main

BencanaBukuDaily LifePsikologiUncategorized

Tetap Menjadi Manusia saat Menyikapi dan Menghadapi Bencana dengan Filosofi Stoa

August 1, 2019 — by dewaputuam0

beach-blue-skies-by-the-sea-934718-960x645.jpg
Kita terlalu sibuk mengurusi dan mengkawatirkan apa yang tidak dalam kendali kita dan sayangnya pula terlalu sering mengabaikan apa yang ada dalam kendali kita. Saat kita berharap lebih pada apa yang tidak bisa kita kendalikan disitulah kita akan merasa gelisah dan takut kehilangan dengan cara yang konyol. Dikotomi kendali inilah yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis topik terkait hal ini (Sumber Ilustrasi: Pixabay @ www.pexels.com)

Isu gempabumi dan tsunami di laut selatan Jawa, meletusnya kembali gunung Takuban Perahu, potensi gempa dan tsunami Lombok dan isu isu terkait kebencanaan lainnya sering kali menyebabkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat yang kini begitu melek tekhnologi dan sangat mudah mengakses informasi. Bagi sebagian orang yang berkecimpung dan sering bersinggungan dengan bidang ilmu kebumian tentunya tidak akan heran dengan isu isu seperti ini karena memang dengan lokasi Indonesia yang “demikian strategis” mau tidak mau suka atau pun tidak suka hal itulah yang kemudian berdampak pada besarnya kemungkinan terjadi bencana seperti gempabumi, tsunami dan erupsi gunung api. Namun kita juga janganlah lupa bahwa “strategis”nya posisi indonesia itu juga yang memberikan kita kekayaan yang begitu berlimpah saat ini baik berlimpahnya minyak dan bahan tambang, suburnya tanah serta keindahan keindahan lainnya yang terkadang tidak dimiliki oleh negara negara lain.

Rasa khawatir masyarakat kita akan berbagai informasi yang meresahkan tidak sepenuhnya salah tersebut mengakibatkan beberapa dampak yang kontraprodktif bahkan dari beberapa tulisan yang saya sempat baca sebagian dari mereka ada yang sangat ketakutan dan memutuskan untuk mengungsi dan menjauhi tempat tempat yang diisukan tersebut. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya apakah ketakutan yang seperti itu diperlukan dan baik dalam menyikapi potensi bencana yang ada? Jika benar perlu dimanakah kita akan berlindung, Saat menjauhi laut karena takut tsunami kita lari kegunung namun gunung juga bisa meletus, kalaupun tidak gunung lereng lereng terjal diperbukitan pun bisa saja longsor dan menelan kita setiap saat. Belum lagi potensi bencana bencana lain seperti angin puting beliung, banjir, kecelakaan kendaraan, meteor, virus. “Actually There are no place to hide dude.

Hingga beberapa minggu yang lalu saya menemukan sebuah buku yang berjudul Filosofi Teras karya Henri Manampiring. Dari buku ini kita akan diajak untuk berkenalan dengan suatu Filosofi (“Teras” terjemahan bebas dari Stoa) yang ternyata telah ada dan berkembang di Yunani sejak 2000 tahun yang lalu. Saya rasa filosofi ini dapat dengan mudah kita manfaatkan sebagai salah satu panduan hidup kita yang tentunya dapat kita jadikan sebagai salah satu panduan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menguraikan beberapa prinsip dasar dari filosofi ini yang dapat dan sudah pula digunakan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Sudah disini saya maksudan karena prinsip prinsip ini bukanlah hal baru dan sudah banyak orang saya lihat dan temui di daerah bencana menerapkannya dalam memnghadapi apa yang terjadi pada mereka yang dalam hal ini adalah bencana.

Kebahagiaan dan Kedamaian Dicapai Saat Kita “Selaras dengan Alam”, Begitu juga dengan sebaliknya

Selaras dengan alam tidaklah sertamerta harus mengikuti alam tanpa daya untuk berperilaku lainnya. Seperti pada islustrasi ini, Batu ini tidaklah tersusun secara alamiah, namun dengan menselaraskan titik berat batu batu tersebut dengan sedemikian rupa dan mengikuti hukum serta proses yang ada dialam maka batu tersebut dapat kita susun sesuai dengan keinginan kita. Namun kita tidaklah bisa berharap batu tersebut tersusun seperti itu selamanya karena bisa saja suatu ketika batu tersebut tersapu oleh banjir, ataupun tersenggol seekor monyet yang sedang hendak meminum air di sungai. (Sumber Gambar: Pixabay @ www.pexels.com)

Dalam filosofi stoa kita diajak untuk hidup selaras dengan alam. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam menjalani filosofi ini. Selaras dengan alam yang dimaksudkan tidak hanya sekedar mencintai alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon ataupun segala macam kampanye cinta lingkungan lain yang terdengar agak sedikit retoris belakangan ini. Konsep selaras yang mereka utarakan lebih pada memposisikan diri selayaknya manusia dengan segala kelebihannya, sebuah keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yakni dalam hal berpikir dengan menggunakan nalar rasionya. Selaras dengan alam berartimenempatkan diri sebagai enitas makhluk hidup yang bernalar dan rasional.

Kebahagiaan dan kedamaian dicapai saat kita “selaras dengan alam” berarti sebagai manusia yang igin bahagia kita harus selalu berpegang pada nalar dan pikiran rasional kita. Kita tidak boleh terjebak dalam hal hal yang tidak rasional dan jauh dari nalar kita. Jika hal ini tidak dapat kita penuhi gelisah, rasa kawatir dan takut akan selalu memeluk erat kita. Hal hal yang tidak rasional dan diluar nalar terkait bencana sering saya temui menjadi sesuatu yang viral dan menghantui masyarakat kita. Dari hal hal sepele seperti menekan tombol like atau mengetik angka 1 di satu postingan media sosial agar terhindar dari petaka hingga pada hal hal tidak asional yang tidak ada lucu lucunya sama sekali seperti isu akan adanya bencana besar. Bagi sebagian orang yang jauh dari lokasi bencana mungkin menganggap hal itu bercanda saja, namun mereka mungkin tidak tahu di lokasi bencana hal itu tidak sebercanda yang mereka kira karena berkaitan dengan hidup dan mati banyak orang.

Selain selaras dengan alam, filosofi stoa juga percaya bahwa segala sesuatu baik entitas ataupun kejadian dalam hidup ini ini tidaklah berdiri sendiri namun melimiliki jalianan yang saling terhubung dan terkait. Keterkaitan segala sesuatu di dalam hidup disebut sebagai interconectedness. Begitu juga dengan bencana dengan segala dampak yang ditimbulkannya baik secara struktural seperti pepohonan yang tumbang, bangunan yang runtuh hingga pada para korban luka, hilang dan meninggal. Ada jalinan sebab akibat pada itu semua, dari strukturnya yang kurang baik dan tidak selaras dengan alam lingkungan sekitarnya, sistem peringatan dini yang belum layak, hingga pada pemahaman masyarakat setempat terkait potensi dan cara selamat dari bencana yang kurang memadai. Untuk mengurangi akibatnya tentulah kita perlu mengelola penyebabnya dengan baik. Ini bukanlah suatu tindakan perlawanan dan mengingkari apa yang terjadi, namun justru dengan melakukan kesemua itu kita telah selaras dengan alam dengan menjadi manusia seutuhnya yang menggunakan nalar, akal sehat dan rasionya dalam menghadapi bencana.

Dikotomi dan Trikotomi Kendali, dan Kaitannya dalam Sikap Kita pada Isu Bencana

Kita sebagai manusia hanya dapat melakukan dan berkuasa pada sedikit hal yang berada dibawah kendali kita. Namun ingatlah bahkan itusaja sudah cukup dan jangan cemas karenany. Jalani apa yang dapat kitalakukan biarkan semesta menjawab kita sepertiapa episode selanjutny. (Sumber Ilustrasi: Pixabay )

“Ada suatu hal yang perlu diingat, tidak segala hal dalam hidup berada di bawah kendali kita.” Kata kata ini mungkin terlihat sangat sederhana namun justru disinilah hal paling menarik dan menurut saya paling penting diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Dengan bahasa sederhananya prinsip inilah yang paling ngena bagi saya dan akan lebih menunjukan manfaatnya lagi saat kita berhadapan dengan bencana. Beberapa orang yang saya temui secara sadar ataupun tidak telah menerapkan prinsip ini dalam menyikapi dan menghadapi bencana yang melanda kehidupan mereka. Saat bencana terjadi mereka tidak begitu memusingkan apa apa saja yang diluar batas kendali mereka dan berfokus pada apa saja yang berada dalam kendali mereka secara maksimal dan optimal. Menyaksikan hal ini terkadang saya terharu akan ketegaran mereka sampai yah meskipun malu mengakuinya kadang saya sendiri pun meneteskan air mata terharu, masih manusiawi kan ya. Mereka orang orang yang hebat.

“Bapak, bolehkah saya meminjam truk bapak untuk mendistribusikan logistik. ada beberapa desa yang sampai sekarang kesulitan mendapatkan logistik pak. Untuk pengamanan dan bahan bakar kami yang tanggung pak. Kami hanya ingin membantu warga disana pak, kami kelompok pemuda ingin melakukan apa saja yang bisa kami perbuat untuk saudara saudara kami yang sedang terkena musibah pak. Tolonglah kami pak” Saat berkoordinasi terkait data dengan tentara yang bertugas saat di Palu tahun lalu saya mendengarkan perbincangan seorang pemuda yang sudah lusuh dan terlihat sekali kelelahan sedang meminta bantuan kendaraan untuk mendistribusikan logistik. Dua pemuda itu dari cerita mereka sebelumnya ikut membantu SAR mengefakuasi beberapa korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dan sekarang mereka mengerahkan tenaga mereka untuk membantu pendistribusian logistik. Melihat kesungguhan mereka dari pihak tentara yang bertugas pun membantu mereka baik kendaraan maupun tenaga personil untuk berama sama mendistribusikan ke lokasi yang dimaksud pemuda tersebut.

Konsep dikotomi kendali mengajak kita untuk memisahkan dengan jelas apa apa saja yang berada dibawah kendali kita dan apa apa saja yang berada diluar kendali kita. Filosofi stoa mengajarkan pada kita untuk terfokus pada hal yang berada di kendali kita dan tidak terlalu memusingkan apa yang berada diluar kendali kita. Seperti pada cerita pemuda tadi mereka melakukan apa yang berada dibawah kendali mereka yakni inisiatif mereka untuk melakukan apa yang dapat mereka perbuat seperti membantu dan bahkan juga keputusan mereka untuk meminta bantuan kendaraan pada petugas. Meskipun disetujui atau tidaknya permintaan mereka atas inisiatif mereka meminjam kendaraan adalah hal yang berada diluar kendali mereka namun setidaknya mereka telah melakukan semua yang ada di dalam kendali mereka.

Ketika orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka akan merasa terganggu, ketakutan dan labil

Quotes by Epirectus (Disunting dari tulisan Henry M, FIlosofi Teras)

Hingga kemudian seiring dengan perkembangan jaman, beberapa filsuf juga menyadari bahwa dari kesekian hal yang tidak berada di bawah kendali tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Dengan kata lain ada beberapa hal yang dapat dikendalikan hingga batas tertentu saja. Dari sinilah kemudian dikotomi kendali yang tadinya hanya membagi hal dalam kelas yang bisa dikendalikan dan kelas yang tidak bisa dikendalikan menjadi Trikotomi Kendali yang mengkelaskan hal kedalam tiga bagian yakni yang bisa dikendalikan, yang tidak bisa dikendalikan , dan ketiga adalah yang bisa dikendalikan sebagian.

Konsep dikotomi ataupun trikotomi kendali dari filosofi stoa ini sudah menjawab apa yang terjadi dengan masyarakat kita yang beberapa waktu belakangan ini diliputi oleh keresahan dan kegelisahan yang tidak perlu. Isu potensi gempa dan tsunami yang besar dan mengerikan di selatan jawa hingga Nusa Tenggara, gempa didaerah lembang, isu kekeringan panjang, isu gunung meletus, banjir jakarta, dan isu isu mengerikan lainnya. Jikalau itu benar, semua itu tidaklah berada dalam kendali kita, jadi jangan dipusingkan secara berlebihan, gelisah, dan ketakutan hingga melakukan hal hal yang kitra produktif dengan menghujat, ikut menebar hoax, dan berspekulasi hal hal yang terlalu jauh dan mengada ngada. Konsep dikotomi kendali dalam filosofi stoa mengajarkan kita untuk berfokus pada apa yang berada dibawah kendali kita.

Jangan terlalu membebani diri kita dengan hal yang tidak perlu karena itu pasti sangat melelahkan dan menyita banyak waktu. Waktu kita yang sedikit dan tenaga kita yang pas pasan sepertinya akan lebih baik bila kita manfaatkan dan fokuskan pada hal-hal yang dibawah kendali dan bisa kita lakukan seperti contoh paling sederhananya bila kejadian bencana itu terjadi kira kira apa yang perlu kita lakukan. Mencari tahu dan memahami potensi potensi bencana di wilayah kita masing masing, dan mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk mengurangi risikonya dari menyesuaikan struktur bangunan dengan potensi bencana yang ada. Kita perlu tahu apa tanda tandanya, apakah ada kode kode khusus atau sistem peringatan dini khusus yang ada lingkungan kita saat bencana terjadi. Kita juga dapat memastikan jalur evakuasi kalau toh bencana benar benar terjadi tetap layak dilewati dan bebas dari hambatan.

Tetapi memang si harus kita akui, saat terjadi bencana bukanlah saat saat yang dapat kita phami dengan mudah dan bukan pula sesuatu yang dapat kita hadapi. Rasa limbung, bingung dan tanpa arah menjadi hal yang banyak orang alami saat terdampak bencana. Bersedih bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam filosofi stoa. Meskipun demikian kita tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan itu bahkan sampai dibawa mati (Seneca). Ada sesuatu yang menarik dan menurut saya sangat mengharukan lagi saya temukan pada saat saya ditugaskan di Palu saat itu. Saat itu sudah larut malam (sekitar pukul 9 malam), ada seorang bapak bapak mengunjungi pos kami dan menanyakan kabar anaknya yang ikut menjadi korban kedaysatan tsunami saat itu. Pada mulanya saya sempat berpikir bahwa sosok bapak itu akan terlihat sangat bersedih dan bukan tidak mungkin tangisnya tidak terbendung saat datang pada kami. Namun ternyata semua itu salah besar. Meski masih terlihat jelas kesedihan mendalam pada diri seorang bapak itu namun dirinya masih tegar dan saya tidak bisa berkata apa apa melihat itu semua. Saya tidak tahu pula harus berekpresi apa saat mendengar perkataan bapak itu. Ia sudah iklas akan kepergian anaknya. Dia datang kepada kami hanya ingin meminta bantuan kepada kami untuk memastikan bahwa jasat yang ditemukan oleh tim dilapangan dan dikabarkan anaknya itu adalah benar anaknya. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Gempa, Tsunami, Banjir, Longsor dan semua lainnya adalah suatu keniscayaan yang alamiah terjadi selama bumi ini masih berputar. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Apapun yang kita lakukan tidak akan merubah hal itu. Namun keinginan kita untuk bertahan dan hidup meski terpapar kesua itu jugalah sesuatu yang alamiah, tidak akan ada yang dapat menghentikan keingian kita itu. Memang kita tidak akan dapat membuat gempabumi atau tsunami agar tidak pernah terjadi, Namun kita selalu bisa membuat diri kita aman dan selamat dari itu semua. Itu masih bisa masih bisa kita lakukan karena apa yang kita pikirkan apa yang kita lakukan berada dibawah kendali kita masih ada di bawah kendali kita sebagai manusia yang tetap menjadi manusia saat menyikapi dan menghadapi bencana.

Sumber Sumber yang saya gunakan dalam tulisan Ini

  • Buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini) karya Henri Manampiring dan dipublikasikan oleh Penerbit Buku Kompas
  • Featured Photo in this post is design by Tom Swinnen from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Alasan Ku Menulis Hanya Untuk Berbagi dan Belajar Lagi

July 20, 2019 — by dewaputuam0

blogging-blur-communication-261662-960x640.jpg
Ilustrasi sedang menulis yang saya anggap sebagai “berbagi”. Berbagi adalah hal yang natural dan tidak perlu malu juga tidak lah perlu takut untuk berbagi. Berbagilah layaknya dirimu sedang melakukan hal natural lainnya. Meski terkadang apa yang kita bagi tidak lah sempurna, justru disitulah naturalnya dari berbagi karena kesempurnaan bukanlah sesuatu yang mungkin ada dalam suatu yang natural (Sumber ilustrasi: rawpixel.com)

Kadang ku berpikir sejenak, apakah tulisan ku ini di baca oleh orang lain dan apakah tulisan tulisan saya ini akan bermanfaat bagi mereka. Pikiran pikiran itu harus ku akui selalu bergelayut dalam pikiran saat sedang menulis hingga tidak jarang pula sebuah tulisan yang sudah didraft akhirnya terbengkalai begitu saja tertimbun akan keraguan yang lucunya ku sadar itu tidak perlu, tetapi tetap saja pikiran pikiran seperti itu selalu saja menghantui pikiran ini, seolah sudah ada begitu saja bersamaan dengan pikiran ini diciptakan.

Tidak ada alasan spesifik yang dapat ku jadikan alasan untuk menulis topik ini sekarang. Ku hanya menulis apa yang sedang ada dalam pikiran saja, tidak kurang dan tidak lebih. Seperti pada paragraf ini tetiba ku ingin membahas sedikit sekaligus sekedar memberitahu ke teman teman kalau frasa “Tidak kurang dan tidak lebih” adalah suatu frasa yang ku suka gunakan dalam beberapa tulisan beberapa waktu belakangan ini. Tidak ada alasan spesifik juga tetapi hanya suka saja.

Alur Mengikat yang Membosankan dan Menjemukan, Namun Tak Apa Toh Kita Suka

Ilustrasi sebuah kamera. Kameranya boleh tua tetapi konsep nya agaknya akan seperti itu terus, Film selalu membawa kita pada alur yang mereka buat dan merasa alur itulah yang akan kita sukai. Meski terkadang memanglah alur tersebut yang kita sukai dan tanpa di sangka sangka terjadi, Tetapi tidak boleh dilupakan pula bahwa tidak sedikit pula yang kecewa akan alur yang ditawarkan (Sumber ilustrasi: Jaymantri)

Menulis memanglah bukan suatu kegiatan yang nyaman dan menyenangkan, setidaknya tidak semenyenangkan bermain game atau sekedar menonton film. Namun ada suatu kebebasan yang ditawarkan dari aktifitas ini yang tidak diberikan kegiatan kegiatan lainnya taruhlah seperti bermain game atau menonton film atau yang lebih dekat seperti kegiatan membaca. Ku akan coba jabarkan satu satu dari ketiga kegiatan tersebut untuk menjelaskan apa itu “sesuatu” yang ditawarkan oleh aktifitas menulis dan tidak diberikan oleh aktifitas lain.

Kita mulai dari menonton Film, Yup kegiatan ini memang menawarkan suatu pengalaman yang luar biasa dengan buaian visual dan audio yang berkolaborasi menciptakan ilusi pada kita, namun film yang kita tonton secara sadar ataupun tidak juga mengikat kita pada alur ceritanya, kita dipaksa untuk mengikuti alur yang diberikan oleh sang empunya film tanpa bisa memilih jalan mana yang kita pilih hingga terkadang hal hal konyol dari pilihan sang pembuat film pun mengganggu logika para penonton. Kegiatan membaca juga tidak berbeda begitu jauh dari kegiatan menonton, namun dengan tidak ada balutan visual dan suara yang membimbing.

Dari buku pula kita akan diikat oleh alur pikir dan cerita sang pengarang tanpa adanya tawaran untuk menentukan pilhan secara bebas. Jikapun ada pilihan itupun tetap akan mengarahkan kita pada arah alur yang sudah ditentukan oleh para pengarang yang bukan suatu yang tidak mungkin bila kita tidak sepakat dengan itu. Dari game sebenarnya kita diberikan “sedikit” kebebasan untuk menentukan tindakan apa yang akan kita pilih. Hingga saat ini sudah banyak pengembang yang membuat game dengan alur yang bercabang. Namun tetaplah ada aturan aturan (role) yang membatasi pilihan kita yang sama kasusnya seperti buku yang memiliki alur ganda kita tetaplah diatur dan diikat oleh alur yang sudah ditentukan oleh sang pembuat game tersebut.

Menulis membawaku ke Dunia yang Bebas tanpa Batas

Bebas, sesuatu yang jarang ada di sekeliling kita. Selalu ada yang mengikat kita, baik yang terlihat jelas hingga yang sembunyi sembuny tanpa pernah dapat kita rasa dan sadari. (SUmber ilustrasi: Snapwire )

Berbeda dengan kegiatan lainnya menulis menghadirkan sesuatu yang mungkin tidak teman teman sadari namun inilah salah satu alasan sangat kuat kenapa saya tertarik dengan kegiatan ini. Dari menulis, ku merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Dengan menulis bahkan saya pun bebas menentukan dimana saya harus berhenti, contohnya akan

Nah seperti itu kira kira kebebasan ku saat menulis. Dari menulis juga ku bebas untuk memasukan apapun yang sedang saya pikirkan ahahaha coba liat deh ada orang bulu hidungnya keluar keluar karena sedang iseng saya sedikit melirik dan menghitung bulu hidung yang keluar dari orang itu sekitar 18. Tapi ya orang itu sekarang malah mesra mesraan sama sebelahnya ngeri banget hohoho ini kita lagi di perpustakaan loh untuk hal seperti itu ngeliatnya ngeri.

Nah kira kira seperti itu juga kebebebasan ku untuk menulis, karena ku yakin hanya sedikit orang yang akan membaca tulisan ini sampai baris sini dan akan lebih sedikit juga yang membaca sampai akhir maka akan baik baik saja bila saya menulis apapun pada baris sini hehehe. Contohnya akan aman aman saja kalau kuungkap saja siapa orang yang saya sayang yang sudah dari dulu sekali saya dekati nama orang itu adalah. Eit itu hanya sebuah contoh bahwa sampai pada poin ini berdasarkan penelitian memanglah akan sedikit sekali yang membaca, jika teman teman salah satu orang yang membaca tulisan saya saat ini sampai pada baris ini selamat dan terimakasih atas waktu yang kalian berikan sampai saat ini ya. kalian luar biasa.

Perasaan Membebaskan yang Justru Tidak Membebaskan

Perasaan tidak ada yang mengawasi, tidak ada yang peduli membawa pada suatu perasaan semu yang seolah olah memberikan kita kebebasan untuk mengungkapkan apa saja yang ada. Padat dan bertele tele tulisan diatas sebenarnya sengaja saya berikan untuk sekedar memfilter orang orang malas membaca diluar sana. Saya yakin pada bagian ini mereka mereka itu sudah tersisih dan enggan untuk membaca keseluruhan tulisan saya ini. Jadi kita mulai saja secara singkat apa yang sebenarnya menjadi keresahan saya dan ingin saya bagikan pada tulisan saya hari ini.

Kita dalam keadaan bahaya kawan, ku tidak tahu kalian sadar atau tidak kalau sekitar kita sekarang berubah, yang sayangnya kearah yang mengkhawatirkan. Banyak sekali e orang orang bodo yang semakin menjadi jadi kurang ajarnya dan melakukan hal hal konyol. Yah terkadang memang lucu sih terlihatnya namun saat hal itu terjadi berkali kali akan sangat mengganggu dan justru membahayakan untuk semua. Bebasnya kita berbicara sekarang, membuat apa yang penting dan seharusnya kita tahu menjadi tertimbun dengan hal hal remeh yang tidak ada faedahnya sama sekali.

Kita dibanjiri hal hal remeh tidak penting dan terus menerus demikian bahkan terkadang kita yang sadar bisa limbung dalam arus itu dan kemudian hilang arah hingga kita pun ikut melakukan hal hal konyol itu. Dari sini dimulailah bahaya yang bersembunyi dari arus informasi yang begitu deras itu, otak kita yang terbiasa menyikapi perlahan lahan dan memperhitungkan akasi aksi yang baik dan perlu kita lakukan dengan banyak memepertimbangkan norma dan nilai yang ada. Saat ini semua berubah dan cepat hingga tidak jarang aksi aksi spontan kita lakukan. Kalau begini terus, saya kawatir dari akasi aksi spontan kita itu bukan tidak mungkin kalau akan ada saja orang yang memanfaatkan untuk tujuan tujuan yang tidak baik bahkan jahat.

Ku hanya ingin mengingatkan sekaligus sebagai pengingat untuk diri sendiri. Fenomena ini sebenarnya sudah lama terjadi namun hingga kemarin saat panas panasnya pemilu semua meningkat lo, orang orang jadi semakin senggol bacok, salah dikit di bully, terbuli sedikit sudah membuli balik keroyokan. Semua itu sekarang sudah sangat cepat terjadinya seolah olah orang tidak lagi berpikir dari otak tapi berpikir melalui tulang belakangnya sehingga apa yang ia lakukan full refleks.

Hanya untuk Berbagi, tidak kurang dan tidak lebih itulah alasanku menulis

Jika melalui narasi ku sebelumnya teman teman menyangka ku menulis untuk mengejar kebebasan dan menjauhi dari segala keterikatan tak terlihat sebagaimana yang ada dalam kegiatan menonton film dan bermain game itu tidak sepenuhnya salah. Ku pun tidak mengelak akan hal itu, toh itu benar adanya. Kegiatan menulis memanglah menyenangkan dan membebaskan alam pikir kita dari semua apa yang ada di sekitar kita. Dengan menulis kita dibebaskan dari aturan orang lain karena kitalah yang menjadi aturan itu.

Namun alasan saya menulis ku jauhlah lebih sederhana dari itu semua. Ku menulis hanya untuk berbagi dan belajar lagi. Hanya itu saja dan tidak ada yang lain. Jauh lebih sederhana bukan?

Sumber-Sumber

Sumber ilustrsi untuk cover blog ini Pixabay

ArcGISBencanaGISLingkunganQGISUncategorized

Data Kependudukan dari Kecerdasan Buatan Milik Facebook, Meh?

July 11, 2019 — by dewaputuam0

bigstock-group-of-people-in-form-of-wor-262052332-1560760029753-960x610.jpg
Ilustrasi Populasi Dunia. Data populasi di suatu wilayah adalah data yang saya rasa paling dalam manajemen bencana dan kebutuhan akan data ini akan semakin meningkat saat dilaksanakan operasi. Pengetahuan kita tentang kepadatan penduduk suatu wilayah terdampak pada fase awal akan mepermudah kita menentukan wilayah manayang harus kita jadikan prioritas dalam operasi. (Sumber gambar: Bigstock )

Saya pertama kali mengetahuin keberadaan data ini dari salah satu mahasiswa yang pernah magang di kantor kami sekitar tahun 2018 an. Saat itu dirinya berdiskusi ringan tentang tantangan seorang dosennya untuk mengkaji penggunaan data kependudukan yang disediakan dan dibagikan secara bebas oleh facebook untuk keperluan manajemen bencana, saya lupa fokusnya kebagian mananya. Pada saat saya cukup antusias untuk mendownload dan melihat-lihat kira kira wawsan seperti apa yang akan bisa didapatkan dari data tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan beberapa antrian tugas dari kantor akhirnya keberadaan data tersebut terlupakan hingga berbulan bulan.

Hingga beberapa minggu lalu saya menemukan sebuah artikel yang ditampilkan di feed google news saya yang membahas “Data kependudukan dari Facebook”. Agar tidak bernasip sama seperti sebelumnya maka pada artikel ini saya akan menuliskan sedikit tentang data kependudukan dari facebook ini, yang “mungkin” akan coba sa explore dan maksimalkan penggunaannya dalam bidang yang saya geluti saat ini, manajemen bencana. Tulisan ini saya tujukan sebagai pengingat sekaligus berbagi dan bahan diskusi mungkin dari teman teman sekalian ada yang tertarik mengolah data dari facebook ini baik di bidang yang sama seperti saya taupun bidang lainnya.

Data Kependudukan untuk Operasi Kemanusiaan

Ilustrasi seseorang didaerah terpencil yang sedang terkena musibah, Dengan data kependudukan yang presisi dan detail secara kewilayahan, wilayah wilayah seperti ini akan sukar termonitor oleh para pegiat kebencanaan. Beberapa kasus pernah terjadi saat penanggulangan bencana di Indonesia dimana beberapa kelompok masyarakat terisolir dan susah untuk mengakses ertolongan dan bantuan. (Sumber foto di sandur dari akun Parij Borgohain @Pexels.com)

Data penduduk merupakan salah satu data kunci dalam suatu operasi operasi kemanusiaan dalam hal ini darurat bencana. Tanpa data penduduk yang detail suatu operasi akan menjadi sporadis dan tidak taktis. Kurangnya pengetahuan kita terkait sebaran pendudu disuatu wilayah terdampak bencana akan berdampak buruk pada suatu operasi sehingga meningkatkan kemungkinan kesalahan dalam penentuan prioritas wilayah dan juga beberapa wilayah terisolir akan semakin besar kemungkinannya untuk terlewat.

Sayangnya data kependudukan yang kita dan sebagaian besar negara berkembang lainnya miliki seringkali sukar untuk diakses dan dianalisis sesegera mungkin. Hal ini bisa dikarenakan wilayah yang terlalu luas sehingga sensus berkala dalam interval waktu yang pendek sulit untuk dilakukan, format data yang disediakan pun juga membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat diolah dan diapakai dalam operasi yang membutuhkan waktu sangat cepat dalam penyediaan datanya. Jikapun ada, masih pula perlu diolah lebih lanjut untuk mengetahui pemusatan penduduk dalam suatu wilayah administrasi karena seperti yang kita ketahui bersama penduduk suatu wilayah tidak selamanya tersebar secara merata baik di unit desa, kecamatan, kabupaten dan unit unit lainnya. Penduduk cenderung berkelompok dan dari yang kami temui cenderung membentuk pola terstruktur dan berhimpitan dengan akses jalan.

Sedikit Berkenalan dengan Data Kependudukan yang Dibagikan oleh Facebook

Ilustrasi data populasi Facebook. Data Populasi yang saya bahas disini, menurut facebook (Sumber Ilustrasi: Thorsten Gätz @flickr.com)

Data sebaran penduduk secara spasial sangat diperlukan dalam manajemen bencana. Oleh karena itu, Facebook dengan tim yang dibentuknya terdiri dari para peneliti kecerdasan buatan, data saintist dengan tekhnologi mereka membuat dan membagikan data kependudukan seluruh dunia dengan resolusi spasial yang bisa dikatakan tinggi yakni sebesar 30 x 30 meter persegi) bila dibandingkan dengan resolusi spasial data sejenis World Pop yang memiliki resolusi spasial 1×1 km2. Data Kependudukan tersebut dibagikan oleh Fecebook dan dapat digunakan secara bebas dalam tautan ini.

Resolusi spasial disini menurut saya cukup signifikan pengaruhnya dalam memberikan gambaran nyata sebaran penduduk secara nyata pada saat terjadi bencana. Ada sedikit pengalaman saya bersama teman teman ketika mengolah data kependudukan dengan resolusi spasial yang masih kurang baik saat operasi erupsi gunung agung pada akhir tahun 2017 hingga awal tahun 2018 lalu. Saat terjadi penurunan status dari awas menuju siaga, kami ditugaskan untuk memperkirakan jumlah penduduk yang masuk dalam zona bahaya yang baru akan dirilis oleh PVMBG. Saat menggunakan data Worldpop dan InaRISKpop, perkiraan jumlah penduduk yang berada di dalam zona bahaya masih banyak bahkan seingat saya menyentuh angka ribuan. Untungnya salah satu teman saya berinisiatif untuk melakukan cek ulang dengan menggunakan foto satelit resolusi tinggi yang tersedia bebas melalui google maps, dan benar saja ternyata didaerah tersebut tidak ada lagi bangunan.

Hal ini besar kemungkinan disebabkan oleh kurang begitu baiknya logika yang digunakan dalam memprediksi penduduk yang dilakukan oleh Worldpop khsususnya wilayah wilayah di dekat gunung berapi aktif. Keaktifn gunung api yang terkadang memunculkan lava pijar ada kemungkinan justru dideteksi oleh Worldpops sebagai pemukiman. Hal lainnya yang paling mungkin adalah masih rendahnya resolusi spasial yang ada sehingga pada wilayah yang relatif sempit, kemampuan data tersebut untuk menunjukan variasi spasialnya menjadi berkurang dan cenderung salah.

Logika yang Digunakan Facebook dalam Membuat Data Kependudukan

Visualisasi proses yang dilakukan oleh Facebook dalam mengidentifikasi wilayah wilayah yang terdapat bangunan dan menghapus wilayah wilayah yang tidak terdapat bangunan.

Secara sederhana dalam tulisan resmi mereka pada tautan ini, Facebook memetakan populasi dengan cara mengidentifikasi wilayah wilayah yang memiliki bangunan dari sekian banyak citra satelit resolusi tinggi (0.5×0.5 meter) yang bila dikalkulasikan seluruh datanya menyita kapasitas memori sebesar 1.5 Petabytes (1500 Terabyte). Mengingat proporsi lahan terbangun di seluruh dunia yang sangat kecil bila dibandingkan lahan tidak terbangun, maka menggunakan citra resolusi tinggi 0.5 meter cenderung menyulitkan dan bila dibandingkan maka peluang suatu lahan adalah lahan terbangun berada pada kisaran 1:100000. Oleh karena itu facebook melakukan proses selanjutnya dan menggabungkan 64×64 pixcel dari citra tersebut menjadi satu petak baru sebesar 30×30 meter. Dan petak petak inilah yang kemudian dilakukan analisis.

Contoh petak petak citra resolusi tinggi seluas 30 meter yang teridentifikasi oleh AI milik facebook sebagai wilayah yang terdapat bangunan. (Sumber gambar: Facebook AI)

Data data tersebut kemudian disiapkan untuk dianalisis oleh kecerdasan buatan milik Facebook untuk menentukan dari 11.5 Miliar kotak kotak wilayah yang dianalisis mana yang merupakan wilayah terdapat bangunan dan kemudian juga dipisahkan dari wilayah yang tidak terdapat bangunan. Sebagai data awal untuk melatih AI nya tersebut Facebook juga menggunakan lebih dari 100 juta data berlabel bangunan dari Openstreetmap yang merupakan data hasil digitasi orang orang diseluruh dunia yang dibagikan dan dapat dipergunakan secara bebas untuk keperluan kemanusiaan dan lain sebagainya.

Data data hasil analisis tersebut kemudian dengan bekerja sama dengan pemerintah setempat serta NGO dijadikan sebagai patokan persebaran penduduk yang kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan data kependudukan berdasarkan wilayah administratif untuk memperkirakan jumlah penduduk per pixcel data. Melalui data ini kita tidak hanya tahu suatu desa berpenduduk berapa saja, namun juga dari desa tersebut para penduduknya tersebar diwilayah bagian mana saja.

Karena data ini masih tergolong baru, dalam penggunaannya masih diperlukan beberapa penyesuaian dan pengelolaan lebih lanjut baik dalam bentuk riset riset awal maupun pengujian langsung saat terjadi bencana. Ada satu hal kelemahan yang saya temukan dalam data ini, yaitu data ini cenderung menyamaratakan jumlah penduduk pada setiap pixcel pada unit administrasi terkecilnya. Padahal seperti yang kita ketahui, dalam unit administrasi yang sama kepadatan bangunan tentunya akan berbeda. Olehkarena itu perlu dilakukan beberapa pengkajian khusus lagi serta penyesuaian lebih lanjut dengan data data terbaru dan melakukan pengolahan dengan data kependudukan dengan unit administrasi yang lebih detail lagi agar potensi data ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kemanusiaan.

BencanaDaily LifeUncategorized

“Posting Tanpa Kata” Terakhir dari Pak Topo Untuk Kita

July 7, 2019 — by dewaputuam0

94f0692f41e2d91cf608104c67ef78cb964e0433-960x642.jpg
Sutopo Purwo Nugroho, sosok inspiratif yang selalu cepat sigap dalam memberikan informnasi bencana di Indonesia. Kadang saya sendiri heran bagaimana ia mengatur waktunya hingga seolah olah ia tidak pernah lelah dan terlewat dalam menginfokan bencana. Selamat jalan Pak Topo (Sumber Foto Berita Tagar)

Pagi tadi Indonesia mendapatkan kabar duka dari seorang yang mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Bapak Sutopo Purwo Nugroho yang biasa dikenal sebagai Pak Topo telah meninggalkan kita semua pada pukul 02.00 waktu Guangzhou, Tiongkok. Beliau adalah seorang yang kita kenal sebagai Informan bencana Indonesia, Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang selalu berada di garda depan dalam pemberitaan kebencanaan di Indonesia.

Dedikasi dan pengabdiannya pada bidang kemanusiaan khususnya kebencanaan di Indonesia membuat kita pasti sepakat bahwa ia adalah salah satu yang terbaik. Dedikasi beliau ditunjukan secara nyata dari keseharian beliau dalam melaksanakan tugasnya yang selalu sigap dan cepat memberikan informasi informasi hampir dimanapun dan dalam situasi apapun. Terkadang saya sedikit bingung apa yang membuat beliau begitu, untuk ukuran orang sehat pun rasa rasanya sedikit dari kita yang dapat mengimbangi dedikasi beliau.

Sebagai salah satu penghormatan bagi beliau sekaligus pengingat bagi saya dan teman teman tentang pernah adanya sosok seperti beliau di tengah tengah kita, maka saya membuat putuskan untuk membuat tulisan sederhana ini. Ini tentang “Posting Tanpa Kata” Terakhir dari Twitter Sang Informan Bencana Kita, Pak Topo.

“Posting Tanpa Kata” Terakhir dari Twitter Pak Topo

Pada mulanya saya ingin mengulas sesuatu yang saya rasa menarik dari apa yang dibagikan Pak Topo terakhir kali dalam media akun Twitternya kepada kita. Sebuah gambar kepulauan nusantara dan dihiasi titik titik kuning dan merah. Hal yang berbeda dari postingan sebelumnya adalah pada postingan ini tidak sama sekali diberikan kata kata “Tanpa Kata”. Mengingat kemampuan menulis beliau yang diatas rata rata, maka akan cukup aneh bila beliau membagikan begitu saja sebuah gambar tanpa ada penjelasan apapun didalamnya. Berikut adalah postingan yang beliau bagikan di Twitter pada tanggal 15 Juni sebelum keberangkatan beliau ke Guangzhou.

Sebagai informasi, gambar itu diambil dari situs monitoring hotspot yang di kelola oleh Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), jika penasaran teman teman dapat mengakses tautan ini. Melalui situs milik Lapan ini beliau mendapatkan informasi tentang sebaran titik yang diduga terjadi kebakaran hutan dan lahan, mengingat akhir akhir ini kita akan memasuki musim kemarau yang biasanya akan banyak terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Melihat apa yang dibagikan ini saya sedikit tersenyum getir, dan berkata didalam hati, Pak, sempat sempatnya bapak mengingatkan kami untuk bersiap menghadapi kebakaran hutan dalam keadaan seperti itu 🙁 .

Pak, pesan apa yang bapak berikan kepada kami melalui posting tersebut pak. Apa yang ingin bapak sampaikan kepada kita melalui gambar tanpa kata dari bapak yang bapak bagikan itu. Gambar memang membingungkan pak, berjuta makna dapat kita maknai dari sebuah gambar.

Sesaat saya berpikir dan akhirnya tersadar, Ada satu lagi “posting tanpa kata” yang selalu Pak Topo bagikan pada kita. Posting tanpa kata itu kadang bahkan sering kali tertutup dengan tulisan tulisan bapak selama ini. Sebuah “Postingan Tanpa Kata” yang saat ini justru paling nyaring berkata bahkan lebih nyaring dari kata kata yang tertuang dalam bentuk tulisan sekalipun pak.

Sebuah “posting tanpa kata” tersebut bapak sampaikan melalui apa yang bapak bagikan dan tunjukan selama ini kepada kami, “Dedikasi bapak, Perjuangan, dan Rasa cinta bapak pada kemanusiaan lebih dari apapun dan tidak bisa dihalangi oleh apapun”. Selamat Jalan Pak Topo, Selamat jalan sang Guru Selamat, Sang Informan Bencana. Bapak adalah pahlawan kemanusiaan khususnya dibidang kebencanaan di Indonesia. Terimakasih Pak Topo, kami akan merindukanmu.

“Hidup itu bukan soal panjang atau pendeknya usia, namun seberapa besar kita dapat membantu orang lain”

Pak Topo

BencanaDaily LifeLingkunganMeteorologiOpiniUncategorized

Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap

July 7, 2019 — by dewaputuam0

2017_05_02_26133_1493689431._large-960x642.jpg
Kondisi Jakarta dalam Sepekan Terakhir Tertup oleh Polusi Udara Bahkan dalam Suatu kanal Berita, Kota Jakarta Dituding Sebagai Kota Terpolusi di Dunia. (Sumber gambar: The Jakarta Post)

Jika teman teman tinggal atau sempat singgah di Jakarta tentunya juga merasakan dalam sepekan terakhir kita jarang sekali melihat langit biru di pagi hari. Suasana pagi kita dalam sepekan ini selalu diselimuti kabut, namun sedikit menyesakkan. Hal ini akan tampak begitu jelas bila dilihat dari ketinggian pada lantai tertentu yang mana akan terlihat lapisan kabut yang menutupi kota, sebagai gambaran kira-kira serupa dengan ilustrasi yang saya sandur dari situs berita Jakarta Post di Atas. Jika dilihat sebenarnya kondisi Jakarta yang demikian cukup indah, memiliki kesan sedikit retro dan klasik seperti salah satu filter yang ada didalam aplikasi Instagram. Antara sedih, takut dan takjub, terkadang saya sendiri pun bingung untuk berekspresi seperti apa untuk menanggapi foneomena yang terjadi ini.

Polusi di wilayah Jakarta memanglah bukan suatu peristiwa yang baru, malasah ini sudahlah lama ada dan sama seperti isu isu terkait kebencanaan lain, isu terkait polusi udara juga selalu timbul dan tenggelam dengan cepat. Isu isu seperti ini akan sangat cepat viral pada saat saat tertentu (biasanya saat kritis) namun cepat pula tenggelam dan menghilang tanpa penyelesaian yang konkrit apalagi menyeluruh. Miris memang, namun itulah yang kita temukan dilapangan selama ini adalah PM2.5 yang konsentrasinya mengkhawatirkan dalam beberapa minggu bahkan bulan belakangan ini. Data konsentrasi PM2.5 yang mudah di akases oleh banyak orang adalah data yang disediakan oleh Konsulat AS yang saya tampilkan melalui widget realtime yang disediakan mereka dibawah ini.

Melirik Pembunuh Senyap yang Menjadi Perbincangan “Hangat” di Jakarta Minggu Ini

Terlepas dari kemirisan hal tersebut, untuk memonitoring tingkat polusi di suatu wilayah ada beberapa variabel yang biasa di hitung dan di cermati. Beberapa variabel itu meliputi konsentrasi TSP (Total Partikulat Tersuspensi, biasanya ukurannya masih cukup besar), PM10 (Partikulat<10 micrometer), serta PM2.5 (Partikulat <2.5). Jika kita melihat variabel TSP dan PM10, meskipun beberapa kali masik kategori tidak sehat namun kondisi demikian pada waktu tertentu saja. Yang menjadi permasalahan dan diangkat isunya oleh beberapa orang seminggu terakhir ini adalah konsentrasi PM2.5.

Berdasarkan data hasil monitoring variabel ini yang dilakukan oleh BMKG di lokasi Kemayoran, hingga tanggal 6 Juli pada pukul 10.00-17.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di wilayah Kemayoran berada diatas ambang batas untuk konsentrasi jenis polutan tersebut. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari BMKG dalam tautan ini Nilai Ambang Batas (NAB) adalah Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan untuk PM 2.5 berada dalam udara ambien. NAB PM2.5 = 65 ugram/m3.

Hal serupa (kondisi PM2.5 yang berbahaya) juga tercatat dalam sensor yang ditempatkan di Konsulat AS dengan menggunakan indeks AQI (Air Quality Index). Berikut adalah kondisi terbaru terkait konsentrasi PM2.5 yang tercatat oleh sensor di Konsulat AS di Jakarta Pusat. Informasi terkait AQI di wilayah ini saya sapatkan dan sisipkan melalui tautan ini.

Dari informasi pemantauan tersebut di atas dapat kita lihat bahwa konsentrasi PM2.5 berada didominasi oleh status berwarna orange yang berarti tidak sehat untuk beberapa orang yang sensitif dan merah yang berarti termasuk tidak sehat untuk semua orang baik yang sehat bahkan sangat berbahaya bagi orang sensitif. Kondisi udara yang demikian kurang sehat dapat memicu terjadinya beberapa penyakit yang tentunya berhubungan dengan pernapasan. Berasarkan U.S. EPA beberapa dampak bagi kesehatan yang disebabkan oleh konsentrasi PM2.5 yang tinggi meliputi peningkatan risiko penyakit jantung, paru-paru meningkatnya potensi kematian dini bagi penderita kardiopulmoner.

Untuk menghindari dampak dampak tersebut atau setidaknya mengurangi dampaknya, para pengidap penyakit pernapasan, jantung, serta kelompok umur rentan seperti anak anak dan orang tua sebaiknya tidak keluar rumah maupun kerja dalam waktu yang panjang. Untuk ulasan terkait dampak lebih jelasnya dapat di baca secara agak lebih lengkap pada tautan berita di Trito.

Jebakan Inversi, Diduga Sebagai Dalang Polusi yang Tertahan dan Berkepanjangan Ini

Pada hari senin lalu saya berkesempatan mendampingi salah satu atasan saya untuk mengikuti rapat yang membahas terkait masalah ini. Hal yang menarik dalam pembahasan tersebut dan dipaparkan oleh BMKG dan BPPT adalah pembahasan tentang salah satu fenomena meteorologi yang bisa kita sebut sebagai Jebakan Inversi (Inversion Trap). Penjelasan terkait fenomena ini dapat digambarkan secara sederhana melalui ilustrasi dibawah ini.

Ilustrasi jebakan inversi yang menyebabkan polutan tidak dapat naik ke atmosfir bagian atas dan terbaurkan. Lapisan inversi ini menahan polutan berdiamdiri di dekat permukaan sehingga kadar polusi di lapisan atmosfer bagian bawah tersebut meningkat secara drastis dan sukar untuk turun. (Sumber ilustrasi: Waikato Regional Council)

Secara awam, jebakan inversi ini dapat kita ibaratkan sebagai suatu selimut di lapisan atmosfer yang menahan udara dibawah sehingga sukar naik keatas. Kondisi demikian disebabkan keberadaan suatu lapisan yang justru memiliki suhu lebih hangat dibandingkan daerah dibawahnya sehingga udara yang reltif dingin di bagian bawah tidak mampu terangkat dan menembus lapisan tersebut hal ini dikarenakan masa udara dingin lebih berat dibandingkan masa udara yang lebih hangat.

Suatu lapisan atmosfer yang mana memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan lapisan bawahnya (meningkat seiring peningkatan ketinggian) ini disebut sebagai lapisan inversi. Keberadaan lapisan inilah yang menjebak masa udara yang relatif lebih dingin dibawahnya karena lapisan dibawah ini memiliki pola semakin keatas semakin bersuhu rendah (lapisan laps rate).

Fenomena jebakan inversi biasa terjadi pada waktu waktu peralihan, baik pagi hari, sore hari mapun sebelum dan setelah hujan. Kondisi yang demikian dapat dengan mudah kita lihat bilamana kita membakar sampah pada sore menjelang malam yang biasanya asap asap pembakaran tersebut seringkali justru menyebar ke segala arah karena tidak dapat dengan mudah untuk naik ke atas.

Dalam situasi yang cukup ekstrim dan sangat berbahaya fenomena ini juga dapat terjadi di spot spot gas beracun seperti yang banyak terdapat di kawasan Dieng contohnya di Kawah Timbang. Saat sebelum dan sesudah hujan juga pagi pagi serta menjelang malam hari biasanya warga sekitar wilayah tersebut akan menghindari jalur jalur gas beracun dikarenakan gas beracun yang mengalir keluar dari kawah kawah tersebut tidak terbaur keatas dan justru tertahan di lapisan bawah. Kondisi ini dapat berakibat fatal bagi orang yang secara tidak sengaja melewati jalur tersebut dan dapat menimbulkan kematian seketika.

Kembali pada topik permasalahan sebelumnya. Fenomena jebakan inversi memanglah berpotensi untuk meningkatkan dampak tertumpuknya polutan di lapisan atmosfer bagian bawah. Namun tidak pula kita melimpahkan semua kesalahan peningkatan polutan tersebut pada fenomena alam yang sebenarnya bukanlah hal yang langka tersebut. KIta tidak akan dapat mengatasi permasalahan ini dengan hanya melakukan suatu tindakan untuk mempengaruhi kondisi yang ‘diduga’ memperparah saja. Namun yang menurut saya paling penting dan paling utama untuk ditindak lanjuti adalah “Sumber Polutan” itu sendiri.

Kita sudah terlalu lama membiarkan udara di Jakarta membunuh kita secara senyap. Yang menjadi pertanyaan dan sebenarnya tidak boleh hanya menjadi suatu pertanyaan saja adalah. “Apakah kita membiarkan begitu saja Pembunuh senyap ini terus beraksi?” Ah biarlah waktu yang menjawab, hitung hitung mengurangi populasi. Mungkin itu yang ada di dalam pikiran kita yang paling dalam. Jika itu yang ada dalam benak mu.

“Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap”

(Dewa Putu AM)

Daily LifeOpini

Hanya Sebuah Ide yang Membisu

June 17, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-06-17-at-11.22.06-AM-960x600.jpeg
Sebuah coretan kecilku yang mungkin bukan lahi hanya sekedar sebuah ide yang masih abstrak namun sudah terbentuk menjadi sesuatu yang berwujud

Pada tulisan ini saya akan sedikit berbagi dengan kegelisahan yang saya baru saya sadari beberapa minggu belakangan ini. Mungkin kegelisahan saya ini sebenarnya sering sering juga terjadi pada teman teman sekalian. Yah mungkin saja, tetapi saya ada sedikit kepercayaan kalau kegelisahan ini ada pada diri setiap orang. Pada tulisan ini, sebagai selingan saya akan sedikit berceloteh tentang ide yang membisu, tak terungkap dan kemudian menghilang dalam senyap. Ini tentang ide yang pernah ada dan bermukim dalam alam pikir kita namun sayang belum ada keberanian atau belum dapat untuk mengungkapkan diri.

Ide hanyalah ide, ia tidak akan bermanfaat dan memberikan dampak jika hanya bercokol dan mengakar kuat dalam alam pikir kita tanpa ada niatan dan suatu langkah nyata untuk “sekedar mengungkap” atau bahkan lebih baik bila dibentuk menjadi sesuatu yang lebih nyata lagi.

Sebuah Kritik Pribadi untuk Pribadi, Namun Saya Berharap Ini juga bermanfaat Tidak Hanya untuk Pribadi

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah kritik pribadi saya untuk sekedar mengingatkan bahwa jumlah ide yang ada tidaklah begitu penting. Terkadang sebuah ide justru seakan menjadi kutukan bagi seseorang. Hal ini yang beberapa kali saya alami ketika tertriger dan tertarik untuk memecahkan sebuah permasalahan dan merangkai ide ide muntuk mengurai permasalahan dan mencari solusi penyelesaiannya.

Ilustrasi ceritanya sedang mancing sebuah ide(Sumber Gambar: Engin Akyurt @ Pexels.com)

Saya katakan ini terkadang dapat menjadi sebuah kutukan karena tidak jarang karena saking fokus dan tertariknya saya pada permasalahan tersebut, sering kali meskipun lelah dan ngantuk kita tetap saja memikirkannnya dan tidak dapat tidur begitu saja. Saya menyebut hal ini sebagai “BrainCycloning (BC)” sebagai plesetan dari “BrainStorming” hehehe. Beberapa permasalahan yang seingat saya pernah membuat saya masuk kedalam fase BC mulai dari hal remeh seperti pertanyaan “kenapa ketika kita sedot air dalam air kemasan gelas, gelas kemasannya bisa mengkerut?” hingga pertanyaan komplex nan konyol seperti bagaimana cara membuat siklon tropis.

Kalau ingin dihitung dan mau jujur, mungkin >98% ide ide kita tersebut meskipun menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan dan menghabiskan banyak tenaga sayangnya tetap membisu dan tidak kita ungkap. Yah meskipun juga harus kita mau akui juga bahwa tidak sedikit dari ide ide tersebut hanyalah sampah, yang mungkin akan sulit, konyol atau bahkan tidak baik untuk direalisasikan. untuk bagian ini sepertinya saya banyak sekali hehehe.

Kemudian timbul suatu pertanyaan, apakah teman teman pernah merasakannya saat saat dimana teman teman hanyut didalam alam pikir teman teman sendiri. Saling berbincang dan berdebat dengan diri sendiri seolah olah dalam alam pikir kita terdapat 2 bahkan lebih kesadaran yang saling beradu pemikiran dan pendapat dari sudut pandang mereka masing masing.

Hanya Sebuah Ide yang Membisu, Perperangan Ide hingga Perperangan untuk Sebuah Ide

No army can stop an idea whose time has come” (Victor Hugo)

Seth Stephens dalam bagian akhir bukunya yang berjudul Everybody Lies berujar bahwa sebuah akhir dari tulisan yang bagus harus bersifat fun, mengandung sebuah plot twist yang ironis, sekaligus profokatif. Penyampaian sebuah ide juga menurut saya harus seperti itu agar menarik minat orang lain untuk tertarik, setuju dan kemudian rela untuk membantu mewujudkannya.

Dalam sebuah era yang kita sebut sebagai eranya media sosial ini kita sangat mudah untuk mengungkap sebuah ide. Ide ide yang dahulu membisu dan teronggok begitu saja dalam alam pikir banyak orang, kini terungkap dengan deras melalui berbagai media baik twitter, facebook, instagram hingga youtube. Arus ide kini mengalir dengan sangat deras apapun kini mudah kita cari, apapun kini mudah kita kepo-kepoin dan apapun kini mudah kita julid dan gibahi #hehehe. Ini bagian Fun.

Bahkan bagi sebagian orang yang selama ini ide idenya terbungkus dan membisu kini seolah-olah diberikan suatu energi tanpa batas untuk membagikan semua begitu saja semua ide yang ada didalam pikirannya atau hanya sekedar suatu ide yang ia yakin. “Ironis” nya hal ini terkadang justru membawa petaka, arus ide yang begitu deras membuat kita tidak mudah lagi untuk membedakan apakah apa yang disampaikan dan dijadikan dasar dalam membangun ide tersebut adalah sebuah fakta atau justru ada ide tersembunyi yang sengaja disisipkan untuk memberi keuntungan pada pihak tertentu dan kemudian merugikan pihak lainnya.

Terkadang, tanpa kita sadari kita telah menjadi sekedar bidak dalam permainan dan pertempuran ide ide besar yang terselubung (Sumber gambar: rawpixel.com @ Pexcels.com)

Perperangan Ide hingga Perperangan untuk Sebuah Ide tidak jarang berasal dan diperparah oleh sebuah ide yang bisu. Ia diawali oleh sebuah ide baik bahkan mungkin juga jahat yang sengaja dibisukan hingga senyap tak terdengar dan tidak diketahui oleh orang lain yang merupakan target dari idenya. Ide ini begitu tersembunyi dan jarang dapat kita ketahui dalam sekali putaran alam pikir kita. Begitu tersembunyi hingga tanpa sadar kita menyetujui dan membagikannya tanpa sadar pula kemudian kita menjadi bagian dalam ide besar tersebut.

Bisunya ide juga memperparah, bisunya ide yang sebenarnya dapat memperlambat kerja skema ide ide buruk tersebut, namun karena tidak adanya kepedulian dan keberanian sang pemilik ide tersebut akhirnya sang ide pun tetap terkurung, meronta dan terjebak untuk kemudian terlupakan begitu saja hingga semua menjadi terlambat.

BukuDaily LifeHiburanUncategorized

[Buku] Seni Hidup Minimalis, Francine Jay

May 26, 2019 — by dewaputuam0

IMG_20190525_104756-01-960x686.jpeg
Buku seni Hidup Minimalis coba saya tampilkan juga secara minimalis dalam sebuah foto bersama setangkai bunga mawar merah yang saya pinjam dari teman yang ngutil dari karangan bunga di lobi kantor hahaha.

Konsep hidup minimalis pertama saya dengar dari sebuah vlog milik raditia Dika yang saat itu dalam video tersebut dirinya mengaku sedang merintis untuk menjalani hidup minimalis. Sebagai salah satu bentuk keseriusan tersebut ia pun menjual berbagai jam koleksinya dan menggantikannya dengan satu jam yang menurutnya sudah cukup, tentunya definisi cukup dalam sudut pandang raditia tersebut tentulah tidak harus sama dengan definisi kita dari kata cukup. Hal yang terpenting dan menarik bagi saya dalam video tersebut adalah sebuah konsep “hidup minimalis” yang menurut saja akan cukup seu dan melegakan bila coba kita terapkan.

Hingga waktu berlalu dan menunggu saya menyelesaikan beberapa antrian bacaan yang harus saya selesaikan pada akhirnya saya memutuskan untuk mencari bacaan yang ringan dan bagus untuk perkembangan diri saya pribadi hehehe. Dan singkat cerita dengan segala pertimbangan akhirnya pilihan saya jatuh pada buku karangan Francine Jay yang berjudul Seni Hidup Minimalis agar saya setidaknya mulai berkenalan dengan konsep minimalis yang saya dengar dari video raditia dika beberapa bulan yang lalu.

Deskripsi singkat nan minimalis dari buku “Seni Hidup Minimalis”

Sebuah ilustrasi tentang sudut minimalisme, Sengaja saya tampilkan foto ini untuk menampilkan menggambarkan minimalisme karena saya pikir minimalisme tidak hanya sekedar mendesign sebuah rumah yang mewah berbalut warna putih dan dengan beberapa barang elektronik berdesign simple. Lebih dari itu, minimalisme adalah sebuah seni untuk menyediakan kita ruang (sebuah karya João Jesus dipublish pada situs pexels.com)

Buku yang saya baca ini adalah sebuah buku terjemahan karya Francine Jay yang berjudul The Joy of Less (A Minimalist Guide to Declutter, Organize, and Simplify). Judulnya cukup panjang sepertinya ya, dalah fersi berbahasa indonesia yang diterjemahkan oleh Annisa Cinantya Putri Penerbit GPU. Terjemahannya menurut saya memuaskan dan masih dapat dipahami dan enak dibaca. #mantab

Dari ketebalannya, buku ini tergolong buku yang minimalis (tipis) yakni hanya 260an halaman jadi dalam kecepatan membaca yang rata rata, buku ini dapat lah dilahap dalam sehari dua hari. Designnya juga minimalis sehingga tidak begitu mencolok, nyaman di mata dan tidak begitu mencolok. Hal ini menurut saya salah satu poin penting saya untuk membeli sebuah buku, buku semarak yang design aneh aneh kadang membuat tidak nyaman hehehe.

Masuk pada isinya, buku ini pada dasarnya menjelaskan sebuah sikap untuk menilai sebuah eksistensi barang hanya pada kegunaannya saja tidak lebih dan tidak pula kurang tanpa diracuni oleh rasa rasa sentimentil dan kenangan dari barang barang tersebut. Buku ini menjelaskan bahwa kita adalah kita, kenangan adalah kenangan. Barang barang yang berkaitan dengan kita dan kenangan tidak sertamerta menjadikan barang tersebut sama dengan kita tidak pula sama dengan kenangan kenangan yang ada. Meski terrbaca cukup ekstrim, namun buku ini menjarkan kepada kita untuk tidak memaknai sebuah barang secara berlebihan agar kita dapat menyediakan ruang bagi kita dan kenangan kenangan yang akan datang.

Setelah memberikan pemahaman tentang cara menyikapi barang barang dengan tidak berlebihan buku ini kemudian juga memberikan panduan untuk membuat ruang dengan cara berberes rumah dari ruang keluarga, kamar tidur, dapur, kamar mandi hingga gudang. Metode yang berberes rumah yang ditawarkan dalam buku ini disebut sebagai metode STREAMLINE. Metode STREAMLINE yang Francine maksud adalah sebuah kependekan dari:

  • Start over: mulai dari awal
  • Trash, treasure, or transfer: buang, simpan atau berikan
  • Reason for each item: alasan setiap barang
  • Everything in its place: semua barang pada tempatnya
  • All surface clear: semua permukaan bersih
  • Modules: ruangan
  • Limits: batas
  • If one comein, one goes out: satu masuk, satu keluar
  • Narrow down: kurangi
  • Everyday maintenance: perawatan setiap hari.

Opini saya terkait salah satu buku karya Francine Jay, semoga masih minimalis

Francine Jay, penulis buku The Joy of Less (A Minimalist Guide to Declutter, Organize, and Simplify) atau yang dalam versi baha indonesianya menjadi “Seni Hidup Minimalis” (Sumber positivelifeproject.com)

Secara umum buku ini menurut saya merupakan buku yang bagus dan patut dibaca untuk orang orang yang seperti saya (yang mempunyai kamar berantakan hehehe). Dari buku ini yang paling saya suka adalah bagaimana seorang Francine Jay memberikan kita pemahaman dalam menyikapi barang barang hanya sekedarnya dan tidak berlebihan tanpa dicampuri oleh perasaan sentimentil akan barang tersebut. Hal ini bagi saya cukup frontal sih mengingat pada masa sekarang banyak sekali orang orang yang mengidentikan dirinya pada barang barang yang ia miliki, konsumsi dan atau kenakan akibat pengaruh derasnya iklan iklan di sekitar kita, ataupun dan akibat ajang pamer menggunakan sosial media. Hal ini kemudian menjadikan kita sekedar konsumen yang terus mengkonsumsi barang-barang secara rakus. Menyedihkannya, tidak sedikit dari barang barang tersebut sebenarnya tidak begitu kita perlukan dan hanya sekedar memuaskan ego kita saja.

Saya suka cara Francine Jay menyajikan ide idenya dalam buku ini. Pada bagian awal ia memberikan kita sebuah gambaran tentang apa itu minimalisme dan pada beberapa bab berikutnya ia kemudian menjelaskan sebuah metode streamline sebagai salah satu alat untuk menerapkan minimalisme di sekitar kita khususnya rumah kita. Penjelasan penerapan metode ini pada berbagai ruangan rumah juga diberikan pada buku ini beserta beberapa dilema yang mungkin ditemui tentunya beserta saran untuk menyikapinya.

Yang menurut saya kurang di buku ini adalah pada bab terakhirnya, yang saya rasa sedikit memaksakan saat menjelaskan tentang dampak gaya hidup minimalis pada masyarakat dan alam. Meskipun premis premisnya masih dapat diterima dan logis tapi tidak tahu mengapa saya kurang begitu suka pembahasan terkait dampak pada masyarakat dan alam ada dalam buku ini, kurang pas gitu dan menjadikan buku ini sedikit kehilangan fokusnya. Oia dalam membahas cara berbenah masim masing ruangan juga menurut saya agak monoton sih jadi sedikit membosankan di tengah.

Saya rasa itu saja opini saya terhadap buku ini. Secara umum saya suka buku ini menurut saya nilainya 4 dari lima lah. Dan bila ada yang berminat untuk berbenah rumah ataupun sudah jengah dengan riuhnya barang barang di rumahnya, ada baiknya bila membaca buku ini terlebih dulu.

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Penge”Tidak”tahuan juga Perlu Kita Punya

May 11, 2019 — by dewaputuam0

document-2178656_1920-960x640.jpg
Saya sedikit kurang paham bagaimana faedahnya ada bohlam diatas buku sana, bukankah ngeri ngeri sedep bila kita meletakan bohlam diatas sana dan bagaiamana cara membacanya agar bohlam itu tidak pecah tentunya akan menjadi pekerjaan rumah tersendiri (sumber: Freepik jannoon028)

Kurang cerdas, bodoh, dungu bahkan idiot terkadang menjadi kelompok kata yang haram sekali disandangkan pada seseorang. Orang terkadang atau bahkan dapat saya katakan sering kali tersakiti dan tertriger untuk membalas ucap ucapan itu dan memberikan bentuk kata sifat yang sama atau mungkin lebih buruknya dari kata kata tersebut. Berbeda dengan keempat jenis kata sebelumnya, semua dari kita tentunya ingin disebut sebagai orang yang cerdas, kreatif bahkan genius meski tidak jarang kita justru menunjukan sikap sikap yang justru sebaliknya.

Suatu hal yang normal dan menurut saya pun tidak ada yang salah dari kedua sikap kita terhadap dua kelompok kata sifat yang saling bertolak belakang terssebut. Tentunya lebih banyak dari kita akan menyukai hal hal yang baik dan menghindari yang buruk bukan. Kitapun dibesarkan dengan cara dan budaya yang begitu mengagungkan kepintaran daripada kebodohan. Hal ini terlihat dari didikan orang tua kepada anaknya yang bila melakukan hal hal yang menyenangkan selalu dikatakan “Anak pintar” dan hampir mustahil orang tua tersebut mengatakan “Bodo sekali lu” kecuali saat saat tertentu yang mengakibatkan orang tua secara tidak sengaja kelepasan berucap demikian.

Semua mengerikan justru saat kita mengetahui segala hal

Ini adalah suatu paradoks pengetahuan. Paradoks ini mudah sekali kita temuan disekitar kita bahkan dalam era sosial media ini akan semakin mudah lagi kita akan menemukan dan menyadari keberadaan paradoks yang akan saya bicarakan ini. keberadaan paradoks inilah yang kemudian memotivasi saya untuk membuat sedikit tulisan tentang hal ini. Sebelum memasuki paradoks tersebut ijinkan saya sedikit bercerita tentang apa yang saya rasakan akhir akhir ini. Baru beberapa saat yang lalu kita telah melaksanakan pesta demokrasi terbesar di jagat, yang sayangnya banyak juga korban yang melayang ntah itu karena kelelahan ataupun berbagai penjelasan yang tentunya masih bergulir liar hingga tulisan ini ditulis.

Yang ingin saya soroti bukanlah kisah duka tersebut melainkan pertempuran para ahli nya ahli, intinya inti dan core of the core netijen yang maha benar dengan segala kemaha benarannya. Banyak sekali hal hal ajaib tercipta selama pertarungan kampreter dan cebonger selama ini bahkan percikan percikan perdebatan itu sebagian masih menghangat meski pemilu telah usai. Secara ajaib dan tidak terduga duga dari pertarungan kedua pihak tersebut, kita baru tersadar ternyata kita banyak sekali memiliki ahli ya, dari ahli politik, ahli ekonomi, ahli militer, ahli agama, ahli teknologi informasi dan bahkan sekarang ahli kesehatan. Tak ayal dengan begitu banyaknya ahli ahli tersebut kata kata bodoh, tolol bego dungu pun berhujanan membasahi para terdakwa pendustaan dan kriminalitas akal pikir.

Melihat itu semua, kebodohan yang selama ini menetap pada diri saya seketika merintih dan menjerit, mungkin karena sesamanya dipergunjingkan dan disepelekan. saya merasa orang orang cerdas sekarang memiliki ego yang begitu kuat dan sangatlah buas melibas kebodohan kebodohan yang ada, dan kemudian apakah kebodohan didunia ini akan musnah dengan hal itu? tentunya tidak. Semakin banyak orang cerdas yang demikian tentu akan semakin banyak orang bodo yang ditindasnya. Dan sebagi salah satu perwakilan dari orang bodo tersebut, maka saya minta ijin untuk melakukan pembelaan dan sedikit mengenalkan Dunning Kruger effect.

Dunning Kruger Effect menurut saya cukup menjelaskan fenomenda kemaha tahuan para netijen saat ini, dan segala keajaibannya pun dapat terungkap disini. (Sumber: Twitnya @josephsudiro)

saya sedikit tidak tega menyampaikan hal ini, namun menurut saya ini adalah hal yang menarik dan penting untuk kita ketahui dan pahami bersama agar kita tidak terjebak pada fase kemahatahuan kita selama ini. Menurut Dunning Kruger, rasa percaya diri seseorang akan berfluktuasi seiring dengan bertambah pengetahuannya. Jika boleh jujur, pada jaman sosial media dan segala kecanggihan internet ini kita ditabrak oleh banyak sekali informasi dan luarbiasanya banyak sekali dari informasi informasi tersebut yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Hal ini berdampak pada suatu kondisi dimana kita mengetahui sedikit pada banyak hal sekaligus. Kondisi demikianlah yang kemudian memunculkan benih benih kemaha tahuan para netijen. Pengetahuan yang sedikit dan baru pada suatu hal mengaktifkan rasa percaya diri seseorang jauh melampaui batas dan kemampuannya, kemudian dengan tanpa ragu pun tidak jarang kita melemparkan komentar-komentar “cerdas” kita ke dunia maya.

Rasa anonimitas yang ditawarkan intenet juga ikut andil pada semakin percaya dirinya mengutarakan pendapat, meski terkadang pendapat yang diutarakan jauh sekali simpangannya dari topik yang sedang dibahas. Semua ini demi kecepatan dan peghematan kuota sehingga ada gambar atau infografis nyeleneh dikit komentar, ada judul yang aneh sedikit kita juga komentar. Menyedihkan sekaligus lucu saat kita sering melihat banyak sekali orang orang cerdas diluar sana dengan begitu ajaibnya berkomentar hal hal yang jauh dari topik dan mudah sekali terjebak oleh judul judul pancingan.

Menurut saya, kita tidak boleh seperti ini terus. Terus terjebak kedalam perasaan kemaha tahuan sendiri dan meski tahu terjebak justru kita sering kali semakin memendamkan tubuh kita pada jebakan tersebut dan tidak mengakui bahwa sebenarnya masih ada yang tidak kita ketahui. Cukup akui saja bahwa tidak semua hal kita ketahui dan pintu fase selanjutnya akan terbuka lebar bagi kita. Kegiatan ini tidak hanya perlu kita lakukan sekali seumur hidup namun hampir setiap saat karena ntah disadari ataupun tidak meski pada beberapa subyek kita sudah benar benar ahli, namun pada objek objel lainnya kita hanyalah “pintar”.

Agar tidak terjebak pada kemaha tahuan kita, kita harus meyakini satu hal yakni ” Bahwasanya di Dunia ini tidak ada yang benar-benar benar” bahkan pernyataan itu sendiri tidaklah benar-benar benar.

Dewa Putu AM

Bodo itu tidak salah, yang salah itu jika kita hanya sekedar bodo saja

Menjadi seseorang yang bodo itu bukanlah suatu kesalahan, bukan pula suatu kutukan. Saya sangat senang bila saya dikatakan sebagai orang bodo, meski sesekali doa doa kutukan selalu saya panjatkan dalam diam teruntuk orang-orang yang mengatakan demikian. Namun pada dasarnya bodo itu bukanlah suatu hal yang terlarang. Kalau kata Einstein “Stupidity has no limit, human inteligence does”. Dari quotes tersebut kida dikenalkan pada suatu yang tak terbatas dan yang terbatas. Dari kuotes tersebut kita juga dapat dengan mudah mendefinisikan siapa sebenarnya yang memiliki keterbatasan, lalu pertanyaannya mana yang ingin kita pilih apakah sesuatu yang terbatas ataupun tidak terbatas hehehe.

Monyet yang sangat pinter nge Dab #hasek. Maaf salah fokus, ini sebenarnya sebuah ilustrasi seekor monyet yang sangat payah berenang bila dibandingkan dengan ikan. (Sumber: freepik)

Bodo itu tidak salah, yang salah itu jika kita hanya sekedar bodo saja. Yup, yang salah itu bila kita hanya memiliki kebodohan itu sendiri tanpa memiliki hal lainnya. Saya mengatakan demikian adalah hal yang salah bukanlah berarti hal tersebut adalah hal yang berdosa. Salah yang saya maksud disini lebih pada suatu yang tidak benar, tidak ada dan mengada ngada. Kita tidak mungkin hanya memiliki kebodohan saja, setiap dari kita pasti memiliki kecerdasan ntah itu dalam bidang saja. Hal ini sama halnya dengan ikan yang memang tidak sepintar monyet dalam memanjat pohon tetapi jangan ragukan kepintarannya dalam berenang diair dan begitu pula sebaliknya pada monyet.

Bodoh yang murni dan alami itu salah dan mengada ngada, begitu pula dengan cerdas yang murni dan alami itupun tentu juga mengada ngada. Dalam hidup kita masih sangat perlu kebodohan, yah setidaknya untuk memastikan masih ada sesuatu yang perlu kita cerdaskan. Sama halnya dengan kecerdasan dan kebodohan meski kita tahu bersama juga bahwa Penge”Tidak”tahuan juga Perlu Kita Punya setidaknya untuk memastikan bahwa masih ada yang harus kita ketahui di dunia ini. Apalah menariknya di dunia yang kita tahu secara utuh dan menyeluruh yang mana kita tidak bisa berharap menemukan hal hal menabjubkan terjadi. Hingga suatu ketika saya yakin dengan ‘agak’ pasti, kita akhirnya menemukan satu satunya hal baru saat kita sudah mengetahui segalanya adalah keberadaan ketidak tahuan itu sendiri. Dari situlah kemudian sebuah pintu gerbang baru akan mulai terbuka dan membawa kita kita bergerak menuju kepada petualangan baru dan juga sesuatu ketidak tahuan utuh yang tentunya baru, hal ini kemudian berulang lagi dan lagi, hingga suatu waktu kita terpanggil untuk menguji semuanya dihadapan Nya.

Sudah, saya rasa itu saja dulu tulisan saya saat ini. Tulisan ini saya tulis untuk merayakan hari turunnya ilmu pengetahuan atau lebih dikenal umat hindu sebagai Hari Raya Saraswati. Terkait ilmu mana yang pertama kali turun kedunia ini? Saya rasa saya yakin menjawab bahwa ilmu pengetahuan yang pertama kali muncul didunia ini adalah ilmu tentang tidak tahuan.

Salam tidak tahu kenapa

Dewa Putu AM.

Sumber Feature Image by Pexels from Pixabay

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Army of None, “Senjata Otonom dan Masa Depan Perang”

May 3, 2019 — by dewaputuam0

scifi-3617337_1920-960x603.jpg
Ilustrasi Buku Army of None karya Paul Scarre, Buku yang menarik dan membuka mata kita tidak hanya tentang robot otonom tapi juga tentang senjata dan perang. (Sumber gambar: CNAS)

Saya mengetahui tentang buku ini pertama kali saat judul buku tersebut masuk kedalam daftar 5 buku terbaik di tahun 2018 menurut Bill Gates yang ia bagikan di story instagram resminya. Melihat judulnya yang menarik dan tema yang unik saya pun tertarik untuk membacanya. Dan akhirnya hingga adi malam dengan bahagia akhirnya buku ini menjadi buku berbahasa inggris pertama yang berhasil saya baca tuntas. Saya senang dapat menyelesaikan buku ini dan saya berharap sih ini menjadi suatu awalan bagi saya untuk dapat mengakses lebih banyak lagi buku buku yang saya inginkan, mengingat banyak buku buku bagus dan ingin saya baca relatif lama dan saya tunggu sekian lama tak kunjung di alihbahasakan dan kemudian diterbitkan dalam bahasa indonesia.

Dengan saya selesaikannya buku ini setidaknya nambah PD untuk membaca buku buku seperti itu hehehe. Hal ini karena dari dulu beberapa kali beli buku dengan bahasa inggri selalu terganjal dengn bahasa dan malas untuk bolak balik kamus untuk mengartikannya. Hingga akhirnya saya menggunakan google playbook semua jadi terasa lebih mudah dan hitung hitung sebagai salah satu media belajar berbahasa inggris bagi saya hehehe.

Oke, kembali ktopik bahasan. Pada tulisan ini saya ingin memberikan sedikit ulasan dan pendapat tentang sebuah buku karya Paul Scarre yang berjudul Army of None. Secara garis besar buku dengan ketebalan 532 halaman termasuk dafar pustaka dan lampiran foto foto lainnya ini menggambarkan dan menceritakan tentang robot otonom dengan segala perkembangan dan kemudian kelebihan juga kelemahannya. Meski terlihat bahwa buku ini ditulis oleh seseorang yang mendukung aksi pelarangan robot otonom penuh, namun yang saya suka dari penulis ini adalah pemberian narasi yang sangat minim bias subyektifitas untuk pihah yang pro dengan robot otonom dan yang saya sukai dari buku ini adalah kemampuan sang penulis dalam menyusun ceritanya sehingga tidak monoton dan membiosankan untuk dibaca disertai pengungkapan fakta fakta yang mengagetkan terkait perang dan persenjataan.

Sebagai salah satu penghargaan terhadap buku ini dan ekspresi saya yang menyukai buku ini maka pada tulisan ini saya akan mengulas hal hal menarik yang saya temui pada buku ini. Jika tertarik silahkan teman teman lanjutkan bacaan ini #monggo

Narasi Perang Dunia Ke III yang Hampir Saja Terjadi

Buku ini diawali dengan sebuah narasi yang menurut saya sudah menggambarkan segala pergulatan batin tentang baik tidaknya sebuah senjata otonom melalui suatu kejadian yang mungkin banyak orang tidak ketahui bahwa bumi ini pernah hampir kiamat. Ini sebuah peristiwa di zaman perang dingin antara Soviet dan Amerika. Saat itu perlombaan senjata nuklir membawa kedua kubu kedalam suatu kondisi tipis tipis mendekati perang nuklir.

Ilustrasi ledakan nuklir, Jika bentuk ledakannya bisa berbentuk ala badut yang lagi ngece gitu semakin epik tampaknya ya hehehe (Sumber ilustrasi ExtremeTech)

Dalam ketegangan yang terjadi, pada malam hari tanggal 26 September 1983 Letkol Stanislav Petrov sedang berjaga dan mengemban tugas sebagai pelapor untuk peluncuran nuklir. Malam itu sirine tanda bahaya berbunyi dan berdasarkan satelit yang dimiliki oleh Soviet, Amerika telah meluncurkan roket berhulu ledak nuklirnya ke udara, dalam keraguannya jikalau saat itu terjadi kesalahan sistem kemudian muncul peringatan lagi yang ke dua dan seterusnya hingga ke lima yang menggabarkan bahwa lima roket telah meluncur dari Amerika.

Saat itulah Stanislav Petrov menghadapi pilihan yang berat dan penuh dengan keambiguan, tidak mudah baginya untuk memutuskan apakah peringatan tersebut benar ataupun sebuah kegagalan sistem dan tentunya kedua pilihan tersebut memiliki konsekuensi yang sangatlah besar bahkan dapat memicu terjadinya perang nuklir. Hingga waktu waktu terakhir akhirnya Stanislav Petrov menahan reaksi serangan untuk memastikan benar apa yang sedang terjadi.

Dan benar saja, ternyata tidak ada serangan dan objek yang terdeteksi sebagai peluncuran roket tersebut hanyalah pantulan sinar matahari oleh puncak awan. Coba bayangkan apa yang terjadi bila sistem peluncuran nuklir tersebut adalah sebuah sistim yang otonom, mungkin saja dunia akan jauh berbeda dengan hari ini.

Buku yang Bercerita [Tak Hanya] Tentang Robot

Meskipun pada bab bab awal buku ini menggambarkan seberapa cepat perkembangan robot saat ini baik yang bergerak didarat, lautan hingga udara. Baik yang bergerak sebagai robot tunggal maupun yang berbentuk kawanan (swarm). Di awal kita disuguhkan betapa dasyatnya perkembangan robot dari yang otomatis (Automatic) yang secara sederhana merasakan dan menjalankan aksi sesuai dengan program linear/ atau batasan situasi yang telah diberikan atau secara sederhana dapat disebut sebagai threshold-based system. Automated (saya tidak tahu padanan kata yang pas untuk istilah ini) sebagai suatu sistem yang mulai komplek dengan program nonliniernya dan memiliki pembobotan pembobotan pada masing masing pilihannya atau secara sederhana dapat disebut sebagai rule-based system. Hingga yang terakhir adalah Otonom (Autonomous) sebagai suatu sistem “robot” yang telah memiliki kecerdasan dapat menentukan sendiri langkah langkah yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (goal-based/self-directed system).

X-47B sebagai salah satu drone yang secara otonom pada tahun 2013 dapat mendarat di sebuah kapal induk dan menjadinya sebagai salah satu batu pijakan penting menuju perkembangan tekhnologi senjata otonom.

Dalam buku ini, Paul Scharre tidak hanya menampilkan perkembangan robot otonom dengan segala citranya yang dibangun seperti pada film film fiksi ilmiah dari astroboy hingga terminator. Namun lebih dari itu, buku ini juga menjelaskan perkembangan pertarungan manusia dari saling pukul, melempar batu, menuju pada senjata tajam, panah, senjata api senjata mesin dan seterusnya dengan berbagai konsekuensi yang diakibatkan baik dari segi teknis, segi efektifitas dalam perang hingga segi moral yang ditabrak. Berdasarkan itu pula kemudian Paul Scharre dengan sangat apiknya menyandingkan dan membandingkan kedua sisi sentimen positif dan negaif dari senjata otonom.

Dalam penjelasan dan proses membangun narasinya tersebut diungkap pula beberapa fakta yang membuat saya kaget dan terdiam sementara. Salah satunya adalah dalam perang ternyata lebih dari 80% tentara sengaja memelesetkan tembakannya agar mengarah pada arah yang salah dan tidak mengenai target seperti diatas kepala, dan beberapa sisi yang sengaja mereka simpangkan agar tidak mengenai musuh mereka. Hal ini diakibatkan oleh suatu penghambat alamiah suatu spesies untuk tidak membunuh sesamanya, namun karena kondisi psikologis, tekanan dari pihak berkuasa, difusi tanggung jawab, dehumanisasi musuh serta peningkatan jarak secara psikologis, pada akhirnya hambatan alamiah manusia yang menjadikan keengganan untuk membunuh abai dan terkalahkan.

Chappie, sebuah film tentang robot otonom yang cakep dan agaknya saya jadi ingin nonton lagi stelah baca buku ini dibandingkan dengan film terminator, ini lebih oke kayak e (sumber: Digital Trends)

Saya rasa faktor-faktor inilah yang dimanfaatkan dan di modifikasi oleh orang orang yang berkepentingan baik pihak militer maupun pihak perekrut terorisme dalam menyiapkan seseorang untuk siap membunuh sesamanya. Sehingga terkadang kita kita tidak melihat ekspresi bersalah dan tertekan pada pelaku pembunuhan baik dalam suatu operasi militer maupun aksi aksi tidak bertanggung jawab yang terorganisir lain seperti tindakan terorisme. Saya akan coba menguraikannya secara singkat satu persatu, bukan untuk mengajarkan cara cuci otak tetapi sekedar informsi agar tidak terperosok kedalam hal tersebut, karena disekitar kita baik secara sadar ataupun tidak sudah bertebaran hal hal tersebut.

  • Pertama adalah mengkondisikan psikologis seseorang dengan berbagai cara seperti salahsatunya adalah memaparkannya pada informasi dan situasi situasi ekstrim.
  • Kedua adalah meberikan tekanan berdasarkan kekuasaan, baik dengan fisik langsung maupun tindakan tindakan yang menyebabkan seseorang tidak berdaya untuk menolak.
  • Cara ketiga adalah mendifusikan tanggung jawab dengan cara pembagian tugas yang guyub dan rumit sehingga mengaburkan fakta terkait siapa yang bertanggung jawab sebenarnya.
  • Cara keempat adalah dehumanisasi musuh dengan mengikis sisi humanisnya baik secara langsung maupun dengan narasi yang berputar yang memberikan sisi jahat, hewan dan tidak manusiawinya musuh tersebut dan jauh dari sisi manusia. Atau dengan menggantikan target manusia pada musuh menjadi target target fisik lainnya seperti bangunan dll yang kemudian secara tidak langsung juga emberikan dampak pada musuh
  • Cara kelima adalah membuat suatu jarak fisik dan psikologis antara seseorang dan musuhnya hingga kemudian juga dapat memberikan efek dehumanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jarak fisik dan juga memisahkan dan meningkatkan perbedaan perbedaan antara lawan dan musuh sehinggi muncul penggolongan yang ekstrim.

Jadi melenceng ya dari yang seharusnya. Sebenarnya tidak, karena ternyata dalam kajian kajian yang di jelaskan dalam buku tersebut, ternyata kehadiran senjata otonom akan meningkatkan kelima faktor tersebut yang kemudian menjadikan pembunuhan musuh menjadi sesuatu peristiwa yang biasa dan tidak ada yang perlu menanggung beban tanggung jawab karenanya. Hal inilah yang kemudian ditakutkan meski harus diakui pengaplikasian enjata otonom dapat meningkatkan presisi dan efektifitas dalam peperangan, nmaun sebagai dampak sampingnya yang mengaburkan beban tanggung jawab dan lainnya maka opsi perang akan semakin mudah untuk dipilih. Dan tentunya hal tersebut bukanlah hal yang diinginkan. Biar bagaimanapun juga “There is no glory in war” (Silvia Cartwright )

In a world where autonomous weapons bore the burden of killing, fewer soldiers would presumably suffer from moral injury. There would be less suffering overall. From a purely utilitarian, consequentialist perspective, that would be better. But we are more than happiness-maximizing agents. We are moral beings and the decisions we make matter.

(Paul Scharre, Army of None)

Ini suatu qoutes yang paling saya sukai dalam buku ini. Dari quote ini kita diingatkan bahwa bukan sekedar agen yang hanya mengejar dan memaksimalkan kebahagiaan diri kita, kebahagiaan apapun itu baik kebahagiaan di dunia ataupun kebahagiaan diakherat. Kita tercipta untuk lebih dari itu, kita adalah entitas moral yang segala tindakannya memiliki arti, baik untuk diri sendiri, orang lain dan mungkin bila boleh sedikit hiperbola saya dengan yakin mengatakan bahwa kita jugalah yang menjadi bagian dalam menggerakan dunia ini akan kemana dimasa depan apakah baik ataupun suram tergantung dari tinakan kita dan keberanian kita bertanggung jawab setelahnya.

Saya kira cukup itu dulu untuk cerita tentang buku Army of None saat ini, saya suka buku ini dan menilai 4/5 dan jika teman teman berminat silahkan baca hehehe dan ingat belilah secara legal (tapi kalau pingin link yang ilegal silahkan hubungi saya hehehe #bercanda). Sampai jumpa pada tulisan saya berikutnya

Salam ala cyborg

dewa putu a

Sumber Sumber
  • Scarre, Paul, “Army of None: Autonomous Weapons and the Future of War”,2018
  • Featured Image by Computerizer from Pixabay

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

Rekomendasi 7 Buku Terbaik yang Layak Kita Koleksi dan Baca

April 23, 2019 — by dewaputuam0

5924-min-960x641.jpg
Buku adalah salah satu teman terbaik manusia. Ia menyimpan pesan, rasa dan suasana masa lalu dan sekarang, mengabadikannya untuk masa kini dan masa yang akan datang (Sumber Ilustrasi: jannoon028 Freepik)

Untuk ikut serta dalam memeriahkan hari buku sedunia yang dirayakan setiap 23 April, pada kesempatan kali ini saya akan menyodorkan sekaligus merekomendasikan 7 Buku terbaik yang pernah saya baca, setidaknya hingga saat ini. Saya akui ini bukan suatu pilihan yang mudah karena menurut saya buku-buku yang saya baca mayoritas bagus-bagus, karena buku yang kurang bagus biasanya tidak pernah selesai saya baca hehehe. Dari kesekian buku yang telah saya tersebut kebanyakan memiliki ciri khasnya masing masing dan tentunya tidak sedikit yang akhirnya membuka mata saya tentang hal hal yang sebelumnya tidak saya sadari. Tidak perlu berlama lama lagi, berikt ini adalah 7 Buku Terbaik yang Layak di Koleksi dan di Baca menurut saya.

#1 “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl

Buku “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl adalah satu buku terbaik yang saya baca hingga saat ini, banyak kesan yang tertinggal dari buku ini. (Sumber: Medium.com)

Hingga saat ini, jika ditanya dan diminta untuk merekomendasikan satu saja buku terbaik yang layak untuk dibaca temen teman sepertinya saya tidak akan bingung dan dengan senang hati saya merekomendasikan buku ini. Ini adalah buku yang paling memberikan kesan bagi saya dan banyak sekali “Oooo moment” yang saya alami selama membaca buku ini.

Buku Man’s Search for Meaning menceritakan kisah hidup penulis dalam kamp pengkonsterasian Nazi selama Perang Dunia ke II. Dari buku ini kita diberitahukan bahwa apa yang diinginkan manusia dan terus memberikan motivasi seorang manusia untuk hidup dan menjalani hidup adalah karena ada makna yang diyakini dan diperjuangkan. Dari sini kita belajar bahwa terkadang memang kita temui orang orang yang bertindak buruk dan keji bagi kita sebenarnya tidak sekedar mengejar tahta ataupun kekuasaan namun lebih dari itu ada sebuah makna yang sedang ia perjuangkan.

Apapun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia, kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.

Viktor E. Frankl

Melalui buku ini kita akan dikenalkan suatu konsep terkait logo terapi (terapi makna) yang didalamnya dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Salah satu konsepnya pernah saya tuliskan di dalam tulisan saya yang berjudul “Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya di link ini. Paradoxical Intention pada intinya adalah suatu paradox yang membuat suatu hal menjadi nyata saat kita sangat berusaha agar hal tersebut tidak terjadi, namun sebaliknya akan begitu sulit tercapai ketika kita sangat menginginkannya. Saya membaca buku ini melalui platform google playbook, jika berminat versi cetaknya sepertinya masih dijual di beberapa toko buku online.

#2 “Don’t Follow Your Passion” karya Cal Newport

Saya memilih buku ini karena melihat bukunya yang cukup nyeleneh dibandingkan buku buku sejenis lainnya. (Sumber Gambar: Femina)

Jika teman teman sudah terlalu jenuh dengan petuah petuah yang memberi semangat kita untuk “bermimpi besarlah kalian, kejar passion kalian, kalian akan sukses bila kalian mengerjakan apa yang anda cintai” dan frasa frasa serupa yang membuai kita tentang indahnya bekerja sesuai passion, dalam buku ini kita akan dibangunkan dari mimpi kita.

Buku ini tidak memandang buruk orang orang yang mengejar passion mereka, buku ini sekedar mengingatkan bahwa tidak semua passion anda akan memberikan kesuksesan di kemudian hari. Alih alih berjibaku dan menjadi kutu loncat demi mengejar sebuah passion, buku ini mengajarkan kepada kita agar kita memberdayakan dan terus mengembangkan apa yang telah dan sedang ada di sekitar kita. Dengan mengembangkan apa yang telah ada kita akan terus memperbaiki diri menjadi “begitu baik sehingga tidak ada yang bisa mengabaikan kita”.

#3 “O” sebuah novel karya Eka Kurniawan

Eka Kurniawan dan Bukunya yang berjudul “O” (Sumber gambar CNN Indonesia)

Agar tidak terkesan sebagai orang yang mabuk akan buku buku pengembangan diri yang selalu optimis dan melakukan salam salam super ala MLM agaknya ada baiknya saya sedikit memasukan salah satu novel terbaik yang pernah saya baca. Novel ini memiliki judul yang sangat singkat, hanya satu huruf di sana yaitu “O”. Novel ini merupakan karya yang menurut saya epik dari seorang novelis bernama Eka Kurniawan.

Secara garis besar novel ini menceritakan sebuah kisah cinta nan tragis dari seekor monyet yang mencintai seorang raja dangdut. NOvel ini adalah kombinasi antara komedi, keabsurd-an dan filosofis (meskipun saya sudah lupa letak filosofinya dimana). Yang saya suka dari buku ini adalah kelihaian sang penulis dalam menceritakan berbagai tokoh tokohnya yang absurd dari monyet, burung hingga kaleng sarden bekas yang digunakan untuk menampung koin topeng monyet.

Jika teman teman menginginkan bacaan ringan namun bertabur nilai nilai moral didalamnya, saya merekomendasikan buku ini untuk teman teman baca dengan segelas teh atau kopi panas.

#4 “Origin” sebuah novel dari Dan Brown

Buku yang sebelum penerbitannya sudah saya tunggu ber minggu minggu atau bahkan lebih dari sebulan (Sumber gambar: Whitehots)

Ini adalah buku Dan Brow kedua yang pernah saya baca setelah Inferno. Meskipun beberapa orang yang telah membaca karya karyanya Dan Brown menilai buku ini akan sama monotonnya dengan buku buku yang lain, namun berhubung saya baru membaca satu karya Dan Brown waktu itu maka saya kurang begitu mengharapkan keberagaman alur cerita dari sang penulis ini.

Saya akui alur dari buku ini memang sama dimana ada tokoh terkenal kemudian mati dengan meninggalkan misteri yang harus dipecahkan oleh Profesor ahli Symbology kita Robert Langdon dan kemudian terjadi kejar kejaran dan konflik semakin rumit dan blam kasus terselesaikan namun ada yang menggantung, dan kemudian muncul lah plot twist ke dua yang membalikan apa yang kita pikirkan sebelumnya. Seperti itu pola yang saya tangkap. Plot twist pamungkasnya secara berat hati dan dengan sedikit mengecewakannya sudah dapat saya tebak bahkan sebelum pertengahan cerita ini. Tetapi yang membuat saya terus melanjutkan ceritanya adalah, misteri utama berupa jawaban dari dua pertanyaan terpenting umat manusia seperti apa yang diungkap dalam novel ini.

Terlepas dari bisa ditebaknya tiwist yang diberikan dan alurnya yang mirip dengan cerita dan brown lainnya. Novel ini masih layak dibaca karena dapat memberikan kita arti dan maksud dari berbagai karya seni dan objek-objek yang di lalui oleh profeseor symbologi kita ini. Terkait jawaban dari kedua pertanyaan penting umat manusia tersebut saya sudah membuat sedikit ulasan saya dalam blog ini dengan judul “Fisika Asal Mula dan Evolusi Kehidupan” dalam link ini.

#5 “The Great Shifting” karya Rhenald Kasali

Saya adalah salah satu orang yang cukup suka membaca karya Prof Rhenald Kasali. Dari beberapa buku yang saya baca, buku ini menurut saya merupakan buku yang terbaik. Meskipun saya sedikit bingung memilih antara buku Distruption dan The Great Shifting ini namun karena menurut saya lebih banyak hal hal menarik diulas di sini maka saya memutuskan buku inilah karya yang paling saya suka.

Buku Karya Prof R. Kasali yang menurut saya sarat akan penjelasan penjelasan logis terkait hal hal menarik yang ada di dalam kehidupan kita saat ini. (Sumber Gambar: Rumah Perubahan)

Yang saya suka dari buku ini adalah cara sang penulis dalam menjelaskan Revolusi 4.0 sebagai suatu pergeseran besar. Tidak seperti beberapa tulisan yang menggambarkan Revolusi 4.0 sebagai suatu pemanfaatan besar besaran tekhnologi terkini untuk meningkatkan profit. Prof R. Kasali menjelaskan Pergeseran besar ini sebagai suatu kerangka mendasar yang bergerak dan berubah “dengan memanfaatkan tekhnologi tekhnologi yang ada”. Fokus pada buku ini adalah pergeserannya dan bukan hanya alatnya.

Disini banyak sekali dijelaskan fenomena fenomena yang terjadi di sekitar kita selama ini baik itu yang baik seperti fenomena berbagi kita hingga yang buruk seperti Cyber Bullying. Penjelasan yang diberikn buku ini juga menurut saya masuk akal dan mudah dimengerti. Saya secara kusus membahas buku ini melalui tulisan saya yang berjudul “[Buku] The Great Shifting” yang dapat teman teman baca melalui link ini. Konsep yang ada dalam buku ini juga saya tuliskan dalam posting saya yang berjudul “Kepribadian Lain” di Dunia Online dan Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana.

#6 The Everything Store: Jeff Bezos and the Age of Amazon karya Brad Stone

Buku The Everything Store Karya Brad Stone ini menceritakan salah perjalanan hidup dan bisnis manusia terkaya di dunia saat ini Jeff Bezos (Sumber Gambar LEAP.)

Buku ini sudah lama sekali saya baca dan sudah banyak hal yang saya lupakan dari ini buku hehehe. Secara garis besar buku ini menceritakan kisah seorang Jeff Bezos dengan impian yang tinggi dan usaha yang gigih akhirnya mampu menjadi orang terkaya di Dunia. Namun itu bukanlah impian tertingginya. Ia memiliki impian sejak kecil untuk dapat terbang keluar angkasa, dan dengan kekayaan yang begitu berlimpah sat ini ia dengan Blue Origin nya sedang berlomba melawan Elon Musk dengan SapaceX nya untuk merambah dan mengexplorasi luar angkasa.

Dari buku ini kita akan diberikan informasi informasi menarik, tidak hanya kelakuan Jeff Bezos yang sadis untuk mencapai tujuannya dengan memakan sumber sumber daya manusia terbaik dan juga tidak segan untuk memberhentikan pendirinya sekalipun jika tidak dapat mengimbangi kecepatan pertumbuhan Amazon.Kita juga diberikan gambaran trik trik yang dilakukan Amazon dalam memahami dan menguasai pasar nya hingga membuatnya menjadi Toko terbesar di dunia yang cerdas. Berawal dari toko buku dan popok, amazon kini menjual segalanya.

#7 Elon Musk: Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future karya Ashlee Vance

Tidak adil rasanya bila saya memasukan buku biografi Jeff Bezos tanpa memasukan pula buku biografi rivalnya Elon Musk yang digadang gadang sebagai Tony Stark nya dunia nyata. Buku ini juga yang saya rasa cocok mengakhiri daftar saya kali ini karena buku inilah buku yang saya tunggu tunggu versi bahsa indonesianya sekian lama. Sekalinya muncul di toko buku yang versi bahasa indonesia tanpa pikir panjang saya pun langsung mengakuisisinya.

Elon Musk, Sang Tony Stark yang hidup di dunia nyata. Sama seperti Jeff Bezos, sosok ini adalah penggila buku sejak kecil dan kini juga sama sama berlomba dalam mengeksplorasi luar angkasa dengan SpaceX nya (Sumber Gambar: Medium)

Buku karya Ashlee Vance menceritakan kisah hidup seorang kutu buku genius dan aneh dari Afrika Selatan yang kemudian berangkat ke Amerika untuk mengadu nasib dan hingga saat ini akhirnya ia dikenal sebagai Tony Stark di dunia Nyata. Elon Musk adalah seorang yang sudah Jenius sejak kecil, di usia 12 tahun ia sudah dapat menciptakan sebuah game bernama Blastar yang kemudian dijualnya seharga 500 dolar. Tidak berhenti dari situ, ia yang sejak kecil gemar membaca buku dari berbagai genre ini membawanya menjadi seorang Expert Generalist yang secara sederhana dapat dikatakan seorang ahli untuk segala hal.

Keahliannya di segala bidang ini dibuktikan oleh dirinya dengan cara mengubah pandangan pandangan yang ada selama ini mungkin terasa aneh dan mustahil menjadi suatu yang nyata dan keren. Ia turut membangun sebuah tekhnologi finansial yang kini disebut sebagai Paypal yang kemudian mampu mendistrupsi cara pandang orang terkait finansial. Di sektor otomotif, ia mengubah pandangan orang yang dulunya merasa mobi listrik sebagai seuatu yang aneh dan tidak keren designnya menjadi suatu karya seni yang keren dan menawan dengan deretan mobil Teslanya bahkan akselerasinya dapat bersaing dengan mobil mobil buas saat ini. Di bidang energi ia menciptakan Solar City, di bidang explorasi luar angkasa seperti yang sudah disebutkan sebelumnya ia membuat SpaceX yang salah satu roketnya membawa satelit Indonesia baru baru ini.

Saya rasa cukup sampai sini saja dulu rekomendasi buku buku terbaik yang menurut saya layak teman teman koleksi dan baca. Sekian dari saya, selamat hari buku se dunia,

Salam literasi

dewa putu am

Feature Image by jcomp – www.freepik.com