main

PsikologiSains PopulerUncategorized

“Media Sosial”, antara Penghubung dan Sekat

March 28, 2019 — by dewaputuam4

man-791049_1920-960x640.jpg
Mereka yang melakukan Cyberbulliying Saat ini, bukan tidak mungkin akan menjadi korbannya suatu saat nanti. Jadi pilihan tetap pada diri kita masing masing, tetap melakukannya, mencoba mengurangi atau bahkan menghentikan. (Sumber Ilustrasi: starshellstudent)

Kebenaran di Jemari kita, Kesalahan Sepenuhnya Ada Pada di Diri Mereka

Terkadang atau munkin sering kita merasakan suatu sensasi yang berbeda dan nyaman saat berselancar melalui akun-akun media sosial kita. Sebuah perasaan dimana banyak orang disekitar kita berpandangan sama dengan apa yang kita anggap benar dan sama pula dengan apa yang kita anggap salah. Perasaan itulah yang kemudian membenarkan diri kita untuk menghakimi seseorang yang salah dan menjatuhkannya dengan sangat dalam hingga kita tak sadar kita telah menerjunkannya jauh dibawah harkatnya sebagai manusia.

Yang jadi pertanyaan, apakah saya juga melakukannya? Secara jujur saya akui kadang saya melakukan hal tersebut “secara sadar”, yang secara tidak sadarnya mungkin justru sering. Yah atas dasar itu dan dasar statement yang saya sebut sebelumnya tentang perasaan sama, saya rasa kalian juga pernah mengalami hal yang sama seperti saya. Jika tidak pernah berati kalian individu yang luar biasa dan layak sekali jadi panutan hehehe (the power of “hehehe”).

Jika dipikir pikir, hal ini cukup pelik memang, keberadaan sosial media yang dulu membuat kita dapat terhubung dan berinteraksi ke kawan kawan lama kita kini justru menjadi ladang pelam piasan emosi bagi sebagian orang. Ada hal yang salah dikit kita berbondong bondong menghakimi dengan santai dan tersenyum lebar dengan embel embel negri ber Flower lah atau negri +62. Tapi tidak saya pungkiri, terkadang kegiatan tersebut cukup seru, yah meskipun kita tahu dampaknya pada orang orang yang kita bully tersebut tentunya sakit namun tak berdarah. Saya juga pernah merasakan hal itu tapi yasudahlah, pada tulisan ini saya akan menyusun sebuah alasan kenapa pembulian itu terjadi, alasan ini tidak bermaksud membenarkan pembulian. Karena biar bagaimanapun pembullian adalah suatu hal yang tidak keren.

Alasan ini saya tulis hanya sebagai pengingat, bahwa yang kita lihat dan dan sensasi rasakan selama ini melalui jendela bernama sosial media tidaklah sepenuhnya benar. Ada suatu sistem yang bekerja disana agar kita merasakan sensasi “seolah olah” semua orang sependapat dengan kita, dan pandangan kita adalah pandangan mayoritas orang.

Cara Kerja Filter Bubble yang membentuk semacam ruang semu “bubble” yang sebenarnya bermanfat untuk memberikan saran saran iklan yang tepat sasarn namun ada dampak negatif yang tidak terlihat (Sumber Ilustrasi: sticky.digital

Filter Bubble, Sebuah Algoritma yang Semakin Memisahkan Kita dari “Mereka”

Istilah Filter Bubble pertamakali diutarakan oleh seorang Aktifis Internet bernama Eli Pariser. Istilah ini digunakan untuk menyebutkan sebuah algoritma atau sebuah sistem yang secara seletif mendekatkan dan memberikan informasi yang sekiranya disukai seseorang melalui profil personal seseorang yang didapatkan melalui jejak jejak aktifitas digital mereka.Jejak digital yang dimaksud adalah terkait konten apa saja yang seseorang cari melalui mesin mesin pencari, apa saja yang mereka like/sukai, apa saja yang mereka lihat dengan view time yang lama, apa saja yang ia lihat sekilas lalu saja dan apapun aktifitas mereka dalam dunia digital sebenarnya dicatat dan digunakan untuk mempelajari sifat dan tendensi kita. Melalui informasi inoformasi tersebut maka akan terpetakan kesukaan dan ketidak sukaan seseorang terhadap suatu konten. Konten konten yang disukai akan semakin banyak diberikan sedangkan konten konten yang tidak disukai dan bertentangan dengan profil personal mereka akan dihindarkan.

Hal inilah yang membuat kita “seolah olah melihat” ide dan gagasan yang ada disekitar kita sesuai dengan keinginan kita. Dengan begitu banyaknya kita melihat ide, gagasan dan pandangan yang sesuai dengan ide, gagasan dan pandangan kita maka akan timbul sebuah perasaan bahwa kita berada dipihak mayoritas, dan kita berada di jalur yang benar. Padahal sebenarnya, ada banyak ide, gagasan dan cara pandang lain diluar sana yang mungkin sangat bertentangan dengan yang ada pada kita. Kita selama ini jarang melihat karena memang disembunyikan oleh algoritma filter buble ini. Jikapun ada yang tidak sengaja muncul, itulah yang kemudian menjadi bahan bulliyan oleh orang orang yang sepandangan dengan pandangan kita.

Filter bubble ini pada kenyataannya tidak hanya terjadi di dunia maya saja tetapi juga untuk beberapa orang juga mengalami hal serupa di dunia nyata. Sama seperti yang ada didunia Maya yang pada prinsipnya membatasi pandangan kita hanya pada keinginan dan minat dangkal masing masing pribadi kita saja, pada dunia nyata filter bubble juga akan berdampak pada orang orang yang pergaulannya sangat terbatas dan hanya mau berinteraksi dengan orang orang yang sepandangan dengan diri mereka. Hal inilah yang kemudian memunculkan tindakan tindakan tidak keren seperti menganggap dirinyalah bersama kelompok mereka yang paling benar sedangkan orang lain sepenuhnya salah. Lalu kemudian dari hal ini akan memunculkan bibit bibit yang membenarkan bullying hingga persekusi bagi orang orang yang salah.

Bagaimana cara kita agar tidak terjebak dalam jebakan filter bubble ini. Ada pepatah lama yang seringkali digunakan sebagai sindiran untuk orang yang kurang pengetahuan.

“Main Mu Kurang Jauh Nak, dan Pulangmu Kurang Malam.” Jika dirimu tidak Ingin terjebak dalam Filter Bubble, maka janganlah terlalu memilah milah teman agar sudut pandang semakin luas. Sekali kali boleh lah membaca dan mengakses informasi informasi yang mungkin berbeda atau bahkan bertentangan dengan apa yang kita yakini saat ini agar kita sekedar tahu bahwa selain pendapat kita ternyata ada juga “pendapat orang lain yang benar benar lain”

(Bacotan Dewa Putu AM, Salam Super)

Saya rasa sampai disitu saja tulisan saya kali ini agar sekali kali tulisan saya tidak terlalu panjang hehehe.

Salam

Dewa Putu AM

Feature Image by kaboompics on Pixabay

BencanaDaily LifePsikologiSains PopulerUncategorized

Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana

March 5, 2019 — by dewaputuam3

IMG_20181021_163022-01-960x540.jpeg

Untuk Awal Mari Kita Berkenalan Dengan Bencana yang Harus Kita Hadapi

Kondisi Setelah Bencana di Petobo, Disini kita melihat begitu dasyatnya dampak yang diberikan dari sebuah bencana. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada tahun 2018, Indonesia diterpa banyak sekali cobaan yang berat, Pada tahun tersebut kita mengalami banyak bencana alam yang sayangnya banyak pula menelan korban jiwa. Dari 2575 Kejadian Bencana yang terlapor pada tahun 2018 (Sumber:DIBI BNPB) setidaknya telah menyebabkan >4836 orang Meninggal/Hilang, >21,126 orang luka luka dan >10,333,306 orang mengungsi. Dari angka tersebut, bila kita bandingkan dengan jumlah penduduk indonesia yang sekitar 264 Juta, maka dapat dikatakan bahwa 4 dari 100 penduduk di Indonesia sudah menjadi Korban Meninggal, Luka atau Mengungsi akibat bencana tahun 2018 saja.

Masih ingatkah kalian Setidaknya ada beberapa bencana besar pada tahun 2018 yang menyita perhatian secara Nasional maupun Internasional Mulai dari Gempa Bumi di Lebak Banten pada bulan Januari yang dirasakan juga di Jakarta, Erupsi beberapa gunung (Gunung Sinabung, Gunung Merapi dan Gunung Agung dan Gunung Krakatau), Gempa Lombok, Gempa-Tsunami-Likuifaksi di Sulawesi Tenggara yang fotonya saya tampilkan dalam gambar awal dalam tulisan ini, Dan sebagai penutup tahun 2018 kitapun dikejutkan oleh silent tsunami akibat letusan Krakatau pada bulan Desember 2018.

“Dongeng Usang?” tentang Risiko Bencana di Indonesia yang Sangat Tinggi

“Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng” ingin rasanya saya menulis frasa seperti itu, namun frasa tentang pertemuan tiga lempeng tersebut agaknya sudah terlalu sering terbaca dan juga terlalu sering pula keluar masuk di telinga kita. Saya khawatir bila menceritakan bencana dari template frasa tersebut kalian akan kian bosan dan meninggalkan tulisan ini. Namun suka atau tidak suka, meskipun frasa itu sudah tua dan usang, itulah kenyataanya. Dengan perbedaan tipis antara anugerah dan musibah, fakta tentang tiga lempeng tersebut lah yang menyebabkan kita sering sekali merasakan Gempa gempa besar serta memberikan kita banyak sekali gunungapi aktif (127 Gunungapi). Sebagai sedikit gambaran tentang seberapa banyak kejadian gempa yang telah kita alami berikut saya sajikan peta tentang gempa besar yang terjadi selama tahun 2018 dan awal 2019 yang saya unduh dari USGS.

Meski dalam hal bencana, Indonesia berlimpah dari segi jumlah dan intensitasnya. Tidak boleh kita lupakan juga bahwa ada begitu anugerah yang diterima Indonesia yang tentunya tidak kalah besar bila dibandingkan bencana yang kita dapat. Dongeng usang tentang pertemuan tiga lempeng setidaknya telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati tanah kita yang bagaikan tanah surga. Sebuah tanah yang berlimpah kekayaan dan keindahannya persis seperti lagu yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Dengan banyaknya gunung berapi akibat pertemuan lempeng tersebut tanah tanah kita menjadi subur yang saking suburnya diibaratkan dapat menumbuhkan tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.

Kita kembali pada permasalahan bencana di Indonesia. Untuk menggambarkan dan memahami seberapa besar risiko bencana di suatu wilayah para peneliti dan pegiat kebencanaan biasanya menggunakan suatu Indeks Risiko. Dalam perhitungan indeks risiko (Risk), diperhitungkan beberapa indeks kunci yang meliputi Indeks Bahaya & Keterpaparan (Hazard & Exposure), Indeks Kerentanan (Vulnerability) dan Indeks Kapasitas (Capasity). Melalui Indeks indeks tersebut kita dapat melihat dan memahami seberapa besar Risiko bencana disuatu wilayah, seberapa besar bahaya dan jangkauan dari masing masing bencana di wilayah tersebut, Seberapa rentan penduduk diwilayah tersebut jika bencana terjadi, dan Seberapa besar dan kemampuan dan kesiapan pemerintah, masyarkat infrastruktur, peralatan dalam menghadapi suatu bencana.

Sedih atau Bangga? “Kita berada di Peringkat 4 se ASEAN !”

Berdasarkan hasil kajian INFORM (INdex FOr Risk Management) didapatkan bahwa Indonesia berada di Posisi nomor 4 dari negara negara ASEAN berdasarkan risiko terhadap krisis dan bencana. Nilai Risiko yang demikian besar tersebut dipengaruhi oleh tingkat bahaya terhadap krisis dan bencana alam di Indonesia yang sangat tinggi dan dari sisi ini kita berada pada posisi ke tiga setelah Filipina dan Myanmar. Ada suatu berita baik bila kita lihat dari grfik dibawah, terlihat bahwa meskipun tingkat bahaya kita besar kerentanan dan kekurangan kapasitas kita untuk menhadapi bencana cukup kecil atau dapat dikatakan bahwa sebenarnya kita secara sosial, politik ekonomi dan beberapa faktor lainnya, kita dinilai cukup tangguh menghadapi bencana, hal inilah yang tidak hanya perlu dipertahankan namun perlu kita buat lebih baik lagi di tahun tahun mendatang.

Tantangan Indonesia kedepan dalam menghadapi bencana tidaklah kecil. Semakin lama jumlah kejadian dan intensitas bencana yang kita alami juga kian meningkat. Dengan adanya perubahan iklim dan pemanasan global, kejadian bencana bencana Hidro-meteorologi seperti Banjir, Banjir Bandang, Tanahlongsor dan Kekeringan akan semakin kuat dan semakin sering menghampiri hari hari kita. Jumlah penduduk yang terus meningkat pula menyebabkan semakin besar kebutuhan akan tempat tinggal dan tempat keperluan lainnya yang sayangnya banyak dari tempat tempat tersebut merupakan lokasi yang tak layak dan berbahaya karena potensi kejadian bencana yang besar.

Tidak hanya dari segi kejadian bencana, penanganan bencana pun semakin lama semakin kompleks. Banyak hal yang perlu di hadapi, mulai dari masalah teknis dilapangan hingga gangguan gangguan kecil namun tidak bisa tidak di acuhkan seperti persebaran berita hoax dan berita meresahkan tidak bertanggung jawab. Jumlah, Intensitas dan kompleksitas penanganan bencana mengharuskan manajemen bercana di indonesia tidak bisa lagi dilakukan dengan cara business as usual. Harus ada pergeseran/shifting secara besar besaran baik dari kerangka berpikir hingga kerangka Implementasi. Pergeseran besar besaran ini dapat dilakukan dengan bantuan kerangka bepikir dan kerangka Implementasi baru yang ditawarkan dalam Revolusi Industri 4.0. Dengan kata lain saya sepakat dan ingin menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana adalah suatu yang memiliki urgensitas yang tinggi diterapkan di Indonesia.

Setelah Berkenalan, Saatnya Kita Lirik Potensi Revolusi 4.0 dalam Merevolusi Manajemen Bencana di Negeri Kita

Bumi yang Serba Digital (Image by TheDigitalArtist on Pixabay)

Banyak orang menghubungkan Revolusi 4.0 pada pemanfaatan besar besaran terhadap tekhnologi-tekhnologi berbasis IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Tak ayal saat ini banyak Organisasi dan Instansi Pemerintah berlomba mengembar gemborkan bahwa mereka telah melakukan pergeseran besar-besaran menuju Industri 4.0. Tidak tahu kenapa, saya melihat semua itu sebagai sebuah kasus perkosaan anak dibawah umur ya. Saya mengatakan demikian karena pemanfaatan besar besaran terhadap basis tekhnologi penyusun Revolusi Industri 4.0 tersebut justru mengkerdilkan arti dari revolusi itu sendiri. Pemanfaatan besar besaran tanpa arah dan kerangka yang tepat akan menimbulkan perkembangan yang cepat namun rapuh dan tidak tahu akan kemana arahnya. Yah, itu hanya pemikiran skeptis saya, Tentunya orang orang di organisasi tersebut adalah orang orang hebat yang telah punya rencana besar terkait hal ini.

Ada satu buku bagus berjudul The Great Shifting karya Prof Rhenald Kasali yang memberikan gambaran pergeseran besar (revolusi) yang terjadi selama ini yang lebih dari sekedar pemanfaatan IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Menurut yang saya pahami dari buku ini, ada tiga point penting dari Revolusi 4.0 yang dapat diterapkan untuk merevolusi manajemen bencana di Indonesia. Pertama adalah Pergeseran dari time series menuju Realtime. Kedua, perubahan pola pikir owning menjadi Sharing. Dan Terakhir adalah Menguntai produk-produk terkait manajemen bencana saat ini dan masa depan dalam suatu Platform.

4.0 Membawa Kita dari Time Series Menuju Realtime

Era Time Series selama beberapa dasawarsa ini telah memberikan berbagai manfaat kepada kita di berbagai bidang. Melalui pemahaman pola perubahan suatu nilai terhadap waktu kita dapat memperkirakan kondisi di masa depan, tentunya dengan asumsi pola tersebut akan tetap konsisten atau setidaknya tidak mengalami perubahan secara signifikan di masa depan. Pemanfaatan kerangka berpikir time series ini dimanfaatkan di segala bidang termasuk dalam manajemen bencana sejak dulu hingga saat ini. Dengan menggunakan kerangka berpikir ini sering kali kita mendengar proyeksi dan prediksi tentang kebencanaan dimasa depan seperti kapan serta dimana akan muncul dan meningkatnya jenis bencana tertentu baik bencana bencana pada musim basah seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim hingga bencana bencana pada musim kemarau seperti kekeringan dan karhutla. Untuk bencana seperti erupsi gunung juga dilakukan analisis seperti ini sehingga kita tahu ada istilah status waspada, Siaga dan Awas pada gunung. Namun untuk gempa kita hanya dapat memahami polanya tanpa bisa menebak kapan ia akan terjadi.

Prediksi prediksi terkait kebencanaan baik untuk durasi waktu yang sebentar seperti prediksi pada bulan depan atau musim depan hingga durasi waktu yang sangat lama seperti 10 hingga 50 tahun kedepan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk berbagai alasan. Proyeksi dan prediksi demikian digunakan untuk mempersiapkan tindakan preventif, kesiapsiagaan atau melindungi aset aset kita dimasa depan. Untuk semua keperluan tersebut, pola pikir time series sudah cukup. Namun untuk keperluan sesuatu yang bersifat saat ini dan durasi waktu yang sangat pendek lainnya time series mulai kurang berdaya. Disaat inilah Revolusi 4.0 beserta barisan tekhnologi yang dibawanya mengambil peran penting.

Ilustrasi seorang pria yang sedang membaca berita online yang tentunya lebih cepat dari pada media media pemberitaan pada era sebelumnya (Image by kaboompics on Pixabay)

Tekhnologi-tekhnologi pengusung revolusi Industri 4.0 seperti IoT, Big Data dan AI membawa kerangka analisis statistik kita pada level selanjutnya, dari Time Series menuju Real Time. Dengan barisan tekhnologi tersebut, analisis analisis yang semula sangat sukar bahkan mendekati kata tidak mungkin saat ini dan kedepannya akan menjadi mungkin dan dan cepat. Ketiga tekhnologi kunci 4.0 berperan dalam membentuk suatu sistem penilaian Risiko Bencana, Sistem Penunjang Kesiapsiagaan & Peringatan Dini, serta Sistem Penanganan Darurat Bencana menjadi lebih baik dan cepat baik secara near real time hingga realtime.

Tekhnologi IoT saat ini telah dan akan terus dikembangkan untuk mengintegrasikan semua sensor sensor terkait kebencanaan. Tekhnologi pengelolaan Big Data pula sedikit demi sedikit telah dimanfaatkan oleh beberapa instansi untuk mengelola data data sangat besar dari segi jumlah, variasi dan cepat fluktuasi perubahannya, kebanyakan kementerian dan organisasi tersebut mengolah tumpukan big data-data berbentuk citra satelit, hasil model hingga data data tidak terstruktur seperti konten konten di media sosial, serta video dan photo dari alat alat yang mereka pasang. Untuk tekhnologi AI, tampaknya belum begitu berkembang dibandingkan dua tekhnologi sebelumnya. Ada beberapa instansi yang memproklamirkan tekhnologi AI yang mereka gunakan dalam penanganan terkait bencana. Berdasarkan hal hal diatas dapat dikatakan bahwa ketiga tekhnologi inilah yang nantinya membentuk dan membawa kerangka berpikir dan kerangka implementasi Manajemen Bencana di Indonesia dari Timeseries menuju Real Time.

Dari “Owning” Menuju “Sharing” yang Tak Terbatas dan Melampauinya

Jika pada era sebelumnya, kepemilikan aset pribadi merupakan suatu keharusan untuk berhasil menguasai suatu bidang, maka pada era Revolusi Industri 4.0 ini kita justru dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik dan sangat kontras bila dibandingkan dengan era sebelumnya. Pada Era Revolusi Industri 4.0 atau dapat pula dianggap sebagai Era Society 5.0 kita berada pada suatu gerakan untuk saling berbagi nilai aset untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam budaya berbagi ini seorang pemilik aset dapat memonitisasi asetnya dengan cara berbagi, baik nilai hingga berbagi aset mereka. Saat ini kita dapat dan telah terbiasa untuk berbagi pakai atau sekedar menikmati nilai suatu barang. Budaya berbagi ini kini kian lama kian tidak terbatas dan dapat melampaui batas batas yang yang tidak pernah terpikirkan pada era sebelumnya.

Pada Era Revolusi Industri 4.0, orang kini tidak sungkan lagi untuk menumpang dan menumpangkan seseorang tak dikenal menuju lokasi yang ia inginkan (Gojek dan Grab), Di era ini orang tidak sungkan menginap dan menginapkan seseorang tidak dikenal pada aset propertinya (dengan Airbnb). Pada Era ini pula orang tidak lagi sungkan memberikan sebagian dari rejekinya untuk dikumpulkan seseorang yang tidak ia kenal untuk keperluan sosial seperti sumbangan pada korban bencana dan sebagainya (dengan Kitabisa.com).

Saling Berbagi dan Saling Melengkapi adalah salah satu kunci untuk Manajemen Bencana Indonesia yang Lebih Baik (Image by BarbaraBonanno on Pixabay)

Budaya dan kerangka berpikir saling berbagi seperti ini akan membawa dan meletakan Manajemen Bencana di Indonesia pada Manajemen Bencana yang lebih humanis. Dengan bantuan tekhnologi pengusung Revolusi 4.0 maka tidak adala lagi batasan dan halangan bagi kita untuk untuk saling menolong dan saling meringankan saudra saudara kita saat terjadi bencana. Tidak hanya terbatas pada bantuan barang dan uang, budaya berbagi pula tampaknya akan bergerak pada tindakan tindakan fisik yang lebih nyata seperti berbagi informasi dan tenaga yang berlandaskan pada asas kepercayaan untuk mengurangi kerentanan, serta meningkatkan kapasitas kita dalam menghadapi bencana.

“Sebuah Impian ?” Membangun Plaform Kebencanaan dan Keselamatannya

Ini merupakan akhir namun bukanlah pengakhiran, ini juga merupakan muara dan antarmuka dari segala pergeseran dan perubahan yang di bimbing Revolusi 4.0 untuk Manajemen Bencana di masa depan yang lebih baik. Pembangunan sebuah platform kebencanaan bukanlah terbatas membangun sebuah aplikasi kebencanaan dan melemparkannya pada ekosistem mobile baik IOS maupun Android. Kita tidak boleh terperangkap dengan logika produk ,meskipun terlihat modern dan canggih sebuah aplikasi yang hanya menjalankan suatu tujuan tertentu dan tidak memberikan ruang bagi para pengguna untuk saling berbagi dan berinteraksi hanyalah produk tekhnologi biasa dan belum dapat dikatakan sebagai sebuah Platform.

Platform yang dimaksud disini lebih dari sekedar sebuah “produk” aplikasi kebencanaan. Platform yang dimaksud disini adalah suatu media yang melayani pergeseran kerangka berpikir kita yang mulanya sekedar time series menuju realtime. Sebuah platform yang memberikan layanan peningkat pemahaman kita terhadap posisi kita terhadap bencana. Tidak hanya posisi dalam arti sempit yang menggambarkan lokasi namun juga posisi risiko kita secara personal. Dengan tekhnologi IoT, Big Data dan AI, platform ini harus secara realtime menganalisis seberapa besar risiko kita terhadap setiap bencana dari waktu ke waktu. Melalui platform tersebut kita juga dapat berkomunikasi dan menjalani bimbingan untuk meningkatkan ketahanan kita terhadap bencana. Dan bilamana sudah terjadi bencana platform tersebut pula yang akan mampu menganalisis secara cepat dan menginformasikan kepada otoritas berwenang bahwa kita berada dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan segera.

Kata Kata Mendiang Steve Job yang merupakan salah satu inovator yang mengakhiri jebakan Era Produk dan membawa kita masuk kedalam Era Platform seperti sekarang (Image by FirmBee on Pixabay)

Dari platform ini hasrat berbagi kita yang saat ini telah berangsur menjadi budaya dapat tersalurkan dan terlayani dengan baik untuk meringankan penderitaan para korban bencana. Dengan platform ini pula para investor dapat memahami prospek dan risiko aset dan investasinya terhadap krisis dan bencana. Sebuah platform bukan hanya sebuah aplikasi yang melayani kebutuhan kebutuhan namun lebih dari itu sebuah platform bencana yang dibutuhkan kedepan adalah sebuah platform yang membentuk suatu kesadaran dan kebudayaan yang aman terhadap bencana dan memberikan keleluasaan berinteraksi pada masing masing pengguna guna meningkatkan kapasitasnya menghadapi bencana dan mengamankan aset aset mereka dari bencana.

Yang menjadi pertanyan sekarang adalah apakah era platform dalam manajemen bencana hanya sebuah impian kosong yang sukar dan tidak mungkin direalisasikan? Atau justru sebaliknya dari hari kehari bulan kebulan dan tahun ketahun, dengan bantuan tekhnologi pendukung Revolusi Industri 4.0 manajemen bencana di Indonesia akan beranjak menuju Manajemen Bencana yang baru dan lebih baik.

Revolusi Industri 4.0 jangan hanya diarahkan pada usaha untuk memperkaya segelintir orang saja. Revolusi ini juga harus diarahkan pada peningkatan kemampuan kita dalam misi misi kemanusiaan yang dalam hal ini adalah Manajemen Bencana di Indonesia yang baru dan lebih baik agar dapat menyelamatkan Jiwa lebih banyak, menyelamatkan aset dan harta benda lebih banyak dan mengurangi dampak bencana terhadap sosial ekonomi dan penghidupan para penyitasnya.

(Dewa Putu AM, 2019)

Untuk sampai kesana mungkin butuh usaha dan waktu yang panjang. Tetapi untuk permulaan, kita dapat memberikan sedikit sumbangan pemikiran dan tenaga untuk kemajuan Manajemen Bencana di Indonesia.

Daily LifePsikologiUncategorized

Srategi Menata Keuangan Saya di Tahun 2019

March 3, 2019 — by dewaputuam4

IMG_20190302_105519-02-960x543.jpeg
Menata lagi Keuangan dengan cara [Jenius]

Tahun 2018 lalu merupakan tahun yang luar biasa bagi saya. Banyak kebodohan finansial yang saya lakukan pada tahun tersebut sehingga gaji dan hasil jerih payah saya selama berbulan bulan cepat sekali menguap dan hilang tidak tahu kemana rimbanya. Pada tahun tersebut banyak sekali pengeluaran pengeluaran impulsif terjadi begitu saja, habis uang di kantong tarik atm kemudian habis lagi dan tarik lagi begitu seterusnya hingga sesekali di ATM pun terkadang habis dan perlu megorek ngorek tabungan yang sengaja disimpan ditempat lain untuk pegangan dana darurat. Pada tahun tersebut saya [untungnya] iseng mencatat pengeluaran saya dalam satu bulan, dan munculah suatu fakta mengerikan bahwa saya dalam bulan Desember 2018 telah menghabiskan 150% dari penghasilan saya. Pada saat itu saya syok sekaligus terheran heran, ternyata gaji saya selama ini tidak menambah saldo tabungan saya justru menggerus dikit demi sedikit tabungan dan simpanan dari berbagai bonus dan kegiatan yang saya lakukan selama ini.

Itu merupakan titik balik pengelolaan finansial saya [mungkin]. Saat itu juga saya merasa jika dibiarkan seperti itu terus kesehatan finansial saya akan terancam dan bukan tidak mungkin masa depan pun akan suram. Sesaat saya terbayang bagaimana masa depan saya sebagai lelaki tua kurus lusuh dan tanpa uang tentu sangat mengerikan. Saya tidak mau berakhir seperti itu dan saya harus secepatnya mulai berubah dan lebih baik lagi dalam mengelola keuangan saya setidaknya demi kesehatan finansial yang lebih baik. Untuk hal tersebut selama 2019 ini saya mulai menerapkan Beberapa strategi untuk mengelola keuangan pribadi saya.

Menggunakan Platform Penyimpan dan Pengelola Uang yang Bisa Diandalkan

Pada awal awal ahun 2019 saya mulai memindahkan uang saya pada suatu platform fintech dari dari Bank BTPN yang bernama Jenius. Saya sebenarnya sudah lama mendengar Jenius namun baru awal tahun ini saja mencoba menggunakannya karena terpengaruh pembicaraan dan saran dari rekan kantor saya, selama beberapa haripun saya melakukan riset kecil kecilan apakah platform ini dapat saya andalkan untuk memenuhi kebutuhan saya. Beberapa poin penting yang saya garis bawahi sebagai prasyarat saat itu untuk memutuskan apakah platform Jenius dapat memenuhi kebutuhan saya antara lain:

  • Platform tersebut harus Aman dan Terpercaya, Saya tidak ingin menitipkan uang saya pada suatu platform yang tidak jelas dan sulit untuk dipercaya. Karena Jenius merupakan produk salah satu bank BUMN dan sampai sejauh inipun tidak ada keluhan-keluhan signifikan yang saya temukan dari penelusuran saya maka untuk poin ini saya anggap Jenius Aman dan Terpercaya.
  • Platform tersebut harus sesederhana mungkin sehingga mudah digunakan untuk sekedar mengecek saldo, transfer, dan transaksi lainnya. Dalam hal ini saya rasa Jenius cukup sederhana dan mudah dipahami, tidak perlu token tokenan dan bisa melakukan transaksi dari sekedar cek saldo hingga transfer lainnya dengan mudah tanpa mengorbankan faktor keamanan karena sudah memakai pasword sidik jari.
  • Harus ada keunggulan lain dibandingkan fintech dari perbankan lain, Terkait hal ini saya rasa Jenius juga memiliki keunggulan yang menjadi faktor penentu saya menggunakan Jenius adalah Keberadaan kantong kantong penyimpanan uang dengan berbagai macam keunggulannya. Selain pada rekening utama kita juga dapat menyimpan uang kita pada kantung lain antara lain Flexi Saver, Dream Saver dan Maxi Saver. Dari kantung kantung rekening ini ada banyak keuntungan menarik yang diwarkan. Dengan Felxi Saver kita akan mendapat tawaran Bunga yang cukup besar yakni 5% p.a. dan dengan flexibel dapat kita setor dan tarik ke rekening utama sesuai kebutuhan. Saya biasa menempatkan uang saya pada kantung ini agar bunganya besar karena meski dicairkan bulanan bunga dari flexi saver ini dihitung harian. Jika ada minimal 10 juta uang yang tidak kita gunakan selama minimal satu bulan maka kita juga dapat mendepositkan uang tersebut dalam Maxi Saver dengan bunga yang maxi tentunya yakni sekitar mencapai 7% p.a. Sedangkan Dream Saver merupakan kantung yang dapat kita atur secara otomatis mengkeep uang dari rekening utama kita tiap rentang waktu tertentu hingga uang mencapai jumlah yang kita inginkan misalkan untuk membeli kamera atau bahkan mobil hehehe. Untuk Dream Saver bunganya sama dengan Felxi Saver yakni 5% p.a.
Say Hay to Jenius (Sumber: Jenius

Dengan Platform Jenius saya terus memantau pengeluaran yang saya lakukan dan dengan jenius juga kita dapat mengisi saldo dompet dompet digital kita seperti Gopay, OVO TCash dan MTIX. Untuk hal ini justru membuat saya lebih boros sih hehehe tapi sekaligus lebih irit mengingat untuk Gopay dan OVO selama beberapa waktu ini masih menebarkan promo promo spesialnya. Ada satu fitur lagi yang belum saya gunakan, yakni 3 jenis kartu debitnya yang dapat digunakan seperti kartu kredit (karena tergabung dengan grup VISA) sehingga bisa digunakan dimanapun dan juga dapat dipakai untuk melakukan pembelian online. Karena pada dasarnya merupakan kartu debit jadi yang diambil adalah uang sebesar yang kita isi pada kartu dan bukan berhutang [aman lah ya].

Layanan ini belum sempat saya gunakan tetapi kedepannya mungkin akan saya gunakan untuk membayar langganan beberapa aplikasi penunjang kegiatan kerja saya seperti ArcGIS dan juga memperpanjang Blog yang sedang saya gunakan ini. Baru itu yang terpikir oleh saya, kurang tahu kedepannya akan saya gunakan seperti apa. Pada intinya dengan Jenius ini pengeluaran saya lebih dapat saya monitor dan kontrol.

Sebagai konsumen Jenius, Masih banyak lagi cara cara Jenius memanfaatkan platform ini agar mendapatkan keuntungan lebih maksimal. Untuk lebih jelasnya teman teman dapat mengunjungi alamat Jenius Co Create disana kita dapat urun ide dan mencari cari ide kira kira fitur apa yang kita butuhkan dan dapat kita gunakana dengan Jenius.

Meningkatkan lagi Kedisiplinan dalam Membuat Catatan Keuangan

Selain menggunakan aplikasi Jenius, saya juga menggunakan aplikasi android lain untuk mencatat secara manual pemasukan dan pengeluaran harian saya. Setiap sen uang yang saya keluarkan saya catat dengan teliti dan memberikan batasan batasan wajar dan bersahaja untuk keperluan keperluan tertentu seperti hiburan dan konsumsi saya. Dengan strategi tersebut saya dapat mengerem pengeluaran saya jika sudah mendekati batas batas yang saya tentukan. Misalkan untuk konsumsi butget saya tinggal sedikit ya saya tidak lagi cari makan makanan yang tidak perlu dan mahal.

Kalau meminjam istilah ayah saya “Kita tu makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”. Jika filosopi tersebut saya terapkan pada konsumsi saya maka dapat diartikan bahwa apa apa yang kita konsumsi, baik makan, dan barang barang lainnya musti sewajarnya dan untuk memenuhi kebutuhan kita. Jangan bertindak sebaliknya yang hidup hanya untuk konsumsi saja.

Mulai Berinvestasi pada Emas dan Reksa Dana

Setelah menemukan platform yang sesuai untuk menyimpan dan rajin mencatat semua pendapatan dan pengeluaran saya secara rapi maka langkah selanjutnya adalah menjaga kesehatan finansial kita dari gerusan inflasi dan menyiapkan keperluan keperluan masa depan. Untuk memenuhi dua kebutuhan tersebut maka pada tahun ini juga saya memulai untuk belajar berinvestasi. Saya akui ini memnag sudah cukup telat namun saya rasa kesehatan finansial saya masih lebih dapat tertolong bila saya mulai sekarang dari pada tidak sama sekali.

Invest (Sumber: vectorpouch via Freepik.com )

Agar lebih aman dan memperkecil kemungkinan menguap saya memutuskan untuk membeli beberapa produk investasi yang akan saya tingkatkan secara berkala. Produk investasi tersebut berupa Emas dan Reksa Dana. Saya memilih Emas karena nilainya yang lebih stabil dari uang yang kita simpan dan tentunya sekalian nyicil untuk semacam mas kawin mungkin rasanya akan lebih ringan jika sudah mulai menyicil [hehehe]. Untuk membeli emas saya menggunakan Aplikasi android dan secara menggembirakan juga bekerja sama dengan Jenius sehingga saya mendapatkan Cashback untuk pembelian jumlah minimal tertentu dan pada hari tertentu juga. Untuk sobat missqueen seperti saya, tawaran tersebut tentu sangat menarik. Pembeliannya pun sudah menggunakan fitur Payme dan $Cashtag dari jenius sehingga proses pembayarannya menjadi lebih mudah.

Selain emas saya juga berinvestasi pada Reksa Dana dan lagi-lagi sebagai generasi milenials saya menggunakan suatu aplikasi android untuk bertransaksi reksa dana saya. Karena saya termasuk orang yang agak konserfatif maka produk reksa dana yang saya beli terbagi dalam dua kelompok yakni Reksa Dana Pasar Uang dan Reksa Dana Saham dengan perbandingan 2:1, saya melakukan hal tersebut agar setidaknya risiko penguapan di reksa dana saham saya dapat di buffer oleh reksa dana pasar uang. Sejauh ini sih strategi tersebut saya rasa cukup jitu dan tidak terlalu membuat waswas dibandingkan saya terjun secara bebas ke reksa dana pasar modal saja. Untuk membelinya saya juga memanfaatkan fitur transfer pada Jenius. Sebenarnya cukup disayangkan sih aplikasi ini tidak melakukan kerja sama dengan jenius untuk menggunakan fitur $Cashtag, mungkin bila terdapat fitur tersebut akan lebih mudah.

Dengan tiga strategi yang telah saya sebutkan diatas, saya berharap kesehatan finansial saya menjadi lebih baik dari tahun tahun sebelumnya dan kemampuan mengelolanya finansial saya juga dapat meningkat hingga mungkin kedepannya saya sudah cukup ilmu untuk masuk kedalam step selanjutnya yakni bermain langsung ke pasar modal (amin).

Saya rasa mungkin cukup itu saja yang dapat saya bagikan saat ini mengingat tulisan ini sudah terlalu panjang dan jika diteruskan akan semakin panjang lagi. Cukup sekian tulisan saya saat ini.

salam

Dewa Putu AM

MeteorologiPopular TheoryPsikologiSains AtmosfirUncategorized

Siklus Pipis Dinosaurus

February 12, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-02-11-at-11.17.44-PM-960x509.jpeg

Hujan ini dari pipisnya siapa, dalam hati ku berguman sambil berbicara sendiri. Jari jemari pada lengan kiriku sendari tadi sibuk menunjuk butir hujan satu persatu. Sedangkan jari pada lengan lainnya mengatup dan bergerak lincah seakan sedang menghitung sesuatu. Tetiba keheningan sirna akan celetukan orang di samping yang tidak tahu sudah sejak kapan ada di sana “Wa,.. lu seorang Pluviophile ya?” tanyanya. Mendengar pertanyaan tersebut, saya menghentikan kegiatan saya dan memandang matanya dengan tajam, sejenak saya berpikir dan kemudian menjawab pertanyaannya dengan perlahan. “Pluviophile tu apa ya, saya baru dengar istilah itu e?” Saya menjawab sekenanya.

Mendengar jawaban tersebut teman saya membalikan badan dan kemudian berlalu begitu saja tanpa alasan yang jelas. Yah, kira kira begitu saja untuk paragraf intro dalam tulisan saya kali ini, cukup sederhana dan saya rasa lumayan tidak bagus dan tidak mewakili inti dari semua yang akan saya tuliskan dalam postingan kali ini.

View this post on Instagram

Djakarta Kini persi Diagonal

A post shared by dewa putu am (@dewaputuam) on

Secara sederhana Pluviophile dapat diartikan sebagai orang yang suka hujan, saat hujan seorang seperti ini dapat menemukan kedamaian dari kenikmatan tersendiri. Menurut saya pengertian diatas merupakan pengertian yang aneh dan saya tidak bisa habis pikir kenapa ada orang yang begitu menyukai hujan dan menemukan kedamaian didalamnya. Yah meskipun saya akui Pluviophile merupakan istilah yang cukup keren terbacanya, jadinya saya masukan kata tersebut dalam deskripsi akun instagram saya hehehe. Saya memang bukan seorang Pluviophile karena menurut saya hujan merupakan suatu fenomena cuaca biasa dan bukanlah sesuatu yang lebih spesial dari fenomena fenomena lainnya tidak lebih dari itu dan tentunya tidak juga kurang.

Siklus Pipis Dinosaurus

Kenapa saya tidak begitu suka dengan hujan, namun tidak bisa dikatakan bahwa saya tidak suka hujan juga. Saya hanya berpikir bahwa hujan hanyalah hujan sama dengan cerah yang hanyalah cerah. Namun sebenarnya ada satu hal menarik dari hujan. Apakah kalian menyadari nbahwa dalam setiap kejadian hujan, air yang turun adalah air yang sama dengan air pipis dari dinosaurus, air yang sama juga dengan air pipis kita hehehe, hanya saja air tersebut tidak serta merta terbang kelangit dan kemudian turun sebagai hujan. Dan mungkin lucunya lagi air yang sama itu juga yang selama ini kita minum hiyaksss,…. X____X

Saya akan coba menceritakan sedikit tentang siklus hidrologi yang dimulai dari pipis dinosaurus yang menguasai dunia selama 168 juta tahun. Dalam waktu tersebut cukup ,logis bila mereka untuk minum dan kemudian menghasilkan urine dalam jumlah yang melimpah. AIr urine dinosaurus yang melimpah ini kemudian jatuh ketanah dan atau ke sungai kemudian menuju laut. Beberapa air terserap tumbuhan untuk keperluan evapotranspirasi sedangkan sebagian lainnya masuk ke laut dan kemudian terevaporasi. Kedua proses tersebut (evaporasi dan transpirasi) kemudian masuk ke atmosfer dan terkonsentrasi membentuk butir butir awan. Awan yang sudah jenuh kemudian turun menjadi hujan.

Proses tersebut terus berlangsung hingga saat ini, entah sudah berapa kali si pipis dinosaurus tersebut berputar putar di darat laut dan udara dan beberapa kali pula telah diminum dan menjadi pipis makhluk lain lagi. Dan kemudian manusia datang meminum air tersebut hehehe. Untuk lebih terkait kita yang minum pipis dinosaurus dijelaskan dengan cakep di video dibawah ini.

Meskipun kita meminum pipis dinosaurus, dan pipis pipis makhluk sebelum kita, tapi kita patut bangga karena kita juga minum pipis nenek moyang kita #LuarBiasa. Oleh karea itu kita tidaklah boleh berbesar hati, dan berkata kita lebih hebat dari masa lalu, kita lebih unggul dan saat ini adalah kemajuan yang sangat hebat. Sehebat hebatnya kita, seprimitif primitifnya nenek moyang dan kebudayaan terdahulu, tetap kitalah yang minum urin mereka. Bagian ini sengaja saya tulis agar dalam posting saya kali ini ada sedikit pesan moralnya #Itu.

Sekian dari saya, Terimakasih karena telah membaca tulisan saya yang sedikit ngelantur ini dan kembali ke gaya penulisan masa masa awal nulis dulu. Salam hangat dari saya

Dewa Putu AM

BencanaPopular TheorySains PopulerUncategorized

Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0

February 9, 2019 — by dewaputuam0

IMG_20181021_151533-960x540.jpg

Pada tulisan ini, saya akan coba bermimpi sejenak dan membebaskan semua angan saya jauh ke masa dapan. Ini tentang Manajemen bencana pada masyarakat 5.0 atau dalam bahasa inggris disebut sebagai Society 5.0. Konsep tentang masyarakat 5.0 ini pertama kali di sampaikan oleh Shinzo Abe di pameran CeBIT, Hannover Jerman pada Maret 2017. Konsep ini juga di deskripsikan oleh pemerintah jepang secara keren dalam websitenya di link ini. Secara sederhana Imadudin Muhammad menjelaskan di tulisannya pada link ini, tentang masyarakat 5.0 yang merupakan konsep yang menggambarkan fase evolusi masyarakat yang sudah mengoptimalkan penggunaan artificial intelligence (AI), robotics, big data, dan drones. Masyarakat 5.0 merupakan suatu konsep masyarakat pada jaman industri 4.0 (yang agaknya sudah banyak sekali orang yang latah menggunakan istilah ini termasuk saya hehehe), Society 5.0 merupakan sistem masyarakatnya sedangkan industri 4.0 adalah platformnya.

Mungkin cukup di situ saja cuap cuap saya terkait gambaran umum Masyarakat 5.0. Saya akan mulai merekonstruksi apa yang saya bayangkan tentang manajemen bencana pada masyarakat 5.0 yang tentunya tidak terlalu jauh dari Artificial Intelligence (AI), robotics, big data, dan drones dan mungkin akan lebih tepat bila saya sertakan pula IOT, AR/VR, . Oia, tulisan ini terilhami dari beberapa pengalaman yang saya dapat selama 2 tahun berkecimpung di bidang bencana, buku bacaan saya The Great Shifting karya Rhenald Kasali, yang telah saya ulas pada tulisan sebelumnya, Buku Army of None karya Paul Sharre dan tentunya dari berita berita terkait society 5.0.

Profil Risiko Bencana per objek maupun personal secara realtime

IOT (Sumber Freepik)

Mengenali dan memahami risiko merupakan dasar dan permulaan dari suatu manajemen bencana. Manajemen bencana sulit berjalan dengan baik tanpa didahului oleh pemahaman risiko bencana. Pemahaman terkait risiko bencana di Indonesia saat ini telah difasilitasi dengan adanya aplikasi InaRISK yang dikembangkan oleh BNPB. Dalam aplikasi tersebut baik web maupun aplikasi berbasis Android dan IOS, kita dapat melihat ancaman bencana apa saja yang ada di sekitar kita. Ini menurut saya merupakan aplikasi yang sudah bagus. Namun karena disini kita sedang membahas masyarakat 5.0 tentunya pemahaman risiko bencana akan lebih berkembang lagi dengan adanya pemanfaatan tekhnologi Big Data, AI dan IOT. Berikut ini beberapa gambaran pemahaman risiko bencana kita bila ketiga tekhnologi tersebut sudah dapat di optimalkan.

  • Kita memahami Ancaman di sekitar kita secara realtime Penerpan IOT tentunya tidak hanya menjadi rumah kita semakin pintar, Penerapan IOT pada kebencanaan memberikan akses pada kita untuk megetahui dan memberikan peringatan akan kejadian kejadian bencana yang dapat mengancam keselamatan kita secara realtime. Jika hal ini sudah diterapkan, tentunya blunder tentang tsunami atau hanya gelombang pasang biasa kecil kemungkinan akan terjadi lagi. Sensor, radar, cctv dan citra yang terus memonitor kejadian kejadian disekitar kita, dan dengan adanya AI akan mengidentifikasi kejadian mana yang membahayakan dan mana yang masih dalam batasan aman. Jika ada suatu kejadian yang dirasa membahayakan, maka AI akan dengan segera menginformasikan manajer bencana dan masyarakat sekitar untuk melakukan aksi. Semua data dan informasi dari sensor, radar dan cctv tentunya memiliki jumlah besar, bervariasi tinggi dan arus trasfer datanya nya sangat cepat, disinilah teknologi big data dan AI kembali mengambil peran untuk memanajemen dan menganalisis data tersebut untuk menilai dan mengkoreksi tingkat ancaman wilayah secara realtime.
  • Kita memahami kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime Big Data yang diambil dari berbagai jejak digital yang diinggalkan masing masing orang baik dari pencariannya di mesin pencari (google dan bing); aktifitas media sosial (tulisan, foto dan video) yang dibagikan di klik, like, retweet; pergerakan yang di ambil dari GPS smartphone dan juga aktivitas ekonomi yang dilakukan akan dianalisis oleh AI dan dihasilkan sebuah pola dan karakter masing masing orang yang kemudian digunakan untuk menilai kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime. Ada sedikit kekurangan dalam konsep ini khususnya dari segi privasi, untuk mengakalinya tentunya perlu adanya suatu komitmen untuk menjaga data data yang dikumpulkan dan dianalisis tidak bocor dari perangkat dan akun masing masing orang, dan hanya informasi akhir saja yang dapat diterima oleh pemerintah dan pihak lain contohnya tingkat risiko masing masing warga, dan informasi berdasarkan agregat kewilayahan.
  • Kita memahami profil risiko kita masing masing secara realtime inilah hasil akhir dari dua poin diatas. Setelah tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas bencana baik personal maupun dengan agregasi tertentu dapat dinilai secara realtime, maka profil risiko pun akan dapat di nilai secara realtime. Profil risiko tiak hanya memberikan angka angka yang menggambarkan tingkat risiko suatu orang, objek atau wilayah terhadap bencana namun lebih dari itu, dengan data yang berlimpah yang telah dianalisis oleh AI tersebut, para manajer bencana akan diberikan informasi lengkap terkait karakter masing masing korban agar pelayanan terhadap korban lebih sesuai dengan karakternya dan kemudian meningkatkan peluang keberhasilan penanganannya. Sebagai gambaran saat ini, dengan bantuan AI, kita sebenarnya diberikan informasi informasi dan iklan iklan yang disesuaikan dengan karakter dan kecenderungan kita. Hal ini dipelajari oleh AI dari informasi jejak jejak digital yang kita tinggalkan dalam situs mesin pencari dan juga media sosial kita. Sekarang kita bayangkan informasi informasi tersebut digunakan untuk memberikan gambaran terkait profil risiko kita, maka dengan otomatis, dengan perlahan informasi informasi terkait kebencanaan dan beberapa ilmu dasar kesiapsiagaannya disisipkan dalam media sosial kita dan disesuaikan dengan ancaman, kerentanan, karakter dan tendensi kita. Dari informasi informasi tersebut, pendidikan bencana pun dapat lebih disesuaikan dengan dengan umur dan karakter masing masing personal.

Membantu Peningkatan Kinerja para Manajer dan Pegiat Kebencanaan

Ketersediaan data dan informasi yang cepat dan tepat merupakan suatu kunci dalam manajemen bencana pada masyarakat 5.0. Ketersediaan informasi terkait profil risiko bencana pada setiap agregasi masyarakat, dari personal ke desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara hingga masyarakat internasional dapat dijadikan sebagai salah satu dasar pembuatan kebijakan, kesepakatan dan peraturan peraturan dalam manajemen bencana yang sesuai dengan karakter dan profil risiko bencana untuk masing masing entitas yang akan ditangani. Peran AI, IOT dan BIG data disini tidak hanya terbatas pada penyediaan bahan-bahan awal penyusunan kebijakan dan lain lainnya itu. Peran ketiga tekhnologi tersebut juga akan terlihat pada implementasinya.

Setelah pemerintah, manajer bencana dan pegiat bencana menyepakati kebijakan dan aturan baru dalam manajemen bencana, maka AI akan memasukan kebijakan atau aturan tersebut dalam protokolnya. Misalkan terdapat peraturan baru terkait tata ruang daerah pesisir untuk mengurangi risiko tsunami yang menyatakan dilarang membuat bangunan yang tidak memiliki standard aman dari tsunami. Saat kontraktor mengurus perijinan, AI mulai menilai apakah bangunan yang akan dibangun oleh kontraktor tersebut sesuai dengan peraturan terbaru yang ada, jika tidak sesuai maka permohonan ijin akan di tolak.

Selain berperan dalam implementasi kebijakan, AI juga berperan dalam Implementasi rencana kontijensi yang telah di buat. AI disini berperan untuk memastikan dan mengingatkan peran masing masing stakeholder dan juga mengumpulkan data dan informasi kegiatan penanganan bencana untuk kemudian memberikan kembali informasi terkait status terkini dari penanganan bencana yang sedang dilakukan. AI akan mengidentifikasi hal hal esensial yang terlewat dan juga melakukan mengajukan saran saran untuk mendukung penyusunan langkah langkah strategis aksi penanganan bencana yang perlu dilakukan para pegiat bencana.

Terkait penilaian situasi ketika bencana, AI secara otomatis akan mengakses semua informasi citra, radar, sensor, hingga jejak dijital terkait wilayah dan masyarakat terdampak. Berdasarkan infrmasi informasi tersebut AI akan memberikan gambaran umum terkait cakupan dampak dan tingkat keparahan masing masing wilayah. Untuk melengkapi informasi tersebut AI mengirimkan tiga jenis drone yang satu berupa drone yang terbang melayang 24/7 untuk menyediakan koneksi internet dan saluran komunikasi, drone tipe kedua berupa drone observasi yang secara mandiri bergerak untuk mengakuisisi informasi visual daerah terdampak dan drone tipe ketiga berupa swarm drone yang terdiri dari jutaan drone kecil bergerak secara kumunal dan berpencar mencari korban berdasarkan informasi dari drone observasi dan jejak digital para korban. Swarm drone berukuran sangat kecil sehingga dapat mengakses celah celah kecil reruntuhan bangunan. Masing masing unit dari swarm drone memiliki sensor sensor untuk memonitoring kondisi para korban, setelah menemukan korban, swarmdrone akan melekat, memeriksa kondisi korban dan memberikan informasi lokasi maupun kondisi tersebut kepada pusat komando.

Ilustrasi Swarm Drone (Sumber: David BBC)

Pos Komando dibantu dengan AI akan melakukan analisis prioritas penyelamatan korban berdasarkan tingkat urjensi dan tingkat kesuksesan penyelamatannya agar jumlah korban yang berhasil diselamatkan semakin banyak dan cepat. Selain ke pos komando untuk keperluan penyelamatan, swarm drone juga mengirimkan informasi tersebut kepada masing masing klaster baik klaster kesehatan untuk menyiapkan perlengkapan kesehatan (peralatan operasi dan obat obatan) yang dibutuhkan, perlindungan pengungsi untuk menyiapkan tenda tenda dan makanan.

Lengan lengan robot digerakan untuk membantu mengangkat reruntuhan sembari terus memantau kondisi para korban yang telah tertempel swarm drone. AI akan mengidentifikasi korban korban yang membutuhkan waktu lama dalam evakuasi dan kemudian mengirimkan drone logistik dan obat obatan awal yang secara langsung dikirimkan kepada korban-korban tersebut.

Kondisi para korban akan dilaporkan pada para manajer bencana yang kemudian dikirimkan langsung pada masing masing keluarganya. Keluarga yang merasa salah satu anggota keluarganya hilang kontak dapat menghubungi AI untuk kemudian mencocokan identitas mereka (baik secara tertulis maupun biologis (DNA, pupil mata dan sidik jari) dengan korban korban yang ditemukan swarm drone.

Saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang, dan jika lebih panjang lagi akan menjadi tidak bagus. Untuk itu tulisan ini saya potong sampai sini dulu dan akan berlanjut pada tulisan Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0 bagian ke 2

Sekian dari saya, semoga angan angan ini suatu saat dapat terwujud, sampai jumpa di tulisan bagian ke 2 dan Salam hangat dari Saya

Dewa Putu AM

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] The Great Shifting

February 5, 2019 — by dewaputuam1

252-960x960.jpg

Akhirnya saya dapat menyelesaikan misi untuk membaca karya terbaru Prof Rhenald Kasali ini. Saya membeli buku ini tanggal 8 July 2018, jadi bisa dikatakan saya langsung membeli buku ini saat buku ini pertama di rilis #yeayyy dan menjadi satu diantara timbunan buku di lemari saya. Seperti yang saya utara kan sebelumnya dalam postingan di link ini bacaan saya ditahun 2018 sangat lah minim meskipun saya masih rajin muter muter di gramedia dan berburu buku buku dengan judul yang sekiranya menarik bagi saya. Setelah menemukan buku yang menarik, buku tersebut akan saya timbun bersama kawan kawan sejawatnya. Begitulah nasib beberapa buku saya di tahun 2018 (malangnya nasib buku buku ku itu #uwuwuwuwu). Tetapi semua itu akan berubah, dikit demi sedikit timbunan buku saya akan saya taklukan di tahun 2019. Saya yakin saya bisa nyelesaikan timbunan timbunan buku buku tersebut mumpung belum ada buku terbitan 2019 yang menurut saya bagus dan menarik untuk dibaca di tahun ini hehehe.

Oia, selain buku cetak juga saya beberapa tahun belakangan ini telah shifting ke arah buku elektroni (pinjam istilahnya di buku ini). Aplikasi ebook yang saya gunakan adalah Google PlayBook yang agaknya cukup menarik bila saya bahas di posting berikutnya, namun untuk tulisan saat ini saya akan fokus pada pembahsan terkait buku karya Prof Rhenald Kasali yang berjudul The Great Shifting. Setelah saya selesai membaca buku ini, saya sadari sesuatu yang menurut saya cukup penting. “Buku ini bukan lah novel”. Buku ini tidak memberikan angan-angan semu tentang kemegahan masa depan dengan berbagai macam gimiknya, Namun sebaliknya, buku ini menceritakan kepada kita bahwa masa depan bukan lagi dekat dengan sekarang tetapi masa depan adalah sekarang “Tomorrow is Now“. Jargon tersebut disebut beberapa kali oleh sang Profesor dalam bukunya baik secara tersurat ataupun tersirat. The Great Shifting atau jika diterjemahkan secara bebas berarti “Pergeseran Besar” sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan berlanjut terus hingga kapan pun saat ini masih menjadi misteri.

Oia Ada satu hal lagi yang menarik dari buku ini, Prof Rhenald dalam tulisannnya secara langsung menyinggung dan mematahkan anggapan beberapa orang pesimis yang beberapa tahun ini mengeluhkan Daya beli masyarakat Indonesia sedang melemah. Benarkah demikian?

DESKRIPSI SINGKAT BUKU

Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018. Menurut saya buku ini cukup tebal yakni sekitar 500-an lembar. Saya rasa itulah alasan utama saya mengendapkan buku ini selama 6 bulanan, bukan waktu yang sebentar untuk mengendapkan buku sebagus ini. Melihat ketebalan buku ini cukup membuat saya enggan untuk membaca. Namun harus saya akui bahwa dari segi cetakan, design buku dan segala tampilan lainnya buku ini menarik untuk dimiliki hehehe, meski design covernya bagus sih tetapi kurang menarik, sehingga bagi sebagian orang yang menilai buku hanya dari covernya (seperti saya) akan mudah sekali melewatkan kesempatan luar biasa untuk membaca buku dengan isi yang semenarik ini. Saya tidak tahu apa yang membuat penilaian saya terhadap cover buku ini seperi itu, designnya bukan jelak namun saya rasa akan lebih baik bila meminimalisir tulisan di depannnya karena saya rasa terlalu sesak.

Lanjut dari sisi isi buku. Ini yang cukup saya sesalkan sebenarnya. Kenapa saya selama ini menimbun buku ini dan tidak membacanya. Menurut saya buku ini sangat bagus dengan gagasan yang fresh bagi sebagian orang seperti saya dan menjelaskan dengan baik fenomena fenomena yang terjadi disekitar kita saat ini. Tidak hanya berfokus kepada sisi ekonomi yang Shifting seperti buku buku lainnya namun buku ini dengan sangat indahnya menjelaskan bahwa pergeseran juga terjadi pada kehidupan dan cara hidup kita sebagai manusia. Perubahan kehidupan dan cara hidup itu digambarkan dengan contoh contoh yang sering kita temui di duania nyata dan beberapa diantaranya pernah viral di jagat maya kita. Oia, seperti review review generik lain tentunya saya akan mengatakan bahwa cara penulisan dan gaya bahasa dari buku ini cukup sederhana sehingga lebih enak dicerna. Tulisan ini masih bisa dipahami oleh orang orang yang tidak begitu paham tentang hal hal yang bersifat teksnis dan orang orang yang tidak terlalu pintar seperti saya hehehe.

INSIGHT BUKU

Ada banyak sekali gagasan menarik yang saya temukan dalam buku ini dan akan menjadi sulit dan panjang bila saya jabarkan satu persatu dalam satu tulisan. Saya telah menuliskan satu gagasan menarik tersebut dalam sebuah tulisan Kepribadian Lain di Dunia Online. Saya sebenarnya lebih suka gagasan gagasan terkait Cyber psycology yang dipaparkan dalam buku ini, karena gagasan gagasan lain terkait pergeseran di beberapa bidang seperti pendidikan, perbankan, Game, Periklanan serta Budaya Belanja rasanya sudah pernah saya baca baik dari buku lain maupun berita berita online.

Sesekali saya tersenyum ketika membaca beberapa bagian di buku ini dan berkata dalam hati, “ah ternyata gini ya” ,dan kemudian pada bagian lainnya saya berujar kecil “hahaha ia benar juga ya”. Bagian yang paling banyak momen momen seperti itu ada pada Bab 2 tentang Tekhnologi yang mengubah interaksi Manusia, Bab 3 tentang Ketika yang Tersembunyi Terungkap dan Bab 9 tentang Esteem Economy, Ketika Setiap Orng Haus Pengakuan.

Bila boleh saya simpulkan tulisan ini, Secara keseluruhan saya sangat puas dapat selesai membaca buku ini. Buku yang sangat menarik dan ditaburi segudang gagasan menarik dan tentunya menjelaskan dengan gamblang bahwa The Great Shifting bukanlah angan angan akan hari esok, The Great Shifting sedang terjadi saat ini. Melihat hal tersebut beliau memberikan pilihan, apakah kita hanya akan mencari kambing ber cat hitam untuk dipersalahkan dan menampung segala keluh kesah perubahan yang terjadi, atau kita mulai mengambil tindakan bergesar bersama menuju masa depan yang bukan lagi di depan. #IniGueNgomongApaDah.

Dan Berhubung saya saat ini bekerja di bidang manajemen bencana, yang jadi pertanyaan besar bagi saya adalah, Apakah atau akankah the greatshifting ini sudah atau akan mengubah pola pola manajemen bencana di negeri kita saat ini, berhubung pada tahun 2018 kita di bangunkan oleh rentetan kejadian bencana yang tentunya memberikan banyak pelajaran bagi kita. Dan pertanyaan penting lainnya adalah, apa yang terjadi bila kita tidak berubah?

Saya rasa cukup sekian.

Salam

Dewa Putu AM

Featured Image Designed by Makyzz / Freepik

BukuDaily LifeHiburanPsikologiUncategorized

“Kepribadian Lain” di Dunia Online

January 31, 2019 — by dewaputuam2

393952-PCOICX-223-960x960.jpg

Keanehan “Mereka” di Dunia Online

Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]

Berhubung tahun ini sudah memasuki tahun tahun politik yang seperti kita akan banyak menyaksikan banyak hal “lucu” berseliweran di dunia maya baik itu yang ada di buku muka, burung biru, yusup, hingga sosmed gambar tipu-tipu. Kelakuan netijen akan semakin ajaib dan tidak jarang bermunculan konten-konten yang diluar batas imajinasi terliar kita #hasek. Saya sebenarnya ingin memberikan contoh-contoh keajaiban netijen netijen tersebut namun cukup serem jadi tidak saya tampilkan agar tidak ada yang terluka. Meskipun saya tahu pembaca tulisan saya adalah golongan orang orang keren yang kecil kemungkinannyamemiliki keajaiban para netijen yang saya bahas pada post ini [#penjilat].

Ada suatu buku yang menarik yang sedang saya baca saat ini, Judul buku tersebut adalah “The Great Shifting” Karya Rhenald Kasali. Dalam buku tersebut, Prof Renald menceritakan suatu keanehan prilaku yang banyak muncul di kalangan netijen yang sebelumnya saya sudah sebutkan. Kelakuan aneh itu tampaknya akan meningkat di tahun tahun ini #bersiaplah. Netijens maha benar dengan segala keajaibannya sudah mulai merajalela dan menebarkan semua pesonanya. Entah itu diakui atau tidak, secara sadar ataupun tidak sadar, kita pun terkadang terdampak oleh fenomena ini. Atau mungkin justru kita sering dan kitapun menjadi salah satu netijem maha benar itu :). Fenomena ini saya rasa berpengaruh ke semua orang dan tidak pandang bulu, namun memiliki kadar yang berbeda beda sehingga “yang tampak dipermukaan” hanya segelintir orang saja. Itupun jika lingkungan kita sudah cukup kece terhadap internet ya, kalau tidak ya mungkin bukan lagi “segelintir orang” tetapi kebanyakan orang.

Tentang Online Disinhibition Effect [ODE]

Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)

Online Disinhibition Effect atau biasa disingkat dengan ODE, dapat dijelaskan dengan ringkas melalui gambar diatas. Secara sederhana, fenomena munculnya keajaiban keajaiban para netijen menurut teori ini merupakan hasil dari sifat anonimitas internet dan kurang pedulinya para penggiat online (didominasi oleh kaum yesman). Dalam dunia online orang akan cenderung lebih berani, dan lebih merasa bebas melakukan apapun tanpa ada hambatan. Hal ini dikarenakan karena mereka merasakan bahwa identitas mereka tidak di ketahui (anonim) dan menduga tak ada orang lain yang memperhatikan nya atau paling tidak tidak ada orang lain yang mereka kenal memperhatikannya. Hal ini akan berimbas pada menurunnya pengendalian akan tingkah laku pribadi atau istilah lainnya teradi penurunan Inhibition Control. Dalam buku The Great Shifting, Rhenald Kasali menjelaskan bahwa “Inhibition Control adalah kemampuan yang didapatkan manusia dari serangkaian latihan sejak kanak kanak untuk mengendalikan saraf saraf impulsif (dorongan otomatis atau spontan) dan memberikan respon perilaku melalui “attention” dan “reasoning”.

Pada dasarnya, Inhibition Control menggambarkan kemampuan kogniitif seseorang dan terlihat dalam cara dia mengantisipasi, perencanaan dan setting tujuan. Seseorang yang memiliki Inhibition control yang baik akan baik pula ia dalam bertindak, menulis dan berucap. Jika kurang, hal hal yang bersifat impulsif akan mendominasi sehingga kontrol diri dalam bertindak, menulis dan berucap akan menjadi kurang begitu sehat.

Dari sini akan terlihat kekurang siapan kita akan tekhnologi yang ada sekarang, jika pendidikan dulu terfokus pada pelatihan Inhibition Control kita di dunia nyata yang notabennnya kita dapat dengan jelas mengetahui bahwa kita sedang di awasi dan ada nilai dan norma lain yang mengingatkan dan bahkan mengikat agar berperilaku baik. Tentunya baik berdasarkan nilai norma yang berlaku di lingkungan kita tentunya. Saya akui bahwa baik itu pun relatif tergantung dari nilai dan norma yang dianut oleh orang.

Ketika kehidupan kita mulai dimasuki tekhnologi internet, kita pun menjadi kaget dan beberapa yang tidak siap dengan perbekalan nilai dan norma yang kuat akan merasa bahwa ini adalah saatnya mereka bebas, tidak ada yang tahu apa yang mereka perbuat, tak perlu lagi malu mengekspresikan diri, tulis dan bagikan lah sesuka hati, toh tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di dunia maya ini. Ini dunia maya, bukan lah dunia nyata. Kondisi demikian yang kemudian menciptakan pribadi pribadi lain yang bukan hal yang jarang bila bertolak belakang dari pribadi yang kita jalani di dunia nyata.

Yang jadi pertanyaan besar bagi kita sekarang adalah,

“JIka kita merasa bebas karena Anonimitas?, Apakah kita yakin bahwa kita benar benar Anonim di dunia Maya Ini?”

Jika jawabannya yakin, saya sarankan mainlah lebih jauh dan pulanglah lebih malam. hehehe. sekian dari saya, mungkin tulisan ini tidak begitu berfaidah namun saya rasa ini suatu keresahan yang agaknya perlu saya tuliskan di sini. sepertinya sudah sampai disini saja, Akhir Kata saya ucapkan terimakasih atas waktunya

Salam.

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Ilustrasi
1. Feature Image Designed Freepik
2. Gambar Netijen dan segala kebenarannya [sumber: cybereffect.org]
3. Ilustrasi Online Disinhibition Effect (sumber: The Marocharim Experiment)

Daily LifeGameHiburanPsikologiUncategorized

Cerita Tentang PUBG dan Kehidupan

January 27, 2019 — by dewaputuam0

9fc0a20d-38ca-4c27-8628-73475cc7c252_PUBGMobile_5-960x640.jpg
PUBG Sanhok (Sumber: bgr.in )

Tulisan ini saya buat sebagai jawaban atas request teman saya yang menginginkan tulisan terkait PUBG dan teman lainnya request tentang Kehidupan #haseek. Kedua topik tersebut tampaknya kurang begitu nyambung ya, tetapi cukup menarik jika kita coba hubung hubungkan hehehe. Saya kurang begitu yakin kengemengan saya dapat tertahan dalam postingan ini, jadi sekedar mengingatkan buat teman teman pembaca, jangan terlalu percaya dengan tulisan saya kali ini karena tidak semuanya benar namun cukup fair juga kan kalau saya bilang tulisan ini tidak semuanya juga salah #sip. Mulai ke topik,

Sekilas Tentang PUBG [Mobile]

Permainan PUBG mobile merupakan permaianan game dalam perangkat mobile (ios dan android) yang karya Tencent Games. Pada dasarnya ini merupakan sebuah game battle royal dimana 100 pemain tanpa senjata diterjunkan pada suatu wilayah yang luas, saling sikut cepat2an cari senjata dan perlengkapan kemudian baku tembak untuk menjadi satu satunya yang dapat bertahan hidup hingga akhir (sesederhana itu sudah). Dalam permainan ini kita bisa memilih pertandingan solo, duo atau squad, tapi biasanya lebih seru squad, karena kita bisa bacot bacotan (melepas semua emosi) sama teman atau malah dibacotin satu tim, konyol2an atau pun bisa juga serius membentuk strategi agar bisa bertahan sampai akhir.

Dalam tulisan ini tentunya saya tidak akan memberikan trik trik agar bisa dapat chicken dinner (istilah untuk solo, duo atau squad yang berhasil bertahan hingga akhir). Saya tidak memberikan hal hal itu karena sudah banyak orang diluar sana yang menuliskan entah itu dalam bentuk blog ataupun vlog. Oleh karena itu kali ini saya mencoba untuk sedikit bercerita tentang apa apa saja trik bermain dalam PUBG yang mungkin saja bermanfaat di dunia nyata.

Belajar Hidup dari Game PUBG

Ada beberapa aspek dalam permainan PUBG mobile yang dapat kita jadikan pelajaran yang cukup menarik dan bagi saya cukup sesuai diterapkan dalam hidup kita. Mungkin terdengar berlebihan, namun menurut saya kita bisa belajar dari mana saja, ya termasuk dari sebuah game yang tentunya tidak serta merta dapat kita terapkan secara bodoh, cukup ambil intinya saja.

  • Dimulai dari Terjun Bebas : Permainan ini dimulai dari terjun bebas dan sebenarnya strategi sudah harus mulai disusun apakah kita akan memainkan tipe permainan yang offensive yang barbar atau ingin permainan yang tenang dan cenderung defensive? Penentuan strategi inilah yang kemudian menentukan dimana dan kapan kita akan terjun. Keraguan sedikit saja dan tidak adanya strategi yang jelas akan mengantarkan kita keawal permainan lagi dengan lebih cepat (terlalu dini mati dan masuk lobby hehehe). Begitu juga dengan hidup, sebelum masuk ke suatu stage, kita perlu dengan cepat menentuakan tipe peran yang akan kita mainkan, ingin menjadi seseorang yang offensive dan terus memberikan tindakan tindakan yang menjadi triger lainnya atau ingin memainkan peran yang pasif dan hanya merespon aksi aksi dari pihak lain. Sama seperti permainan, terlambat kita menentukan tipe permainan kita, terlambat kita terjun maka terlambat ula kita akan melakukan aksi ataupun respon. Keterlambatan disini tentunya tidak hanya memberikan dampak se-cere masuk lobi, namun bisa lebih dari itu. Diluar dari itu semua, ada satu poin sangat penting yakni kata “Terjun”, ntah itu hasilnya seperti apa, namun dengan kita terjun kesempatan akan selalu terbuka.
  • Melooting Apa yang Ada : Setelah kita terjun di lokasi yang kita kehenaki, yah meskipun terkadang kita perlu terjun di tempat lain karena keterlambatan kita atau faktor-faktor lain, satu kegiatan yang harus kita lakukan sesegera mungkin ajadalh “Looting” mungut barang barang yang ada apapun itu tapi paling penting adalah barang barang yang kita perlukan untuk menyerang dan bertahan baik itu senjata, ataupun pelindung. Sama seperti hidup, ketika kita terjun maka kitapun harus mengambil hal hal dasar apapun yang sekiranya akan kita perlukan dalam permainan, tak perlu memilah milah, (ambil semua dahulu) ketika dirasa sudah mencukupi kebutuhan dasar barulah kita boleh mulai memilah milah dan mencari apa yang kita inginkan. Dalam melooting pun kita tidak boleh terlena dan terdiam terlalu lama di suatu dan kita harus terus bergerak ke lokasi lokasi lainnya untuk memaksimalkan pendapatan kita. Poin pentingnya adalah kita harus ambil apapun yang kita butuhkan terlebih dahulu baru ambil yang kita inginkan.
  • Menyerang, Bertahan atau Kabur : Jika kita selamat dari fase looting me looting saatnya kita mulai memainkan peran kita. Kita memiliki cara tersendiri dalam bermain, ada yang terang terangan menyerang, ada yang sembunyi sembunyi menyerang, ada yang sembuyi sembunyi sembunyi aja, ada pula yang tunggu di serang dahulu namun (saya biasanya memilih kabur hehehe). Apapun yang kita lakukan ntah itu menyerang, bertahan ataupun kabur harus didasari dengan pertimbangan yang matang baik posisi, waktu dan situasi yang ada. Kita boleh barbar, tapi bodoh jangan lah. Sekali kali tak papa si untuk seru seruan hehehe. Poin pentingnya apa yaaa,.. saya juga tidak sebegitu paham dalam hal ini karena setiap orang punya seninya sendiri. Tapi dari beberapa trik yang saya baca dan coba ada satu yang perlu kita lakukan yaitu “Bergerak”. Ya, kita harus terus bergerak (bukan gerak gerakan tidak perlu) tetapi gerak yang pasti ntah itu bergerak untuk segera menyerang, bergerak ke batu/dinding untuk bertahan atau bergerak dengan cepat untuk kabur. Yang jelas kita harus selalu bergerak, karena yang berubah tidak hanya kita dan lawan kita namun lingkuman pun senan tiasa bergerak, yang tidak bergerak tentu akan mati konyol. Dalam hidup kadang kita menemukan halangan, hambatan atau bahkan tantangan. Kita boleh saja bediam diri sejenak, namun ingatlah kita harus terus bergerak untuk mencapai apa yang kita inginkan, gerakan disini tidak melulu lurus ke titik tujuan, karena sekali lagi saya tentunya mengingat bahwa kita punya cara masing masing yang dalam hal ini cara kita bergerak menuju tujuan yang kita inginkan.
  • Jangan Terlalu Serius, Ini Hanya sebuah Game : Saya rasa ini suatu farasa yang tepat dan menjadi penutup yang cakep untuk tulisan ini. Kita boleh serius menentukan strategi, kita boleh serius menentukan langkah dan tindakan, kita juga boleh serius dalam terus berjalannnya kita. Namun,… ada satu hal yang harus selalu kita ingat “Jangan Terlalu Serius lah,… Ini Hanya Sebuah Game. Terkadang kita kesal karena dikecewakan oleh tindakan rekan satu tim tak jarang pula kita kecewa oleh tindakan konyol sendiri atau sedikit penyesalan karena kita tidak melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan. Namun apapun itu kita juga perlu ingat “Ini hanya sebuah game” Nikmati lah setiap momennnya. Yah, saya akui terkadang hidup memang tidak sesederhana dan sebercanda itu, Frase “Ingat ini hanya sebuah game” yang saya maksud disini bukan sekedar pada menyepelekan tentang hal hal yang kita lakukan. Frase ini lebih dari itu kawan :). Frase ini tentang kesadaran akan diri kita tentang apa yang sedang kita lakukan dan hadapi sebenarnya. Kita harus sadar apa yang sebenarnya sedang kita lakukan dan seperti apa dampaknya baik untuk diri kita maupun orang lain kedepannya. Dengan memahami apa yang sedang kita lakukan dan dampaknya, setidaknya kita dapat memebrikan respon yang wajar dan cukup (tidak kurang dan tidak berlebihan) sehingga energi kita cukup untuk mengantipasi game berikutnya :).

Mungkin cukup sekian saja hal hal yang pelu saya tuliskan kali ini mengingat jumlah kata dalam postingan ini sudah melampaui 1000 kata yang mungkin sudah membosankan bagi beberapa dari kalian. Silahkan looting apa apa saja yang baik dalam tulisan ini dan lupakan saja apa apa yang tidak penting. Salam hangat dari saya.

Dewa Putu AM

BukuDaily LifePsikologiUncategorized

Kenalan Sama Diri Sendiri

January 15, 2019 — by dewaputuam4

fc70650b208d0812fca26853e99c1409-960x640.png

Saya baru tersadar, selama ini kita terlalu sibuk mengenal orang lain hingga kita lupa untuk berkenalan pada diri kita sendiri.

Keinginan saya untuk membuat tulisan ini terihlami dari buku yang saya sedang saya baca beberapa hari ini yaitu buku “Better than Before” karya Gretchen Rubin. Sejauh yang saya baca (saya belum selesai baca hehehe) Ada satu konsep yang baru saya ketahui dan menurut saya cukup menarik dari buku ini yaitu tentang konsep Empat Tendensi Manusia yang ada pada bab Mengenal Diri Sendiri. Pada tulisan ini saya akan mencoba sedikit mengulas hal tersebut, karena menurut saya ini penting agar setidaknya kita sadar “Meskipun kita sama, tetapi kita cukup berbeda untuk disamakan”. AGak jelimet ya bahasa saya, intinya si kita sebagai mausia punya keunikan masing masing termasuk tendensi kita (kecenderungan) kita untuk merespons sebuah ekspektasi.

Kenali dulu Diri Sendiri Sebelum Mengenal yang Lain ?

Mengenali diri sendiri, menurut saya sama pentingnya atau jika boleh ekstrim saya rasa bahkan jauh lebih penting dari mengenal orang orang disekitar kita. Hal itu cukup masuk akal karena bagaimana kita bisa dengan yakin mampu mengenal orang lain bila dengan diri kita sendiripun kita tidak kenal. Kenal yang saya maksud disini bukan hanya terbatas pada nama namun lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud juga bukanlah kenal secara fisik, yang seolah olah kita hanyalah seonggok daging dengan aliran adarah didalamnya saya ingin lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud disini bukan pula kenal sifat sifat yang teramalkan dalam Astrologi, Shio atau apapun itu.

Another Me (Sumber: graffitiprints.com)

Siapa kita sebenarnya? siapa yang memikirkan untuk membuat tulisan ini, siapa pula yang memerintahkan jari jemari saya untuk menyatakan apa yang dipikirannya kedalam bentuk tulisan di blog ini. Dan siapa sang kesadaran ini yang saat ini dengan bingungnya bertanya melalui tulisan ini.

Saya baru sampai pada pertanyaan yang berkutat pada keingintahuan saya tentan “siapa kah saya ini” sudah cukup membingungkan, belum lagi pertanyaan seperti apa saya sebenarnya dan juga belum pada pertanya apa yang sebenarnya saya inginkan dalam sesuatu yang di sebut “hidup” ini. Nah,.. saya semakin bingung kan. -_____-
Kenapa pertanyaan pertanyaan ditulisan ini menjadi semakin rumit ya, padahal rencana awal tulisan saya hanya ingin membahas tentang konsep empat tendensi yang ditawarkan oleh Gretchen Rubin. Mungkin pertanyaan pertanyaan tadi tidak dapat saya jawab disini atau lebih tepatnya tidak begitu penting (untuk kalian) jika saya tuliskan disini karena saya yakin jika kalian tanayakan hal tersebut pada diri kalian sendiri akan menghasilkan jawaban yang berbeda beda pula.

Untuk Sementara, Kenali Diri Sendiri seperti Orang Lain

Mungkin kalian bingung kenapa saya menuliskan sub judul “Untuk Sementara, Kenali Dirimu Seperti Orang Lain”. Saya secara sengaja memberikan judul seperti itu karena iseng belaka. Menurut saya konsep pengenalan diri sendiri yang di tawarkan buku-buku, video, tentunya termasuk tulisan ini itu dari orang lain, yang untuk sementara bukan lah suatu yang salah bila kita gunakan untuk mengenali diri kita sendiri. Yah meskipun bukan suatu yang 100% benar juga sih, tapi tetap ada gunanya lah ya, dan menurut saya konsep yang diberikan Gretchen Rubin cukup menarik.

Ini konsep pembagian manusia menjadi empat kelompok berdasarkan tendensinya atau dengan kata lain kecenderungan orang dalam merespon ekspektasi. Saat menetukan dan melakukan sesuatu sesuatu, kita biasanya akan menetapkan sebuah ekspektasi untuk diri kita sendiri. Ada dua jenis ekspektasi berdasarkan sumbernya yaitu ekspektasi eksternal (mematuhi aturan aturan, harapan dan kepercayaan orang lain) dan ekspektasi internal seperti (resolusi, keinginan keinginan pribadi kita untuk lebih sehat, untuk lebih lebih lebih lainnya) Secara sadar ataupun tidak sadar, secara bersamaan kita mendapatkan keda jenis ekspektasi itu di semua kegiatan kita. Menurut Gretchen Rubin, setidaknya ada 4 kombinasi respon yang akan diberikan kita pada kedua tipe ekspektasi tersebut, 1 kombinasi respon tersebut dilambangkan sebagai satu Tendensi. Jadi setidaknya ada 4 Tendensi Bawaan manusia untuk merespon ekspektasi. Keempat Tendensi tersebut antara lain Upholder, Questioner, Obliger dan Rebel. Secara sederhana ke empat tendensi tersebut dapat diringkas melalui gambar diagram dibawah ini.

Empat Tendensi Gretchen Rubin (SUmber Gambar:The Four Tendencies Quiz)

Saya akan menjelaskan satu persatu ciri keempat tendensi tersebut menurut Gretchen Rubin agar seidaknya kita bisa memahami bahwa kita sebenarnya memiliki perbedaan kecenderungan satu sama lain, sukur sukur bia digunakan teman teman untuk mengefektifkan kampanye kampanye yang biasanya sih beberapa bulan ini bakal banyak tu juru kampanye dadakan yang berseliweran di facebook dengan segala rupa tingkah lucunya hehehe. Oke saya mulai penjelasan terkait 4 tendensi:

Upholder

Bagi Uphoalder Kedisiplinan adalah kebebasan. Si pecinta kedisiplinan ini merespon ekspektasi internal dan eksternal dengan senang hati. Dari mulai bangun tidur mereka sudah berpikir “Apa tugas dan Jadwal yang harus dikerjakan hari ini?”. Upholder biasanya orang yang dapat sangat diandalkan oleh orang lain dan juga tentunya diri mereka sendiri. Akan tetapi terkadang akan terlihat berlebihan karena mereka terlalu kaku terhadap peraturan bahkan untuk peraturan peraturan tak tertulis yang tidak begitu penting, kalau saya melihatnya seperti penjilat sih hehehe ternyata mereka bukan penjilat ya dan mereka memang memiliki kebiasaan unik seperti itu. Kekurangan dari upholder akan tampak bila ia dihadapkan pada ekspektasi yang tidak jelas atau tidak ada aturan yang jelas.

Questioner

Tipe orang yang memiliki tendensi ini merupakan orang yang sangat kritis. Mereka akan menanyakan semua jenis ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka hanya akan merespon jika mereka dapat menyimpulkan bahwa ekspektasi tersebut masuk akal. Mereka biasanya bangun pagi dan bertanya ” Apa yang perlu sya kerjakan dan kenapa?”. Ketika tidak ada jawaban apa dan kenapanya mereka tidur lagi #eh. Questioner termotivasi oleh alasan yang masuk akal, atau setidaknya apa yang mereka percayaisebagai alasan yang masuk akal. Kekurangan Questioner jika begitu akaut dapat menderita Analysis Paralysis yakni memikirkan sesuatu secara berulang ulang tanpa menemukan solusi jadi agak terkesan plin-plan hehehe sepertinya saya kenal orang yang seperti ini tapi yasudahlah lanjut ke berikutnya

Obliger

Obliger merupakan tipe orang dengan tendensi untuk dapat memenuhi ekspektasi eksternal namun merasa kesulitan untuk memenuhi ekspektasi internal. Sekilas orang orang ini yang biasanya suka berkorban atau malah dikorbankan. Obliger sangat baik dalam mewujudkan keinginan dan tenggang waktu dari pihak luar, mereka berusaha sangat keras untuk memenuhi tanggung jawab mereka, namun sayangnya mereka kesulitan untuk memotivasi diri sendiri untuk memenuhi ekspektasi mereka sehingga terkadang kehidupan mereka terbengkalai dan terus dikorbankan karena takut mengecewakan orang lain. Beban atas ekspektasidari pihak luar seringkali membuat obliger rentan terhadap kelelahan. Hal ini karena mereka sulit untuk mengatakan “tidak” pada orang lain.

Rebel

Kelompok rebel merupakan kelompok orang yang menentang semua ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka memilih untuk bertindak berdasarkan pilihan kebebasan. Rebel akan bangun tidur dan berpikir “Apa yang ingin saya lakukan hari ini?”. Rebel bekerja untuk mencapai tujuan mereka sendiri, selagi mereka menolak untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Aset terbaik rebel yang bermanfaat besar bagi komunitas yang di huni golongan lain adalah “suara mereka yang biasanya sangat berbeda dengan orang kebanyakan.” Terkadang perbedaan perbedaan yang rebel ciptakan justru dapat menyelamatkan komunitas tersebut. Atau malah menjerumuskan hehehe. Sisi negar=ti seorang Rebel yang sering membuat frustasi orang disekitarnya adalah mereka tidak dapat diminta atau disuruh melakukan apapun tidak peduli saat itu orang mengandalkannya, ada peraturan dan lewajiban, asal mereka tidak ingin maka mereka tidak melakukan.

Ada suatu trik untuk meminta bantuan atau meminta seorang rebel melakukan sesuatu. Kita dapat memanfaatkan sifat alaminya untuk membangkang dengan meminta anatu mengatakan sesuatu yang sebaliknya. Rebel tidak suka diperintah atau disuruh, untuk meminta sesuatu pada rebel cukup dengan memberikan informsi yang dapat berguna bagi mereka untuk membuat keputusan, menunjuk masalahnya sebagai pertanyaan yang bisa mereka jawab sendiri dan biarkan mereka memutuskan dan bertindak tanpa ada yang menyaksikan.

Meski menyukai kebebasan dan menolak adanya hirarki dan peraturan, ada sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Kita mungkin akan sering menemukan orang orang rebel justru tertarik pada institusi yang banyak peraturan seperti militer. Mungkin rebel juga membutuhkan batasan untuk dapat tunduk, berkembang dan memberontak. Rebel akan merasa gelisah bila tidak ada aturan yang bisa dilanggar hehehe.

Tendensi orang memang tidak pure salah satu dari empat tendensi itu namun lebih sering ditemukan merupakan kombinasi 2 atau lebih dari keempat tendensi tersebut. Namun biasanya akan ada satu tendensi yang lebih dominan. Yah meskipun menurut saya dengan mengetahui tendensi kita sebenarnya apa itu belumlah cukup untuk mengenal jauh diri kita sendiri. Namun setidaknya ada sedikit lah pencerahan tentang seperti apa kecenderungan kita, untuk hal lainnya kita bisa cari dari berbagai sumber bacaan seperti tentunya buku buku keagamaan (yang bagi saya merupakan manual book tentang kita). Hal ini tentunya tida saya bahas disini hehehe. eh ada kemungkinan akan saya bahas di posting selanjutnya ding

Saya kira sekian saja post sata pada hari ini soalnya sudah terlalu panjang dan akan sangat menjemukan bila saya lanjutkan.

Salam

Dewa Putu A

Keterangan Tambahan:
Feature Image di depan adalah lkarya dari Firestar97 di link ini gambar Surreal yang bagus ya hehehe

BencanaPsikologiUncategorized

Bencana, Manusia dan Makna

September 16, 2018 — by dewaputuam0

2018_08_15_51527_1534319686._large-960x640.jpg

Senyum Lombok
Masih Ada senyum (Sumber: Facebook BNPB, foto by oleh Mas Accu )

BIAR BAGAIMANAPUN KITA TAK PERNAH LUPA BAHWA KITA MANUSIA

Belum lama ini kita ditunjukan  bahwa kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh dihadapan alam. Alam yang selama ini dengan pongah dan sadisnya kita eksploitasi tanpa henti. Dalam peradaban dunia kita yang kian maju dan manjakan oleh tekhnologi informasi, ketidaktahuan seperti sudah lama punah dan digantikan oleh perasaan mengetahui dan memahami segala hal. Kita lupa menyisakan ruang untuk ketidaktahuan kita. Sayangnya ketidaktahuan itu terkadang tidak disertai oleh keingintahuan atau mungkin kita sendiri yang mengabaikan pengetahuan yang sebenarnya sudah lama ada disekitar kita, dan akhir dari semua itu kita membayar mahal baik dengan materi dan yang paling terasa adalah nyawa yang menghilang.

Meskipun terkadang kita lupa untuk menyisakan ruang untuk ketidak tahuan kita, dan bila mau jujur banyak sekali hal penting yang tanpa sadar kita lupakan. Namun dari kejadian ini saya menyadari satu hal, ada satu hal yang sepertinya kita tidak pernah lupa.

Setidaknya, Kita tidak pernah lupa bahwa kita adalah manusia. Meskipun sebagai manusia kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh, namun biarlah, Pada kenyataannya banyak hal positif yang kita miliki dan dapatkan selama hidup berdampingan dengan orang lain. (digubah salsah satu kalimat dari T William & Carrin 2018 dalam buku berjudu Nol)

jejak kita di dunia maya sesaat setelah terjadi bencana

Kita tidak pernah lupa bahwa sejatinya kita adalah manusia. Bila sebelumnya saya menyalahkan peradaban kita yang kian maju dan dimanjakan tekhnologi informasi, saat ini saya justru memang harus mengakui bahwa salah satu bukti bahwa kita belum melupakan eksistensi kita sebagai manusia dapat dilihat dengan relatif mudah melalui kebiasaan kita meninggalkan jejak digital. Mungkin kita bisa memoles sedemikian rupa jejak-jejak yang kita tinggalkan di media sosial agar selalu terlihat baik dan mungkin kita tidak dapat memungkiri pula terkadang banyak kebohongan ditebar disana. Semua itu karena kita merasa diawasi dan dilihat oleh keluarga, kawan ataupun kenalan kita. Namun dalam situasi dan kondisi tertentu dimana kita merasa tidak terlihat, kebenaran tentang kita sebenarnya terungkap dengan bebas. Hal inilah yang mengantarkan kita pada suatu premis “Jejak pencarian kita di dunia maya dapat menggambarkan bagaimana kita sebenarnya”. lalu bagaimana kita bila dilihat dari jejak digital yang kita tinggalkan sesaat setelah terjadi bencana besar di NTB?

Sebuah riset kecil kecilan pun coba saya lakukan untuk gambaran gambaran tentang apa yang paling banyak kita cari sesaat setelah bencana terjadi, yang dalam hal ini kita ambil contoh Bencana Gempa 7SR di NTB  yang terjadi pada Tanggal 5 Agustus 2018.

  • Sesaat setelah kejadian, kata kunci terkait Gempa Lombok, Gempa NTB dan Gempa Bali yang paling populer dicari melalui mesin pencarian google adalah informasi terkait lokasi kejadian gempa terbaru.
  • Dalam rentang waktu 4 jam setelah kejadian, kata kunci populer pun bergeser dari sebelumnya terkait lokasi bencana menjadi potensi bencana susulan (gempa dan tsunami) dan tentunya kata kunci terkait Korban bencana mulai populer.
  • Keesokan harinya, setelah informasi sudah mulai membanjiri stasiun stasiun televisi dan media laiinya, terjadi lagi pergeseran kata kunci populer yakni dari bencana susulan dan korban menjadi Korban bencana dan Donasi untuk penyaluran bantuan.

Menariknya, terjadi pergeseran popularitas katakunci sesaat setelah kejadian, 4 jam setelah kejadian dan keesokan hari setelah berita mulai tersebar melalui berbagai media. Masarakat yang didominasi oleh masyarakat yang merasakan gempa awalnya memastikan lokasi gempa dan memastikan tidak adanya bencana susulan pada sesaat setelah kejadian. Hal ini terlihat dari katakunci lokasi gempa terbaru dan prediksi gempa susulan yang berada di puncak penelusuran.

Setelah 4 jam berlalu, dan memastikan tidak adanya tsunami, masyarakat mulai mencari informasi terkait korban. Keingintahuan masyarakat terkait jumlah korban akibat gempa yang mereka rasakan (untuk masyarakat dekat lokasi) dan mereka dapatkan informasinya dari media media lain mulai meningkat pada jam jam ini. Akibatnya , meskipun kata kunci gempa susulan masih menjadi pemuncak kepopuleran dalam pencarian google, kata kunci terkait korban mulai merangkak naik.

Hal yang paling menarik justru terjadi keesokan hari setelah berita terkait bencana sudah tersebar secara masif. Muncul salah satu kata kunci yang menyadarkan dan meyakinkan saya bahwa kita tidak pernah lupa satu sifat paling murni kita yang membedakan dengan makhluk makhluk lain. Sifat itu adalah Kepedulian. Sebenarnya hanya inilah kata kunci yang ingin saya sampaikan pada posting saya kali ini. Saat melihat kata kunci ini saya merasa bahwa meskipun banyak sekali hal negatif yang kita temui selama ini dan membuat pesimis, ternyata masih ada kepedulian. Meskipun sebagai manusia kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh, namun biarlah, Pada kenyataannya banyak hal positif yang kita miliki dan dapatkan selama hidup berdampingan dengan orang lain. Tampaknya frase ini masih relvan ditengah banyak hal negatif ego masing masing kita yang sepertinya memang perlu kita akui bersama.

bencana, manusia dan makna

Bencana, Manusia dan makna hidup sebagai manusia tidak dapat kita pisahkan. Mungkin egois, namun realistis bahwa suatu kejadian kita anggap bencana bilamana sudah mengganggu penghidupan dan kehidupan kita sebagai manusia. Bilamana suatu peristiwa tidak signifikan mengganggu hidup maupun kehidupan manusia maka sulit bagi kita mengaggap peristiwa tersebut sebagai suatu bencana. Namun bila peristiwa tersebut berdampak negatif terhadap hidup dan kehidupan kita sebagai manusia maka kita sepakat hal tersebut merupakan bencana, sekecil apapun itu. Olehkarena itu setiap kali terjadi bencana kita selalu mengkaitkan pada dampaknya kepada Diri kita sebagai suatu individu yang ingin diri dan keluarganya dalam kodisi aman dan kemudian baru dampaknya pada orang lain baik berupa korban maupun kerugian kerugian lainnya.

Definisi bencana yang demikian pun tertuang dalam  Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mendefinisikan Bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Di Indonesia kita mengenal berbagai bencana, dan hampir setiap jengkal wilayah di Indonesia memiliki karakter bencana dan jenis bencanya yang terkadang sangat unik dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Begitu banyaknya jenis bencana yang ada di Indonesia menjadikan Negri kita ini layak memiliki sebutan sebagai Supermarket Bencana. Bila kita kaitkan kembali dengan kejadian bencana Gempa bumi di NTB yang terjadi baru baru ini tentu Bencana NTB “hanyalah satu” dari sekian bencana yang terjadi di Indonesia yang notabennya merupakan supermarket bencana. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah dengan Indonesia yang merupakan supermarket bencana dengan kejadian bencana bencana hampir setiap hari terjadi menjadikan Bencana NTB merupakan hal yang biasa?

Bukan, bukan itu poin pentingnya, Bencana NTB memang berdampak besar tidak hanya pada masyarakat sekitar, Bencana ini merupakan salah satu bencana terbesar dalam 5 tahun terakhir baik dari kerugian materi dan yang paling terlihat dan terasa adalah jumlah korban jiwa yang besar berdasarkan data Pos Pendamping Nasional BNPB untuk bencana Gempa NTB perbaharuan 15 September 2018, total korban meninggal dunia saat ini telah mencapai 564 jiwa dan jumlah itu tentu bukanlah jumlah yang sedikit. Bencana NTB merupakan salah satu penderitaan terbesar yang menimpa bangsa kita. Kita tidak perlu menghindari dan menulak kesedihan yang ada itu, Kita tidak perlu malu untuk menangis dalam kesedihan, karena air mata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar, yakni keberanian untuk menderita (Victor E Frankl).

Perhatian utama manusia bukan untuk mencari kesenangan atau menghindari kesedihan, tetapi menemukan makna dalam hidupnya. (Victor E Frankl)

Kita tidak boleh lupa bahwa makna hidup kita sebagai manusia bahkan bisa ditemukan dalam sebuah penderitaan. Mungkin apa yang sudah terjadi memang sudah tidak bisa kita harapkan berubah. Korban yang telah pergi pun sudah tidak akan dapat kita harapkan kembali. Pada saat saat itu, kita menjadi saksi  adanya potensi manusia yang unik yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya dalam bentuknya yang terbaik, yang bisa mengubah tragedi menjadi kemenangan, mengubah kemalangan menjadi keberhasilan. Dari tragedi Gempa di NTB kita dapat melihat masih sangat banyaknya orang orang yang peduli.

Hidup bersama Gempa (Sumber: Indonesia Uinspire)

Kepedulian mereka mereka wujudkan dalam berbagai cara, Sebagai sukarelawan yang tanpa kenal lelah menyalurkan semua yang ada pada dirinya baik pikiran maupun tenaga untuk membantu, Para dermawan yang memberikan sebagian dari hartanya untuk meringankan penderitaan saudara saudara yang menjadi korban dan masih banyak lagi bentuk kepedulian yang baik terlihat maupun tidak dengan sukarela mereka berikan untuk NTB. Dan kita juga menyaksikan begitu tangguhnya masyarakat NTB yang kini mulai berbenah dan membangun kembali. Bukan hal yang berlebihan jika kita sebut masyarakat NTB merupakan masyarakat yang tangguh. Kita dan NTB hidup bersama gempa sudah berkali kali kita kita menghadapi gempa besar begitu juga dengan Lombok yang sudah berkali kali pula mengalami gempa kuat Namun Lombok dan kita menunjukan ketangguhannya untuk terus dan terus bangkit. Lebih baik dan terus lebih baik lagi dan semakin tangguh, mungkin sesaat lalu kita lupa, namun kita kan tetap bangkit dan membangun ketangguhan pada level selanjutnya. Menuju NTB yang tangguh bencana, Menuju Indonesia Sadar Bencana #NTBBANGUNKEMBALI

Saya sadari ketidak akan mampuan saya dalam menggambarkan bahkan sedikit saja tentang begitu luar biasanya makna yang diberikan trageni ini pada Masyarakat NTB dan juga bagi kita semua. Ada makna tersebar dalam tragedi ini,

  • Pentingnya kita mengenal dan memahami lingkungan kita,
  • Masih adanya kepedulian
  • Kekuatan masyarakat NTB
  • Dan beribu makna lain yang tidak mungkin bisa sebutkan satu persatu menjadikan Gempa NTB begitu membekas.

Tragedi Gempa NTB dan Bencana secara umum mengajarkan kita bahwa bencana bukan hanya tentang amarah alam pada manusia, bukan hanya kerusakan yang dilakukan alam karena kita yang selama ini dengan arogan memperlakukan alam dengan seenaknya, tetapi yang terpenting dari semua itu adalah tentang sebuah makna, tentang kita sebagai manusia,

Akhir kata ijinkan saya untuk mengucapkan terimakasih dan penghargaan sebesar besarnya kepada semua pihak yang selama ini terlibat dalam penanggulangan bencana Gempa NTB, semoga NTB akan bangkit seperti sedia kala bahkan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

Salam,

Dewa Putu AM,

Sumber:
BNPB, 2018, Data Informasi Bencana Indonesia (link)
Pospenas BNPB untuk Gempa NTB, (link)