main

BencanaLingkunganOpiniUncategorized

Menilik Ulang Pesta Asap 2019 yang besar nan Meriah

November 6, 2019 — by dewaputuam0

2504589369.jpg
“Keindahan” yang terpancar saat hutan terbakar. Coba bayangkan seberapa banyak hewan dan tumbuhan yang ikut hangus melayang dan tersiasiakan disana. Tidak banyak mungkin.[mungkin] (Sumber: National Geographic Indonesia – Grid.ID)

Kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 meninggalakan banyak kisah dan pembelajaran bagi kita. Pembelajaran yang seperti biasa yang sangatlah mungkin akan hanya sekedar menjadi pembelajaran saja tanpa adanya aksi aksi strategis dan nyata. Bila pada tahun sebelumnya di tahun 2018 kita menggembor gemborkan keberhasilan kita dalan menangkal kebakaran hutan beserta aksi heroik para pemadam dalam mengendalikan api. Aksi heroik secara harafiah, karena mereka tidak hanya mengorbankan waktu mereka saja untuk melakukan hal tersebut namun juga bertaruh kesehatan bahkan nyawa mereka.

Pada tahun ini kita terbungkam oleh pekatnya asap di berbagai daerah. Asap menyebar ke penjuru wilayah hingga terkadang melewati batas negara dan menyapa tetangga. Saling menyalahkan dan bercuci tangan pun tak terhindar, berbeda sekali dengan tahun kemarin yang saling klaim keberhasilan. Kemana mereka yang kemarin mengklaim keberhasilan mereka? apakah mereka terdiam terbungkam oleh pekatnya asap kali ini. Tidak, mereka tidak berpangku tangan saja, mereka bergerak kalang kabut memadamkan api, yups mereka dengan berbagai orang dibawahnya. Saya ada dibawah sana, titik kecil yang sangat kecil hingga mungkin tidak terlihat oleh mata.

Pesta rutin tahunan, Namun kenapa kita seolah suka terlena tidak pernah belajar

Tahun lalu saat di deploy di Sumatera Selatan untuk mengurusi operasi pengaman Asian Games bebas asap, saya sempat berbincang pada seorang dibalik layar. Dengan mata berkaca kaca ia bercerita betapa sulitnya mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Ia mengatakan bahwa 2018 kita selamat karena iklim memang sedang berpihak pada kita. Musim kering yang tidak begitu intens menyebabkan kebakaran relatif mudah dipadamkan dan masih dapat ditanggulangi. Meskipun berjibaku keras menangani kebakaran semua itu masih untung dan terbantu dengan iklim yang memang sedang bersahabat. Pada kesempatan itu pul dengan mata yang masih berkaca kaca bahwa ia sedikit resah dengan musim kering 2019 yang kabarnya akan terjadi El Nino, yang menurutnya akan berdampak pada intens dan sulitnya kebakaran yang akan terjadi.

Setahun kemudian, apa yang ditakutkan beliaupun terjadi. Iklim dengan El Ninonya menunjukan sesuatu yang tidak sebersahabat tahun lalu. Kebakaran hebat terus menghantam berbagai wilayah di Indonesia. TIdak hanya terjadi pada daerah daerah yang sudah berlangganan terbakar, namun juga mayoritas gunung gunung di pulau Jawa dan Nusa tenggara seakan kompak menyulurkan lidah lidah api membakar lahan pada tahun ini. Saat kebakaran hebat terjadi pemadaman darat hingga penggunaan helikopter untuk melakukan water bombing adalah suatu usaha yang berada di batas tipis di antara harapan dan ketidak mungkinan. Kebakaran yang begitu luas dan masif akan sangat sulit bahkan dengan berat hati saya katakan itu tidak mungkin dipadamkan.

Jika dianalogikan seakan kita sedang ingin memadamkan kebakaran yang terjadi di sebuah rumah dengan sesendok demi sesendok air. Mungkin terlihat terlalu berlebihan namun cobalah teman teman lihat kebakaran yang saya sisipkan dibawah ini dan bandingkan seberapa banyak air yang ditumpahkan helikopter dan seberapa besarnya kebakaran yang sayangnya sangat banyak yang jauh lebih besar dari kebakaran yang saya tampilkan pada gambar ini.

Lokasi kebakaran hutan dan lahan yang mayoritas dikatakan berada di lahan gambut meningkatkan level ketidakmungkinan dan bahaya dalam menanganinya. Bila di tanah tanah lainnya kebakaran selalu sangat jelas terlihat dimana letak apinya. Kebakaran di lahan gambut berbeda. Saat lahan gambut terbakar, yang terbakar tidak hanya dipermukaan saja namun jauh dibawah tanah sehingga akan terlihat tanah yang berasap saja bila kita gali dalam tanah tersebut maka akan terlihat bagian dalamnya telah hangus terbakar. Kebakaran ini dapat merambat jauh melalui bawah tanah dan muncul lagi ditempat lain. Terlihat bercanda ya, namun akibat yang ditumbulkannya sayangnya tidak sebercanda itu. Berdasarkan data kementerian kesehatan yang dirilis September 2019 hampir 1 Juta orang menderita infeksi saluran pernapasan akibat kebakaran hutan yang terjadi.

Ini salah mereka, salah perusahaan besar dan pemerintah! dan bukan salah kita, dan lalu apakah kita peduli dengan semua itu? hanya ikut ikutan mengeluh, menghujat dan meramaikan beranda maya kita, dan itu saja

Jagat maya ramai akan keluh kesah, doa, hujatan bahkan kutukan pada siapapun yang “umum” katakan bersalah. Entah itu pemerintah ataupun para kara kambing terbakar hangus lainnya. Kita butuh sesuatu yang kita persalahkan. “Itu cukup bagi kita” itu cukup adil bagi kita sambil menikmati satu bungkus mie instan dan satu cup plastik kopi di tangan. Lincahnya tarian jemari kita menguntai satu demi satu kata penuh dengan kebajikan dan terkadang disisipi “candaan” ringan akan apa yang sudah dan sedang terjadi. Miris memang, disatu sisi kita menyalahkan gilanya pembakaran untuk pembukaan lahan dan perluasan perkebunan namun disisi lain kita justru menjadi pasar yang begitu rakus menikmati produk turunan dari apa yang mereka bakar tersebut.

Dengan iseng saya mencoba menelisik sedikit bagaimana si ketertarikan kita pada isu isu seperti kebakaran hutan dan asap. Meskipun dapat ditebak, sama seperti bencana bencana pada umumnya rasa ingin tahu kita pada isu isu seperti ini hanya anget anget tai ayam saja. Akan melonjak naik bila memang sudah heboh. Kebanyakan dari kita adalah orang orang yang latah dan mengikuti arus saja. Saat semua berbicara A maka kita akan berbicara A. Hingga pada suatu waktu A akan dilupakan, kitapun akan lupa tanpa bekas. Tak ada lagi pelajaran bahkan ingatan yang kita simpan sekedar untuk bahan menghadapi masa yang akan datang. Hal berulang selalu terjadi.

Ada sebuah kata bijak yang selalu terngiang dalam benak saya dan mungkin teman teman sudah sering pula mendengar kata kata ini dalam bentuk lain. Kejadian seperti ini, baik kebakaran hutan, membeludaknya sampah dan beberapa keburukan yang terjadi disekitar kita terjadi tidak hanya karena banyak orang jahat yang melakukan kejahatan, namun karena banyaknya orang baik yang tidak lagi peduli.

Sudahlah semua itu mungkin sudah berlalu dan kita saat ini sedang memasuki lembar baru. Kebakaran hutan dan lahan bersama dengan Asapnya yang mencekik kita berbulan bulan kini akan tergantikan dengan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Yang menjadi pertanyaan besar dan paling penting kita ungkap pertama dan segera bukalah seberapa besar dampak karhutla dan asap pada bulan bulan lalu, tetapi seharusnya seberapa banyak pembelajaran yang kita dapat pada kesalahan kita lalu yang dapat kita kerjakan dan perbaiki di masa kedepannya. Tidak mungkin 0 kan. Saya yakin tidak mungkin 0. Karena saya percaya kita adalah orang orang yang selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Kita selalu peduli dengan hutan dan kita selalu peduli dengan segala kekayaan hayati di sekitar kita. Saya yakin itu. [mungkin]

BencanaKlimatologiSains AtmosfirUncategorized

Riau Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap

March 1, 2019 — by dewaputuam2

burn-burning-fire-51951-960x627.jpg

Kemarin tanggal 28 Februari 2019, BNPB melalui Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Wisnu Widjaja melakukan konfrensi pers terkait karhutla yang terjadi di Riau akhir akhir ini. Dalam beberapa berita menyebutkan bahwa beliau memprediksi bahwa musim musim karhutla di Riau akan berlangsung terus pada Bulan Maret dan kemudian akan terbakar lagi pada bulan Bulan Juni. Berita berita tersebut tentunya akan menjadi momok yang begitu menakutkan bagi warga Riau dan sekitar mengingat hingga saat ini sekitar 2671 kasus infeksi saluran pernapasan di daerah Dumai dan Sekitarnya (Sumber: Tempo). Jika berkaca pada pengalaman saya waktu bekerja ditengah kabut asap pada tahun 2015 di Tamiang Layang di Kalimantan Tengah terpapar asap itu sungguh tidak nyaman. Baju jadi bau asap dan untuk bernapas rasanya tidak enak karena bercampur bau bau an dan upil jadi lebih banyak diproduksi (hehehe).

Pasien yang terpapar Asap (Sumber: Tempo)

Kembali kepada prediksi bulan Maret dan Juni, Bagi sebagian orang mungkin sedikit dibuat heran dengan banyak berita yang menyebutkan Riau sudah terbakar sejak Januari, Februari. Keheranan ini biasanya dialami oleh orang orang yang tinggal di Daerah Jawa, Bali dan Sumatera bagian Selatan. Hal ini dikarenakan pada bulan bulan tersebut Wilayah Jawa dan sekitar sedang mengalami musim penghujan yang tentunya kecil kemungkinan terjadi kebakaran hutan dan lahan pada waktu waktu tersebut. Dalam Klimatologi, secara sederhana Indonesia memiliki 3 tipe curah hujan umum yaitu tipe curah hujan monsunal, curah hujan equatorial dan curah hujan lokal.

Untuk Permulaan, Kita Salahkan saja Dulu Iklimnya

Wilayah yang memiliki tipe curah hujan Monsunal seperti Jawa, Bali, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara mengalami musim penghujan pada Bulan Januari-Maret dan kemudian akan mengalami kmarau sejak Maret hingga September, kemudian Hujan lagi. Berbeda dengan Monsunal, wilayah wilayah seperti Sumatera bagian Utara hingga Tengah, Kalimantan, Sebagian Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua yang memiliki curah hujan tipe Equatorial justru pada bulan Januari- Maret mengalami musim kering dan kemudian kering lagi pada Mei-Juli. Hal ini lah yang menjadi dasar prediksi BNPB sebelumnya. Pada bulan Maret dan kemudian dilanjutkan Bulan Juni tersebut secara klimatologis Wilayah Riau dan beberapa wilayah yang bertipe equatorial akan mengalami musim kering. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat melalui Gambar dibawah ini.

Sumber (Bayong 1999 melalui Kadarsah[dot]Wordpress[dot]com)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebakaran di Indonesia banyak diakibatkan oleh pembukaan lahan untuk perkebunan. Begitu juga yang saat ini terjadi di Riau. Hal ini disampaikan oleh Raffles B. Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan dimuat dalam Tempo. Beliau menyebutkan bahwa kebakaran lahan di Riau kebanyakan memnag diakibatkan oleh kesengajaan membuka lahan perkebunan kelapa sawit.

Kita Butuh Antibiotik untuk Menangani Karhutla

Jika memang ada unsur kesengajaan disana, maka dapat dikatakan bahwa prediksi prediksi terkait lokasi kebakaran hutan yang selama ini dilakukan para ahli BMKG dengan FDRS-nya dan CCROM dengan kebakaranhutan.id nya, monitoring air tanah oleh Badar Restorasi Gambut, monitoring hotspot oleh LAPAN dan BMKG hanya berguna untuk menebak waktu dan lokasi yang tepat untuk para pembakar melakukan aksinya. Atau setidaknya menebak kira kira dimana para pembakar akan membakar lahan. Saya disini tidak mengatkan bahwa usaha usaha yang instansi instasi tersebut tidak berguna. Apa yang mereka lakukan sangat berguna namun menurut saya ada kurang satu aksi yang sangat penting bukan dari instansi instansi teknis dan juga instansi berbasis riset namun instansi penegak hukum.

Jika saya boleh menganalogikan kebakaran hutan adalah sebuah penyakit, maka usaha dan aksi para Kementerian dan lembaga adalah obat pereda panas, obat pereda batuk dan pengurang rasa mual. Namun agar penyebab gejala gejala tersebut dapat diatasi maka kita perlu Antibiotik yang membunuh sumber (penyebab) gejala gejala penyakit tersebut yang dalam hal ini karena penyakit sebenarnya adalah ulah manusia dan bukan iklim, maupun kelembban tanah maka usaha utama untuk mengendalikannya tidak lain adalah usaha di bidang hukum dan sosial serta ekonomi. Saya menambahkan bidang sosial disini karena tidak semua kegiatan pembakaran tersebut sesederhana yang salah di tangkap dan dipenjara. Ada permasalahan sosial yang kompleks sedang terjadi disana yang tentunya penyelesaiannnya juga harus didekati dengan pendekatan ilmu sosial dan ekonomi.

Pendekatan politik akan melengkapi racikan antibiotik yang sebelumnya sudah diisi dengan hukum, sosial dan ekonomi. Permasalahan ini tentu tidak dapat diatasi oleh remah remah kerupuk kaum proletar seperti saya, suara pun sudah pasti tidak didengar dan di gubris. Butuh banyak kaum elit yang memang mengesampingkan ego pribadi dan sektoralnya untuk menanggulangi masalah ini. Selain mengesampingkan ego, mereka mereka ini juga perlu mengamani dirinya dengan perlindungan berlapis lapis karena yang dihadapi mereka bukan sesuatu yang main main. Ada triliun-triliunan rupiah berputar dan bertarung di mimbar kebakaran hutan dan lahan dari hulu seperti perkebunan-perkebunan hingga hilir seperti usaha usaha pemadamannya penyewaan heli misalnya yang tentunya akan keluar angka fantastis bila dihitung.

Pengalaman Naik Heli saat Patroli Aseangames Bebas Asap 2018

Tanpa adanya aksi aksi yang bersifat antibiotik, saya ragu karhutla dapat kita tangani dengan baik dan kita dapat terlepas dari aksi aksi yang hanya berkutat pada tukang memadamkan api. Kita pun akan semakin banyak menemukan berita berita tentang ribuan korban yang berjatuhan karena penyakit pernapasan. Dan kemudian berita tersebut akan dikalahkan oleh berita protesnya para tetangga yang kita asapi sepanjang kemarau. Kita tidak tahu pasti akan sampai sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan, para pecinta alam mungkin akan berkoar koar tentang hilangnya kekayaan hayati indonesia. Namun saya rasa tidak hanya itu, Karhutla tidak lah hanya membakar kekayaan hayati kita, namun membakar pula kekayaan hati kita yang tetap diam melihat orang merendahkan diri dengan menjual nyawa dan masa depan jutaan orang hanya demi uang semata (omong kosong sekali ya hehehe). yah tapi jauh dari itu, kita membutuhkan antibiotik untuk permasalahan karhutla, ntah itu secara harfiah berarti “bersifat Anti-bio” atau secara tersirat saja sudah cukup.

Tanpa itu semua Riau dan Wilayah lainnya akan Tetap Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap #Mungkinselamanya hingga pohon terakhir tumbang dan berakhir pada musium yang bertuliskan “Dulu sekali kami memiliki hutan yang kaya namun kami gagal menjaganya”

(Dewa Putu AM, 2019)

Sekian dari saya, kalau saya ulik ulik lebih dalam lagi akan berbahaya hehehe saya masih sayang nyawa. Akhir kata

Salam

Dewa Putu AM.

Sumber Featured Image Pixabay.com