main

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Every Body Lies, Apa yang Internet Ungkap Tentang Siapa Sebenarnya Kita

May 19, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-05-19-at-1.01.25-PM-960x686.jpeg
Sedikit ilustrasi tentang buku Everybody Lies karya Seth Stephens. Salah satu terbaik yang saya selesai baca di Tahun 2019 ini dengan sedikit background blog saya hehehe (Sumber foto pribadi).

Ada sedikit cerita “menarik” tentang bagaimana saya membeli buku ini karena secara ajaib sesuai dengan tema besar yang diusungnya. Buku ini saya beli dari “imbalan” setelah bersedia diwawancara oleh seorang kadidat PhD Indinesia di salah satu univeritas Singapura yang meneliti terkait penggunaan data dalam beberapa operasi penanggulangan bencana di Indonesia. Ironisnya meski didapat dari ‘hadiah’ wawancara, dalam bab bab awal di Buku ini justru menyoroti kurang begitu baiknya metode wawancara konfensional karena dalam dalam wawancara konfensional “kita dibayar untuk menjawab pertanyaan bukan untuk kebenaran”.

Sejenak saya berpikir apakah yang saya jawab kemarin adalah sepenuhnya kebenaran, atau sudah ada bumbu bumbu dusta disana? Meski secara subtansi saya rasa sudah menjawab dengan relatif benar namun saya kurang begitu yakin beberapa gimik mungkin tidak sengaja saya utarakan saat itu #mungkin.

Deskripsi Singkat Sebuah buku cerita dari seorang data saintist tentang Kita”

Buku yang saya baca adalah versi ebook berbahsa inggris yang diterbitkan oleh Bloomsbury. Buku karya Seth Stephens ini saya beli melalui aplikasi Google Playbook. Everybody Lies merupakan satu dari sekian banyak buku yang sudah saya incar antara tahun 2017 atau 2018 karena topik yang dibahas cukup profokatif serta unik, itu menurut saya. Karena buku ini berbahasa inggris akhirnya saya pun sedikit menahan diri menunggu versi terjemahan bahasa indonesianya. Seiring waktu, saya pun mulai kehabisan bahan bacaan menarik dan kebetulan saya mendapat sedikit dana dalam bentuk pulsa untuk dapat membeli sebuah ebook di Google Play (hehehe) akhirnya sayapun putuskan untuk membeli versi inggrisnya saja mumpung harga yang ditawarkan ebook jauh lebih terjangkau dibandingkan versi cetaknya. Akan tetapi menyebalkannya, saat saya hampir selesai membaca buku ini Gramedia dengan gagahnya menerbitkan buku ini.

Buku ini tidak terlalu tebal namun tidak juga tipis, hanya 354 halaman dan itupun yang bagian intinya hanya sampai halaman 290an. Jumlah halaman segitu sudah cukup padat mengingat begitu banyak topik yang dibahas oleh buku ini. Oia lucunya, Seth Stephens secara tersurat juga menyampaikan jumlah kata yang ada di dalam buku ini yakni sekitar 700000-an kata. Hal ini ia sebutkan dalam kesimpulan yang menurut saya adalah salah satu bab kesimpulan buku paling unik yang pernah saya baca hingga saat ini.

Insight Buku yang tidak hanya menceritakan “Insight” namun juga tentang “pencarian Insight” dari data tentang kita

Dalam bukunya, Seth Stephens sang data saintist ini tidak hanya lihai mengungkap insight dari berbagai “Big Data” namun juga berhasil menempatkan diri secara konsisten sebagai data saintist sejati yang percaya namun sedikit menyisakan skeptis pada insight-insight yang ia dapatkan baik melalui kajiannya maupun dari beberapa urunan informasi dari beberapa kolega sesama data saintistnya.

Ups ternyata kita sebenarnya tidak benar benar tersembunyi dan apa yang kita lakukan selama ini dapat terungkap dari jejak jejak digital yang kita tinggalkan. ( Tree photo created by freepik – www.freepik.com)

Buku ini menceritakan berbagai fakta menarik yang sering kali kontradiksi dengan apa yang sudah kita yakini selama ini. Buku ini mengungkap berbagai kebohongan yang dilakukan oleh kebanhyakan dari kita atau bahkan kita semua. Dari hal-hal remeh dan lucu seperti sikap kita yang meski terlihat begitu “santun dan baik” dari luar maupun di media sosial, namun ternyata menympan sarkastik dan rasisme yang begitu gelap. Hal ini diungkap penulis melalui kajiannya terhadap kata-kunci pencarian yang dikumpulkan dari berbagai mesin pencarian seperti Google, Bing dan sebagainya.

buku ini mengungkap perbedaan sentimen dan harapan para orang tua terhadap anak laki-laki dan perempuannya. Mengungkap kosa kata yang menandakan bahwa akan ada kencan kedua. Mengungkap kata kunci paling populer dalam penelusuran situs situs pornografi. Mengungkap cara memperkirakan jumlah pengangguran, jumlah pelaku aborsi dan jumlah anak anak korban pembulian bahkan potensi terjadinya pembunuhan. Ketiga hal tersebut dilihat dari jumlah akses terhadap situs situs pornografi untuk mengungkap jumlah pengangguran, dan penelusuran trend trend frasa tertentu untuk mengungkap jumlah pelaku aborsi dan korban pembulian, serta potensi terjadinya pembunuhan.

Dari buku ini juga, Seth Stephens menantang keyakinan kita selama ini yang meyakini bahwa film film kekerasan akan meningkatkan jumlah kekerasan di suatu wilayah. Nyatanya dari beberapa penelitian kejadian sebaliknya justru terjadi, film film kekerasan ini justru menurunkan tingkat kriminalitas di suatu wilayah. Tentang pidato obama juga yang digadang gadang mampu meredakan Islam phobia di Amerika ternyata juga tidak sepenuhnya benar karena sesaat setelah pidato tersebut kata kunci yang trnding di mesin pencarian justru bersuasana yang sebaliknya.

Opini saya tentang buku Everybody lies karya Seth Stephens

Secara keseluruhan saya suka dengan buku ini. Banyak wah dan aha momen yang saya rasakan ketika saya membaca bagian demi bagian pada buku ini. Buku ini menjelaskan dengan cukup baik tentang kelebihan kelebihan Big Data dan cara para data saintis dalam mengungkap Insight dari data tersebut untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang ada disekitar kita yang tidak jarang jawaban yang diungkap dalam buku ini berbeda dari apa yang kita yakini sebelumnya sekaligus sangat miris.

Seth Stephens, penulis Everybody Lies tampak sedikit ngece hahaha. Oke suhu saya akui dirimu dirimu hebat dalam menulis sebuah buku, saya menunggu buku buku anda selanjutnya (Sumber foto The Weekend Edition)

Saya kagum pada cara penulis menyusun banyak topik bahasan yang sangat beraneka ragam. Meskipun harus saya akui pada mulanya, saya sedikit skeptis dengan buku ini, mengingat topik yang yang ia bahas adalah topik yang sangat luas dan sangat beraneka ragam. Beberapa buku serupa kebanyakan terjebak pada melempar begitu saja topik topik mereka tanpa keterikatan yang kuat antar topik dalam membentuk alur cerita dan kerangka ide yang ingin diungkapkan secara utuh. Dan buku ini menurut saya behasil menampilkan hal tersebut pengungkapan pengungkapan insight dan cara cara mengungkapnya di jabarkan dengan rapi untuk memberikan kita gambaran seperti apa potensi pemanfaatan Data Konvensional dan Big Data saat ini namun tidak lupa pula mengutarakan kelemahan kelemahan big data tersebut.

Buku ini tidak hanya mengagung agungkan superioritas dan seksinya big data dalam era sekarang namun juga mengkritik perlombaan Big Data yang kebanyakan hanya terfokus pada ukuran yang masiv tanpa banyak memperhatikan Insight sebanyak dan sesignifikan apa yang dapat diungkap dan yang paling penting adalah pertanyaan pertanyaan apa yang dapat dijawab dengan data semasiv itu.

(Seth Stephens)

Dan terakhir, hal yang menurut saya paling menarik dari buku ini adalah bagian kesimpulannya. Dari bab tersebut Seth Stephens di bagian bagian awal mengungkapkan secara tersurat bahwa dalam sebuah buku (atau tampaknya semua karya tulisan), sebuah kesimpulan yang luar biasa haruslah ironis, harus menggugah, harus mendalam, harus menyenangkan, harus dalam, humor dan sekaligus menyedihkan. Dalam Bab ini terlihat sekali kedalaman dan kekonsistenan penulis akan kesan dan peran data saintist yang ia emban. Cara ia menutup bukunya menurut saya keren hehehe dan sepertinya menarik bila saya gunakan gaya tersebut untuk menutup tulisan saya.

Tampaknya tulisan ini sudah terlalu panjang ya sudah 1100 an kata saya tuliskan dalam posting ini dan saya tidak begiu yakin akan banyak yang membaca tulisan saya sampai pada kata kata saya saat ini, karena kebanyakan dari para pembaca saat ini hanya membaca Judulnya saja, dan sedikit diantaranya akan sampai pada beberapa paragraf awal, dan menyedihkannya lagi jaul lebih sedikit pula yang akan mencapai akhir pada kalimat ini. Sedih sih dan juga cukup kecewa tapi mau bagaimana lagi ya, inilah keadaan sekarang. Oke buat teman teman yang tersisa sampai pada kalimat ini saya ucpkan terimakasih atas waktu yang teman teman berikan pada tulisan saya ini. Kalian luar biasa Guys 🙂

BencanaPopular TheorySains PopulerUncategorized

Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0

February 9, 2019 — by dewaputuam0

IMG_20181021_151533-960x540.jpg

Pada tulisan ini, saya akan coba bermimpi sejenak dan membebaskan semua angan saya jauh ke masa dapan. Ini tentang Manajemen bencana pada masyarakat 5.0 atau dalam bahasa inggris disebut sebagai Society 5.0. Konsep tentang masyarakat 5.0 ini pertama kali di sampaikan oleh Shinzo Abe di pameran CeBIT, Hannover Jerman pada Maret 2017. Konsep ini juga di deskripsikan oleh pemerintah jepang secara keren dalam websitenya di link ini. Secara sederhana Imadudin Muhammad menjelaskan di tulisannya pada link ini, tentang masyarakat 5.0 yang merupakan konsep yang menggambarkan fase evolusi masyarakat yang sudah mengoptimalkan penggunaan artificial intelligence (AI), robotics, big data, dan drones. Masyarakat 5.0 merupakan suatu konsep masyarakat pada jaman industri 4.0 (yang agaknya sudah banyak sekali orang yang latah menggunakan istilah ini termasuk saya hehehe), Society 5.0 merupakan sistem masyarakatnya sedangkan industri 4.0 adalah platformnya.

Mungkin cukup di situ saja cuap cuap saya terkait gambaran umum Masyarakat 5.0. Saya akan mulai merekonstruksi apa yang saya bayangkan tentang manajemen bencana pada masyarakat 5.0 yang tentunya tidak terlalu jauh dari Artificial Intelligence (AI), robotics, big data, dan drones dan mungkin akan lebih tepat bila saya sertakan pula IOT, AR/VR, . Oia, tulisan ini terilhami dari beberapa pengalaman yang saya dapat selama 2 tahun berkecimpung di bidang bencana, buku bacaan saya The Great Shifting karya Rhenald Kasali, yang telah saya ulas pada tulisan sebelumnya, Buku Army of None karya Paul Sharre dan tentunya dari berita berita terkait society 5.0.

Profil Risiko Bencana per objek maupun personal secara realtime

IOT (Sumber Freepik)

Mengenali dan memahami risiko merupakan dasar dan permulaan dari suatu manajemen bencana. Manajemen bencana sulit berjalan dengan baik tanpa didahului oleh pemahaman risiko bencana. Pemahaman terkait risiko bencana di Indonesia saat ini telah difasilitasi dengan adanya aplikasi InaRISK yang dikembangkan oleh BNPB. Dalam aplikasi tersebut baik web maupun aplikasi berbasis Android dan IOS, kita dapat melihat ancaman bencana apa saja yang ada di sekitar kita. Ini menurut saya merupakan aplikasi yang sudah bagus. Namun karena disini kita sedang membahas masyarakat 5.0 tentunya pemahaman risiko bencana akan lebih berkembang lagi dengan adanya pemanfaatan tekhnologi Big Data, AI dan IOT. Berikut ini beberapa gambaran pemahaman risiko bencana kita bila ketiga tekhnologi tersebut sudah dapat di optimalkan.

  • Kita memahami Ancaman di sekitar kita secara realtime Penerpan IOT tentunya tidak hanya menjadi rumah kita semakin pintar, Penerapan IOT pada kebencanaan memberikan akses pada kita untuk megetahui dan memberikan peringatan akan kejadian kejadian bencana yang dapat mengancam keselamatan kita secara realtime. Jika hal ini sudah diterapkan, tentunya blunder tentang tsunami atau hanya gelombang pasang biasa kecil kemungkinan akan terjadi lagi. Sensor, radar, cctv dan citra yang terus memonitor kejadian kejadian disekitar kita, dan dengan adanya AI akan mengidentifikasi kejadian mana yang membahayakan dan mana yang masih dalam batasan aman. Jika ada suatu kejadian yang dirasa membahayakan, maka AI akan dengan segera menginformasikan manajer bencana dan masyarakat sekitar untuk melakukan aksi. Semua data dan informasi dari sensor, radar dan cctv tentunya memiliki jumlah besar, bervariasi tinggi dan arus trasfer datanya nya sangat cepat, disinilah teknologi big data dan AI kembali mengambil peran untuk memanajemen dan menganalisis data tersebut untuk menilai dan mengkoreksi tingkat ancaman wilayah secara realtime.
  • Kita memahami kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime Big Data yang diambil dari berbagai jejak digital yang diinggalkan masing masing orang baik dari pencariannya di mesin pencari (google dan bing); aktifitas media sosial (tulisan, foto dan video) yang dibagikan di klik, like, retweet; pergerakan yang di ambil dari GPS smartphone dan juga aktivitas ekonomi yang dilakukan akan dianalisis oleh AI dan dihasilkan sebuah pola dan karakter masing masing orang yang kemudian digunakan untuk menilai kerentanan dan kapasitas kita terhadap bencana secara realtime. Ada sedikit kekurangan dalam konsep ini khususnya dari segi privasi, untuk mengakalinya tentunya perlu adanya suatu komitmen untuk menjaga data data yang dikumpulkan dan dianalisis tidak bocor dari perangkat dan akun masing masing orang, dan hanya informasi akhir saja yang dapat diterima oleh pemerintah dan pihak lain contohnya tingkat risiko masing masing warga, dan informasi berdasarkan agregat kewilayahan.
  • Kita memahami profil risiko kita masing masing secara realtime inilah hasil akhir dari dua poin diatas. Setelah tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas bencana baik personal maupun dengan agregasi tertentu dapat dinilai secara realtime, maka profil risiko pun akan dapat di nilai secara realtime. Profil risiko tiak hanya memberikan angka angka yang menggambarkan tingkat risiko suatu orang, objek atau wilayah terhadap bencana namun lebih dari itu, dengan data yang berlimpah yang telah dianalisis oleh AI tersebut, para manajer bencana akan diberikan informasi lengkap terkait karakter masing masing korban agar pelayanan terhadap korban lebih sesuai dengan karakternya dan kemudian meningkatkan peluang keberhasilan penanganannya. Sebagai gambaran saat ini, dengan bantuan AI, kita sebenarnya diberikan informasi informasi dan iklan iklan yang disesuaikan dengan karakter dan kecenderungan kita. Hal ini dipelajari oleh AI dari informasi jejak jejak digital yang kita tinggalkan dalam situs mesin pencari dan juga media sosial kita. Sekarang kita bayangkan informasi informasi tersebut digunakan untuk memberikan gambaran terkait profil risiko kita, maka dengan otomatis, dengan perlahan informasi informasi terkait kebencanaan dan beberapa ilmu dasar kesiapsiagaannya disisipkan dalam media sosial kita dan disesuaikan dengan ancaman, kerentanan, karakter dan tendensi kita. Dari informasi informasi tersebut, pendidikan bencana pun dapat lebih disesuaikan dengan dengan umur dan karakter masing masing personal.

Membantu Peningkatan Kinerja para Manajer dan Pegiat Kebencanaan

Ketersediaan data dan informasi yang cepat dan tepat merupakan suatu kunci dalam manajemen bencana pada masyarakat 5.0. Ketersediaan informasi terkait profil risiko bencana pada setiap agregasi masyarakat, dari personal ke desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara hingga masyarakat internasional dapat dijadikan sebagai salah satu dasar pembuatan kebijakan, kesepakatan dan peraturan peraturan dalam manajemen bencana yang sesuai dengan karakter dan profil risiko bencana untuk masing masing entitas yang akan ditangani. Peran AI, IOT dan BIG data disini tidak hanya terbatas pada penyediaan bahan-bahan awal penyusunan kebijakan dan lain lainnya itu. Peran ketiga tekhnologi tersebut juga akan terlihat pada implementasinya.

Setelah pemerintah, manajer bencana dan pegiat bencana menyepakati kebijakan dan aturan baru dalam manajemen bencana, maka AI akan memasukan kebijakan atau aturan tersebut dalam protokolnya. Misalkan terdapat peraturan baru terkait tata ruang daerah pesisir untuk mengurangi risiko tsunami yang menyatakan dilarang membuat bangunan yang tidak memiliki standard aman dari tsunami. Saat kontraktor mengurus perijinan, AI mulai menilai apakah bangunan yang akan dibangun oleh kontraktor tersebut sesuai dengan peraturan terbaru yang ada, jika tidak sesuai maka permohonan ijin akan di tolak.

Selain berperan dalam implementasi kebijakan, AI juga berperan dalam Implementasi rencana kontijensi yang telah di buat. AI disini berperan untuk memastikan dan mengingatkan peran masing masing stakeholder dan juga mengumpulkan data dan informasi kegiatan penanganan bencana untuk kemudian memberikan kembali informasi terkait status terkini dari penanganan bencana yang sedang dilakukan. AI akan mengidentifikasi hal hal esensial yang terlewat dan juga melakukan mengajukan saran saran untuk mendukung penyusunan langkah langkah strategis aksi penanganan bencana yang perlu dilakukan para pegiat bencana.

Terkait penilaian situasi ketika bencana, AI secara otomatis akan mengakses semua informasi citra, radar, sensor, hingga jejak dijital terkait wilayah dan masyarakat terdampak. Berdasarkan infrmasi informasi tersebut AI akan memberikan gambaran umum terkait cakupan dampak dan tingkat keparahan masing masing wilayah. Untuk melengkapi informasi tersebut AI mengirimkan tiga jenis drone yang satu berupa drone yang terbang melayang 24/7 untuk menyediakan koneksi internet dan saluran komunikasi, drone tipe kedua berupa drone observasi yang secara mandiri bergerak untuk mengakuisisi informasi visual daerah terdampak dan drone tipe ketiga berupa swarm drone yang terdiri dari jutaan drone kecil bergerak secara kumunal dan berpencar mencari korban berdasarkan informasi dari drone observasi dan jejak digital para korban. Swarm drone berukuran sangat kecil sehingga dapat mengakses celah celah kecil reruntuhan bangunan. Masing masing unit dari swarm drone memiliki sensor sensor untuk memonitoring kondisi para korban, setelah menemukan korban, swarmdrone akan melekat, memeriksa kondisi korban dan memberikan informasi lokasi maupun kondisi tersebut kepada pusat komando.

Ilustrasi Swarm Drone (Sumber: David BBC)

Pos Komando dibantu dengan AI akan melakukan analisis prioritas penyelamatan korban berdasarkan tingkat urjensi dan tingkat kesuksesan penyelamatannya agar jumlah korban yang berhasil diselamatkan semakin banyak dan cepat. Selain ke pos komando untuk keperluan penyelamatan, swarm drone juga mengirimkan informasi tersebut kepada masing masing klaster baik klaster kesehatan untuk menyiapkan perlengkapan kesehatan (peralatan operasi dan obat obatan) yang dibutuhkan, perlindungan pengungsi untuk menyiapkan tenda tenda dan makanan.

Lengan lengan robot digerakan untuk membantu mengangkat reruntuhan sembari terus memantau kondisi para korban yang telah tertempel swarm drone. AI akan mengidentifikasi korban korban yang membutuhkan waktu lama dalam evakuasi dan kemudian mengirimkan drone logistik dan obat obatan awal yang secara langsung dikirimkan kepada korban-korban tersebut.

Kondisi para korban akan dilaporkan pada para manajer bencana yang kemudian dikirimkan langsung pada masing masing keluarganya. Keluarga yang merasa salah satu anggota keluarganya hilang kontak dapat menghubungi AI untuk kemudian mencocokan identitas mereka (baik secara tertulis maupun biologis (DNA, pupil mata dan sidik jari) dengan korban korban yang ditemukan swarm drone.

Saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang, dan jika lebih panjang lagi akan menjadi tidak bagus. Untuk itu tulisan ini saya potong sampai sini dulu dan akan berlanjut pada tulisan Manajemen Bencana Pada Masyarakat 5.0 bagian ke 2

Sekian dari saya, semoga angan angan ini suatu saat dapat terwujud, sampai jumpa di tulisan bagian ke 2 dan Salam hangat dari Saya

Dewa Putu AM