main

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] Talking to Strangers: What We Should Know About the People We Don’t Know Karya Malcolm Gladwell

May 6, 2020 — by dewaputuam2

amanda-knox2-960x641.jpg
Saat semua ini selesai, kita akan kembali pada kebiasaan kita bertemu orang asing berbincang, berinteraksi, bertransaksi. meski terkadang tidak harus kenal dan ingat untuk kemudian hari. Tetapi orang orang asing selalu berpapasan dengan hidup kita entah disuatu tempat atau suatu masa (Photo by Aleksandar Pasaric from Pexels)

Ini salah satu penulis favorit saya. Malcolm Gladwell , seiap bukunya selalu memikat perhatian saya. Gagasan yang gurih dan sangat dekat dengan keseharian kita ia sampaikan dengan begitu mendalam namun masih tetap nyaman untuk diikuti dan nikmati. Fokus, itu yang saya suka dari karya karyanya Gladwell. Setiap bukunya selalu memuat hanya satu gagasan inti yang kuat untuk kemudian ia bahas dari berbagai sisi dan sudut pandang. Ini yang menurut saya Galdwell berbeda dari penulis kebanyakan yang tidak jarang terhanyut dalam ide idenya sehingga seringkali terlalu banyak gagasan yang diberikan, hingga fokus kita menyebar dan terlalu luas.

Sebagai awalan saya coba list satu per satu beberapa gagasan dalam setiap karya Gladwell yang saya suka. Kita dikenalkan pada konsep bagaimana sebuah informasi yang viral dan melekat melalui bukunya yang berjudul “Tipping Point”. Kita juga di ajak melihat dan mengingat tentang cara kita berpikir melalui “Blink”, kalau kata saya si berpikir pakai tulang belakang (reflek) hehehe, ternyata 80% kegiatan kita dipengaruhi oleh gaya berpikir kita yang rapuh ini. Gladwell juga menunjukan kepada kita konsep si lemah yang sebenarnya tidak lemah melawan si kuat yang sebenarnya justru lemah melalui buku “David and Goliath”. Lalu Konsep si jenius yang pencilan dan ternyata bukan “tidak sengaja menjadi” pencilan melalui bukunya yang berjudul “Outlier”. Kita diingatkan juga tentang “Ketidaktahuan kita” melalui buku berjudul What Dog Saw”.

Gladwell memang seperti itu, satu gagasan kemudian memberikan twist twist yang mungkin sebagian dari kita akan banyak mengalami “Lha” “What”, “Oh” dan “Aha” moment. Dan datang lah bukunya yang berjudul Talking to Strangers: What We Should Know About the People We Don’t Know . Setelah saya baca, jika harus memilih satu kata saja yang menggambarkan buku ini, satu kata tersebut adalah “Kapan Gwww bisa nulis seperti diaaaaa,..”. Mohon maaf saya kelepasan. Karena saya rasa buku ini keren banget dan memberikan saya pemahaman baru dan tidak jarang juga saya jadi merasa perlu merekonstruksikan lagi cara berpikir saya selama ini.

Kita sering menganggap bahwa kita “Mengenal” Siapa Orang Asing itu, bgaimana sikapnya dan apa yang ia sudah lakukan. Namun sayangnya kita tidak se “Cenayang” itu kawan

Orang tidak dikenal tidak selamanya tidak kita kenal sama sekali, bukan hanya orang yang kita kenal sekilas lalu saja. Namun bisa pula orang yang sangat dekat dengan kita dengan kehidupan kita. Hingga suatu hari tetiba sesuatu mengubah itu dan memporak randakan semua pemahaman kita tentang dirinya dan menggesernya dari dikenal menjadi “Tidak Dikenal” ( Photo by Tidekig from Pexels )

Secara garis besar buku ini menceritakan ke “sok tahu” an kita terhadap orang yang “tidak kita kenal”. Ada dua frasa yang saya berikan tanda petik disini karena dua frasa itu lah yang kemudian tersirat dibahas dengan mendalam dalam buku Gladwell ini. Keras memang bila mengatakan “sok tahu”. Namun saya rasa seperti itulah kita selama ini. Jangankan untuk orang orang awam seperti kita, bahkan Intelijen Amerika yang jika di film film kita rasa mereka memiliki insting dan kerangka berpikir yang tinggi hingga kita “rasa” juga tidak akan ada yang terlewatkan dari pengawasan mereka. Namun nyatanya merekapun tak luput dari kesalahan “mengenal” yang berakibat fatal dan membawa Ana Belén Montes, seorang mata-mata Kuba yang paling merugikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Yang menarik dari kasus Montes adalah keberhasilannya menjadi orang berpengaruh dalam salah satu institusi Intelijen di Amerika ( Defense Intelligence Agency ). Montes sebenarnya tidak begitu sempurna dalam menyamar dan menjalankan perannya sebagai agen ganda beberapa kali ia menunjukan hal hal mencurigakan dan rekan rekannya pun mengetahui itu. Namun “ketidak sempurnaan” cara berpikir kita jugalah yang kemudian memperdaya para rekan rekan Montes yang kemudian mentolelir segala kejanggalan yang ada.

Tidak hanya itu kejadian “Salah Mengenal” yang berakhir fatal. Sebelum masa perang dunia ke dua banyak petinggi dari beberapa negara juga ternyata salah mengenal The Führer (Hitler) yang dikira mereka tidak akan memecah perang dunia ke dua. Kasus pedopilia seorang yang sangat ramah. Kasus salah tangkap polisi pada Amanda Knox, karena sikapnya yang terlalu mencurigakan dan tidak umum (Ini gw jadi takut sik, orang orang seperti ini akan jadi kambing hitam pertama jika ada kasus kasus pembunuhan).

Ini Buku Tentang Kepolosan Kita yang Menganggap Semua Orang Selalu “Jujur” dan Ketidak Sadaran Kita bahwa Segala Hal Selalu Berkaitan dengan “Konteks”

Knoxx berjalan bersamanya di tempat kejadian perkara. Selagi memakai sepatu bot pelindung, Knoxx memutar badannya dan berkata “Ta-dah” ( Source: Time Magazine )

Jujur disini didefinisikan tidak hanya sebagai lawan kata dari bohong (kesesuaian antara kata dan kejadian sebenarnya) namun lebih luas lagi dari pada itu. Jujur didefinisikan sebagai kesesuaian kata, perbuatan dan atau sikap seseorang terhadap suatu hal. Sebagai contoh pada kasus Amanda Knox , meski tidak ada bukti kuat yang menunjukan bahwa ia pembunuh.

Penyidik utama kasus itu, Edgardo Giobbi, berkata dia meragukan Knoxx sejak Knoxx berjalan bersamanya di tempat kejadian perkara. Selagi memakai sepatu bot pelindung, Knoxx memutar badannya dan berkata “Ta-dah” —- Ini salah satu bagian dari buku yang menurut saya paling epic.

Saya membayangkan ini sosok Knoxx seperti Harley Queen, tengil aneh dan tidak sengaja buka pintu lihat ada mayat lalu dijebloskan dengan tuduhan pembunuhan yang setelah beberapa tahun ternyata terbukti bukan di yang bersalah. Ngenes ceritanya, Ini juga dimaksud sebagai ketidak jujuran antara apa yang terjadi (dia tidak membunuh) dengan sikapnya yang cenderung cuek dan tidak memiliki banyak empati, akhir membuat dirinya dituduh demikian.

Buku ini bercerita tentang kepolosan kita yang menganggap semua orang selalu “Jujur” dan ketidak-sadaran kita bahwa segala hal selalu berkaitan dengan “Konteks”. Kita selalu menganggap apa yang terlihat dan terdengar dari luar menggambarkan keadaan sebenarnya. Kita terlalu percaya pada orang kita juga terlalu percaya pada dirikita bahwa kita bisa membaca mimik orang dan mengenalinya seolah olah orang itu “selalu” memiliki mimik yang jelas bak pemain teater. Yang menunjukan mimik sedih saat dirinya dirundung pilu, tertawa saat bahagia, belingsakan misah misuh saat gelisah dan ada yang ditutupi.

Mengenal seseorang dengan baik emanglah rumit. Namun ternyata semua itu lebih sulit lagi karena ternyata sifat dan tingkah laku seseorang berkaitan erat dengan “Konteks”, dari konteks yang bersifat keruangan, Waktu hingga pada konteks yang bersifat situasional. Hal ini dicontohkan oleh Gladwell dengan kasus kasus kejahatan yang ternyata melekat pada lokasi lokasi tertentu saja, dan kasus kasus bunuh diri di London ternyata terikat pada situasi London dulu yang menggunakan gas alam (yang mengandung racun) untuk kebutuhan sehari hari. Dari buku ini kita diajarkan bahwa kita tidak lah mengenal semua yang ada didepan kita, mungkin hanya sedikit kenal namun tidak selamanya kenal cukup dalam. Yup tidak dikenal cukup dalam, dan semua itu akan semakin sulit dikenal saat ada minuman keras ikut berdansa dalam interaksi kita itu.

Seselesainya membaca buku ini, saya jadi berpikir. Apakah arti “orang asing” sebenarnya. Ia bukan hanya orang berjubah hitam yang berdiri di pinggir gank yang gelap berlatarkan hujan. Ia bukan hanya orang yang sepintas lalu, orang ntah dari mana yang sepintas berhenti, bersapa pada kita dan kemudian berlalu begitu saja. Tidak tidak hanya sampai segitu makna “orang asing”, bahkan orang yang palng dekat dengan kita pun terkadang dalam Konteks tertentu dapat dikatakan sebagai orang asing.

Buku terbaru karya Gladwell ini tampaknya akan menjadi satu dari 10 buku yang saya rekomendasiin untuk di baca di tahun 2020. Gladwell memang jarang mengecewakan. Yup meski saya kurang begitu suka dengan buku sebelumnya yang berjudul “What the Dog Saw” itu karena kesannya agak terlalu luas dan tidak jelas gagasan utamanya mengarah kemana (Source: NPR )

Oia, kurang rasanya jika saya hanya mengagung agungkan buku ini saja tanpa diimbangi dari kekurangan. Secara keseluruhan buku ini memanglah bagus menurut saya namun, dalam versi ebook terbitan gramedianya saya rasa buruk sekali, bukan permasalahan terjemahan namun lebih pada keberadaan watermark yang berupa text aktif (bukan gambar) yang justru sangat mengganggu saat ingin menandai atau menghighlight bagian bagian yang menarik. Keberadaan watermark yang berupa text menyebabkan huruf huruf pada kalimat didekatnya menjadi teraduk acak sehingga saat di highlight sulit untuk dibaca. Padahal highlight dan kemudahan penelusurannya merupakan fitur kunci dalam versi ebook yang membuat ebook lebih menarik dari versi cetaknya. Itu sangat saya sayangkan sehingga dalam google playnya saya terpaksa memberikan bintang 1 dari 5 untuk percetakan Gramedia.

Itu saja dulu dari saya, semoga bermanfaat dan mungkin bisa jadi rekomendasi buku yang akan teman teman baca saat harus tetap di rumah seperti sekarang ini. Salam hangat dari saya

Dewa.

BukuHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Segala-galanya Ambyar, Sebuah Buku Tentang Harapan karya Mark Manson

April 26, 2020 — by dewaputuam0

person-in-black-hoodie-sitting-on-train-bench-362948-960x640.jpg
Ambyar, itu judul yang cukup tepat untuk mengalihbahasakan kata “F*cked” pada judul asli buku karya Mark Manson.

Buku ini sudah cukup lama ingin saya baca, bahkan versi ebook dari buku Everything is F*cked karya Mark Manson ini sudah saya miliki namun karena sesuatu dan lain hal (*males) jadinya saya urungkan niat saya. Hingga kemudian saya menemukan versi fisiknya dan transletan bahasa Indonesia dengan judul Segala galanya Ambyar. Judul yang mengingatkan kita pada fenomena mewabah akhir akhir ini “Fenomena Ambyar” yang diciptakan oleh tidak lain dan tidak bukan King of broken hearth (*Didi Kempot) hehehe.

Mark manson adalah salah satu penulis yang unik, karyanya dari buku sebelumnya (Subtel Art Not Giving A F*ck) yang menjadi buku bestseller Internasional dan menawarkan beberapa gagasan yang membuka wawasan saya meski sesekali tajam, jahat serta melawan arus utama berpikir kita selama ini. Berkaca dari kesan pada buku pertama yang cukup mengesankan itu pula lah, yang akhirnya membuat saya ber”harap” agar buku ini akan menawarkan gagasan gagasan melawan arus lagi seperti buku pertamanya atau setidaknya sama. Itu saja sudah cukup.

Sekilas tentang Buku Kolaborasi Mark Manson dengan Didi Kempot

Secara fisik memang sedikit tebal (kira kira sekitar 300an halaman), jadi bagi beberapa orang yang kurang begitu suka membaca buku, tebalnya buku ini sudah cukuplah menciutkan nyali (termasuk saya 🙂 ) tapi saya cukup percaya kok kalau temen temen saya yang sedang membaca tulisan saya ini pasti mampu selesai membaca buku Ambyar satu ini. Banyak nilai yang dapat kita ambil dan pelajari disajikan dengan apik oleh penulis. Gagasan gagas yang ditawarkan juga saya rasa sangat relevan dengan apa yang terjadi sekarang, di tengah Pandemi Covid-19 yangtidak satupun dari kita yang tahu kapan akan berakhir, yup situasi saat ini menurut saya sama seperti judulnya “Segala-galanya Ambyar.

Photo by Steven Arenas from Pexels
“Kita adalah makhluk yang paling mudah terhipnotis saat tertimpa permasalahan besar, ketika hidup kita kacau balau, itu tanda bahwa nilai nilai yang kita anut telah mengecewakan kita, dan kita terhempas dalam kegelapan sembari meraba raba nilai-nilai baru untuk menggantikan yang lama.” -Mark Manson-

Masih dengan gaya bebasnya, Mark manson memberikian kita banyak sekali gagasan yang sebenarnya tidaklah baru, namun entah mengapa cukup berkembang pesat dalam beberapa tahun belakangan ini. Pada awalnya saya merasa buku ini akan membawa kita pada konsep Nihilisme yang menganggap segala hal yang ada didunia ini termasuk keberadaan kita sebenarnya tidaklah ada artinya. Bahkan dalam suatu bagian bab berjudul “Kebenaran yang menggelisahkan” Mark manson dengan santuy menuliskan gagasan ini.

Kelak, kamu dan semua orang yang kamu cintai akan mati. Dan dalam sekelompok kecil orang, selama waktu yang cukup singkat saja, hanya sedikit kata-kata atau tindakanmu yang masih berpengaruh. Inilah kebenaran yang menggelisahkan tentang kehidupan. Dan semua yang kamu pikir dan kerjakan hanyalah untuk menghindari kenyataan itu. Kita adalah debu kosmik yang tidak berguna, bertabrakan dan berputar-putar seperti titik biru yang kecil. Kita sendiri yang merasa sok penting, kita mencari-cari tujuan kita— Kita bukan apa-apa.

(Enjoy your Fucking Coffe)

(Mark Manson)

Buku ini menceritakan tentang harapan, tentang “harapan” yang membuat seseorang melakukan tindakan tindakan heroik mengorbankan diri dan menerima penderitaan begitu besar seperti para pahlawan kita yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk “harapan akan kemerdekaan”. Buku ini juga menceritakan tentang “harapan” yang sama juga yang membuat seseorang seperti Hitler dengan Nazi-nya yang melakukan pembantaian banyak orang secara kejam. Harapan seperti dua sisi mata uang yang memberikan gambaran sangat berbeda dalam kodisi dan kasus tertentu dapat ekstrim baik dapat juga ekstrim buruk. Namun ada satu yang serupa, segala galanya akan ambyar bila mana kita merasa harapan yang kita lambungkan tinggi tinngi tersebut nyatanya tidak kunjung terwujud.

Tidak hanya harapan, gagasan gagasan yang dismpaikan Mark Manson dalam buku ini pun ikut ambyar kemana mana

Kita semua saat ini dipertontonkan drama yang menyedihkan, atau bahkan kita juga terlibat didalamnya. Terimalah itu baik atau buruknya, jangan menyangkal dan hadapi meski tidak selamanya kita akan menang menghadapinya setidaknya kita pernah merasakan keras dan tangguhnya berjuang (Photo by Adrien Olichon from Pexels)

Banyak sekali gagasan menarik yang ditampilkan dan dipertontonkan oleh markmanson dalam buku “Everithing is F*cked”.

  • Dari kisah tentang harapan yang tidak hanya memberikan dampak positif namun juga sangat mungkin memberikan sesuatu yang “negatif”. Ini merupakan gagasan utama yang bolak balik di bahas dalam buku ini hingga pada pembahasan soal “Cara mebuat Agama Baru” hahaha cukup horor kan ya. Memang buku ini cukup horor e tapi setelah dibaca step step membuat agama barunya ternyata cukup masuk akal dan polanya sama dengan pola pola penyebaran agama agama kita yang ada sekarang. “Agama” dalam buku ini tidak terbatas pada Agama yang kita kenal sekarang yang dalam negara kita ada 6 Agama yang diakui oleh pemerintah. Ada tiga jenis agama yang dimaksudkan dalam buku ini yaitu.
    • Agama Spiritual yang mendapatkan harapannya dari kepercayaan kepercayaan “kuasa supranatural” agama-agama yang biasa kita kenal dari Islam, Hindu, Kristen Katolik, Yahudi dkk,
    • Agama Ideologis yang mendapatkan harapan harapan dari dunia natural seperti kapitalisme, komunisme, environmentalisme, fasisme dan liberalisme
    • Agama Interpoersonal yang mendapatkan harapan dari orang orang lain seperti cinta cinta romantik “Perbucinan”, anak anak, tokoh olah raga (viking dan the Jack Mania) ini ini juga disebut sebagai Agama oleh Mark Manson.
  • Gagasan lain tentang cara berpikir juga dijelaskan dalam buku ini. cara kita berpikir dengan otak pemikir dan perasa, kita yang selama ini dikelabui oleh cara pikir klasik yang menganggap otak pemikirlah yang memiliki kekuasaan atas otak perasa kita. Padahal hal terbaliknya lah yang sebenarnya terjadi dimana otak perasa kita yang pegang kendali akan kita sedangkan otak pemikirkita berada di samping otak perasa memberikan petunjuk petunjuk yang kadang diterima namun lebih sering berlalu begitu saja, karena otak perasa yang pegang kendali. Dari sini kemudian lahirlah banyak “trik trik” marketing modern yang menggunakan dan memanfaatkan gagasan tersebut pada berbagai iklannya seperti pada iklan rokok yang meski tidak pernah menunjukan bentuk rokoknya bahkan membeberkan fakta fakta merusaknya rokok itu, namun dengan penggambaran kesan bahwa “rokok” itu “keren dan tangguh” maka hingga sekarang rokok tetaplah laris dikalangan anak muda.

Sebenarnya masik banyak gagasan dan Insight yang dijelaskan oleh penulis dalam buku ini. Namun akan sangat panjang bila saya bahas dalam sebuah tulisan ini. Jadi saya rasa cukup itu dulu saja gagasan gagasan yang menurut saya paling menarik untuk saya ulas, sedangkan gagasan lainnya akan saya ulas secara tersurat pada tulisan tulisan saya berikutnya. Namun bila ingin di simpulkan secara keseluruhan gagasan yang sang penulis berikan menurut saya memiliki nuansa Stoicsm yang kental atau dalam buku Henri Manampiring disebut dengan Filosofi Teras. Yup berkali kali saya menyebut tentang Filosofi ini. Saya tidak tahu mengapa buku buku sekarang banyak yang mengadopsi filosofi ini. Selain itu secara tersurat Mark Manson banyak juga menyadur konsep konsep yang diberikan oleh Friedrich Nietzsche. Bahkan dalam beberapa bagian tidak hanya konsepnya saja yang dijabarkan namun kisah Friedrich Nietzsche lah yang secara terang terangan di kenalkan pada kita. Agaknya menarik bila kita membaca langsung buku buku Friedrich Nietzsche ya. Dalam buku ini, kita dianjurkan agar kita tidak terpesona secara berlebihan oleh “harapan” bahkan dalam situasi buruk pun (Situasi Ambyar). Kita dianjurkan untuk “Amor Fati” atau memncintai keadaan sekarang secara apa adanya baik ataupun buruknya. Itu saja.

Secara umum buku ini menurut saya sangat bagus dan masuk dalam buku yang sangat direkomendasikan untuk kita baca. Banyak hal menarik yang dapa kita ambil dalam buku ini. Meskipun harus saya akui pula, mungkin saking semangatnya mark manson menyampaikan gagasan gagasannya hingga ia sering kali seperti membanjiri kita dengan berbagai macam gagasan yang menurut saya sih masih kurang begitu rapi di susun sehingga membuat saya beberapa kali bingung tentang apa sebenarnya yang mark manson maksud. Bab terakhir yang berjudul dengan “Agama Terakhir” juga memberikan antiklimaks yang buruk untuk buku ini yang sendari awal menyarankan kita agar tidak berpegang dan terbuai pada harapan namun ia pula yang mengingkarinya dengan berharap pada “Harapan pada agama terakhir” yang ia berikan di paragraf akhir. Sayang sekali sih menurut saya.

BukuHiburan

[Buku] Berani Tidak Disukai by Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

February 24, 2020 — by dewaputuam0

IMG_20200223_143008-01-960x720.jpeg

Dari awal sekali buku karya Kishimi dan Koga menyajikan kita para pembaca sebuah cerita dengan alur dan sudut pandang yang menarik #itu. Berbeda dengan buku pengembangan diri kebanyakan yang sering kali berupa monolog dan uraian endalam dari kisah kisah sukses beberapa tokoh, buku ini justru menyajikan diskusi dan perdebatan seorang anak muda dan filsuf yang eksentrik. Gaya penulisan yang seperti ini disengaja oleh penulis agar sama dengan yang dilakukan para filsuf yunani kuno di zaman Sokrates yang bertukar pikiran dan pemahaman dengan cara berdebat. Yups sang penulis menulis alasan tersebut dalam bukunya.

Socrates tidak menulis ide ide dan pandangannya namun ia mendiskusikan dan mendebatkannya, Plato lah yang kemudian menuangkan gagasan gagasan brilian yang dicetuskan oleh Socrates tersebut dalam bentuk tulisan. Saya menuliskan hubungan antara Socrates dan Plato karena dalam buku ini Ichiro Kishimi secara tersurat mengungkapkan keinginannya untuk menjadi Platonya bagi Alfred Adler. Dan menariknya Fumitake Koga menjawab ungkapan Kishimi dengan menjadi Platonya bagi Kishimi. Membaca hal tersebut saya dalam hati menyeletuk, “oke kalau begitu saya ingin menjadi Platonya Fumitake Koga 🙂 .” Tetapi setelah membaca buku ini hingga selesai, saya menyadari ternyata apa yang dibahas memanglah suatu gagasan-gagasan yang “gila“.

Inilah sosok Alfred Adler, seorang ahli psikologi yang gagasannya secara umum dibahas dalam buku The Courage To Be Disliked (Berani Tidak Disukai) karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga (Sumber gambar: Gemba Academy)

Gagasan dari Adler ini menurut saya sangat kontroversial di jamannya bahkan harus diakui gagasan gagasan tersebut masih cukup nyeleneh bila kita bawa hingga masa kini. Gagasan-gagasannya tersebut tidak begitu mudah dipahami dan membuat saya mengenyitkan kening berpikir keras beberapa kali karena tidak jarang bertentangan dengan pemahaman umum yang ada selama ini. Bahkan dalam dalam satu bagiannya, sang filsuf, tokoh dalam buku ini berkata seperti ini

Konon, Untuk memahami betul teori psikologi Adler dan menerapkannya untuk benar-benar mengubah cara hidup seseorang, orang membutuhkan “separuh tahun kehidupannya” Dengan kata lain kalau mulai mempelajari pada usia empat puluh tahun, kau butuh dua puluh tahun, yaitu sampai kau menginjak enam puluh tahun. Kalau kau mulai belajar pada usia dua puluh tahun, kau butuh waktu sepuluh tahun, yaitu sampai kau menginjak usia tiga puluh tahun.

(Ichiro Kishimi)

Tapi jangan takut untuk membaca buku ini, meskipun tidak seratus persen gagasan gagasan dari Adler akan kita mengerti dan setujui langsung. Sang penulis dengan kecakapannya dapat sedikit meringankan gagasan-gagasan Adler tersebut agar lebih mudah dikonsumsi oleh kita yang memang tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu psikologi maupun ilmu filsafat. Dari pengalaman membaca saya, pertanyaan yang muncul dibenak kita sebagian besar terwakilkan oleh pertanyaan pertanyaan dari tokoh pemuda kepada filuf, yah meskipun terkadang agak sedikit over sih buat saya. Mengingat sosok pemuda yang digambarkan dalam buku ini jika digambarkan “Sad Boy” banget, yang putus asa dengan berbagai hal dan selalu emosional. Tetapi disitu menariknya.

Buku Berani Tidak Disukai tidak mengajak kita untuk menjadi orang yang tidak disukai?

Hiruk pikuk orang berjalan cepat berkeringat di stasiun kereta, sheler bus dan berbagai tempat padat lainnya, melihat itu semua terkadang saya berpikir apa yang sebenarnya kita cari selama ini hingga kita relakan waktu dan energi kita menghilang untuk seperti ini (Photo by Skitterphoto from Pexels )

Menurut Adler, semua permasalahan adalah tentang hubungan Interpersonal . Yup, semua permasalahan, tidak terkecuali. Ini salah satu gagasan yang menurut saya nyeleneh. Semua yang dimaksud disini berati tidak ada permasalahan atau persoalan apapun yang bukan tentang hubungan interpersonal. Gagasan ini menjadi topik pembahasan yang menarik karena tokoh pemuda dalam buku ini kemudian membantah gagasan yang menurut saya pun mengusik logika. Namun dari apa yang dibahas dalam buku ini. saya akhirnya berangsur angsur sedikit sepakat bahwa “Semua permsalahan kita berakar pada permasalahan tentang hubungan interpersonal”.

Untuk menguraikan dan menyelesaikan permasalahan tersebut Adler memberikan sebuah kunci yang dapat kita gunakan yakni “Pembagian Tugas”. Konsep pembagian tugas pada dasarnya serupa dengan konsep dikotomi kendali yang ada dalam filosofi Stoa (Stoicism) yang saya baca dalam buku Filosofi Teras karya Hendry Manampiring. Pembagian tugas disini pada dasarnya membagi hal berada dibawah kendali kita (tugas kita) dengan hal yang berada diluar kendali kita (bukan tugas kita). Dengan pembagian tugas yang jelas maka kita tidak akan berlarut larut dalam sesuatu yang diluar kendali kita dan lebih fokus pada apa yang berada dalam kendali.

Dari sini lah kemudian judul buku ini berasal. Buku Berani Tidak Disukai tidak mengajak kita untuk menjadi orang yang tidak disukai, tetapi lebih dari itu melalui buku ini kita diajak sang penulis untuk hidup dijalan kita sendiri (menggeluti apa yang memang menjadi tugas kita) dan tidak mencampuri tugas orang lain termasuk urusan dalam menyukai atau tidak menyukai kita. #Itu

Tetapi Memang Buku Ini Menabrak Banyak Gagasan yang selama ini kita pernah pahami

Salah satu, alasan awal saya memilih buku ini untuk dibaca adalah kata kata “International Bestseller”, meskipun nista banget pemilihan buku dengan cara itu tapi berhubung referensi buku saya belum begitu bagus yah jadi tidak apa dan memang buku ini tidak mengecewakan! #recomended lah

Membaca buku ini, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya membuat saya harus berpikir keras. Bukan berarti buku ini sulit sekali dipahami, namun saat membaca saya menemukan banyak nilai nilai yang saya anut selama ini ditabrakan dengan gagasan gagasan yang ditawarkan dalam buku ini. Mungkin juga akan memberikan sensasi yang sama dengan yang akan teman dapatkan ketika membaca buku ini. Dari sekian banyak gagasan nyentrik yang ada dalam buku ini, beberapa diantaranya melekat cukup erat dalam pikiran saya seperti

  • Tidak ada pengalaman yang dengan sendirinya menyebabkan keberhasilan atau kegagalan kita. Bahkan dalam teori psikologi Adler “Traum” secara definitif tidak diterima. Jadi dalm teori ini tidak ada lagi alasan alasan kita tidak bisa melakukan sesuatu hal karena mengalami trauma A atau trauma B di masa lalu. Psikologi adler tidak menganut Aetiologi (studi tentang hubungan sebab-akibat), tetapi menganut Teleologi (studi yang mempelajari dan menitikberatkan pada tujuan dari suatu fenomena, ketimbang penyebabnya).
  • Semua permasalahan adalah tentang hubungan Interpersonal. Lagi lagi sebutkan ini ya, tetapi menurut saya ide ini memang gila sih dan saya suka dengan ini. Hingga pada suatu bagian, sang penulis pun menunjukan kepada kita bahwasanya permasalahan permasalahan yang kita anggap pribadi seperti kepercayaan diri kita, kualitas kerja kita, bahkan permasalahan permasalahan yang lebih pribadi lagi tidak lepas dari permasalahan di hubungan interpersonal kita dengan orang lain.
  • Seringkali kita (atau mungkin hanya saya) menganggap konsep reward and punishment itu suatu konsep yang baik untuk perkembangan diri kita. Ketika seseorang mendapatkan reward ketika melakukan sesuatu yang benar dan mendapat punishment yang wajar saat kita salah maka semua akan baik baik saja bahkan menurut kita akan baik. Namun menurut pandangan Adler, hal itu adalah konsep dari hubungan Vertikal, yang sebisa mungkin atau dapat dikatakan harus kita hindari jika kita ingin membangun hubungan yang harmonis. Bahkan kita pun perlu menghindari ucapan ucapan reward ringan berupa pujian seperti “wah apa yang lu lakuin keren banget”, karena menurut Adler di sana dapat mengesankan dan memberikan hubungan yang bersifat vertikal dimana sang pengucap yang menilai tersebut berusaha memposisikan diri lebih tinggi dari yang diberikan ucapan. #NahLoh

Dari buku yang sedikit tebal ini (320-an lembar) ada banyak sekali ide brilian dari tokoh Adler yang saya rasa dapat kita ambil untuk kemudian dapat kita jadikan salah satu inspirasi bahkan bantuan bagi kita untuk menjalani hidup yang lebih sederhana. Sulit bagi saya untuk menjelaskan dan menguraikannya melalui sebuah tulisan. Benar kata HelloGiggles, yang tertulis dalam cover buku ini memanglah “Marie Kondo, tapi untuk jiwa”. Suatu langkah awal bagi kita untuk mengaplikasikan minimalisme dalam jiwa dan kehidupan kita. Ada satu frasa yang kusuka dari buku ini ada dihalaman 306. Dengan beberapa gubahan dari saya, kira kira sang penulis berkata seperti ini.

Dusta Kehidupan yang terbesar adalah tidak hidup di sini pada saat ini. Kita Justru menghabiskan energi untuk memandang pada masa lalu dan masa depan, mengarahkan sinar temaram pada seluruh kehidupan, dan percaya bahwa kita berhasil melihat sesuatu. Padahal justru pada saat itu kita melupakan “sesuatu yang terpenting”.

Ichiro Kishimi & Fumitake Koga dengan beberapa perubahan seperlunya 🙂

Salam hangat dari saya

Dewa Putu AM

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Negeri Para Bedebah karya – Tere Liye –

January 27, 2020 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2020-01-27-at-2.12.43-PM-960x720.jpeg
Buku kedua yang saya selesaikan di tahun 2020 ini, sebuah buku karya Tere Liye. Meskipun saya termasuk orang yang sedikit tidak nyaman dengan begitu banyaknya karya-karya Tere Liye di toko buku. Tapi buku ini memang bagus wkwkwkwk (Sumber koleksi foto pribadi)

Sebelum membaca seri novel Negeri Para Bedebah, kira-kira tahun 2018 lalu saya membaca “Negeri di Ujung Tanduk”. Dari buku tersebut ternyata cukup meruntuhkan opini saya yang mengira buku-buku karya Tere Liye itu selalu menye-menye dan cinta cintaan, dan saya kurang bgitu tertarik dengan hal yang seperti itu. Saya punya kesan demikian karena melihat judul-judul yang dipilih Tere Liye terbaca oleh saya terlalu mendayu dayu dan puitis seolah olah cocok difoto dengan segelas kopi dan lagu kemudian diupload ke Instagram lengkap dengan lagu lagu indie serta caption sederhana ala ala. Ternyata saya salah. Buku “Negeri di Ujung Tanduk” dan “Negeri Para Bedebah” bisa saya katakan menjadi salah satu novel terbaik yang pernah saya baca hingga saat ini.

Selang waktu beberapa lama setelah saya membaca habis buku “Negeri di Ujung Tanduk”, Saya disibukan dan tertarik dengan buku dari genre-genre lain tau dari penulis lainnya. Setahun berlalu, pada akhir tahun 2019 saya tidak menemukan lagi buku yang menurut saya menarik untuk dibaca. Dan akhirnya saya memutuskan melanjutkan seri Novel yang dulu pernah coba saya ikuti dengan membeli buku “Negeri para Bedebah”. Yah selain alur ceritanya yang sudah pasti saya suka dengan tokoh super keren, cerdas dan genius “Thom” tampaknya menarik jika saya membaca cerita petualangannya sekali lagi.

Sekedar informasi buku berjudul “Negeri Para Bedebah” pada dasarnya merupakan buku pertama sedangkan buku berjudul “Negeri di Ujung Tanduk” justru buku keduanya. Jadi singkat kata, urutan membaca saya terbalik hehehe. Pantas saja beberapa cerita terkesan ngegantung dan sulit saya pahami hehehe. Tapi tidak begitu buruk lah, hitung hitung macam flashback lah (pembelaan)

Ini tetap kisah tentang seorang Thom, “Sang Konsultan Keuangan Profesional” serta kaitannya dengan konspirasi Penyelamatan Bank Semesta

Sama seperti buku keduanya, dalam buku pertama ini tetap menceritakan tokoh yang bernama Thom “sang Konsultan Keuangan Profesional” kelas dunia. (ngomong ngomong agak aneh juga ya membandingkan yang pertama justru ke yang dua, biasanya sama seperti buku yang pertama bla bla bla, tetapi ini. Yasudah lah ya). Kembali pada topik bahasan, Buku ini menceritakan perjalanan Thom sang konsultan keuangan dalam memenghadapi orang dari masalalunya. Sekelompok orang yang dengan sadis merebut harta benda bahkan juga menyebabkan Ayah dan Ibunya tewas terbakar. Semenjak kejadian kelam dimasa kecilnya itu Thom tumbuh menjadi seorang anak yang ambisius dan sangat cerdas. Ia bersekolah disuatu sekolah berasrama (sekolah ini ternyata sekolah spesial dan dibahas di buku ke 2). Thom kemudian melanjutkan studi di sekolah bisnis yang hanya orang orang sangat cerdaslah yang boleh berkuliah disana ditambah lagi ia juga dididik oleh seorang Profesor penerima Nobel.

Hingga dewasa, kemampuannya Thom berkembang pesat dan diakui oleh pebisnis pebisnis kelas dunia terbukti dari seringkali ia diundang untuk menjadi pembicara dalam pertemuan para pemimpin perusahaan perusahaan besar serta sering pula menjadi narasumber berbagai majalah bisnis. Selain bergemilang di karir profesionalnya,

Thom juga memiliki hobi yang terbilang unik dan nyeleneh. Ia memiliki hobi bertarung dan secara rutin bersama klub petarungnya mereka bertemu juntuk bertarung. Klub petarung ini terdiri dari berbagai kalangan baik dari orang orang biasa, pebisnis, pegawai imigrasi hingga polisi. Dari sinilah Thom kemudian memiliki para kawan yang tidak hanya setia namun sangat membantu Thom dalam menyelesaikan misinya. Sebuah misi yang ia persiapkan sendari dulu untuk membalas komplotan jahat yang telah menyebabkan orang tuanya tewas mengenaskan yang tentunya mereka juga saat ini semakin berkuasa dan berbahaya bahkan sudah menduduki posisi penting negara.

Ini kisah tentang petarungan menggunakan otot dan otak,.. semua dilibatkan tanpa terkecuali

Di Negeri Para Bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata. Di Negeri Para Bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah. Tetapi setidaknya, Kawan, di Negeri Para Bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berkhianat -Tere Liye- (Photo by Gleb Krasnoborov from Pexels)

Issu yang dibahas di novel ini tidak asing dengan issu dan mirip sekali dengan kasus Bank Century yang hingga kini masih terus berlarut larut tidak ada akhir. Dalam novel ini bank yang sedang kritis tersebut bernama Bank Semesta. Jika dalam dunia nyata nama bank yang kolaps dan di bantu pemerinah itu berkaitan dengan waktu “Century” atau Abad. Secara jenius Tere Liye memilih nama “Semesta” yang berkaitan dengan ruang #Cerdas!. Beberapa tokoh penting pun dibuat tidak sengaja mirip dengan tokoh tokoh yang terlibat seperti petinggi bank central (bank indonesia) hingga mentri saat itu yang terkenal cerdas dan lulusan universitas ternama. Percayalah ini hanyalah kebetulan semata yang tidak sengaja mirip.

Issu yang menarik dan rumit tentunya tidak akan lagi menarik jika seorang penulis tidak mampu mengolah nya dengan menggunakan diksi dan sudut pandang yang tepat. Tere Liye adalah salah satu penyihir kata yang dapat melakukan itu. Saya suka bagaimana sang penulis menceritakan alur dan interaksi para tokoh yang seolah olah hidup dan natural. Tidak begitu banyak hal hal tidak penting dalam novel ini. Bahkan saya malah berpikir lebih dari 80% adegan yang ada dalam buku ini memiliki arti dan keterkaitan yang erat dengan kejadian kejadian yang dibahas pada bagian berikutnya.

Hal ini menurut saya merupakan hal yang hebat karena tidak jarang buku novel se jenis ini memberikan informasi tambahan yang terlalu berlebihan disampaikan oleh sang karakter utama hanya untuk memperlihatkan keluasan pengetahuannya tanpa ada kaitan yang kuat antara apa yang dibahas melalui percakapan karakter dengan apa yang sebenarnya sedang dan akan terjadi. Bahkan kisah kisah tambahan yang sebelumnya saya anggap remeh tanpa arti justru menjadi salah satu kunci penting dalam keberlanjutan cerita. Dari sini kita dapat melihat kematangan seorang Tere Liye sebagai penulis.

Namun ada sedikit saja kekurangan yang saya rasakan cukup mengganggu ekspektasi saya akan buku ini. Kedua buku baik “Negeri Para Bedebah” dan buku “Negeri di Ujung Tanduk” memiliki plot cerita yang terlalu mirip dan sayangnya tidak begitu berbeda plotnya dengan novel novel karya Dan Brown baik “Inferno” maupun “Origin”. Yang pada intinya orang cerdas luar biasa ditemani gadis cantik menghadapi tokoh penting yang lalim kemudian dikejar kejar sembari para tokoh utamanya terus mempelajari kasus yang terjadi. Dalam pelariannya tokoh utama juga berpindah pndah begitu banyak tempat, menemui banyak orang dan saling berkomunikasi untuk kemudian secara tidak disadari menjalankan rencana sang pemeran utama untuk mengalahkan tokoh jahat berkuasa tersebut.

Diatas kekurangan tersebut, buku ini merupakan novel yang menarik. Bahkan sebelumnya pula saya menggolongkan kedua novel karya Tere Liye ini kedalam kelompok novel terbaik yang pernah saya baca. Hal yang menjadi pembeda antara buku ini dengan karya Dan Brown adalah koordinasi antar tokohnya.

Dalam novel Tere Liye ini, pemeran utama tidaklah bergerak sendiri dan terlalu mencolok, ia dibantu dan menkoordinasi segala sumberdaya yang ada dan dia miliki secara efektif termasuk teman dan kenalannya untuk menyelesaikan masalah yang ada. Saya suka dengan gagasan ini, mengingat ditengah keseharia, kita seringkali justru terlalu percaya diri dan berekspektasi lebih dengan kemampuan diri kita sendiri dan tanpa sadar menghiraukan potensi besar dari yang ada disekitar kita.

Sekian dulu dari saya, sampai jumpa pada tulisan saya berikutnya.

Salam

Dewa Putu AM

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Oh My Goodness!, Buku Pintar Seorang Creative Junkies by Yoris Sebastian

January 27, 2020 — by dewaputuam2

WhatsApp-Image-2020-01-27-at-12.35.21-PM-960x720.jpeg

Sedikit cerita tentang bagaimana saya mendapatkan buku pertama yang selesai saya baca di tahun 2020 ini hehehe. Buku ini adalah pemberian dari salah satu rekan kerja saya di kantor yang lama, Mba Tata. “Terimakasih Mba atas pemberian bukunya, sesuai janji saya ulas buku ini dalam blog saya setelah saya selesai membacanya”. Seperti kebiasaan saya, beberapa poin mungkin akan terbaca sedikit kejam namun perlu saya simpulkan dulu di awal ya tentang buku ini sebelum saya mengulasnya lebih dalam. Harus saya akui kalau Ini buku yang menarik dan layak dibaca untuk orang yang ingin kembali membusting jiwa kreatifnya.

Hal pertama yang membuat saya tertarik dengan buku ini dan menjadikannya bacaan pertama di tahun 2020 ini karena ini buku merupakan karya dari salah seorang penulis buku di Indonesia yang saya kagumi “Yoris Sebastian”. Salah satu tokoh kreatif indonesia yang mungkin beberapa teman pembaca penah membaca salah satu bukunya. Hal kedua, seperti buku yang pernah saya baca sebelumnya yang berjudul “Generasi Langgas” dengan cover buku bisa kita modifikasi menggunakan stiker stiker yang diberikan. Buku “Oh My Goodness!” ini juga mengusung konsep cover yang “tidak normal” karena buku ini secara sengaja mengajak para pembacanya untuk mewarnai sendiri cover bukunya, bahkan di beberapa halaman terlihat bagaimana kreatifitas para pembaca lain yang telah mewarnai buku ini. Namun saya beda, saat yang lain mewarnai, justru saya tidak mewarnai. Karena saya orang yang rebel dan kreatif hehehe (alasan karena sedang malas dan lagi misqueen tidak ada pensil warna).

Hal ketiga dan yang paling penting dari kesemuanya itu adalah isi buku ini sendiri. Issu dan topik yang dibahas menurut saya sederhana dan masih masuk diakal untuk kita terapkan dalam keseharian kita. Masih manusiawi lah sehingga anggapan bahwa kreatifitas adalah suatu barang yang sangat mewah dan hanya dapat didapatkan oleh orang orang tertentu dan golongan tertentu, dari awal sekali sudah di kikis oleh sang penulis. Kreatifitas justru merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita dan bisa kita latih.

Sekilas Tentang Buku Tanpa Nomor Halaman, untuk para Creative Junkies

Kreatif itu tidak perlu diutarakan, Namun hasilnya sendirilah yang secara senyap berbisik langsung ke otak kita dan berkata secra ghaib “Saya Produk Kreatifitas” (Photo by Shukhrat Umarov from Pexels )

Buku ini tidak begitu tebal yah kira kira hanya. Sebentar, saya lihat lihat ternyata di buku ini tidak ada nomor halamannya ya. Saya tidak begitu tahu apakah ini disengaja oleh penulis sebagai satu lagi contoh kreativitasnya? atau sengaja dibuat agar kita fokus kepada isi dari buku tanpa melihat sudah sampai halaman berapa? atau bahkan kesalahan cetak?. Sederhana si, tapi hal ini justru berdampak besar bagi pembaca seperti saya. Awalnya saya tidak begitu suka dengan konsep ini namun sepertinya saya salah.

Saya pikir, yang paling masuk akal alasan pertama dan kedua karena dalam suatu bagian di buku sang penulis membahas kalau kita harus sesekali lepas dari kebiasaan yang biasa kita lakukan seperti jika kita biasa menggosok gigi dengan tangan kanan, maka sesekali ubahlah dengan menggunakan tangan kiri, jika biasanya kita pergi kerja melalui jalan “A” maka sesekali cobalah melalui jalur “B”. Dan dengan pola yang sama, Jika buku biasanya memiliki nomor halaman, maka karena buku ini kreatif maka dicoba tidak memberikan nomor halaman #kreatif. Namun, bagi saya dan sebagian orang yang terkadang suka lirik lirik nomor halaman jadi berasa ada yang kurang yah tapi sudah lah.

Meski secara umum buku ini bagus, namun saya rasa buku ini sedikit hambar untuk dibaca

Lampu hanya menjadi benda biasa tanpa makna bila kita tidak menyalakannya. Begitu juga dengan ide, seindah indahnya ide seajaib dan seindah bagaimanapun tidak akan bermanfaat saat kita tidak menyalakan dan menerangkan pada apa yang ada disekitar kita (Photo by Nikolai Ulltang from Pexels )

Ini yang saya sebut kejam sebelumnya. Meskipun memang saya akui buku ini buku yang bagus “untuk beberapa orang”. Namun mayoritas topik yang diulas dibuku ini sudah pernah saya temukan dari buku buku pengembangan diri lainnya. Rumusannya secara umum tetap sama yaitu Pertama, Bukan genetik yang menentukan segalanya, jadi semua orang bisa melakukannya. Kedua, Teruslah berlatih, dapatkan tim dan lingkungan yang mendukungmu untuk kreatif, belajarlah dengan mentor (boleh siapa saja) semua orang adalah guru kita, Berpikirlah diluar kotak. Dah pada intinya seperti itu. Cukup sedikit konsep dan gagasan yang memberikan Aha momen bagi saya. Salah satu frasa yang menurut saya paling nyelekit dan menarik di buku ini adalah.

Jangan hanya asal beda (out of the box), Boleh saja keluar atau keluar dari pakem atau kebiasaan. Tapi harus disesuaikan dengan target dan tujuan yang sebetulnya ingin dicapai. Jangan sampai asal kreatif tapi tak menghasilkan apa-apa selain sensasi.

Yoris Sebastian

Selain permasalahan yang sebelumnya saya bahas. Hal yang paling saya sayangkan adalah untuk beberapa topik dan kasus saya rasa terlalu sering diulang dengan tambahan ide yang tidak begitu signifikan dari bagian yang sebelumnya yang dibahas. Seperti contohnya keberhasilan sang penulis dalam mengadakan kegiatan “I Like Monday” saat dia di Hard Rock Cafe. Pada dasarnya kasus ini memang menarik untuk dibahas, namun dalam buku ini, kira kira lebih dari lima topik yang sama itu dibahas berulang yang menurut saya itu sedikit berlebihan.

Itu saja yang ingin saya bahas dari buku yang berjudul Oh My Goodness!, Buku Pintar Seorang Creative Junkies karya Yoris Sebastian. Sebagai penutup, jika teman teman sedang butuh buku buku tentang kreatifitas, ini buku yang tepat sebagai permulaan. Namun bila teman teman sekalian sudah banyak membaca buku terkait kreatifitas, pengembangan diri dan lain sebagainya, saya rasa tunggu sebentar lagi saja, tunggu mungkin akan ada versi baru yang diperkaya kasus kasus baru yang penulis dapatkan dan saya harap si dapat dibahas di versi update lainnya dari buku ini dikemudian hari atau bahkan akan ada buku baru lainnya dari penulis Yoris Sebastian hehehe.

Salam

Dewa Putu A.M.

BukuHiburanOpiniUncategorized

[buku] Teman Berjuang by Indra Sugiarto. Sebuah buku tentang teman dan sekaligus menjadi teman saat berjuang

November 12, 2019 — by dewaputuam0

photo_2019-11-12_12-47-44-960x639.jpg
Teman berjuang memukul, menyadarkan saya sekaligus mengingatkan suatu cara pandang yang realistis tentang kegagalan dan perjuangan

Saya dipertemukan dengan buku ini melalui algoritma lucu dari instagram. Sebuah algoritma yang kemudian membawa saya pada post berbentuk tulisan berseri dengan diksi yang lugas tanpa belas kasih. Yups, postingan itu milik akun Teman Berjuang. Tanpa berpikir panjang karena banyak dari post mereka ternyata tak kalah profokatif dan menurut saya lebih memberikan cara pandang yang masuk akal bagi saya maka saya putuskan untuk mengikuti akun mereka. Begitulah kira kira intro saya untuk tulisan tentang buku pertama karya alumni IPB hehehe (satu almamater ternyata). Jika ada teman teman yang pernah kuliah di IPB dan tidak jauh angakatan dengan saya maka pasti tahu Katalis, nah penulis buku inilah salah satu orang dibalih semua itu.

Beberapa buku pengembangan diri beberapa waktu belakangan ini saya perhatikan mengarah pada pola pikir yang sederhana dan realistis. Hal ini berbeda dengan trend trend buku pengembangan diri pada tahun tahun sebelumnya yang penuh dengan kata kata motivasi dan angan hingga mimpi yang terlampau jauh kedepan sehingga terkadang terputus dengan realitas yang ada. Konsep dan kerangka pikir yang demikian buat sebagian orang justru akan menambahkan beban yang akhirnya saat terjadi kegagalan rasa sakitnya pun menjadi semakin besar.

Buku karya Indra Sugiaro ini mengingatkan kita apa yang sedang kita perjuangkan dan untuk apa kita berjuang sekaligus menjadi salah satu teman kita untuk berjuang. Yang paling saya suka penulis tidak terlalu banyak memberikan buaian indah berlebihan tentang kesuksesan yang pasti akan ada pada setiap kegagalan. Penulis justru memberikan hantaman keras nan telak bahwa kegagalan ya kegagalan dan itu memang hal yang menyakitkan terkadang diperparah dengan hilangnya orang orang disekitar kita. Kejam sekali bukan.

Meski diksinya keras dan kejam, Buku ini mencoba meyakinkan pembaca bahwa ia berada di pihak mereka dan kemudian mengingatkan kita alasan kita berjuang “Lagi”

Untuk yang tidak merasakan kemenangan, tidak perlu malu dan menghilang. Tidak semua petarungan harus kau menangkan – Indra Sugiarto, Teman Berjuang- (Sumber Ilustrasi: Photo by Alvin Decena from Pexels)

Awal membaca saya justru tertarik dengan pemilihan kata (diksi) maupun kalimat yang penulis berikan kepada kita. Pada bagian pertengahan saya baru menyadari ada sesuatu hal yang selama ini saya tidak temukan dalam buku buku pengembangan diri lainnya dan justru tidak tahu bagaimana memang disengaja dan telah dikonsepkan dari awal. hmmm atau tidak sengaja. Saya lebih yakin pilihan pertama. Dalam bukunya, penulis memberikan sebuah alur cerita yang gamblang hingga sayapun kemudian berpikir kalau buku ini juga sebuah novel.

Saya sebenarnya sedikit bingung sih, menggolongkan buku ini dalam genre apa. Penulis memberikan batas yang tidak begitu jelas terlihat antara buku pengembangan diri, novel atau bahkan buku puisi. Kekayaan literatur saya soal buku jenis ini saya rasa memang sangat kurang hehehe, jadinya sedikit bingung saat membaca buku ini dan harus memasukan dalam genre apa.

Dalam beberapa literatur dan beberapa kali saya terapkan dalam kehidupan sehari hari, ada sebuah konsep dimana untuk berinteraksi, berkomunikasi dan bahkan ingin memberikan pengaruh pada seseorang maka langkah awal yang perlu ditempuh adalah meyakinkan orang tersebut bahwa kita berada dipihak mereka. Orang akan cenderung difensif jika tidak yakin bahwa orng yang sedang berinteraksi dengannya berada dipihak mereka. Jika sudah begini, jangan kan pengaruh, berinteraksi lebih lanjut aja sulit untuk dilakukan.

Buku ini menggunakan pendekatan yang sama, Meski diksinya keras dan kejam, Buku ini mencoba meyakinkan pembaca bahwa ia berada di pihak mereka. Sang penulis memberikan kesan setuju dengan apa alasan alasan dan menyetujui atau setidaknya mengakui tentang hal hal negatif yang mungkin para pembaca sedang rasakan. Perasaan kecewa, sakit dan sedih semua di tuliskan secara gamblang dan kejam. Namun penulis selalu mengakui perasaan perasaan negatif itu memang nyata adanya tak perlu di hindari cukup rasakan saja betapa pahit dan kejamnya semua itu.

Di momentum ini, kamu pikir aku akan mengatakan semuanya akan baik baik saja. Oh, no, sweetheart, I am so sorry. Semuanya tidak baik baik saja.

Indra Sugiarto, Teman Berjuang

Di balik kekejaman itu justru sang penulis mendekati kita melalui kata katanya, bahwa adalah sebuah kebohongang kalau gagal itu tidak menyakitkan. Namun gagal hari ini belum tentu gagal di hari esok. Sayangnya kata “belum tentu gagal” juga bukan memiliki arti yang sama “pasti berhasil” hehehe, jadi masih bisa lah gagal gagal lagi. Meski menyakitkan gagal ya gagal dan hal itu normal. Jadi jika gagal nanti kita ingin menghilang sejenak dan memeluk (sesaat) kesendirian kita ini. Mengatakan kuat pada hati yang sedang tidak kuat. Yaaa monggo.

Namun jangan lama lama bersedih dan meratapi kegagalan, bukankah ada hal besar yang membuat kita selama ini berjuang. Jadi jangan lupakan itu.

Bukan hal yang mudah untuk mereview dan mengulas buku ini, karena terlalu banyak ide dan quote-quote menarik yang sulit sekali memilah mana yang terbaik untuk di tuliskan dan di ulas dalam posting singkat ini. Namun jika harus memilih 5 buku terbaik yang saya pernah baca di tahun ini. Saya pastikan buku ini masuk dalam daftar itu.

Saya kira cukup sekian dulu ulasan dari saya untuk buku “Teman Berjuang” kali ini. Oia saat ini saya sedang membaca Buku “Tumbuh dari Luka” dari pengarang yang sama. Tampaknya bakal menarik hehehe.

Salam

Dewa Putu AM

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] Hit Refresh karya Satya Nandela, Sebuah Autobiografi seorang CEO Microsoft

October 31, 2019 — by dewaputuam0

microsoft-satya-nadella-bing-ceo-960x640.jpg
Gagasan-gagasan selalu menggairahkan saya. EMpati telah membumikan dan memusatkan diri saya- Satya Nandella (Sumber foto: Investor’s Business Daily)

Sebuah biografi biasanya menggambarkan masa masa lalu seorang tokoh dari perjalanan meniti karirnya yang penuh dengan dilema hingga kemudian sukses. Dari buku buku tersebut kita akan diajarkan kegigihan dan keunikan kerangka berpikir para tokoh dalam menghadapi permasalahan permasalahan yang “saat itu” ia temui. Hal yang membuat saya suka membaca buku buku emacam ini adalah berbagai nilai nilai yang menurut saya lebih relevan dan membumi karena dileatkan pada tokoh yang memang menganut nilai tersebut dikehidupannya dan bukan hanya sesuatu konsep yang masih abstrak.

Buku ini menawarkan formula yang berbeda dari biografi kebanyakan, tidak hanya menceritakan “sejarah” yang telah lalu sang CEO, buku ini justru menceritakan pembentukan kerangka berpikir sang CEO yang membawanya pada keputusan keputusan lalu dan juga memberikan gambaran tujuan gerak Microsoft kedepannya. Ini bukanlah buku biografi biasa namun lebih pada catatan harian sang CEO yang jalan ceritanya masih berlanjut hingga saat ini.

Generik namun masih menarik di Awal, Cerita awal mula perjalanan seorang Nandella

Satya Nandella sedang bermain kriket, olahraga faforitnya. Dari permainan inilah ia belajar banyak terkait kepemimpinan (Sumber foto: Dreamcricket)

Kisah Nandella diawali dengan kecintaannya akan olah raga Kriket. Seperti negara negara persemakmuran Inggris pada umumnya mencintai olahraga kriket, India adalh salah satunya. Olah raga kriket merupakan passion terbesar Nandella selain kecintaannya pada komputer. Ia sempat menjadi anggota tim kriket sekolahnya dan mengikuti berbagai pertandingan hingga level nasional. Dari permainan kriket inilah Nandela muda mendapatkan prinsip-prinsip terkait membangun tim dan kepemimpinan yang hingga saat ini terus ia pegang dan juga saat ia memegang status sebagai CEO Nicrosoft.

  • Prinsip pertama adalah bersaing dengan penuh semangat dan gairah
  • Prinsip kedua, seorang pemain jagoan yang tak menomorsatukan tim akan menghancurkan seluruh tim tersebut
  • Prinsip yang paling penting dari kesemua itu adalah “Pemimpin harus tahu kapan saatnya turun tangan dan kapan membangun kepercayaan diri seseorang atau satu tim.

Kerja sama tim adalah hal yang wajib selalu dijaga oleh setiap organisasi bahkan untuk organisasi yang berbasis tekhnologi seperti Microsoft. Dalam kerja sama tersebut juga perlu melibatkan empati dari para anggotanya untuk memberikan nyawa dan jiwa pada produk produk yang dihasilkan. Menurut Nandella, Tekhnologi tak lebih dari kumpulan jiwa para pembuatnya. Ketika para pesaing mendefinisikan produk mereka sebagai mobile, Microsoft justru mendefinisikan sebagai mobilitas pengalaman manusia. Mereka fokus mendefinisikan diri tidak hanya sekedar alat yang mobile (bisa dibawa kemana mana) namun lebih dari itu dengan produk-produk merekalah pengalaman pengalaman manusia akan termobilisasi.

Melalui buku ini, Mereka mengakui kesalahan, kelengahan dan berujung pada kekalahan Microsoft pada pergeseran tekhnologi yang belakangan ini terjadi. Namun mereka tidak akan kalah lagi kali ini

Apel melambangkan sebuah ide, udah itu aja. Buku ini juga menggambarkan persaingan antara Microsoft dan Aple serta perusahaan perusahaan lainya. Meski pada satu bagian mereka bersaing namun mereka juga bekerja sama untuk bagian lainnya lagi dan saat krisis terjadi (saat kasus Snowden) para perusahaan ini pun di saling bekerjasama untuk mengembalikan kepercayaan para pelanggan mereka pada tekhnologi Photo by Pixabay from Pexels

Microsoft telah kalah dalam menyikapi perubahan tekhnologi yang terjadi belakangan ini khususnya ketika Aple dan Android membawa komputer pada setiap genggaman tangan manusia menyebabkan visi untuk menyediakan komputer pada setiap meja menjadi visi yang tidak lagi relevan. Budaya saling bersaing diperusahaan disertai budaya budaya kurang baik yang berkembang membuat jiwa jiwa ingin berubah dan menjadikan Microsoft berjaya kembali bergejolak di banyak karyawan namun tertekan dan tidak bisa berbuat apa apa. Saat Nandella memimpin sedikit demi sedikit Microsoft berubah dan mulai kembali menunjukan taringnya.

Dalam buku ini dijelaskan bagaimana Microsoft dengan serius mengembangkan produk produk mereka dan pertaruhan besar pada tekhnologi tekhnologi inti seperti Komputasi Awan, Kecerdasan Buatan, dan juga komputer quantum. Menariknya buku ini juga membahas kegelisahan kegelisahan yang dialami oleh Nandela saat bertemu pemimpin pemimpin negara-negara tidak hanya negara maju namun juga berkembang yang menginginkan andil besar dari tekhnologi untuk kemajuan bangsa. Negara negara berkembang cenderung ingin mendirikan Sillicon Valley dengan meminta para perusahaan tekhnologi besar membuka kantor cabang di negara mereka. Nandela menilai hal itu bukanlah solusi yang tepat.

Menurut Nandella suatu negara yang ingin mengembangkan negara mereka justru perlu menggali potensi potensi lokal yang ada dan memperbesar intensitas penggunaan tekhnologi tekhnologi terbaru yang ada maka perkembangan akan menjadi jauh lebih baik dan optimal. Pemberdayaan sumberdaya lokal akan jauh lebih baik dan optimal dalam menyelesaikan permasalahan permasalahan unik yang ada di suatu negara. Untuk mengejar potensi penuh tekhnologi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara perlu meningkatkan kualitas pendidikan dan inovasi lokal.

(Pendidikan+Inovasi)*Intensitas Pemanfaatan Tekhnologi= Pertumbuhan Ekonomi.

Seperti yang disampaikan oleh Profesor Comin, Anda tak perlu menemukan roda, tetapi anda harus cepat mengadopsinya karena “Masyarakat yang cepat memanfaatkan alat baru kemungkinan besar akan lebih produktif”

Kunci perubahan budaya adalah pemberdayaan individu. Kadang kita meremehkan apa yang dapat kita kerjakan sendirian untuk mewujudkannya, dan terlalu berlebihan menilai apa yang harus dilakukan orang lain untuk kita.

Satya Nandella

Secara umum buku ini menurut saya sangat bagus dan menari. Penceritaannya dan permasalahan permasalahan yang dibahas dibuku ini masih relevan untuk menggambarkan apa yang saat ini sedang terjadi dan akan kemana Microsoft di masa yang akan datang. Permasalahn permasalah etis khususnya saat pembahasan terkait privasi, dan kaitan antara AI dan ketersediaan pekerjaan dibahas secara menarik dari buku ini.

  • Sumber Foto Cover Time

BukuPsikologiUncategorized

[Buku] The Leader Who had No Title “Seni Memimpin Tanpa Jabatan” karya Robin Sharman

October 15, 2019 — by dewaputuam0

cooperation-hands-handshake-1198171-960x640.jpg
Buku Seni memimpin tanpa jabatan karya Robin Sharman memberikan kita pengalaman baru akan sebuah buku pengembangan diri yang cukup renyah dan mudah dibaca. Jauh lebih penting dari pada itu buku ini pula mengingatkan kita agar kita tidak terjebak dalam 10 penyesalan manusia, apa itu? silahkan baca buku ini hehehe (Sumber ilustrasi: Young On Top)

Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit mengulas tentang buku menarik yang baru saja saya baca. Sebuah buku dengan judul yang bagi saya, terlihat agak kurang santai dan berkesan seperti pola pola pikir penuh dengan angan dan rasa optimis akan diri sendiri yang berlebih. Itu adalah pandangan awal saya terhadap judul dan design buku karya Robin Sharman. satu satunya hal yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini adalah latarbelakang penulis yang merupakan konsultan kepemimpinan di berbagai perusahaan besar seperti Microsoft, GE, Nike, FedEx dan IBM.

Dari latarbelakang yang demikian kece menurut saya dan masuk kategori best seller international, akhirnya saya menilai buku ini layak saya baca dan berharap akan menemukan banyak poin menarik di buku ini. Meski cara saya memilih buku yang seperti ini berkesan sedikit nista tapi nyatanya saya jarang kecewa dengan buku-buku yang saya pilih dengan cara seperti ini hehehe.

Buku karya Robin Sharman tidak mengecewakan saya, buku ini secara garis besar menyajikan cara dan nilai yang unik untuk sebuah buku pengembangan diri. Saat membaca buku ini kita akan sedikit dijauhkan dari kesan buku panduan yang membosankan, dan membaca buku ini berasa seperti membaca novel dengan alur cerita yang cukup enak diikuti.

Kita tidak diberikan kisah kisah sukses seseorang yang saat ini sudah sukses tapi kita diajak bergerak justru dari sebuah kisah seorang penjaga toko buku yang biasa saja

Sosok pemimpin bagi sebagian besar orang selalu diidentikan pada “Pemimpin” yang diangkat serta dilekatkan pada jabatan tertentu. Hal inilah yang kemudian membawa kita pada berbagai pemikiran yang menyesatkan (Sumber ilustrasi: Varoun Baga)

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, buku ini disampaikan bak sebuah novel dengan alur cerita yang cukup menarik. Melalui buku ini kita akan dibawa pada sebuah kisah seorang penjaga toko buku bernama Blake yang sedang berada dikondisi yang mungkin sedang dialami bagi sebagian orang saat ini. Kondisi sudah tidak ada gairah dan hanya bekerja sekena dan alakadarnya saja. Entah karena kecewa, ataupun sidah tidak bisa mengharapkan apa apalagi (eeee malah curhat hehehe). Dan kemudian suatu hari, blake dipertemukan dengan seorang rekan kerja nyentrik, dengan gaya berpakaian yang isa dikatakan ajaib bernama Tommy.

Di balik keajaiban dan kenyentrikan rekan kerjanya tersebut ternyata ada sesuatu fakta yang tidak dapat dianggap biasa. Dialah seseorang yang selalu menyandang karyawan terbaik di perusahaan pertokoan buku tersebut selama bertahun tahun dengan hadiah liburan ke berbagai tempat berkali kali. Dia juga sudah berkali kali diajukan untuk menjadi pimpinan di perusahaan tersebut namun berkali kali pula ia tolak. Dari segi materi pria itu juga sudah masuk kategori yang tidak berkekurangan sama sekali. Dan pria tersebut ternyata teman dari almarhum ayahnya blake. Sebuah cerita yang begitu klise dan sering kita temukan di novel novel ya hehehhe.

Dari pertemuan ini kemudian dimulailah perbincangan dan petualangan Blake dan Tommy untuk menyelami dunia kepemimpinan tanpa jabatan yang selama ini dijalani oleh Tommy dan membawanya ke kesuksesan seperti ini. Ada suatu ide menarik dalam perbincangan pertama mereka berdua yang membuat saya sexikit tersadar meski sebelumnya dalam beberaa buku menyebutkan bahwa dirikita tidak begitu spesial namun dalam buku ini kita juga diajarkan diri kitq pun tidak begitu tidak spesial. Kita lah satu satunya yang bisa menjadi diri kita sebaik baiknya. Di umur yang singkat manusia (960 bulan) akan sangat disayangkan bila kita tidak bekerja secara maksimal mengeluarkan segala apa yang ada dan diberikan Tuhan pada kita.

“Apa yang lebih sempurna dari pada melihat dunia yang “sedikit membaik” karena keberadaan dan perbuatan kita selama ini.”

Robin Sharman

Di beberapa buku menyebutkan kita bukanlah orang yang begitu spesial jadi tidak perlu terlalu dipikirkan dan terhanyut dalam penyesalan bila kita melakukan kesalahan. Kebanyakan dari kita bukan orang spesial yang dapat menyelamatkan dan memberikan pengaruh serta perubahan besar pada dunia. Ini adalah pola pikir yang menurut saya benar dan realistis namun benar pula kalau kita memang tidak begitu tidak spesial sehingga meskipun sedikit, kita sebenarnya bisa membuat dunia lebih baik dengan kerja kita.

Para Guru nyentrik yang mengajarkan kita secara perlahan tentang tidak hanya menjadi pemimpin tanpa jabatan, tetapi bagaimana menjadi kita yang seutuhnya

Bagi sebagian orang, mendengarkan hanyalah menunggu orang lain selesai berbicara agar mereka dapat menjawab dengan ucapan yang dipersiapkan, Dan pemimpin sejati mengambil peluang langkanya hal tersebut untuk tetap “Mendengar” (Sumber ilustrasi Keegan Everitt from Pexels )

Tommy kemudian membawa Blake mengunjungi keempat guru yang membuat dirinya menjadi pemimpin tanpa jabatan seperti sekarang. Keempat guru tersebut menurut saya sangat unik dan berkarakter hingga memberikan pada kita gambaran yang lebih menarik tentang apa apa saja yang sedang mereka bahas. Unik kata itu yang pertama kali terucap, ketika membaca karakter para guru di buku ini. Masing masing guru tersebut juga mengajarkan beberapa nilai penting terkait topik tersebut dalam satu singkatan.

  1. Seorang pelayan hotel bintang 5 yang menyampaikan bahwa “Kita tidak butuh jabatan untuk memimpin” . Aturan dasar dalam topik ini dirangkum dalam singkatan “IMAGE” (Inovation, Mastery, Authenticity, Guts dan Ethics). Kutipan penting yang menurut saya paling menarik adalah “Tak ada pemimpin hebat mencapai tangga tertinggi dengan berpegang erat pada alasan berdasar rasa takut. Korban selalu punya alasan, sampai mati. Dan, secara umum, orang yang ahli mengarang alasan biasanya tidak mahir melakukan yang lain.
  2. Seorang pemain ski profesional yang menyampaikan masa masa bergejolak membentuk pemimpin hebat . Sebagai pemain sekaligus pelatih ski profesional tentu sangat familiar dengan konsep konsep seperti ini, dalam bermain ski akan sangat sulit bila dilakukan di tempat landai (tidak ada tantangan sama sekali). Banyak konsep menarik di bab ini. Lima aturan penting untuk sebagai respon dan memanfaatkan masa masa bergejolak dirangkum dalam kata SPARK (Speak wit candor, Prioritize, Adversity breeds opportunity, Respond versus react, Kudos to everyone). qoutes yang menurut saya paling menarik dari bagian ini adalah “Kau dapat berbicara dengan terbuka dan mengungkap semua yang perlu kau sampaikan pada siapapun selama kau menggunakan bahasa yang pantas dan menjaga harga diri pendengarnya.” Qoute ini saya rasa sangat sesuai dengan beberapa polemik yang kita hadapi saat ini, terkadang kita lalai dalam hal menjaga harga diri pendengar atau orang yang sedanh kita bicarakan dan dengan pongahnya berkata ini hanya sebuah kritik yang mau tidak mau akan selalu ada.
  3. Seorang tukang kebun yang mantan CEO perusahaan besar menyampaikan topik “Semakin dalam hubunganmu, semakin kuat kepemimpinan mu” . Lima aturan yang terangkum dalam topik ini adalah “HUMAN” (Helpfulnes, Understanding, Mingle, Amuse dan NUrture). Quote yang menurut saya paling mengesankan dan mengena adalah “Bagi sebagian orang, mendengarkan hanyalah menunggu orang lain selesai berbicara agar mereka dapat menjawab dengan ucapan yang dipersiapkan.”
  4. Seorang tukang pijat refleksi yang legendaris dan menjadi langganan para pembesar untuk merefresh tubuh mereka. Dari guru ini kita akan diajak untuk belajar “Untuk menjadi pemimpin besar, Jadilah orang besar terlebih dahulu.” . Lima aturan dasar untuk mencapai hal tersebut adalah “SHINE” (See clearly, Health is wealth, Inspiration matters, Neglect not your family, Elevate your lifestyle). Quote yang menurut saya paling menarik adalah “Orang orang sebenarnya mendapat masalah ketika semua yang mereka miliki menjadi landasan siapa diri mereka dan identitas mereka di dunia. Karena jika mereka kehilangan semua itu, mereka juga kehilangan diri mereka sendiri”

Dari keempat guru tersebut dengan berbagai narasi dan latar belakang yang mereka miliki kita akan dihadapkan suatu drama yang menarik untuk diikuti perkembangannya, meskipun memang tidak se intens ketegangan seperti saat kita membaca buku bukunya Dan Brown. Namun Robin Sharman telah menunjukan kualitasnya sebagai konsultan kepemimpinan perusahaan perusahaan besar.

Namun sama halnya dengan buku buku terjemahan kebanyakan, buku inipun seakan sedikit hilang ruhnya khususnya saat joke joke diberikan antar karakter dan juga beberapa istilah menjadi kurang memberikan suasana sebenarnya yang diinginkan penulis aslinya sehingga makna dan nilai yang diberikan penulis sulit tercerna secara maksimal. Hal ini beberapa kali saya temukan dalam tulisan khususnya pada saat para tokoh memberikan singkatan singkatan yang saat di alih bahasakan menjadi canggung dan sedikit aneh.

Featured image by Mica Asato from Pexels

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Sutopo Purwo Nugroho, Terjebak Nostalgia

September 9, 2019 — by dewaputuam0

94f0692f41e2d91cf608104c67ef78cb964e0433-960x642.jpg
Sosok Pak Topo saat sedang memberikan penjelasan terkait bencana, Saya memilih foto ini karena sorot matanya itu keren parah saat menjelaskan. (Sumber gambar CNN)

Saya tertarik untuk membaca buku biografi ini dengan harapan dapat tahu dan memahami perjalanan hidup seorang pak Topo, apa yang pernah ia lalui dulu dan bagaimana ia menyikapinya hingga kemudian membuat beliau dikenang seperti saat ini. Mengutip dari salah satu bagian dibuku ini saya dan tentunya banyak dari teman teman akan sepakat bahwa “Beliau bukanlah sosok yang besar karena posisi ataupun jabatan beliau, Tapi beliaulah yang membesarkan posisi dan jabatan tersebut.”

Pada tulisan saya saat ini saya akan sedikit mengulas dan mengomentari sebuah buku biografi yang berjudul “Sutopo Purwo Nugroho, Terjebak Nostalgia” karya Fenty Effendy. Agar mempermudah dan tidak perlu repot membaca tulisan ini sampai akhir ada baiknya saya sampaikan saja keseimpulan saya mengenai buku ini di awal dulu ya hehehe. Secara umum buku ini bagus meskipun dari segi design cover sedikit kurang menarik. Banyak nilai nilai yang menginspirasi yang dapat kita pelajari dan ikuti dari sosok Pak Opo yang diceritakan dalam buku ini.

Jangan menilai Buku Hanya dari Covernya, Dari Buku Ini Saya Banyak Belajar

Dalam memilih buku biasanya saya menempatkan cover sebagai filter awal yang menentukan suatu buku layak atau tidak layak dibeli dan dibaca. Meskipun banyak orang yang mengatakan untuk tidak menilai buku dari covernya namun menurut saya justru dari cover tersebut kita melihat kesunguh sungguhan tim penerbitan dalam menulis buku tersebut. Singkat kata cover buku ini kurang menarik, pemilihan warna, potongan gambar sosok Pak Topo dari buku ini tidak rapi dan sedikit kurang puas karena saya yakin mereka tentulah dapat membuat yang lebih baik lagi dari yang sekarang.

Buku Biografi ini masuk buku yang tipis tepatnya 200 halaman dan memiliki jarak spasi yang lebar sehingga dari sini semestinya buku ini dapat kita baca habis. dalam waktu yang singkat. Satu hari untuk melahap buku ini masihlah mungkin bahkan dengan kecepatan membaca yang normal sekalipun. Dari segi bahasa yang digunakan enak sekali untuk dibaca, ini yang penting dan masih nyaman untuk diikuti seperti kita sedang membaca sebuah novel. Alur yang sedikit lompat lompat terkadang membuat saya sedikit bingung dengan apa yang dibahas namun secara garis besar dari fisik dan penulisan buku biografi ini masih bagus dan layak untuk dibaca terlepas kekurangan dari segi design cover kurang terlihat keren.

Duet Maut dan Lucu S. Maarif- Topo Hingga Sosok Sederhana dan Humanis Seorang Pak Topo

Dari buku ini kita akan dibawa oleh penulis untuk mengenal lebih dekat pada sosok Pak Topo (Sang Informan Bencana) menyelami kisah kehidupan, perubahan pola pikir hingga pembangunan karakter beliau dari sosok seorang anak yang hanya ingin berbakti pada orang tuanya, kemudian terpuruk dan gamang karena kegagalan. Sutopo berkembang terus menjadi peneliti cerdas yang idealis namun kemudian saat bertemu soskm Samsul Maarif bergolak kembali kemudian menjadi sosok peneliti yang humanis.

Salah satu bagian yang paling saya suka dalam buku ini adalah saat beliau yang seorang saintist garis keras yang kebetulan melihat dengan mata kepala sendiri kondisi terakhir tanggul situ gintung. Ia kemudian meneliti tentang fluks karbon dari sungai sungai di Jawa, tiba tiba ditanya Pak S. Maarif “Ini kok saya lihat semuanya tentang sains ya. So what? Ini untuk manusianya bagaimana?”. Saya menyukai bagian ini karena saya rasa dari sinilah kemudian Pak Topo berbalik dan menjadi sebesar sekarang. Nilai kemanusiaan, sebuah nilai yang terkadang terlupakan oleh beberapa peneliti. Terus berpegang dan berkutat pada apa yang ia sukai, terus mengembara menjelajahi area yang ia suka hingga lupa kembali ke tujuan awal, menambahkan nilai kemanusiaan.

Selain bagian itu masih banyak hal menarik dibahas di buku ini, kisah percintaan beliau, hingga pada kisah yang membuat saya berkaca kaca. Selain apa yang kita sering lihat dan diketahui banyak orang tentang kiprahnya sebagai informan bencana banyak rahasia rahasia beliau yang diungkapakan juga dalam buku ini dan kesempatan menjadi Profesor, masuk ke ring satu istana dan jabatan yang ternyata banyak sekali beliau tolak karena keiinginan beliau untuk tetap mengabdi dan mencurahkan segala yang ia punya demi kemanusiaan sebagai seorang informan bencana.

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] #MO, Kelanjutan Seri Disruption Karya Rhenald Kasali. #MEH kah?

September 1, 2019 — by dewaputuam0

https_cdn.cnn_.com_cnnnext_dam_assets_190523095525-indonesia-riot-960x540.jpg
#MO, Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham. Apakah kita termasuk orang orang yang gagal paham itu? mungkin ia dan mungkin juga tidak. Saya rasa “tag” seperti ini yang kemudian membuat saya sedikit tertekan, apakah dengan membaca buku ini kemudian akan membuat saya tidak gagal paham lagi? atau sekedar membuat saya menyadari bahwa saya selama ini memang gagal paham?. AH sudahlah setidaknya kita nikmati dulu saja buku ini, yang saya yakin ada banyak ide menarik didalamnya. #Mungkin (Sumber Gambar: Rumah Perubahan)

Sebuah buku dengan judul yang sangat singkat dari seorang penulis yang karyanya selalu saya tunggu, khususnya untuk buku seri disruption. Dari beberapa buku yang sebelumnya saya baca yakni Disruption dan The Great Shifting, karya-karya Prof Rhenald memang sukar sekali untuk kita ragukan kualitas dan kedalaman materi yang dihadirkan namun tetap terjaga untuk mudah dipahami. Hal ini juga termasuk dalam karya yang baru di rilis pertengahan Bulan Agustus lalu yang berjudul singkat yakni #MO. Bila dalam buku Drisruption kita dibangunkan untuk melihat adanya perubahan yang terjadi di sekitar kita. Buku the Great Shifting kita diingatkan berbagai pergeseran mendasar dalam berbagai lini kehidupan kita yang ternyata juga menyertai perubahan dalam era disrupsi.

Dalam buku #MO kita sekali lagi diberikan gambaran bahwa perubahan dan pergeseran tersebut merupakan pergerakan (mobilisasi) yang terorkestrasi oleh para pelakunya. “#, Mobilisasi dan atau Orkestrasi” merupakan satu tanda baca, dan dua frasa dasar yang kemudian dibahas dari awal hingga pengakhiran buku ini. Dari isu-isu global pemanfaatan isu orang hutan yang dipakai oleh masyarakat Eropa dalam menjegal laju ekspor minyak kelapa sawit Indonesia. Tagar #YODO (You Only Die Once) yang dimanfaatkan oleh ISIS dalam merekrut para simpatisannya hingga isu isu nasional yang mungkin saja bagi sebagian orang remeh dan beberapa kali kita jumpai seperti #SaveAudrey #AudreyJugaBersalah #Unistalblablabla juga #2019GantiPresiden. Apakah issu issu ini murni datang dari masyarakat dan tiba tiba membesar dan memunculkan pergerakan atau ada “kuasa” tak terlihat yang sengaja mengorkestrasinya ke arah yang telah direncanakan?

Mungkin bagi sebagian orang hal ini akan terlihat seperti teori teori konspirasi belaka yang mengada ngada dan kelewat halu. Yah itu terserah pada pribadi masing masing, namun konsep Tagar (#), Mobilisasi dan Orkestrasi sudah lama menjadi issu global yang tentunya akan seru bila kita dapat memanfaatkannya dengan baik dan juga lucunya akan cukup menyedihkan bilamana suatu saat kita tergilas oleh metode baru ini. Hanya dua pilihan kita sekarang ikut bergerak bersama dan berselancar lagi bersenang senang dengan gelombang mobilisasi yang ada atau justru tenggelam dan kemudian menghilang didalamnya. Dua itu saja pilihan kita dan tidak ada yang lain. Buku ini buku yang tepat sebagai “gambaran awal” bagi kita untuk mengenalkan kita pada era Mobilisasi dan Orkestrasi yang sedang terjadi disekitar kita sekarang ini.

Gambaran Singkat Buku berjudul Singkat “#MO“, apakah ini #MEH?

Orkestrasi, sama seperti pada gambar vektor yang polosan dan simpel ini, Buku ini hanya menjelaskan orkestrasi secara umum (sistem dan kerja didalamnya tidak dijelaskan dengan memuaskan) dan melompat lompat hehehe. Bukan jelek sik tapi belum puas aja dengan buku ini. (Sumber Gambar: LinkedIn )

Bagi orang yang tidak begitu suka membaca buku seperti saya, ketebalan buku mungkin saja menjadi salah satu faktor pembatas yang sangat menentukan. Yup, buku ini masuk kategori yang tebal namun masih dalam batas wajar sekitar 400an halaman.

Saya rasa sebenarnya buku ini dapat disajikan dalam bentuk yang lebih ringkas dan disesuaikan dengan judulnya yaitu #MO yang juga singkat. Saya masih gagal paham kah soal ini, Ada beberapa topik menurut saya tidak memiliki keterkaitan yang kuat dan dibahas alakadarnya saja. Mungkin karena terlalu banyak contoh yang diberikan jadi pembahasan pada #MO yang seharusnya dikuliti habis menjadi kurang menghasilkan #wah momen seperti pada buku buku sebelumnya. Saya sedikit kecewa untuk ini. Terasa kurang dan tanggung menurut saya.

Secara fisik buku ini memang terlihat tebal, namun bila kita melihat topik topik dan contoh yang dibahasnya jika memang ingin menguliti habis #MO nya seharusnya lebih tebal dari ini. Dilematis ya, tapi menurut saya buku ini adalah karya yang nanggung banget dan sedikit dibawah ekspektasi saya yang berharap buku ini dapat memberikan saya insight semencerahkan buku “Tipping Pointnya” Glandwell. Bila dibandingkan dengan buku seri Disrupstion sebelumnya hanya sedikit hal baru yang disajikan dari buku ini. Selebihnya sudah dibahas pada buku buku sebelumnya. Atau justru karena terlalu banyak hal baru yang disajikan menjadikan buku ini berkesan tanggung dan bukan dangkal, akan tetapi saya rasa buku ini dapat tersaji lebih baik dan mendalam lagi oleh Prof Kasali jika beliau mau. Mungkin sengaja di ringkas dan di sederhanakan agar layak dikonsumsi oleh banyak orang ya.

Kesimpulan Saya Untuk Buku Ini

Biar bagaimanapun juga buku ini masuk dalam jajaran buku dengan kualitasnya diatas rata rata bila dibandingkan dengan buku buku baru yang saat ini terpajang di toko toko buku terdekat saya. Buku ini membahas topik yang sangta menarik dan banyak hal yang dapat kita ambil dan pelajari dari karya terbaru dari Profesor Kasali ini. Itu simpulan saya, meskipun saya memang berharap akan mendapatkan hal yang lebih dari ini. Bagus tapi kurang memuaskan gitu, saya kurang bisa mendapatkan diksi yang tepat untuk menggambarkan hal ini, bisa dibilang nanggung.

Oia saya kurang begitu nyaman dengan pembahasan saat Prof Kasali berdebat dengan R. Gerung (dalam buku ini disamarkan namanya) dalam acara ILC. Meskipun fokus yang dibahas pada shaping n sharing yang dilakukan oleh para netijen kemudian yang menjadikan topik tersebut viral namun gaya pembahasannya menjadi sedikit berubah e pada topik ini dan ada kesan gimana gitu ya, sedikit terbumbui dengan emosi dan hal hal yang kurang pas dimasukan kedalam sebuah buku yang masuk kategori non fiksi ini.

Hmmm saya rasa seperti itu saja komentar saya soal buku ini. Buku ini layak sekali dikoleksi dan dibaca buat temen temen yang ingin memahami tentang era #MO, dan untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam saya juga merekomendasikan juga ngelengkapin bacaan ini dengan buku Everybody Lies dan Tipping Point, soalnya ada topik topik yang menurut saya bagian yang hilang itu saya rasa dapat teman teman temukan dalam buku buku tersebut.

Oia untuk cover pada post ini (Feature Image) saya gunakan gambar dari kerusuhan 22 Mei yang saya ambil dari situs berita CNN. Dalam buku ini juga dibahas secara “aman” soal kerusuhan ini dan beberapa pergerakan heboh lainnya yang pernah terjadi di Indonesia.