main

BencanaLingkunganOpiniUncategorized

Menilik Ulang Pesta Asap 2019 yang besar nan Meriah

November 6, 2019 — by dewaputuam0

2504589369.jpg
“Keindahan” yang terpancar saat hutan terbakar. Coba bayangkan seberapa banyak hewan dan tumbuhan yang ikut hangus melayang dan tersiasiakan disana. Tidak banyak mungkin.[mungkin] (Sumber: National Geographic Indonesia – Grid.ID)

Kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 meninggalakan banyak kisah dan pembelajaran bagi kita. Pembelajaran yang seperti biasa yang sangatlah mungkin akan hanya sekedar menjadi pembelajaran saja tanpa adanya aksi aksi strategis dan nyata. Bila pada tahun sebelumnya di tahun 2018 kita menggembor gemborkan keberhasilan kita dalan menangkal kebakaran hutan beserta aksi heroik para pemadam dalam mengendalikan api. Aksi heroik secara harafiah, karena mereka tidak hanya mengorbankan waktu mereka saja untuk melakukan hal tersebut namun juga bertaruh kesehatan bahkan nyawa mereka.

Pada tahun ini kita terbungkam oleh pekatnya asap di berbagai daerah. Asap menyebar ke penjuru wilayah hingga terkadang melewati batas negara dan menyapa tetangga. Saling menyalahkan dan bercuci tangan pun tak terhindar, berbeda sekali dengan tahun kemarin yang saling klaim keberhasilan. Kemana mereka yang kemarin mengklaim keberhasilan mereka? apakah mereka terdiam terbungkam oleh pekatnya asap kali ini. Tidak, mereka tidak berpangku tangan saja, mereka bergerak kalang kabut memadamkan api, yups mereka dengan berbagai orang dibawahnya. Saya ada dibawah sana, titik kecil yang sangat kecil hingga mungkin tidak terlihat oleh mata.

Pesta rutin tahunan, Namun kenapa kita seolah suka terlena tidak pernah belajar

Tahun lalu saat di deploy di Sumatera Selatan untuk mengurusi operasi pengaman Asian Games bebas asap, saya sempat berbincang pada seorang dibalik layar. Dengan mata berkaca kaca ia bercerita betapa sulitnya mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Ia mengatakan bahwa 2018 kita selamat karena iklim memang sedang berpihak pada kita. Musim kering yang tidak begitu intens menyebabkan kebakaran relatif mudah dipadamkan dan masih dapat ditanggulangi. Meskipun berjibaku keras menangani kebakaran semua itu masih untung dan terbantu dengan iklim yang memang sedang bersahabat. Pada kesempatan itu pul dengan mata yang masih berkaca kaca bahwa ia sedikit resah dengan musim kering 2019 yang kabarnya akan terjadi El Nino, yang menurutnya akan berdampak pada intens dan sulitnya kebakaran yang akan terjadi.

Setahun kemudian, apa yang ditakutkan beliaupun terjadi. Iklim dengan El Ninonya menunjukan sesuatu yang tidak sebersahabat tahun lalu. Kebakaran hebat terus menghantam berbagai wilayah di Indonesia. TIdak hanya terjadi pada daerah daerah yang sudah berlangganan terbakar, namun juga mayoritas gunung gunung di pulau Jawa dan Nusa tenggara seakan kompak menyulurkan lidah lidah api membakar lahan pada tahun ini. Saat kebakaran hebat terjadi pemadaman darat hingga penggunaan helikopter untuk melakukan water bombing adalah suatu usaha yang berada di batas tipis di antara harapan dan ketidak mungkinan. Kebakaran yang begitu luas dan masif akan sangat sulit bahkan dengan berat hati saya katakan itu tidak mungkin dipadamkan.

Jika dianalogikan seakan kita sedang ingin memadamkan kebakaran yang terjadi di sebuah rumah dengan sesendok demi sesendok air. Mungkin terlihat terlalu berlebihan namun cobalah teman teman lihat kebakaran yang saya sisipkan dibawah ini dan bandingkan seberapa banyak air yang ditumpahkan helikopter dan seberapa besarnya kebakaran yang sayangnya sangat banyak yang jauh lebih besar dari kebakaran yang saya tampilkan pada gambar ini.

Lokasi kebakaran hutan dan lahan yang mayoritas dikatakan berada di lahan gambut meningkatkan level ketidakmungkinan dan bahaya dalam menanganinya. Bila di tanah tanah lainnya kebakaran selalu sangat jelas terlihat dimana letak apinya. Kebakaran di lahan gambut berbeda. Saat lahan gambut terbakar, yang terbakar tidak hanya dipermukaan saja namun jauh dibawah tanah sehingga akan terlihat tanah yang berasap saja bila kita gali dalam tanah tersebut maka akan terlihat bagian dalamnya telah hangus terbakar. Kebakaran ini dapat merambat jauh melalui bawah tanah dan muncul lagi ditempat lain. Terlihat bercanda ya, namun akibat yang ditumbulkannya sayangnya tidak sebercanda itu. Berdasarkan data kementerian kesehatan yang dirilis September 2019 hampir 1 Juta orang menderita infeksi saluran pernapasan akibat kebakaran hutan yang terjadi.

Ini salah mereka, salah perusahaan besar dan pemerintah! dan bukan salah kita, dan lalu apakah kita peduli dengan semua itu? hanya ikut ikutan mengeluh, menghujat dan meramaikan beranda maya kita, dan itu saja

Jagat maya ramai akan keluh kesah, doa, hujatan bahkan kutukan pada siapapun yang “umum” katakan bersalah. Entah itu pemerintah ataupun para kara kambing terbakar hangus lainnya. Kita butuh sesuatu yang kita persalahkan. “Itu cukup bagi kita” itu cukup adil bagi kita sambil menikmati satu bungkus mie instan dan satu cup plastik kopi di tangan. Lincahnya tarian jemari kita menguntai satu demi satu kata penuh dengan kebajikan dan terkadang disisipi “candaan” ringan akan apa yang sudah dan sedang terjadi. Miris memang, disatu sisi kita menyalahkan gilanya pembakaran untuk pembukaan lahan dan perluasan perkebunan namun disisi lain kita justru menjadi pasar yang begitu rakus menikmati produk turunan dari apa yang mereka bakar tersebut.

Dengan iseng saya mencoba menelisik sedikit bagaimana si ketertarikan kita pada isu isu seperti kebakaran hutan dan asap. Meskipun dapat ditebak, sama seperti bencana bencana pada umumnya rasa ingin tahu kita pada isu isu seperti ini hanya anget anget tai ayam saja. Akan melonjak naik bila memang sudah heboh. Kebanyakan dari kita adalah orang orang yang latah dan mengikuti arus saja. Saat semua berbicara A maka kita akan berbicara A. Hingga pada suatu waktu A akan dilupakan, kitapun akan lupa tanpa bekas. Tak ada lagi pelajaran bahkan ingatan yang kita simpan sekedar untuk bahan menghadapi masa yang akan datang. Hal berulang selalu terjadi.

Ada sebuah kata bijak yang selalu terngiang dalam benak saya dan mungkin teman teman sudah sering pula mendengar kata kata ini dalam bentuk lain. Kejadian seperti ini, baik kebakaran hutan, membeludaknya sampah dan beberapa keburukan yang terjadi disekitar kita terjadi tidak hanya karena banyak orang jahat yang melakukan kejahatan, namun karena banyaknya orang baik yang tidak lagi peduli.

Sudahlah semua itu mungkin sudah berlalu dan kita saat ini sedang memasuki lembar baru. Kebakaran hutan dan lahan bersama dengan Asapnya yang mencekik kita berbulan bulan kini akan tergantikan dengan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Yang menjadi pertanyaan besar dan paling penting kita ungkap pertama dan segera bukalah seberapa besar dampak karhutla dan asap pada bulan bulan lalu, tetapi seharusnya seberapa banyak pembelajaran yang kita dapat pada kesalahan kita lalu yang dapat kita kerjakan dan perbaiki di masa kedepannya. Tidak mungkin 0 kan. Saya yakin tidak mungkin 0. Karena saya percaya kita adalah orang orang yang selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Kita selalu peduli dengan hutan dan kita selalu peduli dengan segala kekayaan hayati di sekitar kita. Saya yakin itu. [mungkin]

BencanaMeteorologiPsikologiSains AtmosfirUncategorized

Ini Cerita Tentang Hujan Buatan yang Melanggar Hukum Tuhan?

September 21, 2019 — by dewaputuam0

blur-blurred-background-close-up-1915182-960x1440.jpg
Photo by Noelle Otto from Pexels.

Di tengah hembusan asap yang pekat akhirnya hujan turun juga. Hujan yang digadang gadang sebagai salah satu keberhasialan dari sekian banyak usaha modifikasi cuaca ini turun dengan begitu lebat. Di sebuah teras gubuk kecil di salah satu daerah yang sekian lama menutup diri dan mengilang dalam pekat kabut menyesakkan itu duduk seorang kakek dengan cucunya. Dua cngkir air berisikan minuman berwarna hitam pekat dan coklat kemerahan mengepulkan uap air berwarna putih tipis tertiup angin dan hendak memasuki rumah.

Aroma sangit menyesakkan yang berhari bahkan berminggu menyengat sedikit terganti dengan aroma aroma tanah yang menari dihantam butiran air. Pekat sangit memanglah belum menghilang namun bersembunyi dan mengintai sejenak dan menunggu waktu yang tepat untuk memukul setiap hidung dan paru makhluk bernapas di dekatnya.

“Kek,… Apakah hujan seperti ini menentang hukum alam, menentang apa yang digariskan tuhan kah?” celoteh sang cucu sambil mengusap perlahan gawai yang ia pandangi sendari tadi. Pendaran cahaya gawainya memnyelimuti wajak sang cucu membentuk kontur kontur berona terang dari hidung hingga tiga per empat pipinya. Dari bayangan yang terpantul dimatanya terlihat jelas dominasi cahaya biru putih memancar dari gawainya.

Ketika Sang Kakek Bercerita Tentang Hujan dan Kita

“Kenapa kau tanyakan begitu cu?” tanya sang kakek sambil sedikit mencondongkan badannya untuk sedikit menggeserkan lipatan perutnya kearah yang lebih nyaman serta membagi nyeri persendian tulang tulang bagian kannyannya kearah tulang lain di bagian kiri. “woy narator, jangan gambarin gerakan kakek ini sedetail itu dong, saya memang tua tapi tidak serenta itu ya? keh keh keh” kata sang kakek kepada saya (penulis). “Oke siap kek, monggo dilanjutkan adegannya” jawab saya sambil terus menulis.

(Photo by Aleksandar Pasaric from Pexels )

“Oke cu, kita lanjut. Tadi gimana cu” tanya sang kakek sambil menggeser lipatan perutnya dan membagi nyeri punggunya kearah pinggangnya lagi dan kini matanya menyorot tajam pada saya mengisyaratkan sesuatu yang sepertinya saya paham apa maksudnya.

“Ini kek, tadi saya sedang baca berita tentang penanganan kebakaran hutan hari ini. Berita bagusnya kek, tim modifikasi cuaca telah berhasil mendatangkan hujan ini. Jadi hujan yang sekarang kita rasakan ini salah satu hasil dari tim modifikasi cuaca kek. Tapi yang buat saya berpikir ada yang berkomentar kalau usaha seperti ini melanggar hukum tuhan kek. Benarkah begitu kek?” tanya sang cucu sembari menunjukan apa yang ia lihat sendari tadi di gawainya.

Sejenak kakek mendekat kearah sang cucu dan mengenakan kacamata yang tadi terguntai dan terselip di saku bajunya. Setelah sekian lama berkomat kamit membaca berita tersebut akhirnya sang kakek bersuara lagi “uhuk uhuk uhuk” ia kemudian menserusup kopi hitam pekat untuk meredakan tenggorokannya. “Jadi gini cu, kakek ingin meluruskan sedikit. buat hujan buatan itu tidak ujug ujug dari tidak ada angin tidak ada awan langsung bisa disulap ada hujan. Hujan buatan itu pada intinya hanya ningkatin kemungkinan hujan dari sebelumnya yang sudah memang ada namun masih kecil kemungkinannya. Jadi sebenere mirip mirip lah prinsipnya sama kita bertani yang kita lakuin apapun yang kita bisa ngatur jarak tanam, kasi pupuk dan nyediain air buat ningkatin hasil.”

Perlawanan Terbesarkita Hukum Alam Bukan Pada Saat Kita Memodifikasi Cuaca.

Photo by Gabriela Palai from Pexels

“Untuk menyemai hujan kita perlu memahami bagaimana itu proses terbentuknya butir butir hujan diawan, apa yang menyebabkan uap uap air disana menjadi air disana menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan memukul daratan. Itu ada seninya cu, dengan katalain kita harus paham dulu hukum hukum yang ada disana yang ternyata untuk membentuk butir butir hujan perlu ada partikel kondensasi.

Yah kalau di dunia nyata bisa dianggap sebagai profokatornya lah, dialah yang bertanggung jawab untuk menarik massa (air dan uap air) untuk berkerumun dan kemudian membentuk butir butir hujan. Kita tetap harus mengikuti hukum tersebut untuk sedikitlah menginterferensi, mengikuti dan bukan malah melawannya.” Ucap sang kakek kembali menggeser geser kerut lipat pada kulitnya sembari membenahi posisi tulang rentanya dan melirik tajam lagi kepada sang penulis.

“Cu,.. Perlawanan dan penyangkalan terbesar yang kita pada alam bukan pada apa yang kita perbuat untuk mendatangkan hujan, bukan pula pada bagaimana orang yang “membakar” hutan hutan demi uang.

Perlawanan kita pada hukum alam terbesar kita adalah tidak menggunakan dengan baik satu satunya pembeda kita dengan tumbuhan dan hewan hewan diluar sana” ucap sang kakek sambil menunjuk keningnya sambir berucap “Rasional kita cu”

Kakek Putu 2019

Setelah berucap demikian, sang kakek beranjak dari kursi santainya dan berjalan gontai perlahan melewati pintu. Tangan kirinya menggenggam lembaran surat kabar yang tidak jelas tulisannnya dan didominasi warna putih yang katanya suatu ekspresi untuk menggambarkan mengganggunya asap. Tangan kanannya yang keriput dan sedikit bergetar memegang cangkir kopinya yang sudah kosong, habis diminumnya saat asik berbincang dengan sang cucu. Gerak kakinya perlahan menyusuri lantai kayu dan suara decit antara sandal dan lantai nyaris tidak terdengar oleh suara derasnya air hujan. “Nek, minta kopi lagi dong” ucapnya sambil memasuki rumah munyilnya.

Feature Image by Nur Andi Ravsanjani Gusma from Pexels

BencanaUncategorized

Kita Biarkan Saja mereka Terbunuh Perlahan?

September 15, 2019 — by dewaputuam2

e006fbb31a0ea88b3ea227299e8fdf39ba6fca3e-960x636.jpg
Karena tebalnya kabut asap, anak kecil ini sulit untuk melihat. Ada sesuatu kenyataan yang pahit ditunjukan pada gambar ini. Dalam serbuan kabut asap yang demikian hebat di sejumlah wilayah Indonesia anak anak kecil seperti inilah yang paling rawan untuk terdampak bahkan dapat mengancam jiwa mereka. Selain tubuhnya belum kuat, perlindungan seperti masker pun tidak didesain untuk mereka sehingga meski fungsi masker dalam memfilter udara tidak optimal, selain itu jenis masker yang digunakan pun kebanyakan tidak untuk partikel partikel yang kecil sehingga sangat besar kemungkinan polutan asap tetap masuk kedalam paru paru mereka. (Sumber: Detik)

Ini bukanlah issu yang menarik untuk sebagian orang, bukan pula isu yang penting juga. Ini hanyalah isu lingkungan, isu yang hanya digaungkan oleh sekian dikit orang yang berteriak teriak selamatkan alam, selamatkan bumi yang begitu klise dan seabstrak isu perubahan iklim. Isu ini tidaklah semeriah pesta politik pemilihan presiden, tak semeriah aksi KPK, bahkan tak semeriah peristiwa menyedihkan Pembullian “Satu Orang” Audrey. Yah tidak apa, issu ini memanglah tidak penting.

Sebagai paragraf pembuka, sepertinya agak berlebihan ya, tapi itulah yang saya lihat dari kita saat ini. Saya katakan kita di sini karena ini bukanlah terjadi pada orang lain namun juga terjadi pada saya dan mungkin juga teman teman yang sedang membaca tulisan saya ini. Kitalah yang secara tidak langsung telah membiarkan mereka terbunuh secara perlahan. Yups secara perlahan karena budaya konsumsi kita yang begitu barbar akan produk produk berbasis minyak sawit untuk di Indonesia. Dan juga budaya tidak peduli kita yang orang sekarang bilang “Santuy”. Ini yang menurut saya paling berbahaya. Dalam kasus kebakaran hutan yang kemudian berdampak pada bencana kabut asap, bukan karena semakin banyak orang jahat yang membakar lah yang membuat semua ini semakin parah, namun karena semakin banyak orang baik yang tidak peduli.

Bukan karena semakin banyak orang jahat yang membakar lah yang membuat semua ini semakin parah, namun karena semakin banyak orang baik yang tidak peduli.

(Tukang Daging Orang Utan Asap, 2019)

Keledai pun Tidak Pernah Jatuh di Lubang yang Sama, Namun Kenapa Kita Hobi Sekali Pesta Asap Seperti Ini?

Pemadaman baik melalui pemadaman darat maupun udara memanglah sudah dilakukan dengan sangat serius Puluhan ribu orang terlibat disana dari Pemerintah (tentara dan beberapa kementerian), NGO dan juga swadaya masyarakat. Meski beberapa kasus memang cukup efektif dan mampu memadamkan namun tidak sedikit pula mereka harus berhadapan dengan kemustahilan. Untuk kita yang berada diluar lapangan memang mudah saja menilai ini bagus ini belum serius, namun kita tidak tidak tahu seberapa besar kesehatan dan seberapa banyak harapan hidup yang mereka korbankan untuk itu.

Issu kebakaran hutan dan lahan bukanlah isu yang baru-baru ini muncul. Sudah berkali-kali terjadi dan bahkan sudah menjadi trend. Saat kemarau terjadi pasti ada saja kebakaran hutan dan lahan dengan lokasi di provinsi provinsi itu saja seolah mereka memang sudah berlangganan setiap tahunnya Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur. Ketuju provinsi itulah yang sering mengalami kebakaran hutan dan lahan. Untuk Provinsi kadang juga ikut-ikutan nyebat mengasap.

Keledai pun tidak pernah jatuh dilubang yang sama. Itu kata pepatah, setidaknya kebakaran hutan pun tidak akan dilokasi yang sama. Saat tahun lalu terbakar maka kecil kemungkinan akan terbakar lagi di tahun ini malahan sudah menghijau dengan tumbuhan berpola bentuk bintang berbaris rapi akan terlihat dari foto angkasa, yang terbakar mungkin hutan disebelahnya yang terbakar lagi kemudian. Kembali ke pada pepatah keledai yang tidak jatuh di lubang yang sama, mungkin akan muncul pertanyaan kenapa kebakaran hutan masih saja terjadi.

Meskipun memang ada kebakaran hutan yang diakibatkan oleh proses alami, namun lebih dari 90%nya melibatkan manusia dan disengaja untuk dibakar. Saya rasa frasa “kebakaran hutan dan lahan” akan lebih tepat disebut sebagai “pembakaran hutan dan lahan” karena ada unsur kesengajaan di sana. Membakar adalah metode termurah dan tercepat dalam membongkar hutan untuk dijadikan lahan. Hanya bermodalkan pemantik api dan sedikit bahan bakar kita sudah dapat membuka dan membersihkan hutan berhektar hektar. Coba dibandingkan dengan harga penyewaan alat berat butuh berapa banyak uang dan berapa lama? Terkait hal ini ada suatu quotes bagus dari si Bung.

Masalahnya bukan terbakar, tapi dibakar. Ada perbedaan antara ketidaksengajaan, dengan kesengajaan. Hitung segala keuntungan, apa sebanding dengan paru paru yang mesti dikorbankan?

(Fiersa Besari, 2019)

Kebakaran Hutan Bukan Sekedar Kasus Perusakan Lingkungan, Ini Adalah Kasus Pembunuhan Bahkan Sudah Dapat Digolongkan Sebagai Genosida

Anak anak adalah satu dari sekian banyak kelompok rentan dari bencana kabut asap ini. Baik dari segi tubuh yang belum dewasa dan kuat serta ketidak pedulian mereka semakin memperparah kerentanan mereka akan dampak asap yang bisa saja menggaggu tumbuh kembang mereka di kemudian hari. Asap kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak kesehatan namun juga merusak masa depan mereka (Sumber gambar: Konfrontasi)

Metode dehumanisasi kasus kebakaran hutan yang hanya sekedar pada kasus perusakan lingkungan, salah satu sumber karbon terbesar yang memicu perubahan iklim, ataupun sekedar trans boundary haze dan berbagai issu lainnya seringkali mengkaburkan, mengalihkan dan menjauhkan kita pada sesuatu yang lebih penting dan seharusnya menjadi fokus utama kita “Kemanusiaan”. Dehumanisasi halus yang mengkaburkan isu kemanusiaan dengan hal hal yang sekedar dekat dengan manusia atau bahkan jauh dari kemanusiaan mengikis dan menghilangkan empati kita sehingga tidak jarang kita tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi saat ini dan hanya berpikiran bahwa issu yang sekarang terjadi sekedar hutan yang terbakar saja. Sedangkan issu issu kemanusiaan yang menjadi korban beberapa hanya sekedar menjadi pemanis.

Kebakaran hutan bukan sekedar kasus perusakan lingkungan, ini adalah kasus pembunuhan bahkan sudah dapat digolongkan sebagai genosida. Ini adalah kasus pembunuhan secara masal, tidak hanya pada keanekaragaman hayati yang dibakar namun pada masyarakat sekitar. Partikel partikel asap kebakaran yang berukuran sangat kecil <10 mikron (PM10) dapat masuk kedalam paru paru dan menimbulkan berbagai penyakit pernapasan, untuk beberapa orang yang sehat dalam rentang konsentrasi tertentu masih dapat bertahan namun untuk orang orang tertentu hal ini dapat berdampak pada kematian.

Sebagai sedikit gambaran, ijinkan saya untuk sedikit menjauh dari sisi manusia dan beralih pada karbon yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan yang terjadi akhir akhir ini. Namun ada satu yang perlu diingat, parameter fisik inijuga lah yang kemudian berdampak baik secara langsung ataupun tidak langsung pada penduduk setempat. Di bawah ini adalah suatu model sebaran CO yang saya sisipkan dari aplikasi windy. Dalam peta ini dapat terlihat bahwa kadar CO diwilayah wilayah terdampak bencana kabut asap seperti Riau, Jambi dan Kalimantan konsentrasinya sangat tinggi.

Kondisi yang demikian ini berimplikasi pada semakin berbahaya wilayah tersebut terhadap kesehatan penapasan teman teman bahkan saudara kita di sana. Hal ini bukanlah yang pertama, entah berapa kali mereka sudah merasakannya setiap tahun selalu seperti ini. Hidup dalam kepungan asap sangatlah berat, kita tidak bisa berlari untuk menghindar. Kemanapun kita pergi semua akan sama di luar rumah, di dalam rumah semua masih menyesakkan dada kita. Tidak hanya itu mata pun pedih jika berlama lama ditempat seperti itu.

Tahun 2015 lalu saya pernah merasakannya sesaat (hanya beberapa hari) itu sudah sangat tidak nyaman bagi saya apalagi bagi mereka yang mengalami hal tersebut dalam jangka waktu yang sangat lama. Saya tidak bisa lagi membayangkan sebesar apalagi ketidak nyamanan mereka.

Mereka mungkinlah memang kuat, tapi apakah memang sekuat itu. Harus sampai kapan lagi mereka merasakan pekatnya asap? Apa yang bisa kita lakukan? tidak adakah? Haruskah kita biarkan saja mereka terbunuh perlahan karena itu? Jawaban ada dalam hati kita masing masing. Dan sya yakin teman teman juga sepakat bahwa jawaban itupun tidak dibutuhkan. Yang mereka butuhkan dari kita hanya tindakan nyata dari kita. Untuk mereka, agar mereka dapat terhindar dari “Asap” A.S.A.P. (As Soon As Posible).

BencanaKlimatologiSains AtmosfirUncategorized

Riau Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap

March 1, 2019 — by dewaputuam2

burn-burning-fire-51951-960x627.jpg

Kemarin tanggal 28 Februari 2019, BNPB melalui Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Wisnu Widjaja melakukan konfrensi pers terkait karhutla yang terjadi di Riau akhir akhir ini. Dalam beberapa berita menyebutkan bahwa beliau memprediksi bahwa musim musim karhutla di Riau akan berlangsung terus pada Bulan Maret dan kemudian akan terbakar lagi pada bulan Bulan Juni. Berita berita tersebut tentunya akan menjadi momok yang begitu menakutkan bagi warga Riau dan sekitar mengingat hingga saat ini sekitar 2671 kasus infeksi saluran pernapasan di daerah Dumai dan Sekitarnya (Sumber: Tempo). Jika berkaca pada pengalaman saya waktu bekerja ditengah kabut asap pada tahun 2015 di Tamiang Layang di Kalimantan Tengah terpapar asap itu sungguh tidak nyaman. Baju jadi bau asap dan untuk bernapas rasanya tidak enak karena bercampur bau bau an dan upil jadi lebih banyak diproduksi (hehehe).

Pasien yang terpapar Asap (Sumber: Tempo)

Kembali kepada prediksi bulan Maret dan Juni, Bagi sebagian orang mungkin sedikit dibuat heran dengan banyak berita yang menyebutkan Riau sudah terbakar sejak Januari, Februari. Keheranan ini biasanya dialami oleh orang orang yang tinggal di Daerah Jawa, Bali dan Sumatera bagian Selatan. Hal ini dikarenakan pada bulan bulan tersebut Wilayah Jawa dan sekitar sedang mengalami musim penghujan yang tentunya kecil kemungkinan terjadi kebakaran hutan dan lahan pada waktu waktu tersebut. Dalam Klimatologi, secara sederhana Indonesia memiliki 3 tipe curah hujan umum yaitu tipe curah hujan monsunal, curah hujan equatorial dan curah hujan lokal.

Untuk Permulaan, Kita Salahkan saja Dulu Iklimnya

Wilayah yang memiliki tipe curah hujan Monsunal seperti Jawa, Bali, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara mengalami musim penghujan pada Bulan Januari-Maret dan kemudian akan mengalami kmarau sejak Maret hingga September, kemudian Hujan lagi. Berbeda dengan Monsunal, wilayah wilayah seperti Sumatera bagian Utara hingga Tengah, Kalimantan, Sebagian Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua yang memiliki curah hujan tipe Equatorial justru pada bulan Januari- Maret mengalami musim kering dan kemudian kering lagi pada Mei-Juli. Hal ini lah yang menjadi dasar prediksi BNPB sebelumnya. Pada bulan Maret dan kemudian dilanjutkan Bulan Juni tersebut secara klimatologis Wilayah Riau dan beberapa wilayah yang bertipe equatorial akan mengalami musim kering. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat melalui Gambar dibawah ini.

Sumber (Bayong 1999 melalui Kadarsah[dot]Wordpress[dot]com)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebakaran di Indonesia banyak diakibatkan oleh pembukaan lahan untuk perkebunan. Begitu juga yang saat ini terjadi di Riau. Hal ini disampaikan oleh Raffles B. Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan dimuat dalam Tempo. Beliau menyebutkan bahwa kebakaran lahan di Riau kebanyakan memnag diakibatkan oleh kesengajaan membuka lahan perkebunan kelapa sawit.

Kita Butuh Antibiotik untuk Menangani Karhutla

Jika memang ada unsur kesengajaan disana, maka dapat dikatakan bahwa prediksi prediksi terkait lokasi kebakaran hutan yang selama ini dilakukan para ahli BMKG dengan FDRS-nya dan CCROM dengan kebakaranhutan.id nya, monitoring air tanah oleh Badar Restorasi Gambut, monitoring hotspot oleh LAPAN dan BMKG hanya berguna untuk menebak waktu dan lokasi yang tepat untuk para pembakar melakukan aksinya. Atau setidaknya menebak kira kira dimana para pembakar akan membakar lahan. Saya disini tidak mengatkan bahwa usaha usaha yang instansi instasi tersebut tidak berguna. Apa yang mereka lakukan sangat berguna namun menurut saya ada kurang satu aksi yang sangat penting bukan dari instansi instansi teknis dan juga instansi berbasis riset namun instansi penegak hukum.

Jika saya boleh menganalogikan kebakaran hutan adalah sebuah penyakit, maka usaha dan aksi para Kementerian dan lembaga adalah obat pereda panas, obat pereda batuk dan pengurang rasa mual. Namun agar penyebab gejala gejala tersebut dapat diatasi maka kita perlu Antibiotik yang membunuh sumber (penyebab) gejala gejala penyakit tersebut yang dalam hal ini karena penyakit sebenarnya adalah ulah manusia dan bukan iklim, maupun kelembban tanah maka usaha utama untuk mengendalikannya tidak lain adalah usaha di bidang hukum dan sosial serta ekonomi. Saya menambahkan bidang sosial disini karena tidak semua kegiatan pembakaran tersebut sesederhana yang salah di tangkap dan dipenjara. Ada permasalahan sosial yang kompleks sedang terjadi disana yang tentunya penyelesaiannnya juga harus didekati dengan pendekatan ilmu sosial dan ekonomi.

Pendekatan politik akan melengkapi racikan antibiotik yang sebelumnya sudah diisi dengan hukum, sosial dan ekonomi. Permasalahan ini tentu tidak dapat diatasi oleh remah remah kerupuk kaum proletar seperti saya, suara pun sudah pasti tidak didengar dan di gubris. Butuh banyak kaum elit yang memang mengesampingkan ego pribadi dan sektoralnya untuk menanggulangi masalah ini. Selain mengesampingkan ego, mereka mereka ini juga perlu mengamani dirinya dengan perlindungan berlapis lapis karena yang dihadapi mereka bukan sesuatu yang main main. Ada triliun-triliunan rupiah berputar dan bertarung di mimbar kebakaran hutan dan lahan dari hulu seperti perkebunan-perkebunan hingga hilir seperti usaha usaha pemadamannya penyewaan heli misalnya yang tentunya akan keluar angka fantastis bila dihitung.

Pengalaman Naik Heli saat Patroli Aseangames Bebas Asap 2018

Tanpa adanya aksi aksi yang bersifat antibiotik, saya ragu karhutla dapat kita tangani dengan baik dan kita dapat terlepas dari aksi aksi yang hanya berkutat pada tukang memadamkan api. Kita pun akan semakin banyak menemukan berita berita tentang ribuan korban yang berjatuhan karena penyakit pernapasan. Dan kemudian berita tersebut akan dikalahkan oleh berita protesnya para tetangga yang kita asapi sepanjang kemarau. Kita tidak tahu pasti akan sampai sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan, para pecinta alam mungkin akan berkoar koar tentang hilangnya kekayaan hayati indonesia. Namun saya rasa tidak hanya itu, Karhutla tidak lah hanya membakar kekayaan hayati kita, namun membakar pula kekayaan hati kita yang tetap diam melihat orang merendahkan diri dengan menjual nyawa dan masa depan jutaan orang hanya demi uang semata (omong kosong sekali ya hehehe). yah tapi jauh dari itu, kita membutuhkan antibiotik untuk permasalahan karhutla, ntah itu secara harfiah berarti “bersifat Anti-bio” atau secara tersirat saja sudah cukup.

Tanpa itu semua Riau dan Wilayah lainnya akan Tetap Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap #Mungkinselamanya hingga pohon terakhir tumbang dan berakhir pada musium yang bertuliskan “Dulu sekali kami memiliki hutan yang kaya namun kami gagal menjaganya”

(Dewa Putu AM, 2019)

Sekian dari saya, kalau saya ulik ulik lebih dalam lagi akan berbahaya hehehe saya masih sayang nyawa. Akhir kata

Salam

Dewa Putu AM.

Sumber Featured Image Pixabay.com