main

BukuHiburan

[Buku] Berani Tidak Disukai by Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

February 24, 2020 — by dewaputuam0

IMG_20200223_143008-01-960x720.jpeg

Dari awal sekali buku karya Kishimi dan Koga menyajikan kita para pembaca sebuah cerita dengan alur dan sudut pandang yang menarik #itu. Berbeda dengan buku pengembangan diri kebanyakan yang sering kali berupa monolog dan uraian endalam dari kisah kisah sukses beberapa tokoh, buku ini justru menyajikan diskusi dan perdebatan seorang anak muda dan filsuf yang eksentrik. Gaya penulisan yang seperti ini disengaja oleh penulis agar sama dengan yang dilakukan para filsuf yunani kuno di zaman Sokrates yang bertukar pikiran dan pemahaman dengan cara berdebat. Yups sang penulis menulis alasan tersebut dalam bukunya.

Socrates tidak menulis ide ide dan pandangannya namun ia mendiskusikan dan mendebatkannya, Plato lah yang kemudian menuangkan gagasan gagasan brilian yang dicetuskan oleh Socrates tersebut dalam bentuk tulisan. Saya menuliskan hubungan antara Socrates dan Plato karena dalam buku ini Ichiro Kishimi secara tersurat mengungkapkan keinginannya untuk menjadi Platonya bagi Alfred Adler. Dan menariknya Fumitake Koga menjawab ungkapan Kishimi dengan menjadi Platonya bagi Kishimi. Membaca hal tersebut saya dalam hati menyeletuk, “oke kalau begitu saya ingin menjadi Platonya Fumitake Koga 🙂 .” Tetapi setelah membaca buku ini hingga selesai, saya menyadari ternyata apa yang dibahas memanglah suatu gagasan-gagasan yang “gila“.

Inilah sosok Alfred Adler, seorang ahli psikologi yang gagasannya secara umum dibahas dalam buku The Courage To Be Disliked (Berani Tidak Disukai) karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga (Sumber gambar: Gemba Academy)

Gagasan dari Adler ini menurut saya sangat kontroversial di jamannya bahkan harus diakui gagasan gagasan tersebut masih cukup nyeleneh bila kita bawa hingga masa kini. Gagasan-gagasannya tersebut tidak begitu mudah dipahami dan membuat saya mengenyitkan kening berpikir keras beberapa kali karena tidak jarang bertentangan dengan pemahaman umum yang ada selama ini. Bahkan dalam dalam satu bagiannya, sang filsuf, tokoh dalam buku ini berkata seperti ini

Konon, Untuk memahami betul teori psikologi Adler dan menerapkannya untuk benar-benar mengubah cara hidup seseorang, orang membutuhkan “separuh tahun kehidupannya” Dengan kata lain kalau mulai mempelajari pada usia empat puluh tahun, kau butuh dua puluh tahun, yaitu sampai kau menginjak enam puluh tahun. Kalau kau mulai belajar pada usia dua puluh tahun, kau butuh waktu sepuluh tahun, yaitu sampai kau menginjak usia tiga puluh tahun.

(Ichiro Kishimi)

Tapi jangan takut untuk membaca buku ini, meskipun tidak seratus persen gagasan gagasan dari Adler akan kita mengerti dan setujui langsung. Sang penulis dengan kecakapannya dapat sedikit meringankan gagasan-gagasan Adler tersebut agar lebih mudah dikonsumsi oleh kita yang memang tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu psikologi maupun ilmu filsafat. Dari pengalaman membaca saya, pertanyaan yang muncul dibenak kita sebagian besar terwakilkan oleh pertanyaan pertanyaan dari tokoh pemuda kepada filuf, yah meskipun terkadang agak sedikit over sih buat saya. Mengingat sosok pemuda yang digambarkan dalam buku ini jika digambarkan “Sad Boy” banget, yang putus asa dengan berbagai hal dan selalu emosional. Tetapi disitu menariknya.

Buku Berani Tidak Disukai tidak mengajak kita untuk menjadi orang yang tidak disukai?

Hiruk pikuk orang berjalan cepat berkeringat di stasiun kereta, sheler bus dan berbagai tempat padat lainnya, melihat itu semua terkadang saya berpikir apa yang sebenarnya kita cari selama ini hingga kita relakan waktu dan energi kita menghilang untuk seperti ini (Photo by Skitterphoto from Pexels )

Menurut Adler, semua permasalahan adalah tentang hubungan Interpersonal . Yup, semua permasalahan, tidak terkecuali. Ini salah satu gagasan yang menurut saya nyeleneh. Semua yang dimaksud disini berati tidak ada permasalahan atau persoalan apapun yang bukan tentang hubungan interpersonal. Gagasan ini menjadi topik pembahasan yang menarik karena tokoh pemuda dalam buku ini kemudian membantah gagasan yang menurut saya pun mengusik logika. Namun dari apa yang dibahas dalam buku ini. saya akhirnya berangsur angsur sedikit sepakat bahwa “Semua permsalahan kita berakar pada permasalahan tentang hubungan interpersonal”.

Untuk menguraikan dan menyelesaikan permasalahan tersebut Adler memberikan sebuah kunci yang dapat kita gunakan yakni “Pembagian Tugas”. Konsep pembagian tugas pada dasarnya serupa dengan konsep dikotomi kendali yang ada dalam filosofi Stoa (Stoicism) yang saya baca dalam buku Filosofi Teras karya Hendry Manampiring. Pembagian tugas disini pada dasarnya membagi hal berada dibawah kendali kita (tugas kita) dengan hal yang berada diluar kendali kita (bukan tugas kita). Dengan pembagian tugas yang jelas maka kita tidak akan berlarut larut dalam sesuatu yang diluar kendali kita dan lebih fokus pada apa yang berada dalam kendali.

Dari sini lah kemudian judul buku ini berasal. Buku Berani Tidak Disukai tidak mengajak kita untuk menjadi orang yang tidak disukai, tetapi lebih dari itu melalui buku ini kita diajak sang penulis untuk hidup dijalan kita sendiri (menggeluti apa yang memang menjadi tugas kita) dan tidak mencampuri tugas orang lain termasuk urusan dalam menyukai atau tidak menyukai kita. #Itu

Tetapi Memang Buku Ini Menabrak Banyak Gagasan yang selama ini kita pernah pahami

Salah satu, alasan awal saya memilih buku ini untuk dibaca adalah kata kata “International Bestseller”, meskipun nista banget pemilihan buku dengan cara itu tapi berhubung referensi buku saya belum begitu bagus yah jadi tidak apa dan memang buku ini tidak mengecewakan! #recomended lah

Membaca buku ini, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya membuat saya harus berpikir keras. Bukan berarti buku ini sulit sekali dipahami, namun saat membaca saya menemukan banyak nilai nilai yang saya anut selama ini ditabrakan dengan gagasan gagasan yang ditawarkan dalam buku ini. Mungkin juga akan memberikan sensasi yang sama dengan yang akan teman dapatkan ketika membaca buku ini. Dari sekian banyak gagasan nyentrik yang ada dalam buku ini, beberapa diantaranya melekat cukup erat dalam pikiran saya seperti

  • Tidak ada pengalaman yang dengan sendirinya menyebabkan keberhasilan atau kegagalan kita. Bahkan dalam teori psikologi Adler “Traum” secara definitif tidak diterima. Jadi dalm teori ini tidak ada lagi alasan alasan kita tidak bisa melakukan sesuatu hal karena mengalami trauma A atau trauma B di masa lalu. Psikologi adler tidak menganut Aetiologi (studi tentang hubungan sebab-akibat), tetapi menganut Teleologi (studi yang mempelajari dan menitikberatkan pada tujuan dari suatu fenomena, ketimbang penyebabnya).
  • Semua permasalahan adalah tentang hubungan Interpersonal. Lagi lagi sebutkan ini ya, tetapi menurut saya ide ini memang gila sih dan saya suka dengan ini. Hingga pada suatu bagian, sang penulis pun menunjukan kepada kita bahwasanya permasalahan permasalahan yang kita anggap pribadi seperti kepercayaan diri kita, kualitas kerja kita, bahkan permasalahan permasalahan yang lebih pribadi lagi tidak lepas dari permasalahan di hubungan interpersonal kita dengan orang lain.
  • Seringkali kita (atau mungkin hanya saya) menganggap konsep reward and punishment itu suatu konsep yang baik untuk perkembangan diri kita. Ketika seseorang mendapatkan reward ketika melakukan sesuatu yang benar dan mendapat punishment yang wajar saat kita salah maka semua akan baik baik saja bahkan menurut kita akan baik. Namun menurut pandangan Adler, hal itu adalah konsep dari hubungan Vertikal, yang sebisa mungkin atau dapat dikatakan harus kita hindari jika kita ingin membangun hubungan yang harmonis. Bahkan kita pun perlu menghindari ucapan ucapan reward ringan berupa pujian seperti “wah apa yang lu lakuin keren banget”, karena menurut Adler di sana dapat mengesankan dan memberikan hubungan yang bersifat vertikal dimana sang pengucap yang menilai tersebut berusaha memposisikan diri lebih tinggi dari yang diberikan ucapan. #NahLoh

Dari buku yang sedikit tebal ini (320-an lembar) ada banyak sekali ide brilian dari tokoh Adler yang saya rasa dapat kita ambil untuk kemudian dapat kita jadikan salah satu inspirasi bahkan bantuan bagi kita untuk menjalani hidup yang lebih sederhana. Sulit bagi saya untuk menjelaskan dan menguraikannya melalui sebuah tulisan. Benar kata HelloGiggles, yang tertulis dalam cover buku ini memanglah “Marie Kondo, tapi untuk jiwa”. Suatu langkah awal bagi kita untuk mengaplikasikan minimalisme dalam jiwa dan kehidupan kita. Ada satu frasa yang kusuka dari buku ini ada dihalaman 306. Dengan beberapa gubahan dari saya, kira kira sang penulis berkata seperti ini.

Dusta Kehidupan yang terbesar adalah tidak hidup di sini pada saat ini. Kita Justru menghabiskan energi untuk memandang pada masa lalu dan masa depan, mengarahkan sinar temaram pada seluruh kehidupan, dan percaya bahwa kita berhasil melihat sesuatu. Padahal justru pada saat itu kita melupakan “sesuatu yang terpenting”.

Ichiro Kishimi & Fumitake Koga dengan beberapa perubahan seperlunya 🙂

Salam hangat dari saya

Dewa Putu AM

BukuHiburan

[Buku] Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini

August 8, 2019 — by dewaputuam0

1PBf2RGK9OchDryHS5dbqcQ-960x411.jpeg
Buku Filosofi Teras, Buku bagus yang menurut saya patut dibaca oleh teman teman sekalian yang mungkin selama ini selalu dirundung keresahan dan tak tahu kenapa. Saya cukup terkejut dengan topik dan ide yang diangkat di sini meskipun sudah berusia ribuan tahun tetapi masih cukup relevan diterapkan dalam kehidupan kita sekarang.

Saya menemukan buku ini sudah beberapa bulan yang lalu, Namun karena sesuatu dan lain hal saya baru dapat membeli dan membacanya akhir akhir ini saja. Saya suka dengan buku ini dari pandangan pertama, yah seperti pada saat saya membeli buku buku lainnya Cover dan judul lah yang menjadi urutan pertama dalam menentukan layak atau tidaknya buku itu akan dibeli atau diabaikan hehehe. Design nya menurut saya sederhana dan tidak malu maluin bila tidak sengaja tertinggal atau dibaca di tempat umum. Sedangkan judulnya juga tidak terlalu ribet dan simple tidak begitu muluk muluk dan juga tidak menjanjikan sesuatu yang terlalu fantastis nan unrealistis.

Secara garis besar, buku ini mengenalkan kita secara sederhana tentang suatu aliran filosofi yang praktis yang jauh dari kesan mengawang awang. Stoisme (stoicism) merupakan aliran filosofi yang pertama dikenalkan oleh Zeno dan telah berkembang sejak ribuan tahun lalu di Yunani-Romawi. Filosofi yang cenderung memfokuskan diri pada praktik dalam kehidupan sehari hri saat ini semakin menjamur di berbagai belahan dunia dan secara sadar ataupun tidak sadar ternyata prinsip prinsip filosofi ini sudah ada dalam kehidupan sehari hari kita, sehingga saat membaca buku ini saya merasakan aha moment (suatu momen saat kita baru sadar akan hal hal yang selama ini begitu biasa disekitar kita ternyata ada makna dan pelajaran dibalik semua itu).

Dalam tulisan saya kali ini saya akan sedikit bercerita tentang kesan saya saat membaca buku Henry Manampiring ini. Oke tanpa menunggu lebih lama lagi sekarang saya mulai dari memberikan deskripsi singkat terkait buku ini dan apa saja yang dibahas di dalamnya.

Buku ini Menabrakan Pemikiran yang berkembang Jauh pada Masa Lalu ke Masa Sekarang

Buku karya Henry Manampiring ini membawa kita berkenalan dengan stoisme. Kata Teras dalam judul buku “Filosofi Teras” ini merupakan terjemahan bebas dari kata Stoa yang merujuk pada suatu tempat/ruangan terbuka dengan pilar pilar yang biasa dijadikan para praktisi stoisme untuk saling bertukar pikir dan berdiskusi tentang ide filosofi ini. Untuk menyederhanakan dan mudah diingat oleh para pembaca di Indonesia maka penulispun memberi judul buku ini sebagai Filosofi Teras. Dan hal ini juga yang dilustrasikan pada cover buku ini yang mengilustrasikan seorang dari zaman omawi kuno dengan se cup kopi kekinian sedang berdiskusi dengan dua orang anak muda dengan gulungan kertas dan Gawai diatas meja. Suatu konsep ilustrasi yang lucu si menurut saya dimana dua jaman dengan segala objek yang merupakan identitasnya itu ditabrakan dalam satu bingkai.

Ilustrasi tersebut pula yang menggambarkan apa yang dijelaskan dalam buku ini tidak lain merupakan suatu konsep yang berumur ribuan tahun dari jaman Yunani Romawi Kuno dibawa untuk berdiskusi dengan permasalahan yang ada di aman ini. Dan ternyata cukup menarik dan masih relvan bahkan bila dihadapkan pada permasalahan yang cukup kompleks terjadi didepan kita sekarang.

Secara fiski buku ini awalnya terlihat tidak begitu tebal, namun saat dilihat isinya hehehe tulisannya dan jarak spasinyatipis tipis sekali yak sehingga jika di buat dengan ukuran tulisan serta jarak spasi buku buku populer pada umunya tampaknya buku ini menjadi buku yang lumayan tebal untuk dibaca dan saya rasa pula butuh waktu 4-5 hari untuk menghabiskannya dengan kecepatan membaca yang santai. Menariknya buku ini tidak monoton memberikan kita penjelsan rumit tentang apa itu soisme, namun sang penulis justru membawakan ide ide yang ada tersebut kedalam cerita yang mengalir dan mudah diterima serta sangat mungkin untuk diteapkan untuk keseharian kita pada zaman sekarang.

Membawa Stoisme untuk Jiwa Jiwa yang Resah dan Tak Tahu Arah lagi Tak Tahu Diri

Apa yang diluar kendali kita dan apa yang ada diluar kita yang seharusnya akan membawa kita pada keresahan yang tidak perlu (Sumber: i.redd.it)

Menjadi manusia seutuhnya dan sealamiah mungkin selayaknya manusia diciptakan dengan segala potensi yang ada khususnya dalam hal berpikir rasional yang merupakan satu nilai unik manusia yang tidak dimiliki makhluk makhluk hidup lainnya. Pikiran dan perasaan kita akan menjadi gelisah saat rasional kita tersakiti, dari sinilah kemudian muncul berbagai angan irasional yang selama ini terlihat begitu menarik namun juga menekan. KIta harus berpikir positif, kegagalan adalah awal dari keberhasilan, kita tak boleh bersedih dan segala pemikiran pemikiran irasional yang terdapat kata harus harus dan harus itu begitu bergejolak dan tidak cocok dengan sifat alami yang kita miliki. Tidak sepenuhnya salah jika kita berpikir positif dan menebar angan angan itu membumbung tinggi namun yang salah bila semua itu dilandasi oleh pemikiran tidak rasional.

Dikotomi dan Trikotomi kendali adalah suatu konsep yang dominan dibahas dalam buku ini. Pemahaman terkait hal inilah yang kemudian menjadi dasar dari hampir semua ide ide yang diulas dalam buku untuk menyikapi berbagai permaalahan yang ada dari peristiwa biasa sehari hari yang remeh seperti kemacetan dan percinta cintaan hingga pada peristiwa getir saat kita ditinggal oleh orang yang sangat kita kasihi dan juga saat menghadapi permasalahan yang serius soal keuangan.

Secara sederhana dalam filosofi stoa membagi segala hal yang ada dan terjadi didunia ini menjadi dua (dikotomi) yakni hal hal yang berada dibawah kendali kita dan yang kedua adalah hal hal yang diluar kendali kita. Seiring perkembangan jaman konsep tersebut kemudain berubah menjadi trikotomi kendali, ditambahkan satu lagi untuk mengelompokan hal hal yang sebagian ada dibawah kendali kita namun ada foktor fktor lain yang berada di luar kendali kita.

Hal hal seperti apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan apa yang kita lakukan, keputusan apa yang kita berikan, bahkan apa yang kita rasakan, dan sudut pandang mana yang kita ambil adalah contoh dari hal yang berada dibawah kendali kita. Sedangkan kesehatan kita, keuangan kita, kesuksesan kita adalah salah satu contoh yang ada di bawah kendali kita namun hanya sebagian saja dan masih terpengaruh besar oleh faktor luar. Dan kemudian beberapa hal seperti kejadian bencana, pikiran orang ucapan dan tingkah laku, keputusan dan sudut pandang orang lain berada diluar kendali kita. Sesederhana itu sebenarnya apa yang dibahas dalam buku ini.

Namun dari kesederhanaan itu justru menjadi sangat powerfull saat dihadapkan pada masalah masalah yang ada didepan kita. Saat kita dapat memfokuskan diri pada apa yang berada dibawah kendali kita tanpa terpusingkan oleh apa apa yang berada diluar kendali kita penyelesaian masalah menjadi lebih “rapi dan terarah” untuk mengatasinya. Yup, lebih rapi dan terarah yang saya maksudkan disini karena filosofi teras bukanlah mempermudah dan memperkecil masalah yang ada namun hanya membawa kita fokus pada penyelesaian apa apa yang memang perlu kia pikir dan lakukan yakni apa apa saja yang berada dibawah kendali kita dengan tidak terganggu pada apa yg diluar itu semua.

Keresahan adalah bentuk ketidak berdayaan kita yang terlalu dibebani untuk terus memikirkan dan mengerjakan apa yang memang sebenarnya tidak berada dibawah kendali kita

Sumber Sumber ide dan Ilustrasi Tulisan
  • Feature image by medium.com (link)
  • Henry Manampiring, “Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini”, Jakarta: Kompas
  • Video by Greatmind YouTube Chanel