Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Mari Ku Ajak Kalian Pada “Enam”. Seni Berpikir Enam Kepribadian

October 24, 2019 — by dewaputuam0

main

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Mari Ku Ajak Kalian Pada “Enam”. Seni Berpikir Enam Kepribadian

October 24, 2019 — by dewaputuam0

Hai,.. ini akan menjadi sesuatu yang lucu, sebuah perjalanan yang sengaja saya buat untuk mengenalkan kalian pada apa yang mungkin tidak pernah kalian temukan sebelumnya atau mungkin beberapa dari kalian sesekali pernah menyadarinya. Mari masuk akan saya tunjukan sesuatu, jangan ragu ini tidak berbahaya, saya jamin itu.

Photo by Louis from Pexels

Coba rasakan rerumputan yang menjalar dan membasahi telapak kaki kita dengan embun yang sendari pagi tidak pernah menguap. Sentuhan yang membawa kehangatan yang menyelimuti kita pergi dan terengut untuk digantikan kesejukan kecil namun lucu. Coba rasakan juga sentuhan lembut angin yang bergerak dari belakang merayap merambat tanpa hambat menelusuri dari belakang dari tulang punggung kita dan terpecah kiri dan kanan menelusuri tubuh kita kearah depan mengeringkan peluh keringat.

Lembut dan arah angin, kau rasakan kah ia membawa kita melangkah kedepan menuju suatu tempat tepat didepan sana, sebuah pintu. Dibalik pintu itulah yang ingin saya tunjukan pada kalian mari ikut saya. Hiraukan saja rasa dingin dan gelayutan angin di antara rambut rambut tipis dan jemari yang sendari tadi kalian rasakan. Meskipun mungkin itu sedikit sulit tapi mari ikutlah saya untuk menemui “sesuatu” dibalik pintu itu.

Biru terang langit dan kemudian gelap pada rona lautan luas. Biru memang seluas itu

Photo by brenoanp from Pexels

Tapi sebelum itu ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Disini saya disebut dengan si Biru, sayalah sang entitas “pembawa segalanya” kesini. Seperti birunya langit yang memberikan kesan luas tanpa ingin memberikan batas, saya melihat jauh lebih luas 1000 langkah lebih jauh dari “lainnya disini”. Itulah tugas saya, membawa apa yang menurut saya menarik dan melihat semua arah yang jauh itu dari apa yang saya bawa. Ehem tentunya kalian juga, ada maksud disini saya bawa kalian ke sini.

“Hai biru, apa yang kau tunggu lagi bawa tamu kita kesini”.

Kau dengar suara di balik pintu itu? mereka tampaknya tidak sabar untuk bertemu tamu mereka. Mari ikut aku ke pintu itu, jangan pedulikan gagang pintu dingin yang sedikit membeku karena dinginnya hujan semalam. Tak perlu kalian pedulikan pula warna usang pintu usang ini, mari masuk dan jangan ragu melangkahkan kakimu untuk masuk ke dalam.

Sedikit lebih terang ya, namun saat pupil matamu terbiasa, dirimu akan melihat empat orang disana sedang duduk di sebuah meja kayu bulat klasik yang tampak kokoh bukan. Maaf agak sedikit kumal untuk urusan cat nya, harap maklum ya sudah tak terhitung berapa kali meja ini di diketuk ketuk gebrak hingga dihempaskan. Ini meja diskusi kami. Oia agak kurang lengkap ya disini, masih ada satu lagi yang belum datang. Sudah jangan terlalu diindahkan ia memang terbiasa begitu. Tapi ia tau kok kalian akan datang kesini, pada ialah saya meminta ijin. Yah meski suka menghilang tidak tahu kemana, dialah pemilik tempat ini sebenarnya sebelum ada kami di sini.

Mari silahkan duduk, kursinya memang terlihat sedikit rapuh tapi tenanglah seberat apapun dirimu kayu ini lebih dari cukup untuk menompangmu. Mari saya kenalkan pada mereka. Ssssst mereka asik kok tenang saja. Dari sinilah semua akan kita mulai dan jangan ragu untuk bertanya bila ada yang ingin kau tahu. Ku sudah merencanakan sesuatu yang menarik untuk kalian dan juga tentunya sudah kami diskusikan akan ke arah semua ini. Sebagai awalan ku akan memberikan kesempatan pada seseorang berbaju putih dan membawa tumpukan kertas kertas tidak tahu jundrungannya itu dengan senyum yang sedikit asimetris dan sedikit menghina namun tajam namun dingin hahaha. Sulit sekali ya memberi gambaran sosok ia itu, terlihat sombong tapi jauh di lubuk hatinya ia baik kok. Monggo putih.

Kanvas Putih tempatmu melukis semuanya, kertas putih tempat semua tercatat disini dengan sempurna. Putih ini tak pernah lama tetap putih

Photo by charan sai from Pexels

Oke terimakasih biru, dah menyanjung ku sedikit sekarang berarti giliranku ya. Susah sekali ya dirimu membawa trik-trik pra-induksi dalam hipnosis pada tulisan ini. Memberi gambaran interaksi dan menggambarkan suasana disini segala hehehe. Tapi okelah sebagai awal meski sedikit bertele tele. Apalah menariknya ruangan ini selain sejuknya udara. Lampunya sedikit remang dan tak jarang bergoyang bila kita berdiskusi dan berdebat. Oh ia saya sedikit terlupa dengan tamu kita saat ini. Setelah dibawa masuk pada kesadaran ini mari saya bawa kalian kembali teman teman kita ini pada realitas di depan pendaran layar bercahaya dan membaca tulisan ini dalam hati hingga seolah olah thati mereka berbisik dan berkata kata perkata yang terlihat dipendaran putih itu.

Pendaran putih, kanvas putih, kertas putih disanalah kita melihat kata terukir dan tergambar untuk kemudian ditangkap otak kita untuk dikonversi menjadi bisikan bisikan ajaib dalam otak kita seolah ada seseorang yang membacakannya untuk kita. Saya lah si putih, sebuah entitas dan kesadaran disini yang bertugas melihat dan menulis semua dalam kertas putih.

Apapun yang yang si biru bawa kesini tugas saya lah untuk melihat seksama entah itu entitas yang berwujud atau permasalahan, sebuah entitas abstrak tanpa wujud. Semua pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran saya. Pertanyaan pertanyaan dasar Apa kenapa, siapa, bagaimana, kapan dan dimana selalu berputar untuk semuanya yang datang kesini atau pada maksud untuk yang datang kesini. Jujur sih, diriku sedikit bingung dan ada banyak gap antara pengetahuanku dengan kenyataan saat ini termasuk tentang apa yang membuat teman teman sekarang kami ajak kemari. Saya masih penasaran, jika masih ada waktu boleh lah saya sedikit bertanya hehehe.

Bagaimana kuning? sekarang giliranmu dulu ya, kalau bisa kita jangan terlalu lama lah berkenalannya soalnya saya ingin kita masih punya waktu untuk bertanya banyak pada mereka. Jarang jarang loh “Dia” mengijinkan orang asing masuk ke dalam sini.

Padi yang menguning,”Kuning” keemasan menari bak tarian plasma matahari di siang hari yang memancarkan kehangatan dan kobarannya yang lucu membawakan pesan pesan positif pada kita bahwa hari ini akan menarik

Photo by Pixabay from Pexels

Putih, teman teman diajak kesini untuk memperlihatkan konsep enam yang kita bawa ini. Bukan konsep baru si tapi ya gue rasa akan menarik bila kita bagi. Konsep yang sejatinya bernama “Six Thinking Hats”, Enam topi kepribadian atau kerangka berpikir ini lucu loh dan kita baru sadar beberapa hari lalu untuk kemudian membawa warna pada nama nama kita sekarang. Seperti itu kan ya Putih.

Banyak potensi besar pada konsep ini, dan juga membawa mereka keruangan ini untuk maksud itu. Gue sudah membayangkan ni bagaimana akan banyak ide ide menarik yang dihasilkan mereka dengan memakai metode ini dalam kehidupan mereka. Wooow jiwa gue bergelora bak mentari hanya membayangkannya saja.

Oia gue lupa memperkenalkan diri ya, Saya si kuning. Gue suka nama itu disematkan pada gue yang keren dan tampan ini. Seperti mentari nama itu melambangkan semangat berapi api nan positif untuk menelusuri semua hal yang dulu masih gelap. Gue percaya semua itu karena gue tau dan selalu berpikir yang baik baik saja. Oia sekalian sedikit memberikan pembatas saja ya. Positif yang gue maksudkan disini bukan berati positif halu tanpa batas hingga berharap akan ada naga terbang menghampiri kita sambil bernyanyi lagu lagu Disney. Bukan bukan yang seperti itu yang gue maksud. Percayalah bahwa akan ada suatu kebaikan di setiap peristiwa ada suatu hal lucu dan menarik dalam masalah sekalipun.

Kenapa lu senyum senyum sendiri merah. Hahaha pasti ada sesuatu yang menarik ni. Oia sekarang giliran lu. Waktu dan tempat dipersilahkan.

Merah, darah yang mengalir dalam pembuluh darah kita membawa pula emosi dan sensasi yang kadang mendekap hangat namun tak jarang pula merengut kehangatan itu dan menjadikannya dingin sedingin mayat terbujur kaku di sebuah ruang kosong

Photo by Designecologist from Pexels

Hahaha, Saya ingin bernarasi sedikit ya untuk perkenalan saya agar tampak keren dan berkesan sedikit puitis. Monggo sambil mendengar saya bercerita teman teman bisa kok santai sejenak menseruput kopi dan tehnya saya rasa sampai sini teman teman pasti sudah lelah membaca dan sedikit merasa bosan dengan apa yang kita kita sini ceritakan. Tapi cobalah yuk berhenti sejenak dan ambil napas dalam dalam, coba bayangkan hal hal menyenangkan dan menarik yang terjadi di hari ini. Ijinkan saya bernarasi sedikit tentang saya dan kesadaran yang saya wakili.

Emosi yang menjadikan kita manusia. Sebuah emosi dapat membentuk suatu tindakan dari tindakan pula dapat membentuk gelembung emosi pada diri kita. Kadang sedih, senang, khawatir, percaya diri semua itu gabungan dari berbagai emosi dasar kita sebagai manusia. Sekarang giliran saya sang entitas emosi dalam ruangan ini. Saya adalah sang merah, semerah darah dan pula semerah bunga mawar yang sering kalian simbolkan sebagai perasaan cinta.

Cukup sulit juga ya membuat narasi yang menggugah dan punya sedikit karakter indi yang suka menggunakan diksi “Senja” senja itu. Saya merasa emosi terkadang dianaktirikan oleh sebagian besar dari kita. Ya memang tidak sepenuhnya salah si, terhanyut pada emosi memang bukan suatu yang baik. Tetapi bukankah tenggelam dalam logika juga sesuatu yang menyakitkan dan menyiksa. Rasa sakit rasa perih rasa kecewa itu sama biasanya dengan rasa senang rasa bersyukur dan rasa rasa terbaik lainnya. Semua hal ini tidak bisa lepas dari pelukan emosi.

Kita mungkin saja sulit mencerminkan logika seseorang pada diri kita. Kita sulit menerima dan memahami dengan menggunakan kerangka berpikir seseorang. Tetapi, ada satu cara lain untuk memahami dan kemudian bila diterapkan pada hal hal lainnya cara ini akan mempermudah dan menghindarkan kita dari kesalahan kita melangkah. Menggunakan emosi. Mencerminkan logika berpikir orang lain pada kita memang sulit namun mencerminkan emosi orang lain pada diri kita tidaklah sulit.

Disinilah saya mengambil alih, sebagai entitas emosi saya menyerap dan beresonansi dengan lingkungan sekitar kita untuk melihat lingkup dari setiap ide, gagasan atau apapun itu dan kaitannya dengan perasaan orang orang sekitar tentangnya.Mengecewakan kah, menggembirakan kah atau justru biasa saja dan tak dianggap pernah ada sebelumnya. Semua itu tentang emosi.

Selalu ada ruang yang tak tersentuh cahaya. Disanalah bayangan “Hitam” gelap bersarang dan menunggu datangnya malam.

Photo by sebastiaan stam from Pexels

Halah emosi itu tidak begitu penting. Emosi hanya menggambarkan kelemahan seseorang. Emosilah yang menghambat kita kearah yang maju. Kit perlu realistis dengan semua ini. Jujur lah gw tidak pernah setuju dengan penulisan ini dan mengajak orang asing pada ruangan kita yang penting ini. Bisa saja kan mereka berkhianat seperti yang sudah sudah dan kemudian banyak merugikan kita. Kita tidak perlu berbagi semua hal, dan gagasan ini pun sebenarnya tidak baik baik amat untuk dibagi.

Banyak kekurangan dari gagasan 6 topi ini. Mana mungkin lah semua orang dapat membagi kerangka berpikir seperti kita sekarang. Banyak dari mereka terlalu kaku dan hanya memiliki satu frame saja. Coba lihat selama ini, apakah mereka mampu melihat dari berbagai sudut pandang. Yah walau sesekali ada orang yang demikian tetapi itu sangatlah jarang. Kebanyakan mereka sekarang terlalu terkotak kotakan.

Mereka terjebak dalam filter bouble mereka sendiri sendiri. Mereka selama ini hanya mau mendengar dan melihat apa yang sesuai dengan pemikiran mereka saja. Percumalah, tidak ada gunanya kita membagikan “Enam” ini pada mereka yang hanya “Satu” bahkan konyolnya beberapa dari mereka, satu pun belum jelas ada yang hanya setengah. Apa yang bisa kita harapkan dari hal tersebut.

Opera enam kepribadian dalam sebuah ruang dalam gubuk kecil di tengah hamparan rumput hijau

Hitam, kenapa pula kalian identikan gw dengan warna hitam. Yah memang gw menyukai warna itu, bukankah hitam itu warna yang keren. Dan yang gw tidak setuju dari konsep ini dan juga alasan kenapa orang orang asing seperti mereka ini dibawa kesini adalah “Kepercumaan”. Semua ini useless, cara ini tidaklah cocok dengan semua orang. Dan yang paling menyedihkan, tulisan ini terlalu panjang untuk orang orang kita yang jarang membaca. Gw yakin ni hanya segelintir orang tetap membaca hingga pada bagian ini. Percuma saja kita bercerita panjang lebar ber jam jam jika tidak ada yang membaca. Semua percuma, kita hanya akan menghambur hamburkan waktu kita dengan percuma.

Bukan begitu hitam,.. gue yakin ada kok yang akan membaca sampai pada bagian ini. Ini bukanlah sesuatu yang percuma. Satu orang saja yang sudah membaca hingga bagian ini sudahlah sesuatu yang luar biasa dan kita berhasil. Sebagai kuning gue rasa semua ini sudah sesuai dengan panjangnya waktu yang telah kita korbankan. Si biru sudah merencanakan ini dengan matang pasti lah kita berhasil saya yakin itu. Hey merah jangan menangis disitu kita melakukan hal yang benar lo.

Ah lu kuning, lu selalu berpikiran positif. Realistislah. Tidak semua hal akan memberikan hasil yang positif terkadang kita akan mendapatkan suatu kekecewaan yang kalau sudah begitu bukankah kita sudah sama sama tau berapa kali kita gagal dan berapa kali juga kita harus menangis tanpa tahu apa yang harus kita perbuat. Gw setiap pertemuan selalu menjabarkan segala kemungkinan terburuk yang ada dan akan kita temui tapi tidak jarang kalian malah menghiraukan itu semua dan akhirnya terjadi beneran kan. Sama saja dengan dibawakannya orang asing kesini, sama seperti yang saya sampaikan sebelumnya ada banyak sekali kejelekan yang ditimbulkan bila kita ungkap keberadaan kita semua saat ini.

Hmmm kalau dari data yang saya bawa sih tidak akan seekstrim itu sih hitam, yah memang kemungkinan itu pasti ada tetapi dari sekian banyak orang hmmm atau harus saya katakan dari sekian dikit orang yang membaca artikel ini adalah satu atau dua orang yang akan terpengaruh dan menerapkan hal yang kita terapkan selama ini. Dan bukan tidak mungkin juga akan ada sedikit perubahan pada mereka. Itu sudah cukup, cukup kertas puih baru untuk catatan harian mereka yang lebih baik.

Tidak itu tidak cukup, dengan semua waktu yang kita habiskan untuk bercerita dan menulis ini, satu saja tidak cukup. Itu kurang hai sobatku. Semua kurang dan percuma. gw ingin hentikan ini sekarang dan jangan aneh aneh lagi lah ya. Cukup sampai disini saja dulu. Maaf teman teman para pembaca tampaknya say sudahi dulu ya perkenalan kita. Yah meskipun gw tidak begitu yakin kalian akan membaca tulisan ini sampai bagian ini tapi untuk jaga jaga saja saya ucapkan terimakasih sudah mengikuti cerita ini. Tutup sudah biru, kau yang membuka cerita ini tadi.

Baiklah saya si biru ini akan merangkum apa yang sudah kita lalui selama ini. Jadi dalam megelola suatu ide dan gagasan kami biasa melakukan ini kami ber-enam

  1. Saya si biru lah yang membawa gagasan itu masuk lengkap dengan tujuannya, saya akan membuat outline dari gagasan tersebut dan kemudian bertugas pula mengambil kesimpulan setelah diskusi seperti sekarang ini.
  2. Gagasan tersebut kemudian dipecah oleh putih dan menganalisis fakta fakta yang ada didalamnya untuk pengambilan keputusan, tentang gap dan apapun yang dirasa penting akan dipaparkan oleh si jagoan kita ini.
  3. Si kuning dengan pola pikir positipnya akan mencari apa apa saja yang menjadi keunggulan dari gagasan baru itu. Ia dengan optimisnya biasanya mengungkapkan hal hal dari sisi yang dianggapnya menarik dan menyenangkan.
  4. Si merah bertugas untuk merepresentasikan emosi emosi yang terkandung dalam gagasan tersebut dan melihat serta memperkirakan dampak dampak yang akan diakibatkan oleh gagasan itu. APakah membuat kita senang, orang lain senang atau sebaliknya.
  5. Si hitam yang dari tadi marah memang seperti itulah tugas dia. Ia akan mengkritisi semua hal dan melihat sisi yang tidak pernah tergapai oleh yang lainnya. Jika si kuning dianggap sebagai gas maka si hitam lah remnya. Ia ada untuk menjaga kami agar tidak terperosok terlalu dalam.
  6. Itu baru 5 kepribadian yang saya perkenalkan pada teman teman sekalian. Ada satu lagi yang terakhir yang ingin saya perkenalkan. Entitas inilah yang selama ini sebenarnya yang lebih dekat dengan kalian para pembaca. Dialah sang penulis cerita ini sehingga dapat teman teman baca melalui blog kami. Dia sering kami sebut sebagai penyihir hijau dan dialah yang bertugas mengatur segala cerita yang ada disini dialah sang pemimpin dan pengatur semua yang ada disini (hey biru jangan berkata seperti itu, saya jadi malu| ttd hijau).

Halo, saya si hijau. Terimakasih telah membaca tulisan saya selama ini baik tulisan yang teman teman baca ini maupun tulisan sebelumnya. Segala narasi yang saya tuliskan disini terinspirasi dari sebuah metode pemecahan permasalahan yang saya baca dari artikel di blog medium karya Stephen Moore yang berjudul Turn a Good Idea Into a Great One With the ‘Six Thinking Hats’. Sudah sepertinya itu saja yang dapat saya sampaikan pada tulisan ini.

Salam

Dewa Putu AM

Featured Photo by Subham Dash from Pexels

dewaputuam

I'm a Disaster Analyst, Agro-Climatologist, and GIS Analyst. I like drawing, writing, playing guitar, gardening, and maybe reading too.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *