main

Daily LifeOpiniUncategorized

Alasan Ku Menulis Hanya Untuk Berbagi dan Belajar Lagi

July 20, 2019 — by dewaputuam0

blogging-blur-communication-261662-960x640.jpg
Ilustrasi sedang menulis yang saya anggap sebagai “berbagi”. Berbagi adalah hal yang natural dan tidak perlu malu juga tidak lah perlu takut untuk berbagi. Berbagilah layaknya dirimu sedang melakukan hal natural lainnya. Meski terkadang apa yang kita bagi tidak lah sempurna, justru disitulah naturalnya dari berbagi karena kesempurnaan bukanlah sesuatu yang mungkin ada dalam suatu yang natural (Sumber ilustrasi: rawpixel.com)

Kadang ku berpikir sejenak, apakah tulisan ku ini di baca oleh orang lain dan apakah tulisan tulisan saya ini akan bermanfaat bagi mereka. Pikiran pikiran itu harus ku akui selalu bergelayut dalam pikiran saat sedang menulis hingga tidak jarang pula sebuah tulisan yang sudah didraft akhirnya terbengkalai begitu saja tertimbun akan keraguan yang lucunya ku sadar itu tidak perlu, tetapi tetap saja pikiran pikiran seperti itu selalu saja menghantui pikiran ini, seolah sudah ada begitu saja bersamaan dengan pikiran ini diciptakan.

Tidak ada alasan spesifik yang dapat ku jadikan alasan untuk menulis topik ini sekarang. Ku hanya menulis apa yang sedang ada dalam pikiran saja, tidak kurang dan tidak lebih. Seperti pada paragraf ini tetiba ku ingin membahas sedikit sekaligus sekedar memberitahu ke teman teman kalau frasa “Tidak kurang dan tidak lebih” adalah suatu frasa yang ku suka gunakan dalam beberapa tulisan beberapa waktu belakangan ini. Tidak ada alasan spesifik juga tetapi hanya suka saja.

Alur Mengikat yang Membosankan dan Menjemukan, Namun Tak Apa Toh Kita Suka

Ilustrasi sebuah kamera. Kameranya boleh tua tetapi konsep nya agaknya akan seperti itu terus, Film selalu membawa kita pada alur yang mereka buat dan merasa alur itulah yang akan kita sukai. Meski terkadang memanglah alur tersebut yang kita sukai dan tanpa di sangka sangka terjadi, Tetapi tidak boleh dilupakan pula bahwa tidak sedikit pula yang kecewa akan alur yang ditawarkan (Sumber ilustrasi: Jaymantri)

Menulis memanglah bukan suatu kegiatan yang nyaman dan menyenangkan, setidaknya tidak semenyenangkan bermain game atau sekedar menonton film. Namun ada suatu kebebasan yang ditawarkan dari aktifitas ini yang tidak diberikan kegiatan kegiatan lainnya taruhlah seperti bermain game atau menonton film atau yang lebih dekat seperti kegiatan membaca. Ku akan coba jabarkan satu satu dari ketiga kegiatan tersebut untuk menjelaskan apa itu “sesuatu” yang ditawarkan oleh aktifitas menulis dan tidak diberikan oleh aktifitas lain.

Kita mulai dari menonton Film, Yup kegiatan ini memang menawarkan suatu pengalaman yang luar biasa dengan buaian visual dan audio yang berkolaborasi menciptakan ilusi pada kita, namun film yang kita tonton secara sadar ataupun tidak juga mengikat kita pada alur ceritanya, kita dipaksa untuk mengikuti alur yang diberikan oleh sang empunya film tanpa bisa memilih jalan mana yang kita pilih hingga terkadang hal hal konyol dari pilihan sang pembuat film pun mengganggu logika para penonton. Kegiatan membaca juga tidak berbeda begitu jauh dari kegiatan menonton, namun dengan tidak ada balutan visual dan suara yang membimbing.

Dari buku pula kita akan diikat oleh alur pikir dan cerita sang pengarang tanpa adanya tawaran untuk menentukan pilhan secara bebas. Jikapun ada pilihan itupun tetap akan mengarahkan kita pada arah alur yang sudah ditentukan oleh para pengarang yang bukan suatu yang tidak mungkin bila kita tidak sepakat dengan itu. Dari game sebenarnya kita diberikan “sedikit” kebebasan untuk menentukan tindakan apa yang akan kita pilih. Hingga saat ini sudah banyak pengembang yang membuat game dengan alur yang bercabang. Namun tetaplah ada aturan aturan (role) yang membatasi pilihan kita yang sama kasusnya seperti buku yang memiliki alur ganda kita tetaplah diatur dan diikat oleh alur yang sudah ditentukan oleh sang pembuat game tersebut.

Menulis membawaku ke Dunia yang Bebas tanpa Batas

Bebas, sesuatu yang jarang ada di sekeliling kita. Selalu ada yang mengikat kita, baik yang terlihat jelas hingga yang sembunyi sembuny tanpa pernah dapat kita rasa dan sadari. (SUmber ilustrasi: Snapwire )

Berbeda dengan kegiatan lainnya menulis menghadirkan sesuatu yang mungkin tidak teman teman sadari namun inilah salah satu alasan sangat kuat kenapa saya tertarik dengan kegiatan ini. Dari menulis, ku merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Dengan menulis bahkan saya pun bebas menentukan dimana saya harus berhenti, contohnya akan

Nah seperti itu kira kira kebebasan ku saat menulis. Dari menulis juga ku bebas untuk memasukan apapun yang sedang saya pikirkan ahahaha coba liat deh ada orang bulu hidungnya keluar keluar karena sedang iseng saya sedikit melirik dan menghitung bulu hidung yang keluar dari orang itu sekitar 18. Tapi ya orang itu sekarang malah mesra mesraan sama sebelahnya ngeri banget hohoho ini kita lagi di perpustakaan loh untuk hal seperti itu ngeliatnya ngeri.

Nah kira kira seperti itu juga kebebebasan ku untuk menulis, karena ku yakin hanya sedikit orang yang akan membaca tulisan ini sampai baris sini dan akan lebih sedikit juga yang membaca sampai akhir maka akan baik baik saja bila saya menulis apapun pada baris sini hehehe. Contohnya akan aman aman saja kalau kuungkap saja siapa orang yang saya sayang yang sudah dari dulu sekali saya dekati nama orang itu adalah. Eit itu hanya sebuah contoh bahwa sampai pada poin ini berdasarkan penelitian memanglah akan sedikit sekali yang membaca, jika teman teman salah satu orang yang membaca tulisan saya saat ini sampai pada baris ini selamat dan terimakasih atas waktu yang kalian berikan sampai saat ini ya. kalian luar biasa.

Perasaan Membebaskan yang Justru Tidak Membebaskan

Perasaan tidak ada yang mengawasi, tidak ada yang peduli membawa pada suatu perasaan semu yang seolah olah memberikan kita kebebasan untuk mengungkapkan apa saja yang ada. Padat dan bertele tele tulisan diatas sebenarnya sengaja saya berikan untuk sekedar memfilter orang orang malas membaca diluar sana. Saya yakin pada bagian ini mereka mereka itu sudah tersisih dan enggan untuk membaca keseluruhan tulisan saya ini. Jadi kita mulai saja secara singkat apa yang sebenarnya menjadi keresahan saya dan ingin saya bagikan pada tulisan saya hari ini.

Kita dalam keadaan bahaya kawan, ku tidak tahu kalian sadar atau tidak kalau sekitar kita sekarang berubah, yang sayangnya kearah yang mengkhawatirkan. Banyak sekali e orang orang bodo yang semakin menjadi jadi kurang ajarnya dan melakukan hal hal konyol. Yah terkadang memang lucu sih terlihatnya namun saat hal itu terjadi berkali kali akan sangat mengganggu dan justru membahayakan untuk semua. Bebasnya kita berbicara sekarang, membuat apa yang penting dan seharusnya kita tahu menjadi tertimbun dengan hal hal remeh yang tidak ada faedahnya sama sekali.

Kita dibanjiri hal hal remeh tidak penting dan terus menerus demikian bahkan terkadang kita yang sadar bisa limbung dalam arus itu dan kemudian hilang arah hingga kita pun ikut melakukan hal hal konyol itu. Dari sini dimulailah bahaya yang bersembunyi dari arus informasi yang begitu deras itu, otak kita yang terbiasa menyikapi perlahan lahan dan memperhitungkan akasi aksi yang baik dan perlu kita lakukan dengan banyak memepertimbangkan norma dan nilai yang ada. Saat ini semua berubah dan cepat hingga tidak jarang aksi aksi spontan kita lakukan. Kalau begini terus, saya kawatir dari akasi aksi spontan kita itu bukan tidak mungkin kalau akan ada saja orang yang memanfaatkan untuk tujuan tujuan yang tidak baik bahkan jahat.

Ku hanya ingin mengingatkan sekaligus sebagai pengingat untuk diri sendiri. Fenomena ini sebenarnya sudah lama terjadi namun hingga kemarin saat panas panasnya pemilu semua meningkat lo, orang orang jadi semakin senggol bacok, salah dikit di bully, terbuli sedikit sudah membuli balik keroyokan. Semua itu sekarang sudah sangat cepat terjadinya seolah olah orang tidak lagi berpikir dari otak tapi berpikir melalui tulang belakangnya sehingga apa yang ia lakukan full refleks.

Hanya untuk Berbagi, tidak kurang dan tidak lebih itulah alasanku menulis

Jika melalui narasi ku sebelumnya teman teman menyangka ku menulis untuk mengejar kebebasan dan menjauhi dari segala keterikatan tak terlihat sebagaimana yang ada dalam kegiatan menonton film dan bermain game itu tidak sepenuhnya salah. Ku pun tidak mengelak akan hal itu, toh itu benar adanya. Kegiatan menulis memanglah menyenangkan dan membebaskan alam pikir kita dari semua apa yang ada di sekitar kita. Dengan menulis kita dibebaskan dari aturan orang lain karena kitalah yang menjadi aturan itu.

Namun alasan saya menulis ku jauhlah lebih sederhana dari itu semua. Ku menulis hanya untuk berbagi dan belajar lagi. Hanya itu saja dan tidak ada yang lain. Jauh lebih sederhana bukan?

Sumber-Sumber

Sumber ilustrsi untuk cover blog ini Pixabay

BencanaDaily LifeLingkunganMeteorologiOpiniUncategorized

Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap

July 7, 2019 — by dewaputuam0

2017_05_02_26133_1493689431._large-960x642.jpg
Kondisi Jakarta dalam Sepekan Terakhir Tertup oleh Polusi Udara Bahkan dalam Suatu kanal Berita, Kota Jakarta Dituding Sebagai Kota Terpolusi di Dunia. (Sumber gambar: The Jakarta Post)

Jika teman teman tinggal atau sempat singgah di Jakarta tentunya juga merasakan dalam sepekan terakhir kita jarang sekali melihat langit biru di pagi hari. Suasana pagi kita dalam sepekan ini selalu diselimuti kabut, namun sedikit menyesakkan. Hal ini akan tampak begitu jelas bila dilihat dari ketinggian pada lantai tertentu yang mana akan terlihat lapisan kabut yang menutupi kota, sebagai gambaran kira-kira serupa dengan ilustrasi yang saya sandur dari situs berita Jakarta Post di Atas. Jika dilihat sebenarnya kondisi Jakarta yang demikian cukup indah, memiliki kesan sedikit retro dan klasik seperti salah satu filter yang ada didalam aplikasi Instagram. Antara sedih, takut dan takjub, terkadang saya sendiri pun bingung untuk berekspresi seperti apa untuk menanggapi foneomena yang terjadi ini.

Polusi di wilayah Jakarta memanglah bukan suatu peristiwa yang baru, malasah ini sudahlah lama ada dan sama seperti isu isu terkait kebencanaan lain, isu terkait polusi udara juga selalu timbul dan tenggelam dengan cepat. Isu isu seperti ini akan sangat cepat viral pada saat saat tertentu (biasanya saat kritis) namun cepat pula tenggelam dan menghilang tanpa penyelesaian yang konkrit apalagi menyeluruh. Miris memang, namun itulah yang kita temukan dilapangan selama ini adalah PM2.5 yang konsentrasinya mengkhawatirkan dalam beberapa minggu bahkan bulan belakangan ini. Data konsentrasi PM2.5 yang mudah di akases oleh banyak orang adalah data yang disediakan oleh Konsulat AS yang saya tampilkan melalui widget realtime yang disediakan mereka dibawah ini.

Melirik Pembunuh Senyap yang Menjadi Perbincangan “Hangat” di Jakarta Minggu Ini

Terlepas dari kemirisan hal tersebut, untuk memonitoring tingkat polusi di suatu wilayah ada beberapa variabel yang biasa di hitung dan di cermati. Beberapa variabel itu meliputi konsentrasi TSP (Total Partikulat Tersuspensi, biasanya ukurannya masih cukup besar), PM10 (Partikulat<10 micrometer), serta PM2.5 (Partikulat <2.5). Jika kita melihat variabel TSP dan PM10, meskipun beberapa kali masik kategori tidak sehat namun kondisi demikian pada waktu tertentu saja. Yang menjadi permasalahan dan diangkat isunya oleh beberapa orang seminggu terakhir ini adalah konsentrasi PM2.5.

Berdasarkan data hasil monitoring variabel ini yang dilakukan oleh BMKG di lokasi Kemayoran, hingga tanggal 6 Juli pada pukul 10.00-17.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di wilayah Kemayoran berada diatas ambang batas untuk konsentrasi jenis polutan tersebut. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari BMKG dalam tautan ini Nilai Ambang Batas (NAB) adalah Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan untuk PM 2.5 berada dalam udara ambien. NAB PM2.5 = 65 ugram/m3.

Hal serupa (kondisi PM2.5 yang berbahaya) juga tercatat dalam sensor yang ditempatkan di Konsulat AS dengan menggunakan indeks AQI (Air Quality Index). Berikut adalah kondisi terbaru terkait konsentrasi PM2.5 yang tercatat oleh sensor di Konsulat AS di Jakarta Pusat. Informasi terkait AQI di wilayah ini saya sapatkan dan sisipkan melalui tautan ini.

Dari informasi pemantauan tersebut di atas dapat kita lihat bahwa konsentrasi PM2.5 berada didominasi oleh status berwarna orange yang berarti tidak sehat untuk beberapa orang yang sensitif dan merah yang berarti termasuk tidak sehat untuk semua orang baik yang sehat bahkan sangat berbahaya bagi orang sensitif. Kondisi udara yang demikian kurang sehat dapat memicu terjadinya beberapa penyakit yang tentunya berhubungan dengan pernapasan. Berasarkan U.S. EPA beberapa dampak bagi kesehatan yang disebabkan oleh konsentrasi PM2.5 yang tinggi meliputi peningkatan risiko penyakit jantung, paru-paru meningkatnya potensi kematian dini bagi penderita kardiopulmoner.

Untuk menghindari dampak dampak tersebut atau setidaknya mengurangi dampaknya, para pengidap penyakit pernapasan, jantung, serta kelompok umur rentan seperti anak anak dan orang tua sebaiknya tidak keluar rumah maupun kerja dalam waktu yang panjang. Untuk ulasan terkait dampak lebih jelasnya dapat di baca secara agak lebih lengkap pada tautan berita di Trito.

Jebakan Inversi, Diduga Sebagai Dalang Polusi yang Tertahan dan Berkepanjangan Ini

Pada hari senin lalu saya berkesempatan mendampingi salah satu atasan saya untuk mengikuti rapat yang membahas terkait masalah ini. Hal yang menarik dalam pembahasan tersebut dan dipaparkan oleh BMKG dan BPPT adalah pembahasan tentang salah satu fenomena meteorologi yang bisa kita sebut sebagai Jebakan Inversi (Inversion Trap). Penjelasan terkait fenomena ini dapat digambarkan secara sederhana melalui ilustrasi dibawah ini.

Ilustrasi jebakan inversi yang menyebabkan polutan tidak dapat naik ke atmosfir bagian atas dan terbaurkan. Lapisan inversi ini menahan polutan berdiamdiri di dekat permukaan sehingga kadar polusi di lapisan atmosfer bagian bawah tersebut meningkat secara drastis dan sukar untuk turun. (Sumber ilustrasi: Waikato Regional Council)

Secara awam, jebakan inversi ini dapat kita ibaratkan sebagai suatu selimut di lapisan atmosfer yang menahan udara dibawah sehingga sukar naik keatas. Kondisi demikian disebabkan keberadaan suatu lapisan yang justru memiliki suhu lebih hangat dibandingkan daerah dibawahnya sehingga udara yang reltif dingin di bagian bawah tidak mampu terangkat dan menembus lapisan tersebut hal ini dikarenakan masa udara dingin lebih berat dibandingkan masa udara yang lebih hangat.

Suatu lapisan atmosfer yang mana memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan lapisan bawahnya (meningkat seiring peningkatan ketinggian) ini disebut sebagai lapisan inversi. Keberadaan lapisan inilah yang menjebak masa udara yang relatif lebih dingin dibawahnya karena lapisan dibawah ini memiliki pola semakin keatas semakin bersuhu rendah (lapisan laps rate).

Fenomena jebakan inversi biasa terjadi pada waktu waktu peralihan, baik pagi hari, sore hari mapun sebelum dan setelah hujan. Kondisi yang demikian dapat dengan mudah kita lihat bilamana kita membakar sampah pada sore menjelang malam yang biasanya asap asap pembakaran tersebut seringkali justru menyebar ke segala arah karena tidak dapat dengan mudah untuk naik ke atas.

Dalam situasi yang cukup ekstrim dan sangat berbahaya fenomena ini juga dapat terjadi di spot spot gas beracun seperti yang banyak terdapat di kawasan Dieng contohnya di Kawah Timbang. Saat sebelum dan sesudah hujan juga pagi pagi serta menjelang malam hari biasanya warga sekitar wilayah tersebut akan menghindari jalur jalur gas beracun dikarenakan gas beracun yang mengalir keluar dari kawah kawah tersebut tidak terbaur keatas dan justru tertahan di lapisan bawah. Kondisi ini dapat berakibat fatal bagi orang yang secara tidak sengaja melewati jalur tersebut dan dapat menimbulkan kematian seketika.

Kembali pada topik permasalahan sebelumnya. Fenomena jebakan inversi memanglah berpotensi untuk meningkatkan dampak tertumpuknya polutan di lapisan atmosfer bagian bawah. Namun tidak pula kita melimpahkan semua kesalahan peningkatan polutan tersebut pada fenomena alam yang sebenarnya bukanlah hal yang langka tersebut. KIta tidak akan dapat mengatasi permasalahan ini dengan hanya melakukan suatu tindakan untuk mempengaruhi kondisi yang ‘diduga’ memperparah saja. Namun yang menurut saya paling penting dan paling utama untuk ditindak lanjuti adalah “Sumber Polutan” itu sendiri.

Kita sudah terlalu lama membiarkan udara di Jakarta membunuh kita secara senyap. Yang menjadi pertanyaan dan sebenarnya tidak boleh hanya menjadi suatu pertanyaan saja adalah. “Apakah kita membiarkan begitu saja Pembunuh senyap ini terus beraksi?” Ah biarlah waktu yang menjawab, hitung hitung mengurangi populasi. Mungkin itu yang ada di dalam pikiran kita yang paling dalam. Jika itu yang ada dalam benak mu.

“Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap”

(Dewa Putu AM)

Daily LifeOpini

Hanya Sebuah Ide yang Membisu

June 17, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-06-17-at-11.22.06-AM-960x600.jpeg
Sebuah coretan kecilku yang mungkin bukan lahi hanya sekedar sebuah ide yang masih abstrak namun sudah terbentuk menjadi sesuatu yang berwujud

Pada tulisan ini saya akan sedikit berbagi dengan kegelisahan yang saya baru saya sadari beberapa minggu belakangan ini. Mungkin kegelisahan saya ini sebenarnya sering sering juga terjadi pada teman teman sekalian. Yah mungkin saja, tetapi saya ada sedikit kepercayaan kalau kegelisahan ini ada pada diri setiap orang. Pada tulisan ini, sebagai selingan saya akan sedikit berceloteh tentang ide yang membisu, tak terungkap dan kemudian menghilang dalam senyap. Ini tentang ide yang pernah ada dan bermukim dalam alam pikir kita namun sayang belum ada keberanian atau belum dapat untuk mengungkapkan diri.

Ide hanyalah ide, ia tidak akan bermanfaat dan memberikan dampak jika hanya bercokol dan mengakar kuat dalam alam pikir kita tanpa ada niatan dan suatu langkah nyata untuk “sekedar mengungkap” atau bahkan lebih baik bila dibentuk menjadi sesuatu yang lebih nyata lagi.

Sebuah Kritik Pribadi untuk Pribadi, Namun Saya Berharap Ini juga bermanfaat Tidak Hanya untuk Pribadi

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah kritik pribadi saya untuk sekedar mengingatkan bahwa jumlah ide yang ada tidaklah begitu penting. Terkadang sebuah ide justru seakan menjadi kutukan bagi seseorang. Hal ini yang beberapa kali saya alami ketika tertriger dan tertarik untuk memecahkan sebuah permasalahan dan merangkai ide ide muntuk mengurai permasalahan dan mencari solusi penyelesaiannya.

Ilustrasi ceritanya sedang mancing sebuah ide(Sumber Gambar: Engin Akyurt @ Pexels.com)

Saya katakan ini terkadang dapat menjadi sebuah kutukan karena tidak jarang karena saking fokus dan tertariknya saya pada permasalahan tersebut, sering kali meskipun lelah dan ngantuk kita tetap saja memikirkannnya dan tidak dapat tidur begitu saja. Saya menyebut hal ini sebagai “BrainCycloning (BC)” sebagai plesetan dari “BrainStorming” hehehe. Beberapa permasalahan yang seingat saya pernah membuat saya masuk kedalam fase BC mulai dari hal remeh seperti pertanyaan “kenapa ketika kita sedot air dalam air kemasan gelas, gelas kemasannya bisa mengkerut?” hingga pertanyaan komplex nan konyol seperti bagaimana cara membuat siklon tropis.

Kalau ingin dihitung dan mau jujur, mungkin >98% ide ide kita tersebut meskipun menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan dan menghabiskan banyak tenaga sayangnya tetap membisu dan tidak kita ungkap. Yah meskipun juga harus kita mau akui juga bahwa tidak sedikit dari ide ide tersebut hanyalah sampah, yang mungkin akan sulit, konyol atau bahkan tidak baik untuk direalisasikan. untuk bagian ini sepertinya saya banyak sekali hehehe.

Kemudian timbul suatu pertanyaan, apakah teman teman pernah merasakannya saat saat dimana teman teman hanyut didalam alam pikir teman teman sendiri. Saling berbincang dan berdebat dengan diri sendiri seolah olah dalam alam pikir kita terdapat 2 bahkan lebih kesadaran yang saling beradu pemikiran dan pendapat dari sudut pandang mereka masing masing.

Hanya Sebuah Ide yang Membisu, Perperangan Ide hingga Perperangan untuk Sebuah Ide

No army can stop an idea whose time has come” (Victor Hugo)

Seth Stephens dalam bagian akhir bukunya yang berjudul Everybody Lies berujar bahwa sebuah akhir dari tulisan yang bagus harus bersifat fun, mengandung sebuah plot twist yang ironis, sekaligus profokatif. Penyampaian sebuah ide juga menurut saya harus seperti itu agar menarik minat orang lain untuk tertarik, setuju dan kemudian rela untuk membantu mewujudkannya.

Dalam sebuah era yang kita sebut sebagai eranya media sosial ini kita sangat mudah untuk mengungkap sebuah ide. Ide ide yang dahulu membisu dan teronggok begitu saja dalam alam pikir banyak orang, kini terungkap dengan deras melalui berbagai media baik twitter, facebook, instagram hingga youtube. Arus ide kini mengalir dengan sangat deras apapun kini mudah kita cari, apapun kini mudah kita kepo-kepoin dan apapun kini mudah kita julid dan gibahi #hehehe. Ini bagian Fun.

Bahkan bagi sebagian orang yang selama ini ide idenya terbungkus dan membisu kini seolah-olah diberikan suatu energi tanpa batas untuk membagikan semua begitu saja semua ide yang ada didalam pikirannya atau hanya sekedar suatu ide yang ia yakin. “Ironis” nya hal ini terkadang justru membawa petaka, arus ide yang begitu deras membuat kita tidak mudah lagi untuk membedakan apakah apa yang disampaikan dan dijadikan dasar dalam membangun ide tersebut adalah sebuah fakta atau justru ada ide tersembunyi yang sengaja disisipkan untuk memberi keuntungan pada pihak tertentu dan kemudian merugikan pihak lainnya.

Terkadang, tanpa kita sadari kita telah menjadi sekedar bidak dalam permainan dan pertempuran ide ide besar yang terselubung (Sumber gambar: rawpixel.com @ Pexcels.com)

Perperangan Ide hingga Perperangan untuk Sebuah Ide tidak jarang berasal dan diperparah oleh sebuah ide yang bisu. Ia diawali oleh sebuah ide baik bahkan mungkin juga jahat yang sengaja dibisukan hingga senyap tak terdengar dan tidak diketahui oleh orang lain yang merupakan target dari idenya. Ide ini begitu tersembunyi dan jarang dapat kita ketahui dalam sekali putaran alam pikir kita. Begitu tersembunyi hingga tanpa sadar kita menyetujui dan membagikannya tanpa sadar pula kemudian kita menjadi bagian dalam ide besar tersebut.

Bisunya ide juga memperparah, bisunya ide yang sebenarnya dapat memperlambat kerja skema ide ide buruk tersebut, namun karena tidak adanya kepedulian dan keberanian sang pemilik ide tersebut akhirnya sang ide pun tetap terkurung, meronta dan terjebak untuk kemudian terlupakan begitu saja hingga semua menjadi terlambat.

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Penge”Tidak”tahuan juga Perlu Kita Punya

May 11, 2019 — by dewaputuam0

document-2178656_1920-960x640.jpg
Saya sedikit kurang paham bagaimana faedahnya ada bohlam diatas buku sana, bukankah ngeri ngeri sedep bila kita meletakan bohlam diatas sana dan bagaiamana cara membacanya agar bohlam itu tidak pecah tentunya akan menjadi pekerjaan rumah tersendiri (sumber: Freepik jannoon028)

Kurang cerdas, bodoh, dungu bahkan idiot terkadang menjadi kelompok kata yang haram sekali disandangkan pada seseorang. Orang terkadang atau bahkan dapat saya katakan sering kali tersakiti dan tertriger untuk membalas ucap ucapan itu dan memberikan bentuk kata sifat yang sama atau mungkin lebih buruknya dari kata kata tersebut. Berbeda dengan keempat jenis kata sebelumnya, semua dari kita tentunya ingin disebut sebagai orang yang cerdas, kreatif bahkan genius meski tidak jarang kita justru menunjukan sikap sikap yang justru sebaliknya.

Suatu hal yang normal dan menurut saya pun tidak ada yang salah dari kedua sikap kita terhadap dua kelompok kata sifat yang saling bertolak belakang terssebut. Tentunya lebih banyak dari kita akan menyukai hal hal yang baik dan menghindari yang buruk bukan. Kitapun dibesarkan dengan cara dan budaya yang begitu mengagungkan kepintaran daripada kebodohan. Hal ini terlihat dari didikan orang tua kepada anaknya yang bila melakukan hal hal yang menyenangkan selalu dikatakan “Anak pintar” dan hampir mustahil orang tua tersebut mengatakan “Bodo sekali lu” kecuali saat saat tertentu yang mengakibatkan orang tua secara tidak sengaja kelepasan berucap demikian.

Semua mengerikan justru saat kita mengetahui segala hal

Ini adalah suatu paradoks pengetahuan. Paradoks ini mudah sekali kita temuan disekitar kita bahkan dalam era sosial media ini akan semakin mudah lagi kita akan menemukan dan menyadari keberadaan paradoks yang akan saya bicarakan ini. keberadaan paradoks inilah yang kemudian memotivasi saya untuk membuat sedikit tulisan tentang hal ini. Sebelum memasuki paradoks tersebut ijinkan saya sedikit bercerita tentang apa yang saya rasakan akhir akhir ini. Baru beberapa saat yang lalu kita telah melaksanakan pesta demokrasi terbesar di jagat, yang sayangnya banyak juga korban yang melayang ntah itu karena kelelahan ataupun berbagai penjelasan yang tentunya masih bergulir liar hingga tulisan ini ditulis.

Yang ingin saya soroti bukanlah kisah duka tersebut melainkan pertempuran para ahli nya ahli, intinya inti dan core of the core netijen yang maha benar dengan segala kemaha benarannya. Banyak sekali hal hal ajaib tercipta selama pertarungan kampreter dan cebonger selama ini bahkan percikan percikan perdebatan itu sebagian masih menghangat meski pemilu telah usai. Secara ajaib dan tidak terduga duga dari pertarungan kedua pihak tersebut, kita baru tersadar ternyata kita banyak sekali memiliki ahli ya, dari ahli politik, ahli ekonomi, ahli militer, ahli agama, ahli teknologi informasi dan bahkan sekarang ahli kesehatan. Tak ayal dengan begitu banyaknya ahli ahli tersebut kata kata bodoh, tolol bego dungu pun berhujanan membasahi para terdakwa pendustaan dan kriminalitas akal pikir.

Melihat itu semua, kebodohan yang selama ini menetap pada diri saya seketika merintih dan menjerit, mungkin karena sesamanya dipergunjingkan dan disepelekan. saya merasa orang orang cerdas sekarang memiliki ego yang begitu kuat dan sangatlah buas melibas kebodohan kebodohan yang ada, dan kemudian apakah kebodohan didunia ini akan musnah dengan hal itu? tentunya tidak. Semakin banyak orang cerdas yang demikian tentu akan semakin banyak orang bodo yang ditindasnya. Dan sebagi salah satu perwakilan dari orang bodo tersebut, maka saya minta ijin untuk melakukan pembelaan dan sedikit mengenalkan Dunning Kruger effect.

Dunning Kruger Effect menurut saya cukup menjelaskan fenomenda kemaha tahuan para netijen saat ini, dan segala keajaibannya pun dapat terungkap disini. (Sumber: Twitnya @josephsudiro)

saya sedikit tidak tega menyampaikan hal ini, namun menurut saya ini adalah hal yang menarik dan penting untuk kita ketahui dan pahami bersama agar kita tidak terjebak pada fase kemahatahuan kita selama ini. Menurut Dunning Kruger, rasa percaya diri seseorang akan berfluktuasi seiring dengan bertambah pengetahuannya. Jika boleh jujur, pada jaman sosial media dan segala kecanggihan internet ini kita ditabrak oleh banyak sekali informasi dan luarbiasanya banyak sekali dari informasi informasi tersebut yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Hal ini berdampak pada suatu kondisi dimana kita mengetahui sedikit pada banyak hal sekaligus. Kondisi demikianlah yang kemudian memunculkan benih benih kemaha tahuan para netijen. Pengetahuan yang sedikit dan baru pada suatu hal mengaktifkan rasa percaya diri seseorang jauh melampaui batas dan kemampuannya, kemudian dengan tanpa ragu pun tidak jarang kita melemparkan komentar-komentar “cerdas” kita ke dunia maya.

Rasa anonimitas yang ditawarkan intenet juga ikut andil pada semakin percaya dirinya mengutarakan pendapat, meski terkadang pendapat yang diutarakan jauh sekali simpangannya dari topik yang sedang dibahas. Semua ini demi kecepatan dan peghematan kuota sehingga ada gambar atau infografis nyeleneh dikit komentar, ada judul yang aneh sedikit kita juga komentar. Menyedihkan sekaligus lucu saat kita sering melihat banyak sekali orang orang cerdas diluar sana dengan begitu ajaibnya berkomentar hal hal yang jauh dari topik dan mudah sekali terjebak oleh judul judul pancingan.

Menurut saya, kita tidak boleh seperti ini terus. Terus terjebak kedalam perasaan kemaha tahuan sendiri dan meski tahu terjebak justru kita sering kali semakin memendamkan tubuh kita pada jebakan tersebut dan tidak mengakui bahwa sebenarnya masih ada yang tidak kita ketahui. Cukup akui saja bahwa tidak semua hal kita ketahui dan pintu fase selanjutnya akan terbuka lebar bagi kita. Kegiatan ini tidak hanya perlu kita lakukan sekali seumur hidup namun hampir setiap saat karena ntah disadari ataupun tidak meski pada beberapa subyek kita sudah benar benar ahli, namun pada objek objel lainnya kita hanyalah “pintar”.

Agar tidak terjebak pada kemaha tahuan kita, kita harus meyakini satu hal yakni ” Bahwasanya di Dunia ini tidak ada yang benar-benar benar” bahkan pernyataan itu sendiri tidaklah benar-benar benar.

Dewa Putu AM

Bodo itu tidak salah, yang salah itu jika kita hanya sekedar bodo saja

Menjadi seseorang yang bodo itu bukanlah suatu kesalahan, bukan pula suatu kutukan. Saya sangat senang bila saya dikatakan sebagai orang bodo, meski sesekali doa doa kutukan selalu saya panjatkan dalam diam teruntuk orang-orang yang mengatakan demikian. Namun pada dasarnya bodo itu bukanlah suatu hal yang terlarang. Kalau kata Einstein “Stupidity has no limit, human inteligence does”. Dari quotes tersebut kida dikenalkan pada suatu yang tak terbatas dan yang terbatas. Dari kuotes tersebut kita juga dapat dengan mudah mendefinisikan siapa sebenarnya yang memiliki keterbatasan, lalu pertanyaannya mana yang ingin kita pilih apakah sesuatu yang terbatas ataupun tidak terbatas hehehe.

Monyet yang sangat pinter nge Dab #hasek. Maaf salah fokus, ini sebenarnya sebuah ilustrasi seekor monyet yang sangat payah berenang bila dibandingkan dengan ikan. (Sumber: freepik)

Bodo itu tidak salah, yang salah itu jika kita hanya sekedar bodo saja. Yup, yang salah itu bila kita hanya memiliki kebodohan itu sendiri tanpa memiliki hal lainnya. Saya mengatakan demikian adalah hal yang salah bukanlah berarti hal tersebut adalah hal yang berdosa. Salah yang saya maksud disini lebih pada suatu yang tidak benar, tidak ada dan mengada ngada. Kita tidak mungkin hanya memiliki kebodohan saja, setiap dari kita pasti memiliki kecerdasan ntah itu dalam bidang saja. Hal ini sama halnya dengan ikan yang memang tidak sepintar monyet dalam memanjat pohon tetapi jangan ragukan kepintarannya dalam berenang diair dan begitu pula sebaliknya pada monyet.

Bodoh yang murni dan alami itu salah dan mengada ngada, begitu pula dengan cerdas yang murni dan alami itupun tentu juga mengada ngada. Dalam hidup kita masih sangat perlu kebodohan, yah setidaknya untuk memastikan masih ada sesuatu yang perlu kita cerdaskan. Sama halnya dengan kecerdasan dan kebodohan meski kita tahu bersama juga bahwa Penge”Tidak”tahuan juga Perlu Kita Punya setidaknya untuk memastikan bahwa masih ada yang harus kita ketahui di dunia ini. Apalah menariknya di dunia yang kita tahu secara utuh dan menyeluruh yang mana kita tidak bisa berharap menemukan hal hal menabjubkan terjadi. Hingga suatu ketika saya yakin dengan ‘agak’ pasti, kita akhirnya menemukan satu satunya hal baru saat kita sudah mengetahui segalanya adalah keberadaan ketidak tahuan itu sendiri. Dari situlah kemudian sebuah pintu gerbang baru akan mulai terbuka dan membawa kita kita bergerak menuju kepada petualangan baru dan juga sesuatu ketidak tahuan utuh yang tentunya baru, hal ini kemudian berulang lagi dan lagi, hingga suatu waktu kita terpanggil untuk menguji semuanya dihadapan Nya.

Sudah, saya rasa itu saja dulu tulisan saya saat ini. Tulisan ini saya tulis untuk merayakan hari turunnya ilmu pengetahuan atau lebih dikenal umat hindu sebagai Hari Raya Saraswati. Terkait ilmu mana yang pertama kali turun kedunia ini? Saya rasa saya yakin menjawab bahwa ilmu pengetahuan yang pertama kali muncul didunia ini adalah ilmu tentang tidak tahuan.

Salam tidak tahu kenapa

Dewa Putu AM.

Sumber Feature Image by Pexels from Pixabay

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Army of None, “Senjata Otonom dan Masa Depan Perang”

May 3, 2019 — by dewaputuam0

scifi-3617337_1920-960x603.jpg
Ilustrasi Buku Army of None karya Paul Scarre, Buku yang menarik dan membuka mata kita tidak hanya tentang robot otonom tapi juga tentang senjata dan perang. (Sumber gambar: CNAS)

Saya mengetahui tentang buku ini pertama kali saat judul buku tersebut masuk kedalam daftar 5 buku terbaik di tahun 2018 menurut Bill Gates yang ia bagikan di story instagram resminya. Melihat judulnya yang menarik dan tema yang unik saya pun tertarik untuk membacanya. Dan akhirnya hingga adi malam dengan bahagia akhirnya buku ini menjadi buku berbahasa inggris pertama yang berhasil saya baca tuntas. Saya senang dapat menyelesaikan buku ini dan saya berharap sih ini menjadi suatu awalan bagi saya untuk dapat mengakses lebih banyak lagi buku buku yang saya inginkan, mengingat banyak buku buku bagus dan ingin saya baca relatif lama dan saya tunggu sekian lama tak kunjung di alihbahasakan dan kemudian diterbitkan dalam bahasa indonesia.

Dengan saya selesaikannya buku ini setidaknya nambah PD untuk membaca buku buku seperti itu hehehe. Hal ini karena dari dulu beberapa kali beli buku dengan bahasa inggri selalu terganjal dengn bahasa dan malas untuk bolak balik kamus untuk mengartikannya. Hingga akhirnya saya menggunakan google playbook semua jadi terasa lebih mudah dan hitung hitung sebagai salah satu media belajar berbahasa inggris bagi saya hehehe.

Oke, kembali ktopik bahasan. Pada tulisan ini saya ingin memberikan sedikit ulasan dan pendapat tentang sebuah buku karya Paul Scarre yang berjudul Army of None. Secara garis besar buku dengan ketebalan 532 halaman termasuk dafar pustaka dan lampiran foto foto lainnya ini menggambarkan dan menceritakan tentang robot otonom dengan segala perkembangan dan kemudian kelebihan juga kelemahannya. Meski terlihat bahwa buku ini ditulis oleh seseorang yang mendukung aksi pelarangan robot otonom penuh, namun yang saya suka dari penulis ini adalah pemberian narasi yang sangat minim bias subyektifitas untuk pihah yang pro dengan robot otonom dan yang saya sukai dari buku ini adalah kemampuan sang penulis dalam menyusun ceritanya sehingga tidak monoton dan membiosankan untuk dibaca disertai pengungkapan fakta fakta yang mengagetkan terkait perang dan persenjataan.

Sebagai salah satu penghargaan terhadap buku ini dan ekspresi saya yang menyukai buku ini maka pada tulisan ini saya akan mengulas hal hal menarik yang saya temui pada buku ini. Jika tertarik silahkan teman teman lanjutkan bacaan ini #monggo

Narasi Perang Dunia Ke III yang Hampir Saja Terjadi

Buku ini diawali dengan sebuah narasi yang menurut saya sudah menggambarkan segala pergulatan batin tentang baik tidaknya sebuah senjata otonom melalui suatu kejadian yang mungkin banyak orang tidak ketahui bahwa bumi ini pernah hampir kiamat. Ini sebuah peristiwa di zaman perang dingin antara Soviet dan Amerika. Saat itu perlombaan senjata nuklir membawa kedua kubu kedalam suatu kondisi tipis tipis mendekati perang nuklir.

Ilustrasi ledakan nuklir, Jika bentuk ledakannya bisa berbentuk ala badut yang lagi ngece gitu semakin epik tampaknya ya hehehe (Sumber ilustrasi ExtremeTech)

Dalam ketegangan yang terjadi, pada malam hari tanggal 26 September 1983 Letkol Stanislav Petrov sedang berjaga dan mengemban tugas sebagai pelapor untuk peluncuran nuklir. Malam itu sirine tanda bahaya berbunyi dan berdasarkan satelit yang dimiliki oleh Soviet, Amerika telah meluncurkan roket berhulu ledak nuklirnya ke udara, dalam keraguannya jikalau saat itu terjadi kesalahan sistem kemudian muncul peringatan lagi yang ke dua dan seterusnya hingga ke lima yang menggabarkan bahwa lima roket telah meluncur dari Amerika.

Saat itulah Stanislav Petrov menghadapi pilihan yang berat dan penuh dengan keambiguan, tidak mudah baginya untuk memutuskan apakah peringatan tersebut benar ataupun sebuah kegagalan sistem dan tentunya kedua pilihan tersebut memiliki konsekuensi yang sangatlah besar bahkan dapat memicu terjadinya perang nuklir. Hingga waktu waktu terakhir akhirnya Stanislav Petrov menahan reaksi serangan untuk memastikan benar apa yang sedang terjadi.

Dan benar saja, ternyata tidak ada serangan dan objek yang terdeteksi sebagai peluncuran roket tersebut hanyalah pantulan sinar matahari oleh puncak awan. Coba bayangkan apa yang terjadi bila sistem peluncuran nuklir tersebut adalah sebuah sistim yang otonom, mungkin saja dunia akan jauh berbeda dengan hari ini.

Buku yang Bercerita [Tak Hanya] Tentang Robot

Meskipun pada bab bab awal buku ini menggambarkan seberapa cepat perkembangan robot saat ini baik yang bergerak didarat, lautan hingga udara. Baik yang bergerak sebagai robot tunggal maupun yang berbentuk kawanan (swarm). Di awal kita disuguhkan betapa dasyatnya perkembangan robot dari yang otomatis (Automatic) yang secara sederhana merasakan dan menjalankan aksi sesuai dengan program linear/ atau batasan situasi yang telah diberikan atau secara sederhana dapat disebut sebagai threshold-based system. Automated (saya tidak tahu padanan kata yang pas untuk istilah ini) sebagai suatu sistem yang mulai komplek dengan program nonliniernya dan memiliki pembobotan pembobotan pada masing masing pilihannya atau secara sederhana dapat disebut sebagai rule-based system. Hingga yang terakhir adalah Otonom (Autonomous) sebagai suatu sistem “robot” yang telah memiliki kecerdasan dapat menentukan sendiri langkah langkah yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (goal-based/self-directed system).

X-47B sebagai salah satu drone yang secara otonom pada tahun 2013 dapat mendarat di sebuah kapal induk dan menjadinya sebagai salah satu batu pijakan penting menuju perkembangan tekhnologi senjata otonom.

Dalam buku ini, Paul Scharre tidak hanya menampilkan perkembangan robot otonom dengan segala citranya yang dibangun seperti pada film film fiksi ilmiah dari astroboy hingga terminator. Namun lebih dari itu, buku ini juga menjelaskan perkembangan pertarungan manusia dari saling pukul, melempar batu, menuju pada senjata tajam, panah, senjata api senjata mesin dan seterusnya dengan berbagai konsekuensi yang diakibatkan baik dari segi teknis, segi efektifitas dalam perang hingga segi moral yang ditabrak. Berdasarkan itu pula kemudian Paul Scharre dengan sangat apiknya menyandingkan dan membandingkan kedua sisi sentimen positif dan negaif dari senjata otonom.

Dalam penjelasan dan proses membangun narasinya tersebut diungkap pula beberapa fakta yang membuat saya kaget dan terdiam sementara. Salah satunya adalah dalam perang ternyata lebih dari 80% tentara sengaja memelesetkan tembakannya agar mengarah pada arah yang salah dan tidak mengenai target seperti diatas kepala, dan beberapa sisi yang sengaja mereka simpangkan agar tidak mengenai musuh mereka. Hal ini diakibatkan oleh suatu penghambat alamiah suatu spesies untuk tidak membunuh sesamanya, namun karena kondisi psikologis, tekanan dari pihak berkuasa, difusi tanggung jawab, dehumanisasi musuh serta peningkatan jarak secara psikologis, pada akhirnya hambatan alamiah manusia yang menjadikan keengganan untuk membunuh abai dan terkalahkan.

Chappie, sebuah film tentang robot otonom yang cakep dan agaknya saya jadi ingin nonton lagi stelah baca buku ini dibandingkan dengan film terminator, ini lebih oke kayak e (sumber: Digital Trends)

Saya rasa faktor-faktor inilah yang dimanfaatkan dan di modifikasi oleh orang orang yang berkepentingan baik pihak militer maupun pihak perekrut terorisme dalam menyiapkan seseorang untuk siap membunuh sesamanya. Sehingga terkadang kita kita tidak melihat ekspresi bersalah dan tertekan pada pelaku pembunuhan baik dalam suatu operasi militer maupun aksi aksi tidak bertanggung jawab yang terorganisir lain seperti tindakan terorisme. Saya akan coba menguraikannya secara singkat satu persatu, bukan untuk mengajarkan cara cuci otak tetapi sekedar informsi agar tidak terperosok kedalam hal tersebut, karena disekitar kita baik secara sadar ataupun tidak sudah bertebaran hal hal tersebut.

  • Pertama adalah mengkondisikan psikologis seseorang dengan berbagai cara seperti salahsatunya adalah memaparkannya pada informasi dan situasi situasi ekstrim.
  • Kedua adalah meberikan tekanan berdasarkan kekuasaan, baik dengan fisik langsung maupun tindakan tindakan yang menyebabkan seseorang tidak berdaya untuk menolak.
  • Cara ketiga adalah mendifusikan tanggung jawab dengan cara pembagian tugas yang guyub dan rumit sehingga mengaburkan fakta terkait siapa yang bertanggung jawab sebenarnya.
  • Cara keempat adalah dehumanisasi musuh dengan mengikis sisi humanisnya baik secara langsung maupun dengan narasi yang berputar yang memberikan sisi jahat, hewan dan tidak manusiawinya musuh tersebut dan jauh dari sisi manusia. Atau dengan menggantikan target manusia pada musuh menjadi target target fisik lainnya seperti bangunan dll yang kemudian secara tidak langsung juga emberikan dampak pada musuh
  • Cara kelima adalah membuat suatu jarak fisik dan psikologis antara seseorang dan musuhnya hingga kemudian juga dapat memberikan efek dehumanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jarak fisik dan juga memisahkan dan meningkatkan perbedaan perbedaan antara lawan dan musuh sehinggi muncul penggolongan yang ekstrim.

Jadi melenceng ya dari yang seharusnya. Sebenarnya tidak, karena ternyata dalam kajian kajian yang di jelaskan dalam buku tersebut, ternyata kehadiran senjata otonom akan meningkatkan kelima faktor tersebut yang kemudian menjadikan pembunuhan musuh menjadi sesuatu peristiwa yang biasa dan tidak ada yang perlu menanggung beban tanggung jawab karenanya. Hal inilah yang kemudian ditakutkan meski harus diakui pengaplikasian enjata otonom dapat meningkatkan presisi dan efektifitas dalam peperangan, nmaun sebagai dampak sampingnya yang mengaburkan beban tanggung jawab dan lainnya maka opsi perang akan semakin mudah untuk dipilih. Dan tentunya hal tersebut bukanlah hal yang diinginkan. Biar bagaimanapun juga “There is no glory in war” (Silvia Cartwright )

In a world where autonomous weapons bore the burden of killing, fewer soldiers would presumably suffer from moral injury. There would be less suffering overall. From a purely utilitarian, consequentialist perspective, that would be better. But we are more than happiness-maximizing agents. We are moral beings and the decisions we make matter.

(Paul Scharre, Army of None)

Ini suatu qoutes yang paling saya sukai dalam buku ini. Dari quote ini kita diingatkan bahwa bukan sekedar agen yang hanya mengejar dan memaksimalkan kebahagiaan diri kita, kebahagiaan apapun itu baik kebahagiaan di dunia ataupun kebahagiaan diakherat. Kita tercipta untuk lebih dari itu, kita adalah entitas moral yang segala tindakannya memiliki arti, baik untuk diri sendiri, orang lain dan mungkin bila boleh sedikit hiperbola saya dengan yakin mengatakan bahwa kita jugalah yang menjadi bagian dalam menggerakan dunia ini akan kemana dimasa depan apakah baik ataupun suram tergantung dari tinakan kita dan keberanian kita bertanggung jawab setelahnya.

Saya kira cukup itu dulu untuk cerita tentang buku Army of None saat ini, saya suka buku ini dan menilai 4/5 dan jika teman teman berminat silahkan baca hehehe dan ingat belilah secara legal (tapi kalau pingin link yang ilegal silahkan hubungi saya hehehe #bercanda). Sampai jumpa pada tulisan saya berikutnya

Salam ala cyborg

dewa putu a

Sumber Sumber
  • Scarre, Paul, “Army of None: Autonomous Weapons and the Future of War”,2018
  • Featured Image by Computerizer from Pixabay

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

Rekomendasi 7 Buku Terbaik yang Layak Kita Koleksi dan Baca

April 23, 2019 — by dewaputuam0

5924-min-960x641.jpg
Buku adalah salah satu teman terbaik manusia. Ia menyimpan pesan, rasa dan suasana masa lalu dan sekarang, mengabadikannya untuk masa kini dan masa yang akan datang (Sumber Ilustrasi: jannoon028 Freepik)

Untuk ikut serta dalam memeriahkan hari buku sedunia yang dirayakan setiap 23 April, pada kesempatan kali ini saya akan menyodorkan sekaligus merekomendasikan 7 Buku terbaik yang pernah saya baca, setidaknya hingga saat ini. Saya akui ini bukan suatu pilihan yang mudah karena menurut saya buku-buku yang saya baca mayoritas bagus-bagus, karena buku yang kurang bagus biasanya tidak pernah selesai saya baca hehehe. Dari kesekian buku yang telah saya tersebut kebanyakan memiliki ciri khasnya masing masing dan tentunya tidak sedikit yang akhirnya membuka mata saya tentang hal hal yang sebelumnya tidak saya sadari. Tidak perlu berlama lama lagi, berikt ini adalah 7 Buku Terbaik yang Layak di Koleksi dan di Baca menurut saya.

#1 “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl

Buku “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl adalah satu buku terbaik yang saya baca hingga saat ini, banyak kesan yang tertinggal dari buku ini. (Sumber: Medium.com)

Hingga saat ini, jika ditanya dan diminta untuk merekomendasikan satu saja buku terbaik yang layak untuk dibaca temen teman sepertinya saya tidak akan bingung dan dengan senang hati saya merekomendasikan buku ini. Ini adalah buku yang paling memberikan kesan bagi saya dan banyak sekali “Oooo moment” yang saya alami selama membaca buku ini.

Buku Man’s Search for Meaning menceritakan kisah hidup penulis dalam kamp pengkonsterasian Nazi selama Perang Dunia ke II. Dari buku ini kita diberitahukan bahwa apa yang diinginkan manusia dan terus memberikan motivasi seorang manusia untuk hidup dan menjalani hidup adalah karena ada makna yang diyakini dan diperjuangkan. Dari sini kita belajar bahwa terkadang memang kita temui orang orang yang bertindak buruk dan keji bagi kita sebenarnya tidak sekedar mengejar tahta ataupun kekuasaan namun lebih dari itu ada sebuah makna yang sedang ia perjuangkan.

Apapun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia, kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.

Viktor E. Frankl

Melalui buku ini kita akan dikenalkan suatu konsep terkait logo terapi (terapi makna) yang didalamnya dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Salah satu konsepnya pernah saya tuliskan di dalam tulisan saya yang berjudul “Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya di link ini. Paradoxical Intention pada intinya adalah suatu paradox yang membuat suatu hal menjadi nyata saat kita sangat berusaha agar hal tersebut tidak terjadi, namun sebaliknya akan begitu sulit tercapai ketika kita sangat menginginkannya. Saya membaca buku ini melalui platform google playbook, jika berminat versi cetaknya sepertinya masih dijual di beberapa toko buku online.

#2 “Don’t Follow Your Passion” karya Cal Newport

Saya memilih buku ini karena melihat bukunya yang cukup nyeleneh dibandingkan buku buku sejenis lainnya. (Sumber Gambar: Femina)

Jika teman teman sudah terlalu jenuh dengan petuah petuah yang memberi semangat kita untuk “bermimpi besarlah kalian, kejar passion kalian, kalian akan sukses bila kalian mengerjakan apa yang anda cintai” dan frasa frasa serupa yang membuai kita tentang indahnya bekerja sesuai passion, dalam buku ini kita akan dibangunkan dari mimpi kita.

Buku ini tidak memandang buruk orang orang yang mengejar passion mereka, buku ini sekedar mengingatkan bahwa tidak semua passion anda akan memberikan kesuksesan di kemudian hari. Alih alih berjibaku dan menjadi kutu loncat demi mengejar sebuah passion, buku ini mengajarkan kepada kita agar kita memberdayakan dan terus mengembangkan apa yang telah dan sedang ada di sekitar kita. Dengan mengembangkan apa yang telah ada kita akan terus memperbaiki diri menjadi “begitu baik sehingga tidak ada yang bisa mengabaikan kita”.

#3 “O” sebuah novel karya Eka Kurniawan

Eka Kurniawan dan Bukunya yang berjudul “O” (Sumber gambar CNN Indonesia)

Agar tidak terkesan sebagai orang yang mabuk akan buku buku pengembangan diri yang selalu optimis dan melakukan salam salam super ala MLM agaknya ada baiknya saya sedikit memasukan salah satu novel terbaik yang pernah saya baca. Novel ini memiliki judul yang sangat singkat, hanya satu huruf di sana yaitu “O”. Novel ini merupakan karya yang menurut saya epik dari seorang novelis bernama Eka Kurniawan.

Secara garis besar novel ini menceritakan sebuah kisah cinta nan tragis dari seekor monyet yang mencintai seorang raja dangdut. NOvel ini adalah kombinasi antara komedi, keabsurd-an dan filosofis (meskipun saya sudah lupa letak filosofinya dimana). Yang saya suka dari buku ini adalah kelihaian sang penulis dalam menceritakan berbagai tokoh tokohnya yang absurd dari monyet, burung hingga kaleng sarden bekas yang digunakan untuk menampung koin topeng monyet.

Jika teman teman menginginkan bacaan ringan namun bertabur nilai nilai moral didalamnya, saya merekomendasikan buku ini untuk teman teman baca dengan segelas teh atau kopi panas.

#4 “Origin” sebuah novel dari Dan Brown

Buku yang sebelum penerbitannya sudah saya tunggu ber minggu minggu atau bahkan lebih dari sebulan (Sumber gambar: Whitehots)

Ini adalah buku Dan Brow kedua yang pernah saya baca setelah Inferno. Meskipun beberapa orang yang telah membaca karya karyanya Dan Brown menilai buku ini akan sama monotonnya dengan buku buku yang lain, namun berhubung saya baru membaca satu karya Dan Brown waktu itu maka saya kurang begitu mengharapkan keberagaman alur cerita dari sang penulis ini.

Saya akui alur dari buku ini memang sama dimana ada tokoh terkenal kemudian mati dengan meninggalkan misteri yang harus dipecahkan oleh Profesor ahli Symbology kita Robert Langdon dan kemudian terjadi kejar kejaran dan konflik semakin rumit dan blam kasus terselesaikan namun ada yang menggantung, dan kemudian muncul lah plot twist ke dua yang membalikan apa yang kita pikirkan sebelumnya. Seperti itu pola yang saya tangkap. Plot twist pamungkasnya secara berat hati dan dengan sedikit mengecewakannya sudah dapat saya tebak bahkan sebelum pertengahan cerita ini. Tetapi yang membuat saya terus melanjutkan ceritanya adalah, misteri utama berupa jawaban dari dua pertanyaan terpenting umat manusia seperti apa yang diungkap dalam novel ini.

Terlepas dari bisa ditebaknya tiwist yang diberikan dan alurnya yang mirip dengan cerita dan brown lainnya. Novel ini masih layak dibaca karena dapat memberikan kita arti dan maksud dari berbagai karya seni dan objek-objek yang di lalui oleh profeseor symbologi kita ini. Terkait jawaban dari kedua pertanyaan penting umat manusia tersebut saya sudah membuat sedikit ulasan saya dalam blog ini dengan judul “Fisika Asal Mula dan Evolusi Kehidupan” dalam link ini.

#5 “The Great Shifting” karya Rhenald Kasali

Saya adalah salah satu orang yang cukup suka membaca karya Prof Rhenald Kasali. Dari beberapa buku yang saya baca, buku ini menurut saya merupakan buku yang terbaik. Meskipun saya sedikit bingung memilih antara buku Distruption dan The Great Shifting ini namun karena menurut saya lebih banyak hal hal menarik diulas di sini maka saya memutuskan buku inilah karya yang paling saya suka.

Buku Karya Prof R. Kasali yang menurut saya sarat akan penjelasan penjelasan logis terkait hal hal menarik yang ada di dalam kehidupan kita saat ini. (Sumber Gambar: Rumah Perubahan)

Yang saya suka dari buku ini adalah cara sang penulis dalam menjelaskan Revolusi 4.0 sebagai suatu pergeseran besar. Tidak seperti beberapa tulisan yang menggambarkan Revolusi 4.0 sebagai suatu pemanfaatan besar besaran tekhnologi terkini untuk meningkatkan profit. Prof R. Kasali menjelaskan Pergeseran besar ini sebagai suatu kerangka mendasar yang bergerak dan berubah “dengan memanfaatkan tekhnologi tekhnologi yang ada”. Fokus pada buku ini adalah pergeserannya dan bukan hanya alatnya.

Disini banyak sekali dijelaskan fenomena fenomena yang terjadi di sekitar kita selama ini baik itu yang baik seperti fenomena berbagi kita hingga yang buruk seperti Cyber Bullying. Penjelasan yang diberikn buku ini juga menurut saya masuk akal dan mudah dimengerti. Saya secara kusus membahas buku ini melalui tulisan saya yang berjudul “[Buku] The Great Shifting” yang dapat teman teman baca melalui link ini. Konsep yang ada dalam buku ini juga saya tuliskan dalam posting saya yang berjudul “Kepribadian Lain” di Dunia Online dan Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana.

#6 The Everything Store: Jeff Bezos and the Age of Amazon karya Brad Stone

Buku The Everything Store Karya Brad Stone ini menceritakan salah perjalanan hidup dan bisnis manusia terkaya di dunia saat ini Jeff Bezos (Sumber Gambar LEAP.)

Buku ini sudah lama sekali saya baca dan sudah banyak hal yang saya lupakan dari ini buku hehehe. Secara garis besar buku ini menceritakan kisah seorang Jeff Bezos dengan impian yang tinggi dan usaha yang gigih akhirnya mampu menjadi orang terkaya di Dunia. Namun itu bukanlah impian tertingginya. Ia memiliki impian sejak kecil untuk dapat terbang keluar angkasa, dan dengan kekayaan yang begitu berlimpah sat ini ia dengan Blue Origin nya sedang berlomba melawan Elon Musk dengan SapaceX nya untuk merambah dan mengexplorasi luar angkasa.

Dari buku ini kita akan diberikan informasi informasi menarik, tidak hanya kelakuan Jeff Bezos yang sadis untuk mencapai tujuannya dengan memakan sumber sumber daya manusia terbaik dan juga tidak segan untuk memberhentikan pendirinya sekalipun jika tidak dapat mengimbangi kecepatan pertumbuhan Amazon.Kita juga diberikan gambaran trik trik yang dilakukan Amazon dalam memahami dan menguasai pasar nya hingga membuatnya menjadi Toko terbesar di dunia yang cerdas. Berawal dari toko buku dan popok, amazon kini menjual segalanya.

#7 Elon Musk: Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future karya Ashlee Vance

Tidak adil rasanya bila saya memasukan buku biografi Jeff Bezos tanpa memasukan pula buku biografi rivalnya Elon Musk yang digadang gadang sebagai Tony Stark nya dunia nyata. Buku ini juga yang saya rasa cocok mengakhiri daftar saya kali ini karena buku inilah buku yang saya tunggu tunggu versi bahsa indonesianya sekian lama. Sekalinya muncul di toko buku yang versi bahasa indonesia tanpa pikir panjang saya pun langsung mengakuisisinya.

Elon Musk, Sang Tony Stark yang hidup di dunia nyata. Sama seperti Jeff Bezos, sosok ini adalah penggila buku sejak kecil dan kini juga sama sama berlomba dalam mengeksplorasi luar angkasa dengan SpaceX nya (Sumber Gambar: Medium)

Buku karya Ashlee Vance menceritakan kisah hidup seorang kutu buku genius dan aneh dari Afrika Selatan yang kemudian berangkat ke Amerika untuk mengadu nasib dan hingga saat ini akhirnya ia dikenal sebagai Tony Stark di dunia Nyata. Elon Musk adalah seorang yang sudah Jenius sejak kecil, di usia 12 tahun ia sudah dapat menciptakan sebuah game bernama Blastar yang kemudian dijualnya seharga 500 dolar. Tidak berhenti dari situ, ia yang sejak kecil gemar membaca buku dari berbagai genre ini membawanya menjadi seorang Expert Generalist yang secara sederhana dapat dikatakan seorang ahli untuk segala hal.

Keahliannya di segala bidang ini dibuktikan oleh dirinya dengan cara mengubah pandangan pandangan yang ada selama ini mungkin terasa aneh dan mustahil menjadi suatu yang nyata dan keren. Ia turut membangun sebuah tekhnologi finansial yang kini disebut sebagai Paypal yang kemudian mampu mendistrupsi cara pandang orang terkait finansial. Di sektor otomotif, ia mengubah pandangan orang yang dulunya merasa mobi listrik sebagai seuatu yang aneh dan tidak keren designnya menjadi suatu karya seni yang keren dan menawan dengan deretan mobil Teslanya bahkan akselerasinya dapat bersaing dengan mobil mobil buas saat ini. Di bidang energi ia menciptakan Solar City, di bidang explorasi luar angkasa seperti yang sudah disebutkan sebelumnya ia membuat SpaceX yang salah satu roketnya membawa satelit Indonesia baru baru ini.

Saya rasa cukup sampai sini saja dulu rekomendasi buku buku terbaik yang menurut saya layak teman teman koleksi dan baca. Sekian dari saya, selamat hari buku se dunia,

Salam literasi

dewa putu am

Feature Image by jcomp – www.freepik.com

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Orang-Orang Biasa, Andrea Hirata

April 18, 2019 — by dewaputuam0

orang-orang-biasa-andrea-hirata-960x960.jpg
Ilustrasi Buku Orang-Orang Biasa yang merupakan karya ke 11 Andrea Hirata, (Sumber gambar: MarkasBuku.com

Buku ini menceritakan kisah getir, keren nan bodoh dari Sepuluh sekawan. Sekawan-Sekawan biasanya hanya lima orang kan yak, Seperti yang Andrea Hirata dalam salah satu bab yang berjudul Idealisme ia juga mengatakan seperti itu. Dari bab yang sama pula penulis ini melakukan curhat colongan dengan keren sih menurut saya dan mengatakan bahwa menulis tokoh utama yang berjumlah sepuluh (sepuluh sekawan) bukan main susahnya. “Pengarang yang tak kuat mental akan mundur karena bukan main susahnya mengingat nama sepuluh orang itu”. Hahahah ni penulis songong amat yak, melalui tulisan itu dia secara langsung menyanjung dirinya sendiri bahwa ia adalah penulis yang kuat mental. Dan tentulah saya akui dia memang penulis yang seperti itu dan juga hebat (huaaaaa next novel please next novel…).

Sekilas tentang buku dan isi nya yang biasa-biasa ini

Menurut apa yang diruliskan di Mizanstore, buku “Orang-Orang Biasa” merupakan karya ke 11 dari seorang Andrea Hirata dan buku yang saya baca adalah terbitan Bentang Pustaka cetakan Februari 2019. Buku dengan sampul berwarna kuning dan bergambar seseorang menggunakan topeng monyet sedang memikul buntelan ini memiliki sekitar 300 halaman dan 40 bab. Saya rasa tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis untuk sebuah buku novel dan untuk normal akan dapat dilahap sekitar 1 hingga 2 hari.

Kembali pada segi cerita, Seperti yang sudah disebutkan diawal, Orang-Orang biasa merupakan sebuah kisah tentang Sepuluh sekawan yang rata rata memiliki tingkan inteligensi dibawah rata rata dengan segala kelakuan yang ajaib. Mereka terkumpul di barisan bangku paling belakang kelas baik secara alami maupun secara tidak alami (ada juga sedikit unsur kesengajaan). Ini bukan kisah sepuluh sekawan yang dengan kebersahajaannya saling bahu membahu dan kompak dalam menaklukan dunia, cerita mereka tidaklah sehebat itu namun tidak pula kurang hebat dari pada itu.

Kebersaman mereka terus terjaga hingga mereka tumbuh dewasa bahkan beberapa dari mereka sudah menikah (ada yang berkali-kali) dan sebagian pula telah memiliki anak. Hingga dewasa, kadar kekonyolan mereka tidaklah berkurang bahkan dapat dikatakan semakin meningkat. Namun semua berubah ketika salah satu anak mereka di terima di jurusan kedokteran salah satu kampus ternama di Negeri, namun sayangnya uang awal yang harus dibayar untuk masuk jurusan itu sangatlah besar sehingga tidaklah mampu orang tua dari si anak itu membayar bahkan untuk meminjam di koperasi simpan pinjam ataupun bank ia tidak bisa.

Seolah menjadi secercah harapan bagi kelompok mereka yang sedari dulu terikat dalam lingkaran setan kebodohan dan kemelaratan, mereka pun dengan sekuat tenaga dan kerjasama yang tidak kompak merencanakan suatu misi yang sangat besar yang kemudian mengubah wajah dan pandangan seisi kota.

Opini saya yang biasa ini untuk buku Orang-Orang Biasa

Ijinkan saya untuk sedikit mengatakan kalimat klise yang merupakan template dari berbagai opini saya tentang buku yang saya baca. Berikut frasa tersebut. “Buku ini sangat bagus dengan ide dan cara bercerita yang unik dan menarik.” yah kira kira seperti itu kalimat awal saya untuk memberikan opini pada buku ini.

Harus saya akui buku ini sangat bagus dan lucu. Meskipun penokohannya untuk beberapa karakter saya rasa tidak begitu kuat dai kesepuluh sekawan dan hanya beberapa yang saya anggap sangat menonjol, semacam kurang proporsional gitu. Karena hal tersebut saya melihatnya beberapa tokoh malah digendong oleh karakter tokoh lainnya tanpa memberikan suatu peran yang berarti. Justru beberapa tokoh sampingan banyak diceritakan dan lebih berkarakter dibandingkan sepuluh sekawan itu.

Jika kita lihat gambaran besarnya, sepuluh sekawan ini tetaplah diceritakan dengan baik dan fokus oleh sang penulis, jikalau proporsi masing masing karakter dalam sepuluh sekawan tersebut kurang optimum cukup masuk akal dan bisa dimaklumi sih karena untuk membuat 10 tokoh tersebut bukanlah hal yang mudah seperti yang dituliskan oleh sang penulis pada paragraf awal.

Ada satu lagi yang saya cukup sayangkan dari buku ini adalah, tokoh sepuluh sekawan pada akhir akhir cerita kenapa tergambar begitu keren ya, seolah kebodohan mereka yang dulu hilang begitu saja setelah rencana rencana mereka berakhir, meski ada satu kejadian konyol terjadi setelah rencana mereka berhasil dilaksanakan namun pada bagian akhir cerita sentuhan sentuhan kejenakaan yang kecil namun ngena yang pada awal awah terhambur begitu saja tiba tiba hilang dan muncul lah sosok baru yang benar benar beda dan keren.

Salah satu isi dalam buku Oran-orang Biasa (Sumber Gambar: Bentang Pustaka)

Ini sebuah cerita tentang kehidupan penghuni bangku belakang yang selama ini diidentikan dengan murid murid begundal dan bodoh, yup cukup begundal dan bodoh digambarkan pula dibuku ini. Namun lihat lah saat mereka bersatu dan beraksi, mereka tetaplah begundal dan bodoh. Namun mereka tidak dapat disepelekan dan direndahkan karena merka juga bisa hebat.

Ada suatu padangan saya tentang orang orang yang selama ini selalu duduk di bangku belakang, ini dari saya yang duduk di dua baris terdepan ya. Hal ini baru saya renungkan akhir akhir ini stelah membaca buku orang orang biasa.

“Orang orang bangku belakang bukanlah orang orang yang paling sedikit mendapatkan pelajaran di kelas. Bila orang orang yang duduk didepan belajar pada guru [saja]. Orang orang di bangku belakang lebih dari itu, mereka tidak hanya belajar dari guru, tetapi belajar pula dari murid murid lain didepan mereka, tidak hanya soal pelajaran tetapi juga tentang kehidupan” . Oleh karena itu adalah suatu yang sangat mungkin jikalau esok mereka justru lebih berhasil dari pada orang orang yang duduk di bangku depan #Kayaknyabegitusih

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa sekian dulu dari saya, saya merekomendasikan buku ini untuk teman teman baca sebagai salah satu hiburan sembari menikmati teh atau kopi. Karena buku ini sangat layak untuk dibaca hehehe

Salam hangat dari orang orang biasa

Dewa Putu AM

BencanaDaily LifeLingkunganOpiniUncategorized

[Opini]Mencari sosok “Sexy Killer” di karya Watchdoc.

April 16, 2019 — by dewaputuam0

Sexy-Killers-01-2-960x654.jpeg

Kemarin sore banyak dari teman saya yang membagikan sebuah video dokumenter karya Watchdoc yang berjudul Sexy Killer. Hanya dari tumbnailnya sudah dapat terlihat ini tentang batubara karena disana secara eksplisit ditampilkan terdapat sebuah kapal tongkang sedang mengangkut segunung batu bara yang saya tidak tahu akan mengarah kemana.

Tumbnail sebuah film dokumenter karya Watchdoc yang berjudul “Sexy Killer” yang sedang hangat diperbincangkan saat ini. Apa yang membuatnya Sexy? (Sumber Gambar, Geotimes)

Awalnya saya hanya tertarik menonton trilernya saja karena full video cukup panjang yakni 01:28:55. Cukup panjang untuk sebuah video yang disebarkan melalui youtube. Yang menurut hemat saya sebuah video yang menarik biasanya sekitar 4-8 menit saja jikalau panjang cukuplah sampai belasan menit, karena itu sudah sangat membosankan dan terlalu lama. “Lalu apakah hal penting yang disampaikan dalam video ini sehingga teman teman saya bersama lebih dari 6 juta orang lainnya menonton dan membagikan sebuah video yang sangat panjang tersebut? Hal sexy apakah yang sedang dibahas disana?” Atas dasar rasa penasaran tersebut akhirnya saya “menyisihkan” satu setengah jam saya untuk menonton film dokumenter itu, sembari bertanya tanya siapa gerangan si sexy killer itu. (Hingga Tanggal 16 April 2019 Pukul 13.14, video tersebut telah di lihat oleh 6,076,798 orang )

Video ini diawali dengan sebuah cuplikan video sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu di sebuah hotel yang mewah. Dari sini ditampilkan pula barang barang elektronik yang kita sering jumpai dalam kehidupan sehari hari beserta besaran energi yang dikonsumsinya. Dan kemudian diakhir cuplikan menggantung tersebut terdengarlah kata kata gaib nan ajaib

“Kita semua tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari hari adalah bagaimana listrik bisa sampai ke ruangan ini”

Setelah kata kata itu secara ajaib muncul, seketika saya berharap muncul kata kata “iklan layanan masyarakat ini didukung oleh bla bla bla dan bla.” Namun ternyata tidak, cuplikan ini bukanlah akhir, namun adalah awal karena dalam cuplikan selanjutnya justru mereka mengawali apa yang akan mereka ceritakan selanjutnya dari sebuah ledakan di tambang batubara.

Ijinkan saya sedikit menceritakan hal apa yang disampaikan dalam video tesebut

Lubang galian tambang di Kalimantan Timur yang dibiarkan menganga begitu saja tanpa pengelolaan yang baik dan benar dan kemudian menimbulkan banyak korban yang kebanyakan adalah anak anak karena tenggelam. (Sumber Gambar CNN Indonesia)

Dari sinilah kemudian sang pembuat video dengan indah dan jeniusnya menggambarkan masalah masalah apa yang dulu bahkan sampai sekarang sedang terjadi di pertambangan kita, baik dari hulu hingga hilir. Cerita ini diawali dengan kisah kisah bermasalahnya pertambangan batu bara itu sendiri dimana keberadan tambang batu bara merampas hidup dan penghidupan masyarakat sekitar yang sebelumnya dibawa pemerintah untuk membangun pertanian di daerah tersebut. Dan ironisnya pemerintah pula lah yang kemudian merusak penghidupan mereka sebagai petani dengan membangun tambang batu bara.

Permasalahan yang ada kemudian dibuka secara perlahan oleh sang empunya video. Mulai dari permasalahan ruang tambang yang abai bahkan mengorbankan penghidupan dan hidup masyarakat sekitar. Lahan lahan pertanian dan tempat tinggal mereka terus diusik dan diusir secara perlahan oleh tambang. Keberadaannnya yang sangat dekat dengan lingkungan publik, menyebabkan banyaknya permasalahan kemudian timbul dari rusaknya pencarian dan tempat tinggal hingga hilangnya beberapa nyawa anak anak tak berdosa. Dan biadabnya hal ini kemudian dikatakan pemerintah setempat dalam sebuah wawancara sebagai suatu hal yang biasa, sembari terkekeh kekeh dan berkelakar seolah membahas opera sabun yang di tontonnya semalam.

Dari cuplikan ini saya semakin penasaran apa apa saja yang akan diceritakan oleh Watchdoc dalam videonya kali ini yang mengundang perhatian sebegitu banyak orang. Video tersebut kemudian beralih pada permasalahan transport dari dari batu bara menuju beberapa PLTU yang ternyata memberikan dampak buruk tersendiri. Dan kemudian menuju karah yang lebih hilir dari usaha pertambangan batu bara yang ternyata banyak berlabuh pada PLTU. Dari kedua sisi tersebut baik permasalahan transport maupun PLTU kemudian berkembang cerita yang tidak kalah getir, menyedihkan dan harus saya akui saya mengetahui kesemua itu dari video yang jujur saja sebelumnya tidak menarik bagi saya.

Bahkan melalui video ini pula mereka menunjukan sebuah keberanian yang luar biasa, yang saya bahkan beranggapan mereka sudah seperti kucing yang memiliki 9 nyawa. Dengan beraninya mereka membuka dalang dalang besar yang ada didalam jaringan usaha tambang batu bara Indonesia yang tentunya bukan main main lagi tinggi,penting dan berkuasanya posisi para dalang itu di Indonesia saat ini. Dengan beraninya mereka menyebutkan satu persatu pembesar pembesar beserta perusahan perusahaan tambang pengeruk rupiah yang mereka kelola. Big salute for you all guys.

Kemudian muncul pertanyaan, Siapa si sexy itu dan apa maksud dari film ini

Secara sederhana dan tanpa upaya mungkin akan banyak yang beranggapan bahwa si sexy killer yang dimaksud dalam film dokumenter ini adalah para dalang dan penggede dibalik usaha tambang yang mereka gerakan. Ia tampak keren, gagah dan elegan namun dibalik semua itu mereka secara tidak langsung adalah dalang dari segala pembunuhan yang ada dan ditampilkan dalam film dokumenter ini. Dan sebagian lainnya yang mungkin tidak mampu membeli kuota internet dan hanya mampu melihat potongan awal film, si sexy killer mungkinlah sosok pasangan muda yang sedang ber bulan madu itu hehehe.

Saya tidak akan mengatakan kedua pandangan diatas adalah pandangan yang benar ataupun salah. Berkaca dari pandangan pertama tentang diungkapnya para tokoh tokoh negara baik di sisi petahanan dan penantang yang ternyata berandil besar dalam jejaring usaha pertambangan yang banyak menelan korban. Isu ini tampaknya menjadi isu yang sexy mengingat hanya dalam hitungan beberapa jam lagi kita akan melaksanakan pemilu serentak. Hal ini kemudian menimbulkan sedikit kekhawatiran terhadap munculnya aksi kekecewaan dan ketidak percayaan yang pada akhirnya memicu aksi golput saat pemilu.

Ada sebagian yang mungkin akan seperti itu, namun saya yakin orang yang golput karena video ini jumlahnya tidak akan begitu banyak. Mengingat sebenarnya video ini tidaklah begitu sexy dimata masyarakat sekarang, yang dalam hal ini dapat terlihat dari trending youtube yang ada hari ini yaitu video Boyband BTS, Epic Rap Battles Of Presidency (ini masih okelah) dan video berfaedah macam Nyusul Gempi ke Bali serta kejadian luar biasa tentang Limbat yang akhirnya bisa berbicara.

Tampaknya harus kita akui bahwa Isu lingkungan bukanlah suatu isu yang sexy di mata masyarakat kita. Atau setidaknya tidaklah jauh sexynya bila dibandingkan tentang isu tentang gempi yang di jemput kebali juga limbat yang akhirnya berbicara akibat terkena prank.

Mengungkap siapa si Sexy Killer sesungguhnya?

Untuk menjadi menarik dan kemudian banyak diperbincangkan, isu lingkungan dalam video ini akhirnya kemudian menempel pada isu yang lebih seksi dan tentunya sangat tepat bila dibahas saat ini yaitu “Politik”. Dengan gagah berani mereka membuka jejaring dalang yang menggerakan pertambangan batu bara di Indonesia yang berasal dari kubu petahanan maupun kubu penantang.

Kesemua parade dan kisah itu saya rasa sebenarnya diajukan kepada sosok sang “sexy killer” sesungguhnya yang selama ini selalu bersembunyi dan terus mengukir kisah pembunuhan ini tanpa merasa bersalah. Sexy killer yang merupakan dalang dari semua dalang yang ditampilkan dalam video ini. Sosok sexy killer itu sampai saat ini terus bersembunyi dan menyangkal apa yang diperbuatnya saat ini.

Film dokumenter ini merupakan suatu jebakan yang dibuat sedemikian apik oleh watchdoc. Dan harus saya akui jebakan itu cukup berhasil. Mereka cukup berhasil setidaknya menjebak lebih dari 6 juta para sexy killer tersebut. Yup saya menyebut 6 juta para sexy kiler yang tidak lain adalah diri kita sendiri.

Kita adalah hilir dari usaha batu bara tersebut, hal inilah kenapa video ini hanya menampilkan pada PLTU dan tidak lebih jauh lagi. Kita adalah pasar yang sexy, dengan keluhan kita akan listrik yang byar pet pada pemerintah dan dibarengi dengan kerakusan kita akan energi listrik menjadikan kebutuhan listrik kita sangatlah besar, bukan hanya pada hal hal yang benar benar penting namun pula pada hal hal yang cenderung membuang dan menyianyiakan. Kita lah sang sexy killer yang dengan begitu sexy digoda diperebutkan perhatiannya oleh para dalang batu bara melalui layanan listrik mereka dan oleh para pegiat lingkungan yang terus berupaya mengambil perhatian dengan segala cara berteriak, beraksi untuk sekedar mengingatkan bahwa alam kita tidak sedang baik baik saja.

Kelanjutan dan akhir cerita ini tidak semuanya secara eksplisit diberikan pada video mereka tetapi dilanjutan pula pada kometar dan reaksi para penontonnya di kolom komentar, di media media pengutaraan pendapat, media sosial, media chat, media diskusi, dan aksi aksi nyata lainnya. Melalui video “Sexy Killer”, watchdoc menceritakan sebuah kisah tanpa tanda titik, yang menyerahkan kelanjutan cerita kepada sang pembunuh seksi itu sendiri. Apakah kan berakhir mengambang dan menghilang perlahan sama seperti kisah kisah yang mereka awali sebelumnya, atau akan ada yang berbeda dari awal kisah ini.

Ijinkan saya mengakhiri tulisan ini menggunakan frasa yang sebelumnya saya tergelitik mendengarnya, yang juga merupakan frasa awal mereka untuk memulai cerita mereka, tentunya dengan sedikit perubahan diksi serta suasana :).

“Kita semua tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari hari adalah bagaimana intrik bisa sampai ke ruangan ini”

(dewa, terinspirasi dari Video Sexy Killer By Watchdoc)

Berikut link video lengkap yang berjudul Sexy Killer karya Watchdoc yang saya bahas dalam tulisan saya hari ini. Saya salut pada perancang dan pembuatan karya ini. Sebuah karya yang bagus dan menginspirasi dan saya yakin bahwa banyak sekali usaha dan segala hal telah dikorbankan untuk membuat karya luar biasa ini.

Meskipun demikian sudah menjadikan keharusan bagi saya untuk memberikan sedikit ruang untuk keraguan untuk segala hal yang kita temui. Bahkan untuk video yang luar biasa ini. Mungkin tidak semua yang disampaikan dalam video ini adalah sebuah kebenaran, baik itu karena kurangnya informasi ataupun kepentingan tertentu. Namun jauh dari semua itu video ini tetaplah sebuah karya yang bagus dan menarik untuk di tonton dengan durasi panjangnya itu. Sekian dari saya,

Salam hangat dari saya, bagian dari sexy killer

Dewa Putu AM.

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

[Opini] Ketika Komunikasi Berpindah dari Bibir ke Jemari

April 10, 2019 — by dewaputuam2

paint-2985569_1920-960x640.jpg

Dulu sekali kita sering mendengar suatu kata-kata bijak tentang kebermanfaatan dan makna dari jumlah masing masing bagian tubuh kita. Suatu kata kata bijak yang sedikit menyampaikan alasan kenapa kita punya dua mata, kita punya dua telinga, kita punya dua lubang hidung, dan kita punya jutaan sensor perasa di seluruh bagian tubuh kita, namun kenapa kita hanya memiliki satu mulut itupun lebih sering tertutup dan terkatup oleh bibir. Jawaban paling mudah untuk pertanyaan pertanyan tersebut adalah “Kehendak Tuhan”, dan tentunya jawaban itupun saya terima serta tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Lagipula, kita juga tentunya menyadari, jumlah jumlah tersebut adalah jumlah bagian tubuh yang ada pada orang kebanyakan, dan ada beberapa orang diluar sana yang diberikan sesuatu itu dengan jumlah yang berbeda, baik berlebih atau kurang.

Mata adalah salah satu jendela antara penghubung kita dan dunia luar, lalu kenapa kita dibekali dua mata dan sautu mulut?, bukankah melalui mulut kita dapat berinteraksi lebih ke dunia luar, Dan kini semua berubah ketika jemari menggantikan bibir untuk berucap (Sumber Gambar by Alexandr Ivanov from Pixabay)

Terlepas dari jawaban tersebut, dan dengan tidak mengurangi rasa hormat bagi orang orang yang memiliki kondisi perbedaan dengan orang kebanyakan, melalui tulisan ini saya ingin sedikit berdiskusi sekaligus menyampaikan suatu kegelisahan yang saya rasakan. Ini tentang apa yang terjadi disekitar saya dan juga saya yakin terjadi juga di sekitar kalian. Hal ini berkaitan dengan sebuah pemahaman tentang jumlah bagian tubuh kita.

Makna Lalu yang Dulu Pernah Ada Untuk Menjelaskan Jumlah Itu

Jika kita bertanya kepada orang orang dulu maka beberapa akan menjawab bahwa jumlah bagian tubuh kita diseting dengan sedemikian rupa, dengan dua mata, dua telinga, dua lubang hidung serta jutaan sensor dikulit, namun hanya satu mulut agar kita lebih memahami dulu apa yang sedang kita hadapi. Untuk lebih banyak memahami apa yang sedang kita hadapi baik secara visual, suara, aroma, maupun teksturnya; kita harus cara lebih banyak melihat, lebih banyak mendengar, lebih banyak ‘merasakan aroma’ dan lebih banyak kontak langsung pada apa yang kita hadapi itu. Setelah memahami dengan dalam barulah kemudian kita ungkapkan dan berucap melalui perkataan namun cukup sedikit saja dan seperlunya. Kita harus banyak “merasakan” dan menjaga ucapan. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang bijak yang selalu banyak terdiam sembari ia melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi, dan sekalinya ia berucap itu tepat sasaran dan cukup, tidak lebih dan tidak kurang.

Secara natural kita diciptakan untuk lebih banyak menikmati dunia luar dibandingkan menghabiskan waktu untuk berucap.Ada suatu hal yang menarik dengan alasan dan manfaat kenapa kita memiliki dua mata. Ini berhubungan dengan kemampuan kita untuk menangkap dan memvisualisasikan objek dalam ruang 3 Dimensi. Kemampuan ini disebut dengan stereoscopic vision. Yang pada intinya adalah kemampuan otak untuk menampalkan dua hasil rekaman visual dari masing masing mata dan menciptakan suatu informasi dari dua sisi yang berbeda dan kemudian di simpulkan sebagai informasi kedalaman objek visual. Hal yang sama juga terjadi pada indriawi kita baik itu indra pendengar, pembau dan perasa kita. Yang kesemuanya di desain untuk memahami lingkungan secara 3 dimensi.

Gambaran Konsep stereoscopic vision, Inilah yang menyebabkan kita dapat memahami kedalaman visual berupa jarak dari suatu objek dan bentuk yang lebih presisi.

Bagian bagian tubuh kita dibuat untuk memahami lingkungan sekitar kita dalam bentuk tiga dimensinya, baik itu visual maupun dari audionya. Kita di desiain sedemikian rupa untuk melihat, mendengar dan merasakan lingkungan dalam bentuk tiga dimensinya, sehingga kita dapat memahami seberapa jauh suatu objek dan berada dimana dia, apakah ia bersuara melengking di sebelah utara dan bersuara berat di bagian selatan apakah lebih hangat bagian timur dibanding barat, semua itu disediakan secara gamblang melalui jendela jendela indrawi kita. Dan kemudian muncullah suatu pertanyaan besar, kenapa kita hanya diberikan satu bibir untuk berucap? Pertanyaan ini akan memunculkan jawaban yang beraneka ragam, namun bagi saya yang paling sesuai dan masuk akal adalah agar kita lebih memahami dahulu daripada berucap, atau dengan kata kata anak sekarang “Jangan ‘banyak’ bacot kalau belum tau paham”.

Dari Bibir Berpindah ke Jemari, Semua yang dulu Ada dan Terkendali Seketika Berubah

Dijaman yang katanya kian canggih ini bermunculan alat alat bantu dan pengganti budaya kita berkomunikasi. Jika dulu kita harus banyak melihat dengan “dua mata” kita dan banyak mendengar melalui “dua telinga” kita kemudian bersuara lantang untuk didengar dan dilihat oleh lingkungan, kini kita hanya perlu melihat “satu” layar berpendar dan kemudian mulai menari dengan “dua hingga sepuluh jemari” kita untuk sekedar melontarkan ujuaran, entah itu ujaran yang bermakna dalam ataupun ujaran tanpa makna sekalipun.

Visual tentang tentang kita yang kini melihat melalui satu “Jendela” dan kemudian berinteraksi dengan menggunakan 2 hingga 10 jemari yang menari. (Sumber Gambar Robinraj Premchand from Pixabay)

Telah terjadi suatu pergeseran besar yang terjadi pada diri kita, cara kita memahami lingkungan kita dan juga cara kita berinteraksi dengannya. Jika sebelumnya ada pemahaman bijak yang menggambarkan keharusan kita untuk lebih banyak memahami baru kemudian berujar seperlunya. Kini semua berubah, melalui “satu layar berpendar” itu kita sudah bisa dan layak untuk memberikan reaksi dengan “dua jari” bahkan dengan “sepuluh jemari kita”. Kita kini hanya perlu dan ingin memahami melalui satu layar itu saja dan merasa berhak mengujarkan dan mengucapkan ribuan kata bahkan ujaran tanpa makna sekalipun.

Hal ini tampaknya terlihat dan terdengar sangat menyedihkan, dan ini pula lah yang menjadi kegelisahan saya. Tentunya hal itu juga tidak hanya berdampak dan terjadi pada orang orang di sekitar saya. Harus saya akui bahwasanya sayapun juga terdampak serius akan hal itu. Sayapun lebih banyak berucap dan bereaksi ketimbang sekedar memahami. Tampak bodoh dan tampak naif bila saya tidak mengaku hal itu.

Akan tetapi, sejenak saya berpikir, benar benar sejenak, sesejenak saat saya membuat tarian jemari untuk menuliskan tulisan ini saya sadar bahwa saya melupakan satu hal yang sebenarnya ada. Namun semua kabut pikiran pesimistik saya menjauhkan saya dari kenyataan itu. Ini tentang suatu kenyataan bahwa meskipun kita hanya melihat di “satu layar berpendar saja” namun untuk melihat dan mendengarkan itu kita masih masih menggunakan “dua mata” kita dan “dua telinga” kita. Dan meskipun kita menuliskan ujaran kegelisahan kita melalui “dua jari” bahkan “sepuluh jari”, sebelum tertulis dengan rapi tentunya diolah pada “satu otak” kita dan juga “satu sumsum tulang belakang kita”. (saya ingin berkata “satu hati” kemudian saya urungkan karena saya sedikit kurang setuju dan tidak pernah mendengar bahwa hati juga secara harafiah memiliki fungsi untuk berpikir).

Kesemua itu bermakna, meskipun kini kita hanya melihat melalui satu layar dan berucap melalui 2 hingga 10 jemari, namun sebenarnya kuasa itu masih ada pada diri kita, Dengan dua mata kita dapat melihat lingkungan di luar kotak pendar, atau bahkan jika perlupun kita dapat menggunakan 10 jemari kita untuk memilah dan memilih sudut pandang yang ditampilkan pada layar berpendar itu. Barulah kemudian kita mengolahnya dalam pikiran dan “hati” kita untuk kemudian dapat dengan cepat kita berikan reaksi melalui 10 jemari kita yang menari dan menyair sebuah ujaran yang bermakna dan menyejukan.

Itupun jika otak dan hati kita compatible tengan pergeseran yang terjadi pada jaman ini. Yah jikapun tidak sesuai, yang terjadi biarlah yang terjadi. Bermunculanlah kata kata kosong tanpa makna yang keluar dan bertebaran didalam jagat dunia maya kita. Kita tidak boleh protes dengan hal tersebut. Dunia yang sekarang terjadi memanglah seperti itu dan selalu disusun oleh bilangan digital 1 dan 0. Yah anggap saja orang orang yang masih sadar dan menjaga dalam berucap adalah orang orang yang memiliki otak yang hanya 1. Dan kemudian yang lainnya, ah sudah lah saya tidak ingin panjang lebar lagi. Cukup sekian dari saya.

Salam Hangat

Dewa Putu AM