main

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Every Body Lies, Apa yang Internet Ungkap Tentang Siapa Sebenarnya Kita

May 19, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-05-19-at-1.01.25-PM-960x686.jpeg
Sedikit ilustrasi tentang buku Everybody Lies karya Seth Stephens. Salah satu terbaik yang saya selesai baca di Tahun 2019 ini dengan sedikit background blog saya hehehe (Sumber foto pribadi).

Ada sedikit cerita “menarik” tentang bagaimana saya membeli buku ini karena secara ajaib sesuai dengan tema besar yang diusungnya. Buku ini saya beli dari “imbalan” setelah bersedia diwawancara oleh seorang kadidat PhD Indinesia di salah satu univeritas Singapura yang meneliti terkait penggunaan data dalam beberapa operasi penanggulangan bencana di Indonesia. Ironisnya meski didapat dari ‘hadiah’ wawancara, dalam bab bab awal di Buku ini justru menyoroti kurang begitu baiknya metode wawancara konfensional karena dalam dalam wawancara konfensional “kita dibayar untuk menjawab pertanyaan bukan untuk kebenaran”.

Sejenak saya berpikir apakah yang saya jawab kemarin adalah sepenuhnya kebenaran, atau sudah ada bumbu bumbu dusta disana? Meski secara subtansi saya rasa sudah menjawab dengan relatif benar namun saya kurang begitu yakin beberapa gimik mungkin tidak sengaja saya utarakan saat itu #mungkin.

Deskripsi Singkat Sebuah buku cerita dari seorang data saintist tentang Kita”

Buku yang saya baca adalah versi ebook berbahsa inggris yang diterbitkan oleh Bloomsbury. Buku karya Seth Stephens ini saya beli melalui aplikasi Google Playbook. Everybody Lies merupakan satu dari sekian banyak buku yang sudah saya incar antara tahun 2017 atau 2018 karena topik yang dibahas cukup profokatif serta unik, itu menurut saya. Karena buku ini berbahasa inggris akhirnya saya pun sedikit menahan diri menunggu versi terjemahan bahasa indonesianya. Seiring waktu, saya pun mulai kehabisan bahan bacaan menarik dan kebetulan saya mendapat sedikit dana dalam bentuk pulsa untuk dapat membeli sebuah ebook di Google Play (hehehe) akhirnya sayapun putuskan untuk membeli versi inggrisnya saja mumpung harga yang ditawarkan ebook jauh lebih terjangkau dibandingkan versi cetaknya. Akan tetapi menyebalkannya, saat saya hampir selesai membaca buku ini Gramedia dengan gagahnya menerbitkan buku ini.

Buku ini tidak terlalu tebal namun tidak juga tipis, hanya 354 halaman dan itupun yang bagian intinya hanya sampai halaman 290an. Jumlah halaman segitu sudah cukup padat mengingat begitu banyak topik yang dibahas oleh buku ini. Oia lucunya, Seth Stephens secara tersurat juga menyampaikan jumlah kata yang ada di dalam buku ini yakni sekitar 700000-an kata. Hal ini ia sebutkan dalam kesimpulan yang menurut saya adalah salah satu bab kesimpulan buku paling unik yang pernah saya baca hingga saat ini.

Insight Buku yang tidak hanya menceritakan “Insight” namun juga tentang “pencarian Insight” dari data tentang kita

Dalam bukunya, Seth Stephens sang data saintist ini tidak hanya lihai mengungkap insight dari berbagai “Big Data” namun juga berhasil menempatkan diri secara konsisten sebagai data saintist sejati yang percaya namun sedikit menyisakan skeptis pada insight-insight yang ia dapatkan baik melalui kajiannya maupun dari beberapa urunan informasi dari beberapa kolega sesama data saintistnya.

Ups ternyata kita sebenarnya tidak benar benar tersembunyi dan apa yang kita lakukan selama ini dapat terungkap dari jejak jejak digital yang kita tinggalkan. ( Tree photo created by freepik – www.freepik.com)

Buku ini menceritakan berbagai fakta menarik yang sering kali kontradiksi dengan apa yang sudah kita yakini selama ini. Buku ini mengungkap berbagai kebohongan yang dilakukan oleh kebanhyakan dari kita atau bahkan kita semua. Dari hal-hal remeh dan lucu seperti sikap kita yang meski terlihat begitu “santun dan baik” dari luar maupun di media sosial, namun ternyata menympan sarkastik dan rasisme yang begitu gelap. Hal ini diungkap penulis melalui kajiannya terhadap kata-kunci pencarian yang dikumpulkan dari berbagai mesin pencarian seperti Google, Bing dan sebagainya.

buku ini mengungkap perbedaan sentimen dan harapan para orang tua terhadap anak laki-laki dan perempuannya. Mengungkap kosa kata yang menandakan bahwa akan ada kencan kedua. Mengungkap kata kunci paling populer dalam penelusuran situs situs pornografi. Mengungkap cara memperkirakan jumlah pengangguran, jumlah pelaku aborsi dan jumlah anak anak korban pembulian bahkan potensi terjadinya pembunuhan. Ketiga hal tersebut dilihat dari jumlah akses terhadap situs situs pornografi untuk mengungkap jumlah pengangguran, dan penelusuran trend trend frasa tertentu untuk mengungkap jumlah pelaku aborsi dan korban pembulian, serta potensi terjadinya pembunuhan.

Dari buku ini juga, Seth Stephens menantang keyakinan kita selama ini yang meyakini bahwa film film kekerasan akan meningkatkan jumlah kekerasan di suatu wilayah. Nyatanya dari beberapa penelitian kejadian sebaliknya justru terjadi, film film kekerasan ini justru menurunkan tingkat kriminalitas di suatu wilayah. Tentang pidato obama juga yang digadang gadang mampu meredakan Islam phobia di Amerika ternyata juga tidak sepenuhnya benar karena sesaat setelah pidato tersebut kata kunci yang trnding di mesin pencarian justru bersuasana yang sebaliknya.

Opini saya tentang buku Everybody lies karya Seth Stephens

Secara keseluruhan saya suka dengan buku ini. Banyak wah dan aha momen yang saya rasakan ketika saya membaca bagian demi bagian pada buku ini. Buku ini menjelaskan dengan cukup baik tentang kelebihan kelebihan Big Data dan cara para data saintis dalam mengungkap Insight dari data tersebut untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang ada disekitar kita yang tidak jarang jawaban yang diungkap dalam buku ini berbeda dari apa yang kita yakini sebelumnya sekaligus sangat miris.

Seth Stephens, penulis Everybody Lies tampak sedikit ngece hahaha. Oke suhu saya akui dirimu dirimu hebat dalam menulis sebuah buku, saya menunggu buku buku anda selanjutnya (Sumber foto The Weekend Edition)

Saya kagum pada cara penulis menyusun banyak topik bahasan yang sangat beraneka ragam. Meskipun harus saya akui pada mulanya, saya sedikit skeptis dengan buku ini, mengingat topik yang yang ia bahas adalah topik yang sangat luas dan sangat beraneka ragam. Beberapa buku serupa kebanyakan terjebak pada melempar begitu saja topik topik mereka tanpa keterikatan yang kuat antar topik dalam membentuk alur cerita dan kerangka ide yang ingin diungkapkan secara utuh. Dan buku ini menurut saya behasil menampilkan hal tersebut pengungkapan pengungkapan insight dan cara cara mengungkapnya di jabarkan dengan rapi untuk memberikan kita gambaran seperti apa potensi pemanfaatan Data Konvensional dan Big Data saat ini namun tidak lupa pula mengutarakan kelemahan kelemahan big data tersebut.

Buku ini tidak hanya mengagung agungkan superioritas dan seksinya big data dalam era sekarang namun juga mengkritik perlombaan Big Data yang kebanyakan hanya terfokus pada ukuran yang masiv tanpa banyak memperhatikan Insight sebanyak dan sesignifikan apa yang dapat diungkap dan yang paling penting adalah pertanyaan pertanyaan apa yang dapat dijawab dengan data semasiv itu.

(Seth Stephens)

Dan terakhir, hal yang menurut saya paling menarik dari buku ini adalah bagian kesimpulannya. Dari bab tersebut Seth Stephens di bagian bagian awal mengungkapkan secara tersurat bahwa dalam sebuah buku (atau tampaknya semua karya tulisan), sebuah kesimpulan yang luar biasa haruslah ironis, harus menggugah, harus mendalam, harus menyenangkan, harus dalam, humor dan sekaligus menyedihkan. Dalam Bab ini terlihat sekali kedalaman dan kekonsistenan penulis akan kesan dan peran data saintist yang ia emban. Cara ia menutup bukunya menurut saya keren hehehe dan sepertinya menarik bila saya gunakan gaya tersebut untuk menutup tulisan saya.

Tampaknya tulisan ini sudah terlalu panjang ya sudah 1100 an kata saya tuliskan dalam posting ini dan saya tidak begiu yakin akan banyak yang membaca tulisan saya sampai pada kata kata saya saat ini, karena kebanyakan dari para pembaca saat ini hanya membaca Judulnya saja, dan sedikit diantaranya akan sampai pada beberapa paragraf awal, dan menyedihkannya lagi jaul lebih sedikit pula yang akan mencapai akhir pada kalimat ini. Sedih sih dan juga cukup kecewa tapi mau bagaimana lagi ya, inilah keadaan sekarang. Oke buat teman teman yang tersisa sampai pada kalimat ini saya ucpkan terimakasih atas waktu yang teman teman berikan pada tulisan saya ini. Kalian luar biasa Guys 🙂

BukuHiburanUncategorized

[Opini] Membaca eBook, Tidak Lebih Menyenangkan Dibandingkan Buku Cetak

May 18, 2019 — by dewaputuam0

144-960x640.jpg
Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku dalam pendarang cahaya senja #hasek bersa anak Indie banget yak. Saya sedikit heran kenapa ya beberapa orang dapat terlihat begitu indah saat membaca buku hehehe (Sumber Gambar snowing via Freepik)

Sebagai tulisan filler dalam blog saya, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman selama membaca buku dalam bentuk elektronik (ebook) dan sedikit membandingkannya dengan pengalaman membaca buku cetak.

Ebook vs buku cetak seringkali diperdebatkan oeleh beberapa penikmat buku. Bagi beberapa orang membaca versi cetak lebih nyaman dibandingkan dengan membaca ebook. Salah satu alasan yang mereka utarakan biasanya terkait pengalaman mereka yang nyaman ketika mencium aroma segar dari buku baru dan keasikan mereka saat membuka lembar demi lembar buku secara fisik.

Selain itu, koleksi buku cetak juga dapat digunakan sebagai pajangan yang menarik saat tersusun rapi di dalam lemari. Saat buku sudah tersusun rapi biasanya akan dijadikan background foto foto di media sosial dengan berbagai captionnya hehehe kesan cerdas terpelajar dan keren pun kemudian seolah terdongkrak seketika oleh susunan buku tersebut.

[Opini] Membaca eBook, Tidak Lebih Menyenangkan Dibandingkan Buku Cetak

[Opini] Membaca eBook itu, tidak lebih menyenangkan bila dibandingkan dengan membaca buku cetak. Namun, membaca ebook, tidak pula kurang menyenangkan bila dibandingkan membaca buku cetak. Singkat kata, membaca buku baik ebook dan buku cetak bagi saya sama saja pengalaman yang diberikan, tentu dengang berbagai kelebihan dan kekurangannya masing masing.

Bagi saya, yang terpenting adalah isi dari buku tersebut. Hanya saja, ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan saat membaca ebook beberapa keuntungan tersebut anatara lain:

  • Ringkas dan dapat dibawa kemana saja. Poin ini adalah poin paling penting keunggulan ebook bila dibandingkan buku cetak. Ebook sangatlah ringkas tergantung dari kapasitas drive kita, baik di perangkat maupun cloud. Saking ringkasnya bukan tidak mungkin kita membawa ratusan buku bahkan satu perpustakan dalam genggaman kita.
  • Mudah menerjemahkan bila bertemu kosa kata baru. Ini adalah poin yang sangat membantu saya dalam membaca serta memperluas jangkauan serta akses bacaan saya tanpa adanya penghalang bahasa. Melalui ebook, bila menemukan kata kata baru maka dengan mudah kita menerjemahkannya hanya dengan memblok tulisan atau frasa tersebut dan secara ajaib akan muncul pop up terjemahannya.
  • Mudah membuat catatan dean highlight frasa yang penting dan menarik. Bila menemukan sebuah ide segar yang menarik dalam sebuah buku saya biasanya menandai dengan berbagai cara jika dibuku cetak saya biasa menggunakan sabilo atau pensil, dan di ebook, kegiatan tersebut bahkan menjadi jauh lebih mudah lagi dan bagusnya pula ada suatu laman kusus yang menampilkan frasa frasa serata catatan catatan yang kita buat di ebook tersebut. Sehingga bila suatu saat kita membutuhkan frasa tersebut dengan mudah kita dapat mencarinya.
  • Tersingkronisasi dengan berbagai macam perangkat. Singkronisasi adalah suatu keuntungan dan keunggulan ebook bila dibandingkan dengan buku cetak. Melalui aplikasi pembaca ebook, kita dengan sangat mudah berpindah pindah perangkat sesuai kebutuhan untuk membaca buku tersebut. Sebagai gambaran, biasanya saya membaca menggunakan tablet saat saya sedang bersantai dengan segels kopi, namun saat menulis sebuah artikel dan membutuhkan membaca ebook tersebut dan atau mengutip beberapa kalimat maka saya beralih pada perangkat laptop atau komputer. Dan kemudian saat saya sedang berdesak desakan di dalam kereta, sembari mendengar musik saya juga dapat membaca ebook melalui smartphone saya.
Beberapa koleksi ebook yang saya miliki saat ini melalui aplikasi google playbook. Menggunakan aplikasi ini saya dapat membaca buku dengan mudah melalui laptop, tablet bahkan smartphone saya. Selain bukunya tersinkronisasi, catatan catatan saya pun tersingkronisasi dengan baik di setiap perangkat yang saya punya.

Terkadang, untuk kasus tertentu buku cetak memanglah yang terbaik

Terkadang, untuk kasus tertentu saya akui buku cetak memang tidak akan tergantikan. Biarpun banyak keunggulan dari ebook, ada beberapa rasa yang tidak dapat mengganti sensasi dalam membaca buku cetak. Lagi lagi tentang aroma buku memanglah menyegarkan hehehe. Untuk beberapa buku yang layak koleksi pun saya prefer untuk membeli versi cetaknya juga meski telah punya versi ebooknya karena saya masih ragu keberlanjutan dari buku buku yang saya simpat secara digital tersebut. Dan sayang sekali jika harus kehilangan buku sangat bagus bila ternyata aplikasi atau perangkat kita mati begitu saja. (Ini sebenarnya alasan untuk membenarkan keinginan saya menambah koleksi buku saya di lemari untuk dijadikan post di media sosial hehehe).

Ada satu lagi yang mungkin menjadikan ebook begitu inferior bila dibandingkan dengan buku versi cetaknya yakni kebutuhan ebook akan suplai energi (batre), hal ini menyebabkan bila listrik padam atau didaerah tidak teraliri listrik, maka membaca buku versi digital menjadi begitu sulit dilakukan. Percuma bila kita membawa satu perpustakaan ebook dalam rangsel kita, kalau perangkat kita tidak terisi daya yang cukup.

Saya rasa cukup sekian saja tulisan saya kali ini, Saya berharap tulisan ini memberikan sedikit manfaat bagi teman teman yang mungkin sedang bingung menentukan antara ebook dan cetak. Bagi saya, Ebook ataupun cetak itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing, pilihan antara ebook dan cetak baiknya tergantung dari tujuan dan cara apa yang akan kita gunakan dalam membaca buku tersebut nantinya.

Sumber Background photo created by snowing – www.freepik.com

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Army of None, “Senjata Otonom dan Masa Depan Perang”

May 3, 2019 — by dewaputuam0

scifi-3617337_1920-960x603.jpg
Ilustrasi Buku Army of None karya Paul Scarre, Buku yang menarik dan membuka mata kita tidak hanya tentang robot otonom tapi juga tentang senjata dan perang. (Sumber gambar: CNAS)

Saya mengetahui tentang buku ini pertama kali saat judul buku tersebut masuk kedalam daftar 5 buku terbaik di tahun 2018 menurut Bill Gates yang ia bagikan di story instagram resminya. Melihat judulnya yang menarik dan tema yang unik saya pun tertarik untuk membacanya. Dan akhirnya hingga adi malam dengan bahagia akhirnya buku ini menjadi buku berbahasa inggris pertama yang berhasil saya baca tuntas. Saya senang dapat menyelesaikan buku ini dan saya berharap sih ini menjadi suatu awalan bagi saya untuk dapat mengakses lebih banyak lagi buku buku yang saya inginkan, mengingat banyak buku buku bagus dan ingin saya baca relatif lama dan saya tunggu sekian lama tak kunjung di alihbahasakan dan kemudian diterbitkan dalam bahasa indonesia.

Dengan saya selesaikannya buku ini setidaknya nambah PD untuk membaca buku buku seperti itu hehehe. Hal ini karena dari dulu beberapa kali beli buku dengan bahasa inggri selalu terganjal dengn bahasa dan malas untuk bolak balik kamus untuk mengartikannya. Hingga akhirnya saya menggunakan google playbook semua jadi terasa lebih mudah dan hitung hitung sebagai salah satu media belajar berbahasa inggris bagi saya hehehe.

Oke, kembali ktopik bahasan. Pada tulisan ini saya ingin memberikan sedikit ulasan dan pendapat tentang sebuah buku karya Paul Scarre yang berjudul Army of None. Secara garis besar buku dengan ketebalan 532 halaman termasuk dafar pustaka dan lampiran foto foto lainnya ini menggambarkan dan menceritakan tentang robot otonom dengan segala perkembangan dan kemudian kelebihan juga kelemahannya. Meski terlihat bahwa buku ini ditulis oleh seseorang yang mendukung aksi pelarangan robot otonom penuh, namun yang saya suka dari penulis ini adalah pemberian narasi yang sangat minim bias subyektifitas untuk pihah yang pro dengan robot otonom dan yang saya sukai dari buku ini adalah kemampuan sang penulis dalam menyusun ceritanya sehingga tidak monoton dan membiosankan untuk dibaca disertai pengungkapan fakta fakta yang mengagetkan terkait perang dan persenjataan.

Sebagai salah satu penghargaan terhadap buku ini dan ekspresi saya yang menyukai buku ini maka pada tulisan ini saya akan mengulas hal hal menarik yang saya temui pada buku ini. Jika tertarik silahkan teman teman lanjutkan bacaan ini #monggo

Narasi Perang Dunia Ke III yang Hampir Saja Terjadi

Buku ini diawali dengan sebuah narasi yang menurut saya sudah menggambarkan segala pergulatan batin tentang baik tidaknya sebuah senjata otonom melalui suatu kejadian yang mungkin banyak orang tidak ketahui bahwa bumi ini pernah hampir kiamat. Ini sebuah peristiwa di zaman perang dingin antara Soviet dan Amerika. Saat itu perlombaan senjata nuklir membawa kedua kubu kedalam suatu kondisi tipis tipis mendekati perang nuklir.

Ilustrasi ledakan nuklir, Jika bentuk ledakannya bisa berbentuk ala badut yang lagi ngece gitu semakin epik tampaknya ya hehehe (Sumber ilustrasi ExtremeTech)

Dalam ketegangan yang terjadi, pada malam hari tanggal 26 September 1983 Letkol Stanislav Petrov sedang berjaga dan mengemban tugas sebagai pelapor untuk peluncuran nuklir. Malam itu sirine tanda bahaya berbunyi dan berdasarkan satelit yang dimiliki oleh Soviet, Amerika telah meluncurkan roket berhulu ledak nuklirnya ke udara, dalam keraguannya jikalau saat itu terjadi kesalahan sistem kemudian muncul peringatan lagi yang ke dua dan seterusnya hingga ke lima yang menggabarkan bahwa lima roket telah meluncur dari Amerika.

Saat itulah Stanislav Petrov menghadapi pilihan yang berat dan penuh dengan keambiguan, tidak mudah baginya untuk memutuskan apakah peringatan tersebut benar ataupun sebuah kegagalan sistem dan tentunya kedua pilihan tersebut memiliki konsekuensi yang sangatlah besar bahkan dapat memicu terjadinya perang nuklir. Hingga waktu waktu terakhir akhirnya Stanislav Petrov menahan reaksi serangan untuk memastikan benar apa yang sedang terjadi.

Dan benar saja, ternyata tidak ada serangan dan objek yang terdeteksi sebagai peluncuran roket tersebut hanyalah pantulan sinar matahari oleh puncak awan. Coba bayangkan apa yang terjadi bila sistem peluncuran nuklir tersebut adalah sebuah sistim yang otonom, mungkin saja dunia akan jauh berbeda dengan hari ini.

Buku yang Bercerita [Tak Hanya] Tentang Robot

Meskipun pada bab bab awal buku ini menggambarkan seberapa cepat perkembangan robot saat ini baik yang bergerak didarat, lautan hingga udara. Baik yang bergerak sebagai robot tunggal maupun yang berbentuk kawanan (swarm). Di awal kita disuguhkan betapa dasyatnya perkembangan robot dari yang otomatis (Automatic) yang secara sederhana merasakan dan menjalankan aksi sesuai dengan program linear/ atau batasan situasi yang telah diberikan atau secara sederhana dapat disebut sebagai threshold-based system. Automated (saya tidak tahu padanan kata yang pas untuk istilah ini) sebagai suatu sistem yang mulai komplek dengan program nonliniernya dan memiliki pembobotan pembobotan pada masing masing pilihannya atau secara sederhana dapat disebut sebagai rule-based system. Hingga yang terakhir adalah Otonom (Autonomous) sebagai suatu sistem “robot” yang telah memiliki kecerdasan dapat menentukan sendiri langkah langkah yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (goal-based/self-directed system).

X-47B sebagai salah satu drone yang secara otonom pada tahun 2013 dapat mendarat di sebuah kapal induk dan menjadinya sebagai salah satu batu pijakan penting menuju perkembangan tekhnologi senjata otonom.

Dalam buku ini, Paul Scharre tidak hanya menampilkan perkembangan robot otonom dengan segala citranya yang dibangun seperti pada film film fiksi ilmiah dari astroboy hingga terminator. Namun lebih dari itu, buku ini juga menjelaskan perkembangan pertarungan manusia dari saling pukul, melempar batu, menuju pada senjata tajam, panah, senjata api senjata mesin dan seterusnya dengan berbagai konsekuensi yang diakibatkan baik dari segi teknis, segi efektifitas dalam perang hingga segi moral yang ditabrak. Berdasarkan itu pula kemudian Paul Scharre dengan sangat apiknya menyandingkan dan membandingkan kedua sisi sentimen positif dan negaif dari senjata otonom.

Dalam penjelasan dan proses membangun narasinya tersebut diungkap pula beberapa fakta yang membuat saya kaget dan terdiam sementara. Salah satunya adalah dalam perang ternyata lebih dari 80% tentara sengaja memelesetkan tembakannya agar mengarah pada arah yang salah dan tidak mengenai target seperti diatas kepala, dan beberapa sisi yang sengaja mereka simpangkan agar tidak mengenai musuh mereka. Hal ini diakibatkan oleh suatu penghambat alamiah suatu spesies untuk tidak membunuh sesamanya, namun karena kondisi psikologis, tekanan dari pihak berkuasa, difusi tanggung jawab, dehumanisasi musuh serta peningkatan jarak secara psikologis, pada akhirnya hambatan alamiah manusia yang menjadikan keengganan untuk membunuh abai dan terkalahkan.

Chappie, sebuah film tentang robot otonom yang cakep dan agaknya saya jadi ingin nonton lagi stelah baca buku ini dibandingkan dengan film terminator, ini lebih oke kayak e (sumber: Digital Trends)

Saya rasa faktor-faktor inilah yang dimanfaatkan dan di modifikasi oleh orang orang yang berkepentingan baik pihak militer maupun pihak perekrut terorisme dalam menyiapkan seseorang untuk siap membunuh sesamanya. Sehingga terkadang kita kita tidak melihat ekspresi bersalah dan tertekan pada pelaku pembunuhan baik dalam suatu operasi militer maupun aksi aksi tidak bertanggung jawab yang terorganisir lain seperti tindakan terorisme. Saya akan coba menguraikannya secara singkat satu persatu, bukan untuk mengajarkan cara cuci otak tetapi sekedar informsi agar tidak terperosok kedalam hal tersebut, karena disekitar kita baik secara sadar ataupun tidak sudah bertebaran hal hal tersebut.

  • Pertama adalah mengkondisikan psikologis seseorang dengan berbagai cara seperti salahsatunya adalah memaparkannya pada informasi dan situasi situasi ekstrim.
  • Kedua adalah meberikan tekanan berdasarkan kekuasaan, baik dengan fisik langsung maupun tindakan tindakan yang menyebabkan seseorang tidak berdaya untuk menolak.
  • Cara ketiga adalah mendifusikan tanggung jawab dengan cara pembagian tugas yang guyub dan rumit sehingga mengaburkan fakta terkait siapa yang bertanggung jawab sebenarnya.
  • Cara keempat adalah dehumanisasi musuh dengan mengikis sisi humanisnya baik secara langsung maupun dengan narasi yang berputar yang memberikan sisi jahat, hewan dan tidak manusiawinya musuh tersebut dan jauh dari sisi manusia. Atau dengan menggantikan target manusia pada musuh menjadi target target fisik lainnya seperti bangunan dll yang kemudian secara tidak langsung juga emberikan dampak pada musuh
  • Cara kelima adalah membuat suatu jarak fisik dan psikologis antara seseorang dan musuhnya hingga kemudian juga dapat memberikan efek dehumanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jarak fisik dan juga memisahkan dan meningkatkan perbedaan perbedaan antara lawan dan musuh sehinggi muncul penggolongan yang ekstrim.

Jadi melenceng ya dari yang seharusnya. Sebenarnya tidak, karena ternyata dalam kajian kajian yang di jelaskan dalam buku tersebut, ternyata kehadiran senjata otonom akan meningkatkan kelima faktor tersebut yang kemudian menjadikan pembunuhan musuh menjadi sesuatu peristiwa yang biasa dan tidak ada yang perlu menanggung beban tanggung jawab karenanya. Hal inilah yang kemudian ditakutkan meski harus diakui pengaplikasian enjata otonom dapat meningkatkan presisi dan efektifitas dalam peperangan, nmaun sebagai dampak sampingnya yang mengaburkan beban tanggung jawab dan lainnya maka opsi perang akan semakin mudah untuk dipilih. Dan tentunya hal tersebut bukanlah hal yang diinginkan. Biar bagaimanapun juga “There is no glory in war” (Silvia Cartwright )

In a world where autonomous weapons bore the burden of killing, fewer soldiers would presumably suffer from moral injury. There would be less suffering overall. From a purely utilitarian, consequentialist perspective, that would be better. But we are more than happiness-maximizing agents. We are moral beings and the decisions we make matter.

(Paul Scharre, Army of None)

Ini suatu qoutes yang paling saya sukai dalam buku ini. Dari quote ini kita diingatkan bahwa bukan sekedar agen yang hanya mengejar dan memaksimalkan kebahagiaan diri kita, kebahagiaan apapun itu baik kebahagiaan di dunia ataupun kebahagiaan diakherat. Kita tercipta untuk lebih dari itu, kita adalah entitas moral yang segala tindakannya memiliki arti, baik untuk diri sendiri, orang lain dan mungkin bila boleh sedikit hiperbola saya dengan yakin mengatakan bahwa kita jugalah yang menjadi bagian dalam menggerakan dunia ini akan kemana dimasa depan apakah baik ataupun suram tergantung dari tinakan kita dan keberanian kita bertanggung jawab setelahnya.

Saya kira cukup itu dulu untuk cerita tentang buku Army of None saat ini, saya suka buku ini dan menilai 4/5 dan jika teman teman berminat silahkan baca hehehe dan ingat belilah secara legal (tapi kalau pingin link yang ilegal silahkan hubungi saya hehehe #bercanda). Sampai jumpa pada tulisan saya berikutnya

Salam ala cyborg

dewa putu a

Sumber Sumber
  • Scarre, Paul, “Army of None: Autonomous Weapons and the Future of War”,2018
  • Featured Image by Computerizer from Pixabay

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

Rekomendasi 7 Buku Terbaik yang Layak Kita Koleksi dan Baca

April 23, 2019 — by dewaputuam0

5924-min-960x641.jpg
Buku adalah salah satu teman terbaik manusia. Ia menyimpan pesan, rasa dan suasana masa lalu dan sekarang, mengabadikannya untuk masa kini dan masa yang akan datang (Sumber Ilustrasi: jannoon028 Freepik)

Untuk ikut serta dalam memeriahkan hari buku sedunia yang dirayakan setiap 23 April, pada kesempatan kali ini saya akan menyodorkan sekaligus merekomendasikan 7 Buku terbaik yang pernah saya baca, setidaknya hingga saat ini. Saya akui ini bukan suatu pilihan yang mudah karena menurut saya buku-buku yang saya baca mayoritas bagus-bagus, karena buku yang kurang bagus biasanya tidak pernah selesai saya baca hehehe. Dari kesekian buku yang telah saya tersebut kebanyakan memiliki ciri khasnya masing masing dan tentunya tidak sedikit yang akhirnya membuka mata saya tentang hal hal yang sebelumnya tidak saya sadari. Tidak perlu berlama lama lagi, berikt ini adalah 7 Buku Terbaik yang Layak di Koleksi dan di Baca menurut saya.

#1 “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl

Buku “Man’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl adalah satu buku terbaik yang saya baca hingga saat ini, banyak kesan yang tertinggal dari buku ini. (Sumber: Medium.com)

Hingga saat ini, jika ditanya dan diminta untuk merekomendasikan satu saja buku terbaik yang layak untuk dibaca temen teman sepertinya saya tidak akan bingung dan dengan senang hati saya merekomendasikan buku ini. Ini adalah buku yang paling memberikan kesan bagi saya dan banyak sekali “Oooo moment” yang saya alami selama membaca buku ini.

Buku Man’s Search for Meaning menceritakan kisah hidup penulis dalam kamp pengkonsterasian Nazi selama Perang Dunia ke II. Dari buku ini kita diberitahukan bahwa apa yang diinginkan manusia dan terus memberikan motivasi seorang manusia untuk hidup dan menjalani hidup adalah karena ada makna yang diyakini dan diperjuangkan. Dari sini kita belajar bahwa terkadang memang kita temui orang orang yang bertindak buruk dan keji bagi kita sebenarnya tidak sekedar mengejar tahta ataupun kekuasaan namun lebih dari itu ada sebuah makna yang sedang ia perjuangkan.

Apapun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia, kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.

Viktor E. Frankl

Melalui buku ini kita akan dikenalkan suatu konsep terkait logo terapi (terapi makna) yang didalamnya dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Salah satu konsepnya pernah saya tuliskan di dalam tulisan saya yang berjudul “Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya di link ini. Paradoxical Intention pada intinya adalah suatu paradox yang membuat suatu hal menjadi nyata saat kita sangat berusaha agar hal tersebut tidak terjadi, namun sebaliknya akan begitu sulit tercapai ketika kita sangat menginginkannya. Saya membaca buku ini melalui platform google playbook, jika berminat versi cetaknya sepertinya masih dijual di beberapa toko buku online.

#2 “Don’t Follow Your Passion” karya Cal Newport

Saya memilih buku ini karena melihat bukunya yang cukup nyeleneh dibandingkan buku buku sejenis lainnya. (Sumber Gambar: Femina)

Jika teman teman sudah terlalu jenuh dengan petuah petuah yang memberi semangat kita untuk “bermimpi besarlah kalian, kejar passion kalian, kalian akan sukses bila kalian mengerjakan apa yang anda cintai” dan frasa frasa serupa yang membuai kita tentang indahnya bekerja sesuai passion, dalam buku ini kita akan dibangunkan dari mimpi kita.

Buku ini tidak memandang buruk orang orang yang mengejar passion mereka, buku ini sekedar mengingatkan bahwa tidak semua passion anda akan memberikan kesuksesan di kemudian hari. Alih alih berjibaku dan menjadi kutu loncat demi mengejar sebuah passion, buku ini mengajarkan kepada kita agar kita memberdayakan dan terus mengembangkan apa yang telah dan sedang ada di sekitar kita. Dengan mengembangkan apa yang telah ada kita akan terus memperbaiki diri menjadi “begitu baik sehingga tidak ada yang bisa mengabaikan kita”.

#3 “O” sebuah novel karya Eka Kurniawan

Eka Kurniawan dan Bukunya yang berjudul “O” (Sumber gambar CNN Indonesia)

Agar tidak terkesan sebagai orang yang mabuk akan buku buku pengembangan diri yang selalu optimis dan melakukan salam salam super ala MLM agaknya ada baiknya saya sedikit memasukan salah satu novel terbaik yang pernah saya baca. Novel ini memiliki judul yang sangat singkat, hanya satu huruf di sana yaitu “O”. Novel ini merupakan karya yang menurut saya epik dari seorang novelis bernama Eka Kurniawan.

Secara garis besar novel ini menceritakan sebuah kisah cinta nan tragis dari seekor monyet yang mencintai seorang raja dangdut. NOvel ini adalah kombinasi antara komedi, keabsurd-an dan filosofis (meskipun saya sudah lupa letak filosofinya dimana). Yang saya suka dari buku ini adalah kelihaian sang penulis dalam menceritakan berbagai tokoh tokohnya yang absurd dari monyet, burung hingga kaleng sarden bekas yang digunakan untuk menampung koin topeng monyet.

Jika teman teman menginginkan bacaan ringan namun bertabur nilai nilai moral didalamnya, saya merekomendasikan buku ini untuk teman teman baca dengan segelas teh atau kopi panas.

#4 “Origin” sebuah novel dari Dan Brown

Buku yang sebelum penerbitannya sudah saya tunggu ber minggu minggu atau bahkan lebih dari sebulan (Sumber gambar: Whitehots)

Ini adalah buku Dan Brow kedua yang pernah saya baca setelah Inferno. Meskipun beberapa orang yang telah membaca karya karyanya Dan Brown menilai buku ini akan sama monotonnya dengan buku buku yang lain, namun berhubung saya baru membaca satu karya Dan Brown waktu itu maka saya kurang begitu mengharapkan keberagaman alur cerita dari sang penulis ini.

Saya akui alur dari buku ini memang sama dimana ada tokoh terkenal kemudian mati dengan meninggalkan misteri yang harus dipecahkan oleh Profesor ahli Symbology kita Robert Langdon dan kemudian terjadi kejar kejaran dan konflik semakin rumit dan blam kasus terselesaikan namun ada yang menggantung, dan kemudian muncul lah plot twist ke dua yang membalikan apa yang kita pikirkan sebelumnya. Seperti itu pola yang saya tangkap. Plot twist pamungkasnya secara berat hati dan dengan sedikit mengecewakannya sudah dapat saya tebak bahkan sebelum pertengahan cerita ini. Tetapi yang membuat saya terus melanjutkan ceritanya adalah, misteri utama berupa jawaban dari dua pertanyaan terpenting umat manusia seperti apa yang diungkap dalam novel ini.

Terlepas dari bisa ditebaknya tiwist yang diberikan dan alurnya yang mirip dengan cerita dan brown lainnya. Novel ini masih layak dibaca karena dapat memberikan kita arti dan maksud dari berbagai karya seni dan objek-objek yang di lalui oleh profeseor symbologi kita ini. Terkait jawaban dari kedua pertanyaan penting umat manusia tersebut saya sudah membuat sedikit ulasan saya dalam blog ini dengan judul “Fisika Asal Mula dan Evolusi Kehidupan” dalam link ini.

#5 “The Great Shifting” karya Rhenald Kasali

Saya adalah salah satu orang yang cukup suka membaca karya Prof Rhenald Kasali. Dari beberapa buku yang saya baca, buku ini menurut saya merupakan buku yang terbaik. Meskipun saya sedikit bingung memilih antara buku Distruption dan The Great Shifting ini namun karena menurut saya lebih banyak hal hal menarik diulas di sini maka saya memutuskan buku inilah karya yang paling saya suka.

Buku Karya Prof R. Kasali yang menurut saya sarat akan penjelasan penjelasan logis terkait hal hal menarik yang ada di dalam kehidupan kita saat ini. (Sumber Gambar: Rumah Perubahan)

Yang saya suka dari buku ini adalah cara sang penulis dalam menjelaskan Revolusi 4.0 sebagai suatu pergeseran besar. Tidak seperti beberapa tulisan yang menggambarkan Revolusi 4.0 sebagai suatu pemanfaatan besar besaran tekhnologi terkini untuk meningkatkan profit. Prof R. Kasali menjelaskan Pergeseran besar ini sebagai suatu kerangka mendasar yang bergerak dan berubah “dengan memanfaatkan tekhnologi tekhnologi yang ada”. Fokus pada buku ini adalah pergeserannya dan bukan hanya alatnya.

Disini banyak sekali dijelaskan fenomena fenomena yang terjadi di sekitar kita selama ini baik itu yang baik seperti fenomena berbagi kita hingga yang buruk seperti Cyber Bullying. Penjelasan yang diberikn buku ini juga menurut saya masuk akal dan mudah dimengerti. Saya secara kusus membahas buku ini melalui tulisan saya yang berjudul “[Buku] The Great Shifting” yang dapat teman teman baca melalui link ini. Konsep yang ada dalam buku ini juga saya tuliskan dalam posting saya yang berjudul “Kepribadian Lain” di Dunia Online dan Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana.

#6 The Everything Store: Jeff Bezos and the Age of Amazon karya Brad Stone

Buku The Everything Store Karya Brad Stone ini menceritakan salah perjalanan hidup dan bisnis manusia terkaya di dunia saat ini Jeff Bezos (Sumber Gambar LEAP.)

Buku ini sudah lama sekali saya baca dan sudah banyak hal yang saya lupakan dari ini buku hehehe. Secara garis besar buku ini menceritakan kisah seorang Jeff Bezos dengan impian yang tinggi dan usaha yang gigih akhirnya mampu menjadi orang terkaya di Dunia. Namun itu bukanlah impian tertingginya. Ia memiliki impian sejak kecil untuk dapat terbang keluar angkasa, dan dengan kekayaan yang begitu berlimpah sat ini ia dengan Blue Origin nya sedang berlomba melawan Elon Musk dengan SapaceX nya untuk merambah dan mengexplorasi luar angkasa.

Dari buku ini kita akan diberikan informasi informasi menarik, tidak hanya kelakuan Jeff Bezos yang sadis untuk mencapai tujuannya dengan memakan sumber sumber daya manusia terbaik dan juga tidak segan untuk memberhentikan pendirinya sekalipun jika tidak dapat mengimbangi kecepatan pertumbuhan Amazon.Kita juga diberikan gambaran trik trik yang dilakukan Amazon dalam memahami dan menguasai pasar nya hingga membuatnya menjadi Toko terbesar di dunia yang cerdas. Berawal dari toko buku dan popok, amazon kini menjual segalanya.

#7 Elon Musk: Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future karya Ashlee Vance

Tidak adil rasanya bila saya memasukan buku biografi Jeff Bezos tanpa memasukan pula buku biografi rivalnya Elon Musk yang digadang gadang sebagai Tony Stark nya dunia nyata. Buku ini juga yang saya rasa cocok mengakhiri daftar saya kali ini karena buku inilah buku yang saya tunggu tunggu versi bahsa indonesianya sekian lama. Sekalinya muncul di toko buku yang versi bahasa indonesia tanpa pikir panjang saya pun langsung mengakuisisinya.

Elon Musk, Sang Tony Stark yang hidup di dunia nyata. Sama seperti Jeff Bezos, sosok ini adalah penggila buku sejak kecil dan kini juga sama sama berlomba dalam mengeksplorasi luar angkasa dengan SpaceX nya (Sumber Gambar: Medium)

Buku karya Ashlee Vance menceritakan kisah hidup seorang kutu buku genius dan aneh dari Afrika Selatan yang kemudian berangkat ke Amerika untuk mengadu nasib dan hingga saat ini akhirnya ia dikenal sebagai Tony Stark di dunia Nyata. Elon Musk adalah seorang yang sudah Jenius sejak kecil, di usia 12 tahun ia sudah dapat menciptakan sebuah game bernama Blastar yang kemudian dijualnya seharga 500 dolar. Tidak berhenti dari situ, ia yang sejak kecil gemar membaca buku dari berbagai genre ini membawanya menjadi seorang Expert Generalist yang secara sederhana dapat dikatakan seorang ahli untuk segala hal.

Keahliannya di segala bidang ini dibuktikan oleh dirinya dengan cara mengubah pandangan pandangan yang ada selama ini mungkin terasa aneh dan mustahil menjadi suatu yang nyata dan keren. Ia turut membangun sebuah tekhnologi finansial yang kini disebut sebagai Paypal yang kemudian mampu mendistrupsi cara pandang orang terkait finansial. Di sektor otomotif, ia mengubah pandangan orang yang dulunya merasa mobi listrik sebagai seuatu yang aneh dan tidak keren designnya menjadi suatu karya seni yang keren dan menawan dengan deretan mobil Teslanya bahkan akselerasinya dapat bersaing dengan mobil mobil buas saat ini. Di bidang energi ia menciptakan Solar City, di bidang explorasi luar angkasa seperti yang sudah disebutkan sebelumnya ia membuat SpaceX yang salah satu roketnya membawa satelit Indonesia baru baru ini.

Saya rasa cukup sampai sini saja dulu rekomendasi buku buku terbaik yang menurut saya layak teman teman koleksi dan baca. Sekian dari saya, selamat hari buku se dunia,

Salam literasi

dewa putu am

Feature Image by jcomp – www.freepik.com

BukuDaily LifeHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Orang-Orang Biasa, Andrea Hirata

April 18, 2019 — by dewaputuam0

orang-orang-biasa-andrea-hirata-960x960.jpg
Ilustrasi Buku Orang-Orang Biasa yang merupakan karya ke 11 Andrea Hirata, (Sumber gambar: MarkasBuku.com

Buku ini menceritakan kisah getir, keren nan bodoh dari Sepuluh sekawan. Sekawan-Sekawan biasanya hanya lima orang kan yak, Seperti yang Andrea Hirata dalam salah satu bab yang berjudul Idealisme ia juga mengatakan seperti itu. Dari bab yang sama pula penulis ini melakukan curhat colongan dengan keren sih menurut saya dan mengatakan bahwa menulis tokoh utama yang berjumlah sepuluh (sepuluh sekawan) bukan main susahnya. “Pengarang yang tak kuat mental akan mundur karena bukan main susahnya mengingat nama sepuluh orang itu”. Hahahah ni penulis songong amat yak, melalui tulisan itu dia secara langsung menyanjung dirinya sendiri bahwa ia adalah penulis yang kuat mental. Dan tentulah saya akui dia memang penulis yang seperti itu dan juga hebat (huaaaaa next novel please next novel…).

Sekilas tentang buku dan isi nya yang biasa-biasa ini

Menurut apa yang diruliskan di Mizanstore, buku “Orang-Orang Biasa” merupakan karya ke 11 dari seorang Andrea Hirata dan buku yang saya baca adalah terbitan Bentang Pustaka cetakan Februari 2019. Buku dengan sampul berwarna kuning dan bergambar seseorang menggunakan topeng monyet sedang memikul buntelan ini memiliki sekitar 300 halaman dan 40 bab. Saya rasa tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis untuk sebuah buku novel dan untuk normal akan dapat dilahap sekitar 1 hingga 2 hari.

Kembali pada segi cerita, Seperti yang sudah disebutkan diawal, Orang-Orang biasa merupakan sebuah kisah tentang Sepuluh sekawan yang rata rata memiliki tingkan inteligensi dibawah rata rata dengan segala kelakuan yang ajaib. Mereka terkumpul di barisan bangku paling belakang kelas baik secara alami maupun secara tidak alami (ada juga sedikit unsur kesengajaan). Ini bukan kisah sepuluh sekawan yang dengan kebersahajaannya saling bahu membahu dan kompak dalam menaklukan dunia, cerita mereka tidaklah sehebat itu namun tidak pula kurang hebat dari pada itu.

Kebersaman mereka terus terjaga hingga mereka tumbuh dewasa bahkan beberapa dari mereka sudah menikah (ada yang berkali-kali) dan sebagian pula telah memiliki anak. Hingga dewasa, kadar kekonyolan mereka tidaklah berkurang bahkan dapat dikatakan semakin meningkat. Namun semua berubah ketika salah satu anak mereka di terima di jurusan kedokteran salah satu kampus ternama di Negeri, namun sayangnya uang awal yang harus dibayar untuk masuk jurusan itu sangatlah besar sehingga tidaklah mampu orang tua dari si anak itu membayar bahkan untuk meminjam di koperasi simpan pinjam ataupun bank ia tidak bisa.

Seolah menjadi secercah harapan bagi kelompok mereka yang sedari dulu terikat dalam lingkaran setan kebodohan dan kemelaratan, mereka pun dengan sekuat tenaga dan kerjasama yang tidak kompak merencanakan suatu misi yang sangat besar yang kemudian mengubah wajah dan pandangan seisi kota.

Opini saya yang biasa ini untuk buku Orang-Orang Biasa

Ijinkan saya untuk sedikit mengatakan kalimat klise yang merupakan template dari berbagai opini saya tentang buku yang saya baca. Berikut frasa tersebut. “Buku ini sangat bagus dengan ide dan cara bercerita yang unik dan menarik.” yah kira kira seperti itu kalimat awal saya untuk memberikan opini pada buku ini.

Harus saya akui buku ini sangat bagus dan lucu. Meskipun penokohannya untuk beberapa karakter saya rasa tidak begitu kuat dai kesepuluh sekawan dan hanya beberapa yang saya anggap sangat menonjol, semacam kurang proporsional gitu. Karena hal tersebut saya melihatnya beberapa tokoh malah digendong oleh karakter tokoh lainnya tanpa memberikan suatu peran yang berarti. Justru beberapa tokoh sampingan banyak diceritakan dan lebih berkarakter dibandingkan sepuluh sekawan itu.

Jika kita lihat gambaran besarnya, sepuluh sekawan ini tetaplah diceritakan dengan baik dan fokus oleh sang penulis, jikalau proporsi masing masing karakter dalam sepuluh sekawan tersebut kurang optimum cukup masuk akal dan bisa dimaklumi sih karena untuk membuat 10 tokoh tersebut bukanlah hal yang mudah seperti yang dituliskan oleh sang penulis pada paragraf awal.

Ada satu lagi yang saya cukup sayangkan dari buku ini adalah, tokoh sepuluh sekawan pada akhir akhir cerita kenapa tergambar begitu keren ya, seolah kebodohan mereka yang dulu hilang begitu saja setelah rencana rencana mereka berakhir, meski ada satu kejadian konyol terjadi setelah rencana mereka berhasil dilaksanakan namun pada bagian akhir cerita sentuhan sentuhan kejenakaan yang kecil namun ngena yang pada awal awah terhambur begitu saja tiba tiba hilang dan muncul lah sosok baru yang benar benar beda dan keren.

Salah satu isi dalam buku Oran-orang Biasa (Sumber Gambar: Bentang Pustaka)

Ini sebuah cerita tentang kehidupan penghuni bangku belakang yang selama ini diidentikan dengan murid murid begundal dan bodoh, yup cukup begundal dan bodoh digambarkan pula dibuku ini. Namun lihat lah saat mereka bersatu dan beraksi, mereka tetaplah begundal dan bodoh. Namun mereka tidak dapat disepelekan dan direndahkan karena merka juga bisa hebat.

Ada suatu padangan saya tentang orang orang yang selama ini selalu duduk di bangku belakang, ini dari saya yang duduk di dua baris terdepan ya. Hal ini baru saya renungkan akhir akhir ini stelah membaca buku orang orang biasa.

“Orang orang bangku belakang bukanlah orang orang yang paling sedikit mendapatkan pelajaran di kelas. Bila orang orang yang duduk didepan belajar pada guru [saja]. Orang orang di bangku belakang lebih dari itu, mereka tidak hanya belajar dari guru, tetapi belajar pula dari murid murid lain didepan mereka, tidak hanya soal pelajaran tetapi juga tentang kehidupan” . Oleh karena itu adalah suatu yang sangat mungkin jikalau esok mereka justru lebih berhasil dari pada orang orang yang duduk di bangku depan #Kayaknyabegitusih

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa sekian dulu dari saya, saya merekomendasikan buku ini untuk teman teman baca sebagai salah satu hiburan sembari menikmati teh atau kopi. Karena buku ini sangat layak untuk dibaca hehehe

Salam hangat dari orang orang biasa

Dewa Putu AM

BukuHiburan

[Buku] Lion, A Long Way Home

April 18, 2019 — by dewaputuam4

81tiRKOJKRL-960x1473.jpg
Sampul Buku “Lion, A Long Way Home” Karya Saroo Brierley (Sumber Gambar: Amazon)

Awalnya saya membeli buku ini untuk menemani saya saat nyepi, agar dapat menghilangkan sedikit bosan dikala kita tidak melakukan apa apa, jauh dari gadget tidak bisa nonton televisi dan segala aturan pengendalian diri yang khas dalam perayaan nyepi. Secara nista, saat itu saya memilih buku ini karena masuk kedalam jajaran buku internasional best seller. Melihat ada tag tersebut sudah membuat rasa ingin tahu saya terpicu dan kemudian mengarahkan lengan saya untuk meraihnya hingga ke meja kasir. Saya akui saya termasuk lemah pada buku buku yang ada tag seperti ini, yah seperti international, new york times, national best seller dan best seller lainnya. hehehe

Buku yang saya baca kali ini adalah versi terjemahan bahasa indonesia oleh Agnes Cynthia penerbit Gramedia dari buku dengan judul yang sama “Lion, A Long Way Home” Karya Saroo Brierley & Larry Buttrose. Buku ini tidak terlalu tebal yakni 290 an halaman. Hal ini yang awalnya saya pikir dapat dilahap habis saat nyepi. Ternyata takdirpun berkata lain, saat nyepi saya hanya dapat menyelesaikan 30% dari buku ini dan kemudian terbengkalai karena say lebih tertarik membaca buku lain kemudian baru selesai tanggal 15 April kemarin. Secara normal buku ini seharusnya dapat dihabiskan dalam 2-3 hari lah.

Gambaran Umum Isi Cerita Buku Ini

Buku ini merupakan kisah nyata dari sang penulisnya yang sempat menghebohkan publik India atau bahkan dunia saat itu. Ini adalah cerita tentang seorang anak kecil (penulis sendiri) yang hidup dari keluarga sangat miskin dengan segala kebersahajaannya. Kehidupan anak kecil itu kemudian berubah, dari yang sebelumnya susah menjadi sangat susah saat ia tiba tiba tersesat akibat mengikuti kakaknya ke kota. Di-umur yang sangat muda tersebut Saroo kecil pun hanya mengingat dua kata yaitu “Ginestlay” dan “Berampur”. Hanya kedua kata tersebut yang ia ingat untuk menggambarkan dari mana ia berasal dan ternyata kedua kata itu tidak dapat membantunya pulang karena kedua kata tersebut begitu asing didengar.

Perjuangan saroo digambarkan sangat luar biasa disini, sebenarnya ingin saya pilih kata mengerikan dan menyedihkan namun apa yang diceritakan disini justru pada begitu “kuatnya” saroo saat itu menghadapi suatu kesusahan yang menurut saya sudah terlalu eksrim. Setelah beberapa lama hidup di stasiun dan sekitaran kota, saroo akhirnya dibawa masuk ke suatu rumah bagi anak anak terlantar untuk kemudian dibantu dan juga bila tidak berhadil ditemukan rumah ini juga sekaligus menghubungkan anak anak tersebut kepada orang tua yang ingin mengadopsinya. Dari rumah tersebut akhirnya Saroo diadopsi oleh sepasang suami istri yang berdomisili di Australia.

Kehidupan Saroo pun tiba tiba berubah 180 derajat. Saroo yang dulunya tinggal dan hidup miskin di perkampungan kumuh di India, kemudian menjadi seorang anak angkat dari keluarga yang cukup berada yang tinggal di Australia.

Saroo melanjutkan hidupnya dengan bahagia, meskipun terkadang diceritakan pula bahwa ada juga sedikit konflik antara dirinya dan kedua orang tua angkatnya. Namun semua itu dapat diselesaikan dengan dewasa dan terkadang cukup lucu.

Dengan tanpa meninggalkan dunianya yang baru, Saroo yang kian dewasa terus melakukan pencarian asal muasal dirinya dan keberadaan orang tuanya bertahun tahun. Bertahun tahun itu pula Saroo selalu menjaga ingatan setiap detail rumah dan tempat tinggalnya yang dulu, dengan harapan dapat membantunya kemudian hari dalam mencari rumahnya.

Tahun demi tahun berlalu Saroo terus mencari dimana rumahnya, dengan berbagai cara dari yang bersifat sporadis hingga pada cara cara yang sistematis dan terstruktur. Dengan menelusuri setiap nama tempat yang tercantum didalam Google Earth dan juga atas bantuan jejaring Facebook.

Foto Saroo Brierley bersama ibunya yang terpisah olehnya sangat lama namun karena kegigihannya akhirnya dapat dipertemukan kembali dengan cara yang tak diduga (Sumber Foto: Dailymails.co.uk)

Ombang ambing emosi Saroo tertulis dengan apik dalam buku ini. Apik yang saya maksud disini bukanlah suatu penggambaran naik turun emosi dan pendewasaan diri yang wah dengan segala keberlebihannya. Buku ini memberikan gambaran kepada kita perubahan saroo dari yang benar benar panik saat pertama kali terjebak di kereta, kemudian bangkit untuk sekedar tetap hidup, lalu jatuh lagi karena kegagalan menemukan rumahnya, lalu bangkit lagi dan begitu seterusnya dengan permasalahan permasalahan yang sebelumnya berkutat pada insting dasar makhluk hidup yakni untuk makan dan bertahan hidup, berubah pada pengambil alihan logika, lalu kemudian masuk pada sesuatu yang paling dalam yang ada pada diri manusia yakni perasaan.

Opini tentang Buku

Saya sebenarnya bingung bagaimana mencari suatu nilai dari buku ini. Hingga saya membaca ulasan di bagian belakang sampulnya, dan disana dituliskan bahwa “buku ini tidak hanya menceritakan perjalanan pulang kerumah, melainkan perjalanan psikologis untuk menemukan jati diri.” Saya sedikit mengenyitkan alis saya saat membaca hal tersebut. Saya merasa gagal karena kesulitan menemukan nilai tersebut didalam buku ini.

Nilai nilai saya tangkap justru sebuah nilai kemanusiaan yang sederhana yang dibalut dengan kepolosan sang pencerita hingga sesuatu yang sangat kelam bahkan untuk orang dewasa sekalipun diceritakan dengan bagus sekaligus mengerikan dalam buku ini.

Disini kita tidak dipertemukan dengan sosok antagonis. Hanya beberapa tokoh yang memiliki sudut pandang yang berbeda dan dengan pengalaman berbeda sehingga menghasilkan aksi yang berbeda yang mungkin menurut kita terlihat jahat, yang banyak justru sosok sosok figuran yang memiliki kesan tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Saya rasa ini adalah penggambaran yang paling sesuai tentang apa yang ada disekitar kita yang mana tidak ada yg benar benar jahat, dan yang paling banyak adalah kelompok kelompok yang tidak peduli.

Buku ini cukup bagus untuk dibaca, meski terkadang ada kesan membosankan hehehe.

Salam dari Saya

Dewa Putu AM

BukuDaily LifePsikologi

“Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya

March 30, 2019 — by dewaputuam3

fog-1208283_1920-960x641.jpg
Ilustrasi tentang hilang dan mungkin terlupakan (Image by Free-Photos from Pixabay)

“Dew, gimana cara untuk ngelupain seseorang ya, saya dah berusaha susah payah tapi tetep keinget lagi sama dia” tiba tiba saya dapat pertanyaan ini dari salah satu teman saya. Mendapat pertanyaan tersebut saya pun menjawab “Jangan kamu lupain dia, teruslah ingat dia sesering mungkin bahkan kalau bisa kepoin semua postingan dalam media sosial dia, nanti toh saat kamu jenuh dan lelah dengan sendirinya kamu akan melupakannya.” Ini jawaban saya saat itu, yah meski tidak persis benar perkata seperti demikian tetapi pada intinya sama lah seperti ini. Mungkin cara yang saya utarakan ini akan terkesan aneh bagi kalian tetapi sejujurnya saya memberikan saran tersebut dari sebuah buku yang pernah saya baca dan bukan serta merta dari pengalaman. Sebuah buku berjudul Man’s Search for Meaning Karya Viktor E. Frankl.

Saya kurang paham kenapa orang itu menanyakan hal tersebut kepada saya, mungkin karena saya gampang banget ngelupain orang ya, khususnya dalam hal nama. Mengingat adalah salah satu kelemahan yang ada pada diri saya, saya kurang mampu mengingat nama orang bahkan untuk beberapa jam saja. Hingga akhir akhir ini saat berkenalan dengan seseorang yang baru saya temui, jika saya rasa akan bertemu lagi dan berbincang bincang saya biasanya akan menuliskan namanya pada catatan di smartphone saya agar seawktu waktu saat berbincang saya dapat menyebutkan nama mereka, meskipun saat ingin mengawali percakapan saya tentunya mengecek catatan saya untuk memastikan nama yang saya sebutkan tepat.

“Paradoxical Intention”, Sebuah Paradox Tersembunyi yang Selalu Menentang Keinginan Kita

Ada beberapa konsep menarik yang diutarakan dan ditawarkan oleh Victor dalam bukunya, namun konsep yang akan saya bahas dalam tulisan ini hanya satu konsep yakni sebuah paradox yang secara sadar ataupun tidak sadar sering kita alami di kehidupan sehari hari. Mungkin kalian pernah ingin mencari sesuatu seperti remot televisi misalnya, tetapi anehnya benda itu tidak dapat kita temui saat itu hingga akhirnya kita tidak menginginkan untuk mencarinya dan secara ajaib benda tersebut muncul di hadapan kita. Atau saat kita sedang ngidam makan mie ayam gerobak dorong langganan kita, tapi apa daya kita tunggu berlama lama tak juga datang. Namun saat suatu hari perut kita kenyang atau ada banyak sekali lauk di rumah kita, secara tidak berperi keperutan pedagang mie ayam tersebut dengan merdunya memukul mukul gong besar dan lewat di depan rumah kita.

Saya tidak paham kenapa saya ingin menggunakan ilustrasi ini, saya rasa ilustrasi ini juga tidak begitu menggambarkan apa yang saya tulis di tulisan ini. Tapi ilustrasi ini tampak keren ya (Image by Jonny Lindner from Pixabay )

Beberapa kejadian di dalam kehidup kita terkadang sebegitu bercanda. Mereka hilang tak tergapai saat kita ingin dan butuhkan. Dan muncul begitu saja tanpa alasan saat kita sama sekali tidak membutuhkan. Bercanda banget kan ya terlihatnya. Peristiwa peristiwa inilah yang disebut oleh Victor sebagai “Paradoxical Intention”. Paradox ini didasarkan pada dua fakta yang pertama adalah hilangnya suatu hal saat kita menginginkan secara berlebihan dan fakta kedua yang berkebalikan adalah kemunculan suatu hal saat kita tidak menginginkan bahkan sangat takut hal itu muncul atau terjadi.

Berpegang pada konsep inilah yang kemudian saya menyarankan pada teman saya tersebut untuk menghentikan usahanya untuk melupakan seseorang. Hal ini saya sampaikan karena saya rasa ia sangat ngotot untuk melupakan orang itu atau dengan kata lain ia tidak ingin bahkan takut untuk sekedar mengingat orang yang mungkin telah menyakitkannya tersebut. Hal inilah yang tanpa ia sadari justru mengaktifkan efek dari Paradoxical Intention yang berdampak pada semakin munculnya ingatan ingatan tentang seseorang yang ingin ia lupakan.

Untuk mengatasi hal tersebut saya menyarankan sebuah paradox yang sama. Bukan mendukung untuk melupakan, saya justru memintanya untuk mengingat orang yang ingin itu dengan cara cara yang biasa hingga cara yang menurut saya juga sedikit konyol dan ekstrim yakni menstalking orang yang ingin ia lupakan tersebut setiap hari hehehe.

Saya tidak tahu cara yang sarankan berhasil atau tidak untuk teman saya itu, tetapi setidaknya hingga saat ini ia tidak pernah lagi curcol saya tentang hal ini. Eh beberapa kali masih kumatan seperti itu ding hanya intensitasnya sepertinya sudah sedikit berkurang. Saya menulis artikel ini pun mungkin dia akan terpelatuk dan ingat kembali, hehehe sorry sistah. Saya rasa tulisan ini perlu saya buat dan menarik untuk dibagikan. Tenang aja namamu tidak saya sebut ditulisan ini kan. Hehehe

Kita mungkin pernah menginginkan sesuatu dengan berlebihan, hingga tanpa sadar dengan adanya Paradoxical Intention dirimu justru semakin menjauh dari apa yang kamu inginkan. Inginlah secara sederhana, sesederhana dirimu yang ingin hidup dengan hanya bernafas.

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa segitu saja dulu tulisan saya hari ini, Saya harap semua dari kalian dapat memanfaatkan Paradoxical Intention dengan baik. Karena biar bagaimanapun juga sama seperti lainnya selalu ada dua sisi dari suatu hal sisi baik dan sisi buruk. Kita mendapatkan sisi yang mana tergantung dari apa yang kita pilih dan bagaimana usaha kita, jangan terlalu serius menghadapi sebuah hal dan jangan pula terlalu bercanda. Cukup yang sedang sedang saja.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Referensi dan Gambar
  • Konsep Paradoxical Intention adalah konsep Viktor E. Frankl yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning
  • Feature Image dan Ilustrasi pertama adalah karya Free-Photos from Pixabay
  • Gambar Ikan yang dinaikin manusia pada ilustrasi ke dua adalah karya Jonny Lindner from Pixabay

Daily LifeHiburanUncategorized

[Lagu] Hard To Love

March 1, 2019 — by dewaputuam0

adventure-1807524_1280-960x589.jpg
Event when I Hard to Love (Sumber:Pixabay)

Halo, agar tidak masuk dalam keanggotaan organisasi alis tekuk, semacam organisasi sesat tempat orang orang terlalu berpikir berat dan berbicara ala ala motivator motivator terkenal, ada baiknya dalam tulisan ini saya akan sedikit merenggangkan saraf saraf dalm otak saya untuk menulis yang ringan. Dalam tulisan ini saya ingin membahas tentang sebuah lagu yang nada dan liriknya menurut saya bagus dan Metal banget (Melankolis Total) hehehe. Saya akan bercerita tentang sebuah lagu karya Band One OK Rock yang berjudul “Hard To Love”.

Lagu ini dibuat oleh Taka untuk ayahnya dan menceritakan tentang padangan seorang Anak terhadap sang ayah. Dalam lagu ini ia menceritakan kisah kisah sederhana masa kecil yang sepertinya sama seperti anak anak pada umumya yang tidak sabaran untuk beranjak dewasa. Taka menceritakan dalam lagunya, Saat itu ia benar benar tidak sabaran beranjak dewasa hingga ia terkadang menggunakan sepatu ayahnya yang tentunya sangat besar bahkan ia sendiri belum dapat mengikat sepatu tersebut dengan benar. Kisah kisah sesederhana ini banyak sekali dilakukan oleh anak anak jaman dulu atau bahkan hingga sekarang masih banyak anak kecil yang melakukannya, Menggunakan sepatu besar milik ayah kadang membuat kita merasa keren dan gagah. Saat kecil, saya beberapa kali (sering) iseng mencoba memakai sepatu pantofel ayah saya sepulang kerja wkwkwk meski pada akhirnya akan tampak seperti kaki bebek dan sukar untuk berjalan dengan benar, namun tidak tahu kenapa saat itu saya merasa keren sekali dan merasa seolah olah saya sudah sebesar bigboss hehehe.

Wait ngomong ngomong rada susah nyebut ayah, soalnya biasanya di rumah saya lebih sering memanggil dengan sebutan Bapak, tapi saya rasa akan aneh bila saya menyebut ayah atau bapak secara tidak konsisten, aneh pula bila saya menyebut bapak dalam ulasan lagu ini, jadi saya putuskan menggunakan istilah ayah saja ya #sip. Kembali ke ulasan,

Nah dalam lirik selanjutnya sudah mulai nih ke “Metal”-an dari lagu ini. Dalam liriknya, Taka berkata bahwa sebesar apapun seorang anak tumbuh, pastilah ia menghadap sang ayah sebagai sosok yang besar dan tangguh. saat lirik ini sekilas lalu saya langsung terbayang sosok besar gendut dan agak sedikit kekar oia sixpack juga namun horisontal dengan rambut dan kumisnya yang sudah memutih harus saya akui bahwa ayah saya literally masih cukup tangguh untuk menempeleng anaknya sampai koprol hehehehe horror yo. Tapi biar bagaimanapun seramnya, suatu hari ayah saya pernah berujar pada saya, “Wak,.. segede apapun kamu sekarang dan nanti, kamu tetap anak bapak yang akan bapak didik sambil memutar cincinnya. Diberi sedikit pelajaran kalau memang salah hehehehe. Tetep serem ya ceritanya hehehe.

Ini Foto pak Boss yang pada tanggal 26 Februari kemarin Berulang tahun hehehe tampak Garang dan Horor kan yak, tapi hatinya baik. Salah satu kata yang saya ingat sampai saat ini adalah “Wa, kamu tidak perlu jadi yang terbaik, kamu hanya perlu menjadi satu diantara yang terbaik” Sederhana namun kata kata itu menjadi salah satu pegangan saya dalam bersikap dan bertindak hingga saat ini hehehe.

Dalam lagu hard to Love, Taka menuliskan bahwa Meskipun ia kini sudah besar ia tetap selalu memandang ayahnya dan menghormatinya sebagai orang yang besar dan tangguh. Hal yang tak pernah berubah pun bagi seorang Ayah, sebesar apapun sang anak, beliau akan selalu beranggapan kalau sang anak masih anaknya yang dulu dan masih ia anggap sebagai sebuah berlian yang perlu selalu ia asah. Dan sang ayah pun selalu membantu anaknya untuk menjdi seseorang manusia yang baik. Dalam lagu ini Taka yang notbennya telah sukses bercerita bahwa Ayahnya lah yang terus berusaha agar dirinya menjadi ia yang sekarang.

Sikap semacam ini juga ada pada Ayah saya biar sudah besar kalau salah ya tetap di jewer, yah meski beberapa tahun ini sudah beralih pada diskusi si, kata beliau tidak terlalu seru dan pantes kalau njewer orang yang sudah gede, dan dah lebih layak diajak beragumen bila merasa ada yang salah untuk mengingatkan. Saat itu jujur saya merasa keren hehehe karena sudah dianggap sebagai anak yang dewasa lah. Karena ayah saya pula saya menjadi orang yang seperti sekarang, didikan yang cukup keras khususnya saat belajar toyoran demi toyoran seringkali mendarat bila saya bertanya soal soal matematika yang sama berkali kali dan hal yang sama pula bila saya terlalu lambat dalam menyelesaikan soal tertentu. Hasilnya cukup lumayan lah hehehe.

Kemudian taka bercerita kembali dan ini salah satu baris lirik yang paling saya suka dalam lagu itu. Melalui lirik tersebut taka bercerita bahwa dirinya dan sang ayah selama ini telah merasakan pasang surutnya kehidupan namun ia selalu berharap sikap dan tindakan yang ia ambil dapat membuat ayahnya bangga, Dan sang ayah yang selalu menertai langkahnya selalu dapat membuat permasalahan permasalahan yang mereka hadapi terlihat mudah meskipun terkadang ia sulit untuk menyukai apa yang terjadi tersebut. Melalui lirik ini terlihat lah kemampuan spesial sang ayah selama ini. Seorang ayah (termasuk bapak ku) akan selalu mendampingi perjalanan anaknya mengarungi pasang dan surut kehidupan. Saat pasang bahagia, beliau lah bersama Ibu menjadi orang pertama yang tersenyum bangga dan saat surut beliau pula yang selalu jadi orang pertama yang pasang badan untuk melindungi kita dan dengan tanpa ragu mengulurkan tangannnya saat kita terjatuh dan hendak menyerah.

Sebagai seorang anak menganggap bahwa capaian tertingginya bukanlah uang yang berlimpah, kemasyuran atau apapun itu. Bagi seorang anak, capaian tertingginya sangatlah sederhana. Seorang anak ingin melihat Ayah dan Ibunya bangga akan sikap dan tindakan yang ia ambil, seorang anak tidak begitu terkesima akan puja dan puji orang sekitarnya, ia tidak begitu terkesima akan segala bonus dan penghargaan yang ia terima. Namun sesederhana senyum dan ancungan jempol dari orang tuanya tanda bangga lah yang membuat ia puas dan bahkan sesekali menitikkan airmata bahagia. Yah, mungkin terbaca sebagai sesuatu yang berlebihan dan melankolis tapi itulah yang saya rasakan. Apapun yang saya lakukan sekarang, meski kadang harus luntang lantung, disepelekan dan terhina tujuan utama saya sederhana saja, saya ingin membuat Ayah dan Ibu saya bangga atas apa yang saya lakukan.

Featured image by Pixabay.com

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] The Great Shifting

February 5, 2019 — by dewaputuam1

252-960x960.jpg

Akhirnya saya dapat menyelesaikan misi untuk membaca karya terbaru Prof Rhenald Kasali ini. Saya membeli buku ini tanggal 8 July 2018, jadi bisa dikatakan saya langsung membeli buku ini saat buku ini pertama di rilis #yeayyy dan menjadi satu diantara timbunan buku di lemari saya. Seperti yang saya utara kan sebelumnya dalam postingan di link ini bacaan saya ditahun 2018 sangat lah minim meskipun saya masih rajin muter muter di gramedia dan berburu buku buku dengan judul yang sekiranya menarik bagi saya. Setelah menemukan buku yang menarik, buku tersebut akan saya timbun bersama kawan kawan sejawatnya. Begitulah nasib beberapa buku saya di tahun 2018 (malangnya nasib buku buku ku itu #uwuwuwuwu). Tetapi semua itu akan berubah, dikit demi sedikit timbunan buku saya akan saya taklukan di tahun 2019. Saya yakin saya bisa nyelesaikan timbunan timbunan buku buku tersebut mumpung belum ada buku terbitan 2019 yang menurut saya bagus dan menarik untuk dibaca di tahun ini hehehe.

Oia, selain buku cetak juga saya beberapa tahun belakangan ini telah shifting ke arah buku elektroni (pinjam istilahnya di buku ini). Aplikasi ebook yang saya gunakan adalah Google PlayBook yang agaknya cukup menarik bila saya bahas di posting berikutnya, namun untuk tulisan saat ini saya akan fokus pada pembahsan terkait buku karya Prof Rhenald Kasali yang berjudul The Great Shifting. Setelah saya selesai membaca buku ini, saya sadari sesuatu yang menurut saya cukup penting. “Buku ini bukan lah novel”. Buku ini tidak memberikan angan-angan semu tentang kemegahan masa depan dengan berbagai macam gimiknya, Namun sebaliknya, buku ini menceritakan kepada kita bahwa masa depan bukan lagi dekat dengan sekarang tetapi masa depan adalah sekarang “Tomorrow is Now“. Jargon tersebut disebut beberapa kali oleh sang Profesor dalam bukunya baik secara tersurat ataupun tersirat. The Great Shifting atau jika diterjemahkan secara bebas berarti “Pergeseran Besar” sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan berlanjut terus hingga kapan pun saat ini masih menjadi misteri.

Oia Ada satu hal lagi yang menarik dari buku ini, Prof Rhenald dalam tulisannnya secara langsung menyinggung dan mematahkan anggapan beberapa orang pesimis yang beberapa tahun ini mengeluhkan Daya beli masyarakat Indonesia sedang melemah. Benarkah demikian?

DESKRIPSI SINGKAT BUKU

Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018. Menurut saya buku ini cukup tebal yakni sekitar 500-an lembar. Saya rasa itulah alasan utama saya mengendapkan buku ini selama 6 bulanan, bukan waktu yang sebentar untuk mengendapkan buku sebagus ini. Melihat ketebalan buku ini cukup membuat saya enggan untuk membaca. Namun harus saya akui bahwa dari segi cetakan, design buku dan segala tampilan lainnya buku ini menarik untuk dimiliki hehehe, meski design covernya bagus sih tetapi kurang menarik, sehingga bagi sebagian orang yang menilai buku hanya dari covernya (seperti saya) akan mudah sekali melewatkan kesempatan luar biasa untuk membaca buku dengan isi yang semenarik ini. Saya tidak tahu apa yang membuat penilaian saya terhadap cover buku ini seperi itu, designnya bukan jelak namun saya rasa akan lebih baik bila meminimalisir tulisan di depannnya karena saya rasa terlalu sesak.

Lanjut dari sisi isi buku. Ini yang cukup saya sesalkan sebenarnya. Kenapa saya selama ini menimbun buku ini dan tidak membacanya. Menurut saya buku ini sangat bagus dengan gagasan yang fresh bagi sebagian orang seperti saya dan menjelaskan dengan baik fenomena fenomena yang terjadi disekitar kita saat ini. Tidak hanya berfokus kepada sisi ekonomi yang Shifting seperti buku buku lainnya namun buku ini dengan sangat indahnya menjelaskan bahwa pergeseran juga terjadi pada kehidupan dan cara hidup kita sebagai manusia. Perubahan kehidupan dan cara hidup itu digambarkan dengan contoh contoh yang sering kita temui di duania nyata dan beberapa diantaranya pernah viral di jagat maya kita. Oia, seperti review review generik lain tentunya saya akan mengatakan bahwa cara penulisan dan gaya bahasa dari buku ini cukup sederhana sehingga lebih enak dicerna. Tulisan ini masih bisa dipahami oleh orang orang yang tidak begitu paham tentang hal hal yang bersifat teksnis dan orang orang yang tidak terlalu pintar seperti saya hehehe.

INSIGHT BUKU

Ada banyak sekali gagasan menarik yang saya temukan dalam buku ini dan akan menjadi sulit dan panjang bila saya jabarkan satu persatu dalam satu tulisan. Saya telah menuliskan satu gagasan menarik tersebut dalam sebuah tulisan Kepribadian Lain di Dunia Online. Saya sebenarnya lebih suka gagasan gagasan terkait Cyber psycology yang dipaparkan dalam buku ini, karena gagasan gagasan lain terkait pergeseran di beberapa bidang seperti pendidikan, perbankan, Game, Periklanan serta Budaya Belanja rasanya sudah pernah saya baca baik dari buku lain maupun berita berita online.

Sesekali saya tersenyum ketika membaca beberapa bagian di buku ini dan berkata dalam hati, “ah ternyata gini ya” ,dan kemudian pada bagian lainnya saya berujar kecil “hahaha ia benar juga ya”. Bagian yang paling banyak momen momen seperti itu ada pada Bab 2 tentang Tekhnologi yang mengubah interaksi Manusia, Bab 3 tentang Ketika yang Tersembunyi Terungkap dan Bab 9 tentang Esteem Economy, Ketika Setiap Orng Haus Pengakuan.

Bila boleh saya simpulkan tulisan ini, Secara keseluruhan saya sangat puas dapat selesai membaca buku ini. Buku yang sangat menarik dan ditaburi segudang gagasan menarik dan tentunya menjelaskan dengan gamblang bahwa The Great Shifting bukanlah angan angan akan hari esok, The Great Shifting sedang terjadi saat ini. Melihat hal tersebut beliau memberikan pilihan, apakah kita hanya akan mencari kambing ber cat hitam untuk dipersalahkan dan menampung segala keluh kesah perubahan yang terjadi, atau kita mulai mengambil tindakan bergesar bersama menuju masa depan yang bukan lagi di depan. #IniGueNgomongApaDah.

Dan Berhubung saya saat ini bekerja di bidang manajemen bencana, yang jadi pertanyaan besar bagi saya adalah, Apakah atau akankah the greatshifting ini sudah atau akan mengubah pola pola manajemen bencana di negeri kita saat ini, berhubung pada tahun 2018 kita di bangunkan oleh rentetan kejadian bencana yang tentunya memberikan banyak pelajaran bagi kita. Dan pertanyaan penting lainnya adalah, apa yang terjadi bila kita tidak berubah?

Saya rasa cukup sekian.

Salam

Dewa Putu AM

Featured Image Designed by Makyzz / Freepik

BukuDaily LifeHiburanPsikologiUncategorized

“Kepribadian Lain” di Dunia Online

January 31, 2019 — by dewaputuam2

393952-PCOICX-223-960x960.jpg

Keanehan “Mereka” di Dunia Online

Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]

Berhubung tahun ini sudah memasuki tahun tahun politik yang seperti kita akan banyak menyaksikan banyak hal “lucu” berseliweran di dunia maya baik itu yang ada di buku muka, burung biru, yusup, hingga sosmed gambar tipu-tipu. Kelakuan netijen akan semakin ajaib dan tidak jarang bermunculan konten-konten yang diluar batas imajinasi terliar kita #hasek. Saya sebenarnya ingin memberikan contoh-contoh keajaiban netijen netijen tersebut namun cukup serem jadi tidak saya tampilkan agar tidak ada yang terluka. Meskipun saya tahu pembaca tulisan saya adalah golongan orang orang keren yang kecil kemungkinannyamemiliki keajaiban para netijen yang saya bahas pada post ini [#penjilat].

Ada suatu buku yang menarik yang sedang saya baca saat ini, Judul buku tersebut adalah “The Great Shifting” Karya Rhenald Kasali. Dalam buku tersebut, Prof Renald menceritakan suatu keanehan prilaku yang banyak muncul di kalangan netijen yang sebelumnya saya sudah sebutkan. Kelakuan aneh itu tampaknya akan meningkat di tahun tahun ini #bersiaplah. Netijens maha benar dengan segala keajaibannya sudah mulai merajalela dan menebarkan semua pesonanya. Entah itu diakui atau tidak, secara sadar ataupun tidak sadar, kita pun terkadang terdampak oleh fenomena ini. Atau mungkin justru kita sering dan kitapun menjadi salah satu netijem maha benar itu :). Fenomena ini saya rasa berpengaruh ke semua orang dan tidak pandang bulu, namun memiliki kadar yang berbeda beda sehingga “yang tampak dipermukaan” hanya segelintir orang saja. Itupun jika lingkungan kita sudah cukup kece terhadap internet ya, kalau tidak ya mungkin bukan lagi “segelintir orang” tetapi kebanyakan orang.

Tentang Online Disinhibition Effect [ODE]

Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)

Online Disinhibition Effect atau biasa disingkat dengan ODE, dapat dijelaskan dengan ringkas melalui gambar diatas. Secara sederhana, fenomena munculnya keajaiban keajaiban para netijen menurut teori ini merupakan hasil dari sifat anonimitas internet dan kurang pedulinya para penggiat online (didominasi oleh kaum yesman). Dalam dunia online orang akan cenderung lebih berani, dan lebih merasa bebas melakukan apapun tanpa ada hambatan. Hal ini dikarenakan karena mereka merasakan bahwa identitas mereka tidak di ketahui (anonim) dan menduga tak ada orang lain yang memperhatikan nya atau paling tidak tidak ada orang lain yang mereka kenal memperhatikannya. Hal ini akan berimbas pada menurunnya pengendalian akan tingkah laku pribadi atau istilah lainnya teradi penurunan Inhibition Control. Dalam buku The Great Shifting, Rhenald Kasali menjelaskan bahwa “Inhibition Control adalah kemampuan yang didapatkan manusia dari serangkaian latihan sejak kanak kanak untuk mengendalikan saraf saraf impulsif (dorongan otomatis atau spontan) dan memberikan respon perilaku melalui “attention” dan “reasoning”.

Pada dasarnya, Inhibition Control menggambarkan kemampuan kogniitif seseorang dan terlihat dalam cara dia mengantisipasi, perencanaan dan setting tujuan. Seseorang yang memiliki Inhibition control yang baik akan baik pula ia dalam bertindak, menulis dan berucap. Jika kurang, hal hal yang bersifat impulsif akan mendominasi sehingga kontrol diri dalam bertindak, menulis dan berucap akan menjadi kurang begitu sehat.

Dari sini akan terlihat kekurang siapan kita akan tekhnologi yang ada sekarang, jika pendidikan dulu terfokus pada pelatihan Inhibition Control kita di dunia nyata yang notabennnya kita dapat dengan jelas mengetahui bahwa kita sedang di awasi dan ada nilai dan norma lain yang mengingatkan dan bahkan mengikat agar berperilaku baik. Tentunya baik berdasarkan nilai norma yang berlaku di lingkungan kita tentunya. Saya akui bahwa baik itu pun relatif tergantung dari nilai dan norma yang dianut oleh orang.

Ketika kehidupan kita mulai dimasuki tekhnologi internet, kita pun menjadi kaget dan beberapa yang tidak siap dengan perbekalan nilai dan norma yang kuat akan merasa bahwa ini adalah saatnya mereka bebas, tidak ada yang tahu apa yang mereka perbuat, tak perlu lagi malu mengekspresikan diri, tulis dan bagikan lah sesuka hati, toh tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di dunia maya ini. Ini dunia maya, bukan lah dunia nyata. Kondisi demikian yang kemudian menciptakan pribadi pribadi lain yang bukan hal yang jarang bila bertolak belakang dari pribadi yang kita jalani di dunia nyata.

Yang jadi pertanyaan besar bagi kita sekarang adalah,

“JIka kita merasa bebas karena Anonimitas?, Apakah kita yakin bahwa kita benar benar Anonim di dunia Maya Ini?”

Jika jawabannya yakin, saya sarankan mainlah lebih jauh dan pulanglah lebih malam. hehehe. sekian dari saya, mungkin tulisan ini tidak begitu berfaidah namun saya rasa ini suatu keresahan yang agaknya perlu saya tuliskan di sini. sepertinya sudah sampai disini saja, Akhir Kata saya ucapkan terimakasih atas waktunya

Salam.

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Ilustrasi
1. Feature Image Designed Freepik
2. Gambar Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]
3. Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)