main

BencanaDaily LifeLingkunganOpiniUncategorized

[Opini]Mencari sosok “Sexy Killer” di karya Watchdoc.

April 16, 2019 — by dewaputuam0

Sexy-Killers-01-2-960x654.jpeg

Kemarin sore banyak dari teman saya yang membagikan sebuah video dokumenter karya Watchdoc yang berjudul Sexy Killer. Hanya dari tumbnailnya sudah dapat terlihat ini tentang batubara karena disana secara eksplisit ditampilkan terdapat sebuah kapal tongkang sedang mengangkut segunung batu bara yang saya tidak tahu akan mengarah kemana.

Tumbnail sebuah film dokumenter karya Watchdoc yang berjudul “Sexy Killer” yang sedang hangat diperbincangkan saat ini. Apa yang membuatnya Sexy? (Sumber Gambar, Geotimes)

Awalnya saya hanya tertarik menonton trilernya saja karena full video cukup panjang yakni 01:28:55. Cukup panjang untuk sebuah video yang disebarkan melalui youtube. Yang menurut hemat saya sebuah video yang menarik biasanya sekitar 4-8 menit saja jikalau panjang cukuplah sampai belasan menit, karena itu sudah sangat membosankan dan terlalu lama. “Lalu apakah hal penting yang disampaikan dalam video ini sehingga teman teman saya bersama lebih dari 6 juta orang lainnya menonton dan membagikan sebuah video yang sangat panjang tersebut? Hal sexy apakah yang sedang dibahas disana?” Atas dasar rasa penasaran tersebut akhirnya saya “menyisihkan” satu setengah jam saya untuk menonton film dokumenter itu, sembari bertanya tanya siapa gerangan si sexy killer itu. (Hingga Tanggal 16 April 2019 Pukul 13.14, video tersebut telah di lihat oleh 6,076,798 orang )

Video ini diawali dengan sebuah cuplikan video sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu di sebuah hotel yang mewah. Dari sini ditampilkan pula barang barang elektronik yang kita sering jumpai dalam kehidupan sehari hari beserta besaran energi yang dikonsumsinya. Dan kemudian diakhir cuplikan menggantung tersebut terdengarlah kata kata gaib nan ajaib

“Kita semua tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari hari adalah bagaimana listrik bisa sampai ke ruangan ini”

Setelah kata kata itu secara ajaib muncul, seketika saya berharap muncul kata kata “iklan layanan masyarakat ini didukung oleh bla bla bla dan bla.” Namun ternyata tidak, cuplikan ini bukanlah akhir, namun adalah awal karena dalam cuplikan selanjutnya justru mereka mengawali apa yang akan mereka ceritakan selanjutnya dari sebuah ledakan di tambang batubara.

Ijinkan saya sedikit menceritakan hal apa yang disampaikan dalam video tesebut

Lubang galian tambang di Kalimantan Timur yang dibiarkan menganga begitu saja tanpa pengelolaan yang baik dan benar dan kemudian menimbulkan banyak korban yang kebanyakan adalah anak anak karena tenggelam. (Sumber Gambar CNN Indonesia)

Dari sinilah kemudian sang pembuat video dengan indah dan jeniusnya menggambarkan masalah masalah apa yang dulu bahkan sampai sekarang sedang terjadi di pertambangan kita, baik dari hulu hingga hilir. Cerita ini diawali dengan kisah kisah bermasalahnya pertambangan batu bara itu sendiri dimana keberadan tambang batu bara merampas hidup dan penghidupan masyarakat sekitar yang sebelumnya dibawa pemerintah untuk membangun pertanian di daerah tersebut. Dan ironisnya pemerintah pula lah yang kemudian merusak penghidupan mereka sebagai petani dengan membangun tambang batu bara.

Permasalahan yang ada kemudian dibuka secara perlahan oleh sang empunya video. Mulai dari permasalahan ruang tambang yang abai bahkan mengorbankan penghidupan dan hidup masyarakat sekitar. Lahan lahan pertanian dan tempat tinggal mereka terus diusik dan diusir secara perlahan oleh tambang. Keberadaannnya yang sangat dekat dengan lingkungan publik, menyebabkan banyaknya permasalahan kemudian timbul dari rusaknya pencarian dan tempat tinggal hingga hilangnya beberapa nyawa anak anak tak berdosa. Dan biadabnya hal ini kemudian dikatakan pemerintah setempat dalam sebuah wawancara sebagai suatu hal yang biasa, sembari terkekeh kekeh dan berkelakar seolah membahas opera sabun yang di tontonnya semalam.

Dari cuplikan ini saya semakin penasaran apa apa saja yang akan diceritakan oleh Watchdoc dalam videonya kali ini yang mengundang perhatian sebegitu banyak orang. Video tersebut kemudian beralih pada permasalahan transport dari dari batu bara menuju beberapa PLTU yang ternyata memberikan dampak buruk tersendiri. Dan kemudian menuju karah yang lebih hilir dari usaha pertambangan batu bara yang ternyata banyak berlabuh pada PLTU. Dari kedua sisi tersebut baik permasalahan transport maupun PLTU kemudian berkembang cerita yang tidak kalah getir, menyedihkan dan harus saya akui saya mengetahui kesemua itu dari video yang jujur saja sebelumnya tidak menarik bagi saya.

Bahkan melalui video ini pula mereka menunjukan sebuah keberanian yang luar biasa, yang saya bahkan beranggapan mereka sudah seperti kucing yang memiliki 9 nyawa. Dengan beraninya mereka membuka dalang dalang besar yang ada didalam jaringan usaha tambang batu bara Indonesia yang tentunya bukan main main lagi tinggi,penting dan berkuasanya posisi para dalang itu di Indonesia saat ini. Dengan beraninya mereka menyebutkan satu persatu pembesar pembesar beserta perusahan perusahaan tambang pengeruk rupiah yang mereka kelola. Big salute for you all guys.

Kemudian muncul pertanyaan, Siapa si sexy itu dan apa maksud dari film ini

Secara sederhana dan tanpa upaya mungkin akan banyak yang beranggapan bahwa si sexy killer yang dimaksud dalam film dokumenter ini adalah para dalang dan penggede dibalik usaha tambang yang mereka gerakan. Ia tampak keren, gagah dan elegan namun dibalik semua itu mereka secara tidak langsung adalah dalang dari segala pembunuhan yang ada dan ditampilkan dalam film dokumenter ini. Dan sebagian lainnya yang mungkin tidak mampu membeli kuota internet dan hanya mampu melihat potongan awal film, si sexy killer mungkinlah sosok pasangan muda yang sedang ber bulan madu itu hehehe.

Saya tidak akan mengatakan kedua pandangan diatas adalah pandangan yang benar ataupun salah. Berkaca dari pandangan pertama tentang diungkapnya para tokoh tokoh negara baik di sisi petahanan dan penantang yang ternyata berandil besar dalam jejaring usaha pertambangan yang banyak menelan korban. Isu ini tampaknya menjadi isu yang sexy mengingat hanya dalam hitungan beberapa jam lagi kita akan melaksanakan pemilu serentak. Hal ini kemudian menimbulkan sedikit kekhawatiran terhadap munculnya aksi kekecewaan dan ketidak percayaan yang pada akhirnya memicu aksi golput saat pemilu.

Ada sebagian yang mungkin akan seperti itu, namun saya yakin orang yang golput karena video ini jumlahnya tidak akan begitu banyak. Mengingat sebenarnya video ini tidaklah begitu sexy dimata masyarakat sekarang, yang dalam hal ini dapat terlihat dari trending youtube yang ada hari ini yaitu video Boyband BTS, Epic Rap Battles Of Presidency (ini masih okelah) dan video berfaedah macam Nyusul Gempi ke Bali serta kejadian luar biasa tentang Limbat yang akhirnya bisa berbicara.

Tampaknya harus kita akui bahwa Isu lingkungan bukanlah suatu isu yang sexy di mata masyarakat kita. Atau setidaknya tidaklah jauh sexynya bila dibandingkan tentang isu tentang gempi yang di jemput kebali juga limbat yang akhirnya berbicara akibat terkena prank.

Mengungkap siapa si Sexy Killer sesungguhnya?

Untuk menjadi menarik dan kemudian banyak diperbincangkan, isu lingkungan dalam video ini akhirnya kemudian menempel pada isu yang lebih seksi dan tentunya sangat tepat bila dibahas saat ini yaitu “Politik”. Dengan gagah berani mereka membuka jejaring dalang yang menggerakan pertambangan batu bara di Indonesia yang berasal dari kubu petahanan maupun kubu penantang.

Kesemua parade dan kisah itu saya rasa sebenarnya diajukan kepada sosok sang “sexy killer” sesungguhnya yang selama ini selalu bersembunyi dan terus mengukir kisah pembunuhan ini tanpa merasa bersalah. Sexy killer yang merupakan dalang dari semua dalang yang ditampilkan dalam video ini. Sosok sexy killer itu sampai saat ini terus bersembunyi dan menyangkal apa yang diperbuatnya saat ini.

Film dokumenter ini merupakan suatu jebakan yang dibuat sedemikian apik oleh watchdoc. Dan harus saya akui jebakan itu cukup berhasil. Mereka cukup berhasil setidaknya menjebak lebih dari 6 juta para sexy killer tersebut. Yup saya menyebut 6 juta para sexy kiler yang tidak lain adalah diri kita sendiri.

Kita adalah hilir dari usaha batu bara tersebut, hal inilah kenapa video ini hanya menampilkan pada PLTU dan tidak lebih jauh lagi. Kita adalah pasar yang sexy, dengan keluhan kita akan listrik yang byar pet pada pemerintah dan dibarengi dengan kerakusan kita akan energi listrik menjadikan kebutuhan listrik kita sangatlah besar, bukan hanya pada hal hal yang benar benar penting namun pula pada hal hal yang cenderung membuang dan menyianyiakan. Kita lah sang sexy killer yang dengan begitu sexy digoda diperebutkan perhatiannya oleh para dalang batu bara melalui layanan listrik mereka dan oleh para pegiat lingkungan yang terus berupaya mengambil perhatian dengan segala cara berteriak, beraksi untuk sekedar mengingatkan bahwa alam kita tidak sedang baik baik saja.

Kelanjutan dan akhir cerita ini tidak semuanya secara eksplisit diberikan pada video mereka tetapi dilanjutan pula pada kometar dan reaksi para penontonnya di kolom komentar, di media media pengutaraan pendapat, media sosial, media chat, media diskusi, dan aksi aksi nyata lainnya. Melalui video “Sexy Killer”, watchdoc menceritakan sebuah kisah tanpa tanda titik, yang menyerahkan kelanjutan cerita kepada sang pembunuh seksi itu sendiri. Apakah kan berakhir mengambang dan menghilang perlahan sama seperti kisah kisah yang mereka awali sebelumnya, atau akan ada yang berbeda dari awal kisah ini.

Ijinkan saya mengakhiri tulisan ini menggunakan frasa yang sebelumnya saya tergelitik mendengarnya, yang juga merupakan frasa awal mereka untuk memulai cerita mereka, tentunya dengan sedikit perubahan diksi serta suasana :).

“Kita semua tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari hari adalah bagaimana intrik bisa sampai ke ruangan ini”

(dewa, terinspirasi dari Video Sexy Killer By Watchdoc)

Berikut link video lengkap yang berjudul Sexy Killer karya Watchdoc yang saya bahas dalam tulisan saya hari ini. Saya salut pada perancang dan pembuatan karya ini. Sebuah karya yang bagus dan menginspirasi dan saya yakin bahwa banyak sekali usaha dan segala hal telah dikorbankan untuk membuat karya luar biasa ini.

Meskipun demikian sudah menjadikan keharusan bagi saya untuk memberikan sedikit ruang untuk keraguan untuk segala hal yang kita temui. Bahkan untuk video yang luar biasa ini. Mungkin tidak semua yang disampaikan dalam video ini adalah sebuah kebenaran, baik itu karena kurangnya informasi ataupun kepentingan tertentu. Namun jauh dari semua itu video ini tetaplah sebuah karya yang bagus dan menarik untuk di tonton dengan durasi panjangnya itu. Sekian dari saya,

Salam hangat dari saya, bagian dari sexy killer

Dewa Putu AM.

BencanaDaily LifeKlimatologiUncategorized

Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Selalu Terlindung dan Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya

April 12, 2019 — by dewaputuam4

GretaThunberg_2018X-embed-960x540.jpg
Ilustrasi yang digunakan dalam Petisi Change.org untuk memberikan dukungan agar ditegakaannya keadilan untuk Audrey, saya tidak tahu ilustrasi ini karyanya siapa tetapi saya mendapatkan gambar ini dari liputan6.com

Awalan namun Bukan Awal dari Kisah Panjang “Rantai” Pembulian Ini

Dalam dua hari belakangan ini banyak sekali beredar pemberitaan terkait kasus pembulian keji yang berlangsung di Pontianak dengan korban serta pelaku merupakan anak anak di bawah umur. Pembahasan kian memanas dan menajam ketika muncul sebuah wacana damai dan tidak melanjutkan ke ranah hukum oleh KPAI setempat.

Dari sinilah para netijen yang mungkin sudah geram dengan maraknya kasus pembulian yang berujung pada ketidakadilan bagi sang korban akhirnya mengambil peran. Tagar #Justiceforaudrey pun membahana di jagat dunia maya, namun sayangnya pula ada beberapa segelitir orang yang justru terperosok pada aksi aksi CyberBullying.

Terlepas dari aksi-aksi tidak terpuji oleh sebagian kecil simpatisan bersumbu pendek yang ikut ikutan menggunakan semangat tagar #Justiceforaudrey, mayoritas dari kita tentunya sepakat bahwa apapun itu aksinya bullying adalah sebuah aksi yang jahat dan para pelakunya harus di hukum seberat beratnya.

Kejadian yang memicu tagar tersebut bukanlah suatu peristiwa remeh dan sekedarnya saja, ini adalah salah satu contoh kecil dari sekian banyak pembulian-pembulian yang semakin hari kian mengkhawatirkan, jika semua ini selalu dibiarkan dan diselesaikan terlalu lembek tanpa ada tindakan tegas yang memberikan efek jera ditakutkan kejadian kejadian ini akan semakin menjadi jadi.

Perilaku Bully Ada di Sekitar Kita dan “Sangat Dekat” dengan Kita

Greta Thunberg adalah Salah Satu Korban Pembullyan Tersadis yang Pernah Terjadi di Dalam Sejarah Ini dan Berani Berbicara Lantang Dan Beraksi Melawan Para Pembullynya.

Aksi bully baik itu berupa tindakan verbal maupun fisik akan terus diingat dan berdampak panjang bagi para korbannya. Beberapa bahkan dapat merengut masa depan para korban. Atau dalam situasi yang sangat ekstrim dapat merengut nyawa sang korban.

Sudah seperti pengetahuan umum bahwa aksi bullying seringkali terjadi di sekitar kita atau justru mungkin kita juga pernah berada dipihak sang korban dan bukan hal yang tidak mungkin kitalah sang pelaku bullying tersebut baik secara sadar maupun tidak sadar. Perilaku Mem-Bully dapat hadir dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Mulai dari orang dewasa, remaja hingga anak anak. Korbannya pun sangat beragam baik dari segi umur, jenis kelamin, pekerjaan dan status sosialnya.

Bahkan pada beberapa kasus ternyata juga terjadi bullying tidak hanya terjadi pada Manusia namun juga pada hewan. Seperti berita heboh tentang pengecetan monyet di Taiwan dan beberapa berita berita lainnya seperti penganiayaan orang utan yang dulu sempat menjadi pemberitaan di media nasional.

Saya ingin mencoba merunut kembali apa apa saja yang sebelumnya kita bahas bersama. Pertama, bahwa aksi pembulian apapun itu baik verbal apalagi fisik adalah sebuah tindakan yang jahat dan dalam kondisi terjentu sudah masuk pada tindak kejahatan. Kedua, aksi pembulian akan berdampak besar dan panjang bagi para korbannya, hal inilah yang kemudian kita perlu memperjuangkan keadilan untuk para korbannya. Ketiga, Pembullian yang yang sudah masuk kedalam tindakan jahat (kriminal) harus diproses secara hukum jika perlu harus dihukum seberat beratnya siapapun itu pelakunya agar menimbulkan efek jera.

Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Terlihat Jelas namun Selalu Terlindung dan Ia Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya

Setelah berpanjang lebar membahas tentang pembulian yang terjadi saat ini. Ijinkan saya untuk mengungkap sekaligus mengingatkan tentang adanya satu pembully mungkin dapat dikatakan tersadis dalam sejarah yang sampai saat ini terlihat jelas apa yang mereka lakukan, namun sayangnya ia selalu terlindung dan juga bahkan sering tidak mengakui kesalahannya itu. Saya tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan orang orang ini apakah cukup disebut sebagai pembully atau bahkan lebih tepat bila disebut penjahat tersadis?

Hingga saat ini bayak pembulian yang ia lakukan, korbannya juga sudah sangat banyak dan yang paling parah adalah sebuah kenyataan bahwa mereka inilah yang telah merengut masa depan banyak anak bahkan anaknya sendiri. Mereka tahu apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah, namun dengan manufer sangat canggihnya dan segala hal superiornya mereka dapat mengelak dengan dalil demi kemslahatan yang lebih luas merekapun selalu berkilah. Akibat tindakan mereka ini sudah banyak korban kehilangan tempat tinggal, kehilangan masa depan, bahkan kehilangan nyawa. Namun sayangnya mereka tetap diam dan kemudian terus meneruskan pembuliannya itu.

Pembulian ini telah dilakukan mereka sejak lama dan hingga kini pun masih terus berlangsung. Sejak dulu para korban dan orang orang yang sadar terus memperjuangkan keadialan ini. Namun belum ada hasil nyata yang secara signifikan mengurangi pembullyan ini, karena kebanyakan dari kita pun melindunginya. Hukuman apa yang pantas bagi pembully ini? berkaca dari kasus kasus bully lainnya kita selalu bersuara lantang untuk menghukum para pembully? kenapa pada kasus ini kita sendiri sangat lembek dan justru tidak peduli sama sekali. Kita peduli pada pembulian yang terjadi pada satu orang, namun pedulikah kita pada pembulian ratusan, ribuan bahkan jutaan orang lainnya? Tidak, percayakah kalain kalau kita cenderung diam dan bungkam untuk pembully ini. Suara lantang kita seolah tetiba senyap menghadapi pembuli ini.

“Karena kita tahu bahwa “Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Terlihat Jelas namun Selalu Terlindung dan Ia Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya” itu adalah kita sendiri.”

Dewa Putu AM, 2019

Kitalah si jahat itu, yang membulli se isi planet ini, hingga titik paling ekstrim. Ketamakan kita, hingar bingar janji akan kebahagiaan kita telah mengorbankan segalanya dan membawa planet ini berada pada kerusakan teramat berat dan menghancurkan masa depan bumi dan segala macam kehidupan di dalamnya.

Hingga pada pertengahan tahun lalu, muncul lah sebuah gerakan yang di inisiasi oleh seorang anak perempuan bernama Greta Thunberg dari sekolahan di swedia. Sebuah gerakan yang menuntut keadilan dan tanggung jawab akan apa yang hingga saat ini diperbuat oleh generasi kita yang telah dengan semena mena merengut masa depan mereka para generasi muda sang pewaris dunia ini dimasa mendatang.

Hukuman apa yang pantas untuk Kita untuk Semua Ini? Atau jikpun kita sadar, apakah yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan kita itu?

Tentu Sekedar kata tidak dapat menyelesaikan, Kita perlu bertindak #JusticeForEarth #JusticeForFutureGeneration

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

[Opini] Ketika Komunikasi Berpindah dari Bibir ke Jemari

April 10, 2019 — by dewaputuam2

paint-2985569_1920-960x640.jpg

Dulu sekali kita sering mendengar suatu kata-kata bijak tentang kebermanfaatan dan makna dari jumlah masing masing bagian tubuh kita. Suatu kata kata bijak yang sedikit menyampaikan alasan kenapa kita punya dua mata, kita punya dua telinga, kita punya dua lubang hidung, dan kita punya jutaan sensor perasa di seluruh bagian tubuh kita, namun kenapa kita hanya memiliki satu mulut itupun lebih sering tertutup dan terkatup oleh bibir. Jawaban paling mudah untuk pertanyaan pertanyan tersebut adalah “Kehendak Tuhan”, dan tentunya jawaban itupun saya terima serta tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Lagipula, kita juga tentunya menyadari, jumlah jumlah tersebut adalah jumlah bagian tubuh yang ada pada orang kebanyakan, dan ada beberapa orang diluar sana yang diberikan sesuatu itu dengan jumlah yang berbeda, baik berlebih atau kurang.

Mata adalah salah satu jendela antara penghubung kita dan dunia luar, lalu kenapa kita dibekali dua mata dan sautu mulut?, bukankah melalui mulut kita dapat berinteraksi lebih ke dunia luar, Dan kini semua berubah ketika jemari menggantikan bibir untuk berucap (Sumber Gambar by Alexandr Ivanov from Pixabay)

Terlepas dari jawaban tersebut, dan dengan tidak mengurangi rasa hormat bagi orang orang yang memiliki kondisi perbedaan dengan orang kebanyakan, melalui tulisan ini saya ingin sedikit berdiskusi sekaligus menyampaikan suatu kegelisahan yang saya rasakan. Ini tentang apa yang terjadi disekitar saya dan juga saya yakin terjadi juga di sekitar kalian. Hal ini berkaitan dengan sebuah pemahaman tentang jumlah bagian tubuh kita.

Makna Lalu yang Dulu Pernah Ada Untuk Menjelaskan Jumlah Itu

Jika kita bertanya kepada orang orang dulu maka beberapa akan menjawab bahwa jumlah bagian tubuh kita diseting dengan sedemikian rupa, dengan dua mata, dua telinga, dua lubang hidung serta jutaan sensor dikulit, namun hanya satu mulut agar kita lebih memahami dulu apa yang sedang kita hadapi. Untuk lebih banyak memahami apa yang sedang kita hadapi baik secara visual, suara, aroma, maupun teksturnya; kita harus cara lebih banyak melihat, lebih banyak mendengar, lebih banyak ‘merasakan aroma’ dan lebih banyak kontak langsung pada apa yang kita hadapi itu. Setelah memahami dengan dalam barulah kemudian kita ungkapkan dan berucap melalui perkataan namun cukup sedikit saja dan seperlunya. Kita harus banyak “merasakan” dan menjaga ucapan. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang bijak yang selalu banyak terdiam sembari ia melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi, dan sekalinya ia berucap itu tepat sasaran dan cukup, tidak lebih dan tidak kurang.

Secara natural kita diciptakan untuk lebih banyak menikmati dunia luar dibandingkan menghabiskan waktu untuk berucap.Ada suatu hal yang menarik dengan alasan dan manfaat kenapa kita memiliki dua mata. Ini berhubungan dengan kemampuan kita untuk menangkap dan memvisualisasikan objek dalam ruang 3 Dimensi. Kemampuan ini disebut dengan stereoscopic vision. Yang pada intinya adalah kemampuan otak untuk menampalkan dua hasil rekaman visual dari masing masing mata dan menciptakan suatu informasi dari dua sisi yang berbeda dan kemudian di simpulkan sebagai informasi kedalaman objek visual. Hal yang sama juga terjadi pada indriawi kita baik itu indra pendengar, pembau dan perasa kita. Yang kesemuanya di desain untuk memahami lingkungan secara 3 dimensi.

Gambaran Konsep stereoscopic vision, Inilah yang menyebabkan kita dapat memahami kedalaman visual berupa jarak dari suatu objek dan bentuk yang lebih presisi.

Bagian bagian tubuh kita dibuat untuk memahami lingkungan sekitar kita dalam bentuk tiga dimensinya, baik itu visual maupun dari audionya. Kita di desiain sedemikian rupa untuk melihat, mendengar dan merasakan lingkungan dalam bentuk tiga dimensinya, sehingga kita dapat memahami seberapa jauh suatu objek dan berada dimana dia, apakah ia bersuara melengking di sebelah utara dan bersuara berat di bagian selatan apakah lebih hangat bagian timur dibanding barat, semua itu disediakan secara gamblang melalui jendela jendela indrawi kita. Dan kemudian muncullah suatu pertanyaan besar, kenapa kita hanya diberikan satu bibir untuk berucap? Pertanyaan ini akan memunculkan jawaban yang beraneka ragam, namun bagi saya yang paling sesuai dan masuk akal adalah agar kita lebih memahami dahulu daripada berucap, atau dengan kata kata anak sekarang “Jangan ‘banyak’ bacot kalau belum tau paham”.

Dari Bibir Berpindah ke Jemari, Semua yang dulu Ada dan Terkendali Seketika Berubah

Dijaman yang katanya kian canggih ini bermunculan alat alat bantu dan pengganti budaya kita berkomunikasi. Jika dulu kita harus banyak melihat dengan “dua mata” kita dan banyak mendengar melalui “dua telinga” kita kemudian bersuara lantang untuk didengar dan dilihat oleh lingkungan, kini kita hanya perlu melihat “satu” layar berpendar dan kemudian mulai menari dengan “dua hingga sepuluh jemari” kita untuk sekedar melontarkan ujuaran, entah itu ujaran yang bermakna dalam ataupun ujaran tanpa makna sekalipun.

Visual tentang tentang kita yang kini melihat melalui satu “Jendela” dan kemudian berinteraksi dengan menggunakan 2 hingga 10 jemari yang menari. (Sumber Gambar Robinraj Premchand from Pixabay)

Telah terjadi suatu pergeseran besar yang terjadi pada diri kita, cara kita memahami lingkungan kita dan juga cara kita berinteraksi dengannya. Jika sebelumnya ada pemahaman bijak yang menggambarkan keharusan kita untuk lebih banyak memahami baru kemudian berujar seperlunya. Kini semua berubah, melalui “satu layar berpendar” itu kita sudah bisa dan layak untuk memberikan reaksi dengan “dua jari” bahkan dengan “sepuluh jemari kita”. Kita kini hanya perlu dan ingin memahami melalui satu layar itu saja dan merasa berhak mengujarkan dan mengucapkan ribuan kata bahkan ujaran tanpa makna sekalipun.

Hal ini tampaknya terlihat dan terdengar sangat menyedihkan, dan ini pula lah yang menjadi kegelisahan saya. Tentunya hal itu juga tidak hanya berdampak dan terjadi pada orang orang di sekitar saya. Harus saya akui bahwasanya sayapun juga terdampak serius akan hal itu. Sayapun lebih banyak berucap dan bereaksi ketimbang sekedar memahami. Tampak bodoh dan tampak naif bila saya tidak mengaku hal itu.

Akan tetapi, sejenak saya berpikir, benar benar sejenak, sesejenak saat saya membuat tarian jemari untuk menuliskan tulisan ini saya sadar bahwa saya melupakan satu hal yang sebenarnya ada. Namun semua kabut pikiran pesimistik saya menjauhkan saya dari kenyataan itu. Ini tentang suatu kenyataan bahwa meskipun kita hanya melihat di “satu layar berpendar saja” namun untuk melihat dan mendengarkan itu kita masih masih menggunakan “dua mata” kita dan “dua telinga” kita. Dan meskipun kita menuliskan ujaran kegelisahan kita melalui “dua jari” bahkan “sepuluh jari”, sebelum tertulis dengan rapi tentunya diolah pada “satu otak” kita dan juga “satu sumsum tulang belakang kita”. (saya ingin berkata “satu hati” kemudian saya urungkan karena saya sedikit kurang setuju dan tidak pernah mendengar bahwa hati juga secara harafiah memiliki fungsi untuk berpikir).

Kesemua itu bermakna, meskipun kini kita hanya melihat melalui satu layar dan berucap melalui 2 hingga 10 jemari, namun sebenarnya kuasa itu masih ada pada diri kita, Dengan dua mata kita dapat melihat lingkungan di luar kotak pendar, atau bahkan jika perlupun kita dapat menggunakan 10 jemari kita untuk memilah dan memilih sudut pandang yang ditampilkan pada layar berpendar itu. Barulah kemudian kita mengolahnya dalam pikiran dan “hati” kita untuk kemudian dapat dengan cepat kita berikan reaksi melalui 10 jemari kita yang menari dan menyair sebuah ujaran yang bermakna dan menyejukan.

Itupun jika otak dan hati kita compatible tengan pergeseran yang terjadi pada jaman ini. Yah jikapun tidak sesuai, yang terjadi biarlah yang terjadi. Bermunculanlah kata kata kosong tanpa makna yang keluar dan bertebaran didalam jagat dunia maya kita. Kita tidak boleh protes dengan hal tersebut. Dunia yang sekarang terjadi memanglah seperti itu dan selalu disusun oleh bilangan digital 1 dan 0. Yah anggap saja orang orang yang masih sadar dan menjaga dalam berucap adalah orang orang yang memiliki otak yang hanya 1. Dan kemudian yang lainnya, ah sudah lah saya tidak ingin panjang lebar lagi. Cukup sekian dari saya.

Salam Hangat

Dewa Putu AM

Daily LifeUncategorized

Hingga Saat Ini “I’m Still On My Way” Bagian 2

April 6, 2019 — by dewaputuam0

10104_4259940617103_596701675_n-960x720.jpg

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang berjudul Hingga Saat Ini “I’m Still On My Way”, melalui tulisan ini saya akan bercerita sedikit kisah yang menurut saya menarik untuk dibagikan dan mungkin ada lah sedikit nilai nilai moral yang dapat diambil #mungkin. Jika sebelumnya saya menceritakan tentang perjalanan saya dari masih dalam kandungan, masa kanak kanak hingga remaja dan SMA, kali ini saya akan menceritakan kisah cinta saya di kampus. Hehehe, Membosankan ya sepertinya ya. atau saya menceritakan pengalaman pengalaman absurd saja ya yang tidak ada kisah cinta cintaan hahaha. Cerita cerita seperti itu agaknya lebih shareable. Ini bukan mengelak lo, tetapi sepertinya memang lebih baik dan berfaedah #mungkin.

Saya bersama beberapa teman seangkatan di Jurusan Geofisika dan Meteorologi IPB. Saya lupa ini diambil kapan namun yang saya tahu ini diambil dengan menggunakan kameranya Mirna, dan sepertinya dia juga yang memfoto.

Bangku Kuliahan Level I, Kisah Pembekuan Surat Penting dan Semangat Sidang yang Membara

Kumulai cerita ini dari masa masa perkuliahan saya di Strata 1 Meteorologi Terapan IPB. Sebagai orang desa yang kemudian berkuliah di desa lagi (IPB Dramaga) sebenarnya tidak begitu banyak yang mengagetkan saya tentang kehidupan disana. Hanya saja seperti mahasiswa IPB pada umumnya, pada tahun pertama kami diharuskan untuk tinggal di asrama selama 1 tahun. Tawaran cukup menarik, dan cukup menguntungkan bagi kami para perantau karena tidak perlu susah payah cari kos kosan untuk sementara waktu.

Kehidupan di asrama IPB cukup seru, ada berbagai kegiatan dilaksanakan disana. Kegiatan rutin meliputi Soga atau Social Gatering dan untuk mahasaiswa muslim juga ada Ngalong atau ngaji lorong. Kemudian ada beberapa kegiatan kusus lainnya, yang mengumpulkan semua mahasiswa angkatan baru dalam gymnasium. Untuk kegiatan kegiatan khusus saya sudah lupa semua kegiatannya apa dan seperti apa, yang saya ingat hanaya sebuah fakta bahwa kegiatan itu pernah ada. Di dalam asrama, kami dikumpulkan dengan berbagai macam orang dari suku yang bervariasi, komplit dari sabang hingga marauke. Dalam satu kamar pun biasanya juga beraneka ragam baik suku maupun agama. Untuk kamar saya di Asrama Putra gedung C1 lorong 7 dan nomor kamar 76, saya dikumpulkan dengan orang keturunan cina yang tinggal dijakarta nama kerennya Nehemia tapi bisa dipanggil Agus, kemudian ada orang sunda bernama Jati, dan juga orang Jawa yang kentel bernama Fery.

Suatu hari kami pernah malas mengikuti acara Soga, sehingga kami sepakat untuk pura pura tidur. Beberapa teman kami di lorong saat itu menggedor gedor kamar namun kami tidak menjawab karena ceritanya kami sedang tidur. Namun anehnya, beberapa menit kemudian kami berubah pikiran dan berpendapat sekali-kali tidak apa apa jika kami ikut social gatering bareng teman teman lorong dan didampingi senior. Akhirnya kamipun berakting seperti orang yang baru bangun tidur sambil keluar kamar secara bersamaan. Tampak aneh sih tapi percaya lah kami sudah berusaha sebisanya agar tampak senatural mungkin.

Karena jarang ikut kegiatan dan beberapa kali kedapatan pulang terlalu larut malam akhirnya saya pun mendapat indeks prestasi keasramaan “C”. Bukan sebuah nilai yang baik untuk jadi insan asrama yang baik, namun tidak terlalu buruk juga.

Setelah berasrama selama satu tahun, saya kemudian tinggal bersama teman teman saya dari komunitas hindu di IPB (KMHD IPB), agar saat ibadah bisa bersama sama hehehe. Oia, pada masa masa perkuliahan ini pula untuk pertama kalinya saya mendapatkan pelajaran agama hindu secara full. Saat SD saya belajar agama katolik karena tidak ada guru agama hindu dan kemudian saat SMP saya tidak belajar agama sama sekali baru kemudian dapat pelajaran agama hindu pada saat SMA namun sayangnya jarang sekali masuk dan hanya satu dua kali setiap semsternya.

Ini salah satu kegiatan kami di kontrakan. Sengaja saya sisipkan foto ini disini karena saya tahu si korban akan mampir ke sini dan mencari bahan untuk di share di grup wa seperti yang sudah sudah hehehe,… Bel, ambil foto ini saja gimana. Oia selamat ulang tahun btw. Kami siap bawa gerobak kesana.

Banyak hal konyol yang kami lakukan di masa masa ini, salah satunya adalah “tragedi pembekuan STNK”. Kejadian ini terjadi di musim penghujan saya lupa tahun kapan. Suatu ketika STNK teman saya (yang berbaju merah pada foto di atas) basah kuyub karena hujan. Karena sebelumnya saya belajar tentang keringnya daerah kutub karena udara dingin, sayapun berinisiatif memberikan saran kepada teman saya itu untuk memasukan STNK nya kedalam frizer di lemari es.

Hipotesis Saya saat itu adalah, “Kondisi frizer yang dingin berarti pula memiliki kelembaban yang rendah (kering) kondisi demikian akan menyebabkan objek objek yang dimasukan akan menjadi kering termasuk STNK teman saya karena air yang membasahi STNK akan keluar dan cepat menguap dan kemudian bergabung bersama es dalam frizer”.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. harapan STNK yang kering kemudian sirna begitu saja, setelah beberapa lama STNK teman saya didiamkan didalam Frizer, ternyata bukannya kering tetapi STNK tersebut justru berubah menjadi Es STNK yang terbujur kaku bak kerupuk. Melihat itu ingin rasanya saya memberikan saran lagi untuk mengupakannya secara instan dengan menaruhnya diatas api namun niat itupun saya urungkan karena ragu dan takut gagal lagi.

Biasanya saat saya bercerita hal ini ke orang yang saya beku kan STNKnya ia selalu mengungkit kejadian tentang saya yang salah jadwal sidang skripsi. Saya rasa itu hal yang biasa saja lah ya kalau kita terkadang butuh semacam gladi resik untuk melakukan hal hal yang penting contohnya sidang skripsi hehehe. Yah meskipun bagi orang orang yang tidak terbiasa terkadang suka heran dan bertanya tanya termasuk dosen pembimbing skripsi saya saat itu yang cukup heran melihat saya berpenampilan sangat rapi dan necis pada saat menonton sidang skripsi teman saya. Karena heran beliaupun bertanya kepada saya ada acara apa sehingga saya berpenampilan serapi itu. Sayapun kemudian heran dan memastikan bahwa saat itu saya akan sidang skripsi. Kemudian dosen tersebut semakin heran dan tersenyum senyum simpul dan meminta saya untuk bertanya ke orang tata usaha apakah sidang saya hari itu atau hari lainnya. Dan benar saja ternyata sidang saya akan dilaksanakan pada hari berikutnya. Saya yang sebelumnya semangat dan sudah banyak persiapan membeli konsumsi dan minta doa pada teman teman satu kontarakan pun akhirnya pulang sambil menyunggingkan cengiran kecil sambil berkata “salah jadwal”.

Kuliahan Level I “Dari Dunia yang Tiba Tiba Memutih”

Setelah berkuliah selama 4 tahun-an di IPB Bogor, dan kemudian bekerja sebentar sebagai GIS Analis di sebuah konsultan pertanian saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan perkuliahan saya di Jurusan Geoinformasi untuk Manajemen Bencana, Sekolah Pasca Sarjana, UGM. Perjuangan untuk sampai sana tidak mudah, selain melalui tahap administrasi saya juga harus melalui tahap wawancara. Disinilah sulitnya, dengan kondisi saya yang sedang ditugaskan ke Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Sintang untuk melakukan persiapan proyek pemetaan, saya sambil membawa alat alat survey dengan tangan kiri, tangan kanan saya sibuk mengetik melalui ponsel nokia 3110 classic saya untuk menjawab pertanyaan pertanyaan wawancara.

Saya saat itu beruntung sekali diperbolehkan untuk mengikuti proses wawancara via email. Namun masalahnya hp saya masih jadul dan susah sekali bahkan tidak mungkin untuk mengirim email. Alhasil sayapun meminta bantuan teman saya yang ada di Jogja yaitu si andrep yang sudah saya ceritakan pada cerita sebelumnya untuk membuka email saya. Dia kemudian melihat pertanyaan dan mengirimnya via sms ke saya dan kemudian saya memberikan jawaban saya menggunakan bahasa inggris. Sedikit sulit sih namun seru hehehe.

Poto ini di ambil di ruang kelas belajar kami, Saat poto ini diambil, kami baru saja mendapat bagian baju polo jurusan untuk digunakan saat kunjungan lapang ke Dieng.

Semasa perkuliahan di Geoinfo UGM, saya mendapatkan pemahaman baru baik yang berkaitan dengan Geoinformasi dan juga hal hal yang berkaitan dengan kebencanaan. Orang orang yang saya temui pun sama menyenangkannya dengan kawan kawan yang saya temui saat saya di IPB maupun saat saya di Lampung. Dari kawan kawan saya ini saya mulai ikut ikutan mengeluti hobby membaca, sedikit terlambat sih tapi tak apa dari pada tidak sama sekali.

Oia selama berkuliah di Jogja saya juga merasakan bagaimana suasana saat Jogja seketika memutih oleh abu Gunung Kelud. Sampel abu kelud yang menutupi Jogja dan sekitarnya sampai saat ini masih tersimpan dengan rapi di meja belajar saya di Lampung. Jika kalian penasaran dengan bagaimana rasa dari abu kelud. Dengan bangga saya katakan saya sudah pernah mencicipinya, kira kira ya seperti kita memakan bubuk kaca, agak sepet dan kesat di gigi hehehe. Saat kejadian tersebut saking penasarannya saya sesekali mencoba berbagai hal seperti mencoba apakah memang perih dimata (confirm perih), di rambut akan memberi kesan sangat kering seperti di sasak, dan bila dimakan terasa sekali tekstur kesatnya.

Yang Banyak Orang Tidak Tahu dan Memang Tidak Perlu Orang Tahu

Saya menyadari bahwa saya tidak akan bisa merangkum kejadian kejadian saya selama ini dalam satu dua tulisan saja. Namun saya juga memahami bahwasanya kalian sebagai pembaca tidaklah perlu tahu dengan detil tentang apa apa saja yang terjadi pada saya selama ini (alasan untuk tidak lanjutin). Sejujurnya pula saya hanya menuliskan kejadian kejadian yang kiranya layak untuk dibagi, namun di balik itu sama seperti orang kebanyakan seperti kalian, dalam perjalanan ini saya tentunya juga menghadapi naik dan turunya kehidupan, masa masa saat air mata menetes, tembok pun kadang tak luput dari hantaman hanya untuk melepas emosi yang ada dan kemudian tampil seperti tidak terjadi apa apa lagi di depan kalian. Namun cerita cerita seperti itu tidak akan saya ceritakan karena akan membuang waktu secara percuma. Jikalau kalian telah membaca sampai kalimat ini, saya sangat menghargai itu dan berterimakasih atas luangan waktunya untuk membaca sesuatu yang mungkin nilainya tidak dapat teman teman gunakan sebagai panduan hidup.

Saya sebagaimana anda akan sulit bahkan tidak akan mungkin mengetahui dan memahami segala apa yang terjadipada seseorang, sedekat apapun orang tersebut dengan kita apalagi orang lain yang jauh dari kita. Dari proyek tulisan ini saya belajar bahwa untuk memperkenalkan diri kita sendiri menjadi sesuatu yang singkat sangatlah sulit. Saya kesulitan untuk menuliskan dengan singkat seperti apa kita dan apa apa saja yang telah kita lalui. Dari sini saya berpikir, bila saya sendiri kesulitan memperkenalkan diri sendiri, apakah orang lain merasakan yang sama. Kita memang tidak tahu dan memang tidak perlu tahu tentang semua yang terjadi pada orang lain. hal ini yang menyebabkan terkadang kita sulit memahami dan menerima bahwa cara pandangan kita yang memang beda. Seberapa paham apapun kita akan hidup seseorang tidak ada yang mampu mengubah dan atau menyelamatkan orang itu selain orang itu sendiri yah kira kira sama seperti makna yang ada di lagunya alan walker yang berjudul on my way.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan penting yang harus di jawab segera, apakah kedua paragraf ini berkaitan dengan dua seri tulisan ini? saya tidak yakin demikian. Saya rasa kaitannya tidak begitu nyata. Saya menyampaikan hal ini bukan untuk merangkum apa apa yang telah saya tulis, Saya hanya mengutarakan apa yang sedang ada dalam pikiran saya secara bebas dan tanpa bingkai dan aturan yang mengikat.

Salam dari saya

Dewa Putu AM

Daily LifeUncategorized

Hingga Saat Ini “I’m still on my way”

April 4, 2019 — by dewaputuam3

dewa_masakecil.jpg
Ini Photo masa kecil saya, sekedar informasi saja, terdapat satu rahasia antara saya dan ayam ayam saya saat Itu. Beberapa kali saat saya sedang malas makan saya suka pergi kebelakang dan memberikan nasi saya kepada ayam ayam saya dan kemudian berkata pada orang tua saya kalau nasi saya sudah habis hehehe.

Untuk mengatasi kondisi saya yang sedang tidak ada ide untuk menulis, maka pada tulisan saat ini saya akan ceritakan tentang saya sendiri. Mungkin bukan suatu cerita yang penting, tapi percayalah bahwa suatu saat cerita ini akan tetap tidak berguna bagi kalian. Sengaja saya tuliskan cerita ini untuk iseng belaka, bila kalian seiseng saya saya persilahkan kalian membaca cerita saya ini dan semoga saja ada serpihan serpihan cerita yang bermanfaat bagi kalian di kemudian hari. Beberapa cerita saya dapatkan langsung dari pengalaman, namun beberapa lainnya saya dapatkan dari cerita beberapa orang yang kenal saya.

Sudah Iseng Bahkan Sebelum Lahir

Oke, kita mulai saja cerita ini. Saya bingung harus mulai dari mana, mungkin ada baiknya bilamana saya ceritakan saat saya berada didalam suatu ketiadaan. Saat itu saya belum ada dan belum terlahir di bumi ini. Cerita ini saya dapatkan dari bapak yang menjaga perpustakaan di SMA saya. Ia menceritakan saat itu ibu saya sedang mengandung saya dan sedang melaksanakan kegiatan pra jabatan. Dalam usia kandungan yang cukup umur (istilahnya gitu bukan si). Ibu saya mengikuti kegiatan tersebut dengan bersusah payah. Namun tiba tiba sesuatu terjadi dan menyebabkan ibu saya kesakitan begitu hebat dan harus dibawa kerumah sakit.

Karena ayah saya tidak berada disana saat itu maka pengurusan administrasi di rumah sakit menjadi sedikit sulit hingga akhirnya datanglah bapak penjaga perpus yang baik hati, (sepertinya mengikuti pra jab bersama ibu saya) dengan sergap ia berinisiatif untuk menjadi penanggung jawab, hal itu dilakukan agar pihak rumah sakit cepat mengurus saya dan ibu saya. Singkat cerita kamipun terselamatkan. Untungnya Keisengan pertama saya didunia ini tidak berakibat fatal. Saya mengetahui cerita ini saat saya sedang asik di perpustakaan sma saya dan berbincang bincang kecil dengan bapak perpustakaan disana.

Dimulai dari Drama Penculikan Anak Bayi Hingga Bayi Itu Tumbuh Menjadi “Anak Baik dan Pendiam”

Ini juga saya belum ingat, karena saat itu saya baru saja lahir dan umur sayapun tidak begitu detail diceritakan oleh bibi saya yang merupakan saksi sekaligus salah satu pelaku dalam kejadian itu. Yah, mereka lah pelakunya bersama dengan kakek nenek saya hehehe. Saya tidak paham mungkin karena saking senangnya mereka mendapat cucu dan keponakan baru, saat saya lahir mereka langsung membawa mobil menjemput saya untuk di bawa kerumah. Al hasil ayah sayapun menjadi sasaran kemarahan dokter disana.

Saya memfoto foto ini dari ALbum, Jadi tanggal di dalam foto bukanlah tanggal foto itu mengambil momen tersebut. Seperti inilah kira kira wujud anak baik baik yang pendiam itu

Setelah dua peristiwa tersebut pun akhirnya saya tumbuh menjadi anak baik dengan kelakuan normal sebagaimana anak anak kebanyakan pada masa itu. Tidak ada kenalakalan kenakalan khas anak-anak yang saya lakukan saat itu. Saya pada masa itu benar benar menjadi anak baik. Mungkin, sesekali pernah lah ganggu gubuknya nenek nenek dengan mantulin sinar matahari masuk kerumahnya pakai cermin. Pernah mencuri rambutan tetangga, ikan lele tetangga dan ikan mas tetangga bersama teman teman sejawat. Saya sebut biar seru ya, nama mereka Andrep dan Johan hahaha piss bro. Gimana hasil tangkapan ikan dari kolamnya alm. mbah sariman.

Pada saat itupun serasa tiada hari tanpa perkelahian, yah meskipin saya selalu berada dipihak yang kalah, kalah otot dan kadang luka luka dikit malah pernah mimisan karena kena bogem mentah hahaha. Tapi sekarang yang ngebogem saya itu sekarang sohib baik. Dari bogem kita saling berbagi pendapat dan ujaran sumpah serapah dan mungkin kuota permusuhan kita dah abis diwaktu kecil hehehe.

Masa remaja yang Biasa Saja, Lempeng Seperti Jalan Tol, #Mungkin

Masa remaja saya saya habiskan dengan sesuatu yang normal normal saja. Tidur, makan, belajar, sekolah dan begitulah seterusnya. Untuk kegiatan berkelahi yang rutin saya lakukan saat saya masih kanak kanak (SD) tidak beranilagi saya lakukan karena sebelum masuk SMP saya sudah mendapat petuah sakti dari Bapak yang pada intinya jika saya masuk ruang BP akibat berkelahi maka akan ada “hadiah spesial” di rumah. Oleh karena itu meski beberapa kali saya di bully abis abisan didorong dorong sama “preman SMP”, dan kermutin kelompok mereka di tampol tampol, jujur saya tidak mau melawan karena takut kena tampol yang lebih kuat di rumah hehehe bisa berlipat lipat boss kuatnya.

Saya masi tau si orang orang yang dulu suka ngebully, bahkan ada orang yang dari segi postur tubuh cukup mini lah tapi salut ke sengak an nya hahahaha. Okelah sudah sampai situ saja lah cerita bully membullynya. Mungkin meski sedikit ada salah dari saya juga sih yang terkadang suka iseng iseng tanya ke guru dan ada aja dan mungkin akan terlihat sok sok an. Pada masa remaja saat SMP maupun SMA saya cukup lah dari sisi akademik, itung itung masih bisa sedikit mewakili sekolah untuk bersaing (walau kalah) di olimpiade fisika dan kemudian juga di olimpiade matematika. Dan yang menjadi sesuatu yang saya anggap wah (karena jarang) adalah saya sbeberapa kali diusir keperpustakaan saat ada ujian perbaikan nilai dan remidi untuk fisika dan matematika karena mendapat nilai yang tidak dapat tertolong dan tidak dapat dinaikan lagi hehehe.

Saat Masa SMA saya mengalami pengalaman mistik yang cukup membuat heboh satu sekolah saat itu. Desas desusnya saya diikuti oleh sesosok tak kasat mata dan tidak tahu berkaitan atau tidak dalam satu hari itu ada 6 orang siswa yang kesurupan, anehnya setiap ada yang kesurupan teman saya bilang sosok tersebut menghilang sejenak. Karena kawatir akan terjadi yang tidak diinginkan saat itu saya di ungsikan dan dijauhkan dulu dari keramaian oleh beberapa orang yang “punya bakat”. Saya tidak tahu apakah sosok itu masih mengikuti, namun saat kuliah sempat ada yang melihat ia menempakan diri berdiri disamping saya saat saya sedang tertidur pulas.

Saya lupa saya yang mana tapi sepertinya saya hanya kelihatan jidadnya saja. Ini photo kondisi kelas saya saat SMA, saya lupa ini praktikum apa ya hehehe (Dan dalam foto ini juga ada foto ALm kawan kami semoga dirinya tenang disana Dzoel)

Masa remaja sebenarnya sangat seru, tetapi sayangnya yang sedikit membuat saya kecewa adalah ujian nasional yang sama sekali tidak seru.Jujur saya saat ujian nasional kehilangan gairah dan hanya berusaha untuk lolos dengan nilai alakadarnya saja. Saya kehilangan semangat saat itu karena ujian nasional saat itu sudah tidak fair dan banyak kecurangan di teman teman saya sehingga dengan nilai besar pun rasanya tidak ada kebanggaan sama sekali. Tetapi saya berani jamin bahwa nilai saya saat itu adalah nilai murni. Sempat ada kertas bocoran mampir ke meja saya diberi oleh teman namun saya buang jauh kedalam laci meja. Saat ujian nasional lalu saya tidak begitu memikirkan nilai karena saat itu saya juga sudah mengantongi nomor induk mahasiswa melalui jalur SMPTN kalau tidak salah namanya yang menggunakan rapot semseter 1 sampai 5 sebagai penilaian dan prasarat masuk.

Jatuh Bangun Ku di Bangku Kuliahan I dan II

Disinilah pada akhirnya saya…. (Bersambung)

Daily LifePsikologiUncategorized

Merakit Pematah Makna Pepatah Rakit yang Sudah Lama dan Mungkin Usang

March 31, 2019 — by dewaputuam0

huangshan-3656344_1920-960x640.jpg
Gambaran yang ada di pikiran saya tentang sebuah rakit itu yang seperti ini, Hal ini masuk akal karena besar kemungkinan rakit jenis seperti inilah yang ada dan mengilhami pada saat pepatah rakit dibuat. (Sumber gambar: 雅惠 游 from Pixabay )

Selama ini dalam pelajaran bahasa atau sastra, kita beberapa kali bertemu dengan sebuah pepatah yang cukup terkenal dan rasa-rasanya hampir semua orang yang pernah belajar di Indonesia mengenal pepatah tersebut. Ini tentang pepatah rakit yang tidak diketahui siapa penciptanya dan kita tidak tahu pula siapa penciptanya. Pepatah tersebut berbunyi seperti ini.

“Berakit rakit kehulu, berenang ketepian”

Seingat saya semua guru dan atau orang tua maupun orang lain yang dulu pernah mengajarkan saya menyebutkan pepatah tersebut memiliki makna bahwa kita perlu “bersakit sakit dahulu, untuk dapat bersenang senang kemudian”. Pepatah dan maknanya ini tentu saja dapat diterima, dan merupakan sebuah pesan yang sangat baik bagi semua orang termasuk untuk saya, “mungkin”. Meskipun terkadang saya suka mengelak saat diberikan pepatah tersebut oleh ibu saya dan mengatakan bahwa saya lebih suka naik rakit sambil berenang renang.

Pada tulisan saat ini saya ingin membahas makna lapis kedua dalam pepatah rakit. Saat memikirkan hal ini saya sangat terkesima dengan pembuat pepatah yang sangat keren ini, saya juga merasa ini bukanlah kebetulan bila seorang penulis (atau seorang sastrawan) menyelipkan berlapis makna dalam sebuah karyanya. Lapis-lapisan makna itupun ia rangkaikan dan dengan cerdik ia sembunyikan tipis tipis melekat pada satu sudut pandang tertentu. Lapis-lapisan makna ini biasanya juga dikaburkan oleh lapisan makna tersurat yang dapat dilihat dengan jelas oleh orang orang bisa tanpa banyak berpikir dan menganalisa lebih dalam.

Seperti pada pepatah rakit. Kebanyakan orang akan mengangguk ngangguk jika pepatah tersebut sekedar diartikan berdasarkan kesamaan buny pada akhirannya. Saya lupa istilahnya ini apa, tapi secara umum demikian “Rakit rakit” digunakan untuk menggantikan frasa “sakit sakit”, “ke hulu” digunakan untuk menggantikan frasa “dahulu”, kemudian frasa “berenang-renang” untuk mengungkapkan “bersenang-senang” sedangkan ” ketepian” digunakan untuk menggantikan kata “kemudian”. Jika dibaca secara utuh, pepatah “berakit rakit kehulu, berenang ketepian” akan bermakna “bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian”. kira kira sesederhana itu cara merakit makna lapis pertama pada pepatah rakit.

Merakit Alur Berpikir Frasa “Berakit-rakit ke Hulu”

Ada satu pertanyaan sekaligus tantangan buat teman-teman pembaca sebelum kita coba merangkai logika untuk mendapatkan makna lapis kedua pada pepatah rakit. Pertanyaan dan tantangan ini menurut saya sangat simple.

Maukah teman teman dengan usaha kalian sendiri berakit rakit kehulu “secara harafiah”, maukah anda dengan tongkat dan rakit menelusuri sungai menuju kearah hulu. Sekedar informasi tambahan buat teman-teman, berakit kehulu sungai berarti pula kita harus bergerak melawan arus. Percayalah itu tidak mudah ferguso, kita beruntung bila arusnya tidak kuat dan itupun sudah cukup PR, apalagi bila arus sungainya sangat kuat bukan tidak mungkin kalau kita akan maju satu meter dan hanyut puluhan meter. Rakit biasanya didesign untuk bergerak ke hilir, dan kalaupun tidak, ia biasanya didesign untuk menyebrangi sungai saja itupun dibantu dengan tali tambang/kabel agar tidak terbawa arus dan lebih mudah membawa ketepian sungai di sebarangnya. Yang jadi pertanyaan kenapa orang orang dulu membuat pepatah dan menggunakan frasa yang sedikit kurang logis tersebut “berakit rakit kehulu” dan kira kira apa faedahnya menggunakan rakit untuk mencapai hulu?

Coba kita bayangkan dengan rakit bambu kita harus mengarungi sungai seperti ini dan gilanya lagi harus melawan arus untuk menuju hulu. Sekarang apakah teman teman melihat pepatah rakit sebenarnya agak tidak logis dalam situasi seperti ini (Sumber gambar jwvein from Pixabay)

Dari sini saya rasa kita telah menemukan pintu menuju makna lapis kedua yang dibuat oleh orang orang terdahulu melalui pepatah rakitnya. Kita akan mencoba memaknainya dari sudut pandang realist dan sedikit kritis. Sebelumnya kita mengetahui bahwa berakit-rakit ke hulu adalah hal yang melelahkan dan menyakitkan (saya gantikan agar ada sedikit harapan meskipun hampir pada kenyataan yang tidak mungkin). Meskipun demikian “sakit” bukanlah makna lapis kedua dari penggalan pepatah ini. Menurut saya penggalan pertama ini memiliki makna tentang orang yang sangat ambisius dengan tujuannya yang juga fantastis yaitu “hulu”. Saya berpendapat demikian karena hanya ambisi dan ego yang luar biasa besar yang menyebabkan orang orang begitu gigih dan berusaha mencapai tujuannya tanpa sadar diri tentang seberapa jauh kemampuan yang ia punya yang dalam hal ini hanya sebuah rakit.

Makna pada penggalan ke dua akan muncul saat penggalan pepatah pertama terpenuhi yakni seseorang yang ambisius dan terlalu ngotot baik secara bodoh ataupun cerdas, bedanya cukup tipis. Saya sengaja memasukan kata bodo dan cerdas disini untuk memberikan sedikit ruang dan mengakui kalau sebenarnya ada variasi pada alasan kenapa ada seseorang yang secara random berakit-rakit ke arah hulu. Beberapa kasus ngototnya mungkin ngotot bodo dan tak tahu diri namun beberapa lainnya ngotot karena yakin ia sangat kuat, cerdik dan atau mungkin saja ia sangat paham akan situasi sebenarnya disana. Dalam pepatah ini bukan tidak mungkin kalau orang yang menggunakan rakit sebenarnya memunyai trik trik jitu atau pengalaman berlimpah sehingga bukan tidak mungkin kesemua itu mampu mengantarnya menuju ke hulu sungai. Yah mungkin saja dia sangat kuat, mungkin dia memodifikasi rakitnya, atau mungkin ia paham, yakin dan berpengalaman untuk berakit rakit kearah hulu, atau ia tahu daerah hulu tidaklah terlalu jauh untuk di gapai. Kalau kata orang orang jaman sekarang “Sing penting yakin”.

Merakit Alur Berpikir Frasa “Berenang-renang ke Tepian”

Lha, saya malah membahas kemana mana ya. kembali pada penggalan ke dua dalam pepatah ini yakni frasa “berenang renang ketepian”. Secara sederhana sebelumnya penggalan kedua ini biasa diartikan sebagai “bersenang senang kemudian”. Hal ini merupakan makna lapis pertama yang sering kali orang lain berikan. Namun secara logis, bila kita pernah menaiki rakit semacam rakit bambu , maka disana kita lihat bahwa sebenarnya kita tidak perlu berenang untuk mencapai tepian, tentunya ini dalam kondisi normalnya ya. Namun mengapa orang orang dahulu menambahkan frasa berenang renang ketepian setelah frasa berakit rakit dahulu? bukannya ini sangat aneh, lalu bagaimana dengan keadaan rakit yang kita tinggalkan sembari berenang ketepian? dibiarkan hanyut dan kembali dengan sendirinya ke hilir atau malah tenggelam dan hilang ditinggal jaman setelah mengemban tugas yang begitu berat.

Rakit seperti ini cukup garang, tapi sampai saat inipun saya belum memahami bagaimana cara rakit bisa kita arahkan dan bergerak melawan arus menuju hulu sungai (Image by julianomarini from Pixabay)

Tentu ada suatu hal besar yang menyebabkan kita tidak membawa rakit hingga ke tepi sungai dan merelakan kita untuk berbasah basah dengan berenang hanya untuk menuju tepian. Dari logika ini kita coba rangkai sesuatu cerita tersembunyi dan terkandung didalam frasa ini. Ada dua hipotesis kunci dalam pemahaman frasa pepatah ini yaitu “Ada suatu peristiwa yang tidak kita duga terjadi” dan hipotesis kedua adalah “Kita harus berani terjun langsung dan mau berbasah basahan untuk mencapai tujuan kita yakni tepian atau bahkan sekedar untuk menyelamatkan diri kita bila mana ternyata sesuatu yang terjadi itu berada jauh dari tujuan kita”

Bila kedua hipotesa itu dirangkai maka kita dapatkan suatu makna dalam penggalan kedua dari pepatah rakit. Makna tersebut kira kira sebagai berikut “Kita harus sadar bahwa suatu ketika mungkin saja ada sesuatu hal yang mengharuskan kita bertindak diluar kebiasaan, Saat itu kita harus berani mengambil keputusan. Ketika tujuan sudah dekat kita dapat turun langsung dengan sekuat tenaga menggapainya, namun bila tujuan masih jauh kita juga perlu terjun langsung untuk sekedar menyelamatkan diri agar masih ada waktu esok dan mencobanya lagi.”

Kita sudah mencoba merangkaikan dan menguntai logika yang ada pada pepatah “Berakit rakit kehulu, berenang renang ketepian”. Berdasarkan logika yang panjang lebar coba kita rakit akhirnya sampailah kita pada sebuah makna tersembunyi atau makna lapis kedua dalam pepatah tersebut. Ini adalah sebuah pesan bagi orang orang penentang arus. Orang orang unik dan berani berbeda dari lainnya, orang orang yang mungkin tanghuh atau mungkin saja bodoh.

Makna Tersembunyi “Berakit-rakit ke Hulu, Berenang-renang ke Tepian

Menjalani hidup yang menentang arus memang sangat berat, namun bukan berarti tidak mungkin. Kita dapat melakukan segala hal dengan memaksimalkan apa apa saja yang kita miliki baik kekuatan, kecerdikan maupun pengalaman. Meskipun adakalnya kita dapatsaja menemui suatu tantangan yang sangat berat, saat itulah kita harus tetap terus berjuang. Bilamana tujuan masih dekat kita bisa terus memberikan tenaga tenaga terakhir kita untuk mencapainya, namun bila tujuan masih jauh dan tak terjangkau jangan malu untuk menggunakan tenaga terakhir kita untuk sekedar menyelamatkan diri agar tidak mati dan bisa mencoba lagi di kemudian hari.

Versi pendek

“Hidup berbeda dengan kebanyakan itu susah, jika ingin mencapai tujuan kita yang berbeda, kita harus berani bertindak lebih, baik untuk sampai ataupun sekedar menciptakan peluang untuk mencoba lagi. “

(Dewa Putu AM, 2019)

Sepertinya agak banyak bualan ya yang tersebar pada tulisan saya kali ini. Mencoba merombak dan menemukan kembali makna makna terpendam dari pepatah dan karya jaman dulu lainnya juga sepertinya menarik untuk dijadikan tulisan tulisan berikutnya. Namun untuk tulisan ini saya sudahi sampai sini saja dulu karena lagi lagi dan lagi terlalu panjang

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Pustaka dan Gambar dalam Tulisan Ini
  • Gambar 1 yang ada bapak bapak naik rakit di sebuah sungai di negeri Tiongkok, Gambar ini jugalah yang saya gunakan sebagai Feature Image sumber 雅惠 游 from Pixabay.
  • Gambar 2 tentang kondisi sungai di dekat hulu yang biasanya berbatu dan ber arus deras (Image by jwvein from Pixabay)
  • Gambar 3 tentang orang orang yang menaiki rakit modern untuk arung jeram (Image by julianomarini from Pixabay)

BukuDaily LifePsikologi

“Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya

March 30, 2019 — by dewaputuam3

fog-1208283_1920-960x641.jpg
Ilustrasi tentang hilang dan mungkin terlupakan (Image by Free-Photos from Pixabay)

“Dew, gimana cara untuk ngelupain seseorang ya, saya dah berusaha susah payah tapi tetep keinget lagi sama dia” tiba tiba saya dapat pertanyaan ini dari salah satu teman saya. Mendapat pertanyaan tersebut saya pun menjawab “Jangan kamu lupain dia, teruslah ingat dia sesering mungkin bahkan kalau bisa kepoin semua postingan dalam media sosial dia, nanti toh saat kamu jenuh dan lelah dengan sendirinya kamu akan melupakannya.” Ini jawaban saya saat itu, yah meski tidak persis benar perkata seperti demikian tetapi pada intinya sama lah seperti ini. Mungkin cara yang saya utarakan ini akan terkesan aneh bagi kalian tetapi sejujurnya saya memberikan saran tersebut dari sebuah buku yang pernah saya baca dan bukan serta merta dari pengalaman. Sebuah buku berjudul Man’s Search for Meaning Karya Viktor E. Frankl.

Saya kurang paham kenapa orang itu menanyakan hal tersebut kepada saya, mungkin karena saya gampang banget ngelupain orang ya, khususnya dalam hal nama. Mengingat adalah salah satu kelemahan yang ada pada diri saya, saya kurang mampu mengingat nama orang bahkan untuk beberapa jam saja. Hingga akhir akhir ini saat berkenalan dengan seseorang yang baru saya temui, jika saya rasa akan bertemu lagi dan berbincang bincang saya biasanya akan menuliskan namanya pada catatan di smartphone saya agar seawktu waktu saat berbincang saya dapat menyebutkan nama mereka, meskipun saat ingin mengawali percakapan saya tentunya mengecek catatan saya untuk memastikan nama yang saya sebutkan tepat.

“Paradoxical Intention”, Sebuah Paradox Tersembunyi yang Selalu Menentang Keinginan Kita

Ada beberapa konsep menarik yang diutarakan dan ditawarkan oleh Victor dalam bukunya, namun konsep yang akan saya bahas dalam tulisan ini hanya satu konsep yakni sebuah paradox yang secara sadar ataupun tidak sadar sering kita alami di kehidupan sehari hari. Mungkin kalian pernah ingin mencari sesuatu seperti remot televisi misalnya, tetapi anehnya benda itu tidak dapat kita temui saat itu hingga akhirnya kita tidak menginginkan untuk mencarinya dan secara ajaib benda tersebut muncul di hadapan kita. Atau saat kita sedang ngidam makan mie ayam gerobak dorong langganan kita, tapi apa daya kita tunggu berlama lama tak juga datang. Namun saat suatu hari perut kita kenyang atau ada banyak sekali lauk di rumah kita, secara tidak berperi keperutan pedagang mie ayam tersebut dengan merdunya memukul mukul gong besar dan lewat di depan rumah kita.

Saya tidak paham kenapa saya ingin menggunakan ilustrasi ini, saya rasa ilustrasi ini juga tidak begitu menggambarkan apa yang saya tulis di tulisan ini. Tapi ilustrasi ini tampak keren ya (Image by Jonny Lindner from Pixabay )

Beberapa kejadian di dalam kehidup kita terkadang sebegitu bercanda. Mereka hilang tak tergapai saat kita ingin dan butuhkan. Dan muncul begitu saja tanpa alasan saat kita sama sekali tidak membutuhkan. Bercanda banget kan ya terlihatnya. Peristiwa peristiwa inilah yang disebut oleh Victor sebagai “Paradoxical Intention”. Paradox ini didasarkan pada dua fakta yang pertama adalah hilangnya suatu hal saat kita menginginkan secara berlebihan dan fakta kedua yang berkebalikan adalah kemunculan suatu hal saat kita tidak menginginkan bahkan sangat takut hal itu muncul atau terjadi.

Berpegang pada konsep inilah yang kemudian saya menyarankan pada teman saya tersebut untuk menghentikan usahanya untuk melupakan seseorang. Hal ini saya sampaikan karena saya rasa ia sangat ngotot untuk melupakan orang itu atau dengan kata lain ia tidak ingin bahkan takut untuk sekedar mengingat orang yang mungkin telah menyakitkannya tersebut. Hal inilah yang tanpa ia sadari justru mengaktifkan efek dari Paradoxical Intention yang berdampak pada semakin munculnya ingatan ingatan tentang seseorang yang ingin ia lupakan.

Untuk mengatasi hal tersebut saya menyarankan sebuah paradox yang sama. Bukan mendukung untuk melupakan, saya justru memintanya untuk mengingat orang yang ingin itu dengan cara cara yang biasa hingga cara yang menurut saya juga sedikit konyol dan ekstrim yakni menstalking orang yang ingin ia lupakan tersebut setiap hari hehehe.

Saya tidak tahu cara yang sarankan berhasil atau tidak untuk teman saya itu, tetapi setidaknya hingga saat ini ia tidak pernah lagi curcol saya tentang hal ini. Eh beberapa kali masih kumatan seperti itu ding hanya intensitasnya sepertinya sudah sedikit berkurang. Saya menulis artikel ini pun mungkin dia akan terpelatuk dan ingat kembali, hehehe sorry sistah. Saya rasa tulisan ini perlu saya buat dan menarik untuk dibagikan. Tenang aja namamu tidak saya sebut ditulisan ini kan. Hehehe

Kita mungkin pernah menginginkan sesuatu dengan berlebihan, hingga tanpa sadar dengan adanya Paradoxical Intention dirimu justru semakin menjauh dari apa yang kamu inginkan. Inginlah secara sederhana, sesederhana dirimu yang ingin hidup dengan hanya bernafas.

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa segitu saja dulu tulisan saya hari ini, Saya harap semua dari kalian dapat memanfaatkan Paradoxical Intention dengan baik. Karena biar bagaimanapun juga sama seperti lainnya selalu ada dua sisi dari suatu hal sisi baik dan sisi buruk. Kita mendapatkan sisi yang mana tergantung dari apa yang kita pilih dan bagaimana usaha kita, jangan terlalu serius menghadapi sebuah hal dan jangan pula terlalu bercanda. Cukup yang sedang sedang saja.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Referensi dan Gambar
  • Konsep Paradoxical Intention adalah konsep Viktor E. Frankl yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning
  • Feature Image dan Ilustrasi pertama adalah karya Free-Photos from Pixabay
  • Gambar Ikan yang dinaikin manusia pada ilustrasi ke dua adalah karya Jonny Lindner from Pixabay

BencanaDaily LifePsikologiSains PopulerUncategorized

Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana

March 5, 2019 — by dewaputuam3

IMG_20181021_163022-01-960x540.jpeg

Untuk Awal Mari Kita Berkenalan Dengan Bencana yang Harus Kita Hadapi

Kondisi Setelah Bencana di Petobo, Disini kita melihat begitu dasyatnya dampak yang diberikan dari sebuah bencana. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada tahun 2018, Indonesia diterpa banyak sekali cobaan yang berat, Pada tahun tersebut kita mengalami banyak bencana alam yang sayangnya banyak pula menelan korban jiwa. Dari 2575 Kejadian Bencana yang terlapor pada tahun 2018 (Sumber:DIBI BNPB) setidaknya telah menyebabkan >4836 orang Meninggal/Hilang, >21,126 orang luka luka dan >10,333,306 orang mengungsi. Dari angka tersebut, bila kita bandingkan dengan jumlah penduduk indonesia yang sekitar 264 Juta, maka dapat dikatakan bahwa 4 dari 100 penduduk di Indonesia sudah menjadi Korban Meninggal, Luka atau Mengungsi akibat bencana tahun 2018 saja.

Masih ingatkah kalian Setidaknya ada beberapa bencana besar pada tahun 2018 yang menyita perhatian secara Nasional maupun Internasional Mulai dari Gempa Bumi di Lebak Banten pada bulan Januari yang dirasakan juga di Jakarta, Erupsi beberapa gunung (Gunung Sinabung, Gunung Merapi dan Gunung Agung dan Gunung Krakatau), Gempa Lombok, Gempa-Tsunami-Likuifaksi di Sulawesi Tenggara yang fotonya saya tampilkan dalam gambar awal dalam tulisan ini, Dan sebagai penutup tahun 2018 kitapun dikejutkan oleh silent tsunami akibat letusan Krakatau pada bulan Desember 2018.

“Dongeng Usang?” tentang Risiko Bencana di Indonesia yang Sangat Tinggi

“Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng” ingin rasanya saya menulis frasa seperti itu, namun frasa tentang pertemuan tiga lempeng tersebut agaknya sudah terlalu sering terbaca dan juga terlalu sering pula keluar masuk di telinga kita. Saya khawatir bila menceritakan bencana dari template frasa tersebut kalian akan kian bosan dan meninggalkan tulisan ini. Namun suka atau tidak suka, meskipun frasa itu sudah tua dan usang, itulah kenyataanya. Dengan perbedaan tipis antara anugerah dan musibah, fakta tentang tiga lempeng tersebut lah yang menyebabkan kita sering sekali merasakan Gempa gempa besar serta memberikan kita banyak sekali gunungapi aktif (127 Gunungapi). Sebagai sedikit gambaran tentang seberapa banyak kejadian gempa yang telah kita alami berikut saya sajikan peta tentang gempa besar yang terjadi selama tahun 2018 dan awal 2019 yang saya unduh dari USGS.

Meski dalam hal bencana, Indonesia berlimpah dari segi jumlah dan intensitasnya. Tidak boleh kita lupakan juga bahwa ada begitu anugerah yang diterima Indonesia yang tentunya tidak kalah besar bila dibandingkan bencana yang kita dapat. Dongeng usang tentang pertemuan tiga lempeng setidaknya telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati tanah kita yang bagaikan tanah surga. Sebuah tanah yang berlimpah kekayaan dan keindahannya persis seperti lagu yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Dengan banyaknya gunung berapi akibat pertemuan lempeng tersebut tanah tanah kita menjadi subur yang saking suburnya diibaratkan dapat menumbuhkan tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.

Kita kembali pada permasalahan bencana di Indonesia. Untuk menggambarkan dan memahami seberapa besar risiko bencana di suatu wilayah para peneliti dan pegiat kebencanaan biasanya menggunakan suatu Indeks Risiko. Dalam perhitungan indeks risiko (Risk), diperhitungkan beberapa indeks kunci yang meliputi Indeks Bahaya & Keterpaparan (Hazard & Exposure), Indeks Kerentanan (Vulnerability) dan Indeks Kapasitas (Capasity). Melalui Indeks indeks tersebut kita dapat melihat dan memahami seberapa besar Risiko bencana disuatu wilayah, seberapa besar bahaya dan jangkauan dari masing masing bencana di wilayah tersebut, Seberapa rentan penduduk diwilayah tersebut jika bencana terjadi, dan Seberapa besar dan kemampuan dan kesiapan pemerintah, masyarkat infrastruktur, peralatan dalam menghadapi suatu bencana.

Sedih atau Bangga? “Kita berada di Peringkat 4 se ASEAN !”

Berdasarkan hasil kajian INFORM (INdex FOr Risk Management) didapatkan bahwa Indonesia berada di Posisi nomor 4 dari negara negara ASEAN berdasarkan risiko terhadap krisis dan bencana. Nilai Risiko yang demikian besar tersebut dipengaruhi oleh tingkat bahaya terhadap krisis dan bencana alam di Indonesia yang sangat tinggi dan dari sisi ini kita berada pada posisi ke tiga setelah Filipina dan Myanmar. Ada suatu berita baik bila kita lihat dari grfik dibawah, terlihat bahwa meskipun tingkat bahaya kita besar kerentanan dan kekurangan kapasitas kita untuk menhadapi bencana cukup kecil atau dapat dikatakan bahwa sebenarnya kita secara sosial, politik ekonomi dan beberapa faktor lainnya, kita dinilai cukup tangguh menghadapi bencana, hal inilah yang tidak hanya perlu dipertahankan namun perlu kita buat lebih baik lagi di tahun tahun mendatang.

Tantangan Indonesia kedepan dalam menghadapi bencana tidaklah kecil. Semakin lama jumlah kejadian dan intensitas bencana yang kita alami juga kian meningkat. Dengan adanya perubahan iklim dan pemanasan global, kejadian bencana bencana Hidro-meteorologi seperti Banjir, Banjir Bandang, Tanahlongsor dan Kekeringan akan semakin kuat dan semakin sering menghampiri hari hari kita. Jumlah penduduk yang terus meningkat pula menyebabkan semakin besar kebutuhan akan tempat tinggal dan tempat keperluan lainnya yang sayangnya banyak dari tempat tempat tersebut merupakan lokasi yang tak layak dan berbahaya karena potensi kejadian bencana yang besar.

Tidak hanya dari segi kejadian bencana, penanganan bencana pun semakin lama semakin kompleks. Banyak hal yang perlu di hadapi, mulai dari masalah teknis dilapangan hingga gangguan gangguan kecil namun tidak bisa tidak di acuhkan seperti persebaran berita hoax dan berita meresahkan tidak bertanggung jawab. Jumlah, Intensitas dan kompleksitas penanganan bencana mengharuskan manajemen bercana di indonesia tidak bisa lagi dilakukan dengan cara business as usual. Harus ada pergeseran/shifting secara besar besaran baik dari kerangka berpikir hingga kerangka Implementasi. Pergeseran besar besaran ini dapat dilakukan dengan bantuan kerangka bepikir dan kerangka Implementasi baru yang ditawarkan dalam Revolusi Industri 4.0. Dengan kata lain saya sepakat dan ingin menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana adalah suatu yang memiliki urgensitas yang tinggi diterapkan di Indonesia.

Setelah Berkenalan, Saatnya Kita Lirik Potensi Revolusi 4.0 dalam Merevolusi Manajemen Bencana di Negeri Kita

Bumi yang Serba Digital (Image by TheDigitalArtist on Pixabay)

Banyak orang menghubungkan Revolusi 4.0 pada pemanfaatan besar besaran terhadap tekhnologi-tekhnologi berbasis IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Tak ayal saat ini banyak Organisasi dan Instansi Pemerintah berlomba mengembar gemborkan bahwa mereka telah melakukan pergeseran besar-besaran menuju Industri 4.0. Tidak tahu kenapa, saya melihat semua itu sebagai sebuah kasus perkosaan anak dibawah umur ya. Saya mengatakan demikian karena pemanfaatan besar besaran terhadap basis tekhnologi penyusun Revolusi Industri 4.0 tersebut justru mengkerdilkan arti dari revolusi itu sendiri. Pemanfaatan besar besaran tanpa arah dan kerangka yang tepat akan menimbulkan perkembangan yang cepat namun rapuh dan tidak tahu akan kemana arahnya. Yah, itu hanya pemikiran skeptis saya, Tentunya orang orang di organisasi tersebut adalah orang orang hebat yang telah punya rencana besar terkait hal ini.

Ada satu buku bagus berjudul The Great Shifting karya Prof Rhenald Kasali yang memberikan gambaran pergeseran besar (revolusi) yang terjadi selama ini yang lebih dari sekedar pemanfaatan IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Menurut yang saya pahami dari buku ini, ada tiga point penting dari Revolusi 4.0 yang dapat diterapkan untuk merevolusi manajemen bencana di Indonesia. Pertama adalah Pergeseran dari time series menuju Realtime. Kedua, perubahan pola pikir owning menjadi Sharing. Dan Terakhir adalah Menguntai produk-produk terkait manajemen bencana saat ini dan masa depan dalam suatu Platform.

4.0 Membawa Kita dari Time Series Menuju Realtime

Era Time Series selama beberapa dasawarsa ini telah memberikan berbagai manfaat kepada kita di berbagai bidang. Melalui pemahaman pola perubahan suatu nilai terhadap waktu kita dapat memperkirakan kondisi di masa depan, tentunya dengan asumsi pola tersebut akan tetap konsisten atau setidaknya tidak mengalami perubahan secara signifikan di masa depan. Pemanfaatan kerangka berpikir time series ini dimanfaatkan di segala bidang termasuk dalam manajemen bencana sejak dulu hingga saat ini. Dengan menggunakan kerangka berpikir ini sering kali kita mendengar proyeksi dan prediksi tentang kebencanaan dimasa depan seperti kapan serta dimana akan muncul dan meningkatnya jenis bencana tertentu baik bencana bencana pada musim basah seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim hingga bencana bencana pada musim kemarau seperti kekeringan dan karhutla. Untuk bencana seperti erupsi gunung juga dilakukan analisis seperti ini sehingga kita tahu ada istilah status waspada, Siaga dan Awas pada gunung. Namun untuk gempa kita hanya dapat memahami polanya tanpa bisa menebak kapan ia akan terjadi.

Prediksi prediksi terkait kebencanaan baik untuk durasi waktu yang sebentar seperti prediksi pada bulan depan atau musim depan hingga durasi waktu yang sangat lama seperti 10 hingga 50 tahun kedepan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk berbagai alasan. Proyeksi dan prediksi demikian digunakan untuk mempersiapkan tindakan preventif, kesiapsiagaan atau melindungi aset aset kita dimasa depan. Untuk semua keperluan tersebut, pola pikir time series sudah cukup. Namun untuk keperluan sesuatu yang bersifat saat ini dan durasi waktu yang sangat pendek lainnya time series mulai kurang berdaya. Disaat inilah Revolusi 4.0 beserta barisan tekhnologi yang dibawanya mengambil peran penting.

Ilustrasi seorang pria yang sedang membaca berita online yang tentunya lebih cepat dari pada media media pemberitaan pada era sebelumnya (Image by kaboompics on Pixabay)

Tekhnologi-tekhnologi pengusung revolusi Industri 4.0 seperti IoT, Big Data dan AI membawa kerangka analisis statistik kita pada level selanjutnya, dari Time Series menuju Real Time. Dengan barisan tekhnologi tersebut, analisis analisis yang semula sangat sukar bahkan mendekati kata tidak mungkin saat ini dan kedepannya akan menjadi mungkin dan dan cepat. Ketiga tekhnologi kunci 4.0 berperan dalam membentuk suatu sistem penilaian Risiko Bencana, Sistem Penunjang Kesiapsiagaan & Peringatan Dini, serta Sistem Penanganan Darurat Bencana menjadi lebih baik dan cepat baik secara near real time hingga realtime.

Tekhnologi IoT saat ini telah dan akan terus dikembangkan untuk mengintegrasikan semua sensor sensor terkait kebencanaan. Tekhnologi pengelolaan Big Data pula sedikit demi sedikit telah dimanfaatkan oleh beberapa instansi untuk mengelola data data sangat besar dari segi jumlah, variasi dan cepat fluktuasi perubahannya, kebanyakan kementerian dan organisasi tersebut mengolah tumpukan big data-data berbentuk citra satelit, hasil model hingga data data tidak terstruktur seperti konten konten di media sosial, serta video dan photo dari alat alat yang mereka pasang. Untuk tekhnologi AI, tampaknya belum begitu berkembang dibandingkan dua tekhnologi sebelumnya. Ada beberapa instansi yang memproklamirkan tekhnologi AI yang mereka gunakan dalam penanganan terkait bencana. Berdasarkan hal hal diatas dapat dikatakan bahwa ketiga tekhnologi inilah yang nantinya membentuk dan membawa kerangka berpikir dan kerangka implementasi Manajemen Bencana di Indonesia dari Timeseries menuju Real Time.

Dari “Owning” Menuju “Sharing” yang Tak Terbatas dan Melampauinya

Jika pada era sebelumnya, kepemilikan aset pribadi merupakan suatu keharusan untuk berhasil menguasai suatu bidang, maka pada era Revolusi Industri 4.0 ini kita justru dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik dan sangat kontras bila dibandingkan dengan era sebelumnya. Pada Era Revolusi Industri 4.0 atau dapat pula dianggap sebagai Era Society 5.0 kita berada pada suatu gerakan untuk saling berbagi nilai aset untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam budaya berbagi ini seorang pemilik aset dapat memonitisasi asetnya dengan cara berbagi, baik nilai hingga berbagi aset mereka. Saat ini kita dapat dan telah terbiasa untuk berbagi pakai atau sekedar menikmati nilai suatu barang. Budaya berbagi ini kini kian lama kian tidak terbatas dan dapat melampaui batas batas yang yang tidak pernah terpikirkan pada era sebelumnya.

Pada Era Revolusi Industri 4.0, orang kini tidak sungkan lagi untuk menumpang dan menumpangkan seseorang tak dikenal menuju lokasi yang ia inginkan (Gojek dan Grab), Di era ini orang tidak sungkan menginap dan menginapkan seseorang tidak dikenal pada aset propertinya (dengan Airbnb). Pada Era ini pula orang tidak lagi sungkan memberikan sebagian dari rejekinya untuk dikumpulkan seseorang yang tidak ia kenal untuk keperluan sosial seperti sumbangan pada korban bencana dan sebagainya (dengan Kitabisa.com).

Saling Berbagi dan Saling Melengkapi adalah salah satu kunci untuk Manajemen Bencana Indonesia yang Lebih Baik (Image by BarbaraBonanno on Pixabay)

Budaya dan kerangka berpikir saling berbagi seperti ini akan membawa dan meletakan Manajemen Bencana di Indonesia pada Manajemen Bencana yang lebih humanis. Dengan bantuan tekhnologi pengusung Revolusi 4.0 maka tidak adala lagi batasan dan halangan bagi kita untuk untuk saling menolong dan saling meringankan saudra saudara kita saat terjadi bencana. Tidak hanya terbatas pada bantuan barang dan uang, budaya berbagi pula tampaknya akan bergerak pada tindakan tindakan fisik yang lebih nyata seperti berbagi informasi dan tenaga yang berlandaskan pada asas kepercayaan untuk mengurangi kerentanan, serta meningkatkan kapasitas kita dalam menghadapi bencana.

“Sebuah Impian ?” Membangun Plaform Kebencanaan dan Keselamatannya

Ini merupakan akhir namun bukanlah pengakhiran, ini juga merupakan muara dan antarmuka dari segala pergeseran dan perubahan yang di bimbing Revolusi 4.0 untuk Manajemen Bencana di masa depan yang lebih baik. Pembangunan sebuah platform kebencanaan bukanlah terbatas membangun sebuah aplikasi kebencanaan dan melemparkannya pada ekosistem mobile baik IOS maupun Android. Kita tidak boleh terperangkap dengan logika produk ,meskipun terlihat modern dan canggih sebuah aplikasi yang hanya menjalankan suatu tujuan tertentu dan tidak memberikan ruang bagi para pengguna untuk saling berbagi dan berinteraksi hanyalah produk tekhnologi biasa dan belum dapat dikatakan sebagai sebuah Platform.

Platform yang dimaksud disini lebih dari sekedar sebuah “produk” aplikasi kebencanaan. Platform yang dimaksud disini adalah suatu media yang melayani pergeseran kerangka berpikir kita yang mulanya sekedar time series menuju realtime. Sebuah platform yang memberikan layanan peningkat pemahaman kita terhadap posisi kita terhadap bencana. Tidak hanya posisi dalam arti sempit yang menggambarkan lokasi namun juga posisi risiko kita secara personal. Dengan tekhnologi IoT, Big Data dan AI, platform ini harus secara realtime menganalisis seberapa besar risiko kita terhadap setiap bencana dari waktu ke waktu. Melalui platform tersebut kita juga dapat berkomunikasi dan menjalani bimbingan untuk meningkatkan ketahanan kita terhadap bencana. Dan bilamana sudah terjadi bencana platform tersebut pula yang akan mampu menganalisis secara cepat dan menginformasikan kepada otoritas berwenang bahwa kita berada dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan segera.

Kata Kata Mendiang Steve Job yang merupakan salah satu inovator yang mengakhiri jebakan Era Produk dan membawa kita masuk kedalam Era Platform seperti sekarang (Image by FirmBee on Pixabay)

Dari platform ini hasrat berbagi kita yang saat ini telah berangsur menjadi budaya dapat tersalurkan dan terlayani dengan baik untuk meringankan penderitaan para korban bencana. Dengan platform ini pula para investor dapat memahami prospek dan risiko aset dan investasinya terhadap krisis dan bencana. Sebuah platform bukan hanya sebuah aplikasi yang melayani kebutuhan kebutuhan namun lebih dari itu sebuah platform bencana yang dibutuhkan kedepan adalah sebuah platform yang membentuk suatu kesadaran dan kebudayaan yang aman terhadap bencana dan memberikan keleluasaan berinteraksi pada masing masing pengguna guna meningkatkan kapasitasnya menghadapi bencana dan mengamankan aset aset mereka dari bencana.

Yang menjadi pertanyan sekarang adalah apakah era platform dalam manajemen bencana hanya sebuah impian kosong yang sukar dan tidak mungkin direalisasikan? Atau justru sebaliknya dari hari kehari bulan kebulan dan tahun ketahun, dengan bantuan tekhnologi pendukung Revolusi Industri 4.0 manajemen bencana di Indonesia akan beranjak menuju Manajemen Bencana yang baru dan lebih baik.

Revolusi Industri 4.0 jangan hanya diarahkan pada usaha untuk memperkaya segelintir orang saja. Revolusi ini juga harus diarahkan pada peningkatan kemampuan kita dalam misi misi kemanusiaan yang dalam hal ini adalah Manajemen Bencana di Indonesia yang baru dan lebih baik agar dapat menyelamatkan Jiwa lebih banyak, menyelamatkan aset dan harta benda lebih banyak dan mengurangi dampak bencana terhadap sosial ekonomi dan penghidupan para penyitasnya.

(Dewa Putu AM, 2019)

Untuk sampai kesana mungkin butuh usaha dan waktu yang panjang. Tetapi untuk permulaan, kita dapat memberikan sedikit sumbangan pemikiran dan tenaga untuk kemajuan Manajemen Bencana di Indonesia.

Daily LifePsikologiUncategorized

Srategi Menata Keuangan Saya di Tahun 2019

March 3, 2019 — by dewaputuam4

IMG_20190302_105519-02-960x543.jpeg
Menata lagi Keuangan dengan cara [Jenius]

Tahun 2018 lalu merupakan tahun yang luar biasa bagi saya. Banyak kebodohan finansial yang saya lakukan pada tahun tersebut sehingga gaji dan hasil jerih payah saya selama berbulan bulan cepat sekali menguap dan hilang tidak tahu kemana rimbanya. Pada tahun tersebut banyak sekali pengeluaran pengeluaran impulsif terjadi begitu saja, habis uang di kantong tarik atm kemudian habis lagi dan tarik lagi begitu seterusnya hingga sesekali di ATM pun terkadang habis dan perlu megorek ngorek tabungan yang sengaja disimpan ditempat lain untuk pegangan dana darurat. Pada tahun tersebut saya [untungnya] iseng mencatat pengeluaran saya dalam satu bulan, dan munculah suatu fakta mengerikan bahwa saya dalam bulan Desember 2018 telah menghabiskan 150% dari penghasilan saya. Pada saat itu saya syok sekaligus terheran heran, ternyata gaji saya selama ini tidak menambah saldo tabungan saya justru menggerus dikit demi sedikit tabungan dan simpanan dari berbagai bonus dan kegiatan yang saya lakukan selama ini.

Itu merupakan titik balik pengelolaan finansial saya [mungkin]. Saat itu juga saya merasa jika dibiarkan seperti itu terus kesehatan finansial saya akan terancam dan bukan tidak mungkin masa depan pun akan suram. Sesaat saya terbayang bagaimana masa depan saya sebagai lelaki tua kurus lusuh dan tanpa uang tentu sangat mengerikan. Saya tidak mau berakhir seperti itu dan saya harus secepatnya mulai berubah dan lebih baik lagi dalam mengelola keuangan saya setidaknya demi kesehatan finansial yang lebih baik. Untuk hal tersebut selama 2019 ini saya mulai menerapkan Beberapa strategi untuk mengelola keuangan pribadi saya.

Menggunakan Platform Penyimpan dan Pengelola Uang yang Bisa Diandalkan

Pada awal awal ahun 2019 saya mulai memindahkan uang saya pada suatu platform fintech dari dari Bank BTPN yang bernama Jenius. Saya sebenarnya sudah lama mendengar Jenius namun baru awal tahun ini saja mencoba menggunakannya karena terpengaruh pembicaraan dan saran dari rekan kantor saya, selama beberapa haripun saya melakukan riset kecil kecilan apakah platform ini dapat saya andalkan untuk memenuhi kebutuhan saya. Beberapa poin penting yang saya garis bawahi sebagai prasyarat saat itu untuk memutuskan apakah platform Jenius dapat memenuhi kebutuhan saya antara lain:

  • Platform tersebut harus Aman dan Terpercaya, Saya tidak ingin menitipkan uang saya pada suatu platform yang tidak jelas dan sulit untuk dipercaya. Karena Jenius merupakan produk salah satu bank BUMN dan sampai sejauh inipun tidak ada keluhan-keluhan signifikan yang saya temukan dari penelusuran saya maka untuk poin ini saya anggap Jenius Aman dan Terpercaya.
  • Platform tersebut harus sesederhana mungkin sehingga mudah digunakan untuk sekedar mengecek saldo, transfer, dan transaksi lainnya. Dalam hal ini saya rasa Jenius cukup sederhana dan mudah dipahami, tidak perlu token tokenan dan bisa melakukan transaksi dari sekedar cek saldo hingga transfer lainnya dengan mudah tanpa mengorbankan faktor keamanan karena sudah memakai pasword sidik jari.
  • Harus ada keunggulan lain dibandingkan fintech dari perbankan lain, Terkait hal ini saya rasa Jenius juga memiliki keunggulan yang menjadi faktor penentu saya menggunakan Jenius adalah Keberadaan kantong kantong penyimpanan uang dengan berbagai macam keunggulannya. Selain pada rekening utama kita juga dapat menyimpan uang kita pada kantung lain antara lain Flexi Saver, Dream Saver dan Maxi Saver. Dari kantung kantung rekening ini ada banyak keuntungan menarik yang diwarkan. Dengan Felxi Saver kita akan mendapat tawaran Bunga yang cukup besar yakni 5% p.a. dan dengan flexibel dapat kita setor dan tarik ke rekening utama sesuai kebutuhan. Saya biasa menempatkan uang saya pada kantung ini agar bunganya besar karena meski dicairkan bulanan bunga dari flexi saver ini dihitung harian. Jika ada minimal 10 juta uang yang tidak kita gunakan selama minimal satu bulan maka kita juga dapat mendepositkan uang tersebut dalam Maxi Saver dengan bunga yang maxi tentunya yakni sekitar mencapai 7% p.a. Sedangkan Dream Saver merupakan kantung yang dapat kita atur secara otomatis mengkeep uang dari rekening utama kita tiap rentang waktu tertentu hingga uang mencapai jumlah yang kita inginkan misalkan untuk membeli kamera atau bahkan mobil hehehe. Untuk Dream Saver bunganya sama dengan Felxi Saver yakni 5% p.a.
Say Hay to Jenius (Sumber: Jenius

Dengan Platform Jenius saya terus memantau pengeluaran yang saya lakukan dan dengan jenius juga kita dapat mengisi saldo dompet dompet digital kita seperti Gopay, OVO TCash dan MTIX. Untuk hal ini justru membuat saya lebih boros sih hehehe tapi sekaligus lebih irit mengingat untuk Gopay dan OVO selama beberapa waktu ini masih menebarkan promo promo spesialnya. Ada satu fitur lagi yang belum saya gunakan, yakni 3 jenis kartu debitnya yang dapat digunakan seperti kartu kredit (karena tergabung dengan grup VISA) sehingga bisa digunakan dimanapun dan juga dapat dipakai untuk melakukan pembelian online. Karena pada dasarnya merupakan kartu debit jadi yang diambil adalah uang sebesar yang kita isi pada kartu dan bukan berhutang [aman lah ya].

Layanan ini belum sempat saya gunakan tetapi kedepannya mungkin akan saya gunakan untuk membayar langganan beberapa aplikasi penunjang kegiatan kerja saya seperti ArcGIS dan juga memperpanjang Blog yang sedang saya gunakan ini. Baru itu yang terpikir oleh saya, kurang tahu kedepannya akan saya gunakan seperti apa. Pada intinya dengan Jenius ini pengeluaran saya lebih dapat saya monitor dan kontrol.

Sebagai konsumen Jenius, Masih banyak lagi cara cara Jenius memanfaatkan platform ini agar mendapatkan keuntungan lebih maksimal. Untuk lebih jelasnya teman teman dapat mengunjungi alamat Jenius Co Create disana kita dapat urun ide dan mencari cari ide kira kira fitur apa yang kita butuhkan dan dapat kita gunakana dengan Jenius.

Meningkatkan lagi Kedisiplinan dalam Membuat Catatan Keuangan

Selain menggunakan aplikasi Jenius, saya juga menggunakan aplikasi android lain untuk mencatat secara manual pemasukan dan pengeluaran harian saya. Setiap sen uang yang saya keluarkan saya catat dengan teliti dan memberikan batasan batasan wajar dan bersahaja untuk keperluan keperluan tertentu seperti hiburan dan konsumsi saya. Dengan strategi tersebut saya dapat mengerem pengeluaran saya jika sudah mendekati batas batas yang saya tentukan. Misalkan untuk konsumsi butget saya tinggal sedikit ya saya tidak lagi cari makan makanan yang tidak perlu dan mahal.

Kalau meminjam istilah ayah saya “Kita tu makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”. Jika filosopi tersebut saya terapkan pada konsumsi saya maka dapat diartikan bahwa apa apa yang kita konsumsi, baik makan, dan barang barang lainnya musti sewajarnya dan untuk memenuhi kebutuhan kita. Jangan bertindak sebaliknya yang hidup hanya untuk konsumsi saja.

Mulai Berinvestasi pada Emas dan Reksa Dana

Setelah menemukan platform yang sesuai untuk menyimpan dan rajin mencatat semua pendapatan dan pengeluaran saya secara rapi maka langkah selanjutnya adalah menjaga kesehatan finansial kita dari gerusan inflasi dan menyiapkan keperluan keperluan masa depan. Untuk memenuhi dua kebutuhan tersebut maka pada tahun ini juga saya memulai untuk belajar berinvestasi. Saya akui ini memnag sudah cukup telat namun saya rasa kesehatan finansial saya masih lebih dapat tertolong bila saya mulai sekarang dari pada tidak sama sekali.

Invest (Sumber: vectorpouch via Freepik.com )

Agar lebih aman dan memperkecil kemungkinan menguap saya memutuskan untuk membeli beberapa produk investasi yang akan saya tingkatkan secara berkala. Produk investasi tersebut berupa Emas dan Reksa Dana. Saya memilih Emas karena nilainya yang lebih stabil dari uang yang kita simpan dan tentunya sekalian nyicil untuk semacam mas kawin mungkin rasanya akan lebih ringan jika sudah mulai menyicil [hehehe]. Untuk membeli emas saya menggunakan Aplikasi android dan secara menggembirakan juga bekerja sama dengan Jenius sehingga saya mendapatkan Cashback untuk pembelian jumlah minimal tertentu dan pada hari tertentu juga. Untuk sobat missqueen seperti saya, tawaran tersebut tentu sangat menarik. Pembeliannya pun sudah menggunakan fitur Payme dan $Cashtag dari jenius sehingga proses pembayarannya menjadi lebih mudah.

Selain emas saya juga berinvestasi pada Reksa Dana dan lagi-lagi sebagai generasi milenials saya menggunakan suatu aplikasi android untuk bertransaksi reksa dana saya. Karena saya termasuk orang yang agak konserfatif maka produk reksa dana yang saya beli terbagi dalam dua kelompok yakni Reksa Dana Pasar Uang dan Reksa Dana Saham dengan perbandingan 2:1, saya melakukan hal tersebut agar setidaknya risiko penguapan di reksa dana saham saya dapat di buffer oleh reksa dana pasar uang. Sejauh ini sih strategi tersebut saya rasa cukup jitu dan tidak terlalu membuat waswas dibandingkan saya terjun secara bebas ke reksa dana pasar modal saja. Untuk membelinya saya juga memanfaatkan fitur transfer pada Jenius. Sebenarnya cukup disayangkan sih aplikasi ini tidak melakukan kerja sama dengan jenius untuk menggunakan fitur $Cashtag, mungkin bila terdapat fitur tersebut akan lebih mudah.

Dengan tiga strategi yang telah saya sebutkan diatas, saya berharap kesehatan finansial saya menjadi lebih baik dari tahun tahun sebelumnya dan kemampuan mengelolanya finansial saya juga dapat meningkat hingga mungkin kedepannya saya sudah cukup ilmu untuk masuk kedalam step selanjutnya yakni bermain langsung ke pasar modal (amin).

Saya rasa mungkin cukup itu saja yang dapat saya bagikan saat ini mengingat tulisan ini sudah terlalu panjang dan jika diteruskan akan semakin panjang lagi. Cukup sekian tulisan saya saat ini.

salam

Dewa Putu AM

Daily LifeHiburanUncategorized

[Lagu] Hard To Love

March 1, 2019 — by dewaputuam0

adventure-1807524_1280-960x589.jpg
Event when I Hard to Love (Sumber:Pixabay)

Halo, agar tidak masuk dalam keanggotaan organisasi alis tekuk, semacam organisasi sesat tempat orang orang terlalu berpikir berat dan berbicara ala ala motivator motivator terkenal, ada baiknya dalam tulisan ini saya akan sedikit merenggangkan saraf saraf dalm otak saya untuk menulis yang ringan. Dalam tulisan ini saya ingin membahas tentang sebuah lagu yang nada dan liriknya menurut saya bagus dan Metal banget (Melankolis Total) hehehe. Saya akan bercerita tentang sebuah lagu karya Band One OK Rock yang berjudul “Hard To Love”.

Lagu ini dibuat oleh Taka untuk ayahnya dan menceritakan tentang padangan seorang Anak terhadap sang ayah. Dalam lagu ini ia menceritakan kisah kisah sederhana masa kecil yang sepertinya sama seperti anak anak pada umumya yang tidak sabaran untuk beranjak dewasa. Taka menceritakan dalam lagunya, Saat itu ia benar benar tidak sabaran beranjak dewasa hingga ia terkadang menggunakan sepatu ayahnya yang tentunya sangat besar bahkan ia sendiri belum dapat mengikat sepatu tersebut dengan benar. Kisah kisah sesederhana ini banyak sekali dilakukan oleh anak anak jaman dulu atau bahkan hingga sekarang masih banyak anak kecil yang melakukannya, Menggunakan sepatu besar milik ayah kadang membuat kita merasa keren dan gagah. Saat kecil, saya beberapa kali (sering) iseng mencoba memakai sepatu pantofel ayah saya sepulang kerja wkwkwk meski pada akhirnya akan tampak seperti kaki bebek dan sukar untuk berjalan dengan benar, namun tidak tahu kenapa saat itu saya merasa keren sekali dan merasa seolah olah saya sudah sebesar bigboss hehehe.

Wait ngomong ngomong rada susah nyebut ayah, soalnya biasanya di rumah saya lebih sering memanggil dengan sebutan Bapak, tapi saya rasa akan aneh bila saya menyebut ayah atau bapak secara tidak konsisten, aneh pula bila saya menyebut bapak dalam ulasan lagu ini, jadi saya putuskan menggunakan istilah ayah saja ya #sip. Kembali ke ulasan,

Nah dalam lirik selanjutnya sudah mulai nih ke “Metal”-an dari lagu ini. Dalam liriknya, Taka berkata bahwa sebesar apapun seorang anak tumbuh, pastilah ia menghadap sang ayah sebagai sosok yang besar dan tangguh. saat lirik ini sekilas lalu saya langsung terbayang sosok besar gendut dan agak sedikit kekar oia sixpack juga namun horisontal dengan rambut dan kumisnya yang sudah memutih harus saya akui bahwa ayah saya literally masih cukup tangguh untuk menempeleng anaknya sampai koprol hehehehe horror yo. Tapi biar bagaimanapun seramnya, suatu hari ayah saya pernah berujar pada saya, “Wak,.. segede apapun kamu sekarang dan nanti, kamu tetap anak bapak yang akan bapak didik sambil memutar cincinnya. Diberi sedikit pelajaran kalau memang salah hehehehe. Tetep serem ya ceritanya hehehe.

Ini Foto pak Boss yang pada tanggal 26 Februari kemarin Berulang tahun hehehe tampak Garang dan Horor kan yak, tapi hatinya baik. Salah satu kata yang saya ingat sampai saat ini adalah “Wa, kamu tidak perlu jadi yang terbaik, kamu hanya perlu menjadi satu diantara yang terbaik” Sederhana namun kata kata itu menjadi salah satu pegangan saya dalam bersikap dan bertindak hingga saat ini hehehe.

Dalam lagu hard to Love, Taka menuliskan bahwa Meskipun ia kini sudah besar ia tetap selalu memandang ayahnya dan menghormatinya sebagai orang yang besar dan tangguh. Hal yang tak pernah berubah pun bagi seorang Ayah, sebesar apapun sang anak, beliau akan selalu beranggapan kalau sang anak masih anaknya yang dulu dan masih ia anggap sebagai sebuah berlian yang perlu selalu ia asah. Dan sang ayah pun selalu membantu anaknya untuk menjdi seseorang manusia yang baik. Dalam lagu ini Taka yang notbennya telah sukses bercerita bahwa Ayahnya lah yang terus berusaha agar dirinya menjadi ia yang sekarang.

Sikap semacam ini juga ada pada Ayah saya biar sudah besar kalau salah ya tetap di jewer, yah meski beberapa tahun ini sudah beralih pada diskusi si, kata beliau tidak terlalu seru dan pantes kalau njewer orang yang sudah gede, dan dah lebih layak diajak beragumen bila merasa ada yang salah untuk mengingatkan. Saat itu jujur saya merasa keren hehehe karena sudah dianggap sebagai anak yang dewasa lah. Karena ayah saya pula saya menjadi orang yang seperti sekarang, didikan yang cukup keras khususnya saat belajar toyoran demi toyoran seringkali mendarat bila saya bertanya soal soal matematika yang sama berkali kali dan hal yang sama pula bila saya terlalu lambat dalam menyelesaikan soal tertentu. Hasilnya cukup lumayan lah hehehe.

Kemudian taka bercerita kembali dan ini salah satu baris lirik yang paling saya suka dalam lagu itu. Melalui lirik tersebut taka bercerita bahwa dirinya dan sang ayah selama ini telah merasakan pasang surutnya kehidupan namun ia selalu berharap sikap dan tindakan yang ia ambil dapat membuat ayahnya bangga, Dan sang ayah yang selalu menertai langkahnya selalu dapat membuat permasalahan permasalahan yang mereka hadapi terlihat mudah meskipun terkadang ia sulit untuk menyukai apa yang terjadi tersebut. Melalui lirik ini terlihat lah kemampuan spesial sang ayah selama ini. Seorang ayah (termasuk bapak ku) akan selalu mendampingi perjalanan anaknya mengarungi pasang dan surut kehidupan. Saat pasang bahagia, beliau lah bersama Ibu menjadi orang pertama yang tersenyum bangga dan saat surut beliau pula yang selalu jadi orang pertama yang pasang badan untuk melindungi kita dan dengan tanpa ragu mengulurkan tangannnya saat kita terjatuh dan hendak menyerah.

Sebagai seorang anak menganggap bahwa capaian tertingginya bukanlah uang yang berlimpah, kemasyuran atau apapun itu. Bagi seorang anak, capaian tertingginya sangatlah sederhana. Seorang anak ingin melihat Ayah dan Ibunya bangga akan sikap dan tindakan yang ia ambil, seorang anak tidak begitu terkesima akan puja dan puji orang sekitarnya, ia tidak begitu terkesima akan segala bonus dan penghargaan yang ia terima. Namun sesederhana senyum dan ancungan jempol dari orang tuanya tanda bangga lah yang membuat ia puas dan bahkan sesekali menitikkan airmata bahagia. Yah, mungkin terbaca sebagai sesuatu yang berlebihan dan melankolis tapi itulah yang saya rasakan. Apapun yang saya lakukan sekarang, meski kadang harus luntang lantung, disepelekan dan terhina tujuan utama saya sederhana saja, saya ingin membuat Ayah dan Ibu saya bangga atas apa yang saya lakukan.

Featured image by Pixabay.com