main

Bencana

Konstruksi Data Sains untuk Manajemen Bencana di Indonesia

July 3, 2019 — by dewaputuam0

scrapyard-70908_1280-960x640.jpg
Kondisi Balaroa pada akhir tahun 2018. Jika dilihat secara sekilas, kita mungkin akan sulit untuk percaya bahwa sebelumnya wilayah ini adalah perumahan yang padat penduduk dan hingga kini belum ada angka yang pasti dan terpercaya untuk menggambarkan seberapa banyak korban yang masih tertimbun di sana. Pendekatan seperti apa yang perlu dilakukan untuk menduga itu semua?

Baru beberapa waktu yang lalu saya selesai membaca sebuah buku karya Seth Stephens yang berjudul Everybody Lies. Dalam buku tersebut dibahas dengan sangat menarik hal hal terkait peran data sains dan Big Data dalam mengungkap pengetahuan serta pemahaman baru tentang apa yang terjadi disekitar kita. Tidak sedikit apa yang diungkap oleh para data saintist tersebut adalah hal baru yang ternyata justru bertentangan dari apa yang selama ini kita yakini. Sembari membaca buku tersebut sesekali saya terbayang kondisi saya dan beberapa rekan saya saat sedang berada di lapangan dalam beberapa operasi penanganan darurat bencana Baik pada saat Gunung Agung, Gempa NTB, Gempa Sulteng dan Tsunami Banten.

Dalam beberapa operasi tersebut kami sering kali di tempatkan dalam tim Data dan Informasi. Sebuah tugas yang cukup berat bagi kami mengingat tidak jarang data yang datang dan harus kami olah adalah data yang jumlahnya sangat banyak dan juga mempunyai struktur yang sangat bervariasi (tanpa ada pakem struktur yang jelas) alhasil meski beberapa data berhasil dengan baik kami kelola, namun harus juga diakui bahwa tidak sedikit pula dari data tersebut yang kemudian hanya terkumpul begitu saja tanpa dapat kami telusuri dan peras Insightnya (wawasannya) secara optimal.

Mirisnya, jika dulu saya mengalami getirnya mengolah penelitian dengan data yang minim sekarang justru sebaliknya kami disini tenggelam di dalam lautan data. Sesekali saya tergelitik, mungkin ini juga dapat dikategorikan sebagai bencana banjir data bencana.

Melihat dan merasakan getir dan mirisnya tenggelam dalam data tanpa tahu memanfaatkan dan mengoptimalkannya memunculkan sebuah pertanyaan sekaligus tantangan besar di benak saya. Apakah kita akan selamanya seperti itu? Dapatkah kita mulai bergerak maju untuk mengoptimasi penggunaan data untuk mendukung aksi serta kebijakan dalam manajemen bencana kita ? Memahami dan mengkonstruksi data sains untuk manajemen bencana di Indonesia saya rasa menjadi suatu keharusan bagi kita, jika ingin menggerakan manajemen bencna kita ke tingkatan selanjutan.

Membongkar dan Merekonstruksi Definisi Data Bencana, “Data Bencana Tidak Sebatas Jumlah Kerusakan dan Korban Ferguso”

Dengan AI nya Facebook mampu mengidentifikasi wilayah wilayah bependuduk. Data ini kemudian diolah dan dikombinasikan dengan data penduduk untuk menghasilkan informasi sebaran penduduk seluruh dunia. Data data tersebut (data demografi resolusi tinggi 30×30 meter) dapat diakses secara gratis melalui situs berbagi data untuk kemanusiaan di tautan ini (Sumber Gambar dan Artikel terkait data demografi dari facebook dapat diakses melalui tautan ini)

“The power of Number”, saya kurang begitu nyaman dengan frasa tersebut. Tidak tahu mengapa dengan adanya frasa tersebut sudut pandang kita soal data hanya terbatas pada angka dan angka saja. Frasa tersebut kembali mencuat dalam salah satu grup chat kantor saat banyaknya media mainstream justru memfokuskan pada angka anka kejadian bencana dan bukan pada usaha usaha yang telah dan perlu dilakukan untuk mengatasi bencana bencana tersebut. Harus kita akui bahwa angka angka sangatlah menarik dan mayoritas data selalu diidentikan dengan data berjenis seperti ini.

Namun tidak boleh kita lupa juga bahwa ada banyak lagi jenis data selain angka yang bila kita kelola dengan baik akan menghasilkan wawasan yang tidak kalah penting dengan data yang disajikan dalam bentuk angka. Sebagai langkah awal dalam pemanfaatan data yang lebih baik, sudah saatnya kita menghapus persepsi kita yang mengidentikan data sebagai sesuatu yang tersaji dengan rapi didalam sebuah tabel. Secara khusus dalam manajemen bencana, kita juga perlu membongkar persepsi kita yang beranggapan bahwa data bencana yang hanya terbatas pada kerusakan dan korban. Baru kemudian kita merekonsruksi persepsi kita dan meyakinkan dirikita bahwa segala hal yang ada disekitar kita baik terlihat ataupun tidak terlihat adalah data.

Dalam bukunya yang berjudul Everybody Lies, Seth Stephens menyampaikan bahwa kerangka pikir yang dibawa oleh perkembangan Big Data memberikan kita peluang untuk mengelola dan menjaring lebih banyak lagi wawasan dari berbagai jenis data yang telah ada disekitar kita selama ini. Dari data data yang sudah sering kita kelola hingga data data yang mungkin jarang sekali kita lirik.

Memperlakukan “Gambar” Sebagai Data

Data jenis ini seringkali kita dapatkan namun sayangnya tidak sedikit dari jenis data ini hanya dimanfaatkan sebagai kelengkapan dokumen saja. Dengan adanya tekhnologi pengolahan data spasial (GIS) sebenarnya pengolahan data dengan jenis ini menjadi lebih baik dari sebelum sebelumnya, namun sayangnya dari yang saya lihat selama ini pemanfaatanya dominan masih pula sebatas pelangkap dokumen. Meski dalam beberapa kesempatan juga dijumpai pemanfaatan yang lebih mendalam, namun masih banyak pekerjaan rumah bagi kita agar data jenis ini dapat lebih diambil wawasannya lagi untuk kemudian dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam penentuan sebuah aksi atau kebijakan.

Contoh Dasboard Terkait Pemantauan Hotspot. Hotspot juga merupakan hasil pengolahan data yang berbentuk gambar yakni berupa citra satelit MODIS (Tera dan Aqua) serta citra SNPP. Data hotspot yang saya tampilkan dalam dasboard ini merupakan data yang diolah oleh Lapan yang mereka sediakan dalam platform mereka di tautan ini

Data dalam bentuk “gambar” tidak hanya terbatas pada gambar yang memiliki orientasi spasial, namun lebih dari itu pemanfaatan gambar gambar lain dari berbagai sumber memilik peluang pula untuk kita ambil wawasannya, data data tersebut saat ini tersebar dan mudah sekali didapatkan melalui berbagai macam platform baik grup grup chatting (WA dan telegram) dan juga media media sosial hingga berita berita yang disajikan dalam televisi ataupun situs berbagi video di internet. Selain dari sumber sumber tersebut data berupa gambar juga dapat kita akuisisi dari sumber lain seperti citra satelit, radar serta cctv. Salah satu contoh data tersebut dapat dilihat dari gambar sebelumnya tentang data demografi dengan memanfaatkan hasil analisis AI dari citra satelit yang dilakukan oleh Facebook.

Memperlakukan “Kata” Sebagai Data

Data berupa kata justru lebih banyak lagi dan mudah kita temukan saat ini. Dapat dikatakan bahwa data jenis ini merupakan data yang paling besar jumlahnya. Data data yang seperti ini dapat kita temukan dari laporan laporan situasi, paparan, surat surat, chat, berita berita online, tulisan di berbagai media sosial, hingga pada kata kunci yang banyak dicari oleh orang. Saking banyaknya data jenis ini yang beredar, membuat kita seringkali mengabaikan begitu saja dan hanya merekap dengan anggapan akan diperlukan jikalau nanti nanti ada yang bertanya. Padahal, dari data tersebut kita dapat mensarikannya kedalam wawasan (insight) yang dapat lebih berguna.

“Word Cloud” sebagai salah satu cara dalam memvisualisasikan data data berupa kata, Dengan menggunakan visualisisasi data data yang berupa kata baik dari kumpulan laporan, surat, chat, berita dan media sosial seperti ini kita dapat mengetahui isu apa yang paling banyak dibahas saat ini. (Sumber gambar: cu-portland.edu)

Dalam dunia politik data data dalam media sosial telah digunakan secara masif untuk mendapatkan informasi terkait sentimen dan persepsi masyarakat terhadap isu atau calon tertentu. Peluang ini pula dapat dimanfaatkan oleh para data saintist kebencanaan untuk menduga isu isu terkait bencana serta apa apa saja yang dibutuhkan masyarakat. Dengan ada pengelolaan yang baik, bukan tidak mungkin kesemua wawasan tersebut dapat disajikan secara realtime dalam dasboard tertentu. Hal ini yang beberapa minggu belakangan ini sedang saya coba untuk pahami dan saya pelajari. Bisa dibayangkan bila hal ini berhasil dilakukan maka isu isu kontra produktif dapat sesegera mungkin teratasi, dan permasalahan permasalahan juga dapat dengan segera tertangani secara tepat baik dari segi waktu, tempat dan situasi.

Memperlakukan “Segala Hal” Sebagai Data

Bukan hanya angka yang memiliki kekuatan, bukan hanya gambar yang memiliki kekuatan, bukan pula kata. Semua memiliki cara, kekuatan dan seni tersendiri dalam mengungkap fakta, yang menjadi bagian pembeda dari kesemua itu adalah peran dan kemampuan dari seorang atau sekelompok Data Saintist untuk memngungkap fakta fakta tersebut menjadi wawasan yang dapat dengan mudah dimengerti dan dipahami oleh penggunanya, baik para pelaku aksi maupun para pengambil kebijakan dalam manajemen bencana.

Ilustrasi tentang dua orang yang sedang berdiskusi tentang suatu topik dibantu dengan objek objek visual seperti grafik dan peta pikiran. Dari sini saya ingin memberikan penekanan bahwa data sains bukan hanya sekedar menganalisis jutaan data namun juga menyampaikan dwawasan yang kita dapatkan dari data data tersebut dengan cara sesederhana mungkin agar mudah dipahami. (Sumber ilustrasi rawpixel.com @ pexels.com)

Perkembangan Big Data selama ini justru membuat banyak orang tenggelam dalam data. Kita memiliki banyak sekali Terabytes data namun hanya sedikit wawasan penting yang dapat kita perloleh dari data tersebut. Big Data bukan hanya sekedar mengkoleksi data lebih banyak dan lebih banyak lagi, namun tentang mengumpulkan data yang benar. Dari sinilah seorang data saintist mengambil perannya.

Data sains adalah tentang menemukan pola dan memprediksi bagaimana satu variabel akan memberi dampak pada variabel lainnya.

Seth Stephens

Data sains memanfaatkan proses berpikir manusia secara natural dan intuitif yaitu ; menemukan pola memberika pemahaman terhadap pola tersebut; dan kemudian memberikan sedikit injeksi steroid (bisa berupa apapun baik berupa logika logika dasar ataupun hal hal lainnya yang terkadang terdengan konyol dan simple) . Dari kesemua tersebut berpotensi menunjukan kepada kita bahwa dunia ini bergerak sepenuhnya berbeda dengan anggapan kebanyakan dari kita sebelumnya.

[bersambung…]

BencanaDaily LifeLingkunganUncategorized

Extinction Rebellion dan 12 Tahun Tersisa

April 22, 2019 — by dewaputuam0

6720.jpg

Melalui tulisan kali ini saya akan sedikit bercerita dan berdiskusi apa yang sedang marak dan ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Bukan tentang carut marut perpolitikan kita dan hiruk pikuk pilpresnya. Sudah terlalu banyak yang membicarakan hal itu dan mungkin saja teman teman sama seperti saya yang sudah jengah dan bosan dengan topik itu. Bukan berarti topik tersebut tidak penting, namun saya rasa saya ang ramah remah kerupuk ini tidak sudah terlalu jenuh mendengar dan membaca hal hal tersebut, jadi kita bahas saja hal hal yang mungkin saja jarang ada dalam lingkup perhatian teman teman, namun percayalah topik ini merupakan hal yang sangat penting dan mendesak untuk kita bahas dan sesegera mungkin harus kita selesaikan setidaknya tidak lebih dari 12 tahun, sebelum semuanya terlambat.

Kita bukanlah generasi yang buruk, kita (atau mungkin kalian) memiliki tingkat kepedulian yang sangat tinggi. Tidak kurang aksi aksi solidaritas selama ini teman teman tunjukan dan jujur saya sangat terkagum dan terharu melihat hal hal tersebut. Kita sudah banyak melihat betapa besar kepedulian teman teman dari banyaknya aksi solidaritas kepada sesama yang mengalami musibah baik bencana maupun penganiayaan, solidaritas terhadap hewan hewan yang mendapat perlakuan sewenang wenang dan juga solidaritas kepada alam yang dirusak oleh orang orang tidak bertanggung jawab. Banyak hal yang teman-teman perlihatkan hingga saat ini, dan itulah yang menjadi salah satu alasan saya menuliskan tulisan ini.

Cerita ini dimulai dari Aksi Extinction Rebellion

Selamat hari bumi. Mungkin kalimat itu banyak kita lihat hari ini dengan berbagai bahasa yang disampaikan melalui berbagai macam platform baik media sosial maupun media media penyebaran berita. Ditengah hiruk pikuknya politik di negeri kita ini, dan ditengah kesedihan yang mendalam atas aksi teror di Sri Langka, Ada sekelompok orang yang berjuang untuk hal yang mungkin terlihat naif dan orang orang ini menamakan diri mereka sebagai “Extinction Rebellion” yang kira kira jika di artikan secara harfiah sebagai “Pejuang Kepunahan”.

Satu dari sekian banyak Pemrotes Iklim (Extinction Rebellion) yang ditangkap pada Hari Seni Pagi oleh kepolisian London Saat melakukan aksi (Sumber Foto: Penelope Barritt/REX/Shutterstock)

Dalam sepekan terakhir mereka membuat “keributan” dan memperjuangkan apa yang mereka anggap penting dan mungkin akan terlihat halu untuk sebagian dari kita yang untuk memikirkan diri sendiri saja masih susah hehehe. Dilansir dari VOA Indonesia, Mereka yang telah membuat sebagian kota London macet total ini menginginkan pemerintah mendeklarasikan keadaan darurat iklim dan ekologis, mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi nol sampai pada 2025, dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati (sumber VOA Indonesia). Menurut saya ini adalah salah satu aksi yang gila dan nekat. Namun mengingat waktu yang kita miliki sekarang, saya rasa ini merupakan aksi yang hebat dan layak dilakukan.

Ini Bukanlah Sekedar tentang Bumi, Ini Tentang Kita dan Masa Depan Kita

Perubahan iklim tidak hanya sekedar suatu cerita kenaikan suhu rata rata bumi semata. Namun perubahan itu akan berdampak pada perubahan perubahan lain yang tentunya akan semakin membuat kita terpojok dan kritis. Sebagai awal saya akan sedikit menggambarkan dan memberikan hitung hitungan sederhana tentang apalah arti peningkatan suhu 1.5 derajat itu. Ini sebnarnya adalah suhu batas yang menurut para ahli merupakan batas kemampuan kita untuk menanggung beban dari perubahan iklim.

Sekarang kita anggap peningkatan suhu rata rata harian dalam satu tahun adalah 1.5 derajat celsius. Ini peningkatan rata rata dalam satu hari yang berarti merupakan hasil jumlah peningkatan suhu selama satu hari lalu dibagi dengan 365 hari. Jika kita kalikan dengan 365 maka setidaknya total perubahan suhu dalam satu tahun adalah 450an derajat celsius. Jika kita bagi rata setiap harinya tentu akan dihasilkan peningkatan suhu dalam satu hari sebsar 1.5 derajat, yang menurut kita tidak lah berbeda secar signifikan dibanding hari hari biasa. Akan tetapi sayangnya tidak demikian, 450 celcius derajat ini tidak dibagi secara merata, ada hari dimana suhu meningkat sangat drastis. Hal inilah yang kemudian muncul dalam bentuk pemberitaan gelombang panas dan panas ektrim yang akhir akhir ini dan mungkin beberapa waktu kedepan banyak diberitakan

Peningkatan suhu mungkin tidak begitu menjadi perhatian bagi orang orang yang berada di wilayah tropis, hanya saja terkadang suhu yang sangat tinggi akan meningkatkan pula keluh kesah orang orang didalamnya. JIka suhu saja yang meningkat sebenarnya tidaklah begitu masalah dengan kita yang terbiasa berpanas panasan ini. Namun peningkatan suhu pada kenyataannya juga datang bersama kawan kawannya yang berarti pula meningkatnya pula bencana bencana hidrometeorologis baik dari intensitas maupun durasinya.

Peningkatan kebencanaan hidrometeorologis sperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim dan kekeringan mungkin kalian sudah tahu bersama telah semakin sering terjadi di sekitar kita. Untuk memberikan gambaran berikut ini saya sampaikan rekapitulasi kejadian bencana di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir yang memperlihatkan bahwa 98% bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi, Perubahan iklim yang terjadi diprediksi juga akan meningkatkan jumlah serta intensitas kejadian bencana bencana hidrometeorologis ini.

Ketika kita berbicara tentang bencana maka pembicaraan ini tentunya tidak hanya berkisar pada topik topik naif tentang penyelamatan bumi. Menurut hemat saya seharusnya justru kita lah yang harus diselamatkan, bukan buminya, dengan cara ‘menyelamatkan bumi’. Karena sebenarnya kitalah yang perlu menjaga bumi kita agar tetap sesuai untuk tempat hidup kita.

Ini bukanlah sekedar tentang Bumi, ini justru tentang kita dan masa depan kita. Mereka, para Extinction Rebellion bukan hanya memperjuangkan masa depan “Mereka” namun juga memperjuangkan masa depan kita bersama bumi kita beserta segala kekayaan yang ada. Jangan sampai apa yang dikatakan Greta Thunberg terjadi.

Saat cucu cucu kita nanti bertanya dan menyalahkan kenapa kita tidak melakukan aksi untuk menghadapi perubahan iklim ini saat waktu masih ada. Ya, kita saat ini masih memiliki waktu.

Setidaknya 12 tahun lagi hingga semua kesempatan yang ada akan hilang dan perubahan iklim akan kian menjadi dan membawa kita pada Jaman kepunahan masal ke 6, yang bukan suatu hal yang tidak mungkin kalau kita juga nantinya akan masuk daftar itu. Apa yang akan kita pilih dan lakukan, Sebagai generasi yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi seperti yang saya sebutkan dalam paragraf paragraf awal tentunya sudah tahu. Ini bukan pada apa yang perlu kita tahu, tapi apa yang harus kita lakukan segera. Oia sebagai tambahan berikut ini ada satu cuplikan film yang bagus.

salam dari saya

dewa putu am

BencanaDaily LifeLingkunganOpiniUncategorized

[Opini]Mencari sosok “Sexy Killer” di karya Watchdoc.

April 16, 2019 — by dewaputuam0

Sexy-Killers-01-2-960x654.jpeg

Kemarin sore banyak dari teman saya yang membagikan sebuah video dokumenter karya Watchdoc yang berjudul Sexy Killer. Hanya dari tumbnailnya sudah dapat terlihat ini tentang batubara karena disana secara eksplisit ditampilkan terdapat sebuah kapal tongkang sedang mengangkut segunung batu bara yang saya tidak tahu akan mengarah kemana.

Tumbnail sebuah film dokumenter karya Watchdoc yang berjudul “Sexy Killer” yang sedang hangat diperbincangkan saat ini. Apa yang membuatnya Sexy? (Sumber Gambar, Geotimes)

Awalnya saya hanya tertarik menonton trilernya saja karena full video cukup panjang yakni 01:28:55. Cukup panjang untuk sebuah video yang disebarkan melalui youtube. Yang menurut hemat saya sebuah video yang menarik biasanya sekitar 4-8 menit saja jikalau panjang cukuplah sampai belasan menit, karena itu sudah sangat membosankan dan terlalu lama. “Lalu apakah hal penting yang disampaikan dalam video ini sehingga teman teman saya bersama lebih dari 6 juta orang lainnya menonton dan membagikan sebuah video yang sangat panjang tersebut? Hal sexy apakah yang sedang dibahas disana?” Atas dasar rasa penasaran tersebut akhirnya saya “menyisihkan” satu setengah jam saya untuk menonton film dokumenter itu, sembari bertanya tanya siapa gerangan si sexy killer itu. (Hingga Tanggal 16 April 2019 Pukul 13.14, video tersebut telah di lihat oleh 6,076,798 orang )

Video ini diawali dengan sebuah cuplikan video sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu di sebuah hotel yang mewah. Dari sini ditampilkan pula barang barang elektronik yang kita sering jumpai dalam kehidupan sehari hari beserta besaran energi yang dikonsumsinya. Dan kemudian diakhir cuplikan menggantung tersebut terdengarlah kata kata gaib nan ajaib

“Kita semua tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari hari adalah bagaimana listrik bisa sampai ke ruangan ini”

Setelah kata kata itu secara ajaib muncul, seketika saya berharap muncul kata kata “iklan layanan masyarakat ini didukung oleh bla bla bla dan bla.” Namun ternyata tidak, cuplikan ini bukanlah akhir, namun adalah awal karena dalam cuplikan selanjutnya justru mereka mengawali apa yang akan mereka ceritakan selanjutnya dari sebuah ledakan di tambang batubara.

Ijinkan saya sedikit menceritakan hal apa yang disampaikan dalam video tesebut

Lubang galian tambang di Kalimantan Timur yang dibiarkan menganga begitu saja tanpa pengelolaan yang baik dan benar dan kemudian menimbulkan banyak korban yang kebanyakan adalah anak anak karena tenggelam. (Sumber Gambar CNN Indonesia)

Dari sinilah kemudian sang pembuat video dengan indah dan jeniusnya menggambarkan masalah masalah apa yang dulu bahkan sampai sekarang sedang terjadi di pertambangan kita, baik dari hulu hingga hilir. Cerita ini diawali dengan kisah kisah bermasalahnya pertambangan batu bara itu sendiri dimana keberadan tambang batu bara merampas hidup dan penghidupan masyarakat sekitar yang sebelumnya dibawa pemerintah untuk membangun pertanian di daerah tersebut. Dan ironisnya pemerintah pula lah yang kemudian merusak penghidupan mereka sebagai petani dengan membangun tambang batu bara.

Permasalahan yang ada kemudian dibuka secara perlahan oleh sang empunya video. Mulai dari permasalahan ruang tambang yang abai bahkan mengorbankan penghidupan dan hidup masyarakat sekitar. Lahan lahan pertanian dan tempat tinggal mereka terus diusik dan diusir secara perlahan oleh tambang. Keberadaannnya yang sangat dekat dengan lingkungan publik, menyebabkan banyaknya permasalahan kemudian timbul dari rusaknya pencarian dan tempat tinggal hingga hilangnya beberapa nyawa anak anak tak berdosa. Dan biadabnya hal ini kemudian dikatakan pemerintah setempat dalam sebuah wawancara sebagai suatu hal yang biasa, sembari terkekeh kekeh dan berkelakar seolah membahas opera sabun yang di tontonnya semalam.

Dari cuplikan ini saya semakin penasaran apa apa saja yang akan diceritakan oleh Watchdoc dalam videonya kali ini yang mengundang perhatian sebegitu banyak orang. Video tersebut kemudian beralih pada permasalahan transport dari dari batu bara menuju beberapa PLTU yang ternyata memberikan dampak buruk tersendiri. Dan kemudian menuju karah yang lebih hilir dari usaha pertambangan batu bara yang ternyata banyak berlabuh pada PLTU. Dari kedua sisi tersebut baik permasalahan transport maupun PLTU kemudian berkembang cerita yang tidak kalah getir, menyedihkan dan harus saya akui saya mengetahui kesemua itu dari video yang jujur saja sebelumnya tidak menarik bagi saya.

Bahkan melalui video ini pula mereka menunjukan sebuah keberanian yang luar biasa, yang saya bahkan beranggapan mereka sudah seperti kucing yang memiliki 9 nyawa. Dengan beraninya mereka membuka dalang dalang besar yang ada didalam jaringan usaha tambang batu bara Indonesia yang tentunya bukan main main lagi tinggi,penting dan berkuasanya posisi para dalang itu di Indonesia saat ini. Dengan beraninya mereka menyebutkan satu persatu pembesar pembesar beserta perusahan perusahaan tambang pengeruk rupiah yang mereka kelola. Big salute for you all guys.

Kemudian muncul pertanyaan, Siapa si sexy itu dan apa maksud dari film ini

Secara sederhana dan tanpa upaya mungkin akan banyak yang beranggapan bahwa si sexy killer yang dimaksud dalam film dokumenter ini adalah para dalang dan penggede dibalik usaha tambang yang mereka gerakan. Ia tampak keren, gagah dan elegan namun dibalik semua itu mereka secara tidak langsung adalah dalang dari segala pembunuhan yang ada dan ditampilkan dalam film dokumenter ini. Dan sebagian lainnya yang mungkin tidak mampu membeli kuota internet dan hanya mampu melihat potongan awal film, si sexy killer mungkinlah sosok pasangan muda yang sedang ber bulan madu itu hehehe.

Saya tidak akan mengatakan kedua pandangan diatas adalah pandangan yang benar ataupun salah. Berkaca dari pandangan pertama tentang diungkapnya para tokoh tokoh negara baik di sisi petahanan dan penantang yang ternyata berandil besar dalam jejaring usaha pertambangan yang banyak menelan korban. Isu ini tampaknya menjadi isu yang sexy mengingat hanya dalam hitungan beberapa jam lagi kita akan melaksanakan pemilu serentak. Hal ini kemudian menimbulkan sedikit kekhawatiran terhadap munculnya aksi kekecewaan dan ketidak percayaan yang pada akhirnya memicu aksi golput saat pemilu.

Ada sebagian yang mungkin akan seperti itu, namun saya yakin orang yang golput karena video ini jumlahnya tidak akan begitu banyak. Mengingat sebenarnya video ini tidaklah begitu sexy dimata masyarakat sekarang, yang dalam hal ini dapat terlihat dari trending youtube yang ada hari ini yaitu video Boyband BTS, Epic Rap Battles Of Presidency (ini masih okelah) dan video berfaedah macam Nyusul Gempi ke Bali serta kejadian luar biasa tentang Limbat yang akhirnya bisa berbicara.

Tampaknya harus kita akui bahwa Isu lingkungan bukanlah suatu isu yang sexy di mata masyarakat kita. Atau setidaknya tidaklah jauh sexynya bila dibandingkan tentang isu tentang gempi yang di jemput kebali juga limbat yang akhirnya berbicara akibat terkena prank.

Mengungkap siapa si Sexy Killer sesungguhnya?

Untuk menjadi menarik dan kemudian banyak diperbincangkan, isu lingkungan dalam video ini akhirnya kemudian menempel pada isu yang lebih seksi dan tentunya sangat tepat bila dibahas saat ini yaitu “Politik”. Dengan gagah berani mereka membuka jejaring dalang yang menggerakan pertambangan batu bara di Indonesia yang berasal dari kubu petahanan maupun kubu penantang.

Kesemua parade dan kisah itu saya rasa sebenarnya diajukan kepada sosok sang “sexy killer” sesungguhnya yang selama ini selalu bersembunyi dan terus mengukir kisah pembunuhan ini tanpa merasa bersalah. Sexy killer yang merupakan dalang dari semua dalang yang ditampilkan dalam video ini. Sosok sexy killer itu sampai saat ini terus bersembunyi dan menyangkal apa yang diperbuatnya saat ini.

Film dokumenter ini merupakan suatu jebakan yang dibuat sedemikian apik oleh watchdoc. Dan harus saya akui jebakan itu cukup berhasil. Mereka cukup berhasil setidaknya menjebak lebih dari 6 juta para sexy killer tersebut. Yup saya menyebut 6 juta para sexy kiler yang tidak lain adalah diri kita sendiri.

Kita adalah hilir dari usaha batu bara tersebut, hal inilah kenapa video ini hanya menampilkan pada PLTU dan tidak lebih jauh lagi. Kita adalah pasar yang sexy, dengan keluhan kita akan listrik yang byar pet pada pemerintah dan dibarengi dengan kerakusan kita akan energi listrik menjadikan kebutuhan listrik kita sangatlah besar, bukan hanya pada hal hal yang benar benar penting namun pula pada hal hal yang cenderung membuang dan menyianyiakan. Kita lah sang sexy killer yang dengan begitu sexy digoda diperebutkan perhatiannya oleh para dalang batu bara melalui layanan listrik mereka dan oleh para pegiat lingkungan yang terus berupaya mengambil perhatian dengan segala cara berteriak, beraksi untuk sekedar mengingatkan bahwa alam kita tidak sedang baik baik saja.

Kelanjutan dan akhir cerita ini tidak semuanya secara eksplisit diberikan pada video mereka tetapi dilanjutan pula pada kometar dan reaksi para penontonnya di kolom komentar, di media media pengutaraan pendapat, media sosial, media chat, media diskusi, dan aksi aksi nyata lainnya. Melalui video “Sexy Killer”, watchdoc menceritakan sebuah kisah tanpa tanda titik, yang menyerahkan kelanjutan cerita kepada sang pembunuh seksi itu sendiri. Apakah kan berakhir mengambang dan menghilang perlahan sama seperti kisah kisah yang mereka awali sebelumnya, atau akan ada yang berbeda dari awal kisah ini.

Ijinkan saya mengakhiri tulisan ini menggunakan frasa yang sebelumnya saya tergelitik mendengarnya, yang juga merupakan frasa awal mereka untuk memulai cerita mereka, tentunya dengan sedikit perubahan diksi serta suasana :).

“Kita semua tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari hari adalah bagaimana intrik bisa sampai ke ruangan ini”

(dewa, terinspirasi dari Video Sexy Killer By Watchdoc)

Berikut link video lengkap yang berjudul Sexy Killer karya Watchdoc yang saya bahas dalam tulisan saya hari ini. Saya salut pada perancang dan pembuatan karya ini. Sebuah karya yang bagus dan menginspirasi dan saya yakin bahwa banyak sekali usaha dan segala hal telah dikorbankan untuk membuat karya luar biasa ini.

Meskipun demikian sudah menjadikan keharusan bagi saya untuk memberikan sedikit ruang untuk keraguan untuk segala hal yang kita temui. Bahkan untuk video yang luar biasa ini. Mungkin tidak semua yang disampaikan dalam video ini adalah sebuah kebenaran, baik itu karena kurangnya informasi ataupun kepentingan tertentu. Namun jauh dari semua itu video ini tetaplah sebuah karya yang bagus dan menarik untuk di tonton dengan durasi panjangnya itu. Sekian dari saya,

Salam hangat dari saya, bagian dari sexy killer

Dewa Putu AM.

BencanaDaily LifeKlimatologiUncategorized

Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Selalu Terlindung dan Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya

April 12, 2019 — by dewaputuam4

GretaThunberg_2018X-embed-960x540.jpg
Ilustrasi yang digunakan dalam Petisi Change.org untuk memberikan dukungan agar ditegakaannya keadilan untuk Audrey, saya tidak tahu ilustrasi ini karyanya siapa tetapi saya mendapatkan gambar ini dari liputan6.com

Awalan namun Bukan Awal dari Kisah Panjang “Rantai” Pembulian Ini

Dalam dua hari belakangan ini banyak sekali beredar pemberitaan terkait kasus pembulian keji yang berlangsung di Pontianak dengan korban serta pelaku merupakan anak anak di bawah umur. Pembahasan kian memanas dan menajam ketika muncul sebuah wacana damai dan tidak melanjutkan ke ranah hukum oleh KPAI setempat.

Dari sinilah para netijen yang mungkin sudah geram dengan maraknya kasus pembulian yang berujung pada ketidakadilan bagi sang korban akhirnya mengambil peran. Tagar #Justiceforaudrey pun membahana di jagat dunia maya, namun sayangnya pula ada beberapa segelitir orang yang justru terperosok pada aksi aksi CyberBullying.

Terlepas dari aksi-aksi tidak terpuji oleh sebagian kecil simpatisan bersumbu pendek yang ikut ikutan menggunakan semangat tagar #Justiceforaudrey, mayoritas dari kita tentunya sepakat bahwa apapun itu aksinya bullying adalah sebuah aksi yang jahat dan para pelakunya harus di hukum seberat beratnya.

Kejadian yang memicu tagar tersebut bukanlah suatu peristiwa remeh dan sekedarnya saja, ini adalah salah satu contoh kecil dari sekian banyak pembulian-pembulian yang semakin hari kian mengkhawatirkan, jika semua ini selalu dibiarkan dan diselesaikan terlalu lembek tanpa ada tindakan tegas yang memberikan efek jera ditakutkan kejadian kejadian ini akan semakin menjadi jadi.

Perilaku Bully Ada di Sekitar Kita dan “Sangat Dekat” dengan Kita

Greta Thunberg adalah Salah Satu Korban Pembullyan Tersadis yang Pernah Terjadi di Dalam Sejarah Ini dan Berani Berbicara Lantang Dan Beraksi Melawan Para Pembullynya.

Aksi bully baik itu berupa tindakan verbal maupun fisik akan terus diingat dan berdampak panjang bagi para korbannya. Beberapa bahkan dapat merengut masa depan para korban. Atau dalam situasi yang sangat ekstrim dapat merengut nyawa sang korban.

Sudah seperti pengetahuan umum bahwa aksi bullying seringkali terjadi di sekitar kita atau justru mungkin kita juga pernah berada dipihak sang korban dan bukan hal yang tidak mungkin kitalah sang pelaku bullying tersebut baik secara sadar maupun tidak sadar. Perilaku Mem-Bully dapat hadir dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Mulai dari orang dewasa, remaja hingga anak anak. Korbannya pun sangat beragam baik dari segi umur, jenis kelamin, pekerjaan dan status sosialnya.

Bahkan pada beberapa kasus ternyata juga terjadi bullying tidak hanya terjadi pada Manusia namun juga pada hewan. Seperti berita heboh tentang pengecetan monyet di Taiwan dan beberapa berita berita lainnya seperti penganiayaan orang utan yang dulu sempat menjadi pemberitaan di media nasional.

Saya ingin mencoba merunut kembali apa apa saja yang sebelumnya kita bahas bersama. Pertama, bahwa aksi pembulian apapun itu baik verbal apalagi fisik adalah sebuah tindakan yang jahat dan dalam kondisi terjentu sudah masuk pada tindak kejahatan. Kedua, aksi pembulian akan berdampak besar dan panjang bagi para korbannya, hal inilah yang kemudian kita perlu memperjuangkan keadilan untuk para korbannya. Ketiga, Pembullian yang yang sudah masuk kedalam tindakan jahat (kriminal) harus diproses secara hukum jika perlu harus dihukum seberat beratnya siapapun itu pelakunya agar menimbulkan efek jera.

Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Terlihat Jelas namun Selalu Terlindung dan Ia Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya

Setelah berpanjang lebar membahas tentang pembulian yang terjadi saat ini. Ijinkan saya untuk mengungkap sekaligus mengingatkan tentang adanya satu pembully mungkin dapat dikatakan tersadis dalam sejarah yang sampai saat ini terlihat jelas apa yang mereka lakukan, namun sayangnya ia selalu terlindung dan juga bahkan sering tidak mengakui kesalahannya itu. Saya tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan orang orang ini apakah cukup disebut sebagai pembully atau bahkan lebih tepat bila disebut penjahat tersadis?

Hingga saat ini bayak pembulian yang ia lakukan, korbannya juga sudah sangat banyak dan yang paling parah adalah sebuah kenyataan bahwa mereka inilah yang telah merengut masa depan banyak anak bahkan anaknya sendiri. Mereka tahu apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah, namun dengan manufer sangat canggihnya dan segala hal superiornya mereka dapat mengelak dengan dalil demi kemslahatan yang lebih luas merekapun selalu berkilah. Akibat tindakan mereka ini sudah banyak korban kehilangan tempat tinggal, kehilangan masa depan, bahkan kehilangan nyawa. Namun sayangnya mereka tetap diam dan kemudian terus meneruskan pembuliannya itu.

Pembulian ini telah dilakukan mereka sejak lama dan hingga kini pun masih terus berlangsung. Sejak dulu para korban dan orang orang yang sadar terus memperjuangkan keadialan ini. Namun belum ada hasil nyata yang secara signifikan mengurangi pembullyan ini, karena kebanyakan dari kita pun melindunginya. Hukuman apa yang pantas bagi pembully ini? berkaca dari kasus kasus bully lainnya kita selalu bersuara lantang untuk menghukum para pembully? kenapa pada kasus ini kita sendiri sangat lembek dan justru tidak peduli sama sekali. Kita peduli pada pembulian yang terjadi pada satu orang, namun pedulikah kita pada pembulian ratusan, ribuan bahkan jutaan orang lainnya? Tidak, percayakah kalain kalau kita cenderung diam dan bungkam untuk pembully ini. Suara lantang kita seolah tetiba senyap menghadapi pembuli ini.

“Karena kita tahu bahwa “Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Terlihat Jelas namun Selalu Terlindung dan Ia Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya” itu adalah kita sendiri.”

Dewa Putu AM, 2019

Kitalah si jahat itu, yang membulli se isi planet ini, hingga titik paling ekstrim. Ketamakan kita, hingar bingar janji akan kebahagiaan kita telah mengorbankan segalanya dan membawa planet ini berada pada kerusakan teramat berat dan menghancurkan masa depan bumi dan segala macam kehidupan di dalamnya.

Hingga pada pertengahan tahun lalu, muncul lah sebuah gerakan yang di inisiasi oleh seorang anak perempuan bernama Greta Thunberg dari sekolahan di swedia. Sebuah gerakan yang menuntut keadilan dan tanggung jawab akan apa yang hingga saat ini diperbuat oleh generasi kita yang telah dengan semena mena merengut masa depan mereka para generasi muda sang pewaris dunia ini dimasa mendatang.

Hukuman apa yang pantas untuk Kita untuk Semua Ini? Atau jikpun kita sadar, apakah yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan kita itu?

Tentu Sekedar kata tidak dapat menyelesaikan, Kita perlu bertindak #JusticeForEarth #JusticeForFutureGeneration

BencanaUncategorized

“Titik Balik Kedua” Manajemen Bencana di Indonesia

March 27, 2019 — by dewaputuam0

IMG_20181021_152510-01-960x540.jpeg
Gambar 1. Kondisi Balaroa sebagai salah satu contoh ekstrim tentang dampak yang ditimbulkan dari bencana yang terjadi pada tahun 2018. Hingga saat ini, bersama Petobo, Jono Oge dan Sibalaya  belum diketahui dengan pasti jumlah korban yang masih hilang dan tertimbun di daerah tersebut. Kondisi inilah yang menjadikan tahun 2018 layak dan perlu dijadikan sebagai “Titik Balik Kedua” Manajemen Bencana di Indonesia. (Sumber foto: Dewa)

Tahun 2018, “Titik Balik Kedua” Manajemen Bencana di Indonesia

Beberapa praktisi kebencanaan menyebutkan bahwa tahun 2018 merupakan tahun titik balik kedua dalam mitigasi bencana di Indonesia setelah tahun 2004 dengan kejadian tsunami di Aceh. Hal ini tidak mengherankan karena pada tahun 2018 kita banyak sekali mengalami kejadian bencana besar dalam hal intensitasnya, dampak yang ditimbulkan dan juga variasinya. Beberapa kejadian bencana besar yang paling banyak menyita perhatian kita pada tahun 2018 antara lain kejadian gempa bumi di Lebak Banten, Gempa bumi di Lombok, Gempa, Tsunami dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah, dan kemudian diakhiri dengan Tsunami Senyap di Pandeglang akibat erupsi Anak Gunung Krakatau. Dari 2575 kejadian bencana yang terlapor dan dipublikasikan BNPB melalui DIBI, memperlihatkan kepada kita bahwa bencana yang terjadi sepanjang tahun 2018 menyebabkan 4836 orang Meninggal/Hilang, 21 ribu orang luka luka dan 10 juta orang mengungsi. Dari angka tersebut, bila kita bandingkan dengan jumlah penduduk indonesia yang sekitar 264 Juta, maka dapat dikatakan bahwa bencana yang tahun 2018 telah mengakibatkan setidaknya  4 dari 100 penduduk di Indonesia menjadi Korban Meninggal, Luka atau Mengungsi.

Bencana yang terjadi sepanjang tahun 2018 tidak hanya menimbulkan penderitaan namun juga turut memberikan pelajaran dan juga membuka fakta bahwa masih banyak pekerjaan rumah bagi manajemen kebencanaan di Indonesia. Pelajaran yang sangat berharga dan langka yang kita dapatkan dari peristiwa yang terjadi di tahun 2018 yaitu dikenalkannya bencana likuifaksi, jenis bencana yang mungkin bagi kebanyakan dari kita baru pertama kali didengar, dan juga kejadian tsunami senyap akibat akibat aktivitas vulkanik yang harus kita akui kita telah kecolongan dan tidak memperhitungkan hal tersebut kedalam sistem peringatan dini tsunami kita. Pelajaran pelajaran berharga dan baru tersebut juga datang dengan beberapa pekerjaan rumah yang perlu kita selesaikan dengan segera. Sebuah pekerjaan rumah yang penyelesaiannya membutuhkan kolaborasi aktif antara Pemerintah, Masyarakat, Pelaku Bisnis, Akademisi dan Media (Pentahelix dalam kebencanaan). Untuk mempermudah penyelesaian pekerjaan rumah yang hadir bersamaan “Titik Balik Kedua” Manajemen Bencana di Indonesia ini, kita bagi-baginya kedalam Empat prioritas aksi yang ada di dalam “Sendai Framework untuk Penurunan Risiko Bencana”. Pertama, peningkatan pemahaman kita terkait risiko yang ada baik Bahayanya, Kerentanan serta Kapasitas kita dalam menghadapi bencana. Kedua, penguatan kemampuan memanajemen bencana baik di tingkat pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun di tingkat regional. Ketiga, berinvestasi pada upaya penurunan risiko bencana untuk meningkatkan ketangguhan kita  terhadap bencana Keempat, Peningkatan kesiapsiagaan demi mengefektifkan respon penanganan darurat bencana serta rehabilitasi rekonstruksi yang lebih baik dari sebelumnya.

Minat Masyarakat Terhadap Topik Bencana yang Timbul dan Tenggelam dengan Begitu Cepat

Berdasarkan empat prioritas aksi yang tertuang didalam Sendai Framework untuk Penurunan Risiko Bencana, pemahaman risiko berada pada urutan pertama dan juga merupakan suatu prioritas aksi yang utama. Pemahaman risiko adalah langkah awal dalam manajemen bencana agar berjalan secara efektif. Dengan berpegang pada pemahaman risiko yang baik perencanaan dan implementasi ketiga prioritas aksi lainnya akan berjalan sedikit lebih mudah. Pengetahuan serta pemahaman risiko bencana dapat dimanfaatkan untuk menilai risiko suatu wilayah, perencanaan tindakan prevensi, mitigasi, kesiapsiagaan dan respon terhadap kejadian bencana di suatu wilayah. Pemahaman risiko yang dimaksud disini tentunya tidak hanya untuk pemerintah dan penggiat kebencanaan lain namun juga untuk masyarakat secara umum. Justru masyarakatlah yang paling perlu dan berhak mengetahui serta memahami risiko bencana di sekitarnya karena masyarakat tersebutlah yang akan menerima dampak langsung dari suatu bencana dan masyarakat pula lah yang mempunyai daya paling besar untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan,  

Berdasarkan empat prioritas aksi yang tertuang didalam Sendai Framework untuk Penurunan Risiko Bencana, pemahaman risiko berada pada urutan pertama dan juga merupakan suatu prioritas aksi yang utama. Pemahaman risiko adalah langkah awal dalam manajemen bencana agar berjalan secara efektif. Dengan berpegang pada pemahaman risiko yang baik perencanaan dan implementasi ketiga prioritas aksi lainnya akan berjalan sedikit lebih mudah. Pengetahuan serta pemahaman risiko bencana dapat dimanfaatkan untuk menilai risiko suatu wilayah, perencanaan tindakan prevensi, mitigasi, kesiapsiagaan dan respon terhadap kejadian bencana di suatu wilayah. Pemahaman risiko yang dimaksud disini tentunya tidak hanya untuk pemerintah dan penggiat kebencanaan lain namun juga untuk masyarakat secara umum. Justru masyarakatlah yang paling perlu dan berhak mengetahui serta memahami risiko bencana di sekitarnya karena masyarakat tersebutlah yang akan menerima dampak langsung dari suatu bencana dan masyarakat pula lah yang mempunyai daya paling besar untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan,  

Gambar 2. Empat Prioritas Aksi yang tertuang dalam Kerangka Kerja Sendai untuk Penurunan Risiko Bencana (Sumber Gambar: Global Challenges Foundation)

Pemahaman risiko bencana suatu masyarakat dapat dicapai bilamana masyarakat berminat dan berusaha untuk menggali topik-topik terkait kebencanaan secara mandiri. Meskipun pemerintah dan penggiat kebencanaan telah bersusah payah untuk merumuskan dan mendiseminasikan informasi-informasi kebencanaan secara masif pada akhirnya akan berbenturan pada minat dan usaha mandiri dari masyarakat. Fluktuasi minat dan usaha masyarakat dalam memahami bencana dapat dilihat dari jejak digitalnya. Berikut ini adalah grafik trend pencarian masyarakat indonesia melalui mesin pencari google dengan menggunakan kata kunci “Bencana” dari tahun 2004 hingga awal 2019. Sebagai pembanding, trend pencarian kata kunci “Gosip” sengaja saya gunakan untuk menunjukan kontras dan melihat apakah topik bencana dapat mengalahkan topik remeh namun sering dijadikan bahan pembicaraan masyarakat. Kata kunci “gosip” juga saya gunakan karena menurut argumen Yoval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Sapiens menyebutkan bahwa “gosip” adalah salah satu revolusi kognitif terbesar pada manusia yang menyebabkan kita sebagai manusia (Sapiens) dapat menguasai dunia.

Pemahaman risiko bencana suatu masyarakat dapat dicapai bilamana masyarakat berminat dan berusaha untuk menggali topik-topik terkait kebencanaan secara mandiri. Meskipun pemerintah dan penggiat kebencanaan telah bersusah payah untuk merumuskan dan mendiseminasikan informasi-informasi kebencanaan secara masif pada akhirnya akan berbenturan pada minat dan usaha mandiri dari masyarakat. Fluktuasi minat dan usaha masyarakat dalam memahami bencana dapat dilihat dari jejak digitalnya yang dalam kesempatan kali ini kita melihat melalui trend pencarian masyarakat Indonesia dengan menggunakan kata kunci “Bencana” melalui mesin pencari google. Berikut ini adalah grafik trend pencarian masyarakat indonesia dengan menggunakan kata kunci “Bencana” dari tahun 2004 hingga awal 2019, sebagai pembanding digunakan trend pencarian kata kunci “Gosip” yang sengaja digunakan untuk menunjukan kontras dan melihat apakah topik bencana dapat mengalahkan topik topik remeh namun sering dijadikan bahan pembicaraan seperti “gosip”.

Gambar 3. Trend pencarian dengan kata kunci “Bencana” di Indonesia sangat berfluktuatif sehingga terkadang muncul pendapat bahwa masyarakat di Indonesia adalah masyarakat yang mudah lupa “Amnesia” terhadap isu kebencanaan. Menariknya untuk wilayah Indonesia, secara rata-rata memiliki jumlah pencarian dengan kata kunci “Bencana” yang sebanding dengan pencarian dengan kata kunci “Gosip”

Melalui Gambar 3 kita dapat melihat trend pencarian kata kunci “Bencana “ yang sangat berfluktuasi dan meningkat signifikan pada waktu-waktu tertentu. Pada akhir tahun 2004 hingga awal 2005 minat masyarakat terhadap topik bencana meningkat drastis dan tahun inilah merupakan titik balik pertama manajemen bencana di Indonesia. Peningkatan minat terhadap topik mengenai bencana ini dipicu oleh kejadian bencana yang dampaknya sangat besar yakni Gempabumi dan Tsunami yang terjadi di Aceh. Kejadian ini pula yang kemudian mendasari lahirnya otoritas kebencanaan di Indonesia yakni BNPB. Minat masyarakat terhadap topik bencana kemudian terjun bebas pada tahun-tahun berikutnya hingga pertengahan tahun 2006 terjadi gempa di Yogyakarta yang membangunkan kembali minat dan perhatian masyarakat terhadap topik ini, namun sama seperti tahun 2004 penurunan minat juga tidak dapat dihindari. Fluktuasi seperti ini terus terjadi pada tahun tahun berikutnya, peningkatan signifikan pada minat masyarakat terhadap topik bencana selalu dipicu oleh kejadian kejadian bencana besar dan kemudian sayangnya minat tersebut tenggelam kembali.

Kontras dengan topik bencana yang bergolak dan berfluktuasi dengan sedemikian tinggi, trend pencarian dengan kata kunci “Gosip” di Indonesia justru relatif lebih stabil. Kestabilan trend pencarian dengan kata kunci “Gosip” menggambarkan bahwa  minat masyarakat terhadap topik remeh ini meskipun tetap ada masa dimana terjadi peningkatan dan penurunan tiba-tiba, tetapi tidak setinggi peningkatan dan penurunan pada trend dengan kata kunci “Bencana”. Hal ini menggambarkan suatu kondisi yang negatif dan sekaligus positif pada minat masyarakat. Peningkatan yang tinggi menunjukan bahwa sebenarnya masyarakat juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap bencana sehingga pada waktu waktu tersebut masyarakat banyak mencari informasi informasi terkait kebencanaan. Negatifnya, setelah peningkatan signifikan yang dipicu oleh kejadian bencana dengan dampak besar, minat masyarakat terhadap topik kebencanaan kembali mengendur bahkan sejak tahun 2012 hingga tahun 2017 topik kebencanaan hampir selalu dikalahkan oleh topik mengenai gosip. Dan pada tahun 2018 mulai menguat kembali dan mengalahkan topik gosip, hal ini tentunya dipicu oleh rentetan bencana besar yang terjadi pada tahun tersebut yang kemudian dapat dianggap sebagai “Titik Balik Kedua” Manajemen Bencana di Indonesia.

Selain meningkat secara signifikan terdapat pula pergeseran trend kata kunci terkait bencana yang dicari masyarakat melalui mesin pencari Google. Sebagai contoh pada peristiwa gempa bumi di lombok, 4 jam pertama setelah kejadian kata kunci terkait bencana yang populer terfokus pada cakupan dan dampak yang ditimbulkan oleh bencana seperti jumlah korban dan penyebutan nama nama wilayah yang terdampak. Hingga kemudian saat berita mengenai dampak sudah tersebar dengan luas melalui media televisi dan media online terjadi pergeseran trend kata kunci terkait kebencanaan. Pada rentang waktu tersebut tren pencarian yang sebelumnya terfokus pada dampak bergeser pada cara cara memberikan dan menyalurkan bantuan kepada korban bencana

Memanfaatkan “Titik Balik Kedua” Manajemen Bencana di Indonesia

Minat masyarakat terhadap topik bencana memang timbul dan tenggelam secara cepat dan tiba-tiba tergantung pada momen kebencanaan yang terjadi pada saat itu. Bila terjadi bencana besar maka minat masyarakat terhadap informasi kebencanaan akan akan meningkat drastis namun hal tersebut tidak berlangsung lama, ketika momentum nya sudah mulai hilang minat masyarakat terhadap bencana pun ikut menghilang. Timbul tenggelamnya minat masyarakat untuk mengakses informasi kebencanaan juga akan berdampak pada minat masyarakat dalam mencari tahu dan memahami risiko bencana di sekitar mereka. Pada momen yang tepat, yakni pada saat minat masyarakat terhadap topik kebencanaan sedang tinggi tingginya adalah saat yang tepat untuk menyediakan dan memberikan informasi informasi penting yang berhubungan dengan kebencanaan sebelum nantinya kembali tenggelam dan terlupakan.

Pada masa titik balik kedua dalam manajemen bencana di Indonesia ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki manajemen bencana di Indonesia mumpung perhatian dan minat masyarakat terhadap topik terkait hal ini masih tergolong besar setelah rentetan kejadian bencana di tahun 2018 dan awal tahun 2019. Perbaikan-perbaikan yang perlu diprioritaskan tentunya aksi aksi yang menjadikan keterlibatan masyarakat. Baik dari segi peningkatan pemaham risiko melalui jalur pendidikan formal dan non formal, dan pembangunan sistem peringatan dini khususnya dalam menyiapkan dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam hal merespon suatu kejadian bencana. Seperti pada kejadian kejadian sebelumnya, minat masyarakat terhadap bencana pun pada akhirnya akan meredup kembali dan yang menjadi pertanyaan besar saat ini adalah

Apakah kita dapat memanfaatkan momentum  “Titik Balik Kedua” Manajemen Bencana di Indonesia ini dengan sebaik-baiknya atau kita harus menunggu lagi “momentum berikutnya”.

(Dewa Putu AM)

Tulisan ini saya buat untuk Majalah Gema BNPB, yah meskipun pembahasannya sedikit cere saya harap sih dapat lolos dan layak dipublikasikan dalam majalah tersebut. Hitung hitung biar agak kerenan sedikit si biar pernah nulis buat majalah hehehe. Sengaja saya publikasikan juga disini karena saya rasa topik ini cukup menarik dan sayang sekali jika tidak di bagi. Saya rasa cukup sampai sini saja tulisan saya saat ini, sampai jumpa ditulisan berikutnya.

Salam

Dewa Putu AM

BencanaMeteorologiUncategorized

Jejak Banjir yang Sebelumnya Tak Terlihat dan Terceritakan

March 19, 2019 — by dewaputuam0

1552553794718-01-960x509.jpeg
Pemandangan Diluar Sebuah Kamar yang tampak bagus dan menggoda untuk dikunjungi namun sayangnya saat itu terlalu lelah dan tak sempat saya gapai hehehe (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Sebuah Perjalanan dari Bendungan ke Bendung dan Sand Pocket Penjaga Makasar

Pada pertengahan bulan Maret ini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi suatu lokasi yang pada akhir Januari lalu banyak diberitakan dengan segala kisah suram dan heroik didalamnya. Sebuah bencana banjir yang tanpa disangka sangka terjadi begitu saja dan merengut stidaknya 68 jiwa. Bencana tersebut tentunya menyita perhatian banyak pihak dari berbagai perspektif dari hal hal bersifas teknis hingga kejadian heroik seorang nenek yang berusaha menyelamatkan seorang cucunya.

Mendapat kesempatan untuk terjun ke lokasi, meskipun sudah cukup lama berlalu kejadiannya saya tentunya sedikit antusias hehehe namun sebenarnya ada sedikit rasa tidak enak dengan tim shift saya di kantor yang sering kali saya tinggal. Yah saya memang saat itu baru saja pulang dari cuti yang cukup panjang dan benar benar baru gabung kerja bersama tim lagi. Namun apaboleh buat dan sepertinya menarik, dengan sedikit sungkan sungkan tapi mau akhirnya saya menyanggupi untuk ikut berkunjung ke sebuah Waduk di Sulawesi Selatan yang sempat menjadi bahan perbincangan beberapa bulan lalu, “Waduk Bili Bili”.

Tentang Dua Pilihan Sulit di Waduk Bili-Bili yang kemudian “dipersalahkan”
Banjir yang Terjadi di Sulawesi Selatan yang Banyak diberitakan disebabkan oleh dibukanya Pintu Bendungan Bili Bili (Sumber Foto: KOMPAS.com/ABDUL HAQ)

Jika kita menelusuri kembali pemeberitaan pemberitaan terkait banjir di Sulawesi Selatan pada awaln tahun 2019, akan kita temui bahwa mayoritas dari pemberitaan menjurus pada satu kesimpulan bahwa kejadian banjir yang sangat besar tersebut dikarenakan (atau setidaknya diperparah) oleh dibukanya pintu wadu Bili-Bili. Begitu pula yang saya pikirkan pada akhir bulan Januari tersebut. Kemudian muncul suatu pemikiran dalam benak saya tentang apakah yang sebenarnya dilakukan oleh para petugas wadauk Bili-Bili pada saat kejadian.

Hingga saat kunjungan kewaduk tersebut, mereka menjelaskan tentang pilahan sulit yang mereka hadapi pada saat kejadian banjir tersebut. Tentang keadaan dimana mereka diharuskan memilih sebuah pilihan terbaik diantara yang buruk. Pilihan pertama adalah pilihan yang mungkin dipikirkan sebagian orang yakni tetap menutup waduk bili bili saat terjadi banjir besar di wilayah hilir. Pilihan ini sebenarnya juga dipikirkan oleh para petugas dan pengambil keputusan disana namun ada konsekuensi sangat besar yang membuntuti pilihan tersebut yakni peluang jebolnya Bendungan yang tentunya akan berdampak pada banjir yang jauh lebih besar. Didasari oleh pertimbangan tersebut dan untuk mengamankan bendungan lah akhirnya mereka memilih pilihan ke dua yakni membuka dan tentunya banjir yang sudah terjadi akan meningkat, namun setidaknya tidak akan sebesar bilamana bendungan Bili Bili Jebol.

Mendengar hal tersebut saya sebenarnya cukup terkejut karena saya bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu. Saya jadi merasa bersalah karena beberapa bulan yang lalu saat kejadian banjir disana sempa ada beberapa pemikiran bahawa ada suatu kesalahan besar yang terjadi disana saat itu. Yah meskipun tentunya tidak sepenuhnya benar namun untuk saat kejadian, pembukaan pintu bendungan tersebut masih dapat dimaklumi, dan mereka saat itu sebenarnya sudah menaikan batas tinggi air saat membukanya dan sedikit bermain dengan bahaya jebolnya tanggul agar memberi sedikit waktu yang bilamana harus mengikuti SOP pembukaan bendungan seharusnya justru dibuka lebih awal lagi.

Jejak Mega Longsor Masa Lalu, Kini Menjadi Berkah, Diambil Secara Serakah dan Kemudian Membawa Kita ke Bencana Air Bah
WIlayah terjadinya Mega Longsor pada Tahun 2004, Saat itu Salah satu dinding Kaldera Gunung Bawakaraeng runtuh dan materialnya terus tertransport melalui aliran sungai Jeneberang hingga saat ini saat artikel ini ditulis. (Sumber Foto: Medium.com)

Perjalanan pun berlanjut baik ruang dan waktu. Perjalanan waktu membawa kita kembali pada kejadian Mega Longsor Kaldera Gunung Bawakaraeng yang terjadi pada akhir Maret tahun 2004. Kejadiang longsornya sebuah kaldera gunung tersebut membawa material dengan julah yang sangat besar dan mengakibatkan setidaknya 30-an jiwa melayang (sumber: Seindes, Medium.com dalam link ini). Besarnya kejadian tersebut menyebabkan dampaknya masih dirasakan oleh Sulawesi Selatan Hingga saat ini. Material longsoran pada lima tahun yang lalu tersebut masih terus terbawa oleh aliran sungai Jeneberang dan mengendap di sekitarannya. Hal ini yang kemudian menghidupkan perkonomian disekitar wilayah tersebut dengan pertambangan batu yang sangat masif yang entah sampai kapan akan habis.

Material longsoran yang terbawa air jeneberang selain membawa berkah juga menjadi perhatian serius dari pengelola bendungan karena dapat menumpuk dibendungan dan mengakibatkan pendangkalan dini bendungan Bili-Bili. Hal ini berakibat pada penurunan kapasitas tampung bendungan tersebut yang jika tidak ditangani akan berdampak pada semakin pendeknya umur bendungan atau bahkan justru membahayakan wilayah hilir. Untuk mengatasi hal tersebut hingga saat ini telah di bangun 27 Sabo atau disebut sebagai Sand pocket yang berfungsi sebagai penampung material materlial agar tidak masuk kedalam bendungan.

Penambangan Batu di Sekitaran Sabo atau Sand Pocket yang Sebenarnya Membatu Pengendalian Sedimen Waduk Namun dalam Kondisi Tertentu Justru Sudah Mulai Merusak Fungsi Sabo dalam Menjaga Laju Sedimentasi di Waduk Bili Bili. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di sekitaran sand pocket itu kini menjadi wilayah tambang batu dan pasir yang sangat menjanjikan. Dalam kadar tertentu dan teratur sebenarnya penambangan ini membantu fungsi sand pocket agar ruang untuk pengendapan material tetap terjaga. namun yang terjadi saat ini seperti yang diceritakan salah satu petugas, para penambang justru mulai mengganggu fungsi sand pocket karena menambang dan memakan badan sungai yang mengakibatkan sungai menjadi semakin lebar dan fungsi sand pocket pun berkurang keefektifannnya sehingga saat terjadi banjir Awal Januari 2019 lalu 2 San Pocket pun rusak parah. Dengan rusaknya dua sand pocket tersebut tentunya berkurang pula fungsi perlindungan sand pocket untuk melindungi laju pendangkalan di Bendungan Bili Bili yang sangat tinggi. Hal ini tentunya berbahaya dan dapat menjadi bom waktu yang akan memberikan dampak besar dikemudian hari.

Untuk mengatasi hal tersebut saat ini para pengambil keputusan sedang melakukan berbagai cara seperti perbaikan dan penambahan peralatan guna mengeruk sedimen yang ada di bendungan dan menambah sand pocket di atas bendungan bili bili guna mengurangi laju pergerakan material longsoran dari Gunung Bawakaraeng. tentunya hal tersebut masih kurang efektif jika penambangan di sekitaran Sungai Jeneberang masih semasif sekarang dan tanpa pengaturan dan manajemen yang lebih baik lagi. Kita tentunya tidak dapat begitu saja, mematikan kegiatan ekonomi penambangan disana, dan justru sebenarnya dalam dosis yang pas penambangan tersebut sangat membantu dalam pengurangan sedimentasi. Untuk hal tersebut tentu perlu ada penataan kembali dan usaha serius dari berbagai pihak untuk mencarikan jalan keluar terbaik dan solusi yang saling menguntungkan dan tidak membahayakan masyarakat lain.

Ini Hanya Sebuah Cerita yang Tertutup oleh “Ketidaktahuan” dalam gelapnya menapaki jejak di Dunia Digital

Waduk Bili Bili, Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan yang tampak megah dan Indah, Untuk pengoperasiannya agar optimal perlu dukungan dari berbagai pihak agar fungsi fusngi bendungan dalam mengendalikan air saat banjir, sumber air pdam, listrik dan pengairan sawah tetap terjaga. (Sumber Foto: Kompas Regional)

Jika kita menelusuri informasi kejadian terkait banjir yang terjadi di Sulawesi Selatan, disana banyak dikatakan bahwa pembukaan bendungan Bili-Bili merupakan penyebabnya. Hal itu bukan lah suatu yang salah, pada kenyataannya bendungan Bili-Bili lah yang menyebabkan banjir yang terjadi di Sulawesi Selatan pada akhir Januari lalu menjadi begitu besar. Dengan adanya pembukaan bendungan bili bili masa air yang sebelumnya sudah banyak menggenangi bagian hilir Sungai Jeneberang menjadi semakin tergenang saat Bendungan Bili-Bili di buka. Akan tetapi kita perlu juga ingat bahwa tentunya pilihan untuk pembukaan waduk tersebut bukanlah pilihan yang mudah, dan mereka telah menentukan pilihan terbaik diantara yang buruk. Kita perlu lah mengapresiasi hal tersebut dan mengapresiasi pula keberanian mereka menentukan pilahan pelik tersebut.

Peristiwa di Bili-Bili mengajarkan saya akan suatu hal, bahwa kita bukanlah siapa siapa, dan tidak tahu apa apa jadi janganlah dengan mudah menyimpulkan suatu hal tanpa menanyakan langsung kepada orang orang yang terlibat. Informasi informasi yang bertebaran saat ini memang begitu mudah dan cepat kita dapatkan, namun sayangnya banyak dari informasi informasi tersebut telah terkontaminasi oleh pemikiran pemikiran subyektif dari para penulisnya (termasuk saya hehehe). Kasus Bili bili ini hanyalah sebuah cerita dari sekian banyak cerita yang tertutup oleh “Ketidaktahuan” dalam gelapnya menapaki jejak dalam dunia Digital.

Sekian dari saya, saya rasa sudah lagi lagi terlalu panjang. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Salam,

Dewa Putu AM

BencanaDaily LifePsikologiSains PopulerUncategorized

Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana

March 5, 2019 — by dewaputuam3

IMG_20181021_163022-01-960x540.jpeg

Untuk Awal Mari Kita Berkenalan Dengan Bencana yang Harus Kita Hadapi

Kondisi Setelah Bencana di Petobo, Disini kita melihat begitu dasyatnya dampak yang diberikan dari sebuah bencana. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada tahun 2018, Indonesia diterpa banyak sekali cobaan yang berat, Pada tahun tersebut kita mengalami banyak bencana alam yang sayangnya banyak pula menelan korban jiwa. Dari 2575 Kejadian Bencana yang terlapor pada tahun 2018 (Sumber:DIBI BNPB) setidaknya telah menyebabkan >4836 orang Meninggal/Hilang, >21,126 orang luka luka dan >10,333,306 orang mengungsi. Dari angka tersebut, bila kita bandingkan dengan jumlah penduduk indonesia yang sekitar 264 Juta, maka dapat dikatakan bahwa 4 dari 100 penduduk di Indonesia sudah menjadi Korban Meninggal, Luka atau Mengungsi akibat bencana tahun 2018 saja.

Masih ingatkah kalian Setidaknya ada beberapa bencana besar pada tahun 2018 yang menyita perhatian secara Nasional maupun Internasional Mulai dari Gempa Bumi di Lebak Banten pada bulan Januari yang dirasakan juga di Jakarta, Erupsi beberapa gunung (Gunung Sinabung, Gunung Merapi dan Gunung Agung dan Gunung Krakatau), Gempa Lombok, Gempa-Tsunami-Likuifaksi di Sulawesi Tenggara yang fotonya saya tampilkan dalam gambar awal dalam tulisan ini, Dan sebagai penutup tahun 2018 kitapun dikejutkan oleh silent tsunami akibat letusan Krakatau pada bulan Desember 2018.

“Dongeng Usang?” tentang Risiko Bencana di Indonesia yang Sangat Tinggi

“Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng” ingin rasanya saya menulis frasa seperti itu, namun frasa tentang pertemuan tiga lempeng tersebut agaknya sudah terlalu sering terbaca dan juga terlalu sering pula keluar masuk di telinga kita. Saya khawatir bila menceritakan bencana dari template frasa tersebut kalian akan kian bosan dan meninggalkan tulisan ini. Namun suka atau tidak suka, meskipun frasa itu sudah tua dan usang, itulah kenyataanya. Dengan perbedaan tipis antara anugerah dan musibah, fakta tentang tiga lempeng tersebut lah yang menyebabkan kita sering sekali merasakan Gempa gempa besar serta memberikan kita banyak sekali gunungapi aktif (127 Gunungapi). Sebagai sedikit gambaran tentang seberapa banyak kejadian gempa yang telah kita alami berikut saya sajikan peta tentang gempa besar yang terjadi selama tahun 2018 dan awal 2019 yang saya unduh dari USGS.

Meski dalam hal bencana, Indonesia berlimpah dari segi jumlah dan intensitasnya. Tidak boleh kita lupakan juga bahwa ada begitu anugerah yang diterima Indonesia yang tentunya tidak kalah besar bila dibandingkan bencana yang kita dapat. Dongeng usang tentang pertemuan tiga lempeng setidaknya telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati tanah kita yang bagaikan tanah surga. Sebuah tanah yang berlimpah kekayaan dan keindahannya persis seperti lagu yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Dengan banyaknya gunung berapi akibat pertemuan lempeng tersebut tanah tanah kita menjadi subur yang saking suburnya diibaratkan dapat menumbuhkan tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.

Kita kembali pada permasalahan bencana di Indonesia. Untuk menggambarkan dan memahami seberapa besar risiko bencana di suatu wilayah para peneliti dan pegiat kebencanaan biasanya menggunakan suatu Indeks Risiko. Dalam perhitungan indeks risiko (Risk), diperhitungkan beberapa indeks kunci yang meliputi Indeks Bahaya & Keterpaparan (Hazard & Exposure), Indeks Kerentanan (Vulnerability) dan Indeks Kapasitas (Capasity). Melalui Indeks indeks tersebut kita dapat melihat dan memahami seberapa besar Risiko bencana disuatu wilayah, seberapa besar bahaya dan jangkauan dari masing masing bencana di wilayah tersebut, Seberapa rentan penduduk diwilayah tersebut jika bencana terjadi, dan Seberapa besar dan kemampuan dan kesiapan pemerintah, masyarkat infrastruktur, peralatan dalam menghadapi suatu bencana.

Sedih atau Bangga? “Kita berada di Peringkat 4 se ASEAN !”

Berdasarkan hasil kajian INFORM (INdex FOr Risk Management) didapatkan bahwa Indonesia berada di Posisi nomor 4 dari negara negara ASEAN berdasarkan risiko terhadap krisis dan bencana. Nilai Risiko yang demikian besar tersebut dipengaruhi oleh tingkat bahaya terhadap krisis dan bencana alam di Indonesia yang sangat tinggi dan dari sisi ini kita berada pada posisi ke tiga setelah Filipina dan Myanmar. Ada suatu berita baik bila kita lihat dari grfik dibawah, terlihat bahwa meskipun tingkat bahaya kita besar kerentanan dan kekurangan kapasitas kita untuk menhadapi bencana cukup kecil atau dapat dikatakan bahwa sebenarnya kita secara sosial, politik ekonomi dan beberapa faktor lainnya, kita dinilai cukup tangguh menghadapi bencana, hal inilah yang tidak hanya perlu dipertahankan namun perlu kita buat lebih baik lagi di tahun tahun mendatang.

Tantangan Indonesia kedepan dalam menghadapi bencana tidaklah kecil. Semakin lama jumlah kejadian dan intensitas bencana yang kita alami juga kian meningkat. Dengan adanya perubahan iklim dan pemanasan global, kejadian bencana bencana Hidro-meteorologi seperti Banjir, Banjir Bandang, Tanahlongsor dan Kekeringan akan semakin kuat dan semakin sering menghampiri hari hari kita. Jumlah penduduk yang terus meningkat pula menyebabkan semakin besar kebutuhan akan tempat tinggal dan tempat keperluan lainnya yang sayangnya banyak dari tempat tempat tersebut merupakan lokasi yang tak layak dan berbahaya karena potensi kejadian bencana yang besar.

Tidak hanya dari segi kejadian bencana, penanganan bencana pun semakin lama semakin kompleks. Banyak hal yang perlu di hadapi, mulai dari masalah teknis dilapangan hingga gangguan gangguan kecil namun tidak bisa tidak di acuhkan seperti persebaran berita hoax dan berita meresahkan tidak bertanggung jawab. Jumlah, Intensitas dan kompleksitas penanganan bencana mengharuskan manajemen bercana di indonesia tidak bisa lagi dilakukan dengan cara business as usual. Harus ada pergeseran/shifting secara besar besaran baik dari kerangka berpikir hingga kerangka Implementasi. Pergeseran besar besaran ini dapat dilakukan dengan bantuan kerangka bepikir dan kerangka Implementasi baru yang ditawarkan dalam Revolusi Industri 4.0. Dengan kata lain saya sepakat dan ingin menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana adalah suatu yang memiliki urgensitas yang tinggi diterapkan di Indonesia.

Setelah Berkenalan, Saatnya Kita Lirik Potensi Revolusi 4.0 dalam Merevolusi Manajemen Bencana di Negeri Kita

Bumi yang Serba Digital (Image by TheDigitalArtist on Pixabay)

Banyak orang menghubungkan Revolusi 4.0 pada pemanfaatan besar besaran terhadap tekhnologi-tekhnologi berbasis IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Tak ayal saat ini banyak Organisasi dan Instansi Pemerintah berlomba mengembar gemborkan bahwa mereka telah melakukan pergeseran besar-besaran menuju Industri 4.0. Tidak tahu kenapa, saya melihat semua itu sebagai sebuah kasus perkosaan anak dibawah umur ya. Saya mengatakan demikian karena pemanfaatan besar besaran terhadap basis tekhnologi penyusun Revolusi Industri 4.0 tersebut justru mengkerdilkan arti dari revolusi itu sendiri. Pemanfaatan besar besaran tanpa arah dan kerangka yang tepat akan menimbulkan perkembangan yang cepat namun rapuh dan tidak tahu akan kemana arahnya. Yah, itu hanya pemikiran skeptis saya, Tentunya orang orang di organisasi tersebut adalah orang orang hebat yang telah punya rencana besar terkait hal ini.

Ada satu buku bagus berjudul The Great Shifting karya Prof Rhenald Kasali yang memberikan gambaran pergeseran besar (revolusi) yang terjadi selama ini yang lebih dari sekedar pemanfaatan IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Menurut yang saya pahami dari buku ini, ada tiga point penting dari Revolusi 4.0 yang dapat diterapkan untuk merevolusi manajemen bencana di Indonesia. Pertama adalah Pergeseran dari time series menuju Realtime. Kedua, perubahan pola pikir owning menjadi Sharing. Dan Terakhir adalah Menguntai produk-produk terkait manajemen bencana saat ini dan masa depan dalam suatu Platform.

4.0 Membawa Kita dari Time Series Menuju Realtime

Era Time Series selama beberapa dasawarsa ini telah memberikan berbagai manfaat kepada kita di berbagai bidang. Melalui pemahaman pola perubahan suatu nilai terhadap waktu kita dapat memperkirakan kondisi di masa depan, tentunya dengan asumsi pola tersebut akan tetap konsisten atau setidaknya tidak mengalami perubahan secara signifikan di masa depan. Pemanfaatan kerangka berpikir time series ini dimanfaatkan di segala bidang termasuk dalam manajemen bencana sejak dulu hingga saat ini. Dengan menggunakan kerangka berpikir ini sering kali kita mendengar proyeksi dan prediksi tentang kebencanaan dimasa depan seperti kapan serta dimana akan muncul dan meningkatnya jenis bencana tertentu baik bencana bencana pada musim basah seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim hingga bencana bencana pada musim kemarau seperti kekeringan dan karhutla. Untuk bencana seperti erupsi gunung juga dilakukan analisis seperti ini sehingga kita tahu ada istilah status waspada, Siaga dan Awas pada gunung. Namun untuk gempa kita hanya dapat memahami polanya tanpa bisa menebak kapan ia akan terjadi.

Prediksi prediksi terkait kebencanaan baik untuk durasi waktu yang sebentar seperti prediksi pada bulan depan atau musim depan hingga durasi waktu yang sangat lama seperti 10 hingga 50 tahun kedepan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk berbagai alasan. Proyeksi dan prediksi demikian digunakan untuk mempersiapkan tindakan preventif, kesiapsiagaan atau melindungi aset aset kita dimasa depan. Untuk semua keperluan tersebut, pola pikir time series sudah cukup. Namun untuk keperluan sesuatu yang bersifat saat ini dan durasi waktu yang sangat pendek lainnya time series mulai kurang berdaya. Disaat inilah Revolusi 4.0 beserta barisan tekhnologi yang dibawanya mengambil peran penting.

Ilustrasi seorang pria yang sedang membaca berita online yang tentunya lebih cepat dari pada media media pemberitaan pada era sebelumnya (Image by kaboompics on Pixabay)

Tekhnologi-tekhnologi pengusung revolusi Industri 4.0 seperti IoT, Big Data dan AI membawa kerangka analisis statistik kita pada level selanjutnya, dari Time Series menuju Real Time. Dengan barisan tekhnologi tersebut, analisis analisis yang semula sangat sukar bahkan mendekati kata tidak mungkin saat ini dan kedepannya akan menjadi mungkin dan dan cepat. Ketiga tekhnologi kunci 4.0 berperan dalam membentuk suatu sistem penilaian Risiko Bencana, Sistem Penunjang Kesiapsiagaan & Peringatan Dini, serta Sistem Penanganan Darurat Bencana menjadi lebih baik dan cepat baik secara near real time hingga realtime.

Tekhnologi IoT saat ini telah dan akan terus dikembangkan untuk mengintegrasikan semua sensor sensor terkait kebencanaan. Tekhnologi pengelolaan Big Data pula sedikit demi sedikit telah dimanfaatkan oleh beberapa instansi untuk mengelola data data sangat besar dari segi jumlah, variasi dan cepat fluktuasi perubahannya, kebanyakan kementerian dan organisasi tersebut mengolah tumpukan big data-data berbentuk citra satelit, hasil model hingga data data tidak terstruktur seperti konten konten di media sosial, serta video dan photo dari alat alat yang mereka pasang. Untuk tekhnologi AI, tampaknya belum begitu berkembang dibandingkan dua tekhnologi sebelumnya. Ada beberapa instansi yang memproklamirkan tekhnologi AI yang mereka gunakan dalam penanganan terkait bencana. Berdasarkan hal hal diatas dapat dikatakan bahwa ketiga tekhnologi inilah yang nantinya membentuk dan membawa kerangka berpikir dan kerangka implementasi Manajemen Bencana di Indonesia dari Timeseries menuju Real Time.

Dari “Owning” Menuju “Sharing” yang Tak Terbatas dan Melampauinya

Jika pada era sebelumnya, kepemilikan aset pribadi merupakan suatu keharusan untuk berhasil menguasai suatu bidang, maka pada era Revolusi Industri 4.0 ini kita justru dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik dan sangat kontras bila dibandingkan dengan era sebelumnya. Pada Era Revolusi Industri 4.0 atau dapat pula dianggap sebagai Era Society 5.0 kita berada pada suatu gerakan untuk saling berbagi nilai aset untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam budaya berbagi ini seorang pemilik aset dapat memonitisasi asetnya dengan cara berbagi, baik nilai hingga berbagi aset mereka. Saat ini kita dapat dan telah terbiasa untuk berbagi pakai atau sekedar menikmati nilai suatu barang. Budaya berbagi ini kini kian lama kian tidak terbatas dan dapat melampaui batas batas yang yang tidak pernah terpikirkan pada era sebelumnya.

Pada Era Revolusi Industri 4.0, orang kini tidak sungkan lagi untuk menumpang dan menumpangkan seseorang tak dikenal menuju lokasi yang ia inginkan (Gojek dan Grab), Di era ini orang tidak sungkan menginap dan menginapkan seseorang tidak dikenal pada aset propertinya (dengan Airbnb). Pada Era ini pula orang tidak lagi sungkan memberikan sebagian dari rejekinya untuk dikumpulkan seseorang yang tidak ia kenal untuk keperluan sosial seperti sumbangan pada korban bencana dan sebagainya (dengan Kitabisa.com).

Saling Berbagi dan Saling Melengkapi adalah salah satu kunci untuk Manajemen Bencana Indonesia yang Lebih Baik (Image by BarbaraBonanno on Pixabay)

Budaya dan kerangka berpikir saling berbagi seperti ini akan membawa dan meletakan Manajemen Bencana di Indonesia pada Manajemen Bencana yang lebih humanis. Dengan bantuan tekhnologi pengusung Revolusi 4.0 maka tidak adala lagi batasan dan halangan bagi kita untuk untuk saling menolong dan saling meringankan saudra saudara kita saat terjadi bencana. Tidak hanya terbatas pada bantuan barang dan uang, budaya berbagi pula tampaknya akan bergerak pada tindakan tindakan fisik yang lebih nyata seperti berbagi informasi dan tenaga yang berlandaskan pada asas kepercayaan untuk mengurangi kerentanan, serta meningkatkan kapasitas kita dalam menghadapi bencana.

“Sebuah Impian ?” Membangun Plaform Kebencanaan dan Keselamatannya

Ini merupakan akhir namun bukanlah pengakhiran, ini juga merupakan muara dan antarmuka dari segala pergeseran dan perubahan yang di bimbing Revolusi 4.0 untuk Manajemen Bencana di masa depan yang lebih baik. Pembangunan sebuah platform kebencanaan bukanlah terbatas membangun sebuah aplikasi kebencanaan dan melemparkannya pada ekosistem mobile baik IOS maupun Android. Kita tidak boleh terperangkap dengan logika produk ,meskipun terlihat modern dan canggih sebuah aplikasi yang hanya menjalankan suatu tujuan tertentu dan tidak memberikan ruang bagi para pengguna untuk saling berbagi dan berinteraksi hanyalah produk tekhnologi biasa dan belum dapat dikatakan sebagai sebuah Platform.

Platform yang dimaksud disini lebih dari sekedar sebuah “produk” aplikasi kebencanaan. Platform yang dimaksud disini adalah suatu media yang melayani pergeseran kerangka berpikir kita yang mulanya sekedar time series menuju realtime. Sebuah platform yang memberikan layanan peningkat pemahaman kita terhadap posisi kita terhadap bencana. Tidak hanya posisi dalam arti sempit yang menggambarkan lokasi namun juga posisi risiko kita secara personal. Dengan tekhnologi IoT, Big Data dan AI, platform ini harus secara realtime menganalisis seberapa besar risiko kita terhadap setiap bencana dari waktu ke waktu. Melalui platform tersebut kita juga dapat berkomunikasi dan menjalani bimbingan untuk meningkatkan ketahanan kita terhadap bencana. Dan bilamana sudah terjadi bencana platform tersebut pula yang akan mampu menganalisis secara cepat dan menginformasikan kepada otoritas berwenang bahwa kita berada dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan segera.

Kata Kata Mendiang Steve Job yang merupakan salah satu inovator yang mengakhiri jebakan Era Produk dan membawa kita masuk kedalam Era Platform seperti sekarang (Image by FirmBee on Pixabay)

Dari platform ini hasrat berbagi kita yang saat ini telah berangsur menjadi budaya dapat tersalurkan dan terlayani dengan baik untuk meringankan penderitaan para korban bencana. Dengan platform ini pula para investor dapat memahami prospek dan risiko aset dan investasinya terhadap krisis dan bencana. Sebuah platform bukan hanya sebuah aplikasi yang melayani kebutuhan kebutuhan namun lebih dari itu sebuah platform bencana yang dibutuhkan kedepan adalah sebuah platform yang membentuk suatu kesadaran dan kebudayaan yang aman terhadap bencana dan memberikan keleluasaan berinteraksi pada masing masing pengguna guna meningkatkan kapasitasnya menghadapi bencana dan mengamankan aset aset mereka dari bencana.

Yang menjadi pertanyan sekarang adalah apakah era platform dalam manajemen bencana hanya sebuah impian kosong yang sukar dan tidak mungkin direalisasikan? Atau justru sebaliknya dari hari kehari bulan kebulan dan tahun ketahun, dengan bantuan tekhnologi pendukung Revolusi Industri 4.0 manajemen bencana di Indonesia akan beranjak menuju Manajemen Bencana yang baru dan lebih baik.

Revolusi Industri 4.0 jangan hanya diarahkan pada usaha untuk memperkaya segelintir orang saja. Revolusi ini juga harus diarahkan pada peningkatan kemampuan kita dalam misi misi kemanusiaan yang dalam hal ini adalah Manajemen Bencana di Indonesia yang baru dan lebih baik agar dapat menyelamatkan Jiwa lebih banyak, menyelamatkan aset dan harta benda lebih banyak dan mengurangi dampak bencana terhadap sosial ekonomi dan penghidupan para penyitasnya.

(Dewa Putu AM, 2019)

Untuk sampai kesana mungkin butuh usaha dan waktu yang panjang. Tetapi untuk permulaan, kita dapat memberikan sedikit sumbangan pemikiran dan tenaga untuk kemajuan Manajemen Bencana di Indonesia.

BencanaKlimatologiSains AtmosfirUncategorized

Riau Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap

March 1, 2019 — by dewaputuam2

burn-burning-fire-51951-960x627.jpg

Kemarin tanggal 28 Februari 2019, BNPB melalui Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Wisnu Widjaja melakukan konfrensi pers terkait karhutla yang terjadi di Riau akhir akhir ini. Dalam beberapa berita menyebutkan bahwa beliau memprediksi bahwa musim musim karhutla di Riau akan berlangsung terus pada Bulan Maret dan kemudian akan terbakar lagi pada bulan Bulan Juni. Berita berita tersebut tentunya akan menjadi momok yang begitu menakutkan bagi warga Riau dan sekitar mengingat hingga saat ini sekitar 2671 kasus infeksi saluran pernapasan di daerah Dumai dan Sekitarnya (Sumber: Tempo). Jika berkaca pada pengalaman saya waktu bekerja ditengah kabut asap pada tahun 2015 di Tamiang Layang di Kalimantan Tengah terpapar asap itu sungguh tidak nyaman. Baju jadi bau asap dan untuk bernapas rasanya tidak enak karena bercampur bau bau an dan upil jadi lebih banyak diproduksi (hehehe).

Pasien yang terpapar Asap (Sumber: Tempo)

Kembali kepada prediksi bulan Maret dan Juni, Bagi sebagian orang mungkin sedikit dibuat heran dengan banyak berita yang menyebutkan Riau sudah terbakar sejak Januari, Februari. Keheranan ini biasanya dialami oleh orang orang yang tinggal di Daerah Jawa, Bali dan Sumatera bagian Selatan. Hal ini dikarenakan pada bulan bulan tersebut Wilayah Jawa dan sekitar sedang mengalami musim penghujan yang tentunya kecil kemungkinan terjadi kebakaran hutan dan lahan pada waktu waktu tersebut. Dalam Klimatologi, secara sederhana Indonesia memiliki 3 tipe curah hujan umum yaitu tipe curah hujan monsunal, curah hujan equatorial dan curah hujan lokal.

Untuk Permulaan, Kita Salahkan saja Dulu Iklimnya

Wilayah yang memiliki tipe curah hujan Monsunal seperti Jawa, Bali, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara mengalami musim penghujan pada Bulan Januari-Maret dan kemudian akan mengalami kmarau sejak Maret hingga September, kemudian Hujan lagi. Berbeda dengan Monsunal, wilayah wilayah seperti Sumatera bagian Utara hingga Tengah, Kalimantan, Sebagian Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua yang memiliki curah hujan tipe Equatorial justru pada bulan Januari- Maret mengalami musim kering dan kemudian kering lagi pada Mei-Juli. Hal ini lah yang menjadi dasar prediksi BNPB sebelumnya. Pada bulan Maret dan kemudian dilanjutkan Bulan Juni tersebut secara klimatologis Wilayah Riau dan beberapa wilayah yang bertipe equatorial akan mengalami musim kering. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat melalui Gambar dibawah ini.

Sumber (Bayong 1999 melalui Kadarsah[dot]Wordpress[dot]com)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebakaran di Indonesia banyak diakibatkan oleh pembukaan lahan untuk perkebunan. Begitu juga yang saat ini terjadi di Riau. Hal ini disampaikan oleh Raffles B. Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan dimuat dalam Tempo. Beliau menyebutkan bahwa kebakaran lahan di Riau kebanyakan memnag diakibatkan oleh kesengajaan membuka lahan perkebunan kelapa sawit.

Kita Butuh Antibiotik untuk Menangani Karhutla

Jika memang ada unsur kesengajaan disana, maka dapat dikatakan bahwa prediksi prediksi terkait lokasi kebakaran hutan yang selama ini dilakukan para ahli BMKG dengan FDRS-nya dan CCROM dengan kebakaranhutan.id nya, monitoring air tanah oleh Badar Restorasi Gambut, monitoring hotspot oleh LAPAN dan BMKG hanya berguna untuk menebak waktu dan lokasi yang tepat untuk para pembakar melakukan aksinya. Atau setidaknya menebak kira kira dimana para pembakar akan membakar lahan. Saya disini tidak mengatkan bahwa usaha usaha yang instansi instasi tersebut tidak berguna. Apa yang mereka lakukan sangat berguna namun menurut saya ada kurang satu aksi yang sangat penting bukan dari instansi instansi teknis dan juga instansi berbasis riset namun instansi penegak hukum.

Jika saya boleh menganalogikan kebakaran hutan adalah sebuah penyakit, maka usaha dan aksi para Kementerian dan lembaga adalah obat pereda panas, obat pereda batuk dan pengurang rasa mual. Namun agar penyebab gejala gejala tersebut dapat diatasi maka kita perlu Antibiotik yang membunuh sumber (penyebab) gejala gejala penyakit tersebut yang dalam hal ini karena penyakit sebenarnya adalah ulah manusia dan bukan iklim, maupun kelembban tanah maka usaha utama untuk mengendalikannya tidak lain adalah usaha di bidang hukum dan sosial serta ekonomi. Saya menambahkan bidang sosial disini karena tidak semua kegiatan pembakaran tersebut sesederhana yang salah di tangkap dan dipenjara. Ada permasalahan sosial yang kompleks sedang terjadi disana yang tentunya penyelesaiannnya juga harus didekati dengan pendekatan ilmu sosial dan ekonomi.

Pendekatan politik akan melengkapi racikan antibiotik yang sebelumnya sudah diisi dengan hukum, sosial dan ekonomi. Permasalahan ini tentu tidak dapat diatasi oleh remah remah kerupuk kaum proletar seperti saya, suara pun sudah pasti tidak didengar dan di gubris. Butuh banyak kaum elit yang memang mengesampingkan ego pribadi dan sektoralnya untuk menanggulangi masalah ini. Selain mengesampingkan ego, mereka mereka ini juga perlu mengamani dirinya dengan perlindungan berlapis lapis karena yang dihadapi mereka bukan sesuatu yang main main. Ada triliun-triliunan rupiah berputar dan bertarung di mimbar kebakaran hutan dan lahan dari hulu seperti perkebunan-perkebunan hingga hilir seperti usaha usaha pemadamannya penyewaan heli misalnya yang tentunya akan keluar angka fantastis bila dihitung.

View this post on Instagram

Water Bombing

A post shared by dewa putu am (@dewaputuam) on

Pengalaman Naik Heli saat Patroli Aseangames Bebas Asap 2018

Tanpa adanya aksi aksi yang bersifat antibiotik, saya ragu karhutla dapat kita tangani dengan baik dan kita dapat terlepas dari aksi aksi yang hanya berkutat pada tukang memadamkan api. Kita pun akan semakin banyak menemukan berita berita tentang ribuan korban yang berjatuhan karena penyakit pernapasan. Dan kemudian berita tersebut akan dikalahkan oleh berita protesnya para tetangga yang kita asapi sepanjang kemarau. Kita tidak tahu pasti akan sampai sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan, para pecinta alam mungkin akan berkoar koar tentang hilangnya kekayaan hayati indonesia. Namun saya rasa tidak hanya itu, Karhutla tidak lah hanya membakar kekayaan hayati kita, namun membakar pula kekayaan hati kita yang tetap diam melihat orang merendahkan diri dengan menjual nyawa dan masa depan jutaan orang hanya demi uang semata (omong kosong sekali ya hehehe). yah tapi jauh dari itu, kita membutuhkan antibiotik untuk permasalahan karhutla, ntah itu secara harfiah berarti “bersifat Anti-bio” atau secara tersirat saja sudah cukup.

Tanpa itu semua Riau dan Wilayah lainnya akan Tetap Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap #Mungkinselamanya hingga pohon terakhir tumbang dan berakhir pada musium yang bertuliskan “Dulu sekali kami memiliki hutan yang kaya namun kami gagal menjaganya”

(Dewa Putu AM, 2019)

Sekian dari saya, kalau saya ulik ulik lebih dalam lagi akan berbahaya hehehe saya masih sayang nyawa. Akhir kata

Salam

Dewa Putu AM.

Sumber Featured Image Pixabay.com

BencanaDaily LifeUncategorized

Yang Tidak Berubah Selama 139 Tahun

February 28, 2019 — by dewaputuam0

5167-960x640.jpg
Thomas Crapper (Sumber: Wikipedia)

Beberapa waktu lalu Bill Gates, orang terkaya nomor 2 di Dunia saat ini menuliskan sesuatu yang menarik dalam Story akun Instagram resminya @thisisbillgates. Dalam seri yang ia beri tajuk “9 things that surprised us” tersebut satu yang paling menarik adalah Fakta bahwa sudah 139 tahun lamanya design toilet tidak ada perubahan secara signifikan. Bentuk toilet U (leher toilet berbentuk U atau bisa juga disebut sebagai U-bend trap) agar bau tetap terjebak di dalam karena terhalang air yang ada pada toilet-toilet modern saat ini ternyata ditambahkan oleh Thomas Crapper pada tahun 1880, yang dalam hal ini merupakan perubahan signifikan terkahir dalam design toilet. Design toilet miodern sebenarnya telah dipatenkan oleh Thomas Crapper pada tahun 1775, namun baru diproduksi secara masal pada tahun 1800an.

Dalam tulisannnya yang berjudul “We didn’t see this coming” Bill dan Melinda Gates juga menjelaskan tentang usaha mereka beserta para saintist dan insinyur untuk mendesign sesuatu yang mereka sebut sebagai Next Gen Toilet. Toilet ini di design untuk mengolah dan mengurai feses manusia menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk bahkan air untuk cuci tangan (terdengar ekstrim ya hehehe).

Bill Gates dan Next Gen Toilet nya (Sumber: Gatesnotes.com)

Permasalahan toilet, atau MCK secara umum memang terlihat remeh namun, permasalahan ini merupakan permasalahan yang kompleks dan bila tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan akibat yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena permasalahan ini sekitar 800 ana-anak terbunuh setiap hari, hal ini akan kian kompleks bila terjadi di kalangan yang dibawah garis kemiskinan dan yang baru saya sadari dalam dua tahun ini masalah terkait MCK juga besar pengaruhnya pada para pengungsi Bencana Alam. Kurangnya sarana MCK yang baik baik dari segi kualitas barang maupun manajemennya akan berdampak pada penyebaran penyakit dan permasalahan sosial yang saya temui dalam kebencanaan masalah sosial tersebut dapat berupa pelecehan seksual hingga pada perkosaan.

Masalah MCK bukanlah masalah sepele belaka, masalah ini kompleks dan membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Permasalahan MCK bukan hanya pada mendesign sebuah ruangan yang nyaman untuk buang hajat dan kemudian mengolah nya menjadi objek yang menjangkau privasi pribadi seorang manusia semata. Lebih dari itu, solusi perbaikan sistem MCK juga perlu menjangkau sisi sosial dan budaya.

Perbaikan sistem penanganan bencana yang beberapa bulan terakhir sedang di godok oleh pemerintah tidak boleh mengesampingkan masalah sistem MCK kita #sekedarmengingatkan. Penanganan bencana yang baik akan menjadi omong kosong bilamana permasalahan terkait MCK masih saja menjadi permasalahan yang dibahas dalam rapat rapat #curcol. Maslah MCK bukan hanya penyediaan toilet portabel yang panas dan pengap itu, tetapi lebih dari itu. Yah semoga permasalahan toilet dan MCK pada umumnya dapat teratasi dengan baik dalam beberapa tahun ini #semoga dan saya yakin kita akan kearah sana. Bahas toilet seperti ini saya jadi teringat masa kecil dimana saya buang hajad berhadap hadapan dengan Babi yang super besar. Saling bertatap muka dan bertegur sapa sembari membicarakan tentang kehidupan yang sulit. Meski si babi saat itu sedang di Ikat si, tapi itu sekarang sudah lebih baik, saat terakhir say kunjungi rumah saudara saya tersebut sekarang sudah ada toiletnya hehehe.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah “Akankan setelah 139 tahun tiada perubahan signifikan pada design Toilet Modern akan Bill Gates dan timnya pecahkan, atau akan kah orang laing yang akan menjawab tantangan mereka ini lebih dulu?

Oia sekian dari saya, semoga tulisan ini bermanfat walau tipis tipis manfaatnya tak apa lah. dan semoga per MCK an kita semakin sehat dan berjaya. tapi kalau untuk mengolah airnya menjadi air cuci tangan masih tidak rela sayah hahahaha,.. horor e. Akhir kata dari saya

Salam

Dewa Putu AM.

Featured photo created by mrsiraphol - www.freepik.com

BencanaDaily LifeUncategorized

Mereka Datang Tiba-Tiba dan Kemudian Pergi Meninggalkan Luka

February 11, 2019 — by dewaputuam2

OKCHTH0-min-960x640.jpg

Ini bukan kisah cinta untuk di nikmati. Ini juga bukan kisah nestapa untuk diratapi. Ini hanya sebuah kisah lalu, kini dan mungkin hingga esok akan terajut dan berlanjut. Ini sebuah kisah tentang getaran yang selalu ada di sekitar kita yang datang tiba tiba kemudian pergi meninggalkan luka. Yah ia memang datang tiba tiba dan dan hanya sebentar ia bertahan dan terkadang menjadikan beberapa detik seakan memanjang menjadi ribuan tahun. Saat ia datang waktu terasa sangat panjang. Saat ia datang, tak hanya hati yang bergetar, bangunan bangunan pun ikut bergetar. Hati dan bangunan yang tak mampu menahan semua getarannya akan runtuh, hilang dan kemudian ahh sudahlah saya sudah tidak ada ide lagi untuk melanjutkan kata kata ini.

Mereka yang Masih Menghantui

Mungkin terbaca sebagai paragraf pembuka yang super berlebihan ya #hahaha. Jujur saya bingung dari mana harus memulai tulisan ini. Intinya si pada tulisan saya kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman dan juga kesan kesan saya pada saat menangani bencana Gempa. Saya memilih topik ini karena ssssst saya tidak tahu agaknya masi sedikit berasa gempa semalam, meski g separno-an beberapa bulan lalu, tapi masi ada sedikit traumatik berupa tiba tiba halu kena gempa padahal tidak ada. Tidak jarang pula saya lirik-lirik tembok dan melihat ada retak atau tidak untuk memastikan bahwa saya sedang berada di tempat aman jikalau sewaktu waktu gempa terjadi.

Kejadian gempa terasa lebih sering terjadi pada tahun belakangan ini, pada tahun 2018 saja kita dikejutkan oleh kejadian kejadian gempa yang sangat dahsyat dan membuat ribuan nyawa menghilang. Untuk memberikan sedikit gambaran, saya sertakan peta interaktif kejadian gempa besar dengan magnitud >5 yang terjadi selama tahun 2018-2019. Dalam peta tersebut kalian bisa zoom in dan zoom out untuk melihat lebih detail dan untuk keterangan symbolnya dapat dilihat dengan menekan simbol “>>” di pojok kiri atas peta interaktif yang saya buat di bawah ini. Untuk melihat informasi lebih detil terkait tanggal dan magnitude gempa kalian dapat menekan titik titik merah tersebut. Berasa tukang jual peta ya,.. #hehehe. Vintagenya berasa banget ya di peta ini #jualanlagi.

Oia, dalam tulisan ini mungkin ada baiknya saya ikut meneruskan suatu ide atau agak lebih tepat bila kita sebut sebagai kritikan untuk beberapa orang yang meyakini bahwa gempa itu dapat membunuh manusia. Kritikan datang dari seorang Seismolog Imperial College London yang menyatakan bahwa “Earthquake don’t kill people, buildings do” . Pernyataan ini saya rasa cukup masuk akal dan ada benarnya karena dari yang selama ini saya lihat, para korban, tidak meninggal karena diguncang gempa, namun kebanyakan dari mereka tertimpa oleh bangunan. Dan untuk kasus yang terjadi di Palu kemarin, kita juga patut belajar, bahwa ada kalanya tuhan pun berkehendak lain, dalam bangunan yang sudah kuat pun dalam kasus ini tanah dapat menelannya (saya tidak tahu kata kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi disana). Jika sudah seperti ini cara terbaiknya adalah hindari tempat tempat seperti itu, tempat tempat dekat patahan dengan permukan air yang dangkal.

Kebodohan dan Ketidakpedulian Bisa Berharga Sangat Mahal

Kembali kepermasalahan bangunan, saya seringkali melihat kualitas bangunan bangunan yang dibangun dalam beberapa tahun belakangan kualitasnya cukup mengkhawatirkan. Jika sebelumnya saya kesulitan menancapkan paku di tembok rumah saya di Lampung, beberapa rumah terkadang temboknya mudah dikelupas bahkan dengan sendok makan sekalipun. Tidak ada gempa atau angin, beberapa rumah yang baru dibuat juga terkadang terlihat jelas retakan retakan ini beberapa kali saya lihat saat saya berkunjung ke kosan-kosan teman saya dulu di Bogor (lama sekali,… hahaha) yang notabennya dibangun di area bekas sawah. Yah seperti kita ketahui bahwa sawah itu biasa di bangun di wilayah yang permukaan airnya dangkal sehingga mudah digenangi oleh air. Apa jadinya bila wilayah tersebut merasakan guncangan yang besar. Meski kita tetap saja tidak tahu mana yang pasti, tapi bukan hal yang buruk bila kita sudah memperkecil kemungkinan terjadinya.

Agar tidak kembali terluka oleh “Mereka yang datang tiba tiba” itu, Kita perlulah lebih kritis dalam menentukan lokasi dan lebih serius dalam membangun bangunan. Tentunya itu demi kebaikan kita, keluarga kita dan orang disekeliling kita, jangan sampai kita membayar sangat mahal untuk kebodohan dan ketidak pedulian kita dalam menentukan dimana kita akan tinggal.

(Dewa Putu AM, 2019)

Akhir kata saya ucapkan cepat beli sekarang juga karena hari senin harga naikkk,.. #krik

Sekian tulisan alakadarnya dari saya (untuk memenuhi tuntutan untuk lebih produktf menulis di tahun 2019) akhir kata terimakasih atas perhatiannya membaca bualan bualan saya, jika ada yang baik silahkan di simpan jika ada yang buruk silahkan dilupakan saja tanpa meninggalkan luka.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Gambar

Peta Interaktif created by Dewa Putu AM, with Vintage basemap by mapbox

Featured photo created by lachetas – www.freepik.com