main

BencanaBukuDaily LifePsikologiUncategorized

Tetap Menjadi Manusia saat Menyikapi dan Menghadapi Bencana dengan Filosofi Stoa

August 1, 2019 — by dewaputuam0

beach-blue-skies-by-the-sea-934718-960x645.jpg
Kita terlalu sibuk mengurusi dan mengkawatirkan apa yang tidak dalam kendali kita dan sayangnya pula terlalu sering mengabaikan apa yang ada dalam kendali kita. Saat kita berharap lebih pada apa yang tidak bisa kita kendalikan disitulah kita akan merasa gelisah dan takut kehilangan dengan cara yang konyol. Dikotomi kendali inilah yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis topik terkait hal ini (Sumber Ilustrasi: Pixabay @ www.pexels.com)

Isu gempabumi dan tsunami di laut selatan Jawa, meletusnya kembali gunung Takuban Perahu, potensi gempa dan tsunami Lombok dan isu isu terkait kebencanaan lainnya sering kali menyebabkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat yang kini begitu melek tekhnologi dan sangat mudah mengakses informasi. Bagi sebagian orang yang berkecimpung dan sering bersinggungan dengan bidang ilmu kebumian tentunya tidak akan heran dengan isu isu seperti ini karena memang dengan lokasi Indonesia yang “demikian strategis” mau tidak mau suka atau pun tidak suka hal itulah yang kemudian berdampak pada besarnya kemungkinan terjadi bencana seperti gempabumi, tsunami dan erupsi gunung api. Namun kita juga janganlah lupa bahwa “strategis”nya posisi indonesia itu juga yang memberikan kita kekayaan yang begitu berlimpah saat ini baik berlimpahnya minyak dan bahan tambang, suburnya tanah serta keindahan keindahan lainnya yang terkadang tidak dimiliki oleh negara negara lain.

Rasa khawatir masyarakat kita akan berbagai informasi yang meresahkan tidak sepenuhnya salah tersebut mengakibatkan beberapa dampak yang kontraprodktif bahkan dari beberapa tulisan yang saya sempat baca sebagian dari mereka ada yang sangat ketakutan dan memutuskan untuk mengungsi dan menjauhi tempat tempat yang diisukan tersebut. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya apakah ketakutan yang seperti itu diperlukan dan baik dalam menyikapi potensi bencana yang ada? Jika benar perlu dimanakah kita akan berlindung, Saat menjauhi laut karena takut tsunami kita lari kegunung namun gunung juga bisa meletus, kalaupun tidak gunung lereng lereng terjal diperbukitan pun bisa saja longsor dan menelan kita setiap saat. Belum lagi potensi bencana bencana lain seperti angin puting beliung, banjir, kecelakaan kendaraan, meteor, virus. “Actually There are no place to hide dude.

Hingga beberapa minggu yang lalu saya menemukan sebuah buku yang berjudul Filosofi Teras karya Henri Manampiring. Dari buku ini kita akan diajak untuk berkenalan dengan suatu Filosofi (“Teras” terjemahan bebas dari Stoa) yang ternyata telah ada dan berkembang di Yunani sejak 2000 tahun yang lalu. Saya rasa filosofi ini dapat dengan mudah kita manfaatkan sebagai salah satu panduan hidup kita yang tentunya dapat kita jadikan sebagai salah satu panduan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menguraikan beberapa prinsip dasar dari filosofi ini yang dapat dan sudah pula digunakan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Sudah disini saya maksudan karena prinsip prinsip ini bukanlah hal baru dan sudah banyak orang saya lihat dan temui di daerah bencana menerapkannya dalam memnghadapi apa yang terjadi pada mereka yang dalam hal ini adalah bencana.

Kebahagiaan dan Kedamaian Dicapai Saat Kita “Selaras dengan Alam”, Begitu juga dengan sebaliknya

Selaras dengan alam tidaklah sertamerta harus mengikuti alam tanpa daya untuk berperilaku lainnya. Seperti pada islustrasi ini, Batu ini tidaklah tersusun secara alamiah, namun dengan menselaraskan titik berat batu batu tersebut dengan sedemikian rupa dan mengikuti hukum serta proses yang ada dialam maka batu tersebut dapat kita susun sesuai dengan keinginan kita. Namun kita tidaklah bisa berharap batu tersebut tersusun seperti itu selamanya karena bisa saja suatu ketika batu tersebut tersapu oleh banjir, ataupun tersenggol seekor monyet yang sedang hendak meminum air di sungai. (Sumber Gambar: Pixabay @ www.pexels.com)

Dalam filosofi stoa kita diajak untuk hidup selaras dengan alam. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam menjalani filosofi ini. Selaras dengan alam yang dimaksudkan tidak hanya sekedar mencintai alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon ataupun segala macam kampanye cinta lingkungan lain yang terdengar agak sedikit retoris belakangan ini. Konsep selaras yang mereka utarakan lebih pada memposisikan diri selayaknya manusia dengan segala kelebihannya, sebuah keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yakni dalam hal berpikir dengan menggunakan nalar rasionya. Selaras dengan alam berartimenempatkan diri sebagai enitas makhluk hidup yang bernalar dan rasional.

Kebahagiaan dan kedamaian dicapai saat kita “selaras dengan alam” berarti sebagai manusia yang igin bahagia kita harus selalu berpegang pada nalar dan pikiran rasional kita. Kita tidak boleh terjebak dalam hal hal yang tidak rasional dan jauh dari nalar kita. Jika hal ini tidak dapat kita penuhi gelisah, rasa kawatir dan takut akan selalu memeluk erat kita. Hal hal yang tidak rasional dan diluar nalar terkait bencana sering saya temui menjadi sesuatu yang viral dan menghantui masyarakat kita. Dari hal hal sepele seperti menekan tombol like atau mengetik angka 1 di satu postingan media sosial agar terhindar dari petaka hingga pada hal hal tidak asional yang tidak ada lucu lucunya sama sekali seperti isu akan adanya bencana besar. Bagi sebagian orang yang jauh dari lokasi bencana mungkin menganggap hal itu bercanda saja, namun mereka mungkin tidak tahu di lokasi bencana hal itu tidak sebercanda yang mereka kira karena berkaitan dengan hidup dan mati banyak orang.

Selain selaras dengan alam, filosofi stoa juga percaya bahwa segala sesuatu baik entitas ataupun kejadian dalam hidup ini ini tidaklah berdiri sendiri namun melimiliki jalianan yang saling terhubung dan terkait. Keterkaitan segala sesuatu di dalam hidup disebut sebagai interconectedness. Begitu juga dengan bencana dengan segala dampak yang ditimbulkannya baik secara struktural seperti pepohonan yang tumbang, bangunan yang runtuh hingga pada para korban luka, hilang dan meninggal. Ada jalinan sebab akibat pada itu semua, dari strukturnya yang kurang baik dan tidak selaras dengan alam lingkungan sekitarnya, sistem peringatan dini yang belum layak, hingga pada pemahaman masyarakat setempat terkait potensi dan cara selamat dari bencana yang kurang memadai. Untuk mengurangi akibatnya tentulah kita perlu mengelola penyebabnya dengan baik. Ini bukanlah suatu tindakan perlawanan dan mengingkari apa yang terjadi, namun justru dengan melakukan kesemua itu kita telah selaras dengan alam dengan menjadi manusia seutuhnya yang menggunakan nalar, akal sehat dan rasionya dalam menghadapi bencana.

Dikotomi dan Trikotomi Kendali, dan Kaitannya dalam Sikap Kita pada Isu Bencana

Kita sebagai manusia hanya dapat melakukan dan berkuasa pada sedikit hal yang berada dibawah kendali kita. Namun ingatlah bahkan itusaja sudah cukup dan jangan cemas karenany. Jalani apa yang dapat kitalakukan biarkan semesta menjawab kita sepertiapa episode selanjutny. (Sumber Ilustrasi: Pixabay )

“Ada suatu hal yang perlu diingat, tidak segala hal dalam hidup berada di bawah kendali kita.” Kata kata ini mungkin terlihat sangat sederhana namun justru disinilah hal paling menarik dan menurut saya paling penting diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Dengan bahasa sederhananya prinsip inilah yang paling ngena bagi saya dan akan lebih menunjukan manfaatnya lagi saat kita berhadapan dengan bencana. Beberapa orang yang saya temui secara sadar ataupun tidak telah menerapkan prinsip ini dalam menyikapi dan menghadapi bencana yang melanda kehidupan mereka. Saat bencana terjadi mereka tidak begitu memusingkan apa apa saja yang diluar batas kendali mereka dan berfokus pada apa saja yang berada dalam kendali mereka secara maksimal dan optimal. Menyaksikan hal ini terkadang saya terharu akan ketegaran mereka sampai yah meskipun malu mengakuinya kadang saya sendiri pun meneteskan air mata terharu, masih manusiawi kan ya. Mereka orang orang yang hebat.

“Bapak, bolehkah saya meminjam truk bapak untuk mendistribusikan logistik. ada beberapa desa yang sampai sekarang kesulitan mendapatkan logistik pak. Untuk pengamanan dan bahan bakar kami yang tanggung pak. Kami hanya ingin membantu warga disana pak, kami kelompok pemuda ingin melakukan apa saja yang bisa kami perbuat untuk saudara saudara kami yang sedang terkena musibah pak. Tolonglah kami pak” Saat berkoordinasi terkait data dengan tentara yang bertugas saat di Palu tahun lalu saya mendengarkan perbincangan seorang pemuda yang sudah lusuh dan terlihat sekali kelelahan sedang meminta bantuan kendaraan untuk mendistribusikan logistik. Dua pemuda itu dari cerita mereka sebelumnya ikut membantu SAR mengefakuasi beberapa korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dan sekarang mereka mengerahkan tenaga mereka untuk membantu pendistribusian logistik. Melihat kesungguhan mereka dari pihak tentara yang bertugas pun membantu mereka baik kendaraan maupun tenaga personil untuk berama sama mendistribusikan ke lokasi yang dimaksud pemuda tersebut.

Konsep dikotomi kendali mengajak kita untuk memisahkan dengan jelas apa apa saja yang berada dibawah kendali kita dan apa apa saja yang berada diluar kendali kita. Filosofi stoa mengajarkan pada kita untuk terfokus pada hal yang berada di kendali kita dan tidak terlalu memusingkan apa yang berada diluar kendali kita. Seperti pada cerita pemuda tadi mereka melakukan apa yang berada dibawah kendali mereka yakni inisiatif mereka untuk melakukan apa yang dapat mereka perbuat seperti membantu dan bahkan juga keputusan mereka untuk meminta bantuan kendaraan pada petugas. Meskipun disetujui atau tidaknya permintaan mereka atas inisiatif mereka meminjam kendaraan adalah hal yang berada diluar kendali mereka namun setidaknya mereka telah melakukan semua yang ada di dalam kendali mereka.

Ketika orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka akan merasa terganggu, ketakutan dan labil

Quotes by Epirectus (Disunting dari tulisan Henry M, FIlosofi Teras)

Hingga kemudian seiring dengan perkembangan jaman, beberapa filsuf juga menyadari bahwa dari kesekian hal yang tidak berada di bawah kendali tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Dengan kata lain ada beberapa hal yang dapat dikendalikan hingga batas tertentu saja. Dari sinilah kemudian dikotomi kendali yang tadinya hanya membagi hal dalam kelas yang bisa dikendalikan dan kelas yang tidak bisa dikendalikan menjadi Trikotomi Kendali yang mengkelaskan hal kedalam tiga bagian yakni yang bisa dikendalikan, yang tidak bisa dikendalikan , dan ketiga adalah yang bisa dikendalikan sebagian.

Konsep dikotomi ataupun trikotomi kendali dari filosofi stoa ini sudah menjawab apa yang terjadi dengan masyarakat kita yang beberapa waktu belakangan ini diliputi oleh keresahan dan kegelisahan yang tidak perlu. Isu potensi gempa dan tsunami yang besar dan mengerikan di selatan jawa hingga Nusa Tenggara, gempa didaerah lembang, isu kekeringan panjang, isu gunung meletus, banjir jakarta, dan isu isu mengerikan lainnya. Jikalau itu benar, semua itu tidaklah berada dalam kendali kita, jadi jangan dipusingkan secara berlebihan, gelisah, dan ketakutan hingga melakukan hal hal yang kitra produktif dengan menghujat, ikut menebar hoax, dan berspekulasi hal hal yang terlalu jauh dan mengada ngada. Konsep dikotomi kendali dalam filosofi stoa mengajarkan kita untuk berfokus pada apa yang berada dibawah kendali kita.

Jangan terlalu membebani diri kita dengan hal yang tidak perlu karena itu pasti sangat melelahkan dan menyita banyak waktu. Waktu kita yang sedikit dan tenaga kita yang pas pasan sepertinya akan lebih baik bila kita manfaatkan dan fokuskan pada hal-hal yang dibawah kendali dan bisa kita lakukan seperti contoh paling sederhananya bila kejadian bencana itu terjadi kira kira apa yang perlu kita lakukan. Mencari tahu dan memahami potensi potensi bencana di wilayah kita masing masing, dan mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk mengurangi risikonya dari menyesuaikan struktur bangunan dengan potensi bencana yang ada. Kita perlu tahu apa tanda tandanya, apakah ada kode kode khusus atau sistem peringatan dini khusus yang ada lingkungan kita saat bencana terjadi. Kita juga dapat memastikan jalur evakuasi kalau toh bencana benar benar terjadi tetap layak dilewati dan bebas dari hambatan.

Tetapi memang si harus kita akui, saat terjadi bencana bukanlah saat saat yang dapat kita phami dengan mudah dan bukan pula sesuatu yang dapat kita hadapi. Rasa limbung, bingung dan tanpa arah menjadi hal yang banyak orang alami saat terdampak bencana. Bersedih bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam filosofi stoa. Meskipun demikian kita tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan itu bahkan sampai dibawa mati (Seneca). Ada sesuatu yang menarik dan menurut saya sangat mengharukan lagi saya temukan pada saat saya ditugaskan di Palu saat itu. Saat itu sudah larut malam (sekitar pukul 9 malam), ada seorang bapak bapak mengunjungi pos kami dan menanyakan kabar anaknya yang ikut menjadi korban kedaysatan tsunami saat itu. Pada mulanya saya sempat berpikir bahwa sosok bapak itu akan terlihat sangat bersedih dan bukan tidak mungkin tangisnya tidak terbendung saat datang pada kami. Namun ternyata semua itu salah besar. Meski masih terlihat jelas kesedihan mendalam pada diri seorang bapak itu namun dirinya masih tegar dan saya tidak bisa berkata apa apa melihat itu semua. Saya tidak tahu pula harus berekpresi apa saat mendengar perkataan bapak itu. Ia sudah iklas akan kepergian anaknya. Dia datang kepada kami hanya ingin meminta bantuan kepada kami untuk memastikan bahwa jasat yang ditemukan oleh tim dilapangan dan dikabarkan anaknya itu adalah benar anaknya. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Gempa, Tsunami, Banjir, Longsor dan semua lainnya adalah suatu keniscayaan yang alamiah terjadi selama bumi ini masih berputar. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Apapun yang kita lakukan tidak akan merubah hal itu. Namun keinginan kita untuk bertahan dan hidup meski terpapar kesua itu jugalah sesuatu yang alamiah, tidak akan ada yang dapat menghentikan keingian kita itu. Memang kita tidak akan dapat membuat gempabumi atau tsunami agar tidak pernah terjadi, Namun kita selalu bisa membuat diri kita aman dan selamat dari itu semua. Itu masih bisa masih bisa kita lakukan karena apa yang kita pikirkan apa yang kita lakukan berada dibawah kendali kita masih ada di bawah kendali kita sebagai manusia yang tetap menjadi manusia saat menyikapi dan menghadapi bencana.

Sumber Sumber yang saya gunakan dalam tulisan Ini

  • Buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini) karya Henri Manampiring dan dipublikasikan oleh Penerbit Buku Kompas
  • Featured Photo in this post is design by Tom Swinnen from Pexels

BukuHiburan

[Buku] Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

July 3, 2019 — by dewaputuam0

Jan-23-Milenia-News.jpeg
4.5/5

Setelah satu bulan hanya hanya mampu menyelesaikan satu buku bacaan saja  akhirnya pada awal bulan ini saya mulai merintis lagi untuk kembali menikmati nikmatnya membaca buku ditemani dengan lagu Bad Guys nya Bilie Eilice. Mungkin karena tidak begitu match antara lagu dan topik bacaan yang sedang saya baca jadinya saya lebih memilih untuk tetap membaca dan tidak mempedulikan apa yang sedang saya dengar. Mungkin terbaca sedikit normatif dan sering saya utarakan dalam setiap kesempatan mengulas sebuah buku dalam blog ini, namun harus saya akui kalau buku ini merupakan buku yang bagus dan sekaligus indah sekaligus frasa-frasa dan artwork yang disajikan dalam buku ini Instagramable untuk story ataupun feed. Sungguh ini membuat saya ingin membanjiri feed instagram saya dengan konten dalam buku ini. Namun berhubung saya selesai membaca buku ini pada malam hari dan pencahayaan dalam kamar saya kurang begitu baik jadi saya mengurungkan niat saya tersebut.

Inilah sekilas kesan kesan saya dalam membaca Buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, yang disingkat oleh sang pengarangnya, Marchella FP sebagai NKCTHI.

Buku NKCTHI bukanlah sebuah buku, Lebih dari itu buku ini adalah seni

Buku ini merupakan salah satu buku yang laris dan saya baru mengetahui tentang buku ini dari sebuah video youtube sang penulis yang sedang menjadi pembicara dalam acara Bukatalk. Dari video tersebut ia yang dikenal sebagai penulis buku laris “Generasi 90an” sedikit  mempromosikan buku barunya yang berjudul cukup panjang ini. Dari video tersebut ia menceritakan sedikit qoute yang ada di dalam buku ini yang kemudian membuat saya penasaran dan memutuskan untuk mencarinya di toko buku. Dan akhirnya setelah beberapa saat berkeliling toko buku di kawasan matraman akhirnya saya menemukan buku tersebut dalam versi cetakan barunya berwarna coklat.

Buku ini secara sederhana dapat dikatakan sebagai kumpulan surat surat singkat dari seorang ibu yang disiapkan untuk dibaca anakanya kelak. Buku yang berisi banyak sekali frasa frasa sederhana dan bagi saya cukup memberikan sudut-sudut pandang baru. Sebagai gambaran mungkin ada baiknya saya mengulas dua qoute secara acak (saya kesulitan mencari quote terbaik dan paling menarik karena hampir semuanya menarik hehehe).
 
“Di Bumi ini banyak orang baik, tapi kita masih butuh lebih banyak lagi” begitu salah satu quote yang di sampaikan “Cel” dalam bukunya tersebut dan menjadi salah satu qoutes yang menurut saya mengetuk dan sesaat menyadarkan saya. Saya sedari dulu berpikir bahwa hanya sedikit orang baik ada di dunia ini jadi tidak ada salahnya dan sah sah saja bila kadang kita berbuat sedikit jahat, malah akan tampak sedikit bodoh bila kita terlalu baik yang kadang justru menyakitkan diri kita sendiri.  Dengan kata lain “Tidak cukup banyak orang baik di dunia ini”, sehingga kadang atau bahkan seringkali kita menemukan hal hal jahat yang menyebalkan. Namun seorang Cel memberikan sebuah sudut pandangan yang berbeda meski jika diperhatikan seksama intinya sama saja bahwa di “dunia ini kurang banyak orang baik”. Cel mengubahnya menjadi sepasang frasa yang jika digabungkan akan memberikan suasana yang lebih positif yakni “Di Bumi ini banyak orang baik, tapi kita masih butuh lebih banyak lagi”.
 
“Berada di ruang ini, mungkin sudah takdirmu. Tapi jendela mana yang ingin kamu lihat, itu pilihanmu.” Dari quote ini diingatkan kembali bahwa biar bagaimanapun hidup yang kita jalani dahulu, sekarang dan yang akan datang adalah sebuah takdir, namun dari sudut pandang mana kita melihat sudut pandang yang sinis nan negatif atau sudut pandang yang positif itu semua ada dalam kuasa kita. Tidak hanya dua qoute tersebut saja yang menurut saya menarik dan memberikan sedikit pengingatan yang sederhana dan “ngena”. Ada lebih banyak lagi quote2 yang bertebaran dalam buku ini dan disajikan dalam bentuk kumpulan karya seni visual yang sederhana namun tetap menarik di mata.
 
Sumber
 Feature Pic by https://www.wanita.me/

BukuDaily LifeHiburanUncategorized

[Buku] Seni Hidup Minimalis, Francine Jay

May 26, 2019 — by dewaputuam0

IMG_20190525_104756-01-960x686.jpeg
Buku seni Hidup Minimalis coba saya tampilkan juga secara minimalis dalam sebuah foto bersama setangkai bunga mawar merah yang saya pinjam dari teman yang ngutil dari karangan bunga di lobi kantor hahaha.

Konsep hidup minimalis pertama saya dengar dari sebuah vlog milik raditia Dika yang saat itu dalam video tersebut dirinya mengaku sedang merintis untuk menjalani hidup minimalis. Sebagai salah satu bentuk keseriusan tersebut ia pun menjual berbagai jam koleksinya dan menggantikannya dengan satu jam yang menurutnya sudah cukup, tentunya definisi cukup dalam sudut pandang raditia tersebut tentulah tidak harus sama dengan definisi kita dari kata cukup. Hal yang terpenting dan menarik bagi saya dalam video tersebut adalah sebuah konsep “hidup minimalis” yang menurut saja akan cukup seu dan melegakan bila coba kita terapkan.

Hingga waktu berlalu dan menunggu saya menyelesaikan beberapa antrian bacaan yang harus saya selesaikan pada akhirnya saya memutuskan untuk mencari bacaan yang ringan dan bagus untuk perkembangan diri saya pribadi hehehe. Dan singkat cerita dengan segala pertimbangan akhirnya pilihan saya jatuh pada buku karangan Francine Jay yang berjudul Seni Hidup Minimalis agar saya setidaknya mulai berkenalan dengan konsep minimalis yang saya dengar dari video raditia dika beberapa bulan yang lalu.

Deskripsi singkat nan minimalis dari buku “Seni Hidup Minimalis”

Sebuah ilustrasi tentang sudut minimalisme, Sengaja saya tampilkan foto ini untuk menampilkan menggambarkan minimalisme karena saya pikir minimalisme tidak hanya sekedar mendesign sebuah rumah yang mewah berbalut warna putih dan dengan beberapa barang elektronik berdesign simple. Lebih dari itu, minimalisme adalah sebuah seni untuk menyediakan kita ruang (sebuah karya João Jesus dipublish pada situs pexels.com)

Buku yang saya baca ini adalah sebuah buku terjemahan karya Francine Jay yang berjudul The Joy of Less (A Minimalist Guide to Declutter, Organize, and Simplify). Judulnya cukup panjang sepertinya ya, dalah fersi berbahasa indonesia yang diterjemahkan oleh Annisa Cinantya Putri Penerbit GPU. Terjemahannya menurut saya memuaskan dan masih dapat dipahami dan enak dibaca. #mantab

Dari ketebalannya, buku ini tergolong buku yang minimalis (tipis) yakni hanya 260an halaman jadi dalam kecepatan membaca yang rata rata, buku ini dapat lah dilahap dalam sehari dua hari. Designnya juga minimalis sehingga tidak begitu mencolok, nyaman di mata dan tidak begitu mencolok. Hal ini menurut saya salah satu poin penting saya untuk membeli sebuah buku, buku semarak yang design aneh aneh kadang membuat tidak nyaman hehehe.

Masuk pada isinya, buku ini pada dasarnya menjelaskan sebuah sikap untuk menilai sebuah eksistensi barang hanya pada kegunaannya saja tidak lebih dan tidak pula kurang tanpa diracuni oleh rasa rasa sentimentil dan kenangan dari barang barang tersebut. Buku ini menjelaskan bahwa kita adalah kita, kenangan adalah kenangan. Barang barang yang berkaitan dengan kita dan kenangan tidak sertamerta menjadikan barang tersebut sama dengan kita tidak pula sama dengan kenangan kenangan yang ada. Meski terrbaca cukup ekstrim, namun buku ini menjarkan kepada kita untuk tidak memaknai sebuah barang secara berlebihan agar kita dapat menyediakan ruang bagi kita dan kenangan kenangan yang akan datang.

Setelah memberikan pemahaman tentang cara menyikapi barang barang dengan tidak berlebihan buku ini kemudian juga memberikan panduan untuk membuat ruang dengan cara berberes rumah dari ruang keluarga, kamar tidur, dapur, kamar mandi hingga gudang. Metode yang berberes rumah yang ditawarkan dalam buku ini disebut sebagai metode STREAMLINE. Metode STREAMLINE yang Francine maksud adalah sebuah kependekan dari:

  • Start over: mulai dari awal
  • Trash, treasure, or transfer: buang, simpan atau berikan
  • Reason for each item: alasan setiap barang
  • Everything in its place: semua barang pada tempatnya
  • All surface clear: semua permukaan bersih
  • Modules: ruangan
  • Limits: batas
  • If one comein, one goes out: satu masuk, satu keluar
  • Narrow down: kurangi
  • Everyday maintenance: perawatan setiap hari.

Opini saya terkait salah satu buku karya Francine Jay, semoga masih minimalis

Francine Jay, penulis buku The Joy of Less (A Minimalist Guide to Declutter, Organize, and Simplify) atau yang dalam versi baha indonesianya menjadi “Seni Hidup Minimalis” (Sumber positivelifeproject.com)

Secara umum buku ini menurut saya merupakan buku yang bagus dan patut dibaca untuk orang orang yang seperti saya (yang mempunyai kamar berantakan hehehe). Dari buku ini yang paling saya suka adalah bagaimana seorang Francine Jay memberikan kita pemahaman dalam menyikapi barang barang hanya sekedarnya dan tidak berlebihan tanpa dicampuri oleh perasaan sentimentil akan barang tersebut. Hal ini bagi saya cukup frontal sih mengingat pada masa sekarang banyak sekali orang orang yang mengidentikan dirinya pada barang barang yang ia miliki, konsumsi dan atau kenakan akibat pengaruh derasnya iklan iklan di sekitar kita, ataupun dan akibat ajang pamer menggunakan sosial media. Hal ini kemudian menjadikan kita sekedar konsumen yang terus mengkonsumsi barang-barang secara rakus. Menyedihkannya, tidak sedikit dari barang barang tersebut sebenarnya tidak begitu kita perlukan dan hanya sekedar memuaskan ego kita saja.

Saya suka cara Francine Jay menyajikan ide idenya dalam buku ini. Pada bagian awal ia memberikan kita sebuah gambaran tentang apa itu minimalisme dan pada beberapa bab berikutnya ia kemudian menjelaskan sebuah metode streamline sebagai salah satu alat untuk menerapkan minimalisme di sekitar kita khususnya rumah kita. Penjelasan penerapan metode ini pada berbagai ruangan rumah juga diberikan pada buku ini beserta beberapa dilema yang mungkin ditemui tentunya beserta saran untuk menyikapinya.

Yang menurut saya kurang di buku ini adalah pada bab terakhirnya, yang saya rasa sedikit memaksakan saat menjelaskan tentang dampak gaya hidup minimalis pada masyarakat dan alam. Meskipun premis premisnya masih dapat diterima dan logis tapi tidak tahu mengapa saya kurang begitu suka pembahasan terkait dampak pada masyarakat dan alam ada dalam buku ini, kurang pas gitu dan menjadikan buku ini sedikit kehilangan fokusnya. Oia dalam membahas cara berbenah masim masing ruangan juga menurut saya agak monoton sih jadi sedikit membosankan di tengah.

Saya rasa itu saja opini saya terhadap buku ini. Secara umum saya suka buku ini menurut saya nilainya 4 dari lima lah. Dan bila ada yang berminat untuk berbenah rumah ataupun sudah jengah dengan riuhnya barang barang di rumahnya, ada baiknya bila membaca buku ini terlebih dulu.

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Every Body Lies, Apa yang Internet Ungkap Tentang Siapa Sebenarnya Kita

May 19, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-05-19-at-1.01.25-PM-960x686.jpeg
Sedikit ilustrasi tentang buku Everybody Lies karya Seth Stephens. Salah satu terbaik yang saya selesai baca di Tahun 2019 ini dengan sedikit background blog saya hehehe (Sumber foto pribadi).

Ada sedikit cerita “menarik” tentang bagaimana saya membeli buku ini karena secara ajaib sesuai dengan tema besar yang diusungnya. Buku ini saya beli dari “imbalan” setelah bersedia diwawancara oleh seorang kadidat PhD Indinesia di salah satu univeritas Singapura yang meneliti terkait penggunaan data dalam beberapa operasi penanggulangan bencana di Indonesia. Ironisnya meski didapat dari ‘hadiah’ wawancara, dalam bab bab awal di Buku ini justru menyoroti kurang begitu baiknya metode wawancara konfensional karena dalam dalam wawancara konfensional “kita dibayar untuk menjawab pertanyaan bukan untuk kebenaran”.

Sejenak saya berpikir apakah yang saya jawab kemarin adalah sepenuhnya kebenaran, atau sudah ada bumbu bumbu dusta disana? Meski secara subtansi saya rasa sudah menjawab dengan relatif benar namun saya kurang begitu yakin beberapa gimik mungkin tidak sengaja saya utarakan saat itu #mungkin.

Deskripsi Singkat Sebuah buku cerita dari seorang data saintist tentang Kita”

Buku yang saya baca adalah versi ebook berbahsa inggris yang diterbitkan oleh Bloomsbury. Buku karya Seth Stephens ini saya beli melalui aplikasi Google Playbook. Everybody Lies merupakan satu dari sekian banyak buku yang sudah saya incar antara tahun 2017 atau 2018 karena topik yang dibahas cukup profokatif serta unik, itu menurut saya. Karena buku ini berbahasa inggris akhirnya saya pun sedikit menahan diri menunggu versi terjemahan bahasa indonesianya. Seiring waktu, saya pun mulai kehabisan bahan bacaan menarik dan kebetulan saya mendapat sedikit dana dalam bentuk pulsa untuk dapat membeli sebuah ebook di Google Play (hehehe) akhirnya sayapun putuskan untuk membeli versi inggrisnya saja mumpung harga yang ditawarkan ebook jauh lebih terjangkau dibandingkan versi cetaknya. Akan tetapi menyebalkannya, saat saya hampir selesai membaca buku ini Gramedia dengan gagahnya menerbitkan buku ini.

Buku ini tidak terlalu tebal namun tidak juga tipis, hanya 354 halaman dan itupun yang bagian intinya hanya sampai halaman 290an. Jumlah halaman segitu sudah cukup padat mengingat begitu banyak topik yang dibahas oleh buku ini. Oia lucunya, Seth Stephens secara tersurat juga menyampaikan jumlah kata yang ada di dalam buku ini yakni sekitar 700000-an kata. Hal ini ia sebutkan dalam kesimpulan yang menurut saya adalah salah satu bab kesimpulan buku paling unik yang pernah saya baca hingga saat ini.

Insight Buku yang tidak hanya menceritakan “Insight” namun juga tentang “pencarian Insight” dari data tentang kita

Dalam bukunya, Seth Stephens sang data saintist ini tidak hanya lihai mengungkap insight dari berbagai “Big Data” namun juga berhasil menempatkan diri secara konsisten sebagai data saintist sejati yang percaya namun sedikit menyisakan skeptis pada insight-insight yang ia dapatkan baik melalui kajiannya maupun dari beberapa urunan informasi dari beberapa kolega sesama data saintistnya.

Ups ternyata kita sebenarnya tidak benar benar tersembunyi dan apa yang kita lakukan selama ini dapat terungkap dari jejak jejak digital yang kita tinggalkan. ( Tree photo created by freepik – www.freepik.com)

Buku ini menceritakan berbagai fakta menarik yang sering kali kontradiksi dengan apa yang sudah kita yakini selama ini. Buku ini mengungkap berbagai kebohongan yang dilakukan oleh kebanhyakan dari kita atau bahkan kita semua. Dari hal-hal remeh dan lucu seperti sikap kita yang meski terlihat begitu “santun dan baik” dari luar maupun di media sosial, namun ternyata menympan sarkastik dan rasisme yang begitu gelap. Hal ini diungkap penulis melalui kajiannya terhadap kata-kunci pencarian yang dikumpulkan dari berbagai mesin pencarian seperti Google, Bing dan sebagainya.

buku ini mengungkap perbedaan sentimen dan harapan para orang tua terhadap anak laki-laki dan perempuannya. Mengungkap kosa kata yang menandakan bahwa akan ada kencan kedua. Mengungkap kata kunci paling populer dalam penelusuran situs situs pornografi. Mengungkap cara memperkirakan jumlah pengangguran, jumlah pelaku aborsi dan jumlah anak anak korban pembulian bahkan potensi terjadinya pembunuhan. Ketiga hal tersebut dilihat dari jumlah akses terhadap situs situs pornografi untuk mengungkap jumlah pengangguran, dan penelusuran trend trend frasa tertentu untuk mengungkap jumlah pelaku aborsi dan korban pembulian, serta potensi terjadinya pembunuhan.

Dari buku ini juga, Seth Stephens menantang keyakinan kita selama ini yang meyakini bahwa film film kekerasan akan meningkatkan jumlah kekerasan di suatu wilayah. Nyatanya dari beberapa penelitian kejadian sebaliknya justru terjadi, film film kekerasan ini justru menurunkan tingkat kriminalitas di suatu wilayah. Tentang pidato obama juga yang digadang gadang mampu meredakan Islam phobia di Amerika ternyata juga tidak sepenuhnya benar karena sesaat setelah pidato tersebut kata kunci yang trnding di mesin pencarian justru bersuasana yang sebaliknya.

Opini saya tentang buku Everybody lies karya Seth Stephens

Secara keseluruhan saya suka dengan buku ini. Banyak wah dan aha momen yang saya rasakan ketika saya membaca bagian demi bagian pada buku ini. Buku ini menjelaskan dengan cukup baik tentang kelebihan kelebihan Big Data dan cara para data saintis dalam mengungkap Insight dari data tersebut untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang ada disekitar kita yang tidak jarang jawaban yang diungkap dalam buku ini berbeda dari apa yang kita yakini sebelumnya sekaligus sangat miris.

Seth Stephens, penulis Everybody Lies tampak sedikit ngece hahaha. Oke suhu saya akui dirimu dirimu hebat dalam menulis sebuah buku, saya menunggu buku buku anda selanjutnya (Sumber foto The Weekend Edition)

Saya kagum pada cara penulis menyusun banyak topik bahasan yang sangat beraneka ragam. Meskipun harus saya akui pada mulanya, saya sedikit skeptis dengan buku ini, mengingat topik yang yang ia bahas adalah topik yang sangat luas dan sangat beraneka ragam. Beberapa buku serupa kebanyakan terjebak pada melempar begitu saja topik topik mereka tanpa keterikatan yang kuat antar topik dalam membentuk alur cerita dan kerangka ide yang ingin diungkapkan secara utuh. Dan buku ini menurut saya behasil menampilkan hal tersebut pengungkapan pengungkapan insight dan cara cara mengungkapnya di jabarkan dengan rapi untuk memberikan kita gambaran seperti apa potensi pemanfaatan Data Konvensional dan Big Data saat ini namun tidak lupa pula mengutarakan kelemahan kelemahan big data tersebut.

Buku ini tidak hanya mengagung agungkan superioritas dan seksinya big data dalam era sekarang namun juga mengkritik perlombaan Big Data yang kebanyakan hanya terfokus pada ukuran yang masiv tanpa banyak memperhatikan Insight sebanyak dan sesignifikan apa yang dapat diungkap dan yang paling penting adalah pertanyaan pertanyaan apa yang dapat dijawab dengan data semasiv itu.

(Seth Stephens)

Dan terakhir, hal yang menurut saya paling menarik dari buku ini adalah bagian kesimpulannya. Dari bab tersebut Seth Stephens di bagian bagian awal mengungkapkan secara tersurat bahwa dalam sebuah buku (atau tampaknya semua karya tulisan), sebuah kesimpulan yang luar biasa haruslah ironis, harus menggugah, harus mendalam, harus menyenangkan, harus dalam, humor dan sekaligus menyedihkan. Dalam Bab ini terlihat sekali kedalaman dan kekonsistenan penulis akan kesan dan peran data saintist yang ia emban. Cara ia menutup bukunya menurut saya keren hehehe dan sepertinya menarik bila saya gunakan gaya tersebut untuk menutup tulisan saya.

Tampaknya tulisan ini sudah terlalu panjang ya sudah 1100 an kata saya tuliskan dalam posting ini dan saya tidak begiu yakin akan banyak yang membaca tulisan saya sampai pada kata kata saya saat ini, karena kebanyakan dari para pembaca saat ini hanya membaca Judulnya saja, dan sedikit diantaranya akan sampai pada beberapa paragraf awal, dan menyedihkannya lagi jaul lebih sedikit pula yang akan mencapai akhir pada kalimat ini. Sedih sih dan juga cukup kecewa tapi mau bagaimana lagi ya, inilah keadaan sekarang. Oke buat teman teman yang tersisa sampai pada kalimat ini saya ucpkan terimakasih atas waktu yang teman teman berikan pada tulisan saya ini. Kalian luar biasa Guys 🙂

BukuHiburanUncategorized

[Opini] Membaca eBook, Tidak Lebih Menyenangkan Dibandingkan Buku Cetak

May 18, 2019 — by dewaputuam0

144-960x640.jpg
Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku dalam pendarang cahaya senja #hasek bersa anak Indie banget yak. Saya sedikit heran kenapa ya beberapa orang dapat terlihat begitu indah saat membaca buku hehehe (Sumber Gambar snowing via Freepik)

Sebagai tulisan filler dalam blog saya, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman selama membaca buku dalam bentuk elektronik (ebook) dan sedikit membandingkannya dengan pengalaman membaca buku cetak.

Ebook vs buku cetak seringkali diperdebatkan oeleh beberapa penikmat buku. Bagi beberapa orang membaca versi cetak lebih nyaman dibandingkan dengan membaca ebook. Salah satu alasan yang mereka utarakan biasanya terkait pengalaman mereka yang nyaman ketika mencium aroma segar dari buku baru dan keasikan mereka saat membuka lembar demi lembar buku secara fisik.

Selain itu, koleksi buku cetak juga dapat digunakan sebagai pajangan yang menarik saat tersusun rapi di dalam lemari. Saat buku sudah tersusun rapi biasanya akan dijadikan background foto foto di media sosial dengan berbagai captionnya hehehe kesan cerdas terpelajar dan keren pun kemudian seolah terdongkrak seketika oleh susunan buku tersebut.

[Opini] Membaca eBook, Tidak Lebih Menyenangkan Dibandingkan Buku Cetak

[Opini] Membaca eBook itu, tidak lebih menyenangkan bila dibandingkan dengan membaca buku cetak. Namun, membaca ebook, tidak pula kurang menyenangkan bila dibandingkan membaca buku cetak. Singkat kata, membaca buku baik ebook dan buku cetak bagi saya sama saja pengalaman yang diberikan, tentu dengang berbagai kelebihan dan kekurangannya masing masing.

Bagi saya, yang terpenting adalah isi dari buku tersebut. Hanya saja, ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan saat membaca ebook beberapa keuntungan tersebut anatara lain:

  • Ringkas dan dapat dibawa kemana saja. Poin ini adalah poin paling penting keunggulan ebook bila dibandingkan buku cetak. Ebook sangatlah ringkas tergantung dari kapasitas drive kita, baik di perangkat maupun cloud. Saking ringkasnya bukan tidak mungkin kita membawa ratusan buku bahkan satu perpustakan dalam genggaman kita.
  • Mudah menerjemahkan bila bertemu kosa kata baru. Ini adalah poin yang sangat membantu saya dalam membaca serta memperluas jangkauan serta akses bacaan saya tanpa adanya penghalang bahasa. Melalui ebook, bila menemukan kata kata baru maka dengan mudah kita menerjemahkannya hanya dengan memblok tulisan atau frasa tersebut dan secara ajaib akan muncul pop up terjemahannya.
  • Mudah membuat catatan dean highlight frasa yang penting dan menarik. Bila menemukan sebuah ide segar yang menarik dalam sebuah buku saya biasanya menandai dengan berbagai cara jika dibuku cetak saya biasa menggunakan sabilo atau pensil, dan di ebook, kegiatan tersebut bahkan menjadi jauh lebih mudah lagi dan bagusnya pula ada suatu laman kusus yang menampilkan frasa frasa serata catatan catatan yang kita buat di ebook tersebut. Sehingga bila suatu saat kita membutuhkan frasa tersebut dengan mudah kita dapat mencarinya.
  • Tersingkronisasi dengan berbagai macam perangkat. Singkronisasi adalah suatu keuntungan dan keunggulan ebook bila dibandingkan dengan buku cetak. Melalui aplikasi pembaca ebook, kita dengan sangat mudah berpindah pindah perangkat sesuai kebutuhan untuk membaca buku tersebut. Sebagai gambaran, biasanya saya membaca menggunakan tablet saat saya sedang bersantai dengan segels kopi, namun saat menulis sebuah artikel dan membutuhkan membaca ebook tersebut dan atau mengutip beberapa kalimat maka saya beralih pada perangkat laptop atau komputer. Dan kemudian saat saya sedang berdesak desakan di dalam kereta, sembari mendengar musik saya juga dapat membaca ebook melalui smartphone saya.
Beberapa koleksi ebook yang saya miliki saat ini melalui aplikasi google playbook. Menggunakan aplikasi ini saya dapat membaca buku dengan mudah melalui laptop, tablet bahkan smartphone saya. Selain bukunya tersinkronisasi, catatan catatan saya pun tersingkronisasi dengan baik di setiap perangkat yang saya punya.

Terkadang, untuk kasus tertentu buku cetak memanglah yang terbaik

Terkadang, untuk kasus tertentu saya akui buku cetak memang tidak akan tergantikan. Biarpun banyak keunggulan dari ebook, ada beberapa rasa yang tidak dapat mengganti sensasi dalam membaca buku cetak. Lagi lagi tentang aroma buku memanglah menyegarkan hehehe. Untuk beberapa buku yang layak koleksi pun saya prefer untuk membeli versi cetaknya juga meski telah punya versi ebooknya karena saya masih ragu keberlanjutan dari buku buku yang saya simpat secara digital tersebut. Dan sayang sekali jika harus kehilangan buku sangat bagus bila ternyata aplikasi atau perangkat kita mati begitu saja. (Ini sebenarnya alasan untuk membenarkan keinginan saya menambah koleksi buku saya di lemari untuk dijadikan post di media sosial hehehe).

Ada satu lagi yang mungkin menjadikan ebook begitu inferior bila dibandingkan dengan buku versi cetaknya yakni kebutuhan ebook akan suplai energi (batre), hal ini menyebabkan bila listrik padam atau didaerah tidak teraliri listrik, maka membaca buku versi digital menjadi begitu sulit dilakukan. Percuma bila kita membawa satu perpustakaan ebook dalam rangsel kita, kalau perangkat kita tidak terisi daya yang cukup.

Saya rasa cukup sekian saja tulisan saya kali ini, Saya berharap tulisan ini memberikan sedikit manfaat bagi teman teman yang mungkin sedang bingung menentukan antara ebook dan cetak. Bagi saya, Ebook ataupun cetak itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing, pilihan antara ebook dan cetak baiknya tergantung dari tujuan dan cara apa yang akan kita gunakan dalam membaca buku tersebut nantinya.

Sumber Background photo created by snowing – www.freepik.com

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Army of None, “Senjata Otonom dan Masa Depan Perang”

May 3, 2019 — by dewaputuam0

scifi-3617337_1920-960x603.jpg
Ilustrasi Buku Army of None karya Paul Scarre, Buku yang menarik dan membuka mata kita tidak hanya tentang robot otonom tapi juga tentang senjata dan perang. (Sumber gambar: CNAS)

Saya mengetahui tentang buku ini pertama kali saat judul buku tersebut masuk kedalam daftar 5 buku terbaik di tahun 2018 menurut Bill Gates yang ia bagikan di story instagram resminya. Melihat judulnya yang menarik dan tema yang unik saya pun tertarik untuk membacanya. Dan akhirnya hingga adi malam dengan bahagia akhirnya buku ini menjadi buku berbahasa inggris pertama yang berhasil saya baca tuntas. Saya senang dapat menyelesaikan buku ini dan saya berharap sih ini menjadi suatu awalan bagi saya untuk dapat mengakses lebih banyak lagi buku buku yang saya inginkan, mengingat banyak buku buku bagus dan ingin saya baca relatif lama dan saya tunggu sekian lama tak kunjung di alihbahasakan dan kemudian diterbitkan dalam bahasa indonesia.

Dengan saya selesaikannya buku ini setidaknya nambah PD untuk membaca buku buku seperti itu hehehe. Hal ini karena dari dulu beberapa kali beli buku dengan bahasa inggri selalu terganjal dengn bahasa dan malas untuk bolak balik kamus untuk mengartikannya. Hingga akhirnya saya menggunakan google playbook semua jadi terasa lebih mudah dan hitung hitung sebagai salah satu media belajar berbahasa inggris bagi saya hehehe.

Oke, kembali ktopik bahasan. Pada tulisan ini saya ingin memberikan sedikit ulasan dan pendapat tentang sebuah buku karya Paul Scarre yang berjudul Army of None. Secara garis besar buku dengan ketebalan 532 halaman termasuk dafar pustaka dan lampiran foto foto lainnya ini menggambarkan dan menceritakan tentang robot otonom dengan segala perkembangan dan kemudian kelebihan juga kelemahannya. Meski terlihat bahwa buku ini ditulis oleh seseorang yang mendukung aksi pelarangan robot otonom penuh, namun yang saya suka dari penulis ini adalah pemberian narasi yang sangat minim bias subyektifitas untuk pihah yang pro dengan robot otonom dan yang saya sukai dari buku ini adalah kemampuan sang penulis dalam menyusun ceritanya sehingga tidak monoton dan membiosankan untuk dibaca disertai pengungkapan fakta fakta yang mengagetkan terkait perang dan persenjataan.

Sebagai salah satu penghargaan terhadap buku ini dan ekspresi saya yang menyukai buku ini maka pada tulisan ini saya akan mengulas hal hal menarik yang saya temui pada buku ini. Jika tertarik silahkan teman teman lanjutkan bacaan ini #monggo

Narasi Perang Dunia Ke III yang Hampir Saja Terjadi

Buku ini diawali dengan sebuah narasi yang menurut saya sudah menggambarkan segala pergulatan batin tentang baik tidaknya sebuah senjata otonom melalui suatu kejadian yang mungkin banyak orang tidak ketahui bahwa bumi ini pernah hampir kiamat. Ini sebuah peristiwa di zaman perang dingin antara Soviet dan Amerika. Saat itu perlombaan senjata nuklir membawa kedua kubu kedalam suatu kondisi tipis tipis mendekati perang nuklir.

Ilustrasi ledakan nuklir, Jika bentuk ledakannya bisa berbentuk ala badut yang lagi ngece gitu semakin epik tampaknya ya hehehe (Sumber ilustrasi ExtremeTech)

Dalam ketegangan yang terjadi, pada malam hari tanggal 26 September 1983 Letkol Stanislav Petrov sedang berjaga dan mengemban tugas sebagai pelapor untuk peluncuran nuklir. Malam itu sirine tanda bahaya berbunyi dan berdasarkan satelit yang dimiliki oleh Soviet, Amerika telah meluncurkan roket berhulu ledak nuklirnya ke udara, dalam keraguannya jikalau saat itu terjadi kesalahan sistem kemudian muncul peringatan lagi yang ke dua dan seterusnya hingga ke lima yang menggabarkan bahwa lima roket telah meluncur dari Amerika.

Saat itulah Stanislav Petrov menghadapi pilihan yang berat dan penuh dengan keambiguan, tidak mudah baginya untuk memutuskan apakah peringatan tersebut benar ataupun sebuah kegagalan sistem dan tentunya kedua pilihan tersebut memiliki konsekuensi yang sangatlah besar bahkan dapat memicu terjadinya perang nuklir. Hingga waktu waktu terakhir akhirnya Stanislav Petrov menahan reaksi serangan untuk memastikan benar apa yang sedang terjadi.

Dan benar saja, ternyata tidak ada serangan dan objek yang terdeteksi sebagai peluncuran roket tersebut hanyalah pantulan sinar matahari oleh puncak awan. Coba bayangkan apa yang terjadi bila sistem peluncuran nuklir tersebut adalah sebuah sistim yang otonom, mungkin saja dunia akan jauh berbeda dengan hari ini.

Buku yang Bercerita [Tak Hanya] Tentang Robot

Meskipun pada bab bab awal buku ini menggambarkan seberapa cepat perkembangan robot saat ini baik yang bergerak didarat, lautan hingga udara. Baik yang bergerak sebagai robot tunggal maupun yang berbentuk kawanan (swarm). Di awal kita disuguhkan betapa dasyatnya perkembangan robot dari yang otomatis (Automatic) yang secara sederhana merasakan dan menjalankan aksi sesuai dengan program linear/ atau batasan situasi yang telah diberikan atau secara sederhana dapat disebut sebagai threshold-based system. Automated (saya tidak tahu padanan kata yang pas untuk istilah ini) sebagai suatu sistem yang mulai komplek dengan program nonliniernya dan memiliki pembobotan pembobotan pada masing masing pilihannya atau secara sederhana dapat disebut sebagai rule-based system. Hingga yang terakhir adalah Otonom (Autonomous) sebagai suatu sistem “robot” yang telah memiliki kecerdasan dapat menentukan sendiri langkah langkah yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (goal-based/self-directed system).

X-47B sebagai salah satu drone yang secara otonom pada tahun 2013 dapat mendarat di sebuah kapal induk dan menjadinya sebagai salah satu batu pijakan penting menuju perkembangan tekhnologi senjata otonom.

Dalam buku ini, Paul Scharre tidak hanya menampilkan perkembangan robot otonom dengan segala citranya yang dibangun seperti pada film film fiksi ilmiah dari astroboy hingga terminator. Namun lebih dari itu, buku ini juga menjelaskan perkembangan pertarungan manusia dari saling pukul, melempar batu, menuju pada senjata tajam, panah, senjata api senjata mesin dan seterusnya dengan berbagai konsekuensi yang diakibatkan baik dari segi teknis, segi efektifitas dalam perang hingga segi moral yang ditabrak. Berdasarkan itu pula kemudian Paul Scharre dengan sangat apiknya menyandingkan dan membandingkan kedua sisi sentimen positif dan negaif dari senjata otonom.

Dalam penjelasan dan proses membangun narasinya tersebut diungkap pula beberapa fakta yang membuat saya kaget dan terdiam sementara. Salah satunya adalah dalam perang ternyata lebih dari 80% tentara sengaja memelesetkan tembakannya agar mengarah pada arah yang salah dan tidak mengenai target seperti diatas kepala, dan beberapa sisi yang sengaja mereka simpangkan agar tidak mengenai musuh mereka. Hal ini diakibatkan oleh suatu penghambat alamiah suatu spesies untuk tidak membunuh sesamanya, namun karena kondisi psikologis, tekanan dari pihak berkuasa, difusi tanggung jawab, dehumanisasi musuh serta peningkatan jarak secara psikologis, pada akhirnya hambatan alamiah manusia yang menjadikan keengganan untuk membunuh abai dan terkalahkan.

Chappie, sebuah film tentang robot otonom yang cakep dan agaknya saya jadi ingin nonton lagi stelah baca buku ini dibandingkan dengan film terminator, ini lebih oke kayak e (sumber: Digital Trends)

Saya rasa faktor-faktor inilah yang dimanfaatkan dan di modifikasi oleh orang orang yang berkepentingan baik pihak militer maupun pihak perekrut terorisme dalam menyiapkan seseorang untuk siap membunuh sesamanya. Sehingga terkadang kita kita tidak melihat ekspresi bersalah dan tertekan pada pelaku pembunuhan baik dalam suatu operasi militer maupun aksi aksi tidak bertanggung jawab yang terorganisir lain seperti tindakan terorisme. Saya akan coba menguraikannya secara singkat satu persatu, bukan untuk mengajarkan cara cuci otak tetapi sekedar informsi agar tidak terperosok kedalam hal tersebut, karena disekitar kita baik secara sadar ataupun tidak sudah bertebaran hal hal tersebut.

  • Pertama adalah mengkondisikan psikologis seseorang dengan berbagai cara seperti salahsatunya adalah memaparkannya pada informasi dan situasi situasi ekstrim.
  • Kedua adalah meberikan tekanan berdasarkan kekuasaan, baik dengan fisik langsung maupun tindakan tindakan yang menyebabkan seseorang tidak berdaya untuk menolak.
  • Cara ketiga adalah mendifusikan tanggung jawab dengan cara pembagian tugas yang guyub dan rumit sehingga mengaburkan fakta terkait siapa yang bertanggung jawab sebenarnya.
  • Cara keempat adalah dehumanisasi musuh dengan mengikis sisi humanisnya baik secara langsung maupun dengan narasi yang berputar yang memberikan sisi jahat, hewan dan tidak manusiawinya musuh tersebut dan jauh dari sisi manusia. Atau dengan menggantikan target manusia pada musuh menjadi target target fisik lainnya seperti bangunan dll yang kemudian secara tidak langsung juga emberikan dampak pada musuh
  • Cara kelima adalah membuat suatu jarak fisik dan psikologis antara seseorang dan musuhnya hingga kemudian juga dapat memberikan efek dehumanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jarak fisik dan juga memisahkan dan meningkatkan perbedaan perbedaan antara lawan dan musuh sehinggi muncul penggolongan yang ekstrim.

Jadi melenceng ya dari yang seharusnya. Sebenarnya tidak, karena ternyata dalam kajian kajian yang di jelaskan dalam buku tersebut, ternyata kehadiran senjata otonom akan meningkatkan kelima faktor tersebut yang kemudian menjadikan pembunuhan musuh menjadi sesuatu peristiwa yang biasa dan tidak ada yang perlu menanggung beban tanggung jawab karenanya. Hal inilah yang kemudian ditakutkan meski harus diakui pengaplikasian enjata otonom dapat meningkatkan presisi dan efektifitas dalam peperangan, nmaun sebagai dampak sampingnya yang mengaburkan beban tanggung jawab dan lainnya maka opsi perang akan semakin mudah untuk dipilih. Dan tentunya hal tersebut bukanlah hal yang diinginkan. Biar bagaimanapun juga “There is no glory in war” (Silvia Cartwright )

In a world where autonomous weapons bore the burden of killing, fewer soldiers would presumably suffer from moral injury. There would be less suffering overall. From a purely utilitarian, consequentialist perspective, that would be better. But we are more than happiness-maximizing agents. We are moral beings and the decisions we make matter.

(Paul Scharre, Army of None)

Ini suatu qoutes yang paling saya sukai dalam buku ini. Dari quote ini kita diingatkan bahwa bukan sekedar agen yang hanya mengejar dan memaksimalkan kebahagiaan diri kita, kebahagiaan apapun itu baik kebahagiaan di dunia ataupun kebahagiaan diakherat. Kita tercipta untuk lebih dari itu, kita adalah entitas moral yang segala tindakannya memiliki arti, baik untuk diri sendiri, orang lain dan mungkin bila boleh sedikit hiperbola saya dengan yakin mengatakan bahwa kita jugalah yang menjadi bagian dalam menggerakan dunia ini akan kemana dimasa depan apakah baik ataupun suram tergantung dari tinakan kita dan keberanian kita bertanggung jawab setelahnya.

Saya kira cukup itu dulu untuk cerita tentang buku Army of None saat ini, saya suka buku ini dan menilai 4/5 dan jika teman teman berminat silahkan baca hehehe dan ingat belilah secara legal (tapi kalau pingin link yang ilegal silahkan hubungi saya hehehe #bercanda). Sampai jumpa pada tulisan saya berikutnya

Salam ala cyborg

dewa putu a

Sumber Sumber
  • Scarre, Paul, “Army of None: Autonomous Weapons and the Future of War”,2018
  • Featured Image by Computerizer from Pixabay

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

Rekomendasi 7 Buku Terbaik yang Layak Kita Koleksi dan Baca

April 23, 2019 — by dewaputuam0

5924-min-960x641.jpg
Buku adalah salah satu teman terbaik manusia. Ia menyimpan pesan, rasa dan suasana masa lalu dan sekarang, mengabadikannya untuk masa kini dan masa yang akan datang (Sumber Ilustrasi: jannoon028 Freepik)

Untuk ikut serta dalam memeriahkan hari buku sedunia yang dirayakan setiap 23 April, pada kesempatan kali ini saya akan menyodorkan sekaligus merekomendasikan 7 Buku terbaik yang pernah saya baca, setidaknya hingga saat ini. Saya akui ini bukan suatu pilihan yang mudah karena menurut saya buku-buku yang saya baca mayoritas bagus-bagus, karena buku yang kurang bagus biasanya tidak pernah selesai saya baca hehehe. Dari kesekian buku yang telah saya tersebut kebanyakan memiliki ciri khasnya masing masing dan tentunya tidak sedikit yang akhirnya membuka mata saya tentang hal hal yang sebelumnya tidak saya sadari. Tidak perlu berlama lama lagi, berikt ini adalah 7 Buku Terbaik yang Layak di Koleksi dan di Baca menurut saya.

#1 “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl

Buku “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl adalah satu buku terbaik yang saya baca hingga saat ini, banyak kesan yang tertinggal dari buku ini. (Sumber: Medium.com)

Hingga saat ini, jika ditanya dan diminta untuk merekomendasikan satu saja buku terbaik yang layak untuk dibaca temen teman sepertinya saya tidak akan bingung dan dengan senang hati saya merekomendasikan buku ini. Ini adalah buku yang paling memberikan kesan bagi saya dan banyak sekali “Oooo moment” yang saya alami selama membaca buku ini.

Buku Man’s Search for Meaning menceritakan kisah hidup penulis dalam kamp pengkonsterasian Nazi selama Perang Dunia ke II. Dari buku ini kita diberitahukan bahwa apa yang diinginkan manusia dan terus memberikan motivasi seorang manusia untuk hidup dan menjalani hidup adalah karena ada makna yang diyakini dan diperjuangkan. Dari sini kita belajar bahwa terkadang memang kita temui orang orang yang bertindak buruk dan keji bagi kita sebenarnya tidak sekedar mengejar tahta ataupun kekuasaan namun lebih dari itu ada sebuah makna yang sedang ia perjuangkan.

Apapun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia, kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.

Viktor E. Frankl

Melalui buku ini kita akan dikenalkan suatu konsep terkait logo terapi (terapi makna) yang didalamnya dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Salah satu konsepnya pernah saya tuliskan di dalam tulisan saya yang berjudul “Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya di link ini. Paradoxical Intention pada intinya adalah suatu paradox yang membuat suatu hal menjadi nyata saat kita sangat berusaha agar hal tersebut tidak terjadi, namun sebaliknya akan begitu sulit tercapai ketika kita sangat menginginkannya. Saya membaca buku ini melalui platform google playbook, jika berminat versi cetaknya sepertinya masih dijual di beberapa toko buku online.

#2 “Don’t Follow Your Passion” karya Cal Newport

Saya memilih buku ini karena melihat bukunya yang cukup nyeleneh dibandingkan buku buku sejenis lainnya. (Sumber Gambar: Femina)

Jika teman teman sudah terlalu jenuh dengan petuah petuah yang memberi semangat kita untuk “bermimpi besarlah kalian, kejar passion kalian, kalian akan sukses bila kalian mengerjakan apa yang anda cintai” dan frasa frasa serupa yang membuai kita tentang indahnya bekerja sesuai passion, dalam buku ini kita akan dibangunkan dari mimpi kita.

Buku ini tidak memandang buruk orang orang yang mengejar passion mereka, buku ini sekedar mengingatkan bahwa tidak semua passion anda akan memberikan kesuksesan di kemudian hari. Alih alih berjibaku dan menjadi kutu loncat demi mengejar sebuah passion, buku ini mengajarkan kepada kita agar kita memberdayakan dan terus mengembangkan apa yang telah dan sedang ada di sekitar kita. Dengan mengembangkan apa yang telah ada kita akan terus memperbaiki diri menjadi “begitu baik sehingga tidak ada yang bisa mengabaikan kita”.

#3 “O” sebuah novel karya Eka Kurniawan

Eka Kurniawan dan Bukunya yang berjudul “O” (Sumber gambar CNN Indonesia)

Agar tidak terkesan sebagai orang yang mabuk akan buku buku pengembangan diri yang selalu optimis dan melakukan salam salam super ala MLM agaknya ada baiknya saya sedikit memasukan salah satu novel terbaik yang pernah saya baca. Novel ini memiliki judul yang sangat singkat, hanya satu huruf di sana yaitu “O”. Novel ini merupakan karya yang menurut saya epik dari seorang novelis bernama Eka Kurniawan.

Secara garis besar novel ini menceritakan sebuah kisah cinta nan tragis dari seekor monyet yang mencintai seorang raja dangdut. NOvel ini adalah kombinasi antara komedi, keabsurd-an dan filosofis (meskipun saya sudah lupa letak filosofinya dimana). Yang saya suka dari buku ini adalah kelihaian sang penulis dalam menceritakan berbagai tokoh tokohnya yang absurd dari monyet, burung hingga kaleng sarden bekas yang digunakan untuk menampung koin topeng monyet.

Jika teman teman menginginkan bacaan ringan namun bertabur nilai nilai moral didalamnya, saya merekomendasikan buku ini untuk teman teman baca dengan segelas teh atau kopi panas.

#4 “Origin” sebuah novel dari Dan Brown

Buku yang sebelum penerbitannya sudah saya tunggu ber minggu minggu atau bahkan lebih dari sebulan (Sumber gambar: Whitehots)

Ini adalah buku Dan Brow kedua yang pernah saya baca setelah Inferno. Meskipun beberapa orang yang telah membaca karya karyanya Dan Brown menilai buku ini akan sama monotonnya dengan buku buku yang lain, namun berhubung saya baru membaca satu karya Dan Brown waktu itu maka saya kurang begitu mengharapkan keberagaman alur cerita dari sang penulis ini.

Saya akui alur dari buku ini memang sama dimana ada tokoh terkenal kemudian mati dengan meninggalkan misteri yang harus dipecahkan oleh Profesor ahli Symbology kita Robert Langdon dan kemudian terjadi kejar kejaran dan konflik semakin rumit dan blam kasus terselesaikan namun ada yang menggantung, dan kemudian muncul lah plot twist ke dua yang membalikan apa yang kita pikirkan sebelumnya. Seperti itu pola yang saya tangkap. Plot twist pamungkasnya secara berat hati dan dengan sedikit mengecewakannya sudah dapat saya tebak bahkan sebelum pertengahan cerita ini. Tetapi yang membuat saya terus melanjutkan ceritanya adalah, misteri utama berupa jawaban dari dua pertanyaan terpenting umat manusia seperti apa yang diungkap dalam novel ini.

Terlepas dari bisa ditebaknya tiwist yang diberikan dan alurnya yang mirip dengan cerita dan brown lainnya. Novel ini masih layak dibaca karena dapat memberikan kita arti dan maksud dari berbagai karya seni dan objek-objek yang di lalui oleh profeseor symbologi kita ini. Terkait jawaban dari kedua pertanyaan penting umat manusia tersebut saya sudah membuat sedikit ulasan saya dalam blog ini dengan judul “Fisika Asal Mula dan Evolusi Kehidupan” dalam link ini.

#5 “The Great Shifting” karya Rhenald Kasali

Saya adalah salah satu orang yang cukup suka membaca karya Prof Rhenald Kasali. Dari beberapa buku yang saya baca, buku ini menurut saya merupakan buku yang terbaik. Meskipun saya sedikit bingung memilih antara buku Distruption dan The Great Shifting ini namun karena menurut saya lebih banyak hal hal menarik diulas di sini maka saya memutuskan buku inilah karya yang paling saya suka.

Buku Karya Prof R. Kasali yang menurut saya sarat akan penjelasan penjelasan logis terkait hal hal menarik yang ada di dalam kehidupan kita saat ini. (Sumber Gambar: Rumah Perubahan)

Yang saya suka dari buku ini adalah cara sang penulis dalam menjelaskan Revolusi 4.0 sebagai suatu pergeseran besar. Tidak seperti beberapa tulisan yang menggambarkan Revolusi 4.0 sebagai suatu pemanfaatan besar besaran tekhnologi terkini untuk meningkatkan profit. Prof R. Kasali menjelaskan Pergeseran besar ini sebagai suatu kerangka mendasar yang bergerak dan berubah “dengan memanfaatkan tekhnologi tekhnologi yang ada”. Fokus pada buku ini adalah pergeserannya dan bukan hanya alatnya.

Disini banyak sekali dijelaskan fenomena fenomena yang terjadi di sekitar kita selama ini baik itu yang baik seperti fenomena berbagi kita hingga yang buruk seperti Cyber Bullying. Penjelasan yang diberikn buku ini juga menurut saya masuk akal dan mudah dimengerti. Saya secara kusus membahas buku ini melalui tulisan saya yang berjudul “[Buku] The Great Shifting” yang dapat teman teman baca melalui link ini. Konsep yang ada dalam buku ini juga saya tuliskan dalam posting saya yang berjudul “Kepribadian Lain” di Dunia Online dan Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana.

#6 The Everything Store: Jeff Bezos and the Age of Amazon karya Brad Stone

Buku The Everything Store Karya Brad Stone ini menceritakan salah perjalanan hidup dan bisnis manusia terkaya di dunia saat ini Jeff Bezos (Sumber Gambar LEAP.)

Buku ini sudah lama sekali saya baca dan sudah banyak hal yang saya lupakan dari ini buku hehehe. Secara garis besar buku ini menceritakan kisah seorang Jeff Bezos dengan impian yang tinggi dan usaha yang gigih akhirnya mampu menjadi orang terkaya di Dunia. Namun itu bukanlah impian tertingginya. Ia memiliki impian sejak kecil untuk dapat terbang keluar angkasa, dan dengan kekayaan yang begitu berlimpah sat ini ia dengan Blue Origin nya sedang berlomba melawan Elon Musk dengan SapaceX nya untuk merambah dan mengexplorasi luar angkasa.

Dari buku ini kita akan diberikan informasi informasi menarik, tidak hanya kelakuan Jeff Bezos yang sadis untuk mencapai tujuannya dengan memakan sumber sumber daya manusia terbaik dan juga tidak segan untuk memberhentikan pendirinya sekalipun jika tidak dapat mengimbangi kecepatan pertumbuhan Amazon.Kita juga diberikan gambaran trik trik yang dilakukan Amazon dalam memahami dan menguasai pasar nya hingga membuatnya menjadi Toko terbesar di dunia yang cerdas. Berawal dari toko buku dan popok, amazon kini menjual segalanya.

#7 Elon Musk: Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future karya Ashlee Vance

Tidak adil rasanya bila saya memasukan buku biografi Jeff Bezos tanpa memasukan pula buku biografi rivalnya Elon Musk yang digadang gadang sebagai Tony Stark nya dunia nyata. Buku ini juga yang saya rasa cocok mengakhiri daftar saya kali ini karena buku inilah buku yang saya tunggu tunggu versi bahsa indonesianya sekian lama. Sekalinya muncul di toko buku yang versi bahasa indonesia tanpa pikir panjang saya pun langsung mengakuisisinya.

Elon Musk, Sang Tony Stark yang hidup di dunia nyata. Sama seperti Jeff Bezos, sosok ini adalah penggila buku sejak kecil dan kini juga sama sama berlomba dalam mengeksplorasi luar angkasa dengan SpaceX nya (Sumber Gambar: Medium)

Buku karya Ashlee Vance menceritakan kisah hidup seorang kutu buku genius dan aneh dari Afrika Selatan yang kemudian berangkat ke Amerika untuk mengadu nasib dan hingga saat ini akhirnya ia dikenal sebagai Tony Stark di dunia Nyata. Elon Musk adalah seorang yang sudah Jenius sejak kecil, di usia 12 tahun ia sudah dapat menciptakan sebuah game bernama Blastar yang kemudian dijualnya seharga 500 dolar. Tidak berhenti dari situ, ia yang sejak kecil gemar membaca buku dari berbagai genre ini membawanya menjadi seorang Expert Generalist yang secara sederhana dapat dikatakan seorang ahli untuk segala hal.

Keahliannya di segala bidang ini dibuktikan oleh dirinya dengan cara mengubah pandangan pandangan yang ada selama ini mungkin terasa aneh dan mustahil menjadi suatu yang nyata dan keren. Ia turut membangun sebuah tekhnologi finansial yang kini disebut sebagai Paypal yang kemudian mampu mendistrupsi cara pandang orang terkait finansial. Di sektor otomotif, ia mengubah pandangan orang yang dulunya merasa mobi listrik sebagai seuatu yang aneh dan tidak keren designnya menjadi suatu karya seni yang keren dan menawan dengan deretan mobil Teslanya bahkan akselerasinya dapat bersaing dengan mobil mobil buas saat ini. Di bidang energi ia menciptakan Solar City, di bidang explorasi luar angkasa seperti yang sudah disebutkan sebelumnya ia membuat SpaceX yang salah satu roketnya membawa satelit Indonesia baru baru ini.

Saya rasa cukup sampai sini saja dulu rekomendasi buku buku terbaik yang menurut saya layak teman teman koleksi dan baca. Sekian dari saya, selamat hari buku se dunia,

Salam literasi

dewa putu am

Feature Image by jcomp – www.freepik.com

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Orang-Orang Biasa, Andrea Hirata

April 18, 2019 — by dewaputuam0

orang-orang-biasa-andrea-hirata-960x960.jpg
Ilustrasi Buku Orang-Orang Biasa yang merupakan karya ke 11 Andrea Hirata, (Sumber gambar: MarkasBuku.com

Buku ini menceritakan kisah getir, keren nan bodoh dari Sepuluh sekawan. Sekawan-Sekawan biasanya hanya lima orang kan yak, Seperti yang Andrea Hirata dalam salah satu bab yang berjudul Idealisme ia juga mengatakan seperti itu. Dari bab yang sama pula penulis ini melakukan curhat colongan dengan keren sih menurut saya dan mengatakan bahwa menulis tokoh utama yang berjumlah sepuluh (sepuluh sekawan) bukan main susahnya. “Pengarang yang tak kuat mental akan mundur karena bukan main susahnya mengingat nama sepuluh orang itu”. Hahahah ni penulis songong amat yak, melalui tulisan itu dia secara langsung menyanjung dirinya sendiri bahwa ia adalah penulis yang kuat mental. Dan tentulah saya akui dia memang penulis yang seperti itu dan juga hebat (huaaaaa next novel please next novel…).

Sekilas tentang buku dan isi nya yang biasa-biasa ini

Menurut apa yang diruliskan di Mizanstore, buku “Orang-Orang Biasa” merupakan karya ke 11 dari seorang Andrea Hirata dan buku yang saya baca adalah terbitan Bentang Pustaka cetakan Februari 2019. Buku dengan sampul berwarna kuning dan bergambar seseorang menggunakan topeng monyet sedang memikul buntelan ini memiliki sekitar 300 halaman dan 40 bab. Saya rasa tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis untuk sebuah buku novel dan untuk normal akan dapat dilahap sekitar 1 hingga 2 hari.

Kembali pada segi cerita, Seperti yang sudah disebutkan diawal, Orang-Orang biasa merupakan sebuah kisah tentang Sepuluh sekawan yang rata rata memiliki tingkan inteligensi dibawah rata rata dengan segala kelakuan yang ajaib. Mereka terkumpul di barisan bangku paling belakang kelas baik secara alami maupun secara tidak alami (ada juga sedikit unsur kesengajaan). Ini bukan kisah sepuluh sekawan yang dengan kebersahajaannya saling bahu membahu dan kompak dalam menaklukan dunia, cerita mereka tidaklah sehebat itu namun tidak pula kurang hebat dari pada itu.

Kebersaman mereka terus terjaga hingga mereka tumbuh dewasa bahkan beberapa dari mereka sudah menikah (ada yang berkali-kali) dan sebagian pula telah memiliki anak. Hingga dewasa, kadar kekonyolan mereka tidaklah berkurang bahkan dapat dikatakan semakin meningkat. Namun semua berubah ketika salah satu anak mereka di terima di jurusan kedokteran salah satu kampus ternama di Negeri, namun sayangnya uang awal yang harus dibayar untuk masuk jurusan itu sangatlah besar sehingga tidaklah mampu orang tua dari si anak itu membayar bahkan untuk meminjam di koperasi simpan pinjam ataupun bank ia tidak bisa.

Seolah menjadi secercah harapan bagi kelompok mereka yang sedari dulu terikat dalam lingkaran setan kebodohan dan kemelaratan, mereka pun dengan sekuat tenaga dan kerjasama yang tidak kompak merencanakan suatu misi yang sangat besar yang kemudian mengubah wajah dan pandangan seisi kota.

Opini saya yang biasa ini untuk buku Orang-Orang Biasa

Ijinkan saya untuk sedikit mengatakan kalimat klise yang merupakan template dari berbagai opini saya tentang buku yang saya baca. Berikut frasa tersebut. “Buku ini sangat bagus dengan ide dan cara bercerita yang unik dan menarik.” yah kira kira seperti itu kalimat awal saya untuk memberikan opini pada buku ini.

Harus saya akui buku ini sangat bagus dan lucu. Meskipun penokohannya untuk beberapa karakter saya rasa tidak begitu kuat dai kesepuluh sekawan dan hanya beberapa yang saya anggap sangat menonjol, semacam kurang proporsional gitu. Karena hal tersebut saya melihatnya beberapa tokoh malah digendong oleh karakter tokoh lainnya tanpa memberikan suatu peran yang berarti. Justru beberapa tokoh sampingan banyak diceritakan dan lebih berkarakter dibandingkan sepuluh sekawan itu.

Jika kita lihat gambaran besarnya, sepuluh sekawan ini tetaplah diceritakan dengan baik dan fokus oleh sang penulis, jikalau proporsi masing masing karakter dalam sepuluh sekawan tersebut kurang optimum cukup masuk akal dan bisa dimaklumi sih karena untuk membuat 10 tokoh tersebut bukanlah hal yang mudah seperti yang dituliskan oleh sang penulis pada paragraf awal.

Ada satu lagi yang saya cukup sayangkan dari buku ini adalah, tokoh sepuluh sekawan pada akhir akhir cerita kenapa tergambar begitu keren ya, seolah kebodohan mereka yang dulu hilang begitu saja setelah rencana rencana mereka berakhir, meski ada satu kejadian konyol terjadi setelah rencana mereka berhasil dilaksanakan namun pada bagian akhir cerita sentuhan sentuhan kejenakaan yang kecil namun ngena yang pada awal awah terhambur begitu saja tiba tiba hilang dan muncul lah sosok baru yang benar benar beda dan keren.

Salah satu isi dalam buku Oran-orang Biasa (Sumber Gambar: Bentang Pustaka)

Ini sebuah cerita tentang kehidupan penghuni bangku belakang yang selama ini diidentikan dengan murid murid begundal dan bodoh, yup cukup begundal dan bodoh digambarkan pula dibuku ini. Namun lihat lah saat mereka bersatu dan beraksi, mereka tetaplah begundal dan bodoh. Namun mereka tidak dapat disepelekan dan direndahkan karena merka juga bisa hebat.

Ada suatu padangan saya tentang orang orang yang selama ini selalu duduk di bangku belakang, ini dari saya yang duduk di dua baris terdepan ya. Hal ini baru saya renungkan akhir akhir ini stelah membaca buku orang orang biasa.

“Orang orang bangku belakang bukanlah orang orang yang paling sedikit mendapatkan pelajaran di kelas. Bila orang orang yang duduk didepan belajar pada guru [saja]. Orang orang di bangku belakang lebih dari itu, mereka tidak hanya belajar dari guru, tetapi belajar pula dari murid murid lain didepan mereka, tidak hanya soal pelajaran tetapi juga tentang kehidupan” . Oleh karena itu adalah suatu yang sangat mungkin jikalau esok mereka justru lebih berhasil dari pada orang orang yang duduk di bangku depan #Kayaknyabegitusih

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa sekian dulu dari saya, saya merekomendasikan buku ini untuk teman teman baca sebagai salah satu hiburan sembari menikmati teh atau kopi. Karena buku ini sangat layak untuk dibaca hehehe

Salam hangat dari orang orang biasa

Dewa Putu AM

BukuHiburan

[Buku] Lion, A Long Way Home

April 18, 2019 — by dewaputuam4

81tiRKOJKRL-960x1473.jpg
Sampul Buku “Lion, A Long Way Home” Karya Saroo Brierley (Sumber Gambar: Amazon)

Awalnya saya membeli buku ini untuk menemani saya saat nyepi, agar dapat menghilangkan sedikit bosan dikala kita tidak melakukan apa apa, jauh dari gadget tidak bisa nonton televisi dan segala aturan pengendalian diri yang khas dalam perayaan nyepi. Secara nista, saat itu saya memilih buku ini karena masuk kedalam jajaran buku internasional best seller. Melihat ada tag tersebut sudah membuat rasa ingin tahu saya terpicu dan kemudian mengarahkan lengan saya untuk meraihnya hingga ke meja kasir. Saya akui saya termasuk lemah pada buku buku yang ada tag seperti ini, yah seperti international, new york times, national best seller dan best seller lainnya. hehehe

Buku yang saya baca kali ini adalah versi terjemahan bahasa indonesia oleh Agnes Cynthia penerbit Gramedia dari buku dengan judul yang sama “Lion, A Long Way Home” Karya Saroo Brierley & Larry Buttrose. Buku ini tidak terlalu tebal yakni 290 an halaman. Hal ini yang awalnya saya pikir dapat dilahap habis saat nyepi. Ternyata takdirpun berkata lain, saat nyepi saya hanya dapat menyelesaikan 30% dari buku ini dan kemudian terbengkalai karena say lebih tertarik membaca buku lain kemudian baru selesai tanggal 15 April kemarin. Secara normal buku ini seharusnya dapat dihabiskan dalam 2-3 hari lah.

Gambaran Umum Isi Cerita Buku Ini

Buku ini merupakan kisah nyata dari sang penulisnya yang sempat menghebohkan publik India atau bahkan dunia saat itu. Ini adalah cerita tentang seorang anak kecil (penulis sendiri) yang hidup dari keluarga sangat miskin dengan segala kebersahajaannya. Kehidupan anak kecil itu kemudian berubah, dari yang sebelumnya susah menjadi sangat susah saat ia tiba tiba tersesat akibat mengikuti kakaknya ke kota. Di-umur yang sangat muda tersebut Saroo kecil pun hanya mengingat dua kata yaitu “Ginestlay” dan “Berampur”. Hanya kedua kata tersebut yang ia ingat untuk menggambarkan dari mana ia berasal dan ternyata kedua kata itu tidak dapat membantunya pulang karena kedua kata tersebut begitu asing didengar.

Perjuangan saroo digambarkan sangat luar biasa disini, sebenarnya ingin saya pilih kata mengerikan dan menyedihkan namun apa yang diceritakan disini justru pada begitu “kuatnya” saroo saat itu menghadapi suatu kesusahan yang menurut saya sudah terlalu eksrim. Setelah beberapa lama hidup di stasiun dan sekitaran kota, saroo akhirnya dibawa masuk ke suatu rumah bagi anak anak terlantar untuk kemudian dibantu dan juga bila tidak berhadil ditemukan rumah ini juga sekaligus menghubungkan anak anak tersebut kepada orang tua yang ingin mengadopsinya. Dari rumah tersebut akhirnya Saroo diadopsi oleh sepasang suami istri yang berdomisili di Australia.

Kehidupan Saroo pun tiba tiba berubah 180 derajat. Saroo yang dulunya tinggal dan hidup miskin di perkampungan kumuh di India, kemudian menjadi seorang anak angkat dari keluarga yang cukup berada yang tinggal di Australia.

Saroo melanjutkan hidupnya dengan bahagia, meskipun terkadang diceritakan pula bahwa ada juga sedikit konflik antara dirinya dan kedua orang tua angkatnya. Namun semua itu dapat diselesaikan dengan dewasa dan terkadang cukup lucu.

Dengan tanpa meninggalkan dunianya yang baru, Saroo yang kian dewasa terus melakukan pencarian asal muasal dirinya dan keberadaan orang tuanya bertahun tahun. Bertahun tahun itu pula Saroo selalu menjaga ingatan setiap detail rumah dan tempat tinggalnya yang dulu, dengan harapan dapat membantunya kemudian hari dalam mencari rumahnya.

Tahun demi tahun berlalu Saroo terus mencari dimana rumahnya, dengan berbagai cara dari yang bersifat sporadis hingga pada cara cara yang sistematis dan terstruktur. Dengan menelusuri setiap nama tempat yang tercantum didalam Google Earth dan juga atas bantuan jejaring Facebook.

Foto Saroo Brierley bersama ibunya yang terpisah olehnya sangat lama namun karena kegigihannya akhirnya dapat dipertemukan kembali dengan cara yang tak diduga (Sumber Foto: Dailymails.co.uk)

Ombang ambing emosi Saroo tertulis dengan apik dalam buku ini. Apik yang saya maksud disini bukanlah suatu penggambaran naik turun emosi dan pendewasaan diri yang wah dengan segala keberlebihannya. Buku ini memberikan gambaran kepada kita perubahan saroo dari yang benar benar panik saat pertama kali terjebak di kereta, kemudian bangkit untuk sekedar tetap hidup, lalu jatuh lagi karena kegagalan menemukan rumahnya, lalu bangkit lagi dan begitu seterusnya dengan permasalahan permasalahan yang sebelumnya berkutat pada insting dasar makhluk hidup yakni untuk makan dan bertahan hidup, berubah pada pengambil alihan logika, lalu kemudian masuk pada sesuatu yang paling dalam yang ada pada diri manusia yakni perasaan.

Opini tentang Buku

Saya sebenarnya bingung bagaimana mencari suatu nilai dari buku ini. Hingga saya membaca ulasan di bagian belakang sampulnya, dan disana dituliskan bahwa “buku ini tidak hanya menceritakan perjalanan pulang kerumah, melainkan perjalanan psikologis untuk menemukan jati diri.” Saya sedikit mengenyitkan alis saya saat membaca hal tersebut. Saya merasa gagal karena kesulitan menemukan nilai tersebut didalam buku ini.

Nilai nilai saya tangkap justru sebuah nilai kemanusiaan yang sederhana yang dibalut dengan kepolosan sang pencerita hingga sesuatu yang sangat kelam bahkan untuk orang dewasa sekalipun diceritakan dengan bagus sekaligus mengerikan dalam buku ini.

Disini kita tidak dipertemukan dengan sosok antagonis. Hanya beberapa tokoh yang memiliki sudut pandang yang berbeda dan dengan pengalaman berbeda sehingga menghasilkan aksi yang berbeda yang mungkin menurut kita terlihat jahat, yang banyak justru sosok sosok figuran yang memiliki kesan tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Saya rasa ini adalah penggambaran yang paling sesuai tentang apa yang ada disekitar kita yang mana tidak ada yg benar benar jahat, dan yang paling banyak adalah kelompok kelompok yang tidak peduli.

Buku ini cukup bagus untuk dibaca, meski terkadang ada kesan membosankan hehehe.

Salam dari Saya

Dewa Putu AM

BukuDaily LifePsikologi

“Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya

March 30, 2019 — by dewaputuam3

fog-1208283_1920-960x641.jpg
Ilustrasi tentang hilang dan mungkin terlupakan (Image by Free-Photos from Pixabay)

“Dew, gimana cara untuk ngelupain seseorang ya, saya dah berusaha susah payah tapi tetep keinget lagi sama dia” tiba tiba saya dapat pertanyaan ini dari salah satu teman saya. Mendapat pertanyaan tersebut saya pun menjawab “Jangan kamu lupain dia, teruslah ingat dia sesering mungkin bahkan kalau bisa kepoin semua postingan dalam media sosial dia, nanti toh saat kamu jenuh dan lelah dengan sendirinya kamu akan melupakannya.” Ini jawaban saya saat itu, yah meski tidak persis benar perkata seperti demikian tetapi pada intinya sama lah seperti ini. Mungkin cara yang saya utarakan ini akan terkesan aneh bagi kalian tetapi sejujurnya saya memberikan saran tersebut dari sebuah buku yang pernah saya baca dan bukan serta merta dari pengalaman. Sebuah buku berjudul Man’s Search for Meaning Karya Viktor E. Frankl.

Saya kurang paham kenapa orang itu menanyakan hal tersebut kepada saya, mungkin karena saya gampang banget ngelupain orang ya, khususnya dalam hal nama. Mengingat adalah salah satu kelemahan yang ada pada diri saya, saya kurang mampu mengingat nama orang bahkan untuk beberapa jam saja. Hingga akhir akhir ini saat berkenalan dengan seseorang yang baru saya temui, jika saya rasa akan bertemu lagi dan berbincang bincang saya biasanya akan menuliskan namanya pada catatan di smartphone saya agar seawktu waktu saat berbincang saya dapat menyebutkan nama mereka, meskipun saat ingin mengawali percakapan saya tentunya mengecek catatan saya untuk memastikan nama yang saya sebutkan tepat.

“Paradoxical Intention”, Sebuah Paradox Tersembunyi yang Selalu Menentang Keinginan Kita

Ada beberapa konsep menarik yang diutarakan dan ditawarkan oleh Victor dalam bukunya, namun konsep yang akan saya bahas dalam tulisan ini hanya satu konsep yakni sebuah paradox yang secara sadar ataupun tidak sadar sering kita alami di kehidupan sehari hari. Mungkin kalian pernah ingin mencari sesuatu seperti remot televisi misalnya, tetapi anehnya benda itu tidak dapat kita temui saat itu hingga akhirnya kita tidak menginginkan untuk mencarinya dan secara ajaib benda tersebut muncul di hadapan kita. Atau saat kita sedang ngidam makan mie ayam gerobak dorong langganan kita, tapi apa daya kita tunggu berlama lama tak juga datang. Namun saat suatu hari perut kita kenyang atau ada banyak sekali lauk di rumah kita, secara tidak berperi keperutan pedagang mie ayam tersebut dengan merdunya memukul mukul gong besar dan lewat di depan rumah kita.

Saya tidak paham kenapa saya ingin menggunakan ilustrasi ini, saya rasa ilustrasi ini juga tidak begitu menggambarkan apa yang saya tulis di tulisan ini. Tapi ilustrasi ini tampak keren ya (Image by Jonny Lindner from Pixabay )

Beberapa kejadian di dalam kehidup kita terkadang sebegitu bercanda. Mereka hilang tak tergapai saat kita ingin dan butuhkan. Dan muncul begitu saja tanpa alasan saat kita sama sekali tidak membutuhkan. Bercanda banget kan ya terlihatnya. Peristiwa peristiwa inilah yang disebut oleh Victor sebagai “Paradoxical Intention”. Paradox ini didasarkan pada dua fakta yang pertama adalah hilangnya suatu hal saat kita menginginkan secara berlebihan dan fakta kedua yang berkebalikan adalah kemunculan suatu hal saat kita tidak menginginkan bahkan sangat takut hal itu muncul atau terjadi.

Berpegang pada konsep inilah yang kemudian saya menyarankan pada teman saya tersebut untuk menghentikan usahanya untuk melupakan seseorang. Hal ini saya sampaikan karena saya rasa ia sangat ngotot untuk melupakan orang itu atau dengan kata lain ia tidak ingin bahkan takut untuk sekedar mengingat orang yang mungkin telah menyakitkannya tersebut. Hal inilah yang tanpa ia sadari justru mengaktifkan efek dari Paradoxical Intention yang berdampak pada semakin munculnya ingatan ingatan tentang seseorang yang ingin ia lupakan.

Untuk mengatasi hal tersebut saya menyarankan sebuah paradox yang sama. Bukan mendukung untuk melupakan, saya justru memintanya untuk mengingat orang yang ingin itu dengan cara cara yang biasa hingga cara yang menurut saya juga sedikit konyol dan ekstrim yakni menstalking orang yang ingin ia lupakan tersebut setiap hari hehehe.

Saya tidak tahu cara yang sarankan berhasil atau tidak untuk teman saya itu, tetapi setidaknya hingga saat ini ia tidak pernah lagi curcol saya tentang hal ini. Eh beberapa kali masih kumatan seperti itu ding hanya intensitasnya sepertinya sudah sedikit berkurang. Saya menulis artikel ini pun mungkin dia akan terpelatuk dan ingat kembali, hehehe sorry sistah. Saya rasa tulisan ini perlu saya buat dan menarik untuk dibagikan. Tenang aja namamu tidak saya sebut ditulisan ini kan. Hehehe

Kita mungkin pernah menginginkan sesuatu dengan berlebihan, hingga tanpa sadar dengan adanya Paradoxical Intention dirimu justru semakin menjauh dari apa yang kamu inginkan. Inginlah secara sederhana, sesederhana dirimu yang ingin hidup dengan hanya bernafas.

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa segitu saja dulu tulisan saya hari ini, Saya harap semua dari kalian dapat memanfaatkan Paradoxical Intention dengan baik. Karena biar bagaimanapun juga sama seperti lainnya selalu ada dua sisi dari suatu hal sisi baik dan sisi buruk. Kita mendapatkan sisi yang mana tergantung dari apa yang kita pilih dan bagaimana usaha kita, jangan terlalu serius menghadapi sebuah hal dan jangan pula terlalu bercanda. Cukup yang sedang sedang saja.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Referensi dan Gambar
  • Konsep Paradoxical Intention adalah konsep Viktor E. Frankl yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning
  • Feature Image dan Ilustrasi pertama adalah karya Free-Photos from Pixabay
  • Gambar Ikan yang dinaikin manusia pada ilustrasi ke dua adalah karya Jonny Lindner from Pixabay