main

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] #MO, Kelanjutan Seri Disruption Karya Rhenald Kasali. #MEH kah?

September 1, 2019 — by dewaputuam0

https_cdn.cnn_.com_cnnnext_dam_assets_190523095525-indonesia-riot-960x540.jpg
#MO, Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham. Apakah kita termasuk orang orang yang gagal paham itu? mungkin ia dan mungkin juga tidak. Saya rasa “tag” seperti ini yang kemudian membuat saya sedikit tertekan, apakah dengan membaca buku ini kemudian akan membuat saya tidak gagal paham lagi? atau sekedar membuat saya menyadari bahwa saya selama ini memang gagal paham?. AH sudahlah setidaknya kita nikmati dulu saja buku ini, yang saya yakin ada banyak ide menarik didalamnya. #Mungkin (Sumber Gambar: Rumah Perubahan)

Sebuah buku dengan judul yang sangat singkat dari seorang penulis yang karyanya selalu saya tunggu, khususnya untuk buku seri disruption. Dari beberapa buku yang sebelumnya saya baca yakni Disruption dan The Great Shifting, karya-karya Prof Rhenald memang sukar sekali untuk kita ragukan kualitas dan kedalaman materi yang dihadirkan namun tetap terjaga untuk mudah dipahami. Hal ini juga termasuk dalam karya yang baru di rilis pertengahan Bulan Agustus lalu yang berjudul singkat yakni #MO. Bila dalam buku Drisruption kita dibangunkan untuk melihat adanya perubahan yang terjadi di sekitar kita. Buku the Great Shifting kita diingatkan berbagai pergeseran mendasar dalam berbagai lini kehidupan kita yang ternyata juga menyertai perubahan dalam era disrupsi.

Dalam buku #MO kita sekali lagi diberikan gambaran bahwa perubahan dan pergeseran tersebut merupakan pergerakan (mobilisasi) yang terorkestrasi oleh para pelakunya. “#, Mobilisasi dan atau Orkestrasi” merupakan satu tanda baca, dan dua frasa dasar yang kemudian dibahas dari awal hingga pengakhiran buku ini. Dari isu-isu global pemanfaatan isu orang hutan yang dipakai oleh masyarakat Eropa dalam menjegal laju ekspor minyak kelapa sawit Indonesia. Tagar #YODO (You Only Die Once) yang dimanfaatkan oleh ISIS dalam merekrut para simpatisannya hingga isu isu nasional yang mungkin saja bagi sebagian orang remeh dan beberapa kali kita jumpai seperti #SaveAudrey #AudreyJugaBersalah #Unistalblablabla juga #2019GantiPresiden. Apakah issu issu ini murni datang dari masyarakat dan tiba tiba membesar dan memunculkan pergerakan atau ada “kuasa” tak terlihat yang sengaja mengorkestrasinya ke arah yang telah direncanakan?

Mungkin bagi sebagian orang hal ini akan terlihat seperti teori teori konspirasi belaka yang mengada ngada dan kelewat halu. Yah itu terserah pada pribadi masing masing, namun konsep Tagar (#), Mobilisasi dan Orkestrasi sudah lama menjadi issu global yang tentunya akan seru bila kita dapat memanfaatkannya dengan baik dan juga lucunya akan cukup menyedihkan bilamana suatu saat kita tergilas oleh metode baru ini. Hanya dua pilihan kita sekarang ikut bergerak bersama dan berselancar lagi bersenang senang dengan gelombang mobilisasi yang ada atau justru tenggelam dan kemudian menghilang didalamnya. Dua itu saja pilihan kita dan tidak ada yang lain. Buku ini buku yang tepat sebagai “gambaran awal” bagi kita untuk mengenalkan kita pada era Mobilisasi dan Orkestrasi yang sedang terjadi disekitar kita sekarang ini.

Gambaran Singkat Buku berjudul Singkat “#MO“, apakah ini #MEH?

Orkestrasi, sama seperti pada gambar vektor yang polosan dan simpel ini, Buku ini hanya menjelaskan orkestrasi secara umum (sistem dan kerja didalamnya tidak dijelaskan dengan memuaskan) dan melompat lompat hehehe. Bukan jelek sik tapi belum puas aja dengan buku ini. (Sumber Gambar: LinkedIn )

Bagi orang yang tidak begitu suka membaca buku seperti saya, ketebalan buku mungkin saja menjadi salah satu faktor pembatas yang sangat menentukan. Yup, buku ini masuk kategori yang tebal namun masih dalam batas wajar sekitar 400an halaman.

Saya rasa sebenarnya buku ini dapat disajikan dalam bentuk yang lebih ringkas dan disesuaikan dengan judulnya yaitu #MO yang juga singkat. Saya masih gagal paham kah soal ini, Ada beberapa topik menurut saya tidak memiliki keterkaitan yang kuat dan dibahas alakadarnya saja. Mungkin karena terlalu banyak contoh yang diberikan jadi pembahasan pada #MO yang seharusnya dikuliti habis menjadi kurang menghasilkan #wah momen seperti pada buku buku sebelumnya. Saya sedikit kecewa untuk ini. Terasa kurang dan tanggung menurut saya.

Secara fisik buku ini memang terlihat tebal, namun bila kita melihat topik topik dan contoh yang dibahasnya jika memang ingin menguliti habis #MO nya seharusnya lebih tebal dari ini. Dilematis ya, tapi menurut saya buku ini adalah karya yang nanggung banget dan sedikit dibawah ekspektasi saya yang berharap buku ini dapat memberikan saya insight semencerahkan buku “Tipping Pointnya” Glandwell. Bila dibandingkan dengan buku seri Disrupstion sebelumnya hanya sedikit hal baru yang disajikan dari buku ini. Selebihnya sudah dibahas pada buku buku sebelumnya. Atau justru karena terlalu banyak hal baru yang disajikan menjadikan buku ini berkesan tanggung dan bukan dangkal, akan tetapi saya rasa buku ini dapat tersaji lebih baik dan mendalam lagi oleh Prof Kasali jika beliau mau. Mungkin sengaja di ringkas dan di sederhanakan agar layak dikonsumsi oleh banyak orang ya.

Kesimpulan Saya Untuk Buku Ini

Biar bagaimanapun juga buku ini masuk dalam jajaran buku dengan kualitasnya diatas rata rata bila dibandingkan dengan buku buku baru yang saat ini terpajang di toko toko buku terdekat saya. Buku ini membahas topik yang sangta menarik dan banyak hal yang dapat kita ambil dan pelajari dari karya terbaru dari Profesor Kasali ini. Itu simpulan saya, meskipun saya memang berharap akan mendapatkan hal yang lebih dari ini. Bagus tapi kurang memuaskan gitu, saya kurang bisa mendapatkan diksi yang tepat untuk menggambarkan hal ini, bisa dibilang nanggung.

Oia saya kurang begitu nyaman dengan pembahasan saat Prof Kasali berdebat dengan R. Gerung (dalam buku ini disamarkan namanya) dalam acara ILC. Meskipun fokus yang dibahas pada shaping n sharing yang dilakukan oleh para netijen kemudian yang menjadikan topik tersebut viral namun gaya pembahasannya menjadi sedikit berubah e pada topik ini dan ada kesan gimana gitu ya, sedikit terbumbui dengan emosi dan hal hal yang kurang pas dimasukan kedalam sebuah buku yang masuk kategori non fiksi ini.

Hmmm saya rasa seperti itu saja komentar saya soal buku ini. Buku ini layak sekali dikoleksi dan dibaca buat temen temen yang ingin memahami tentang era #MO, dan untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam saya juga merekomendasikan juga ngelengkapin bacaan ini dengan buku Everybody Lies dan Tipping Point, soalnya ada topik topik yang menurut saya bagian yang hilang itu saya rasa dapat teman teman temukan dalam buku buku tersebut.

Oia untuk cover pada post ini (Feature Image) saya gunakan gambar dari kerusuhan 22 Mei yang saya ambil dari situs berita CNN. Dalam buku ini juga dibahas secara “aman” soal kerusuhan ini dan beberapa pergerakan heboh lainnya yang pernah terjadi di Indonesia.

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

[Opini] Ketika Komunikasi Berpindah dari Bibir ke Jemari

April 10, 2019 — by dewaputuam2

paint-2985569_1920-960x640.jpg

Dulu sekali kita sering mendengar suatu kata-kata bijak tentang kebermanfaatan dan makna dari jumlah masing masing bagian tubuh kita. Suatu kata kata bijak yang sedikit menyampaikan alasan kenapa kita punya dua mata, kita punya dua telinga, kita punya dua lubang hidung, dan kita punya jutaan sensor perasa di seluruh bagian tubuh kita, namun kenapa kita hanya memiliki satu mulut itupun lebih sering tertutup dan terkatup oleh bibir. Jawaban paling mudah untuk pertanyaan pertanyan tersebut adalah “Kehendak Tuhan”, dan tentunya jawaban itupun saya terima serta tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Lagipula, kita juga tentunya menyadari, jumlah jumlah tersebut adalah jumlah bagian tubuh yang ada pada orang kebanyakan, dan ada beberapa orang diluar sana yang diberikan sesuatu itu dengan jumlah yang berbeda, baik berlebih atau kurang.

Mata adalah salah satu jendela antara penghubung kita dan dunia luar, lalu kenapa kita dibekali dua mata dan sautu mulut?, bukankah melalui mulut kita dapat berinteraksi lebih ke dunia luar, Dan kini semua berubah ketika jemari menggantikan bibir untuk berucap (Sumber Gambar by Alexandr Ivanov from Pixabay)

Terlepas dari jawaban tersebut, dan dengan tidak mengurangi rasa hormat bagi orang orang yang memiliki kondisi perbedaan dengan orang kebanyakan, melalui tulisan ini saya ingin sedikit berdiskusi sekaligus menyampaikan suatu kegelisahan yang saya rasakan. Ini tentang apa yang terjadi disekitar saya dan juga saya yakin terjadi juga di sekitar kalian. Hal ini berkaitan dengan sebuah pemahaman tentang jumlah bagian tubuh kita.

Makna Lalu yang Dulu Pernah Ada Untuk Menjelaskan Jumlah Itu

Jika kita bertanya kepada orang orang dulu maka beberapa akan menjawab bahwa jumlah bagian tubuh kita diseting dengan sedemikian rupa, dengan dua mata, dua telinga, dua lubang hidung serta jutaan sensor dikulit, namun hanya satu mulut agar kita lebih memahami dulu apa yang sedang kita hadapi. Untuk lebih banyak memahami apa yang sedang kita hadapi baik secara visual, suara, aroma, maupun teksturnya; kita harus cara lebih banyak melihat, lebih banyak mendengar, lebih banyak ‘merasakan aroma’ dan lebih banyak kontak langsung pada apa yang kita hadapi itu. Setelah memahami dengan dalam barulah kemudian kita ungkapkan dan berucap melalui perkataan namun cukup sedikit saja dan seperlunya. Kita harus banyak “merasakan” dan menjaga ucapan. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang bijak yang selalu banyak terdiam sembari ia melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi, dan sekalinya ia berucap itu tepat sasaran dan cukup, tidak lebih dan tidak kurang.

Secara natural kita diciptakan untuk lebih banyak menikmati dunia luar dibandingkan menghabiskan waktu untuk berucap.Ada suatu hal yang menarik dengan alasan dan manfaat kenapa kita memiliki dua mata. Ini berhubungan dengan kemampuan kita untuk menangkap dan memvisualisasikan objek dalam ruang 3 Dimensi. Kemampuan ini disebut dengan stereoscopic vision. Yang pada intinya adalah kemampuan otak untuk menampalkan dua hasil rekaman visual dari masing masing mata dan menciptakan suatu informasi dari dua sisi yang berbeda dan kemudian di simpulkan sebagai informasi kedalaman objek visual. Hal yang sama juga terjadi pada indriawi kita baik itu indra pendengar, pembau dan perasa kita. Yang kesemuanya di desain untuk memahami lingkungan secara 3 dimensi.

Gambaran Konsep stereoscopic vision, Inilah yang menyebabkan kita dapat memahami kedalaman visual berupa jarak dari suatu objek dan bentuk yang lebih presisi.

Bagian bagian tubuh kita dibuat untuk memahami lingkungan sekitar kita dalam bentuk tiga dimensinya, baik itu visual maupun dari audionya. Kita di desiain sedemikian rupa untuk melihat, mendengar dan merasakan lingkungan dalam bentuk tiga dimensinya, sehingga kita dapat memahami seberapa jauh suatu objek dan berada dimana dia, apakah ia bersuara melengking di sebelah utara dan bersuara berat di bagian selatan apakah lebih hangat bagian timur dibanding barat, semua itu disediakan secara gamblang melalui jendela jendela indrawi kita. Dan kemudian muncullah suatu pertanyaan besar, kenapa kita hanya diberikan satu bibir untuk berucap? Pertanyaan ini akan memunculkan jawaban yang beraneka ragam, namun bagi saya yang paling sesuai dan masuk akal adalah agar kita lebih memahami dahulu daripada berucap, atau dengan kata kata anak sekarang “Jangan ‘banyak’ bacot kalau belum tau paham”.

Dari Bibir Berpindah ke Jemari, Semua yang dulu Ada dan Terkendali Seketika Berubah

Dijaman yang katanya kian canggih ini bermunculan alat alat bantu dan pengganti budaya kita berkomunikasi. Jika dulu kita harus banyak melihat dengan “dua mata” kita dan banyak mendengar melalui “dua telinga” kita kemudian bersuara lantang untuk didengar dan dilihat oleh lingkungan, kini kita hanya perlu melihat “satu” layar berpendar dan kemudian mulai menari dengan “dua hingga sepuluh jemari” kita untuk sekedar melontarkan ujuaran, entah itu ujaran yang bermakna dalam ataupun ujaran tanpa makna sekalipun.

Visual tentang tentang kita yang kini melihat melalui satu “Jendela” dan kemudian berinteraksi dengan menggunakan 2 hingga 10 jemari yang menari. (Sumber Gambar Robinraj Premchand from Pixabay)

Telah terjadi suatu pergeseran besar yang terjadi pada diri kita, cara kita memahami lingkungan kita dan juga cara kita berinteraksi dengannya. Jika sebelumnya ada pemahaman bijak yang menggambarkan keharusan kita untuk lebih banyak memahami baru kemudian berujar seperlunya. Kini semua berubah, melalui “satu layar berpendar” itu kita sudah bisa dan layak untuk memberikan reaksi dengan “dua jari” bahkan dengan “sepuluh jemari kita”. Kita kini hanya perlu dan ingin memahami melalui satu layar itu saja dan merasa berhak mengujarkan dan mengucapkan ribuan kata bahkan ujaran tanpa makna sekalipun.

Hal ini tampaknya terlihat dan terdengar sangat menyedihkan, dan ini pula lah yang menjadi kegelisahan saya. Tentunya hal itu juga tidak hanya berdampak dan terjadi pada orang orang di sekitar saya. Harus saya akui bahwasanya sayapun juga terdampak serius akan hal itu. Sayapun lebih banyak berucap dan bereaksi ketimbang sekedar memahami. Tampak bodoh dan tampak naif bila saya tidak mengaku hal itu.

Akan tetapi, sejenak saya berpikir, benar benar sejenak, sesejenak saat saya membuat tarian jemari untuk menuliskan tulisan ini saya sadar bahwa saya melupakan satu hal yang sebenarnya ada. Namun semua kabut pikiran pesimistik saya menjauhkan saya dari kenyataan itu. Ini tentang suatu kenyataan bahwa meskipun kita hanya melihat di “satu layar berpendar saja” namun untuk melihat dan mendengarkan itu kita masih masih menggunakan “dua mata” kita dan “dua telinga” kita. Dan meskipun kita menuliskan ujaran kegelisahan kita melalui “dua jari” bahkan “sepuluh jari”, sebelum tertulis dengan rapi tentunya diolah pada “satu otak” kita dan juga “satu sumsum tulang belakang kita”. (saya ingin berkata “satu hati” kemudian saya urungkan karena saya sedikit kurang setuju dan tidak pernah mendengar bahwa hati juga secara harafiah memiliki fungsi untuk berpikir).

Kesemua itu bermakna, meskipun kini kita hanya melihat melalui satu layar dan berucap melalui 2 hingga 10 jemari, namun sebenarnya kuasa itu masih ada pada diri kita, Dengan dua mata kita dapat melihat lingkungan di luar kotak pendar, atau bahkan jika perlupun kita dapat menggunakan 10 jemari kita untuk memilah dan memilih sudut pandang yang ditampilkan pada layar berpendar itu. Barulah kemudian kita mengolahnya dalam pikiran dan “hati” kita untuk kemudian dapat dengan cepat kita berikan reaksi melalui 10 jemari kita yang menari dan menyair sebuah ujaran yang bermakna dan menyejukan.

Itupun jika otak dan hati kita compatible tengan pergeseran yang terjadi pada jaman ini. Yah jikapun tidak sesuai, yang terjadi biarlah yang terjadi. Bermunculanlah kata kata kosong tanpa makna yang keluar dan bertebaran didalam jagat dunia maya kita. Kita tidak boleh protes dengan hal tersebut. Dunia yang sekarang terjadi memanglah seperti itu dan selalu disusun oleh bilangan digital 1 dan 0. Yah anggap saja orang orang yang masih sadar dan menjaga dalam berucap adalah orang orang yang memiliki otak yang hanya 1. Dan kemudian yang lainnya, ah sudah lah saya tidak ingin panjang lebar lagi. Cukup sekian dari saya.

Salam Hangat

Dewa Putu AM