main

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Mari Berpikir Positif Tentang Hari Ini” Agaknya Bukanlah Pilihan yang Baik untuk Saat Ini Kawan

April 19, 2020 — by dewaputuam2

person-standing-beside-car-1853537-960x1440.jpg
Sudah berapa lama ini semua terjadi, apakah akan kembali masa seperti dahulu, sebuah masa saat setiap paginya kita melihat wajah ceria wajah kusut bercampur aduk dalam kerumunan makhluk makhluk pagi yang berkerumun bergerak memulai aktifitas hari barunya, atau akan ada Normal yang baru yang mengubah semua? ( Photo by Artem Beliaikin from Pexels )

Haloo, setelah sekian lama akhirnya saya menulis lagi, mungkin ada yang rindu dengan gaya tulisan saya yang hambar tanpa hati, atau ada yang skip skip saja. Apapun kesan kalian, saya harap teman teman semua tetap diberikan kesehatan ya, tetap hidup dan kita akan bertemu esok hari #janji. Oke, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pikir dan gagasan yang tentu tidak serta merta muncul begitu saja dari saya, melainkan terinspirasi dari beberapa buku yang paling banyak mempengaruhi si  filosofi teras karya Henry Manampiring dan Everything is F*ck karya Mark Manson.

Ini tentang bahayanya berpikir positif dengan segala kiasan kiasan yang dibawa bersamanya seperti. “Hei semua baik baik saja, ini tidaklah seburuk itu. Setelah ini akan ada kebaikan. Itu terlalu berlebihan, cobalah lihat dari sudut pandang ini nilai yang besar itu akan tampak kecil kok. Pada intinya “berpikirlah positif” dalam kondisi apapun dan bagaimanapun termasuk situasi seperti sekarang ini. Dalam kondisi pandemi, yang meski dampak terburuknya adalah banyak nyawa melayang, namun dampak ekonominya juga tidak boleh serta merta kita sepelekan.

Berpikir positif seakan menjadi salah satu kiblat yang diagung agungkan bagi sebagian orang. Hal ini saya rasa oke oke saja, tidak masalah bahkan memang bagus. Sampai suatu hari saya menemukan sebuah tulisan tentang penyajian data kematian yang sebelumnya dibandingkan dengan jumlah terkonfirmasi sekarang diubah menjadi per satu juta populasi. Sampai di sini semua  masih saya anggap oke oke saja. Karena dengan cara itu setidaknya angka berubah menjadi kecil dan urutan Indonesia menjadi masih bisa dimaafkan lah dalam Pandemi ini. Terlepas dari teknik statistik preman yang digunakan, sudahlah tak apa yang terpenting terlihat cantik, bukannya fungsi statistik itu untuk menipu? Tidak ada yang benar dalam statistik, namun sebagian memiliki manfaat begitu kata seorang dosen statistika di kampus saya dahulu yang masih teringat oleh saya.

Jika semua baik baik saja, lalu dimana permasalahannya. Permasalahannya ada di kita. Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah artikel yang menarik, Saya tidak ingin membahas isinya, intinya cukup negatif yang menginfokan bahwa Indonesia sekarang sudah menduduki puncak klasmen sementara di kawasan Asia Tenggara. Cukup menyeramkan, namun dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas hal itu. Saya justru ingin berdiskusi tentang diskusi para Netizen di bagian komentarnya hahahha. Disana terlihat jelas mana orang orang yang pesimis dan mana pihak  yang berpikir positif. Mereka saling bertarung adu jempol. Kedua gagasan dari mereka terlihat masuk akal dan menyentuh ada yang menggunakan gagasan per satu juta yang tadi saya sebutkan hingga menganggap Indonesia tidak seburuk itu dan kemudian ada yang menimpali, seberapapun itu itu nyawa manusia bukan sekedar angka. Hampir setiap berita buruk selalu ditimpali seperti itu dan terkadang dibumbui hal hal positif yang menyentuh lainnya.

Berpikir negatif memanglah tidak baik dan membuat banyak permasalahan menjadi lebih berat dari seharusnya, apalagi jika yang kita pikirkan hanya yang negatif saja. Lalu bagaimana dengan berpikir positif? apakah itu menyelesaikan masalah atau memperingan masalah? Jika kita tarik kebelakang sebelum semua seperti ini kita sudah kenyang dengan puisi puisi positif yang menyatakan bahwa kita kebal Corona, bahkan banyak sekali memenya yang menebarkan aura positif. Apakah semua itu menghindarkan kita dari masalah? Terserah si mau diakui atau tidak, nyatanya semua sudah seperti sekarang. Itu saja cukup.

Ok, permasalahan Berpikir Positif kita kesampingkan dulu dan kita biarkan mengendap dulu dalam pikiran kita. Yang perlu dicatat sekarang adalah berpikir positif itu juga tidak lepas dari kekurangan, sama halnya dengan berpikir negatif. Sulit dicerna memang, saya pun merasakan demikian ketika menemukan gagasan ini dalam kedua buku karya Henry Manampiring dan Mark Manson sebelumnya.

Sembari menunggu mengendap, saya ingin ke topik lain yang rasanya cukup menarik untuk disampaikan di sini.

Ini bukan tentang memilih Kemanusiaan dan Ekonomi, karena pada dasarnya kesempatan kita memilih itu tidak ada.

Hei,.. Apa yang kamu pikirkan dan rasakan sekarang, masihkan kalian berharap atau justru sedang dalam proses jatuh yang tidak tau kapan mencapai dasarnya. ( Photo by Burst from Pexels)

Mari kita cicipi sebentar cara berpikir negatif, coba kita angankan berbagai kemungkinan terburuk yang sedang kita hadapi dan akan kita hadapi. Dalam filosofi Stoa, cara berpikir seperti ini cukup ampuh untuk merunut segala kemungkinan yang ada dan menyiapkan mental kita untuk segala kemungkinan tersebut, meskipun faktanya sesuatu terburuk yang kita pikirkan tersebut pada akhirnya tidak akan terjadi, atau paling tidak tidak akan terjadi dalam tingkatan yang kita pikirkan. #semoga.

Saya melihat, setidaknya ada dua isu yang dipertentangkan oleh kita sepanjang bulan bersama kekasih baru kita yang bernama Covid19 ini.

  • Kemanusiaan: dampak langsung dari virus corona yang paling dekat adalah kesehatan kita dan dengan berat hati harus kita akui nyawa kita pun terancam. Meskipun tingkat kematiannya tidak begitu besar #katanya, namun kemampuan persebarannya tidak dapat diremehkan sama sekali.  Ini teman teman pasti sudah sering dengar dan membaca, bahkan mungkin juga seperti saya yang sudah bosan mendengarnya. Tetapi saya disadarkan oleh sebuah artikel Tomas Pueyo dalam situs medium, kejadian pandemi seperti ini ternyata memberikan dampak kesehatan lainnya yakni penurunan kapasitas sistem kesehatan kita (rumah sakit maupun sdm nya). Jumlah sumber daya  medis yang kini banyak difokuskan untuk menangani corona. Dalam kondisi tertentu akan mengakibatkan penurunan kapasitas dalam penanganan kesehatan lainnya baik yang berupa kejadian kejadian yang biasa terjadi (kecelakaan dan penanganan penyakit kronis) maupun kejadian luar biasa seperti potensi bencana yang sewaktu waktu bisa saja terjadi. Dampak terburuk dari segi kemanusiaan yang terpikir oleh saya tentunya jumlah kematian yang tinggi, bukan hanya kematian langsung oleh virus namun juga kematian yang disebabkan oleh lumpuhnya fasilitas kesehatan kita. Hal ini dapat lebih buruk lagi bilamana terjadi bencana besar seperti yang beberapa tahun kemarin. Siapkah kita untuk ini?
  • Ekonomi: sudah mulai terasa untuk sebagian orang dampak dari corona ini terhadap kondisi ekonomi kita dari saham saham yang bertumbangan, omset omset usaha yang turun hingga pemecatan besar besaran.   Jika kita melihat secara sederhana, memanglah mudah menentukan prioritas antara kemanusiaan dan ekonomi. Namun pilihan tidaklah sesederhana itu. Coba kita pikirkan lagi deh, ini bukanlah sebuah pilihan yang sederhana, dimana saat kita menghempaskan satu pilihan maka pilihan lain akan menjadi pilihan yang teratasi dengan baik. Ekonomi itu mengikat banyak aspek kehidupan dan bahkan mengikat #kehidupan itu sendiri. Perekonomian yang hancur dapat menjalar pada permasalahan permasalahan dari yang remeh seperti tidak dapatnya terlalu hura hura hingga pada sesuatu yang serius seperti potensi kenaikan kriminalitas, kesehatan mental dan fisik kita dan juga keberlangsungan hidup. Beberapa kanal berita menyebutkan 60% ekonomi kita bergantung pada usaha nonformal, atau jika dihitung secara kasar 150 juta orang. Jika semua itu lumpuh, dan lapar maka semua hal dapat saja terjadi. Bukankah ini permasalahan kemanusiaan juga

Kita disini bukan untuk diskusi apakah pemerintah harus pilih yang mana? tapi lebih pada apapun yang diambil pemerintah, kedua dampak tersebut pasti akan datang pada kita. Kembali pada topik berpikir positif dan Negatif yang sebelumnya kita bahas, sisi mana yang ingin kita ambil sekarang. Apakah kita harus berpikir bahwa kita saat ini sedang baik baik saja, atau panik dan merasa putus harapan. Kedua pilihan tersebut tampak buruk.

Akui dan dan Menyerahlah, buanglah semua harapan kosong kita, tidak baik loh terlalu mabuk akan semua hal positif hanya untuk menghindar dari sesuatu yang buruk dan tidak kita inginkan.

Apakah keberdaan “Harapan” itu baik, meski memang ia yang menarik para hati pahlawan untuk melakukan hal hal heroik, namun “harapan” pula lah yang dipegang dan dijadikan pembenaran bagi Hitler dengan Nazi-nya serta para pemimpin otoriter kejam dalam melakukan aksinya. Lalu apakah “Harapan” itu masih baik? ( Photo by Designecologist from Pexels)

Kejujuran tidak hanya diterapkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Namun justru penting  kita jadikan sarat saat kita berinteraksi dengan diri sendiri. Jika memang tidak baik baik saja, janganlah menambah beban diri dengan berbohong semua baik baik saja. Akuilah bahwa kondisi ini memang tidak sedang baik baik saja bagi kita. Kita perlu akui itu karena kita hanya dapat mengubah sesuatu yang memang milik kita, milik “Aku”. Jika ingin mengubah sesuatu, langkah paling pertama adalah mengakui bahwa “itu” adalah masalah. Poin pentingnya disini adalah buang lah harapan, buanglah ekspektasi. Hal ini juga yang membuat kita terhindar dari cara berpikir negatif. Kita tidak akan putus asa dan juga tidak akan putus harapan jika tidak ada Asa dan harapan yang kita pegang dengan keras. Itu memang tidak mudah untuk kita lakukan 100%. Seiring datangnya masalah kita secara tanpa sadar akan melekatkan asa dan harapan di belakangnya. sebuah asa yang membuat kita berjuang namun membuat kita juga terpuruk saat tak mampu mencapainya.

Semua orang akan mendapatkan paket permasalahannya sendiri dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Akan sangat jahat dan bohong bila ada seseorang yang berkata “Aku paham apa yang kau rasakan”. Tidak, kita tidak akan pernah paham secara utuh apa yang orang lain rasakan. Kita berbeda, masalah yang sama tidak serta merta memberikan dampak yang sama untuk semua orang. Kita tidak dapat memukul rata semua permasalahan dengan satu solusi sederhana. Namun, ada suatu frasa yang menurut saya cocok dijadikan kandidat utama untuk  “solusi sederhana” yang pada kalimat sebelumnya saya sangkal.

Amor Fati

Amor Fati merupakan frasa dalam bahasa latin. Amor (Love) dan Fati (Fate), dalam bahasa Indonesia Amor Fati dapat diartikan sebagai  “Cinta Terhadap Takdir”. Kata Amor Fati sering saya temukan dalam berbagai buku terkait filosofi stoa baik dalam buku filosofi teras nya Henry Manampiring maupun buku Everything is F*ck nya Mark Manson. Amor Fati dalam bahasa sehari hari artinya mirip kata “Nrimo” dalam bahasa jawa, atau suatu frase yang digunakan untuk menggambarkan suatu sikap yang melihat segala hal dalam satu kesatuan sisi baik maupun buruknya secara utuh. Kalau kata mbah Surip “I love you full”. Kita harus mencintainya secara utuh. Ini langkah awal yang saya maksud “mengakui” sebelumnya. Kita perlu mengakui kalau memang ada masalah dan itu sudah takdir kita di zaman sekarang ini. Terlepas itu karma atau apapun alasan kita untuk menunda pengakuan permasalahan ini bukan lagi pada ranah kita.

Setelah kita akui tentang adanya permasalahan ini permasalahan memang belumlah selesai namun paling tidak kita tahu dan akui bahwa saat ini memang ada permasalahan, dan itu perlu agar kita dapat “kendali” untuk  menyelesaikan atau paling tidak kita siapkan untuk hadapi. Poin kendali disini menjadi penting untuk ditekankan karena kita memang tak bisa melakukan apapun pada sesuatu yang kendalinya tidak pada diri kita.

Saya mencoba merangkum sedikit dua poin utama masalah yang sebelumnya kita bahas. Permasalahan pertama adalah banyaknya kematian (mungkin kita akan termasuk di dalamnya), dan untuk permasalahan kedua terkait ekonomi kita bisa jatuh semakin miskin hingga sulit untuk menyambung hidup di tengah situasi yang juga sulit dan penuh kriminalitas. Jika di lihat lihat lagi ternyata serem juga ya.

Permasalahan kemanusiaan tidak hanya berkutat pada hidup dan mati. Namun untuk menyederhanakannya kita batasi saja pada terancamnya hidup banyak orang akibat virus ini. Ok, bila sebagian orang mengatakan rata rata tingkat kematiannya kecil hanya 4%, untuk kasus Indonesia 10%, namun jika persebarannya seluar biasa ini jangankan 10%, satu persen pun merupakan angka yang besar. Sebagai gambaran, menurut hasil survey BPS penduduk Jakarta tahun 2020  diperkirakan mencapai 10.5 juta orang, maka jika kita anggap 1% nya saja yang terpapar maka yang positif bisa mencapai 100k orang terpapar dan 4% dari itu sekitar 4000 jiwa. Ini perhitungan sangat kotor untuk menggambarkan kepada kita seberapa besar 4% itu. yang jadi pertanyaan apakah hanya 1% yang akan terpapar, bisa aja lebih rendah dari itu #semoga. Dan satu hal yang perlu kita ingat angka itu bukan sekedar angka tanpa makna. Angka itu mewakili kita, manusia yang memiliki orang yang menyayangi maupun disayangi.

Permasalahan yang ada disini adalah penyakit, baik persebarannya ataupun tingkat kematiannya. Melihat dan memilah hal yang ada dibawah kendali dengan yang diluar kendali maka secara global persebaran dan tingkat kematian di Indonesia apalagi global bukan dibawah kendali kebanyakan dari kita, kalaupun ada maka kendali itu sangatlah kecil. Namun dari kendali kecil itulah yang harus kita manfaatkan secara maksimal. Intinya kita tidak boleh berpartisipasi menyebarkan virus dan juga tidak boleh mati. Sesederhana dua itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Berikut ini setidaknya ada 3 aktivitas yang bisa saya list sampai saat ini, ketiga hal tersebut saya rangkum dari apa yang ada disekitar saya baik di lingkungan pertemanan maupun sosial media  saat ini. Ketiga aktifitas itu antara lain:

  1. Rebahan (tetap diam di rumah), ini jargon jargon yang sering berseliweran di sekitar kita ya, dan memang membosankan tapi mau bagaimana lagi itu hal paling minim yang memang berada dalam kendali kita. Saya cukup expert dalam bidang #rebahan ini, jika ada yang butuh saran dan konsultasi terkait trik trik rebahan bisa kontak saya 🙂
  2. Membantu apa yang bisa kita bantu, Selain rebahan dan diam di rumah kita juga dapat melakukan hal hal yang menurut saya heroik seperti ikut urun dana untuk membantu sesama melalui pihak pihak yang memang terpercaya. Hal hal lain yang dapat kita lakukan juga dengan cara urun pikiran dalam diskusi diskusi online, dan lain sebagainya. Kita semua memiliki peran berbeda untuk ini.
  3. Saling menguatkan, saling bertanya kabar dengan teman teman juga akan seru dan membantu, kita bisa sekali kali saling sapa melalui video call  bersama keluarga atau teman sekedar menghilangkan sedikit jenuh dan menjaga kewarasan jiwa kita bersama.

Lanjut ke permasalahan kedua. Ini tidak kalah penting dengan masalah kemanusiaan. Jika masalah kemanusiaan berkutat pada bagaimana kita mempertahankan dan menjaga orang orang di sekitar kita, maka ekonomi perlu untuk menjaga masa depan kita. Dunia setelah Pandemi ini akan sangat berbeda, maka kita perlu bersiap. Di dalam kondisi dunia yang semakin tidak pasti ini, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan segalanya, kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan kita selama ini. Putus asa dan harapan memang tidak membantu, namun terus ber asa dan berharap pun tidak pula banyak membantu. Amor Fati menjadi jurus andalan untuk kita pakai dalam situasi seperti ini. Kita terima dan cintai dulu kondisi yang kita alami sekarang baik dan buruknya. Memang tidak mudah bila hal hal itu terlalu buruk, namun akan lebih buruk bila kita menghabiskan energi dan waktu untuk hal hal yang sia sia seperti terus menyangkal kondisi sekarang yang memang sedang buruk.

Mana yang bernilai bagi kita, mana yang akan menjadi prioritas kita menentukan langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya. Dalam kondisi sekarang kita diberikan waktu sejenak untuk kembali memikirkan itu semua kawan. ( Photo by Helena Lopes from Pexels )

Ada sebuah tulisan dalam Ashley Abramson melalui platform medium yang saya baru baca beberapa hari lalu, yang saya rasa setidaknya dapat kita pegang sebagai kerangka kerja kita untuk menghadapi situasi sulit ini. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kemungkinan Come Back kita dari krisis ini dengan cantik.

  1. Mari kita evaluasi dan klarifikasi kembali nilai nilai yang ada dalam diri kita, yang mungkin membedakan kita pada yang lain dan selama ini selalu memberikan dampak pada kita baik positif maupun negatif. Kejujuran kita kah, kemampuan kita beradaptasi kah, keramahan kita kah,kemalasan kita kah, semua itu yang mungkin melekat pada kita coba untuk dievaluasi ulang mana yang masih relevan untuk hari ini dan esok dan mana yang sudah tidak relevan.
  2. Audit prioritas kita, selama ini kita disibukkan oleh banyak hal dan secar disadari atau tidak disadari seringkali kita melakukan hal yang tidak ada manfaatnya atau sia sia. Dalam kondisi dimana kita berdiam diri dirumah memberikan kita waktu untuk berdiam diri dan berkontemplasi tentang apa apa saja yang penting bagi kita dan apa yang tidak penting apakah itu keluarga, diri kita sendiri, persahabatan, kesehatan, uang atau apa? jika pada poin sebelumnya kita fokus pada nilai kita, kini kita fokus pada tujuan kita yang prioritas dan paling penting serta bermakna.
  3. Geser rutinitas kita. Setelah kita mengetahui posisi awal kita (nilai kita) dan memahami mana tujuan yang kita inginkan (prioritas) maka langkah selanjutnya adalah melihat jalan mana yang paling relevan. Apa yang kita perlu lakukan dan dapat kita lakukan. Jika ada kegiatan kita yang kurang relevan dengan nilai maupun prioritas kita maka jangan ragu untuk menggeser ke kegiatan yang lebih relevan.

Posisi Amor Fati tidak memilih positif atau negatif. Posis inilah yang saya rasa paling baik saat ini dimana kita tidak dirundung pada keputusasaan tanpa dasar dan juga tidak dimabukan oleh perasaan positif yang terlalu tinggi tanpa logika.

Lalu pihak mana sekarang yang teman teman pilih? tetap terpuruk dan memikirkan segala keburukan yang ada, mengeluh dan mengeluh setiap hari atau berpikiran positif dan selalu berharap akan ada pelangi di setiap selesainya badai. Atau Amor Fati,… Semua diserahkan pada kalian Teman 🙂

Feature Photo by Artem Saranin from Pexels

BukuDaily LifeOpiniPopular TheoryPsikologiUncategorized

Covid19 dan Kenapa “Mereka” menolak ‘fakta’ dan tidak menuruti anjuran dari “Yang Bukan Mereka”?

March 22, 2020 — by dewaputuam0

person-holding-sign-3951608-960x640.jpg
Tangan kita penuh warna, (Photo by Sharon McCutcheon from Pexels )

Beberapa minggu belakangan ini saya merasa mulai bosan dan suntuk dengan topik pemberitaan dan pembicaraan yang beredar di sekeliling saya. Mungkin teman teman juga merasakan hal yang sama. Pada awal awal pandemik bahkan sampai sekarang, meskipun bosan melanda saya tetap mengikuti terus perkembangan yang ada karena jujur saya sedikit panik dan skeptis dengan penanganan yang ada sekarang yang jika harus berkata jahat, yup kita sudah terlambat 2 bulan.

Tapi ya sudahlah, terlepas dari semua itu tidaklah penting memikirkan hal yang sudah lalu.., Oia saya juga risih dengan pemikiran beberapa orang yang terlalu fokus pada apa kedepannya. Entah itu mengatakan Indonesia hari ini adalah Italia 2 minggu lalu. What the #meeh do you think bro n sist? kalian ingin hal serupa terjadi di sini? yang harus lebih kita pikirkan adalah tentang hari ini, bukan tentang lalu ataupun esok. Boleh kita menatap kedepan, atau kebelakang itu tidaklah haram selama masih ada makna yang bisa kita ambil.

Stop misuh2nya, pada tulisan ini saya ingin sedikit berdiskusi tentang perilaku denial “Mereka“. Kata “mereka” sengaja saya gunakan untuk mengakomodir jikalau teman2 berkelok maaf saya tidak termasuk. 🙂

Fakta, Apa itu fakta. Kita tidak berpikir dan bertindak berdasarkan “Fakta” melainkan berdasarkan “Rasa”

Saya tidak tahu darimana harus memulainya tetapi Perkembangan covid19 semakin meresahkan belakangan ini menyebabkan pemerintah kita akhirnya mengambil kebijakan dan arahan sekaligus mengenalkan kepada kita beberapa istilah baru, canggih dan mungkin asing bagi sebagian orang (termasuk bagi saya hehe) yakni Social Distancing dan Work from home (WFH). Segala hal dilakukan pemerintah dan melalui berbagai media, baik media cetak,elektronik televisi, berita berita online, kanal youtube dan segala media yang ada bahkan melalui media purba seperti sms pun digunakan pemerintah kita untuk memberikan informasi dan “fakta” terkait Covid19 dengan segala printilannya yang saya yakin nih teman-teman sudah sering mendapatkannya dari yang info resmi maupun hoax.

Pemerintah dan kebanyakan dari para pengambil keputusan pun terus memperbaharui namu sayangnya juga beberapa kali diselingi dengan saling cekal dan klaim mulai dari tampilam mana yang paling bagus lagi canggih hingga isu yang “penting” tentang informasi siapa yang benar dan mana yang salah, mulai dari jumlah korban, jumlah positive,siapa yg berhak membagikan data itu, data dan fakta apa yg boleh dibagikan data dan fakta mana yang kurang perlu atau bahkan tak etis bila dibagikan.

Saking seru, heboh dan canggihnya mereka mengelola fakta dan informasi, hingga membuat kadang kita lupa pada sesuatu yang seharusnya menjadi pertanyaan inti dan terpenting untuk dijawab. Apakah informasi itu tadi efektif, dan mampu “Menggerakan” masyarakat kita?

yang dalam hal ini untuk diam di rumah dan menjaga jarak aman atau apapun itu arahannya. (coba lihat dan lirik sekeliling) jawabanya bisa jadi berbeda,.. berbeda dari yg diinginkan hingga tidak jarang muncul keluhan kenapa dia seperti ini kenapa masih saja tidak peduli dengan arahan dan masih pelesiran kemana2 melakukan aktifitas seperti biasa sembari berbagai penyakit. Kesal memang,.. dan kadang kita tidak habis pikir dengan tindakan yg orang orang tadi.

Memang sedikit tidak nyaman dan mengengkang, tetapi mau bagaimana lagi. Photo by cottonbro from Pexels

Apakah masyarakat kita memang sebodoh” ini apakah se denial ini terhadap kasus yang hingga saat ini telah menelan korban jiwa belasan ribu dan besar kemungkinan akan terus bertambah,.. mungkin dari negara kita akan menyumbang lagi (semoga tidak banyak atau bahkan cukup segini saja tidak usah ada tambahan lagi) itu tentu harapan kita bersama #meskikecilkemungkinan.

Apakah fakta yang mendukung kurang? apakah fakta2 dan informasi itu masih sulit dipahami? apakah mereka memang bodoh?

Sebelum menjawab itu semua,… baiklah, kita anggap dulu fakta dan informasi yang diberikan pemerintah dan berbagai praktisi lainnya masih kurang kuat dan kurang mudah dipahami dan masih sangat baru bagi otak otak beku kami kaum rebahan santuy ini. Namun coba duduk sebentar dan coba lirik disekitar kita, pernahkah teman teman melihat bungkus rokok? se-eksplisit apa dampak dampak (fakta) dari rokok yang jelas sekali digambarkan di bungkusnya? apa pendapat teman2, apakah fakta2 tersebut masih kurang, apakah fakta2 itu sulit dipahami, apakah fakta2 tersebut hal yang baru? kita tahu bersama seperti apa efektifitas fakta2 itu pada perokok dan calon perokok baru. efektifkah ?

“Dunia ini tidak digerakan oleh informasi, orang orang tidak membuat keputusan berdasarkan kebenaran atau fakta fakta.Dunia ini digerakan oleh perasaan , dan atau “sebuah nilai” yang akan mengambil posisi lebih tinggi dari fakta tersebut. 

Mark Manson (Everything is F*ck)

Beranjak dari gagasan inilah saya jadi berpikir apakah hal yang terjadi pada peringatan kesehatan pada bungkus rokok juga terjadi dengan peringatan pemerintah soal pengendalian Covid19 akhir akhir ini. Besar kemungkinan hal itu terjadi. Jika kita telusuri baik lagi konten yang beredar selama ini, informasi dan segala himbauan yang dibuat serta disebarkan baik oleh pemerintah kita maupun berbagai praktisi terkait sudah sangat banyak bahkan berlebih. Dari segi kekayaan informasinya serta variasi cara penyampaian maupun sudut pandangnya pun sangat beragam. Sehingga sedikit sekali aspek dan fakta terkait Covid19 yang terlewat dibahas oleh mereka mereka.

Segala media pun digunakan oleh teman teman kita itu dengan segala ancaman yang ada. Dari yang sekedar tulisan ringan dalam chat yang mudah di sebar, story Instagram, Infografis, video, podcast, berita, artikel online, berita elektronik hingga tulisan tulisan ilmiah terus menyebarkan fakta fakta yang ada. Hingga, kecil juga ada satu dari kita yang tidak terpapar informasi informasi tersebut.

Permasalahan kemudahan akses dan kemudahan untuk memahami isi dari pesan pesan itu pun menurut saya tidak menjadi masalah yang berarti, karena segala arahan sudah diinformasikan dengan sangat praktis dan mudah sekali dipahami juga dilaksanakan. Dan untuk pertanyan apakah kita kita yang denial segala informasi dan arahan itu orang bodoh. Mungkin saja sih, mungkin kami kami ini terkadang bodoh (atau sering) dan tidak patuh hingga menolak segala fakta yang ada. 🙂

Bukan Mereka Tetapi Kita lah yang seperti ini dan otak kita bekerja seperti ini, menyedihkan si, tapi memang itu adanya

Untuk orang orang yang memang suka berdiam diri di kosan atau rumah biasanya tidaklah susah untuk tetap diam dalam waktu yang lama. Namun untuk beberapa orang diam di rumah akan memberikan tekanan cukup besar. Ada yang tertekan hanya pada psikologisnya biasanya pada orang orang yang aktif di luar (ekstrovet), namun tidak sedikit pula yang tekanan datang bukan hanya pada psikologisnya namun juga akan menghadapi tekanan ekonomi secara kuat bila ia tidak beraktifitas normal.

Ada sebuah gagasan menarik saya temukan dari buku Everything is F*ck karya Mark manson dan buku berjudul Blink: The Power of Thinking Without Thinking karya Malcolm Gladwell. Dalam kedua buku tersebut terdapat sebuah gagasan tentang cara berpikir kita (manusia) yang pada dasarnya dipengaruhi oleh kedua otak kita yang memiliki karakter yang sangat berbeda. Untuk mempermudah kita sebut saja satu otak logis sedangkan otak lainnya adalah otak perasa. Umumnya kita “berpikir” bahwa bahwa otak logislah (sang pemikir) yang menentukan dan berkuasa pada setiap tingkah laku kita. Namun, dari kedua buku tersebut diperlihatkan bahwa pemahaman umum kita tadi tidaklah tepat. Alih alih dikendalikan oleh logika, kita justru dikendalikan oleh otak perasa.

Apakah dikendalikan perasaan menjadikan kita tak ubahnya seperti Monyet? 🙂 menurut saya ada ianya ada juga tidaknya terserah dari bagian mana kita memandang (Photo by Pixabay from Pexels )

Mark Manson menganalogikan bahwa kesadaran diri kita ibarat sebuah mobil dimana sang otak perasa duduk sebagai sopir dan otak pemikir duduk di samping sebagai navigator, tidak peduli seberapa ilmiahnya kita pada akhirnya otak perasa lah yang menyetir mobil kesadaran kita. Otak perasa menghasilkan emosi emosi yang membuat kit bergerak untuk bertindak, dan Otak Pemikir menyarankan dimana tindakan itu harus dilakukan. Kata kuncinya disini adalah menyarankan, karena otak pemikir tidak dapat mengendalikan otak perasa maka ia akan hanya mempengaruhi walaupun terkadang sangat kuat tapi tidak jarang pula sangat lemah karena pada dasarnya otak perasa memiliki karakter yang keras kepala. Jika ada suatu nilai yang ingin ia tuju maka dia akan memperjuangkannya meskipun banyak fakta dan data yang menghadang tujuan mereka itu.

Semua orang memiliki kepentingannya masing masing dan memiliki “suatu nilai” yang ia perjuangkan dan menurut mereka tidak dapat di halangi “hanya” oleh issu Corona dengan berbagai fakta dan data yang ia bawa. “Suatu nilai” inilah yang menjadi fokus utama kita. “Suatu nilai” yang telah lama mereka perjuangkan ini bisa berupa hal hal yang berwujud seperti orang tua, keluarga, teman, uang, makanan hingga nilai nilai tak berwujud (abstrak) seperti rasa bahagia, kekeluargaan, pertemanan, kedamaian, hingga keimanan mereka (yang sifatnya religius).

Melalui gagasan ini, dapat dijelaskan mengapa meskipun data dan fakta keburukan rokok begitu tergambar dengan gamblang, namun tetap saja permintaan akan rokok tetap tinggi. Hal ini dikarenakan pihak pengiklan modern terus mensugesti dan membuat nilai lain dari sebuah rokok dalam produk produk iklannya. Dalam iklan rokok yang tidak menunjukan bagaimana merokok itu tentu akan sering kita temukan simbol simbol yang memberikan kesan pria sejati, macho, jantan, kebebasan dan segala hal yang menurut kita keren lainnya. Tekhnik pemasaran seperti ini digagas oleh Edward Bernays sejak tahun 1928. Alih alih memberikan fakta fakta tentang suatu produk, ia justru melekatkan produk tersebut pada sebuah nilai penting.

Hal serupa saya duga juga yang terjadi pada informasi dan segala arahan terkait Covid19 yang tidak begitu mempengaruhi tindakan beberapa kalangan. Ini terjadi bukan sekedar karena kurangnya fakta dan data yang mereka dapatkan namun lebih pada kurangnya penekanan nilai yang mereka anggap penting. Semisal, dalam beberapa kasus ajakan untuk diam dirumah untuk sebagian orang justru bertabrakan dengan nilai keimanan mereka untuk selalu melakukan ibadah apapun yang terjadi. Bahkan jikalau hal buruk terjadi akan mereka anggap sebagai kebaikan. Ini bukan karena fakta dan data yang tidak mereka dapatkan atau pahami namun nilai yang ditekankan kepada mereka tidaklah sebesar nilai relijius mereka. Begitu pula dalam kasus kasus lainya dimana ajakan terkait kasus Covid19 harus berhadapan dengan nilai lain seperti kekeluargaan, pertemanan, ekonomi, dan nilai lainnya yang teman teman mungkin pernah mendapati berbagai jenisnya. Tentu bila seseorang “merasa” arahan terkait Covid19 yang diberikan itu memiliki nilai tidak setinggi nilai yang sedang mereka perjuangkan maka arahan itu tidak akan mereka turuti dan muncul sebagai tindakan denial seperti yang sudah sering kita temukan bersama.

Untuk menanggulangi permasalahan tersebut dan meningkatkan keefektifan dari informasi Covid19 yang diberikan ada baiknya tidak hanya fakta saja yang ditekankan namun juga perlu adanya penekanan pada nilai nilai penting lainnya seperti kekeluargaan, ekonomi, hingga pada nilai nilai religi. Tidak harus dipertentangkan, namun cukup di sinergikan saja dengan nilai nilai yang ada. Secara teori memang terlihat mudah namun dalam prakteknya saya akui memanglah sebuah hal yang sulit. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Nyatanya sudah banyak informasi informasi yang beredar sekarang sudah menyentuh hal hal tersebut, hanya kadang ada yang terlewat saja sehingga masih banyak yang denial.

Salah satu cara penyampaian pesan yang saya sukai adalah berita berita maupun gambar dokter yang sedang berjuang untuk “Nilai kemanusiaan”. Masih banyak kampanye lain yang entah dirancang khusus atau secara tidak sengaja menekankan pada sebuah nilai kekeluargaan dan nilai nilai lain yang merangsang otak perasa kita. Namun tidak sedikit pula kampanye dan informasi yang disampaikan hanya menyampaikan fakta fakta hambar tanpa penekanan pada makna yang jelas. Penekanan pada nilai yang merangsang rasa empati otak perasa kita menjadi lebih penting ketimbang hanya memberikan alasan alasan logis teoritis saja. Karena nilai nilai inilah yang mampu memberikan efek gerakan.

Itu saja sih yang ingin saya diskusikan dalam tulisan ini. Merangkum dari kesemua bahasan yang saya berikan panjang lebar sebelumnya. Arahan, Infromasi atau apapun itu yang bertujuan pada suatu pergerakan ntah itu pergerakan untuk membeli barang atau dalam kasus ini berupa pergerakan untuk melakukan dan taat terhadap arahan yang diberikan pemerintah. Fakta memanglah penting, namun jangan juga melupakan untuk penekanan pada suatu nilai yang merangsang otak perasa kita. Nilai nilai tersebut banyak macamnya dan perlu diurai lebih detail lagi dan disesuaikan dengan kasus yang ada.

Akhir kata saya ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi tingginya pada para pahlawan kemanusiaan yang kita miliki sekarang. Mereka yang digaris depan seperti petugas kesehatan dokter maupun perawat dan tenaga medis lainnya hingga para petugas dan praktisi dibelakang mereka, bagian data, administrasi, manajemeb kedaruratan dan segala pihak yang terlibat bukanlah manusia super yang kebal dengan segala hal, mereka juga takut. Mereka mengorbankan waktu tenaga bahkan kesehan mereka demi orang lain (salut saya buat temen temen disana).

Feature Photo by cottonbro from Pexels

BencanaLingkunganOpiniPopular TheoryPsikologiUncategorized

Hati Hati terjebak Dehumanisasi dalam menyikapi kasus Covid19, dan “Lainnya”

February 15, 2020 — by dewaputuam0

eyes-portrait-person-girl-18495-960x655.jpg
Terkadang kita bergerak terlalu cepat, entah untuk mengejar apa. Hingga kita suatu waktu tanpa sengaja tersadar sudah banyak yang kita tinggalkan (Photo by Mike Chai from Pexels))

Saya ingin berdiskusi sedikit tentang apa yang mengganggu dan meresahkan pikiran saya dalam satu bulan terakhir ini. Teman-teman tentu mengikuti atau paling tidak sudah pernah mendengar bahwa saat ini terjadi suatu tragedi kemanusiaan yang bisa dikatakan sangat besar dan menyedihkan sedang berkembang di Wilayah China daratan serta puluhan negara di sekiarnya. Ini tentang Covid19, yang hingga data terakhir yang saya dapatkan (15 Februari 2020 dari data yang ditampilkan pada dasboard milik Johns Hopkins CSSE) jumlah korban meninggal sudah mencapai 1527 dari 67,091 kasus yang terkonfirmasi.

Itu bukanlah angka yang sedikit, dan yang paling menyedihkan itu bukanlah hanya sekedar angka. Itu semua nyawa manusia, entitas yang sama dengan orang-orang di sekitar kita, entitas yang sama dengan orang-orang yang kita sayang, dan tentunya entitas yang sama pula dengan yang selalu kita temukan saat kita memandang cermin. Yup itu jumlah manusia seperti kita, punya keluarga yang menyayangi mereka dan juga ada teman dan keluarga yang mereka sayangi. Itu sama sekali bukan hanya sebuah angka statistik belaka.

Dehumanisasi?, Ini bukanlah isu yang baru saja ada dan hanya pada saat Covid19, Namun isu ini sudah lama sekali ada, bahkan juga digunakan saat perang berkecamuk. Namun sekarang bukanlah perang.

Dehumanisasi tidak hanya membayangi Covid19 saja. Namun lebih dari itu, dehumanisasi terus menjebak kita dengan berbagai cara membuat kita hanya melihat hitan dan putih saja tanpa adanya wilayah abu-abu sedikitpun. ( Photo by Umberto Shaw from Pexels )

Dengan tidak mengurangi rasa duka dan simpati kepada para penderita serta para korban meninggal dunia akbat virus ini, saya rasa kita perlu membahas dan mendiskusikan bagaimana cara kita menyikapinya. Sangatlah mungkin bila kita (termasuk saya) sering sekali belum dapat menyikapinya dengan baik sisi kemanusiaan ini dengan sempurna dan sering pula kita terpeleset kemudian terjebak oleh dehumanisasi. Orang yang sudah terperangkap jerat dehumanisasi terkadang jelas terlihat, namun terkadang senyap tak terdeteksi oleh sensor apapun. Persebarannya bahkan jauh lebih cepat dari Covid19. Manusia yang sudah terlanjur terkikis kemanusiaannya, akan sulit bisa dianggap manusia secara utuh lagi. Merka yang seperti itu tak ubahnya seperti zombie. Meski masih berwujud manusia tetapi kehilangan esensi dari manusia itu sendiri.

Ini bukanlah isu yang baru saja muncul, dehumanisasi seringkali muncul dalam bentuk dan wujud yang beraneka ragam. Dari hal yang sesederhana “Itu bukan urusanku karena mereka bukan keluargaku” hingga pada wujud yang sulit terbayangkan bahkan menjatuhkan yang sudah jatuh “Ini hukuman Tuhan untuk mereka, karena telah berlaku begitu selama ini”. Mungkin kedua kasus itu masuk diakal sehat teman teman, mungkin saja tidak. Kenapa saya bilang bregitu, coba teman-teman lihat ketiga video ini (Bukan Covid19_1, Bukan Covid19_2, Bukan Covid19_3). Bagaimana pendapat kalian tentang ketiga video diatas. Kita tidak dapat mendebat dengan semua itu. Saya hanya ingin sedikit menunjukan bahawa kita juga tidak sesuci itu, kita sangat mungkin sama seperti orang orang yang sebelumnya saya sebutkan. Sangat mungkin kalau kita juga sebenarnya sedang terpeleset dan terjerembak dalam jurang dehumanisasi.

Kita menjadi Zombie bukan karena kita tergigit oleh zombie ataupun terserang virus. Tetapi kita sendiri yang secara suka rela memilih untuk menjadi zombie

Saya tidak ingin menambahkan caption lagi, namun teman teman akan mengartikan sendiri pada akhir cerita ini ( Photo by omar alnahi from Pexels )

Pada dasarnya dehumanisasi dapat kita artikan sebagai “penghilangan harkat manusia atau tindakan menyangkal kemanusiaan terhadap manusia lainnya.” (Sumber) . Konsep Dehumanisasi yang ingin saya bahas pada tulisan ini adalah sebuah konsep yang saya baca dari sebuah buku karya Paul Scharre yang berjudul Army of None (pernah saya review dalam tautan ini). Yang menarik dari buku tersebut, sang penulis menjabarkan dengan gamblang jalur-jalur yang dapat mendehumanisasi kita baik digunakan secara sengaja ‘terencana’ seperti yang biasa digunakan tentara saat perang, digunakan para teroris meradikalisasikan para pengikutnya dan Juga dehumanisasi yang “tanpa disengaja” mendekap kita tanpa kita ketahui baik melalui karya seni ataupun entitas-entitas lainnya. Dalam bukunya, Paul Scharre setidaknya menjabarkan ada lima cara/jalan untuk mendehumanisasi seseorang.

  • Pertama, mengkondisikan lingkungan psikologis seseorang dengan berbagai cara seperti salah satunya adalah memaparkannya pada informasi dan situasi situasi ekstrim. Contoh saat bencana, saat kita sama sama menjadi korban dan sangat membutuhkan bantuan akan “sulit” bagi kita untuk sekedar membantu. Saya bilang sulit bukan berati tidak ada, karena dalam beberapa kasus ada orang hebat di luar sana yang tetap membantu tanpa memikirkan dirinya sendiri. Hal ini sebenarnya mengingatkan saya pada tiga video yang saya bagikan sebelumnya, tapi yasudah lah ya.
  • Kedua adalah meberikan tekanan berdasarkan kekuasaan, baik dengan fisik langsung maupun tindakan tindakan yang menyebabkan seseorang tidak berdaya untuk menolak. Hal ini tampaknya sudah jelas, dehumanisasi dapat terjadi karena ada suatu kekuatan besar yang mengintimidasi di belakang mereka baik itu manusia lain, organisasi atau bahkan yang lebih besar lagi. Hal ini juga yang membuat saya kurang begitu suka dengan pendekatan dan pembelajaran keagamaan dengan menekankan ketakutan akan sosok Pencipta bukannya Kemaha Pengasihannya itu sendiri.
  • Cara ketiga adalah mendifusikan tanggung jawab dengan cara pembagian tugas yang guyub dan rumit sehingga mengaburkan fakta terkait siapa yang bertanggung jawab sebenarnya. Pembagian tugas memanglah baik namun saat rantai tugas dan kewenangan menjadi terlalu panjang maka terkadang kita tidak sadar yang kita hadapi tidak lain dan tidak bukan adalah nyawa manusia.
  • Cara keempat adalah dehumanisasi manusia lain dengan mengikis sisi humanisnya baik secara langsung maupun dengan narasi yang berputar yang memberikan sisi jahat, hewan dan tidak manusiawinya sosok atau kelompok tersebut, dengan kata laian mereka digambarkan jauh dari sisi manusia. Cara lainnya adalah menggantikan target manusia lain itu menjadi objek-objek fisik atau abstrak lainnya seperti bangunan, ras, bangsa dan lainya yang kemudian secara tidak langsung juga memberikan dampak pada manusia yang telah dilekatkan oleh analogi tersebut. Kedua dehumanisasi dengan mengidentifikasikan entitas manusia sebagai sosok bukan manusia ini pasti sering teman teman temukan, dari pengaburan sisi kemanusiaan secara tidak sengaja dengan menganalogikan nyawa manusia hanya dalam sebuah catatan statistik belaka, ras atau bangsa lalim hingga pada penggambaran sosok manusia itu sebagai kejahatan yang tidak termaaafkan hingga layak disebut setan atau apapun itu (silahkan teman2 lihat dalam kolom komentar ketiga video yang saya bagikan sebelumnya).
  • Cara kelima dan terakhir adalah membuat suatu jarak fisik dan psikologis antara seseorang dengan manusia lainnya hingga kemudian juga dapat memberikan efek dehumanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jarak fisik dan juga memisahkan kemudian meningkatkan perbedaan perbedaan antara manusia di kelompok mereka dan ‘manusia lain’ di kelompok lain yang berseberangan sehingga muncul penggolongan yang ekstrim. Hal ini yang kemudian membuat kita terkadang berpikir “Di sana kan jauh ya, untuk apa kita memikirkan mereka, toh mereka juga bukan keluarga kita dan tidak kenal juga dengan kita. Jadi tidak lah perlu bersusah payah memikirkan mereka”.

Banyak juga ya ternyata cara kita tereleset pada lubang dehumanisasi. Jika kita baca, sepertinya memang terlihat sangat jelas bagaimana proses dehumanisasi itu. Namun sayangnya dalam keseharian kita, jarang sekali lubang lubang itu terlihat dengan jelas dan menjadikannya sulit dihindari. Terlebih lagi mungkinlah kelima cara dehumanisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan terkombinasi menjadi suatu permasalahan yang samar dan sulit untuk kita tebak kemana arahnya.

Itu saja sih hal yang ingin saya bagikan dalam tulisan ini. Semoga tulisan ini sedikit menyadarkan kita termasuk pengingat bagi saya akan adanya musuh sejati yang besar bagi kita semua. Musuh yang sangat dekat bahkan lebih dekat dari rambut di atas dahi kita. Musuh yang merusak kerja otak kita dan mengarahkan kita menuju kegelapan, menjadikan kita sosok yang menyerupai Zombie yang jauh dari sisi humanis. Jika itu terus berlanjut dan tidak ditanggulangi mungkin manusia akan musnah dan digantikan oleh sosok sosok yang tidak ingin kita kenal lagi bahkan malu untuk diakui pernah menjadi manusia sebelumnya.

Zombie Apocalypse bukan disebabkan oleh T Virus, Flaka, Covid19 atau apapun itu. Zombie Apocalypse justru datang lebih senyap dari itu semua, menyebar dari pikiran seseorang kepikiran orang lainnya tanpa perantara dan vektor yang nyata. Namun persebarannya jauh lebih cepat dan mengerikan dari yang pernah kita duga sebelumnya hingga saat kita membaca tulisan ini pun sangat mungkin kalau kita sudah sedikit terjangkit oleh fenomena itu. —-> Play me

Salam

Dewa Putu AM

Pada dasarnya tulisan ini sudah selesai sampai di sini, silahkan teman teman skip jika memang ingin skip, namun saya ingin menambahkan sedikit saja.

Saya pada awalnya ingin menunjukan hal ini pada postingan saya sekarang. Namun Issue dehumanisasi tampaknya lebih penting dan lebih dapat kita tanggulangi ketimbang permasalahan Covid19 sehingga saya pada postingan utama hanya membahas terkait dehumanisasi tersebut. Saya dalam beberapa hari ini tertarik dengan analisis dan visualisasi data. Namun apa yang saya dapatkan ketika mengelola data tersebut serem sih. Seuma orang mungkin tahu bahwa persebaran Covid19 termasuk sangat cepat. Dari sini kemudian saya mencoba melakukan analisis sederhana untuk melihat akan seperti apa eskalasi Covid19 kedepannya. Saya harap perkiraan ini salah, namun bila tidak ditanggulangi secara cepat dan baik dan kecepatan pertambahannya tetap seperti ini kasus Covid19 akan semakin besar dan berlipat ganda pada akhir bulan Februari atau Awal Bulan Maret. Kalian dapat melihat analisis tersebut pada dasboard yang saya susun dalam tautan ini.

Namun seperti yang saya bahas pada postingan utama saya, yang bisa kita lakukan selain lebih menjaga kesehatan kita dengan berbagai cara yang sudah dianjurkan berbagai istitusi pemerintah, kita juga tidak perlu panik. Namun perlu diingat, yang sekarang menderita di sana samalah seperti kita, terlepas dari persepsi apapun teman-teman kepada mereka janganlan mengaburkan fakta bahwa mereka juga manusia.

Dan kemudian untuk kasus pemulangan (ex WNI yang tergabung ISIS) saya tidak dapat berdiskusi banyak. Saya pun tidak begitu setuju jikalau nanti ada niatan pemulangan mereka begitu saja. Namun perlu diingat perlakuan yang seperti itu tidak begitu berbeda dengan “identitas kejam dan berbahaya” yang kita sematkan pada mereka. Apakah kini kita sama saja dengan mereka? lalu bagaimana kita seharusnya bersikap? Sayapun tidak tahu, biarkan waktu yang menjawab ini semua.

Sudahlah