main

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] #MO, Kelanjutan Seri Disruption Karya Rhenald Kasali. #MEH kah?

September 1, 2019 — by dewaputuam0

https_cdn.cnn_.com_cnnnext_dam_assets_190523095525-indonesia-riot-960x540.jpg
#MO, Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham. Apakah kita termasuk orang orang yang gagal paham itu? mungkin ia dan mungkin juga tidak. Saya rasa “tag” seperti ini yang kemudian membuat saya sedikit tertekan, apakah dengan membaca buku ini kemudian akan membuat saya tidak gagal paham lagi? atau sekedar membuat saya menyadari bahwa saya selama ini memang gagal paham?. AH sudahlah setidaknya kita nikmati dulu saja buku ini, yang saya yakin ada banyak ide menarik didalamnya. #Mungkin (Sumber Gambar: Rumah Perubahan)

Sebuah buku dengan judul yang sangat singkat dari seorang penulis yang karyanya selalu saya tunggu, khususnya untuk buku seri disruption. Dari beberapa buku yang sebelumnya saya baca yakni Disruption dan The Great Shifting, karya-karya Prof Rhenald memang sukar sekali untuk kita ragukan kualitas dan kedalaman materi yang dihadirkan namun tetap terjaga untuk mudah dipahami. Hal ini juga termasuk dalam karya yang baru di rilis pertengahan Bulan Agustus lalu yang berjudul singkat yakni #MO. Bila dalam buku Drisruption kita dibangunkan untuk melihat adanya perubahan yang terjadi di sekitar kita. Buku the Great Shifting kita diingatkan berbagai pergeseran mendasar dalam berbagai lini kehidupan kita yang ternyata juga menyertai perubahan dalam era disrupsi.

Dalam buku #MO kita sekali lagi diberikan gambaran bahwa perubahan dan pergeseran tersebut merupakan pergerakan (mobilisasi) yang terorkestrasi oleh para pelakunya. “#, Mobilisasi dan atau Orkestrasi” merupakan satu tanda baca, dan dua frasa dasar yang kemudian dibahas dari awal hingga pengakhiran buku ini. Dari isu-isu global pemanfaatan isu orang hutan yang dipakai oleh masyarakat Eropa dalam menjegal laju ekspor minyak kelapa sawit Indonesia. Tagar #YODO (You Only Die Once) yang dimanfaatkan oleh ISIS dalam merekrut para simpatisannya hingga isu isu nasional yang mungkin saja bagi sebagian orang remeh dan beberapa kali kita jumpai seperti #SaveAudrey #AudreyJugaBersalah #Unistalblablabla juga #2019GantiPresiden. Apakah issu issu ini murni datang dari masyarakat dan tiba tiba membesar dan memunculkan pergerakan atau ada “kuasa” tak terlihat yang sengaja mengorkestrasinya ke arah yang telah direncanakan?

Mungkin bagi sebagian orang hal ini akan terlihat seperti teori teori konspirasi belaka yang mengada ngada dan kelewat halu. Yah itu terserah pada pribadi masing masing, namun konsep Tagar (#), Mobilisasi dan Orkestrasi sudah lama menjadi issu global yang tentunya akan seru bila kita dapat memanfaatkannya dengan baik dan juga lucunya akan cukup menyedihkan bilamana suatu saat kita tergilas oleh metode baru ini. Hanya dua pilihan kita sekarang ikut bergerak bersama dan berselancar lagi bersenang senang dengan gelombang mobilisasi yang ada atau justru tenggelam dan kemudian menghilang didalamnya. Dua itu saja pilihan kita dan tidak ada yang lain. Buku ini buku yang tepat sebagai “gambaran awal” bagi kita untuk mengenalkan kita pada era Mobilisasi dan Orkestrasi yang sedang terjadi disekitar kita sekarang ini.

Gambaran Singkat Buku berjudul Singkat “#MO“, apakah ini #MEH?

Orkestrasi, sama seperti pada gambar vektor yang polosan dan simpel ini, Buku ini hanya menjelaskan orkestrasi secara umum (sistem dan kerja didalamnya tidak dijelaskan dengan memuaskan) dan melompat lompat hehehe. Bukan jelek sik tapi belum puas aja dengan buku ini. (Sumber Gambar: LinkedIn )

Bagi orang yang tidak begitu suka membaca buku seperti saya, ketebalan buku mungkin saja menjadi salah satu faktor pembatas yang sangat menentukan. Yup, buku ini masuk kategori yang tebal namun masih dalam batas wajar sekitar 400an halaman.

Saya rasa sebenarnya buku ini dapat disajikan dalam bentuk yang lebih ringkas dan disesuaikan dengan judulnya yaitu #MO yang juga singkat. Saya masih gagal paham kah soal ini, Ada beberapa topik menurut saya tidak memiliki keterkaitan yang kuat dan dibahas alakadarnya saja. Mungkin karena terlalu banyak contoh yang diberikan jadi pembahasan pada #MO yang seharusnya dikuliti habis menjadi kurang menghasilkan #wah momen seperti pada buku buku sebelumnya. Saya sedikit kecewa untuk ini. Terasa kurang dan tanggung menurut saya.

Secara fisik buku ini memang terlihat tebal, namun bila kita melihat topik topik dan contoh yang dibahasnya jika memang ingin menguliti habis #MO nya seharusnya lebih tebal dari ini. Dilematis ya, tapi menurut saya buku ini adalah karya yang nanggung banget dan sedikit dibawah ekspektasi saya yang berharap buku ini dapat memberikan saya insight semencerahkan buku “Tipping Pointnya” Glandwell. Bila dibandingkan dengan buku seri Disrupstion sebelumnya hanya sedikit hal baru yang disajikan dari buku ini. Selebihnya sudah dibahas pada buku buku sebelumnya. Atau justru karena terlalu banyak hal baru yang disajikan menjadikan buku ini berkesan tanggung dan bukan dangkal, akan tetapi saya rasa buku ini dapat tersaji lebih baik dan mendalam lagi oleh Prof Kasali jika beliau mau. Mungkin sengaja di ringkas dan di sederhanakan agar layak dikonsumsi oleh banyak orang ya.

Kesimpulan Saya Untuk Buku Ini

Biar bagaimanapun juga buku ini masuk dalam jajaran buku dengan kualitasnya diatas rata rata bila dibandingkan dengan buku buku baru yang saat ini terpajang di toko toko buku terdekat saya. Buku ini membahas topik yang sangta menarik dan banyak hal yang dapat kita ambil dan pelajari dari karya terbaru dari Profesor Kasali ini. Itu simpulan saya, meskipun saya memang berharap akan mendapatkan hal yang lebih dari ini. Bagus tapi kurang memuaskan gitu, saya kurang bisa mendapatkan diksi yang tepat untuk menggambarkan hal ini, bisa dibilang nanggung.

Oia saya kurang begitu nyaman dengan pembahasan saat Prof Kasali berdebat dengan R. Gerung (dalam buku ini disamarkan namanya) dalam acara ILC. Meskipun fokus yang dibahas pada shaping n sharing yang dilakukan oleh para netijen kemudian yang menjadikan topik tersebut viral namun gaya pembahasannya menjadi sedikit berubah e pada topik ini dan ada kesan gimana gitu ya, sedikit terbumbui dengan emosi dan hal hal yang kurang pas dimasukan kedalam sebuah buku yang masuk kategori non fiksi ini.

Hmmm saya rasa seperti itu saja komentar saya soal buku ini. Buku ini layak sekali dikoleksi dan dibaca buat temen temen yang ingin memahami tentang era #MO, dan untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam saya juga merekomendasikan juga ngelengkapin bacaan ini dengan buku Everybody Lies dan Tipping Point, soalnya ada topik topik yang menurut saya bagian yang hilang itu saya rasa dapat teman teman temukan dalam buku buku tersebut.

Oia untuk cover pada post ini (Feature Image) saya gunakan gambar dari kerusuhan 22 Mei yang saya ambil dari situs berita CNN. Dalam buku ini juga dibahas secara “aman” soal kerusuhan ini dan beberapa pergerakan heboh lainnya yang pernah terjadi di Indonesia.

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Jangan Kebodohan Saja yang Kita Jaga Kemurniannya, Kebaikan Juga Harus

August 13, 2019 — by dewaputuam0

animal-animal-lover-animal-photography-1904105-960x606.jpg
Kebaikan datang dari alam, saya tidak begitu paham kenapa kata kata itu seketika menyeruak dalam alam pikir saya saat melihat gambar ini. Saya rasa karena dalam tulisan ini saya ingin sekali mengingatkan bahwa kebaikan bukanlah sesuatu yang super dan sangat hebat hingga tidak dapat kita gapai dengan mudah, Kebaikan justru sesuatu yang sangat sederhana dan sangat alami, yup kebaikan memang datang dari alam (Sumber gambar: Alena Koval in Pexels.com)

Kebodohan yang murni dan terjaga, beberapa kali saya melihat frasa tersebut dan sejenisnya bermunculan di konten internet. Frasa tersebut biasa muncul saat ada suatu kejadian atau kelakuan dengan sempurna diabadikan dan didibagikan ke khalayak ramai di dunia maya. Saya tidak perlulah membagikan contoh-contohnya dalam tulisan ini, karena saya rasa itu sedikit kurang sopan. Saya yakin teman teman pernah menemukan konten konten dengan model yang super absurd dan membuat kita mengenyitkan alis saat kita coba telusuri di barisan komentar frasa seperti kebodohan yang murni, kebodohan yang original dan frasa sejenis lainnya juga akan banyak bermunculan.

Yang jadi pertanyaan dan akan saya bahas sekarang dalam tulisan ini, jika toh memang ada kebodohan yang murni tanpa ada campuran serbuk pintar sama sekali. Adakah kebaikan yang menyamai level murninya kebodohan yang kita temui disekitar kita tersebut. Ada sebuah artikel dari Ayodeji Awosika yang ia publikasikan melalui platform medium yang baru-baru ini saya baca (link artikel). Melalui artikel tersebut saya diingatkan kembali meskipun untuk benar benar murni baik itu memang tidak mungkin, namun setidaknya kita dapat berbuat baik secara murni dengan hal hal yang cukup sederhana sehingga sangat mungkin dilakukan oleh kita dan orang orang disekitar kita.

Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi, Berbuat baiklah bahkan pada siapa yang tidak kamu suka

Ditengah hiruk pikuk kesibukan duniawi kita terkadang kita terlupa untuk sedikit berbuat baik dan cenderung tak acuh pada lingkungan sekitar kita. Hingga suatu hari kita menemui sebuah tindakan kebaikan kecil didepan kita yang secara ajaib menyadarkan kita bahwa masih ada kebaikan didunia ini. “Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi” itulah salah satu quotes dari buku NKCTHI karya Marchella FP (Sumber Gambar: Ingo Joseph @pexcels.com)

Baik pada siapapun tak bisa dipungkiri adalah hal yang sulit bahkan dapat dikatakan sangat sulit. Kita sudah terbiasa dari dulu akan berbuat sesuai dengan apa yang dilakukan orang lain pada kita. Begitu juga dengan saya, jika ada yang baik, maka saya pun akan sekuat tenaga untuk berbuat baik. Namun bila saya diperlakukan tidak baik, secara tanpa sadar saya tanpa ampun akan memperlakukan orang tersebu dengat tidak baik. Saya selalu mengibaratkan diri saya seperti cermin yang memantulkan apa yang ada didepannya ntah baik ataupun buruk.

Semua itu terlihat normal bagi kita namun nyatanya itu bukanlah sesuatu yang keren. Dengan berperilaku seperti itu kita tidak ada bedanya dengan hewan dan benda mati sekalipun yang mengikuti arus dan hanya berekasi sesuai dengan apa yang diberikan pada mereka. Perbuatan yang seperti cermin ini bukanlah hal yang rasional dan justru merendahkan kita. Kalau kata Henri manimpiring dalam buku Filosofi Terasnya berbuat sesuatu yang tidak dipikirkan secara rasional bukanlah sifat alami kitasebagai manusia. Dan saat saat pikiran rasional kita dikecewakan, saat itu pula kita akan dihinggapi kegelisahan.

Membiasakan diri berlaku baik tanpa memandang siapa yang ada dihadapan kita adalah sesuatu yang sulit namun bukan berarti tidak mungkin. Saya sering melihat atau bahkan tanpa disadari hanya berbuat baik pada orang orang yang kita rasa ada pengaruhnya pada kita namun tidak peduli bahkan begitu ketus kepada orang yang tidak ada pengaruh dan dampaknya pada hidup kita.

Contoh sederhananya adalah saat kita berpapasan dengan sales atau seorang meminta waktu kita sebentar, sering dari kita hanya lewati begitu saja tanpa menganggap orang orang itu berbicara pada kita. Saya akui sangat sering melakukan hal ini hehehe, tapi kadang kadang berpikir juga si bagai mana jika saya ada di posisi mereka dan tidak digubris sama sekali apa yang kita katakan, saya tentu akan kesal, sakit hati dan sesekali menggerutu.

Saya pernah merasakan hal serupa beberapa tahun lalu saat saya jadi surveyor untuk salah satu lembaha survei nasional. Meskipun dicuekin dan tidak digubris adalah hal yang lumrah kami temui saat itu namun tetap saja menyakitkan loh. Mungkin kita memang tidak memiliki waku banyak atau tidak tertarik dengan apa yang mereka tawarkan, salah satu solusi yang sesekali saya lakukan cukup mengatupkan tangan dan meminta maaf pada mereka sambil berlalu, itu cara paling sederhana dan menurut saya masih lebih baik dibandingkan tidak peduli dan berlalu begitu saja.

Berbeda dengan perlakuan kita kepada orang orang yang tidak memiliki pengaruh di hidup kita, akhhhh,.. yang ini saya benar benar tidak suka namun ini nyatalah terjadi di sekitar kita dan tidak bisa kita abaikan begitu kita. Fenomena “Penjilat” sudah meraja leldi sekitar kita, lingkungan kita, lingkungan kerja dan sayangnya didalam pertemanan juga terkadang fenomena ini muncul dan nyata. Dah cukup ini saja yang sanggup saya tuliskan terkait penjilat, saya yakin teman teman semua pernah menemui hal seperti ini dan setuju bahwa hal ini tidak keren sama sekali.

Berbuat baik tanpa perlu berekspektasi mendapatkan balasan yang juga baik, Mungkinkah?

Mari kita minum teh dan bercerita tentang bualan yang paling halu dalam tulisan ini. Cerita halu tentang berbuat baik tanpa berharap imbalan. Kita semua manusia yang sangatlah normal bila berharap sesuatu sesuai dengan apa yang telah kita beri dan korbankan. It’s fair enought if we expect a good thing will come when we do a good thing (Sumber foto: Maria Tyutina)

Rasa kecewa saat apa yang telah susah payah kita lakukan dan kerjakan tidak diapresiasi oleh orang dan bahkan justru di jelek jelekan tanpa mereka tahu dan memahami bagaimana susahnya melakukan hal tersebut. Alhasil kitapun kemudian terjebak pada pergunjing dan pergibahan yang seolah tiada akhir yang juga terus dipanasi oleh tindakan tindakan ajaib tak kunjung usai dari orang yang kita anggap tidak punya hati itu.

Terus menggunjing dan berkelakar tidak baik (gibah) bukanlah suatu pilihan yang bijak dan keren untuk dilakukan, sesekali boleh lah tapi tidak seru dan habis topik lah kalau terus terusan dibahas. Toh apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan oleh orang lain tidak berada dibawah kendali kita, jadi mau kita bergunjing sampai berbusa pun apa yang terjadi tidak akan berubah bahkan bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kita sehingga tanpa kita sadari sudah berbuat dan berlaku serupa dengan topik yang kita pergunjingkan.

Ekspektasi, sebuah kata dalam beberapa bulan atau beberapa tahun ini saya usahakan untuk tinggalkan. Dari beberapa buku yang saya baca dan juga dari pengalaman yang selama ini saya alami, ternyat bukan hal luar lah yang paling berdampak dan menyakitkan bagi kita namun ekspektasi kita yang tak tercapai. Dari itu kemudian saya selalu menyingkirkan ekspektasi untuk mendapatkan balasan saat saya sedang iseng dan menjahili teman. Bukan hanya itu ekspektasi juga adalah sesuatu yang selalu saya usahakan untuk singkirkan saat kita berhadapan pada sesuatu yang mempunyai arti penting bagi saya. Bukan karena saya tidak percaya diri namun hanya agar saya tidak begitu merasakan kecewa ketika sesuatu ternyata berjalan diluar apa yang kita inginkan.

Are you in a situation where you’ve been working hard to make sure you get the credit? Stop. Just work hard. Let everyone else have the credit. You get the experience, knowledge, and trust of people around you. Credit is fools gold.

Ayodeji Awosika

Keberadaan ekspektasi bahkan untuk hal hal yang memang sudah seharusnya pun seperti ekspektasi akan mendapat kebaikan, akan mendapat uang atau sekedar mendapat pahala dan balasan dari yang maha kuasa saya rasa tidak perlu kita lakukan. Saya kurang begitu nyaman dengan hitung hitungan kebaikan jika kita berbuat seperti ini akan mendapat ganjaran seperti ini jika kita berbuat seperti lainnya akan mendapat berlipat lipat lainnya, saya sedikit risih dengan konsep seperti itu. Mungkin akan terlihat naif namun yang saya pahami berbuat baik itu karena kita memang ingin berbuat baik, bukan karena kita berharap mendapat buah dari kebaikan itu. Tanpa adanya pilih memilih, tanpa adanya ekspektasi, kebaikan akan menjadi murni adanya.

Ide, Ilustrasi dan Sumber sumber lain yang di sematkan dalam tulisan ini
  • Some idea that i write in this post are ispired by Ayodeji Awoskika post “How to (Truly) Become a Good Person that publised in Medium.com
  • Feature Photo by Helena Lopes from Pexels

Daily LifeFilmOpiniPsikologiUncategorized

[Film Dokumenter] The Great Hack, Informasi Pribadi yang Kita Umbar Bebas di Internet Tidak Menguap Begitu Saja.

August 9, 2019 — by dewaputuam2

Security-The_Great_Hack__3c_R-960x540.jpg
Data pribadi dan semua aktifitas yang kita umbar secara bebas di internet tidak menguap begitu saja. melalui data data tersebut terdapat sekelompok orang yang mampu memanen dan memanfaatkannya untuk menggiring dan mengubah prilaku kita kearah yang mereka inginkan.

Ini adalah salah satu film dokumenter yang layak teman-teman tonton. Film ini bahkan menurut saya wajib ditonton bagi kita yang sangat aktif dalam bersosial media. Kita kita yang aktif tulis status sana-sini, like dan share berita berita dengan sesuka kita asal sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Semudah itu jempol kita menari gemulai menuliskan kata kata dari yang enak terbaca hingga yang “enak terbaca”. Dari berita yang benar-benar kita ikuti dan kuliti faktanya hingga berita berita yang secara serampangan kita bagikan begitu saja, dan kemudian kitapun ikutan latah berdebat berbusa busa dengan para netijen julid lainnya.

Saya rasa cukup sampai situ saja. Lalu kemudian untuk orang orang yang santuy dan tidak neko-neko dalam bersosial media yang hanya sekedar usap dan sesekali like lalu membaca berita sebagai pembaca yang bisu film ini juga cocok karena tidak hanya untuk orang orang yang memang sudah terkurung dalam perangkap buaian internet saja yang terpengaruh oleh kegiatan jahat ini tetapi hampir semua orang mungkin salah satu dari kita atau bukan tidak mungkin kita semua masuk kedalam kategori ini.

Semua dari kita yang secara sadar ataupun tidak sadar meninggalkan jejak diinternet baik berupa data pribadi hingga segala aktifitas didalamnya apa yang kita cari, apa yang kita sukai (like), apa yang kita baca, apa yang kita ungkapkan apa yang kita unggah, emotikon emotikon apa yang kita gunakan, kesemua itu adalah data. Semua data itu tidak menguap begitu saja dan hilang, oleh sekelompok orang tertentu data tersebut dapat diolah sedemikian rupa secara realtime dan mereka gunakan kembali dengan berbagai cara yang unik untuk setiap indifidu sesuai dengan profilnya, hingga secara tidak sadar tingkah dan laku kita digiring mereka pada arah yang mereka inginkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam film dokumenter ini diungkap tujuan tertentu itu adalah untuk memenangkan seseorang calon presiden adidaya, pergerakan serta aksi besar lainnya yang memiliki dampak global.

Film dokumenter ini, besamaan dengan buku No Place to Hide telah mengubah cara pandang saya tentang arti penting dari privasi dan data pribadi kita, bahkan seremeh apapun data yang kit bagikan tersebut bukan tidak mungkin akan dikembalikan pada kita dalam bentuk yang tidak pernah kita duga dan bayangkan sebelumnya. Sebuah bentuk yang dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kita dan lingkungan kita. Bahkan dari apa yang di tayangkan dalam film dokumenter ini, dari pemanfaatan data data tersebut orang orang tertentu tersebut dapat membuat suatu pergerakan dan kerusuhan berskala global dan berpengaruh besar pada hajat hidup orang banyak.

Mega Skandal Cambridge Analytica, Dan Operasi Masif Manipulasi Perilaku Di berbagai belahan Dunia hingga Pada Pemilu US dan Brexit?

Bagi sebagian orang mungkin tidak begitu asing dengan skandal yang terjadi dengan Cambridge Analytica dan juga Facebook yang kemudian harus membuat Facebook harus menjadi perusahaan yang merasakan dan berhadapan pada denda uang dengan nominal yang sangat besar bahkan masuk kedalam denda terbesar di abad ini yakni sekitar 5 Miliar Dolar AS atau setara dengan 70 Triliun Rupiah. Dari awal saya sadar bahwa kasus yang terjadi dengan Facebook dan Cambridge Analytica bukanlah sebuah kasus yang mudah dipahami oleh orang awam seperti saya dan mungkin juga sebagian dari teman teman. Saat itu, kita tidak memahami dampak serta kerugian seperti apa yang membuat mereka harus disangsi dengan demikian berat. Disinilah film dokumenter The Great Hack dengan apik memberikan kita gambaran sederhana skandal seperti apa yang “sebenarnya” terjadi.

Distribusi rasio populasi tiap negara bagian US yang datanya digunakan dan terpapar oleh skandal yang dilakukan oleh Cambridge Analytica. Dari peta sebaran ini dapat terlihat betapa masifnya skandal ini. Apakah Cambridge Anlytica satu satunya firma yang melakukan hal ini? sepertinya sangat sulit untuk berkata ia. (SUmber gambar: businessinsider.sg)

Film dokumenter ini diawali dengan diskusi seorang profesor dengan para mahasiswanya sambil berkelakar bahwa seringkali kita merasakan seolah olah gawai cerdas kita menangkap apa yang kita sedang bicarakan dengan cara mengakses microphone kita hingga tidak jarang saat kita sering mengungkapkan sesuatu benda maka dengan cara yang ajaib iklannya akan muncul dalam layar gawai kita ntah itu melalui aplikasi facebook ataupun aplikasi lainnya. Dari topik sesederhana ini dan diskusi dengan mahasiswa nya kemudian sang profesor mulai tersadar dan menelusuri suatu kebenaran besar yang ada dihadapannya, suatu proses pemanfaatan data secara masif dan dan sistematis dari sebuah firma yang bernama Cambridg Analytica. Profesor itupun kemudian menuntut perusahaan tersebut memberikan semua copy-an data pribadi tentang dirinya yang ada di firma tersebut. Namun usahanya tersebut justru bergulir menjadi pengungkapan salah satu mega skandal di abad ini. Dari hal tersebut kemudian kita dibawa pada suatu kenyataan yang menabjubkan sekaligus mengerikan tentang dunia digital yang selama ini.

Secara garis besar film dokumeter ini menceritakan bagaimana sebuah firma seperi Cambridge Analityca dapat memanfaatkan kelengahan kita dan rasa tidak peduli kita terhadap jejak digital yang kita tinggalkan. Pada mulanya mereka dengan cerdik menyebarkan suatu form facebook dalam bentuk semacam permainan yang tujuan sebenarnya adalah memetakan dan mengambil sample profil psikografik dan melihat tendensi mereka akan suatu masalah. Informasi serta wawasan yang didapat dari para responden tersebut kemudian dijadikan semacam cetakan untuk melihat profil psikografik seperti apa yang cenderung sesuai dengan tujuan yang akan dicapai oleh proyek ini yang dalam film ditunjukan sebagai profil yang akan memilih salah satu calon presiden US dan di kasus lainnya dicari profil yang menginginkan Brexit.

Hal yang menarik mulai dari sini. berdasarkan pada kelengahan kita dan rasa tidak peduli kita terhadap jejak digital apa saja yang telah kita tinggalkan. Cambridge Analytica atas persetujuan kita yang jarang terbaca setiap kali mengakses atau menginstal suatu aplikasi kemudian mulai mengakses semua data yang ada pada akun kita dari hal hal remeh seperti tulisan serta foto ataupun video yang kita bagikan, tulisan tulisan yang kita like, komentari dan bagikan, hingga pada semua aktifitas yang kita lakukan semua itu dianalisis secara realtime. Kabar “baik” nya data data yang dianalisis tidak hanya data yang ada pada kita saja namun juga teman teman yang tertaut dengan akun kita.

Dari sana data 87 Juta pengguna facebook kemudian dianalisis secara realtime oleh firma ini untuk mendapatkan profil setiap akun yang kemudian di lakukan analisis lanjutan untuk menduga tendensi setiap profil tersebut dengan cara mencocokan polanya dengan profil dari responden yang sebelumnya mengisi formulir. Analisis pola seperti ini yang berdasarkan kemiripan prilaku setiap individunya biasa disebut sebagai metode doppelganger. Metode inilah yang menjadi dasar dan membuat kita seringkali merasakan bahwa iklan iklan di internet yang direkomendasikan pada kita sangat sesuai dengan apa yang sedang kita inginkan karena ada seseorang di luar sana memiliki profil psikografis yang sama dengan kita jadi apa yang sedang diinginkan mereka besar kemungkinan akan diinginkan pula oleh kita. Analisis seperti ini berlangsung secara realtime sehingga profil psikografis ini terus menerus diperbarui dalam hitungan seper sekian detik.

Beginilah skema umum yang dilakukan oleh Cambridge Analytica dan mungkin firma lainnya dalam “memasarkan” dan mengarahkan target mereka menuju apa yang mereka rencanakan sebelumnya dan sesuai dengan permintaan klient mereka. (Sumber Gambar: The Guardian.com)

Dari sini pula diidenifikasi swing votter yang kemudian menjadi target operasi utama untuk diubah perlilaku dan tendensinya agar bergeser dan memilih klient Cambridge Analytica dengan cara membanjiri mereka dengan iklan iklan, memes, gambar, video maupun berita berupa fakta yang sudah di framing sedemikian rupa atau bahkan berupa hoax. Apa yang mereka berikan ini unik dan setiap indvidu akan mendapatkan paket informasi yang berbeda. Dari semua paket informsi baru yang diberikan dianalisis pula respon dari setiap target apakah diabaikan, dilike, komentari atau bahkan dishare. Informasi informasi tersebut dipergunakan untuk menentukan paket informasi yang akan diberikan selanjutnya pda setiap target. Hal ini berjalan terus menerus hingga para swing votter tersebut kemudian memiliki tingkah dan laku profil psikografis sesuai dengan yang diinginkan. Dalam salah satu bagian filmnya ada kata-kata yang membuat saya terpukau saat salah seorang wistle blower mereka menujukan jadwal dan email mereka berkata bahwa

yang membedakan mereka dari para perusahan bidang data analis lainnya, adalah mereka tidak hanya memberikan profil dari populasi, tetapi kita mampu mengubah profil tersebut.

Menyikapi Privasi dan Kepemilikan Akan Data Pribadi sebagai Hak Asasi Manusia yang Juga Melekat Pada Kita

Melalui film ini kita disadarkan akan pentingnya data pribadi kita dan perlunya pemahaman tentang seperti apa data data kita akan digunakan digunakan. Pemanfaatan data 87 Juta pengguna facebook yang dilakukan oleh Cambridge Analityca ini menjadi suatu pembelajaran penting bahwa ternyata data data yang sering kali kita anggap remeh dapat digunakan sedemikian rupa hingga tingkat yang membahayakan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dari film ini kita akan diperlihatkan betapa mengerikannya dampak yang ditimbulkan dari pemanfaatan data data seperti ini bila tidak dilakukan secara bijak. Penggiringan opini publik, diskriminasi hingga kemudian menimbulkan dampak dampak negatif yang lebih besar seperti kerusuhan yang jika tidak ditanggulangi dengan baik bukan tidak mungkin akan menelan korban jiwa. Dari sini saya tidak ingin berspekulasi lebih jauh. Ada satu hal lagi yang menarik dan secara sekilas terungkap pada akhir akhir film, tentang kerusuhan 1998 di Indonesia. Sudah cukup sampai situ saja agar tidak spoiler lebih banyak.

Pada jaman kita telah terjadi dan terungkap satu skandal yang luar biasa terkait penyalagunaan data pribadi serta kaitannya dengan upaya propaganda yang secara sembunyi sembunyi menggerakan jutaan orang ke tujuan yang telah diprogramkan sebelumnya. Semua itu berasal dari ketidak pedulian dan ketidak tahuan akan pemanfaatan jejak digital yang kita tinggalkan selama ini. Perkembangan tekhnologi data dan informsi terus berkembang pesat dan merangkul setiap sendi kehidupan kita. Perbatasan antara dunia digital dan dunia nyata semakin tipis terlebih pada era 5G nanti yang tentunya akan segera dirasakan kita dan anak anak diatas ini yang menyebabkan semua benda disekitar akan saling terhubung pada internet. Dengan semua itu keringkihan kita akan hal hal seperti yang ada pada skandal ini akan semakin besar. (Sumber gambar: Artem Beliaikin @ Pexcel.com)

Ironisnya privasi dan data pribadi tampaknya tidak begitu menjadi permasalahan yang serius di tanggulangi di negeri kita ini. Maka tidaklah heran beberapa bulan yang lalu banyak pergerakan yang memanas akibat apa yang tersebar dan beredar di lini media sosial yang sayangnya juga menjatuhkan beberapa korban. Mulai dari aksi aksi protes hingga pada bentrok antar kampung, tidak sedikit yang berawal dari tersebarnya suatu berita di media sosial. Terlebih dengan adanya mekanisme filter bubble yang ada di media sosial demi untuk mengumpulkan orang orang berdasarkan kesamaan profil psikografisnya semakin membuat kita hanya berkumpul dengan orang orang yang sepemikiran dengan kita, satu rasa dengan kita dan satu minat dengan kita.

Hal yang seperti ini secara tidak langsung memberi kita ruang yang sangat sempit dengan ide dan pemahaman kelompok yang berakar sangat kuat. Keberagaman ide sangat minim dalam kondisi yang terseting seperti ini sangat minm pula pemikiran dan sudut pandang di luar. Bagai katak dalam tempurung, ego kita terus berkembang pesat dan kita semakin merasa benar diatas semua orag yang berbeda pendapat dengan kita. Terkadang ada seseorang yang dengan apesnya “tidak sengaja memasuki” kelompok tersebut dan memberikan pendapat sesuai dengan sudut pandangnya yang sayangnya bertentangan dengan “sudut pandang kebanyakan orang”. Masa masa seperti inilah yang kemudian menjadi makanan ringan bagi para ego yang terlajur dipelihara, sumpah serapah, cercaan dan pembulian terus mengalir dengan deras dan memviral seketika di kelompok mereka.

Apakah kalian merasakan hal yang sama dengan saya? Apakah kalian sudah mulai jenuh dan muak dengan segala apa yang ada disekitar kita saat ini?

Seyakin apa semua prilaku, tindakana dan laku kita selama ini adalah benar benar berasal dari apa yang kita mau. Atau jangan jangan kita hanyalah boneka yang bergerak sesuai dengan apa yang di programkan oleh sekelompok orang diluar sana untuk tujuan yang kita tidak tahu menahu apakan berdampak hanya pada kita atau berdampak lebih besar lagi. Kita tidak tahu itu

boleh siapa saja
Sumber sumber yang digunakan dalam tulisan ini

BencanaBukuDaily LifePsikologiUncategorized

Tetap Menjadi Manusia saat Menyikapi dan Menghadapi Bencana dengan Filosofi Stoa

August 1, 2019 — by dewaputuam0

beach-blue-skies-by-the-sea-934718-960x645.jpg
Kita terlalu sibuk mengurusi dan mengkawatirkan apa yang tidak dalam kendali kita dan sayangnya pula terlalu sering mengabaikan apa yang ada dalam kendali kita. Saat kita berharap lebih pada apa yang tidak bisa kita kendalikan disitulah kita akan merasa gelisah dan takut kehilangan dengan cara yang konyol. Dikotomi kendali inilah yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis topik terkait hal ini (Sumber Ilustrasi: Pixabay @ www.pexels.com)

Isu gempabumi dan tsunami di laut selatan Jawa, meletusnya kembali gunung Takuban Perahu, potensi gempa dan tsunami Lombok dan isu isu terkait kebencanaan lainnya sering kali menyebabkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat yang kini begitu melek tekhnologi dan sangat mudah mengakses informasi. Bagi sebagian orang yang berkecimpung dan sering bersinggungan dengan bidang ilmu kebumian tentunya tidak akan heran dengan isu isu seperti ini karena memang dengan lokasi Indonesia yang “demikian strategis” mau tidak mau suka atau pun tidak suka hal itulah yang kemudian berdampak pada besarnya kemungkinan terjadi bencana seperti gempabumi, tsunami dan erupsi gunung api. Namun kita juga janganlah lupa bahwa “strategis”nya posisi indonesia itu juga yang memberikan kita kekayaan yang begitu berlimpah saat ini baik berlimpahnya minyak dan bahan tambang, suburnya tanah serta keindahan keindahan lainnya yang terkadang tidak dimiliki oleh negara negara lain.

Rasa khawatir masyarakat kita akan berbagai informasi yang meresahkan tidak sepenuhnya salah tersebut mengakibatkan beberapa dampak yang kontraprodktif bahkan dari beberapa tulisan yang saya sempat baca sebagian dari mereka ada yang sangat ketakutan dan memutuskan untuk mengungsi dan menjauhi tempat tempat yang diisukan tersebut. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya apakah ketakutan yang seperti itu diperlukan dan baik dalam menyikapi potensi bencana yang ada? Jika benar perlu dimanakah kita akan berlindung, Saat menjauhi laut karena takut tsunami kita lari kegunung namun gunung juga bisa meletus, kalaupun tidak gunung lereng lereng terjal diperbukitan pun bisa saja longsor dan menelan kita setiap saat. Belum lagi potensi bencana bencana lain seperti angin puting beliung, banjir, kecelakaan kendaraan, meteor, virus. “Actually There are no place to hide dude.

Hingga beberapa minggu yang lalu saya menemukan sebuah buku yang berjudul Filosofi Teras karya Henri Manampiring. Dari buku ini kita akan diajak untuk berkenalan dengan suatu Filosofi (“Teras” terjemahan bebas dari Stoa) yang ternyata telah ada dan berkembang di Yunani sejak 2000 tahun yang lalu. Saya rasa filosofi ini dapat dengan mudah kita manfaatkan sebagai salah satu panduan hidup kita yang tentunya dapat kita jadikan sebagai salah satu panduan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menguraikan beberapa prinsip dasar dari filosofi ini yang dapat dan sudah pula digunakan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Sudah disini saya maksudan karena prinsip prinsip ini bukanlah hal baru dan sudah banyak orang saya lihat dan temui di daerah bencana menerapkannya dalam memnghadapi apa yang terjadi pada mereka yang dalam hal ini adalah bencana.

Kebahagiaan dan Kedamaian Dicapai Saat Kita “Selaras dengan Alam”, Begitu juga dengan sebaliknya

Selaras dengan alam tidaklah sertamerta harus mengikuti alam tanpa daya untuk berperilaku lainnya. Seperti pada islustrasi ini, Batu ini tidaklah tersusun secara alamiah, namun dengan menselaraskan titik berat batu batu tersebut dengan sedemikian rupa dan mengikuti hukum serta proses yang ada dialam maka batu tersebut dapat kita susun sesuai dengan keinginan kita. Namun kita tidaklah bisa berharap batu tersebut tersusun seperti itu selamanya karena bisa saja suatu ketika batu tersebut tersapu oleh banjir, ataupun tersenggol seekor monyet yang sedang hendak meminum air di sungai. (Sumber Gambar: Pixabay @ www.pexels.com)

Dalam filosofi stoa kita diajak untuk hidup selaras dengan alam. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam menjalani filosofi ini. Selaras dengan alam yang dimaksudkan tidak hanya sekedar mencintai alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon ataupun segala macam kampanye cinta lingkungan lain yang terdengar agak sedikit retoris belakangan ini. Konsep selaras yang mereka utarakan lebih pada memposisikan diri selayaknya manusia dengan segala kelebihannya, sebuah keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yakni dalam hal berpikir dengan menggunakan nalar rasionya. Selaras dengan alam berartimenempatkan diri sebagai enitas makhluk hidup yang bernalar dan rasional.

Kebahagiaan dan kedamaian dicapai saat kita “selaras dengan alam” berarti sebagai manusia yang igin bahagia kita harus selalu berpegang pada nalar dan pikiran rasional kita. Kita tidak boleh terjebak dalam hal hal yang tidak rasional dan jauh dari nalar kita. Jika hal ini tidak dapat kita penuhi gelisah, rasa kawatir dan takut akan selalu memeluk erat kita. Hal hal yang tidak rasional dan diluar nalar terkait bencana sering saya temui menjadi sesuatu yang viral dan menghantui masyarakat kita. Dari hal hal sepele seperti menekan tombol like atau mengetik angka 1 di satu postingan media sosial agar terhindar dari petaka hingga pada hal hal tidak asional yang tidak ada lucu lucunya sama sekali seperti isu akan adanya bencana besar. Bagi sebagian orang yang jauh dari lokasi bencana mungkin menganggap hal itu bercanda saja, namun mereka mungkin tidak tahu di lokasi bencana hal itu tidak sebercanda yang mereka kira karena berkaitan dengan hidup dan mati banyak orang.

Selain selaras dengan alam, filosofi stoa juga percaya bahwa segala sesuatu baik entitas ataupun kejadian dalam hidup ini ini tidaklah berdiri sendiri namun melimiliki jalianan yang saling terhubung dan terkait. Keterkaitan segala sesuatu di dalam hidup disebut sebagai interconectedness. Begitu juga dengan bencana dengan segala dampak yang ditimbulkannya baik secara struktural seperti pepohonan yang tumbang, bangunan yang runtuh hingga pada para korban luka, hilang dan meninggal. Ada jalinan sebab akibat pada itu semua, dari strukturnya yang kurang baik dan tidak selaras dengan alam lingkungan sekitarnya, sistem peringatan dini yang belum layak, hingga pada pemahaman masyarakat setempat terkait potensi dan cara selamat dari bencana yang kurang memadai. Untuk mengurangi akibatnya tentulah kita perlu mengelola penyebabnya dengan baik. Ini bukanlah suatu tindakan perlawanan dan mengingkari apa yang terjadi, namun justru dengan melakukan kesemua itu kita telah selaras dengan alam dengan menjadi manusia seutuhnya yang menggunakan nalar, akal sehat dan rasionya dalam menghadapi bencana.

Dikotomi dan Trikotomi Kendali, dan Kaitannya dalam Sikap Kita pada Isu Bencana

Kita sebagai manusia hanya dapat melakukan dan berkuasa pada sedikit hal yang berada dibawah kendali kita. Namun ingatlah bahkan itusaja sudah cukup dan jangan cemas karenany. Jalani apa yang dapat kitalakukan biarkan semesta menjawab kita sepertiapa episode selanjutny. (Sumber Ilustrasi: Pixabay )

“Ada suatu hal yang perlu diingat, tidak segala hal dalam hidup berada di bawah kendali kita.” Kata kata ini mungkin terlihat sangat sederhana namun justru disinilah hal paling menarik dan menurut saya paling penting diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Dengan bahasa sederhananya prinsip inilah yang paling ngena bagi saya dan akan lebih menunjukan manfaatnya lagi saat kita berhadapan dengan bencana. Beberapa orang yang saya temui secara sadar ataupun tidak telah menerapkan prinsip ini dalam menyikapi dan menghadapi bencana yang melanda kehidupan mereka. Saat bencana terjadi mereka tidak begitu memusingkan apa apa saja yang diluar batas kendali mereka dan berfokus pada apa saja yang berada dalam kendali mereka secara maksimal dan optimal. Menyaksikan hal ini terkadang saya terharu akan ketegaran mereka sampai yah meskipun malu mengakuinya kadang saya sendiri pun meneteskan air mata terharu, masih manusiawi kan ya. Mereka orang orang yang hebat.

“Bapak, bolehkah saya meminjam truk bapak untuk mendistribusikan logistik. ada beberapa desa yang sampai sekarang kesulitan mendapatkan logistik pak. Untuk pengamanan dan bahan bakar kami yang tanggung pak. Kami hanya ingin membantu warga disana pak, kami kelompok pemuda ingin melakukan apa saja yang bisa kami perbuat untuk saudara saudara kami yang sedang terkena musibah pak. Tolonglah kami pak” Saat berkoordinasi terkait data dengan tentara yang bertugas saat di Palu tahun lalu saya mendengarkan perbincangan seorang pemuda yang sudah lusuh dan terlihat sekali kelelahan sedang meminta bantuan kendaraan untuk mendistribusikan logistik. Dua pemuda itu dari cerita mereka sebelumnya ikut membantu SAR mengefakuasi beberapa korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dan sekarang mereka mengerahkan tenaga mereka untuk membantu pendistribusian logistik. Melihat kesungguhan mereka dari pihak tentara yang bertugas pun membantu mereka baik kendaraan maupun tenaga personil untuk berama sama mendistribusikan ke lokasi yang dimaksud pemuda tersebut.

Konsep dikotomi kendali mengajak kita untuk memisahkan dengan jelas apa apa saja yang berada dibawah kendali kita dan apa apa saja yang berada diluar kendali kita. Filosofi stoa mengajarkan pada kita untuk terfokus pada hal yang berada di kendali kita dan tidak terlalu memusingkan apa yang berada diluar kendali kita. Seperti pada cerita pemuda tadi mereka melakukan apa yang berada dibawah kendali mereka yakni inisiatif mereka untuk melakukan apa yang dapat mereka perbuat seperti membantu dan bahkan juga keputusan mereka untuk meminta bantuan kendaraan pada petugas. Meskipun disetujui atau tidaknya permintaan mereka atas inisiatif mereka meminjam kendaraan adalah hal yang berada diluar kendali mereka namun setidaknya mereka telah melakukan semua yang ada di dalam kendali mereka.

Ketika orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka akan merasa terganggu, ketakutan dan labil

Quotes by Epirectus (Disunting dari tulisan Henry M, FIlosofi Teras)

Hingga kemudian seiring dengan perkembangan jaman, beberapa filsuf juga menyadari bahwa dari kesekian hal yang tidak berada di bawah kendali tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Dengan kata lain ada beberapa hal yang dapat dikendalikan hingga batas tertentu saja. Dari sinilah kemudian dikotomi kendali yang tadinya hanya membagi hal dalam kelas yang bisa dikendalikan dan kelas yang tidak bisa dikendalikan menjadi Trikotomi Kendali yang mengkelaskan hal kedalam tiga bagian yakni yang bisa dikendalikan, yang tidak bisa dikendalikan , dan ketiga adalah yang bisa dikendalikan sebagian.

Konsep dikotomi ataupun trikotomi kendali dari filosofi stoa ini sudah menjawab apa yang terjadi dengan masyarakat kita yang beberapa waktu belakangan ini diliputi oleh keresahan dan kegelisahan yang tidak perlu. Isu potensi gempa dan tsunami yang besar dan mengerikan di selatan jawa hingga Nusa Tenggara, gempa didaerah lembang, isu kekeringan panjang, isu gunung meletus, banjir jakarta, dan isu isu mengerikan lainnya. Jikalau itu benar, semua itu tidaklah berada dalam kendali kita, jadi jangan dipusingkan secara berlebihan, gelisah, dan ketakutan hingga melakukan hal hal yang kitra produktif dengan menghujat, ikut menebar hoax, dan berspekulasi hal hal yang terlalu jauh dan mengada ngada. Konsep dikotomi kendali dalam filosofi stoa mengajarkan kita untuk berfokus pada apa yang berada dibawah kendali kita.

Jangan terlalu membebani diri kita dengan hal yang tidak perlu karena itu pasti sangat melelahkan dan menyita banyak waktu. Waktu kita yang sedikit dan tenaga kita yang pas pasan sepertinya akan lebih baik bila kita manfaatkan dan fokuskan pada hal-hal yang dibawah kendali dan bisa kita lakukan seperti contoh paling sederhananya bila kejadian bencana itu terjadi kira kira apa yang perlu kita lakukan. Mencari tahu dan memahami potensi potensi bencana di wilayah kita masing masing, dan mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk mengurangi risikonya dari menyesuaikan struktur bangunan dengan potensi bencana yang ada. Kita perlu tahu apa tanda tandanya, apakah ada kode kode khusus atau sistem peringatan dini khusus yang ada lingkungan kita saat bencana terjadi. Kita juga dapat memastikan jalur evakuasi kalau toh bencana benar benar terjadi tetap layak dilewati dan bebas dari hambatan.

Tetapi memang si harus kita akui, saat terjadi bencana bukanlah saat saat yang dapat kita phami dengan mudah dan bukan pula sesuatu yang dapat kita hadapi. Rasa limbung, bingung dan tanpa arah menjadi hal yang banyak orang alami saat terdampak bencana. Bersedih bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam filosofi stoa. Meskipun demikian kita tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan itu bahkan sampai dibawa mati (Seneca). Ada sesuatu yang menarik dan menurut saya sangat mengharukan lagi saya temukan pada saat saya ditugaskan di Palu saat itu. Saat itu sudah larut malam (sekitar pukul 9 malam), ada seorang bapak bapak mengunjungi pos kami dan menanyakan kabar anaknya yang ikut menjadi korban kedaysatan tsunami saat itu. Pada mulanya saya sempat berpikir bahwa sosok bapak itu akan terlihat sangat bersedih dan bukan tidak mungkin tangisnya tidak terbendung saat datang pada kami. Namun ternyata semua itu salah besar. Meski masih terlihat jelas kesedihan mendalam pada diri seorang bapak itu namun dirinya masih tegar dan saya tidak bisa berkata apa apa melihat itu semua. Saya tidak tahu pula harus berekpresi apa saat mendengar perkataan bapak itu. Ia sudah iklas akan kepergian anaknya. Dia datang kepada kami hanya ingin meminta bantuan kepada kami untuk memastikan bahwa jasat yang ditemukan oleh tim dilapangan dan dikabarkan anaknya itu adalah benar anaknya. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Gempa, Tsunami, Banjir, Longsor dan semua lainnya adalah suatu keniscayaan yang alamiah terjadi selama bumi ini masih berputar. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Apapun yang kita lakukan tidak akan merubah hal itu. Namun keinginan kita untuk bertahan dan hidup meski terpapar kesua itu jugalah sesuatu yang alamiah, tidak akan ada yang dapat menghentikan keingian kita itu. Memang kita tidak akan dapat membuat gempabumi atau tsunami agar tidak pernah terjadi, Namun kita selalu bisa membuat diri kita aman dan selamat dari itu semua. Itu masih bisa masih bisa kita lakukan karena apa yang kita pikirkan apa yang kita lakukan berada dibawah kendali kita masih ada di bawah kendali kita sebagai manusia yang tetap menjadi manusia saat menyikapi dan menghadapi bencana.

Sumber Sumber yang saya gunakan dalam tulisan Ini

  • Buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini) karya Henri Manampiring dan dipublikasikan oleh Penerbit Buku Kompas
  • Featured Photo in this post is design by Tom Swinnen from Pexels

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Penge”Tidak”tahuan juga Perlu Kita Punya

May 11, 2019 — by dewaputuam0

document-2178656_1920-960x640.jpg
Saya sedikit kurang paham bagaimana faedahnya ada bohlam diatas buku sana, bukankah ngeri ngeri sedep bila kita meletakan bohlam diatas sana dan bagaiamana cara membacanya agar bohlam itu tidak pecah tentunya akan menjadi pekerjaan rumah tersendiri (sumber: Freepik jannoon028)

Kurang cerdas, bodoh, dungu bahkan idiot terkadang menjadi kelompok kata yang haram sekali disandangkan pada seseorang. Orang terkadang atau bahkan dapat saya katakan sering kali tersakiti dan tertriger untuk membalas ucap ucapan itu dan memberikan bentuk kata sifat yang sama atau mungkin lebih buruknya dari kata kata tersebut. Berbeda dengan keempat jenis kata sebelumnya, semua dari kita tentunya ingin disebut sebagai orang yang cerdas, kreatif bahkan genius meski tidak jarang kita justru menunjukan sikap sikap yang justru sebaliknya.

Suatu hal yang normal dan menurut saya pun tidak ada yang salah dari kedua sikap kita terhadap dua kelompok kata sifat yang saling bertolak belakang terssebut. Tentunya lebih banyak dari kita akan menyukai hal hal yang baik dan menghindari yang buruk bukan. Kitapun dibesarkan dengan cara dan budaya yang begitu mengagungkan kepintaran daripada kebodohan. Hal ini terlihat dari didikan orang tua kepada anaknya yang bila melakukan hal hal yang menyenangkan selalu dikatakan “Anak pintar” dan hampir mustahil orang tua tersebut mengatakan “Bodo sekali lu” kecuali saat saat tertentu yang mengakibatkan orang tua secara tidak sengaja kelepasan berucap demikian.

Semua mengerikan justru saat kita mengetahui segala hal

Ini adalah suatu paradoks pengetahuan. Paradoks ini mudah sekali kita temuan disekitar kita bahkan dalam era sosial media ini akan semakin mudah lagi kita akan menemukan dan menyadari keberadaan paradoks yang akan saya bicarakan ini. keberadaan paradoks inilah yang kemudian memotivasi saya untuk membuat sedikit tulisan tentang hal ini. Sebelum memasuki paradoks tersebut ijinkan saya sedikit bercerita tentang apa yang saya rasakan akhir akhir ini. Baru beberapa saat yang lalu kita telah melaksanakan pesta demokrasi terbesar di jagat, yang sayangnya banyak juga korban yang melayang ntah itu karena kelelahan ataupun berbagai penjelasan yang tentunya masih bergulir liar hingga tulisan ini ditulis.

Yang ingin saya soroti bukanlah kisah duka tersebut melainkan pertempuran para ahli nya ahli, intinya inti dan core of the core netijen yang maha benar dengan segala kemaha benarannya. Banyak sekali hal hal ajaib tercipta selama pertarungan kampreter dan cebonger selama ini bahkan percikan percikan perdebatan itu sebagian masih menghangat meski pemilu telah usai. Secara ajaib dan tidak terduga duga dari pertarungan kedua pihak tersebut, kita baru tersadar ternyata kita banyak sekali memiliki ahli ya, dari ahli politik, ahli ekonomi, ahli militer, ahli agama, ahli teknologi informasi dan bahkan sekarang ahli kesehatan. Tak ayal dengan begitu banyaknya ahli ahli tersebut kata kata bodoh, tolol bego dungu pun berhujanan membasahi para terdakwa pendustaan dan kriminalitas akal pikir.

Melihat itu semua, kebodohan yang selama ini menetap pada diri saya seketika merintih dan menjerit, mungkin karena sesamanya dipergunjingkan dan disepelekan. saya merasa orang orang cerdas sekarang memiliki ego yang begitu kuat dan sangatlah buas melibas kebodohan kebodohan yang ada, dan kemudian apakah kebodohan didunia ini akan musnah dengan hal itu? tentunya tidak. Semakin banyak orang cerdas yang demikian tentu akan semakin banyak orang bodo yang ditindasnya. Dan sebagi salah satu perwakilan dari orang bodo tersebut, maka saya minta ijin untuk melakukan pembelaan dan sedikit mengenalkan Dunning Kruger effect.

Dunning Kruger Effect menurut saya cukup menjelaskan fenomenda kemaha tahuan para netijen saat ini, dan segala keajaibannya pun dapat terungkap disini. (Sumber: Twitnya @josephsudiro)

saya sedikit tidak tega menyampaikan hal ini, namun menurut saya ini adalah hal yang menarik dan penting untuk kita ketahui dan pahami bersama agar kita tidak terjebak pada fase kemahatahuan kita selama ini. Menurut Dunning Kruger, rasa percaya diri seseorang akan berfluktuasi seiring dengan bertambah pengetahuannya. Jika boleh jujur, pada jaman sosial media dan segala kecanggihan internet ini kita ditabrak oleh banyak sekali informasi dan luarbiasanya banyak sekali dari informasi informasi tersebut yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Hal ini berdampak pada suatu kondisi dimana kita mengetahui sedikit pada banyak hal sekaligus. Kondisi demikianlah yang kemudian memunculkan benih benih kemaha tahuan para netijen. Pengetahuan yang sedikit dan baru pada suatu hal mengaktifkan rasa percaya diri seseorang jauh melampaui batas dan kemampuannya, kemudian dengan tanpa ragu pun tidak jarang kita melemparkan komentar-komentar “cerdas” kita ke dunia maya.

Rasa anonimitas yang ditawarkan intenet juga ikut andil pada semakin percaya dirinya mengutarakan pendapat, meski terkadang pendapat yang diutarakan jauh sekali simpangannya dari topik yang sedang dibahas. Semua ini demi kecepatan dan peghematan kuota sehingga ada gambar atau infografis nyeleneh dikit komentar, ada judul yang aneh sedikit kita juga komentar. Menyedihkan sekaligus lucu saat kita sering melihat banyak sekali orang orang cerdas diluar sana dengan begitu ajaibnya berkomentar hal hal yang jauh dari topik dan mudah sekali terjebak oleh judul judul pancingan.

Menurut saya, kita tidak boleh seperti ini terus. Terus terjebak kedalam perasaan kemaha tahuan sendiri dan meski tahu terjebak justru kita sering kali semakin memendamkan tubuh kita pada jebakan tersebut dan tidak mengakui bahwa sebenarnya masih ada yang tidak kita ketahui. Cukup akui saja bahwa tidak semua hal kita ketahui dan pintu fase selanjutnya akan terbuka lebar bagi kita. Kegiatan ini tidak hanya perlu kita lakukan sekali seumur hidup namun hampir setiap saat karena ntah disadari ataupun tidak meski pada beberapa subyek kita sudah benar benar ahli, namun pada objek objel lainnya kita hanyalah “pintar”.

Agar tidak terjebak pada kemaha tahuan kita, kita harus meyakini satu hal yakni ” Bahwasanya di Dunia ini tidak ada yang benar-benar benar” bahkan pernyataan itu sendiri tidaklah benar-benar benar.

Dewa Putu AM

Bodo itu tidak salah, yang salah itu jika kita hanya sekedar bodo saja

Menjadi seseorang yang bodo itu bukanlah suatu kesalahan, bukan pula suatu kutukan. Saya sangat senang bila saya dikatakan sebagai orang bodo, meski sesekali doa doa kutukan selalu saya panjatkan dalam diam teruntuk orang-orang yang mengatakan demikian. Namun pada dasarnya bodo itu bukanlah suatu hal yang terlarang. Kalau kata Einstein “Stupidity has no limit, human inteligence does”. Dari quotes tersebut kida dikenalkan pada suatu yang tak terbatas dan yang terbatas. Dari kuotes tersebut kita juga dapat dengan mudah mendefinisikan siapa sebenarnya yang memiliki keterbatasan, lalu pertanyaannya mana yang ingin kita pilih apakah sesuatu yang terbatas ataupun tidak terbatas hehehe.

Monyet yang sangat pinter nge Dab #hasek. Maaf salah fokus, ini sebenarnya sebuah ilustrasi seekor monyet yang sangat payah berenang bila dibandingkan dengan ikan. (Sumber: freepik)

Bodo itu tidak salah, yang salah itu jika kita hanya sekedar bodo saja. Yup, yang salah itu bila kita hanya memiliki kebodohan itu sendiri tanpa memiliki hal lainnya. Saya mengatakan demikian adalah hal yang salah bukanlah berarti hal tersebut adalah hal yang berdosa. Salah yang saya maksud disini lebih pada suatu yang tidak benar, tidak ada dan mengada ngada. Kita tidak mungkin hanya memiliki kebodohan saja, setiap dari kita pasti memiliki kecerdasan ntah itu dalam bidang saja. Hal ini sama halnya dengan ikan yang memang tidak sepintar monyet dalam memanjat pohon tetapi jangan ragukan kepintarannya dalam berenang diair dan begitu pula sebaliknya pada monyet.

Bodoh yang murni dan alami itu salah dan mengada ngada, begitu pula dengan cerdas yang murni dan alami itupun tentu juga mengada ngada. Dalam hidup kita masih sangat perlu kebodohan, yah setidaknya untuk memastikan masih ada sesuatu yang perlu kita cerdaskan. Sama halnya dengan kecerdasan dan kebodohan meski kita tahu bersama juga bahwa Penge”Tidak”tahuan juga Perlu Kita Punya setidaknya untuk memastikan bahwa masih ada yang harus kita ketahui di dunia ini. Apalah menariknya di dunia yang kita tahu secara utuh dan menyeluruh yang mana kita tidak bisa berharap menemukan hal hal menabjubkan terjadi. Hingga suatu ketika saya yakin dengan ‘agak’ pasti, kita akhirnya menemukan satu satunya hal baru saat kita sudah mengetahui segalanya adalah keberadaan ketidak tahuan itu sendiri. Dari situlah kemudian sebuah pintu gerbang baru akan mulai terbuka dan membawa kita kita bergerak menuju kepada petualangan baru dan juga sesuatu ketidak tahuan utuh yang tentunya baru, hal ini kemudian berulang lagi dan lagi, hingga suatu waktu kita terpanggil untuk menguji semuanya dihadapan Nya.

Sudah, saya rasa itu saja dulu tulisan saya saat ini. Tulisan ini saya tulis untuk merayakan hari turunnya ilmu pengetahuan atau lebih dikenal umat hindu sebagai Hari Raya Saraswati. Terkait ilmu mana yang pertama kali turun kedunia ini? Saya rasa saya yakin menjawab bahwa ilmu pengetahuan yang pertama kali muncul didunia ini adalah ilmu tentang tidak tahuan.

Salam tidak tahu kenapa

Dewa Putu AM.

Sumber Feature Image by Pexels from Pixabay

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

[Opini] Ketika Komunikasi Berpindah dari Bibir ke Jemari

April 10, 2019 — by dewaputuam2

paint-2985569_1920-960x640.jpg

Dulu sekali kita sering mendengar suatu kata-kata bijak tentang kebermanfaatan dan makna dari jumlah masing masing bagian tubuh kita. Suatu kata kata bijak yang sedikit menyampaikan alasan kenapa kita punya dua mata, kita punya dua telinga, kita punya dua lubang hidung, dan kita punya jutaan sensor perasa di seluruh bagian tubuh kita, namun kenapa kita hanya memiliki satu mulut itupun lebih sering tertutup dan terkatup oleh bibir. Jawaban paling mudah untuk pertanyaan pertanyan tersebut adalah “Kehendak Tuhan”, dan tentunya jawaban itupun saya terima serta tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Lagipula, kita juga tentunya menyadari, jumlah jumlah tersebut adalah jumlah bagian tubuh yang ada pada orang kebanyakan, dan ada beberapa orang diluar sana yang diberikan sesuatu itu dengan jumlah yang berbeda, baik berlebih atau kurang.

Mata adalah salah satu jendela antara penghubung kita dan dunia luar, lalu kenapa kita dibekali dua mata dan sautu mulut?, bukankah melalui mulut kita dapat berinteraksi lebih ke dunia luar, Dan kini semua berubah ketika jemari menggantikan bibir untuk berucap (Sumber Gambar by Alexandr Ivanov from Pixabay)

Terlepas dari jawaban tersebut, dan dengan tidak mengurangi rasa hormat bagi orang orang yang memiliki kondisi perbedaan dengan orang kebanyakan, melalui tulisan ini saya ingin sedikit berdiskusi sekaligus menyampaikan suatu kegelisahan yang saya rasakan. Ini tentang apa yang terjadi disekitar saya dan juga saya yakin terjadi juga di sekitar kalian. Hal ini berkaitan dengan sebuah pemahaman tentang jumlah bagian tubuh kita.

Makna Lalu yang Dulu Pernah Ada Untuk Menjelaskan Jumlah Itu

Jika kita bertanya kepada orang orang dulu maka beberapa akan menjawab bahwa jumlah bagian tubuh kita diseting dengan sedemikian rupa, dengan dua mata, dua telinga, dua lubang hidung serta jutaan sensor dikulit, namun hanya satu mulut agar kita lebih memahami dulu apa yang sedang kita hadapi. Untuk lebih banyak memahami apa yang sedang kita hadapi baik secara visual, suara, aroma, maupun teksturnya; kita harus cara lebih banyak melihat, lebih banyak mendengar, lebih banyak ‘merasakan aroma’ dan lebih banyak kontak langsung pada apa yang kita hadapi itu. Setelah memahami dengan dalam barulah kemudian kita ungkapkan dan berucap melalui perkataan namun cukup sedikit saja dan seperlunya. Kita harus banyak “merasakan” dan menjaga ucapan. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang bijak yang selalu banyak terdiam sembari ia melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi, dan sekalinya ia berucap itu tepat sasaran dan cukup, tidak lebih dan tidak kurang.

Secara natural kita diciptakan untuk lebih banyak menikmati dunia luar dibandingkan menghabiskan waktu untuk berucap.Ada suatu hal yang menarik dengan alasan dan manfaat kenapa kita memiliki dua mata. Ini berhubungan dengan kemampuan kita untuk menangkap dan memvisualisasikan objek dalam ruang 3 Dimensi. Kemampuan ini disebut dengan stereoscopic vision. Yang pada intinya adalah kemampuan otak untuk menampalkan dua hasil rekaman visual dari masing masing mata dan menciptakan suatu informasi dari dua sisi yang berbeda dan kemudian di simpulkan sebagai informasi kedalaman objek visual. Hal yang sama juga terjadi pada indriawi kita baik itu indra pendengar, pembau dan perasa kita. Yang kesemuanya di desain untuk memahami lingkungan secara 3 dimensi.

Gambaran Konsep stereoscopic vision, Inilah yang menyebabkan kita dapat memahami kedalaman visual berupa jarak dari suatu objek dan bentuk yang lebih presisi.

Bagian bagian tubuh kita dibuat untuk memahami lingkungan sekitar kita dalam bentuk tiga dimensinya, baik itu visual maupun dari audionya. Kita di desiain sedemikian rupa untuk melihat, mendengar dan merasakan lingkungan dalam bentuk tiga dimensinya, sehingga kita dapat memahami seberapa jauh suatu objek dan berada dimana dia, apakah ia bersuara melengking di sebelah utara dan bersuara berat di bagian selatan apakah lebih hangat bagian timur dibanding barat, semua itu disediakan secara gamblang melalui jendela jendela indrawi kita. Dan kemudian muncullah suatu pertanyaan besar, kenapa kita hanya diberikan satu bibir untuk berucap? Pertanyaan ini akan memunculkan jawaban yang beraneka ragam, namun bagi saya yang paling sesuai dan masuk akal adalah agar kita lebih memahami dahulu daripada berucap, atau dengan kata kata anak sekarang “Jangan ‘banyak’ bacot kalau belum tau paham”.

Dari Bibir Berpindah ke Jemari, Semua yang dulu Ada dan Terkendali Seketika Berubah

Dijaman yang katanya kian canggih ini bermunculan alat alat bantu dan pengganti budaya kita berkomunikasi. Jika dulu kita harus banyak melihat dengan “dua mata” kita dan banyak mendengar melalui “dua telinga” kita kemudian bersuara lantang untuk didengar dan dilihat oleh lingkungan, kini kita hanya perlu melihat “satu” layar berpendar dan kemudian mulai menari dengan “dua hingga sepuluh jemari” kita untuk sekedar melontarkan ujuaran, entah itu ujaran yang bermakna dalam ataupun ujaran tanpa makna sekalipun.

Visual tentang tentang kita yang kini melihat melalui satu “Jendela” dan kemudian berinteraksi dengan menggunakan 2 hingga 10 jemari yang menari. (Sumber Gambar Robinraj Premchand from Pixabay)

Telah terjadi suatu pergeseran besar yang terjadi pada diri kita, cara kita memahami lingkungan kita dan juga cara kita berinteraksi dengannya. Jika sebelumnya ada pemahaman bijak yang menggambarkan keharusan kita untuk lebih banyak memahami baru kemudian berujar seperlunya. Kini semua berubah, melalui “satu layar berpendar” itu kita sudah bisa dan layak untuk memberikan reaksi dengan “dua jari” bahkan dengan “sepuluh jemari kita”. Kita kini hanya perlu dan ingin memahami melalui satu layar itu saja dan merasa berhak mengujarkan dan mengucapkan ribuan kata bahkan ujaran tanpa makna sekalipun.

Hal ini tampaknya terlihat dan terdengar sangat menyedihkan, dan ini pula lah yang menjadi kegelisahan saya. Tentunya hal itu juga tidak hanya berdampak dan terjadi pada orang orang di sekitar saya. Harus saya akui bahwasanya sayapun juga terdampak serius akan hal itu. Sayapun lebih banyak berucap dan bereaksi ketimbang sekedar memahami. Tampak bodoh dan tampak naif bila saya tidak mengaku hal itu.

Akan tetapi, sejenak saya berpikir, benar benar sejenak, sesejenak saat saya membuat tarian jemari untuk menuliskan tulisan ini saya sadar bahwa saya melupakan satu hal yang sebenarnya ada. Namun semua kabut pikiran pesimistik saya menjauhkan saya dari kenyataan itu. Ini tentang suatu kenyataan bahwa meskipun kita hanya melihat di “satu layar berpendar saja” namun untuk melihat dan mendengarkan itu kita masih masih menggunakan “dua mata” kita dan “dua telinga” kita. Dan meskipun kita menuliskan ujaran kegelisahan kita melalui “dua jari” bahkan “sepuluh jari”, sebelum tertulis dengan rapi tentunya diolah pada “satu otak” kita dan juga “satu sumsum tulang belakang kita”. (saya ingin berkata “satu hati” kemudian saya urungkan karena saya sedikit kurang setuju dan tidak pernah mendengar bahwa hati juga secara harafiah memiliki fungsi untuk berpikir).

Kesemua itu bermakna, meskipun kini kita hanya melihat melalui satu layar dan berucap melalui 2 hingga 10 jemari, namun sebenarnya kuasa itu masih ada pada diri kita, Dengan dua mata kita dapat melihat lingkungan di luar kotak pendar, atau bahkan jika perlupun kita dapat menggunakan 10 jemari kita untuk memilah dan memilih sudut pandang yang ditampilkan pada layar berpendar itu. Barulah kemudian kita mengolahnya dalam pikiran dan “hati” kita untuk kemudian dapat dengan cepat kita berikan reaksi melalui 10 jemari kita yang menari dan menyair sebuah ujaran yang bermakna dan menyejukan.

Itupun jika otak dan hati kita compatible tengan pergeseran yang terjadi pada jaman ini. Yah jikapun tidak sesuai, yang terjadi biarlah yang terjadi. Bermunculanlah kata kata kosong tanpa makna yang keluar dan bertebaran didalam jagat dunia maya kita. Kita tidak boleh protes dengan hal tersebut. Dunia yang sekarang terjadi memanglah seperti itu dan selalu disusun oleh bilangan digital 1 dan 0. Yah anggap saja orang orang yang masih sadar dan menjaga dalam berucap adalah orang orang yang memiliki otak yang hanya 1. Dan kemudian yang lainnya, ah sudah lah saya tidak ingin panjang lebar lagi. Cukup sekian dari saya.

Salam Hangat

Dewa Putu AM

Daily LifePsikologiUncategorized

Merakit Pematah Makna Pepatah Rakit yang Sudah Lama dan Mungkin Usang

March 31, 2019 — by dewaputuam0

huangshan-3656344_1920-960x640.jpg
Gambaran yang ada di pikiran saya tentang sebuah rakit itu yang seperti ini, Hal ini masuk akal karena besar kemungkinan rakit jenis seperti inilah yang ada dan mengilhami pada saat pepatah rakit dibuat. (Sumber gambar: 雅惠 游 from Pixabay )

Selama ini dalam pelajaran bahasa atau sastra, kita beberapa kali bertemu dengan sebuah pepatah yang cukup terkenal dan rasa-rasanya hampir semua orang yang pernah belajar di Indonesia mengenal pepatah tersebut. Ini tentang pepatah rakit yang tidak diketahui siapa penciptanya dan kita tidak tahu pula siapa penciptanya. Pepatah tersebut berbunyi seperti ini.

“Berakit rakit kehulu, berenang ketepian”

Seingat saya semua guru dan atau orang tua maupun orang lain yang dulu pernah mengajarkan saya menyebutkan pepatah tersebut memiliki makna bahwa kita perlu “bersakit sakit dahulu, untuk dapat bersenang senang kemudian”. Pepatah dan maknanya ini tentu saja dapat diterima, dan merupakan sebuah pesan yang sangat baik bagi semua orang termasuk untuk saya, “mungkin”. Meskipun terkadang saya suka mengelak saat diberikan pepatah tersebut oleh ibu saya dan mengatakan bahwa saya lebih suka naik rakit sambil berenang renang.

Pada tulisan saat ini saya ingin membahas makna lapis kedua dalam pepatah rakit. Saat memikirkan hal ini saya sangat terkesima dengan pembuat pepatah yang sangat keren ini, saya juga merasa ini bukanlah kebetulan bila seorang penulis (atau seorang sastrawan) menyelipkan berlapis makna dalam sebuah karyanya. Lapis-lapisan makna itupun ia rangkaikan dan dengan cerdik ia sembunyikan tipis tipis melekat pada satu sudut pandang tertentu. Lapis-lapisan makna ini biasanya juga dikaburkan oleh lapisan makna tersurat yang dapat dilihat dengan jelas oleh orang orang bisa tanpa banyak berpikir dan menganalisa lebih dalam.

Seperti pada pepatah rakit. Kebanyakan orang akan mengangguk ngangguk jika pepatah tersebut sekedar diartikan berdasarkan kesamaan buny pada akhirannya. Saya lupa istilahnya ini apa, tapi secara umum demikian “Rakit rakit” digunakan untuk menggantikan frasa “sakit sakit”, “ke hulu” digunakan untuk menggantikan frasa “dahulu”, kemudian frasa “berenang-renang” untuk mengungkapkan “bersenang-senang” sedangkan ” ketepian” digunakan untuk menggantikan kata “kemudian”. Jika dibaca secara utuh, pepatah “berakit rakit kehulu, berenang ketepian” akan bermakna “bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian”. kira kira sesederhana itu cara merakit makna lapis pertama pada pepatah rakit.

Merakit Alur Berpikir Frasa “Berakit-rakit ke Hulu”

Ada satu pertanyaan sekaligus tantangan buat teman-teman pembaca sebelum kita coba merangkai logika untuk mendapatkan makna lapis kedua pada pepatah rakit. Pertanyaan dan tantangan ini menurut saya sangat simple.

Maukah teman teman dengan usaha kalian sendiri berakit rakit kehulu “secara harafiah”, maukah anda dengan tongkat dan rakit menelusuri sungai menuju kearah hulu. Sekedar informasi tambahan buat teman-teman, berakit kehulu sungai berarti pula kita harus bergerak melawan arus. Percayalah itu tidak mudah ferguso, kita beruntung bila arusnya tidak kuat dan itupun sudah cukup PR, apalagi bila arus sungainya sangat kuat bukan tidak mungkin kalau kita akan maju satu meter dan hanyut puluhan meter. Rakit biasanya didesign untuk bergerak ke hilir, dan kalaupun tidak, ia biasanya didesign untuk menyebrangi sungai saja itupun dibantu dengan tali tambang/kabel agar tidak terbawa arus dan lebih mudah membawa ketepian sungai di sebarangnya. Yang jadi pertanyaan kenapa orang orang dulu membuat pepatah dan menggunakan frasa yang sedikit kurang logis tersebut “berakit rakit kehulu” dan kira kira apa faedahnya menggunakan rakit untuk mencapai hulu?

Coba kita bayangkan dengan rakit bambu kita harus mengarungi sungai seperti ini dan gilanya lagi harus melawan arus untuk menuju hulu. Sekarang apakah teman teman melihat pepatah rakit sebenarnya agak tidak logis dalam situasi seperti ini (Sumber gambar jwvein from Pixabay)

Dari sini saya rasa kita telah menemukan pintu menuju makna lapis kedua yang dibuat oleh orang orang terdahulu melalui pepatah rakitnya. Kita akan mencoba memaknainya dari sudut pandang realist dan sedikit kritis. Sebelumnya kita mengetahui bahwa berakit-rakit ke hulu adalah hal yang melelahkan dan menyakitkan (saya gantikan agar ada sedikit harapan meskipun hampir pada kenyataan yang tidak mungkin). Meskipun demikian “sakit” bukanlah makna lapis kedua dari penggalan pepatah ini. Menurut saya penggalan pertama ini memiliki makna tentang orang yang sangat ambisius dengan tujuannya yang juga fantastis yaitu “hulu”. Saya berpendapat demikian karena hanya ambisi dan ego yang luar biasa besar yang menyebabkan orang orang begitu gigih dan berusaha mencapai tujuannya tanpa sadar diri tentang seberapa jauh kemampuan yang ia punya yang dalam hal ini hanya sebuah rakit.

Makna pada penggalan ke dua akan muncul saat penggalan pepatah pertama terpenuhi yakni seseorang yang ambisius dan terlalu ngotot baik secara bodoh ataupun cerdas, bedanya cukup tipis. Saya sengaja memasukan kata bodo dan cerdas disini untuk memberikan sedikit ruang dan mengakui kalau sebenarnya ada variasi pada alasan kenapa ada seseorang yang secara random berakit-rakit ke arah hulu. Beberapa kasus ngototnya mungkin ngotot bodo dan tak tahu diri namun beberapa lainnya ngotot karena yakin ia sangat kuat, cerdik dan atau mungkin saja ia sangat paham akan situasi sebenarnya disana. Dalam pepatah ini bukan tidak mungkin kalau orang yang menggunakan rakit sebenarnya memunyai trik trik jitu atau pengalaman berlimpah sehingga bukan tidak mungkin kesemua itu mampu mengantarnya menuju ke hulu sungai. Yah mungkin saja dia sangat kuat, mungkin dia memodifikasi rakitnya, atau mungkin ia paham, yakin dan berpengalaman untuk berakit rakit kearah hulu, atau ia tahu daerah hulu tidaklah terlalu jauh untuk di gapai. Kalau kata orang orang jaman sekarang “Sing penting yakin”.

Merakit Alur Berpikir Frasa “Berenang-renang ke Tepian”

Lha, saya malah membahas kemana mana ya. kembali pada penggalan ke dua dalam pepatah ini yakni frasa “berenang renang ketepian”. Secara sederhana sebelumnya penggalan kedua ini biasa diartikan sebagai “bersenang senang kemudian”. Hal ini merupakan makna lapis pertama yang sering kali orang lain berikan. Namun secara logis, bila kita pernah menaiki rakit semacam rakit bambu , maka disana kita lihat bahwa sebenarnya kita tidak perlu berenang untuk mencapai tepian, tentunya ini dalam kondisi normalnya ya. Namun mengapa orang orang dahulu menambahkan frasa berenang renang ketepian setelah frasa berakit rakit dahulu? bukannya ini sangat aneh, lalu bagaimana dengan keadaan rakit yang kita tinggalkan sembari berenang ketepian? dibiarkan hanyut dan kembali dengan sendirinya ke hilir atau malah tenggelam dan hilang ditinggal jaman setelah mengemban tugas yang begitu berat.

Rakit seperti ini cukup garang, tapi sampai saat inipun saya belum memahami bagaimana cara rakit bisa kita arahkan dan bergerak melawan arus menuju hulu sungai (Image by julianomarini from Pixabay)

Tentu ada suatu hal besar yang menyebabkan kita tidak membawa rakit hingga ke tepi sungai dan merelakan kita untuk berbasah basah dengan berenang hanya untuk menuju tepian. Dari logika ini kita coba rangkai sesuatu cerita tersembunyi dan terkandung didalam frasa ini. Ada dua hipotesis kunci dalam pemahaman frasa pepatah ini yaitu “Ada suatu peristiwa yang tidak kita duga terjadi” dan hipotesis kedua adalah “Kita harus berani terjun langsung dan mau berbasah basahan untuk mencapai tujuan kita yakni tepian atau bahkan sekedar untuk menyelamatkan diri kita bila mana ternyata sesuatu yang terjadi itu berada jauh dari tujuan kita”

Bila kedua hipotesa itu dirangkai maka kita dapatkan suatu makna dalam penggalan kedua dari pepatah rakit. Makna tersebut kira kira sebagai berikut “Kita harus sadar bahwa suatu ketika mungkin saja ada sesuatu hal yang mengharuskan kita bertindak diluar kebiasaan, Saat itu kita harus berani mengambil keputusan. Ketika tujuan sudah dekat kita dapat turun langsung dengan sekuat tenaga menggapainya, namun bila tujuan masih jauh kita juga perlu terjun langsung untuk sekedar menyelamatkan diri agar masih ada waktu esok dan mencobanya lagi.”

Kita sudah mencoba merangkaikan dan menguntai logika yang ada pada pepatah “Berakit rakit kehulu, berenang renang ketepian”. Berdasarkan logika yang panjang lebar coba kita rakit akhirnya sampailah kita pada sebuah makna tersembunyi atau makna lapis kedua dalam pepatah tersebut. Ini adalah sebuah pesan bagi orang orang penentang arus. Orang orang unik dan berani berbeda dari lainnya, orang orang yang mungkin tanghuh atau mungkin saja bodoh.

Makna Tersembunyi “Berakit-rakit ke Hulu, Berenang-renang ke Tepian

Menjalani hidup yang menentang arus memang sangat berat, namun bukan berarti tidak mungkin. Kita dapat melakukan segala hal dengan memaksimalkan apa apa saja yang kita miliki baik kekuatan, kecerdikan maupun pengalaman. Meskipun adakalnya kita dapatsaja menemui suatu tantangan yang sangat berat, saat itulah kita harus tetap terus berjuang. Bilamana tujuan masih dekat kita bisa terus memberikan tenaga tenaga terakhir kita untuk mencapainya, namun bila tujuan masih jauh dan tak terjangkau jangan malu untuk menggunakan tenaga terakhir kita untuk sekedar menyelamatkan diri agar tidak mati dan bisa mencoba lagi di kemudian hari.

Versi pendek

“Hidup berbeda dengan kebanyakan itu susah, jika ingin mencapai tujuan kita yang berbeda, kita harus berani bertindak lebih, baik untuk sampai ataupun sekedar menciptakan peluang untuk mencoba lagi. “

(Dewa Putu AM, 2019)

Sepertinya agak banyak bualan ya yang tersebar pada tulisan saya kali ini. Mencoba merombak dan menemukan kembali makna makna terpendam dari pepatah dan karya jaman dulu lainnya juga sepertinya menarik untuk dijadikan tulisan tulisan berikutnya. Namun untuk tulisan ini saya sudahi sampai sini saja dulu karena lagi lagi dan lagi terlalu panjang

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Pustaka dan Gambar dalam Tulisan Ini
  • Gambar 1 yang ada bapak bapak naik rakit di sebuah sungai di negeri Tiongkok, Gambar ini jugalah yang saya gunakan sebagai Feature Image sumber 雅惠 游 from Pixabay.
  • Gambar 2 tentang kondisi sungai di dekat hulu yang biasanya berbatu dan ber arus deras (Image by jwvein from Pixabay)
  • Gambar 3 tentang orang orang yang menaiki rakit modern untuk arung jeram (Image by julianomarini from Pixabay)

BukuDaily LifePsikologi

“Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya

March 30, 2019 — by dewaputuam3

fog-1208283_1920-960x641.jpg
Ilustrasi tentang hilang dan mungkin terlupakan (Image by Free-Photos from Pixabay)

“Dew, gimana cara untuk ngelupain seseorang ya, saya dah berusaha susah payah tapi tetep keinget lagi sama dia” tiba tiba saya dapat pertanyaan ini dari salah satu teman saya. Mendapat pertanyaan tersebut saya pun menjawab “Jangan kamu lupain dia, teruslah ingat dia sesering mungkin bahkan kalau bisa kepoin semua postingan dalam media sosial dia, nanti toh saat kamu jenuh dan lelah dengan sendirinya kamu akan melupakannya.” Ini jawaban saya saat itu, yah meski tidak persis benar perkata seperti demikian tetapi pada intinya sama lah seperti ini. Mungkin cara yang saya utarakan ini akan terkesan aneh bagi kalian tetapi sejujurnya saya memberikan saran tersebut dari sebuah buku yang pernah saya baca dan bukan serta merta dari pengalaman. Sebuah buku berjudul Man’s Search for Meaning Karya Viktor E. Frankl.

Saya kurang paham kenapa orang itu menanyakan hal tersebut kepada saya, mungkin karena saya gampang banget ngelupain orang ya, khususnya dalam hal nama. Mengingat adalah salah satu kelemahan yang ada pada diri saya, saya kurang mampu mengingat nama orang bahkan untuk beberapa jam saja. Hingga akhir akhir ini saat berkenalan dengan seseorang yang baru saya temui, jika saya rasa akan bertemu lagi dan berbincang bincang saya biasanya akan menuliskan namanya pada catatan di smartphone saya agar seawktu waktu saat berbincang saya dapat menyebutkan nama mereka, meskipun saat ingin mengawali percakapan saya tentunya mengecek catatan saya untuk memastikan nama yang saya sebutkan tepat.

“Paradoxical Intention”, Sebuah Paradox Tersembunyi yang Selalu Menentang Keinginan Kita

Ada beberapa konsep menarik yang diutarakan dan ditawarkan oleh Victor dalam bukunya, namun konsep yang akan saya bahas dalam tulisan ini hanya satu konsep yakni sebuah paradox yang secara sadar ataupun tidak sadar sering kita alami di kehidupan sehari hari. Mungkin kalian pernah ingin mencari sesuatu seperti remot televisi misalnya, tetapi anehnya benda itu tidak dapat kita temui saat itu hingga akhirnya kita tidak menginginkan untuk mencarinya dan secara ajaib benda tersebut muncul di hadapan kita. Atau saat kita sedang ngidam makan mie ayam gerobak dorong langganan kita, tapi apa daya kita tunggu berlama lama tak juga datang. Namun saat suatu hari perut kita kenyang atau ada banyak sekali lauk di rumah kita, secara tidak berperi keperutan pedagang mie ayam tersebut dengan merdunya memukul mukul gong besar dan lewat di depan rumah kita.

Saya tidak paham kenapa saya ingin menggunakan ilustrasi ini, saya rasa ilustrasi ini juga tidak begitu menggambarkan apa yang saya tulis di tulisan ini. Tapi ilustrasi ini tampak keren ya (Image by Jonny Lindner from Pixabay )

Beberapa kejadian di dalam kehidup kita terkadang sebegitu bercanda. Mereka hilang tak tergapai saat kita ingin dan butuhkan. Dan muncul begitu saja tanpa alasan saat kita sama sekali tidak membutuhkan. Bercanda banget kan ya terlihatnya. Peristiwa peristiwa inilah yang disebut oleh Victor sebagai “Paradoxical Intention”. Paradox ini didasarkan pada dua fakta yang pertama adalah hilangnya suatu hal saat kita menginginkan secara berlebihan dan fakta kedua yang berkebalikan adalah kemunculan suatu hal saat kita tidak menginginkan bahkan sangat takut hal itu muncul atau terjadi.

Berpegang pada konsep inilah yang kemudian saya menyarankan pada teman saya tersebut untuk menghentikan usahanya untuk melupakan seseorang. Hal ini saya sampaikan karena saya rasa ia sangat ngotot untuk melupakan orang itu atau dengan kata lain ia tidak ingin bahkan takut untuk sekedar mengingat orang yang mungkin telah menyakitkannya tersebut. Hal inilah yang tanpa ia sadari justru mengaktifkan efek dari Paradoxical Intention yang berdampak pada semakin munculnya ingatan ingatan tentang seseorang yang ingin ia lupakan.

Untuk mengatasi hal tersebut saya menyarankan sebuah paradox yang sama. Bukan mendukung untuk melupakan, saya justru memintanya untuk mengingat orang yang ingin itu dengan cara cara yang biasa hingga cara yang menurut saya juga sedikit konyol dan ekstrim yakni menstalking orang yang ingin ia lupakan tersebut setiap hari hehehe.

Saya tidak tahu cara yang sarankan berhasil atau tidak untuk teman saya itu, tetapi setidaknya hingga saat ini ia tidak pernah lagi curcol saya tentang hal ini. Eh beberapa kali masih kumatan seperti itu ding hanya intensitasnya sepertinya sudah sedikit berkurang. Saya menulis artikel ini pun mungkin dia akan terpelatuk dan ingat kembali, hehehe sorry sistah. Saya rasa tulisan ini perlu saya buat dan menarik untuk dibagikan. Tenang aja namamu tidak saya sebut ditulisan ini kan. Hehehe

Kita mungkin pernah menginginkan sesuatu dengan berlebihan, hingga tanpa sadar dengan adanya Paradoxical Intention dirimu justru semakin menjauh dari apa yang kamu inginkan. Inginlah secara sederhana, sesederhana dirimu yang ingin hidup dengan hanya bernafas.

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa segitu saja dulu tulisan saya hari ini, Saya harap semua dari kalian dapat memanfaatkan Paradoxical Intention dengan baik. Karena biar bagaimanapun juga sama seperti lainnya selalu ada dua sisi dari suatu hal sisi baik dan sisi buruk. Kita mendapatkan sisi yang mana tergantung dari apa yang kita pilih dan bagaimana usaha kita, jangan terlalu serius menghadapi sebuah hal dan jangan pula terlalu bercanda. Cukup yang sedang sedang saja.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Referensi dan Gambar
  • Konsep Paradoxical Intention adalah konsep Viktor E. Frankl yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning
  • Feature Image dan Ilustrasi pertama adalah karya Free-Photos from Pixabay
  • Gambar Ikan yang dinaikin manusia pada ilustrasi ke dua adalah karya Jonny Lindner from Pixabay

PsikologiSains PopulerUncategorized

“Media Sosial”, antara Penghubung dan Sekat

March 28, 2019 — by dewaputuam4

man-791049_1920-960x640.jpg
Mereka yang melakukan Cyberbulliying Saat ini, bukan tidak mungkin akan menjadi korbannya suatu saat nanti. Jadi pilihan tetap pada diri kita masing masing, tetap melakukannya, mencoba mengurangi atau bahkan menghentikan. (Sumber Ilustrasi: starshellstudent)

Kebenaran di Jemari kita, Kesalahan Sepenuhnya Ada Pada di Diri Mereka

Terkadang atau munkin sering kita merasakan suatu sensasi yang berbeda dan nyaman saat berselancar melalui akun-akun media sosial kita. Sebuah perasaan dimana banyak orang disekitar kita berpandangan sama dengan apa yang kita anggap benar dan sama pula dengan apa yang kita anggap salah. Perasaan itulah yang kemudian membenarkan diri kita untuk menghakimi seseorang yang salah dan menjatuhkannya dengan sangat dalam hingga kita tak sadar kita telah menerjunkannya jauh dibawah harkatnya sebagai manusia.

Yang jadi pertanyaan, apakah saya juga melakukannya? Secara jujur saya akui kadang saya melakukan hal tersebut “secara sadar”, yang secara tidak sadarnya mungkin justru sering. Yah atas dasar itu dan dasar statement yang saya sebut sebelumnya tentang perasaan sama, saya rasa kalian juga pernah mengalami hal yang sama seperti saya. Jika tidak pernah berati kalian individu yang luar biasa dan layak sekali jadi panutan hehehe (the power of “hehehe”).

Jika dipikir pikir, hal ini cukup pelik memang, keberadaan sosial media yang dulu membuat kita dapat terhubung dan berinteraksi ke kawan kawan lama kita kini justru menjadi ladang pelam piasan emosi bagi sebagian orang. Ada hal yang salah dikit kita berbondong bondong menghakimi dengan santai dan tersenyum lebar dengan embel embel negri ber Flower lah atau negri +62. Tapi tidak saya pungkiri, terkadang kegiatan tersebut cukup seru, yah meskipun kita tahu dampaknya pada orang orang yang kita bully tersebut tentunya sakit namun tak berdarah. Saya juga pernah merasakan hal itu tapi yasudahlah, pada tulisan ini saya akan menyusun sebuah alasan kenapa pembulian itu terjadi, alasan ini tidak bermaksud membenarkan pembulian. Karena biar bagaimanapun pembullian adalah suatu hal yang tidak keren.

Alasan ini saya tulis hanya sebagai pengingat, bahwa yang kita lihat dan dan sensasi rasakan selama ini melalui jendela bernama sosial media tidaklah sepenuhnya benar. Ada suatu sistem yang bekerja disana agar kita merasakan sensasi “seolah olah” semua orang sependapat dengan kita, dan pandangan kita adalah pandangan mayoritas orang.

Cara Kerja Filter Bubble yang membentuk semacam ruang semu “bubble” yang sebenarnya bermanfat untuk memberikan saran saran iklan yang tepat sasarn namun ada dampak negatif yang tidak terlihat (Sumber Ilustrasi: sticky.digital

Filter Bubble, Sebuah Algoritma yang Semakin Memisahkan Kita dari “Mereka”

Istilah Filter Bubble pertamakali diutarakan oleh seorang Aktifis Internet bernama Eli Pariser. Istilah ini digunakan untuk menyebutkan sebuah algoritma atau sebuah sistem yang secara seletif mendekatkan dan memberikan informasi yang sekiranya disukai seseorang melalui profil personal seseorang yang didapatkan melalui jejak jejak aktifitas digital mereka.Jejak digital yang dimaksud adalah terkait konten apa saja yang seseorang cari melalui mesin mesin pencari, apa saja yang mereka like/sukai, apa saja yang mereka lihat dengan view time yang lama, apa saja yang ia lihat sekilas lalu saja dan apapun aktifitas mereka dalam dunia digital sebenarnya dicatat dan digunakan untuk mempelajari sifat dan tendensi kita. Melalui informasi inoformasi tersebut maka akan terpetakan kesukaan dan ketidak sukaan seseorang terhadap suatu konten. Konten konten yang disukai akan semakin banyak diberikan sedangkan konten konten yang tidak disukai dan bertentangan dengan profil personal mereka akan dihindarkan.

Hal inilah yang membuat kita “seolah olah melihat” ide dan gagasan yang ada disekitar kita sesuai dengan keinginan kita. Dengan begitu banyaknya kita melihat ide, gagasan dan pandangan yang sesuai dengan ide, gagasan dan pandangan kita maka akan timbul sebuah perasaan bahwa kita berada dipihak mayoritas, dan kita berada di jalur yang benar. Padahal sebenarnya, ada banyak ide, gagasan dan cara pandang lain diluar sana yang mungkin sangat bertentangan dengan yang ada pada kita. Kita selama ini jarang melihat karena memang disembunyikan oleh algoritma filter buble ini. Jikapun ada yang tidak sengaja muncul, itulah yang kemudian menjadi bahan bulliyan oleh orang orang yang sepandangan dengan pandangan kita.

Filter bubble ini pada kenyataannya tidak hanya terjadi di dunia maya saja tetapi juga untuk beberapa orang juga mengalami hal serupa di dunia nyata. Sama seperti yang ada didunia Maya yang pada prinsipnya membatasi pandangan kita hanya pada keinginan dan minat dangkal masing masing pribadi kita saja, pada dunia nyata filter bubble juga akan berdampak pada orang orang yang pergaulannya sangat terbatas dan hanya mau berinteraksi dengan orang orang yang sepandangan dengan diri mereka. Hal inilah yang kemudian memunculkan tindakan tindakan tidak keren seperti menganggap dirinyalah bersama kelompok mereka yang paling benar sedangkan orang lain sepenuhnya salah. Lalu kemudian dari hal ini akan memunculkan bibit bibit yang membenarkan bullying hingga persekusi bagi orang orang yang salah.

Bagaimana cara kita agar tidak terjebak dalam jebakan filter bubble ini. Ada pepatah lama yang seringkali digunakan sebagai sindiran untuk orang yang kurang pengetahuan.

“Main Mu Kurang Jauh Nak, dan Pulangmu Kurang Malam.” Jika dirimu tidak Ingin terjebak dalam Filter Bubble, maka janganlah terlalu memilah milah teman agar sudut pandang semakin luas. Sekali kali boleh lah membaca dan mengakses informasi informasi yang mungkin berbeda atau bahkan bertentangan dengan apa yang kita yakini saat ini agar kita sekedar tahu bahwa selain pendapat kita ternyata ada juga “pendapat orang lain yang benar benar lain”

(Bacotan Dewa Putu AM, Salam Super)

Saya rasa sampai disitu saja tulisan saya kali ini agar sekali kali tulisan saya tidak terlalu panjang hehehe.

Salam

Dewa Putu AM

Feature Image by kaboompics on Pixabay

BencanaDaily LifePsikologiSains PopulerUncategorized

Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana

March 5, 2019 — by dewaputuam3

IMG_20181021_163022-01-960x540.jpeg

Untuk Awal Mari Kita Berkenalan Dengan Bencana yang Harus Kita Hadapi

Kondisi Setelah Bencana di Petobo, Disini kita melihat begitu dasyatnya dampak yang diberikan dari sebuah bencana. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada tahun 2018, Indonesia diterpa banyak sekali cobaan yang berat, Pada tahun tersebut kita mengalami banyak bencana alam yang sayangnya banyak pula menelan korban jiwa. Dari 2575 Kejadian Bencana yang terlapor pada tahun 2018 (Sumber:DIBI BNPB) setidaknya telah menyebabkan >4836 orang Meninggal/Hilang, >21,126 orang luka luka dan >10,333,306 orang mengungsi. Dari angka tersebut, bila kita bandingkan dengan jumlah penduduk indonesia yang sekitar 264 Juta, maka dapat dikatakan bahwa 4 dari 100 penduduk di Indonesia sudah menjadi Korban Meninggal, Luka atau Mengungsi akibat bencana tahun 2018 saja.

Masih ingatkah kalian Setidaknya ada beberapa bencana besar pada tahun 2018 yang menyita perhatian secara Nasional maupun Internasional Mulai dari Gempa Bumi di Lebak Banten pada bulan Januari yang dirasakan juga di Jakarta, Erupsi beberapa gunung (Gunung Sinabung, Gunung Merapi dan Gunung Agung dan Gunung Krakatau), Gempa Lombok, Gempa-Tsunami-Likuifaksi di Sulawesi Tenggara yang fotonya saya tampilkan dalam gambar awal dalam tulisan ini, Dan sebagai penutup tahun 2018 kitapun dikejutkan oleh silent tsunami akibat letusan Krakatau pada bulan Desember 2018.

“Dongeng Usang?” tentang Risiko Bencana di Indonesia yang Sangat Tinggi

“Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng” ingin rasanya saya menulis frasa seperti itu, namun frasa tentang pertemuan tiga lempeng tersebut agaknya sudah terlalu sering terbaca dan juga terlalu sering pula keluar masuk di telinga kita. Saya khawatir bila menceritakan bencana dari template frasa tersebut kalian akan kian bosan dan meninggalkan tulisan ini. Namun suka atau tidak suka, meskipun frasa itu sudah tua dan usang, itulah kenyataanya. Dengan perbedaan tipis antara anugerah dan musibah, fakta tentang tiga lempeng tersebut lah yang menyebabkan kita sering sekali merasakan Gempa gempa besar serta memberikan kita banyak sekali gunungapi aktif (127 Gunungapi). Sebagai sedikit gambaran tentang seberapa banyak kejadian gempa yang telah kita alami berikut saya sajikan peta tentang gempa besar yang terjadi selama tahun 2018 dan awal 2019 yang saya unduh dari USGS.

Meski dalam hal bencana, Indonesia berlimpah dari segi jumlah dan intensitasnya. Tidak boleh kita lupakan juga bahwa ada begitu anugerah yang diterima Indonesia yang tentunya tidak kalah besar bila dibandingkan bencana yang kita dapat. Dongeng usang tentang pertemuan tiga lempeng setidaknya telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati tanah kita yang bagaikan tanah surga. Sebuah tanah yang berlimpah kekayaan dan keindahannya persis seperti lagu yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Dengan banyaknya gunung berapi akibat pertemuan lempeng tersebut tanah tanah kita menjadi subur yang saking suburnya diibaratkan dapat menumbuhkan tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.

Kita kembali pada permasalahan bencana di Indonesia. Untuk menggambarkan dan memahami seberapa besar risiko bencana di suatu wilayah para peneliti dan pegiat kebencanaan biasanya menggunakan suatu Indeks Risiko. Dalam perhitungan indeks risiko (Risk), diperhitungkan beberapa indeks kunci yang meliputi Indeks Bahaya & Keterpaparan (Hazard & Exposure), Indeks Kerentanan (Vulnerability) dan Indeks Kapasitas (Capasity). Melalui Indeks indeks tersebut kita dapat melihat dan memahami seberapa besar Risiko bencana disuatu wilayah, seberapa besar bahaya dan jangkauan dari masing masing bencana di wilayah tersebut, Seberapa rentan penduduk diwilayah tersebut jika bencana terjadi, dan Seberapa besar dan kemampuan dan kesiapan pemerintah, masyarkat infrastruktur, peralatan dalam menghadapi suatu bencana.

Sedih atau Bangga? “Kita berada di Peringkat 4 se ASEAN !”

Berdasarkan hasil kajian INFORM (INdex FOr Risk Management) didapatkan bahwa Indonesia berada di Posisi nomor 4 dari negara negara ASEAN berdasarkan risiko terhadap krisis dan bencana. Nilai Risiko yang demikian besar tersebut dipengaruhi oleh tingkat bahaya terhadap krisis dan bencana alam di Indonesia yang sangat tinggi dan dari sisi ini kita berada pada posisi ke tiga setelah Filipina dan Myanmar. Ada suatu berita baik bila kita lihat dari grfik dibawah, terlihat bahwa meskipun tingkat bahaya kita besar kerentanan dan kekurangan kapasitas kita untuk menhadapi bencana cukup kecil atau dapat dikatakan bahwa sebenarnya kita secara sosial, politik ekonomi dan beberapa faktor lainnya, kita dinilai cukup tangguh menghadapi bencana, hal inilah yang tidak hanya perlu dipertahankan namun perlu kita buat lebih baik lagi di tahun tahun mendatang.

Tantangan Indonesia kedepan dalam menghadapi bencana tidaklah kecil. Semakin lama jumlah kejadian dan intensitas bencana yang kita alami juga kian meningkat. Dengan adanya perubahan iklim dan pemanasan global, kejadian bencana bencana Hidro-meteorologi seperti Banjir, Banjir Bandang, Tanahlongsor dan Kekeringan akan semakin kuat dan semakin sering menghampiri hari hari kita. Jumlah penduduk yang terus meningkat pula menyebabkan semakin besar kebutuhan akan tempat tinggal dan tempat keperluan lainnya yang sayangnya banyak dari tempat tempat tersebut merupakan lokasi yang tak layak dan berbahaya karena potensi kejadian bencana yang besar.

Tidak hanya dari segi kejadian bencana, penanganan bencana pun semakin lama semakin kompleks. Banyak hal yang perlu di hadapi, mulai dari masalah teknis dilapangan hingga gangguan gangguan kecil namun tidak bisa tidak di acuhkan seperti persebaran berita hoax dan berita meresahkan tidak bertanggung jawab. Jumlah, Intensitas dan kompleksitas penanganan bencana mengharuskan manajemen bercana di indonesia tidak bisa lagi dilakukan dengan cara business as usual. Harus ada pergeseran/shifting secara besar besaran baik dari kerangka berpikir hingga kerangka Implementasi. Pergeseran besar besaran ini dapat dilakukan dengan bantuan kerangka bepikir dan kerangka Implementasi baru yang ditawarkan dalam Revolusi Industri 4.0. Dengan kata lain saya sepakat dan ingin menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana adalah suatu yang memiliki urgensitas yang tinggi diterapkan di Indonesia.

Setelah Berkenalan, Saatnya Kita Lirik Potensi Revolusi 4.0 dalam Merevolusi Manajemen Bencana di Negeri Kita

Bumi yang Serba Digital (Image by TheDigitalArtist on Pixabay)

Banyak orang menghubungkan Revolusi 4.0 pada pemanfaatan besar besaran terhadap tekhnologi-tekhnologi berbasis IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Tak ayal saat ini banyak Organisasi dan Instansi Pemerintah berlomba mengembar gemborkan bahwa mereka telah melakukan pergeseran besar-besaran menuju Industri 4.0. Tidak tahu kenapa, saya melihat semua itu sebagai sebuah kasus perkosaan anak dibawah umur ya. Saya mengatakan demikian karena pemanfaatan besar besaran terhadap basis tekhnologi penyusun Revolusi Industri 4.0 tersebut justru mengkerdilkan arti dari revolusi itu sendiri. Pemanfaatan besar besaran tanpa arah dan kerangka yang tepat akan menimbulkan perkembangan yang cepat namun rapuh dan tidak tahu akan kemana arahnya. Yah, itu hanya pemikiran skeptis saya, Tentunya orang orang di organisasi tersebut adalah orang orang hebat yang telah punya rencana besar terkait hal ini.

Ada satu buku bagus berjudul The Great Shifting karya Prof Rhenald Kasali yang memberikan gambaran pergeseran besar (revolusi) yang terjadi selama ini yang lebih dari sekedar pemanfaatan IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Menurut yang saya pahami dari buku ini, ada tiga point penting dari Revolusi 4.0 yang dapat diterapkan untuk merevolusi manajemen bencana di Indonesia. Pertama adalah Pergeseran dari time series menuju Realtime. Kedua, perubahan pola pikir owning menjadi Sharing. Dan Terakhir adalah Menguntai produk-produk terkait manajemen bencana saat ini dan masa depan dalam suatu Platform.

4.0 Membawa Kita dari Time Series Menuju Realtime

Era Time Series selama beberapa dasawarsa ini telah memberikan berbagai manfaat kepada kita di berbagai bidang. Melalui pemahaman pola perubahan suatu nilai terhadap waktu kita dapat memperkirakan kondisi di masa depan, tentunya dengan asumsi pola tersebut akan tetap konsisten atau setidaknya tidak mengalami perubahan secara signifikan di masa depan. Pemanfaatan kerangka berpikir time series ini dimanfaatkan di segala bidang termasuk dalam manajemen bencana sejak dulu hingga saat ini. Dengan menggunakan kerangka berpikir ini sering kali kita mendengar proyeksi dan prediksi tentang kebencanaan dimasa depan seperti kapan serta dimana akan muncul dan meningkatnya jenis bencana tertentu baik bencana bencana pada musim basah seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim hingga bencana bencana pada musim kemarau seperti kekeringan dan karhutla. Untuk bencana seperti erupsi gunung juga dilakukan analisis seperti ini sehingga kita tahu ada istilah status waspada, Siaga dan Awas pada gunung. Namun untuk gempa kita hanya dapat memahami polanya tanpa bisa menebak kapan ia akan terjadi.

Prediksi prediksi terkait kebencanaan baik untuk durasi waktu yang sebentar seperti prediksi pada bulan depan atau musim depan hingga durasi waktu yang sangat lama seperti 10 hingga 50 tahun kedepan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk berbagai alasan. Proyeksi dan prediksi demikian digunakan untuk mempersiapkan tindakan preventif, kesiapsiagaan atau melindungi aset aset kita dimasa depan. Untuk semua keperluan tersebut, pola pikir time series sudah cukup. Namun untuk keperluan sesuatu yang bersifat saat ini dan durasi waktu yang sangat pendek lainnya time series mulai kurang berdaya. Disaat inilah Revolusi 4.0 beserta barisan tekhnologi yang dibawanya mengambil peran penting.

Ilustrasi seorang pria yang sedang membaca berita online yang tentunya lebih cepat dari pada media media pemberitaan pada era sebelumnya (Image by kaboompics on Pixabay)

Tekhnologi-tekhnologi pengusung revolusi Industri 4.0 seperti IoT, Big Data dan AI membawa kerangka analisis statistik kita pada level selanjutnya, dari Time Series menuju Real Time. Dengan barisan tekhnologi tersebut, analisis analisis yang semula sangat sukar bahkan mendekati kata tidak mungkin saat ini dan kedepannya akan menjadi mungkin dan dan cepat. Ketiga tekhnologi kunci 4.0 berperan dalam membentuk suatu sistem penilaian Risiko Bencana, Sistem Penunjang Kesiapsiagaan & Peringatan Dini, serta Sistem Penanganan Darurat Bencana menjadi lebih baik dan cepat baik secara near real time hingga realtime.

Tekhnologi IoT saat ini telah dan akan terus dikembangkan untuk mengintegrasikan semua sensor sensor terkait kebencanaan. Tekhnologi pengelolaan Big Data pula sedikit demi sedikit telah dimanfaatkan oleh beberapa instansi untuk mengelola data data sangat besar dari segi jumlah, variasi dan cepat fluktuasi perubahannya, kebanyakan kementerian dan organisasi tersebut mengolah tumpukan big data-data berbentuk citra satelit, hasil model hingga data data tidak terstruktur seperti konten konten di media sosial, serta video dan photo dari alat alat yang mereka pasang. Untuk tekhnologi AI, tampaknya belum begitu berkembang dibandingkan dua tekhnologi sebelumnya. Ada beberapa instansi yang memproklamirkan tekhnologi AI yang mereka gunakan dalam penanganan terkait bencana. Berdasarkan hal hal diatas dapat dikatakan bahwa ketiga tekhnologi inilah yang nantinya membentuk dan membawa kerangka berpikir dan kerangka implementasi Manajemen Bencana di Indonesia dari Timeseries menuju Real Time.

Dari “Owning” Menuju “Sharing” yang Tak Terbatas dan Melampauinya

Jika pada era sebelumnya, kepemilikan aset pribadi merupakan suatu keharusan untuk berhasil menguasai suatu bidang, maka pada era Revolusi Industri 4.0 ini kita justru dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik dan sangat kontras bila dibandingkan dengan era sebelumnya. Pada Era Revolusi Industri 4.0 atau dapat pula dianggap sebagai Era Society 5.0 kita berada pada suatu gerakan untuk saling berbagi nilai aset untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam budaya berbagi ini seorang pemilik aset dapat memonitisasi asetnya dengan cara berbagi, baik nilai hingga berbagi aset mereka. Saat ini kita dapat dan telah terbiasa untuk berbagi pakai atau sekedar menikmati nilai suatu barang. Budaya berbagi ini kini kian lama kian tidak terbatas dan dapat melampaui batas batas yang yang tidak pernah terpikirkan pada era sebelumnya.

Pada Era Revolusi Industri 4.0, orang kini tidak sungkan lagi untuk menumpang dan menumpangkan seseorang tak dikenal menuju lokasi yang ia inginkan (Gojek dan Grab), Di era ini orang tidak sungkan menginap dan menginapkan seseorang tidak dikenal pada aset propertinya (dengan Airbnb). Pada Era ini pula orang tidak lagi sungkan memberikan sebagian dari rejekinya untuk dikumpulkan seseorang yang tidak ia kenal untuk keperluan sosial seperti sumbangan pada korban bencana dan sebagainya (dengan Kitabisa.com).

Saling Berbagi dan Saling Melengkapi adalah salah satu kunci untuk Manajemen Bencana Indonesia yang Lebih Baik (Image by BarbaraBonanno on Pixabay)

Budaya dan kerangka berpikir saling berbagi seperti ini akan membawa dan meletakan Manajemen Bencana di Indonesia pada Manajemen Bencana yang lebih humanis. Dengan bantuan tekhnologi pengusung Revolusi 4.0 maka tidak adala lagi batasan dan halangan bagi kita untuk untuk saling menolong dan saling meringankan saudra saudara kita saat terjadi bencana. Tidak hanya terbatas pada bantuan barang dan uang, budaya berbagi pula tampaknya akan bergerak pada tindakan tindakan fisik yang lebih nyata seperti berbagi informasi dan tenaga yang berlandaskan pada asas kepercayaan untuk mengurangi kerentanan, serta meningkatkan kapasitas kita dalam menghadapi bencana.

“Sebuah Impian ?” Membangun Plaform Kebencanaan dan Keselamatannya

Ini merupakan akhir namun bukanlah pengakhiran, ini juga merupakan muara dan antarmuka dari segala pergeseran dan perubahan yang di bimbing Revolusi 4.0 untuk Manajemen Bencana di masa depan yang lebih baik. Pembangunan sebuah platform kebencanaan bukanlah terbatas membangun sebuah aplikasi kebencanaan dan melemparkannya pada ekosistem mobile baik IOS maupun Android. Kita tidak boleh terperangkap dengan logika produk ,meskipun terlihat modern dan canggih sebuah aplikasi yang hanya menjalankan suatu tujuan tertentu dan tidak memberikan ruang bagi para pengguna untuk saling berbagi dan berinteraksi hanyalah produk tekhnologi biasa dan belum dapat dikatakan sebagai sebuah Platform.

Platform yang dimaksud disini lebih dari sekedar sebuah “produk” aplikasi kebencanaan. Platform yang dimaksud disini adalah suatu media yang melayani pergeseran kerangka berpikir kita yang mulanya sekedar time series menuju realtime. Sebuah platform yang memberikan layanan peningkat pemahaman kita terhadap posisi kita terhadap bencana. Tidak hanya posisi dalam arti sempit yang menggambarkan lokasi namun juga posisi risiko kita secara personal. Dengan tekhnologi IoT, Big Data dan AI, platform ini harus secara realtime menganalisis seberapa besar risiko kita terhadap setiap bencana dari waktu ke waktu. Melalui platform tersebut kita juga dapat berkomunikasi dan menjalani bimbingan untuk meningkatkan ketahanan kita terhadap bencana. Dan bilamana sudah terjadi bencana platform tersebut pula yang akan mampu menganalisis secara cepat dan menginformasikan kepada otoritas berwenang bahwa kita berada dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan segera.

Kata Kata Mendiang Steve Job yang merupakan salah satu inovator yang mengakhiri jebakan Era Produk dan membawa kita masuk kedalam Era Platform seperti sekarang (Image by FirmBee on Pixabay)

Dari platform ini hasrat berbagi kita yang saat ini telah berangsur menjadi budaya dapat tersalurkan dan terlayani dengan baik untuk meringankan penderitaan para korban bencana. Dengan platform ini pula para investor dapat memahami prospek dan risiko aset dan investasinya terhadap krisis dan bencana. Sebuah platform bukan hanya sebuah aplikasi yang melayani kebutuhan kebutuhan namun lebih dari itu sebuah platform bencana yang dibutuhkan kedepan adalah sebuah platform yang membentuk suatu kesadaran dan kebudayaan yang aman terhadap bencana dan memberikan keleluasaan berinteraksi pada masing masing pengguna guna meningkatkan kapasitasnya menghadapi bencana dan mengamankan aset aset mereka dari bencana.

Yang menjadi pertanyan sekarang adalah apakah era platform dalam manajemen bencana hanya sebuah impian kosong yang sukar dan tidak mungkin direalisasikan? Atau justru sebaliknya dari hari kehari bulan kebulan dan tahun ketahun, dengan bantuan tekhnologi pendukung Revolusi Industri 4.0 manajemen bencana di Indonesia akan beranjak menuju Manajemen Bencana yang baru dan lebih baik.

Revolusi Industri 4.0 jangan hanya diarahkan pada usaha untuk memperkaya segelintir orang saja. Revolusi ini juga harus diarahkan pada peningkatan kemampuan kita dalam misi misi kemanusiaan yang dalam hal ini adalah Manajemen Bencana di Indonesia yang baru dan lebih baik agar dapat menyelamatkan Jiwa lebih banyak, menyelamatkan aset dan harta benda lebih banyak dan mengurangi dampak bencana terhadap sosial ekonomi dan penghidupan para penyitasnya.

(Dewa Putu AM, 2019)

Untuk sampai kesana mungkin butuh usaha dan waktu yang panjang. Tetapi untuk permulaan, kita dapat memberikan sedikit sumbangan pemikiran dan tenaga untuk kemajuan Manajemen Bencana di Indonesia.