main

BencanaDaily LifeUncategorized

Mereka Datang Tiba-Tiba dan Kemudian Pergi Meninggalkan Luka

February 11, 2019 — by dewaputuam2

OKCHTH0-min-960x640.jpg

Ini bukan kisah cinta untuk di nikmati. Ini juga bukan kisah nestapa untuk diratapi. Ini hanya sebuah kisah lalu, kini dan mungkin hingga esok akan terajut dan berlanjut. Ini sebuah kisah tentang getaran yang selalu ada di sekitar kita yang datang tiba tiba kemudian pergi meninggalkan luka. Yah ia memang datang tiba tiba dan dan hanya sebentar ia bertahan dan terkadang menjadikan beberapa detik seakan memanjang menjadi ribuan tahun. Saat ia datang waktu terasa sangat panjang. Saat ia datang, tak hanya hati yang bergetar, bangunan bangunan pun ikut bergetar. Hati dan bangunan yang tak mampu menahan semua getarannya akan runtuh, hilang dan kemudian ahh sudahlah saya sudah tidak ada ide lagi untuk melanjutkan kata kata ini.

Mereka yang Masih Menghantui

Mungkin terbaca sebagai paragraf pembuka yang super berlebihan ya #hahaha. Jujur saya bingung dari mana harus memulai tulisan ini. Intinya si pada tulisan saya kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman dan juga kesan kesan saya pada saat menangani bencana Gempa. Saya memilih topik ini karena ssssst saya tidak tahu agaknya masi sedikit berasa gempa semalam, meski g separno-an beberapa bulan lalu, tapi masi ada sedikit traumatik berupa tiba tiba halu kena gempa padahal tidak ada. Tidak jarang pula saya lirik-lirik tembok dan melihat ada retak atau tidak untuk memastikan bahwa saya sedang berada di tempat aman jikalau sewaktu waktu gempa terjadi.

Kejadian gempa terasa lebih sering terjadi pada tahun belakangan ini, pada tahun 2018 saja kita dikejutkan oleh kejadian kejadian gempa yang sangat dahsyat dan membuat ribuan nyawa menghilang. Untuk memberikan sedikit gambaran, saya sertakan peta interaktif kejadian gempa besar dengan magnitud >5 yang terjadi selama tahun 2018-2019. Dalam peta tersebut kalian bisa zoom in dan zoom out untuk melihat lebih detail dan untuk keterangan symbolnya dapat dilihat dengan menekan simbol “>>” di pojok kiri atas peta interaktif yang saya buat di bawah ini. Untuk melihat informasi lebih detil terkait tanggal dan magnitude gempa kalian dapat menekan titik titik merah tersebut. Berasa tukang jual peta ya,.. #hehehe. Vintagenya berasa banget ya di peta ini #jualanlagi.

Oia, dalam tulisan ini mungkin ada baiknya saya ikut meneruskan suatu ide atau agak lebih tepat bila kita sebut sebagai kritikan untuk beberapa orang yang meyakini bahwa gempa itu dapat membunuh manusia. Kritikan datang dari seorang Seismolog Imperial College London yang menyatakan bahwa “Earthquake don’t kill people, buildings do” . Pernyataan ini saya rasa cukup masuk akal dan ada benarnya karena dari yang selama ini saya lihat, para korban, tidak meninggal karena diguncang gempa, namun kebanyakan dari mereka tertimpa oleh bangunan. Dan untuk kasus yang terjadi di Palu kemarin, kita juga patut belajar, bahwa ada kalanya tuhan pun berkehendak lain, dalam bangunan yang sudah kuat pun dalam kasus ini tanah dapat menelannya (saya tidak tahu kata kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi disana). Jika sudah seperti ini cara terbaiknya adalah hindari tempat tempat seperti itu, tempat tempat dekat patahan dengan permukan air yang dangkal.

Kebodohan dan Ketidakpedulian Bisa Berharga Sangat Mahal

Kembali kepermasalahan bangunan, saya seringkali melihat kualitas bangunan bangunan yang dibangun dalam beberapa tahun belakangan kualitasnya cukup mengkhawatirkan. Jika sebelumnya saya kesulitan menancapkan paku di tembok rumah saya di Lampung, beberapa rumah terkadang temboknya mudah dikelupas bahkan dengan sendok makan sekalipun. Tidak ada gempa atau angin, beberapa rumah yang baru dibuat juga terkadang terlihat jelas retakan retakan ini beberapa kali saya lihat saat saya berkunjung ke kosan-kosan teman saya dulu di Bogor (lama sekali,… hahaha) yang notabennya dibangun di area bekas sawah. Yah seperti kita ketahui bahwa sawah itu biasa di bangun di wilayah yang permukaan airnya dangkal sehingga mudah digenangi oleh air. Apa jadinya bila wilayah tersebut merasakan guncangan yang besar. Meski kita tetap saja tidak tahu mana yang pasti, tapi bukan hal yang buruk bila kita sudah memperkecil kemungkinan terjadinya.

Agar tidak kembali terluka oleh “Mereka yang datang tiba tiba” itu, Kita perlulah lebih kritis dalam menentukan lokasi dan lebih serius dalam membangun bangunan. Tentunya itu demi kebaikan kita, keluarga kita dan orang disekeliling kita, jangan sampai kita membayar sangat mahal untuk kebodohan dan ketidak pedulian kita dalam menentukan dimana kita akan tinggal.

(Dewa Putu AM, 2019)

Akhir kata saya ucapkan cepat beli sekarang juga karena hari senin harga naikkk,.. #krik

Sekian tulisan alakadarnya dari saya (untuk memenuhi tuntutan untuk lebih produktf menulis di tahun 2019) akhir kata terimakasih atas perhatiannya membaca bualan bualan saya, jika ada yang baik silahkan di simpan jika ada yang buruk silahkan dilupakan saja tanpa meninggalkan luka.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Gambar

Peta Interaktif created by Dewa Putu AM, with Vintage basemap by mapbox

Featured photo created by lachetas – www.freepik.com

BencanaPsikologiUncategorized

Bencana, Manusia dan Makna

September 16, 2018 — by dewaputuam0

2018_08_15_51527_1534319686._large-960x640.jpg

Senyum Lombok
Masih Ada senyum (Sumber: Facebook BNPB, foto by oleh Mas Accu )

BIAR BAGAIMANAPUN KITA TAK PERNAH LUPA BAHWA KITA MANUSIA

Belum lama ini kita ditunjukan  bahwa kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh dihadapan alam. Alam yang selama ini dengan pongah dan sadisnya kita eksploitasi tanpa henti. Dalam peradaban dunia kita yang kian maju dan manjakan oleh tekhnologi informasi, ketidaktahuan seperti sudah lama punah dan digantikan oleh perasaan mengetahui dan memahami segala hal. Kita lupa menyisakan ruang untuk ketidaktahuan kita. Sayangnya ketidaktahuan itu terkadang tidak disertai oleh keingintahuan atau mungkin kita sendiri yang mengabaikan pengetahuan yang sebenarnya sudah lama ada disekitar kita, dan akhir dari semua itu kita membayar mahal baik dengan materi dan yang paling terasa adalah nyawa yang menghilang.

Meskipun terkadang kita lupa untuk menyisakan ruang untuk ketidak tahuan kita, dan bila mau jujur banyak sekali hal penting yang tanpa sadar kita lupakan. Namun dari kejadian ini saya menyadari satu hal, ada satu hal yang sepertinya kita tidak pernah lupa.

Setidaknya, Kita tidak pernah lupa bahwa kita adalah manusia. Meskipun sebagai manusia kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh, namun biarlah, Pada kenyataannya banyak hal positif yang kita miliki dan dapatkan selama hidup berdampingan dengan orang lain. (digubah salsah satu kalimat dari T William & Carrin 2018 dalam buku berjudu Nol)

jejak kita di dunia maya sesaat setelah terjadi bencana

Kita tidak pernah lupa bahwa sejatinya kita adalah manusia. Bila sebelumnya saya menyalahkan peradaban kita yang kian maju dan dimanjakan tekhnologi informasi, saat ini saya justru memang harus mengakui bahwa salah satu bukti bahwa kita belum melupakan eksistensi kita sebagai manusia dapat dilihat dengan relatif mudah melalui kebiasaan kita meninggalkan jejak digital. Mungkin kita bisa memoles sedemikian rupa jejak-jejak yang kita tinggalkan di media sosial agar selalu terlihat baik dan mungkin kita tidak dapat memungkiri pula terkadang banyak kebohongan ditebar disana. Semua itu karena kita merasa diawasi dan dilihat oleh keluarga, kawan ataupun kenalan kita. Namun dalam situasi dan kondisi tertentu dimana kita merasa tidak terlihat, kebenaran tentang kita sebenarnya terungkap dengan bebas. Hal inilah yang mengantarkan kita pada suatu premis “Jejak pencarian kita di dunia maya dapat menggambarkan bagaimana kita sebenarnya”. lalu bagaimana kita bila dilihat dari jejak digital yang kita tinggalkan sesaat setelah terjadi bencana besar di NTB?

Sebuah riset kecil kecilan pun coba saya lakukan untuk gambaran gambaran tentang apa yang paling banyak kita cari sesaat setelah bencana terjadi, yang dalam hal ini kita ambil contoh Bencana Gempa 7SR di NTB  yang terjadi pada Tanggal 5 Agustus 2018.

  • Sesaat setelah kejadian, kata kunci terkait Gempa Lombok, Gempa NTB dan Gempa Bali yang paling populer dicari melalui mesin pencarian google adalah informasi terkait lokasi kejadian gempa terbaru.
  • Dalam rentang waktu 4 jam setelah kejadian, kata kunci populer pun bergeser dari sebelumnya terkait lokasi bencana menjadi potensi bencana susulan (gempa dan tsunami) dan tentunya kata kunci terkait Korban bencana mulai populer.
  • Keesokan harinya, setelah informasi sudah mulai membanjiri stasiun stasiun televisi dan media laiinya, terjadi lagi pergeseran kata kunci populer yakni dari bencana susulan dan korban menjadi Korban bencana dan Donasi untuk penyaluran bantuan.

Menariknya, terjadi pergeseran popularitas katakunci sesaat setelah kejadian, 4 jam setelah kejadian dan keesokan hari setelah berita mulai tersebar melalui berbagai media. Masarakat yang didominasi oleh masyarakat yang merasakan gempa awalnya memastikan lokasi gempa dan memastikan tidak adanya bencana susulan pada sesaat setelah kejadian. Hal ini terlihat dari katakunci lokasi gempa terbaru dan prediksi gempa susulan yang berada di puncak penelusuran.

Setelah 4 jam berlalu, dan memastikan tidak adanya tsunami, masyarakat mulai mencari informasi terkait korban. Keingintahuan masyarakat terkait jumlah korban akibat gempa yang mereka rasakan (untuk masyarakat dekat lokasi) dan mereka dapatkan informasinya dari media media lain mulai meningkat pada jam jam ini. Akibatnya , meskipun kata kunci gempa susulan masih menjadi pemuncak kepopuleran dalam pencarian google, kata kunci terkait korban mulai merangkak naik.

Hal yang paling menarik justru terjadi keesokan hari setelah berita terkait bencana sudah tersebar secara masif. Muncul salah satu kata kunci yang menyadarkan dan meyakinkan saya bahwa kita tidak pernah lupa satu sifat paling murni kita yang membedakan dengan makhluk makhluk lain. Sifat itu adalah Kepedulian. Sebenarnya hanya inilah kata kunci yang ingin saya sampaikan pada posting saya kali ini. Saat melihat kata kunci ini saya merasa bahwa meskipun banyak sekali hal negatif yang kita temui selama ini dan membuat pesimis, ternyata masih ada kepedulian. Meskipun sebagai manusia kita bukanlah siapa siapa, kita kecil dan kita rapuh, namun biarlah, Pada kenyataannya banyak hal positif yang kita miliki dan dapatkan selama hidup berdampingan dengan orang lain. Tampaknya frase ini masih relvan ditengah banyak hal negatif ego masing masing kita yang sepertinya memang perlu kita akui bersama.

bencana, manusia dan makna

Bencana, Manusia dan makna hidup sebagai manusia tidak dapat kita pisahkan. Mungkin egois, namun realistis bahwa suatu kejadian kita anggap bencana bilamana sudah mengganggu penghidupan dan kehidupan kita sebagai manusia. Bilamana suatu peristiwa tidak signifikan mengganggu hidup maupun kehidupan manusia maka sulit bagi kita mengaggap peristiwa tersebut sebagai suatu bencana. Namun bila peristiwa tersebut berdampak negatif terhadap hidup dan kehidupan kita sebagai manusia maka kita sepakat hal tersebut merupakan bencana, sekecil apapun itu. Olehkarena itu setiap kali terjadi bencana kita selalu mengkaitkan pada dampaknya kepada Diri kita sebagai suatu individu yang ingin diri dan keluarganya dalam kodisi aman dan kemudian baru dampaknya pada orang lain baik berupa korban maupun kerugian kerugian lainnya.

Definisi bencana yang demikian pun tertuang dalam  Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mendefinisikan Bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Di Indonesia kita mengenal berbagai bencana, dan hampir setiap jengkal wilayah di Indonesia memiliki karakter bencana dan jenis bencanya yang terkadang sangat unik dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Begitu banyaknya jenis bencana yang ada di Indonesia menjadikan Negri kita ini layak memiliki sebutan sebagai Supermarket Bencana. Bila kita kaitkan kembali dengan kejadian bencana Gempa bumi di NTB yang terjadi baru baru ini tentu Bencana NTB “hanyalah satu” dari sekian bencana yang terjadi di Indonesia yang notabennya merupakan supermarket bencana. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah dengan Indonesia yang merupakan supermarket bencana dengan kejadian bencana bencana hampir setiap hari terjadi menjadikan Bencana NTB merupakan hal yang biasa?

Bukan, bukan itu poin pentingnya, Bencana NTB memang berdampak besar tidak hanya pada masyarakat sekitar, Bencana ini merupakan salah satu bencana terbesar dalam 5 tahun terakhir baik dari kerugian materi dan yang paling terlihat dan terasa adalah jumlah korban jiwa yang besar berdasarkan data Pos Pendamping Nasional BNPB untuk bencana Gempa NTB perbaharuan 15 September 2018, total korban meninggal dunia saat ini telah mencapai 564 jiwa dan jumlah itu tentu bukanlah jumlah yang sedikit. Bencana NTB merupakan salah satu penderitaan terbesar yang menimpa bangsa kita. Kita tidak perlu menghindari dan menulak kesedihan yang ada itu, Kita tidak perlu malu untuk menangis dalam kesedihan, karena air mata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar, yakni keberanian untuk menderita (Victor E Frankl).

Perhatian utama manusia bukan untuk mencari kesenangan atau menghindari kesedihan, tetapi menemukan makna dalam hidupnya. (Victor E Frankl)

Kita tidak boleh lupa bahwa makna hidup kita sebagai manusia bahkan bisa ditemukan dalam sebuah penderitaan. Mungkin apa yang sudah terjadi memang sudah tidak bisa kita harapkan berubah. Korban yang telah pergi pun sudah tidak akan dapat kita harapkan kembali. Pada saat saat itu, kita menjadi saksi  adanya potensi manusia yang unik yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya dalam bentuknya yang terbaik, yang bisa mengubah tragedi menjadi kemenangan, mengubah kemalangan menjadi keberhasilan. Dari tragedi Gempa di NTB kita dapat melihat masih sangat banyaknya orang orang yang peduli.

Hidup bersama Gempa (Sumber: Indonesia Uinspire)

Kepedulian mereka mereka wujudkan dalam berbagai cara, Sebagai sukarelawan yang tanpa kenal lelah menyalurkan semua yang ada pada dirinya baik pikiran maupun tenaga untuk membantu, Para dermawan yang memberikan sebagian dari hartanya untuk meringankan penderitaan saudara saudara yang menjadi korban dan masih banyak lagi bentuk kepedulian yang baik terlihat maupun tidak dengan sukarela mereka berikan untuk NTB. Dan kita juga menyaksikan begitu tangguhnya masyarakat NTB yang kini mulai berbenah dan membangun kembali. Bukan hal yang berlebihan jika kita sebut masyarakat NTB merupakan masyarakat yang tangguh. Kita dan NTB hidup bersama gempa sudah berkali kali kita kita menghadapi gempa besar begitu juga dengan Lombok yang sudah berkali kali pula mengalami gempa kuat Namun Lombok dan kita menunjukan ketangguhannya untuk terus dan terus bangkit. Lebih baik dan terus lebih baik lagi dan semakin tangguh, mungkin sesaat lalu kita lupa, namun kita kan tetap bangkit dan membangun ketangguhan pada level selanjutnya. Menuju NTB yang tangguh bencana, Menuju Indonesia Sadar Bencana #NTBBANGUNKEMBALI

Saya sadari ketidak akan mampuan saya dalam menggambarkan bahkan sedikit saja tentang begitu luar biasanya makna yang diberikan trageni ini pada Masyarakat NTB dan juga bagi kita semua. Ada makna tersebar dalam tragedi ini,

  • Pentingnya kita mengenal dan memahami lingkungan kita,
  • Masih adanya kepedulian
  • Kekuatan masyarakat NTB
  • Dan beribu makna lain yang tidak mungkin bisa sebutkan satu persatu menjadikan Gempa NTB begitu membekas.

Tragedi Gempa NTB dan Bencana secara umum mengajarkan kita bahwa bencana bukan hanya tentang amarah alam pada manusia, bukan hanya kerusakan yang dilakukan alam karena kita yang selama ini dengan arogan memperlakukan alam dengan seenaknya, tetapi yang terpenting dari semua itu adalah tentang sebuah makna, tentang kita sebagai manusia,

Akhir kata ijinkan saya untuk mengucapkan terimakasih dan penghargaan sebesar besarnya kepada semua pihak yang selama ini terlibat dalam penanggulangan bencana Gempa NTB, semoga NTB akan bangkit seperti sedia kala bahkan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

Salam,

Dewa Putu AM,

Sumber:
BNPB, 2018, Data Informasi Bencana Indonesia (link)
Pospenas BNPB untuk Gempa NTB, (link)