main

Daily LifeUncategorized

Hingga Saat Ini “I’m Still On My Way” Bagian 2

April 6, 2019 — by dewaputuam0

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang berjudul Hingga Saat Ini “I’m Still On My Way”, melalui tulisan ini saya akan bercerita sedikit kisah yang menurut saya menarik untuk dibagikan dan mungkin ada lah sedikit nilai nilai moral yang dapat diambil #mungkin. Jika sebelumnya saya menceritakan tentang perjalanan saya dari masih dalam kandungan, masa kanak kanak hingga remaja dan SMA, kali ini saya akan menceritakan kisah cinta saya di kampus. Hehehe, Membosankan ya sepertinya ya. atau saya menceritakan pengalaman pengalaman absurd saja ya yang tidak ada kisah cinta cintaan hahaha. Cerita cerita seperti itu agaknya lebih shareable. Ini bukan mengelak lo, tetapi sepertinya memang lebih baik dan berfaedah #mungkin.

Saya bersama beberapa teman seangkatan di Jurusan Geofisika dan Meteorologi IPB. Saya lupa ini diambil kapan namun yang saya tahu ini diambil dengan menggunakan kameranya Mirna, dan sepertinya dia juga yang memfoto.

Bangku Kuliahan Level I, Kisah Pembekuan Surat Penting dan Semangat Sidang yang Membara

Kumulai cerita ini dari masa masa perkuliahan saya di Strata 1 Meteorologi Terapan IPB. Sebagai orang desa yang kemudian berkuliah di desa lagi (IPB Dramaga) sebenarnya tidak begitu banyak yang mengagetkan saya tentang kehidupan disana. Hanya saja seperti mahasiswa IPB pada umumnya, pada tahun pertama kami diharuskan untuk tinggal di asrama selama 1 tahun. Tawaran cukup menarik, dan cukup menguntungkan bagi kami para perantau karena tidak perlu susah payah cari kos kosan untuk sementara waktu.

Kehidupan di asrama IPB cukup seru, ada berbagai kegiatan dilaksanakan disana. Kegiatan rutin meliputi Soga atau Social Gatering dan untuk mahasaiswa muslim juga ada Ngalong atau ngaji lorong. Kemudian ada beberapa kegiatan kusus lainnya, yang mengumpulkan semua mahasiswa angkatan baru dalam gymnasium. Untuk kegiatan kegiatan khusus saya sudah lupa semua kegiatannya apa dan seperti apa, yang saya ingat hanaya sebuah fakta bahwa kegiatan itu pernah ada. Di dalam asrama, kami dikumpulkan dengan berbagai macam orang dari suku yang bervariasi, komplit dari sabang hingga marauke. Dalam satu kamar pun biasanya juga beraneka ragam baik suku maupun agama. Untuk kamar saya di Asrama Putra gedung C1 lorong 7 dan nomor kamar 76, saya dikumpulkan dengan orang keturunan cina yang tinggal dijakarta nama kerennya Nehemia tapi bisa dipanggil Agus, kemudian ada orang sunda bernama Jati, dan juga orang Jawa yang kentel bernama Fery.

Suatu hari kami pernah malas mengikuti acara Soga, sehingga kami sepakat untuk pura pura tidur. Beberapa teman kami di lorong saat itu menggedor gedor kamar namun kami tidak menjawab karena ceritanya kami sedang tidur. Namun anehnya, beberapa menit kemudian kami berubah pikiran dan berpendapat sekali-kali tidak apa apa jika kami ikut social gatering bareng teman teman lorong dan didampingi senior. Akhirnya kamipun berakting seperti orang yang baru bangun tidur sambil keluar kamar secara bersamaan. Tampak aneh sih tapi percaya lah kami sudah berusaha sebisanya agar tampak senatural mungkin.

Karena jarang ikut kegiatan dan beberapa kali kedapatan pulang terlalu larut malam akhirnya saya pun mendapat indeks prestasi keasramaan “C”. Bukan sebuah nilai yang baik untuk jadi insan asrama yang baik, namun tidak terlalu buruk juga.

Setelah berasrama selama satu tahun, saya kemudian tinggal bersama teman teman saya dari komunitas hindu di IPB (KMHD IPB), agar saat ibadah bisa bersama sama hehehe. Oia, pada masa masa perkuliahan ini pula untuk pertama kalinya saya mendapatkan pelajaran agama hindu secara full. Saat SD saya belajar agama katolik karena tidak ada guru agama hindu dan kemudian saat SMP saya tidak belajar agama sama sekali baru kemudian dapat pelajaran agama hindu pada saat SMA namun sayangnya jarang sekali masuk dan hanya satu dua kali setiap semsternya.

Ini salah satu kegiatan kami di kontrakan. Sengaja saya sisipkan foto ini disini karena saya tahu si korban akan mampir ke sini dan mencari bahan untuk di share di grup wa seperti yang sudah sudah hehehe,… Bel, ambil foto ini saja gimana. Oia selamat ulang tahun btw. Kami siap bawa gerobak kesana.

Banyak hal konyol yang kami lakukan di masa masa ini, salah satunya adalah “tragedi pembekuan STNK”. Kejadian ini terjadi di musim penghujan saya lupa tahun kapan. Suatu ketika STNK teman saya (yang berbaju merah pada foto di atas) basah kuyub karena hujan. Karena sebelumnya saya belajar tentang keringnya daerah kutub karena udara dingin, sayapun berinisiatif memberikan saran kepada teman saya itu untuk memasukan STNK nya kedalam frizer di lemari es.

Hipotesis Saya saat itu adalah, “Kondisi frizer yang dingin berarti pula memiliki kelembaban yang rendah (kering) kondisi demikian akan menyebabkan objek objek yang dimasukan akan menjadi kering termasuk STNK teman saya karena air yang membasahi STNK akan keluar dan cepat menguap dan kemudian bergabung bersama es dalam frizer”.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. harapan STNK yang kering kemudian sirna begitu saja, setelah beberapa lama STNK teman saya didiamkan didalam Frizer, ternyata bukannya kering tetapi STNK tersebut justru berubah menjadi Es STNK yang terbujur kaku bak kerupuk. Melihat itu ingin rasanya saya memberikan saran lagi untuk mengupakannya secara instan dengan menaruhnya diatas api namun niat itupun saya urungkan karena ragu dan takut gagal lagi.

Biasanya saat saya bercerita hal ini ke orang yang saya beku kan STNKnya ia selalu mengungkit kejadian tentang saya yang salah jadwal sidang skripsi. Saya rasa itu hal yang biasa saja lah ya kalau kita terkadang butuh semacam gladi resik untuk melakukan hal hal yang penting contohnya sidang skripsi hehehe. Yah meskipun bagi orang orang yang tidak terbiasa terkadang suka heran dan bertanya tanya termasuk dosen pembimbing skripsi saya saat itu yang cukup heran melihat saya berpenampilan sangat rapi dan necis pada saat menonton sidang skripsi teman saya. Karena heran beliaupun bertanya kepada saya ada acara apa sehingga saya berpenampilan serapi itu. Sayapun kemudian heran dan memastikan bahwa saat itu saya akan sidang skripsi. Kemudian dosen tersebut semakin heran dan tersenyum senyum simpul dan meminta saya untuk bertanya ke orang tata usaha apakah sidang saya hari itu atau hari lainnya. Dan benar saja ternyata sidang saya akan dilaksanakan pada hari berikutnya. Saya yang sebelumnya semangat dan sudah banyak persiapan membeli konsumsi dan minta doa pada teman teman satu kontarakan pun akhirnya pulang sambil menyunggingkan cengiran kecil sambil berkata “salah jadwal”.

Kuliahan Level I “Dari Dunia yang Tiba Tiba Memutih”

Setelah berkuliah selama 4 tahun-an di IPB Bogor, dan kemudian bekerja sebentar sebagai GIS Analis di sebuah konsultan pertanian saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan perkuliahan saya di Jurusan Geoinformasi untuk Manajemen Bencana, Sekolah Pasca Sarjana, UGM. Perjuangan untuk sampai sana tidak mudah, selain melalui tahap administrasi saya juga harus melalui tahap wawancara. Disinilah sulitnya, dengan kondisi saya yang sedang ditugaskan ke Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Sintang untuk melakukan persiapan proyek pemetaan, saya sambil membawa alat alat survey dengan tangan kiri, tangan kanan saya sibuk mengetik melalui ponsel nokia 3110 classic saya untuk menjawab pertanyaan pertanyaan wawancara.

Saya saat itu beruntung sekali diperbolehkan untuk mengikuti proses wawancara via email. Namun masalahnya hp saya masih jadul dan susah sekali bahkan tidak mungkin untuk mengirim email. Alhasil sayapun meminta bantuan teman saya yang ada di Jogja yaitu si andrep yang sudah saya ceritakan pada cerita sebelumnya untuk membuka email saya. Dia kemudian melihat pertanyaan dan mengirimnya via sms ke saya dan kemudian saya memberikan jawaban saya menggunakan bahasa inggris. Sedikit sulit sih namun seru hehehe.

Poto ini di ambil di ruang kelas belajar kami, Saat poto ini diambil, kami baru saja mendapat bagian baju polo jurusan untuk digunakan saat kunjungan lapang ke Dieng.

Semasa perkuliahan di Geoinfo UGM, saya mendapatkan pemahaman baru baik yang berkaitan dengan Geoinformasi dan juga hal hal yang berkaitan dengan kebencanaan. Orang orang yang saya temui pun sama menyenangkannya dengan kawan kawan yang saya temui saat saya di IPB maupun saat saya di Lampung. Dari kawan kawan saya ini saya mulai ikut ikutan mengeluti hobby membaca, sedikit terlambat sih tapi tak apa dari pada tidak sama sekali.

Oia selama berkuliah di Jogja saya juga merasakan bagaimana suasana saat Jogja seketika memutih oleh abu Gunung Kelud. Sampel abu kelud yang menutupi Jogja dan sekitarnya sampai saat ini masih tersimpan dengan rapi di meja belajar saya di Lampung. Jika kalian penasaran dengan bagaimana rasa dari abu kelud. Dengan bangga saya katakan saya sudah pernah mencicipinya, kira kira ya seperti kita memakan bubuk kaca, agak sepet dan kesat di gigi hehehe. Saat kejadian tersebut saking penasarannya saya sesekali mencoba berbagai hal seperti mencoba apakah memang perih dimata (confirm perih), di rambut akan memberi kesan sangat kering seperti di sasak, dan bila dimakan terasa sekali tekstur kesatnya.

Yang Banyak Orang Tidak Tahu dan Memang Tidak Perlu Orang Tahu

Saya menyadari bahwa saya tidak akan bisa merangkum kejadian kejadian saya selama ini dalam satu dua tulisan saja. Namun saya juga memahami bahwasanya kalian sebagai pembaca tidaklah perlu tahu dengan detil tentang apa apa saja yang terjadi pada saya selama ini (alasan untuk tidak lanjutin). Sejujurnya pula saya hanya menuliskan kejadian kejadian yang kiranya layak untuk dibagi, namun di balik itu sama seperti orang kebanyakan seperti kalian, dalam perjalanan ini saya tentunya juga menghadapi naik dan turunya kehidupan, masa masa saat air mata menetes, tembok pun kadang tak luput dari hantaman hanya untuk melepas emosi yang ada dan kemudian tampil seperti tidak terjadi apa apa lagi di depan kalian. Namun cerita cerita seperti itu tidak akan saya ceritakan karena akan membuang waktu secara percuma. Jikalau kalian telah membaca sampai kalimat ini, saya sangat menghargai itu dan berterimakasih atas luangan waktunya untuk membaca sesuatu yang mungkin nilainya tidak dapat teman teman gunakan sebagai panduan hidup.

Saya sebagaimana anda akan sulit bahkan tidak akan mungkin mengetahui dan memahami segala apa yang terjadipada seseorang, sedekat apapun orang tersebut dengan kita apalagi orang lain yang jauh dari kita. Dari proyek tulisan ini saya belajar bahwa untuk memperkenalkan diri kita sendiri menjadi sesuatu yang singkat sangatlah sulit. Saya kesulitan untuk menuliskan dengan singkat seperti apa kita dan apa apa saja yang telah kita lalui. Dari sini saya berpikir, bila saya sendiri kesulitan memperkenalkan diri sendiri, apakah orang lain merasakan yang sama. Kita memang tidak tahu dan memang tidak perlu tahu tentang semua yang terjadi pada orang lain. hal ini yang menyebabkan terkadang kita sulit memahami dan menerima bahwa cara pandangan kita yang memang beda. Seberapa paham apapun kita akan hidup seseorang tidak ada yang mampu mengubah dan atau menyelamatkan orang itu selain orang itu sendiri yah kira kira sama seperti makna yang ada di lagunya alan walker yang berjudul on my way.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan penting yang harus di jawab segera, apakah kedua paragraf ini berkaitan dengan dua seri tulisan ini? saya tidak yakin demikian. Saya rasa kaitannya tidak begitu nyata. Saya menyampaikan hal ini bukan untuk merangkum apa apa yang telah saya tulis, Saya hanya mengutarakan apa yang sedang ada dalam pikiran saya secara bebas dan tanpa bingkai dan aturan yang mengikat.

Salam dari saya

Dewa Putu AM

dewaputuam

I'm a Disaster Analyst, Agro-Climatologist, and GIS Analyst. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe reading too.

Leave a Reply