main

Daily LifeOpiniUncategorized

Ini Putaran Lari yang Berat, Putaran 20 Ini Memberikan Kita Banyak Cerita, Namun Kali Ini Ijinkan Ku Dahulu yang Bercerita, Silahkan Duduk dan Menikmati Kopi Bersama Ku Sejenak.

January 1, 2021 — by dewaputuam0

pexels-jeswin-thomas-1280162-960x640.jpg
Sumber Gambar  Skitterphoto from Pexels

Ku berlari menuju sebuah pemberhentian sementara dalam sebuah marathon yang sangat panjang. Sebotol air mineral kuteguk tergesa gesa, memang membuat tersedak dan naik salah jalur menuju hidung tetapi waktu ku rasa tidak boleh disia siakan. Putaran marathon ini terasa berbeda dari putaran sebelumnya. Di putaran  ini kita dipaksa untuk bergerak sendiri tak lagi beriring iringan bersenda gurau dan apa sulit juga melakukan apa yang dulu biasa kita lakukan saat menapaki setiap jalurnya. 

Pada marathon putaran 20 ini banyak kerikil tajam dan kadang menyakitkan. Tapi di putaran 20 ini harus ku akui banyak sekali pelajaran yang telah kita dapatkan. Pelajaran dari setiap tapak langkah kaki kita pada jalan berkerikil yang kita lalui hingga halang rintang sungai, bukit kecil menanjjak hingga jurang curam yang kita sudah jelajah bersama. 

Ku menyeka keringat dan sedikit mengingat awal dari putaran 20 ku. Sedikit melihat ke belakang sambil menikmati udara segar pepohonan, rerumputan dan tanah yang menghamburkan aroma menghanyutkan akibat diguyur hujan semalam. Sedikit melegakan kita sudah sampai sejauh ini namun sedikit berdebar mengingat apa yang ada di putaran 20 bukan tidak mungkin masih akan kita tantang di putaran 21. Sedikit mengecewakan semua belum selesai dengan sempurna, tetapi maraton ini tetap berlanjut. Masih ada hal hal seru menunggu di depan sana.

Perpindahan Jalur Lari di Putaran Ini Memang Berat dan Gelap, Namun Pelita yang Kita Nyalakan Bersama Mengubah yang Benar Benar Gelap Menjadi Sedikit Temaram dan Perjumpaan Awal Kita dengan Halang Rintang Renik Bermahkota

Putaran 20 memang salah satu  putaran yang  spesial buat ku karena di awal  putaran ini ku mencoba untuk melanjutkan perjalanan dengan hal yang baru, setelah 3 putaran sebelumnya bersama tim orange yang menjelajah banyak jalur hancur dan tangis sedih orang terbang bersama capung di atas rerumputan kering terbakar, melewati tanah terbolak balik dan terhempas deburan ombak, akhirnya pada putaran 20 ku mencoba peruntungan di jalur yang lain. Jalu ini memang masih terasa gelap dan masih sedikit orang yang ikut berlari bersama namun kucoba langkahkan kaki di jalur ini dan ku pun berpikir akan ada hal yang menarik akan kulalui selanjutnya. 

Di awal putaran ini tanah begitu basah dan banyak genangan yang membangkitkan kenangan di 3 putaran lalu yang biasa berhadapan dengan genangan dan kenangan. Sedikit gregetan dan jengah jemari ini untuk ikut turut terjun bersama teman lama namun tak bisa. Ku sudah di jalur yang berbeda dengan mereka sekarang, meski saat banyak genangan di awal tahun tersebut hati ingin kembali berbicara dan menari namun saya rasa cukup sudah diputaran ini ku perlu belajar lagi hal hal baru. Itu poinnya, banyak hal baru yang harus saya pelajari di awal putaran 20.

Berlari Dalam Gelap Photo by Michael Foster from Pexels

Sedikit demi sedikit ku belajar tentang jalur baru ini, ku coba peruntungan untuk belajar menggunakan sepatu yang berbeda dengan sepatu yang dulu dan tali temali untuk mengencangkannya. Membuat temali itu menjadi sedap dipandang, setiap tetes keringat hembusan angin malam yang mengiringi langkahku belajar ku yakin suatu saat akan ku petik. Ku belajar sambil berlari perlahan ikut melihat bersama orang dari dunia yang berbeda beda walau kadang ada sedikit kerikil yang menusuk sela antara jempol kaki dan jemari lainnya. Ku belajar menulis dengan ikut pelatihan menulis, memang bukan untuk berlari namun  saya rasa itu cukup penting. Ku juga belajar membuat gambar dari angka angka dengan ikut beberapa pelatihan online, tentu tidak sambil berlari, itu semua kulakukan sembari menyeruput secangkir kopi di warung anomali.

Ada beberapa kesempatan ku harus bergeser untuk berbalik sejenak ke jalur yang lama yah untuk melintas sejenak yang tak ku sangka cukup menyakitkan. Keluhan dan jengah kadang memang muncul tetapi ku tau tak bisa berlama lama rasa segan, ragu dan  bercampur lapar  ku langkahkan kaki untuk belajar. Namun raut wajah teman perjalanan yang dulu  ramah dan riang tak kusangka di putaran 20 ini sudah cukup banyak perubahan. Keramahan itu sudah sedikit hilang dan ku kecewa namun yah semua sudah berubah mungkin ada banyak permasalahan yang hinggap, akhirnya perjumpaan itu tidak berlangsung cukup lama. Padahal ingin rasanya untuk mendengar cerita cerita mereka. Ku sadar kecanggungan dan rasa asing itu memang normal terlebih saat kita berpindah jalur dari jalur lama yang banyak memberikan kesan. Rasa sentimentil kita kadang sedikit merapuhkan bahkan pada orang orang yang punya nafas  kuat sekalipun. Hehehe

Kita lanjutkan lagi, beberapa hal terus ku lihat, perhatikan dan pelajari  di sela perjalanan dan istirahat beberapa lembar koran bergambar diagram batang dan kue tart, Jalur jalur sigmoid coba ku coba ukir pada tanah di dekat tempat istirahat sementara kala itu sembari sesekali iseng bertanya kabar dengan teman teman lama. Semua itu kulakukan dengan persisten. Sembari melihat berita tentang halang rintang jauh di timur seberang laut sana yang sesekali ku menulisnya namun bukan tentang halang rintang renik bermahkota itu tetapi pada bagaimana kita tetap menjadi manusia. Yup halang rintang renik bermahkota kala itu masih jauh di seberang lautan, namun ada rekan tim lari maraton saya yang baru yang tiba ke jalur ini kami bersembilan beberapa kali  mengadakan pertemuan untuk men Cari! Beberapa hal yang pantas kami cari!, memetakan dan membuat jaring jaring permasalahan tentang maraton bersama rekan yang sudah lama di jalur ini, pak sanjungan namanya. Beberapa perbaikan jalur gelap kami coba nyalakan sedikit demi sedikit lentera, belum begitu terang namun cukup temaram untuk membimbing langkah kita bukan nya itu hal yang baik bukan hehehe. Soal halangan renik bermahkota itu, jangan ditanya lagi bahkan kini semua telah ada dimana mana ya yah sudah lah mau bagaimana lagi ya itu sudah masa lalu, mahkotanya pun sudah berganti ganti dan kita tidak tahu akan kemana lagi.

Berlari di Dua Jalur, Melelahkan Memang Namun Ada Kalian dan kamu yang Menyemangatkan dan Memberi Harapan

Setelah berkutat di Jakarta ku putuskan untuk kembali ke rumah di Lampung. Banyak perdebatan dan sesekali juga kerikil yang menyayat hati. Lihat tu tetangga si-A sudah bisa beli rumah, lihat tu tetangga si B sudah menikah dan punya anak dan gajinya sekian juta lihat si Z sudah seperti ini. Kenapa kamu tidak seperti A daftar di sini daftar di situ.  Hehehe menyebalkan memang, tapi ya sudahlah walau kadang menusuk sekali dan tak kuat mendengar kata kata menyebalkan seperti itu tetapi ku rasa perjalanan masih panjang dan ku kuatkan saja sembari membaca beberapa buku ringan. Everything is F*cked karya mark manson, Talk to Stranger karya Malcolm Gladwel dan beberapa buku yang sayangnya belum berhasil saya selesaikan seperti buku Leonardo Da Vinci karyanya Walter Isaacson, Data Science for Business karya Foster Provost.

Akhir maret tetiba ada miscall dari “kenalan lama”. Sudah lama ku coba untuk menghubunginya hahaha. Walau awalnya ku kira hanya misscall tetapi, saat itu perbincangan cukup seru. Dan komunikasi dengannya memang cukup sulit si, untuk sekedar berbincang dengan nya sudah bersyukur sekali, hehehe. Biasanya hanya hai apa kabar, hai selamat ulang tahun ya hai selamat A hai selamat B. Setelah sekian lama tak bertegur sapa akhirnya saya bisa lagi berkomunikasi dengan kawan lama, dia baik dan ramah meski terkadang sulit dipahami namun dalam setiap istirahat pekan belakangan ku coba menghubungi untuk bertanya kabar dan mendengar suara khas dan tawa renyahnya sekaligus berdiskusi ringan dan berat untuk mendengar pendapat pendapat yang tak jarang sulit ditebak 1 jam 2 jam dan 4 jam. Ku cukup senang dan bahagia untuk hal itu nice and thank you 🙂 . Oke next, anggap aja ini kisah sudah cukup lah ya ku ceritakan. Ku sediki belepotan kalau harus cerita cerita soal yang macam ini. Ku lanjut cerita ke hal lain kalau begitu.

Photo by Samuel Silitonga from Pexels

Pada akhir juni ku mendapat kesempatan untuk berdiri di dua jalur ku pun terbang ke arah tanah asal leluhurku dulu. Untuk bergeser saat itu cukup rumit, banyak hal yang perlu dipersiapkan dan sangat ketat aturannya. Banyak keraguan ku saat itu. Yang pada waktu biasa melompat kesana hanya butuh waktu satu jam namun karena halang rintang renik bermahkota semua menjadi rumit, dari memperoleh perizinan sampai segala tes harus dijalani. Berbagai protokol dan jalur jalur lewat yang relatif sulit juga harus ditempuh bahkan harus menginap di tempat penginapan di bandara.

Sesampainya di jalur baru ku juga menemukan banyak hal baru dan pemandangan baru walau karena jalurnya memang searah dengan jalur 3 putaran ku yang lalu sesekali ku berpapasan dengan kawan lama dan guru lama, beberapa orang yang memberikan banyak waktu dan banyak ilmu pada ku dulu tetap berlari searah tujuan. Salah satu dari mereka ada Beliau yang sempat berpesan bahwa kita masih satu nafas.  Sedih memang kalau mengenang beliau kini sudah tidak ada. Beberapa pimpinan jalur yang di 3 putaran lalu berlari bersama juga kini sudah menjadi pemimpin kelompok yang lebih besar dan memiliki tempat yang lebih berkilau, Beliau beliau ini saya salut dan segan karena meski di tempat baru yang lebih nyaman beliau beliau ini masih ramah dan bersahaja seperti dulu bahkan sesekali ada yang menghubungi sekedar saling mengingatkan dan bertukar kabar.

Perjalanan terus berlanjut, kakiku sedikit terasa pegal namun ku tau kita tidak boleh menyerah. Pada putaran kali ini ku mendapat  tambahan semangat semangat baru dan harapan baru.  Perjalanan terus bergulir, tak lagi hanya kerikil yang menyertai kadang yang menusuk bak duri dari tumbuhan putri malu dan ilalang yang sekedar menyapa merasuk hingga dua cm ke dalam kulit. Namun yang paling menghalangi diri justru dari dalam diri kita sendiri sebuah perasaan yang sangat sulit untuk menghadapi rasa jenuh, rasa malas, dan rasa ingin menyerah disaat hal sulit terus bergelayut kesana kemari. Memang tak jarang tak mampu kita atasi dengan baik terkadang ku menang melawan namun tak jarang juga ku harus rela mengaku kalah. Ini yang sulit bukan. Karena sulit ku juga harus ku akui ku bahkan sering tidak mengakui hal itu.

Yang Menguatkan di Putaran 20 dan Harapan di Putaran 21 yang Mungkin Sama gelapnya namun Ku yakin Kita Bisa Melalui yang Ini Lagi

Hal yang menguatkan ku di putaran 20  tidak lain karena ku telah berinvestasi pada banyak hal. Bukan bukan investasi pada emas, pada reksa dana, saham atau pada perangkat pendukung saja namun investasi terbesar yang paling memberikan arti paling besar bagiku selama putaran 20 ini adalah investasiku pada diri sendiri pada otakku, pada hatiku dan juga tentunya pada hubungan ku pada yang lain bertegur sapa dan bertanya kabar. Karena semua itu, ditambahkan berbagai macam keberuntungan dan usaha ku boleh anggap putaran 20 ini berhasil kulewati dengan cukup baik. Untuk itu melalui tulisan ini ku ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan berkah dan karunianya selama ini, pada diriku yang tetap bertahan dan tangguh di masa sulit, kepada orang tua kepada teman yang terus mendukung, kepada “Dia” yang menenangkan dan menyenangkan, dan juga kepada para “guru-guru” yang selama ini membimbing setiap jalanku, pada rekan baru yang memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berarti dan pada semuanya yang meski sekelebat namun memberikan peran dengan berbagai porsinya. Ku mensyukuri semua itu. Berkat semua hal yang kusebutkan tadi target target ku di putaran 20 ini banyak yang tercapai bahkan terlampaui berlipat lipat. Menyenangkan sekaligus menegangkan.

Menjadi manusia, itu saya rasa akan menjadi kunci kita kedepannya. Bukan hanya manusia yang menginginkan hidup, bernapas dan berkembang biak namun menjadi manusia yang berharap dan berusaha untuk menorehkan arti pada manusia lainnya dan pada segala di sekitarnya. Di putaran 21 ini fokus ku akan tetap berinvestasi pada otak dan hati dan juga pada hubungan, meneruskan hal yang tertunda. Membaca berbagai referensi tentang penyelesaian permasalahan yang terstruktur (Lean Analytics, Six Sigma) dan belajar dalam mengelola data berupa kata lanjutan dari putaran 20 dan juga beberapa literatur lain yang saya temukan nanti. Target 25 buku pada putaran 20 lalu yang hanya berhasil saya selesaikan 7 agaknya sangat nista dan saya berharap di putaran 21 ini saya berhasil menuntaskan 30 buku. Saya juga akan membaca berbagai artikel artikel lucu dari HBR, dan Medium. Oia saya juga berusaha menulis blog setidaknya seminggu sekali ya. Soal hubungan pertemanan dan percintaan saya hanya bisa berusaha lebih konsisten dan persisten saja lalu kemudian serahkan pada yang diatas hehehe. Untuk hal ini perlu ketulusan luar biasa yang perlahan meski sulit perlu kita terus pelajari dan kita terapkan dalam keseharian. Yah sekali kali khilaf tidak apa. Memang hal ini tidak berkaitan terlalu erat dengan perlombaan lari kita namun entah perasaan saya saja namun saya yakin akan bermanfaat di kemudian hari.

Photo by Jeswin Thomas from Pexels

Soal kesehatan sudah sepatutnya ku akan menjaga kebiasaan-kebiasan baik berjogging di setiap minggu, dan makan makananan yang enak macam babi guling es krim, mie ayam hehehe. Terkait karir ada hal yang memang perlu sangat saya perbaiki baik dalam manajemen waktu dan pengelolaan mood saat bekerja agar lebih produktif, saya akan mulai mengetatkan dan menyehatkan jadwal kegiatan saya. Dan terkait finansial yang dulunya saya berharap meningkat 10 kali lipat dibandingkan putaran 19 ternyata secara mengejutkan berhasil tercapai. Yang saya harapkan pada putaran 21 ini akan saya bukan coba sepuluh kali lipat lagi namun lebih dari itu ku ingin menjadi lebih bijak dalam mengelola keuangan. Lebih banyak berinvestasi pada hal hal yang berguna dan bermakna sembari meningkatkan dan berjaga jaga agar tidak terjebak pada orientasi pada uang yang berlebihan dan saya rasa itu jelek sekali dan merusak kesenangan kita dalam bekerja. 

Itu saja yang kuharapkan di putaran 21. Saya rasa tulisan ini sudah terlampau panjang dan mengarah tidak tahu jundrungannya. Rencana ini memang masih sangat abstrak dan belum terperinci, saya sadar hal itu. Namun saya rasa berlayar tanpa peta akan mengasyikkan. #mungkin.

Selamat tahun baru semua. Mari kita berlari lagi, dan lalui semua ini bersama, mungkin berat di depan sana namun tidak ada salahnya kita untuk tetap berharap.

Yah, memang akhirnya putaran ini berhasil kita lalui bersama, namun kita pun mengetahui kalau tidak sedikit  yang kurang beruntung hingga mereka tidak mampu mencapai titik ini. Mereka yang kita kenal yang berbicara diskusi dan bercengkrama mungkin tidak akan lagi bisa melanjutkan marathon ini menuju putaran 21 22 dan putaran putaran selanjutnya. Namun ku tersadar ini bukanlah sekedar perlombaan maraton. Ada berbagai tongkat mimpi yang saling kita pertukarkan antara pelari satu dan pelari lain. Ada tongkat harapan yang kita bagi antara pelari satu dan pelari yang lain.  Ada pula tongkat berbalut tetes keringat, tangis bahkan darah yang kita genggam bersama untuk membawa perjalanan kita berarti bagi pelari pelari berikutnya. Maraton putaran kali ini memang cukup berat. Namun bukan berarti tidak ada harapan sama sekali, tidak ada mimpi yang bisa digapai tidak ada pertolongan yang bisa diharapkan. Dalam putaran ini kita diajarkan bersama tidak berbatas pada bersama dalam jarak. Namun lebih dari itu, kebersamaan memiliki artian yang lebih luas, kita punya satu nafas, kita punya satu arah. Tetap bersama mari kita bersama berlari melanjutkan hal yang telah kita rintis di putaran putaran terdahulu bersama pelari yang dahulu untuk menyongsong jalur dan senyum yang baru. Dengan begitu kita akan tetap menjadi manusia. 

NB:

Feature Photo by Jeswin Thomas from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Cerita tentang Tak Pasti

December 9, 2020 — by dewaputuam0

pexels-pixabay-258510-960x720.jpg

Aku pasti jatuh lagi yah,..

kata seorang anak kecil berkaki kecil kepada ayahnya sambil menuntun sepeda kecil beroda dua. Dua roda mungil tambahan yang biasa terpasang di kanan dan kiri roda belakang sepeda hilang entah kemana. Ia memiliki keinginan keras untuk menaiki sepedanya, namun hilangnya roda tambahan yang selama ini menopangnya membuat ia berpikir lebih banyak dari biasanya. Jatuh adalah satu satunya yang terpikir olehnya, sebuah bayangan ketakutan akan sakitnya saat jatuh terus bergelayut di antara alam pikirnya yang masih sebatas mata memandang saja.

Belajar Sepeda itu Sulit dan Menyakitkan Apalagi saat Terjatuh

Sambil tersenyum jahil sang ayah pun memutar bola matanya dan seketika sudah berganti wajah menjadi penuh semangat dan gairah, ia dengan perlahan berkata 

“Pasti jatuh..? yakin ?” senyumnya tersungging kecil menggoda anaknya yang sedang bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Bahunya mulai melebar dan merentangkan tangan bersiap siap menjaga jaga segala kemungkinan seiring gerakan si anak kecil itu yang mulai bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Tanpa sepengetahuan si anak kecil, ia memang telah menyembunyikan kedua roda tambahan dari sepeda kecil anaknya. Trik sederhana dan kebohongan kecil yang sengaja dilakukan agar si anak kecil itu dapat memulai kayuhan pertamanya tanpa ditopang roda bantu lagi.

Sepeda (Sumber: Photo by Roman Koval from Pexels)

Anak kecil berkaki kecil itu kembali ke posisi siap mengayuh sepeda kecilnya lagi dan sang ayah berada di sekitar anak kecil itu. Kaki kanannya  mulai diletakkan di pedal sepedanya dan memulai kayuhan pertamanya. Sepeda Pun mulai bergerak namun terhuyung kekanan dan kiri, genggaman anak kecil itu pada setang sepeda kecilnya masih belum terlatih untuk menjaga putaran ban sehingga meliuk kanan dan kiri sebelum jatuh terjerembab. Berkali kali anak kecil itu terjatuh lagi dan lagi hingga akhirnya bersama jingga langit senja, samar samar terlihat siluet anak kecil itu mengayuh sepedanya jauh dan terus menjauh dari sang ayah.

Dari apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir, banyak hal yang saya pelajari dari hal yang sangat remeh seperti menyimpan buah pisang di dalam lemari es ternyata bukan ide yang bagus karena pisang akan rusak dalam waktu semalam saja. Pelajaran tentang bersepeda,  Hingga hal hal yang kurang begitu sederhana seperti yah sudah lah tidak perlu dibahas di sini. Hehe.

Ini Cerita Tentang Tak Pasti

Namun pelajaran yang menurut saya penting dan menurut saya tetap relevan setidaknya hingga beberapa dekade ke depan adalah tentang “Ketidakpastian”. Dari apa yang terjadi selama ini “Ketidakpastian itu satu-satunya yang pasti”. 

Ku banyak belajar tentang ketidak pastian ini dari berbagai kegagalan yang saya hadapi selama ini, saya rasa semua orang tentu pernah merasakannya. Tentunya dengan porsinya masing masing. Adanya ketidakpastian yang menari indah bersama ekspektasi yang tinggi ditambah dengan bumbu bumbu kurangnya keberuntungan, dan berbagai faktor x kadang membawa kita pada kegagalan. Namun dalam berbagai situasi yang bumbu bumbunya sama tidak jarang justru membawa kita pada keberhasilan yang bahkan tidak pernah kita duga sebelumnya.

Jika tidak mau disebut semua, saya akan PD berkata bahwa “Hampir segala” hal disekitar kita mengandung suatu ketidakpastian. Ada ketidakpastian di dalam permainan dadu, dan bahkan ada pula ketidakpastian arah terbitnya Sang Raja Siang. Sang Mentari tidak pasti selalu terbit dari arah Timur. Beberapa bulan ini condong ke Utara lain waktu condong ke Selatan. Secara semu terus aja begitu berganti arah terbit sambil menebar ketidakpastian pada angin, hujan, badai dan sanak perudaraannya. Dalam sesuatu hal yang kita anggap pasti bukan tidak mungkin tanpa diduga akan ada suatu penyimpangan yang membuat kadar kepastian itu tidak lagi 100%. 

Hal ini menjadi kian tidak pasti saat kita sama sama memasuki tahun 2020 yang oleh sebagian orang “mungkin” menjadi salah satu tahun terburuk yang pernah kita rasakan. Saya mengatakan “mungkin” karena pernyataan itu juga mengandung ketidakpastian. Tentunya saya tidak ingin melanjutkan kalimat kini pada kemungkinan kemungkinan lainnya mengingat sudah terlalu banyak kehilangan yang kita rasakan pada tahun 2020 ini. Entahlah dengan 2021 yang akan kita songsong dalam waktu dekat ini.

Saat saya membuat tulisan ini awalnya saya sangat PD bahwa “Pasti itu tidak ada”. Dan ternyata setelah dipikir pikir, bahkan pernyataan itu pun bukan pernyataan yang pasti. Hah sudahlah agaknya tidaklah perlu kita terlalu memikirkan dan mencurahkan segala pikiran kita pada sesuatu yang tak pasti. Jika meminjam istilah pada film yang baru saja tamat pada minggu kini, 

“Berlayar tanpa Peta” agaknya menjadi sesuatu yang menarik untuk dilakukan, tentunya bukan serta merta dengan bodohnya bergerak tanpa kendali dan arah yang pasti. Tetapi saya justru melihat berlayar tanpa peta juga berarti dalam menjalani hidup tidaklah perlu mempunyai perencanaan yang terlalu detail dan membebani. Peta yang ada saat ini, tidaklah secara pasti menggambarkan situasi saat ini, bukan tidak mungkin banyak perubahan yang terjadi yang menyebabkan saat kita terlalu terpaku pada peta justru kita tidak mampu merespon apa apa saja yang terjadi sekarang dengan cekatan. Semua hal berubah dari ombak hingga angin, bahkan tujuan kita juga terkadang dalam suatu situasi diharuskan berubah karena sesuatu dan lain hal. Kembali lagi pada tidak pasti.

Namun apapun itu justru dengan ketidakpastian itulah yang membuat perjalanan kita menjadi menarik bukan. 🙂 (Jadi penasaran apa yang akan terjadi kedepannya).

Yup apapun yang ada di depan ntah itu menyakitkan ataupun justru menyenangkan agaknya akan semakin seru dan menarik. Mungkin ini awalan yang cukup baik untuk memulai perjalanan baru ini sebuah perjalanan yang panjang. Sebuah perjalanan yang tak pasti.

Feature Photo by Pixabay from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Arc BNPB ini saya akhiri sekarang, selanjutnya?

December 31, 2019 — by dewaputuam0

gray-cardinal-direction-compass-1144321-960x640.jpg
Sebuah perjalanan tidak akan bermakna ketika arah yang ingin kita tuju pun tidak kita ketahui. Begitu juga dengan perjalanan hidup kita, arah yang pasti akan menentukan seperti apa perjalanan kita Photo by Alex Andrews from Pexel

Hidup itu tentang bergerak, berubah dan kemudian bermakna. Dalam sebuah perjalanan akan ada permulaan dan ada pula akhiran yang menutup lembar lembar cerita menuju cerita perjalanan berikutnya. Sudah 2 tahun 10 bulan saya merangkai cerita bersama di BNPB sebagai salah satu anggota dari tim yang kemudian disebut sebagai Pusat Analisis Situasi Siaga Bencana (Pastigana). Dalam menghabiskan waktu yang tidak sebentar namun tidak pula terlalu panjang itu sudah banyak hal yang kami lakukan dari hal hal yang membuat kami sulit untuk tidur hingga hal hal yang membuat kami tertawa terbahak bahak.

Jika melirik kembali kebelakang, dapat dikatakan perjalanan kami bukanlah perjalanan yang mudah. Misi utama yang diberikan pada kami pada memberikan informasi analisis dan prediksi dari suatu kejadian bencana baik dalam bentuk narasi maupun bentuk informasi geospasial. Misi tersebutlah yang kemudian memotivasi kami dan juga termasuk saya untuk membayangkan dan menggapai apa apa yang kami rasa sepatutnya ada dan diperlukan saat terjadi bencana. Terlihat keren dan luar biasa bukan?

Ini bukan seberapa cerdas kita menemukan sebuah ide, namun seberapa banyak kita mencoba. Ide brilian yang kalian lihat hanya 1% dari tumpukan sampah ide konyol dan tidak berguna yang setiap hari kami coba dan lakukan.

Hal ini baru saya ketahui beberapa bulan belakangan ini. Ternyata pada awal awal bekerja disini saya tidak begitu disukai teman teman saya. Setelah saya tanyakan alasannya, yah ternyata terletak pada kebiasaan buruk saya untuk mendebat ide ide dan saran yang ada didepan saya hmm,.. dan juga cenderung bekerja sendiri saat saya merasa berat untuk menjelaskan apa yang ingin saya lakukan. Untuk urusan mendebat ide dan gagasan sepertinya sudah menjadi template saya yak. Kebiasaan ini saya bawa dari kecil jangankan teman spermainan atau teman kerja, asisten praktikum, guru, dosen bahkan profesor pun saya debat saat pendapat yang nereka utarakan berbeda dengan yang saya yakini wkwkwk. Terkadang memang terlihat bebal dan tidak mau menerima pendapat orang lain, namun percayalah tidak sedikit perdebatan yang saya lakukan diakhiri dengan saya yang akhirnya tersadar bahwa pendapat saya yang salah dan kemudian saya mengakuinya.

Perjalanan ini perjalanan bersama kalian, dari tangan tangan kalian semua kisah dan cerita terukir dan terlengkapi dengan sempurna. (Photo by Italo Melo from Pexels)

Untuk yang bekerja sendiri, saya akui itu dan semua itu karena terkadang saya kurang mampu mengkomunikasikan kepada orang lain apa yang saya ingin lakukan. Jadi alih alih saya berdiskusi, biasanya saya akan menyendiri berkutat dengan perangkat kerja saya sendiri dan kemudian saat semua selesai biasanya baru akan saya komunikasi dan diskusikan pada orang lain untuk kemudian dikoreksi dan dikritisi untuk perbaikan. Itu tampaknya lebih mudah dilakukan dari pada mendiskusikan konsep yang masih kosongan tanpa wujud.

Dalam melakukan hal tersebut, tidak semua ide yang saya miliki berhasil saya eksekusi, 99%nya justru gagal dan kemudian menumpuk dalam folder yang saya namakan “mini riset” . Kemarin saat saya backup dan pindahkan dari PC kantor ke Hardisk eksternal saya ternyata kapasitasnya mencapai 70-an Giga, ini belum yang memang ada di perangkat milik saya sendiri yangbelum saya rapi rapikan lagi. Prinsip yang saya pegang adalah, jika ada hal baru maka langsung coba kunyah, kalau kurang bagus lepeh dan simpan siapa tau akan bagus saat disimpan kemudian dikunyah lagi. (macam permen karet daur ulang hahhaha)

Tetapi semua itu hanyalah omong kosong dan sedikit sekali makna yang dapat diambil dari apa yang saya kerjakan sendiri itu. Saat kita bekerja sendiri, meskipun sesempurna apapun ide dan gagasan yang kita kelola hasilnya selalu tidak memiliki jiwa dan berkesan mati, hambar dan kurang dapat dinikmati. Tidak ada keistimewaan dari kesemua itu. Hingga suatu hari saya tersadar, ada satu yang kurang. Sehebat apapun kita, secerdas apapun kita (apalagi macam saya ini yang biasa biasa saja) kita tidak akan dapat merubah dunia sendirian. Saat ku bekerja sendiri, dari 100 ide yang ku kelola dan wujudkan 99nya adalah sampah dan hanya 1 ide yang layak tampil. Namun saat saya berubah menjadi kami, kami menciptakan 1 juta ide dengan 10000 ide layak tampil. 🙂 bukankah itu jauh lebih baik.

Setelah ini, Lalu apa?

Dalam beberapa kesempatan, tidak jarang teman bertanya kenapa saya tetap bertahan bekerja di tempat ini, melihat tekanan yang ada dan kesempatan yang diberikan tidaklah begitu menonjol dibandingkan tempat tempat lainnya. Setiap mendapatkan pertanyaan seperti itu saya biasanya menjawab, saya tidak keluar karena saya ingin menyumbangkan sesuatu yang benar benar saya banggakan dan dapat berguna bagi di sini agar suatu waktu saat saya pergi, setidaknya nama saya masih sedikit dikenang. “Sesuatu itu” adalah sesuatu yang saya idam idamkan untuk saya berikan dari awal saya bergabung. Kita sebut saja sesuatu itu sebagai One Piece. Saya pernah sesekali mengutarakan nya namun karena begitu berat akhirnya mental begitu saja. Hal yang saya lakukan kemudian memecah “One Piece” itu menjadi beberapa bagian kecil yang saya rasa masih masuk akal untuk dikejar.

(Photo by Naveen Annam from Pexels)

Bagian bagian kecil inilah yang kemudian saya coba utarakan, kami kelola dan selesaikan untuk dirilis satu-satu. Mungkin hanya sedikit yang sadar kalau ide ide yang saya berikan bukanlah ide ide yang terpisah seutuhnya, namun bagian kecil dari sebuah ide besar yang saya impikan di awal yang pernah saya utarakan dulu sekali.

Ternyata waktu dan lingkungan kemudian tidak lagi bersahabat dengan kami. Semakin lama semakin hilang sumberdaya kami, pengurangan itu menghasilkan kehilangang energi kami secara signifikan. Kepingan kepingan puzzle yang kami buat mental dan tenggelam begitu saja. Saat dirilis pun tidak jarang mendapati tanggapan alakadarnya dan sekedar “oh”. Saat itu hati saya merasa hancur dan putus harapan. Motivasi sayapun beberapa kali terkoyak untuk hal yang tidak perlu. Rutinitas membawa saya pada jebakan perlombaan tikus yang bergerak hanya untuk mendapatkan uang dan kemudian pulang dan kemudian menghabiskan uang tersebut untuk mendapatkan uang itu kembali. Hal itu tidak hanya berdampak pada kelompok, namun berdampak pada saya secara pribadi. saya semakin hilang arah dan kehilangan makna. Nilai pribadi yang sendari dulu saya perjuangkan pun terlupakan dan tergantikan kemudian membentuk pribadi yang dalam kaca pun sudah tak bisa saya kenali lagi.

“Perjalanan saya di sini sudah mencapai batasnya dan sangat sulit untuk menerima semua itu. Namun jika saya tetap melanjutkan hanya akan berakhir pada kekecewaan saja.” Dari sini saya sadar, saya harus berhenti sejenak bukan untuk mundur namun untuk merubah haluan haluan sedikit lalu kemudian melanjutkan perjalanan saya. Melalui jalur yang sepenuhnya baru.

Kesempatan itupun datang ketika salah satu rekan saya menawarkan merintis sebuah tim untuk mengerjakan sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak pernah saya pikirkan namun saat saya pikirkan dan diskusikan ternyata sesuai dengan tujuan saya sebelumnya. Melalui tim ini kemudian kami memulai lembar cerita baru kita MenCari dan menelusuri sebuah jalan yang baru dengan asupan ide ide segar dari orang-orang baru yang bahkan kerangka berpikir nya berbeda jauh dari yang pernah saya pelajari. “Menarik”, itu satu kata yang pertama kali terlintas dalam benak saya. Dengan meniriskan sedikit keraguan kemudian saya masuk kedalam Arc selanjutnya dalam perjalanan saya.

Feature Image by Rafael Pires from Pexels

BencanaDaily LifeUncategorized

Mereka Datang Tiba-Tiba dan Kemudian Pergi Meninggalkan Luka

February 11, 2019 — by dewaputuam2

OKCHTH0-min-960x640.jpg

Ini bukan kisah cinta untuk di nikmati. Ini juga bukan kisah nestapa untuk diratapi. Ini hanya sebuah kisah lalu, kini dan mungkin hingga esok akan terajut dan berlanjut. Ini sebuah kisah tentang getaran yang selalu ada di sekitar kita yang datang tiba tiba kemudian pergi meninggalkan luka. Yah ia memang datang tiba tiba dan dan hanya sebentar ia bertahan dan terkadang menjadikan beberapa detik seakan memanjang menjadi ribuan tahun. Saat ia datang waktu terasa sangat panjang. Saat ia datang, tak hanya hati yang bergetar, bangunan bangunan pun ikut bergetar. Hati dan bangunan yang tak mampu menahan semua getarannya akan runtuh, hilang dan kemudian ahh sudahlah saya sudah tidak ada ide lagi untuk melanjutkan kata kata ini.

Mereka yang Masih Menghantui

Mungkin terbaca sebagai paragraf pembuka yang super berlebihan ya #hahaha. Jujur saya bingung dari mana harus memulai tulisan ini. Intinya si pada tulisan saya kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman dan juga kesan kesan saya pada saat menangani bencana Gempa. Saya memilih topik ini karena ssssst saya tidak tahu agaknya masi sedikit berasa gempa semalam, meski g separno-an beberapa bulan lalu, tapi masi ada sedikit traumatik berupa tiba tiba halu kena gempa padahal tidak ada. Tidak jarang pula saya lirik-lirik tembok dan melihat ada retak atau tidak untuk memastikan bahwa saya sedang berada di tempat aman jikalau sewaktu waktu gempa terjadi.

Kejadian gempa terasa lebih sering terjadi pada tahun belakangan ini, pada tahun 2018 saja kita dikejutkan oleh kejadian kejadian gempa yang sangat dahsyat dan membuat ribuan nyawa menghilang. Untuk memberikan sedikit gambaran, saya sertakan peta interaktif kejadian gempa besar dengan magnitud >5 yang terjadi selama tahun 2018-2019. Dalam peta tersebut kalian bisa zoom in dan zoom out untuk melihat lebih detail dan untuk keterangan symbolnya dapat dilihat dengan menekan simbol “>>” di pojok kiri atas peta interaktif yang saya buat di bawah ini. Untuk melihat informasi lebih detil terkait tanggal dan magnitude gempa kalian dapat menekan titik titik merah tersebut. Berasa tukang jual peta ya,.. #hehehe. Vintagenya berasa banget ya di peta ini #jualanlagi.

Oia, dalam tulisan ini mungkin ada baiknya saya ikut meneruskan suatu ide atau agak lebih tepat bila kita sebut sebagai kritikan untuk beberapa orang yang meyakini bahwa gempa itu dapat membunuh manusia. Kritikan datang dari seorang Seismolog Imperial College London yang menyatakan bahwa “Earthquake don’t kill people, buildings do” . Pernyataan ini saya rasa cukup masuk akal dan ada benarnya karena dari yang selama ini saya lihat, para korban, tidak meninggal karena diguncang gempa, namun kebanyakan dari mereka tertimpa oleh bangunan. Dan untuk kasus yang terjadi di Palu kemarin, kita juga patut belajar, bahwa ada kalanya tuhan pun berkehendak lain, dalam bangunan yang sudah kuat pun dalam kasus ini tanah dapat menelannya (saya tidak tahu kata kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi disana). Jika sudah seperti ini cara terbaiknya adalah hindari tempat tempat seperti itu, tempat tempat dekat patahan dengan permukan air yang dangkal.

Kebodohan dan Ketidakpedulian Bisa Berharga Sangat Mahal

Kembali kepermasalahan bangunan, saya seringkali melihat kualitas bangunan bangunan yang dibangun dalam beberapa tahun belakangan kualitasnya cukup mengkhawatirkan. Jika sebelumnya saya kesulitan menancapkan paku di tembok rumah saya di Lampung, beberapa rumah terkadang temboknya mudah dikelupas bahkan dengan sendok makan sekalipun. Tidak ada gempa atau angin, beberapa rumah yang baru dibuat juga terkadang terlihat jelas retakan retakan ini beberapa kali saya lihat saat saya berkunjung ke kosan-kosan teman saya dulu di Bogor (lama sekali,… hahaha) yang notabennya dibangun di area bekas sawah. Yah seperti kita ketahui bahwa sawah itu biasa di bangun di wilayah yang permukaan airnya dangkal sehingga mudah digenangi oleh air. Apa jadinya bila wilayah tersebut merasakan guncangan yang besar. Meski kita tetap saja tidak tahu mana yang pasti, tapi bukan hal yang buruk bila kita sudah memperkecil kemungkinan terjadinya.

Agar tidak kembali terluka oleh “Mereka yang datang tiba tiba” itu, Kita perlulah lebih kritis dalam menentukan lokasi dan lebih serius dalam membangun bangunan. Tentunya itu demi kebaikan kita, keluarga kita dan orang disekeliling kita, jangan sampai kita membayar sangat mahal untuk kebodohan dan ketidak pedulian kita dalam menentukan dimana kita akan tinggal.

(Dewa Putu AM, 2019)

Akhir kata saya ucapkan cepat beli sekarang juga karena hari senin harga naikkk,.. #krik

Sekian tulisan alakadarnya dari saya (untuk memenuhi tuntutan untuk lebih produktf menulis di tahun 2019) akhir kata terimakasih atas perhatiannya membaca bualan bualan saya, jika ada yang baik silahkan di simpan jika ada yang buruk silahkan dilupakan saja tanpa meninggalkan luka.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Gambar

Peta Interaktif created by Dewa Putu AM, with Vintage basemap by mapbox

Featured photo created by lachetas – www.freepik.com