Daily LifeHiburanUncategorized

[Lagu] Hard To Love

March 1, 2019 — by dewaputuam0

main

Daily LifeHiburanUncategorized

[Lagu] Hard To Love

March 1, 2019 — by dewaputuam0

Event when I Hard to Love (Sumber:Pixabay)

Halo, agar tidak masuk dalam keanggotaan organisasi alis tekuk, semacam organisasi sesat tempat orang orang terlalu berpikir berat dan berbicara ala ala motivator motivator terkenal, ada baiknya dalam tulisan ini saya akan sedikit merenggangkan saraf saraf dalm otak saya untuk menulis yang ringan. Dalam tulisan ini saya ingin membahas tentang sebuah lagu yang nada dan liriknya menurut saya bagus dan Metal banget (Melankolis Total) hehehe. Saya akan bercerita tentang sebuah lagu karya Band One OK Rock yang berjudul “Hard To Love”.

Lagu ini dibuat oleh Taka untuk ayahnya dan menceritakan tentang padangan seorang Anak terhadap sang ayah. Dalam lagu ini ia menceritakan kisah kisah sederhana masa kecil yang sepertinya sama seperti anak anak pada umumya yang tidak sabaran untuk beranjak dewasa. Taka menceritakan dalam lagunya, Saat itu ia benar benar tidak sabaran beranjak dewasa hingga ia terkadang menggunakan sepatu ayahnya yang tentunya sangat besar bahkan ia sendiri belum dapat mengikat sepatu tersebut dengan benar. Kisah kisah sesederhana ini banyak sekali dilakukan oleh anak anak jaman dulu atau bahkan hingga sekarang masih banyak anak kecil yang melakukannya, Menggunakan sepatu besar milik ayah kadang membuat kita merasa keren dan gagah. Saat kecil, saya beberapa kali (sering) iseng mencoba memakai sepatu pantofel ayah saya sepulang kerja wkwkwk meski pada akhirnya akan tampak seperti kaki bebek dan sukar untuk berjalan dengan benar, namun tidak tahu kenapa saat itu saya merasa keren sekali dan merasa seolah olah saya sudah sebesar bigboss hehehe.

Wait ngomong ngomong rada susah nyebut ayah, soalnya biasanya di rumah saya lebih sering memanggil dengan sebutan Bapak, tapi saya rasa akan aneh bila saya menyebut ayah atau bapak secara tidak konsisten, aneh pula bila saya menyebut bapak dalam ulasan lagu ini, jadi saya putuskan menggunakan istilah ayah saja ya #sip. Kembali ke ulasan,

Nah dalam lirik selanjutnya sudah mulai nih ke “Metal”-an dari lagu ini. Dalam liriknya, Taka berkata bahwa sebesar apapun seorang anak tumbuh, pastilah ia menghadap sang ayah sebagai sosok yang besar dan tangguh. saat lirik ini sekilas lalu saya langsung terbayang sosok besar gendut dan agak sedikit kekar oia sixpack juga namun horisontal dengan rambut dan kumisnya yang sudah memutih harus saya akui bahwa ayah saya literally masih cukup tangguh untuk menempeleng anaknya sampai koprol hehehehe horror yo. Tapi biar bagaimanapun seramnya, suatu hari ayah saya pernah berujar pada saya, “Wak,.. segede apapun kamu sekarang dan nanti, kamu tetap anak bapak yang akan bapak didik sambil memutar cincinnya. Diberi sedikit pelajaran kalau memang salah hehehehe. Tetep serem ya ceritanya hehehe.

Ini Foto pak Boss yang pada tanggal 26 Februari kemarin Berulang tahun hehehe tampak Garang dan Horor kan yak, tapi hatinya baik. Salah satu kata yang saya ingat sampai saat ini adalah “Wa, kamu tidak perlu jadi yang terbaik, kamu hanya perlu menjadi satu diantara yang terbaik” Sederhana namun kata kata itu menjadi salah satu pegangan saya dalam bersikap dan bertindak hingga saat ini hehehe.

Dalam lagu hard to Love, Taka menuliskan bahwa Meskipun ia kini sudah besar ia tetap selalu memandang ayahnya dan menghormatinya sebagai orang yang besar dan tangguh. Hal yang tak pernah berubah pun bagi seorang Ayah, sebesar apapun sang anak, beliau akan selalu beranggapan kalau sang anak masih anaknya yang dulu dan masih ia anggap sebagai sebuah berlian yang perlu selalu ia asah. Dan sang ayah pun selalu membantu anaknya untuk menjdi seseorang manusia yang baik. Dalam lagu ini Taka yang notbennya telah sukses bercerita bahwa Ayahnya lah yang terus berusaha agar dirinya menjadi ia yang sekarang.

Sikap semacam ini juga ada pada Ayah saya biar sudah besar kalau salah ya tetap di jewer, yah meski beberapa tahun ini sudah beralih pada diskusi si, kata beliau tidak terlalu seru dan pantes kalau njewer orang yang sudah gede, dan dah lebih layak diajak beragumen bila merasa ada yang salah untuk mengingatkan. Saat itu jujur saya merasa keren hehehe karena sudah dianggap sebagai anak yang dewasa lah. Karena ayah saya pula saya menjadi orang yang seperti sekarang, didikan yang cukup keras khususnya saat belajar toyoran demi toyoran seringkali mendarat bila saya bertanya soal soal matematika yang sama berkali kali dan hal yang sama pula bila saya terlalu lambat dalam menyelesaikan soal tertentu. Hasilnya cukup lumayan lah hehehe.

Kemudian taka bercerita kembali dan ini salah satu baris lirik yang paling saya suka dalam lagu itu. Melalui lirik tersebut taka bercerita bahwa dirinya dan sang ayah selama ini telah merasakan pasang surutnya kehidupan namun ia selalu berharap sikap dan tindakan yang ia ambil dapat membuat ayahnya bangga, Dan sang ayah yang selalu menertai langkahnya selalu dapat membuat permasalahan permasalahan yang mereka hadapi terlihat mudah meskipun terkadang ia sulit untuk menyukai apa yang terjadi tersebut. Melalui lirik ini terlihat lah kemampuan spesial sang ayah selama ini. Seorang ayah (termasuk bapak ku) akan selalu mendampingi perjalanan anaknya mengarungi pasang dan surut kehidupan. Saat pasang bahagia, beliau lah bersama Ibu menjadi orang pertama yang tersenyum bangga dan saat surut beliau pula yang selalu jadi orang pertama yang pasang badan untuk melindungi kita dan dengan tanpa ragu mengulurkan tangannnya saat kita terjatuh dan hendak menyerah.

Sebagai seorang anak menganggap bahwa capaian tertingginya bukanlah uang yang berlimpah, kemasyuran atau apapun itu. Bagi seorang anak, capaian tertingginya sangatlah sederhana. Seorang anak ingin melihat Ayah dan Ibunya bangga akan sikap dan tindakan yang ia ambil, seorang anak tidak begitu terkesima akan puja dan puji orang sekitarnya, ia tidak begitu terkesima akan segala bonus dan penghargaan yang ia terima. Namun sesederhana senyum dan ancungan jempol dari orang tuanya tanda bangga lah yang membuat ia puas dan bahkan sesekali menitikkan airmata bahagia. Yah, mungkin terbaca sebagai sesuatu yang berlebihan dan melankolis tapi itulah yang saya rasakan. Apapun yang saya lakukan sekarang, meski kadang harus luntang lantung, disepelekan dan terhina tujuan utama saya sederhana saja, saya ingin membuat Ayah dan Ibu saya bangga atas apa yang saya lakukan.

Featured image by Pixabay.com

dewaputuam

I'm a Disaster Analyst, Agro-Climatologist, and GIS Analyst. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe reading too.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *