main

BukuDaily LifeHiburanPsikologiUncategorized

“Kepribadian Lain” di Dunia Online

January 31, 2019 — by dewaputuam2

393952-PCOICX-223-960x960.jpg

Keanehan “Mereka” di Dunia Online

Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]

Berhubung tahun ini sudah memasuki tahun tahun politik yang seperti kita akan banyak menyaksikan banyak hal “lucu” berseliweran di dunia maya baik itu yang ada di buku muka, burung biru, yusup, hingga sosmed gambar tipu-tipu. Kelakuan netijen akan semakin ajaib dan tidak jarang bermunculan konten-konten yang diluar batas imajinasi terliar kita #hasek. Saya sebenarnya ingin memberikan contoh-contoh keajaiban netijen netijen tersebut namun cukup serem jadi tidak saya tampilkan agar tidak ada yang terluka. Meskipun saya tahu pembaca tulisan saya adalah golongan orang orang keren yang kecil kemungkinannyamemiliki keajaiban para netijen yang saya bahas pada post ini [#penjilat].

Ada suatu buku yang menarik yang sedang saya baca saat ini, Judul buku tersebut adalah “The Great Shifting” Karya Rhenald Kasali. Dalam buku tersebut, Prof Renald menceritakan suatu keanehan prilaku yang banyak muncul di kalangan netijen yang sebelumnya saya sudah sebutkan. Kelakuan aneh itu tampaknya akan meningkat di tahun tahun ini #bersiaplah. Netijens maha benar dengan segala keajaibannya sudah mulai merajalela dan menebarkan semua pesonanya. Entah itu diakui atau tidak, secara sadar ataupun tidak sadar, kita pun terkadang terdampak oleh fenomena ini. Atau mungkin justru kita sering dan kitapun menjadi salah satu netijem maha benar itu :). Fenomena ini saya rasa berpengaruh ke semua orang dan tidak pandang bulu, namun memiliki kadar yang berbeda beda sehingga “yang tampak dipermukaan” hanya segelintir orang saja. Itupun jika lingkungan kita sudah cukup kece terhadap internet ya, kalau tidak ya mungkin bukan lagi “segelintir orang” tetapi kebanyakan orang.

Tentang Online Disinhibition Effect [ODE]

Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)

Online Disinhibition Effect atau biasa disingkat dengan ODE, dapat dijelaskan dengan ringkas melalui gambar diatas. Secara sederhana, fenomena munculnya keajaiban keajaiban para netijen menurut teori ini merupakan hasil dari sifat anonimitas internet dan kurang pedulinya para penggiat online (didominasi oleh kaum yesman). Dalam dunia online orang akan cenderung lebih berani, dan lebih merasa bebas melakukan apapun tanpa ada hambatan. Hal ini dikarenakan karena mereka merasakan bahwa identitas mereka tidak di ketahui (anonim) dan menduga tak ada orang lain yang memperhatikan nya atau paling tidak tidak ada orang lain yang mereka kenal memperhatikannya. Hal ini akan berimbas pada menurunnya pengendalian akan tingkah laku pribadi atau istilah lainnya teradi penurunan Inhibition Control. Dalam buku The Great Shifting, Rhenald Kasali menjelaskan bahwa “Inhibition Control adalah kemampuan yang didapatkan manusia dari serangkaian latihan sejak kanak kanak untuk mengendalikan saraf saraf impulsif (dorongan otomatis atau spontan) dan memberikan respon perilaku melalui “attention” dan “reasoning”.

Pada dasarnya, Inhibition Control menggambarkan kemampuan kogniitif seseorang dan terlihat dalam cara dia mengantisipasi, perencanaan dan setting tujuan. Seseorang yang memiliki Inhibition control yang baik akan baik pula ia dalam bertindak, menulis dan berucap. Jika kurang, hal hal yang bersifat impulsif akan mendominasi sehingga kontrol diri dalam bertindak, menulis dan berucap akan menjadi kurang begitu sehat.

Dari sini akan terlihat kekurang siapan kita akan tekhnologi yang ada sekarang, jika pendidikan dulu terfokus pada pelatihan Inhibition Control kita di dunia nyata yang notabennnya kita dapat dengan jelas mengetahui bahwa kita sedang di awasi dan ada nilai dan norma lain yang mengingatkan dan bahkan mengikat agar berperilaku baik. Tentunya baik berdasarkan nilai norma yang berlaku di lingkungan kita tentunya. Saya akui bahwa baik itu pun relatif tergantung dari nilai dan norma yang dianut oleh orang.

Ketika kehidupan kita mulai dimasuki tekhnologi internet, kita pun menjadi kaget dan beberapa yang tidak siap dengan perbekalan nilai dan norma yang kuat akan merasa bahwa ini adalah saatnya mereka bebas, tidak ada yang tahu apa yang mereka perbuat, tak perlu lagi malu mengekspresikan diri, tulis dan bagikan lah sesuka hati, toh tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di dunia maya ini. Ini dunia maya, bukan lah dunia nyata. Kondisi demikian yang kemudian menciptakan pribadi pribadi lain yang bukan hal yang jarang bila bertolak belakang dari pribadi yang kita jalani di dunia nyata.

Yang jadi pertanyaan besar bagi kita sekarang adalah,

“JIka kita merasa bebas karena Anonimitas?, Apakah kita yakin bahwa kita benar benar Anonim di dunia Maya Ini?”

Jika jawabannya yakin, saya sarankan mainlah lebih jauh dan pulanglah lebih malam. hehehe. sekian dari saya, mungkin tulisan ini tidak begitu berfaidah namun saya rasa ini suatu keresahan yang agaknya perlu saya tuliskan di sini. sepertinya sudah sampai disini saja, Akhir Kata saya ucapkan terimakasih atas waktunya

Salam.

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Ilustrasi
1. Feature Image Designed Freepik
2. Gambar Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]
3. Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)

BukuHiburan

[Buku] Better Than Before

January 23, 2019 — by dewaputuam0

better-than-before-2b-960x720.jpg
Buku Better Than Before (SUmber: gretchenrubin.com)

Akhirnya pecah telor juga bacaan saya tahun 2019 ini, judul bukunya pun menurut saya cukup keren untuk dijadikan bacaan pertama yang saya selesaikan di tahun ini. Agar informasi dan insight yang saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca tidak menghilang dan terlupakan maka sejak 2019 ini akan saya tuliskan beberapa catatan penting dan sedikit kesan dari setiap buku bacaan saya dalam blog. Alasan pertama yang mentriger saya dalam memilih buku ini untuk saya beli adalah judulnya yang saya rasa tidak terlalu heboh. Buku ini tidak ada kata kata lebay yang biasa muncul dalam buku buku pengembangan diri seperti “luar biasa”, “Terdahsyat” dan ter- ter- lainnya yang menurut saya akan memberikan kesan omong kosong hahaha. Ini sih persepsi saya ya mohon jangan di tiru, saya percaya masing masing punya nilai dan norma sendiri dalam memilih sesuatu, begitu pula saya yang tidak begitu suka sesuatu yang bersifat superlatif dan deterministik. Sebelum melenceng terlalu jauh, saya mulai saja ya. Tapi jika dipikir pikir sepertinya akan seru bila lain kali saya tulis tentang ke anti-an saya dengan hal yang superlatif dan deterministik sampai saya beberapa kali berdebat dengan teman, dosen bahkan profesor saya wkwkwk.

Deskripsi Singkat Buku

Buku “Better Than Before” karya Gretchen Rubin yang saya baca merupakan versi terjemahan bahasa Indonesia terbitan Elex Media Komputindo dan diterjemahkan oleh Ayu Yudha. Buku ini tidak terlalu tebal namun tidak bisa pula dikatakan tipis karena memiliki 359 halaman dan diterbitkan pada tahun 2018. Mungkin benar kata beberapa teman saya untuk lebih memilih buku asli dan bukan versi terjemahan karena kan banyak sekali informasi yang hilang. Beberapa buku terjemahan yang saya baca (kecuali Sapiens terbitan Narasi) menurut saya masih bagus bagus saja sih terjemahannya dan masih dapat dipahami maksud dan inti yang diperbicarakan dalam buku buku tersebut. Meskipun ada beberapa frasa yang terbaca cukup aneh tidak tahu karena tidak ada padanan kata atau istilah dalam bahasa indonesia atau karena seni pemilihan kata (diksi) penulis aslinya yang sedikit hilang karena proses penerjemahan. Mungkinalasan kedua lebih mendominasi pada buku ini.

Buku ini menurut saya ditulis dengan gaya penulisan yang cukup asik untuk buku pengembangan diri. Gaya penulisan yang mengalir seperti cerita kehidupan penulis (curhatan) membuat kita merasa buku ini adalah sebuah novel dan bukan buku buku pengembangan diri yang kaku. Hingga akhir tulisan, saya terkesan dengan apa yang diutarakan Gretchen Rubin oleh bukunya ini, konsep konsep tentang kebiasaan yang dia utarakan tidak hanya menjadi konsep abstrak yang ada di angannya atau konsep konsep yang ia intisarikan dari hasil kajian para ahli belaka. Namun, lebih dari itu Gretchen Rubin memberikan konsep konsep yang telah ia “coba” pada dirinya maupun orang orang disekitarnya. Membaca buku Gretchen Rubin ini, saya jadi merasa sedang membaca sebuah catatan harian seorang yang tergila gila dengan konsep kebiasaan dengan segala pertanyaan pertanyaan mendasarnya. Ia dengan semangatnya mencoba konsep konsep yang ia baca dan temukan kepada dirinya dan orang orang disekitarnya (suaminya, adik, ayah, rekan dan anaknya) terlihat seram namun hebat.

Insight Buku

Salah satu hal yang saya suka dalam buku ini adalah kesadaran penulis akan tidak adanya suatu konsep dan cara yang dapat berhasil mempengaruhi semua orang dan setiap waktu. Gretchen Rubin mengakui keunikan masing masing orang, yang dalam hal ini adalah para pembacanya. Hal tersebut tersurat maupun tersirat dalam buku ini. Untuk mempermudah pemahaman buku ini dan kemudian memilah cara cara apa yang dapat diterapkan dalam menciptakan maupun merubah kebiasaan kita Gretchen Rubin menyederhanakan kecenderungan manusia menjadi empat tendensi manusia  (Klik link ini untuk membaca tulisan Gretchen Rubin dalam terkait konsep ini dalam blognya). Konsep ini nih yang saya suka dalam buku Better Than Before Gretchen Rubin dan saya rasa salah satu hal yang menjadi Insight dalam buku ini. Konsep ini pada dasarnya suatu konsep pengelompokan manusia berdasarkan tendensi/ kecenderungannya dalam merespon ekspektasi internal (ekspektasi dari diri sendiri) maupun ekspektasi eksternal (ekspektasi yang datang dari luar baik orang luar, aturan dari luar, sistem, norma dan sebagainya). Konsep ini nih yang saya suka dalam buku Better Than Before Gretchen Rubin dan saya rasa salah satu hal yang menjadi Insight dalam buku ini. Konsep ini pada dasarnya suatu konsep pengelompokan manusia berdasarkan tendensi/ kecenderungannya dalam merespon ekspektasi internal (ekspektasi dari diri sendiri) maupun ekspektasi eksternal (ekspektasi yang datang dari luar baik orang luar, aturan dari luar, sistem, norma dan sebagainya).

Ada empat kelompok manusia berdasarkan Tendensinya, keempat kelompok tersebut antara lain:

  • Upholder: Kelompok yang dengan senang hati menerima dan menjalankan ekspektasi internal maupun eksternal.
  • Questioner: Kelompok yang selalu menanyakan ekspektasi yang diberikan padanya baik internal maupun eksternal, jika masuk akal maka akan ia penuhi, namun jika tidak masuk akal akan ia tolak.
  • Obliger: Kelompok yang mengalami kesulitan dalam memenuhi ekspektasi internal namun dengan mudah dan senang hati menyanggupi ekspektasi eksternal.
  • Rebel: Kelompok yang menolak semua ekspektasi internal maupun eksternal, kelompok ini memiliki kecenderungan menentang semua aturan yang ada dan sangat mengagumi kebebasan.
Empat Tendensi (Sumber: Valentina Thörner)

Dalam buku Better Than Before Gretchen Rubin menjelaskan dan menceritakan pengalaman-pengalaman dia tentang penerapan konsep konsepnya dalam kehidupan sehari harinya dan juga dilengkapi apakah konsep konsep yang ia jelaskan akan sesuai dengan orang ber tipe tendensi tertentu atau tidak pada tipe tendensi lainnya. Sebenarnya ada beberapa konsep pengelompokan lain yang juga diulas dalam buku ini seperti pengelompokan orang berdasarkan cara ia menolak sesuatu. Ada dua kelompok yaitu Abstainer (seseorang yang harus menolak secara keseluruhan) dan tipe Moderat (yang dapat menerima dalam kadar tertentu dan menolak jika berlebih) dan ada banyak konsep konsep menarik lainnya yang jika dituliskan satu satu dalam tulisan ini akan terlalu banyak dan terlalu panjang hehehe.

Sebagai akhir dari tulisan ini secara subyektif saya memberikan nilai pada buku Gretchen Rubin yang berjudul Better Than Before 4 bintang dari 5.

Sekian dari saya, terimaksih atas waktunya untuk menyimak tulisan saya ini dan akhir kata saya ucapkan

Salam

Dewa Putu Am

BukuDaily LifePsikologiUncategorized

Kenalan Sama Diri Sendiri

January 15, 2019 — by dewaputuam4

fc70650b208d0812fca26853e99c1409-960x640.png

Saya baru tersadar, selama ini kita terlalu sibuk mengenal orang lain hingga kita lupa untuk berkenalan pada diri kita sendiri.

Keinginan saya untuk membuat tulisan ini terihlami dari buku yang saya sedang saya baca beberapa hari ini yaitu buku “Better than Before” karya Gretchen Rubin. Sejauh yang saya baca (saya belum selesai baca hehehe) Ada satu konsep yang baru saya ketahui dan menurut saya cukup menarik dari buku ini yaitu tentang konsep Empat Tendensi Manusia yang ada pada bab Mengenal Diri Sendiri. Pada tulisan ini saya akan mencoba sedikit mengulas hal tersebut, karena menurut saya ini penting agar setidaknya kita sadar “Meskipun kita sama, tetapi kita cukup berbeda untuk disamakan”. AGak jelimet ya bahasa saya, intinya si kita sebagai mausia punya keunikan masing masing termasuk tendensi kita (kecenderungan) kita untuk merespons sebuah ekspektasi.

Kenali dulu Diri Sendiri Sebelum Mengenal yang Lain ?

Mengenali diri sendiri, menurut saya sama pentingnya atau jika boleh ekstrim saya rasa bahkan jauh lebih penting dari mengenal orang orang disekitar kita. Hal itu cukup masuk akal karena bagaimana kita bisa dengan yakin mampu mengenal orang lain bila dengan diri kita sendiripun kita tidak kenal. Kenal yang saya maksud disini bukan hanya terbatas pada nama namun lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud juga bukanlah kenal secara fisik, yang seolah olah kita hanyalah seonggok daging dengan aliran adarah didalamnya saya ingin lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud disini bukan pula kenal sifat sifat yang teramalkan dalam Astrologi, Shio atau apapun itu.

Another Me (Sumber: graffitiprints.com)

Siapa kita sebenarnya? siapa yang memikirkan untuk membuat tulisan ini, siapa pula yang memerintahkan jari jemari saya untuk menyatakan apa yang dipikirannya kedalam bentuk tulisan di blog ini. Dan siapa sang kesadaran ini yang saat ini dengan bingungnya bertanya melalui tulisan ini.

Saya baru sampai pada pertanyaan yang berkutat pada keingintahuan saya tentan “siapa kah saya ini” sudah cukup membingungkan, belum lagi pertanyaan seperti apa saya sebenarnya dan juga belum pada pertanya apa yang sebenarnya saya inginkan dalam sesuatu yang di sebut “hidup” ini. Nah,.. saya semakin bingung kan. -_____-
Kenapa pertanyaan pertanyaan ditulisan ini menjadi semakin rumit ya, padahal rencana awal tulisan saya hanya ingin membahas tentang konsep empat tendensi yang ditawarkan oleh Gretchen Rubin. Mungkin pertanyaan pertanyaan tadi tidak dapat saya jawab disini atau lebih tepatnya tidak begitu penting (untuk kalian) jika saya tuliskan disini karena saya yakin jika kalian tanayakan hal tersebut pada diri kalian sendiri akan menghasilkan jawaban yang berbeda beda pula.

Untuk Sementara, Kenali Diri Sendiri seperti Orang Lain

Mungkin kalian bingung kenapa saya menuliskan sub judul “Untuk Sementara, Kenali Dirimu Seperti Orang Lain”. Saya secara sengaja memberikan judul seperti itu karena iseng belaka. Menurut saya konsep pengenalan diri sendiri yang di tawarkan buku-buku, video, tentunya termasuk tulisan ini itu dari orang lain, yang untuk sementara bukan lah suatu yang salah bila kita gunakan untuk mengenali diri kita sendiri. Yah meskipun bukan suatu yang 100% benar juga sih, tapi tetap ada gunanya lah ya, dan menurut saya konsep yang diberikan Gretchen Rubin cukup menarik.

Ini konsep pembagian manusia menjadi empat kelompok berdasarkan tendensinya atau dengan kata lain kecenderungan orang dalam merespon ekspektasi. Saat menetukan dan melakukan sesuatu sesuatu, kita biasanya akan menetapkan sebuah ekspektasi untuk diri kita sendiri. Ada dua jenis ekspektasi berdasarkan sumbernya yaitu ekspektasi eksternal (mematuhi aturan aturan, harapan dan kepercayaan orang lain) dan ekspektasi internal seperti (resolusi, keinginan keinginan pribadi kita untuk lebih sehat, untuk lebih lebih lebih lainnya) Secara sadar ataupun tidak sadar, secara bersamaan kita mendapatkan keda jenis ekspektasi itu di semua kegiatan kita. Menurut Gretchen Rubin, setidaknya ada 4 kombinasi respon yang akan diberikan kita pada kedua tipe ekspektasi tersebut, 1 kombinasi respon tersebut dilambangkan sebagai satu Tendensi. Jadi setidaknya ada 4 Tendensi Bawaan manusia untuk merespon ekspektasi. Keempat Tendensi tersebut antara lain Upholder, Questioner, Obliger dan Rebel. Secara sederhana ke empat tendensi tersebut dapat diringkas melalui gambar diagram dibawah ini.

Empat Tendensi Gretchen Rubin (SUmber Gambar:The Four Tendencies Quiz)

Saya akan menjelaskan satu persatu ciri keempat tendensi tersebut menurut Gretchen Rubin agar seidaknya kita bisa memahami bahwa kita sebenarnya memiliki perbedaan kecenderungan satu sama lain, sukur sukur bia digunakan teman teman untuk mengefektifkan kampanye kampanye yang biasanya sih beberapa bulan ini bakal banyak tu juru kampanye dadakan yang berseliweran di facebook dengan segala rupa tingkah lucunya hehehe. Oke saya mulai penjelasan terkait 4 tendensi:

Upholder

Bagi Uphoalder Kedisiplinan adalah kebebasan. Si pecinta kedisiplinan ini merespon ekspektasi internal dan eksternal dengan senang hati. Dari mulai bangun tidur mereka sudah berpikir “Apa tugas dan Jadwal yang harus dikerjakan hari ini?”. Upholder biasanya orang yang dapat sangat diandalkan oleh orang lain dan juga tentunya diri mereka sendiri. Akan tetapi terkadang akan terlihat berlebihan karena mereka terlalu kaku terhadap peraturan bahkan untuk peraturan peraturan tak tertulis yang tidak begitu penting, kalau saya melihatnya seperti penjilat sih hehehe ternyata mereka bukan penjilat ya dan mereka memang memiliki kebiasaan unik seperti itu. Kekurangan dari upholder akan tampak bila ia dihadapkan pada ekspektasi yang tidak jelas atau tidak ada aturan yang jelas.

Questioner

Tipe orang yang memiliki tendensi ini merupakan orang yang sangat kritis. Mereka akan menanyakan semua jenis ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka hanya akan merespon jika mereka dapat menyimpulkan bahwa ekspektasi tersebut masuk akal. Mereka biasanya bangun pagi dan bertanya ” Apa yang perlu sya kerjakan dan kenapa?”. Ketika tidak ada jawaban apa dan kenapanya mereka tidur lagi #eh. Questioner termotivasi oleh alasan yang masuk akal, atau setidaknya apa yang mereka percayaisebagai alasan yang masuk akal. Kekurangan Questioner jika begitu akaut dapat menderita Analysis Paralysis yakni memikirkan sesuatu secara berulang ulang tanpa menemukan solusi jadi agak terkesan plin-plan hehehe sepertinya saya kenal orang yang seperti ini tapi yasudahlah lanjut ke berikutnya

Obliger

Obliger merupakan tipe orang dengan tendensi untuk dapat memenuhi ekspektasi eksternal namun merasa kesulitan untuk memenuhi ekspektasi internal. Sekilas orang orang ini yang biasanya suka berkorban atau malah dikorbankan. Obliger sangat baik dalam mewujudkan keinginan dan tenggang waktu dari pihak luar, mereka berusaha sangat keras untuk memenuhi tanggung jawab mereka, namun sayangnya mereka kesulitan untuk memotivasi diri sendiri untuk memenuhi ekspektasi mereka sehingga terkadang kehidupan mereka terbengkalai dan terus dikorbankan karena takut mengecewakan orang lain. Beban atas ekspektasidari pihak luar seringkali membuat obliger rentan terhadap kelelahan. Hal ini karena mereka sulit untuk mengatakan “tidak” pada orang lain.

Rebel

Kelompok rebel merupakan kelompok orang yang menentang semua ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka memilih untuk bertindak berdasarkan pilihan kebebasan. Rebel akan bangun tidur dan berpikir “Apa yang ingin saya lakukan hari ini?”. Rebel bekerja untuk mencapai tujuan mereka sendiri, selagi mereka menolak untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Aset terbaik rebel yang bermanfaat besar bagi komunitas yang di huni golongan lain adalah “suara mereka yang biasanya sangat berbeda dengan orang kebanyakan.” Terkadang perbedaan perbedaan yang rebel ciptakan justru dapat menyelamatkan komunitas tersebut. Atau malah menjerumuskan hehehe. Sisi negar=ti seorang Rebel yang sering membuat frustasi orang disekitarnya adalah mereka tidak dapat diminta atau disuruh melakukan apapun tidak peduli saat itu orang mengandalkannya, ada peraturan dan lewajiban, asal mereka tidak ingin maka mereka tidak melakukan.

Ada suatu trik untuk meminta bantuan atau meminta seorang rebel melakukan sesuatu. Kita dapat memanfaatkan sifat alaminya untuk membangkang dengan meminta anatu mengatakan sesuatu yang sebaliknya. Rebel tidak suka diperintah atau disuruh, untuk meminta sesuatu pada rebel cukup dengan memberikan informsi yang dapat berguna bagi mereka untuk membuat keputusan, menunjuk masalahnya sebagai pertanyaan yang bisa mereka jawab sendiri dan biarkan mereka memutuskan dan bertindak tanpa ada yang menyaksikan.

Meski menyukai kebebasan dan menolak adanya hirarki dan peraturan, ada sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Kita mungkin akan sering menemukan orang orang rebel justru tertarik pada institusi yang banyak peraturan seperti militer. Mungkin rebel juga membutuhkan batasan untuk dapat tunduk, berkembang dan memberontak. Rebel akan merasa gelisah bila tidak ada aturan yang bisa dilanggar hehehe.

Tendensi orang memang tidak pure salah satu dari empat tendensi itu namun lebih sering ditemukan merupakan kombinasi 2 atau lebih dari keempat tendensi tersebut. Namun biasanya akan ada satu tendensi yang lebih dominan. Yah meskipun menurut saya dengan mengetahui tendensi kita sebenarnya apa itu belumlah cukup untuk mengenal jauh diri kita sendiri. Namun setidaknya ada sedikit lah pencerahan tentang seperti apa kecenderungan kita, untuk hal lainnya kita bisa cari dari berbagai sumber bacaan seperti tentunya buku buku keagamaan (yang bagi saya merupakan manual book tentang kita). Hal ini tentunya tida saya bahas disini hehehe. eh ada kemungkinan akan saya bahas di posting selanjutnya ding

Saya kira sekian saja post sata pada hari ini soalnya sudah terlalu panjang dan akan sangat menjemukan bila saya lanjutkan.

Salam

Dewa Putu A

Keterangan Tambahan:
Feature Image di depan adalah lkarya dari Firestar97 di link ini gambar Surreal yang bagus ya hehehe

BukuHiburanPsikologi

Makna Hidup dan Logoterapi

May 27, 2018 — by dewaputuam0

Child_survivors_of_Auschwitz-960x689.jpeg

Ahli Logoterapi, Viktor E. Frankl
Sosok Viktor E. Frankl, Ahli Logoterapi sekaligus Penulis Buku “Man’s search for Meaning” (Sumber IEET)

Makna adalah sebuah hal penting dalam kehidupan. Seseorang dapat menghalalkan segala cara untuk memperjuangkan makna  hidup yang ia pilih. Untuk sebuah makna, hal ekstrim seperti tindakan persekusi bahkan terorisme sekalipun terkadang menjadi logis untuk dilakukan.  Ide menarik terkait makna hidup pernah diutarakan oleh seorang korban selamat dari pembantaian di Kamp Auschwitz. Ia adalah seorang survivor sekaligus ahli logoterapi dari Austria, Viktor E. Frankl penulis  buku yang berjudul Man’s search for Meaning. Dalam buku tersebut Frankl memberikan suatu sudut pandang yang menarik dan sederhana tentang makna kehidupan.

mencari Makna hidup

Pengalaman mengerikan Frankl dalam Kamp Pengkonsentrasian Auschwitz menguatkan kembali gagasan besarnyanya tentang Hidup. Bagi Frankl, hidup bukanlah upaya mencari kepuasan, bukan pula upaya mengejar kekuasaan. Hidup adalah sebuah upaya pencarian makna. Tugas terbesar manusia adalah mencari makna dalam hidupnya dan tentu kemudian merelaisasikannya.