main

MeteorologiPopular TheoryPsikologiSains AtmosfirUncategorized

Siklus Pipis Dinosaurus

February 12, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-02-11-at-11.17.44-PM-960x509.jpeg

Hujan ini dari pipisnya siapa, dalam hati ku berguman sambil berbicara sendiri. Jari jemari pada lengan kiriku sendari tadi sibuk menunjuk butir hujan satu persatu. Sedangkan jari pada lengan lainnya mengatup dan bergerak lincah seakan sedang menghitung sesuatu. Tetiba keheningan sirna akan celetukan orang di samping yang tidak tahu sudah sejak kapan ada di sana “Wa,.. lu seorang Pluviophile ya?” tanyanya. Mendengar pertanyaan tersebut, saya menghentikan kegiatan saya dan memandang matanya dengan tajam, sejenak saya berpikir dan kemudian menjawab pertanyaannya dengan perlahan. “Pluviophile tu apa ya, saya baru dengar istilah itu e?” Saya menjawab sekenanya.

Mendengar jawaban tersebut teman saya membalikan badan dan kemudian berlalu begitu saja tanpa alasan yang jelas. Yah, kira kira begitu saja untuk paragraf intro dalam tulisan saya kali ini, cukup sederhana dan saya rasa lumayan tidak bagus dan tidak mewakili inti dari semua yang akan saya tuliskan dalam postingan kali ini.

View this post on Instagram

Djakarta Kini persi Diagonal

A post shared by dewa putu am (@dewaputuam) on

Secara sederhana Pluviophile dapat diartikan sebagai orang yang suka hujan, saat hujan seorang seperti ini dapat menemukan kedamaian dari kenikmatan tersendiri. Menurut saya pengertian diatas merupakan pengertian yang aneh dan saya tidak bisa habis pikir kenapa ada orang yang begitu menyukai hujan dan menemukan kedamaian didalamnya. Yah meskipun saya akui Pluviophile merupakan istilah yang cukup keren terbacanya, jadinya saya masukan kata tersebut dalam deskripsi akun instagram saya hehehe. Saya memang bukan seorang Pluviophile karena menurut saya hujan merupakan suatu fenomena cuaca biasa dan bukanlah sesuatu yang lebih spesial dari fenomena fenomena lainnya tidak lebih dari itu dan tentunya tidak juga kurang.

Siklus Pipis Dinosaurus

Kenapa saya tidak begitu suka dengan hujan, namun tidak bisa dikatakan bahwa saya tidak suka hujan juga. Saya hanya berpikir bahwa hujan hanyalah hujan sama dengan cerah yang hanyalah cerah. Namun sebenarnya ada satu hal menarik dari hujan. Apakah kalian menyadari nbahwa dalam setiap kejadian hujan, air yang turun adalah air yang sama dengan air pipis dari dinosaurus, air yang sama juga dengan air pipis kita hehehe, hanya saja air tersebut tidak serta merta terbang kelangit dan kemudian turun sebagai hujan. Dan mungkin lucunya lagi air yang sama itu juga yang selama ini kita minum hiyaksss,…. X____X

Saya akan coba menceritakan sedikit tentang siklus hidrologi yang dimulai dari pipis dinosaurus yang menguasai dunia selama 168 juta tahun. Dalam waktu tersebut cukup ,logis bila mereka untuk minum dan kemudian menghasilkan urine dalam jumlah yang melimpah. AIr urine dinosaurus yang melimpah ini kemudian jatuh ketanah dan atau ke sungai kemudian menuju laut. Beberapa air terserap tumbuhan untuk keperluan evapotranspirasi sedangkan sebagian lainnya masuk ke laut dan kemudian terevaporasi. Kedua proses tersebut (evaporasi dan transpirasi) kemudian masuk ke atmosfer dan terkonsentrasi membentuk butir butir awan. Awan yang sudah jenuh kemudian turun menjadi hujan.

Proses tersebut terus berlangsung hingga saat ini, entah sudah berapa kali si pipis dinosaurus tersebut berputar putar di darat laut dan udara dan beberapa kali pula telah diminum dan menjadi pipis makhluk lain lagi. Dan kemudian manusia datang meminum air tersebut hehehe. Untuk lebih terkait kita yang minum pipis dinosaurus dijelaskan dengan cakep di video dibawah ini.

Meskipun kita meminum pipis dinosaurus, dan pipis pipis makhluk sebelum kita, tapi kita patut bangga karena kita juga minum pipis nenek moyang kita #LuarBiasa. Oleh karea itu kita tidaklah boleh berbesar hati, dan berkata kita lebih hebat dari masa lalu, kita lebih unggul dan saat ini adalah kemajuan yang sangat hebat. Sehebat hebatnya kita, seprimitif primitifnya nenek moyang dan kebudayaan terdahulu, tetap kitalah yang minum urin mereka. Bagian ini sengaja saya tulis agar dalam posting saya kali ini ada sedikit pesan moralnya #Itu.

Sekian dari saya, Terimakasih karena telah membaca tulisan saya yang sedikit ngelantur ini dan kembali ke gaya penulisan masa masa awal nulis dulu. Salam hangat dari saya

Dewa Putu AM

BencanaPopular TheorySains PopulerUncategorized

Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0

February 9, 2019 — by dewaputuam0

IMG_20181021_151533-960x540.jpg

Pada tulisan ini, saya akan coba bermimpi sejenak dan membebaskan semua angan saya jauh ke masa dapan. Ini tentang Manajemen bencana pada masyarakat 5.0 atau dalam bahasa inggris disebut sebagai Society 5.0. Konsep tentang masyarakat 5.0 ini pertama kali di sampaikan oleh Shinzo Abe di pameran CeBIT, Hannover Jerman pada Maret 2017. Konsep ini juga di deskripsikan oleh pemerintah jepang secara keren dalam websitenya di link ini. Secara sederhana Imadudin Muhammad menjelaskan di tulisannya pada link ini, tentang masyarakat 5.0 yang merupakan konsep yang menggambarkan fase evolusi masyarakat yang sudah mengoptimalkan penggunaan artificial intelligence (AI), robotics, big data, dan drones. Masyarakat 5.0 merupakan suatu konsep masyarakat pada jaman industri 4.0 (yang agaknya sudah banyak sekali orang yang latah menggunakan istilah ini termasuk saya hehehe), Society 5.0 merupakan sistem masyarakatnya sedangkan industri 4.0 adalah platformnya.

Mungkin cukup di situ saja cuap cuap saya terkait gambaran umum Masyarakat 5.0. Saya akan mulai merekonstruksi apa yang saya bayangkan tentang manajemen bencana pada masyarakat 5.0 yang tentunya tidak terlalu jauh dari Artificial Intelligence (AI), robotics, big data, dan drones dan mungkin akan lebih tepat bila saya sertakan pula IOT, AR/VR, . Oia, tulisan ini terilhami dari beberapa pengalaman yang saya dapat selama 2 tahun berkecimpung di bidang bencana, buku bacaan saya The Great Shifting karya Rhenald Kasali, yang telah saya ulas pada tulisan sebelumnya, Buku Army of None karya Paul Sharre dan tentunya dari berita berita terkait society 5.0.

Profil Risiko Bencana per objek maupun personal secara realtime

IOT (Sumber Freepik)

Mengenali dan memahami risiko merupakan dasar dan permulaan dari suatu manajemen bencana. Manajemen bencana sulit berjalan dengan baik tanpa didahului oleh pemahaman risiko bencana. Pemahaman terkait risiko bencana di Indonesia saat ini telah difasilitasi dengan adanya aplikasi InaRISK yang dikembangkan oleh BNPB. Dalam aplikasi tersebut baik web maupun aplikasi berbasis Android dan IOS, kita dapat melihat ancaman bencana apa saja yang ada di sekitar kita. Ini menurut saya merupakan aplikasi yang sudah bagus. Namun karena disini kita sedang membahas masyarakat 5.0 tentunya pemahaman risiko bencana akan lebih berkembang lagi dengan adanya pemanfaatan tekhnologi Big Data, AI dan IOT. Berikut ini beberapa gambaran pemahaman risiko bencana kita bila ketiga tekhnologi tersebut sudah dapat di optimalkan.

  • Kita memahami Ancaman di sekitar kita secara realtime Penerpan IOT tentunya tidak hanya menjadi rumah kita semakin pintar, Penerapan IOT pada kebencanaan memberikan akses pada kita untuk megetahui dan memberikan peringatan akan kejadian kejadian bencana yang dapat mengancam keselamatan kita secara realtime. Jika hal ini sudah diterapkan, tentunya blunder tentang tsunami atau hanya gelombang pasang biasa kecil kemungkinan akan terjadi lagi. Sensor, radar, cctv dan citra yang terus memonitor kejadian kejadian disekitar kita, dan dengan adanya AI akan mengidentifikasi kejadian mana yang membahayakan dan mana yang masih dalam batasan aman. Jika ada suatu kejadian yang dirasa membahayakan, maka AI akan dengan segera menginformasikan manajer bencana dan masyarakat sekitar untuk melakukan aksi. Semua data dan informasi dari sensor, radar dan cctv tentunya memiliki jumlah besar, bervariasi tinggi dan arus trasfer datanya nya sangat cepat, disinilah teknologi big data dan AI kembali mengambil peran untuk memanajemen dan menganalisis data tersebut untuk menilai dan mengkoreksi tingkat ancaman wilayah secara realtime.
  • Kita memahami kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime Big Data yang diambil dari berbagai jejak digital yang diinggalkan masing masing orang baik dari pencariannya di mesin pencari (google dan bing); aktifitas media sosial (tulisan, foto dan video) yang dibagikan di klik, like, retweet; pergerakan yang di ambil dari GPS smartphone dan juga aktivitas ekonomi yang dilakukan akan dianalisis oleh AI dan dihasilkan sebuah pola dan karakter masing masing orang yang kemudian digunakan untuk menilai kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime. Ada sedikit kekurangan dalam konsep ini khususnya dari segi privasi, untuk mengakalinya tentunya perlu adanya suatu komitmen untuk menjaga data data yang dikumpulkan dan dianalisis tidak bocor dari perangkat dan akun masing masing orang, dan hanya informasi akhir saja yang dapat diterima oleh pemerintah dan pihak lain contohnya tingkat risiko masing masing warga, dan informasi berdasarkan agregat kewilayahan.
  • Kita memahami profil risiko kita masing masing secara realtime inilah hasil akhir dari dua poin diatas. Setelah tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas bencana baik personal maupun dengan agregasi tertentu dapat dinilai secara realtime, maka profil risiko pun akan dapat di nilai secara realtime. Profil risiko tiak hanya memberikan angka angka yang menggambarkan tingkat risiko suatu orang, objek atau wilayah terhadap bencana namun lebih dari itu, dengan data yang berlimpah yang telah dianalisis oleh AI tersebut, para manajer bencana akan diberikan informasi lengkap terkait karakter masing masing korban agar pelayanan terhadap korban lebih sesuai dengan karakternya dan kemudian meningkatkan peluang keberhasilan penanganannya. Sebagai gambaran saat ini, dengan bantuan AI, kita sebenarnya diberikan informasi informasi dan iklan iklan yang disesuaikan dengan karakter dan kecenderungan kita. Hal ini dipelajari oleh AI dari informasi jejak jejak digital yang kita tinggalkan dalam situs mesin pencari dan juga media sosial kita. Sekarang kita bayangkan informasi informasi tersebut digunakan untuk memberikan gambaran terkait profil risiko kita, maka dengan otomatis, dengan perlahan informasi informasi terkait kebencanaan dan beberapa ilmu dasar kesiapsiagaannya disisipkan dalam media sosial kita dan disesuaikan dengan ancaman, kerentanan, karakter dan tendensi kita. Dari informasi informasi tersebut, pendidikan bencana pun dapat lebih disesuaikan dengan dengan umur dan karakter masing masing personal.

Membantu Peningkatan Kinerja para Manajer dan Pegiat Kebencanaan

Ketersediaan data dan informasi yang cepat dan tepat merupakan suatu kunci dalam manajemen bencana pada masyarakat 5.0. Ketersediaan informasi terkait profil risiko bencana pada setiap agregasi masyarakat, dari personal ke desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara hingga masyarakat internasional dapat dijadikan sebagai salah satu dasar pembuatan kebijakan, kesepakatan dan peraturan peraturan dalam manajemen bencana yang sesuai dengan karakter dan profil risiko bencana untuk masing masing entitas yang akan ditangani. Peran AI, IOT dan BIG data disini tidak hanya terbatas pada penyediaan bahan-bahan awal penyusunan kebijakan dan lain lainnya itu. Peran ketiga tekhnologi tersebut juga akan terlihat pada implementasinya.

Setelah pemerintah, manajer bencana dan pegiat bencana menyepakati kebijakan dan aturan baru dalam manajemen bencana, maka AI akan memasukan kebijakan atau aturan tersebut dalam protokolnya. Misalkan terdapat peraturan baru terkait tata ruang daerah pesisir untuk mengurangi risiko tsunami yang menyatakan dilarang membuat bangunan yang tidak memiliki standard aman dari tsunami. Saat kontraktor mengurus perijinan, AI mulai menilai apakah bangunan yang akan dibangun oleh kontraktor tersebut sesuai dengan peraturan terbaru yang ada, jika tidak sesuai maka permohonan ijin akan di tolak.

Selain berperan dalam implementasi kebijakan, AI juga berperan dalam Implementasi rencana kontijensi yang telah di buat. AI disini berperan untuk memastikan dan mengingatkan peran masing masing stakeholder dan juga mengumpulkan data dan informasi kegiatan penanganan bencana untuk kemudian memberikan kembali informasi terkait status terkini dari penanganan bencana yang sedang dilakukan. AI akan mengidentifikasi hal hal esensial yang terlewat dan juga melakukan mengajukan saran saran untuk mendukung penyusunan langkah langkah strategis aksi penanganan bencana yang perlu dilakukan para pegiat bencana.

Terkait penilaian situasi ketika bencana, AI secara otomatis akan mengakses semua informasi citra, radar, sensor, hingga jejak dijital terkait wilayah dan masyarakat terdampak. Berdasarkan infrmasi informasi tersebut AI akan memberikan gambaran umum terkait cakupan dampak dan tingkat keparahan masing masing wilayah. Untuk melengkapi informasi tersebut AI mengirimkan tiga jenis drone yang satu berupa drone yang terbang melayang 24/7 untuk menyediakan koneksi internet dan saluran komunikasi, drone tipe kedua berupa drone observasi yang secara mandiri bergerak untuk mengakuisisi informasi visual daerah terdampak dan drone tipe ketiga berupa swarm drone yang terdiri dari jutaan drone kecil bergerak secara kumunal dan berpencar mencari korban berdasarkan informasi dari drone observasi dan jejak digital para korban. Swarm drone berukuran sangat kecil sehingga dapat mengakses celah celah kecil reruntuhan bangunan. Masing masing unit dari swarm drone memiliki sensor sensor untuk memonitoring kondisi para korban, setelah menemukan korban, swarmdrone akan melekat, memeriksa kondisi korban dan memberikan informasi lokasi maupun kondisi tersebut kepada pusat komando.

Ilustrasi Swarm Drone (Sumber: David BBC)

Pos Komando dibantu dengan AI akan melakukan analisis prioritas penyelamatan korban berdasarkan tingkat urjensi dan tingkat kesuksesan penyelamatannya agar jumlah korban yang berhasil diselamatkan semakin banyak dan cepat. Selain ke pos komando untuk keperluan penyelamatan, swarm drone juga mengirimkan informasi tersebut kepada masing masing klaster baik klaster kesehatan untuk menyiapkan perlengkapan kesehatan (peralatan operasi dan obat obatan) yang dibutuhkan, perlindungan pengungsi untuk menyiapkan tenda tenda dan makanan.

Lengan lengan robot digerakan untuk membantu mengangkat reruntuhan sembari terus memantau kondisi para korban yang telah tertempel swarm drone. AI akan mengidentifikasi korban korban yang membutuhkan waktu lama dalam evakuasi dan kemudian mengirimkan drone logistik dan obat obatan awal yang secara langsung dikirimkan kepada korban-korban tersebut.

Kondisi para korban akan dilaporkan pada para manajer bencana yang kemudian dikirimkan langsung pada masing masing keluarganya. Keluarga yang merasa salah satu anggota keluarganya hilang kontak dapat menghubungi AI untuk kemudian mencocokan identitas mereka (baik secara tertulis maupun biologis (DNA, pupil mata dan sidik jari) dengan korban korban yang ditemukan swarm drone.

Saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang, dan jika lebih panjang lagi akan menjadi tidak bagus. Untuk itu tulisan ini saya potong sampai sini dulu dan akan berlanjut pada tulisan Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0 bagian ke 2

Sekian dari saya, semoga angan angan ini suatu saat dapat terwujud, sampai jumpa di tulisan bagian ke 2 dan Salam hangat dari Saya

Dewa Putu AM

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] The Great Shifting

February 5, 2019 — by dewaputuam1

252-960x960.jpg

Akhirnya saya dapat menyelesaikan misi untuk membaca karya terbaru Prof Rhenald Kasali ini. Saya membeli buku ini tanggal 8 July 2018, jadi bisa dikatakan saya langsung membeli buku ini saat buku ini pertama di rilis #yeayyy dan menjadi satu diantara timbunan buku di lemari saya. Seperti yang saya utara kan sebelumnya dalam postingan di link ini bacaan saya ditahun 2018 sangat lah minim meskipun saya masih rajin muter muter di gramedia dan berburu buku buku dengan judul yang sekiranya menarik bagi saya. Setelah menemukan buku yang menarik, buku tersebut akan saya timbun bersama kawan kawan sejawatnya. Begitulah nasib beberapa buku saya di tahun 2018 (malangnya nasib buku buku ku itu #uwuwuwuwu). Tetapi semua itu akan berubah, dikit demi sedikit timbunan buku saya akan saya taklukan di tahun 2019. Saya yakin saya bisa nyelesaikan timbunan timbunan buku buku tersebut mumpung belum ada buku terbitan 2019 yang menurut saya bagus dan menarik untuk dibaca di tahun ini hehehe.

Oia, selain buku cetak juga saya beberapa tahun belakangan ini telah shifting ke arah buku elektroni (pinjam istilahnya di buku ini). Aplikasi ebook yang saya gunakan adalah Google PlayBook yang agaknya cukup menarik bila saya bahas di posting berikutnya, namun untuk tulisan saat ini saya akan fokus pada pembahsan terkait buku karya Prof Rhenald Kasali yang berjudul The Great Shifting. Setelah saya selesai membaca buku ini, saya sadari sesuatu yang menurut saya cukup penting. “Buku ini bukan lah novel”. Buku ini tidak memberikan angan-angan semu tentang kemegahan masa depan dengan berbagai macam gimiknya, Namun sebaliknya, buku ini menceritakan kepada kita bahwa masa depan bukan lagi dekat dengan sekarang tetapi masa depan adalah sekarang “Tomorrow is Now“. Jargon tersebut disebut beberapa kali oleh sang Profesor dalam bukunya baik secara tersurat ataupun tersirat. The Great Shifting atau jika diterjemahkan secara bebas berarti “Pergeseran Besar” sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan berlanjut terus hingga kapan pun saat ini masih menjadi misteri.

Oia Ada satu hal lagi yang menarik dari buku ini, Prof Rhenald dalam tulisannnya secara langsung menyinggung dan mematahkan anggapan beberapa orang pesimis yang beberapa tahun ini mengeluhkan Daya beli masyarakat Indonesia sedang melemah. Benarkah demikian?

DESKRIPSI SINGKAT BUKU

Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018. Menurut saya buku ini cukup tebal yakni sekitar 500-an lembar. Saya rasa itulah alasan utama saya mengendapkan buku ini selama 6 bulanan, bukan waktu yang sebentar untuk mengendapkan buku sebagus ini. Melihat ketebalan buku ini cukup membuat saya enggan untuk membaca. Namun harus saya akui bahwa dari segi cetakan, design buku dan segala tampilan lainnya buku ini menarik untuk dimiliki hehehe, meski design covernya bagus sih tetapi kurang menarik, sehingga bagi sebagian orang yang menilai buku hanya dari covernya (seperti saya) akan mudah sekali melewatkan kesempatan luar biasa untuk membaca buku dengan isi yang semenarik ini. Saya tidak tahu apa yang membuat penilaian saya terhadap cover buku ini seperi itu, designnya bukan jelak namun saya rasa akan lebih baik bila meminimalisir tulisan di depannnya karena saya rasa terlalu sesak.

Lanjut dari sisi isi buku. Ini yang cukup saya sesalkan sebenarnya. Kenapa saya selama ini menimbun buku ini dan tidak membacanya. Menurut saya buku ini sangat bagus dengan gagasan yang fresh bagi sebagian orang seperti saya dan menjelaskan dengan baik fenomena fenomena yang terjadi disekitar kita saat ini. Tidak hanya berfokus kepada sisi ekonomi yang Shifting seperti buku buku lainnya namun buku ini dengan sangat indahnya menjelaskan bahwa pergeseran juga terjadi pada kehidupan dan cara hidup kita sebagai manusia. Perubahan kehidupan dan cara hidup itu digambarkan dengan contoh contoh yang sering kita temui di duania nyata dan beberapa diantaranya pernah viral di jagat maya kita. Oia, seperti review review generik lain tentunya saya akan mengatakan bahwa cara penulisan dan gaya bahasa dari buku ini cukup sederhana sehingga lebih enak dicerna. Tulisan ini masih bisa dipahami oleh orang orang yang tidak begitu paham tentang hal hal yang bersifat teksnis dan orang orang yang tidak terlalu pintar seperti saya hehehe.

INSIGHT BUKU

Ada banyak sekali gagasan menarik yang saya temukan dalam buku ini dan akan menjadi sulit dan panjang bila saya jabarkan satu persatu dalam satu tulisan. Saya telah menuliskan satu gagasan menarik tersebut dalam sebuah tulisan Kepribadian Lain di Dunia Online. Saya sebenarnya lebih suka gagasan gagasan terkait Cyber psycology yang dipaparkan dalam buku ini, karena gagasan gagasan lain terkait pergeseran di beberapa bidang seperti pendidikan, perbankan, Game, Periklanan serta Budaya Belanja rasanya sudah pernah saya baca baik dari buku lain maupun berita berita online.

Sesekali saya tersenyum ketika membaca beberapa bagian di buku ini dan berkata dalam hati, “ah ternyata gini ya” ,dan kemudian pada bagian lainnya saya berujar kecil “hahaha ia benar juga ya”. Bagian yang paling banyak momen momen seperti itu ada pada Bab 2 tentang Tekhnologi yang mengubah interaksi Manusia, Bab 3 tentang Ketika yang Tersembunyi Terungkap dan Bab 9 tentang Esteem Economy, Ketika Setiap Orng Haus Pengakuan.

Bila boleh saya simpulkan tulisan ini, Secara keseluruhan saya sangat puas dapat selesai membaca buku ini. Buku yang sangat menarik dan ditaburi segudang gagasan menarik dan tentunya menjelaskan dengan gamblang bahwa The Great Shifting bukanlah angan angan akan hari esok, The Great Shifting sedang terjadi saat ini. Melihat hal tersebut beliau memberikan pilihan, apakah kita hanya akan mencari kambing ber cat hitam untuk dipersalahkan dan menampung segala keluh kesah perubahan yang terjadi, atau kita mulai mengambil tindakan bergesar bersama menuju masa depan yang bukan lagi di depan. #IniGueNgomongApaDah.

Dan Berhubung saya saat ini bekerja di bidang manajemen bencana, yang jadi pertanyaan besar bagi saya adalah, Apakah atau akankah the greatshifting ini sudah atau akan mengubah pola pola manajemen bencana di negeri kita saat ini, berhubung pada tahun 2018 kita di bangunkan oleh rentetan kejadian bencana yang tentunya memberikan banyak pelajaran bagi kita. Dan pertanyaan penting lainnya adalah, apa yang terjadi bila kita tidak berubah?

Saya rasa cukup sekian.

Salam

Dewa Putu AM

Featured Image Designed by Makyzz / Freepik

BukuDaily LifeHiburanPsikologiUncategorized

“Kepribadian Lain” di Dunia Online

January 31, 2019 — by dewaputuam2

393952-PCOICX-223-960x960.jpg

Keanehan “Mereka” di Dunia Online

Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]

Berhubung tahun ini sudah memasuki tahun tahun politik yang seperti kita akan banyak menyaksikan banyak hal “lucu” berseliweran di dunia maya baik itu yang ada di buku muka, burung biru, yusup, hingga sosmed gambar tipu-tipu. Kelakuan netijen akan semakin ajaib dan tidak jarang bermunculan konten-konten yang diluar batas imajinasi terliar kita #hasek. Saya sebenarnya ingin memberikan contoh-contoh keajaiban netijen netijen tersebut namun cukup serem jadi tidak saya tampilkan agar tidak ada yang terluka. Meskipun saya tahu pembaca tulisan saya adalah golongan orang orang keren yang kecil kemungkinannyamemiliki keajaiban para netijen yang saya bahas pada post ini [#penjilat].

Ada suatu buku yang menarik yang sedang saya baca saat ini, Judul buku tersebut adalah “The Great Shifting” Karya Rhenald Kasali. Dalam buku tersebut, Prof Renald menceritakan suatu keanehan prilaku yang banyak muncul di kalangan netijen yang sebelumnya saya sudah sebutkan. Kelakuan aneh itu tampaknya akan meningkat di tahun tahun ini #bersiaplah. Netijens maha benar dengan segala keajaibannya sudah mulai merajalela dan menebarkan semua pesonanya. Entah itu diakui atau tidak, secara sadar ataupun tidak sadar, kita pun terkadang terdampak oleh fenomena ini. Atau mungkin justru kita sering dan kitapun menjadi salah satu netijem maha benar itu :). Fenomena ini saya rasa berpengaruh ke semua orang dan tidak pandang bulu, namun memiliki kadar yang berbeda beda sehingga “yang tampak dipermukaan” hanya segelintir orang saja. Itupun jika lingkungan kita sudah cukup kece terhadap internet ya, kalau tidak ya mungkin bukan lagi “segelintir orang” tetapi kebanyakan orang.

Tentang Online Disinhibition Effect [ODE]

Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)

Online Disinhibition Effect atau biasa disingkat dengan ODE, dapat dijelaskan dengan ringkas melalui gambar diatas. Secara sederhana, fenomena munculnya keajaiban keajaiban para netijen menurut teori ini merupakan hasil dari sifat anonimitas internet dan kurang pedulinya para penggiat online (didominasi oleh kaum yesman). Dalam dunia online orang akan cenderung lebih berani, dan lebih merasa bebas melakukan apapun tanpa ada hambatan. Hal ini dikarenakan karena mereka merasakan bahwa identitas mereka tidak di ketahui (anonim) dan menduga tak ada orang lain yang memperhatikan nya atau paling tidak tidak ada orang lain yang mereka kenal memperhatikannya. Hal ini akan berimbas pada menurunnya pengendalian akan tingkah laku pribadi atau istilah lainnya teradi penurunan Inhibition Control. Dalam buku The Great Shifting, Rhenald Kasali menjelaskan bahwa “Inhibition Control adalah kemampuan yang didapatkan manusia dari serangkaian latihan sejak kanak kanak untuk mengendalikan saraf saraf impulsif (dorongan otomatis atau spontan) dan memberikan respon perilaku melalui “attention” dan “reasoning”.

Pada dasarnya, Inhibition Control menggambarkan kemampuan kogniitif seseorang dan terlihat dalam cara dia mengantisipasi, perencanaan dan setting tujuan. Seseorang yang memiliki Inhibition control yang baik akan baik pula ia dalam bertindak, menulis dan berucap. Jika kurang, hal hal yang bersifat impulsif akan mendominasi sehingga kontrol diri dalam bertindak, menulis dan berucap akan menjadi kurang begitu sehat.

Dari sini akan terlihat kekurang siapan kita akan tekhnologi yang ada sekarang, jika pendidikan dulu terfokus pada pelatihan Inhibition Control kita di dunia nyata yang notabennnya kita dapat dengan jelas mengetahui bahwa kita sedang di awasi dan ada nilai dan norma lain yang mengingatkan dan bahkan mengikat agar berperilaku baik. Tentunya baik berdasarkan nilai norma yang berlaku di lingkungan kita tentunya. Saya akui bahwa baik itu pun relatif tergantung dari nilai dan norma yang dianut oleh orang.

Ketika kehidupan kita mulai dimasuki tekhnologi internet, kita pun menjadi kaget dan beberapa yang tidak siap dengan perbekalan nilai dan norma yang kuat akan merasa bahwa ini adalah saatnya mereka bebas, tidak ada yang tahu apa yang mereka perbuat, tak perlu lagi malu mengekspresikan diri, tulis dan bagikan lah sesuka hati, toh tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di dunia maya ini. Ini dunia maya, bukan lah dunia nyata. Kondisi demikian yang kemudian menciptakan pribadi pribadi lain yang bukan hal yang jarang bila bertolak belakang dari pribadi yang kita jalani di dunia nyata.

Yang jadi pertanyaan besar bagi kita sekarang adalah,

“JIka kita merasa bebas karena Anonimitas?, Apakah kita yakin bahwa kita benar benar Anonim di dunia Maya Ini?”

Jika jawabannya yakin, saya sarankan mainlah lebih jauh dan pulanglah lebih malam. hehehe. sekian dari saya, mungkin tulisan ini tidak begitu berfaidah namun saya rasa ini suatu keresahan yang agaknya perlu saya tuliskan di sini. sepertinya sudah sampai disini saja, Akhir Kata saya ucapkan terimakasih atas waktunya

Salam.

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Ilustrasi
1. Feature Image Designed Freepik
2. Gambar Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]
3. Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)

Daily LifeGameHiburanPsikologiUncategorized

Cerita Tentang PUBG dan Kehidupan

January 27, 2019 — by dewaputuam0

9fc0a20d-38ca-4c27-8628-73475cc7c252_PUBGMobile_5-960x640.jpg
PUBG Sanhok (Sumber: bgr.in )

Tulisan ini saya buat sebagai jawaban atas request teman saya yang menginginkan tulisan terkait PUBG dan teman lainnya request tentang Kehidupan #haseek. Kedua topik tersebut tampaknya kurang begitu nyambung ya, tetapi cukup menarik jika kita coba hubung hubungkan hehehe. Saya kurang begitu yakin kengemengan saya dapat tertahan dalam postingan ini, jadi sekedar mengingatkan buat teman teman pembaca, jangan terlalu percaya dengan tulisan saya kali ini karena tidak semuanya benar namun cukup fair juga kan kalau saya bilang tulisan ini tidak semuanya juga salah #sip. Mulai ke topik,

Sekilas Tentang PUBG [Mobile]

Permainan PUBG mobile merupakan permaianan game dalam perangkat mobile (ios dan android) yang karya Tencent Games. Pada dasarnya ini merupakan sebuah game battle royal dimana 100 pemain tanpa senjata diterjunkan pada suatu wilayah yang luas, saling sikut cepat2an cari senjata dan perlengkapan kemudian baku tembak untuk menjadi satu satunya yang dapat bertahan hidup hingga akhir (sesederhana itu sudah). Dalam permainan ini kita bisa memilih pertandingan solo, duo atau squad, tapi biasanya lebih seru squad, karena kita bisa bacot bacotan (melepas semua emosi) sama teman atau malah dibacotin satu tim, konyol2an atau pun bisa juga serius membentuk strategi agar bisa bertahan sampai akhir.

Dalam tulisan ini tentunya saya tidak akan memberikan trik trik agar bisa dapat chicken dinner (istilah untuk solo, duo atau squad yang berhasil bertahan hingga akhir). Saya tidak memberikan hal hal itu karena sudah banyak orang diluar sana yang menuliskan entah itu dalam bentuk blog ataupun vlog. Oleh karena itu kali ini saya mencoba untuk sedikit bercerita tentang apa apa saja trik bermain dalam PUBG yang mungkin saja bermanfaat di dunia nyata.

Belajar Hidup dari Game PUBG

Ada beberapa aspek dalam permainan PUBG mobile yang dapat kita jadikan pelajaran yang cukup menarik dan bagi saya cukup sesuai diterapkan dalam hidup kita. Mungkin terdengar berlebihan, namun menurut saya kita bisa belajar dari mana saja, ya termasuk dari sebuah game yang tentunya tidak serta merta dapat kita terapkan secara bodoh, cukup ambil intinya saja.

  • Dimulai dari Terjun Bebas : Permainan ini dimulai dari terjun bebas dan sebenarnya strategi sudah harus mulai disusun apakah kita akan memainkan tipe permainan yang offensive yang barbar atau ingin permainan yang tenang dan cenderung defensive? Penentuan strategi inilah yang kemudian menentukan dimana dan kapan kita akan terjun. Keraguan sedikit saja dan tidak adanya strategi yang jelas akan mengantarkan kita keawal permainan lagi dengan lebih cepat (terlalu dini mati dan masuk lobby hehehe). Begitu juga dengan hidup, sebelum masuk ke suatu stage, kita perlu dengan cepat menentuakan tipe peran yang akan kita mainkan, ingin menjadi seseorang yang offensive dan terus memberikan tindakan tindakan yang menjadi triger lainnya atau ingin memainkan peran yang pasif dan hanya merespon aksi aksi dari pihak lain. Sama seperti permainan, terlambat kita menentukan tipe permainan kita, terlambat kita terjun maka terlambat ula kita akan melakukan aksi ataupun respon. Keterlambatan disini tentunya tidak hanya memberikan dampak se-cere masuk lobi, namun bisa lebih dari itu. Diluar dari itu semua, ada satu poin sangat penting yakni kata “Terjun”, ntah itu hasilnya seperti apa, namun dengan kita terjun kesempatan akan selalu terbuka.
  • Melooting Apa yang Ada : Setelah kita terjun di lokasi yang kita kehenaki, yah meskipun terkadang kita perlu terjun di tempat lain karena keterlambatan kita atau faktor-faktor lain, satu kegiatan yang harus kita lakukan sesegera mungkin ajadalh “Looting” mungut barang barang yang ada apapun itu tapi paling penting adalah barang barang yang kita perlukan untuk menyerang dan bertahan baik itu senjata, ataupun pelindung. Sama seperti hidup, ketika kita terjun maka kitapun harus mengambil hal hal dasar apapun yang sekiranya akan kita perlukan dalam permainan, tak perlu memilah milah, (ambil semua dahulu) ketika dirasa sudah mencukupi kebutuhan dasar barulah kita boleh mulai memilah milah dan mencari apa yang kita inginkan. Dalam melooting pun kita tidak boleh terlena dan terdiam terlalu lama di suatu dan kita harus terus bergerak ke lokasi lokasi lainnya untuk memaksimalkan pendapatan kita. Poin pentingnya adalah kita harus ambil apapun yang kita butuhkan terlebih dahulu baru ambil yang kita inginkan.
  • Menyerang, Bertahan atau Kabur : Jika kita selamat dari fase looting me looting saatnya kita mulai memainkan peran kita. Kita memiliki cara tersendiri dalam bermain, ada yang terang terangan menyerang, ada yang sembunyi sembunyi menyerang, ada yang sembuyi sembunyi sembunyi aja, ada pula yang tunggu di serang dahulu namun (saya biasanya memilih kabur hehehe). Apapun yang kita lakukan ntah itu menyerang, bertahan ataupun kabur harus didasari dengan pertimbangan yang matang baik posisi, waktu dan situasi yang ada. Kita boleh barbar, tapi bodoh jangan lah. Sekali kali tak papa si untuk seru seruan hehehe. Poin pentingnya apa yaaa,.. saya juga tidak sebegitu paham dalam hal ini karena setiap orang punya seninya sendiri. Tapi dari beberapa trik yang saya baca dan coba ada satu yang perlu kita lakukan yaitu “Bergerak”. Ya, kita harus terus bergerak (bukan gerak gerakan tidak perlu) tetapi gerak yang pasti ntah itu bergerak untuk segera menyerang, bergerak ke batu/dinding untuk bertahan atau bergerak dengan cepat untuk kabur. Yang jelas kita harus selalu bergerak, karena yang berubah tidak hanya kita dan lawan kita namun lingkuman pun senan tiasa bergerak, yang tidak bergerak tentu akan mati konyol. Dalam hidup kadang kita menemukan halangan, hambatan atau bahkan tantangan. Kita boleh saja bediam diri sejenak, namun ingatlah kita harus terus bergerak untuk mencapai apa yang kita inginkan, gerakan disini tidak melulu lurus ke titik tujuan, karena sekali lagi saya tentunya mengingat bahwa kita punya cara masing masing yang dalam hal ini cara kita bergerak menuju tujuan yang kita inginkan.
  • Jangan Terlalu Serius, Ini Hanya sebuah Game : Saya rasa ini suatu farasa yang tepat dan menjadi penutup yang cakep untuk tulisan ini. Kita boleh serius menentukan strategi, kita boleh serius menentukan langkah dan tindakan, kita juga boleh serius dalam terus berjalannnya kita. Namun,… ada satu hal yang harus selalu kita ingat “Jangan Terlalu Serius lah,… Ini Hanya Sebuah Game. Terkadang kita kesal karena dikecewakan oleh tindakan rekan satu tim tak jarang pula kita kecewa oleh tindakan konyol sendiri atau sedikit penyesalan karena kita tidak melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan. Namun apapun itu kita juga perlu ingat “Ini hanya sebuah game” Nikmati lah setiap momennnya. Yah, saya akui terkadang hidup memang tidak sesederhana dan sebercanda itu, Frase “Ingat ini hanya sebuah game” yang saya maksud disini bukan sekedar pada menyepelekan tentang hal hal yang kita lakukan. Frase ini lebih dari itu kawan :). Frase ini tentang kesadaran akan diri kita tentang apa yang sedang kita lakukan dan hadapi sebenarnya. Kita harus sadar apa yang sebenarnya sedang kita lakukan dan seperti apa dampaknya baik untuk diri kita maupun orang lain kedepannya. Dengan memahami apa yang sedang kita lakukan dan dampaknya, setidaknya kita dapat memebrikan respon yang wajar dan cukup (tidak kurang dan tidak berlebihan) sehingga energi kita cukup untuk mengantipasi game berikutnya :).

Mungkin cukup sekian saja hal hal yang pelu saya tuliskan kali ini mengingat jumlah kata dalam postingan ini sudah melampaui 1000 kata yang mungkin sudah membosankan bagi beberapa dari kalian. Silahkan looting apa apa saja yang baik dalam tulisan ini dan lupakan saja apa apa yang tidak penting. Salam hangat dari saya.

Dewa Putu AM

BukuDaily LifePsikologiUncategorized

Kenalan Sama Diri Sendiri

January 15, 2019 — by dewaputuam4

fc70650b208d0812fca26853e99c1409-960x640.png

Saya baru tersadar, selama ini kita terlalu sibuk mengenal orang lain hingga kita lupa untuk berkenalan pada diri kita sendiri.

Keinginan saya untuk membuat tulisan ini terihlami dari buku yang saya sedang saya baca beberapa hari ini yaitu buku “Better than Before” karya Gretchen Rubin. Sejauh yang saya baca (saya belum selesai baca hehehe) Ada satu konsep yang baru saya ketahui dan menurut saya cukup menarik dari buku ini yaitu tentang konsep Empat Tendensi Manusia yang ada pada bab Mengenal Diri Sendiri. Pada tulisan ini saya akan mencoba sedikit mengulas hal tersebut, karena menurut saya ini penting agar setidaknya kita sadar “Meskipun kita sama, tetapi kita cukup berbeda untuk disamakan”. AGak jelimet ya bahasa saya, intinya si kita sebagai mausia punya keunikan masing masing termasuk tendensi kita (kecenderungan) kita untuk merespons sebuah ekspektasi.

Kenali dulu Diri Sendiri Sebelum Mengenal yang Lain ?

Mengenali diri sendiri, menurut saya sama pentingnya atau jika boleh ekstrim saya rasa bahkan jauh lebih penting dari mengenal orang orang disekitar kita. Hal itu cukup masuk akal karena bagaimana kita bisa dengan yakin mampu mengenal orang lain bila dengan diri kita sendiripun kita tidak kenal. Kenal yang saya maksud disini bukan hanya terbatas pada nama namun lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud juga bukanlah kenal secara fisik, yang seolah olah kita hanyalah seonggok daging dengan aliran adarah didalamnya saya ingin lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud disini bukan pula kenal sifat sifat yang teramalkan dalam Astrologi, Shio atau apapun itu.

Another Me (Sumber: graffitiprints.com)

Siapa kita sebenarnya? siapa yang memikirkan untuk membuat tulisan ini, siapa pula yang memerintahkan jari jemari saya untuk menyatakan apa yang dipikirannya kedalam bentuk tulisan di blog ini. Dan siapa sang kesadaran ini yang saat ini dengan bingungnya bertanya melalui tulisan ini.

Saya baru sampai pada pertanyaan yang berkutat pada keingintahuan saya tentan “siapa kah saya ini” sudah cukup membingungkan, belum lagi pertanyaan seperti apa saya sebenarnya dan juga belum pada pertanya apa yang sebenarnya saya inginkan dalam sesuatu yang di sebut “hidup” ini. Nah,.. saya semakin bingung kan. -_____-
Kenapa pertanyaan pertanyaan ditulisan ini menjadi semakin rumit ya, padahal rencana awal tulisan saya hanya ingin membahas tentang konsep empat tendensi yang ditawarkan oleh Gretchen Rubin. Mungkin pertanyaan pertanyaan tadi tidak dapat saya jawab disini atau lebih tepatnya tidak begitu penting (untuk kalian) jika saya tuliskan disini karena saya yakin jika kalian tanayakan hal tersebut pada diri kalian sendiri akan menghasilkan jawaban yang berbeda beda pula.

Untuk Sementara, Kenali Diri Sendiri seperti Orang Lain

Mungkin kalian bingung kenapa saya menuliskan sub judul “Untuk Sementara, Kenali Dirimu Seperti Orang Lain”. Saya secara sengaja memberikan judul seperti itu karena iseng belaka. Menurut saya konsep pengenalan diri sendiri yang di tawarkan buku-buku, video, tentunya termasuk tulisan ini itu dari orang lain, yang untuk sementara bukan lah suatu yang salah bila kita gunakan untuk mengenali diri kita sendiri. Yah meskipun bukan suatu yang 100% benar juga sih, tapi tetap ada gunanya lah ya, dan menurut saya konsep yang diberikan Gretchen Rubin cukup menarik.

Ini konsep pembagian manusia menjadi empat kelompok berdasarkan tendensinya atau dengan kata lain kecenderungan orang dalam merespon ekspektasi. Saat menetukan dan melakukan sesuatu sesuatu, kita biasanya akan menetapkan sebuah ekspektasi untuk diri kita sendiri. Ada dua jenis ekspektasi berdasarkan sumbernya yaitu ekspektasi eksternal (mematuhi aturan aturan, harapan dan kepercayaan orang lain) dan ekspektasi internal seperti (resolusi, keinginan keinginan pribadi kita untuk lebih sehat, untuk lebih lebih lebih lainnya) Secara sadar ataupun tidak sadar, secara bersamaan kita mendapatkan keda jenis ekspektasi itu di semua kegiatan kita. Menurut Gretchen Rubin, setidaknya ada 4 kombinasi respon yang akan diberikan kita pada kedua tipe ekspektasi tersebut, 1 kombinasi respon tersebut dilambangkan sebagai satu Tendensi. Jadi setidaknya ada 4 Tendensi Bawaan manusia untuk merespon ekspektasi. Keempat Tendensi tersebut antara lain Upholder, Questioner, Obliger dan Rebel. Secara sederhana ke empat tendensi tersebut dapat diringkas melalui gambar diagram dibawah ini.

Empat Tendensi Gretchen Rubin (SUmber Gambar:The Four Tendencies Quiz)

Saya akan menjelaskan satu persatu ciri keempat tendensi tersebut menurut Gretchen Rubin agar seidaknya kita bisa memahami bahwa kita sebenarnya memiliki perbedaan kecenderungan satu sama lain, sukur sukur bia digunakan teman teman untuk mengefektifkan kampanye kampanye yang biasanya sih beberapa bulan ini bakal banyak tu juru kampanye dadakan yang berseliweran di facebook dengan segala rupa tingkah lucunya hehehe. Oke saya mulai penjelasan terkait 4 tendensi:

Upholder

Bagi Uphoalder Kedisiplinan adalah kebebasan. Si pecinta kedisiplinan ini merespon ekspektasi internal dan eksternal dengan senang hati. Dari mulai bangun tidur mereka sudah berpikir “Apa tugas dan Jadwal yang harus dikerjakan hari ini?”. Upholder biasanya orang yang dapat sangat diandalkan oleh orang lain dan juga tentunya diri mereka sendiri. Akan tetapi terkadang akan terlihat berlebihan karena mereka terlalu kaku terhadap peraturan bahkan untuk peraturan peraturan tak tertulis yang tidak begitu penting, kalau saya melihatnya seperti penjilat sih hehehe ternyata mereka bukan penjilat ya dan mereka memang memiliki kebiasaan unik seperti itu. Kekurangan dari upholder akan tampak bila ia dihadapkan pada ekspektasi yang tidak jelas atau tidak ada aturan yang jelas.

Questioner

Tipe orang yang memiliki tendensi ini merupakan orang yang sangat kritis. Mereka akan menanyakan semua jenis ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka hanya akan merespon jika mereka dapat menyimpulkan bahwa ekspektasi tersebut masuk akal. Mereka biasanya bangun pagi dan bertanya ” Apa yang perlu sya kerjakan dan kenapa?”. Ketika tidak ada jawaban apa dan kenapanya mereka tidur lagi #eh. Questioner termotivasi oleh alasan yang masuk akal, atau setidaknya apa yang mereka percayaisebagai alasan yang masuk akal. Kekurangan Questioner jika begitu akaut dapat menderita Analysis Paralysis yakni memikirkan sesuatu secara berulang ulang tanpa menemukan solusi jadi agak terkesan plin-plan hehehe sepertinya saya kenal orang yang seperti ini tapi yasudahlah lanjut ke berikutnya

Obliger

Obliger merupakan tipe orang dengan tendensi untuk dapat memenuhi ekspektasi eksternal namun merasa kesulitan untuk memenuhi ekspektasi internal. Sekilas orang orang ini yang biasanya suka berkorban atau malah dikorbankan. Obliger sangat baik dalam mewujudkan keinginan dan tenggang waktu dari pihak luar, mereka berusaha sangat keras untuk memenuhi tanggung jawab mereka, namun sayangnya mereka kesulitan untuk memotivasi diri sendiri untuk memenuhi ekspektasi mereka sehingga terkadang kehidupan mereka terbengkalai dan terus dikorbankan karena takut mengecewakan orang lain. Beban atas ekspektasidari pihak luar seringkali membuat obliger rentan terhadap kelelahan. Hal ini karena mereka sulit untuk mengatakan “tidak” pada orang lain.

Rebel

Kelompok rebel merupakan kelompok orang yang menentang semua ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka memilih untuk bertindak berdasarkan pilihan kebebasan. Rebel akan bangun tidur dan berpikir “Apa yang ingin saya lakukan hari ini?”. Rebel bekerja untuk mencapai tujuan mereka sendiri, selagi mereka menolak untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Aset terbaik rebel yang bermanfaat besar bagi komunitas yang di huni golongan lain adalah “suara mereka yang biasanya sangat berbeda dengan orang kebanyakan.” Terkadang perbedaan perbedaan yang rebel ciptakan justru dapat menyelamatkan komunitas tersebut. Atau malah menjerumuskan hehehe. Sisi negar=ti seorang Rebel yang sering membuat frustasi orang disekitarnya adalah mereka tidak dapat diminta atau disuruh melakukan apapun tidak peduli saat itu orang mengandalkannya, ada peraturan dan lewajiban, asal mereka tidak ingin maka mereka tidak melakukan.

Ada suatu trik untuk meminta bantuan atau meminta seorang rebel melakukan sesuatu. Kita dapat memanfaatkan sifat alaminya untuk membangkang dengan meminta anatu mengatakan sesuatu yang sebaliknya. Rebel tidak suka diperintah atau disuruh, untuk meminta sesuatu pada rebel cukup dengan memberikan informsi yang dapat berguna bagi mereka untuk membuat keputusan, menunjuk masalahnya sebagai pertanyaan yang bisa mereka jawab sendiri dan biarkan mereka memutuskan dan bertindak tanpa ada yang menyaksikan.

Meski menyukai kebebasan dan menolak adanya hirarki dan peraturan, ada sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Kita mungkin akan sering menemukan orang orang rebel justru tertarik pada institusi yang banyak peraturan seperti militer. Mungkin rebel juga membutuhkan batasan untuk dapat tunduk, berkembang dan memberontak. Rebel akan merasa gelisah bila tidak ada aturan yang bisa dilanggar hehehe.

Tendensi orang memang tidak pure salah satu dari empat tendensi itu namun lebih sering ditemukan merupakan kombinasi 2 atau lebih dari keempat tendensi tersebut. Namun biasanya akan ada satu tendensi yang lebih dominan. Yah meskipun menurut saya dengan mengetahui tendensi kita sebenarnya apa itu belumlah cukup untuk mengenal jauh diri kita sendiri. Namun setidaknya ada sedikit lah pencerahan tentang seperti apa kecenderungan kita, untuk hal lainnya kita bisa cari dari berbagai sumber bacaan seperti tentunya buku buku keagamaan (yang bagi saya merupakan manual book tentang kita). Hal ini tentunya tida saya bahas disini hehehe. eh ada kemungkinan akan saya bahas di posting selanjutnya ding

Saya kira sekian saja post sata pada hari ini soalnya sudah terlalu panjang dan akan sangat menjemukan bila saya lanjutkan.

Salam

Dewa Putu A

Keterangan Tambahan:
Feature Image di depan adalah lkarya dari Firestar97 di link ini gambar Surreal yang bagus ya hehehe

BencanaPsikologiUncategorized

Bencana, Manusia dan Makna

September 16, 2018 — by dewaputuam0

2018_08_15_51527_1534319686._large-960x640.jpg

Senyum Lombok
Masih Ada senyum (Sumber: Facebook BNPB, foto by oleh Mas Accu )

BIAR BAGAIMANAPUN KITA TAK PERNAH LUPA BAHWA KITA MANUSIA

Belum lama ini kita ditunjukan  bahwa kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh dihadapan alam. Alam yang selama ini dengan pongah dan sadisnya kita eksploitasi tanpa henti. Dalam peradaban dunia kita yang kian maju dan manjakan oleh tekhnologi informasi, ketidaktahuan seperti sudah lama punah dan digantikan oleh perasaan mengetahui dan memahami segala hal. Kita lupa menyisakan ruang untuk ketidaktahuan kita. Sayangnya ketidaktahuan itu terkadang tidak disertai oleh keingintahuan atau mungkin kita sendiri yang mengabaikan pengetahuan yang sebenarnya sudah lama ada disekitar kita, dan akhir dari semua itu kita membayar mahal baik dengan materi dan yang paling terasa adalah nyawa yang menghilang.

Meskipun terkadang kita lupa untuk menyisakan ruang untuk ketidak tahuan kita, dan bila mau jujur banyak sekali hal penting yang tanpa sadar kita lupakan. Namun dari kejadian ini saya menyadari satu hal, ada satu hal yang sepertinya kita tidak pernah lupa.

Setidaknya, Kita tidak pernah lupa bahwa kita adalah manusia. Meskipun sebagai manusia kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh, namun biarlah, Pada kenyataannya banyak hal positif yang kita miliki dan dapatkan selama hidup berdampingan dengan orang lain. (digubah salsah satu kalimat dari T William & Carrin 2018 dalam buku berjudu Nol)

jejak kita di dunia maya sesaat setelah terjadi bencana

Kita tidak pernah lupa bahwa sejatinya kita adalah manusia. Bila sebelumnya saya menyalahkan peradaban kita yang kian maju dan dimanjakan tekhnologi informasi, saat ini saya justru memang harus mengakui bahwa salah satu bukti bahwa kita belum melupakan eksistensi kita sebagai manusia dapat dilihat dengan relatif mudah melalui kebiasaan kita meninggalkan jejak digital. Mungkin kita bisa memoles sedemikian rupa jejak-jejak yang kita tinggalkan di media sosial agar selalu terlihat baik dan mungkin kita tidak dapat memungkiri pula terkadang banyak kebohongan ditebar disana. Semua itu karena kita merasa diawasi dan dilihat oleh keluarga, kawan ataupun kenalan kita. Namun dalam situasi dan kondisi tertentu dimana kita merasa tidak terlihat, kebenaran tentang kita sebenarnya terungkap dengan bebas. Hal inilah yang mengantarkan kita pada suatu premis “Jejak pencarian kita di dunia maya dapat menggambarkan bagaimana kita sebenarnya”. lalu bagaimana kita bila dilihat dari jejak digital yang kita tinggalkan sesaat setelah terjadi bencana besar di NTB?

Sebuah riset kecil kecilan pun coba saya lakukan untuk gambaran gambaran tentang apa yang paling banyak kita cari sesaat setelah bencana terjadi, yang dalam hal ini kita ambil contoh Bencana Gempa 7SR di NTB  yang terjadi pada Tanggal 5 Agustus 2018.

  • Sesaat setelah kejadian, kata kunci terkait Gempa Lombok, Gempa NTB dan Gempa Bali yang paling populer dicari melalui mesin pencarian google adalah informasi terkait lokasi kejadian gempa terbaru.
  • Dalam rentang waktu 4 jam setelah kejadian, kata kunci populer pun bergeser dari sebelumnya terkait lokasi bencana menjadi potensi bencana susulan (gempa dan tsunami) dan tentunya kata kunci terkait Korban bencana mulai populer.
  • Keesokan harinya, setelah informasi sudah mulai membanjiri stasiun stasiun televisi dan media laiinya, terjadi lagi pergeseran kata kunci populer yakni dari bencana susulan dan korban menjadi Korban bencana dan Donasi untuk penyaluran bantuan.

Menariknya, terjadi pergeseran popularitas katakunci sesaat setelah kejadian, 4 jam setelah kejadian dan keesokan hari setelah berita mulai tersebar melalui berbagai media. Masarakat yang didominasi oleh masyarakat yang merasakan gempa awalnya memastikan lokasi gempa dan memastikan tidak adanya bencana susulan pada sesaat setelah kejadian. Hal ini terlihat dari katakunci lokasi gempa terbaru dan prediksi gempa susulan yang berada di puncak penelusuran.

Setelah 4 jam berlalu, dan memastikan tidak adanya tsunami, masyarakat mulai mencari informasi terkait korban. Keingintahuan masyarakat terkait jumlah korban akibat gempa yang mereka rasakan (untuk masyarakat dekat lokasi) dan mereka dapatkan informasinya dari media media lain mulai meningkat pada jam jam ini. Akibatnya , meskipun kata kunci gempa susulan masih menjadi pemuncak kepopuleran dalam pencarian google, kata kunci terkait korban mulai merangkak naik.

Hal yang paling menarik justru terjadi keesokan hari setelah berita terkait bencana sudah tersebar secara masif. Muncul salah satu kata kunci yang menyadarkan dan meyakinkan saya bahwa kita tidak pernah lupa satu sifat paling murni kita yang membedakan dengan makhluk makhluk lain. Sifat itu adalah Kepedulian. Sebenarnya hanya inilah kata kunci yang ingin saya sampaikan pada posting saya kali ini. Saat melihat kata kunci ini saya merasa bahwa meskipun banyak sekali hal negatif yang kita temui selama ini dan membuat pesimis, ternyata masih ada kepedulian. Meskipun sebagai manusia kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh, namun biarlah, Pada kenyataannya banyak hal positif yang kita miliki dan dapatkan selama hidup berdampingan dengan orang lain. Tampaknya frase ini masih relvan ditengah banyak hal negatif ego masing masing kita yang sepertinya memang perlu kita akui bersama.

bencana, manusia dan makna

Bencana, Manusia dan makna hidup sebagai manusia tidak dapat kita pisahkan. Mungkin egois, namun realistis bahwa suatu kejadian kita anggap bencana bilamana sudah mengganggu penghidupan dan kehidupan kita sebagai manusia. Bilamana suatu peristiwa tidak signifikan mengganggu hidup maupun kehidupan manusia maka sulit bagi kita mengaggap peristiwa tersebut sebagai suatu bencana. Namun bila peristiwa tersebut berdampak negatif terhadap hidup dan kehidupan kita sebagai manusia maka kita sepakat hal tersebut merupakan bencana, sekecil apapun itu. Olehkarena itu setiap kali terjadi bencana kita selalu mengkaitkan pada dampaknya kepada Diri kita sebagai suatu individu yang ingin diri dan keluarganya dalam kodisi aman dan kemudian baru dampaknya pada orang lain baik berupa korban maupun kerugian kerugian lainnya.

Definisi bencana yang demikian pun tertuang dalam  Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mendefinisikan Bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Di Indonesia kita mengenal berbagai bencana, dan hampir setiap jengkal wilayah di Indonesia memiliki karakter bencana dan jenis bencanya yang terkadang sangat unik dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Begitu banyaknya jenis bencana yang ada di Indonesia menjadikan Negri kita ini layak memiliki sebutan sebagai Supermarket Bencana. Bila kita kaitkan kembali dengan kejadian bencana Gempa bumi di NTB yang terjadi baru baru ini tentu Bencana NTB “hanyalah satu” dari sekian bencana yang terjadi di Indonesia yang notabennya merupakan supermarket bencana. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah dengan Indonesia yang merupakan supermarket bencana dengan kejadian bencana bencana hampir setiap hari terjadi menjadikan Bencana NTB merupakan hal yang biasa?

Bukan, bukan itu poin pentingnya, Bencana NTB memang berdampak besar tidak hanya pada masyarakat sekitar, Bencana ini merupakan salah satu bencana terbesar dalam 5 tahun terakhir baik dari kerugian materi dan yang paling terlihat dan terasa adalah jumlah korban jiwa yang besar berdasarkan data Pos Pendamping Nasional BNPB untuk bencana Gempa NTB perbaharuan 15 September 2018, total korban meninggal dunia saat ini telah mencapai 564 jiwa dan jumlah itu tentu bukanlah jumlah yang sedikit. Bencana NTB merupakan salah satu penderitaan terbesar yang menimpa bangsa kita. Kita tidak perlu menghindari dan menulak kesedihan yang ada itu, Kita tidak perlu malu untuk menangis dalam kesedihan, karena air mata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar, yakni keberanian untuk menderita (Victor E Frankl).

Perhatian utama manusia bukan untuk mencari kesenangan atau menghindari kesedihan, tetapi menemukan makna dalam hidupnya. (Victor E Frankl)

Kita tidak boleh lupa bahwa makna hidup kita sebagai manusia bahkan bisa ditemukan dalam sebuah penderitaan. Mungkin apa yang sudah terjadi memang sudah tidak bisa kita harapkan berubah. Korban yang telah pergi pun sudah tidak akan dapat kita harapkan kembali. Pada saat saat itu, kita menjadi saksi  adanya potensi manusia yang unik yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya dalam bentuknya yang terbaik, yang bisa mengubah tragedi menjadi kemenangan, mengubah kemalangan menjadi keberhasilan. Dari tragedi Gempa di NTB kita dapat melihat masih sangat banyaknya orang orang yang peduli.

Hidup bersama Gempa (Sumber: Indonesia Uinspire)

Kepedulian mereka mereka wujudkan dalam berbagai cara, Sebagai sukarelawan yang tanpa kenal lelah menyalurkan semua yang ada pada dirinya baik pikiran maupun tenaga untuk membantu, Para dermawan yang memberikan sebagian dari hartanya untuk meringankan penderitaan saudara saudara yang menjadi korban dan masih banyak lagi bentuk kepedulian yang baik terlihat maupun tidak dengan sukarela mereka berikan untuk NTB. Dan kita juga menyaksikan begitu tangguhnya masyarakat NTB yang kini mulai berbenah dan membangun kembali. Bukan hal yang berlebihan jika kita sebut masyarakat NTB merupakan masyarakat yang tangguh. Kita dan NTB hidup bersama gempa sudah berkali kali kita kita menghadapi gempa besar begitu juga dengan Lombok yang sudah berkali kali pula mengalami gempa kuat Namun Lombok dan kita menunjukan ketangguhannya untuk terus dan terus bangkit. Lebih baik dan terus lebih baik lagi dan semakin tangguh, mungkin sesaat lalu kita lupa, namun kita kan tetap bangkit dan membangun ketangguhan pada level selanjutnya. Menuju NTB yang tangguh bencana, Menuju Indonesia Sadar Bencana #NTBBANGUNKEMBALI

Saya sadari ketidak akan mampuan saya dalam menggambarkan bahkan sedikit saja tentang begitu luar biasanya makna yang diberikan trageni ini pada Masyarakat NTB dan juga bagi kita semua. Ada makna tersebar dalam tragedi ini,

  • Pentingnya kita mengenal dan memahami lingkungan kita,
  • Masih adanya kepedulian
  • Kekuatan masyarakat NTB
  • Dan beribu makna lain yang tidak mungkin bisa sebutkan satu persatu menjadikan Gempa NTB begitu membekas.

Tragedi Gempa NTB dan Bencana secara umum mengajarkan kita bahwa bencana bukan hanya tentang amarah alam pada manusia, bukan hanya kerusakan yang dilakukan alam karena kita yang selama ini dengan arogan memperlakukan alam dengan seenaknya, tetapi yang terpenting dari semua itu adalah tentang sebuah makna, tentang kita sebagai manusia,

Akhir kata ijinkan saya untuk mengucapkan terimakasih dan penghargaan sebesar besarnya kepada semua pihak yang selama ini terlibat dalam penanggulangan bencana Gempa NTB, semoga NTB akan bangkit seperti sedia kala bahkan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

Salam,

Dewa Putu AM,

Sumber:
BNPB, 2018, Data Informasi Bencana Indonesia (link)
Pospenas BNPB untuk Gempa NTB, (link)

BukuHiburanPsikologi

Makna Hidup dan Logoterapi

May 27, 2018 — by dewaputuam0

Child_survivors_of_Auschwitz-960x689.jpeg

Ahli Logoterapi, Viktor E. Frankl
Sosok Viktor E. Frankl, Ahli Logoterapi sekaligus Penulis Buku “Man’s search for Meaning” (Sumber IEET)

Makna adalah sebuah hal penting dalam kehidupan. Seseorang dapat menghalalkan segala cara untuk memperjuangkan makna  hidup yang ia pilih. Untuk sebuah makna, hal ekstrim seperti tindakan persekusi bahkan terorisme sekalipun terkadang menjadi logis untuk dilakukan.  Ide menarik terkait makna hidup pernah diutarakan oleh seorang korban selamat dari pembantaian di Kamp Auschwitz. Ia adalah seorang survivor sekaligus ahli logoterapi dari Austria, Viktor E. Frankl penulis  buku yang berjudul Man’s search for Meaning. Dalam buku tersebut Frankl memberikan suatu sudut pandang yang menarik dan sederhana tentang makna kehidupan.

mencari Makna hidup

Pengalaman mengerikan Frankl dalam Kamp Pengkonsentrasian Auschwitz menguatkan kembali gagasan besarnyanya tentang Hidup. Bagi Frankl, hidup bukanlah upaya mencari kepuasan, bukan pula upaya mengejar kekuasaan. Hidup adalah sebuah upaya pencarian makna. Tugas terbesar manusia adalah mencari makna dalam hidupnya dan tentu kemudian merelaisasikannya.

FisikaPopular TheorySains Populer

Fisika Asal Mula dan Evolusi Kehidupan

May 19, 2018 — by dewaputuam3

pexels-photo-3260551-960x540.jpeg

England's Theory dan kehidupan
Jeremy England, Sosok Penggagas dalam Pengungkapan Teori  Dasar Fisika yang Mengatur Asal Mula dan Evolusi Kehidupan (sumber: quantamagazine.org)

dua pertanyaan tentang kehidupan

Kehidupan
Shake the Dust Off karya Saravut Whanset, National Geography

Kehidupan merupakan misteri terbesar sekaligus sesuatu paling seksi untuk dipelajari bagi sebagian orang baik dari sisi Agama maupun Sains. Dari sekian banyak topik tentang kehidupan, terdapat 2 pertanyaan pokok yang selalu menjadi primadona. Kedua pertanyaan itu adalah  “Dari Mana Kehidupan Berasal?” dan pertanyaan “Akan Kemana Kehidupan Beranjak?”. Pertanyaan pertama terkait dengan asal mula kehidupan, sedangkan pertanyaan kedua merupakan sebuah pertanyan terkait Evolusi Kehidupan. Evolusi yang dimaksud bukan sekedar evolusi dalam arti sempit seperti yang selama ini banyak orang pahami sebagai cerita tentang seekor kera yang seiring berjalannya waktu berubah menjadi manusia. Evolusi yangdimaksud merupakan sebuah perubahan sedikit demi sedikit dari entitas kehidupan dengan struktur sederhana menjadi kian kompleks dan terus merekonstruksi dan merereplikasi menjadi struktur yang lebih stabil dan kompleks untuk tujuan tertentu. Pertanyaan “Akan kemana Kehidupan Beranjak?” yang saya artikan disini pada dasarnya merupakan sebuah pertanyaan tentang arah perubahan kehidupan.

Jawaban dari kedua pertanyaan “Dari Mana Kehidupan Berasal?” dan “Akan Kemana Kehidupan Beranjak” telah diberikan kepada kita sejak dulu baik dari Agama maupun Sains. Dari sisi Agama, kehidupan merupakan salah satu mahakarya ciptaan Tuhan. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas teori teori penciptaan kehidupan dari sisi Agama, meskipun tidak kalah menarik, namun teori tersebut mungkin akan coba saya bahas dan diskusikan di tulisan lain.

Yang ingin saya tulis dan diskusikan disini adalah jawaban dari sisi Sains, yang saya rasa beberapa pembaca telah membaca bahkan belajar beberapa teori tersebut, namun  sebuah ide berani dan kontroversial dari Jeremy England tampaknya akan membawa teori teori penciptaan tersebut ke level selanjutnya, menuju arah yang semakin menarik. Mungkin akan menjadi salah satu keping Puzzle penting dalam dalam kisah pencarian manusia akan jawaban dari pertanyaan “Dari Mana Kehidupan Berasal?” & “Akan Kemana Kehidupan Beranjak?”.  Ide kontroversial dari England tersebut juga di ulas oleh Dan Brown dalam novel terbarunya yang berjudul Origin. Sebenarnya dari novel inilah tercetus ide untuk menelusuri dan membahas topik ini dalam tulisan dalam sebuah tulisan blog.

Bagi para pembaca yang belum dan ingin membaca novel Origin dan tidak ingin mendapatkan spoiler saya sarankan untuk tidak melanjutkan membaca posting ini karena ide utama yang menjadi pusat cerita dalam novel tersebut akan saya ulas.

PsikologiSains Populer

Kata yang bernama “Pendidikan”

May 2, 2018 — by dewaputuam0

ki-hajar-dewantara-960x504.jpg

Bapak Pendidikan Indonesia
Ki Hajar Dewantara sumber (bp blogspot)

hari pendidikan nasional 2 mei

Hari Pendidikan Nasional kita rayakan setiap Tanggal 02 Mei yang ditetapkan sejak tahun 1959 melalui surat keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959. Hari Pendidikan Nasional merupakan sebuah hari yang didedikasikan untuk mengenang jasa Bapak Pendidikan Indonesia yakni Ki Hajar Dewantara karena kiprah dan jasa beliau dalam mendirikan dan mengembangkan Sekolah Taman Siswa pada tahun 1922. Ki Hajar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Beliau dilahirkan dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, sebagai salah satu keluarga dalam lingkungan Keraton Yogyakarta. Nama Ki Hajar Dewantara baru disematkan pada beliau pada saat beliau berumur 40 tahun. Selain Sekolah Taman Siswanya, Ki Hajar Dewantara juga terkenal dengan suatu semboyan[/drop_cap]

Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. – Ki Hajar Dewantara-

Jika kita artikan secara bebas, semboyan itu kurang lebih berarti “Dari depan memberikan teladan, Dari tengah memberikan prakarsa atau ide, Dan dari belakang memberi dorongan dan arahan”. Semboyan ini mengambarkan kepada kita secara jelas prioritas apa yang harus diemban seseorang pada setiap “fase posisi” mereka. Saya lebih nyaman menuliskan sebagai “fase posisi” dibandingkan “posisi” dikarenakan semboyan ini bukanlah  suatu semboyan yang dapat diambil dan diterapkan secara sebagian melainkan harus keseluruhan.

Semboyan sang Maestro Pendidikan kini

Sayangnya, semboyan sang maestro pendidikan, Ki Hajar Dewantara tersebut kini hanya bersisa sebagai “Tut Wuri  handayani saja yang berarti dari belakang memberi dorongan dan arahan #saja. Sedangkan prioritas pada fase posisi lainnya baik saat diatas maupun ditengah sudah jarang sekali kita (atau setidaknya saya) lihat diterapkan dalam keseharian baik oleh Guru, Atasan, atau bahkan diri kita sendiri baik secara sengaja maupun tidak sengaja.