main

BukuDaily LifeOpiniPopular TheoryPsikologiUncategorized

Covid19 dan Kenapa “Mereka” menolak ‘fakta’ dan tidak menuruti anjuran dari “Yang Bukan Mereka”?

March 22, 2020 — by dewaputuam0

person-holding-sign-3951608-960x640.jpg
Tangan kita penuh warna, (Photo by Sharon McCutcheon from Pexels )

Beberapa minggu belakangan ini saya merasa mulai bosan dan suntuk dengan topik pemberitaan dan pembicaraan yang beredar di sekeliling saya. Mungkin teman teman juga merasakan hal yang sama. Pada awal awal pandemik bahkan sampai sekarang, meskipun bosan melanda saya tetap mengikuti terus perkembangan yang ada karena jujur saya sedikit panik dan skeptis dengan penanganan yang ada sekarang yang jika harus berkata jahat, yup kita sudah terlambat 2 bulan.

Tapi ya sudahlah, terlepas dari semua itu tidaklah penting memikirkan hal yang sudah lalu.., Oia saya juga risih dengan pemikiran beberapa orang yang terlalu fokus pada apa kedepannya. Entah itu mengatakan Indonesia hari ini adalah Italia 2 minggu lalu. What the #meeh do you think bro n sist? kalian ingin hal serupa terjadi di sini? yang harus lebih kita pikirkan adalah tentang hari ini, bukan tentang lalu ataupun esok. Boleh kita menatap kedepan, atau kebelakang itu tidaklah haram selama masih ada makna yang bisa kita ambil.

Stop misuh2nya, pada tulisan ini saya ingin sedikit berdiskusi tentang perilaku denial “Mereka“. Kata “mereka” sengaja saya gunakan untuk mengakomodir jikalau teman2 berkelok maaf saya tidak termasuk. 🙂

Fakta, Apa itu fakta. Kita tidak berpikir dan bertindak berdasarkan “Fakta” melainkan berdasarkan “Rasa”

Saya tidak tahu darimana harus memulainya tetapi Perkembangan covid19 semakin meresahkan belakangan ini menyebabkan pemerintah kita akhirnya mengambil kebijakan dan arahan sekaligus mengenalkan kepada kita beberapa istilah baru, canggih dan mungkin asing bagi sebagian orang (termasuk bagi saya hehe) yakni Social Distancing dan Work from home (WFH). Segala hal dilakukan pemerintah dan melalui berbagai media, baik media cetak,elektronik televisi, berita berita online, kanal youtube dan segala media yang ada bahkan melalui media purba seperti sms pun digunakan pemerintah kita untuk memberikan informasi dan “fakta” terkait Covid19 dengan segala printilannya yang saya yakin nih teman-teman sudah sering mendapatkannya dari yang info resmi maupun hoax.

Pemerintah dan kebanyakan dari para pengambil keputusan pun terus memperbaharui namu sayangnya juga beberapa kali diselingi dengan saling cekal dan klaim mulai dari tampilam mana yang paling bagus lagi canggih hingga isu yang “penting” tentang informasi siapa yang benar dan mana yang salah, mulai dari jumlah korban, jumlah positive,siapa yg berhak membagikan data itu, data dan fakta apa yg boleh dibagikan data dan fakta mana yang kurang perlu atau bahkan tak etis bila dibagikan.

Saking seru, heboh dan canggihnya mereka mengelola fakta dan informasi, hingga membuat kadang kita lupa pada sesuatu yang seharusnya menjadi pertanyaan inti dan terpenting untuk dijawab. Apakah informasi itu tadi efektif, dan mampu “Menggerakan” masyarakat kita?

yang dalam hal ini untuk diam di rumah dan menjaga jarak aman atau apapun itu arahannya. (coba lihat dan lirik sekeliling) jawabanya bisa jadi berbeda,.. berbeda dari yg diinginkan hingga tidak jarang muncul keluhan kenapa dia seperti ini kenapa masih saja tidak peduli dengan arahan dan masih pelesiran kemana2 melakukan aktifitas seperti biasa sembari berbagai penyakit. Kesal memang,.. dan kadang kita tidak habis pikir dengan tindakan yg orang orang tadi.

Memang sedikit tidak nyaman dan mengengkang, tetapi mau bagaimana lagi. Photo by cottonbro from Pexels

Apakah masyarakat kita memang sebodoh” ini apakah se denial ini terhadap kasus yang hingga saat ini telah menelan korban jiwa belasan ribu dan besar kemungkinan akan terus bertambah,.. mungkin dari negara kita akan menyumbang lagi (semoga tidak banyak atau bahkan cukup segini saja tidak usah ada tambahan lagi) itu tentu harapan kita bersama #meskikecilkemungkinan.

Apakah fakta yang mendukung kurang? apakah fakta2 dan informasi itu masih sulit dipahami? apakah mereka memang bodoh?

Sebelum menjawab itu semua,… baiklah, kita anggap dulu fakta dan informasi yang diberikan pemerintah dan berbagai praktisi lainnya masih kurang kuat dan kurang mudah dipahami dan masih sangat baru bagi otak otak beku kami kaum rebahan santuy ini. Namun coba duduk sebentar dan coba lirik disekitar kita, pernahkah teman teman melihat bungkus rokok? se-eksplisit apa dampak dampak (fakta) dari rokok yang jelas sekali digambarkan di bungkusnya? apa pendapat teman2, apakah fakta2 tersebut masih kurang, apakah fakta2 itu sulit dipahami, apakah fakta2 tersebut hal yang baru? kita tahu bersama seperti apa efektifitas fakta2 itu pada perokok dan calon perokok baru. efektifkah ?

“Dunia ini tidak digerakan oleh informasi, orang orang tidak membuat keputusan berdasarkan kebenaran atau fakta fakta.Dunia ini digerakan oleh perasaan , dan atau “sebuah nilai” yang akan mengambil posisi lebih tinggi dari fakta tersebut. 

Mark Manson (Everything is F*ck)

Beranjak dari gagasan inilah saya jadi berpikir apakah hal yang terjadi pada peringatan kesehatan pada bungkus rokok juga terjadi dengan peringatan pemerintah soal pengendalian Covid19 akhir akhir ini. Besar kemungkinan hal itu terjadi. Jika kita telusuri baik lagi konten yang beredar selama ini, informasi dan segala himbauan yang dibuat serta disebarkan baik oleh pemerintah kita maupun berbagai praktisi terkait sudah sangat banyak bahkan berlebih. Dari segi kekayaan informasinya serta variasi cara penyampaian maupun sudut pandangnya pun sangat beragam. Sehingga sedikit sekali aspek dan fakta terkait Covid19 yang terlewat dibahas oleh mereka mereka.

Segala media pun digunakan oleh teman teman kita itu dengan segala ancaman yang ada. Dari yang sekedar tulisan ringan dalam chat yang mudah di sebar, story Instagram, Infografis, video, podcast, berita, artikel online, berita elektronik hingga tulisan tulisan ilmiah terus menyebarkan fakta fakta yang ada. Hingga, kecil juga ada satu dari kita yang tidak terpapar informasi informasi tersebut.

Permasalahan kemudahan akses dan kemudahan untuk memahami isi dari pesan pesan itu pun menurut saya tidak menjadi masalah yang berarti, karena segala arahan sudah diinformasikan dengan sangat praktis dan mudah sekali dipahami juga dilaksanakan. Dan untuk pertanyan apakah kita kita yang denial segala informasi dan arahan itu orang bodoh. Mungkin saja sih, mungkin kami kami ini terkadang bodoh (atau sering) dan tidak patuh hingga menolak segala fakta yang ada. 🙂

Bukan Mereka Tetapi Kita lah yang seperti ini dan otak kita bekerja seperti ini, menyedihkan si, tapi memang itu adanya

Untuk orang orang yang memang suka berdiam diri di kosan atau rumah biasanya tidaklah susah untuk tetap diam dalam waktu yang lama. Namun untuk beberapa orang diam di rumah akan memberikan tekanan cukup besar. Ada yang tertekan hanya pada psikologisnya biasanya pada orang orang yang aktif di luar (ekstrovet), namun tidak sedikit pula yang tekanan datang bukan hanya pada psikologisnya namun juga akan menghadapi tekanan ekonomi secara kuat bila ia tidak beraktifitas normal.

Ada sebuah gagasan menarik saya temukan dari buku Everything is F*ck karya Mark manson dan buku berjudul Blink: The Power of Thinking Without Thinking karya Malcolm Gladwell. Dalam kedua buku tersebut terdapat sebuah gagasan tentang cara berpikir kita (manusia) yang pada dasarnya dipengaruhi oleh kedua otak kita yang memiliki karakter yang sangat berbeda. Untuk mempermudah kita sebut saja satu otak logis sedangkan otak lainnya adalah otak perasa. Umumnya kita “berpikir” bahwa bahwa otak logislah (sang pemikir) yang menentukan dan berkuasa pada setiap tingkah laku kita. Namun, dari kedua buku tersebut diperlihatkan bahwa pemahaman umum kita tadi tidaklah tepat. Alih alih dikendalikan oleh logika, kita justru dikendalikan oleh otak perasa.

Apakah dikendalikan perasaan menjadikan kita tak ubahnya seperti Monyet? 🙂 menurut saya ada ianya ada juga tidaknya terserah dari bagian mana kita memandang (Photo by Pixabay from Pexels )

Mark Manson menganalogikan bahwa kesadaran diri kita ibarat sebuah mobil dimana sang otak perasa duduk sebagai sopir dan otak pemikir duduk di samping sebagai navigator, tidak peduli seberapa ilmiahnya kita pada akhirnya otak perasa lah yang menyetir mobil kesadaran kita. Otak perasa menghasilkan emosi emosi yang membuat kit bergerak untuk bertindak, dan Otak Pemikir menyarankan dimana tindakan itu harus dilakukan. Kata kuncinya disini adalah menyarankan, karena otak pemikir tidak dapat mengendalikan otak perasa maka ia akan hanya mempengaruhi walaupun terkadang sangat kuat tapi tidak jarang pula sangat lemah karena pada dasarnya otak perasa memiliki karakter yang keras kepala. Jika ada suatu nilai yang ingin ia tuju maka dia akan memperjuangkannya meskipun banyak fakta dan data yang menghadang tujuan mereka itu.

Semua orang memiliki kepentingannya masing masing dan memiliki “suatu nilai” yang ia perjuangkan dan menurut mereka tidak dapat di halangi “hanya” oleh issu Corona dengan berbagai fakta dan data yang ia bawa. “Suatu nilai” inilah yang menjadi fokus utama kita. “Suatu nilai” yang telah lama mereka perjuangkan ini bisa berupa hal hal yang berwujud seperti orang tua, keluarga, teman, uang, makanan hingga nilai nilai tak berwujud (abstrak) seperti rasa bahagia, kekeluargaan, pertemanan, kedamaian, hingga keimanan mereka (yang sifatnya religius).

Melalui gagasan ini, dapat dijelaskan mengapa meskipun data dan fakta keburukan rokok begitu tergambar dengan gamblang, namun tetap saja permintaan akan rokok tetap tinggi. Hal ini dikarenakan pihak pengiklan modern terus mensugesti dan membuat nilai lain dari sebuah rokok dalam produk produk iklannya. Dalam iklan rokok yang tidak menunjukan bagaimana merokok itu tentu akan sering kita temukan simbol simbol yang memberikan kesan pria sejati, macho, jantan, kebebasan dan segala hal yang menurut kita keren lainnya. Tekhnik pemasaran seperti ini digagas oleh Edward Bernays sejak tahun 1928. Alih alih memberikan fakta fakta tentang suatu produk, ia justru melekatkan produk tersebut pada sebuah nilai penting.

Hal serupa saya duga juga yang terjadi pada informasi dan segala arahan terkait Covid19 yang tidak begitu mempengaruhi tindakan beberapa kalangan. Ini terjadi bukan sekedar karena kurangnya fakta dan data yang mereka dapatkan namun lebih pada kurangnya penekanan nilai yang mereka anggap penting. Semisal, dalam beberapa kasus ajakan untuk diam dirumah untuk sebagian orang justru bertabrakan dengan nilai keimanan mereka untuk selalu melakukan ibadah apapun yang terjadi. Bahkan jikalau hal buruk terjadi akan mereka anggap sebagai kebaikan. Ini bukan karena fakta dan data yang tidak mereka dapatkan atau pahami namun nilai yang ditekankan kepada mereka tidaklah sebesar nilai relijius mereka. Begitu pula dalam kasus kasus lainya dimana ajakan terkait kasus Covid19 harus berhadapan dengan nilai lain seperti kekeluargaan, pertemanan, ekonomi, dan nilai lainnya yang teman teman mungkin pernah mendapati berbagai jenisnya. Tentu bila seseorang “merasa” arahan terkait Covid19 yang diberikan itu memiliki nilai tidak setinggi nilai yang sedang mereka perjuangkan maka arahan itu tidak akan mereka turuti dan muncul sebagai tindakan denial seperti yang sudah sering kita temukan bersama.

Untuk menanggulangi permasalahan tersebut dan meningkatkan keefektifan dari informasi Covid19 yang diberikan ada baiknya tidak hanya fakta saja yang ditekankan namun juga perlu adanya penekanan pada nilai nilai penting lainnya seperti kekeluargaan, ekonomi, hingga pada nilai nilai religi. Tidak harus dipertentangkan, namun cukup di sinergikan saja dengan nilai nilai yang ada. Secara teori memang terlihat mudah namun dalam prakteknya saya akui memanglah sebuah hal yang sulit. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Nyatanya sudah banyak informasi informasi yang beredar sekarang sudah menyentuh hal hal tersebut, hanya kadang ada yang terlewat saja sehingga masih banyak yang denial.

Salah satu cara penyampaian pesan yang saya sukai adalah berita berita maupun gambar dokter yang sedang berjuang untuk “Nilai kemanusiaan”. Masih banyak kampanye lain yang entah dirancang khusus atau secara tidak sengaja menekankan pada sebuah nilai kekeluargaan dan nilai nilai lain yang merangsang otak perasa kita. Namun tidak sedikit pula kampanye dan informasi yang disampaikan hanya menyampaikan fakta fakta hambar tanpa penekanan pada makna yang jelas. Penekanan pada nilai yang merangsang rasa empati otak perasa kita menjadi lebih penting ketimbang hanya memberikan alasan alasan logis teoritis saja. Karena nilai nilai inilah yang mampu memberikan efek gerakan.

Itu saja sih yang ingin saya diskusikan dalam tulisan ini. Merangkum dari kesemua bahasan yang saya berikan panjang lebar sebelumnya. Arahan, Infromasi atau apapun itu yang bertujuan pada suatu pergerakan ntah itu pergerakan untuk membeli barang atau dalam kasus ini berupa pergerakan untuk melakukan dan taat terhadap arahan yang diberikan pemerintah. Fakta memanglah penting, namun jangan juga melupakan untuk penekanan pada suatu nilai yang merangsang otak perasa kita. Nilai nilai tersebut banyak macamnya dan perlu diurai lebih detail lagi dan disesuaikan dengan kasus yang ada.

Akhir kata saya ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi tingginya pada para pahlawan kemanusiaan yang kita miliki sekarang. Mereka yang digaris depan seperti petugas kesehatan dokter maupun perawat dan tenaga medis lainnya hingga para petugas dan praktisi dibelakang mereka, bagian data, administrasi, manajemeb kedaruratan dan segala pihak yang terlibat bukanlah manusia super yang kebal dengan segala hal, mereka juga takut. Mereka mengorbankan waktu tenaga bahkan kesehan mereka demi orang lain (salut saya buat temen temen disana).

Feature Photo by cottonbro from Pexels

BencanaLingkunganOpiniPopular TheoryPsikologiUncategorized

Hati Hati terjebak Dehumanisasi dalam menyikapi kasus Covid19, dan “Lainnya”

February 15, 2020 — by dewaputuam0

eyes-portrait-person-girl-18495-960x655.jpg
Terkadang kita bergerak terlalu cepat, entah untuk mengejar apa. Hingga kita suatu waktu tanpa sengaja tersadar sudah banyak yang kita tinggalkan (Photo by Mike Chai from Pexels))

Saya ingin berdiskusi sedikit tentang apa yang mengganggu dan meresahkan pikiran saya dalam satu bulan terakhir ini. Teman-teman tentu mengikuti atau paling tidak sudah pernah mendengar bahwa saat ini terjadi suatu tragedi kemanusiaan yang bisa dikatakan sangat besar dan menyedihkan sedang berkembang di Wilayah China daratan serta puluhan negara di sekiarnya. Ini tentang Covid19, yang hingga data terakhir yang saya dapatkan (15 Februari 2020 dari data yang ditampilkan pada dasboard milik Johns Hopkins CSSE) jumlah korban meninggal sudah mencapai 1527 dari 67,091 kasus yang terkonfirmasi.

Itu bukanlah angka yang sedikit, dan yang paling menyedihkan itu bukanlah hanya sekedar angka. Itu semua nyawa manusia, entitas yang sama dengan orang-orang di sekitar kita, entitas yang sama dengan orang-orang yang kita sayang, dan tentunya entitas yang sama pula dengan yang selalu kita temukan saat kita memandang cermin. Yup itu jumlah manusia seperti kita, punya keluarga yang menyayangi mereka dan juga ada teman dan keluarga yang mereka sayangi. Itu sama sekali bukan hanya sebuah angka statistik belaka.

Dehumanisasi?, Ini bukanlah isu yang baru saja ada dan hanya pada saat Covid19, Namun isu ini sudah lama sekali ada, bahkan juga digunakan saat perang berkecamuk. Namun sekarang bukanlah perang.

Dehumanisasi tidak hanya membayangi Covid19 saja. Namun lebih dari itu, dehumanisasi terus menjebak kita dengan berbagai cara membuat kita hanya melihat hitan dan putih saja tanpa adanya wilayah abu-abu sedikitpun. ( Photo by Umberto Shaw from Pexels )

Dengan tidak mengurangi rasa duka dan simpati kepada para penderita serta para korban meninggal dunia akbat virus ini, saya rasa kita perlu membahas dan mendiskusikan bagaimana cara kita menyikapinya. Sangatlah mungkin bila kita (termasuk saya) sering sekali belum dapat menyikapinya dengan baik sisi kemanusiaan ini dengan sempurna dan sering pula kita terpeleset kemudian terjebak oleh dehumanisasi. Orang yang sudah terperangkap jerat dehumanisasi terkadang jelas terlihat, namun terkadang senyap tak terdeteksi oleh sensor apapun. Persebarannya bahkan jauh lebih cepat dari Covid19. Manusia yang sudah terlanjur terkikis kemanusiaannya, akan sulit bisa dianggap manusia secara utuh lagi. Merka yang seperti itu tak ubahnya seperti zombie. Meski masih berwujud manusia tetapi kehilangan esensi dari manusia itu sendiri.

Ini bukanlah isu yang baru saja muncul, dehumanisasi seringkali muncul dalam bentuk dan wujud yang beraneka ragam. Dari hal yang sesederhana “Itu bukan urusanku karena mereka bukan keluargaku” hingga pada wujud yang sulit terbayangkan bahkan menjatuhkan yang sudah jatuh “Ini hukuman Tuhan untuk mereka, karena telah berlaku begitu selama ini”. Mungkin kedua kasus itu masuk diakal sehat teman teman, mungkin saja tidak. Kenapa saya bilang bregitu, coba teman-teman lihat ketiga video ini (Bukan Covid19_1, Bukan Covid19_2, Bukan Covid19_3). Bagaimana pendapat kalian tentang ketiga video diatas. Kita tidak dapat mendebat dengan semua itu. Saya hanya ingin sedikit menunjukan bahawa kita juga tidak sesuci itu, kita sangat mungkin sama seperti orang orang yang sebelumnya saya sebutkan. Sangat mungkin kalau kita juga sebenarnya sedang terpeleset dan terjerembak dalam jurang dehumanisasi.

Kita menjadi Zombie bukan karena kita tergigit oleh zombie ataupun terserang virus. Tetapi kita sendiri yang secara suka rela memilih untuk menjadi zombie

Saya tidak ingin menambahkan caption lagi, namun teman teman akan mengartikan sendiri pada akhir cerita ini ( Photo by omar alnahi from Pexels )

Pada dasarnya dehumanisasi dapat kita artikan sebagai “penghilangan harkat manusia atau tindakan menyangkal kemanusiaan terhadap manusia lainnya.” (Sumber) . Konsep Dehumanisasi yang ingin saya bahas pada tulisan ini adalah sebuah konsep yang saya baca dari sebuah buku karya Paul Scharre yang berjudul Army of None (pernah saya review dalam tautan ini). Yang menarik dari buku tersebut, sang penulis menjabarkan dengan gamblang jalur-jalur yang dapat mendehumanisasi kita baik digunakan secara sengaja ‘terencana’ seperti yang biasa digunakan tentara saat perang, digunakan para teroris meradikalisasikan para pengikutnya dan Juga dehumanisasi yang “tanpa disengaja” mendekap kita tanpa kita ketahui baik melalui karya seni ataupun entitas-entitas lainnya. Dalam bukunya, Paul Scharre setidaknya menjabarkan ada lima cara/jalan untuk mendehumanisasi seseorang.

  • Pertama, mengkondisikan lingkungan psikologis seseorang dengan berbagai cara seperti salah satunya adalah memaparkannya pada informasi dan situasi situasi ekstrim. Contoh saat bencana, saat kita sama sama menjadi korban dan sangat membutuhkan bantuan akan “sulit” bagi kita untuk sekedar membantu. Saya bilang sulit bukan berati tidak ada, karena dalam beberapa kasus ada orang hebat di luar sana yang tetap membantu tanpa memikirkan dirinya sendiri. Hal ini sebenarnya mengingatkan saya pada tiga video yang saya bagikan sebelumnya, tapi yasudah lah ya.
  • Kedua adalah meberikan tekanan berdasarkan kekuasaan, baik dengan fisik langsung maupun tindakan tindakan yang menyebabkan seseorang tidak berdaya untuk menolak. Hal ini tampaknya sudah jelas, dehumanisasi dapat terjadi karena ada suatu kekuatan besar yang mengintimidasi di belakang mereka baik itu manusia lain, organisasi atau bahkan yang lebih besar lagi. Hal ini juga yang membuat saya kurang begitu suka dengan pendekatan dan pembelajaran keagamaan dengan menekankan ketakutan akan sosok Pencipta bukannya Kemaha Pengasihannya itu sendiri.
  • Cara ketiga adalah mendifusikan tanggung jawab dengan cara pembagian tugas yang guyub dan rumit sehingga mengaburkan fakta terkait siapa yang bertanggung jawab sebenarnya. Pembagian tugas memanglah baik namun saat rantai tugas dan kewenangan menjadi terlalu panjang maka terkadang kita tidak sadar yang kita hadapi tidak lain dan tidak bukan adalah nyawa manusia.
  • Cara keempat adalah dehumanisasi manusia lain dengan mengikis sisi humanisnya baik secara langsung maupun dengan narasi yang berputar yang memberikan sisi jahat, hewan dan tidak manusiawinya sosok atau kelompok tersebut, dengan kata laian mereka digambarkan jauh dari sisi manusia. Cara lainnya adalah menggantikan target manusia lain itu menjadi objek-objek fisik atau abstrak lainnya seperti bangunan, ras, bangsa dan lainya yang kemudian secara tidak langsung juga memberikan dampak pada manusia yang telah dilekatkan oleh analogi tersebut. Kedua dehumanisasi dengan mengidentifikasikan entitas manusia sebagai sosok bukan manusia ini pasti sering teman teman temukan, dari pengaburan sisi kemanusiaan secara tidak sengaja dengan menganalogikan nyawa manusia hanya dalam sebuah catatan statistik belaka, ras atau bangsa lalim hingga pada penggambaran sosok manusia itu sebagai kejahatan yang tidak termaaafkan hingga layak disebut setan atau apapun itu (silahkan teman2 lihat dalam kolom komentar ketiga video yang saya bagikan sebelumnya).
  • Cara kelima dan terakhir adalah membuat suatu jarak fisik dan psikologis antara seseorang dengan manusia lainnya hingga kemudian juga dapat memberikan efek dehumanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jarak fisik dan juga memisahkan kemudian meningkatkan perbedaan perbedaan antara manusia di kelompok mereka dan ‘manusia lain’ di kelompok lain yang berseberangan sehingga muncul penggolongan yang ekstrim. Hal ini yang kemudian membuat kita terkadang berpikir “Di sana kan jauh ya, untuk apa kita memikirkan mereka, toh mereka juga bukan keluarga kita dan tidak kenal juga dengan kita. Jadi tidak lah perlu bersusah payah memikirkan mereka”.

Banyak juga ya ternyata cara kita tereleset pada lubang dehumanisasi. Jika kita baca, sepertinya memang terlihat sangat jelas bagaimana proses dehumanisasi itu. Namun sayangnya dalam keseharian kita, jarang sekali lubang lubang itu terlihat dengan jelas dan menjadikannya sulit dihindari. Terlebih lagi mungkinlah kelima cara dehumanisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan terkombinasi menjadi suatu permasalahan yang samar dan sulit untuk kita tebak kemana arahnya.

Itu saja sih hal yang ingin saya bagikan dalam tulisan ini. Semoga tulisan ini sedikit menyadarkan kita termasuk pengingat bagi saya akan adanya musuh sejati yang besar bagi kita semua. Musuh yang sangat dekat bahkan lebih dekat dari rambut di atas dahi kita. Musuh yang merusak kerja otak kita dan mengarahkan kita menuju kegelapan, menjadikan kita sosok yang menyerupai Zombie yang jauh dari sisi humanis. Jika itu terus berlanjut dan tidak ditanggulangi mungkin manusia akan musnah dan digantikan oleh sosok sosok yang tidak ingin kita kenal lagi bahkan malu untuk diakui pernah menjadi manusia sebelumnya.

Zombie Apocalypse bukan disebabkan oleh T Virus, Flaka, Covid19 atau apapun itu. Zombie Apocalypse justru datang lebih senyap dari itu semua, menyebar dari pikiran seseorang kepikiran orang lainnya tanpa perantara dan vektor yang nyata. Namun persebarannya jauh lebih cepat dan mengerikan dari yang pernah kita duga sebelumnya hingga saat kita membaca tulisan ini pun sangat mungkin kalau kita sudah sedikit terjangkit oleh fenomena itu. —-> Play me

Salam

Dewa Putu AM

Pada dasarnya tulisan ini sudah selesai sampai di sini, silahkan teman teman skip jika memang ingin skip, namun saya ingin menambahkan sedikit saja.

Saya pada awalnya ingin menunjukan hal ini pada postingan saya sekarang. Namun Issue dehumanisasi tampaknya lebih penting dan lebih dapat kita tanggulangi ketimbang permasalahan Covid19 sehingga saya pada postingan utama hanya membahas terkait dehumanisasi tersebut. Saya dalam beberapa hari ini tertarik dengan analisis dan visualisasi data. Namun apa yang saya dapatkan ketika mengelola data tersebut serem sih. Seuma orang mungkin tahu bahwa persebaran Covid19 termasuk sangat cepat. Dari sini kemudian saya mencoba melakukan analisis sederhana untuk melihat akan seperti apa eskalasi Covid19 kedepannya. Saya harap perkiraan ini salah, namun bila tidak ditanggulangi secara cepat dan baik dan kecepatan pertambahannya tetap seperti ini kasus Covid19 akan semakin besar dan berlipat ganda pada akhir bulan Februari atau Awal Bulan Maret. Kalian dapat melihat analisis tersebut pada dasboard yang saya susun dalam tautan ini.

Namun seperti yang saya bahas pada postingan utama saya, yang bisa kita lakukan selain lebih menjaga kesehatan kita dengan berbagai cara yang sudah dianjurkan berbagai istitusi pemerintah, kita juga tidak perlu panik. Namun perlu diingat, yang sekarang menderita di sana samalah seperti kita, terlepas dari persepsi apapun teman-teman kepada mereka janganlan mengaburkan fakta bahwa mereka juga manusia.

Dan kemudian untuk kasus pemulangan (ex WNI yang tergabung ISIS) saya tidak dapat berdiskusi banyak. Saya pun tidak begitu setuju jikalau nanti ada niatan pemulangan mereka begitu saja. Namun perlu diingat perlakuan yang seperti itu tidak begitu berbeda dengan “identitas kejam dan berbahaya” yang kita sematkan pada mereka. Apakah kini kita sama saja dengan mereka? lalu bagaimana kita seharusnya bersikap? Sayapun tidak tahu, biarkan waktu yang menjawab ini semua.

Sudahlah

MeteorologiPopular TheoryPsikologiSains AtmosfirUncategorized

Siklus Pipis Dinosaurus

February 12, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-02-11-at-11.17.44-PM-960x509.jpeg

Hujan ini dari pipisnya siapa, dalam hati ku berguman sambil berbicara sendiri. Jari jemari pada lengan kiriku sendari tadi sibuk menunjuk butir hujan satu persatu. Sedangkan jari pada lengan lainnya mengatup dan bergerak lincah seakan sedang menghitung sesuatu. Tetiba keheningan sirna akan celetukan orang di samping yang tidak tahu sudah sejak kapan ada di sana “Wa,.. lu seorang Pluviophile ya?” tanyanya. Mendengar pertanyaan tersebut, saya menghentikan kegiatan saya dan memandang matanya dengan tajam, sejenak saya berpikir dan kemudian menjawab pertanyaannya dengan perlahan. “Pluviophile tu apa ya, saya baru dengar istilah itu e?” Saya menjawab sekenanya.

Mendengar jawaban tersebut teman saya membalikan badan dan kemudian berlalu begitu saja tanpa alasan yang jelas. Yah, kira kira begitu saja untuk paragraf intro dalam tulisan saya kali ini, cukup sederhana dan saya rasa lumayan tidak bagus dan tidak mewakili inti dari semua yang akan saya tuliskan dalam postingan kali ini.

View this post on Instagram

Djakarta Kini persi Diagonal

A post shared by dewa putu am (@dewaputuam) on

Secara sederhana Pluviophile dapat diartikan sebagai orang yang suka hujan, saat hujan seorang seperti ini dapat menemukan kedamaian dari kenikmatan tersendiri. Menurut saya pengertian diatas merupakan pengertian yang aneh dan saya tidak bisa habis pikir kenapa ada orang yang begitu menyukai hujan dan menemukan kedamaian didalamnya. Yah meskipun saya akui Pluviophile merupakan istilah yang cukup keren terbacanya, jadinya saya masukan kata tersebut dalam deskripsi akun instagram saya hehehe. Saya memang bukan seorang Pluviophile karena menurut saya hujan merupakan suatu fenomena cuaca biasa dan bukanlah sesuatu yang lebih spesial dari fenomena fenomena lainnya tidak lebih dari itu dan tentunya tidak juga kurang.

Siklus Pipis Dinosaurus

Kenapa saya tidak begitu suka dengan hujan, namun tidak bisa dikatakan bahwa saya tidak suka hujan juga. Saya hanya berpikir bahwa hujan hanyalah hujan sama dengan cerah yang hanyalah cerah. Namun sebenarnya ada satu hal menarik dari hujan. Apakah kalian menyadari nbahwa dalam setiap kejadian hujan, air yang turun adalah air yang sama dengan air pipis dari dinosaurus, air yang sama juga dengan air pipis kita hehehe, hanya saja air tersebut tidak serta merta terbang kelangit dan kemudian turun sebagai hujan. Dan mungkin lucunya lagi air yang sama itu juga yang selama ini kita minum hiyaksss,…. X____X

Saya akan coba menceritakan sedikit tentang siklus hidrologi yang dimulai dari pipis dinosaurus yang menguasai dunia selama 168 juta tahun. Dalam waktu tersebut cukup ,logis bila mereka untuk minum dan kemudian menghasilkan urine dalam jumlah yang melimpah. AIr urine dinosaurus yang melimpah ini kemudian jatuh ketanah dan atau ke sungai kemudian menuju laut. Beberapa air terserap tumbuhan untuk keperluan evapotranspirasi sedangkan sebagian lainnya masuk ke laut dan kemudian terevaporasi. Kedua proses tersebut (evaporasi dan transpirasi) kemudian masuk ke atmosfer dan terkonsentrasi membentuk butir butir awan. Awan yang sudah jenuh kemudian turun menjadi hujan.

Proses tersebut terus berlangsung hingga saat ini, entah sudah berapa kali si pipis dinosaurus tersebut berputar putar di darat laut dan udara dan beberapa kali pula telah diminum dan menjadi pipis makhluk lain lagi. Dan kemudian manusia datang meminum air tersebut hehehe. Untuk lebih terkait kita yang minum pipis dinosaurus dijelaskan dengan cakep di video dibawah ini.

Meskipun kita meminum pipis dinosaurus, dan pipis pipis makhluk sebelum kita, tapi kita patut bangga karena kita juga minum pipis nenek moyang kita #LuarBiasa. Oleh karea itu kita tidaklah boleh berbesar hati, dan berkata kita lebih hebat dari masa lalu, kita lebih unggul dan saat ini adalah kemajuan yang sangat hebat. Sehebat hebatnya kita, seprimitif primitifnya nenek moyang dan kebudayaan terdahulu, tetap kitalah yang minum urin mereka. Bagian ini sengaja saya tulis agar dalam posting saya kali ini ada sedikit pesan moralnya #Itu.

Sekian dari saya, Terimakasih karena telah membaca tulisan saya yang sedikit ngelantur ini dan kembali ke gaya penulisan masa masa awal nulis dulu. Salam hangat dari saya

Dewa Putu AM

BencanaPopular TheorySains PopulerUncategorized

Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0

February 9, 2019 — by dewaputuam0

IMG_20181021_151533-960x540.jpg

Pada tulisan ini, saya akan coba bermimpi sejenak dan membebaskan semua angan saya jauh ke masa dapan. Ini tentang Manajemen bencana pada masyarakat 5.0 atau dalam bahasa inggris disebut sebagai Society 5.0. Konsep tentang masyarakat 5.0 ini pertama kali di sampaikan oleh Shinzo Abe di pameran CeBIT, Hannover Jerman pada Maret 2017. Konsep ini juga di deskripsikan oleh pemerintah jepang secara keren dalam websitenya di link ini. Secara sederhana Imadudin Muhammad menjelaskan di tulisannya pada link ini, tentang masyarakat 5.0 yang merupakan konsep yang menggambarkan fase evolusi masyarakat yang sudah mengoptimalkan penggunaan artificial intelligence (AI), robotics, big data, dan drones. Masyarakat 5.0 merupakan suatu konsep masyarakat pada jaman industri 4.0 (yang agaknya sudah banyak sekali orang yang latah menggunakan istilah ini termasuk saya hehehe), Society 5.0 merupakan sistem masyarakatnya sedangkan industri 4.0 adalah platformnya.

Mungkin cukup di situ saja cuap cuap saya terkait gambaran umum Masyarakat 5.0. Saya akan mulai merekonstruksi apa yang saya bayangkan tentang manajemen bencana pada masyarakat 5.0 yang tentunya tidak terlalu jauh dari Artificial Intelligence (AI), robotics, big data, dan drones dan mungkin akan lebih tepat bila saya sertakan pula IOT, AR/VR, . Oia, tulisan ini terilhami dari beberapa pengalaman yang saya dapat selama 2 tahun berkecimpung di bidang bencana, buku bacaan saya The Great Shifting karya Rhenald Kasali, yang telah saya ulas pada tulisan sebelumnya, Buku Army of None karya Paul Sharre dan tentunya dari berita berita terkait society 5.0.

Profil Risiko Bencana per objek maupun personal secara realtime

IOT (Sumber Freepik)

Mengenali dan memahami risiko merupakan dasar dan permulaan dari suatu manajemen bencana. Manajemen bencana sulit berjalan dengan baik tanpa didahului oleh pemahaman risiko bencana. Pemahaman terkait risiko bencana di Indonesia saat ini telah difasilitasi dengan adanya aplikasi InaRISK yang dikembangkan oleh BNPB. Dalam aplikasi tersebut baik web maupun aplikasi berbasis Android dan IOS, kita dapat melihat ancaman bencana apa saja yang ada di sekitar kita. Ini menurut saya merupakan aplikasi yang sudah bagus. Namun karena disini kita sedang membahas masyarakat 5.0 tentunya pemahaman risiko bencana akan lebih berkembang lagi dengan adanya pemanfaatan tekhnologi Big Data, AI dan IOT. Berikut ini beberapa gambaran pemahaman risiko bencana kita bila ketiga tekhnologi tersebut sudah dapat di optimalkan.

  • Kita memahami Ancaman di sekitar kita secara realtime Penerpan IOT tentunya tidak hanya menjadi rumah kita semakin pintar, Penerapan IOT pada kebencanaan memberikan akses pada kita untuk megetahui dan memberikan peringatan akan kejadian kejadian bencana yang dapat mengancam keselamatan kita secara realtime. Jika hal ini sudah diterapkan, tentunya blunder tentang tsunami atau hanya gelombang pasang biasa kecil kemungkinan akan terjadi lagi. Sensor, radar, cctv dan citra yang terus memonitor kejadian kejadian disekitar kita, dan dengan adanya AI akan mengidentifikasi kejadian mana yang membahayakan dan mana yang masih dalam batasan aman. Jika ada suatu kejadian yang dirasa membahayakan, maka AI akan dengan segera menginformasikan manajer bencana dan masyarakat sekitar untuk melakukan aksi. Semua data dan informasi dari sensor, radar dan cctv tentunya memiliki jumlah besar, bervariasi tinggi dan arus trasfer datanya nya sangat cepat, disinilah teknologi big data dan AI kembali mengambil peran untuk memanajemen dan menganalisis data tersebut untuk menilai dan mengkoreksi tingkat ancaman wilayah secara realtime.
  • Kita memahami kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime Big Data yang diambil dari berbagai jejak digital yang diinggalkan masing masing orang baik dari pencariannya di mesin pencari (google dan bing); aktifitas media sosial (tulisan, foto dan video) yang dibagikan di klik, like, retweet; pergerakan yang di ambil dari GPS smartphone dan juga aktivitas ekonomi yang dilakukan akan dianalisis oleh AI dan dihasilkan sebuah pola dan karakter masing masing orang yang kemudian digunakan untuk menilai kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime. Ada sedikit kekurangan dalam konsep ini khususnya dari segi privasi, untuk mengakalinya tentunya perlu adanya suatu komitmen untuk menjaga data data yang dikumpulkan dan dianalisis tidak bocor dari perangkat dan akun masing masing orang, dan hanya informasi akhir saja yang dapat diterima oleh pemerintah dan pihak lain contohnya tingkat risiko masing masing warga, dan informasi berdasarkan agregat kewilayahan.
  • Kita memahami profil risiko kita masing masing secara realtime inilah hasil akhir dari dua poin diatas. Setelah tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas bencana baik personal maupun dengan agregasi tertentu dapat dinilai secara realtime, maka profil risiko pun akan dapat di nilai secara realtime. Profil risiko tiak hanya memberikan angka angka yang menggambarkan tingkat risiko suatu orang, objek atau wilayah terhadap bencana namun lebih dari itu, dengan data yang berlimpah yang telah dianalisis oleh AI tersebut, para manajer bencana akan diberikan informasi lengkap terkait karakter masing masing korban agar pelayanan terhadap korban lebih sesuai dengan karakternya dan kemudian meningkatkan peluang keberhasilan penanganannya. Sebagai gambaran saat ini, dengan bantuan AI, kita sebenarnya diberikan informasi informasi dan iklan iklan yang disesuaikan dengan karakter dan kecenderungan kita. Hal ini dipelajari oleh AI dari informasi jejak jejak digital yang kita tinggalkan dalam situs mesin pencari dan juga media sosial kita. Sekarang kita bayangkan informasi informasi tersebut digunakan untuk memberikan gambaran terkait profil risiko kita, maka dengan otomatis, dengan perlahan informasi informasi terkait kebencanaan dan beberapa ilmu dasar kesiapsiagaannya disisipkan dalam media sosial kita dan disesuaikan dengan ancaman, kerentanan, karakter dan tendensi kita. Dari informasi informasi tersebut, pendidikan bencana pun dapat lebih disesuaikan dengan dengan umur dan karakter masing masing personal.

Membantu Peningkatan Kinerja para Manajer dan Pegiat Kebencanaan

Ketersediaan data dan informasi yang cepat dan tepat merupakan suatu kunci dalam manajemen bencana pada masyarakat 5.0. Ketersediaan informasi terkait profil risiko bencana pada setiap agregasi masyarakat, dari personal ke desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara hingga masyarakat internasional dapat dijadikan sebagai salah satu dasar pembuatan kebijakan, kesepakatan dan peraturan peraturan dalam manajemen bencana yang sesuai dengan karakter dan profil risiko bencana untuk masing masing entitas yang akan ditangani. Peran AI, IOT dan BIG data disini tidak hanya terbatas pada penyediaan bahan-bahan awal penyusunan kebijakan dan lain lainnya itu. Peran ketiga tekhnologi tersebut juga akan terlihat pada implementasinya.

Setelah pemerintah, manajer bencana dan pegiat bencana menyepakati kebijakan dan aturan baru dalam manajemen bencana, maka AI akan memasukan kebijakan atau aturan tersebut dalam protokolnya. Misalkan terdapat peraturan baru terkait tata ruang daerah pesisir untuk mengurangi risiko tsunami yang menyatakan dilarang membuat bangunan yang tidak memiliki standard aman dari tsunami. Saat kontraktor mengurus perijinan, AI mulai menilai apakah bangunan yang akan dibangun oleh kontraktor tersebut sesuai dengan peraturan terbaru yang ada, jika tidak sesuai maka permohonan ijin akan di tolak.

Selain berperan dalam implementasi kebijakan, AI juga berperan dalam Implementasi rencana kontijensi yang telah di buat. AI disini berperan untuk memastikan dan mengingatkan peran masing masing stakeholder dan juga mengumpulkan data dan informasi kegiatan penanganan bencana untuk kemudian memberikan kembali informasi terkait status terkini dari penanganan bencana yang sedang dilakukan. AI akan mengidentifikasi hal hal esensial yang terlewat dan juga melakukan mengajukan saran saran untuk mendukung penyusunan langkah langkah strategis aksi penanganan bencana yang perlu dilakukan para pegiat bencana.

Terkait penilaian situasi ketika bencana, AI secara otomatis akan mengakses semua informasi citra, radar, sensor, hingga jejak dijital terkait wilayah dan masyarakat terdampak. Berdasarkan infrmasi informasi tersebut AI akan memberikan gambaran umum terkait cakupan dampak dan tingkat keparahan masing masing wilayah. Untuk melengkapi informasi tersebut AI mengirimkan tiga jenis drone yang satu berupa drone yang terbang melayang 24/7 untuk menyediakan koneksi internet dan saluran komunikasi, drone tipe kedua berupa drone observasi yang secara mandiri bergerak untuk mengakuisisi informasi visual daerah terdampak dan drone tipe ketiga berupa swarm drone yang terdiri dari jutaan drone kecil bergerak secara kumunal dan berpencar mencari korban berdasarkan informasi dari drone observasi dan jejak digital para korban. Swarm drone berukuran sangat kecil sehingga dapat mengakses celah celah kecil reruntuhan bangunan. Masing masing unit dari swarm drone memiliki sensor sensor untuk memonitoring kondisi para korban, setelah menemukan korban, swarmdrone akan melekat, memeriksa kondisi korban dan memberikan informasi lokasi maupun kondisi tersebut kepada pusat komando.

Ilustrasi Swarm Drone (Sumber: David BBC)

Pos Komando dibantu dengan AI akan melakukan analisis prioritas penyelamatan korban berdasarkan tingkat urjensi dan tingkat kesuksesan penyelamatannya agar jumlah korban yang berhasil diselamatkan semakin banyak dan cepat. Selain ke pos komando untuk keperluan penyelamatan, swarm drone juga mengirimkan informasi tersebut kepada masing masing klaster baik klaster kesehatan untuk menyiapkan perlengkapan kesehatan (peralatan operasi dan obat obatan) yang dibutuhkan, perlindungan pengungsi untuk menyiapkan tenda tenda dan makanan.

Lengan lengan robot digerakan untuk membantu mengangkat reruntuhan sembari terus memantau kondisi para korban yang telah tertempel swarm drone. AI akan mengidentifikasi korban korban yang membutuhkan waktu lama dalam evakuasi dan kemudian mengirimkan drone logistik dan obat obatan awal yang secara langsung dikirimkan kepada korban-korban tersebut.

Kondisi para korban akan dilaporkan pada para manajer bencana yang kemudian dikirimkan langsung pada masing masing keluarganya. Keluarga yang merasa salah satu anggota keluarganya hilang kontak dapat menghubungi AI untuk kemudian mencocokan identitas mereka (baik secara tertulis maupun biologis (DNA, pupil mata dan sidik jari) dengan korban korban yang ditemukan swarm drone.

Saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang, dan jika lebih panjang lagi akan menjadi tidak bagus. Untuk itu tulisan ini saya potong sampai sini dulu dan akan berlanjut pada tulisan Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0 bagian ke 2

Sekian dari saya, semoga angan angan ini suatu saat dapat terwujud, sampai jumpa di tulisan bagian ke 2 dan Salam hangat dari Saya

Dewa Putu AM

FisikaPopular TheorySains Populer

Fisika Asal Mula dan Evolusi Kehidupan

May 19, 2018 — by dewaputuam3

pexels-photo-3260551-960x540.jpeg

England's Theory dan kehidupan
Jeremy England, Sosok Penggagas dalam Pengungkapan Teori  Dasar Fisika yang Mengatur Asal Mula dan Evolusi Kehidupan (sumber: quantamagazine.org)

dua pertanyaan tentang kehidupan

Kehidupan
Shake the Dust Off karya Saravut Whanset, National Geography

Kehidupan merupakan misteri terbesar sekaligus sesuatu paling seksi untuk dipelajari bagi sebagian orang baik dari sisi Agama maupun Sains. Dari sekian banyak topik tentang kehidupan, terdapat 2 pertanyaan pokok yang selalu menjadi primadona. Kedua pertanyaan itu adalah  “Dari Mana Kehidupan Berasal?” dan pertanyaan “Akan Kemana Kehidupan Beranjak?”. Pertanyaan pertama terkait dengan asal mula kehidupan, sedangkan pertanyaan kedua merupakan sebuah pertanyan terkait Evolusi Kehidupan. Evolusi yang dimaksud bukan sekedar evolusi dalam arti sempit seperti yang selama ini banyak orang pahami sebagai cerita tentang seekor kera yang seiring berjalannya waktu berubah menjadi manusia. Evolusi yangdimaksud merupakan sebuah perubahan sedikit demi sedikit dari entitas kehidupan dengan struktur sederhana menjadi kian kompleks dan terus merekonstruksi dan merereplikasi menjadi struktur yang lebih stabil dan kompleks untuk tujuan tertentu. Pertanyaan “Akan kemana Kehidupan Beranjak?” yang saya artikan disini pada dasarnya merupakan sebuah pertanyaan tentang arah perubahan kehidupan.

Jawaban dari kedua pertanyaan “Dari Mana Kehidupan Berasal?” dan “Akan Kemana Kehidupan Beranjak” telah diberikan kepada kita sejak dulu baik dari Agama maupun Sains. Dari sisi Agama, kehidupan merupakan salah satu mahakarya ciptaan Tuhan. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas teori teori penciptaan kehidupan dari sisi Agama, meskipun tidak kalah menarik, namun teori tersebut mungkin akan coba saya bahas dan diskusikan di tulisan lain.

Yang ingin saya tulis dan diskusikan disini adalah jawaban dari sisi Sains, yang saya rasa beberapa pembaca telah membaca bahkan belajar beberapa teori tersebut, namun  sebuah ide berani dan kontroversial dari Jeremy England tampaknya akan membawa teori teori penciptaan tersebut ke level selanjutnya, menuju arah yang semakin menarik. Mungkin akan menjadi salah satu keping Puzzle penting dalam dalam kisah pencarian manusia akan jawaban dari pertanyaan “Dari Mana Kehidupan Berasal?” & “Akan Kemana Kehidupan Beranjak?”.  Ide kontroversial dari England tersebut juga di ulas oleh Dan Brown dalam novel terbarunya yang berjudul Origin. Sebenarnya dari novel inilah tercetus ide untuk menelusuri dan membahas topik ini dalam tulisan dalam sebuah tulisan blog.

Bagi para pembaca yang belum dan ingin membaca novel Origin dan tidak ingin mendapatkan spoiler saya sarankan untuk tidak melanjutkan membaca posting ini karena ide utama yang menjadi pusat cerita dalam novel tersebut akan saya ulas.