main

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Orang-Orang Biasa, Andrea Hirata

April 18, 2019 — by dewaputuam0

orang-orang-biasa-andrea-hirata-960x960.jpg
Ilustrasi Buku Orang-Orang Biasa yang merupakan karya ke 11 Andrea Hirata, (Sumber gambar: MarkasBuku.com

Buku ini menceritakan kisah getir, keren nan bodoh dari Sepuluh sekawan. Sekawan-Sekawan biasanya hanya lima orang kan yak, Seperti yang Andrea Hirata dalam salah satu bab yang berjudul Idealisme ia juga mengatakan seperti itu. Dari bab yang sama pula penulis ini melakukan curhat colongan dengan keren sih menurut saya dan mengatakan bahwa menulis tokoh utama yang berjumlah sepuluh (sepuluh sekawan) bukan main susahnya. “Pengarang yang tak kuat mental akan mundur karena bukan main susahnya mengingat nama sepuluh orang itu”. Hahahah ni penulis songong amat yak, melalui tulisan itu dia secara langsung menyanjung dirinya sendiri bahwa ia adalah penulis yang kuat mental. Dan tentulah saya akui dia memang penulis yang seperti itu dan juga hebat (huaaaaa next novel please next novel…).

Sekilas tentang buku dan isi nya yang biasa-biasa ini

Menurut apa yang diruliskan di Mizanstore, buku “Orang-Orang Biasa” merupakan karya ke 11 dari seorang Andrea Hirata dan buku yang saya baca adalah terbitan Bentang Pustaka cetakan Februari 2019. Buku dengan sampul berwarna kuning dan bergambar seseorang menggunakan topeng monyet sedang memikul buntelan ini memiliki sekitar 300 halaman dan 40 bab. Saya rasa tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis untuk sebuah buku novel dan untuk normal akan dapat dilahap sekitar 1 hingga 2 hari.

Kembali pada segi cerita, Seperti yang sudah disebutkan diawal, Orang-Orang biasa merupakan sebuah kisah tentang Sepuluh sekawan yang rata rata memiliki tingkan inteligensi dibawah rata rata dengan segala kelakuan yang ajaib. Mereka terkumpul di barisan bangku paling belakang kelas baik secara alami maupun secara tidak alami (ada juga sedikit unsur kesengajaan). Ini bukan kisah sepuluh sekawan yang dengan kebersahajaannya saling bahu membahu dan kompak dalam menaklukan dunia, cerita mereka tidaklah sehebat itu namun tidak pula kurang hebat dari pada itu.

Kebersaman mereka terus terjaga hingga mereka tumbuh dewasa bahkan beberapa dari mereka sudah menikah (ada yang berkali-kali) dan sebagian pula telah memiliki anak. Hingga dewasa, kadar kekonyolan mereka tidaklah berkurang bahkan dapat dikatakan semakin meningkat. Namun semua berubah ketika salah satu anak mereka di terima di jurusan kedokteran salah satu kampus ternama di Negeri, namun sayangnya uang awal yang harus dibayar untuk masuk jurusan itu sangatlah besar sehingga tidaklah mampu orang tua dari si anak itu membayar bahkan untuk meminjam di koperasi simpan pinjam ataupun bank ia tidak bisa.

Seolah menjadi secercah harapan bagi kelompok mereka yang sedari dulu terikat dalam lingkaran setan kebodohan dan kemelaratan, mereka pun dengan sekuat tenaga dan kerjasama yang tidak kompak merencanakan suatu misi yang sangat besar yang kemudian mengubah wajah dan pandangan seisi kota.

Opini saya yang biasa ini untuk buku Orang-Orang Biasa

Ijinkan saya untuk sedikit mengatakan kalimat klise yang merupakan template dari berbagai opini saya tentang buku yang saya baca. Berikut frasa tersebut. “Buku ini sangat bagus dengan ide dan cara bercerita yang unik dan menarik.” yah kira kira seperti itu kalimat awal saya untuk memberikan opini pada buku ini.

Harus saya akui buku ini sangat bagus dan lucu. Meskipun penokohannya untuk beberapa karakter saya rasa tidak begitu kuat dai kesepuluh sekawan dan hanya beberapa yang saya anggap sangat menonjol, semacam kurang proporsional gitu. Karena hal tersebut saya melihatnya beberapa tokoh malah digendong oleh karakter tokoh lainnya tanpa memberikan suatu peran yang berarti. Justru beberapa tokoh sampingan banyak diceritakan dan lebih berkarakter dibandingkan sepuluh sekawan itu.

Jika kita lihat gambaran besarnya, sepuluh sekawan ini tetaplah diceritakan dengan baik dan fokus oleh sang penulis, jikalau proporsi masing masing karakter dalam sepuluh sekawan tersebut kurang optimum cukup masuk akal dan bisa dimaklumi sih karena untuk membuat 10 tokoh tersebut bukanlah hal yang mudah seperti yang dituliskan oleh sang penulis pada paragraf awal.

Ada satu lagi yang saya cukup sayangkan dari buku ini adalah, tokoh sepuluh sekawan pada akhir akhir cerita kenapa tergambar begitu keren ya, seolah kebodohan mereka yang dulu hilang begitu saja setelah rencana rencana mereka berakhir, meski ada satu kejadian konyol terjadi setelah rencana mereka berhasil dilaksanakan namun pada bagian akhir cerita sentuhan sentuhan kejenakaan yang kecil namun ngena yang pada awal awah terhambur begitu saja tiba tiba hilang dan muncul lah sosok baru yang benar benar beda dan keren.

Salah satu isi dalam buku Oran-orang Biasa (Sumber Gambar: Bentang Pustaka)

Ini sebuah cerita tentang kehidupan penghuni bangku belakang yang selama ini diidentikan dengan murid murid begundal dan bodoh, yup cukup begundal dan bodoh digambarkan pula dibuku ini. Namun lihat lah saat mereka bersatu dan beraksi, mereka tetaplah begundal dan bodoh. Namun mereka tidak dapat disepelekan dan direndahkan karena merka juga bisa hebat.

Ada suatu padangan saya tentang orang orang yang selama ini selalu duduk di bangku belakang, ini dari saya yang duduk di dua baris terdepan ya. Hal ini baru saya renungkan akhir akhir ini stelah membaca buku orang orang biasa.

“Orang orang bangku belakang bukanlah orang orang yang paling sedikit mendapatkan pelajaran di kelas. Bila orang orang yang duduk didepan belajar pada guru [saja]. Orang orang di bangku belakang lebih dari itu, mereka tidak hanya belajar dari guru, tetapi belajar pula dari murid murid lain didepan mereka, tidak hanya soal pelajaran tetapi juga tentang kehidupan” . Oleh karena itu adalah suatu yang sangat mungkin jikalau esok mereka justru lebih berhasil dari pada orang orang yang duduk di bangku depan #Kayaknyabegitusih

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa sekian dulu dari saya, saya merekomendasikan buku ini untuk teman teman baca sebagai salah satu hiburan sembari menikmati teh atau kopi. Karena buku ini sangat layak untuk dibaca hehehe

Salam hangat dari orang orang biasa

Dewa Putu AM

BukuHiburan

[Buku] Lion, A Long Way Home

April 18, 2019 — by dewaputuam4

81tiRKOJKRL-960x1473.jpg
Sampul Buku “Lion, A Long Way Home” Karya Saroo Brierley (Sumber Gambar: Amazon)

Awalnya saya membeli buku ini untuk menemani saya saat nyepi, agar dapat menghilangkan sedikit bosan dikala kita tidak melakukan apa apa, jauh dari gadget tidak bisa nonton televisi dan segala aturan pengendalian diri yang khas dalam perayaan nyepi. Secara nista, saat itu saya memilih buku ini karena masuk kedalam jajaran buku internasional best seller. Melihat ada tag tersebut sudah membuat rasa ingin tahu saya terpicu dan kemudian mengarahkan lengan saya untuk meraihnya hingga ke meja kasir. Saya akui saya termasuk lemah pada buku buku yang ada tag seperti ini, yah seperti international, new york times, national best seller dan best seller lainnya. hehehe

Buku yang saya baca kali ini adalah versi terjemahan bahasa indonesia oleh Agnes Cynthia penerbit Gramedia dari buku dengan judul yang sama “Lion, A Long Way Home” Karya Saroo Brierley & Larry Buttrose. Buku ini tidak terlalu tebal yakni 290 an halaman. Hal ini yang awalnya saya pikir dapat dilahap habis saat nyepi. Ternyata takdirpun berkata lain, saat nyepi saya hanya dapat menyelesaikan 30% dari buku ini dan kemudian terbengkalai karena say lebih tertarik membaca buku lain kemudian baru selesai tanggal 15 April kemarin. Secara normal buku ini seharusnya dapat dihabiskan dalam 2-3 hari lah.

Gambaran Umum Isi Cerita Buku Ini

Buku ini merupakan kisah nyata dari sang penulisnya yang sempat menghebohkan publik India atau bahkan dunia saat itu. Ini adalah cerita tentang seorang anak kecil (penulis sendiri) yang hidup dari keluarga sangat miskin dengan segala kebersahajaannya. Kehidupan anak kecil itu kemudian berubah, dari yang sebelumnya susah menjadi sangat susah saat ia tiba tiba tersesat akibat mengikuti kakaknya ke kota. Di-umur yang sangat muda tersebut Saroo kecil pun hanya mengingat dua kata yaitu “Ginestlay” dan “Berampur”. Hanya kedua kata tersebut yang ia ingat untuk menggambarkan dari mana ia berasal dan ternyata kedua kata itu tidak dapat membantunya pulang karena kedua kata tersebut begitu asing didengar.

Perjuangan saroo digambarkan sangat luar biasa disini, sebenarnya ingin saya pilih kata mengerikan dan menyedihkan namun apa yang diceritakan disini justru pada begitu “kuatnya” saroo saat itu menghadapi suatu kesusahan yang menurut saya sudah terlalu eksrim. Setelah beberapa lama hidup di stasiun dan sekitaran kota, saroo akhirnya dibawa masuk ke suatu rumah bagi anak anak terlantar untuk kemudian dibantu dan juga bila tidak berhadil ditemukan rumah ini juga sekaligus menghubungkan anak anak tersebut kepada orang tua yang ingin mengadopsinya. Dari rumah tersebut akhirnya Saroo diadopsi oleh sepasang suami istri yang berdomisili di Australia.

Kehidupan Saroo pun tiba tiba berubah 180 derajat. Saroo yang dulunya tinggal dan hidup miskin di perkampungan kumuh di India, kemudian menjadi seorang anak angkat dari keluarga yang cukup berada yang tinggal di Australia.

Saroo melanjutkan hidupnya dengan bahagia, meskipun terkadang diceritakan pula bahwa ada juga sedikit konflik antara dirinya dan kedua orang tua angkatnya. Namun semua itu dapat diselesaikan dengan dewasa dan terkadang cukup lucu.

Dengan tanpa meninggalkan dunianya yang baru, Saroo yang kian dewasa terus melakukan pencarian asal muasal dirinya dan keberadaan orang tuanya bertahun tahun. Bertahun tahun itu pula Saroo selalu menjaga ingatan setiap detail rumah dan tempat tinggalnya yang dulu, dengan harapan dapat membantunya kemudian hari dalam mencari rumahnya.

Tahun demi tahun berlalu Saroo terus mencari dimana rumahnya, dengan berbagai cara dari yang bersifat sporadis hingga pada cara cara yang sistematis dan terstruktur. Dengan menelusuri setiap nama tempat yang tercantum didalam Google Earth dan juga atas bantuan jejaring Facebook.

Foto Saroo Brierley bersama ibunya yang terpisah olehnya sangat lama namun karena kegigihannya akhirnya dapat dipertemukan kembali dengan cara yang tak diduga (Sumber Foto: Dailymails.co.uk)

Ombang ambing emosi Saroo tertulis dengan apik dalam buku ini. Apik yang saya maksud disini bukanlah suatu penggambaran naik turun emosi dan pendewasaan diri yang wah dengan segala keberlebihannya. Buku ini memberikan gambaran kepada kita perubahan saroo dari yang benar benar panik saat pertama kali terjebak di kereta, kemudian bangkit untuk sekedar tetap hidup, lalu jatuh lagi karena kegagalan menemukan rumahnya, lalu bangkit lagi dan begitu seterusnya dengan permasalahan permasalahan yang sebelumnya berkutat pada insting dasar makhluk hidup yakni untuk makan dan bertahan hidup, berubah pada pengambil alihan logika, lalu kemudian masuk pada sesuatu yang paling dalam yang ada pada diri manusia yakni perasaan.

Opini tentang Buku

Saya sebenarnya bingung bagaimana mencari suatu nilai dari buku ini. Hingga saya membaca ulasan di bagian belakang sampulnya, dan disana dituliskan bahwa “buku ini tidak hanya menceritakan perjalanan pulang kerumah, melainkan perjalanan psikologis untuk menemukan jati diri.” Saya sedikit mengenyitkan alis saya saat membaca hal tersebut. Saya merasa gagal karena kesulitan menemukan nilai tersebut didalam buku ini.

Nilai nilai saya tangkap justru sebuah nilai kemanusiaan yang sederhana yang dibalut dengan kepolosan sang pencerita hingga sesuatu yang sangat kelam bahkan untuk orang dewasa sekalipun diceritakan dengan bagus sekaligus mengerikan dalam buku ini.

Disini kita tidak dipertemukan dengan sosok antagonis. Hanya beberapa tokoh yang memiliki sudut pandang yang berbeda dan dengan pengalaman berbeda sehingga menghasilkan aksi yang berbeda yang mungkin menurut kita terlihat jahat, yang banyak justru sosok sosok figuran yang memiliki kesan tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Saya rasa ini adalah penggambaran yang paling sesuai tentang apa yang ada disekitar kita yang mana tidak ada yg benar benar jahat, dan yang paling banyak adalah kelompok kelompok yang tidak peduli.

Buku ini cukup bagus untuk dibaca, meski terkadang ada kesan membosankan hehehe.

Salam dari Saya

Dewa Putu AM

BukuDaily LifePsikologi

“Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya

March 30, 2019 — by dewaputuam3

fog-1208283_1920-960x641.jpg
Ilustrasi tentang hilang dan mungkin terlupakan (Image by Free-Photos from Pixabay)

“Dew, gimana cara untuk ngelupain seseorang ya, saya dah berusaha susah payah tapi tetep keinget lagi sama dia” tiba tiba saya dapat pertanyaan ini dari salah satu teman saya. Mendapat pertanyaan tersebut saya pun menjawab “Jangan kamu lupain dia, teruslah ingat dia sesering mungkin bahkan kalau bisa kepoin semua postingan dalam media sosial dia, nanti toh saat kamu jenuh dan lelah dengan sendirinya kamu akan melupakannya.” Ini jawaban saya saat itu, yah meski tidak persis benar perkata seperti demikian tetapi pada intinya sama lah seperti ini. Mungkin cara yang saya utarakan ini akan terkesan aneh bagi kalian tetapi sejujurnya saya memberikan saran tersebut dari sebuah buku yang pernah saya baca dan bukan serta merta dari pengalaman. Sebuah buku berjudul Man’s Search for Meaning Karya Viktor E. Frankl.

Saya kurang paham kenapa orang itu menanyakan hal tersebut kepada saya, mungkin karena saya gampang banget ngelupain orang ya, khususnya dalam hal nama. Mengingat adalah salah satu kelemahan yang ada pada diri saya, saya kurang mampu mengingat nama orang bahkan untuk beberapa jam saja. Hingga akhir akhir ini saat berkenalan dengan seseorang yang baru saya temui, jika saya rasa akan bertemu lagi dan berbincang bincang saya biasanya akan menuliskan namanya pada catatan di smartphone saya agar seawktu waktu saat berbincang saya dapat menyebutkan nama mereka, meskipun saat ingin mengawali percakapan saya tentunya mengecek catatan saya untuk memastikan nama yang saya sebutkan tepat.

“Paradoxical Intention”, Sebuah Paradox Tersembunyi yang Selalu Menentang Keinginan Kita

Ada beberapa konsep menarik yang diutarakan dan ditawarkan oleh Victor dalam bukunya, namun konsep yang akan saya bahas dalam tulisan ini hanya satu konsep yakni sebuah paradox yang secara sadar ataupun tidak sadar sering kita alami di kehidupan sehari hari. Mungkin kalian pernah ingin mencari sesuatu seperti remot televisi misalnya, tetapi anehnya benda itu tidak dapat kita temui saat itu hingga akhirnya kita tidak menginginkan untuk mencarinya dan secara ajaib benda tersebut muncul di hadapan kita. Atau saat kita sedang ngidam makan mie ayam gerobak dorong langganan kita, tapi apa daya kita tunggu berlama lama tak juga datang. Namun saat suatu hari perut kita kenyang atau ada banyak sekali lauk di rumah kita, secara tidak berperi keperutan pedagang mie ayam tersebut dengan merdunya memukul mukul gong besar dan lewat di depan rumah kita.

Saya tidak paham kenapa saya ingin menggunakan ilustrasi ini, saya rasa ilustrasi ini juga tidak begitu menggambarkan apa yang saya tulis di tulisan ini. Tapi ilustrasi ini tampak keren ya (Image by Jonny Lindner from Pixabay )

Beberapa kejadian di dalam kehidup kita terkadang sebegitu bercanda. Mereka hilang tak tergapai saat kita ingin dan butuhkan. Dan muncul begitu saja tanpa alasan saat kita sama sekali tidak membutuhkan. Bercanda banget kan ya terlihatnya. Peristiwa peristiwa inilah yang disebut oleh Victor sebagai “Paradoxical Intention”. Paradox ini didasarkan pada dua fakta yang pertama adalah hilangnya suatu hal saat kita menginginkan secara berlebihan dan fakta kedua yang berkebalikan adalah kemunculan suatu hal saat kita tidak menginginkan bahkan sangat takut hal itu muncul atau terjadi.

Berpegang pada konsep inilah yang kemudian saya menyarankan pada teman saya tersebut untuk menghentikan usahanya untuk melupakan seseorang. Hal ini saya sampaikan karena saya rasa ia sangat ngotot untuk melupakan orang itu atau dengan kata lain ia tidak ingin bahkan takut untuk sekedar mengingat orang yang mungkin telah menyakitkannya tersebut. Hal inilah yang tanpa ia sadari justru mengaktifkan efek dari Paradoxical Intention yang berdampak pada semakin munculnya ingatan ingatan tentang seseorang yang ingin ia lupakan.

Untuk mengatasi hal tersebut saya menyarankan sebuah paradox yang sama. Bukan mendukung untuk melupakan, saya justru memintanya untuk mengingat orang yang ingin itu dengan cara cara yang biasa hingga cara yang menurut saya juga sedikit konyol dan ekstrim yakni menstalking orang yang ingin ia lupakan tersebut setiap hari hehehe.

Saya tidak tahu cara yang sarankan berhasil atau tidak untuk teman saya itu, tetapi setidaknya hingga saat ini ia tidak pernah lagi curcol saya tentang hal ini. Eh beberapa kali masih kumatan seperti itu ding hanya intensitasnya sepertinya sudah sedikit berkurang. Saya menulis artikel ini pun mungkin dia akan terpelatuk dan ingat kembali, hehehe sorry sistah. Saya rasa tulisan ini perlu saya buat dan menarik untuk dibagikan. Tenang aja namamu tidak saya sebut ditulisan ini kan. Hehehe

Kita mungkin pernah menginginkan sesuatu dengan berlebihan, hingga tanpa sadar dengan adanya Paradoxical Intention dirimu justru semakin menjauh dari apa yang kamu inginkan. Inginlah secara sederhana, sesederhana dirimu yang ingin hidup dengan hanya bernafas.

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa segitu saja dulu tulisan saya hari ini, Saya harap semua dari kalian dapat memanfaatkan Paradoxical Intention dengan baik. Karena biar bagaimanapun juga sama seperti lainnya selalu ada dua sisi dari suatu hal sisi baik dan sisi buruk. Kita mendapatkan sisi yang mana tergantung dari apa yang kita pilih dan bagaimana usaha kita, jangan terlalu serius menghadapi sebuah hal dan jangan pula terlalu bercanda. Cukup yang sedang sedang saja.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Referensi dan Gambar
  • Konsep Paradoxical Intention adalah konsep Viktor E. Frankl yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning
  • Feature Image dan Ilustrasi pertama adalah karya Free-Photos from Pixabay
  • Gambar Ikan yang dinaikin manusia pada ilustrasi ke dua adalah karya Jonny Lindner from Pixabay

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] The Great Shifting

February 5, 2019 — by dewaputuam1

252-960x960.jpg

Akhirnya saya dapat menyelesaikan misi untuk membaca karya terbaru Prof Rhenald Kasali ini. Saya membeli buku ini tanggal 8 July 2018, jadi bisa dikatakan saya langsung membeli buku ini saat buku ini pertama di rilis #yeayyy dan menjadi satu diantara timbunan buku di lemari saya. Seperti yang saya utara kan sebelumnya dalam postingan di link ini bacaan saya ditahun 2018 sangat lah minim meskipun saya masih rajin muter muter di gramedia dan berburu buku buku dengan judul yang sekiranya menarik bagi saya. Setelah menemukan buku yang menarik, buku tersebut akan saya timbun bersama kawan kawan sejawatnya. Begitulah nasib beberapa buku saya di tahun 2018 (malangnya nasib buku buku ku itu #uwuwuwuwu). Tetapi semua itu akan berubah, dikit demi sedikit timbunan buku saya akan saya taklukan di tahun 2019. Saya yakin saya bisa nyelesaikan timbunan timbunan buku buku tersebut mumpung belum ada buku terbitan 2019 yang menurut saya bagus dan menarik untuk dibaca di tahun ini hehehe.

Oia, selain buku cetak juga saya beberapa tahun belakangan ini telah shifting ke arah buku elektroni (pinjam istilahnya di buku ini). Aplikasi ebook yang saya gunakan adalah Google PlayBook yang agaknya cukup menarik bila saya bahas di posting berikutnya, namun untuk tulisan saat ini saya akan fokus pada pembahsan terkait buku karya Prof Rhenald Kasali yang berjudul The Great Shifting. Setelah saya selesai membaca buku ini, saya sadari sesuatu yang menurut saya cukup penting. “Buku ini bukan lah novel”. Buku ini tidak memberikan angan-angan semu tentang kemegahan masa depan dengan berbagai macam gimiknya, Namun sebaliknya, buku ini menceritakan kepada kita bahwa masa depan bukan lagi dekat dengan sekarang tetapi masa depan adalah sekarang “Tomorrow is Now“. Jargon tersebut disebut beberapa kali oleh sang Profesor dalam bukunya baik secara tersurat ataupun tersirat. The Great Shifting atau jika diterjemahkan secara bebas berarti “Pergeseran Besar” sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan berlanjut terus hingga kapan pun saat ini masih menjadi misteri.

Oia Ada satu hal lagi yang menarik dari buku ini, Prof Rhenald dalam tulisannnya secara langsung menyinggung dan mematahkan anggapan beberapa orang pesimis yang beberapa tahun ini mengeluhkan Daya beli masyarakat Indonesia sedang melemah. Benarkah demikian?

DESKRIPSI SINGKAT BUKU

Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018. Menurut saya buku ini cukup tebal yakni sekitar 500-an lembar. Saya rasa itulah alasan utama saya mengendapkan buku ini selama 6 bulanan, bukan waktu yang sebentar untuk mengendapkan buku sebagus ini. Melihat ketebalan buku ini cukup membuat saya enggan untuk membaca. Namun harus saya akui bahwa dari segi cetakan, design buku dan segala tampilan lainnya buku ini menarik untuk dimiliki hehehe, meski design covernya bagus sih tetapi kurang menarik, sehingga bagi sebagian orang yang menilai buku hanya dari covernya (seperti saya) akan mudah sekali melewatkan kesempatan luar biasa untuk membaca buku dengan isi yang semenarik ini. Saya tidak tahu apa yang membuat penilaian saya terhadap cover buku ini seperi itu, designnya bukan jelak namun saya rasa akan lebih baik bila meminimalisir tulisan di depannnya karena saya rasa terlalu sesak.

Lanjut dari sisi isi buku. Ini yang cukup saya sesalkan sebenarnya. Kenapa saya selama ini menimbun buku ini dan tidak membacanya. Menurut saya buku ini sangat bagus dengan gagasan yang fresh bagi sebagian orang seperti saya dan menjelaskan dengan baik fenomena fenomena yang terjadi disekitar kita saat ini. Tidak hanya berfokus kepada sisi ekonomi yang Shifting seperti buku buku lainnya namun buku ini dengan sangat indahnya menjelaskan bahwa pergeseran juga terjadi pada kehidupan dan cara hidup kita sebagai manusia. Perubahan kehidupan dan cara hidup itu digambarkan dengan contoh contoh yang sering kita temui di duania nyata dan beberapa diantaranya pernah viral di jagat maya kita. Oia, seperti review review generik lain tentunya saya akan mengatakan bahwa cara penulisan dan gaya bahasa dari buku ini cukup sederhana sehingga lebih enak dicerna. Tulisan ini masih bisa dipahami oleh orang orang yang tidak begitu paham tentang hal hal yang bersifat teksnis dan orang orang yang tidak terlalu pintar seperti saya hehehe.

INSIGHT BUKU

Ada banyak sekali gagasan menarik yang saya temukan dalam buku ini dan akan menjadi sulit dan panjang bila saya jabarkan satu persatu dalam satu tulisan. Saya telah menuliskan satu gagasan menarik tersebut dalam sebuah tulisan Kepribadian Lain di Dunia Online. Saya sebenarnya lebih suka gagasan gagasan terkait Cyber psycology yang dipaparkan dalam buku ini, karena gagasan gagasan lain terkait pergeseran di beberapa bidang seperti pendidikan, perbankan, Game, Periklanan serta Budaya Belanja rasanya sudah pernah saya baca baik dari buku lain maupun berita berita online.

Sesekali saya tersenyum ketika membaca beberapa bagian di buku ini dan berkata dalam hati, “ah ternyata gini ya” ,dan kemudian pada bagian lainnya saya berujar kecil “hahaha ia benar juga ya”. Bagian yang paling banyak momen momen seperti itu ada pada Bab 2 tentang Tekhnologi yang mengubah interaksi Manusia, Bab 3 tentang Ketika yang Tersembunyi Terungkap dan Bab 9 tentang Esteem Economy, Ketika Setiap Orng Haus Pengakuan.

Bila boleh saya simpulkan tulisan ini, Secara keseluruhan saya sangat puas dapat selesai membaca buku ini. Buku yang sangat menarik dan ditaburi segudang gagasan menarik dan tentunya menjelaskan dengan gamblang bahwa The Great Shifting bukanlah angan angan akan hari esok, The Great Shifting sedang terjadi saat ini. Melihat hal tersebut beliau memberikan pilihan, apakah kita hanya akan mencari kambing ber cat hitam untuk dipersalahkan dan menampung segala keluh kesah perubahan yang terjadi, atau kita mulai mengambil tindakan bergesar bersama menuju masa depan yang bukan lagi di depan. #IniGueNgomongApaDah.

Dan Berhubung saya saat ini bekerja di bidang manajemen bencana, yang jadi pertanyaan besar bagi saya adalah, Apakah atau akankah the greatshifting ini sudah atau akan mengubah pola pola manajemen bencana di negeri kita saat ini, berhubung pada tahun 2018 kita di bangunkan oleh rentetan kejadian bencana yang tentunya memberikan banyak pelajaran bagi kita. Dan pertanyaan penting lainnya adalah, apa yang terjadi bila kita tidak berubah?

Saya rasa cukup sekian.

Salam

Dewa Putu AM

Featured Image Designed by Makyzz / Freepik

BukuDaily LifeHiburanPsikologiUncategorized

“Kepribadian Lain” di Dunia Online

January 31, 2019 — by dewaputuam2

393952-PCOICX-223-960x960.jpg

Keanehan “Mereka” di Dunia Online

Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]

Berhubung tahun ini sudah memasuki tahun tahun politik yang seperti kita akan banyak menyaksikan banyak hal “lucu” berseliweran di dunia maya baik itu yang ada di buku muka, burung biru, yusup, hingga sosmed gambar tipu-tipu. Kelakuan netijen akan semakin ajaib dan tidak jarang bermunculan konten-konten yang diluar batas imajinasi terliar kita #hasek. Saya sebenarnya ingin memberikan contoh-contoh keajaiban netijen netijen tersebut namun cukup serem jadi tidak saya tampilkan agar tidak ada yang terluka. Meskipun saya tahu pembaca tulisan saya adalah golongan orang orang keren yang kecil kemungkinannyamemiliki keajaiban para netijen yang saya bahas pada post ini [#penjilat].

Ada suatu buku yang menarik yang sedang saya baca saat ini, Judul buku tersebut adalah “The Great Shifting” Karya Rhenald Kasali. Dalam buku tersebut, Prof Renald menceritakan suatu keanehan prilaku yang banyak muncul di kalangan netijen yang sebelumnya saya sudah sebutkan. Kelakuan aneh itu tampaknya akan meningkat di tahun tahun ini #bersiaplah. Netijens maha benar dengan segala keajaibannya sudah mulai merajalela dan menebarkan semua pesonanya. Entah itu diakui atau tidak, secara sadar ataupun tidak sadar, kita pun terkadang terdampak oleh fenomena ini. Atau mungkin justru kita sering dan kitapun menjadi salah satu netijem maha benar itu :). Fenomena ini saya rasa berpengaruh ke semua orang dan tidak pandang bulu, namun memiliki kadar yang berbeda beda sehingga “yang tampak dipermukaan” hanya segelintir orang saja. Itupun jika lingkungan kita sudah cukup kece terhadap internet ya, kalau tidak ya mungkin bukan lagi “segelintir orang” tetapi kebanyakan orang.

Tentang Online Disinhibition Effect [ODE]

Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)

Online Disinhibition Effect atau biasa disingkat dengan ODE, dapat dijelaskan dengan ringkas melalui gambar diatas. Secara sederhana, fenomena munculnya keajaiban keajaiban para netijen menurut teori ini merupakan hasil dari sifat anonimitas internet dan kurang pedulinya para penggiat online (didominasi oleh kaum yesman). Dalam dunia online orang akan cenderung lebih berani, dan lebih merasa bebas melakukan apapun tanpa ada hambatan. Hal ini dikarenakan karena mereka merasakan bahwa identitas mereka tidak di ketahui (anonim) dan menduga tak ada orang lain yang memperhatikan nya atau paling tidak tidak ada orang lain yang mereka kenal memperhatikannya. Hal ini akan berimbas pada menurunnya pengendalian akan tingkah laku pribadi atau istilah lainnya teradi penurunan Inhibition Control. Dalam buku The Great Shifting, Rhenald Kasali menjelaskan bahwa “Inhibition Control adalah kemampuan yang didapatkan manusia dari serangkaian latihan sejak kanak kanak untuk mengendalikan saraf saraf impulsif (dorongan otomatis atau spontan) dan memberikan respon perilaku melalui “attention” dan “reasoning”.

Pada dasarnya, Inhibition Control menggambarkan kemampuan kogniitif seseorang dan terlihat dalam cara dia mengantisipasi, perencanaan dan setting tujuan. Seseorang yang memiliki Inhibition control yang baik akan baik pula ia dalam bertindak, menulis dan berucap. Jika kurang, hal hal yang bersifat impulsif akan mendominasi sehingga kontrol diri dalam bertindak, menulis dan berucap akan menjadi kurang begitu sehat.

Dari sini akan terlihat kekurang siapan kita akan tekhnologi yang ada sekarang, jika pendidikan dulu terfokus pada pelatihan Inhibition Control kita di dunia nyata yang notabennnya kita dapat dengan jelas mengetahui bahwa kita sedang di awasi dan ada nilai dan norma lain yang mengingatkan dan bahkan mengikat agar berperilaku baik. Tentunya baik berdasarkan nilai norma yang berlaku di lingkungan kita tentunya. Saya akui bahwa baik itu pun relatif tergantung dari nilai dan norma yang dianut oleh orang.

Ketika kehidupan kita mulai dimasuki tekhnologi internet, kita pun menjadi kaget dan beberapa yang tidak siap dengan perbekalan nilai dan norma yang kuat akan merasa bahwa ini adalah saatnya mereka bebas, tidak ada yang tahu apa yang mereka perbuat, tak perlu lagi malu mengekspresikan diri, tulis dan bagikan lah sesuka hati, toh tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di dunia maya ini. Ini dunia maya, bukan lah dunia nyata. Kondisi demikian yang kemudian menciptakan pribadi pribadi lain yang bukan hal yang jarang bila bertolak belakang dari pribadi yang kita jalani di dunia nyata.

Yang jadi pertanyaan besar bagi kita sekarang adalah,

“JIka kita merasa bebas karena Anonimitas?, Apakah kita yakin bahwa kita benar benar Anonim di dunia Maya Ini?”

Jika jawabannya yakin, saya sarankan mainlah lebih jauh dan pulanglah lebih malam. hehehe. sekian dari saya, mungkin tulisan ini tidak begitu berfaidah namun saya rasa ini suatu keresahan yang agaknya perlu saya tuliskan di sini. sepertinya sudah sampai disini saja, Akhir Kata saya ucapkan terimakasih atas waktunya

Salam.

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Ilustrasi
1. Feature Image Designed Freepik
2. Gambar Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]
3. Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)

BukuHiburan

[Buku] Better Than Before

January 23, 2019 — by dewaputuam0

better-than-before-2b-960x720.jpg
Buku Better Than Before (SUmber: gretchenrubin.com)

Akhirnya pecah telor juga bacaan saya tahun 2019 ini, judul bukunya pun menurut saya cukup keren untuk dijadikan bacaan pertama yang saya selesaikan di tahun ini. Agar informasi dan insight yang saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca tidak menghilang dan terlupakan maka sejak 2019 ini akan saya tuliskan beberapa catatan penting dan sedikit kesan dari setiap buku bacaan saya dalam blog. Alasan pertama yang mentriger saya dalam memilih buku ini untuk saya beli adalah judulnya yang saya rasa tidak terlalu heboh. Buku ini tidak ada kata kata lebay yang biasa muncul dalam buku buku pengembangan diri seperti “luar biasa”, “Terdahsyat” dan ter- ter- lainnya yang menurut saya akan memberikan kesan omong kosong hahaha. Ini sih persepsi saya ya mohon jangan di tiru, saya percaya masing masing punya nilai dan norma sendiri dalam memilih sesuatu, begitu pula saya yang tidak begitu suka sesuatu yang bersifat superlatif dan deterministik. Sebelum melenceng terlalu jauh, saya mulai saja ya. Tapi jika dipikir pikir sepertinya akan seru bila lain kali saya tulis tentang ke anti-an saya dengan hal yang superlatif dan deterministik sampai saya beberapa kali berdebat dengan teman, dosen bahkan profesor saya wkwkwk.

Deskripsi Singkat Buku

Buku “Better Than Before” karya Gretchen Rubin yang saya baca merupakan versi terjemahan bahasa Indonesia terbitan Elex Media Komputindo dan diterjemahkan oleh Ayu Yudha. Buku ini tidak terlalu tebal namun tidak bisa pula dikatakan tipis karena memiliki 359 halaman dan diterbitkan pada tahun 2018. Mungkin benar kata beberapa teman saya untuk lebih memilih buku asli dan bukan versi terjemahan karena kan banyak sekali informasi yang hilang. Beberapa buku terjemahan yang saya baca (kecuali Sapiens terbitan Narasi) menurut saya masih bagus bagus saja sih terjemahannya dan masih dapat dipahami maksud dan inti yang diperbicarakan dalam buku buku tersebut. Meskipun ada beberapa frasa yang terbaca cukup aneh tidak tahu karena tidak ada padanan kata atau istilah dalam bahasa indonesia atau karena seni pemilihan kata (diksi) penulis aslinya yang sedikit hilang karena proses penerjemahan. Mungkinalasan kedua lebih mendominasi pada buku ini.

Buku ini menurut saya ditulis dengan gaya penulisan yang cukup asik untuk buku pengembangan diri. Gaya penulisan yang mengalir seperti cerita kehidupan penulis (curhatan) membuat kita merasa buku ini adalah sebuah novel dan bukan buku buku pengembangan diri yang kaku. Hingga akhir tulisan, saya terkesan dengan apa yang diutarakan Gretchen Rubin oleh bukunya ini, konsep konsep tentang kebiasaan yang dia utarakan tidak hanya menjadi konsep abstrak yang ada di angannya atau konsep konsep yang ia intisarikan dari hasil kajian para ahli belaka. Namun, lebih dari itu Gretchen Rubin memberikan konsep konsep yang telah ia “coba” pada dirinya maupun orang orang disekitarnya. Membaca buku Gretchen Rubin ini, saya jadi merasa sedang membaca sebuah catatan harian seorang yang tergila gila dengan konsep kebiasaan dengan segala pertanyaan pertanyaan mendasarnya. Ia dengan semangatnya mencoba konsep konsep yang ia baca dan temukan kepada dirinya dan orang orang disekitarnya (suaminya, adik, ayah, rekan dan anaknya) terlihat seram namun hebat.

Insight Buku

Salah satu hal yang saya suka dalam buku ini adalah kesadaran penulis akan tidak adanya suatu konsep dan cara yang dapat berhasil mempengaruhi semua orang dan setiap waktu. Gretchen Rubin mengakui keunikan masing masing orang, yang dalam hal ini adalah para pembacanya. Hal tersebut tersurat maupun tersirat dalam buku ini. Untuk mempermudah pemahaman buku ini dan kemudian memilah cara cara apa yang dapat diterapkan dalam menciptakan maupun merubah kebiasaan kita Gretchen Rubin menyederhanakan kecenderungan manusia menjadi empat tendensi manusia  (Klik link ini untuk membaca tulisan Gretchen Rubin dalam terkait konsep ini dalam blognya). Konsep ini nih yang saya suka dalam buku Better Than Before Gretchen Rubin dan saya rasa salah satu hal yang menjadi Insight dalam buku ini. Konsep ini pada dasarnya suatu konsep pengelompokan manusia berdasarkan tendensi/ kecenderungannya dalam merespon ekspektasi internal (ekspektasi dari diri sendiri) maupun ekspektasi eksternal (ekspektasi yang datang dari luar baik orang luar, aturan dari luar, sistem, norma dan sebagainya). Konsep ini nih yang saya suka dalam buku Better Than Before Gretchen Rubin dan saya rasa salah satu hal yang menjadi Insight dalam buku ini. Konsep ini pada dasarnya suatu konsep pengelompokan manusia berdasarkan tendensi/ kecenderungannya dalam merespon ekspektasi internal (ekspektasi dari diri sendiri) maupun ekspektasi eksternal (ekspektasi yang datang dari luar baik orang luar, aturan dari luar, sistem, norma dan sebagainya).

Ada empat kelompok manusia berdasarkan Tendensinya, keempat kelompok tersebut antara lain:

  • Upholder: Kelompok yang dengan senang hati menerima dan menjalankan ekspektasi internal maupun eksternal.
  • Questioner: Kelompok yang selalu menanyakan ekspektasi yang diberikan padanya baik internal maupun eksternal, jika masuk akal maka akan ia penuhi, namun jika tidak masuk akal akan ia tolak.
  • Obliger: Kelompok yang mengalami kesulitan dalam memenuhi ekspektasi internal namun dengan mudah dan senang hati menyanggupi ekspektasi eksternal.
  • Rebel: Kelompok yang menolak semua ekspektasi internal maupun eksternal, kelompok ini memiliki kecenderungan menentang semua aturan yang ada dan sangat mengagumi kebebasan.
Empat Tendensi (Sumber: Valentina Thörner)

Dalam buku Better Than Before Gretchen Rubin menjelaskan dan menceritakan pengalaman-pengalaman dia tentang penerapan konsep konsepnya dalam kehidupan sehari harinya dan juga dilengkapi apakah konsep konsep yang ia jelaskan akan sesuai dengan orang ber tipe tendensi tertentu atau tidak pada tipe tendensi lainnya. Sebenarnya ada beberapa konsep pengelompokan lain yang juga diulas dalam buku ini seperti pengelompokan orang berdasarkan cara ia menolak sesuatu. Ada dua kelompok yaitu Abstainer (seseorang yang harus menolak secara keseluruhan) dan tipe Moderat (yang dapat menerima dalam kadar tertentu dan menolak jika berlebih) dan ada banyak konsep konsep menarik lainnya yang jika dituliskan satu satu dalam tulisan ini akan terlalu banyak dan terlalu panjang hehehe.

Sebagai akhir dari tulisan ini secara subyektif saya memberikan nilai pada buku Gretchen Rubin yang berjudul Better Than Before 4 bintang dari 5.

Sekian dari saya, terimaksih atas waktunya untuk menyimak tulisan saya ini dan akhir kata saya ucapkan

Salam

Dewa Putu Am

BukuDaily LifePsikologiUncategorized

Kenalan Sama Diri Sendiri

January 15, 2019 — by dewaputuam4

fc70650b208d0812fca26853e99c1409-960x640.png

Saya baru tersadar, selama ini kita terlalu sibuk mengenal orang lain hingga kita lupa untuk berkenalan pada diri kita sendiri.

Keinginan saya untuk membuat tulisan ini terihlami dari buku yang saya sedang saya baca beberapa hari ini yaitu buku “Better than Before” karya Gretchen Rubin. Sejauh yang saya baca (saya belum selesai baca hehehe) Ada satu konsep yang baru saya ketahui dan menurut saya cukup menarik dari buku ini yaitu tentang konsep Empat Tendensi Manusia yang ada pada bab Mengenal Diri Sendiri. Pada tulisan ini saya akan mencoba sedikit mengulas hal tersebut, karena menurut saya ini penting agar setidaknya kita sadar “Meskipun kita sama, tetapi kita cukup berbeda untuk disamakan”. AGak jelimet ya bahasa saya, intinya si kita sebagai mausia punya keunikan masing masing termasuk tendensi kita (kecenderungan) kita untuk merespons sebuah ekspektasi.

Kenali dulu Diri Sendiri Sebelum Mengenal yang Lain ?

Mengenali diri sendiri, menurut saya sama pentingnya atau jika boleh ekstrim saya rasa bahkan jauh lebih penting dari mengenal orang orang disekitar kita. Hal itu cukup masuk akal karena bagaimana kita bisa dengan yakin mampu mengenal orang lain bila dengan diri kita sendiripun kita tidak kenal. Kenal yang saya maksud disini bukan hanya terbatas pada nama namun lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud juga bukanlah kenal secara fisik, yang seolah olah kita hanyalah seonggok daging dengan aliran adarah didalamnya saya ingin lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud disini bukan pula kenal sifat sifat yang teramalkan dalam Astrologi, Shio atau apapun itu.

Another Me (Sumber: graffitiprints.com)

Siapa kita sebenarnya? siapa yang memikirkan untuk membuat tulisan ini, siapa pula yang memerintahkan jari jemari saya untuk menyatakan apa yang dipikirannya kedalam bentuk tulisan di blog ini. Dan siapa sang kesadaran ini yang saat ini dengan bingungnya bertanya melalui tulisan ini.

Saya baru sampai pada pertanyaan yang berkutat pada keingintahuan saya tentan “siapa kah saya ini” sudah cukup membingungkan, belum lagi pertanyaan seperti apa saya sebenarnya dan juga belum pada pertanya apa yang sebenarnya saya inginkan dalam sesuatu yang di sebut “hidup” ini. Nah,.. saya semakin bingung kan. -_____-
Kenapa pertanyaan pertanyaan ditulisan ini menjadi semakin rumit ya, padahal rencana awal tulisan saya hanya ingin membahas tentang konsep empat tendensi yang ditawarkan oleh Gretchen Rubin. Mungkin pertanyaan pertanyaan tadi tidak dapat saya jawab disini atau lebih tepatnya tidak begitu penting (untuk kalian) jika saya tuliskan disini karena saya yakin jika kalian tanayakan hal tersebut pada diri kalian sendiri akan menghasilkan jawaban yang berbeda beda pula.

Untuk Sementara, Kenali Diri Sendiri seperti Orang Lain

Mungkin kalian bingung kenapa saya menuliskan sub judul “Untuk Sementara, Kenali Dirimu Seperti Orang Lain”. Saya secara sengaja memberikan judul seperti itu karena iseng belaka. Menurut saya konsep pengenalan diri sendiri yang di tawarkan buku-buku, video, tentunya termasuk tulisan ini itu dari orang lain, yang untuk sementara bukan lah suatu yang salah bila kita gunakan untuk mengenali diri kita sendiri. Yah meskipun bukan suatu yang 100% benar juga sih, tapi tetap ada gunanya lah ya, dan menurut saya konsep yang diberikan Gretchen Rubin cukup menarik.

Ini konsep pembagian manusia menjadi empat kelompok berdasarkan tendensinya atau dengan kata lain kecenderungan orang dalam merespon ekspektasi. Saat menetukan dan melakukan sesuatu sesuatu, kita biasanya akan menetapkan sebuah ekspektasi untuk diri kita sendiri. Ada dua jenis ekspektasi berdasarkan sumbernya yaitu ekspektasi eksternal (mematuhi aturan aturan, harapan dan kepercayaan orang lain) dan ekspektasi internal seperti (resolusi, keinginan keinginan pribadi kita untuk lebih sehat, untuk lebih lebih lebih lainnya) Secara sadar ataupun tidak sadar, secara bersamaan kita mendapatkan keda jenis ekspektasi itu di semua kegiatan kita. Menurut Gretchen Rubin, setidaknya ada 4 kombinasi respon yang akan diberikan kita pada kedua tipe ekspektasi tersebut, 1 kombinasi respon tersebut dilambangkan sebagai satu Tendensi. Jadi setidaknya ada 4 Tendensi Bawaan manusia untuk merespon ekspektasi. Keempat Tendensi tersebut antara lain Upholder, Questioner, Obliger dan Rebel. Secara sederhana ke empat tendensi tersebut dapat diringkas melalui gambar diagram dibawah ini.

Empat Tendensi Gretchen Rubin (SUmber Gambar:The Four Tendencies Quiz)

Saya akan menjelaskan satu persatu ciri keempat tendensi tersebut menurut Gretchen Rubin agar seidaknya kita bisa memahami bahwa kita sebenarnya memiliki perbedaan kecenderungan satu sama lain, sukur sukur bia digunakan teman teman untuk mengefektifkan kampanye kampanye yang biasanya sih beberapa bulan ini bakal banyak tu juru kampanye dadakan yang berseliweran di facebook dengan segala rupa tingkah lucunya hehehe. Oke saya mulai penjelasan terkait 4 tendensi:

Upholder

Bagi Uphoalder Kedisiplinan adalah kebebasan. Si pecinta kedisiplinan ini merespon ekspektasi internal dan eksternal dengan senang hati. Dari mulai bangun tidur mereka sudah berpikir “Apa tugas dan Jadwal yang harus dikerjakan hari ini?”. Upholder biasanya orang yang dapat sangat diandalkan oleh orang lain dan juga tentunya diri mereka sendiri. Akan tetapi terkadang akan terlihat berlebihan karena mereka terlalu kaku terhadap peraturan bahkan untuk peraturan peraturan tak tertulis yang tidak begitu penting, kalau saya melihatnya seperti penjilat sih hehehe ternyata mereka bukan penjilat ya dan mereka memang memiliki kebiasaan unik seperti itu. Kekurangan dari upholder akan tampak bila ia dihadapkan pada ekspektasi yang tidak jelas atau tidak ada aturan yang jelas.

Questioner

Tipe orang yang memiliki tendensi ini merupakan orang yang sangat kritis. Mereka akan menanyakan semua jenis ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka hanya akan merespon jika mereka dapat menyimpulkan bahwa ekspektasi tersebut masuk akal. Mereka biasanya bangun pagi dan bertanya ” Apa yang perlu sya kerjakan dan kenapa?”. Ketika tidak ada jawaban apa dan kenapanya mereka tidur lagi #eh. Questioner termotivasi oleh alasan yang masuk akal, atau setidaknya apa yang mereka percayaisebagai alasan yang masuk akal. Kekurangan Questioner jika begitu akaut dapat menderita Analysis Paralysis yakni memikirkan sesuatu secara berulang ulang tanpa menemukan solusi jadi agak terkesan plin-plan hehehe sepertinya saya kenal orang yang seperti ini tapi yasudahlah lanjut ke berikutnya

Obliger

Obliger merupakan tipe orang dengan tendensi untuk dapat memenuhi ekspektasi eksternal namun merasa kesulitan untuk memenuhi ekspektasi internal. Sekilas orang orang ini yang biasanya suka berkorban atau malah dikorbankan. Obliger sangat baik dalam mewujudkan keinginan dan tenggang waktu dari pihak luar, mereka berusaha sangat keras untuk memenuhi tanggung jawab mereka, namun sayangnya mereka kesulitan untuk memotivasi diri sendiri untuk memenuhi ekspektasi mereka sehingga terkadang kehidupan mereka terbengkalai dan terus dikorbankan karena takut mengecewakan orang lain. Beban atas ekspektasidari pihak luar seringkali membuat obliger rentan terhadap kelelahan. Hal ini karena mereka sulit untuk mengatakan “tidak” pada orang lain.

Rebel

Kelompok rebel merupakan kelompok orang yang menentang semua ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka memilih untuk bertindak berdasarkan pilihan kebebasan. Rebel akan bangun tidur dan berpikir “Apa yang ingin saya lakukan hari ini?”. Rebel bekerja untuk mencapai tujuan mereka sendiri, selagi mereka menolak untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Aset terbaik rebel yang bermanfaat besar bagi komunitas yang di huni golongan lain adalah “suara mereka yang biasanya sangat berbeda dengan orang kebanyakan.” Terkadang perbedaan perbedaan yang rebel ciptakan justru dapat menyelamatkan komunitas tersebut. Atau malah menjerumuskan hehehe. Sisi negar=ti seorang Rebel yang sering membuat frustasi orang disekitarnya adalah mereka tidak dapat diminta atau disuruh melakukan apapun tidak peduli saat itu orang mengandalkannya, ada peraturan dan lewajiban, asal mereka tidak ingin maka mereka tidak melakukan.

Ada suatu trik untuk meminta bantuan atau meminta seorang rebel melakukan sesuatu. Kita dapat memanfaatkan sifat alaminya untuk membangkang dengan meminta anatu mengatakan sesuatu yang sebaliknya. Rebel tidak suka diperintah atau disuruh, untuk meminta sesuatu pada rebel cukup dengan memberikan informsi yang dapat berguna bagi mereka untuk membuat keputusan, menunjuk masalahnya sebagai pertanyaan yang bisa mereka jawab sendiri dan biarkan mereka memutuskan dan bertindak tanpa ada yang menyaksikan.

Meski menyukai kebebasan dan menolak adanya hirarki dan peraturan, ada sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Kita mungkin akan sering menemukan orang orang rebel justru tertarik pada institusi yang banyak peraturan seperti militer. Mungkin rebel juga membutuhkan batasan untuk dapat tunduk, berkembang dan memberontak. Rebel akan merasa gelisah bila tidak ada aturan yang bisa dilanggar hehehe.

Tendensi orang memang tidak pure salah satu dari empat tendensi itu namun lebih sering ditemukan merupakan kombinasi 2 atau lebih dari keempat tendensi tersebut. Namun biasanya akan ada satu tendensi yang lebih dominan. Yah meskipun menurut saya dengan mengetahui tendensi kita sebenarnya apa itu belumlah cukup untuk mengenal jauh diri kita sendiri. Namun setidaknya ada sedikit lah pencerahan tentang seperti apa kecenderungan kita, untuk hal lainnya kita bisa cari dari berbagai sumber bacaan seperti tentunya buku buku keagamaan (yang bagi saya merupakan manual book tentang kita). Hal ini tentunya tida saya bahas disini hehehe. eh ada kemungkinan akan saya bahas di posting selanjutnya ding

Saya kira sekian saja post sata pada hari ini soalnya sudah terlalu panjang dan akan sangat menjemukan bila saya lanjutkan.

Salam

Dewa Putu A

Keterangan Tambahan:
Feature Image di depan adalah lkarya dari Firestar97 di link ini gambar Surreal yang bagus ya hehehe

BukuHiburanPsikologi

Makna Hidup dan Logoterapi

May 27, 2018 — by dewaputuam0

Child_survivors_of_Auschwitz-960x689.jpeg

Ahli Logoterapi, Viktor E. Frankl
Sosok Viktor E. Frankl, Ahli Logoterapi sekaligus Penulis Buku “Man’s search for Meaning” (Sumber IEET)

Makna adalah sebuah hal penting dalam kehidupan. Seseorang dapat menghalalkan segala cara untuk memperjuangkan makna  hidup yang ia pilih. Untuk sebuah makna, hal ekstrim seperti tindakan persekusi bahkan terorisme sekalipun terkadang menjadi logis untuk dilakukan.  Ide menarik terkait makna hidup pernah diutarakan oleh seorang korban selamat dari pembantaian di Kamp Auschwitz. Ia adalah seorang survivor sekaligus ahli logoterapi dari Austria, Viktor E. Frankl penulis  buku yang berjudul Man’s search for Meaning. Dalam buku tersebut Frankl memberikan suatu sudut pandang yang menarik dan sederhana tentang makna kehidupan.

mencari Makna hidup

Pengalaman mengerikan Frankl dalam Kamp Pengkonsentrasian Auschwitz menguatkan kembali gagasan besarnyanya tentang Hidup. Bagi Frankl, hidup bukanlah upaya mencari kepuasan, bukan pula upaya mengejar kekuasaan. Hidup adalah sebuah upaya pencarian makna. Tugas terbesar manusia adalah mencari makna dalam hidupnya dan tentu kemudian merelaisasikannya.