main

BencanaDaily LifeLingkunganMeteorologiOpiniUncategorized

Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap

July 7, 2019 — by dewaputuam0

2017_05_02_26133_1493689431._large-960x642.jpg
Kondisi Jakarta dalam Sepekan Terakhir Tertup oleh Polusi Udara Bahkan dalam Suatu kanal Berita, Kota Jakarta Dituding Sebagai Kota Terpolusi di Dunia. (Sumber gambar: The Jakarta Post)

Jika teman teman tinggal atau sempat singgah di Jakarta tentunya juga merasakan dalam sepekan terakhir kita jarang sekali melihat langit biru di pagi hari. Suasana pagi kita dalam sepekan ini selalu diselimuti kabut, namun sedikit menyesakkan. Hal ini akan tampak begitu jelas bila dilihat dari ketinggian pada lantai tertentu yang mana akan terlihat lapisan kabut yang menutupi kota, sebagai gambaran kira-kira serupa dengan ilustrasi yang saya sandur dari situs berita Jakarta Post di Atas. Jika dilihat sebenarnya kondisi Jakarta yang demikian cukup indah, memiliki kesan sedikit retro dan klasik seperti salah satu filter yang ada didalam aplikasi Instagram. Antara sedih, takut dan takjub, terkadang saya sendiri pun bingung untuk berekspresi seperti apa untuk menanggapi foneomena yang terjadi ini.

Polusi di wilayah Jakarta memanglah bukan suatu peristiwa yang baru, malasah ini sudahlah lama ada dan sama seperti isu isu terkait kebencanaan lain, isu terkait polusi udara juga selalu timbul dan tenggelam dengan cepat. Isu isu seperti ini akan sangat cepat viral pada saat saat tertentu (biasanya saat kritis) namun cepat pula tenggelam dan menghilang tanpa penyelesaian yang konkrit apalagi menyeluruh. Miris memang, namun itulah yang kita temukan dilapangan selama ini adalah PM2.5 yang konsentrasinya mengkhawatirkan dalam beberapa minggu bahkan bulan belakangan ini. Data konsentrasi PM2.5 yang mudah di akases oleh banyak orang adalah data yang disediakan oleh Konsulat AS yang saya tampilkan melalui widget realtime yang disediakan mereka dibawah ini.

Melirik Pembunuh Senyap yang Menjadi Perbincangan “Hangat” di Jakarta Minggu Ini

Terlepas dari kemirisan hal tersebut, untuk memonitoring tingkat polusi di suatu wilayah ada beberapa variabel yang biasa di hitung dan di cermati. Beberapa variabel itu meliputi konsentrasi TSP (Total Partikulat Tersuspensi, biasanya ukurannya masih cukup besar), PM10 (Partikulat<10 micrometer), serta PM2.5 (Partikulat <2.5). Jika kita melihat variabel TSP dan PM10, meskipun beberapa kali masik kategori tidak sehat namun kondisi demikian pada waktu tertentu saja. Yang menjadi permasalahan dan diangkat isunya oleh beberapa orang seminggu terakhir ini adalah konsentrasi PM2.5.

Berdasarkan data hasil monitoring variabel ini yang dilakukan oleh BMKG di lokasi Kemayoran, hingga tanggal 6 Juli pada pukul 10.00-17.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di wilayah Kemayoran berada diatas ambang batas untuk konsentrasi jenis polutan tersebut. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari BMKG dalam tautan ini Nilai Ambang Batas (NAB) adalah Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan untuk PM 2.5 berada dalam udara ambien. NAB PM2.5 = 65 ugram/m3.

Hal serupa (kondisi PM2.5 yang berbahaya) juga tercatat dalam sensor yang ditempatkan di Konsulat AS dengan menggunakan indeks AQI (Air Quality Index). Berikut adalah kondisi terbaru terkait konsentrasi PM2.5 yang tercatat oleh sensor di Konsulat AS di Jakarta Pusat. Informasi terkait AQI di wilayah ini saya sapatkan dan sisipkan melalui tautan ini.

Dari informasi pemantauan tersebut di atas dapat kita lihat bahwa konsentrasi PM2.5 berada didominasi oleh status berwarna orange yang berarti tidak sehat untuk beberapa orang yang sensitif dan merah yang berarti termasuk tidak sehat untuk semua orang baik yang sehat bahkan sangat berbahaya bagi orang sensitif. Kondisi udara yang demikian kurang sehat dapat memicu terjadinya beberapa penyakit yang tentunya berhubungan dengan pernapasan. Berasarkan U.S. EPA beberapa dampak bagi kesehatan yang disebabkan oleh konsentrasi PM2.5 yang tinggi meliputi peningkatan risiko penyakit jantung, paru-paru meningkatnya potensi kematian dini bagi penderita kardiopulmoner.

Untuk menghindari dampak dampak tersebut atau setidaknya mengurangi dampaknya, para pengidap penyakit pernapasan, jantung, serta kelompok umur rentan seperti anak anak dan orang tua sebaiknya tidak keluar rumah maupun kerja dalam waktu yang panjang. Untuk ulasan terkait dampak lebih jelasnya dapat di baca secara agak lebih lengkap pada tautan berita di Trito.

Jebakan Inversi, Diduga Sebagai Dalang Polusi yang Tertahan dan Berkepanjangan Ini

Pada hari senin lalu saya berkesempatan mendampingi salah satu atasan saya untuk mengikuti rapat yang membahas terkait masalah ini. Hal yang menarik dalam pembahasan tersebut dan dipaparkan oleh BMKG dan BPPT adalah pembahasan tentang salah satu fenomena meteorologi yang bisa kita sebut sebagai Jebakan Inversi (Inversion Trap). Penjelasan terkait fenomena ini dapat digambarkan secara sederhana melalui ilustrasi dibawah ini.

Ilustrasi jebakan inversi yang menyebabkan polutan tidak dapat naik ke atmosfir bagian atas dan terbaurkan. Lapisan inversi ini menahan polutan berdiamdiri di dekat permukaan sehingga kadar polusi di lapisan atmosfer bagian bawah tersebut meningkat secara drastis dan sukar untuk turun. (Sumber ilustrasi: Waikato Regional Council)

Secara awam, jebakan inversi ini dapat kita ibaratkan sebagai suatu selimut di lapisan atmosfer yang menahan udara dibawah sehingga sukar naik keatas. Kondisi demikian disebabkan keberadaan suatu lapisan yang justru memiliki suhu lebih hangat dibandingkan daerah dibawahnya sehingga udara yang reltif dingin di bagian bawah tidak mampu terangkat dan menembus lapisan tersebut hal ini dikarenakan masa udara dingin lebih berat dibandingkan masa udara yang lebih hangat.

Suatu lapisan atmosfer yang mana memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan lapisan bawahnya (meningkat seiring peningkatan ketinggian) ini disebut sebagai lapisan inversi. Keberadaan lapisan inilah yang menjebak masa udara yang relatif lebih dingin dibawahnya karena lapisan dibawah ini memiliki pola semakin keatas semakin bersuhu rendah (lapisan laps rate).

Fenomena jebakan inversi biasa terjadi pada waktu waktu peralihan, baik pagi hari, sore hari mapun sebelum dan setelah hujan. Kondisi yang demikian dapat dengan mudah kita lihat bilamana kita membakar sampah pada sore menjelang malam yang biasanya asap asap pembakaran tersebut seringkali justru menyebar ke segala arah karena tidak dapat dengan mudah untuk naik ke atas.

Dalam situasi yang cukup ekstrim dan sangat berbahaya fenomena ini juga dapat terjadi di spot spot gas beracun seperti yang banyak terdapat di kawasan Dieng contohnya di Kawah Timbang. Saat sebelum dan sesudah hujan juga pagi pagi serta menjelang malam hari biasanya warga sekitar wilayah tersebut akan menghindari jalur jalur gas beracun dikarenakan gas beracun yang mengalir keluar dari kawah kawah tersebut tidak terbaur keatas dan justru tertahan di lapisan bawah. Kondisi ini dapat berakibat fatal bagi orang yang secara tidak sengaja melewati jalur tersebut dan dapat menimbulkan kematian seketika.

Kembali pada topik permasalahan sebelumnya. Fenomena jebakan inversi memanglah berpotensi untuk meningkatkan dampak tertumpuknya polutan di lapisan atmosfer bagian bawah. Namun tidak pula kita melimpahkan semua kesalahan peningkatan polutan tersebut pada fenomena alam yang sebenarnya bukanlah hal yang langka tersebut. KIta tidak akan dapat mengatasi permasalahan ini dengan hanya melakukan suatu tindakan untuk mempengaruhi kondisi yang ‘diduga’ memperparah saja. Namun yang menurut saya paling penting dan paling utama untuk ditindak lanjuti adalah “Sumber Polutan” itu sendiri.

Kita sudah terlalu lama membiarkan udara di Jakarta membunuh kita secara senyap. Yang menjadi pertanyaan dan sebenarnya tidak boleh hanya menjadi suatu pertanyaan saja adalah. “Apakah kita membiarkan begitu saja Pembunuh senyap ini terus beraksi?” Ah biarlah waktu yang menjawab, hitung hitung mengurangi populasi. Mungkin itu yang ada di dalam pikiran kita yang paling dalam. Jika itu yang ada dalam benak mu.

“Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap”

(Dewa Putu AM)

Daily LifeUncategorized

Menata Ulang 2019

January 12, 2019 — by dewaputuam3

21728955_10210048518558060_2062564839178070659_o-960x640.jpg

Ditahun yang masih tergolong baru ini saya ingin melakukan perombakan yang sedikit besar dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat dan tentunya pribadi saya. Mungkin akan terbaca sebagai suatu yang klise atau entah dengan sebutan lainnya seperti anget anget tai dinosaurus ataupun apapun lah, hal itu tidak begitu penting. Kembali ketopik awal, tahun ini seperti ahun tahun kemarin tentunya ada beberapa target capaian yang ingin saya kejar dan salah satunya lebih rutin menulis di Blog ini. Untuk itu sekalian sebagai pengingat jikalau nanti saya lupa akhirnya saya menulis target target saya di tahun 2019 di post ini, post yang sedang anda baca.

Menata Ulang Keuangan

Ini menjadi salah satu kelemahan terbesar saya dalam tahun 2018. Saya akui bahwa saya merupakan orang tidak begitu baik dalam mengelola keuangan. Pengeluaran saya bulan desember bisa sampai 150% dari pendapatan saya hahaha. Saya baru sadar pengelolaan keuangan saya begitu buruk sehingga menggerus tabungan saya. Untuk mengatasi hal tersebut di tahun baru ini saya kembali merutinkan mencatat pengeluaran dan memulai mencoba menginvestasikan sebagian penghasilan saya kedalam Reksa Dana dan Emas.

Uang uang dan uang (Sumber: all-free-download.com)

Mungkin karena hal baru bagi saya, saya sangat semangat mengamati pergerakan nilai investasi saya naik dikit dikit satu sen demi satu sen meningkat kadang turun. Setelah rutin dan sudah belajar sedikit pola polanya mungkin ada baiknya kita coba di saham tahun depan. Oia agar lebih spesifik saya menargetkan tahun ini saya dapat memiliki tabungan sebesar 100juta. Amin

Memperbaiki Budaya Literasi Saya baik Baca maupun Tulis

Ini juga merupakan salah satu kemunduran yang saya lakukan pada tahun 2018. Dari sebelumnya pada tahun 2017 saya dapat melahap 38 buku baik fiksi dan nonviksi. Pada tahun 2018, menyedihkannya saya hanya dapat menyelesaikan membaca 8 buku saja. Hal ini menurut saya penurunan yang sangat drastis. Penurunan kuantitas bahan bacaan saya pada tahun 2018 tidak ada hubungannya dengan tingkat kesibukan saya yang meningkat. Bahkan sebaliknya, pada tahun 2017 adalah tahun yang cukup riweh bagi saya bolak balik Jakarta Bogor via kereta, dan tugas ke beberapa daerah 3 kali ke bali dan kemudian ke Kalimantan. Namun kesemuanya saya dapat mencuri curi waktu untuk membaca. Sedangkan ditahun 2018, saya habiskan dengan bermain game hehehe, seru sih tapi kurang meninggalkan kesan.

Tidak hanya jarang membaca, Blog yang baru saja saya beli awal tahun lalu pun cukup terbengkalai dengan sedikitnya artikel yang saya hasilkan. Berkurang drastisnya bahan bacaan maupun hasil karya karya tulis saya pada tahun 2018 sepertinya menurunkan IQ saya sekian digit dan pembendaharaan kata saya pun semakin kurang dan jujur saya merasa Bodoh sekali pada tahun tersebut.

Ilustrasi Membaca Buku (Sumber: dreamstime.com)

Untuk mengatasi hal tersebut kekurangan bahan bacaan dan karya tulis saya di tahun 2018, pada tahun 2019 ini saya menargetkan untuk kembali rajin membaca setidaknya dapat menyelesaikan 40 Buku pada tahun ini dan untuk tulisan saya akan sisihkan waktu saya setiap hari untuk memproduksi tulisan saya dalam blog ini. Dalam hal ini saya mungkin akan kurang begitu mengharapkan untuk menghasilkan tulisan yang wah dan berkualitas. Namun saya akan berfokus pada rutin dahulu agar lebih lancar menuliskan ide ide saya baru nanti pada bulan bulan berikutnya akan saya bubuhkan dengan ide ide unik dan berusaha meningkatkan kembali kualitas tulisan saya.

Meningkatkan Kontribusi Saya Khususnya dalam Bidang Kebencanaan

Poin ini sengaja saya tambahkan biar kelihatan seperti orang bener hehehe. Tapi sejujurnya saya sedikit risau dengan kurangnya kontribusi yang saya berikan pada tahun 2018 untuk bidang yang saya geluti sekarang yakni dalam manajemen Bencana di Indonesia. Pada tahun 2018 kita dilanda beberapa bencan besar. Selain dampaknya yang juga sangat besar, kita juga sebenarnya diingatkan tentang masih kurangnya kemampuan kita dalam memanajemen bencana. Masih ada kekurangan di sana sini baik yang berdampak sangat signifikan maupun berdampak kecil dan bersifak kosmetik saja. Ada dua permasalahan pokok yang saya tangkap selama bekerja di bidang ini yang saya rasa menyebabkan masih kurang baiknya penanganan bencana di negeri kita yaitu kerja kita yang masih kurang jelas (atau lebih suka saya sebut sporadis) dan masih banyak diantara kita yang membawa ego sektoral kita ke lapangan.

Petobo Kini (Foto by Ana)

Yah meskipun saya hanyalah kaleng kaleng dalam manajemen bencana tetapi pada tahun 2019 ini saya akan lebih fokus pada pengendalian kedua pemasalahan yang saya sebutkan tadi yakni (jangan sporadis dan tekan ego sektoral). Untuk mengurangi keacakan kita dalam bekerja saya mulai menyicil sedikit sedikit SOP yang perlu tim kami lakukan, dan pada akhir tahun lalu pun saya sedikit mencoba membantu tentang pembuatan SOP untuk nasional. Dan pada tahun ini saya akan mempelajari bagai mana manajemen dan analisis data yang baik dan kira kira dibutuhkan dan dibutuhkan saat terjadi bencana. Dan hal yang paling penting adalah

Libatkan lah hati dalam bekerja, Karena pekerjaan ini bukan hanya bekerja pada angka mati, melainkan angka yang menggambarkan Manusia, manusia yang sama dengan kita, memiliki orang orang yang sayang dan disayangi mereka”

(Dewa 2019)