

Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana

March 5, 2019 — by dewaputuam3

IMG_20181021_163022-01-960x540.jpeg

Untuk Awal Mari Kita Berkenalan Dengan Bencana yang Harus Kita Hadapi

Kondisi Setelah Bencana di Petobo, Disini kita melihat begitu dasyatnya dampak yang diberikan dari sebuah bencana. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada tahun 2018, Indonesia diterpa banyak sekali cobaan yang berat, Pada tahun tersebut kita mengalami banyak bencana alam yang sayangnya banyak pula menelan korban jiwa. Dari 2575 Kejadian Bencana yang terlapor pada tahun 2018 (Sumber:DIBI BNPB) setidaknya telah menyebabkan >4836 orang Meninggal/Hilang, >21,126 orang luka luka dan >10,333,306 orang mengungsi. Dari angka tersebut, bila kita bandingkan dengan jumlah penduduk indonesia yang sekitar 264 Juta, maka dapat dikatakan bahwa 4 dari 100 penduduk di Indonesia sudah menjadi Korban Meninggal, Luka atau Mengungsi akibat bencana tahun 2018 saja.

Masih ingatkah kalian Setidaknya ada beberapa bencana besar pada tahun 2018 yang menyita perhatian secara Nasional maupun Internasional Mulai dari Gempa Bumi di Lebak Banten pada bulan Januari yang dirasakan juga di Jakarta, Erupsi beberapa gunung (Gunung Sinabung, Gunung Merapi dan Gunung Agung dan Gunung Krakatau), Gempa Lombok, Gempa-Tsunami-Likuifaksi di Sulawesi Tenggara yang fotonya saya tampilkan dalam gambar awal dalam tulisan ini, Dan sebagai penutup tahun 2018 kitapun dikejutkan oleh silent tsunami akibat letusan Krakatau pada bulan Desember 2018.

“Dongeng Usang?” tentang Risiko Bencana di Indonesia yang Sangat Tinggi

“Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng” ingin rasanya saya menulis frasa seperti itu, namun frasa tentang pertemuan tiga lempeng tersebut agaknya sudah terlalu sering terbaca dan juga terlalu sering pula keluar masuk di telinga kita. Saya khawatir bila menceritakan bencana dari template frasa tersebut kalian akan kian bosan dan meninggalkan tulisan ini. Namun suka atau tidak suka, meskipun frasa itu sudah tua dan usang, itulah kenyataanya. Dengan perbedaan tipis antara anugerah dan musibah, fakta tentang tiga lempeng tersebut lah yang menyebabkan kita sering sekali merasakan Gempa gempa besar serta memberikan kita banyak sekali gunungapi aktif (127 Gunungapi). Sebagai sedikit gambaran tentang seberapa banyak kejadian gempa yang telah kita alami berikut saya sajikan peta tentang gempa besar yang terjadi selama tahun 2018 dan awal 2019 yang saya unduh dari USGS.

Meski dalam hal bencana, Indonesia berlimpah dari segi jumlah dan intensitasnya. Tidak boleh kita lupakan juga bahwa ada begitu anugerah yang diterima Indonesia yang tentunya tidak kalah besar bila dibandingkan bencana yang kita dapat. Dongeng usang tentang pertemuan tiga lempeng setidaknya telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati tanah kita yang bagaikan tanah surga. Sebuah tanah yang berlimpah kekayaan dan keindahannya persis seperti lagu yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Dengan banyaknya gunung berapi akibat pertemuan lempeng tersebut tanah tanah kita menjadi subur yang saking suburnya diibaratkan dapat menumbuhkan tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.

Kita kembali pada permasalahan bencana di Indonesia. Untuk menggambarkan dan memahami seberapa besar risiko bencana di suatu wilayah para peneliti dan pegiat kebencanaan biasanya menggunakan suatu Indeks Risiko. Dalam perhitungan indeks risiko (Risk), diperhitungkan beberapa indeks kunci yang meliputi Indeks Bahaya & Keterpaparan (Hazard & Exposure), Indeks Kerentanan (Vulnerability) dan Indeks Kapasitas (Capasity). Melalui Indeks indeks tersebut kita dapat melihat dan memahami seberapa besar Risiko bencana disuatu wilayah, seberapa besar bahaya dan jangkauan dari masing masing bencana di wilayah tersebut, Seberapa rentan penduduk diwilayah tersebut jika bencana terjadi, dan Seberapa besar dan kemampuan dan kesiapan pemerintah, masyarkat infrastruktur, peralatan dalam menghadapi suatu bencana.

Sedih atau Bangga? “Kita berada di Peringkat 4 se ASEAN !”

Berdasarkan hasil kajian INFORM (INdex FOr Risk Management) didapatkan bahwa Indonesia berada di Posisi nomor 4 dari negara negara ASEAN berdasarkan risiko terhadap krisis dan bencana. Nilai Risiko yang demikian besar tersebut dipengaruhi oleh tingkat bahaya terhadap krisis dan bencana alam di Indonesia yang sangat tinggi dan dari sisi ini kita berada pada posisi ke tiga setelah Filipina dan Myanmar. Ada suatu berita baik bila kita lihat dari grfik dibawah, terlihat bahwa meskipun tingkat bahaya kita besar kerentanan dan kekurangan kapasitas kita untuk menhadapi bencana cukup kecil atau dapat dikatakan bahwa sebenarnya kita secara sosial, politik ekonomi dan beberapa faktor lainnya, kita dinilai cukup tangguh menghadapi bencana, hal inilah yang tidak hanya perlu dipertahankan namun perlu kita buat lebih baik lagi di tahun tahun mendatang.

Tantangan Indonesia kedepan dalam menghadapi bencana tidaklah kecil. Semakin lama jumlah kejadian dan intensitas bencana yang kita alami juga kian meningkat. Dengan adanya perubahan iklim dan pemanasan global, kejadian bencana bencana Hidro-meteorologi seperti Banjir, Banjir Bandang, Tanahlongsor dan Kekeringan akan semakin kuat dan semakin sering menghampiri hari hari kita. Jumlah penduduk yang terus meningkat pula menyebabkan semakin besar kebutuhan akan tempat tinggal dan tempat keperluan lainnya yang sayangnya banyak dari tempat tempat tersebut merupakan lokasi yang tak layak dan berbahaya karena potensi kejadian bencana yang besar.

Tidak hanya dari segi kejadian bencana, penanganan bencana pun semakin lama semakin kompleks. Banyak hal yang perlu di hadapi, mulai dari masalah teknis dilapangan hingga gangguan gangguan kecil namun tidak bisa tidak di acuhkan seperti persebaran berita hoax dan berita meresahkan tidak bertanggung jawab. Jumlah, Intensitas dan kompleksitas penanganan bencana mengharuskan manajemen bercana di indonesia tidak bisa lagi dilakukan dengan cara business as usual. Harus ada pergeseran/shifting secara besar besaran baik dari kerangka berpikir hingga kerangka Implementasi. Pergeseran besar besaran ini dapat dilakukan dengan bantuan kerangka bepikir dan kerangka Implementasi baru yang ditawarkan dalam Revolusi Industri 4.0. Dengan kata lain saya sepakat dan ingin menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana adalah suatu yang memiliki urgensitas yang tinggi diterapkan di Indonesia.

Setelah Berkenalan, Saatnya Kita Lirik Potensi Revolusi 4.0 dalam Merevolusi Manajemen Bencana di Negeri Kita

Bumi yang Serba Digital (Image by TheDigitalArtist on Pixabay)

Banyak orang menghubungkan Revolusi 4.0 pada pemanfaatan besar besaran terhadap tekhnologi-tekhnologi berbasis IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Tak ayal saat ini banyak Organisasi dan Instansi Pemerintah berlomba mengembar gemborkan bahwa mereka telah melakukan pergeseran besar-besaran menuju Industri 4.0. Tidak tahu kenapa, saya melihat semua itu sebagai sebuah kasus perkosaan anak dibawah umur ya. Saya mengatakan demikian karena pemanfaatan besar besaran terhadap basis tekhnologi penyusun Revolusi Industri 4.0 tersebut justru mengkerdilkan arti dari revolusi itu sendiri. Pemanfaatan besar besaran tanpa arah dan kerangka yang tepat akan menimbulkan perkembangan yang cepat namun rapuh dan tidak tahu akan kemana arahnya. Yah, itu hanya pemikiran skeptis saya, Tentunya orang orang di organisasi tersebut adalah orang orang hebat yang telah punya rencana besar terkait hal ini.

Ada satu buku bagus berjudul The Great Shifting karya Prof Rhenald Kasali yang memberikan gambaran pergeseran besar (revolusi) yang terjadi selama ini yang lebih dari sekedar pemanfaatan IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Menurut yang saya pahami dari buku ini, ada tiga point penting dari Revolusi 4.0 yang dapat diterapkan untuk merevolusi manajemen bencana di Indonesia. Pertama adalah Pergeseran dari time series menuju Realtime. Kedua, perubahan pola pikir owning menjadi Sharing. Dan Terakhir adalah Menguntai produk-produk terkait manajemen bencana saat ini dan masa depan dalam suatu Platform.

4.0 Membawa Kita dari Time Series Menuju Realtime

Era Time Series selama beberapa dasawarsa ini telah memberikan berbagai manfaat kepada kita di berbagai bidang. Melalui pemahaman pola perubahan suatu nilai terhadap waktu kita dapat memperkirakan kondisi di masa depan, tentunya dengan asumsi pola tersebut akan tetap konsisten atau setidaknya tidak mengalami perubahan secara signifikan di masa depan. Pemanfaatan kerangka berpikir time series ini dimanfaatkan di segala bidang termasuk dalam manajemen bencana sejak dulu hingga saat ini. Dengan menggunakan kerangka berpikir ini sering kali kita mendengar proyeksi dan prediksi tentang kebencanaan dimasa depan seperti kapan serta dimana akan muncul dan meningkatnya jenis bencana tertentu baik bencana bencana pada musim basah seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim hingga bencana bencana pada musim kemarau seperti kekeringan dan karhutla. Untuk bencana seperti erupsi gunung juga dilakukan analisis seperti ini sehingga kita tahu ada istilah status waspada, Siaga dan Awas pada gunung. Namun untuk gempa kita hanya dapat memahami polanya tanpa bisa menebak kapan ia akan terjadi.

Prediksi prediksi terkait kebencanaan baik untuk durasi waktu yang sebentar seperti prediksi pada bulan depan atau musim depan hingga durasi waktu yang sangat lama seperti 10 hingga 50 tahun kedepan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk berbagai alasan. Proyeksi dan prediksi demikian digunakan untuk mempersiapkan tindakan preventif, kesiapsiagaan atau melindungi aset aset kita dimasa depan. Untuk semua keperluan tersebut, pola pikir time series sudah cukup. Namun untuk keperluan sesuatu yang bersifat saat ini dan durasi waktu yang sangat pendek lainnya time series mulai kurang berdaya. Disaat inilah Revolusi 4.0 beserta barisan tekhnologi yang dibawanya mengambil peran penting.

Ilustrasi seorang pria yang sedang membaca berita online yang tentunya lebih cepat dari pada media media pemberitaan pada era sebelumnya (Image by kaboompics on Pixabay)

Tekhnologi-tekhnologi pengusung revolusi Industri 4.0 seperti IoT, Big Data dan AI membawa kerangka analisis statistik kita pada level selanjutnya, dari Time Series menuju Real Time. Dengan barisan tekhnologi tersebut, analisis analisis yang semula sangat sukar bahkan mendekati kata tidak mungkin saat ini dan kedepannya akan menjadi mungkin dan dan cepat. Ketiga tekhnologi kunci 4.0 berperan dalam membentuk suatu sistem penilaian Risiko Bencana, Sistem Penunjang Kesiapsiagaan & Peringatan Dini, serta Sistem Penanganan Darurat Bencana menjadi lebih baik dan cepat baik secara near real time hingga realtime.

Tekhnologi IoT saat ini telah dan akan terus dikembangkan untuk mengintegrasikan semua sensor sensor terkait kebencanaan. Tekhnologi pengelolaan Big Data pula sedikit demi sedikit telah dimanfaatkan oleh beberapa instansi untuk mengelola data data sangat besar dari segi jumlah, variasi dan cepat fluktuasi perubahannya, kebanyakan kementerian dan organisasi tersebut mengolah tumpukan big data-data berbentuk citra satelit, hasil model hingga data data tidak terstruktur seperti konten konten di media sosial, serta video dan photo dari alat alat yang mereka pasang. Untuk tekhnologi AI, tampaknya belum begitu berkembang dibandingkan dua tekhnologi sebelumnya. Ada beberapa instansi yang memproklamirkan tekhnologi AI yang mereka gunakan dalam penanganan terkait bencana. Berdasarkan hal hal diatas dapat dikatakan bahwa ketiga tekhnologi inilah yang nantinya membentuk dan membawa kerangka berpikir dan kerangka implementasi Manajemen Bencana di Indonesia dari Timeseries menuju Real Time.

Dari “Owning” Menuju “Sharing” yang Tak Terbatas dan Melampauinya

Jika pada era sebelumnya, kepemilikan aset pribadi merupakan suatu keharusan untuk berhasil menguasai suatu bidang, maka pada era Revolusi Industri 4.0 ini kita justru dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik dan sangat kontras bila dibandingkan dengan era sebelumnya. Pada Era Revolusi Industri 4.0 atau dapat pula dianggap sebagai Era Society 5.0 kita berada pada suatu gerakan untuk saling berbagi nilai aset untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam budaya berbagi ini seorang pemilik aset dapat memonitisasi asetnya dengan cara berbagi, baik nilai hingga berbagi aset mereka. Saat ini kita dapat dan telah terbiasa untuk berbagi pakai atau sekedar menikmati nilai suatu barang. Budaya berbagi ini kini kian lama kian tidak terbatas dan dapat melampaui batas batas yang yang tidak pernah terpikirkan pada era sebelumnya.

Pada Era Revolusi Industri 4.0, orang kini tidak sungkan lagi untuk menumpang dan menumpangkan seseorang tak dikenal menuju lokasi yang ia inginkan (Gojek dan Grab), Di era ini orang tidak sungkan menginap dan menginapkan seseorang tidak dikenal pada aset propertinya (dengan Airbnb). Pada Era ini pula orang tidak lagi sungkan memberikan sebagian dari rejekinya untuk dikumpulkan seseorang yang tidak ia kenal untuk keperluan sosial seperti sumbangan pada korban bencana dan sebagainya (dengan Kitabisa.com).

Saling Berbagi dan Saling Melengkapi adalah salah satu kunci untuk Manajemen Bencana Indonesia yang Lebih Baik (Image by BarbaraBonanno on Pixabay)

Budaya dan kerangka berpikir saling berbagi seperti ini akan membawa dan meletakan Manajemen Bencana di Indonesia pada Manajemen Bencana yang lebih humanis. Dengan bantuan tekhnologi pengusung Revolusi 4.0 maka tidak adala lagi batasan dan halangan bagi kita untuk untuk saling menolong dan saling meringankan saudra saudara kita saat terjadi bencana. Tidak hanya terbatas pada bantuan barang dan uang, budaya berbagi pula tampaknya akan bergerak pada tindakan tindakan fisik yang lebih nyata seperti berbagi informasi dan tenaga yang berlandaskan pada asas kepercayaan untuk mengurangi kerentanan, serta meningkatkan kapasitas kita dalam menghadapi bencana.

“Sebuah Impian ?” Membangun Plaform Kebencanaan dan Keselamatannya

Ini merupakan akhir namun bukanlah pengakhiran, ini juga merupakan muara dan antarmuka dari segala pergeseran dan perubahan yang di bimbing Revolusi 4.0 untuk Manajemen Bencana di masa depan yang lebih baik. Pembangunan sebuah platform kebencanaan bukanlah terbatas membangun sebuah aplikasi kebencanaan dan melemparkannya pada ekosistem mobile baik IOS maupun Android. Kita tidak boleh terperangkap dengan logika produk ,meskipun terlihat modern dan canggih sebuah aplikasi yang hanya menjalankan suatu tujuan tertentu dan tidak memberikan ruang bagi para pengguna untuk saling berbagi dan berinteraksi hanyalah produk tekhnologi biasa dan belum dapat dikatakan sebagai sebuah Platform.

Platform yang dimaksud disini lebih dari sekedar sebuah “produk” aplikasi kebencanaan. Platform yang dimaksud disini adalah suatu media yang melayani pergeseran kerangka berpikir kita yang mulanya sekedar time series menuju realtime. Sebuah platform yang memberikan layanan peningkat pemahaman kita terhadap posisi kita terhadap bencana. Tidak hanya posisi dalam arti sempit yang menggambarkan lokasi namun juga posisi risiko kita secara personal. Dengan tekhnologi IoT, Big Data dan AI, platform ini harus secara realtime menganalisis seberapa besar risiko kita terhadap setiap bencana dari waktu ke waktu. Melalui platform tersebut kita juga dapat berkomunikasi dan menjalani bimbingan untuk meningkatkan ketahanan kita terhadap bencana. Dan bilamana sudah terjadi bencana platform tersebut pula yang akan mampu menganalisis secara cepat dan menginformasikan kepada otoritas berwenang bahwa kita berada dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan segera.

Kata Kata Mendiang Steve Job yang merupakan salah satu inovator yang mengakhiri jebakan Era Produk dan membawa kita masuk kedalam Era Platform seperti sekarang (Image by FirmBee on Pixabay)

Dari platform ini hasrat berbagi kita yang saat ini telah berangsur menjadi budaya dapat tersalurkan dan terlayani dengan baik untuk meringankan penderitaan para korban bencana. Dengan platform ini pula para investor dapat memahami prospek dan risiko aset dan investasinya terhadap krisis dan bencana. Sebuah platform bukan hanya sebuah aplikasi yang melayani kebutuhan kebutuhan namun lebih dari itu sebuah platform bencana yang dibutuhkan kedepan adalah sebuah platform yang membentuk suatu kesadaran dan kebudayaan yang aman terhadap bencana dan memberikan keleluasaan berinteraksi pada masing masing pengguna guna meningkatkan kapasitasnya menghadapi bencana dan mengamankan aset aset mereka dari bencana.

Yang menjadi pertanyan sekarang adalah apakah era platform dalam manajemen bencana hanya sebuah impian kosong yang sukar dan tidak mungkin direalisasikan? Atau justru sebaliknya dari hari kehari bulan kebulan dan tahun ketahun, dengan bantuan tekhnologi pendukung Revolusi Industri 4.0 manajemen bencana di Indonesia akan beranjak menuju Manajemen Bencana yang baru dan lebih baik.

Revolusi Industri 4.0 jangan hanya diarahkan pada usaha untuk memperkaya segelintir orang saja. Revolusi ini juga harus diarahkan pada peningkatan kemampuan kita dalam misi misi kemanusiaan yang dalam hal ini adalah Manajemen Bencana di Indonesia yang baru dan lebih baik agar dapat menyelamatkan Jiwa lebih banyak, menyelamatkan aset dan harta benda lebih banyak dan mengurangi dampak bencana terhadap sosial ekonomi dan penghidupan para penyitasnya.

(Dewa Putu AM, 2019)

Untuk sampai kesana mungkin butuh usaha dan waktu yang panjang. Tetapi untuk permulaan, kita dapat memberikan sedikit sumbangan pemikiran dan tenaga untuk kemajuan Manajemen Bencana di Indonesia.

BencanaKlimatologiSains AtmosfirUncategorized

Riau Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap

March 1, 2019 — by dewaputuam2

burn-burning-fire-51951-960x627.jpg

Kemarin tanggal 28 Februari 2019, BNPB melalui Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Wisnu Widjaja melakukan konfrensi pers terkait karhutla yang terjadi di Riau akhir akhir ini. Dalam beberapa berita menyebutkan bahwa beliau memprediksi bahwa musim musim karhutla di Riau akan berlangsung terus pada Bulan Maret dan kemudian akan terbakar lagi pada bulan Bulan Juni. Berita berita tersebut tentunya akan menjadi momok yang begitu menakutkan bagi warga Riau dan sekitar mengingat hingga saat ini sekitar 2671 kasus infeksi saluran pernapasan di daerah Dumai dan Sekitarnya (Sumber: Tempo). Jika berkaca pada pengalaman saya waktu bekerja ditengah kabut asap pada tahun 2015 di Tamiang Layang di Kalimantan Tengah terpapar asap itu sungguh tidak nyaman. Baju jadi bau asap dan untuk bernapas rasanya tidak enak karena bercampur bau bau an dan upil jadi lebih banyak diproduksi (hehehe).

Pasien yang terpapar Asap (Sumber: Tempo)

Kembali kepada prediksi bulan Maret dan Juni, Bagi sebagian orang mungkin sedikit dibuat heran dengan banyak berita yang menyebutkan Riau sudah terbakar sejak Januari, Februari. Keheranan ini biasanya dialami oleh orang orang yang tinggal di Daerah Jawa, Bali dan Sumatera bagian Selatan. Hal ini dikarenakan pada bulan bulan tersebut Wilayah Jawa dan sekitar sedang mengalami musim penghujan yang tentunya kecil kemungkinan terjadi kebakaran hutan dan lahan pada waktu waktu tersebut. Dalam Klimatologi, secara sederhana Indonesia memiliki 3 tipe curah hujan umum yaitu tipe curah hujan monsunal, curah hujan equatorial dan curah hujan lokal.

Untuk Permulaan, Kita Salahkan saja Dulu Iklimnya

Wilayah yang memiliki tipe curah hujan Monsunal seperti Jawa, Bali, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara mengalami musim penghujan pada Bulan Januari-Maret dan kemudian akan mengalami kmarau sejak Maret hingga September, kemudian Hujan lagi. Berbeda dengan Monsunal, wilayah wilayah seperti Sumatera bagian Utara hingga Tengah, Kalimantan, Sebagian Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua yang memiliki curah hujan tipe Equatorial justru pada bulan Januari- Maret mengalami musim kering dan kemudian kering lagi pada Mei-Juli. Hal ini lah yang menjadi dasar prediksi BNPB sebelumnya. Pada bulan Maret dan kemudian dilanjutkan Bulan Juni tersebut secara klimatologis Wilayah Riau dan beberapa wilayah yang bertipe equatorial akan mengalami musim kering. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat melalui Gambar dibawah ini.

Sumber (Bayong 1999 melalui Kadarsah[dot]Wordpress[dot]com)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebakaran di Indonesia banyak diakibatkan oleh pembukaan lahan untuk perkebunan. Begitu juga yang saat ini terjadi di Riau. Hal ini disampaikan oleh Raffles B. Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan dimuat dalam Tempo. Beliau menyebutkan bahwa kebakaran lahan di Riau kebanyakan memnag diakibatkan oleh kesengajaan membuka lahan perkebunan kelapa sawit.

Kita Butuh Antibiotik untuk Menangani Karhutla

Jika memang ada unsur kesengajaan disana, maka dapat dikatakan bahwa prediksi prediksi terkait lokasi kebakaran hutan yang selama ini dilakukan para ahli BMKG dengan FDRS-nya dan CCROM dengan kebakaranhutan.id nya, monitoring air tanah oleh Badar Restorasi Gambut, monitoring hotspot oleh LAPAN dan BMKG hanya berguna untuk menebak waktu dan lokasi yang tepat untuk para pembakar melakukan aksinya. Atau setidaknya menebak kira kira dimana para pembakar akan membakar lahan. Saya disini tidak mengatkan bahwa usaha usaha yang instansi instasi tersebut tidak berguna. Apa yang mereka lakukan sangat berguna namun menurut saya ada kurang satu aksi yang sangat penting bukan dari instansi instansi teknis dan juga instansi berbasis riset namun instansi penegak hukum.

Jika saya boleh menganalogikan kebakaran hutan adalah sebuah penyakit, maka usaha dan aksi para Kementerian dan lembaga adalah obat pereda panas, obat pereda batuk dan pengurang rasa mual. Namun agar penyebab gejala gejala tersebut dapat diatasi maka kita perlu Antibiotik yang membunuh sumber (penyebab) gejala gejala penyakit tersebut yang dalam hal ini karena penyakit sebenarnya adalah ulah manusia dan bukan iklim, maupun kelembban tanah maka usaha utama untuk mengendalikannya tidak lain adalah usaha di bidang hukum dan sosial serta ekonomi. Saya menambahkan bidang sosial disini karena tidak semua kegiatan pembakaran tersebut sesederhana yang salah di tangkap dan dipenjara. Ada permasalahan sosial yang kompleks sedang terjadi disana yang tentunya penyelesaiannnya juga harus didekati dengan pendekatan ilmu sosial dan ekonomi.

Pendekatan politik akan melengkapi racikan antibiotik yang sebelumnya sudah diisi dengan hukum, sosial dan ekonomi. Permasalahan ini tentu tidak dapat diatasi oleh remah remah kerupuk kaum proletar seperti saya, suara pun sudah pasti tidak didengar dan di gubris. Butuh banyak kaum elit yang memang mengesampingkan ego pribadi dan sektoralnya untuk menanggulangi masalah ini. Selain mengesampingkan ego, mereka mereka ini juga perlu mengamani dirinya dengan perlindungan berlapis lapis karena yang dihadapi mereka bukan sesuatu yang main main. Ada triliun-triliunan rupiah berputar dan bertarung di mimbar kebakaran hutan dan lahan dari hulu seperti perkebunan-perkebunan hingga hilir seperti usaha usaha pemadamannya penyewaan heli misalnya yang tentunya akan keluar angka fantastis bila dihitung.

View this post on Instagram

Water Bombing

A post shared by dewa putu am (@dewaputuam) on

Pengalaman Naik Heli saat Patroli Aseangames Bebas Asap 2018

Tanpa adanya aksi aksi yang bersifat antibiotik, saya ragu karhutla dapat kita tangani dengan baik dan kita dapat terlepas dari aksi aksi yang hanya berkutat pada tukang memadamkan api. Kita pun akan semakin banyak menemukan berita berita tentang ribuan korban yang berjatuhan karena penyakit pernapasan. Dan kemudian berita tersebut akan dikalahkan oleh berita protesnya para tetangga yang kita asapi sepanjang kemarau. Kita tidak tahu pasti akan sampai sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan, para pecinta alam mungkin akan berkoar koar tentang hilangnya kekayaan hayati indonesia. Namun saya rasa tidak hanya itu, Karhutla tidak lah hanya membakar kekayaan hayati kita, namun membakar pula kekayaan hati kita yang tetap diam melihat orang merendahkan diri dengan menjual nyawa dan masa depan jutaan orang hanya demi uang semata (omong kosong sekali ya hehehe). yah tapi jauh dari itu, kita membutuhkan antibiotik untuk permasalahan karhutla, ntah itu secara harfiah berarti “bersifat Anti-bio” atau secara tersirat saja sudah cukup.

Tanpa itu semua Riau dan Wilayah lainnya akan Tetap Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap #Mungkinselamanya hingga pohon terakhir tumbang dan berakhir pada musium yang bertuliskan “Dulu sekali kami memiliki hutan yang kaya namun kami gagal menjaganya”

(Dewa Putu AM, 2019)

Sekian dari saya, kalau saya ulik ulik lebih dalam lagi akan berbahaya hehehe saya masih sayang nyawa. Akhir kata

Salam

Dewa Putu AM.

Sumber Featured Image Pixabay.com

BencanaDaily LifeUncategorized

Yang Tidak Berubah Selama 139 Tahun

February 28, 2019 — by dewaputuam0

5167-960x640.jpg
Thomas Crapper (Sumber: Wikipedia)

Beberapa waktu lalu Bill Gates, orang terkaya nomor 2 di Dunia saat ini menuliskan sesuatu yang menarik dalam Story akun Instagram resminya @thisisbillgates. Dalam seri yang ia beri tajuk “9 things that surprised us” tersebut satu yang paling menarik adalah Fakta bahwa sudah 139 tahun lamanya design toilet tidak ada perubahan secara signifikan. Bentuk toilet U (leher toilet berbentuk U atau bisa juga disebut sebagai U-bend trap) agar bau tetap terjebak di dalam karena terhalang air yang ada pada toilet-toilet modern saat ini ternyata ditambahkan oleh Thomas Crapper pada tahun 1880, yang dalam hal ini merupakan perubahan signifikan terkahir dalam design toilet. Design toilet miodern sebenarnya telah dipatenkan oleh Thomas Crapper pada tahun 1775, namun baru diproduksi secara masal pada tahun 1800an.

Dalam tulisannnya yang berjudul “We didn’t see this coming” Bill dan Melinda Gates juga menjelaskan tentang usaha mereka beserta para saintist dan insinyur untuk mendesign sesuatu yang mereka sebut sebagai Next Gen Toilet. Toilet ini di design untuk mengolah dan mengurai feses manusia menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk bahkan air untuk cuci tangan (terdengar ekstrim ya hehehe).

Bill Gates dan Next Gen Toilet nya (Sumber: Gatesnotes.com)

Permasalahan toilet, atau MCK secara umum memang terlihat remeh namun, permasalahan ini merupakan permasalahan yang kompleks dan bila tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan akibat yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena permasalahan ini sekitar 800 ana-anak terbunuh setiap hari, hal ini akan kian kompleks bila terjadi di kalangan yang dibawah garis kemiskinan dan yang baru saya sadari dalam dua tahun ini masalah terkait MCK juga besar pengaruhnya pada para pengungsi Bencana Alam. Kurangnya sarana MCK yang baik baik dari segi kualitas barang maupun manajemennya akan berdampak pada penyebaran penyakit dan permasalahan sosial yang saya temui dalam kebencanaan masalah sosial tersebut dapat berupa pelecehan seksual hingga pada perkosaan.

Masalah MCK bukanlah masalah sepele belaka, masalah ini kompleks dan membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Permasalahan MCK bukan hanya pada mendesign sebuah ruangan yang nyaman untuk buang hajat dan kemudian mengolah nya menjadi objek yang menjangkau privasi pribadi seorang manusia semata. Lebih dari itu, solusi perbaikan sistem MCK juga perlu menjangkau sisi sosial dan budaya.

Perbaikan sistem penanganan bencana yang beberapa bulan terakhir sedang di godok oleh pemerintah tidak boleh mengesampingkan masalah sistem MCK kita #sekedarmengingatkan. Penanganan bencana yang baik akan menjadi omong kosong bilamana permasalahan terkait MCK masih saja menjadi permasalahan yang dibahas dalam rapat rapat #curcol. Maslah MCK bukan hanya penyediaan toilet portabel yang panas dan pengap itu, tetapi lebih dari itu. Yah semoga permasalahan toilet dan MCK pada umumnya dapat teratasi dengan baik dalam beberapa tahun ini #semoga dan saya yakin kita akan kearah sana. Bahas toilet seperti ini saya jadi teringat masa kecil dimana saya buang hajad berhadap hadapan dengan Babi yang super besar. Saling bertatap muka dan bertegur sapa sembari membicarakan tentang kehidupan yang sulit. Meski si babi saat itu sedang di Ikat si, tapi itu sekarang sudah lebih baik, saat terakhir say kunjungi rumah saudara saya tersebut sekarang sudah ada toiletnya hehehe.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah “Akankan setelah 139 tahun tiada perubahan signifikan pada design Toilet Modern akan Bill Gates dan timnya pecahkan, atau akan kah orang laing yang akan menjawab tantangan mereka ini lebih dulu?

Oia sekian dari saya, semoga tulisan ini bermanfat walau tipis tipis manfaatnya tak apa lah. dan semoga per MCK an kita semakin sehat dan berjaya. tapi kalau untuk mengolah airnya menjadi air cuci tangan masih tidak rela sayah hahahaha,.. horor e. Akhir kata dari saya

Salam

Dewa Putu AM.

Featured photo created by mrsiraphol - www.freepik.com

BencanaDaily LifeUncategorized

Mereka Datang Tiba-Tiba dan Kemudian Pergi Meninggalkan Luka

February 11, 2019 — by dewaputuam2

OKCHTH0-min-960x640.jpg

Ini bukan kisah cinta untuk di nikmati. Ini juga bukan kisah nestapa untuk diratapi. Ini hanya sebuah kisah lalu, kini dan mungkin hingga esok akan terajut dan berlanjut. Ini sebuah kisah tentang getaran yang selalu ada di sekitar kita yang datang tiba tiba kemudian pergi meninggalkan luka. Yah ia memang datang tiba tiba dan dan hanya sebentar ia bertahan dan terkadang menjadikan beberapa detik seakan memanjang menjadi ribuan tahun. Saat ia datang waktu terasa sangat panjang. Saat ia datang, tak hanya hati yang bergetar, bangunan bangunan pun ikut bergetar. Hati dan bangunan yang tak mampu menahan semua getarannya akan runtuh, hilang dan kemudian ahh sudahlah saya sudah tidak ada ide lagi untuk melanjutkan kata kata ini.

Mereka yang Masih Menghantui

Mungkin terbaca sebagai paragraf pembuka yang super berlebihan ya #hahaha. Jujur saya bingung dari mana harus memulai tulisan ini. Intinya si pada tulisan saya kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman dan juga kesan kesan saya pada saat menangani bencana Gempa. Saya memilih topik ini karena ssssst saya tidak tahu agaknya masi sedikit berasa gempa semalam, meski g separno-an beberapa bulan lalu, tapi masi ada sedikit traumatik berupa tiba tiba halu kena gempa padahal tidak ada. Tidak jarang pula saya lirik-lirik tembok dan melihat ada retak atau tidak untuk memastikan bahwa saya sedang berada di tempat aman jikalau sewaktu waktu gempa terjadi.

Kejadian gempa terasa lebih sering terjadi pada tahun belakangan ini, pada tahun 2018 saja kita dikejutkan oleh kejadian kejadian gempa yang sangat dahsyat dan membuat ribuan nyawa menghilang. Untuk memberikan sedikit gambaran, saya sertakan peta interaktif kejadian gempa besar dengan magnitud >5 yang terjadi selama tahun 2018-2019. Dalam peta tersebut kalian bisa zoom in dan zoom out untuk melihat lebih detail dan untuk keterangan symbolnya dapat dilihat dengan menekan simbol “>>” di pojok kiri atas peta interaktif yang saya buat di bawah ini. Untuk melihat informasi lebih detil terkait tanggal dan magnitude gempa kalian dapat menekan titik titik merah tersebut. Berasa tukang jual peta ya,.. #hehehe. Vintagenya berasa banget ya di peta ini #jualanlagi.

Oia, dalam tulisan ini mungkin ada baiknya saya ikut meneruskan suatu ide atau agak lebih tepat bila kita sebut sebagai kritikan untuk beberapa orang yang meyakini bahwa gempa itu dapat membunuh manusia. Kritikan datang dari seorang Seismolog Imperial College London yang menyatakan bahwa “Earthquake don’t kill people, buildings do” . Pernyataan ini saya rasa cukup masuk akal dan ada benarnya karena dari yang selama ini saya lihat, para korban, tidak meninggal karena diguncang gempa, namun kebanyakan dari mereka tertimpa oleh bangunan. Dan untuk kasus yang terjadi di Palu kemarin, kita juga patut belajar, bahwa ada kalanya tuhan pun berkehendak lain, dalam bangunan yang sudah kuat pun dalam kasus ini tanah dapat menelannya (saya tidak tahu kata kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi disana). Jika sudah seperti ini cara terbaiknya adalah hindari tempat tempat seperti itu, tempat tempat dekat patahan dengan permukan air yang dangkal.

Kebodohan dan Ketidakpedulian Bisa Berharga Sangat Mahal

Kembali kepermasalahan bangunan, saya seringkali melihat kualitas bangunan bangunan yang dibangun dalam beberapa tahun belakangan kualitasnya cukup mengkhawatirkan. Jika sebelumnya saya kesulitan menancapkan paku di tembok rumah saya di Lampung, beberapa rumah terkadang temboknya mudah dikelupas bahkan dengan sendok makan sekalipun. Tidak ada gempa atau angin, beberapa rumah yang baru dibuat juga terkadang terlihat jelas retakan retakan ini beberapa kali saya lihat saat saya berkunjung ke kosan-kosan teman saya dulu di Bogor (lama sekali,… hahaha) yang notabennya dibangun di area bekas sawah. Yah seperti kita ketahui bahwa sawah itu biasa di bangun di wilayah yang permukaan airnya dangkal sehingga mudah digenangi oleh air. Apa jadinya bila wilayah tersebut merasakan guncangan yang besar. Meski kita tetap saja tidak tahu mana yang pasti, tapi bukan hal yang buruk bila kita sudah memperkecil kemungkinan terjadinya.

Agar tidak kembali terluka oleh “Mereka yang datang tiba tiba” itu, Kita perlulah lebih kritis dalam menentukan lokasi dan lebih serius dalam membangun bangunan. Tentunya itu demi kebaikan kita, keluarga kita dan orang disekeliling kita, jangan sampai kita membayar sangat mahal untuk kebodohan dan ketidak pedulian kita dalam menentukan dimana kita akan tinggal.

(Dewa Putu AM, 2019)

Akhir kata saya ucapkan cepat beli sekarang juga karena hari senin harga naikkk,.. #krik

Sekian tulisan alakadarnya dari saya (untuk memenuhi tuntutan untuk lebih produktf menulis di tahun 2019) akhir kata terimakasih atas perhatiannya membaca bualan bualan saya, jika ada yang baik silahkan di simpan jika ada yang buruk silahkan dilupakan saja tanpa meninggalkan luka.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Gambar

Peta Interaktif created by Dewa Putu AM, with Vintage basemap by mapbox

Featured photo created by lachetas – www.freepik.com

BencanaPopular TheorySains PopulerUncategorized

Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0

February 9, 2019 — by dewaputuam0

IMG_20181021_151533-960x540.jpg

Pada tulisan ini, saya akan coba bermimpi sejenak dan membebaskan semua angan saya jauh ke masa dapan. Ini tentang Manajemen bencana pada masyarakat 5.0 atau dalam bahasa inggris disebut sebagai Society 5.0. Konsep tentang masyarakat 5.0 ini pertama kali di sampaikan oleh Shinzo Abe di pameran CeBIT, Hannover Jerman pada Maret 2017. Konsep ini juga di deskripsikan oleh pemerintah jepang secara keren dalam websitenya di link ini. Secara sederhana Imadudin Muhammad menjelaskan di tulisannya pada link ini, tentang masyarakat 5.0 yang merupakan konsep yang menggambarkan fase evolusi masyarakat yang sudah mengoptimalkan penggunaan artificial intelligence (AI), robotics, big data, dan drones. Masyarakat 5.0 merupakan suatu konsep masyarakat pada jaman industri 4.0 (yang agaknya sudah banyak sekali orang yang latah menggunakan istilah ini termasuk saya hehehe), Society 5.0 merupakan sistem masyarakatnya sedangkan industri 4.0 adalah platformnya.

Mungkin cukup di situ saja cuap cuap saya terkait gambaran umum Masyarakat 5.0. Saya akan mulai merekonstruksi apa yang saya bayangkan tentang manajemen bencana pada masyarakat 5.0 yang tentunya tidak terlalu jauh dari Artificial Intelligence (AI), robotics, big data, dan drones dan mungkin akan lebih tepat bila saya sertakan pula IOT, AR/VR, . Oia, tulisan ini terilhami dari beberapa pengalaman yang saya dapat selama 2 tahun berkecimpung di bidang bencana, buku bacaan saya The Great Shifting karya Rhenald Kasali, yang telah saya ulas pada tulisan sebelumnya, Buku Army of None karya Paul Sharre dan tentunya dari berita berita terkait society 5.0.

Profil Risiko Bencana per objek maupun personal secara realtime

IOT (Sumber Freepik)

Mengenali dan memahami risiko merupakan dasar dan permulaan dari suatu manajemen bencana. Manajemen bencana sulit berjalan dengan baik tanpa didahului oleh pemahaman risiko bencana. Pemahaman terkait risiko bencana di Indonesia saat ini telah difasilitasi dengan adanya aplikasi InaRISK yang dikembangkan oleh BNPB. Dalam aplikasi tersebut baik web maupun aplikasi berbasis Android dan IOS, kita dapat melihat ancaman bencana apa saja yang ada di sekitar kita. Ini menurut saya merupakan aplikasi yang sudah bagus. Namun karena disini kita sedang membahas masyarakat 5.0 tentunya pemahaman risiko bencana akan lebih berkembang lagi dengan adanya pemanfaatan tekhnologi Big Data, AI dan IOT. Berikut ini beberapa gambaran pemahaman risiko bencana kita bila ketiga tekhnologi tersebut sudah dapat di optimalkan.

  • Kita memahami Ancaman di sekitar kita secara realtime Penerpan IOT tentunya tidak hanya menjadi rumah kita semakin pintar, Penerapan IOT pada kebencanaan memberikan akses pada kita untuk megetahui dan memberikan peringatan akan kejadian kejadian bencana yang dapat mengancam keselamatan kita secara realtime. Jika hal ini sudah diterapkan, tentunya blunder tentang tsunami atau hanya gelombang pasang biasa kecil kemungkinan akan terjadi lagi. Sensor, radar, cctv dan citra yang terus memonitor kejadian kejadian disekitar kita, dan dengan adanya AI akan mengidentifikasi kejadian mana yang membahayakan dan mana yang masih dalam batasan aman. Jika ada suatu kejadian yang dirasa membahayakan, maka AI akan dengan segera menginformasikan manajer bencana dan masyarakat sekitar untuk melakukan aksi. Semua data dan informasi dari sensor, radar dan cctv tentunya memiliki jumlah besar, bervariasi tinggi dan arus trasfer datanya nya sangat cepat, disinilah teknologi big data dan AI kembali mengambil peran untuk memanajemen dan menganalisis data tersebut untuk menilai dan mengkoreksi tingkat ancaman wilayah secara realtime.
  • Kita memahami kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime Big Data yang diambil dari berbagai jejak digital yang diinggalkan masing masing orang baik dari pencariannya di mesin pencari (google dan bing); aktifitas media sosial (tulisan, foto dan video) yang dibagikan di klik, like, retweet; pergerakan yang di ambil dari GPS smartphone dan juga aktivitas ekonomi yang dilakukan akan dianalisis oleh AI dan dihasilkan sebuah pola dan karakter masing masing orang yang kemudian digunakan untuk menilai kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime. Ada sedikit kekurangan dalam konsep ini khususnya dari segi privasi, untuk mengakalinya tentunya perlu adanya suatu komitmen untuk menjaga data data yang dikumpulkan dan dianalisis tidak bocor dari perangkat dan akun masing masing orang, dan hanya informasi akhir saja yang dapat diterima oleh pemerintah dan pihak lain contohnya tingkat risiko masing masing warga, dan informasi berdasarkan agregat kewilayahan.
  • Kita memahami profil risiko kita masing masing secara realtime inilah hasil akhir dari dua poin diatas. Setelah tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas bencana baik personal maupun dengan agregasi tertentu dapat dinilai secara realtime, maka profil risiko pun akan dapat di nilai secara realtime. Profil risiko tiak hanya memberikan angka angka yang menggambarkan tingkat risiko suatu orang, objek atau wilayah terhadap bencana namun lebih dari itu, dengan data yang berlimpah yang telah dianalisis oleh AI tersebut, para manajer bencana akan diberikan informasi lengkap terkait karakter masing masing korban agar pelayanan terhadap korban lebih sesuai dengan karakternya dan kemudian meningkatkan peluang keberhasilan penanganannya. Sebagai gambaran saat ini, dengan bantuan AI, kita sebenarnya diberikan informasi informasi dan iklan iklan yang disesuaikan dengan karakter dan kecenderungan kita. Hal ini dipelajari oleh AI dari informasi jejak jejak digital yang kita tinggalkan dalam situs mesin pencari dan juga media sosial kita. Sekarang kita bayangkan informasi informasi tersebut digunakan untuk memberikan gambaran terkait profil risiko kita, maka dengan otomatis, dengan perlahan informasi informasi terkait kebencanaan dan beberapa ilmu dasar kesiapsiagaannya disisipkan dalam media sosial kita dan disesuaikan dengan ancaman, kerentanan, karakter dan tendensi kita. Dari informasi informasi tersebut, pendidikan bencana pun dapat lebih disesuaikan dengan dengan umur dan karakter masing masing personal.

Membantu Peningkatan Kinerja para Manajer dan Pegiat Kebencanaan

Ketersediaan data dan informasi yang cepat dan tepat merupakan suatu kunci dalam manajemen bencana pada masyarakat 5.0. Ketersediaan informasi terkait profil risiko bencana pada setiap agregasi masyarakat, dari personal ke desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara hingga masyarakat internasional dapat dijadikan sebagai salah satu dasar pembuatan kebijakan, kesepakatan dan peraturan peraturan dalam manajemen bencana yang sesuai dengan karakter dan profil risiko bencana untuk masing masing entitas yang akan ditangani. Peran AI, IOT dan BIG data disini tidak hanya terbatas pada penyediaan bahan-bahan awal penyusunan kebijakan dan lain lainnya itu. Peran ketiga tekhnologi tersebut juga akan terlihat pada implementasinya.

Setelah pemerintah, manajer bencana dan pegiat bencana menyepakati kebijakan dan aturan baru dalam manajemen bencana, maka AI akan memasukan kebijakan atau aturan tersebut dalam protokolnya. Misalkan terdapat peraturan baru terkait tata ruang daerah pesisir untuk mengurangi risiko tsunami yang menyatakan dilarang membuat bangunan yang tidak memiliki standard aman dari tsunami. Saat kontraktor mengurus perijinan, AI mulai menilai apakah bangunan yang akan dibangun oleh kontraktor tersebut sesuai dengan peraturan terbaru yang ada, jika tidak sesuai maka permohonan ijin akan di tolak.

Selain berperan dalam implementasi kebijakan, AI juga berperan dalam Implementasi rencana kontijensi yang telah di buat. AI disini berperan untuk memastikan dan mengingatkan peran masing masing stakeholder dan juga mengumpulkan data dan informasi kegiatan penanganan bencana untuk kemudian memberikan kembali informasi terkait status terkini dari penanganan bencana yang sedang dilakukan. AI akan mengidentifikasi hal hal esensial yang terlewat dan juga melakukan mengajukan saran saran untuk mendukung penyusunan langkah langkah strategis aksi penanganan bencana yang perlu dilakukan para pegiat bencana.

Terkait penilaian situasi ketika bencana, AI secara otomatis akan mengakses semua informasi citra, radar, sensor, hingga jejak dijital terkait wilayah dan masyarakat terdampak. Berdasarkan infrmasi informasi tersebut AI akan memberikan gambaran umum terkait cakupan dampak dan tingkat keparahan masing masing wilayah. Untuk melengkapi informasi tersebut AI mengirimkan tiga jenis drone yang satu berupa drone yang terbang melayang 24/7 untuk menyediakan koneksi internet dan saluran komunikasi, drone tipe kedua berupa drone observasi yang secara mandiri bergerak untuk mengakuisisi informasi visual daerah terdampak dan drone tipe ketiga berupa swarm drone yang terdiri dari jutaan drone kecil bergerak secara kumunal dan berpencar mencari korban berdasarkan informasi dari drone observasi dan jejak digital para korban. Swarm drone berukuran sangat kecil sehingga dapat mengakses celah celah kecil reruntuhan bangunan. Masing masing unit dari swarm drone memiliki sensor sensor untuk memonitoring kondisi para korban, setelah menemukan korban, swarmdrone akan melekat, memeriksa kondisi korban dan memberikan informasi lokasi maupun kondisi tersebut kepada pusat komando.

Ilustrasi Swarm Drone (Sumber: David BBC)

Pos Komando dibantu dengan AI akan melakukan analisis prioritas penyelamatan korban berdasarkan tingkat urjensi dan tingkat kesuksesan penyelamatannya agar jumlah korban yang berhasil diselamatkan semakin banyak dan cepat. Selain ke pos komando untuk keperluan penyelamatan, swarm drone juga mengirimkan informasi tersebut kepada masing masing klaster baik klaster kesehatan untuk menyiapkan perlengkapan kesehatan (peralatan operasi dan obat obatan) yang dibutuhkan, perlindungan pengungsi untuk menyiapkan tenda tenda dan makanan.

Lengan lengan robot digerakan untuk membantu mengangkat reruntuhan sembari terus memantau kondisi para korban yang telah tertempel swarm drone. AI akan mengidentifikasi korban korban yang membutuhkan waktu lama dalam evakuasi dan kemudian mengirimkan drone logistik dan obat obatan awal yang secara langsung dikirimkan kepada korban-korban tersebut.

Kondisi para korban akan dilaporkan pada para manajer bencana yang kemudian dikirimkan langsung pada masing masing keluarganya. Keluarga yang merasa salah satu anggota keluarganya hilang kontak dapat menghubungi AI untuk kemudian mencocokan identitas mereka (baik secara tertulis maupun biologis (DNA, pupil mata dan sidik jari) dengan korban korban yang ditemukan swarm drone.

Saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang, dan jika lebih panjang lagi akan menjadi tidak bagus. Untuk itu tulisan ini saya potong sampai sini dulu dan akan berlanjut pada tulisan Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0 bagian ke 2

Sekian dari saya, semoga angan angan ini suatu saat dapat terwujud, sampai jumpa di tulisan bagian ke 2 dan Salam hangat dari Saya

Dewa Putu AM

BencanaGISUncategorized

Memanfaatkan Informasi Geospasial dalam Bencana

January 21, 2019 — by dewaputuam0

aaaaa-960x483.jpg

Berawal dari SUatu Keresahan

Ide tulisan ini terinspirasi dari keresahannya rekan kerja saya yang mempertanyakan “apakah peta-peta yang mereka buat selama ini benar dipakai dalam manajemen bencana khususnya saat operasi penanganan darurat bencana. Sesaat saya berpikir sepertinya sih peta-peta yang selama ini di buat sudah digunakan dalam operasi penanganan darurat bencana. Meskipun saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk dasar penentuan kebijakan maupun aksi, namun perlahan-lahan saya rasa pemanfaatannya akan semakin intens dan lebih optimal #semoga.

Saya (kanan) lagi diberi penjelasan oleh Bapak Deputi Pencegahan dan kesiapsiagaan BNPB saat bertugas di Pos Pendamping Nasional Sulteng

Pemanfaatan Informasi Geospasial yang dalam hal ini peta cetak (statis) maupun peta dinamis dalam operasi penanggulangan bencana masih minim. Mayoritas pemanfaatan informasi tersebut masih pada hal-hal yang bersifat kosmetik baik untuk salah satu lampiran dalam laporan atau background dalam infografis. Kalaupun ada pemanfaatannya lainnya lebih pada salah satu media pembantu untuk menyatakan eksistensi suatu objek dan lokasi objek tersebut. Pemanfaatan informasi geospasial yang seperti itu saya rasa belum begitu optimal, dan tentunya masih bisa lebih dimanfaatkan lagi beberapa potensi lainnya. Pada tulisan saya kali ini saya akan berbagi sedikit tentang cara mengekstraksi informasi Geospasial secara minimalis namun cukup efektif.

Cara Interpretasi Informasi Geospasial Secara Minimalis

Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah “bagaimana kita mengoptimalkan interpretasi dan pemanfaatan informasi geospasial yang telah susah payah dibuat oleh rekan rekan tim GIS kita hehehe :). Susah lo untuk sekedar membuat peta, dari mulai clearing data mentah, mempersiapkan data agar map-able, belum lagi jika harus melakukan prosedur spasial analisis lebih lanjut, dan juga tidak juga mudah melayout peta agar informasi dapat jelas terliahat dan mudah dipahami. seperti menyesap kopi yang ada seninya agar rasa dan aroma lebih terhayati dalam semua indra kita, ada seninya juga dalam menginterpretasi sebuah peta. Agar suatu informasi geospasial dapat kita interpretasi secara optimal ada beberapa unsur yang setidaknya kita jadikan acuan. Keenam unsur yang dapat dijadikan acuan itu meliputi warna, bentuk, pola, asosiasi, komparasi, interaksi, kecenderungan keruangan dan waktu serta proses. Untuk mencoba interpretasi kan peta akan saya tunjukan salah satu peta yang saya buat, diambil dari data milik BMKG tentang kejadian gempa dan patahan, serta data dari disdukcapil tentang penduduk. Beberapa informasi tersebut saya masuan kedalam peta di bawah.

Peta Kejadian Gempa 2018 dan Jumlah Penduduk Indonesia (untuk lebih jelas kunjungi link ini)

Berikut ini adalah langkah langkah dalam interpretasi sebuah peta yang menurut saya dapat mempermudah dalam interpretasi sebuah peta:

  • Judul Peta: Sebelum menginterpretasi suatu peta tentunya kita perlu melihat dahulu judul nya untuk mengetahui gambaran umum sementara tentang maksud dibuat peta trersebut. Dalam peta yang saya tampilkan diatas adalah Peta Kejadian Gempa 2018 dan Jumlah Penduduk Indonesia yang tentunya akan menggambarkan lokasi lokasi kejadian gempa di indonesia selama tahun 2018 dan disertai pula informasi jumlah penduduk perprovinsi di daerah tersebut. Agar tampak warna warnanya kalian dapat zoom peta dengan menggunakan tombol “+” pada peta.
  • Waktu pembuatan untuk memastikan informasi yang terkandung di dalam peta tersebut masih sesuai dan masih mampu memuaskan tujuan kita dalam melihat peta tersebut.
  • Mulai menginterpretasi setelah melihat judul, waktu pembuatan dan tentunya menyesuaikan nya dengan apa yang menjadi tujuan kita, kita baru dapat melakukan interpretasi peta ataupun informasi geospasial lainnya. Memasitikan tujuan kita dapat terpenuhi dan sesuai adalah hal yang perlu sebelum menginterpretasi sebuah peta. Berikut ini unsur unsur yang perlu kita perhatikan dalam interpretasi sebuah peta. Unsur unsur yang saya sebutkan dibawah tidak semuanya dapat diinterpretasi secara terpisah khususnya karena untuk unsur asosiasi, komparasi dan interaksi merupakan suatu kesatuan yang jarang dapat dipisahkan saat dilakukan interpretasi sedangkan warna, bentuk dan pola merupakan unsur dasar dalam interpretasi.
    • Warna & Bentuk: Unsur ini merupakan unsur yang paling mudah dilihat dan orang kebanyakan akan menginterpretasi unsur ini terlebih dulu atau bahkan justru hanya melihat dan memperhatikan unsur tanpa memperhatikan unsur lainnya. Unsur ini biasanya dilihat untuk menjawab pertanyaan Apa dan Dimana. Tidak terlalu sulit untuk menginterpretasi unsur ini karena semua informasi telah tersurat pada legenda peta.
    • Pola : Ada tiga pola utama yang dapat dibentuk objek-objek dalam peta. Pola pola tersebut antara lain pola acak, pola berkelompok dan pola terstruktur. Pola acak adalah pola sebaran suatu objek yang merata ke seluruh bidang tanpa aturan khusus. Pola berkelompok adalah pola dimana masing masing objek membentuk klaster/kelompok sehingga objek objek akan berdekatan dengan sesama anggota kelompoknya namun relatif jauh antar kelompok. Pola ketiga adalah pola terstruktur, pola ini dibentuk oleh objek objek yang mengikuti struktur tertentu.
    • Asosiasi, Komparasi dan Interaksi: Untuk mengetahui Asosiasi, Komparasi serta Interaksi antar objek dalam suatu peta diperlukan pemahaman khusus dan mendalam. Pemahaman tentang karakter objek-objek tersebut ditambah dengan informasi terkait warna, bentuk dan pola sebaran spasial membantu kita dalam mengkaji bagaimana komparasi (perbandingan) dan asosiasi (hubungan) antar objek. Berdasarkan informasi komparasi dan asosiasi antar objek, maka dapat di gambarkan bagaimana interaksi antar objek. Pada tahap ini memang sedikit butuh usaha dan pengetahuan dasar terkait topik yang dipetakan sehingga terkadang beberapa interpreter hanya menginterpretasi pada membandingkan apakah suatu objek memiliki karakter yang berbanding terbalik terhadap objek lainnya atau sebanding dan melihat hubungan antar objek apakah keberadaan objek tertentu akan membuat objek lainnya juga ada disekitarnya atau hubungan lainnya. Interaksi antar objek baru dapat kita pahami bilamana asosiasi dan komparasi masing masing objek telah dipahami sebelumnya.
    • Kecenderungan keruangan dan Waktu: Terkadang peta hasil kajian maupun hasil modeling merupakan data spasial yang memeiliki kecenderungan tertentu terhadap ruang dan waktu. Kecenderungan yang dimaksud disini lebih kepada reaksi perubahan nilai atau karakter objek ketika terjadi aksi pada objek lainnya baik secara keruangan maupun waktu.
    • Proses: Proses saya masukan pada unsur terakhir dalam interpretasi karena bagian inilah yang saya rasa paling sulit dan paling membutuhkan pemahaman tentang topik yang divisualisasikan dalam peta. Bila tahapan ini telah kita lalui maka kita dapat memahami fenomena yang digambarkan dalam peta bahkan melalui pemahaman proses yang ada juga kita dapat memberikan prediksi awal tentang apa apa saja yang akan terjadi di kemudian hari dan bagaimana memintervensi fenomena tersebut untuk keperluan keperluan tertentu.

Saya rasa itu saja yang dapat saya bagikan pada tulisan ini, saya baru tersadar topik ini sepertinya memang sulit untuk diringkas dalam satu tulisan saja. Jika saya ringkas dalam bentuk satu tulisan jadinya kurang begitu dalam dan sedikit meembingungkan ya hehehe (sorry). Pada tulisan berikutnya mungkin akan saya tuliskan lebih detail dan spesifik dan juga sepertinya seru menulis tentang cara cara pembuatan peta seperti yang saya berikan pada tulisan ini.

Salam hangat,

Dewa Putu AM

BencanaMeteorologiSains AtmosfirUncategorized

Musim Hujan 2019 dan Bencana

January 13, 2019 — by dewaputuam0

Bencana-960x679.jpg

Musim Hujan 2019 dan Bencana. Dari judul yang saya pilih, bisa dilihat bahwa pada tulisan kali ini saya akan membahas suatu issu yang sedang seksi-seksinya dibahas penghujung tahun 2018 hingga awal tahun 2019. Dari kalangan muda hingga tua, cebong hingga kampret, dari orang orang yang expert dibidangnya hingga orang yang masih polos banyak membahas hal ini. Bencana dan manajemennya semakin populer di bicarakan oleh masyarakat Indonesia sejak kejadian kejadian bencana besar yang secara terus menerus terjadi dari Gempa Lombok, Gempa Sulawesi Tengah, Tsunami Selat Sunda hingga yang terbaru adalah tanah Longsor di Cisolok.

Dampak dari bencana bencana seperti gempa Bumi dan Tsunami bahkan saat ini kita di kenalkan bencana yang bernama likuifaksi memanglah besar, namun secara teori bencana bencana seperti ini memiliki periode ulang yang sangat panjang atau dengan kata lain kejadian bencana bencana tersebut sebenarnya langka. Kecuali memang kejadian gempa bumi yang jika kita amati sebenarnya terjadi setiap hari di Indonesia. Saya menyebut “kejadian gempa” secara sengaja agar membedakan gempa yang hanya sebuah kejadian dan gempa yang telah berubah menjadi bencana. Kedua hal itu adalah istilah yang berbeda, yang satu hanya sekilas lalu, sedangkan bencana itu yang memberikan dampak signifikan bagi kehidupan, penghidupan dan hidup kita sebagai manusia. Jadi meski “kejadian gempa” sering terjadi namun kejadian “bencana gempa” seperti Lombok dan Palu adalah kejadian yang langka (dan mudah mudahan akan seperti itu, itu harapan kita semua bukan?).

Dominasi Bencana Hidrometeorologi dan Dampaknya

Ada suatu fakta yang menarik, terlepas dari jumlah kejadian gempa yang sudah seperti jadwal belajar anak SMA (sering banget) namun seperti yang saya sebut sebelumnya itu hanya kejadian biasa dan alami dan belum menjadi bencana dan sebenarnya bencana yang paling sering terjadi hingga mendominasi kejadian Bencana di Indonesia adalah Bencana Hidrometeorologi yakni sekitar 90% dari total keseluruhan kejadian Bencana (ini menurut catatan BNPB).

Longsor Cisolok

Bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang terjadi karena dipicu oleh faktor faktor hidrometeorologi. Bencana-bencana yang masuk kedalam komplotan bencana hidrometeorologi antara lain (banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, dan kebakaran hutan). Dampak dari bencana Hidrometeorologi tentu tidak dapat kita abaikan begitu saja. Salah satu kejadian bencana hidrometeorologi yang baru baru ini terjadi adalah kejadian longsor di Cisolok Kabupaten Sukabumi yang mengakibatkan 30-an orang meninggal dunia. Kejadian kejadian bencana hidrometeorologi sebenarnya telah dapat diprediksi dan tentu telah dipublikasikan oleh Kementrian/ Lembaga terkait, yah meski kita akui terkadang masih banyak false alarm. Contoh lembaga yang secara rutin memberikan peringatan dini gerakan tanah adalah PVMBG melalui link vsi PVMBGnya (http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gerakan-tanah/peringatan-dini-gerakan-tanah) Dalam situsnya PVMBG dengan rutin memberikan peringatan lokasi lokasi yang memiliki peluang besar terjadi Gerakan Tanah (Longsor) setiap Bulan berdasarkan informasi tingkat ancaman gerakan tanah dan prediksi curah hujan pada bulan tersebut.

Bencana Hidrometeorologi di Musim Hujan 2019?

Bencana hidrometeorologi merupakan komplotan bencana yang faktor pemicunya berupa kejadian kejadian yang berkaitan dengan fenomena hidrometeorologi seperti hujan. Pada musim penghujan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim biasanya akan semakin sering terjadi di wilayah Indonesia. Hingga 12 Januari 2018 tercatat setidaknya telah terjadi bencana Hidrometeorologi di 17 kabupaten di Indonesia.

  • 4 Kejadian Banjir di kabupaten Aceh, Banten, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan
  • 2 Kejadian Banjir Bandang di Kuningan dan Sanggau
  • 1 Kejadian Banjir dan Tanah Longsor di jayapura
  • 7 Kejadian Cuaca Ekstrim di Karawang, Bandung, Cirebon Magelang, Nganjuk, Pinrang dan Luwu
  • 1 Kejadian Tanah Longsor di Sukabumi
  • 2 Kejadian kebakaran Hutan di Aceh Jaya dan Bengkalis
Kejadian Bencana Hidrometeorologi 2019

Pada musim penghujan jumlah kejadian bencana hidrometeorologi biasanya akan mengalami peningkatan baik intensitas maupun frekuensi kejadiannya. Potensi terjadinya bencana hidrometeorologi akan terus meningkat hingga puncak musim penghujan yang pada beberapa daerah di Indonesia terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Untuk mengatasi hal tersebut sudah sepantasnya kita bisa melakukan persiapan agar dampak yang diakibatkan bencana bencana tersebut dapat diminimalisir. Kegiatan sederhana dan dapat kita lakukan sendiri di tempat tinggal kita adalah:

  • Kita harus mengetahui dan mengenali tempat tinggal kita lebih dekat lagi. Kita harus tahu bencana bencana apa yang sering terjadi di tempat tinggal kita. Biasanya namun tidak selalu nama dari tempat tinggal kita menggambarkan kondisi kondisi terdahulu seperti nama nama yang ada frase rawa, kali, sungai dan segala hal yang berhubungan dengan air bisa jadi tempat tersebut dulunya memang dipenuhi air. Cara lainnya tentu banyak ngobrol dengan orang orang disekitar, tanya apakah tempat kita sering banjir dulunya. Cara lainnya lagi teman teman dapat melihat melalui aplikasi InaRisk yang disediakan oleh BNPB di playstore Android untuk mengetahui risiko bencana apa di sekitar kita.
  • Kita harus selalu memonitor kondisi cuaca di sekitar wilayah kita. Saat ini telah banyak aplikasi yang menyediakan layanan prediksi cuaca. Jika ada potensi hujan lebat atau bahkan hujan lebat disertai petir maka lakukan tindakan tindakan berikut agar terhindar masalah.
    • Jauhi Pohon rindang dan baliho dan objek objek lain yang rawan tumbang. Saat terjadi hujan sangat deras biasanya disertai angin kencang yang bisa saja menumbangkan pohon dan baliho. Jika memiliki pohon pohon besar ada baiknya memangkas sebagian rantingnya agar tidak membahayakan.
    • Letakkan benda benda elektronik dan kabel kabel maupun instalasi listrik lainnya di tempat tinggi agar tidak membahayakan bilamana terjadi banjir.
    • Hindari tebing tebing yang rawan longsor. Dan laporkan ke BPBD setempat bila ditemukan retakan retakan atau mulai miringnya objek objek seperti tiang listrik yang berada di dekat tebing, kejadian longsor biasanya didahului oleh retakan retakan seperti ini dan tiang listrik yang miring menandakan adanya pergerakan tanah.
  • Ketahui jalur jalur evakuasi terdekat dan adakah peringatan dini di sekitar kita seperti kentongan atau lainnya yang biasa digunakan masyarakat untuk mengabarkan kejadian bencana. Jika ada kita perlu mengetahui kesemua itu agar tidak bingung dan dapat merespon dengan baik dan cepat bila benar benar terjadi. Lebih bagus lagi bila kita sekali kali melakukan latihan secara rutin. yah itung itung sembari lari pagi atau jalan jalan santai.
  • Ketahui nomor nomor darurat yang dapat kita hubungi saat kejadian darurat benar terjadi seperti nomor polisi, ambulan dan BPBD. Atau minimal nomor pak RT hehehe.

Saya rasa cukup segitu dulu yang dapat saya tuliskan dalam posting saya ini, sepertinya sudah panjang sekali hehehe. Akhir kata saya ucapkan terimakasih dan semoga kita dapat melalui musim hujan ini dengan seru dan berkah Amiiiiin.

Salam,

Dewa Putu AM

BencanaDaily LifeUncategorized

Cerita Tentang 2018 yang Gagal?

January 11, 2019 — by dewaputuam2

IMG_20181021_163251-960x540.jpg

Sama seperti judul yang saya berikan pada tulisan ini, Tahun 2018 merupakan tahun dimana ku dengan kerennya memperoleh banyak sekali kegagalan. Kegagalan yang saya maksud disini adalah kegagalan dalam arti sebenarnya maupun kegagalan dalam arti tak sebenarnya (gagal untuk gagal hehehe :). Meski banyak mengalami kegagalan, tidak bisa saya pungkiri juga bahwa tahun 2018 merupakan salah satu tahun yang memberikan banyak pengalaman menarik, seru, dan juga bermakna bagi saya. Di tahun 2018 banyak kisah yang mengundang senyum simpul namun tak sedikit pula kisah yang menyedihkan. Bukan lah suatu hal yang berlebihan jika saya menggap tahun 2018 merupakan tahun yang luar biasa dengan beragam rasa yang ditinggalkannya. Sebagai pengingat dan tentunya saya berharap ada nilai yang dapat di ambil, Melalui post ini saya akan menceritakan sedikit apa apa saja hal yang menarik saya alami di tahun 2018.

# Dimulai dengan makna dari memberi makna memberi dan makna abstrak

Tahun 2018 saya awali dengan sesuatu yang berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Jika tahun 2017 dan sebelum sebelumnya saya habiskan dengan acara bakar bakar ikan dan paling sering dengan acara tidur selama satu tahun, pada tahun 2018 saya awali dengan memberi makna “Memberi”. Acara di penghujung dan awal tahun tersebut mungkin tidak begitu besar dan sangat kecil dibanding gemerlap cahaya kembang api dan riuh terompet yang menjadi background kami, menyelinap di sela sela kerumunan orang, kami berempat bergerak malu malu mendekat lalu pergi ketempat lain, bergerak menyelinap lagi dan hilang ditelan riuhnya perayaan tahun baru.

Makna kembali saya susuri, diawal tahun namun berbeda dengan makna memberi yang coba saya kecap sebelumnya, makna yang saya susuri saat itu makna makna sporadis yang ditebarkan para seniman dalam sebuah karya instalasi, lukisan ataiu bentuk bentuk yang mungkin sarat makna namun tak mampu atau mungkin sekedar saya cerna.  Kunjungan saya ke museum macan awan januari bersama beberapa teman sekolah dulu cukup seru dan membingungkankarena ternyata banyak sekali yang tidak saya pahami hehehe. Atau jangan jangan justru itu sebenarnya makna yang terkandung dalam seni seni abstrak mereka sebuah makna tentang. Pada saat itu saya mengira bahwa ternyata hal seperti inilah yang belum dapat saya pahami saat ini tentang nilai sebuah seni. Jujur saya dari dulu kurang begitu paham dengan sisi seni dari barang barang yang dipamerkan oleh seniman seniman saat ini, saya hanya tau benda atau karya tersebut unik dan beda tanpa mengerti ada makna apa yang hendak disampaikan.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by dewa putu am (@dewaputuam) on

dan bencana itu datang

Siapa yang bakal menyangka bahwa tahun 2018 akan menjadi tahun yang memberikan banyak cobaan (jika tidak ingin dikatakan sebagai bencana) bagi kita. Tahun 2018 merupakan tahun yang memberikan banyak pelajaran yang bernilai, yang sayangnya nilainya begitu mahal, tak kurang 3000an nyawa telah menjadi korban dalam bencana-bencana besar yang terjadi selama tahun 2018.  Setidaknya ada tiga bencana besar tercatat yang terjadi pada tahun 2018 yakni Gempa Nusa Tenggara Barat, Gempa Sulawesi Tengah dan terakhir Tsunami Selat Sunda ketiga bencana tersebut memberikan dampak yang begitu besar terhadap wilayah terdampak dan juga Indonesia tentunya.

Balaroa Kini

Bencana sebenarnya memang bukan barang baru, bahkan semenjak bencana mahadasyat Tsunami Aceh, kesadaran akan keberadaan kita akan pentingnya perhatian khusus akan bencana mulai meningkat pesat mengingat kita berada di wilayah yang merupakan supermarketnya bencana. Hampir segala macam bencana kita miliki Dari Gempa, Tsunami, Banjir, Tanah Longsor, Angin Kencang, Gas Beracun dan yang terbaru adalah Lukuifaksi yang terjadi di Palu. Kita semua sadar bahwa bencana sudah pasti akan datang kepada kita, namu kita juga sadar bahwa hingga saat ini mayoritas bencana tidak dapat kita prediksi dengan baik. Bukan hanya berpasrah, sudah banyak sekali usaha usaha yang dilakukan oleh berbagai pegiat bencana dari berbagai macam disiplin ilmu baik dari sisi penelitian, kebijakan, aksi aksi nyata maupun terobosan terobosan berbass tekhnologi. Harus kita akui bahwa telah banyak usaha yang dilakukan untuk meminimalisir dampak bencana yang dilakukan pun oleh banyak orang di berbagai sektor, namun harus diakui pula beberapa kebodohan entah disengaja ataupun tidak terkadang terlewat.

Dan bencana itupun datang, Ribuan jiwa melayang, terluka dan lebih banyak lagi yang harus mengungsi bahkan hingga kinibelum dapat dipastikan berapa ribu jiwa yang tanpa kita sadari telah hilang. Dari beberapa kejadian bencana tersebut baik saat saya terlibat langsung maupun secara tidak langsung setidaknya ada beberapa hal yang dapat saya jadikan sebagai suatu pembelajaran:

  1. Tentang angka di dalam bencana. Selama ini saya melihat berita kejadian bencana sama seperti beri berita berita lain yang ada di media lainnya tidak kurang dan tidak lebih. Angka korban meninggal dunia, hilang dan mengungsi meski terasa sedih namun asalkan tidak terjadi pada kita atau keluarga kita, berita tersebut sama rasanya dengan angka angka yang menunjukkan peningkatan harga bbm, beras dan lainnya. Namun ternyata saya baru tersadar angka angka yang ditunjukan dalam bencana memiliki makna yang lebih dalam, ada harapan sanak keluarga korban dilekatkan disana namun sayangnya ada pula kesedihan  orang orang yang ditinggalkan. Masih teringat jelas dengan berbekal foto seadanya wajah wajah penuh harap bertanya kepada kami tentang keberadaan sanak keluarga mereka yang hilang entah kemana. Saat itu saya benar benar bingung harus berbuat apa dan sesekali saya melihat angka angka yang tercantum pada papan sambil berguman lirih, ini bukan sekedar angka, ini manusia.
  2. Manusia manusia hebat. Didalam bencana tidak hanya terlihat kesedihan dimana mana, tidak jarang kita diperlihatkan betapa indahnya sisi kemanusiaan. Kita tidak hanya dipertontonkan kerapuhan namun juga di tampilkan secara megah tentang betapa tegar dan tangguhnya manusia,  Semua itu dibalut dengan level keiklasan yang luar biasa besar. Beberapa kali saya menemukan orang orang yang dengan tidak kenal lelah melakukan apa yang ia bisa untuk membantu para korban, bahkan terkadang mereka tidak memikirkan keselamatan dirinya sendiri. “Pak, kami orang yang tidak punya apa apa untuk membantu materi, tetapi kami punya tenaga yang dapat saya sumbangkan untuk membantu keluarga keluarga saya yang sedang tertimpa kemalangan ini pak” ucap seseorang kepada salah satu tentara
  3. Manusia manusia bodoh dan biadab, Sayangnya kita tidak hanya dihadapkan dengan orang orang perkasa yang tanpa kenal lelah membantu sanak keluarga kita yang sedang terkena musibah. Dalam bencana juga kita tidak jarang menemukan orang orang bodoh bahkan biadab yang memafaatkan situasi, menyebar kebohongan dan kepanikan yang tentunya menambah penderitaan para korban. Terkadang mereka melakukan secara terang terangan namun sangat banyak pula yang dengan pengecutnya bersembunyi dalam kenyamanan dan dengan tanpa merasa bersalah menyebarkan berita palsu yang tidak jarang sangat jahat.

Dari kesemua itu, terlintas suatu pertanyaan yang menurut saya penting. Apakah 2018 kita gagal?

Jawabnya tergantung dari mana kita melihat. Kalau dari saya akan dengan senang hati mengakui bahwa 2018 ku gagal. kuakui banyak kesalahan yang ku lakukan pada tahun 2018, tetapi itu tak mengapa, justru dengan kegagalan kegagalan tersebut kita banyak belajar, justru dengan kegagalan kegagalan tersebut kita akan lebih berhati hati. Dan terpenting

“Dengan mengakui bahwa ada kegagalan, setidaknya kita juga telah mengakui bahwa ada yang perlu kita perbaiki agar kegagalan serupa tidak terulang kembali”

Sekian dari saya, semoga di tahun ini saya dapat lebih sering menuliskan artikel hehehe,

Salam

Dewa

BencanaPsikologiUncategorized

Bencana, Manusia dan Makna

September 16, 2018 — by dewaputuam0

2018_08_15_51527_1534319686._large-960x640.jpg

Senyum Lombok
Masih Ada senyum (Sumber: Facebook BNPB, foto by oleh Mas Accu )

BIAR BAGAIMANAPUN KITA TAK PERNAH LUPA BAHWA KITA MANUSIA

Belum lama ini kita ditunjukan  bahwa kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh dihadapan alam. Alam yang selama ini dengan pongah dan sadisnya kita eksploitasi tanpa henti. Dalam peradaban dunia kita yang kian maju dan manjakan oleh tekhnologi informasi, ketidaktahuan seperti sudah lama punah dan digantikan oleh perasaan mengetahui dan memahami segala hal. Kita lupa menyisakan ruang untuk ketidaktahuan kita. Sayangnya ketidaktahuan itu terkadang tidak disertai oleh keingintahuan atau mungkin kita sendiri yang mengabaikan pengetahuan yang sebenarnya sudah lama ada disekitar kita, dan akhir dari semua itu kita membayar mahal baik dengan materi dan yang paling terasa adalah nyawa yang menghilang.

Meskipun terkadang kita lupa untuk menyisakan ruang untuk ketidak tahuan kita, dan bila mau jujur banyak sekali hal penting yang tanpa sadar kita lupakan. Namun dari kejadian ini saya menyadari satu hal, ada satu hal yang sepertinya kita tidak pernah lupa.

Setidaknya, Kita tidak pernah lupa bahwa kita adalah manusia. Meskipun sebagai manusia kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh, namun biarlah, Pada kenyataannya banyak hal positif yang kita miliki dan dapatkan selama hidup berdampingan dengan orang lain. (digubah salsah satu kalimat dari T William & Carrin 2018 dalam buku berjudu Nol)

jejak kita di dunia maya sesaat setelah terjadi bencana

Kita tidak pernah lupa bahwa sejatinya kita adalah manusia. Bila sebelumnya saya menyalahkan peradaban kita yang kian maju dan dimanjakan tekhnologi informasi, saat ini saya justru memang harus mengakui bahwa salah satu bukti bahwa kita belum melupakan eksistensi kita sebagai manusia dapat dilihat dengan relatif mudah melalui kebiasaan kita meninggalkan jejak digital. Mungkin kita bisa memoles sedemikian rupa jejak-jejak yang kita tinggalkan di media sosial agar selalu terlihat baik dan mungkin kita tidak dapat memungkiri pula terkadang banyak kebohongan ditebar disana. Semua itu karena kita merasa diawasi dan dilihat oleh keluarga, kawan ataupun kenalan kita. Namun dalam situasi dan kondisi tertentu dimana kita merasa tidak terlihat, kebenaran tentang kita sebenarnya terungkap dengan bebas. Hal inilah yang mengantarkan kita pada suatu premis “Jejak pencarian kita di dunia maya dapat menggambarkan bagaimana kita sebenarnya”. lalu bagaimana kita bila dilihat dari jejak digital yang kita tinggalkan sesaat setelah terjadi bencana besar di NTB?

Sebuah riset kecil kecilan pun coba saya lakukan untuk gambaran gambaran tentang apa yang paling banyak kita cari sesaat setelah bencana terjadi, yang dalam hal ini kita ambil contoh Bencana Gempa 7SR di NTB  yang terjadi pada Tanggal 5 Agustus 2018.

  • Sesaat setelah kejadian, kata kunci terkait Gempa Lombok, Gempa NTB dan Gempa Bali yang paling populer dicari melalui mesin pencarian google adalah informasi terkait lokasi kejadian gempa terbaru.
  • Dalam rentang waktu 4 jam setelah kejadian, kata kunci populer pun bergeser dari sebelumnya terkait lokasi bencana menjadi potensi bencana susulan (gempa dan tsunami) dan tentunya kata kunci terkait Korban bencana mulai populer.
  • Keesokan harinya, setelah informasi sudah mulai membanjiri stasiun stasiun televisi dan media laiinya, terjadi lagi pergeseran kata kunci populer yakni dari bencana susulan dan korban menjadi Korban bencana dan Donasi untuk penyaluran bantuan.

Menariknya, terjadi pergeseran popularitas katakunci sesaat setelah kejadian, 4 jam setelah kejadian dan keesokan hari setelah berita mulai tersebar melalui berbagai media. Masarakat yang didominasi oleh masyarakat yang merasakan gempa awalnya memastikan lokasi gempa dan memastikan tidak adanya bencana susulan pada sesaat setelah kejadian. Hal ini terlihat dari katakunci lokasi gempa terbaru dan prediksi gempa susulan yang berada di puncak penelusuran.

Setelah 4 jam berlalu, dan memastikan tidak adanya tsunami, masyarakat mulai mencari informasi terkait korban. Keingintahuan masyarakat terkait jumlah korban akibat gempa yang mereka rasakan (untuk masyarakat dekat lokasi) dan mereka dapatkan informasinya dari media media lain mulai meningkat pada jam jam ini. Akibatnya , meskipun kata kunci gempa susulan masih menjadi pemuncak kepopuleran dalam pencarian google, kata kunci terkait korban mulai merangkak naik.

Hal yang paling menarik justru terjadi keesokan hari setelah berita terkait bencana sudah tersebar secara masif. Muncul salah satu kata kunci yang menyadarkan dan meyakinkan saya bahwa kita tidak pernah lupa satu sifat paling murni kita yang membedakan dengan makhluk makhluk lain. Sifat itu adalah Kepedulian. Sebenarnya hanya inilah kata kunci yang ingin saya sampaikan pada posting saya kali ini. Saat melihat kata kunci ini saya merasa bahwa meskipun banyak sekali hal negatif yang kita temui selama ini dan membuat pesimis, ternyata masih ada kepedulian. Meskipun sebagai manusia kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh, namun biarlah, Pada kenyataannya banyak hal positif yang kita miliki dan dapatkan selama hidup berdampingan dengan orang lain. Tampaknya frase ini masih relvan ditengah banyak hal negatif ego masing masing kita yang sepertinya memang perlu kita akui bersama.

bencana, manusia dan makna

Bencana, Manusia dan makna hidup sebagai manusia tidak dapat kita pisahkan. Mungkin egois, namun realistis bahwa suatu kejadian kita anggap bencana bilamana sudah mengganggu penghidupan dan kehidupan kita sebagai manusia. Bilamana suatu peristiwa tidak signifikan mengganggu hidup maupun kehidupan manusia maka sulit bagi kita mengaggap peristiwa tersebut sebagai suatu bencana. Namun bila peristiwa tersebut berdampak negatif terhadap hidup dan kehidupan kita sebagai manusia maka kita sepakat hal tersebut merupakan bencana, sekecil apapun itu. Olehkarena itu setiap kali terjadi bencana kita selalu mengkaitkan pada dampaknya kepada Diri kita sebagai suatu individu yang ingin diri dan keluarganya dalam kodisi aman dan kemudian baru dampaknya pada orang lain baik berupa korban maupun kerugian kerugian lainnya.

Definisi bencana yang demikian pun tertuang dalam  Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mendefinisikan Bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Di Indonesia kita mengenal berbagai bencana, dan hampir setiap jengkal wilayah di Indonesia memiliki karakter bencana dan jenis bencanya yang terkadang sangat unik dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Begitu banyaknya jenis bencana yang ada di Indonesia menjadikan Negri kita ini layak memiliki sebutan sebagai Supermarket Bencana. Bila kita kaitkan kembali dengan kejadian bencana Gempa bumi di NTB yang terjadi baru baru ini tentu Bencana NTB “hanyalah satu” dari sekian bencana yang terjadi di Indonesia yang notabennya merupakan supermarket bencana. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah dengan Indonesia yang merupakan supermarket bencana dengan kejadian bencana bencana hampir setiap hari terjadi menjadikan Bencana NTB merupakan hal yang biasa?

Bukan, bukan itu poin pentingnya, Bencana NTB memang berdampak besar tidak hanya pada masyarakat sekitar, Bencana ini merupakan salah satu bencana terbesar dalam 5 tahun terakhir baik dari kerugian materi dan yang paling terlihat dan terasa adalah jumlah korban jiwa yang besar berdasarkan data Pos Pendamping Nasional BNPB untuk bencana Gempa NTB perbaharuan 15 September 2018, total korban meninggal dunia saat ini telah mencapai 564 jiwa dan jumlah itu tentu bukanlah jumlah yang sedikit. Bencana NTB merupakan salah satu penderitaan terbesar yang menimpa bangsa kita. Kita tidak perlu menghindari dan menulak kesedihan yang ada itu, Kita tidak perlu malu untuk menangis dalam kesedihan, karena air mata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar, yakni keberanian untuk menderita (Victor E Frankl).

Perhatian utama manusia bukan untuk mencari kesenangan atau menghindari kesedihan, tetapi menemukan makna dalam hidupnya. (Victor E Frankl)

Kita tidak boleh lupa bahwa makna hidup kita sebagai manusia bahkan bisa ditemukan dalam sebuah penderitaan. Mungkin apa yang sudah terjadi memang sudah tidak bisa kita harapkan berubah. Korban yang telah pergi pun sudah tidak akan dapat kita harapkan kembali. Pada saat saat itu, kita menjadi saksi  adanya potensi manusia yang unik yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya dalam bentuknya yang terbaik, yang bisa mengubah tragedi menjadi kemenangan, mengubah kemalangan menjadi keberhasilan. Dari tragedi Gempa di NTB kita dapat melihat masih sangat banyaknya orang orang yang peduli.

Hidup bersama Gempa (Sumber: Indonesia Uinspire)

Kepedulian mereka mereka wujudkan dalam berbagai cara, Sebagai sukarelawan yang tanpa kenal lelah menyalurkan semua yang ada pada dirinya baik pikiran maupun tenaga untuk membantu, Para dermawan yang memberikan sebagian dari hartanya untuk meringankan penderitaan saudara saudara yang menjadi korban dan masih banyak lagi bentuk kepedulian yang baik terlihat maupun tidak dengan sukarela mereka berikan untuk NTB. Dan kita juga menyaksikan begitu tangguhnya masyarakat NTB yang kini mulai berbenah dan membangun kembali. Bukan hal yang berlebihan jika kita sebut masyarakat NTB merupakan masyarakat yang tangguh. Kita dan NTB hidup bersama gempa sudah berkali kali kita kita menghadapi gempa besar begitu juga dengan Lombok yang sudah berkali kali pula mengalami gempa kuat Namun Lombok dan kita menunjukan ketangguhannya untuk terus dan terus bangkit. Lebih baik dan terus lebih baik lagi dan semakin tangguh, mungkin sesaat lalu kita lupa, namun kita kan tetap bangkit dan membangun ketangguhan pada level selanjutnya. Menuju NTB yang tangguh bencana, Menuju Indonesia Sadar Bencana #NTBBANGUNKEMBALI

Saya sadari ketidak akan mampuan saya dalam menggambarkan bahkan sedikit saja tentang begitu luar biasanya makna yang diberikan trageni ini pada Masyarakat NTB dan juga bagi kita semua. Ada makna tersebar dalam tragedi ini,

  • Pentingnya kita mengenal dan memahami lingkungan kita,
  • Masih adanya kepedulian
  • Kekuatan masyarakat NTB
  • Dan beribu makna lain yang tidak mungkin bisa sebutkan satu persatu menjadikan Gempa NTB begitu membekas.

Tragedi Gempa NTB dan Bencana secara umum mengajarkan kita bahwa bencana bukan hanya tentang amarah alam pada manusia, bukan hanya kerusakan yang dilakukan alam karena kita yang selama ini dengan arogan memperlakukan alam dengan seenaknya, tetapi yang terpenting dari semua itu adalah tentang sebuah makna, tentang kita sebagai manusia,

Akhir kata ijinkan saya untuk mengucapkan terimakasih dan penghargaan sebesar besarnya kepada semua pihak yang selama ini terlibat dalam penanggulangan bencana Gempa NTB, semoga NTB akan bangkit seperti sedia kala bahkan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

Salam,

Dewa Putu AM,

Sumber:
BNPB, 2018, Data Informasi Bencana Indonesia (link)
Pospenas BNPB untuk Gempa NTB, (link)