main

BencanaLingkunganOpiniUncategorized

Menilik Ulang Pesta Asap 2019 yang besar nan Meriah

November 6, 2019 — by dewaputuam0

2504589369.jpg
“Keindahan” yang terpancar saat hutan terbakar. Coba bayangkan seberapa banyak hewan dan tumbuhan yang ikut hangus melayang dan tersiasiakan disana. Tidak banyak mungkin.[mungkin] (Sumber: National Geographic Indonesia – Grid.ID)

Kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 meninggalakan banyak kisah dan pembelajaran bagi kita. Pembelajaran yang seperti biasa yang sangatlah mungkin akan hanya sekedar menjadi pembelajaran saja tanpa adanya aksi aksi strategis dan nyata. Bila pada tahun sebelumnya di tahun 2018 kita menggembor gemborkan keberhasilan kita dalan menangkal kebakaran hutan beserta aksi heroik para pemadam dalam mengendalikan api. Aksi heroik secara harafiah, karena mereka tidak hanya mengorbankan waktu mereka saja untuk melakukan hal tersebut namun juga bertaruh kesehatan bahkan nyawa mereka.

Pada tahun ini kita terbungkam oleh pekatnya asap di berbagai daerah. Asap menyebar ke penjuru wilayah hingga terkadang melewati batas negara dan menyapa tetangga. Saling menyalahkan dan bercuci tangan pun tak terhindar, berbeda sekali dengan tahun kemarin yang saling klaim keberhasilan. Kemana mereka yang kemarin mengklaim keberhasilan mereka? apakah mereka terdiam terbungkam oleh pekatnya asap kali ini. Tidak, mereka tidak berpangku tangan saja, mereka bergerak kalang kabut memadamkan api, yups mereka dengan berbagai orang dibawahnya. Saya ada dibawah sana, titik kecil yang sangat kecil hingga mungkin tidak terlihat oleh mata.

Pesta rutin tahunan, Namun kenapa kita seolah suka terlena tidak pernah belajar

Tahun lalu saat di deploy di Sumatera Selatan untuk mengurusi operasi pengaman Asian Games bebas asap, saya sempat berbincang pada seorang dibalik layar. Dengan mata berkaca kaca ia bercerita betapa sulitnya mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Ia mengatakan bahwa 2018 kita selamat karena iklim memang sedang berpihak pada kita. Musim kering yang tidak begitu intens menyebabkan kebakaran relatif mudah dipadamkan dan masih dapat ditanggulangi. Meskipun berjibaku keras menangani kebakaran semua itu masih untung dan terbantu dengan iklim yang memang sedang bersahabat. Pada kesempatan itu pul dengan mata yang masih berkaca kaca bahwa ia sedikit resah dengan musim kering 2019 yang kabarnya akan terjadi El Nino, yang menurutnya akan berdampak pada intens dan sulitnya kebakaran yang akan terjadi.

Setahun kemudian, apa yang ditakutkan beliaupun terjadi. Iklim dengan El Ninonya menunjukan sesuatu yang tidak sebersahabat tahun lalu. Kebakaran hebat terus menghantam berbagai wilayah di Indonesia. TIdak hanya terjadi pada daerah daerah yang sudah berlangganan terbakar, namun juga mayoritas gunung gunung di pulau Jawa dan Nusa tenggara seakan kompak menyulurkan lidah lidah api membakar lahan pada tahun ini. Saat kebakaran hebat terjadi pemadaman darat hingga penggunaan helikopter untuk melakukan water bombing adalah suatu usaha yang berada di batas tipis di antara harapan dan ketidak mungkinan. Kebakaran yang begitu luas dan masif akan sangat sulit bahkan dengan berat hati saya katakan itu tidak mungkin dipadamkan.

Jika dianalogikan seakan kita sedang ingin memadamkan kebakaran yang terjadi di sebuah rumah dengan sesendok demi sesendok air. Mungkin terlihat terlalu berlebihan namun cobalah teman teman lihat kebakaran yang saya sisipkan dibawah ini dan bandingkan seberapa banyak air yang ditumpahkan helikopter dan seberapa besarnya kebakaran yang sayangnya sangat banyak yang jauh lebih besar dari kebakaran yang saya tampilkan pada gambar ini.

Lokasi kebakaran hutan dan lahan yang mayoritas dikatakan berada di lahan gambut meningkatkan level ketidakmungkinan dan bahaya dalam menanganinya. Bila di tanah tanah lainnya kebakaran selalu sangat jelas terlihat dimana letak apinya. Kebakaran di lahan gambut berbeda. Saat lahan gambut terbakar, yang terbakar tidak hanya dipermukaan saja namun jauh dibawah tanah sehingga akan terlihat tanah yang berasap saja bila kita gali dalam tanah tersebut maka akan terlihat bagian dalamnya telah hangus terbakar. Kebakaran ini dapat merambat jauh melalui bawah tanah dan muncul lagi ditempat lain. Terlihat bercanda ya, namun akibat yang ditumbulkannya sayangnya tidak sebercanda itu. Berdasarkan data kementerian kesehatan yang dirilis September 2019 hampir 1 Juta orang menderita infeksi saluran pernapasan akibat kebakaran hutan yang terjadi.

Ini salah mereka, salah perusahaan besar dan pemerintah! dan bukan salah kita, dan lalu apakah kita peduli dengan semua itu? hanya ikut ikutan mengeluh, menghujat dan meramaikan beranda maya kita, dan itu saja

Jagat maya ramai akan keluh kesah, doa, hujatan bahkan kutukan pada siapapun yang “umum” katakan bersalah. Entah itu pemerintah ataupun para kara kambing terbakar hangus lainnya. Kita butuh sesuatu yang kita persalahkan. “Itu cukup bagi kita” itu cukup adil bagi kita sambil menikmati satu bungkus mie instan dan satu cup plastik kopi di tangan. Lincahnya tarian jemari kita menguntai satu demi satu kata penuh dengan kebajikan dan terkadang disisipi “candaan” ringan akan apa yang sudah dan sedang terjadi. Miris memang, disatu sisi kita menyalahkan gilanya pembakaran untuk pembukaan lahan dan perluasan perkebunan namun disisi lain kita justru menjadi pasar yang begitu rakus menikmati produk turunan dari apa yang mereka bakar tersebut.

Dengan iseng saya mencoba menelisik sedikit bagaimana si ketertarikan kita pada isu isu seperti kebakaran hutan dan asap. Meskipun dapat ditebak, sama seperti bencana bencana pada umumnya rasa ingin tahu kita pada isu isu seperti ini hanya anget anget tai ayam saja. Akan melonjak naik bila memang sudah heboh. Kebanyakan dari kita adalah orang orang yang latah dan mengikuti arus saja. Saat semua berbicara A maka kita akan berbicara A. Hingga pada suatu waktu A akan dilupakan, kitapun akan lupa tanpa bekas. Tak ada lagi pelajaran bahkan ingatan yang kita simpan sekedar untuk bahan menghadapi masa yang akan datang. Hal berulang selalu terjadi.

Ada sebuah kata bijak yang selalu terngiang dalam benak saya dan mungkin teman teman sudah sering pula mendengar kata kata ini dalam bentuk lain. Kejadian seperti ini, baik kebakaran hutan, membeludaknya sampah dan beberapa keburukan yang terjadi disekitar kita terjadi tidak hanya karena banyak orang jahat yang melakukan kejahatan, namun karena banyaknya orang baik yang tidak lagi peduli.

Sudahlah semua itu mungkin sudah berlalu dan kita saat ini sedang memasuki lembar baru. Kebakaran hutan dan lahan bersama dengan Asapnya yang mencekik kita berbulan bulan kini akan tergantikan dengan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Yang menjadi pertanyaan besar dan paling penting kita ungkap pertama dan segera bukalah seberapa besar dampak karhutla dan asap pada bulan bulan lalu, tetapi seharusnya seberapa banyak pembelajaran yang kita dapat pada kesalahan kita lalu yang dapat kita kerjakan dan perbaiki di masa kedepannya. Tidak mungkin 0 kan. Saya yakin tidak mungkin 0. Karena saya percaya kita adalah orang orang yang selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Kita selalu peduli dengan hutan dan kita selalu peduli dengan segala kekayaan hayati di sekitar kita. Saya yakin itu. [mungkin]

ArcGISBencanaGISLingkunganQGISUncategorized

Data Kependudukan dari Kecerdasan Buatan Milik Facebook, Meh?

July 11, 2019 — by dewaputuam0

bigstock-group-of-people-in-form-of-wor-262052332-1560760029753-960x610.jpg
Ilustrasi Populasi Dunia. Data populasi di suatu wilayah adalah data yang saya rasa paling dalam manajemen bencana dan kebutuhan akan data ini akan semakin meningkat saat dilaksanakan operasi. Pengetahuan kita tentang kepadatan penduduk suatu wilayah terdampak pada fase awal akan mepermudah kita menentukan wilayah manayang harus kita jadikan prioritas dalam operasi. (Sumber gambar: Bigstock )

Saya pertama kali mengetahuin keberadaan data ini dari salah satu mahasiswa yang pernah magang di kantor kami sekitar tahun 2018 an. Saat itu dirinya berdiskusi ringan tentang tantangan seorang dosennya untuk mengkaji penggunaan data kependudukan yang disediakan dan dibagikan secara bebas oleh facebook untuk keperluan manajemen bencana, saya lupa fokusnya kebagian mananya. Pada saat saya cukup antusias untuk mendownload dan melihat-lihat kira kira wawsan seperti apa yang akan bisa didapatkan dari data tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan beberapa antrian tugas dari kantor akhirnya keberadaan data tersebut terlupakan hingga berbulan bulan.

Hingga beberapa minggu lalu saya menemukan sebuah artikel yang ditampilkan di feed google news saya yang membahas “Data kependudukan dari Facebook”. Agar tidak bernasip sama seperti sebelumnya maka pada artikel ini saya akan menuliskan sedikit tentang data kependudukan dari facebook ini, yang “mungkin” akan coba sa explore dan maksimalkan penggunaannya dalam bidang yang saya geluti saat ini, manajemen bencana. Tulisan ini saya tujukan sebagai pengingat sekaligus berbagi dan bahan diskusi mungkin dari teman teman sekalian ada yang tertarik mengolah data dari facebook ini baik di bidang yang sama seperti saya taupun bidang lainnya.

Data Kependudukan untuk Operasi Kemanusiaan

Ilustrasi seseorang didaerah terpencil yang sedang terkena musibah, Dengan data kependudukan yang presisi dan detail secara kewilayahan, wilayah wilayah seperti ini akan sukar termonitor oleh para pegiat kebencanaan. Beberapa kasus pernah terjadi saat penanggulangan bencana di Indonesia dimana beberapa kelompok masyarakat terisolir dan susah untuk mengakses ertolongan dan bantuan. (Sumber foto di sandur dari akun Parij Borgohain @Pexels.com)

Data penduduk merupakan salah satu data kunci dalam suatu operasi operasi kemanusiaan dalam hal ini darurat bencana. Tanpa data penduduk yang detail suatu operasi akan menjadi sporadis dan tidak taktis. Kurangnya pengetahuan kita terkait sebaran pendudu disuatu wilayah terdampak bencana akan berdampak buruk pada suatu operasi sehingga meningkatkan kemungkinan kesalahan dalam penentuan prioritas wilayah dan juga beberapa wilayah terisolir akan semakin besar kemungkinannya untuk terlewat.

Sayangnya data kependudukan yang kita dan sebagaian besar negara berkembang lainnya miliki seringkali sukar untuk diakses dan dianalisis sesegera mungkin. Hal ini bisa dikarenakan wilayah yang terlalu luas sehingga sensus berkala dalam interval waktu yang pendek sulit untuk dilakukan, format data yang disediakan pun juga membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat diolah dan diapakai dalam operasi yang membutuhkan waktu sangat cepat dalam penyediaan datanya. Jikapun ada, masih pula perlu diolah lebih lanjut untuk mengetahui pemusatan penduduk dalam suatu wilayah administrasi karena seperti yang kita ketahui bersama penduduk suatu wilayah tidak selamanya tersebar secara merata baik di unit desa, kecamatan, kabupaten dan unit unit lainnya. Penduduk cenderung berkelompok dan dari yang kami temui cenderung membentuk pola terstruktur dan berhimpitan dengan akses jalan.

Sedikit Berkenalan dengan Data Kependudukan yang Dibagikan oleh Facebook

Ilustrasi data populasi Facebook. Data Populasi yang saya bahas disini, menurut facebook (Sumber Ilustrasi: Thorsten G├Ątz @flickr.com)

Data sebaran penduduk secara spasial sangat diperlukan dalam manajemen bencana. Oleh karena itu, Facebook dengan tim yang dibentuknya terdiri dari para peneliti kecerdasan buatan, data saintist dengan tekhnologi mereka membuat dan membagikan data kependudukan seluruh dunia dengan resolusi spasial yang bisa dikatakan tinggi yakni sebesar 30 x 30 meter persegi) bila dibandingkan dengan resolusi spasial data sejenis World Pop yang memiliki resolusi spasial 1×1 km2. Data Kependudukan tersebut dibagikan oleh Fecebook dan dapat digunakan secara bebas dalam tautan ini.

Resolusi spasial disini menurut saya cukup signifikan pengaruhnya dalam memberikan gambaran nyata sebaran penduduk secara nyata pada saat terjadi bencana. Ada sedikit pengalaman saya bersama teman teman ketika mengolah data kependudukan dengan resolusi spasial yang masih kurang baik saat operasi erupsi gunung agung pada akhir tahun 2017 hingga awal tahun 2018 lalu. Saat terjadi penurunan status dari awas menuju siaga, kami ditugaskan untuk memperkirakan jumlah penduduk yang masuk dalam zona bahaya yang baru akan dirilis oleh PVMBG. Saat menggunakan data Worldpop dan InaRISKpop, perkiraan jumlah penduduk yang berada di dalam zona bahaya masih banyak bahkan seingat saya menyentuh angka ribuan. Untungnya salah satu teman saya berinisiatif untuk melakukan cek ulang dengan menggunakan foto satelit resolusi tinggi yang tersedia bebas melalui google maps, dan benar saja ternyata didaerah tersebut tidak ada lagi bangunan.

Hal ini besar kemungkinan disebabkan oleh kurang begitu baiknya logika yang digunakan dalam memprediksi penduduk yang dilakukan oleh Worldpop khsususnya wilayah wilayah di dekat gunung berapi aktif. Keaktifn gunung api yang terkadang memunculkan lava pijar ada kemungkinan justru dideteksi oleh Worldpops sebagai pemukiman. Hal lainnya yang paling mungkin adalah masih rendahnya resolusi spasial yang ada sehingga pada wilayah yang relatif sempit, kemampuan data tersebut untuk menunjukan variasi spasialnya menjadi berkurang dan cenderung salah.

Logika yang Digunakan Facebook dalam Membuat Data Kependudukan

Visualisasi proses yang dilakukan oleh Facebook dalam mengidentifikasi wilayah wilayah yang terdapat bangunan dan menghapus wilayah wilayah yang tidak terdapat bangunan.

Secara sederhana dalam tulisan resmi mereka pada tautan ini, Facebook memetakan populasi dengan cara mengidentifikasi wilayah wilayah yang memiliki bangunan dari sekian banyak citra satelit resolusi tinggi (0.5×0.5 meter) yang bila dikalkulasikan seluruh datanya menyita kapasitas memori sebesar 1.5 Petabytes (1500 Terabyte). Mengingat proporsi lahan terbangun di seluruh dunia yang sangat kecil bila dibandingkan lahan tidak terbangun, maka menggunakan citra resolusi tinggi 0.5 meter cenderung menyulitkan dan bila dibandingkan maka peluang suatu lahan adalah lahan terbangun berada pada kisaran 1:100000. Oleh karena itu facebook melakukan proses selanjutnya dan menggabungkan 64×64 pixcel dari citra tersebut menjadi satu petak baru sebesar 30×30 meter. Dan petak petak inilah yang kemudian dilakukan analisis.

Contoh petak petak citra resolusi tinggi seluas 30 meter yang teridentifikasi oleh AI milik facebook sebagai wilayah yang terdapat bangunan. (Sumber gambar: Facebook AI)

Data data tersebut kemudian disiapkan untuk dianalisis oleh kecerdasan buatan milik Facebook untuk menentukan dari 11.5 Miliar kotak kotak wilayah yang dianalisis mana yang merupakan wilayah terdapat bangunan dan kemudian juga dipisahkan dari wilayah yang tidak terdapat bangunan. Sebagai data awal untuk melatih AI nya tersebut Facebook juga menggunakan lebih dari 100 juta data berlabel bangunan dari Openstreetmap yang merupakan data hasil digitasi orang orang diseluruh dunia yang dibagikan dan dapat dipergunakan secara bebas untuk keperluan kemanusiaan dan lain sebagainya.

Data data hasil analisis tersebut kemudian dengan bekerja sama dengan pemerintah setempat serta NGO dijadikan sebagai patokan persebaran penduduk yang kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan data kependudukan berdasarkan wilayah administratif untuk memperkirakan jumlah penduduk per pixcel data. Melalui data ini kita tidak hanya tahu suatu desa berpenduduk berapa saja, namun juga dari desa tersebut para penduduknya tersebar diwilayah bagian mana saja.

Karena data ini masih tergolong baru, dalam penggunaannya masih diperlukan beberapa penyesuaian dan pengelolaan lebih lanjut baik dalam bentuk riset riset awal maupun pengujian langsung saat terjadi bencana. Ada satu hal kelemahan yang saya temukan dalam data ini, yaitu data ini cenderung menyamaratakan jumlah penduduk pada setiap pixcel pada unit administrasi terkecilnya. Padahal seperti yang kita ketahui, dalam unit administrasi yang sama kepadatan bangunan tentunya akan berbeda. Olehkarena itu perlu dilakukan beberapa pengkajian khusus lagi serta penyesuaian lebih lanjut dengan data data terbaru dan melakukan pengolahan dengan data kependudukan dengan unit administrasi yang lebih detail lagi agar potensi data ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kemanusiaan.

BencanaDaily LifeLingkunganMeteorologiOpiniUncategorized

Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap

July 7, 2019 — by dewaputuam0

2017_05_02_26133_1493689431._large-960x642.jpg
Kondisi Jakarta dalam Sepekan Terakhir Tertup oleh Polusi Udara Bahkan dalam Suatu kanal Berita, Kota Jakarta Dituding Sebagai Kota Terpolusi di Dunia. (Sumber gambar: The Jakarta Post)

Jika teman teman tinggal atau sempat singgah di Jakarta tentunya juga merasakan dalam sepekan terakhir kita jarang sekali melihat langit biru di pagi hari. Suasana pagi kita dalam sepekan ini selalu diselimuti kabut, namun sedikit menyesakkan. Hal ini akan tampak begitu jelas bila dilihat dari ketinggian pada lantai tertentu yang mana akan terlihat lapisan kabut yang menutupi kota, sebagai gambaran kira-kira serupa dengan ilustrasi yang saya sandur dari situs berita Jakarta Post di Atas. Jika dilihat sebenarnya kondisi Jakarta yang demikian cukup indah, memiliki kesan sedikit retro dan klasik seperti salah satu filter yang ada didalam aplikasi Instagram. Antara sedih, takut dan takjub, terkadang saya sendiri pun bingung untuk berekspresi seperti apa untuk menanggapi foneomena yang terjadi ini.

Polusi di wilayah Jakarta memanglah bukan suatu peristiwa yang baru, malasah ini sudahlah lama ada dan sama seperti isu isu terkait kebencanaan lain, isu terkait polusi udara juga selalu timbul dan tenggelam dengan cepat. Isu isu seperti ini akan sangat cepat viral pada saat saat tertentu (biasanya saat kritis) namun cepat pula tenggelam dan menghilang tanpa penyelesaian yang konkrit apalagi menyeluruh. Miris memang, namun itulah yang kita temukan dilapangan selama ini adalah PM2.5 yang konsentrasinya mengkhawatirkan dalam beberapa minggu bahkan bulan belakangan ini. Data konsentrasi PM2.5 yang mudah di akases oleh banyak orang adalah data yang disediakan oleh Konsulat AS yang saya tampilkan melalui widget realtime yang disediakan mereka dibawah ini.

Melirik Pembunuh Senyap yang Menjadi Perbincangan “Hangat” di Jakarta Minggu Ini

Terlepas dari kemirisan hal tersebut, untuk memonitoring tingkat polusi di suatu wilayah ada beberapa variabel yang biasa di hitung dan di cermati. Beberapa variabel itu meliputi konsentrasi TSP (Total Partikulat Tersuspensi, biasanya ukurannya masih cukup besar), PM10 (Partikulat<10 micrometer), serta PM2.5 (Partikulat <2.5). Jika kita melihat variabel TSP dan PM10, meskipun beberapa kali masik kategori tidak sehat namun kondisi demikian pada waktu tertentu saja. Yang menjadi permasalahan dan diangkat isunya oleh beberapa orang seminggu terakhir ini adalah konsentrasi PM2.5.

Berdasarkan data hasil monitoring variabel ini yang dilakukan oleh BMKG di lokasi Kemayoran, hingga tanggal 6 Juli pada pukul 10.00-17.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di wilayah Kemayoran berada diatas ambang batas untuk konsentrasi jenis polutan tersebut. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari BMKG dalam tautan ini Nilai Ambang Batas (NAB) adalah Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan untuk PM 2.5 berada dalam udara ambien. NAB PM2.5 = 65 ugram/m3.

Hal serupa (kondisi PM2.5 yang berbahaya) juga tercatat dalam sensor yang ditempatkan di Konsulat AS dengan menggunakan indeks AQI (Air Quality Index). Berikut adalah kondisi terbaru terkait konsentrasi PM2.5 yang tercatat oleh sensor di Konsulat AS di Jakarta Pusat. Informasi terkait AQI di wilayah ini saya sapatkan dan sisipkan melalui tautan ini.

Dari informasi pemantauan tersebut di atas dapat kita lihat bahwa konsentrasi PM2.5 berada didominasi oleh status berwarna orange yang berarti tidak sehat untuk beberapa orang yang sensitif dan merah yang berarti termasuk tidak sehat untuk semua orang baik yang sehat bahkan sangat berbahaya bagi orang sensitif. Kondisi udara yang demikian kurang sehat dapat memicu terjadinya beberapa penyakit yang tentunya berhubungan dengan pernapasan. Berasarkan U.S. EPA beberapa dampak bagi kesehatan yang disebabkan oleh konsentrasi PM2.5 yang tinggi meliputi peningkatan risiko penyakit jantung, paru-paru meningkatnya potensi kematian dini bagi penderita kardiopulmoner.

Untuk menghindari dampak dampak tersebut atau setidaknya mengurangi dampaknya, para pengidap penyakit pernapasan, jantung, serta kelompok umur rentan seperti anak anak dan orang tua sebaiknya tidak keluar rumah maupun kerja dalam waktu yang panjang. Untuk ulasan terkait dampak lebih jelasnya dapat di baca secara agak lebih lengkap pada tautan berita di Trito.

Jebakan Inversi, Diduga Sebagai Dalang Polusi yang Tertahan dan Berkepanjangan Ini

Pada hari senin lalu saya berkesempatan mendampingi salah satu atasan saya untuk mengikuti rapat yang membahas terkait masalah ini. Hal yang menarik dalam pembahasan tersebut dan dipaparkan oleh BMKG dan BPPT adalah pembahasan tentang salah satu fenomena meteorologi yang bisa kita sebut sebagai Jebakan Inversi (Inversion Trap). Penjelasan terkait fenomena ini dapat digambarkan secara sederhana melalui ilustrasi dibawah ini.

Ilustrasi jebakan inversi yang menyebabkan polutan tidak dapat naik ke atmosfir bagian atas dan terbaurkan. Lapisan inversi ini menahan polutan berdiamdiri di dekat permukaan sehingga kadar polusi di lapisan atmosfer bagian bawah tersebut meningkat secara drastis dan sukar untuk turun. (Sumber ilustrasi: Waikato Regional Council)

Secara awam, jebakan inversi ini dapat kita ibaratkan sebagai suatu selimut di lapisan atmosfer yang menahan udara dibawah sehingga sukar naik keatas. Kondisi demikian disebabkan keberadaan suatu lapisan yang justru memiliki suhu lebih hangat dibandingkan daerah dibawahnya sehingga udara yang reltif dingin di bagian bawah tidak mampu terangkat dan menembus lapisan tersebut hal ini dikarenakan masa udara dingin lebih berat dibandingkan masa udara yang lebih hangat.

Suatu lapisan atmosfer yang mana memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan lapisan bawahnya (meningkat seiring peningkatan ketinggian) ini disebut sebagai lapisan inversi. Keberadaan lapisan inilah yang menjebak masa udara yang relatif lebih dingin dibawahnya karena lapisan dibawah ini memiliki pola semakin keatas semakin bersuhu rendah (lapisan laps rate).

Fenomena jebakan inversi biasa terjadi pada waktu waktu peralihan, baik pagi hari, sore hari mapun sebelum dan setelah hujan. Kondisi yang demikian dapat dengan mudah kita lihat bilamana kita membakar sampah pada sore menjelang malam yang biasanya asap asap pembakaran tersebut seringkali justru menyebar ke segala arah karena tidak dapat dengan mudah untuk naik ke atas.

Dalam situasi yang cukup ekstrim dan sangat berbahaya fenomena ini juga dapat terjadi di spot spot gas beracun seperti yang banyak terdapat di kawasan Dieng contohnya di Kawah Timbang. Saat sebelum dan sesudah hujan juga pagi pagi serta menjelang malam hari biasanya warga sekitar wilayah tersebut akan menghindari jalur jalur gas beracun dikarenakan gas beracun yang mengalir keluar dari kawah kawah tersebut tidak terbaur keatas dan justru tertahan di lapisan bawah. Kondisi ini dapat berakibat fatal bagi orang yang secara tidak sengaja melewati jalur tersebut dan dapat menimbulkan kematian seketika.

Kembali pada topik permasalahan sebelumnya. Fenomena jebakan inversi memanglah berpotensi untuk meningkatkan dampak tertumpuknya polutan di lapisan atmosfer bagian bawah. Namun tidak pula kita melimpahkan semua kesalahan peningkatan polutan tersebut pada fenomena alam yang sebenarnya bukanlah hal yang langka tersebut. KIta tidak akan dapat mengatasi permasalahan ini dengan hanya melakukan suatu tindakan untuk mempengaruhi kondisi yang ‘diduga’ memperparah saja. Namun yang menurut saya paling penting dan paling utama untuk ditindak lanjuti adalah “Sumber Polutan” itu sendiri.

Kita sudah terlalu lama membiarkan udara di Jakarta membunuh kita secara senyap. Yang menjadi pertanyaan dan sebenarnya tidak boleh hanya menjadi suatu pertanyaan saja adalah. “Apakah kita membiarkan begitu saja Pembunuh senyap ini terus beraksi?” Ah biarlah waktu yang menjawab, hitung hitung mengurangi populasi. Mungkin itu yang ada di dalam pikiran kita yang paling dalam. Jika itu yang ada dalam benak mu.

“Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap”

(Dewa Putu AM)

BencanaDaily LifeLingkunganUncategorized

Extinction Rebellion dan 12 Tahun Tersisa

April 22, 2019 — by dewaputuam0

6720.jpg

Melalui tulisan kali ini saya akan sedikit bercerita dan berdiskusi apa yang sedang marak dan ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Bukan tentang carut marut perpolitikan kita dan hiruk pikuk pilpresnya. Sudah terlalu banyak yang membicarakan hal itu dan mungkin saja teman teman sama seperti saya yang sudah jengah dan bosan dengan topik itu. Bukan berarti topik tersebut tidak penting, namun saya rasa saya ang ramah remah kerupuk ini tidak sudah terlalu jenuh mendengar dan membaca hal hal tersebut, jadi kita bahas saja hal hal yang mungkin saja jarang ada dalam lingkup perhatian teman teman, namun percayalah topik ini merupakan hal yang sangat penting dan mendesak untuk kita bahas dan sesegera mungkin harus kita selesaikan setidaknya tidak lebih dari 12 tahun, sebelum semuanya terlambat.

Kita bukanlah generasi yang buruk, kita (atau mungkin kalian) memiliki tingkat kepedulian yang sangat tinggi. Tidak kurang aksi aksi solidaritas selama ini teman teman tunjukan dan jujur saya sangat terkagum dan terharu melihat hal hal tersebut. Kita sudah banyak melihat betapa besar kepedulian teman teman dari banyaknya aksi solidaritas kepada sesama yang mengalami musibah baik bencana maupun penganiayaan, solidaritas terhadap hewan hewan yang mendapat perlakuan sewenang wenang dan juga solidaritas kepada alam yang dirusak oleh orang orang tidak bertanggung jawab. Banyak hal yang teman-teman perlihatkan hingga saat ini, dan itulah yang menjadi salah satu alasan saya menuliskan tulisan ini.

Cerita ini dimulai dari Aksi Extinction Rebellion

Selamat hari bumi. Mungkin kalimat itu banyak kita lihat hari ini dengan berbagai bahasa yang disampaikan melalui berbagai macam platform baik media sosial maupun media media penyebaran berita. Ditengah hiruk pikuknya politik di negeri kita ini, dan ditengah kesedihan yang mendalam atas aksi teror di Sri Langka, Ada sekelompok orang yang berjuang untuk hal yang mungkin terlihat naif dan orang orang ini menamakan diri mereka sebagai “Extinction Rebellion” yang kira kira jika di artikan secara harfiah sebagai “Pejuang Kepunahan”.

Satu dari sekian banyak Pemrotes Iklim (Extinction Rebellion) yang ditangkap pada Hari Seni Pagi oleh kepolisian London Saat melakukan aksi (Sumber Foto: Penelope Barritt/REX/Shutterstock)

Dalam sepekan terakhir mereka membuat “keributan” dan memperjuangkan apa yang mereka anggap penting dan mungkin akan terlihat halu untuk sebagian dari kita yang untuk memikirkan diri sendiri saja masih susah hehehe. Dilansir dari VOA Indonesia, Mereka yang telah membuat sebagian kota London macet total ini menginginkan pemerintah mendeklarasikan keadaan darurat iklim dan ekologis, mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi nol sampai pada 2025, dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati (sumber VOA Indonesia). Menurut saya ini adalah salah satu aksi yang gila dan nekat. Namun mengingat waktu yang kita miliki sekarang, saya rasa ini merupakan aksi yang hebat dan layak dilakukan.

Ini Bukanlah Sekedar tentang Bumi, Ini Tentang Kita dan Masa Depan Kita

Perubahan iklim tidak hanya sekedar suatu cerita kenaikan suhu rata rata bumi semata. Namun perubahan itu akan berdampak pada perubahan perubahan lain yang tentunya akan semakin membuat kita terpojok dan kritis. Sebagai awal saya akan sedikit menggambarkan dan memberikan hitung hitungan sederhana tentang apalah arti peningkatan suhu 1.5 derajat itu. Ini sebnarnya adalah suhu batas yang menurut para ahli merupakan batas kemampuan kita untuk menanggung beban dari perubahan iklim.

Sekarang kita anggap peningkatan suhu rata rata harian dalam satu tahun adalah 1.5 derajat celsius. Ini peningkatan rata rata dalam satu hari yang berarti merupakan hasil jumlah peningkatan suhu selama satu hari lalu dibagi dengan 365 hari. Jika kita kalikan dengan 365 maka setidaknya total perubahan suhu dalam satu tahun adalah 450an derajat celsius. Jika kita bagi rata setiap harinya tentu akan dihasilkan peningkatan suhu dalam satu hari sebsar 1.5 derajat, yang menurut kita tidak lah berbeda secar signifikan dibanding hari hari biasa. Akan tetapi sayangnya tidak demikian, 450 celcius derajat ini tidak dibagi secara merata, ada hari dimana suhu meningkat sangat drastis. Hal inilah yang kemudian muncul dalam bentuk pemberitaan gelombang panas dan panas ektrim yang akhir akhir ini dan mungkin beberapa waktu kedepan banyak diberitakan

Peningkatan suhu mungkin tidak begitu menjadi perhatian bagi orang orang yang berada di wilayah tropis, hanya saja terkadang suhu yang sangat tinggi akan meningkatkan pula keluh kesah orang orang didalamnya. JIka suhu saja yang meningkat sebenarnya tidaklah begitu masalah dengan kita yang terbiasa berpanas panasan ini. Namun peningkatan suhu pada kenyataannya juga datang bersama kawan kawannya yang berarti pula meningkatnya pula bencana bencana hidrometeorologis baik dari intensitas maupun durasinya.

Peningkatan kebencanaan hidrometeorologis sperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim dan kekeringan mungkin kalian sudah tahu bersama telah semakin sering terjadi di sekitar kita. Untuk memberikan gambaran berikut ini saya sampaikan rekapitulasi kejadian bencana di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir yang memperlihatkan bahwa 98% bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi, Perubahan iklim yang terjadi diprediksi juga akan meningkatkan jumlah serta intensitas kejadian bencana bencana hidrometeorologis ini.

Ketika kita berbicara tentang bencana maka pembicaraan ini tentunya tidak hanya berkisar pada topik topik naif tentang penyelamatan bumi. Menurut hemat saya seharusnya justru kita lah yang harus diselamatkan, bukan buminya, dengan cara ‘menyelamatkan bumi’. Karena sebenarnya kitalah yang perlu menjaga bumi kita agar tetap sesuai untuk tempat hidup kita.

Ini bukanlah sekedar tentang Bumi, ini justru tentang kita dan masa depan kita. Mereka, para Extinction Rebellion bukan hanya memperjuangkan masa depan “Mereka” namun juga memperjuangkan masa depan kita bersama bumi kita beserta segala kekayaan yang ada. Jangan sampai apa yang dikatakan Greta Thunberg terjadi.

Saat cucu cucu kita nanti bertanya dan menyalahkan kenapa kita tidak melakukan aksi untuk menghadapi perubahan iklim ini saat waktu masih ada. Ya, kita saat ini masih memiliki waktu.

Setidaknya 12 tahun lagi hingga semua kesempatan yang ada akan hilang dan perubahan iklim akan kian menjadi dan membawa kita pada Jaman kepunahan masal ke 6, yang bukan suatu hal yang tidak mungkin kalau kita juga nantinya akan masuk daftar itu. Apa yang akan kita pilih dan lakukan, Sebagai generasi yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi seperti yang saya sebutkan dalam paragraf paragraf awal tentunya sudah tahu. Ini bukan pada apa yang perlu kita tahu, tapi apa yang harus kita lakukan segera. Oia sebagai tambahan berikut ini ada satu cuplikan film yang bagus.

salam dari saya

dewa putu am

BencanaDaily LifeLingkunganOpiniUncategorized

[Opini]Mencari sosok “Sexy Killer” di karya Watchdoc.

April 16, 2019 — by dewaputuam0

Sexy-Killers-01-2-960x654.jpeg

Kemarin sore banyak dari teman saya yang membagikan sebuah video dokumenter karya Watchdoc yang berjudul Sexy Killer. Hanya dari tumbnailnya sudah dapat terlihat ini tentang batubara karena disana secara eksplisit ditampilkan terdapat sebuah kapal tongkang sedang mengangkut segunung batu bara yang saya tidak tahu akan mengarah kemana.

Tumbnail sebuah film dokumenter karya Watchdoc yang berjudul “Sexy Killer” yang sedang hangat diperbincangkan saat ini. Apa yang membuatnya Sexy? (Sumber Gambar, Geotimes)

Awalnya saya hanya tertarik menonton trilernya saja karena full video cukup panjang yakni 01:28:55. Cukup panjang untuk sebuah video yang disebarkan melalui youtube. Yang menurut hemat saya sebuah video yang menarik biasanya sekitar 4-8 menit saja jikalau panjang cukuplah sampai belasan menit, karena itu sudah sangat membosankan dan terlalu lama. “Lalu apakah hal penting yang disampaikan dalam video ini sehingga teman teman saya bersama lebih dari 6 juta orang lainnya menonton dan membagikan sebuah video yang sangat panjang tersebut? Hal sexy apakah yang sedang dibahas disana?” Atas dasar rasa penasaran tersebut akhirnya saya “menyisihkan” satu setengah jam saya untuk menonton film dokumenter itu, sembari bertanya tanya siapa gerangan si sexy killer itu. (Hingga Tanggal 16 April 2019 Pukul 13.14, video tersebut telah di lihat oleh 6,076,798 orang )

Video ini diawali dengan sebuah cuplikan video sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu di sebuah hotel yang mewah. Dari sini ditampilkan pula barang barang elektronik yang kita sering jumpai dalam kehidupan sehari hari beserta besaran energi yang dikonsumsinya. Dan kemudian diakhir cuplikan menggantung tersebut terdengarlah kata kata gaib nan ajaib

“Kita semua tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari hari adalah bagaimana listrik bisa sampai ke ruangan ini”

Setelah kata kata itu secara ajaib muncul, seketika saya berharap muncul kata kata “iklan layanan masyarakat ini didukung oleh bla bla bla dan bla.” Namun ternyata tidak, cuplikan ini bukanlah akhir, namun adalah awal karena dalam cuplikan selanjutnya justru mereka mengawali apa yang akan mereka ceritakan selanjutnya dari sebuah ledakan di tambang batubara.

Ijinkan saya sedikit menceritakan hal apa yang disampaikan dalam video tesebut

Lubang galian tambang di Kalimantan Timur yang dibiarkan menganga begitu saja tanpa pengelolaan yang baik dan benar dan kemudian menimbulkan banyak korban yang kebanyakan adalah anak anak karena tenggelam. (Sumber Gambar CNN Indonesia)

Dari sinilah kemudian sang pembuat video dengan indah dan jeniusnya menggambarkan masalah masalah apa yang dulu bahkan sampai sekarang sedang terjadi di pertambangan kita, baik dari hulu hingga hilir. Cerita ini diawali dengan kisah kisah bermasalahnya pertambangan batu bara itu sendiri dimana keberadan tambang batu bara merampas hidup dan penghidupan masyarakat sekitar yang sebelumnya dibawa pemerintah untuk membangun pertanian di daerah tersebut. Dan ironisnya pemerintah pula lah yang kemudian merusak penghidupan mereka sebagai petani dengan membangun tambang batu bara.

Permasalahan yang ada kemudian dibuka secara perlahan oleh sang empunya video. Mulai dari permasalahan ruang tambang yang abai bahkan mengorbankan penghidupan dan hidup masyarakat sekitar. Lahan lahan pertanian dan tempat tinggal mereka terus diusik dan diusir secara perlahan oleh tambang. Keberadaannnya yang sangat dekat dengan lingkungan publik, menyebabkan banyaknya permasalahan kemudian timbul dari rusaknya pencarian dan tempat tinggal hingga hilangnya beberapa nyawa anak anak tak berdosa. Dan biadabnya hal ini kemudian dikatakan pemerintah setempat dalam sebuah wawancara sebagai suatu hal yang biasa, sembari terkekeh kekeh dan berkelakar seolah membahas opera sabun yang di tontonnya semalam.

Dari cuplikan ini saya semakin penasaran apa apa saja yang akan diceritakan oleh Watchdoc dalam videonya kali ini yang mengundang perhatian sebegitu banyak orang. Video tersebut kemudian beralih pada permasalahan transport dari dari batu bara menuju beberapa PLTU yang ternyata memberikan dampak buruk tersendiri. Dan kemudian menuju karah yang lebih hilir dari usaha pertambangan batu bara yang ternyata banyak berlabuh pada PLTU. Dari kedua sisi tersebut baik permasalahan transport maupun PLTU kemudian berkembang cerita yang tidak kalah getir, menyedihkan dan harus saya akui saya mengetahui kesemua itu dari video yang jujur saja sebelumnya tidak menarik bagi saya.

Bahkan melalui video ini pula mereka menunjukan sebuah keberanian yang luar biasa, yang saya bahkan beranggapan mereka sudah seperti kucing yang memiliki 9 nyawa. Dengan beraninya mereka membuka dalang dalang besar yang ada didalam jaringan usaha tambang batu bara Indonesia yang tentunya bukan main main lagi tinggi,penting dan berkuasanya posisi para dalang itu di Indonesia saat ini. Dengan beraninya mereka menyebutkan satu persatu pembesar pembesar beserta perusahan perusahaan tambang pengeruk rupiah yang mereka kelola. Big salute for you all guys.

Kemudian muncul pertanyaan, Siapa si sexy itu dan apa maksud dari film ini

Secara sederhana dan tanpa upaya mungkin akan banyak yang beranggapan bahwa si sexy killer yang dimaksud dalam film dokumenter ini adalah para dalang dan penggede dibalik usaha tambang yang mereka gerakan. Ia tampak keren, gagah dan elegan namun dibalik semua itu mereka secara tidak langsung adalah dalang dari segala pembunuhan yang ada dan ditampilkan dalam film dokumenter ini. Dan sebagian lainnya yang mungkin tidak mampu membeli kuota internet dan hanya mampu melihat potongan awal film, si sexy killer mungkinlah sosok pasangan muda yang sedang ber bulan madu itu hehehe.

Saya tidak akan mengatakan kedua pandangan diatas adalah pandangan yang benar ataupun salah. Berkaca dari pandangan pertama tentang diungkapnya para tokoh tokoh negara baik di sisi petahanan dan penantang yang ternyata berandil besar dalam jejaring usaha pertambangan yang banyak menelan korban. Isu ini tampaknya menjadi isu yang sexy mengingat hanya dalam hitungan beberapa jam lagi kita akan melaksanakan pemilu serentak. Hal ini kemudian menimbulkan sedikit kekhawatiran terhadap munculnya aksi kekecewaan dan ketidak percayaan yang pada akhirnya memicu aksi golput saat pemilu.

Ada sebagian yang mungkin akan seperti itu, namun saya yakin orang yang golput karena video ini jumlahnya tidak akan begitu banyak. Mengingat sebenarnya video ini tidaklah begitu sexy dimata masyarakat sekarang, yang dalam hal ini dapat terlihat dari trending youtube yang ada hari ini yaitu video Boyband BTS, Epic Rap Battles Of Presidency (ini masih okelah) dan video berfaedah macam Nyusul Gempi ke Bali serta kejadian luar biasa tentang Limbat yang akhirnya bisa berbicara.

Tampaknya harus kita akui bahwa Isu lingkungan bukanlah suatu isu yang sexy di mata masyarakat kita. Atau setidaknya tidaklah jauh sexynya bila dibandingkan tentang isu tentang gempi yang di jemput kebali juga limbat yang akhirnya berbicara akibat terkena prank.

Mengungkap siapa si Sexy Killer sesungguhnya?

Untuk menjadi menarik dan kemudian banyak diperbincangkan, isu lingkungan dalam video ini akhirnya kemudian menempel pada isu yang lebih seksi dan tentunya sangat tepat bila dibahas saat ini yaitu “Politik”. Dengan gagah berani mereka membuka jejaring dalang yang menggerakan pertambangan batu bara di Indonesia yang berasal dari kubu petahanan maupun kubu penantang.

Kesemua parade dan kisah itu saya rasa sebenarnya diajukan kepada sosok sang “sexy killer” sesungguhnya yang selama ini selalu bersembunyi dan terus mengukir kisah pembunuhan ini tanpa merasa bersalah. Sexy killer yang merupakan dalang dari semua dalang yang ditampilkan dalam video ini. Sosok sexy killer itu sampai saat ini terus bersembunyi dan menyangkal apa yang diperbuatnya saat ini.

Film dokumenter ini merupakan suatu jebakan yang dibuat sedemikian apik oleh watchdoc. Dan harus saya akui jebakan itu cukup berhasil. Mereka cukup berhasil setidaknya menjebak lebih dari 6 juta para sexy killer tersebut. Yup saya menyebut 6 juta para sexy kiler yang tidak lain adalah diri kita sendiri.

Kita adalah hilir dari usaha batu bara tersebut, hal inilah kenapa video ini hanya menampilkan pada PLTU dan tidak lebih jauh lagi. Kita adalah pasar yang sexy, dengan keluhan kita akan listrik yang byar pet pada pemerintah dan dibarengi dengan kerakusan kita akan energi listrik menjadikan kebutuhan listrik kita sangatlah besar, bukan hanya pada hal hal yang benar benar penting namun pula pada hal hal yang cenderung membuang dan menyianyiakan. Kita lah sang sexy killer yang dengan begitu sexy digoda diperebutkan perhatiannya oleh para dalang batu bara melalui layanan listrik mereka dan oleh para pegiat lingkungan yang terus berupaya mengambil perhatian dengan segala cara berteriak, beraksi untuk sekedar mengingatkan bahwa alam kita tidak sedang baik baik saja.

Kelanjutan dan akhir cerita ini tidak semuanya secara eksplisit diberikan pada video mereka tetapi dilanjutan pula pada kometar dan reaksi para penontonnya di kolom komentar, di media media pengutaraan pendapat, media sosial, media chat, media diskusi, dan aksi aksi nyata lainnya. Melalui video “Sexy Killer”, watchdoc menceritakan sebuah kisah tanpa tanda titik, yang menyerahkan kelanjutan cerita kepada sang pembunuh seksi itu sendiri. Apakah kan berakhir mengambang dan menghilang perlahan sama seperti kisah kisah yang mereka awali sebelumnya, atau akan ada yang berbeda dari awal kisah ini.

Ijinkan saya mengakhiri tulisan ini menggunakan frasa yang sebelumnya saya tergelitik mendengarnya, yang juga merupakan frasa awal mereka untuk memulai cerita mereka, tentunya dengan sedikit perubahan diksi serta suasana :).

“Kita semua tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari hari adalah bagaimana intrik bisa sampai ke ruangan ini”

(dewa, terinspirasi dari Video Sexy Killer By Watchdoc)

Berikut link video lengkap yang berjudul Sexy Killer karya Watchdoc yang saya bahas dalam tulisan saya hari ini. Saya salut pada perancang dan pembuatan karya ini. Sebuah karya yang bagus dan menginspirasi dan saya yakin bahwa banyak sekali usaha dan segala hal telah dikorbankan untuk membuat karya luar biasa ini.

Meskipun demikian sudah menjadikan keharusan bagi saya untuk memberikan sedikit ruang untuk keraguan untuk segala hal yang kita temui. Bahkan untuk video yang luar biasa ini. Mungkin tidak semua yang disampaikan dalam video ini adalah sebuah kebenaran, baik itu karena kurangnya informasi ataupun kepentingan tertentu. Namun jauh dari semua itu video ini tetaplah sebuah karya yang bagus dan menarik untuk di tonton dengan durasi panjangnya itu. Sekian dari saya,

Salam hangat dari saya, bagian dari sexy killer

Dewa Putu AM.