main

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Sutopo Purwo Nugroho, Terjebak Nostalgia

September 9, 2019 — by dewaputuam0

94f0692f41e2d91cf608104c67ef78cb964e0433-960x642.jpg
Sosok Pak Topo saat sedang memberikan penjelasan terkait bencana, Saya memilih foto ini karena sorot matanya itu keren parah saat menjelaskan. (Sumber gambar CNN)

Saya tertarik untuk membaca buku biografi ini dengan harapan dapat tahu dan memahami perjalanan hidup seorang pak Topo, apa yang pernah ia lalui dulu dan bagaimana ia menyikapinya hingga kemudian membuat beliau dikenang seperti saat ini. Mengutip dari salah satu bagian dibuku ini saya dan tentunya banyak dari teman teman akan sepakat bahwa “Beliau bukanlah sosok yang besar karena posisi ataupun jabatan beliau, Tapi beliaulah yang membesarkan posisi dan jabatan tersebut.”

Pada tulisan saya saat ini saya akan sedikit mengulas dan mengomentari sebuah buku biografi yang berjudul “Sutopo Purwo Nugroho, Terjebak Nostalgia” karya Fenty Effendy. Agar mempermudah dan tidak perlu repot membaca tulisan ini sampai akhir ada baiknya saya sampaikan saja keseimpulan saya mengenai buku ini di awal dulu ya hehehe. Secara umum buku ini bagus meskipun dari segi design cover sedikit kurang menarik. Banyak nilai nilai yang menginspirasi yang dapat kita pelajari dan ikuti dari sosok Pak Opo yang diceritakan dalam buku ini.

Jangan menilai Buku Hanya dari Covernya, Dari Buku Ini Saya Banyak Belajar

Dalam memilih buku biasanya saya menempatkan cover sebagai filter awal yang menentukan suatu buku layak atau tidak layak dibeli dan dibaca. Meskipun banyak orang yang mengatakan untuk tidak menilai buku dari covernya namun menurut saya justru dari cover tersebut kita melihat kesunguh sungguhan tim penerbitan dalam menulis buku tersebut. Singkat kata cover buku ini kurang menarik, pemilihan warna, potongan gambar sosok Pak Topo dari buku ini tidak rapi dan sedikit kurang puas karena saya yakin mereka tentulah dapat membuat yang lebih baik lagi dari yang sekarang.

Buku Biografi ini masuk buku yang tipis tepatnya 200 halaman dan memiliki jarak spasi yang lebar sehingga dari sini semestinya buku ini dapat kita baca habis. dalam waktu yang singkat. Satu hari untuk melahap buku ini masihlah mungkin bahkan dengan kecepatan membaca yang normal sekalipun. Dari segi bahasa yang digunakan enak sekali untuk dibaca, ini yang penting dan masih nyaman untuk diikuti seperti kita sedang membaca sebuah novel. Alur yang sedikit lompat lompat terkadang membuat saya sedikit bingung dengan apa yang dibahas namun secara garis besar dari fisik dan penulisan buku biografi ini masih bagus dan layak untuk dibaca terlepas kekurangan dari segi design cover kurang terlihat keren.

Duet Maut dan Lucu S. Maarif- Topo Hingga Sosok Sederhana dan Humanis Seorang Pak Topo

Dari buku ini kita akan dibawa oleh penulis untuk mengenal lebih dekat pada sosok Pak Topo (Sang Informan Bencana) menyelami kisah kehidupan, perubahan pola pikir hingga pembangunan karakter beliau dari sosok seorang anak yang hanya ingin berbakti pada orang tuanya, kemudian terpuruk dan gamang karena kegagalan. Sutopo berkembang terus menjadi peneliti cerdas yang idealis namun kemudian saat bertemu soskm Samsul Maarif bergolak kembali kemudian menjadi sosok peneliti yang humanis.

Salah satu bagian yang paling saya suka dalam buku ini adalah saat beliau yang seorang saintist garis keras yang kebetulan melihat dengan mata kepala sendiri kondisi terakhir tanggul situ gintung. Ia kemudian meneliti tentang fluks karbon dari sungai sungai di Jawa, tiba tiba ditanya Pak S. Maarif “Ini kok saya lihat semuanya tentang sains ya. So what? Ini untuk manusianya bagaimana?”. Saya menyukai bagian ini karena saya rasa dari sinilah kemudian Pak Topo berbalik dan menjadi sebesar sekarang. Nilai kemanusiaan, sebuah nilai yang terkadang terlupakan oleh beberapa peneliti. Terus berpegang dan berkutat pada apa yang ia sukai, terus mengembara menjelajahi area yang ia suka hingga lupa kembali ke tujuan awal, menambahkan nilai kemanusiaan.

Selain bagian itu masih banyak hal menarik dibahas di buku ini, kisah percintaan beliau, hingga pada kisah yang membuat saya berkaca kaca. Selain apa yang kita sering lihat dan diketahui banyak orang tentang kiprahnya sebagai informan bencana banyak rahasia rahasia beliau yang diungkapakan juga dalam buku ini dan kesempatan menjadi Profesor, masuk ke ring satu istana dan jabatan yang ternyata banyak sekali beliau tolak karena keiinginan beliau untuk tetap mengabdi dan mencurahkan segala yang ia punya demi kemanusiaan sebagai seorang informan bencana.

BencanaBukuDaily LifePsikologiUncategorized

Tetap Menjadi Manusia saat Menyikapi dan Menghadapi Bencana dengan Filosofi Stoa

August 1, 2019 — by dewaputuam0

beach-blue-skies-by-the-sea-934718-960x645.jpg
Kita terlalu sibuk mengurusi dan mengkawatirkan apa yang tidak dalam kendali kita dan sayangnya pula terlalu sering mengabaikan apa yang ada dalam kendali kita. Saat kita berharap lebih pada apa yang tidak bisa kita kendalikan disitulah kita akan merasa gelisah dan takut kehilangan dengan cara yang konyol. Dikotomi kendali inilah yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis topik terkait hal ini (Sumber Ilustrasi: Pixabay @ www.pexels.com)

Isu gempabumi dan tsunami di laut selatan Jawa, meletusnya kembali gunung Takuban Perahu, potensi gempa dan tsunami Lombok dan isu isu terkait kebencanaan lainnya sering kali menyebabkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat yang kini begitu melek tekhnologi dan sangat mudah mengakses informasi. Bagi sebagian orang yang berkecimpung dan sering bersinggungan dengan bidang ilmu kebumian tentunya tidak akan heran dengan isu isu seperti ini karena memang dengan lokasi Indonesia yang “demikian strategis” mau tidak mau suka atau pun tidak suka hal itulah yang kemudian berdampak pada besarnya kemungkinan terjadi bencana seperti gempabumi, tsunami dan erupsi gunung api. Namun kita juga janganlah lupa bahwa “strategis”nya posisi indonesia itu juga yang memberikan kita kekayaan yang begitu berlimpah saat ini baik berlimpahnya minyak dan bahan tambang, suburnya tanah serta keindahan keindahan lainnya yang terkadang tidak dimiliki oleh negara negara lain.

Rasa khawatir masyarakat kita akan berbagai informasi yang meresahkan tidak sepenuhnya salah tersebut mengakibatkan beberapa dampak yang kontraprodktif bahkan dari beberapa tulisan yang saya sempat baca sebagian dari mereka ada yang sangat ketakutan dan memutuskan untuk mengungsi dan menjauhi tempat tempat yang diisukan tersebut. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya apakah ketakutan yang seperti itu diperlukan dan baik dalam menyikapi potensi bencana yang ada? Jika benar perlu dimanakah kita akan berlindung, Saat menjauhi laut karena takut tsunami kita lari kegunung namun gunung juga bisa meletus, kalaupun tidak gunung lereng lereng terjal diperbukitan pun bisa saja longsor dan menelan kita setiap saat. Belum lagi potensi bencana bencana lain seperti angin puting beliung, banjir, kecelakaan kendaraan, meteor, virus. “Actually There are no place to hide dude.

Hingga beberapa minggu yang lalu saya menemukan sebuah buku yang berjudul Filosofi Teras karya Henri Manampiring. Dari buku ini kita akan diajak untuk berkenalan dengan suatu Filosofi (“Teras” terjemahan bebas dari Stoa) yang ternyata telah ada dan berkembang di Yunani sejak 2000 tahun yang lalu. Saya rasa filosofi ini dapat dengan mudah kita manfaatkan sebagai salah satu panduan hidup kita yang tentunya dapat kita jadikan sebagai salah satu panduan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menguraikan beberapa prinsip dasar dari filosofi ini yang dapat dan sudah pula digunakan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Sudah disini saya maksudan karena prinsip prinsip ini bukanlah hal baru dan sudah banyak orang saya lihat dan temui di daerah bencana menerapkannya dalam memnghadapi apa yang terjadi pada mereka yang dalam hal ini adalah bencana.

Kebahagiaan dan Kedamaian Dicapai Saat Kita “Selaras dengan Alam”, Begitu juga dengan sebaliknya

Selaras dengan alam tidaklah sertamerta harus mengikuti alam tanpa daya untuk berperilaku lainnya. Seperti pada islustrasi ini, Batu ini tidaklah tersusun secara alamiah, namun dengan menselaraskan titik berat batu batu tersebut dengan sedemikian rupa dan mengikuti hukum serta proses yang ada dialam maka batu tersebut dapat kita susun sesuai dengan keinginan kita. Namun kita tidaklah bisa berharap batu tersebut tersusun seperti itu selamanya karena bisa saja suatu ketika batu tersebut tersapu oleh banjir, ataupun tersenggol seekor monyet yang sedang hendak meminum air di sungai. (Sumber Gambar: Pixabay @ www.pexels.com)

Dalam filosofi stoa kita diajak untuk hidup selaras dengan alam. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam menjalani filosofi ini. Selaras dengan alam yang dimaksudkan tidak hanya sekedar mencintai alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon ataupun segala macam kampanye cinta lingkungan lain yang terdengar agak sedikit retoris belakangan ini. Konsep selaras yang mereka utarakan lebih pada memposisikan diri selayaknya manusia dengan segala kelebihannya, sebuah keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yakni dalam hal berpikir dengan menggunakan nalar rasionya. Selaras dengan alam berartimenempatkan diri sebagai enitas makhluk hidup yang bernalar dan rasional.

Kebahagiaan dan kedamaian dicapai saat kita “selaras dengan alam” berarti sebagai manusia yang igin bahagia kita harus selalu berpegang pada nalar dan pikiran rasional kita. Kita tidak boleh terjebak dalam hal hal yang tidak rasional dan jauh dari nalar kita. Jika hal ini tidak dapat kita penuhi gelisah, rasa kawatir dan takut akan selalu memeluk erat kita. Hal hal yang tidak rasional dan diluar nalar terkait bencana sering saya temui menjadi sesuatu yang viral dan menghantui masyarakat kita. Dari hal hal sepele seperti menekan tombol like atau mengetik angka 1 di satu postingan media sosial agar terhindar dari petaka hingga pada hal hal tidak asional yang tidak ada lucu lucunya sama sekali seperti isu akan adanya bencana besar. Bagi sebagian orang yang jauh dari lokasi bencana mungkin menganggap hal itu bercanda saja, namun mereka mungkin tidak tahu di lokasi bencana hal itu tidak sebercanda yang mereka kira karena berkaitan dengan hidup dan mati banyak orang.

Selain selaras dengan alam, filosofi stoa juga percaya bahwa segala sesuatu baik entitas ataupun kejadian dalam hidup ini ini tidaklah berdiri sendiri namun melimiliki jalianan yang saling terhubung dan terkait. Keterkaitan segala sesuatu di dalam hidup disebut sebagai interconectedness. Begitu juga dengan bencana dengan segala dampak yang ditimbulkannya baik secara struktural seperti pepohonan yang tumbang, bangunan yang runtuh hingga pada para korban luka, hilang dan meninggal. Ada jalinan sebab akibat pada itu semua, dari strukturnya yang kurang baik dan tidak selaras dengan alam lingkungan sekitarnya, sistem peringatan dini yang belum layak, hingga pada pemahaman masyarakat setempat terkait potensi dan cara selamat dari bencana yang kurang memadai. Untuk mengurangi akibatnya tentulah kita perlu mengelola penyebabnya dengan baik. Ini bukanlah suatu tindakan perlawanan dan mengingkari apa yang terjadi, namun justru dengan melakukan kesemua itu kita telah selaras dengan alam dengan menjadi manusia seutuhnya yang menggunakan nalar, akal sehat dan rasionya dalam menghadapi bencana.

Dikotomi dan Trikotomi Kendali, dan Kaitannya dalam Sikap Kita pada Isu Bencana

Kita sebagai manusia hanya dapat melakukan dan berkuasa pada sedikit hal yang berada dibawah kendali kita. Namun ingatlah bahkan itusaja sudah cukup dan jangan cemas karenany. Jalani apa yang dapat kitalakukan biarkan semesta menjawab kita sepertiapa episode selanjutny. (Sumber Ilustrasi: Pixabay )

“Ada suatu hal yang perlu diingat, tidak segala hal dalam hidup berada di bawah kendali kita.” Kata kata ini mungkin terlihat sangat sederhana namun justru disinilah hal paling menarik dan menurut saya paling penting diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Dengan bahasa sederhananya prinsip inilah yang paling ngena bagi saya dan akan lebih menunjukan manfaatnya lagi saat kita berhadapan dengan bencana. Beberapa orang yang saya temui secara sadar ataupun tidak telah menerapkan prinsip ini dalam menyikapi dan menghadapi bencana yang melanda kehidupan mereka. Saat bencana terjadi mereka tidak begitu memusingkan apa apa saja yang diluar batas kendali mereka dan berfokus pada apa saja yang berada dalam kendali mereka secara maksimal dan optimal. Menyaksikan hal ini terkadang saya terharu akan ketegaran mereka sampai yah meskipun malu mengakuinya kadang saya sendiri pun meneteskan air mata terharu, masih manusiawi kan ya. Mereka orang orang yang hebat.

“Bapak, bolehkah saya meminjam truk bapak untuk mendistribusikan logistik. ada beberapa desa yang sampai sekarang kesulitan mendapatkan logistik pak. Untuk pengamanan dan bahan bakar kami yang tanggung pak. Kami hanya ingin membantu warga disana pak, kami kelompok pemuda ingin melakukan apa saja yang bisa kami perbuat untuk saudara saudara kami yang sedang terkena musibah pak. Tolonglah kami pak” Saat berkoordinasi terkait data dengan tentara yang bertugas saat di Palu tahun lalu saya mendengarkan perbincangan seorang pemuda yang sudah lusuh dan terlihat sekali kelelahan sedang meminta bantuan kendaraan untuk mendistribusikan logistik. Dua pemuda itu dari cerita mereka sebelumnya ikut membantu SAR mengefakuasi beberapa korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dan sekarang mereka mengerahkan tenaga mereka untuk membantu pendistribusian logistik. Melihat kesungguhan mereka dari pihak tentara yang bertugas pun membantu mereka baik kendaraan maupun tenaga personil untuk berama sama mendistribusikan ke lokasi yang dimaksud pemuda tersebut.

Konsep dikotomi kendali mengajak kita untuk memisahkan dengan jelas apa apa saja yang berada dibawah kendali kita dan apa apa saja yang berada diluar kendali kita. Filosofi stoa mengajarkan pada kita untuk terfokus pada hal yang berada di kendali kita dan tidak terlalu memusingkan apa yang berada diluar kendali kita. Seperti pada cerita pemuda tadi mereka melakukan apa yang berada dibawah kendali mereka yakni inisiatif mereka untuk melakukan apa yang dapat mereka perbuat seperti membantu dan bahkan juga keputusan mereka untuk meminta bantuan kendaraan pada petugas. Meskipun disetujui atau tidaknya permintaan mereka atas inisiatif mereka meminjam kendaraan adalah hal yang berada diluar kendali mereka namun setidaknya mereka telah melakukan semua yang ada di dalam kendali mereka.

Ketika orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka akan merasa terganggu, ketakutan dan labil

Quotes by Epirectus (Disunting dari tulisan Henry M, FIlosofi Teras)

Hingga kemudian seiring dengan perkembangan jaman, beberapa filsuf juga menyadari bahwa dari kesekian hal yang tidak berada di bawah kendali tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Dengan kata lain ada beberapa hal yang dapat dikendalikan hingga batas tertentu saja. Dari sinilah kemudian dikotomi kendali yang tadinya hanya membagi hal dalam kelas yang bisa dikendalikan dan kelas yang tidak bisa dikendalikan menjadi Trikotomi Kendali yang mengkelaskan hal kedalam tiga bagian yakni yang bisa dikendalikan, yang tidak bisa dikendalikan , dan ketiga adalah yang bisa dikendalikan sebagian.

Konsep dikotomi ataupun trikotomi kendali dari filosofi stoa ini sudah menjawab apa yang terjadi dengan masyarakat kita yang beberapa waktu belakangan ini diliputi oleh keresahan dan kegelisahan yang tidak perlu. Isu potensi gempa dan tsunami yang besar dan mengerikan di selatan jawa hingga Nusa Tenggara, gempa didaerah lembang, isu kekeringan panjang, isu gunung meletus, banjir jakarta, dan isu isu mengerikan lainnya. Jikalau itu benar, semua itu tidaklah berada dalam kendali kita, jadi jangan dipusingkan secara berlebihan, gelisah, dan ketakutan hingga melakukan hal hal yang kitra produktif dengan menghujat, ikut menebar hoax, dan berspekulasi hal hal yang terlalu jauh dan mengada ngada. Konsep dikotomi kendali dalam filosofi stoa mengajarkan kita untuk berfokus pada apa yang berada dibawah kendali kita.

Jangan terlalu membebani diri kita dengan hal yang tidak perlu karena itu pasti sangat melelahkan dan menyita banyak waktu. Waktu kita yang sedikit dan tenaga kita yang pas pasan sepertinya akan lebih baik bila kita manfaatkan dan fokuskan pada hal-hal yang dibawah kendali dan bisa kita lakukan seperti contoh paling sederhananya bila kejadian bencana itu terjadi kira kira apa yang perlu kita lakukan. Mencari tahu dan memahami potensi potensi bencana di wilayah kita masing masing, dan mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk mengurangi risikonya dari menyesuaikan struktur bangunan dengan potensi bencana yang ada. Kita perlu tahu apa tanda tandanya, apakah ada kode kode khusus atau sistem peringatan dini khusus yang ada lingkungan kita saat bencana terjadi. Kita juga dapat memastikan jalur evakuasi kalau toh bencana benar benar terjadi tetap layak dilewati dan bebas dari hambatan.

Tetapi memang si harus kita akui, saat terjadi bencana bukanlah saat saat yang dapat kita phami dengan mudah dan bukan pula sesuatu yang dapat kita hadapi. Rasa limbung, bingung dan tanpa arah menjadi hal yang banyak orang alami saat terdampak bencana. Bersedih bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam filosofi stoa. Meskipun demikian kita tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan itu bahkan sampai dibawa mati (Seneca). Ada sesuatu yang menarik dan menurut saya sangat mengharukan lagi saya temukan pada saat saya ditugaskan di Palu saat itu. Saat itu sudah larut malam (sekitar pukul 9 malam), ada seorang bapak bapak mengunjungi pos kami dan menanyakan kabar anaknya yang ikut menjadi korban kedaysatan tsunami saat itu. Pada mulanya saya sempat berpikir bahwa sosok bapak itu akan terlihat sangat bersedih dan bukan tidak mungkin tangisnya tidak terbendung saat datang pada kami. Namun ternyata semua itu salah besar. Meski masih terlihat jelas kesedihan mendalam pada diri seorang bapak itu namun dirinya masih tegar dan saya tidak bisa berkata apa apa melihat itu semua. Saya tidak tahu pula harus berekpresi apa saat mendengar perkataan bapak itu. Ia sudah iklas akan kepergian anaknya. Dia datang kepada kami hanya ingin meminta bantuan kepada kami untuk memastikan bahwa jasat yang ditemukan oleh tim dilapangan dan dikabarkan anaknya itu adalah benar anaknya. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Gempa, Tsunami, Banjir, Longsor dan semua lainnya adalah suatu keniscayaan yang alamiah terjadi selama bumi ini masih berputar. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Apapun yang kita lakukan tidak akan merubah hal itu. Namun keinginan kita untuk bertahan dan hidup meski terpapar kesua itu jugalah sesuatu yang alamiah, tidak akan ada yang dapat menghentikan keingian kita itu. Memang kita tidak akan dapat membuat gempabumi atau tsunami agar tidak pernah terjadi, Namun kita selalu bisa membuat diri kita aman dan selamat dari itu semua. Itu masih bisa masih bisa kita lakukan karena apa yang kita pikirkan apa yang kita lakukan berada dibawah kendali kita masih ada di bawah kendali kita sebagai manusia yang tetap menjadi manusia saat menyikapi dan menghadapi bencana.

Sumber Sumber yang saya gunakan dalam tulisan Ini

  • Buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini) karya Henri Manampiring dan dipublikasikan oleh Penerbit Buku Kompas
  • Featured Photo in this post is design by Tom Swinnen from Pexels

BencanaDaily LifeLingkunganMeteorologiOpiniUncategorized

Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap

July 7, 2019 — by dewaputuam0

2017_05_02_26133_1493689431._large-960x642.jpg
Kondisi Jakarta dalam Sepekan Terakhir Tertup oleh Polusi Udara Bahkan dalam Suatu kanal Berita, Kota Jakarta Dituding Sebagai Kota Terpolusi di Dunia. (Sumber gambar: The Jakarta Post)

Jika teman teman tinggal atau sempat singgah di Jakarta tentunya juga merasakan dalam sepekan terakhir kita jarang sekali melihat langit biru di pagi hari. Suasana pagi kita dalam sepekan ini selalu diselimuti kabut, namun sedikit menyesakkan. Hal ini akan tampak begitu jelas bila dilihat dari ketinggian pada lantai tertentu yang mana akan terlihat lapisan kabut yang menutupi kota, sebagai gambaran kira-kira serupa dengan ilustrasi yang saya sandur dari situs berita Jakarta Post di Atas. Jika dilihat sebenarnya kondisi Jakarta yang demikian cukup indah, memiliki kesan sedikit retro dan klasik seperti salah satu filter yang ada didalam aplikasi Instagram. Antara sedih, takut dan takjub, terkadang saya sendiri pun bingung untuk berekspresi seperti apa untuk menanggapi foneomena yang terjadi ini.

Polusi di wilayah Jakarta memanglah bukan suatu peristiwa yang baru, malasah ini sudahlah lama ada dan sama seperti isu isu terkait kebencanaan lain, isu terkait polusi udara juga selalu timbul dan tenggelam dengan cepat. Isu isu seperti ini akan sangat cepat viral pada saat saat tertentu (biasanya saat kritis) namun cepat pula tenggelam dan menghilang tanpa penyelesaian yang konkrit apalagi menyeluruh. Miris memang, namun itulah yang kita temukan dilapangan selama ini adalah PM2.5 yang konsentrasinya mengkhawatirkan dalam beberapa minggu bahkan bulan belakangan ini. Data konsentrasi PM2.5 yang mudah di akases oleh banyak orang adalah data yang disediakan oleh Konsulat AS yang saya tampilkan melalui widget realtime yang disediakan mereka dibawah ini.

Melirik Pembunuh Senyap yang Menjadi Perbincangan “Hangat” di Jakarta Minggu Ini

Terlepas dari kemirisan hal tersebut, untuk memonitoring tingkat polusi di suatu wilayah ada beberapa variabel yang biasa di hitung dan di cermati. Beberapa variabel itu meliputi konsentrasi TSP (Total Partikulat Tersuspensi, biasanya ukurannya masih cukup besar), PM10 (Partikulat<10 micrometer), serta PM2.5 (Partikulat <2.5). Jika kita melihat variabel TSP dan PM10, meskipun beberapa kali masik kategori tidak sehat namun kondisi demikian pada waktu tertentu saja. Yang menjadi permasalahan dan diangkat isunya oleh beberapa orang seminggu terakhir ini adalah konsentrasi PM2.5.

Berdasarkan data hasil monitoring variabel ini yang dilakukan oleh BMKG di lokasi Kemayoran, hingga tanggal 6 Juli pada pukul 10.00-17.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di wilayah Kemayoran berada diatas ambang batas untuk konsentrasi jenis polutan tersebut. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari BMKG dalam tautan ini Nilai Ambang Batas (NAB) adalah Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan untuk PM 2.5 berada dalam udara ambien. NAB PM2.5 = 65 ugram/m3.

Hal serupa (kondisi PM2.5 yang berbahaya) juga tercatat dalam sensor yang ditempatkan di Konsulat AS dengan menggunakan indeks AQI (Air Quality Index). Berikut adalah kondisi terbaru terkait konsentrasi PM2.5 yang tercatat oleh sensor di Konsulat AS di Jakarta Pusat. Informasi terkait AQI di wilayah ini saya sapatkan dan sisipkan melalui tautan ini.

Dari informasi pemantauan tersebut di atas dapat kita lihat bahwa konsentrasi PM2.5 berada didominasi oleh status berwarna orange yang berarti tidak sehat untuk beberapa orang yang sensitif dan merah yang berarti termasuk tidak sehat untuk semua orang baik yang sehat bahkan sangat berbahaya bagi orang sensitif. Kondisi udara yang demikian kurang sehat dapat memicu terjadinya beberapa penyakit yang tentunya berhubungan dengan pernapasan. Berasarkan U.S. EPA beberapa dampak bagi kesehatan yang disebabkan oleh konsentrasi PM2.5 yang tinggi meliputi peningkatan risiko penyakit jantung, paru-paru meningkatnya potensi kematian dini bagi penderita kardiopulmoner.

Untuk menghindari dampak dampak tersebut atau setidaknya mengurangi dampaknya, para pengidap penyakit pernapasan, jantung, serta kelompok umur rentan seperti anak anak dan orang tua sebaiknya tidak keluar rumah maupun kerja dalam waktu yang panjang. Untuk ulasan terkait dampak lebih jelasnya dapat di baca secara agak lebih lengkap pada tautan berita di Trito.

Jebakan Inversi, Diduga Sebagai Dalang Polusi yang Tertahan dan Berkepanjangan Ini

Pada hari senin lalu saya berkesempatan mendampingi salah satu atasan saya untuk mengikuti rapat yang membahas terkait masalah ini. Hal yang menarik dalam pembahasan tersebut dan dipaparkan oleh BMKG dan BPPT adalah pembahasan tentang salah satu fenomena meteorologi yang bisa kita sebut sebagai Jebakan Inversi (Inversion Trap). Penjelasan terkait fenomena ini dapat digambarkan secara sederhana melalui ilustrasi dibawah ini.

Ilustrasi jebakan inversi yang menyebabkan polutan tidak dapat naik ke atmosfir bagian atas dan terbaurkan. Lapisan inversi ini menahan polutan berdiamdiri di dekat permukaan sehingga kadar polusi di lapisan atmosfer bagian bawah tersebut meningkat secara drastis dan sukar untuk turun. (Sumber ilustrasi: Waikato Regional Council)

Secara awam, jebakan inversi ini dapat kita ibaratkan sebagai suatu selimut di lapisan atmosfer yang menahan udara dibawah sehingga sukar naik keatas. Kondisi demikian disebabkan keberadaan suatu lapisan yang justru memiliki suhu lebih hangat dibandingkan daerah dibawahnya sehingga udara yang reltif dingin di bagian bawah tidak mampu terangkat dan menembus lapisan tersebut hal ini dikarenakan masa udara dingin lebih berat dibandingkan masa udara yang lebih hangat.

Suatu lapisan atmosfer yang mana memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan lapisan bawahnya (meningkat seiring peningkatan ketinggian) ini disebut sebagai lapisan inversi. Keberadaan lapisan inilah yang menjebak masa udara yang relatif lebih dingin dibawahnya karena lapisan dibawah ini memiliki pola semakin keatas semakin bersuhu rendah (lapisan laps rate).

Fenomena jebakan inversi biasa terjadi pada waktu waktu peralihan, baik pagi hari, sore hari mapun sebelum dan setelah hujan. Kondisi yang demikian dapat dengan mudah kita lihat bilamana kita membakar sampah pada sore menjelang malam yang biasanya asap asap pembakaran tersebut seringkali justru menyebar ke segala arah karena tidak dapat dengan mudah untuk naik ke atas.

Dalam situasi yang cukup ekstrim dan sangat berbahaya fenomena ini juga dapat terjadi di spot spot gas beracun seperti yang banyak terdapat di kawasan Dieng contohnya di Kawah Timbang. Saat sebelum dan sesudah hujan juga pagi pagi serta menjelang malam hari biasanya warga sekitar wilayah tersebut akan menghindari jalur jalur gas beracun dikarenakan gas beracun yang mengalir keluar dari kawah kawah tersebut tidak terbaur keatas dan justru tertahan di lapisan bawah. Kondisi ini dapat berakibat fatal bagi orang yang secara tidak sengaja melewati jalur tersebut dan dapat menimbulkan kematian seketika.

Kembali pada topik permasalahan sebelumnya. Fenomena jebakan inversi memanglah berpotensi untuk meningkatkan dampak tertumpuknya polutan di lapisan atmosfer bagian bawah. Namun tidak pula kita melimpahkan semua kesalahan peningkatan polutan tersebut pada fenomena alam yang sebenarnya bukanlah hal yang langka tersebut. KIta tidak akan dapat mengatasi permasalahan ini dengan hanya melakukan suatu tindakan untuk mempengaruhi kondisi yang ‘diduga’ memperparah saja. Namun yang menurut saya paling penting dan paling utama untuk ditindak lanjuti adalah “Sumber Polutan” itu sendiri.

Kita sudah terlalu lama membiarkan udara di Jakarta membunuh kita secara senyap. Yang menjadi pertanyaan dan sebenarnya tidak boleh hanya menjadi suatu pertanyaan saja adalah. “Apakah kita membiarkan begitu saja Pembunuh senyap ini terus beraksi?” Ah biarlah waktu yang menjawab, hitung hitung mengurangi populasi. Mungkin itu yang ada di dalam pikiran kita yang paling dalam. Jika itu yang ada dalam benak mu.

“Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap”

(Dewa Putu AM)

Bencana

Konstruksi Data Sains untuk Manajemen Bencana di Indonesia

July 3, 2019 — by dewaputuam0

scrapyard-70908_1280-960x640.jpg
Kondisi Balaroa pada akhir tahun 2018. Jika dilihat secara sekilas, kita mungkin akan sulit untuk percaya bahwa sebelumnya wilayah ini adalah perumahan yang padat penduduk dan hingga kini belum ada angka yang pasti dan terpercaya untuk menggambarkan seberapa banyak korban yang masih tertimbun di sana. Pendekatan seperti apa yang perlu dilakukan untuk menduga itu semua?

Baru beberapa waktu yang lalu saya selesai membaca sebuah buku karya Seth Stephens yang berjudul Everybody Lies. Dalam buku tersebut dibahas dengan sangat menarik hal hal terkait peran data sains dan Big Data dalam mengungkap pengetahuan serta pemahaman baru tentang apa yang terjadi disekitar kita. Tidak sedikit apa yang diungkap oleh para data saintist tersebut adalah hal baru yang ternyata justru bertentangan dari apa yang selama ini kita yakini. Sembari membaca buku tersebut sesekali saya terbayang kondisi saya dan beberapa rekan saya saat sedang berada di lapangan dalam beberapa operasi penanganan darurat bencana Baik pada saat Gunung Agung, Gempa NTB, Gempa Sulteng dan Tsunami Banten.

Dalam beberapa operasi tersebut kami sering kali di tempatkan dalam tim Data dan Informasi. Sebuah tugas yang cukup berat bagi kami mengingat tidak jarang data yang datang dan harus kami olah adalah data yang jumlahnya sangat banyak dan juga mempunyai struktur yang sangat bervariasi (tanpa ada pakem struktur yang jelas) alhasil meski beberapa data berhasil dengan baik kami kelola, namun harus juga diakui bahwa tidak sedikit pula dari data tersebut yang kemudian hanya terkumpul begitu saja tanpa dapat kami telusuri dan peras Insightnya (wawasannya) secara optimal.

Mirisnya, jika dulu saya mengalami getirnya mengolah penelitian dengan data yang minim sekarang justru sebaliknya kami disini tenggelam di dalam lautan data. Sesekali saya tergelitik, mungkin ini juga dapat dikategorikan sebagai bencana banjir data bencana.

Melihat dan merasakan getir dan mirisnya tenggelam dalam data tanpa tahu memanfaatkan dan mengoptimalkannya memunculkan sebuah pertanyaan sekaligus tantangan besar di benak saya. Apakah kita akan selamanya seperti itu? Dapatkah kita mulai bergerak maju untuk mengoptimasi penggunaan data untuk mendukung aksi serta kebijakan dalam manajemen bencana kita ? Memahami dan mengkonstruksi data sains untuk manajemen bencana di Indonesia saya rasa menjadi suatu keharusan bagi kita, jika ingin menggerakan manajemen bencna kita ke tingkatan selanjutan.

Membongkar dan Merekonstruksi Definisi Data Bencana, “Data Bencana Tidak Sebatas Jumlah Kerusakan dan Korban Ferguso”

Dengan AI nya Facebook mampu mengidentifikasi wilayah wilayah bependuduk. Data ini kemudian diolah dan dikombinasikan dengan data penduduk untuk menghasilkan informasi sebaran penduduk seluruh dunia. Data data tersebut (data demografi resolusi tinggi 30×30 meter) dapat diakses secara gratis melalui situs berbagi data untuk kemanusiaan di tautan ini (Sumber Gambar dan Artikel terkait data demografi dari facebook dapat diakses melalui tautan ini)

“The power of Number”, saya kurang begitu nyaman dengan frasa tersebut. Tidak tahu mengapa dengan adanya frasa tersebut sudut pandang kita soal data hanya terbatas pada angka dan angka saja. Frasa tersebut kembali mencuat dalam salah satu grup chat kantor saat banyaknya media mainstream justru memfokuskan pada angka anka kejadian bencana dan bukan pada usaha usaha yang telah dan perlu dilakukan untuk mengatasi bencana bencana tersebut. Harus kita akui bahwa angka angka sangatlah menarik dan mayoritas data selalu diidentikan dengan data berjenis seperti ini.

Namun tidak boleh kita lupa juga bahwa ada banyak lagi jenis data selain angka yang bila kita kelola dengan baik akan menghasilkan wawasan yang tidak kalah penting dengan data yang disajikan dalam bentuk angka. Sebagai langkah awal dalam pemanfaatan data yang lebih baik, sudah saatnya kita menghapus persepsi kita yang mengidentikan data sebagai sesuatu yang tersaji dengan rapi didalam sebuah tabel. Secara khusus dalam manajemen bencana, kita juga perlu membongkar persepsi kita yang beranggapan bahwa data bencana yang hanya terbatas pada kerusakan dan korban. Baru kemudian kita merekonsruksi persepsi kita dan meyakinkan dirikita bahwa segala hal yang ada disekitar kita baik terlihat ataupun tidak terlihat adalah data.

Dalam bukunya yang berjudul Everybody Lies, Seth Stephens menyampaikan bahwa kerangka pikir yang dibawa oleh perkembangan Big Data memberikan kita peluang untuk mengelola dan menjaring lebih banyak lagi wawasan dari berbagai jenis data yang telah ada disekitar kita selama ini. Dari data data yang sudah sering kita kelola hingga data data yang mungkin jarang sekali kita lirik.

Memperlakukan “Gambar” Sebagai Data

Data jenis ini seringkali kita dapatkan namun sayangnya tidak sedikit dari jenis data ini hanya dimanfaatkan sebagai kelengkapan dokumen saja. Dengan adanya tekhnologi pengolahan data spasial (GIS) sebenarnya pengolahan data dengan jenis ini menjadi lebih baik dari sebelum sebelumnya, namun sayangnya dari yang saya lihat selama ini pemanfaatanya dominan masih pula sebatas pelangkap dokumen. Meski dalam beberapa kesempatan juga dijumpai pemanfaatan yang lebih mendalam, namun masih banyak pekerjaan rumah bagi kita agar data jenis ini dapat lebih diambil wawasannya lagi untuk kemudian dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam penentuan sebuah aksi atau kebijakan.

Contoh Dasboard Terkait Pemantauan Hotspot. Hotspot juga merupakan hasil pengolahan data yang berbentuk gambar yakni berupa citra satelit MODIS (Tera dan Aqua) serta citra SNPP. Data hotspot yang saya tampilkan dalam dasboard ini merupakan data yang diolah oleh Lapan yang mereka sediakan dalam platform mereka di tautan ini

Data dalam bentuk “gambar” tidak hanya terbatas pada gambar yang memiliki orientasi spasial, namun lebih dari itu pemanfaatan gambar gambar lain dari berbagai sumber memilik peluang pula untuk kita ambil wawasannya, data data tersebut saat ini tersebar dan mudah sekali didapatkan melalui berbagai macam platform baik grup grup chatting (WA dan telegram) dan juga media media sosial hingga berita berita yang disajikan dalam televisi ataupun situs berbagi video di internet. Selain dari sumber sumber tersebut data berupa gambar juga dapat kita akuisisi dari sumber lain seperti citra satelit, radar serta cctv. Salah satu contoh data tersebut dapat dilihat dari gambar sebelumnya tentang data demografi dengan memanfaatkan hasil analisis AI dari citra satelit yang dilakukan oleh Facebook.

Memperlakukan “Kata” Sebagai Data

Data berupa kata justru lebih banyak lagi dan mudah kita temukan saat ini. Dapat dikatakan bahwa data jenis ini merupakan data yang paling besar jumlahnya. Data data yang seperti ini dapat kita temukan dari laporan laporan situasi, paparan, surat surat, chat, berita berita online, tulisan di berbagai media sosial, hingga pada kata kunci yang banyak dicari oleh orang. Saking banyaknya data jenis ini yang beredar, membuat kita seringkali mengabaikan begitu saja dan hanya merekap dengan anggapan akan diperlukan jikalau nanti nanti ada yang bertanya. Padahal, dari data tersebut kita dapat mensarikannya kedalam wawasan (insight) yang dapat lebih berguna.

“Word Cloud” sebagai salah satu cara dalam memvisualisasikan data data berupa kata, Dengan menggunakan visualisisasi data data yang berupa kata baik dari kumpulan laporan, surat, chat, berita dan media sosial seperti ini kita dapat mengetahui isu apa yang paling banyak dibahas saat ini. (Sumber gambar: cu-portland.edu)

Dalam dunia politik data data dalam media sosial telah digunakan secara masif untuk mendapatkan informasi terkait sentimen dan persepsi masyarakat terhadap isu atau calon tertentu. Peluang ini pula dapat dimanfaatkan oleh para data saintist kebencanaan untuk menduga isu isu terkait bencana serta apa apa saja yang dibutuhkan masyarakat. Dengan ada pengelolaan yang baik, bukan tidak mungkin kesemua wawasan tersebut dapat disajikan secara realtime dalam dasboard tertentu. Hal ini yang beberapa minggu belakangan ini sedang saya coba untuk pahami dan saya pelajari. Bisa dibayangkan bila hal ini berhasil dilakukan maka isu isu kontra produktif dapat sesegera mungkin teratasi, dan permasalahan permasalahan juga dapat dengan segera tertangani secara tepat baik dari segi waktu, tempat dan situasi.

Memperlakukan “Segala Hal” Sebagai Data

Bukan hanya angka yang memiliki kekuatan, bukan hanya gambar yang memiliki kekuatan, bukan pula kata. Semua memiliki cara, kekuatan dan seni tersendiri dalam mengungkap fakta, yang menjadi bagian pembeda dari kesemua itu adalah peran dan kemampuan dari seorang atau sekelompok Data Saintist untuk memngungkap fakta fakta tersebut menjadi wawasan yang dapat dengan mudah dimengerti dan dipahami oleh penggunanya, baik para pelaku aksi maupun para pengambil kebijakan dalam manajemen bencana.

Ilustrasi tentang dua orang yang sedang berdiskusi tentang suatu topik dibantu dengan objek objek visual seperti grafik dan peta pikiran. Dari sini saya ingin memberikan penekanan bahwa data sains bukan hanya sekedar menganalisis jutaan data namun juga menyampaikan dwawasan yang kita dapatkan dari data data tersebut dengan cara sesederhana mungkin agar mudah dipahami. (Sumber ilustrasi rawpixel.com @ pexels.com)

Perkembangan Big Data selama ini justru membuat banyak orang tenggelam dalam data. Kita memiliki banyak sekali Terabytes data namun hanya sedikit wawasan penting yang dapat kita perloleh dari data tersebut. Big Data bukan hanya sekedar mengkoleksi data lebih banyak dan lebih banyak lagi, namun tentang mengumpulkan data yang benar. Dari sinilah seorang data saintist mengambil perannya.

Data sains adalah tentang menemukan pola dan memprediksi bagaimana satu variabel akan memberi dampak pada variabel lainnya.

Seth Stephens

Data sains memanfaatkan proses berpikir manusia secara natural dan intuitif yaitu ; menemukan pola memberika pemahaman terhadap pola tersebut; dan kemudian memberikan sedikit injeksi steroid (bisa berupa apapun baik berupa logika logika dasar ataupun hal hal lainnya yang terkadang terdengan konyol dan simple) . Dari kesemua tersebut berpotensi menunjukan kepada kita bahwa dunia ini bergerak sepenuhnya berbeda dengan anggapan kebanyakan dari kita sebelumnya.

[bersambung…]

BencanaDaily LifeKlimatologiUncategorized

Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Selalu Terlindung dan Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya

April 12, 2019 — by dewaputuam4

GretaThunberg_2018X-embed-960x540.jpg
Ilustrasi yang digunakan dalam Petisi Change.org untuk memberikan dukungan agar ditegakaannya keadilan untuk Audrey, saya tidak tahu ilustrasi ini karyanya siapa tetapi saya mendapatkan gambar ini dari liputan6.com

Awalan namun Bukan Awal dari Kisah Panjang “Rantai” Pembulian Ini

Dalam dua hari belakangan ini banyak sekali beredar pemberitaan terkait kasus pembulian keji yang berlangsung di Pontianak dengan korban serta pelaku merupakan anak anak di bawah umur. Pembahasan kian memanas dan menajam ketika muncul sebuah wacana damai dan tidak melanjutkan ke ranah hukum oleh KPAI setempat.

Dari sinilah para netijen yang mungkin sudah geram dengan maraknya kasus pembulian yang berujung pada ketidakadilan bagi sang korban akhirnya mengambil peran. Tagar #Justiceforaudrey pun membahana di jagat dunia maya, namun sayangnya pula ada beberapa segelitir orang yang justru terperosok pada aksi aksi CyberBullying.

Terlepas dari aksi-aksi tidak terpuji oleh sebagian kecil simpatisan bersumbu pendek yang ikut ikutan menggunakan semangat tagar #Justiceforaudrey, mayoritas dari kita tentunya sepakat bahwa apapun itu aksinya bullying adalah sebuah aksi yang jahat dan para pelakunya harus di hukum seberat beratnya.

Kejadian yang memicu tagar tersebut bukanlah suatu peristiwa remeh dan sekedarnya saja, ini adalah salah satu contoh kecil dari sekian banyak pembulian-pembulian yang semakin hari kian mengkhawatirkan, jika semua ini selalu dibiarkan dan diselesaikan terlalu lembek tanpa ada tindakan tegas yang memberikan efek jera ditakutkan kejadian kejadian ini akan semakin menjadi jadi.

Perilaku Bully Ada di Sekitar Kita dan “Sangat Dekat” dengan Kita

Greta Thunberg adalah Salah Satu Korban Pembullyan Tersadis yang Pernah Terjadi di Dalam Sejarah Ini dan Berani Berbicara Lantang Dan Beraksi Melawan Para Pembullynya.

Aksi bully baik itu berupa tindakan verbal maupun fisik akan terus diingat dan berdampak panjang bagi para korbannya. Beberapa bahkan dapat merengut masa depan para korban. Atau dalam situasi yang sangat ekstrim dapat merengut nyawa sang korban.

Sudah seperti pengetahuan umum bahwa aksi bullying seringkali terjadi di sekitar kita atau justru mungkin kita juga pernah berada dipihak sang korban dan bukan hal yang tidak mungkin kitalah sang pelaku bullying tersebut baik secara sadar maupun tidak sadar. Perilaku Mem-Bully dapat hadir dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Mulai dari orang dewasa, remaja hingga anak anak. Korbannya pun sangat beragam baik dari segi umur, jenis kelamin, pekerjaan dan status sosialnya.

Bahkan pada beberapa kasus ternyata juga terjadi bullying tidak hanya terjadi pada Manusia namun juga pada hewan. Seperti berita heboh tentang pengecetan monyet di Taiwan dan beberapa berita berita lainnya seperti penganiayaan orang utan yang dulu sempat menjadi pemberitaan di media nasional.

Saya ingin mencoba merunut kembali apa apa saja yang sebelumnya kita bahas bersama. Pertama, bahwa aksi pembulian apapun itu baik verbal apalagi fisik adalah sebuah tindakan yang jahat dan dalam kondisi terjentu sudah masuk pada tindak kejahatan. Kedua, aksi pembulian akan berdampak besar dan panjang bagi para korbannya, hal inilah yang kemudian kita perlu memperjuangkan keadilan untuk para korbannya. Ketiga, Pembullian yang yang sudah masuk kedalam tindakan jahat (kriminal) harus diproses secara hukum jika perlu harus dihukum seberat beratnya siapapun itu pelakunya agar menimbulkan efek jera.

Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Terlihat Jelas namun Selalu Terlindung dan Ia Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya

Setelah berpanjang lebar membahas tentang pembulian yang terjadi saat ini. Ijinkan saya untuk mengungkap sekaligus mengingatkan tentang adanya satu pembully mungkin dapat dikatakan tersadis dalam sejarah yang sampai saat ini terlihat jelas apa yang mereka lakukan, namun sayangnya ia selalu terlindung dan juga bahkan sering tidak mengakui kesalahannya itu. Saya tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan orang orang ini apakah cukup disebut sebagai pembully atau bahkan lebih tepat bila disebut penjahat tersadis?

Hingga saat ini bayak pembulian yang ia lakukan, korbannya juga sudah sangat banyak dan yang paling parah adalah sebuah kenyataan bahwa mereka inilah yang telah merengut masa depan banyak anak bahkan anaknya sendiri. Mereka tahu apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah, namun dengan manufer sangat canggihnya dan segala hal superiornya mereka dapat mengelak dengan dalil demi kemslahatan yang lebih luas merekapun selalu berkilah. Akibat tindakan mereka ini sudah banyak korban kehilangan tempat tinggal, kehilangan masa depan, bahkan kehilangan nyawa. Namun sayangnya mereka tetap diam dan kemudian terus meneruskan pembuliannya itu.

Pembulian ini telah dilakukan mereka sejak lama dan hingga kini pun masih terus berlangsung. Sejak dulu para korban dan orang orang yang sadar terus memperjuangkan keadialan ini. Namun belum ada hasil nyata yang secara signifikan mengurangi pembullyan ini, karena kebanyakan dari kita pun melindunginya. Hukuman apa yang pantas bagi pembully ini? berkaca dari kasus kasus bully lainnya kita selalu bersuara lantang untuk menghukum para pembully? kenapa pada kasus ini kita sendiri sangat lembek dan justru tidak peduli sama sekali. Kita peduli pada pembulian yang terjadi pada satu orang, namun pedulikah kita pada pembulian ratusan, ribuan bahkan jutaan orang lainnya? Tidak, percayakah kalain kalau kita cenderung diam dan bungkam untuk pembully ini. Suara lantang kita seolah tetiba senyap menghadapi pembuli ini.

“Karena kita tahu bahwa “Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Terlihat Jelas namun Selalu Terlindung dan Ia Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya” itu adalah kita sendiri.”

Dewa Putu AM, 2019

Kitalah si jahat itu, yang membulli se isi planet ini, hingga titik paling ekstrim. Ketamakan kita, hingar bingar janji akan kebahagiaan kita telah mengorbankan segalanya dan membawa planet ini berada pada kerusakan teramat berat dan menghancurkan masa depan bumi dan segala macam kehidupan di dalamnya.

Hingga pada pertengahan tahun lalu, muncul lah sebuah gerakan yang di inisiasi oleh seorang anak perempuan bernama Greta Thunberg dari sekolahan di swedia. Sebuah gerakan yang menuntut keadilan dan tanggung jawab akan apa yang hingga saat ini diperbuat oleh generasi kita yang telah dengan semena mena merengut masa depan mereka para generasi muda sang pewaris dunia ini dimasa mendatang.

Hukuman apa yang pantas untuk Kita untuk Semua Ini? Atau jikpun kita sadar, apakah yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan kita itu?

Tentu Sekedar kata tidak dapat menyelesaikan, Kita perlu bertindak #JusticeForEarth #JusticeForFutureGeneration

BencanaDaily LifePsikologiSains PopulerUncategorized

Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana

March 5, 2019 — by dewaputuam3

IMG_20181021_163022-01-960x540.jpeg

Untuk Awal Mari Kita Berkenalan Dengan Bencana yang Harus Kita Hadapi

Kondisi Setelah Bencana di Petobo, Disini kita melihat begitu dasyatnya dampak yang diberikan dari sebuah bencana. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada tahun 2018, Indonesia diterpa banyak sekali cobaan yang berat, Pada tahun tersebut kita mengalami banyak bencana alam yang sayangnya banyak pula menelan korban jiwa. Dari 2575 Kejadian Bencana yang terlapor pada tahun 2018 (Sumber:DIBI BNPB) setidaknya telah menyebabkan >4836 orang Meninggal/Hilang, >21,126 orang luka luka dan >10,333,306 orang mengungsi. Dari angka tersebut, bila kita bandingkan dengan jumlah penduduk indonesia yang sekitar 264 Juta, maka dapat dikatakan bahwa 4 dari 100 penduduk di Indonesia sudah menjadi Korban Meninggal, Luka atau Mengungsi akibat bencana tahun 2018 saja.

Masih ingatkah kalian Setidaknya ada beberapa bencana besar pada tahun 2018 yang menyita perhatian secara Nasional maupun Internasional Mulai dari Gempa Bumi di Lebak Banten pada bulan Januari yang dirasakan juga di Jakarta, Erupsi beberapa gunung (Gunung Sinabung, Gunung Merapi dan Gunung Agung dan Gunung Krakatau), Gempa Lombok, Gempa-Tsunami-Likuifaksi di Sulawesi Tenggara yang fotonya saya tampilkan dalam gambar awal dalam tulisan ini, Dan sebagai penutup tahun 2018 kitapun dikejutkan oleh silent tsunami akibat letusan Krakatau pada bulan Desember 2018.

“Dongeng Usang?” tentang Risiko Bencana di Indonesia yang Sangat Tinggi

“Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng” ingin rasanya saya menulis frasa seperti itu, namun frasa tentang pertemuan tiga lempeng tersebut agaknya sudah terlalu sering terbaca dan juga terlalu sering pula keluar masuk di telinga kita. Saya khawatir bila menceritakan bencana dari template frasa tersebut kalian akan kian bosan dan meninggalkan tulisan ini. Namun suka atau tidak suka, meskipun frasa itu sudah tua dan usang, itulah kenyataanya. Dengan perbedaan tipis antara anugerah dan musibah, fakta tentang tiga lempeng tersebut lah yang menyebabkan kita sering sekali merasakan Gempa gempa besar serta memberikan kita banyak sekali gunungapi aktif (127 Gunungapi). Sebagai sedikit gambaran tentang seberapa banyak kejadian gempa yang telah kita alami berikut saya sajikan peta tentang gempa besar yang terjadi selama tahun 2018 dan awal 2019 yang saya unduh dari USGS.

Meski dalam hal bencana, Indonesia berlimpah dari segi jumlah dan intensitasnya. Tidak boleh kita lupakan juga bahwa ada begitu anugerah yang diterima Indonesia yang tentunya tidak kalah besar bila dibandingkan bencana yang kita dapat. Dongeng usang tentang pertemuan tiga lempeng setidaknya telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati tanah kita yang bagaikan tanah surga. Sebuah tanah yang berlimpah kekayaan dan keindahannya persis seperti lagu yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Dengan banyaknya gunung berapi akibat pertemuan lempeng tersebut tanah tanah kita menjadi subur yang saking suburnya diibaratkan dapat menumbuhkan tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.

Kita kembali pada permasalahan bencana di Indonesia. Untuk menggambarkan dan memahami seberapa besar risiko bencana di suatu wilayah para peneliti dan pegiat kebencanaan biasanya menggunakan suatu Indeks Risiko. Dalam perhitungan indeks risiko (Risk), diperhitungkan beberapa indeks kunci yang meliputi Indeks Bahaya & Keterpaparan (Hazard & Exposure), Indeks Kerentanan (Vulnerability) dan Indeks Kapasitas (Capasity). Melalui Indeks indeks tersebut kita dapat melihat dan memahami seberapa besar Risiko bencana disuatu wilayah, seberapa besar bahaya dan jangkauan dari masing masing bencana di wilayah tersebut, Seberapa rentan penduduk diwilayah tersebut jika bencana terjadi, dan Seberapa besar dan kemampuan dan kesiapan pemerintah, masyarkat infrastruktur, peralatan dalam menghadapi suatu bencana.

Sedih atau Bangga? “Kita berada di Peringkat 4 se ASEAN !”

Berdasarkan hasil kajian INFORM (INdex FOr Risk Management) didapatkan bahwa Indonesia berada di Posisi nomor 4 dari negara negara ASEAN berdasarkan risiko terhadap krisis dan bencana. Nilai Risiko yang demikian besar tersebut dipengaruhi oleh tingkat bahaya terhadap krisis dan bencana alam di Indonesia yang sangat tinggi dan dari sisi ini kita berada pada posisi ke tiga setelah Filipina dan Myanmar. Ada suatu berita baik bila kita lihat dari grfik dibawah, terlihat bahwa meskipun tingkat bahaya kita besar kerentanan dan kekurangan kapasitas kita untuk menhadapi bencana cukup kecil atau dapat dikatakan bahwa sebenarnya kita secara sosial, politik ekonomi dan beberapa faktor lainnya, kita dinilai cukup tangguh menghadapi bencana, hal inilah yang tidak hanya perlu dipertahankan namun perlu kita buat lebih baik lagi di tahun tahun mendatang.

Tantangan Indonesia kedepan dalam menghadapi bencana tidaklah kecil. Semakin lama jumlah kejadian dan intensitas bencana yang kita alami juga kian meningkat. Dengan adanya perubahan iklim dan pemanasan global, kejadian bencana bencana Hidro-meteorologi seperti Banjir, Banjir Bandang, Tanahlongsor dan Kekeringan akan semakin kuat dan semakin sering menghampiri hari hari kita. Jumlah penduduk yang terus meningkat pula menyebabkan semakin besar kebutuhan akan tempat tinggal dan tempat keperluan lainnya yang sayangnya banyak dari tempat tempat tersebut merupakan lokasi yang tak layak dan berbahaya karena potensi kejadian bencana yang besar.

Tidak hanya dari segi kejadian bencana, penanganan bencana pun semakin lama semakin kompleks. Banyak hal yang perlu di hadapi, mulai dari masalah teknis dilapangan hingga gangguan gangguan kecil namun tidak bisa tidak di acuhkan seperti persebaran berita hoax dan berita meresahkan tidak bertanggung jawab. Jumlah, Intensitas dan kompleksitas penanganan bencana mengharuskan manajemen bercana di indonesia tidak bisa lagi dilakukan dengan cara business as usual. Harus ada pergeseran/shifting secara besar besaran baik dari kerangka berpikir hingga kerangka Implementasi. Pergeseran besar besaran ini dapat dilakukan dengan bantuan kerangka bepikir dan kerangka Implementasi baru yang ditawarkan dalam Revolusi Industri 4.0. Dengan kata lain saya sepakat dan ingin menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana adalah suatu yang memiliki urgensitas yang tinggi diterapkan di Indonesia.

Setelah Berkenalan, Saatnya Kita Lirik Potensi Revolusi 4.0 dalam Merevolusi Manajemen Bencana di Negeri Kita

Bumi yang Serba Digital (Image by TheDigitalArtist on Pixabay)

Banyak orang menghubungkan Revolusi 4.0 pada pemanfaatan besar besaran terhadap tekhnologi-tekhnologi berbasis IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Tak ayal saat ini banyak Organisasi dan Instansi Pemerintah berlomba mengembar gemborkan bahwa mereka telah melakukan pergeseran besar-besaran menuju Industri 4.0. Tidak tahu kenapa, saya melihat semua itu sebagai sebuah kasus perkosaan anak dibawah umur ya. Saya mengatakan demikian karena pemanfaatan besar besaran terhadap basis tekhnologi penyusun Revolusi Industri 4.0 tersebut justru mengkerdilkan arti dari revolusi itu sendiri. Pemanfaatan besar besaran tanpa arah dan kerangka yang tepat akan menimbulkan perkembangan yang cepat namun rapuh dan tidak tahu akan kemana arahnya. Yah, itu hanya pemikiran skeptis saya, Tentunya orang orang di organisasi tersebut adalah orang orang hebat yang telah punya rencana besar terkait hal ini.

Ada satu buku bagus berjudul The Great Shifting karya Prof Rhenald Kasali yang memberikan gambaran pergeseran besar (revolusi) yang terjadi selama ini yang lebih dari sekedar pemanfaatan IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Menurut yang saya pahami dari buku ini, ada tiga point penting dari Revolusi 4.0 yang dapat diterapkan untuk merevolusi manajemen bencana di Indonesia. Pertama adalah Pergeseran dari time series menuju Realtime. Kedua, perubahan pola pikir owning menjadi Sharing. Dan Terakhir adalah Menguntai produk-produk terkait manajemen bencana saat ini dan masa depan dalam suatu Platform.

4.0 Membawa Kita dari Time Series Menuju Realtime

Era Time Series selama beberapa dasawarsa ini telah memberikan berbagai manfaat kepada kita di berbagai bidang. Melalui pemahaman pola perubahan suatu nilai terhadap waktu kita dapat memperkirakan kondisi di masa depan, tentunya dengan asumsi pola tersebut akan tetap konsisten atau setidaknya tidak mengalami perubahan secara signifikan di masa depan. Pemanfaatan kerangka berpikir time series ini dimanfaatkan di segala bidang termasuk dalam manajemen bencana sejak dulu hingga saat ini. Dengan menggunakan kerangka berpikir ini sering kali kita mendengar proyeksi dan prediksi tentang kebencanaan dimasa depan seperti kapan serta dimana akan muncul dan meningkatnya jenis bencana tertentu baik bencana bencana pada musim basah seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim hingga bencana bencana pada musim kemarau seperti kekeringan dan karhutla. Untuk bencana seperti erupsi gunung juga dilakukan analisis seperti ini sehingga kita tahu ada istilah status waspada, Siaga dan Awas pada gunung. Namun untuk gempa kita hanya dapat memahami polanya tanpa bisa menebak kapan ia akan terjadi.

Prediksi prediksi terkait kebencanaan baik untuk durasi waktu yang sebentar seperti prediksi pada bulan depan atau musim depan hingga durasi waktu yang sangat lama seperti 10 hingga 50 tahun kedepan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk berbagai alasan. Proyeksi dan prediksi demikian digunakan untuk mempersiapkan tindakan preventif, kesiapsiagaan atau melindungi aset aset kita dimasa depan. Untuk semua keperluan tersebut, pola pikir time series sudah cukup. Namun untuk keperluan sesuatu yang bersifat saat ini dan durasi waktu yang sangat pendek lainnya time series mulai kurang berdaya. Disaat inilah Revolusi 4.0 beserta barisan tekhnologi yang dibawanya mengambil peran penting.

Ilustrasi seorang pria yang sedang membaca berita online yang tentunya lebih cepat dari pada media media pemberitaan pada era sebelumnya (Image by kaboompics on Pixabay)

Tekhnologi-tekhnologi pengusung revolusi Industri 4.0 seperti IoT, Big Data dan AI membawa kerangka analisis statistik kita pada level selanjutnya, dari Time Series menuju Real Time. Dengan barisan tekhnologi tersebut, analisis analisis yang semula sangat sukar bahkan mendekati kata tidak mungkin saat ini dan kedepannya akan menjadi mungkin dan dan cepat. Ketiga tekhnologi kunci 4.0 berperan dalam membentuk suatu sistem penilaian Risiko Bencana, Sistem Penunjang Kesiapsiagaan & Peringatan Dini, serta Sistem Penanganan Darurat Bencana menjadi lebih baik dan cepat baik secara near real time hingga realtime.

Tekhnologi IoT saat ini telah dan akan terus dikembangkan untuk mengintegrasikan semua sensor sensor terkait kebencanaan. Tekhnologi pengelolaan Big Data pula sedikit demi sedikit telah dimanfaatkan oleh beberapa instansi untuk mengelola data data sangat besar dari segi jumlah, variasi dan cepat fluktuasi perubahannya, kebanyakan kementerian dan organisasi tersebut mengolah tumpukan big data-data berbentuk citra satelit, hasil model hingga data data tidak terstruktur seperti konten konten di media sosial, serta video dan photo dari alat alat yang mereka pasang. Untuk tekhnologi AI, tampaknya belum begitu berkembang dibandingkan dua tekhnologi sebelumnya. Ada beberapa instansi yang memproklamirkan tekhnologi AI yang mereka gunakan dalam penanganan terkait bencana. Berdasarkan hal hal diatas dapat dikatakan bahwa ketiga tekhnologi inilah yang nantinya membentuk dan membawa kerangka berpikir dan kerangka implementasi Manajemen Bencana di Indonesia dari Timeseries menuju Real Time.

Dari “Owning” Menuju “Sharing” yang Tak Terbatas dan Melampauinya

Jika pada era sebelumnya, kepemilikan aset pribadi merupakan suatu keharusan untuk berhasil menguasai suatu bidang, maka pada era Revolusi Industri 4.0 ini kita justru dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik dan sangat kontras bila dibandingkan dengan era sebelumnya. Pada Era Revolusi Industri 4.0 atau dapat pula dianggap sebagai Era Society 5.0 kita berada pada suatu gerakan untuk saling berbagi nilai aset untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam budaya berbagi ini seorang pemilik aset dapat memonitisasi asetnya dengan cara berbagi, baik nilai hingga berbagi aset mereka. Saat ini kita dapat dan telah terbiasa untuk berbagi pakai atau sekedar menikmati nilai suatu barang. Budaya berbagi ini kini kian lama kian tidak terbatas dan dapat melampaui batas batas yang yang tidak pernah terpikirkan pada era sebelumnya.

Pada Era Revolusi Industri 4.0, orang kini tidak sungkan lagi untuk menumpang dan menumpangkan seseorang tak dikenal menuju lokasi yang ia inginkan (Gojek dan Grab), Di era ini orang tidak sungkan menginap dan menginapkan seseorang tidak dikenal pada aset propertinya (dengan Airbnb). Pada Era ini pula orang tidak lagi sungkan memberikan sebagian dari rejekinya untuk dikumpulkan seseorang yang tidak ia kenal untuk keperluan sosial seperti sumbangan pada korban bencana dan sebagainya (dengan Kitabisa.com).

Saling Berbagi dan Saling Melengkapi adalah salah satu kunci untuk Manajemen Bencana Indonesia yang Lebih Baik (Image by BarbaraBonanno on Pixabay)

Budaya dan kerangka berpikir saling berbagi seperti ini akan membawa dan meletakan Manajemen Bencana di Indonesia pada Manajemen Bencana yang lebih humanis. Dengan bantuan tekhnologi pengusung Revolusi 4.0 maka tidak adala lagi batasan dan halangan bagi kita untuk untuk saling menolong dan saling meringankan saudra saudara kita saat terjadi bencana. Tidak hanya terbatas pada bantuan barang dan uang, budaya berbagi pula tampaknya akan bergerak pada tindakan tindakan fisik yang lebih nyata seperti berbagi informasi dan tenaga yang berlandaskan pada asas kepercayaan untuk mengurangi kerentanan, serta meningkatkan kapasitas kita dalam menghadapi bencana.

“Sebuah Impian ?” Membangun Plaform Kebencanaan dan Keselamatannya

Ini merupakan akhir namun bukanlah pengakhiran, ini juga merupakan muara dan antarmuka dari segala pergeseran dan perubahan yang di bimbing Revolusi 4.0 untuk Manajemen Bencana di masa depan yang lebih baik. Pembangunan sebuah platform kebencanaan bukanlah terbatas membangun sebuah aplikasi kebencanaan dan melemparkannya pada ekosistem mobile baik IOS maupun Android. Kita tidak boleh terperangkap dengan logika produk ,meskipun terlihat modern dan canggih sebuah aplikasi yang hanya menjalankan suatu tujuan tertentu dan tidak memberikan ruang bagi para pengguna untuk saling berbagi dan berinteraksi hanyalah produk tekhnologi biasa dan belum dapat dikatakan sebagai sebuah Platform.

Platform yang dimaksud disini lebih dari sekedar sebuah “produk” aplikasi kebencanaan. Platform yang dimaksud disini adalah suatu media yang melayani pergeseran kerangka berpikir kita yang mulanya sekedar time series menuju realtime. Sebuah platform yang memberikan layanan peningkat pemahaman kita terhadap posisi kita terhadap bencana. Tidak hanya posisi dalam arti sempit yang menggambarkan lokasi namun juga posisi risiko kita secara personal. Dengan tekhnologi IoT, Big Data dan AI, platform ini harus secara realtime menganalisis seberapa besar risiko kita terhadap setiap bencana dari waktu ke waktu. Melalui platform tersebut kita juga dapat berkomunikasi dan menjalani bimbingan untuk meningkatkan ketahanan kita terhadap bencana. Dan bilamana sudah terjadi bencana platform tersebut pula yang akan mampu menganalisis secara cepat dan menginformasikan kepada otoritas berwenang bahwa kita berada dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan segera.

Kata Kata Mendiang Steve Job yang merupakan salah satu inovator yang mengakhiri jebakan Era Produk dan membawa kita masuk kedalam Era Platform seperti sekarang (Image by FirmBee on Pixabay)

Dari platform ini hasrat berbagi kita yang saat ini telah berangsur menjadi budaya dapat tersalurkan dan terlayani dengan baik untuk meringankan penderitaan para korban bencana. Dengan platform ini pula para investor dapat memahami prospek dan risiko aset dan investasinya terhadap krisis dan bencana. Sebuah platform bukan hanya sebuah aplikasi yang melayani kebutuhan kebutuhan namun lebih dari itu sebuah platform bencana yang dibutuhkan kedepan adalah sebuah platform yang membentuk suatu kesadaran dan kebudayaan yang aman terhadap bencana dan memberikan keleluasaan berinteraksi pada masing masing pengguna guna meningkatkan kapasitasnya menghadapi bencana dan mengamankan aset aset mereka dari bencana.

Yang menjadi pertanyan sekarang adalah apakah era platform dalam manajemen bencana hanya sebuah impian kosong yang sukar dan tidak mungkin direalisasikan? Atau justru sebaliknya dari hari kehari bulan kebulan dan tahun ketahun, dengan bantuan tekhnologi pendukung Revolusi Industri 4.0 manajemen bencana di Indonesia akan beranjak menuju Manajemen Bencana yang baru dan lebih baik.

Revolusi Industri 4.0 jangan hanya diarahkan pada usaha untuk memperkaya segelintir orang saja. Revolusi ini juga harus diarahkan pada peningkatan kemampuan kita dalam misi misi kemanusiaan yang dalam hal ini adalah Manajemen Bencana di Indonesia yang baru dan lebih baik agar dapat menyelamatkan Jiwa lebih banyak, menyelamatkan aset dan harta benda lebih banyak dan mengurangi dampak bencana terhadap sosial ekonomi dan penghidupan para penyitasnya.

(Dewa Putu AM, 2019)

Untuk sampai kesana mungkin butuh usaha dan waktu yang panjang. Tetapi untuk permulaan, kita dapat memberikan sedikit sumbangan pemikiran dan tenaga untuk kemajuan Manajemen Bencana di Indonesia.

BencanaKlimatologiSains AtmosfirUncategorized

Riau Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap

March 1, 2019 — by dewaputuam2

burn-burning-fire-51951-960x627.jpg

Kemarin tanggal 28 Februari 2019, BNPB melalui Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Wisnu Widjaja melakukan konfrensi pers terkait karhutla yang terjadi di Riau akhir akhir ini. Dalam beberapa berita menyebutkan bahwa beliau memprediksi bahwa musim musim karhutla di Riau akan berlangsung terus pada Bulan Maret dan kemudian akan terbakar lagi pada bulan Bulan Juni. Berita berita tersebut tentunya akan menjadi momok yang begitu menakutkan bagi warga Riau dan sekitar mengingat hingga saat ini sekitar 2671 kasus infeksi saluran pernapasan di daerah Dumai dan Sekitarnya (Sumber: Tempo). Jika berkaca pada pengalaman saya waktu bekerja ditengah kabut asap pada tahun 2015 di Tamiang Layang di Kalimantan Tengah terpapar asap itu sungguh tidak nyaman. Baju jadi bau asap dan untuk bernapas rasanya tidak enak karena bercampur bau bau an dan upil jadi lebih banyak diproduksi (hehehe).

Pasien yang terpapar Asap (Sumber: Tempo)

Kembali kepada prediksi bulan Maret dan Juni, Bagi sebagian orang mungkin sedikit dibuat heran dengan banyak berita yang menyebutkan Riau sudah terbakar sejak Januari, Februari. Keheranan ini biasanya dialami oleh orang orang yang tinggal di Daerah Jawa, Bali dan Sumatera bagian Selatan. Hal ini dikarenakan pada bulan bulan tersebut Wilayah Jawa dan sekitar sedang mengalami musim penghujan yang tentunya kecil kemungkinan terjadi kebakaran hutan dan lahan pada waktu waktu tersebut. Dalam Klimatologi, secara sederhana Indonesia memiliki 3 tipe curah hujan umum yaitu tipe curah hujan monsunal, curah hujan equatorial dan curah hujan lokal.

Untuk Permulaan, Kita Salahkan saja Dulu Iklimnya

Wilayah yang memiliki tipe curah hujan Monsunal seperti Jawa, Bali, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara mengalami musim penghujan pada Bulan Januari-Maret dan kemudian akan mengalami kmarau sejak Maret hingga September, kemudian Hujan lagi. Berbeda dengan Monsunal, wilayah wilayah seperti Sumatera bagian Utara hingga Tengah, Kalimantan, Sebagian Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua yang memiliki curah hujan tipe Equatorial justru pada bulan Januari- Maret mengalami musim kering dan kemudian kering lagi pada Mei-Juli. Hal ini lah yang menjadi dasar prediksi BNPB sebelumnya. Pada bulan Maret dan kemudian dilanjutkan Bulan Juni tersebut secara klimatologis Wilayah Riau dan beberapa wilayah yang bertipe equatorial akan mengalami musim kering. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat melalui Gambar dibawah ini.

Sumber (Bayong 1999 melalui Kadarsah[dot]Wordpress[dot]com)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebakaran di Indonesia banyak diakibatkan oleh pembukaan lahan untuk perkebunan. Begitu juga yang saat ini terjadi di Riau. Hal ini disampaikan oleh Raffles B. Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan dimuat dalam Tempo. Beliau menyebutkan bahwa kebakaran lahan di Riau kebanyakan memnag diakibatkan oleh kesengajaan membuka lahan perkebunan kelapa sawit.

Kita Butuh Antibiotik untuk Menangani Karhutla

Jika memang ada unsur kesengajaan disana, maka dapat dikatakan bahwa prediksi prediksi terkait lokasi kebakaran hutan yang selama ini dilakukan para ahli BMKG dengan FDRS-nya dan CCROM dengan kebakaranhutan.id nya, monitoring air tanah oleh Badar Restorasi Gambut, monitoring hotspot oleh LAPAN dan BMKG hanya berguna untuk menebak waktu dan lokasi yang tepat untuk para pembakar melakukan aksinya. Atau setidaknya menebak kira kira dimana para pembakar akan membakar lahan. Saya disini tidak mengatkan bahwa usaha usaha yang instansi instasi tersebut tidak berguna. Apa yang mereka lakukan sangat berguna namun menurut saya ada kurang satu aksi yang sangat penting bukan dari instansi instansi teknis dan juga instansi berbasis riset namun instansi penegak hukum.

Jika saya boleh menganalogikan kebakaran hutan adalah sebuah penyakit, maka usaha dan aksi para Kementerian dan lembaga adalah obat pereda panas, obat pereda batuk dan pengurang rasa mual. Namun agar penyebab gejala gejala tersebut dapat diatasi maka kita perlu Antibiotik yang membunuh sumber (penyebab) gejala gejala penyakit tersebut yang dalam hal ini karena penyakit sebenarnya adalah ulah manusia dan bukan iklim, maupun kelembban tanah maka usaha utama untuk mengendalikannya tidak lain adalah usaha di bidang hukum dan sosial serta ekonomi. Saya menambahkan bidang sosial disini karena tidak semua kegiatan pembakaran tersebut sesederhana yang salah di tangkap dan dipenjara. Ada permasalahan sosial yang kompleks sedang terjadi disana yang tentunya penyelesaiannnya juga harus didekati dengan pendekatan ilmu sosial dan ekonomi.

Pendekatan politik akan melengkapi racikan antibiotik yang sebelumnya sudah diisi dengan hukum, sosial dan ekonomi. Permasalahan ini tentu tidak dapat diatasi oleh remah remah kerupuk kaum proletar seperti saya, suara pun sudah pasti tidak didengar dan di gubris. Butuh banyak kaum elit yang memang mengesampingkan ego pribadi dan sektoralnya untuk menanggulangi masalah ini. Selain mengesampingkan ego, mereka mereka ini juga perlu mengamani dirinya dengan perlindungan berlapis lapis karena yang dihadapi mereka bukan sesuatu yang main main. Ada triliun-triliunan rupiah berputar dan bertarung di mimbar kebakaran hutan dan lahan dari hulu seperti perkebunan-perkebunan hingga hilir seperti usaha usaha pemadamannya penyewaan heli misalnya yang tentunya akan keluar angka fantastis bila dihitung.

Pengalaman Naik Heli saat Patroli Aseangames Bebas Asap 2018

Tanpa adanya aksi aksi yang bersifat antibiotik, saya ragu karhutla dapat kita tangani dengan baik dan kita dapat terlepas dari aksi aksi yang hanya berkutat pada tukang memadamkan api. Kita pun akan semakin banyak menemukan berita berita tentang ribuan korban yang berjatuhan karena penyakit pernapasan. Dan kemudian berita tersebut akan dikalahkan oleh berita protesnya para tetangga yang kita asapi sepanjang kemarau. Kita tidak tahu pasti akan sampai sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan, para pecinta alam mungkin akan berkoar koar tentang hilangnya kekayaan hayati indonesia. Namun saya rasa tidak hanya itu, Karhutla tidak lah hanya membakar kekayaan hayati kita, namun membakar pula kekayaan hati kita yang tetap diam melihat orang merendahkan diri dengan menjual nyawa dan masa depan jutaan orang hanya demi uang semata (omong kosong sekali ya hehehe). yah tapi jauh dari itu, kita membutuhkan antibiotik untuk permasalahan karhutla, ntah itu secara harfiah berarti “bersifat Anti-bio” atau secara tersirat saja sudah cukup.

Tanpa itu semua Riau dan Wilayah lainnya akan Tetap Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap #Mungkinselamanya hingga pohon terakhir tumbang dan berakhir pada musium yang bertuliskan “Dulu sekali kami memiliki hutan yang kaya namun kami gagal menjaganya”

(Dewa Putu AM, 2019)

Sekian dari saya, kalau saya ulik ulik lebih dalam lagi akan berbahaya hehehe saya masih sayang nyawa. Akhir kata

Salam

Dewa Putu AM.

Sumber Featured Image Pixabay.com

BencanaPopular TheorySains PopulerUncategorized

Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0

February 9, 2019 — by dewaputuam0

IMG_20181021_151533-960x540.jpg

Pada tulisan ini, saya akan coba bermimpi sejenak dan membebaskan semua angan saya jauh ke masa dapan. Ini tentang Manajemen bencana pada masyarakat 5.0 atau dalam bahasa inggris disebut sebagai Society 5.0. Konsep tentang masyarakat 5.0 ini pertama kali di sampaikan oleh Shinzo Abe di pameran CeBIT, Hannover Jerman pada Maret 2017. Konsep ini juga di deskripsikan oleh pemerintah jepang secara keren dalam websitenya di link ini. Secara sederhana Imadudin Muhammad menjelaskan di tulisannya pada link ini, tentang masyarakat 5.0 yang merupakan konsep yang menggambarkan fase evolusi masyarakat yang sudah mengoptimalkan penggunaan artificial intelligence (AI), robotics, big data, dan drones. Masyarakat 5.0 merupakan suatu konsep masyarakat pada jaman industri 4.0 (yang agaknya sudah banyak sekali orang yang latah menggunakan istilah ini termasuk saya hehehe), Society 5.0 merupakan sistem masyarakatnya sedangkan industri 4.0 adalah platformnya.

Mungkin cukup di situ saja cuap cuap saya terkait gambaran umum Masyarakat 5.0. Saya akan mulai merekonstruksi apa yang saya bayangkan tentang manajemen bencana pada masyarakat 5.0 yang tentunya tidak terlalu jauh dari Artificial Intelligence (AI), robotics, big data, dan drones dan mungkin akan lebih tepat bila saya sertakan pula IOT, AR/VR, . Oia, tulisan ini terilhami dari beberapa pengalaman yang saya dapat selama 2 tahun berkecimpung di bidang bencana, buku bacaan saya The Great Shifting karya Rhenald Kasali, yang telah saya ulas pada tulisan sebelumnya, Buku Army of None karya Paul Sharre dan tentunya dari berita berita terkait society 5.0.

Profil Risiko Bencana per objek maupun personal secara realtime

IOT (Sumber Freepik)

Mengenali dan memahami risiko merupakan dasar dan permulaan dari suatu manajemen bencana. Manajemen bencana sulit berjalan dengan baik tanpa didahului oleh pemahaman risiko bencana. Pemahaman terkait risiko bencana di Indonesia saat ini telah difasilitasi dengan adanya aplikasi InaRISK yang dikembangkan oleh BNPB. Dalam aplikasi tersebut baik web maupun aplikasi berbasis Android dan IOS, kita dapat melihat ancaman bencana apa saja yang ada di sekitar kita. Ini menurut saya merupakan aplikasi yang sudah bagus. Namun karena disini kita sedang membahas masyarakat 5.0 tentunya pemahaman risiko bencana akan lebih berkembang lagi dengan adanya pemanfaatan tekhnologi Big Data, AI dan IOT. Berikut ini beberapa gambaran pemahaman risiko bencana kita bila ketiga tekhnologi tersebut sudah dapat di optimalkan.

  • Kita memahami Ancaman di sekitar kita secara realtime Penerpan IOT tentunya tidak hanya menjadi rumah kita semakin pintar, Penerapan IOT pada kebencanaan memberikan akses pada kita untuk megetahui dan memberikan peringatan akan kejadian kejadian bencana yang dapat mengancam keselamatan kita secara realtime. Jika hal ini sudah diterapkan, tentunya blunder tentang tsunami atau hanya gelombang pasang biasa kecil kemungkinan akan terjadi lagi. Sensor, radar, cctv dan citra yang terus memonitor kejadian kejadian disekitar kita, dan dengan adanya AI akan mengidentifikasi kejadian mana yang membahayakan dan mana yang masih dalam batasan aman. Jika ada suatu kejadian yang dirasa membahayakan, maka AI akan dengan segera menginformasikan manajer bencana dan masyarakat sekitar untuk melakukan aksi. Semua data dan informasi dari sensor, radar dan cctv tentunya memiliki jumlah besar, bervariasi tinggi dan arus trasfer datanya nya sangat cepat, disinilah teknologi big data dan AI kembali mengambil peran untuk memanajemen dan menganalisis data tersebut untuk menilai dan mengkoreksi tingkat ancaman wilayah secara realtime.
  • Kita memahami kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime Big Data yang diambil dari berbagai jejak digital yang diinggalkan masing masing orang baik dari pencariannya di mesin pencari (google dan bing); aktifitas media sosial (tulisan, foto dan video) yang dibagikan di klik, like, retweet; pergerakan yang di ambil dari GPS smartphone dan juga aktivitas ekonomi yang dilakukan akan dianalisis oleh AI dan dihasilkan sebuah pola dan karakter masing masing orang yang kemudian digunakan untuk menilai kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime. Ada sedikit kekurangan dalam konsep ini khususnya dari segi privasi, untuk mengakalinya tentunya perlu adanya suatu komitmen untuk menjaga data data yang dikumpulkan dan dianalisis tidak bocor dari perangkat dan akun masing masing orang, dan hanya informasi akhir saja yang dapat diterima oleh pemerintah dan pihak lain contohnya tingkat risiko masing masing warga, dan informasi berdasarkan agregat kewilayahan.
  • Kita memahami profil risiko kita masing masing secara realtime inilah hasil akhir dari dua poin diatas. Setelah tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas bencana baik personal maupun dengan agregasi tertentu dapat dinilai secara realtime, maka profil risiko pun akan dapat di nilai secara realtime. Profil risiko tiak hanya memberikan angka angka yang menggambarkan tingkat risiko suatu orang, objek atau wilayah terhadap bencana namun lebih dari itu, dengan data yang berlimpah yang telah dianalisis oleh AI tersebut, para manajer bencana akan diberikan informasi lengkap terkait karakter masing masing korban agar pelayanan terhadap korban lebih sesuai dengan karakternya dan kemudian meningkatkan peluang keberhasilan penanganannya. Sebagai gambaran saat ini, dengan bantuan AI, kita sebenarnya diberikan informasi informasi dan iklan iklan yang disesuaikan dengan karakter dan kecenderungan kita. Hal ini dipelajari oleh AI dari informasi jejak jejak digital yang kita tinggalkan dalam situs mesin pencari dan juga media sosial kita. Sekarang kita bayangkan informasi informasi tersebut digunakan untuk memberikan gambaran terkait profil risiko kita, maka dengan otomatis, dengan perlahan informasi informasi terkait kebencanaan dan beberapa ilmu dasar kesiapsiagaannya disisipkan dalam media sosial kita dan disesuaikan dengan ancaman, kerentanan, karakter dan tendensi kita. Dari informasi informasi tersebut, pendidikan bencana pun dapat lebih disesuaikan dengan dengan umur dan karakter masing masing personal.

Membantu Peningkatan Kinerja para Manajer dan Pegiat Kebencanaan

Ketersediaan data dan informasi yang cepat dan tepat merupakan suatu kunci dalam manajemen bencana pada masyarakat 5.0. Ketersediaan informasi terkait profil risiko bencana pada setiap agregasi masyarakat, dari personal ke desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara hingga masyarakat internasional dapat dijadikan sebagai salah satu dasar pembuatan kebijakan, kesepakatan dan peraturan peraturan dalam manajemen bencana yang sesuai dengan karakter dan profil risiko bencana untuk masing masing entitas yang akan ditangani. Peran AI, IOT dan BIG data disini tidak hanya terbatas pada penyediaan bahan-bahan awal penyusunan kebijakan dan lain lainnya itu. Peran ketiga tekhnologi tersebut juga akan terlihat pada implementasinya.

Setelah pemerintah, manajer bencana dan pegiat bencana menyepakati kebijakan dan aturan baru dalam manajemen bencana, maka AI akan memasukan kebijakan atau aturan tersebut dalam protokolnya. Misalkan terdapat peraturan baru terkait tata ruang daerah pesisir untuk mengurangi risiko tsunami yang menyatakan dilarang membuat bangunan yang tidak memiliki standard aman dari tsunami. Saat kontraktor mengurus perijinan, AI mulai menilai apakah bangunan yang akan dibangun oleh kontraktor tersebut sesuai dengan peraturan terbaru yang ada, jika tidak sesuai maka permohonan ijin akan di tolak.

Selain berperan dalam implementasi kebijakan, AI juga berperan dalam Implementasi rencana kontijensi yang telah di buat. AI disini berperan untuk memastikan dan mengingatkan peran masing masing stakeholder dan juga mengumpulkan data dan informasi kegiatan penanganan bencana untuk kemudian memberikan kembali informasi terkait status terkini dari penanganan bencana yang sedang dilakukan. AI akan mengidentifikasi hal hal esensial yang terlewat dan juga melakukan mengajukan saran saran untuk mendukung penyusunan langkah langkah strategis aksi penanganan bencana yang perlu dilakukan para pegiat bencana.

Terkait penilaian situasi ketika bencana, AI secara otomatis akan mengakses semua informasi citra, radar, sensor, hingga jejak dijital terkait wilayah dan masyarakat terdampak. Berdasarkan infrmasi informasi tersebut AI akan memberikan gambaran umum terkait cakupan dampak dan tingkat keparahan masing masing wilayah. Untuk melengkapi informasi tersebut AI mengirimkan tiga jenis drone yang satu berupa drone yang terbang melayang 24/7 untuk menyediakan koneksi internet dan saluran komunikasi, drone tipe kedua berupa drone observasi yang secara mandiri bergerak untuk mengakuisisi informasi visual daerah terdampak dan drone tipe ketiga berupa swarm drone yang terdiri dari jutaan drone kecil bergerak secara kumunal dan berpencar mencari korban berdasarkan informasi dari drone observasi dan jejak digital para korban. Swarm drone berukuran sangat kecil sehingga dapat mengakses celah celah kecil reruntuhan bangunan. Masing masing unit dari swarm drone memiliki sensor sensor untuk memonitoring kondisi para korban, setelah menemukan korban, swarmdrone akan melekat, memeriksa kondisi korban dan memberikan informasi lokasi maupun kondisi tersebut kepada pusat komando.

Ilustrasi Swarm Drone (Sumber: David BBC)

Pos Komando dibantu dengan AI akan melakukan analisis prioritas penyelamatan korban berdasarkan tingkat urjensi dan tingkat kesuksesan penyelamatannya agar jumlah korban yang berhasil diselamatkan semakin banyak dan cepat. Selain ke pos komando untuk keperluan penyelamatan, swarm drone juga mengirimkan informasi tersebut kepada masing masing klaster baik klaster kesehatan untuk menyiapkan perlengkapan kesehatan (peralatan operasi dan obat obatan) yang dibutuhkan, perlindungan pengungsi untuk menyiapkan tenda tenda dan makanan.

Lengan lengan robot digerakan untuk membantu mengangkat reruntuhan sembari terus memantau kondisi para korban yang telah tertempel swarm drone. AI akan mengidentifikasi korban korban yang membutuhkan waktu lama dalam evakuasi dan kemudian mengirimkan drone logistik dan obat obatan awal yang secara langsung dikirimkan kepada korban-korban tersebut.

Kondisi para korban akan dilaporkan pada para manajer bencana yang kemudian dikirimkan langsung pada masing masing keluarganya. Keluarga yang merasa salah satu anggota keluarganya hilang kontak dapat menghubungi AI untuk kemudian mencocokan identitas mereka (baik secara tertulis maupun biologis (DNA, pupil mata dan sidik jari) dengan korban korban yang ditemukan swarm drone.

Saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang, dan jika lebih panjang lagi akan menjadi tidak bagus. Untuk itu tulisan ini saya potong sampai sini dulu dan akan berlanjut pada tulisan Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0 bagian ke 2

Sekian dari saya, semoga angan angan ini suatu saat dapat terwujud, sampai jumpa di tulisan bagian ke 2 dan Salam hangat dari Saya

Dewa Putu AM

BencanaGISUncategorized

Memanfaatkan Informasi Geospasial dalam Bencana

January 21, 2019 — by dewaputuam0

aaaaa-960x483.jpg

Berawal dari SUatu Keresahan

Ide tulisan ini terinspirasi dari keresahannya rekan kerja saya yang mempertanyakan “apakah peta-peta yang mereka buat selama ini benar dipakai dalam manajemen bencana khususnya saat operasi penanganan darurat bencana. Sesaat saya berpikir sepertinya sih peta-peta yang selama ini di buat sudah digunakan dalam operasi penanganan darurat bencana. Meskipun saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk dasar penentuan kebijakan maupun aksi, namun perlahan-lahan saya rasa pemanfaatannya akan semakin intens dan lebih optimal #semoga.

Saya (kanan) lagi diberi penjelasan oleh Bapak Deputi Pencegahan dan kesiapsiagaan BNPB saat bertugas di Pos Pendamping Nasional Sulteng

Pemanfaatan Informasi Geospasial yang dalam hal ini peta cetak (statis) maupun peta dinamis dalam operasi penanggulangan bencana masih minim. Mayoritas pemanfaatan informasi tersebut masih pada hal-hal yang bersifat kosmetik baik untuk salah satu lampiran dalam laporan atau background dalam infografis. Kalaupun ada pemanfaatannya lainnya lebih pada salah satu media pembantu untuk menyatakan eksistensi suatu objek dan lokasi objek tersebut. Pemanfaatan informasi geospasial yang seperti itu saya rasa belum begitu optimal, dan tentunya masih bisa lebih dimanfaatkan lagi beberapa potensi lainnya. Pada tulisan saya kali ini saya akan berbagi sedikit tentang cara mengekstraksi informasi Geospasial secara minimalis namun cukup efektif.

Cara Interpretasi Informasi Geospasial Secara Minimalis

Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah “bagaimana kita mengoptimalkan interpretasi dan pemanfaatan informasi geospasial yang telah susah payah dibuat oleh rekan rekan tim GIS kita hehehe :). Susah lo untuk sekedar membuat peta, dari mulai clearing data mentah, mempersiapkan data agar map-able, belum lagi jika harus melakukan prosedur spasial analisis lebih lanjut, dan juga tidak juga mudah melayout peta agar informasi dapat jelas terliahat dan mudah dipahami. seperti menyesap kopi yang ada seninya agar rasa dan aroma lebih terhayati dalam semua indra kita, ada seninya juga dalam menginterpretasi sebuah peta. Agar suatu informasi geospasial dapat kita interpretasi secara optimal ada beberapa unsur yang setidaknya kita jadikan acuan. Keenam unsur yang dapat dijadikan acuan itu meliputi warna, bentuk, pola, asosiasi, komparasi, interaksi, kecenderungan keruangan dan waktu serta proses. Untuk mencoba interpretasi kan peta akan saya tunjukan salah satu peta yang saya buat, diambil dari data milik BMKG tentang kejadian gempa dan patahan, serta data dari disdukcapil tentang penduduk. Beberapa informasi tersebut saya masuan kedalam peta di bawah.

Peta Kejadian Gempa 2018 dan Jumlah Penduduk Indonesia (untuk lebih jelas kunjungi link ini)

Berikut ini adalah langkah langkah dalam interpretasi sebuah peta yang menurut saya dapat mempermudah dalam interpretasi sebuah peta:

  • Judul Peta: Sebelum menginterpretasi suatu peta tentunya kita perlu melihat dahulu judul nya untuk mengetahui gambaran umum sementara tentang maksud dibuat peta trersebut. Dalam peta yang saya tampilkan diatas adalah Peta Kejadian Gempa 2018 dan Jumlah Penduduk Indonesia yang tentunya akan menggambarkan lokasi lokasi kejadian gempa di indonesia selama tahun 2018 dan disertai pula informasi jumlah penduduk perprovinsi di daerah tersebut. Agar tampak warna warnanya kalian dapat zoom peta dengan menggunakan tombol “+” pada peta.
  • Waktu pembuatan untuk memastikan informasi yang terkandung di dalam peta tersebut masih sesuai dan masih mampu memuaskan tujuan kita dalam melihat peta tersebut.
  • Mulai menginterpretasi setelah melihat judul, waktu pembuatan dan tentunya menyesuaikan nya dengan apa yang menjadi tujuan kita, kita baru dapat melakukan interpretasi peta ataupun informasi geospasial lainnya. Memasitikan tujuan kita dapat terpenuhi dan sesuai adalah hal yang perlu sebelum menginterpretasi sebuah peta. Berikut ini unsur unsur yang perlu kita perhatikan dalam interpretasi sebuah peta. Unsur unsur yang saya sebutkan dibawah tidak semuanya dapat diinterpretasi secara terpisah khususnya karena untuk unsur asosiasi, komparasi dan interaksi merupakan suatu kesatuan yang jarang dapat dipisahkan saat dilakukan interpretasi sedangkan warna, bentuk dan pola merupakan unsur dasar dalam interpretasi.
    • Warna & Bentuk: Unsur ini merupakan unsur yang paling mudah dilihat dan orang kebanyakan akan menginterpretasi unsur ini terlebih dulu atau bahkan justru hanya melihat dan memperhatikan unsur tanpa memperhatikan unsur lainnya. Unsur ini biasanya dilihat untuk menjawab pertanyaan Apa dan Dimana. Tidak terlalu sulit untuk menginterpretasi unsur ini karena semua informasi telah tersurat pada legenda peta.
    • Pola : Ada tiga pola utama yang dapat dibentuk objek-objek dalam peta. Pola pola tersebut antara lain pola acak, pola berkelompok dan pola terstruktur. Pola acak adalah pola sebaran suatu objek yang merata ke seluruh bidang tanpa aturan khusus. Pola berkelompok adalah pola dimana masing masing objek membentuk klaster/kelompok sehingga objek objek akan berdekatan dengan sesama anggota kelompoknya namun relatif jauh antar kelompok. Pola ketiga adalah pola terstruktur, pola ini dibentuk oleh objek objek yang mengikuti struktur tertentu.
    • Asosiasi, Komparasi dan Interaksi: Untuk mengetahui Asosiasi, Komparasi serta Interaksi antar objek dalam suatu peta diperlukan pemahaman khusus dan mendalam. Pemahaman tentang karakter objek-objek tersebut ditambah dengan informasi terkait warna, bentuk dan pola sebaran spasial membantu kita dalam mengkaji bagaimana komparasi (perbandingan) dan asosiasi (hubungan) antar objek. Berdasarkan informasi komparasi dan asosiasi antar objek, maka dapat di gambarkan bagaimana interaksi antar objek. Pada tahap ini memang sedikit butuh usaha dan pengetahuan dasar terkait topik yang dipetakan sehingga terkadang beberapa interpreter hanya menginterpretasi pada membandingkan apakah suatu objek memiliki karakter yang berbanding terbalik terhadap objek lainnya atau sebanding dan melihat hubungan antar objek apakah keberadaan objek tertentu akan membuat objek lainnya juga ada disekitarnya atau hubungan lainnya. Interaksi antar objek baru dapat kita pahami bilamana asosiasi dan komparasi masing masing objek telah dipahami sebelumnya.
    • Kecenderungan keruangan dan Waktu: Terkadang peta hasil kajian maupun hasil modeling merupakan data spasial yang memeiliki kecenderungan tertentu terhadap ruang dan waktu. Kecenderungan yang dimaksud disini lebih kepada reaksi perubahan nilai atau karakter objek ketika terjadi aksi pada objek lainnya baik secara keruangan maupun waktu.
    • Proses: Proses saya masukan pada unsur terakhir dalam interpretasi karena bagian inilah yang saya rasa paling sulit dan paling membutuhkan pemahaman tentang topik yang divisualisasikan dalam peta. Bila tahapan ini telah kita lalui maka kita dapat memahami fenomena yang digambarkan dalam peta bahkan melalui pemahaman proses yang ada juga kita dapat memberikan prediksi awal tentang apa apa saja yang akan terjadi di kemudian hari dan bagaimana memintervensi fenomena tersebut untuk keperluan keperluan tertentu.

Saya rasa itu saja yang dapat saya bagikan pada tulisan ini, saya baru tersadar topik ini sepertinya memang sulit untuk diringkas dalam satu tulisan saja. Jika saya ringkas dalam bentuk satu tulisan jadinya kurang begitu dalam dan sedikit meembingungkan ya hehehe (sorry). Pada tulisan berikutnya mungkin akan saya tuliskan lebih detail dan spesifik dan juga sepertinya seru menulis tentang cara cara pembuatan peta seperti yang saya berikan pada tulisan ini.

Salam hangat,

Dewa Putu AM

BencanaMeteorologiSains AtmosfirUncategorized

Musim Hujan 2019 dan Bencana

January 13, 2019 — by dewaputuam0

Bencana-960x679.jpg

Musim Hujan 2019 dan Bencana. Dari judul yang saya pilih, bisa dilihat bahwa pada tulisan kali ini saya akan membahas suatu issu yang sedang seksi-seksinya dibahas penghujung tahun 2018 hingga awal tahun 2019. Dari kalangan muda hingga tua, cebong hingga kampret, dari orang orang yang expert dibidangnya hingga orang yang masih polos banyak membahas hal ini. Bencana dan manajemennya semakin populer di bicarakan oleh masyarakat Indonesia sejak kejadian kejadian bencana besar yang secara terus menerus terjadi dari Gempa Lombok, Gempa Sulawesi Tengah, Tsunami Selat Sunda hingga yang terbaru adalah tanah Longsor di Cisolok.

Dampak dari bencana bencana seperti gempa Bumi dan Tsunami bahkan saat ini kita di kenalkan bencana yang bernama likuifaksi memanglah besar, namun secara teori bencana bencana seperti ini memiliki periode ulang yang sangat panjang atau dengan kata lain kejadian bencana bencana tersebut sebenarnya langka. Kecuali memang kejadian gempa bumi yang jika kita amati sebenarnya terjadi setiap hari di Indonesia. Saya menyebut “kejadian gempa” secara sengaja agar membedakan gempa yang hanya sebuah kejadian dan gempa yang telah berubah menjadi bencana. Kedua hal itu adalah istilah yang berbeda, yang satu hanya sekilas lalu, sedangkan bencana itu yang memberikan dampak signifikan bagi kehidupan, penghidupan dan hidup kita sebagai manusia. Jadi meski “kejadian gempa” sering terjadi namun kejadian “bencana gempa” seperti Lombok dan Palu adalah kejadian yang langka (dan mudah mudahan akan seperti itu, itu harapan kita semua bukan?).

Dominasi Bencana Hidrometeorologi dan Dampaknya

Ada suatu fakta yang menarik, terlepas dari jumlah kejadian gempa yang sudah seperti jadwal belajar anak SMA (sering banget) namun seperti yang saya sebut sebelumnya itu hanya kejadian biasa dan alami dan belum menjadi bencana dan sebenarnya bencana yang paling sering terjadi hingga mendominasi kejadian Bencana di Indonesia adalah Bencana Hidrometeorologi yakni sekitar 90% dari total keseluruhan kejadian Bencana (ini menurut catatan BNPB).

Longsor Cisolok

Bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang terjadi karena dipicu oleh faktor faktor hidrometeorologi. Bencana-bencana yang masuk kedalam komplotan bencana hidrometeorologi antara lain (banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, dan kebakaran hutan). Dampak dari bencana Hidrometeorologi tentu tidak dapat kita abaikan begitu saja. Salah satu kejadian bencana hidrometeorologi yang baru baru ini terjadi adalah kejadian longsor di Cisolok Kabupaten Sukabumi yang mengakibatkan 30-an orang meninggal dunia. Kejadian kejadian bencana hidrometeorologi sebenarnya telah dapat diprediksi dan tentu telah dipublikasikan oleh Kementrian/ Lembaga terkait, yah meski kita akui terkadang masih banyak false alarm. Contoh lembaga yang secara rutin memberikan peringatan dini gerakan tanah adalah PVMBG melalui link vsi PVMBGnya (http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gerakan-tanah/peringatan-dini-gerakan-tanah) Dalam situsnya PVMBG dengan rutin memberikan peringatan lokasi lokasi yang memiliki peluang besar terjadi Gerakan Tanah (Longsor) setiap Bulan berdasarkan informasi tingkat ancaman gerakan tanah dan prediksi curah hujan pada bulan tersebut.

Bencana Hidrometeorologi di Musim Hujan 2019?

Bencana hidrometeorologi merupakan komplotan bencana yang faktor pemicunya berupa kejadian kejadian yang berkaitan dengan fenomena hidrometeorologi seperti hujan. Pada musim penghujan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim biasanya akan semakin sering terjadi di wilayah Indonesia. Hingga 12 Januari 2018 tercatat setidaknya telah terjadi bencana Hidrometeorologi di 17 kabupaten di Indonesia.

  • 4 Kejadian Banjir di kabupaten Aceh, Banten, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan
  • 2 Kejadian Banjir Bandang di Kuningan dan Sanggau
  • 1 Kejadian Banjir dan Tanah Longsor di jayapura
  • 7 Kejadian Cuaca Ekstrim di Karawang, Bandung, Cirebon Magelang, Nganjuk, Pinrang dan Luwu
  • 1 Kejadian Tanah Longsor di Sukabumi
  • 2 Kejadian kebakaran Hutan di Aceh Jaya dan Bengkalis
Kejadian Bencana Hidrometeorologi 2019

Pada musim penghujan jumlah kejadian bencana hidrometeorologi biasanya akan mengalami peningkatan baik intensitas maupun frekuensi kejadiannya. Potensi terjadinya bencana hidrometeorologi akan terus meningkat hingga puncak musim penghujan yang pada beberapa daerah di Indonesia terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Untuk mengatasi hal tersebut sudah sepantasnya kita bisa melakukan persiapan agar dampak yang diakibatkan bencana bencana tersebut dapat diminimalisir. Kegiatan sederhana dan dapat kita lakukan sendiri di tempat tinggal kita adalah:

  • Kita harus mengetahui dan mengenali tempat tinggal kita lebih dekat lagi. Kita harus tahu bencana bencana apa yang sering terjadi di tempat tinggal kita. Biasanya namun tidak selalu nama dari tempat tinggal kita menggambarkan kondisi kondisi terdahulu seperti nama nama yang ada frase rawa, kali, sungai dan segala hal yang berhubungan dengan air bisa jadi tempat tersebut dulunya memang dipenuhi air. Cara lainnya tentu banyak ngobrol dengan orang orang disekitar, tanya apakah tempat kita sering banjir dulunya. Cara lainnya lagi teman teman dapat melihat melalui aplikasi InaRisk yang disediakan oleh BNPB di playstore Android untuk mengetahui risiko bencana apa di sekitar kita.
  • Kita harus selalu memonitor kondisi cuaca di sekitar wilayah kita. Saat ini telah banyak aplikasi yang menyediakan layanan prediksi cuaca. Jika ada potensi hujan lebat atau bahkan hujan lebat disertai petir maka lakukan tindakan tindakan berikut agar terhindar masalah.
    • Jauhi Pohon rindang dan baliho dan objek objek lain yang rawan tumbang. Saat terjadi hujan sangat deras biasanya disertai angin kencang yang bisa saja menumbangkan pohon dan baliho. Jika memiliki pohon pohon besar ada baiknya memangkas sebagian rantingnya agar tidak membahayakan.
    • Letakkan benda benda elektronik dan kabel kabel maupun instalasi listrik lainnya di tempat tinggi agar tidak membahayakan bilamana terjadi banjir.
    • Hindari tebing tebing yang rawan longsor. Dan laporkan ke BPBD setempat bila ditemukan retakan retakan atau mulai miringnya objek objek seperti tiang listrik yang berada di dekat tebing, kejadian longsor biasanya didahului oleh retakan retakan seperti ini dan tiang listrik yang miring menandakan adanya pergerakan tanah.
  • Ketahui jalur jalur evakuasi terdekat dan adakah peringatan dini di sekitar kita seperti kentongan atau lainnya yang biasa digunakan masyarakat untuk mengabarkan kejadian bencana. Jika ada kita perlu mengetahui kesemua itu agar tidak bingung dan dapat merespon dengan baik dan cepat bila benar benar terjadi. Lebih bagus lagi bila kita sekali kali melakukan latihan secara rutin. yah itung itung sembari lari pagi atau jalan jalan santai.
  • Ketahui nomor nomor darurat yang dapat kita hubungi saat kejadian darurat benar terjadi seperti nomor polisi, ambulan dan BPBD. Atau minimal nomor pak RT hehehe.

Saya rasa cukup segitu dulu yang dapat saya tuliskan dalam posting saya ini, sepertinya sudah panjang sekali hehehe. Akhir kata saya ucapkan terimakasih dan semoga kita dapat melalui musim hujan ini dengan seru dan berkah Amiiiiin.

Salam,

Dewa Putu AM