main

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Mari Ku Ajak Kalian Pada “Enam”. Seni Berpikir Enam Kepribadian

October 24, 2019 — by dewaputuam0

action-backlit-beach-1046896-960x469.jpg

Hai,.. ini akan menjadi sesuatu yang lucu, sebuah perjalanan yang sengaja saya buat untuk mengenalkan kalian pada apa yang mungkin tidak pernah kalian temukan sebelumnya atau mungkin beberapa dari kalian sesekali pernah menyadarinya. Mari masuk akan saya tunjukan sesuatu, jangan ragu ini tidak berbahaya, saya jamin itu.

Photo by Louis from Pexels

Coba rasakan rerumputan yang menjalar dan membasahi telapak kaki kita dengan embun yang sendari pagi tidak pernah menguap. Sentuhan yang membawa kehangatan yang menyelimuti kita pergi dan terengut untuk digantikan kesejukan kecil namun lucu. Coba rasakan juga sentuhan lembut angin yang bergerak dari belakang merayap merambat tanpa hambat menelusuri dari belakang dari tulang punggung kita dan terpecah kiri dan kanan menelusuri tubuh kita kearah depan mengeringkan peluh keringat.

Lembut dan arah angin, kau rasakan kah ia membawa kita melangkah kedepan menuju suatu tempat tepat didepan sana, sebuah pintu. Dibalik pintu itulah yang ingin saya tunjukan pada kalian mari ikut saya. Hiraukan saja rasa dingin dan gelayutan angin di antara rambut rambut tipis dan jemari yang sendari tadi kalian rasakan. Meskipun mungkin itu sedikit sulit tapi mari ikutlah saya untuk menemui “sesuatu” dibalik pintu itu.

Biru terang langit dan kemudian gelap pada rona lautan luas. Biru memang seluas itu

Photo by brenoanp from Pexels

Tapi sebelum itu ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Disini saya disebut dengan si Biru, sayalah sang entitas “pembawa segalanya” kesini. Seperti birunya langit yang memberikan kesan luas tanpa ingin memberikan batas, saya melihat jauh lebih luas 1000 langkah lebih jauh dari “lainnya disini”. Itulah tugas saya, membawa apa yang menurut saya menarik dan melihat semua arah yang jauh itu dari apa yang saya bawa. Ehem tentunya kalian juga, ada maksud disini saya bawa kalian ke sini.

“Hai biru, apa yang kau tunggu lagi bawa tamu kita kesini”.

Kau dengar suara di balik pintu itu? mereka tampaknya tidak sabar untuk bertemu tamu mereka. Mari ikut aku ke pintu itu, jangan pedulikan gagang pintu dingin yang sedikit membeku karena dinginnya hujan semalam. Tak perlu kalian pedulikan pula warna usang pintu usang ini, mari masuk dan jangan ragu melangkahkan kakimu untuk masuk ke dalam.

Sedikit lebih terang ya, namun saat pupil matamu terbiasa, dirimu akan melihat empat orang disana sedang duduk di sebuah meja kayu bulat klasik yang tampak kokoh bukan. Maaf agak sedikit kumal untuk urusan cat nya, harap maklum ya sudah tak terhitung berapa kali meja ini di diketuk ketuk gebrak hingga dihempaskan. Ini meja diskusi kami. Oia agak kurang lengkap ya disini, masih ada satu lagi yang belum datang. Sudah jangan terlalu diindahkan ia memang terbiasa begitu. Tapi ia tau kok kalian akan datang kesini, pada ialah saya meminta ijin. Yah meski suka menghilang tidak tahu kemana, dialah pemilik tempat ini sebenarnya sebelum ada kami di sini.

Mari silahkan duduk, kursinya memang terlihat sedikit rapuh tapi tenanglah seberat apapun dirimu kayu ini lebih dari cukup untuk menompangmu. Mari saya kenalkan pada mereka. Ssssst mereka asik kok tenang saja. Dari sinilah semua akan kita mulai dan jangan ragu untuk bertanya bila ada yang ingin kau tahu. Ku sudah merencanakan sesuatu yang menarik untuk kalian dan juga tentunya sudah kami diskusikan akan ke arah semua ini. Sebagai awalan ku akan memberikan kesempatan pada seseorang berbaju putih dan membawa tumpukan kertas kertas tidak tahu jundrungannya itu dengan senyum yang sedikit asimetris dan sedikit menghina namun tajam namun dingin hahaha. Sulit sekali ya memberi gambaran sosok ia itu, terlihat sombong tapi jauh di lubuk hatinya ia baik kok. Monggo putih.

Kanvas Putih tempatmu melukis semuanya, kertas putih tempat semua tercatat disini dengan sempurna. Putih ini tak pernah lama tetap putih

Photo by charan sai from Pexels

Oke terimakasih biru, dah menyanjung ku sedikit sekarang berarti giliranku ya. Susah sekali ya dirimu membawa trik-trik pra-induksi dalam hipnosis pada tulisan ini. Memberi gambaran interaksi dan menggambarkan suasana disini segala hehehe. Tapi okelah sebagai awal meski sedikit bertele tele. Apalah menariknya ruangan ini selain sejuknya udara. Lampunya sedikit remang dan tak jarang bergoyang bila kita berdiskusi dan berdebat. Oh ia saya sedikit terlupa dengan tamu kita saat ini. Setelah dibawa masuk pada kesadaran ini mari saya bawa kalian kembali teman teman kita ini pada realitas di depan pendaran layar bercahaya dan membaca tulisan ini dalam hati hingga seolah olah thati mereka berbisik dan berkata kata perkata yang terlihat dipendaran putih itu.

Pendaran putih, kanvas putih, kertas putih disanalah kita melihat kata terukir dan tergambar untuk kemudian ditangkap otak kita untuk dikonversi menjadi bisikan bisikan ajaib dalam otak kita seolah ada seseorang yang membacakannya untuk kita. Saya lah si putih, sebuah entitas dan kesadaran disini yang bertugas melihat dan menulis semua dalam kertas putih.

Apapun yang yang si biru bawa kesini tugas saya lah untuk melihat seksama entah itu entitas yang berwujud atau permasalahan, sebuah entitas abstrak tanpa wujud. Semua pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran saya. Pertanyaan pertanyaan dasar Apa kenapa, siapa, bagaimana, kapan dan dimana selalu berputar untuk semuanya yang datang kesini atau pada maksud untuk yang datang kesini. Jujur sih, diriku sedikit bingung dan ada banyak gap antara pengetahuanku dengan kenyataan saat ini termasuk tentang apa yang membuat teman teman sekarang kami ajak kemari. Saya masih penasaran, jika masih ada waktu boleh lah saya sedikit bertanya hehehe.

Bagaimana kuning? sekarang giliranmu dulu ya, kalau bisa kita jangan terlalu lama lah berkenalannya soalnya saya ingin kita masih punya waktu untuk bertanya banyak pada mereka. Jarang jarang loh “Dia” mengijinkan orang asing masuk ke dalam sini.

Padi yang menguning,”Kuning” keemasan menari bak tarian plasma matahari di siang hari yang memancarkan kehangatan dan kobarannya yang lucu membawakan pesan pesan positif pada kita bahwa hari ini akan menarik

Photo by Pixabay from Pexels

Putih, teman teman diajak kesini untuk memperlihatkan konsep enam yang kita bawa ini. Bukan konsep baru si tapi ya gue rasa akan menarik bila kita bagi. Konsep yang sejatinya bernama “Six Thinking Hats”, Enam topi kepribadian atau kerangka berpikir ini lucu loh dan kita baru sadar beberapa hari lalu untuk kemudian membawa warna pada nama nama kita sekarang. Seperti itu kan ya Putih.

Banyak potensi besar pada konsep ini, dan juga membawa mereka keruangan ini untuk maksud itu. Gue sudah membayangkan ni bagaimana akan banyak ide ide menarik yang dihasilkan mereka dengan memakai metode ini dalam kehidupan mereka. Wooow jiwa gue bergelora bak mentari hanya membayangkannya saja.

Oia gue lupa memperkenalkan diri ya, Saya si kuning. Gue suka nama itu disematkan pada gue yang keren dan tampan ini. Seperti mentari nama itu melambangkan semangat berapi api nan positif untuk menelusuri semua hal yang dulu masih gelap. Gue percaya semua itu karena gue tau dan selalu berpikir yang baik baik saja. Oia sekalian sedikit memberikan pembatas saja ya. Positif yang gue maksudkan disini bukan berati positif halu tanpa batas hingga berharap akan ada naga terbang menghampiri kita sambil bernyanyi lagu lagu Disney. Bukan bukan yang seperti itu yang gue maksud. Percayalah bahwa akan ada suatu kebaikan di setiap peristiwa ada suatu hal lucu dan menarik dalam masalah sekalipun.

Kenapa lu senyum senyum sendiri merah. Hahaha pasti ada sesuatu yang menarik ni. Oia sekarang giliran lu. Waktu dan tempat dipersilahkan.

Merah, darah yang mengalir dalam pembuluh darah kita membawa pula emosi dan sensasi yang kadang mendekap hangat namun tak jarang pula merengut kehangatan itu dan menjadikannya dingin sedingin mayat terbujur kaku di sebuah ruang kosong

Photo by Designecologist from Pexels

Hahaha, Saya ingin bernarasi sedikit ya untuk perkenalan saya agar tampak keren dan berkesan sedikit puitis. Monggo sambil mendengar saya bercerita teman teman bisa kok santai sejenak menseruput kopi dan tehnya saya rasa sampai sini teman teman pasti sudah lelah membaca dan sedikit merasa bosan dengan apa yang kita kita sini ceritakan. Tapi cobalah yuk berhenti sejenak dan ambil napas dalam dalam, coba bayangkan hal hal menyenangkan dan menarik yang terjadi di hari ini. Ijinkan saya bernarasi sedikit tentang saya dan kesadaran yang saya wakili.

Emosi yang menjadikan kita manusia. Sebuah emosi dapat membentuk suatu tindakan dari tindakan pula dapat membentuk gelembung emosi pada diri kita. Kadang sedih, senang, khawatir, percaya diri semua itu gabungan dari berbagai emosi dasar kita sebagai manusia. Sekarang giliran saya sang entitas emosi dalam ruangan ini. Saya adalah sang merah, semerah darah dan pula semerah bunga mawar yang sering kalian simbolkan sebagai perasaan cinta.

Cukup sulit juga ya membuat narasi yang menggugah dan punya sedikit karakter indi yang suka menggunakan diksi “Senja” senja itu. Saya merasa emosi terkadang dianaktirikan oleh sebagian besar dari kita. Ya memang tidak sepenuhnya salah si, terhanyut pada emosi memang bukan suatu yang baik. Tetapi bukankah tenggelam dalam logika juga sesuatu yang menyakitkan dan menyiksa. Rasa sakit rasa perih rasa kecewa itu sama biasanya dengan rasa senang rasa bersyukur dan rasa rasa terbaik lainnya. Semua hal ini tidak bisa lepas dari pelukan emosi.

Kita mungkin saja sulit mencerminkan logika seseorang pada diri kita. Kita sulit menerima dan memahami dengan menggunakan kerangka berpikir seseorang. Tetapi, ada satu cara lain untuk memahami dan kemudian bila diterapkan pada hal hal lainnya cara ini akan mempermudah dan menghindarkan kita dari kesalahan kita melangkah. Menggunakan emosi. Mencerminkan logika berpikir orang lain pada kita memang sulit namun mencerminkan emosi orang lain pada diri kita tidaklah sulit.

Disinilah saya mengambil alih, sebagai entitas emosi saya menyerap dan beresonansi dengan lingkungan sekitar kita untuk melihat lingkup dari setiap ide, gagasan atau apapun itu dan kaitannya dengan perasaan orang orang sekitar tentangnya.Mengecewakan kah, menggembirakan kah atau justru biasa saja dan tak dianggap pernah ada sebelumnya. Semua itu tentang emosi.

Selalu ada ruang yang tak tersentuh cahaya. Disanalah bayangan “Hitam” gelap bersarang dan menunggu datangnya malam.

Photo by sebastiaan stam from Pexels

Halah emosi itu tidak begitu penting. Emosi hanya menggambarkan kelemahan seseorang. Emosilah yang menghambat kita kearah yang maju. Kit perlu realistis dengan semua ini. Jujur lah gw tidak pernah setuju dengan penulisan ini dan mengajak orang asing pada ruangan kita yang penting ini. Bisa saja kan mereka berkhianat seperti yang sudah sudah dan kemudian banyak merugikan kita. Kita tidak perlu berbagi semua hal, dan gagasan ini pun sebenarnya tidak baik baik amat untuk dibagi.

Banyak kekurangan dari gagasan 6 topi ini. Mana mungkin lah semua orang dapat membagi kerangka berpikir seperti kita sekarang. Banyak dari mereka terlalu kaku dan hanya memiliki satu frame saja. Coba lihat selama ini, apakah mereka mampu melihat dari berbagai sudut pandang. Yah walau sesekali ada orang yang demikian tetapi itu sangatlah jarang. Kebanyakan mereka sekarang terlalu terkotak kotakan.

Mereka terjebak dalam filter bouble mereka sendiri sendiri. Mereka selama ini hanya mau mendengar dan melihat apa yang sesuai dengan pemikiran mereka saja. Percumalah, tidak ada gunanya kita membagikan “Enam” ini pada mereka yang hanya “Satu” bahkan konyolnya beberapa dari mereka, satu pun belum jelas ada yang hanya setengah. Apa yang bisa kita harapkan dari hal tersebut.

Opera enam kepribadian dalam sebuah ruang dalam gubuk kecil di tengah hamparan rumput hijau

Hitam, kenapa pula kalian identikan gw dengan warna hitam. Yah memang gw menyukai warna itu, bukankah hitam itu warna yang keren. Dan yang gw tidak setuju dari konsep ini dan juga alasan kenapa orang orang asing seperti mereka ini dibawa kesini adalah “Kepercumaan”. Semua ini useless, cara ini tidaklah cocok dengan semua orang. Dan yang paling menyedihkan, tulisan ini terlalu panjang untuk orang orang kita yang jarang membaca. Gw yakin ni hanya segelintir orang tetap membaca hingga pada bagian ini. Percuma saja kita bercerita panjang lebar ber jam jam jika tidak ada yang membaca. Semua percuma, kita hanya akan menghambur hamburkan waktu kita dengan percuma.

Bukan begitu hitam,.. gue yakin ada kok yang akan membaca sampai pada bagian ini. Ini bukanlah sesuatu yang percuma. Satu orang saja yang sudah membaca hingga bagian ini sudahlah sesuatu yang luar biasa dan kita berhasil. Sebagai kuning gue rasa semua ini sudah sesuai dengan panjangnya waktu yang telah kita korbankan. Si biru sudah merencanakan ini dengan matang pasti lah kita berhasil saya yakin itu. Hey merah jangan menangis disitu kita melakukan hal yang benar lo.

Ah lu kuning, lu selalu berpikiran positif. Realistislah. Tidak semua hal akan memberikan hasil yang positif terkadang kita akan mendapatkan suatu kekecewaan yang kalau sudah begitu bukankah kita sudah sama sama tau berapa kali kita gagal dan berapa kali juga kita harus menangis tanpa tahu apa yang harus kita perbuat. Gw setiap pertemuan selalu menjabarkan segala kemungkinan terburuk yang ada dan akan kita temui tapi tidak jarang kalian malah menghiraukan itu semua dan akhirnya terjadi beneran kan. Sama saja dengan dibawakannya orang asing kesini, sama seperti yang saya sampaikan sebelumnya ada banyak sekali kejelekan yang ditimbulkan bila kita ungkap keberadaan kita semua saat ini.

Hmmm kalau dari data yang saya bawa sih tidak akan seekstrim itu sih hitam, yah memang kemungkinan itu pasti ada tetapi dari sekian banyak orang hmmm atau harus saya katakan dari sekian dikit orang yang membaca artikel ini adalah satu atau dua orang yang akan terpengaruh dan menerapkan hal yang kita terapkan selama ini. Dan bukan tidak mungkin juga akan ada sedikit perubahan pada mereka. Itu sudah cukup, cukup kertas puih baru untuk catatan harian mereka yang lebih baik.

Tidak itu tidak cukup, dengan semua waktu yang kita habiskan untuk bercerita dan menulis ini, satu saja tidak cukup. Itu kurang hai sobatku. Semua kurang dan percuma. gw ingin hentikan ini sekarang dan jangan aneh aneh lagi lah ya. Cukup sampai disini saja dulu. Maaf teman teman para pembaca tampaknya say sudahi dulu ya perkenalan kita. Yah meskipun gw tidak begitu yakin kalian akan membaca tulisan ini sampai bagian ini tapi untuk jaga jaga saja saya ucapkan terimakasih sudah mengikuti cerita ini. Tutup sudah biru, kau yang membuka cerita ini tadi.

Baiklah saya si biru ini akan merangkum apa yang sudah kita lalui selama ini. Jadi dalam megelola suatu ide dan gagasan kami biasa melakukan ini kami ber-enam

  1. Saya si biru lah yang membawa gagasan itu masuk lengkap dengan tujuannya, saya akan membuat outline dari gagasan tersebut dan kemudian bertugas pula mengambil kesimpulan setelah diskusi seperti sekarang ini.
  2. Gagasan tersebut kemudian dipecah oleh putih dan menganalisis fakta fakta yang ada didalamnya untuk pengambilan keputusan, tentang gap dan apapun yang dirasa penting akan dipaparkan oleh si jagoan kita ini.
  3. Si kuning dengan pola pikir positipnya akan mencari apa apa saja yang menjadi keunggulan dari gagasan baru itu. Ia dengan optimisnya biasanya mengungkapkan hal hal dari sisi yang dianggapnya menarik dan menyenangkan.
  4. Si merah bertugas untuk merepresentasikan emosi emosi yang terkandung dalam gagasan tersebut dan melihat serta memperkirakan dampak dampak yang akan diakibatkan oleh gagasan itu. APakah membuat kita senang, orang lain senang atau sebaliknya.
  5. Si hitam yang dari tadi marah memang seperti itulah tugas dia. Ia akan mengkritisi semua hal dan melihat sisi yang tidak pernah tergapai oleh yang lainnya. Jika si kuning dianggap sebagai gas maka si hitam lah remnya. Ia ada untuk menjaga kami agar tidak terperosok terlalu dalam.
  6. Itu baru 5 kepribadian yang saya perkenalkan pada teman teman sekalian. Ada satu lagi yang terakhir yang ingin saya perkenalkan. Entitas inilah yang selama ini sebenarnya yang lebih dekat dengan kalian para pembaca. Dialah sang penulis cerita ini sehingga dapat teman teman baca melalui blog kami. Dia sering kami sebut sebagai penyihir hijau dan dialah yang bertugas mengatur segala cerita yang ada disini dialah sang pemimpin dan pengatur semua yang ada disini (hey biru jangan berkata seperti itu, saya jadi malu| ttd hijau).

Halo, saya si hijau. Terimakasih telah membaca tulisan saya selama ini baik tulisan yang teman teman baca ini maupun tulisan sebelumnya. Segala narasi yang saya tuliskan disini terinspirasi dari sebuah metode pemecahan permasalahan yang saya baca dari artikel di blog medium karya Stephen Moore yang berjudul Turn a Good Idea Into a Great One With the ‘Six Thinking Hats’. Sudah sepertinya itu saja yang dapat saya sampaikan pada tulisan ini.

Salam

Dewa Putu AM

Featured Photo by Subham Dash from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Alih-Alih Menjual Berita, Media Sekarang Menjual Kita

September 3, 2019 — by dewaputuam0

burning-daily-news-man-2495160-960x640.jpg
Ilustrasi berita yang “Membakar”, Berita yang panas dan penuh kontrofersi memang diminati. Lalu itu salah mereka kah para media? salah kita para pembaca yang suka berita berita seperti itu #Entahlah (Photo by Connor Danylenko from Pexels )

Pada tulisan kali ini saya ingin mengungkapkan keresahan dan kegelisahan yang saya rasakan sekian lama hingga puncaknya beberapa bulan ini. Mungkin teman teman juga merasakan hal yang sama atau justru belum sadar dengan apa yang terjadi saat ini. Saya kurang begitu nyaman dengan apa yang dilakukan media digital akhir akhir ini, khususnya artikel-artikel berita dari media nasional kita Baik itu Kmpas, Dtik, T*ibun atau apapun lah itu saya rasa semua kini sama saja.

Mereka sudah tidak berniat lagi membuat berita. Alih alih menawarkan dan memberikan kita informasi dan pengetahuan melalui berita berita mereka, kini mereka justru menjual kita. Yup menjual kita secara harfiah. Jika tidak percaya cobalah sekali kali kunjungi situs situs berita yang saya sebutkan tadi. Jika ingin dibandingkan tingkat kenyamanannya dalam membaca pastilah terlihat dengan jelas akan penurunan disetiap waktunya.

Iklan Penuh Menutupi Layar, Hingga saya Bingung Itu Situs Berita yang ada Iklan Atau Situs Iklan yang Ada Berita

Situs situs berita itu sudah tidak jelas jundrungannya dan lebih mirip situs abal abal yang bertebaran iklan iklannya bertebaran memenuhi layar bak iklan iklan judi online. Iklan menutupi layar, kanan kiri ada iklan dan susah lagi menutupnya hingga terkadang saking susahnya kita “tidak sengaja” menekan iklan tersebut. Ini nih taktik tidak etis yang saya rasa keterlaluan diterapkannya pada banyak situs.

Banyaknya iklan tidak jarang justru terlihat keren namun kalau iklan iklan tersebut sudah mengurangi fungsi dan apa yang sebenarnya ditawarkan #meh banget bukan? (Sumber Ilustrasi Jose Francisco Fern from Pexels)

Okelah, kita juga memang harus sadar gratisnya kita mengakses situs berita itu karena adanya iklan iklan yang bertebaran ini. Ini jika dilakukan dalam kondisi yang sewajarnya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Iklan yang bertebaran terlalu banyak dan tidak jarang muncul sebagai pop up, background dan juga video tentu juga akan memakan habis kuota kami. Saya merasa dirugikan untuk ini. Belum lagi video yang bersuara itu tiba tiba mengelegar di saat saya membaca di ruang publik, komplit sudah payahnya situs situs berita sekarang dari segi kenyamanan.

Dari banyaknya iklan yang memenuhi layar tanpa mempedulikan kita sebagai pembaca adalah suatu ciri awal bahwa komoditas utama situs tersebut bukanlah berita atau informasi dan layanan apapun itu. Kita sebagai pembaca lah yang menjadi komoditas utama mereka yang akan mereka jual sebagai angka angka statistik kunjungan untuk meningkatkan nilai jual mereka pada pengiklan. Kita hanya dianggap statistik dan komoditas yang diperjualbelikan. Sebagai gambaran untuk memudahkan situs situs berita yang demikian wujud aslinya adalah toko iklan yang memperjual belikan kita sebagai kerumunan yang dianggap siap melihat iklan iklan mereka. #KitaDijual

Konten murahan penuh Klik Bait dan Akal Akalan Membuat Kualitas Konten yang Semakin Payah dan Sudah Tidak Layak Konsumsi Lagi

Untuk iklan saya masih lah memaklumi dan masih oke sebenarnya hitung hitung sebahai bayaran kita atas layanan mereka, meski secara tidak langsung berarti juga kita menjual diri kita untuk dapat mengakses konten konten yang mereka berikan. Tampak mengerikan ya istilahnya. Tetapi itulah kenyataan yang kita hadapi saat ini. Saya pernah membaca frasa yang tepat menggambarkan situasi kita saat ini namun maaf saya lupa frasa tersebut dari siapa. “Saat kita mendapatkan layanan atau produk secara gratis, ketahuilah bahwa yg menjadi produk sebenarnya dari platform tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah kita.” #KitaDijual

Terlepas dari urusan periklanan yang mengurangi kenyamanan kita itu ada hal yang membuat saya tersakiti dan merasa diinjak injak dan ditipu. Ini soal kualitas konten mereka yang menurut saya tidak jarang sudah sulit untuk tolelir lagi. Sudah “jual diri” kan demi bisa akses konten mereka, eh yang didapay hanya konten konten sampah yang sulit sekali dibayangkan dapat dibuat oleh manusia berpendidikan.

Ingin berkata kasar dan jengah dengan konten konten berita yang ada selama ini, namun saya rasa gambar ini akan lebih bisa berbicara banyak tentang apa yang saya lihat ketika membaca konten konten berita di jaman sekarang (Photo by David Gomes from Pexels )

Konten konten yang ada saat ini penuh dengan klick bait, judul judul yang sering tidak sesuai dengan apa yang diberitakan dan sedihnya beberapa dari konten tersebut seperti mengahalalkan segala cara hingga mereka membuat judul judul yang memicu perpecahan di kalangan masyarakat. Dari segi kunjungan jangka pendek trik trik ini memanglah akan menghasilkan kunjungan yang berjibun tapi pernahkah mereka berpikir dampak nyata dari apa yang mereka tuliskan itu. Rasa tanggung jawab media terhadap apa yang mereka tuliskan saat ini saya rasa sangat rendah. Jika ada yang salah mereka dengan mudahnya meminta maaf atau lebih payahnya lagi mereka secara sembunyi sembunyi mengedit begitu saja apa yang mereka telah tulis tanpa adanya permintaan maaf.

Masih terkait konten yang payah, ada beberapa yang paling saya tidak suka dari konten konten berita yang mereka berikan selama ini yang menurut saya hal itu masuk kategori payah, jelek dan bahkan jahat. Beberapa diantaranya yaitu

  • Konten terlalu singkat 100an kata namun tidak jelas apa maksudnya. Konten konten seperti ini sering kali saya lihat dan setelah membacanya saya merasakan begitu hampa karena tidak adanya esensi yang kita dapat dari konten tersebut.
  • Konten sengaja dibuat banyak halaman meskipun sebenarnya bisa disingkat dalam satu halaman saja. Ini strategi yang marak dilakukan saat ini. Untuk meningkatkan jumlah view, satu artikel sering dipecah menjadi banyak halaman. Hal ini akan elok bilamana artikel tersebut memang terlalu panjang. Namun seringnya justru artikel artikel pendek tidak lebih dari 100 kata perhalaman. Ini sadis sekali sekaligus menyedihkan.
  • Konten yang tidak nyambung antara judul dengan isi. Kalau sudah begini saya sudah tidak bisa berkata kata lagi sih. Sekali saja menemukan hal seperti itu tindakan saya selanjutnya sudah pasti, block dan yidak mau lagi kembali ke situs itu.

Hukum Kontennya dan Kasihani Situsnya, Mereka seperti ini hanya tuntutan untuk dapat bertahan di lingkungan kita sekarang

Keresahan ini tidak hanya dirasakan oleh kita para pembaca. Namun dirasakan pula oleh para prakrisi yang bergerak di media media tersebut. Hal ini terjadi semejak kue periklanan di lalap habis oleh raksasa raksasa internet seperti google dan facebook. Sejak ada mereka uang periklanan untuk media yang selama ini membuat mereka bisa tetap eksis terus terpangkas dan mengharuskan merka menekan diri mereka untuk memproduksi konten sebanyak banyaknya untuk mengundang para pembaca dan menjaring pundi pundi iklan. Persaingan yang ketat mengharuskan mereka memproduksi berita dan konten secara masal. Hal ini lah yang kemudian banyak mengorbankan kualitas dari konten itu sendiri.

Menulis itu memang tidak mudah, Butuh waktu dan butuh usaha keras untuk menghasilkan satu tulisan. (Photo by Startup Stock Photos from Pexels)

Menulis itu bukan hal yang mudah dan butuh waktu lama untuk menghasilkan suatu tulisan yang bagus dan enak dibaca. Sebagai contoh untuk tulisan tulisan yang biasa saya buat butuh waktu yang tidak sebentar 3 jam lebih untuk menulis suatu tulisan yang lebih dari 1000 kata. Tiga jam itupun belum dihitung waktu yang dibutuhkan untuk parafrase dan poles sana sini setelah membaca berulang ulang serta mendapat kritikan dan saran dari teman teman. Untuk beberapa topik yang lebih berat lagi biasanya akan membutuhkan waktu hingga dua kali lipat dari waktu biasanya.

Itu untuk tulisan sekelas blogger seperti saya. Tentunya untuk tulisan tulisan dari media dalam hal kualitas, standart nya tentu jauh lebih baik dari apa yang biasa tulis, karena beban dan tanggung jawab yang diemban konten tersebut jauh lebih besar. Hal ini lah yang kemudian membuat waktu dan sumberdaya yang dibutuhkan dalam penulisan konten yang berkualitas memanglah tidak sedikit.

Proses produksi konten berkualitas yang membutuhkan efort dan waktu yang panjang dalam pengerjaannya kemudian menjadi tidak relevan dengan bisnis model yang banyak dianut media media mainstream saat ini. Sebuah model yang lebih menuntut dan mementingkan segi kuantitas dibandingkan kualitasnya. Serba salah memang, bila terlalu idealis memberikan konten yang berkualitas namun butuh waktu akan sulit bagi media untuk hidup dan bertahan agar tidak tergerus lainnya.

Dari beberapa analisis terkait seperti yang dilakukan oleh remotivi dan apa yang kita lihat secara kasat mata media pun sudah berusaha mengatasi permasalahan ini dengan membuat segmentasi pada konten konten mereka dan menjadikannya beberapa kelas. Ada yang kelas ekonomi yang selama ini saya ulas pada tulisan ini (tulisan gratisan buat pembaca). Dan segmen ke dua adalah tulisan tulisan yang premium. Beberapa media yang saya sebut sebelumnya juga mengakali dengan cara segemtasi ini dengan penamaan dan pendekatan yang bisa saja tidak sama persis.

Segmentasi ini merupakan suatu solusi yang bagus menurut saya karena dapat memberikan layanan dan produk sesuai dengan preferensi dan budaya dan situasi membaca masing masing konsumen. Bagi para pembaca judul, pemhasan dalam terkait suatu berita ataupun ide bukanlah hal yang perlu dan hanya membuang buang waktu saja. Dan bagi orang yang memang berminat lebih dalam pemhadannya dan kualitad tulisannya tentunya perlu memberikan sedikit pengorbanan materi. It’s fair enough for me.

Hanya sedikit ganjalan yang menurut hemat saya perlu lebih diperhatikan lagi. Para pembaca judul itu di negeri kita itu tidak menempati proporsi minoritas, mereka itu mayoritas, termasuk saya didalamnya dalam berbagai kondisi tertentu saya juga masuk persatuan para pembaca judul. Alhasil sering kali kita temui kisruh ditimbulkan dari pemberitaan yang tidak bertanggung jawab. Meski minim kata, please lah buat konten yang bertanggung jawab dan meres duit ya juga tidak sebegitunya sampai mengesampingkan kenyamana para pembaca dan janganlah sampai dengan tulisan tulisan yang tidak jelas tersebut justru menimbulkan dampak dampak yang merugikan orang lain.

Jika memang sulit menjual konten berita berkualitas di jaman sekarang setidaknya jual lah para pembaca kalian secara santun dan bertanggung jawab ya———— #eh

(Dewa Putu AM, 2019)

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Jangan Kebodohan Saja yang Kita Jaga Kemurniannya, Kebaikan Juga Harus

August 13, 2019 — by dewaputuam0

animal-animal-lover-animal-photography-1904105-960x606.jpg
Kebaikan datang dari alam, saya tidak begitu paham kenapa kata kata itu seketika menyeruak dalam alam pikir saya saat melihat gambar ini. Saya rasa karena dalam tulisan ini saya ingin sekali mengingatkan bahwa kebaikan bukanlah sesuatu yang super dan sangat hebat hingga tidak dapat kita gapai dengan mudah, Kebaikan justru sesuatu yang sangat sederhana dan sangat alami, yup kebaikan memang datang dari alam (Sumber gambar: Alena Koval in Pexels.com)

Kebodohan yang murni dan terjaga, beberapa kali saya melihat frasa tersebut dan sejenisnya bermunculan di konten internet. Frasa tersebut biasa muncul saat ada suatu kejadian atau kelakuan dengan sempurna diabadikan dan didibagikan ke khalayak ramai di dunia maya. Saya tidak perlulah membagikan contoh-contohnya dalam tulisan ini, karena saya rasa itu sedikit kurang sopan. Saya yakin teman teman pernah menemukan konten konten dengan model yang super absurd dan membuat kita mengenyitkan alis saat kita coba telusuri di barisan komentar frasa seperti kebodohan yang murni, kebodohan yang original dan frasa sejenis lainnya juga akan banyak bermunculan.

Yang jadi pertanyaan dan akan saya bahas sekarang dalam tulisan ini, jika toh memang ada kebodohan yang murni tanpa ada campuran serbuk pintar sama sekali. Adakah kebaikan yang menyamai level murninya kebodohan yang kita temui disekitar kita tersebut. Ada sebuah artikel dari Ayodeji Awosika yang ia publikasikan melalui platform medium yang baru-baru ini saya baca (link artikel). Melalui artikel tersebut saya diingatkan kembali meskipun untuk benar benar murni baik itu memang tidak mungkin, namun setidaknya kita dapat berbuat baik secara murni dengan hal hal yang cukup sederhana sehingga sangat mungkin dilakukan oleh kita dan orang orang disekitar kita.

Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi, Berbuat baiklah bahkan pada siapa yang tidak kamu suka

Ditengah hiruk pikuk kesibukan duniawi kita terkadang kita terlupa untuk sedikit berbuat baik dan cenderung tak acuh pada lingkungan sekitar kita. Hingga suatu hari kita menemui sebuah tindakan kebaikan kecil didepan kita yang secara ajaib menyadarkan kita bahwa masih ada kebaikan didunia ini. “Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi” itulah salah satu quotes dari buku NKCTHI karya Marchella FP (Sumber Gambar: Ingo Joseph @pexcels.com)

Baik pada siapapun tak bisa dipungkiri adalah hal yang sulit bahkan dapat dikatakan sangat sulit. Kita sudah terbiasa dari dulu akan berbuat sesuai dengan apa yang dilakukan orang lain pada kita. Begitu juga dengan saya, jika ada yang baik, maka saya pun akan sekuat tenaga untuk berbuat baik. Namun bila saya diperlakukan tidak baik, secara tanpa sadar saya tanpa ampun akan memperlakukan orang tersebu dengat tidak baik. Saya selalu mengibaratkan diri saya seperti cermin yang memantulkan apa yang ada didepannya ntah baik ataupun buruk.

Semua itu terlihat normal bagi kita namun nyatanya itu bukanlah sesuatu yang keren. Dengan berperilaku seperti itu kita tidak ada bedanya dengan hewan dan benda mati sekalipun yang mengikuti arus dan hanya berekasi sesuai dengan apa yang diberikan pada mereka. Perbuatan yang seperti cermin ini bukanlah hal yang rasional dan justru merendahkan kita. Kalau kata Henri manimpiring dalam buku Filosofi Terasnya berbuat sesuatu yang tidak dipikirkan secara rasional bukanlah sifat alami kitasebagai manusia. Dan saat saat pikiran rasional kita dikecewakan, saat itu pula kita akan dihinggapi kegelisahan.

Membiasakan diri berlaku baik tanpa memandang siapa yang ada dihadapan kita adalah sesuatu yang sulit namun bukan berarti tidak mungkin. Saya sering melihat atau bahkan tanpa disadari hanya berbuat baik pada orang orang yang kita rasa ada pengaruhnya pada kita namun tidak peduli bahkan begitu ketus kepada orang yang tidak ada pengaruh dan dampaknya pada hidup kita.

Contoh sederhananya adalah saat kita berpapasan dengan sales atau seorang meminta waktu kita sebentar, sering dari kita hanya lewati begitu saja tanpa menganggap orang orang itu berbicara pada kita. Saya akui sangat sering melakukan hal ini hehehe, tapi kadang kadang berpikir juga si bagai mana jika saya ada di posisi mereka dan tidak digubris sama sekali apa yang kita katakan, saya tentu akan kesal, sakit hati dan sesekali menggerutu.

Saya pernah merasakan hal serupa beberapa tahun lalu saat saya jadi surveyor untuk salah satu lembaha survei nasional. Meskipun dicuekin dan tidak digubris adalah hal yang lumrah kami temui saat itu namun tetap saja menyakitkan loh. Mungkin kita memang tidak memiliki waku banyak atau tidak tertarik dengan apa yang mereka tawarkan, salah satu solusi yang sesekali saya lakukan cukup mengatupkan tangan dan meminta maaf pada mereka sambil berlalu, itu cara paling sederhana dan menurut saya masih lebih baik dibandingkan tidak peduli dan berlalu begitu saja.

Berbeda dengan perlakuan kita kepada orang orang yang tidak memiliki pengaruh di hidup kita, akhhhh,.. yang ini saya benar benar tidak suka namun ini nyatalah terjadi di sekitar kita dan tidak bisa kita abaikan begitu kita. Fenomena “Penjilat” sudah meraja leldi sekitar kita, lingkungan kita, lingkungan kerja dan sayangnya didalam pertemanan juga terkadang fenomena ini muncul dan nyata. Dah cukup ini saja yang sanggup saya tuliskan terkait penjilat, saya yakin teman teman semua pernah menemui hal seperti ini dan setuju bahwa hal ini tidak keren sama sekali.

Berbuat baik tanpa perlu berekspektasi mendapatkan balasan yang juga baik, Mungkinkah?

Mari kita minum teh dan bercerita tentang bualan yang paling halu dalam tulisan ini. Cerita halu tentang berbuat baik tanpa berharap imbalan. Kita semua manusia yang sangatlah normal bila berharap sesuatu sesuai dengan apa yang telah kita beri dan korbankan. It’s fair enought if we expect a good thing will come when we do a good thing (Sumber foto: Maria Tyutina)

Rasa kecewa saat apa yang telah susah payah kita lakukan dan kerjakan tidak diapresiasi oleh orang dan bahkan justru di jelek jelekan tanpa mereka tahu dan memahami bagaimana susahnya melakukan hal tersebut. Alhasil kitapun kemudian terjebak pada pergunjing dan pergibahan yang seolah tiada akhir yang juga terus dipanasi oleh tindakan tindakan ajaib tak kunjung usai dari orang yang kita anggap tidak punya hati itu.

Terus menggunjing dan berkelakar tidak baik (gibah) bukanlah suatu pilihan yang bijak dan keren untuk dilakukan, sesekali boleh lah tapi tidak seru dan habis topik lah kalau terus terusan dibahas. Toh apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan oleh orang lain tidak berada dibawah kendali kita, jadi mau kita bergunjing sampai berbusa pun apa yang terjadi tidak akan berubah bahkan bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kita sehingga tanpa kita sadari sudah berbuat dan berlaku serupa dengan topik yang kita pergunjingkan.

Ekspektasi, sebuah kata dalam beberapa bulan atau beberapa tahun ini saya usahakan untuk tinggalkan. Dari beberapa buku yang saya baca dan juga dari pengalaman yang selama ini saya alami, ternyat bukan hal luar lah yang paling berdampak dan menyakitkan bagi kita namun ekspektasi kita yang tak tercapai. Dari itu kemudian saya selalu menyingkirkan ekspektasi untuk mendapatkan balasan saat saya sedang iseng dan menjahili teman. Bukan hanya itu ekspektasi juga adalah sesuatu yang selalu saya usahakan untuk singkirkan saat kita berhadapan pada sesuatu yang mempunyai arti penting bagi saya. Bukan karena saya tidak percaya diri namun hanya agar saya tidak begitu merasakan kecewa ketika sesuatu ternyata berjalan diluar apa yang kita inginkan.

Are you in a situation where you’ve been working hard to make sure you get the credit? Stop. Just work hard. Let everyone else have the credit. You get the experience, knowledge, and trust of people around you. Credit is fools gold.

Ayodeji Awosika

Keberadaan ekspektasi bahkan untuk hal hal yang memang sudah seharusnya pun seperti ekspektasi akan mendapat kebaikan, akan mendapat uang atau sekedar mendapat pahala dan balasan dari yang maha kuasa saya rasa tidak perlu kita lakukan. Saya kurang begitu nyaman dengan hitung hitungan kebaikan jika kita berbuat seperti ini akan mendapat ganjaran seperti ini jika kita berbuat seperti lainnya akan mendapat berlipat lipat lainnya, saya sedikit risih dengan konsep seperti itu. Mungkin akan terlihat naif namun yang saya pahami berbuat baik itu karena kita memang ingin berbuat baik, bukan karena kita berharap mendapat buah dari kebaikan itu. Tanpa adanya pilih memilih, tanpa adanya ekspektasi, kebaikan akan menjadi murni adanya.

Ide, Ilustrasi dan Sumber sumber lain yang di sematkan dalam tulisan ini
  • Some idea that i write in this post are ispired by Ayodeji Awoskika post “How to (Truly) Become a Good Person that publised in Medium.com
  • Feature Photo by Helena Lopes from Pexels

Daily LifeFilmOpiniPsikologiUncategorized

[Film Dokumenter] The Great Hack, Informasi Pribadi yang Kita Umbar Bebas di Internet Tidak Menguap Begitu Saja.

August 9, 2019 — by dewaputuam2

Security-The_Great_Hack__3c_R-960x540.jpg
Data pribadi dan semua aktifitas yang kita umbar secara bebas di internet tidak menguap begitu saja. melalui data data tersebut terdapat sekelompok orang yang mampu memanen dan memanfaatkannya untuk menggiring dan mengubah prilaku kita kearah yang mereka inginkan.

Ini adalah salah satu film dokumenter yang layak teman-teman tonton. Film ini bahkan menurut saya wajib ditonton bagi kita yang sangat aktif dalam bersosial media. Kita kita yang aktif tulis status sana-sini, like dan share berita berita dengan sesuka kita asal sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Semudah itu jempol kita menari gemulai menuliskan kata kata dari yang enak terbaca hingga yang “enak terbaca”. Dari berita yang benar-benar kita ikuti dan kuliti faktanya hingga berita berita yang secara serampangan kita bagikan begitu saja, dan kemudian kitapun ikutan latah berdebat berbusa busa dengan para netijen julid lainnya.

Saya rasa cukup sampai situ saja. Lalu kemudian untuk orang orang yang santuy dan tidak neko-neko dalam bersosial media yang hanya sekedar usap dan sesekali like lalu membaca berita sebagai pembaca yang bisu film ini juga cocok karena tidak hanya untuk orang orang yang memang sudah terkurung dalam perangkap buaian internet saja yang terpengaruh oleh kegiatan jahat ini tetapi hampir semua orang mungkin salah satu dari kita atau bukan tidak mungkin kita semua masuk kedalam kategori ini.

Semua dari kita yang secara sadar ataupun tidak sadar meninggalkan jejak diinternet baik berupa data pribadi hingga segala aktifitas didalamnya apa yang kita cari, apa yang kita sukai (like), apa yang kita baca, apa yang kita ungkapkan apa yang kita unggah, emotikon emotikon apa yang kita gunakan, kesemua itu adalah data. Semua data itu tidak menguap begitu saja dan hilang, oleh sekelompok orang tertentu data tersebut dapat diolah sedemikian rupa secara realtime dan mereka gunakan kembali dengan berbagai cara yang unik untuk setiap indifidu sesuai dengan profilnya, hingga secara tidak sadar tingkah dan laku kita digiring mereka pada arah yang mereka inginkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam film dokumenter ini diungkap tujuan tertentu itu adalah untuk memenangkan seseorang calon presiden adidaya, pergerakan serta aksi besar lainnya yang memiliki dampak global.

Film dokumenter ini, besamaan dengan buku No Place to Hide telah mengubah cara pandang saya tentang arti penting dari privasi dan data pribadi kita, bahkan seremeh apapun data yang kit bagikan tersebut bukan tidak mungkin akan dikembalikan pada kita dalam bentuk yang tidak pernah kita duga dan bayangkan sebelumnya. Sebuah bentuk yang dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kita dan lingkungan kita. Bahkan dari apa yang di tayangkan dalam film dokumenter ini, dari pemanfaatan data data tersebut orang orang tertentu tersebut dapat membuat suatu pergerakan dan kerusuhan berskala global dan berpengaruh besar pada hajat hidup orang banyak.

Mega Skandal Cambridge Analytica, Dan Operasi Masif Manipulasi Perilaku Di berbagai belahan Dunia hingga Pada Pemilu US dan Brexit?

Bagi sebagian orang mungkin tidak begitu asing dengan skandal yang terjadi dengan Cambridge Analytica dan juga Facebook yang kemudian harus membuat Facebook harus menjadi perusahaan yang merasakan dan berhadapan pada denda uang dengan nominal yang sangat besar bahkan masuk kedalam denda terbesar di abad ini yakni sekitar 5 Miliar Dolar AS atau setara dengan 70 Triliun Rupiah. Dari awal saya sadar bahwa kasus yang terjadi dengan Facebook dan Cambridge Analytica bukanlah sebuah kasus yang mudah dipahami oleh orang awam seperti saya dan mungkin juga sebagian dari teman teman. Saat itu, kita tidak memahami dampak serta kerugian seperti apa yang membuat mereka harus disangsi dengan demikian berat. Disinilah film dokumenter The Great Hack dengan apik memberikan kita gambaran sederhana skandal seperti apa yang “sebenarnya” terjadi.

Distribusi rasio populasi tiap negara bagian US yang datanya digunakan dan terpapar oleh skandal yang dilakukan oleh Cambridge Analytica. Dari peta sebaran ini dapat terlihat betapa masifnya skandal ini. Apakah Cambridge Anlytica satu satunya firma yang melakukan hal ini? sepertinya sangat sulit untuk berkata ia. (SUmber gambar: businessinsider.sg)

Film dokumenter ini diawali dengan diskusi seorang profesor dengan para mahasiswanya sambil berkelakar bahwa seringkali kita merasakan seolah olah gawai cerdas kita menangkap apa yang kita sedang bicarakan dengan cara mengakses microphone kita hingga tidak jarang saat kita sering mengungkapkan sesuatu benda maka dengan cara yang ajaib iklannya akan muncul dalam layar gawai kita ntah itu melalui aplikasi facebook ataupun aplikasi lainnya. Dari topik sesederhana ini dan diskusi dengan mahasiswa nya kemudian sang profesor mulai tersadar dan menelusuri suatu kebenaran besar yang ada dihadapannya, suatu proses pemanfaatan data secara masif dan dan sistematis dari sebuah firma yang bernama Cambridg Analytica. Profesor itupun kemudian menuntut perusahaan tersebut memberikan semua copy-an data pribadi tentang dirinya yang ada di firma tersebut. Namun usahanya tersebut justru bergulir menjadi pengungkapan salah satu mega skandal di abad ini. Dari hal tersebut kemudian kita dibawa pada suatu kenyataan yang menabjubkan sekaligus mengerikan tentang dunia digital yang selama ini.

Secara garis besar film dokumeter ini menceritakan bagaimana sebuah firma seperi Cambridge Analityca dapat memanfaatkan kelengahan kita dan rasa tidak peduli kita terhadap jejak digital yang kita tinggalkan. Pada mulanya mereka dengan cerdik menyebarkan suatu form facebook dalam bentuk semacam permainan yang tujuan sebenarnya adalah memetakan dan mengambil sample profil psikografik dan melihat tendensi mereka akan suatu masalah. Informasi serta wawasan yang didapat dari para responden tersebut kemudian dijadikan semacam cetakan untuk melihat profil psikografik seperti apa yang cenderung sesuai dengan tujuan yang akan dicapai oleh proyek ini yang dalam film ditunjukan sebagai profil yang akan memilih salah satu calon presiden US dan di kasus lainnya dicari profil yang menginginkan Brexit.

Hal yang menarik mulai dari sini. berdasarkan pada kelengahan kita dan rasa tidak peduli kita terhadap jejak digital apa saja yang telah kita tinggalkan. Cambridge Analytica atas persetujuan kita yang jarang terbaca setiap kali mengakses atau menginstal suatu aplikasi kemudian mulai mengakses semua data yang ada pada akun kita dari hal hal remeh seperti tulisan serta foto ataupun video yang kita bagikan, tulisan tulisan yang kita like, komentari dan bagikan, hingga pada semua aktifitas yang kita lakukan semua itu dianalisis secara realtime. Kabar “baik” nya data data yang dianalisis tidak hanya data yang ada pada kita saja namun juga teman teman yang tertaut dengan akun kita.

Dari sana data 87 Juta pengguna facebook kemudian dianalisis secara realtime oleh firma ini untuk mendapatkan profil setiap akun yang kemudian di lakukan analisis lanjutan untuk menduga tendensi setiap profil tersebut dengan cara mencocokan polanya dengan profil dari responden yang sebelumnya mengisi formulir. Analisis pola seperti ini yang berdasarkan kemiripan prilaku setiap individunya biasa disebut sebagai metode doppelganger. Metode inilah yang menjadi dasar dan membuat kita seringkali merasakan bahwa iklan iklan di internet yang direkomendasikan pada kita sangat sesuai dengan apa yang sedang kita inginkan karena ada seseorang di luar sana memiliki profil psikografis yang sama dengan kita jadi apa yang sedang diinginkan mereka besar kemungkinan akan diinginkan pula oleh kita. Analisis seperti ini berlangsung secara realtime sehingga profil psikografis ini terus menerus diperbarui dalam hitungan seper sekian detik.

Beginilah skema umum yang dilakukan oleh Cambridge Analytica dan mungkin firma lainnya dalam “memasarkan” dan mengarahkan target mereka menuju apa yang mereka rencanakan sebelumnya dan sesuai dengan permintaan klient mereka. (Sumber Gambar: The Guardian.com)

Dari sini pula diidenifikasi swing votter yang kemudian menjadi target operasi utama untuk diubah perlilaku dan tendensinya agar bergeser dan memilih klient Cambridge Analytica dengan cara membanjiri mereka dengan iklan iklan, memes, gambar, video maupun berita berupa fakta yang sudah di framing sedemikian rupa atau bahkan berupa hoax. Apa yang mereka berikan ini unik dan setiap indvidu akan mendapatkan paket informasi yang berbeda. Dari semua paket informsi baru yang diberikan dianalisis pula respon dari setiap target apakah diabaikan, dilike, komentari atau bahkan dishare. Informasi informasi tersebut dipergunakan untuk menentukan paket informasi yang akan diberikan selanjutnya pda setiap target. Hal ini berjalan terus menerus hingga para swing votter tersebut kemudian memiliki tingkah dan laku profil psikografis sesuai dengan yang diinginkan. Dalam salah satu bagian filmnya ada kata-kata yang membuat saya terpukau saat salah seorang wistle blower mereka menujukan jadwal dan email mereka berkata bahwa

yang membedakan mereka dari para perusahan bidang data analis lainnya, adalah mereka tidak hanya memberikan profil dari populasi, tetapi kita mampu mengubah profil tersebut.

Menyikapi Privasi dan Kepemilikan Akan Data Pribadi sebagai Hak Asasi Manusia yang Juga Melekat Pada Kita

Melalui film ini kita disadarkan akan pentingnya data pribadi kita dan perlunya pemahaman tentang seperti apa data data kita akan digunakan digunakan. Pemanfaatan data 87 Juta pengguna facebook yang dilakukan oleh Cambridge Analityca ini menjadi suatu pembelajaran penting bahwa ternyata data data yang sering kali kita anggap remeh dapat digunakan sedemikian rupa hingga tingkat yang membahayakan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dari film ini kita akan diperlihatkan betapa mengerikannya dampak yang ditimbulkan dari pemanfaatan data data seperti ini bila tidak dilakukan secara bijak. Penggiringan opini publik, diskriminasi hingga kemudian menimbulkan dampak dampak negatif yang lebih besar seperti kerusuhan yang jika tidak ditanggulangi dengan baik bukan tidak mungkin akan menelan korban jiwa. Dari sini saya tidak ingin berspekulasi lebih jauh. Ada satu hal lagi yang menarik dan secara sekilas terungkap pada akhir akhir film, tentang kerusuhan 1998 di Indonesia. Sudah cukup sampai situ saja agar tidak spoiler lebih banyak.

Pada jaman kita telah terjadi dan terungkap satu skandal yang luar biasa terkait penyalagunaan data pribadi serta kaitannya dengan upaya propaganda yang secara sembunyi sembunyi menggerakan jutaan orang ke tujuan yang telah diprogramkan sebelumnya. Semua itu berasal dari ketidak pedulian dan ketidak tahuan akan pemanfaatan jejak digital yang kita tinggalkan selama ini. Perkembangan tekhnologi data dan informsi terus berkembang pesat dan merangkul setiap sendi kehidupan kita. Perbatasan antara dunia digital dan dunia nyata semakin tipis terlebih pada era 5G nanti yang tentunya akan segera dirasakan kita dan anak anak diatas ini yang menyebabkan semua benda disekitar akan saling terhubung pada internet. Dengan semua itu keringkihan kita akan hal hal seperti yang ada pada skandal ini akan semakin besar. (Sumber gambar: Artem Beliaikin @ Pexcel.com)

Ironisnya privasi dan data pribadi tampaknya tidak begitu menjadi permasalahan yang serius di tanggulangi di negeri kita ini. Maka tidaklah heran beberapa bulan yang lalu banyak pergerakan yang memanas akibat apa yang tersebar dan beredar di lini media sosial yang sayangnya juga menjatuhkan beberapa korban. Mulai dari aksi aksi protes hingga pada bentrok antar kampung, tidak sedikit yang berawal dari tersebarnya suatu berita di media sosial. Terlebih dengan adanya mekanisme filter bubble yang ada di media sosial demi untuk mengumpulkan orang orang berdasarkan kesamaan profil psikografisnya semakin membuat kita hanya berkumpul dengan orang orang yang sepemikiran dengan kita, satu rasa dengan kita dan satu minat dengan kita.

Hal yang seperti ini secara tidak langsung memberi kita ruang yang sangat sempit dengan ide dan pemahaman kelompok yang berakar sangat kuat. Keberagaman ide sangat minim dalam kondisi yang terseting seperti ini sangat minm pula pemikiran dan sudut pandang di luar. Bagai katak dalam tempurung, ego kita terus berkembang pesat dan kita semakin merasa benar diatas semua orag yang berbeda pendapat dengan kita. Terkadang ada seseorang yang dengan apesnya “tidak sengaja memasuki” kelompok tersebut dan memberikan pendapat sesuai dengan sudut pandangnya yang sayangnya bertentangan dengan “sudut pandang kebanyakan orang”. Masa masa seperti inilah yang kemudian menjadi makanan ringan bagi para ego yang terlajur dipelihara, sumpah serapah, cercaan dan pembulian terus mengalir dengan deras dan memviral seketika di kelompok mereka.

Apakah kalian merasakan hal yang sama dengan saya? Apakah kalian sudah mulai jenuh dan muak dengan segala apa yang ada disekitar kita saat ini?

Seyakin apa semua prilaku, tindakana dan laku kita selama ini adalah benar benar berasal dari apa yang kita mau. Atau jangan jangan kita hanyalah boneka yang bergerak sesuai dengan apa yang di programkan oleh sekelompok orang diluar sana untuk tujuan yang kita tidak tahu menahu apakan berdampak hanya pada kita atau berdampak lebih besar lagi. Kita tidak tahu itu

boleh siapa saja
Sumber sumber yang digunakan dalam tulisan ini

BencanaBukuDaily LifePsikologiUncategorized

Tetap Menjadi Manusia saat Menyikapi dan Menghadapi Bencana dengan Filosofi Stoa

August 1, 2019 — by dewaputuam0

beach-blue-skies-by-the-sea-934718-960x645.jpg
Kita terlalu sibuk mengurusi dan mengkawatirkan apa yang tidak dalam kendali kita dan sayangnya pula terlalu sering mengabaikan apa yang ada dalam kendali kita. Saat kita berharap lebih pada apa yang tidak bisa kita kendalikan disitulah kita akan merasa gelisah dan takut kehilangan dengan cara yang konyol. Dikotomi kendali inilah yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis topik terkait hal ini (Sumber Ilustrasi: Pixabay @ www.pexels.com)

Isu gempabumi dan tsunami di laut selatan Jawa, meletusnya kembali gunung Takuban Perahu, potensi gempa dan tsunami Lombok dan isu isu terkait kebencanaan lainnya sering kali menyebabkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat yang kini begitu melek tekhnologi dan sangat mudah mengakses informasi. Bagi sebagian orang yang berkecimpung dan sering bersinggungan dengan bidang ilmu kebumian tentunya tidak akan heran dengan isu isu seperti ini karena memang dengan lokasi Indonesia yang “demikian strategis” mau tidak mau suka atau pun tidak suka hal itulah yang kemudian berdampak pada besarnya kemungkinan terjadi bencana seperti gempabumi, tsunami dan erupsi gunung api. Namun kita juga janganlah lupa bahwa “strategis”nya posisi indonesia itu juga yang memberikan kita kekayaan yang begitu berlimpah saat ini baik berlimpahnya minyak dan bahan tambang, suburnya tanah serta keindahan keindahan lainnya yang terkadang tidak dimiliki oleh negara negara lain.

Rasa khawatir masyarakat kita akan berbagai informasi yang meresahkan tidak sepenuhnya salah tersebut mengakibatkan beberapa dampak yang kontraprodktif bahkan dari beberapa tulisan yang saya sempat baca sebagian dari mereka ada yang sangat ketakutan dan memutuskan untuk mengungsi dan menjauhi tempat tempat yang diisukan tersebut. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya apakah ketakutan yang seperti itu diperlukan dan baik dalam menyikapi potensi bencana yang ada? Jika benar perlu dimanakah kita akan berlindung, Saat menjauhi laut karena takut tsunami kita lari kegunung namun gunung juga bisa meletus, kalaupun tidak gunung lereng lereng terjal diperbukitan pun bisa saja longsor dan menelan kita setiap saat. Belum lagi potensi bencana bencana lain seperti angin puting beliung, banjir, kecelakaan kendaraan, meteor, virus. “Actually There are no place to hide dude.

Hingga beberapa minggu yang lalu saya menemukan sebuah buku yang berjudul Filosofi Teras karya Henri Manampiring. Dari buku ini kita akan diajak untuk berkenalan dengan suatu Filosofi (“Teras” terjemahan bebas dari Stoa) yang ternyata telah ada dan berkembang di Yunani sejak 2000 tahun yang lalu. Saya rasa filosofi ini dapat dengan mudah kita manfaatkan sebagai salah satu panduan hidup kita yang tentunya dapat kita jadikan sebagai salah satu panduan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menguraikan beberapa prinsip dasar dari filosofi ini yang dapat dan sudah pula digunakan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Sudah disini saya maksudan karena prinsip prinsip ini bukanlah hal baru dan sudah banyak orang saya lihat dan temui di daerah bencana menerapkannya dalam memnghadapi apa yang terjadi pada mereka yang dalam hal ini adalah bencana.

Kebahagiaan dan Kedamaian Dicapai Saat Kita “Selaras dengan Alam”, Begitu juga dengan sebaliknya

Selaras dengan alam tidaklah sertamerta harus mengikuti alam tanpa daya untuk berperilaku lainnya. Seperti pada islustrasi ini, Batu ini tidaklah tersusun secara alamiah, namun dengan menselaraskan titik berat batu batu tersebut dengan sedemikian rupa dan mengikuti hukum serta proses yang ada dialam maka batu tersebut dapat kita susun sesuai dengan keinginan kita. Namun kita tidaklah bisa berharap batu tersebut tersusun seperti itu selamanya karena bisa saja suatu ketika batu tersebut tersapu oleh banjir, ataupun tersenggol seekor monyet yang sedang hendak meminum air di sungai. (Sumber Gambar: Pixabay @ www.pexels.com)

Dalam filosofi stoa kita diajak untuk hidup selaras dengan alam. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam menjalani filosofi ini. Selaras dengan alam yang dimaksudkan tidak hanya sekedar mencintai alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon ataupun segala macam kampanye cinta lingkungan lain yang terdengar agak sedikit retoris belakangan ini. Konsep selaras yang mereka utarakan lebih pada memposisikan diri selayaknya manusia dengan segala kelebihannya, sebuah keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yakni dalam hal berpikir dengan menggunakan nalar rasionya. Selaras dengan alam berartimenempatkan diri sebagai enitas makhluk hidup yang bernalar dan rasional.

Kebahagiaan dan kedamaian dicapai saat kita “selaras dengan alam” berarti sebagai manusia yang igin bahagia kita harus selalu berpegang pada nalar dan pikiran rasional kita. Kita tidak boleh terjebak dalam hal hal yang tidak rasional dan jauh dari nalar kita. Jika hal ini tidak dapat kita penuhi gelisah, rasa kawatir dan takut akan selalu memeluk erat kita. Hal hal yang tidak rasional dan diluar nalar terkait bencana sering saya temui menjadi sesuatu yang viral dan menghantui masyarakat kita. Dari hal hal sepele seperti menekan tombol like atau mengetik angka 1 di satu postingan media sosial agar terhindar dari petaka hingga pada hal hal tidak asional yang tidak ada lucu lucunya sama sekali seperti isu akan adanya bencana besar. Bagi sebagian orang yang jauh dari lokasi bencana mungkin menganggap hal itu bercanda saja, namun mereka mungkin tidak tahu di lokasi bencana hal itu tidak sebercanda yang mereka kira karena berkaitan dengan hidup dan mati banyak orang.

Selain selaras dengan alam, filosofi stoa juga percaya bahwa segala sesuatu baik entitas ataupun kejadian dalam hidup ini ini tidaklah berdiri sendiri namun melimiliki jalianan yang saling terhubung dan terkait. Keterkaitan segala sesuatu di dalam hidup disebut sebagai interconectedness. Begitu juga dengan bencana dengan segala dampak yang ditimbulkannya baik secara struktural seperti pepohonan yang tumbang, bangunan yang runtuh hingga pada para korban luka, hilang dan meninggal. Ada jalinan sebab akibat pada itu semua, dari strukturnya yang kurang baik dan tidak selaras dengan alam lingkungan sekitarnya, sistem peringatan dini yang belum layak, hingga pada pemahaman masyarakat setempat terkait potensi dan cara selamat dari bencana yang kurang memadai. Untuk mengurangi akibatnya tentulah kita perlu mengelola penyebabnya dengan baik. Ini bukanlah suatu tindakan perlawanan dan mengingkari apa yang terjadi, namun justru dengan melakukan kesemua itu kita telah selaras dengan alam dengan menjadi manusia seutuhnya yang menggunakan nalar, akal sehat dan rasionya dalam menghadapi bencana.

Dikotomi dan Trikotomi Kendali, dan Kaitannya dalam Sikap Kita pada Isu Bencana

Kita sebagai manusia hanya dapat melakukan dan berkuasa pada sedikit hal yang berada dibawah kendali kita. Namun ingatlah bahkan itusaja sudah cukup dan jangan cemas karenany. Jalani apa yang dapat kitalakukan biarkan semesta menjawab kita sepertiapa episode selanjutny. (Sumber Ilustrasi: Pixabay )

“Ada suatu hal yang perlu diingat, tidak segala hal dalam hidup berada di bawah kendali kita.” Kata kata ini mungkin terlihat sangat sederhana namun justru disinilah hal paling menarik dan menurut saya paling penting diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Dengan bahasa sederhananya prinsip inilah yang paling ngena bagi saya dan akan lebih menunjukan manfaatnya lagi saat kita berhadapan dengan bencana. Beberapa orang yang saya temui secara sadar ataupun tidak telah menerapkan prinsip ini dalam menyikapi dan menghadapi bencana yang melanda kehidupan mereka. Saat bencana terjadi mereka tidak begitu memusingkan apa apa saja yang diluar batas kendali mereka dan berfokus pada apa saja yang berada dalam kendali mereka secara maksimal dan optimal. Menyaksikan hal ini terkadang saya terharu akan ketegaran mereka sampai yah meskipun malu mengakuinya kadang saya sendiri pun meneteskan air mata terharu, masih manusiawi kan ya. Mereka orang orang yang hebat.

“Bapak, bolehkah saya meminjam truk bapak untuk mendistribusikan logistik. ada beberapa desa yang sampai sekarang kesulitan mendapatkan logistik pak. Untuk pengamanan dan bahan bakar kami yang tanggung pak. Kami hanya ingin membantu warga disana pak, kami kelompok pemuda ingin melakukan apa saja yang bisa kami perbuat untuk saudara saudara kami yang sedang terkena musibah pak. Tolonglah kami pak” Saat berkoordinasi terkait data dengan tentara yang bertugas saat di Palu tahun lalu saya mendengarkan perbincangan seorang pemuda yang sudah lusuh dan terlihat sekali kelelahan sedang meminta bantuan kendaraan untuk mendistribusikan logistik. Dua pemuda itu dari cerita mereka sebelumnya ikut membantu SAR mengefakuasi beberapa korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dan sekarang mereka mengerahkan tenaga mereka untuk membantu pendistribusian logistik. Melihat kesungguhan mereka dari pihak tentara yang bertugas pun membantu mereka baik kendaraan maupun tenaga personil untuk berama sama mendistribusikan ke lokasi yang dimaksud pemuda tersebut.

Konsep dikotomi kendali mengajak kita untuk memisahkan dengan jelas apa apa saja yang berada dibawah kendali kita dan apa apa saja yang berada diluar kendali kita. Filosofi stoa mengajarkan pada kita untuk terfokus pada hal yang berada di kendali kita dan tidak terlalu memusingkan apa yang berada diluar kendali kita. Seperti pada cerita pemuda tadi mereka melakukan apa yang berada dibawah kendali mereka yakni inisiatif mereka untuk melakukan apa yang dapat mereka perbuat seperti membantu dan bahkan juga keputusan mereka untuk meminta bantuan kendaraan pada petugas. Meskipun disetujui atau tidaknya permintaan mereka atas inisiatif mereka meminjam kendaraan adalah hal yang berada diluar kendali mereka namun setidaknya mereka telah melakukan semua yang ada di dalam kendali mereka.

Ketika orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka akan merasa terganggu, ketakutan dan labil

Quotes by Epirectus (Disunting dari tulisan Henry M, FIlosofi Teras)

Hingga kemudian seiring dengan perkembangan jaman, beberapa filsuf juga menyadari bahwa dari kesekian hal yang tidak berada di bawah kendali tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Dengan kata lain ada beberapa hal yang dapat dikendalikan hingga batas tertentu saja. Dari sinilah kemudian dikotomi kendali yang tadinya hanya membagi hal dalam kelas yang bisa dikendalikan dan kelas yang tidak bisa dikendalikan menjadi Trikotomi Kendali yang mengkelaskan hal kedalam tiga bagian yakni yang bisa dikendalikan, yang tidak bisa dikendalikan , dan ketiga adalah yang bisa dikendalikan sebagian.

Konsep dikotomi ataupun trikotomi kendali dari filosofi stoa ini sudah menjawab apa yang terjadi dengan masyarakat kita yang beberapa waktu belakangan ini diliputi oleh keresahan dan kegelisahan yang tidak perlu. Isu potensi gempa dan tsunami yang besar dan mengerikan di selatan jawa hingga Nusa Tenggara, gempa didaerah lembang, isu kekeringan panjang, isu gunung meletus, banjir jakarta, dan isu isu mengerikan lainnya. Jikalau itu benar, semua itu tidaklah berada dalam kendali kita, jadi jangan dipusingkan secara berlebihan, gelisah, dan ketakutan hingga melakukan hal hal yang kitra produktif dengan menghujat, ikut menebar hoax, dan berspekulasi hal hal yang terlalu jauh dan mengada ngada. Konsep dikotomi kendali dalam filosofi stoa mengajarkan kita untuk berfokus pada apa yang berada dibawah kendali kita.

Jangan terlalu membebani diri kita dengan hal yang tidak perlu karena itu pasti sangat melelahkan dan menyita banyak waktu. Waktu kita yang sedikit dan tenaga kita yang pas pasan sepertinya akan lebih baik bila kita manfaatkan dan fokuskan pada hal-hal yang dibawah kendali dan bisa kita lakukan seperti contoh paling sederhananya bila kejadian bencana itu terjadi kira kira apa yang perlu kita lakukan. Mencari tahu dan memahami potensi potensi bencana di wilayah kita masing masing, dan mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk mengurangi risikonya dari menyesuaikan struktur bangunan dengan potensi bencana yang ada. Kita perlu tahu apa tanda tandanya, apakah ada kode kode khusus atau sistem peringatan dini khusus yang ada lingkungan kita saat bencana terjadi. Kita juga dapat memastikan jalur evakuasi kalau toh bencana benar benar terjadi tetap layak dilewati dan bebas dari hambatan.

Tetapi memang si harus kita akui, saat terjadi bencana bukanlah saat saat yang dapat kita phami dengan mudah dan bukan pula sesuatu yang dapat kita hadapi. Rasa limbung, bingung dan tanpa arah menjadi hal yang banyak orang alami saat terdampak bencana. Bersedih bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam filosofi stoa. Meskipun demikian kita tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan itu bahkan sampai dibawa mati (Seneca). Ada sesuatu yang menarik dan menurut saya sangat mengharukan lagi saya temukan pada saat saya ditugaskan di Palu saat itu. Saat itu sudah larut malam (sekitar pukul 9 malam), ada seorang bapak bapak mengunjungi pos kami dan menanyakan kabar anaknya yang ikut menjadi korban kedaysatan tsunami saat itu. Pada mulanya saya sempat berpikir bahwa sosok bapak itu akan terlihat sangat bersedih dan bukan tidak mungkin tangisnya tidak terbendung saat datang pada kami. Namun ternyata semua itu salah besar. Meski masih terlihat jelas kesedihan mendalam pada diri seorang bapak itu namun dirinya masih tegar dan saya tidak bisa berkata apa apa melihat itu semua. Saya tidak tahu pula harus berekpresi apa saat mendengar perkataan bapak itu. Ia sudah iklas akan kepergian anaknya. Dia datang kepada kami hanya ingin meminta bantuan kepada kami untuk memastikan bahwa jasat yang ditemukan oleh tim dilapangan dan dikabarkan anaknya itu adalah benar anaknya. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Gempa, Tsunami, Banjir, Longsor dan semua lainnya adalah suatu keniscayaan yang alamiah terjadi selama bumi ini masih berputar. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Apapun yang kita lakukan tidak akan merubah hal itu. Namun keinginan kita untuk bertahan dan hidup meski terpapar kesua itu jugalah sesuatu yang alamiah, tidak akan ada yang dapat menghentikan keingian kita itu. Memang kita tidak akan dapat membuat gempabumi atau tsunami agar tidak pernah terjadi, Namun kita selalu bisa membuat diri kita aman dan selamat dari itu semua. Itu masih bisa masih bisa kita lakukan karena apa yang kita pikirkan apa yang kita lakukan berada dibawah kendali kita masih ada di bawah kendali kita sebagai manusia yang tetap menjadi manusia saat menyikapi dan menghadapi bencana.

Sumber Sumber yang saya gunakan dalam tulisan Ini

  • Buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini) karya Henri Manampiring dan dipublikasikan oleh Penerbit Buku Kompas
  • Featured Photo in this post is design by Tom Swinnen from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Alasan Ku Menulis Hanya Untuk Berbagi dan Belajar Lagi

July 20, 2019 — by dewaputuam0

blogging-blur-communication-261662-960x640.jpg
Ilustrasi sedang menulis yang saya anggap sebagai “berbagi”. Berbagi adalah hal yang natural dan tidak perlu malu juga tidak lah perlu takut untuk berbagi. Berbagilah layaknya dirimu sedang melakukan hal natural lainnya. Meski terkadang apa yang kita bagi tidak lah sempurna, justru disitulah naturalnya dari berbagi karena kesempurnaan bukanlah sesuatu yang mungkin ada dalam suatu yang natural (Sumber ilustrasi: rawpixel.com)

Kadang ku berpikir sejenak, apakah tulisan ku ini di baca oleh orang lain dan apakah tulisan tulisan saya ini akan bermanfaat bagi mereka. Pikiran pikiran itu harus ku akui selalu bergelayut dalam pikiran saat sedang menulis hingga tidak jarang pula sebuah tulisan yang sudah didraft akhirnya terbengkalai begitu saja tertimbun akan keraguan yang lucunya ku sadar itu tidak perlu, tetapi tetap saja pikiran pikiran seperti itu selalu saja menghantui pikiran ini, seolah sudah ada begitu saja bersamaan dengan pikiran ini diciptakan.

Tidak ada alasan spesifik yang dapat ku jadikan alasan untuk menulis topik ini sekarang. Ku hanya menulis apa yang sedang ada dalam pikiran saja, tidak kurang dan tidak lebih. Seperti pada paragraf ini tetiba ku ingin membahas sedikit sekaligus sekedar memberitahu ke teman teman kalau frasa “Tidak kurang dan tidak lebih” adalah suatu frasa yang ku suka gunakan dalam beberapa tulisan beberapa waktu belakangan ini. Tidak ada alasan spesifik juga tetapi hanya suka saja.

Alur Mengikat yang Membosankan dan Menjemukan, Namun Tak Apa Toh Kita Suka

Ilustrasi sebuah kamera. Kameranya boleh tua tetapi konsep nya agaknya akan seperti itu terus, Film selalu membawa kita pada alur yang mereka buat dan merasa alur itulah yang akan kita sukai. Meski terkadang memanglah alur tersebut yang kita sukai dan tanpa di sangka sangka terjadi, Tetapi tidak boleh dilupakan pula bahwa tidak sedikit pula yang kecewa akan alur yang ditawarkan (Sumber ilustrasi: Jaymantri)

Menulis memanglah bukan suatu kegiatan yang nyaman dan menyenangkan, setidaknya tidak semenyenangkan bermain game atau sekedar menonton film. Namun ada suatu kebebasan yang ditawarkan dari aktifitas ini yang tidak diberikan kegiatan kegiatan lainnya taruhlah seperti bermain game atau menonton film atau yang lebih dekat seperti kegiatan membaca. Ku akan coba jabarkan satu satu dari ketiga kegiatan tersebut untuk menjelaskan apa itu “sesuatu” yang ditawarkan oleh aktifitas menulis dan tidak diberikan oleh aktifitas lain.

Kita mulai dari menonton Film, Yup kegiatan ini memang menawarkan suatu pengalaman yang luar biasa dengan buaian visual dan audio yang berkolaborasi menciptakan ilusi pada kita, namun film yang kita tonton secara sadar ataupun tidak juga mengikat kita pada alur ceritanya, kita dipaksa untuk mengikuti alur yang diberikan oleh sang empunya film tanpa bisa memilih jalan mana yang kita pilih hingga terkadang hal hal konyol dari pilihan sang pembuat film pun mengganggu logika para penonton. Kegiatan membaca juga tidak berbeda begitu jauh dari kegiatan menonton, namun dengan tidak ada balutan visual dan suara yang membimbing.

Dari buku pula kita akan diikat oleh alur pikir dan cerita sang pengarang tanpa adanya tawaran untuk menentukan pilhan secara bebas. Jikapun ada pilihan itupun tetap akan mengarahkan kita pada arah alur yang sudah ditentukan oleh para pengarang yang bukan suatu yang tidak mungkin bila kita tidak sepakat dengan itu. Dari game sebenarnya kita diberikan “sedikit” kebebasan untuk menentukan tindakan apa yang akan kita pilih. Hingga saat ini sudah banyak pengembang yang membuat game dengan alur yang bercabang. Namun tetaplah ada aturan aturan (role) yang membatasi pilihan kita yang sama kasusnya seperti buku yang memiliki alur ganda kita tetaplah diatur dan diikat oleh alur yang sudah ditentukan oleh sang pembuat game tersebut.

Menulis membawaku ke Dunia yang Bebas tanpa Batas

Bebas, sesuatu yang jarang ada di sekeliling kita. Selalu ada yang mengikat kita, baik yang terlihat jelas hingga yang sembunyi sembuny tanpa pernah dapat kita rasa dan sadari. (SUmber ilustrasi: Snapwire )

Berbeda dengan kegiatan lainnya menulis menghadirkan sesuatu yang mungkin tidak teman teman sadari namun inilah salah satu alasan sangat kuat kenapa saya tertarik dengan kegiatan ini. Dari menulis, ku merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Dengan menulis bahkan saya pun bebas menentukan dimana saya harus berhenti, contohnya akan

Nah seperti itu kira kira kebebasan ku saat menulis. Dari menulis juga ku bebas untuk memasukan apapun yang sedang saya pikirkan ahahaha coba liat deh ada orang bulu hidungnya keluar keluar karena sedang iseng saya sedikit melirik dan menghitung bulu hidung yang keluar dari orang itu sekitar 18. Tapi ya orang itu sekarang malah mesra mesraan sama sebelahnya ngeri banget hohoho ini kita lagi di perpustakaan loh untuk hal seperti itu ngeliatnya ngeri.

Nah kira kira seperti itu juga kebebebasan ku untuk menulis, karena ku yakin hanya sedikit orang yang akan membaca tulisan ini sampai baris sini dan akan lebih sedikit juga yang membaca sampai akhir maka akan baik baik saja bila saya menulis apapun pada baris sini hehehe. Contohnya akan aman aman saja kalau kuungkap saja siapa orang yang saya sayang yang sudah dari dulu sekali saya dekati nama orang itu adalah. Eit itu hanya sebuah contoh bahwa sampai pada poin ini berdasarkan penelitian memanglah akan sedikit sekali yang membaca, jika teman teman salah satu orang yang membaca tulisan saya saat ini sampai pada baris ini selamat dan terimakasih atas waktu yang kalian berikan sampai saat ini ya. kalian luar biasa.

Perasaan Membebaskan yang Justru Tidak Membebaskan

Perasaan tidak ada yang mengawasi, tidak ada yang peduli membawa pada suatu perasaan semu yang seolah olah memberikan kita kebebasan untuk mengungkapkan apa saja yang ada. Padat dan bertele tele tulisan diatas sebenarnya sengaja saya berikan untuk sekedar memfilter orang orang malas membaca diluar sana. Saya yakin pada bagian ini mereka mereka itu sudah tersisih dan enggan untuk membaca keseluruhan tulisan saya ini. Jadi kita mulai saja secara singkat apa yang sebenarnya menjadi keresahan saya dan ingin saya bagikan pada tulisan saya hari ini.

Kita dalam keadaan bahaya kawan, ku tidak tahu kalian sadar atau tidak kalau sekitar kita sekarang berubah, yang sayangnya kearah yang mengkhawatirkan. Banyak sekali e orang orang bodo yang semakin menjadi jadi kurang ajarnya dan melakukan hal hal konyol. Yah terkadang memang lucu sih terlihatnya namun saat hal itu terjadi berkali kali akan sangat mengganggu dan justru membahayakan untuk semua. Bebasnya kita berbicara sekarang, membuat apa yang penting dan seharusnya kita tahu menjadi tertimbun dengan hal hal remeh yang tidak ada faedahnya sama sekali.

Kita dibanjiri hal hal remeh tidak penting dan terus menerus demikian bahkan terkadang kita yang sadar bisa limbung dalam arus itu dan kemudian hilang arah hingga kita pun ikut melakukan hal hal konyol itu. Dari sini dimulailah bahaya yang bersembunyi dari arus informasi yang begitu deras itu, otak kita yang terbiasa menyikapi perlahan lahan dan memperhitungkan akasi aksi yang baik dan perlu kita lakukan dengan banyak memepertimbangkan norma dan nilai yang ada. Saat ini semua berubah dan cepat hingga tidak jarang aksi aksi spontan kita lakukan. Kalau begini terus, saya kawatir dari akasi aksi spontan kita itu bukan tidak mungkin kalau akan ada saja orang yang memanfaatkan untuk tujuan tujuan yang tidak baik bahkan jahat.

Ku hanya ingin mengingatkan sekaligus sebagai pengingat untuk diri sendiri. Fenomena ini sebenarnya sudah lama terjadi namun hingga kemarin saat panas panasnya pemilu semua meningkat lo, orang orang jadi semakin senggol bacok, salah dikit di bully, terbuli sedikit sudah membuli balik keroyokan. Semua itu sekarang sudah sangat cepat terjadinya seolah olah orang tidak lagi berpikir dari otak tapi berpikir melalui tulang belakangnya sehingga apa yang ia lakukan full refleks.

Hanya untuk Berbagi, tidak kurang dan tidak lebih itulah alasanku menulis

Jika melalui narasi ku sebelumnya teman teman menyangka ku menulis untuk mengejar kebebasan dan menjauhi dari segala keterikatan tak terlihat sebagaimana yang ada dalam kegiatan menonton film dan bermain game itu tidak sepenuhnya salah. Ku pun tidak mengelak akan hal itu, toh itu benar adanya. Kegiatan menulis memanglah menyenangkan dan membebaskan alam pikir kita dari semua apa yang ada di sekitar kita. Dengan menulis kita dibebaskan dari aturan orang lain karena kitalah yang menjadi aturan itu.

Namun alasan saya menulis ku jauhlah lebih sederhana dari itu semua. Ku menulis hanya untuk berbagi dan belajar lagi. Hanya itu saja dan tidak ada yang lain. Jauh lebih sederhana bukan?

Sumber-Sumber

Sumber ilustrsi untuk cover blog ini Pixabay

ArcGISBencanaGISLingkunganQGISUncategorized

Data Kependudukan dari Kecerdasan Buatan Milik Facebook, Meh?

July 11, 2019 — by dewaputuam0

bigstock-group-of-people-in-form-of-wor-262052332-1560760029753-960x610.jpg
Ilustrasi Populasi Dunia. Data populasi di suatu wilayah adalah data yang saya rasa paling dalam manajemen bencana dan kebutuhan akan data ini akan semakin meningkat saat dilaksanakan operasi. Pengetahuan kita tentang kepadatan penduduk suatu wilayah terdampak pada fase awal akan mepermudah kita menentukan wilayah manayang harus kita jadikan prioritas dalam operasi. (Sumber gambar: Bigstock )

Saya pertama kali mengetahuin keberadaan data ini dari salah satu mahasiswa yang pernah magang di kantor kami sekitar tahun 2018 an. Saat itu dirinya berdiskusi ringan tentang tantangan seorang dosennya untuk mengkaji penggunaan data kependudukan yang disediakan dan dibagikan secara bebas oleh facebook untuk keperluan manajemen bencana, saya lupa fokusnya kebagian mananya. Pada saat saya cukup antusias untuk mendownload dan melihat-lihat kira kira wawsan seperti apa yang akan bisa didapatkan dari data tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan beberapa antrian tugas dari kantor akhirnya keberadaan data tersebut terlupakan hingga berbulan bulan.

Hingga beberapa minggu lalu saya menemukan sebuah artikel yang ditampilkan di feed google news saya yang membahas “Data kependudukan dari Facebook”. Agar tidak bernasip sama seperti sebelumnya maka pada artikel ini saya akan menuliskan sedikit tentang data kependudukan dari facebook ini, yang “mungkin” akan coba sa explore dan maksimalkan penggunaannya dalam bidang yang saya geluti saat ini, manajemen bencana. Tulisan ini saya tujukan sebagai pengingat sekaligus berbagi dan bahan diskusi mungkin dari teman teman sekalian ada yang tertarik mengolah data dari facebook ini baik di bidang yang sama seperti saya taupun bidang lainnya.

Data Kependudukan untuk Operasi Kemanusiaan

Ilustrasi seseorang didaerah terpencil yang sedang terkena musibah, Dengan data kependudukan yang presisi dan detail secara kewilayahan, wilayah wilayah seperti ini akan sukar termonitor oleh para pegiat kebencanaan. Beberapa kasus pernah terjadi saat penanggulangan bencana di Indonesia dimana beberapa kelompok masyarakat terisolir dan susah untuk mengakses ertolongan dan bantuan. (Sumber foto di sandur dari akun Parij Borgohain @Pexels.com)

Data penduduk merupakan salah satu data kunci dalam suatu operasi operasi kemanusiaan dalam hal ini darurat bencana. Tanpa data penduduk yang detail suatu operasi akan menjadi sporadis dan tidak taktis. Kurangnya pengetahuan kita terkait sebaran pendudu disuatu wilayah terdampak bencana akan berdampak buruk pada suatu operasi sehingga meningkatkan kemungkinan kesalahan dalam penentuan prioritas wilayah dan juga beberapa wilayah terisolir akan semakin besar kemungkinannya untuk terlewat.

Sayangnya data kependudukan yang kita dan sebagaian besar negara berkembang lainnya miliki seringkali sukar untuk diakses dan dianalisis sesegera mungkin. Hal ini bisa dikarenakan wilayah yang terlalu luas sehingga sensus berkala dalam interval waktu yang pendek sulit untuk dilakukan, format data yang disediakan pun juga membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat diolah dan diapakai dalam operasi yang membutuhkan waktu sangat cepat dalam penyediaan datanya. Jikapun ada, masih pula perlu diolah lebih lanjut untuk mengetahui pemusatan penduduk dalam suatu wilayah administrasi karena seperti yang kita ketahui bersama penduduk suatu wilayah tidak selamanya tersebar secara merata baik di unit desa, kecamatan, kabupaten dan unit unit lainnya. Penduduk cenderung berkelompok dan dari yang kami temui cenderung membentuk pola terstruktur dan berhimpitan dengan akses jalan.

Sedikit Berkenalan dengan Data Kependudukan yang Dibagikan oleh Facebook

Ilustrasi data populasi Facebook. Data Populasi yang saya bahas disini, menurut facebook (Sumber Ilustrasi: Thorsten Gätz @flickr.com)

Data sebaran penduduk secara spasial sangat diperlukan dalam manajemen bencana. Oleh karena itu, Facebook dengan tim yang dibentuknya terdiri dari para peneliti kecerdasan buatan, data saintist dengan tekhnologi mereka membuat dan membagikan data kependudukan seluruh dunia dengan resolusi spasial yang bisa dikatakan tinggi yakni sebesar 30 x 30 meter persegi) bila dibandingkan dengan resolusi spasial data sejenis World Pop yang memiliki resolusi spasial 1×1 km2. Data Kependudukan tersebut dibagikan oleh Fecebook dan dapat digunakan secara bebas dalam tautan ini.

Resolusi spasial disini menurut saya cukup signifikan pengaruhnya dalam memberikan gambaran nyata sebaran penduduk secara nyata pada saat terjadi bencana. Ada sedikit pengalaman saya bersama teman teman ketika mengolah data kependudukan dengan resolusi spasial yang masih kurang baik saat operasi erupsi gunung agung pada akhir tahun 2017 hingga awal tahun 2018 lalu. Saat terjadi penurunan status dari awas menuju siaga, kami ditugaskan untuk memperkirakan jumlah penduduk yang masuk dalam zona bahaya yang baru akan dirilis oleh PVMBG. Saat menggunakan data Worldpop dan InaRISKpop, perkiraan jumlah penduduk yang berada di dalam zona bahaya masih banyak bahkan seingat saya menyentuh angka ribuan. Untungnya salah satu teman saya berinisiatif untuk melakukan cek ulang dengan menggunakan foto satelit resolusi tinggi yang tersedia bebas melalui google maps, dan benar saja ternyata didaerah tersebut tidak ada lagi bangunan.

Hal ini besar kemungkinan disebabkan oleh kurang begitu baiknya logika yang digunakan dalam memprediksi penduduk yang dilakukan oleh Worldpop khsususnya wilayah wilayah di dekat gunung berapi aktif. Keaktifn gunung api yang terkadang memunculkan lava pijar ada kemungkinan justru dideteksi oleh Worldpops sebagai pemukiman. Hal lainnya yang paling mungkin adalah masih rendahnya resolusi spasial yang ada sehingga pada wilayah yang relatif sempit, kemampuan data tersebut untuk menunjukan variasi spasialnya menjadi berkurang dan cenderung salah.

Logika yang Digunakan Facebook dalam Membuat Data Kependudukan

Visualisasi proses yang dilakukan oleh Facebook dalam mengidentifikasi wilayah wilayah yang terdapat bangunan dan menghapus wilayah wilayah yang tidak terdapat bangunan.

Secara sederhana dalam tulisan resmi mereka pada tautan ini, Facebook memetakan populasi dengan cara mengidentifikasi wilayah wilayah yang memiliki bangunan dari sekian banyak citra satelit resolusi tinggi (0.5×0.5 meter) yang bila dikalkulasikan seluruh datanya menyita kapasitas memori sebesar 1.5 Petabytes (1500 Terabyte). Mengingat proporsi lahan terbangun di seluruh dunia yang sangat kecil bila dibandingkan lahan tidak terbangun, maka menggunakan citra resolusi tinggi 0.5 meter cenderung menyulitkan dan bila dibandingkan maka peluang suatu lahan adalah lahan terbangun berada pada kisaran 1:100000. Oleh karena itu facebook melakukan proses selanjutnya dan menggabungkan 64×64 pixcel dari citra tersebut menjadi satu petak baru sebesar 30×30 meter. Dan petak petak inilah yang kemudian dilakukan analisis.

Contoh petak petak citra resolusi tinggi seluas 30 meter yang teridentifikasi oleh AI milik facebook sebagai wilayah yang terdapat bangunan. (Sumber gambar: Facebook AI)

Data data tersebut kemudian disiapkan untuk dianalisis oleh kecerdasan buatan milik Facebook untuk menentukan dari 11.5 Miliar kotak kotak wilayah yang dianalisis mana yang merupakan wilayah terdapat bangunan dan kemudian juga dipisahkan dari wilayah yang tidak terdapat bangunan. Sebagai data awal untuk melatih AI nya tersebut Facebook juga menggunakan lebih dari 100 juta data berlabel bangunan dari Openstreetmap yang merupakan data hasil digitasi orang orang diseluruh dunia yang dibagikan dan dapat dipergunakan secara bebas untuk keperluan kemanusiaan dan lain sebagainya.

Data data hasil analisis tersebut kemudian dengan bekerja sama dengan pemerintah setempat serta NGO dijadikan sebagai patokan persebaran penduduk yang kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan data kependudukan berdasarkan wilayah administratif untuk memperkirakan jumlah penduduk per pixcel data. Melalui data ini kita tidak hanya tahu suatu desa berpenduduk berapa saja, namun juga dari desa tersebut para penduduknya tersebar diwilayah bagian mana saja.

Karena data ini masih tergolong baru, dalam penggunaannya masih diperlukan beberapa penyesuaian dan pengelolaan lebih lanjut baik dalam bentuk riset riset awal maupun pengujian langsung saat terjadi bencana. Ada satu hal kelemahan yang saya temukan dalam data ini, yaitu data ini cenderung menyamaratakan jumlah penduduk pada setiap pixcel pada unit administrasi terkecilnya. Padahal seperti yang kita ketahui, dalam unit administrasi yang sama kepadatan bangunan tentunya akan berbeda. Olehkarena itu perlu dilakukan beberapa pengkajian khusus lagi serta penyesuaian lebih lanjut dengan data data terbaru dan melakukan pengolahan dengan data kependudukan dengan unit administrasi yang lebih detail lagi agar potensi data ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kemanusiaan.

BencanaDaily LifeUncategorized

“Posting Tanpa Kata” Terakhir dari Pak Topo Untuk Kita

July 7, 2019 — by dewaputuam0

94f0692f41e2d91cf608104c67ef78cb964e0433-960x642.jpg
Sutopo Purwo Nugroho, sosok inspiratif yang selalu cepat sigap dalam memberikan informnasi bencana di Indonesia. Kadang saya sendiri heran bagaimana ia mengatur waktunya hingga seolah olah ia tidak pernah lelah dan terlewat dalam menginfokan bencana. Selamat jalan Pak Topo (Sumber Foto Berita Tagar)

Pagi tadi Indonesia mendapatkan kabar duka dari seorang yang mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Bapak Sutopo Purwo Nugroho yang biasa dikenal sebagai Pak Topo telah meninggalkan kita semua pada pukul 02.00 waktu Guangzhou, Tiongkok. Beliau adalah seorang yang kita kenal sebagai Informan bencana Indonesia, Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang selalu berada di garda depan dalam pemberitaan kebencanaan di Indonesia.

Dedikasi dan pengabdiannya pada bidang kemanusiaan khususnya kebencanaan di Indonesia membuat kita pasti sepakat bahwa ia adalah salah satu yang terbaik. Dedikasi beliau ditunjukan secara nyata dari keseharian beliau dalam melaksanakan tugasnya yang selalu sigap dan cepat memberikan informasi informasi hampir dimanapun dan dalam situasi apapun. Terkadang saya sedikit bingung apa yang membuat beliau begitu, untuk ukuran orang sehat pun rasa rasanya sedikit dari kita yang dapat mengimbangi dedikasi beliau.

Sebagai salah satu penghormatan bagi beliau sekaligus pengingat bagi saya dan teman teman tentang pernah adanya sosok seperti beliau di tengah tengah kita, maka saya membuat putuskan untuk membuat tulisan sederhana ini. Ini tentang “Posting Tanpa Kata” Terakhir dari Twitter Sang Informan Bencana Kita, Pak Topo.

“Posting Tanpa Kata” Terakhir dari Twitter Pak Topo

Pada mulanya saya ingin mengulas sesuatu yang saya rasa menarik dari apa yang dibagikan Pak Topo terakhir kali dalam media akun Twitternya kepada kita. Sebuah gambar kepulauan nusantara dan dihiasi titik titik kuning dan merah. Hal yang berbeda dari postingan sebelumnya adalah pada postingan ini tidak sama sekali diberikan kata kata “Tanpa Kata”. Mengingat kemampuan menulis beliau yang diatas rata rata, maka akan cukup aneh bila beliau membagikan begitu saja sebuah gambar tanpa ada penjelasan apapun didalamnya. Berikut adalah postingan yang beliau bagikan di Twitter pada tanggal 15 Juni sebelum keberangkatan beliau ke Guangzhou.

Sebagai informasi, gambar itu diambil dari situs monitoring hotspot yang di kelola oleh Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), jika penasaran teman teman dapat mengakses tautan ini. Melalui situs milik Lapan ini beliau mendapatkan informasi tentang sebaran titik yang diduga terjadi kebakaran hutan dan lahan, mengingat akhir akhir ini kita akan memasuki musim kemarau yang biasanya akan banyak terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Melihat apa yang dibagikan ini saya sedikit tersenyum getir, dan berkata didalam hati, Pak, sempat sempatnya bapak mengingatkan kami untuk bersiap menghadapi kebakaran hutan dalam keadaan seperti itu 🙁 .

Pak, pesan apa yang bapak berikan kepada kami melalui posting tersebut pak. Apa yang ingin bapak sampaikan kepada kita melalui gambar tanpa kata dari bapak yang bapak bagikan itu. Gambar memang membingungkan pak, berjuta makna dapat kita maknai dari sebuah gambar.

Sesaat saya berpikir dan akhirnya tersadar, Ada satu lagi “posting tanpa kata” yang selalu Pak Topo bagikan pada kita. Posting tanpa kata itu kadang bahkan sering kali tertutup dengan tulisan tulisan bapak selama ini. Sebuah “Postingan Tanpa Kata” yang saat ini justru paling nyaring berkata bahkan lebih nyaring dari kata kata yang tertuang dalam bentuk tulisan sekalipun pak.

Sebuah “posting tanpa kata” tersebut bapak sampaikan melalui apa yang bapak bagikan dan tunjukan selama ini kepada kami, “Dedikasi bapak, Perjuangan, dan Rasa cinta bapak pada kemanusiaan lebih dari apapun dan tidak bisa dihalangi oleh apapun”. Selamat Jalan Pak Topo, Selamat jalan sang Guru Selamat, Sang Informan Bencana. Bapak adalah pahlawan kemanusiaan khususnya dibidang kebencanaan di Indonesia. Terimakasih Pak Topo, kami akan merindukanmu.

“Hidup itu bukan soal panjang atau pendeknya usia, namun seberapa besar kita dapat membantu orang lain”

Pak Topo

BencanaDaily LifeLingkunganMeteorologiOpiniUncategorized

Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap

July 7, 2019 — by dewaputuam0

2017_05_02_26133_1493689431._large-960x642.jpg
Kondisi Jakarta dalam Sepekan Terakhir Tertup oleh Polusi Udara Bahkan dalam Suatu kanal Berita, Kota Jakarta Dituding Sebagai Kota Terpolusi di Dunia. (Sumber gambar: The Jakarta Post)

Jika teman teman tinggal atau sempat singgah di Jakarta tentunya juga merasakan dalam sepekan terakhir kita jarang sekali melihat langit biru di pagi hari. Suasana pagi kita dalam sepekan ini selalu diselimuti kabut, namun sedikit menyesakkan. Hal ini akan tampak begitu jelas bila dilihat dari ketinggian pada lantai tertentu yang mana akan terlihat lapisan kabut yang menutupi kota, sebagai gambaran kira-kira serupa dengan ilustrasi yang saya sandur dari situs berita Jakarta Post di Atas. Jika dilihat sebenarnya kondisi Jakarta yang demikian cukup indah, memiliki kesan sedikit retro dan klasik seperti salah satu filter yang ada didalam aplikasi Instagram. Antara sedih, takut dan takjub, terkadang saya sendiri pun bingung untuk berekspresi seperti apa untuk menanggapi foneomena yang terjadi ini.

Polusi di wilayah Jakarta memanglah bukan suatu peristiwa yang baru, malasah ini sudahlah lama ada dan sama seperti isu isu terkait kebencanaan lain, isu terkait polusi udara juga selalu timbul dan tenggelam dengan cepat. Isu isu seperti ini akan sangat cepat viral pada saat saat tertentu (biasanya saat kritis) namun cepat pula tenggelam dan menghilang tanpa penyelesaian yang konkrit apalagi menyeluruh. Miris memang, namun itulah yang kita temukan dilapangan selama ini adalah PM2.5 yang konsentrasinya mengkhawatirkan dalam beberapa minggu bahkan bulan belakangan ini. Data konsentrasi PM2.5 yang mudah di akases oleh banyak orang adalah data yang disediakan oleh Konsulat AS yang saya tampilkan melalui widget realtime yang disediakan mereka dibawah ini.

Melirik Pembunuh Senyap yang Menjadi Perbincangan “Hangat” di Jakarta Minggu Ini

Terlepas dari kemirisan hal tersebut, untuk memonitoring tingkat polusi di suatu wilayah ada beberapa variabel yang biasa di hitung dan di cermati. Beberapa variabel itu meliputi konsentrasi TSP (Total Partikulat Tersuspensi, biasanya ukurannya masih cukup besar), PM10 (Partikulat<10 micrometer), serta PM2.5 (Partikulat <2.5). Jika kita melihat variabel TSP dan PM10, meskipun beberapa kali masik kategori tidak sehat namun kondisi demikian pada waktu tertentu saja. Yang menjadi permasalahan dan diangkat isunya oleh beberapa orang seminggu terakhir ini adalah konsentrasi PM2.5.

Berdasarkan data hasil monitoring variabel ini yang dilakukan oleh BMKG di lokasi Kemayoran, hingga tanggal 6 Juli pada pukul 10.00-17.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di wilayah Kemayoran berada diatas ambang batas untuk konsentrasi jenis polutan tersebut. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari BMKG dalam tautan ini Nilai Ambang Batas (NAB) adalah Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan untuk PM 2.5 berada dalam udara ambien. NAB PM2.5 = 65 ugram/m3.

Hal serupa (kondisi PM2.5 yang berbahaya) juga tercatat dalam sensor yang ditempatkan di Konsulat AS dengan menggunakan indeks AQI (Air Quality Index). Berikut adalah kondisi terbaru terkait konsentrasi PM2.5 yang tercatat oleh sensor di Konsulat AS di Jakarta Pusat. Informasi terkait AQI di wilayah ini saya sapatkan dan sisipkan melalui tautan ini.

Dari informasi pemantauan tersebut di atas dapat kita lihat bahwa konsentrasi PM2.5 berada didominasi oleh status berwarna orange yang berarti tidak sehat untuk beberapa orang yang sensitif dan merah yang berarti termasuk tidak sehat untuk semua orang baik yang sehat bahkan sangat berbahaya bagi orang sensitif. Kondisi udara yang demikian kurang sehat dapat memicu terjadinya beberapa penyakit yang tentunya berhubungan dengan pernapasan. Berasarkan U.S. EPA beberapa dampak bagi kesehatan yang disebabkan oleh konsentrasi PM2.5 yang tinggi meliputi peningkatan risiko penyakit jantung, paru-paru meningkatnya potensi kematian dini bagi penderita kardiopulmoner.

Untuk menghindari dampak dampak tersebut atau setidaknya mengurangi dampaknya, para pengidap penyakit pernapasan, jantung, serta kelompok umur rentan seperti anak anak dan orang tua sebaiknya tidak keluar rumah maupun kerja dalam waktu yang panjang. Untuk ulasan terkait dampak lebih jelasnya dapat di baca secara agak lebih lengkap pada tautan berita di Trito.

Jebakan Inversi, Diduga Sebagai Dalang Polusi yang Tertahan dan Berkepanjangan Ini

Pada hari senin lalu saya berkesempatan mendampingi salah satu atasan saya untuk mengikuti rapat yang membahas terkait masalah ini. Hal yang menarik dalam pembahasan tersebut dan dipaparkan oleh BMKG dan BPPT adalah pembahasan tentang salah satu fenomena meteorologi yang bisa kita sebut sebagai Jebakan Inversi (Inversion Trap). Penjelasan terkait fenomena ini dapat digambarkan secara sederhana melalui ilustrasi dibawah ini.

Ilustrasi jebakan inversi yang menyebabkan polutan tidak dapat naik ke atmosfir bagian atas dan terbaurkan. Lapisan inversi ini menahan polutan berdiamdiri di dekat permukaan sehingga kadar polusi di lapisan atmosfer bagian bawah tersebut meningkat secara drastis dan sukar untuk turun. (Sumber ilustrasi: Waikato Regional Council)

Secara awam, jebakan inversi ini dapat kita ibaratkan sebagai suatu selimut di lapisan atmosfer yang menahan udara dibawah sehingga sukar naik keatas. Kondisi demikian disebabkan keberadaan suatu lapisan yang justru memiliki suhu lebih hangat dibandingkan daerah dibawahnya sehingga udara yang reltif dingin di bagian bawah tidak mampu terangkat dan menembus lapisan tersebut hal ini dikarenakan masa udara dingin lebih berat dibandingkan masa udara yang lebih hangat.

Suatu lapisan atmosfer yang mana memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan lapisan bawahnya (meningkat seiring peningkatan ketinggian) ini disebut sebagai lapisan inversi. Keberadaan lapisan inilah yang menjebak masa udara yang relatif lebih dingin dibawahnya karena lapisan dibawah ini memiliki pola semakin keatas semakin bersuhu rendah (lapisan laps rate).

Fenomena jebakan inversi biasa terjadi pada waktu waktu peralihan, baik pagi hari, sore hari mapun sebelum dan setelah hujan. Kondisi yang demikian dapat dengan mudah kita lihat bilamana kita membakar sampah pada sore menjelang malam yang biasanya asap asap pembakaran tersebut seringkali justru menyebar ke segala arah karena tidak dapat dengan mudah untuk naik ke atas.

Dalam situasi yang cukup ekstrim dan sangat berbahaya fenomena ini juga dapat terjadi di spot spot gas beracun seperti yang banyak terdapat di kawasan Dieng contohnya di Kawah Timbang. Saat sebelum dan sesudah hujan juga pagi pagi serta menjelang malam hari biasanya warga sekitar wilayah tersebut akan menghindari jalur jalur gas beracun dikarenakan gas beracun yang mengalir keluar dari kawah kawah tersebut tidak terbaur keatas dan justru tertahan di lapisan bawah. Kondisi ini dapat berakibat fatal bagi orang yang secara tidak sengaja melewati jalur tersebut dan dapat menimbulkan kematian seketika.

Kembali pada topik permasalahan sebelumnya. Fenomena jebakan inversi memanglah berpotensi untuk meningkatkan dampak tertumpuknya polutan di lapisan atmosfer bagian bawah. Namun tidak pula kita melimpahkan semua kesalahan peningkatan polutan tersebut pada fenomena alam yang sebenarnya bukanlah hal yang langka tersebut. KIta tidak akan dapat mengatasi permasalahan ini dengan hanya melakukan suatu tindakan untuk mempengaruhi kondisi yang ‘diduga’ memperparah saja. Namun yang menurut saya paling penting dan paling utama untuk ditindak lanjuti adalah “Sumber Polutan” itu sendiri.

Kita sudah terlalu lama membiarkan udara di Jakarta membunuh kita secara senyap. Yang menjadi pertanyaan dan sebenarnya tidak boleh hanya menjadi suatu pertanyaan saja adalah. “Apakah kita membiarkan begitu saja Pembunuh senyap ini terus beraksi?” Ah biarlah waktu yang menjawab, hitung hitung mengurangi populasi. Mungkin itu yang ada di dalam pikiran kita yang paling dalam. Jika itu yang ada dalam benak mu.

“Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap”

(Dewa Putu AM)

Daily LifeOpini

Hanya Sebuah Ide yang Membisu

June 17, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-06-17-at-11.22.06-AM-960x600.jpeg
Sebuah coretan kecilku yang mungkin bukan lahi hanya sekedar sebuah ide yang masih abstrak namun sudah terbentuk menjadi sesuatu yang berwujud

Pada tulisan ini saya akan sedikit berbagi dengan kegelisahan yang saya baru saya sadari beberapa minggu belakangan ini. Mungkin kegelisahan saya ini sebenarnya sering sering juga terjadi pada teman teman sekalian. Yah mungkin saja, tetapi saya ada sedikit kepercayaan kalau kegelisahan ini ada pada diri setiap orang. Pada tulisan ini, sebagai selingan saya akan sedikit berceloteh tentang ide yang membisu, tak terungkap dan kemudian menghilang dalam senyap. Ini tentang ide yang pernah ada dan bermukim dalam alam pikir kita namun sayang belum ada keberanian atau belum dapat untuk mengungkapkan diri.

Ide hanyalah ide, ia tidak akan bermanfaat dan memberikan dampak jika hanya bercokol dan mengakar kuat dalam alam pikir kita tanpa ada niatan dan suatu langkah nyata untuk “sekedar mengungkap” atau bahkan lebih baik bila dibentuk menjadi sesuatu yang lebih nyata lagi.

Sebuah Kritik Pribadi untuk Pribadi, Namun Saya Berharap Ini juga bermanfaat Tidak Hanya untuk Pribadi

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah kritik pribadi saya untuk sekedar mengingatkan bahwa jumlah ide yang ada tidaklah begitu penting. Terkadang sebuah ide justru seakan menjadi kutukan bagi seseorang. Hal ini yang beberapa kali saya alami ketika tertriger dan tertarik untuk memecahkan sebuah permasalahan dan merangkai ide ide muntuk mengurai permasalahan dan mencari solusi penyelesaiannya.

Ilustrasi ceritanya sedang mancing sebuah ide(Sumber Gambar: Engin Akyurt @ Pexels.com)

Saya katakan ini terkadang dapat menjadi sebuah kutukan karena tidak jarang karena saking fokus dan tertariknya saya pada permasalahan tersebut, sering kali meskipun lelah dan ngantuk kita tetap saja memikirkannnya dan tidak dapat tidur begitu saja. Saya menyebut hal ini sebagai “BrainCycloning (BC)” sebagai plesetan dari “BrainStorming” hehehe. Beberapa permasalahan yang seingat saya pernah membuat saya masuk kedalam fase BC mulai dari hal remeh seperti pertanyaan “kenapa ketika kita sedot air dalam air kemasan gelas, gelas kemasannya bisa mengkerut?” hingga pertanyaan komplex nan konyol seperti bagaimana cara membuat siklon tropis.

Kalau ingin dihitung dan mau jujur, mungkin >98% ide ide kita tersebut meskipun menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan dan menghabiskan banyak tenaga sayangnya tetap membisu dan tidak kita ungkap. Yah meskipun juga harus kita mau akui juga bahwa tidak sedikit dari ide ide tersebut hanyalah sampah, yang mungkin akan sulit, konyol atau bahkan tidak baik untuk direalisasikan. untuk bagian ini sepertinya saya banyak sekali hehehe.

Kemudian timbul suatu pertanyaan, apakah teman teman pernah merasakannya saat saat dimana teman teman hanyut didalam alam pikir teman teman sendiri. Saling berbincang dan berdebat dengan diri sendiri seolah olah dalam alam pikir kita terdapat 2 bahkan lebih kesadaran yang saling beradu pemikiran dan pendapat dari sudut pandang mereka masing masing.

Hanya Sebuah Ide yang Membisu, Perperangan Ide hingga Perperangan untuk Sebuah Ide

No army can stop an idea whose time has come” (Victor Hugo)

Seth Stephens dalam bagian akhir bukunya yang berjudul Everybody Lies berujar bahwa sebuah akhir dari tulisan yang bagus harus bersifat fun, mengandung sebuah plot twist yang ironis, sekaligus profokatif. Penyampaian sebuah ide juga menurut saya harus seperti itu agar menarik minat orang lain untuk tertarik, setuju dan kemudian rela untuk membantu mewujudkannya.

Dalam sebuah era yang kita sebut sebagai eranya media sosial ini kita sangat mudah untuk mengungkap sebuah ide. Ide ide yang dahulu membisu dan teronggok begitu saja dalam alam pikir banyak orang, kini terungkap dengan deras melalui berbagai media baik twitter, facebook, instagram hingga youtube. Arus ide kini mengalir dengan sangat deras apapun kini mudah kita cari, apapun kini mudah kita kepo-kepoin dan apapun kini mudah kita julid dan gibahi #hehehe. Ini bagian Fun.

Bahkan bagi sebagian orang yang selama ini ide idenya terbungkus dan membisu kini seolah-olah diberikan suatu energi tanpa batas untuk membagikan semua begitu saja semua ide yang ada didalam pikirannya atau hanya sekedar suatu ide yang ia yakin. “Ironis” nya hal ini terkadang justru membawa petaka, arus ide yang begitu deras membuat kita tidak mudah lagi untuk membedakan apakah apa yang disampaikan dan dijadikan dasar dalam membangun ide tersebut adalah sebuah fakta atau justru ada ide tersembunyi yang sengaja disisipkan untuk memberi keuntungan pada pihak tertentu dan kemudian merugikan pihak lainnya.

Terkadang, tanpa kita sadari kita telah menjadi sekedar bidak dalam permainan dan pertempuran ide ide besar yang terselubung (Sumber gambar: rawpixel.com @ Pexcels.com)

Perperangan Ide hingga Perperangan untuk Sebuah Ide tidak jarang berasal dan diperparah oleh sebuah ide yang bisu. Ia diawali oleh sebuah ide baik bahkan mungkin juga jahat yang sengaja dibisukan hingga senyap tak terdengar dan tidak diketahui oleh orang lain yang merupakan target dari idenya. Ide ini begitu tersembunyi dan jarang dapat kita ketahui dalam sekali putaran alam pikir kita. Begitu tersembunyi hingga tanpa sadar kita menyetujui dan membagikannya tanpa sadar pula kemudian kita menjadi bagian dalam ide besar tersebut.

Bisunya ide juga memperparah, bisunya ide yang sebenarnya dapat memperlambat kerja skema ide ide buruk tersebut, namun karena tidak adanya kepedulian dan keberanian sang pemilik ide tersebut akhirnya sang ide pun tetap terkurung, meronta dan terjebak untuk kemudian terlupakan begitu saja hingga semua menjadi terlambat.