main

Daily LifeOpiniUncategorized

Cerita tentang Tak Pasti

December 9, 2020 — by dewaputuam0

pexels-pixabay-258510-960x720.jpg

Aku pasti jatuh lagi yah,..

kata seorang anak kecil berkaki kecil kepada ayahnya sambil menuntun sepeda kecil beroda dua. Dua roda mungil tambahan yang biasa terpasang di kanan dan kiri roda belakang sepeda hilang entah kemana. Ia memiliki keinginan keras untuk menaiki sepedanya, namun hilangnya roda tambahan yang selama ini menopangnya membuat ia berpikir lebih banyak dari biasanya. Jatuh adalah satu satunya yang terpikir olehnya, sebuah bayangan ketakutan akan sakitnya saat jatuh terus bergelayut di antara alam pikirnya yang masih sebatas mata memandang saja.

Belajar Sepeda itu Sulit dan Menyakitkan Apalagi saat Terjatuh

Sambil tersenyum jahil sang ayah pun memutar bola matanya dan seketika sudah berganti wajah menjadi penuh semangat dan gairah, ia dengan perlahan berkata 

“Pasti jatuh..? yakin ?” senyumnya tersungging kecil menggoda anaknya yang sedang bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Bahunya mulai melebar dan merentangkan tangan bersiap siap menjaga jaga segala kemungkinan seiring gerakan si anak kecil itu yang mulai bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Tanpa sepengetahuan si anak kecil, ia memang telah menyembunyikan kedua roda tambahan dari sepeda kecil anaknya. Trik sederhana dan kebohongan kecil yang sengaja dilakukan agar si anak kecil itu dapat memulai kayuhan pertamanya tanpa ditopang roda bantu lagi.

Sepeda (Sumber: Photo by Roman Koval from Pexels)

Anak kecil berkaki kecil itu kembali ke posisi siap mengayuh sepeda kecilnya lagi dan sang ayah berada di sekitar anak kecil itu. Kaki kanannya  mulai diletakkan di pedal sepedanya dan memulai kayuhan pertamanya. Sepeda Pun mulai bergerak namun terhuyung kekanan dan kiri, genggaman anak kecil itu pada setang sepeda kecilnya masih belum terlatih untuk menjaga putaran ban sehingga meliuk kanan dan kiri sebelum jatuh terjerembab. Berkali kali anak kecil itu terjatuh lagi dan lagi hingga akhirnya bersama jingga langit senja, samar samar terlihat siluet anak kecil itu mengayuh sepedanya jauh dan terus menjauh dari sang ayah.

Dari apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir, banyak hal yang saya pelajari dari hal yang sangat remeh seperti menyimpan buah pisang di dalam lemari es ternyata bukan ide yang bagus karena pisang akan rusak dalam waktu semalam saja. Pelajaran tentang bersepeda,  Hingga hal hal yang kurang begitu sederhana seperti yah sudah lah tidak perlu dibahas di sini. Hehe.

Ini Cerita Tentang Tak Pasti

Namun pelajaran yang menurut saya penting dan menurut saya tetap relevan setidaknya hingga beberapa dekade ke depan adalah tentang “Ketidakpastian”. Dari apa yang terjadi selama ini “Ketidakpastian itu satu-satunya yang pasti”. 

Ku banyak belajar tentang ketidak pastian ini dari berbagai kegagalan yang saya hadapi selama ini, saya rasa semua orang tentu pernah merasakannya. Tentunya dengan porsinya masing masing. Adanya ketidakpastian yang menari indah bersama ekspektasi yang tinggi ditambah dengan bumbu bumbu kurangnya keberuntungan, dan berbagai faktor x kadang membawa kita pada kegagalan. Namun dalam berbagai situasi yang bumbu bumbunya sama tidak jarang justru membawa kita pada keberhasilan yang bahkan tidak pernah kita duga sebelumnya.

Jika tidak mau disebut semua, saya akan PD berkata bahwa “Hampir segala” hal disekitar kita mengandung suatu ketidakpastian. Ada ketidakpastian di dalam permainan dadu, dan bahkan ada pula ketidakpastian arah terbitnya Sang Raja Siang. Sang Mentari tidak pasti selalu terbit dari arah Timur. Beberapa bulan ini condong ke Utara lain waktu condong ke Selatan. Secara semu terus aja begitu berganti arah terbit sambil menebar ketidakpastian pada angin, hujan, badai dan sanak perudaraannya. Dalam sesuatu hal yang kita anggap pasti bukan tidak mungkin tanpa diduga akan ada suatu penyimpangan yang membuat kadar kepastian itu tidak lagi 100%. 

Hal ini menjadi kian tidak pasti saat kita sama sama memasuki tahun 2020 yang oleh sebagian orang “mungkin” menjadi salah satu tahun terburuk yang pernah kita rasakan. Saya mengatakan “mungkin” karena pernyataan itu juga mengandung ketidakpastian. Tentunya saya tidak ingin melanjutkan kalimat kini pada kemungkinan kemungkinan lainnya mengingat sudah terlalu banyak kehilangan yang kita rasakan pada tahun 2020 ini. Entahlah dengan 2021 yang akan kita songsong dalam waktu dekat ini.

Saat saya membuat tulisan ini awalnya saya sangat PD bahwa “Pasti itu tidak ada”. Dan ternyata setelah dipikir pikir, bahkan pernyataan itu pun bukan pernyataan yang pasti. Hah sudahlah agaknya tidaklah perlu kita terlalu memikirkan dan mencurahkan segala pikiran kita pada sesuatu yang tak pasti. Jika meminjam istilah pada film yang baru saja tamat pada minggu kini, 

“Berlayar tanpa Peta” agaknya menjadi sesuatu yang menarik untuk dilakukan, tentunya bukan serta merta dengan bodohnya bergerak tanpa kendali dan arah yang pasti. Tetapi saya justru melihat berlayar tanpa peta juga berarti dalam menjalani hidup tidaklah perlu mempunyai perencanaan yang terlalu detail dan membebani. Peta yang ada saat ini, tidaklah secara pasti menggambarkan situasi saat ini, bukan tidak mungkin banyak perubahan yang terjadi yang menyebabkan saat kita terlalu terpaku pada peta justru kita tidak mampu merespon apa apa saja yang terjadi sekarang dengan cekatan. Semua hal berubah dari ombak hingga angin, bahkan tujuan kita juga terkadang dalam suatu situasi diharuskan berubah karena sesuatu dan lain hal. Kembali lagi pada tidak pasti.

Namun apapun itu justru dengan ketidakpastian itulah yang membuat perjalanan kita menjadi menarik bukan. 🙂 (Jadi penasaran apa yang akan terjadi kedepannya).

Yup apapun yang ada di depan ntah itu menyakitkan ataupun justru menyenangkan agaknya akan semakin seru dan menarik. Mungkin ini awalan yang cukup baik untuk memulai perjalanan baru ini sebuah perjalanan yang panjang. Sebuah perjalanan yang tak pasti.

Feature Photo by Pixabay from Pexels

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Mari Berpikir Positif Tentang Hari Ini” Agaknya Bukanlah Pilihan yang Baik untuk Saat Ini Kawan

April 19, 2020 — by dewaputuam2

person-standing-beside-car-1853537-960x1440.jpg
Sudah berapa lama ini semua terjadi, apakah akan kembali masa seperti dahulu, sebuah masa saat setiap paginya kita melihat wajah ceria wajah kusut bercampur aduk dalam kerumunan makhluk makhluk pagi yang berkerumun bergerak memulai aktifitas hari barunya, atau akan ada Normal yang baru yang mengubah semua? ( Photo by Artem Beliaikin from Pexels )

Haloo, setelah sekian lama akhirnya saya menulis lagi, mungkin ada yang rindu dengan gaya tulisan saya yang hambar tanpa hati, atau ada yang skip skip saja. Apapun kesan kalian, saya harap teman teman semua tetap diberikan kesehatan ya, tetap hidup dan kita akan bertemu esok hari #janji. Oke, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pikir dan gagasan yang tentu tidak serta merta muncul begitu saja dari saya, melainkan terinspirasi dari beberapa buku yang paling banyak mempengaruhi si  filosofi teras karya Henry Manampiring dan Everything is F*ck karya Mark Manson.

Ini tentang bahayanya berpikir positif dengan segala kiasan kiasan yang dibawa bersamanya seperti. “Hei semua baik baik saja, ini tidaklah seburuk itu. Setelah ini akan ada kebaikan. Itu terlalu berlebihan, cobalah lihat dari sudut pandang ini nilai yang besar itu akan tampak kecil kok. Pada intinya “berpikirlah positif” dalam kondisi apapun dan bagaimanapun termasuk situasi seperti sekarang ini. Dalam kondisi pandemi, yang meski dampak terburuknya adalah banyak nyawa melayang, namun dampak ekonominya juga tidak boleh serta merta kita sepelekan.

Berpikir positif seakan menjadi salah satu kiblat yang diagung agungkan bagi sebagian orang. Hal ini saya rasa oke oke saja, tidak masalah bahkan memang bagus. Sampai suatu hari saya menemukan sebuah tulisan tentang penyajian data kematian yang sebelumnya dibandingkan dengan jumlah terkonfirmasi sekarang diubah menjadi per satu juta populasi. Sampai di sini semua  masih saya anggap oke oke saja. Karena dengan cara itu setidaknya angka berubah menjadi kecil dan urutan Indonesia menjadi masih bisa dimaafkan lah dalam Pandemi ini. Terlepas dari teknik statistik preman yang digunakan, sudahlah tak apa yang terpenting terlihat cantik, bukannya fungsi statistik itu untuk menipu? Tidak ada yang benar dalam statistik, namun sebagian memiliki manfaat begitu kata seorang dosen statistika di kampus saya dahulu yang masih teringat oleh saya.

Jika semua baik baik saja, lalu dimana permasalahannya. Permasalahannya ada di kita. Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah artikel yang menarik, Saya tidak ingin membahas isinya, intinya cukup negatif yang menginfokan bahwa Indonesia sekarang sudah menduduki puncak klasmen sementara di kawasan Asia Tenggara. Cukup menyeramkan, namun dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas hal itu. Saya justru ingin berdiskusi tentang diskusi para Netizen di bagian komentarnya hahahha. Disana terlihat jelas mana orang orang yang pesimis dan mana pihak  yang berpikir positif. Mereka saling bertarung adu jempol. Kedua gagasan dari mereka terlihat masuk akal dan menyentuh ada yang menggunakan gagasan per satu juta yang tadi saya sebutkan hingga menganggap Indonesia tidak seburuk itu dan kemudian ada yang menimpali, seberapapun itu itu nyawa manusia bukan sekedar angka. Hampir setiap berita buruk selalu ditimpali seperti itu dan terkadang dibumbui hal hal positif yang menyentuh lainnya.

Berpikir negatif memanglah tidak baik dan membuat banyak permasalahan menjadi lebih berat dari seharusnya, apalagi jika yang kita pikirkan hanya yang negatif saja. Lalu bagaimana dengan berpikir positif? apakah itu menyelesaikan masalah atau memperingan masalah? Jika kita tarik kebelakang sebelum semua seperti ini kita sudah kenyang dengan puisi puisi positif yang menyatakan bahwa kita kebal Corona, bahkan banyak sekali memenya yang menebarkan aura positif. Apakah semua itu menghindarkan kita dari masalah? Terserah si mau diakui atau tidak, nyatanya semua sudah seperti sekarang. Itu saja cukup.

Ok, permasalahan Berpikir Positif kita kesampingkan dulu dan kita biarkan mengendap dulu dalam pikiran kita. Yang perlu dicatat sekarang adalah berpikir positif itu juga tidak lepas dari kekurangan, sama halnya dengan berpikir negatif. Sulit dicerna memang, saya pun merasakan demikian ketika menemukan gagasan ini dalam kedua buku karya Henry Manampiring dan Mark Manson sebelumnya.

Sembari menunggu mengendap, saya ingin ke topik lain yang rasanya cukup menarik untuk disampaikan di sini.

Ini bukan tentang memilih Kemanusiaan dan Ekonomi, karena pada dasarnya kesempatan kita memilih itu tidak ada.

Hei,.. Apa yang kamu pikirkan dan rasakan sekarang, masihkan kalian berharap atau justru sedang dalam proses jatuh yang tidak tau kapan mencapai dasarnya. ( Photo by Burst from Pexels)

Mari kita cicipi sebentar cara berpikir negatif, coba kita angankan berbagai kemungkinan terburuk yang sedang kita hadapi dan akan kita hadapi. Dalam filosofi Stoa, cara berpikir seperti ini cukup ampuh untuk merunut segala kemungkinan yang ada dan menyiapkan mental kita untuk segala kemungkinan tersebut, meskipun faktanya sesuatu terburuk yang kita pikirkan tersebut pada akhirnya tidak akan terjadi, atau paling tidak tidak akan terjadi dalam tingkatan yang kita pikirkan. #semoga.

Saya melihat, setidaknya ada dua isu yang dipertentangkan oleh kita sepanjang bulan bersama kekasih baru kita yang bernama Covid19 ini.

  • Kemanusiaan: dampak langsung dari virus corona yang paling dekat adalah kesehatan kita dan dengan berat hati harus kita akui nyawa kita pun terancam. Meskipun tingkat kematiannya tidak begitu besar #katanya, namun kemampuan persebarannya tidak dapat diremehkan sama sekali.  Ini teman teman pasti sudah sering dengar dan membaca, bahkan mungkin juga seperti saya yang sudah bosan mendengarnya. Tetapi saya disadarkan oleh sebuah artikel Tomas Pueyo dalam situs medium, kejadian pandemi seperti ini ternyata memberikan dampak kesehatan lainnya yakni penurunan kapasitas sistem kesehatan kita (rumah sakit maupun sdm nya). Jumlah sumber daya  medis yang kini banyak difokuskan untuk menangani corona. Dalam kondisi tertentu akan mengakibatkan penurunan kapasitas dalam penanganan kesehatan lainnya baik yang berupa kejadian kejadian yang biasa terjadi (kecelakaan dan penanganan penyakit kronis) maupun kejadian luar biasa seperti potensi bencana yang sewaktu waktu bisa saja terjadi. Dampak terburuk dari segi kemanusiaan yang terpikir oleh saya tentunya jumlah kematian yang tinggi, bukan hanya kematian langsung oleh virus namun juga kematian yang disebabkan oleh lumpuhnya fasilitas kesehatan kita. Hal ini dapat lebih buruk lagi bilamana terjadi bencana besar seperti yang beberapa tahun kemarin. Siapkah kita untuk ini?
  • Ekonomi: sudah mulai terasa untuk sebagian orang dampak dari corona ini terhadap kondisi ekonomi kita dari saham saham yang bertumbangan, omset omset usaha yang turun hingga pemecatan besar besaran.   Jika kita melihat secara sederhana, memanglah mudah menentukan prioritas antara kemanusiaan dan ekonomi. Namun pilihan tidaklah sesederhana itu. Coba kita pikirkan lagi deh, ini bukanlah sebuah pilihan yang sederhana, dimana saat kita menghempaskan satu pilihan maka pilihan lain akan menjadi pilihan yang teratasi dengan baik. Ekonomi itu mengikat banyak aspek kehidupan dan bahkan mengikat #kehidupan itu sendiri. Perekonomian yang hancur dapat menjalar pada permasalahan permasalahan dari yang remeh seperti tidak dapatnya terlalu hura hura hingga pada sesuatu yang serius seperti potensi kenaikan kriminalitas, kesehatan mental dan fisik kita dan juga keberlangsungan hidup. Beberapa kanal berita menyebutkan 60% ekonomi kita bergantung pada usaha nonformal, atau jika dihitung secara kasar 150 juta orang. Jika semua itu lumpuh, dan lapar maka semua hal dapat saja terjadi. Bukankah ini permasalahan kemanusiaan juga

Kita disini bukan untuk diskusi apakah pemerintah harus pilih yang mana? tapi lebih pada apapun yang diambil pemerintah, kedua dampak tersebut pasti akan datang pada kita. Kembali pada topik berpikir positif dan Negatif yang sebelumnya kita bahas, sisi mana yang ingin kita ambil sekarang. Apakah kita harus berpikir bahwa kita saat ini sedang baik baik saja, atau panik dan merasa putus harapan. Kedua pilihan tersebut tampak buruk.

Akui dan dan Menyerahlah, buanglah semua harapan kosong kita, tidak baik loh terlalu mabuk akan semua hal positif hanya untuk menghindar dari sesuatu yang buruk dan tidak kita inginkan.

Apakah keberdaan “Harapan” itu baik, meski memang ia yang menarik para hati pahlawan untuk melakukan hal hal heroik, namun “harapan” pula lah yang dipegang dan dijadikan pembenaran bagi Hitler dengan Nazi-nya serta para pemimpin otoriter kejam dalam melakukan aksinya. Lalu apakah “Harapan” itu masih baik? ( Photo by Designecologist from Pexels)

Kejujuran tidak hanya diterapkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Namun justru penting  kita jadikan sarat saat kita berinteraksi dengan diri sendiri. Jika memang tidak baik baik saja, janganlah menambah beban diri dengan berbohong semua baik baik saja. Akuilah bahwa kondisi ini memang tidak sedang baik baik saja bagi kita. Kita perlu akui itu karena kita hanya dapat mengubah sesuatu yang memang milik kita, milik “Aku”. Jika ingin mengubah sesuatu, langkah paling pertama adalah mengakui bahwa “itu” adalah masalah. Poin pentingnya disini adalah buang lah harapan, buanglah ekspektasi. Hal ini juga yang membuat kita terhindar dari cara berpikir negatif. Kita tidak akan putus asa dan juga tidak akan putus harapan jika tidak ada Asa dan harapan yang kita pegang dengan keras. Itu memang tidak mudah untuk kita lakukan 100%. Seiring datangnya masalah kita secara tanpa sadar akan melekatkan asa dan harapan di belakangnya. sebuah asa yang membuat kita berjuang namun membuat kita juga terpuruk saat tak mampu mencapainya.

Semua orang akan mendapatkan paket permasalahannya sendiri dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Akan sangat jahat dan bohong bila ada seseorang yang berkata “Aku paham apa yang kau rasakan”. Tidak, kita tidak akan pernah paham secara utuh apa yang orang lain rasakan. Kita berbeda, masalah yang sama tidak serta merta memberikan dampak yang sama untuk semua orang. Kita tidak dapat memukul rata semua permasalahan dengan satu solusi sederhana. Namun, ada suatu frasa yang menurut saya cocok dijadikan kandidat utama untuk  “solusi sederhana” yang pada kalimat sebelumnya saya sangkal.

Amor Fati

Amor Fati merupakan frasa dalam bahasa latin. Amor (Love) dan Fati (Fate), dalam bahasa Indonesia Amor Fati dapat diartikan sebagai  “Cinta Terhadap Takdir”. Kata Amor Fati sering saya temukan dalam berbagai buku terkait filosofi stoa baik dalam buku filosofi teras nya Henry Manampiring maupun buku Everything is F*ck nya Mark Manson. Amor Fati dalam bahasa sehari hari artinya mirip kata “Nrimo” dalam bahasa jawa, atau suatu frase yang digunakan untuk menggambarkan suatu sikap yang melihat segala hal dalam satu kesatuan sisi baik maupun buruknya secara utuh. Kalau kata mbah Surip “I love you full”. Kita harus mencintainya secara utuh. Ini langkah awal yang saya maksud “mengakui” sebelumnya. Kita perlu mengakui kalau memang ada masalah dan itu sudah takdir kita di zaman sekarang ini. Terlepas itu karma atau apapun alasan kita untuk menunda pengakuan permasalahan ini bukan lagi pada ranah kita.

Setelah kita akui tentang adanya permasalahan ini permasalahan memang belumlah selesai namun paling tidak kita tahu dan akui bahwa saat ini memang ada permasalahan, dan itu perlu agar kita dapat “kendali” untuk  menyelesaikan atau paling tidak kita siapkan untuk hadapi. Poin kendali disini menjadi penting untuk ditekankan karena kita memang tak bisa melakukan apapun pada sesuatu yang kendalinya tidak pada diri kita.

Saya mencoba merangkum sedikit dua poin utama masalah yang sebelumnya kita bahas. Permasalahan pertama adalah banyaknya kematian (mungkin kita akan termasuk di dalamnya), dan untuk permasalahan kedua terkait ekonomi kita bisa jatuh semakin miskin hingga sulit untuk menyambung hidup di tengah situasi yang juga sulit dan penuh kriminalitas. Jika di lihat lihat lagi ternyata serem juga ya.

Permasalahan kemanusiaan tidak hanya berkutat pada hidup dan mati. Namun untuk menyederhanakannya kita batasi saja pada terancamnya hidup banyak orang akibat virus ini. Ok, bila sebagian orang mengatakan rata rata tingkat kematiannya kecil hanya 4%, untuk kasus Indonesia 10%, namun jika persebarannya seluar biasa ini jangankan 10%, satu persen pun merupakan angka yang besar. Sebagai gambaran, menurut hasil survey BPS penduduk Jakarta tahun 2020  diperkirakan mencapai 10.5 juta orang, maka jika kita anggap 1% nya saja yang terpapar maka yang positif bisa mencapai 100k orang terpapar dan 4% dari itu sekitar 4000 jiwa. Ini perhitungan sangat kotor untuk menggambarkan kepada kita seberapa besar 4% itu. yang jadi pertanyaan apakah hanya 1% yang akan terpapar, bisa aja lebih rendah dari itu #semoga. Dan satu hal yang perlu kita ingat angka itu bukan sekedar angka tanpa makna. Angka itu mewakili kita, manusia yang memiliki orang yang menyayangi maupun disayangi.

Permasalahan yang ada disini adalah penyakit, baik persebarannya ataupun tingkat kematiannya. Melihat dan memilah hal yang ada dibawah kendali dengan yang diluar kendali maka secara global persebaran dan tingkat kematian di Indonesia apalagi global bukan dibawah kendali kebanyakan dari kita, kalaupun ada maka kendali itu sangatlah kecil. Namun dari kendali kecil itulah yang harus kita manfaatkan secara maksimal. Intinya kita tidak boleh berpartisipasi menyebarkan virus dan juga tidak boleh mati. Sesederhana dua itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Berikut ini setidaknya ada 3 aktivitas yang bisa saya list sampai saat ini, ketiga hal tersebut saya rangkum dari apa yang ada disekitar saya baik di lingkungan pertemanan maupun sosial media  saat ini. Ketiga aktifitas itu antara lain:

  1. Rebahan (tetap diam di rumah), ini jargon jargon yang sering berseliweran di sekitar kita ya, dan memang membosankan tapi mau bagaimana lagi itu hal paling minim yang memang berada dalam kendali kita. Saya cukup expert dalam bidang #rebahan ini, jika ada yang butuh saran dan konsultasi terkait trik trik rebahan bisa kontak saya 🙂
  2. Membantu apa yang bisa kita bantu, Selain rebahan dan diam di rumah kita juga dapat melakukan hal hal yang menurut saya heroik seperti ikut urun dana untuk membantu sesama melalui pihak pihak yang memang terpercaya. Hal hal lain yang dapat kita lakukan juga dengan cara urun pikiran dalam diskusi diskusi online, dan lain sebagainya. Kita semua memiliki peran berbeda untuk ini.
  3. Saling menguatkan, saling bertanya kabar dengan teman teman juga akan seru dan membantu, kita bisa sekali kali saling sapa melalui video call  bersama keluarga atau teman sekedar menghilangkan sedikit jenuh dan menjaga kewarasan jiwa kita bersama.

Lanjut ke permasalahan kedua. Ini tidak kalah penting dengan masalah kemanusiaan. Jika masalah kemanusiaan berkutat pada bagaimana kita mempertahankan dan menjaga orang orang di sekitar kita, maka ekonomi perlu untuk menjaga masa depan kita. Dunia setelah Pandemi ini akan sangat berbeda, maka kita perlu bersiap. Di dalam kondisi dunia yang semakin tidak pasti ini, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan segalanya, kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan kita selama ini. Putus asa dan harapan memang tidak membantu, namun terus ber asa dan berharap pun tidak pula banyak membantu. Amor Fati menjadi jurus andalan untuk kita pakai dalam situasi seperti ini. Kita terima dan cintai dulu kondisi yang kita alami sekarang baik dan buruknya. Memang tidak mudah bila hal hal itu terlalu buruk, namun akan lebih buruk bila kita menghabiskan energi dan waktu untuk hal hal yang sia sia seperti terus menyangkal kondisi sekarang yang memang sedang buruk.

Mana yang bernilai bagi kita, mana yang akan menjadi prioritas kita menentukan langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya. Dalam kondisi sekarang kita diberikan waktu sejenak untuk kembali memikirkan itu semua kawan. ( Photo by Helena Lopes from Pexels )

Ada sebuah tulisan dalam Ashley Abramson melalui platform medium yang saya baru baca beberapa hari lalu, yang saya rasa setidaknya dapat kita pegang sebagai kerangka kerja kita untuk menghadapi situasi sulit ini. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kemungkinan Come Back kita dari krisis ini dengan cantik.

  1. Mari kita evaluasi dan klarifikasi kembali nilai nilai yang ada dalam diri kita, yang mungkin membedakan kita pada yang lain dan selama ini selalu memberikan dampak pada kita baik positif maupun negatif. Kejujuran kita kah, kemampuan kita beradaptasi kah, keramahan kita kah,kemalasan kita kah, semua itu yang mungkin melekat pada kita coba untuk dievaluasi ulang mana yang masih relevan untuk hari ini dan esok dan mana yang sudah tidak relevan.
  2. Audit prioritas kita, selama ini kita disibukkan oleh banyak hal dan secar disadari atau tidak disadari seringkali kita melakukan hal yang tidak ada manfaatnya atau sia sia. Dalam kondisi dimana kita berdiam diri dirumah memberikan kita waktu untuk berdiam diri dan berkontemplasi tentang apa apa saja yang penting bagi kita dan apa yang tidak penting apakah itu keluarga, diri kita sendiri, persahabatan, kesehatan, uang atau apa? jika pada poin sebelumnya kita fokus pada nilai kita, kini kita fokus pada tujuan kita yang prioritas dan paling penting serta bermakna.
  3. Geser rutinitas kita. Setelah kita mengetahui posisi awal kita (nilai kita) dan memahami mana tujuan yang kita inginkan (prioritas) maka langkah selanjutnya adalah melihat jalan mana yang paling relevan. Apa yang kita perlu lakukan dan dapat kita lakukan. Jika ada kegiatan kita yang kurang relevan dengan nilai maupun prioritas kita maka jangan ragu untuk menggeser ke kegiatan yang lebih relevan.

Posisi Amor Fati tidak memilih positif atau negatif. Posis inilah yang saya rasa paling baik saat ini dimana kita tidak dirundung pada keputusasaan tanpa dasar dan juga tidak dimabukan oleh perasaan positif yang terlalu tinggi tanpa logika.

Lalu pihak mana sekarang yang teman teman pilih? tetap terpuruk dan memikirkan segala keburukan yang ada, mengeluh dan mengeluh setiap hari atau berpikiran positif dan selalu berharap akan ada pelangi di setiap selesainya badai. Atau Amor Fati,… Semua diserahkan pada kalian Teman 🙂

Feature Photo by Artem Saranin from Pexels

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Jangan Kebodohan Saja yang Kita Jaga Kemurniannya, Kebaikan Juga Harus

August 13, 2019 — by dewaputuam0

animal-animal-lover-animal-photography-1904105-960x606.jpg
Kebaikan datang dari alam, saya tidak begitu paham kenapa kata kata itu seketika menyeruak dalam alam pikir saya saat melihat gambar ini. Saya rasa karena dalam tulisan ini saya ingin sekali mengingatkan bahwa kebaikan bukanlah sesuatu yang super dan sangat hebat hingga tidak dapat kita gapai dengan mudah, Kebaikan justru sesuatu yang sangat sederhana dan sangat alami, yup kebaikan memang datang dari alam (Sumber gambar: Alena Koval in Pexels.com)

Kebodohan yang murni dan terjaga, beberapa kali saya melihat frasa tersebut dan sejenisnya bermunculan di konten internet. Frasa tersebut biasa muncul saat ada suatu kejadian atau kelakuan dengan sempurna diabadikan dan didibagikan ke khalayak ramai di dunia maya. Saya tidak perlulah membagikan contoh-contohnya dalam tulisan ini, karena saya rasa itu sedikit kurang sopan. Saya yakin teman teman pernah menemukan konten konten dengan model yang super absurd dan membuat kita mengenyitkan alis saat kita coba telusuri di barisan komentar frasa seperti kebodohan yang murni, kebodohan yang original dan frasa sejenis lainnya juga akan banyak bermunculan.

Yang jadi pertanyaan dan akan saya bahas sekarang dalam tulisan ini, jika toh memang ada kebodohan yang murni tanpa ada campuran serbuk pintar sama sekali. Adakah kebaikan yang menyamai level murninya kebodohan yang kita temui disekitar kita tersebut. Ada sebuah artikel dari Ayodeji Awosika yang ia publikasikan melalui platform medium yang baru-baru ini saya baca (link artikel). Melalui artikel tersebut saya diingatkan kembali meskipun untuk benar benar murni baik itu memang tidak mungkin, namun setidaknya kita dapat berbuat baik secara murni dengan hal hal yang cukup sederhana sehingga sangat mungkin dilakukan oleh kita dan orang orang disekitar kita.

Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi, Berbuat baiklah bahkan pada siapa yang tidak kamu suka

Ditengah hiruk pikuk kesibukan duniawi kita terkadang kita terlupa untuk sedikit berbuat baik dan cenderung tak acuh pada lingkungan sekitar kita. Hingga suatu hari kita menemui sebuah tindakan kebaikan kecil didepan kita yang secara ajaib menyadarkan kita bahwa masih ada kebaikan didunia ini. “Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi” itulah salah satu quotes dari buku NKCTHI karya Marchella FP (Sumber Gambar: Ingo Joseph @pexcels.com)

Baik pada siapapun tak bisa dipungkiri adalah hal yang sulit bahkan dapat dikatakan sangat sulit. Kita sudah terbiasa dari dulu akan berbuat sesuai dengan apa yang dilakukan orang lain pada kita. Begitu juga dengan saya, jika ada yang baik, maka saya pun akan sekuat tenaga untuk berbuat baik. Namun bila saya diperlakukan tidak baik, secara tanpa sadar saya tanpa ampun akan memperlakukan orang tersebu dengat tidak baik. Saya selalu mengibaratkan diri saya seperti cermin yang memantulkan apa yang ada didepannya ntah baik ataupun buruk.

Semua itu terlihat normal bagi kita namun nyatanya itu bukanlah sesuatu yang keren. Dengan berperilaku seperti itu kita tidak ada bedanya dengan hewan dan benda mati sekalipun yang mengikuti arus dan hanya berekasi sesuai dengan apa yang diberikan pada mereka. Perbuatan yang seperti cermin ini bukanlah hal yang rasional dan justru merendahkan kita. Kalau kata Henri manimpiring dalam buku Filosofi Terasnya berbuat sesuatu yang tidak dipikirkan secara rasional bukanlah sifat alami kitasebagai manusia. Dan saat saat pikiran rasional kita dikecewakan, saat itu pula kita akan dihinggapi kegelisahan.

Membiasakan diri berlaku baik tanpa memandang siapa yang ada dihadapan kita adalah sesuatu yang sulit namun bukan berarti tidak mungkin. Saya sering melihat atau bahkan tanpa disadari hanya berbuat baik pada orang orang yang kita rasa ada pengaruhnya pada kita namun tidak peduli bahkan begitu ketus kepada orang yang tidak ada pengaruh dan dampaknya pada hidup kita.

Contoh sederhananya adalah saat kita berpapasan dengan sales atau seorang meminta waktu kita sebentar, sering dari kita hanya lewati begitu saja tanpa menganggap orang orang itu berbicara pada kita. Saya akui sangat sering melakukan hal ini hehehe, tapi kadang kadang berpikir juga si bagai mana jika saya ada di posisi mereka dan tidak digubris sama sekali apa yang kita katakan, saya tentu akan kesal, sakit hati dan sesekali menggerutu.

Saya pernah merasakan hal serupa beberapa tahun lalu saat saya jadi surveyor untuk salah satu lembaha survei nasional. Meskipun dicuekin dan tidak digubris adalah hal yang lumrah kami temui saat itu namun tetap saja menyakitkan loh. Mungkin kita memang tidak memiliki waku banyak atau tidak tertarik dengan apa yang mereka tawarkan, salah satu solusi yang sesekali saya lakukan cukup mengatupkan tangan dan meminta maaf pada mereka sambil berlalu, itu cara paling sederhana dan menurut saya masih lebih baik dibandingkan tidak peduli dan berlalu begitu saja.

Berbeda dengan perlakuan kita kepada orang orang yang tidak memiliki pengaruh di hidup kita, akhhhh,.. yang ini saya benar benar tidak suka namun ini nyatalah terjadi di sekitar kita dan tidak bisa kita abaikan begitu kita. Fenomena “Penjilat” sudah meraja leldi sekitar kita, lingkungan kita, lingkungan kerja dan sayangnya didalam pertemanan juga terkadang fenomena ini muncul dan nyata. Dah cukup ini saja yang sanggup saya tuliskan terkait penjilat, saya yakin teman teman semua pernah menemui hal seperti ini dan setuju bahwa hal ini tidak keren sama sekali.

Berbuat baik tanpa perlu berekspektasi mendapatkan balasan yang juga baik, Mungkinkah?

Mari kita minum teh dan bercerita tentang bualan yang paling halu dalam tulisan ini. Cerita halu tentang berbuat baik tanpa berharap imbalan. Kita semua manusia yang sangatlah normal bila berharap sesuatu sesuai dengan apa yang telah kita beri dan korbankan. It’s fair enought if we expect a good thing will come when we do a good thing (Sumber foto: Maria Tyutina)

Rasa kecewa saat apa yang telah susah payah kita lakukan dan kerjakan tidak diapresiasi oleh orang dan bahkan justru di jelek jelekan tanpa mereka tahu dan memahami bagaimana susahnya melakukan hal tersebut. Alhasil kitapun kemudian terjebak pada pergunjing dan pergibahan yang seolah tiada akhir yang juga terus dipanasi oleh tindakan tindakan ajaib tak kunjung usai dari orang yang kita anggap tidak punya hati itu.

Terus menggunjing dan berkelakar tidak baik (gibah) bukanlah suatu pilihan yang bijak dan keren untuk dilakukan, sesekali boleh lah tapi tidak seru dan habis topik lah kalau terus terusan dibahas. Toh apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan oleh orang lain tidak berada dibawah kendali kita, jadi mau kita bergunjing sampai berbusa pun apa yang terjadi tidak akan berubah bahkan bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kita sehingga tanpa kita sadari sudah berbuat dan berlaku serupa dengan topik yang kita pergunjingkan.

Ekspektasi, sebuah kata dalam beberapa bulan atau beberapa tahun ini saya usahakan untuk tinggalkan. Dari beberapa buku yang saya baca dan juga dari pengalaman yang selama ini saya alami, ternyat bukan hal luar lah yang paling berdampak dan menyakitkan bagi kita namun ekspektasi kita yang tak tercapai. Dari itu kemudian saya selalu menyingkirkan ekspektasi untuk mendapatkan balasan saat saya sedang iseng dan menjahili teman. Bukan hanya itu ekspektasi juga adalah sesuatu yang selalu saya usahakan untuk singkirkan saat kita berhadapan pada sesuatu yang mempunyai arti penting bagi saya. Bukan karena saya tidak percaya diri namun hanya agar saya tidak begitu merasakan kecewa ketika sesuatu ternyata berjalan diluar apa yang kita inginkan.

Are you in a situation where you’ve been working hard to make sure you get the credit? Stop. Just work hard. Let everyone else have the credit. You get the experience, knowledge, and trust of people around you. Credit is fools gold.

Ayodeji Awosika

Keberadaan ekspektasi bahkan untuk hal hal yang memang sudah seharusnya pun seperti ekspektasi akan mendapat kebaikan, akan mendapat uang atau sekedar mendapat pahala dan balasan dari yang maha kuasa saya rasa tidak perlu kita lakukan. Saya kurang begitu nyaman dengan hitung hitungan kebaikan jika kita berbuat seperti ini akan mendapat ganjaran seperti ini jika kita berbuat seperti lainnya akan mendapat berlipat lipat lainnya, saya sedikit risih dengan konsep seperti itu. Mungkin akan terlihat naif namun yang saya pahami berbuat baik itu karena kita memang ingin berbuat baik, bukan karena kita berharap mendapat buah dari kebaikan itu. Tanpa adanya pilih memilih, tanpa adanya ekspektasi, kebaikan akan menjadi murni adanya.

Ide, Ilustrasi dan Sumber sumber lain yang di sematkan dalam tulisan ini
  • Some idea that i write in this post are ispired by Ayodeji Awoskika post “How to (Truly) Become a Good Person that publised in Medium.com
  • Feature Photo by Helena Lopes from Pexels

Daily LifeUncategorized

Hingga Saat Ini “I’m Still On My Way” Bagian 2

April 6, 2019 — by dewaputuam0

10104_4259940617103_596701675_n-960x720.jpg

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang berjudul Hingga Saat Ini “I’m Still On My Way”, melalui tulisan ini saya akan bercerita sedikit kisah yang menurut saya menarik untuk dibagikan dan mungkin ada lah sedikit nilai nilai moral yang dapat diambil #mungkin. Jika sebelumnya saya menceritakan tentang perjalanan saya dari masih dalam kandungan, masa kanak kanak hingga remaja dan SMA, kali ini saya akan menceritakan kisah cinta saya di kampus. Hehehe, Membosankan ya sepertinya ya. atau saya menceritakan pengalaman pengalaman absurd saja ya yang tidak ada kisah cinta cintaan hahaha. Cerita cerita seperti itu agaknya lebih shareable. Ini bukan mengelak lo, tetapi sepertinya memang lebih baik dan berfaedah #mungkin.

Saya bersama beberapa teman seangkatan di Jurusan Geofisika dan Meteorologi IPB. Saya lupa ini diambil kapan namun yang saya tahu ini diambil dengan menggunakan kameranya Mirna, dan sepertinya dia juga yang memfoto.

Bangku Kuliahan Level I, Kisah Pembekuan Surat Penting dan Semangat Sidang yang Membara

Kumulai cerita ini dari masa masa perkuliahan saya di Strata 1 Meteorologi Terapan IPB. Sebagai orang desa yang kemudian berkuliah di desa lagi (IPB Dramaga) sebenarnya tidak begitu banyak yang mengagetkan saya tentang kehidupan disana. Hanya saja seperti mahasiswa IPB pada umumnya, pada tahun pertama kami diharuskan untuk tinggal di asrama selama 1 tahun. Tawaran cukup menarik, dan cukup menguntungkan bagi kami para perantau karena tidak perlu susah payah cari kos kosan untuk sementara waktu.

Kehidupan di asrama IPB cukup seru, ada berbagai kegiatan dilaksanakan disana. Kegiatan rutin meliputi Soga atau Social Gatering dan untuk mahasaiswa muslim juga ada Ngalong atau ngaji lorong. Kemudian ada beberapa kegiatan kusus lainnya, yang mengumpulkan semua mahasiswa angkatan baru dalam gymnasium. Untuk kegiatan kegiatan khusus saya sudah lupa semua kegiatannya apa dan seperti apa, yang saya ingat hanaya sebuah fakta bahwa kegiatan itu pernah ada. Di dalam asrama, kami dikumpulkan dengan berbagai macam orang dari suku yang bervariasi, komplit dari sabang hingga marauke. Dalam satu kamar pun biasanya juga beraneka ragam baik suku maupun agama. Untuk kamar saya di Asrama Putra gedung C1 lorong 7 dan nomor kamar 76, saya dikumpulkan dengan orang keturunan cina yang tinggal dijakarta nama kerennya Nehemia tapi bisa dipanggil Agus, kemudian ada orang sunda bernama Jati, dan juga orang Jawa yang kentel bernama Fery.

Suatu hari kami pernah malas mengikuti acara Soga, sehingga kami sepakat untuk pura pura tidur. Beberapa teman kami di lorong saat itu menggedor gedor kamar namun kami tidak menjawab karena ceritanya kami sedang tidur. Namun anehnya, beberapa menit kemudian kami berubah pikiran dan berpendapat sekali-kali tidak apa apa jika kami ikut social gatering bareng teman teman lorong dan didampingi senior. Akhirnya kamipun berakting seperti orang yang baru bangun tidur sambil keluar kamar secara bersamaan. Tampak aneh sih tapi percaya lah kami sudah berusaha sebisanya agar tampak senatural mungkin.

Karena jarang ikut kegiatan dan beberapa kali kedapatan pulang terlalu larut malam akhirnya saya pun mendapat indeks prestasi keasramaan “C”. Bukan sebuah nilai yang baik untuk jadi insan asrama yang baik, namun tidak terlalu buruk juga.

Setelah berasrama selama satu tahun, saya kemudian tinggal bersama teman teman saya dari komunitas hindu di IPB (KMHD IPB), agar saat ibadah bisa bersama sama hehehe. Oia, pada masa masa perkuliahan ini pula untuk pertama kalinya saya mendapatkan pelajaran agama hindu secara full. Saat SD saya belajar agama katolik karena tidak ada guru agama hindu dan kemudian saat SMP saya tidak belajar agama sama sekali baru kemudian dapat pelajaran agama hindu pada saat SMA namun sayangnya jarang sekali masuk dan hanya satu dua kali setiap semsternya.

Ini salah satu kegiatan kami di kontrakan. Sengaja saya sisipkan foto ini disini karena saya tahu si korban akan mampir ke sini dan mencari bahan untuk di share di grup wa seperti yang sudah sudah hehehe,… Bel, ambil foto ini saja gimana. Oia selamat ulang tahun btw. Kami siap bawa gerobak kesana.

Banyak hal konyol yang kami lakukan di masa masa ini, salah satunya adalah “tragedi pembekuan STNK”. Kejadian ini terjadi di musim penghujan saya lupa tahun kapan. Suatu ketika STNK teman saya (yang berbaju merah pada foto di atas) basah kuyub karena hujan. Karena sebelumnya saya belajar tentang keringnya daerah kutub karena udara dingin, sayapun berinisiatif memberikan saran kepada teman saya itu untuk memasukan STNK nya kedalam frizer di lemari es.

Hipotesis Saya saat itu adalah, “Kondisi frizer yang dingin berarti pula memiliki kelembaban yang rendah (kering) kondisi demikian akan menyebabkan objek objek yang dimasukan akan menjadi kering termasuk STNK teman saya karena air yang membasahi STNK akan keluar dan cepat menguap dan kemudian bergabung bersama es dalam frizer”.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. harapan STNK yang kering kemudian sirna begitu saja, setelah beberapa lama STNK teman saya didiamkan didalam Frizer, ternyata bukannya kering tetapi STNK tersebut justru berubah menjadi Es STNK yang terbujur kaku bak kerupuk. Melihat itu ingin rasanya saya memberikan saran lagi untuk mengupakannya secara instan dengan menaruhnya diatas api namun niat itupun saya urungkan karena ragu dan takut gagal lagi.

Biasanya saat saya bercerita hal ini ke orang yang saya beku kan STNKnya ia selalu mengungkit kejadian tentang saya yang salah jadwal sidang skripsi. Saya rasa itu hal yang biasa saja lah ya kalau kita terkadang butuh semacam gladi resik untuk melakukan hal hal yang penting contohnya sidang skripsi hehehe. Yah meskipun bagi orang orang yang tidak terbiasa terkadang suka heran dan bertanya tanya termasuk dosen pembimbing skripsi saya saat itu yang cukup heran melihat saya berpenampilan sangat rapi dan necis pada saat menonton sidang skripsi teman saya. Karena heran beliaupun bertanya kepada saya ada acara apa sehingga saya berpenampilan serapi itu. Sayapun kemudian heran dan memastikan bahwa saat itu saya akan sidang skripsi. Kemudian dosen tersebut semakin heran dan tersenyum senyum simpul dan meminta saya untuk bertanya ke orang tata usaha apakah sidang saya hari itu atau hari lainnya. Dan benar saja ternyata sidang saya akan dilaksanakan pada hari berikutnya. Saya yang sebelumnya semangat dan sudah banyak persiapan membeli konsumsi dan minta doa pada teman teman satu kontarakan pun akhirnya pulang sambil menyunggingkan cengiran kecil sambil berkata “salah jadwal”.

Kuliahan Level I “Dari Dunia yang Tiba Tiba Memutih”

Setelah berkuliah selama 4 tahun-an di IPB Bogor, dan kemudian bekerja sebentar sebagai GIS Analis di sebuah konsultan pertanian saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan perkuliahan saya di Jurusan Geoinformasi untuk Manajemen Bencana, Sekolah Pasca Sarjana, UGM. Perjuangan untuk sampai sana tidak mudah, selain melalui tahap administrasi saya juga harus melalui tahap wawancara. Disinilah sulitnya, dengan kondisi saya yang sedang ditugaskan ke Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Sintang untuk melakukan persiapan proyek pemetaan, saya sambil membawa alat alat survey dengan tangan kiri, tangan kanan saya sibuk mengetik melalui ponsel nokia 3110 classic saya untuk menjawab pertanyaan pertanyaan wawancara.

Saya saat itu beruntung sekali diperbolehkan untuk mengikuti proses wawancara via email. Namun masalahnya hp saya masih jadul dan susah sekali bahkan tidak mungkin untuk mengirim email. Alhasil sayapun meminta bantuan teman saya yang ada di Jogja yaitu si andrep yang sudah saya ceritakan pada cerita sebelumnya untuk membuka email saya. Dia kemudian melihat pertanyaan dan mengirimnya via sms ke saya dan kemudian saya memberikan jawaban saya menggunakan bahasa inggris. Sedikit sulit sih namun seru hehehe.

Poto ini di ambil di ruang kelas belajar kami, Saat poto ini diambil, kami baru saja mendapat bagian baju polo jurusan untuk digunakan saat kunjungan lapang ke Dieng.

Semasa perkuliahan di Geoinfo UGM, saya mendapatkan pemahaman baru baik yang berkaitan dengan Geoinformasi dan juga hal hal yang berkaitan dengan kebencanaan. Orang orang yang saya temui pun sama menyenangkannya dengan kawan kawan yang saya temui saat saya di IPB maupun saat saya di Lampung. Dari kawan kawan saya ini saya mulai ikut ikutan mengeluti hobby membaca, sedikit terlambat sih tapi tak apa dari pada tidak sama sekali.

Oia selama berkuliah di Jogja saya juga merasakan bagaimana suasana saat Jogja seketika memutih oleh abu Gunung Kelud. Sampel abu kelud yang menutupi Jogja dan sekitarnya sampai saat ini masih tersimpan dengan rapi di meja belajar saya di Lampung. Jika kalian penasaran dengan bagaimana rasa dari abu kelud. Dengan bangga saya katakan saya sudah pernah mencicipinya, kira kira ya seperti kita memakan bubuk kaca, agak sepet dan kesat di gigi hehehe. Saat kejadian tersebut saking penasarannya saya sesekali mencoba berbagai hal seperti mencoba apakah memang perih dimata (confirm perih), di rambut akan memberi kesan sangat kering seperti di sasak, dan bila dimakan terasa sekali tekstur kesatnya.

Yang Banyak Orang Tidak Tahu dan Memang Tidak Perlu Orang Tahu

Saya menyadari bahwa saya tidak akan bisa merangkum kejadian kejadian saya selama ini dalam satu dua tulisan saja. Namun saya juga memahami bahwasanya kalian sebagai pembaca tidaklah perlu tahu dengan detil tentang apa apa saja yang terjadi pada saya selama ini (alasan untuk tidak lanjutin). Sejujurnya pula saya hanya menuliskan kejadian kejadian yang kiranya layak untuk dibagi, namun di balik itu sama seperti orang kebanyakan seperti kalian, dalam perjalanan ini saya tentunya juga menghadapi naik dan turunya kehidupan, masa masa saat air mata menetes, tembok pun kadang tak luput dari hantaman hanya untuk melepas emosi yang ada dan kemudian tampil seperti tidak terjadi apa apa lagi di depan kalian. Namun cerita cerita seperti itu tidak akan saya ceritakan karena akan membuang waktu secara percuma. Jikalau kalian telah membaca sampai kalimat ini, saya sangat menghargai itu dan berterimakasih atas luangan waktunya untuk membaca sesuatu yang mungkin nilainya tidak dapat teman teman gunakan sebagai panduan hidup.

Saya sebagaimana anda akan sulit bahkan tidak akan mungkin mengetahui dan memahami segala apa yang terjadipada seseorang, sedekat apapun orang tersebut dengan kita apalagi orang lain yang jauh dari kita. Dari proyek tulisan ini saya belajar bahwa untuk memperkenalkan diri kita sendiri menjadi sesuatu yang singkat sangatlah sulit. Saya kesulitan untuk menuliskan dengan singkat seperti apa kita dan apa apa saja yang telah kita lalui. Dari sini saya berpikir, bila saya sendiri kesulitan memperkenalkan diri sendiri, apakah orang lain merasakan yang sama. Kita memang tidak tahu dan memang tidak perlu tahu tentang semua yang terjadi pada orang lain. hal ini yang menyebabkan terkadang kita sulit memahami dan menerima bahwa cara pandangan kita yang memang beda. Seberapa paham apapun kita akan hidup seseorang tidak ada yang mampu mengubah dan atau menyelamatkan orang itu selain orang itu sendiri yah kira kira sama seperti makna yang ada di lagunya alan walker yang berjudul on my way.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan penting yang harus di jawab segera, apakah kedua paragraf ini berkaitan dengan dua seri tulisan ini? saya tidak yakin demikian. Saya rasa kaitannya tidak begitu nyata. Saya menyampaikan hal ini bukan untuk merangkum apa apa yang telah saya tulis, Saya hanya mengutarakan apa yang sedang ada dalam pikiran saya secara bebas dan tanpa bingkai dan aturan yang mengikat.

Salam dari saya

Dewa Putu AM

Daily LifePsikologiUncategorized

Merakit Pematah Makna Pepatah Rakit yang Sudah Lama dan Mungkin Usang

March 31, 2019 — by dewaputuam0

huangshan-3656344_1920-960x640.jpg
Gambaran yang ada di pikiran saya tentang sebuah rakit itu yang seperti ini, Hal ini masuk akal karena besar kemungkinan rakit jenis seperti inilah yang ada dan mengilhami pada saat pepatah rakit dibuat. (Sumber gambar: 雅惠 游 from Pixabay )

Selama ini dalam pelajaran bahasa atau sastra, kita beberapa kali bertemu dengan sebuah pepatah yang cukup terkenal dan rasa-rasanya hampir semua orang yang pernah belajar di Indonesia mengenal pepatah tersebut. Ini tentang pepatah rakit yang tidak diketahui siapa penciptanya dan kita tidak tahu pula siapa penciptanya. Pepatah tersebut berbunyi seperti ini.

“Berakit rakit kehulu, berenang ketepian”

Seingat saya semua guru dan atau orang tua maupun orang lain yang dulu pernah mengajarkan saya menyebutkan pepatah tersebut memiliki makna bahwa kita perlu “bersakit sakit dahulu, untuk dapat bersenang senang kemudian”. Pepatah dan maknanya ini tentu saja dapat diterima, dan merupakan sebuah pesan yang sangat baik bagi semua orang termasuk untuk saya, “mungkin”. Meskipun terkadang saya suka mengelak saat diberikan pepatah tersebut oleh ibu saya dan mengatakan bahwa saya lebih suka naik rakit sambil berenang renang.

Pada tulisan saat ini saya ingin membahas makna lapis kedua dalam pepatah rakit. Saat memikirkan hal ini saya sangat terkesima dengan pembuat pepatah yang sangat keren ini, saya juga merasa ini bukanlah kebetulan bila seorang penulis (atau seorang sastrawan) menyelipkan berlapis makna dalam sebuah karyanya. Lapis-lapisan makna itupun ia rangkaikan dan dengan cerdik ia sembunyikan tipis tipis melekat pada satu sudut pandang tertentu. Lapis-lapisan makna ini biasanya juga dikaburkan oleh lapisan makna tersurat yang dapat dilihat dengan jelas oleh orang orang bisa tanpa banyak berpikir dan menganalisa lebih dalam.

Seperti pada pepatah rakit. Kebanyakan orang akan mengangguk ngangguk jika pepatah tersebut sekedar diartikan berdasarkan kesamaan buny pada akhirannya. Saya lupa istilahnya ini apa, tapi secara umum demikian “Rakit rakit” digunakan untuk menggantikan frasa “sakit sakit”, “ke hulu” digunakan untuk menggantikan frasa “dahulu”, kemudian frasa “berenang-renang” untuk mengungkapkan “bersenang-senang” sedangkan ” ketepian” digunakan untuk menggantikan kata “kemudian”. Jika dibaca secara utuh, pepatah “berakit rakit kehulu, berenang ketepian” akan bermakna “bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian”. kira kira sesederhana itu cara merakit makna lapis pertama pada pepatah rakit.

Merakit Alur Berpikir Frasa “Berakit-rakit ke Hulu”

Ada satu pertanyaan sekaligus tantangan buat teman-teman pembaca sebelum kita coba merangkai logika untuk mendapatkan makna lapis kedua pada pepatah rakit. Pertanyaan dan tantangan ini menurut saya sangat simple.

Maukah teman teman dengan usaha kalian sendiri berakit rakit kehulu “secara harafiah”, maukah anda dengan tongkat dan rakit menelusuri sungai menuju kearah hulu. Sekedar informasi tambahan buat teman-teman, berakit kehulu sungai berarti pula kita harus bergerak melawan arus. Percayalah itu tidak mudah ferguso, kita beruntung bila arusnya tidak kuat dan itupun sudah cukup PR, apalagi bila arus sungainya sangat kuat bukan tidak mungkin kalau kita akan maju satu meter dan hanyut puluhan meter. Rakit biasanya didesign untuk bergerak ke hilir, dan kalaupun tidak, ia biasanya didesign untuk menyebrangi sungai saja itupun dibantu dengan tali tambang/kabel agar tidak terbawa arus dan lebih mudah membawa ketepian sungai di sebarangnya. Yang jadi pertanyaan kenapa orang orang dulu membuat pepatah dan menggunakan frasa yang sedikit kurang logis tersebut “berakit rakit kehulu” dan kira kira apa faedahnya menggunakan rakit untuk mencapai hulu?

Coba kita bayangkan dengan rakit bambu kita harus mengarungi sungai seperti ini dan gilanya lagi harus melawan arus untuk menuju hulu. Sekarang apakah teman teman melihat pepatah rakit sebenarnya agak tidak logis dalam situasi seperti ini (Sumber gambar jwvein from Pixabay)

Dari sini saya rasa kita telah menemukan pintu menuju makna lapis kedua yang dibuat oleh orang orang terdahulu melalui pepatah rakitnya. Kita akan mencoba memaknainya dari sudut pandang realist dan sedikit kritis. Sebelumnya kita mengetahui bahwa berakit-rakit ke hulu adalah hal yang melelahkan dan menyakitkan (saya gantikan agar ada sedikit harapan meskipun hampir pada kenyataan yang tidak mungkin). Meskipun demikian “sakit” bukanlah makna lapis kedua dari penggalan pepatah ini. Menurut saya penggalan pertama ini memiliki makna tentang orang yang sangat ambisius dengan tujuannya yang juga fantastis yaitu “hulu”. Saya berpendapat demikian karena hanya ambisi dan ego yang luar biasa besar yang menyebabkan orang orang begitu gigih dan berusaha mencapai tujuannya tanpa sadar diri tentang seberapa jauh kemampuan yang ia punya yang dalam hal ini hanya sebuah rakit.

Makna pada penggalan ke dua akan muncul saat penggalan pepatah pertama terpenuhi yakni seseorang yang ambisius dan terlalu ngotot baik secara bodoh ataupun cerdas, bedanya cukup tipis. Saya sengaja memasukan kata bodo dan cerdas disini untuk memberikan sedikit ruang dan mengakui kalau sebenarnya ada variasi pada alasan kenapa ada seseorang yang secara random berakit-rakit ke arah hulu. Beberapa kasus ngototnya mungkin ngotot bodo dan tak tahu diri namun beberapa lainnya ngotot karena yakin ia sangat kuat, cerdik dan atau mungkin saja ia sangat paham akan situasi sebenarnya disana. Dalam pepatah ini bukan tidak mungkin kalau orang yang menggunakan rakit sebenarnya memunyai trik trik jitu atau pengalaman berlimpah sehingga bukan tidak mungkin kesemua itu mampu mengantarnya menuju ke hulu sungai. Yah mungkin saja dia sangat kuat, mungkin dia memodifikasi rakitnya, atau mungkin ia paham, yakin dan berpengalaman untuk berakit rakit kearah hulu, atau ia tahu daerah hulu tidaklah terlalu jauh untuk di gapai. Kalau kata orang orang jaman sekarang “Sing penting yakin”.

Merakit Alur Berpikir Frasa “Berenang-renang ke Tepian”

Lha, saya malah membahas kemana mana ya. kembali pada penggalan ke dua dalam pepatah ini yakni frasa “berenang renang ketepian”. Secara sederhana sebelumnya penggalan kedua ini biasa diartikan sebagai “bersenang senang kemudian”. Hal ini merupakan makna lapis pertama yang sering kali orang lain berikan. Namun secara logis, bila kita pernah menaiki rakit semacam rakit bambu , maka disana kita lihat bahwa sebenarnya kita tidak perlu berenang untuk mencapai tepian, tentunya ini dalam kondisi normalnya ya. Namun mengapa orang orang dahulu menambahkan frasa berenang renang ketepian setelah frasa berakit rakit dahulu? bukannya ini sangat aneh, lalu bagaimana dengan keadaan rakit yang kita tinggalkan sembari berenang ketepian? dibiarkan hanyut dan kembali dengan sendirinya ke hilir atau malah tenggelam dan hilang ditinggal jaman setelah mengemban tugas yang begitu berat.

Rakit seperti ini cukup garang, tapi sampai saat inipun saya belum memahami bagaimana cara rakit bisa kita arahkan dan bergerak melawan arus menuju hulu sungai (Image by julianomarini from Pixabay)

Tentu ada suatu hal besar yang menyebabkan kita tidak membawa rakit hingga ke tepi sungai dan merelakan kita untuk berbasah basah dengan berenang hanya untuk menuju tepian. Dari logika ini kita coba rangkai sesuatu cerita tersembunyi dan terkandung didalam frasa ini. Ada dua hipotesis kunci dalam pemahaman frasa pepatah ini yaitu “Ada suatu peristiwa yang tidak kita duga terjadi” dan hipotesis kedua adalah “Kita harus berani terjun langsung dan mau berbasah basahan untuk mencapai tujuan kita yakni tepian atau bahkan sekedar untuk menyelamatkan diri kita bila mana ternyata sesuatu yang terjadi itu berada jauh dari tujuan kita”

Bila kedua hipotesa itu dirangkai maka kita dapatkan suatu makna dalam penggalan kedua dari pepatah rakit. Makna tersebut kira kira sebagai berikut “Kita harus sadar bahwa suatu ketika mungkin saja ada sesuatu hal yang mengharuskan kita bertindak diluar kebiasaan, Saat itu kita harus berani mengambil keputusan. Ketika tujuan sudah dekat kita dapat turun langsung dengan sekuat tenaga menggapainya, namun bila tujuan masih jauh kita juga perlu terjun langsung untuk sekedar menyelamatkan diri agar masih ada waktu esok dan mencobanya lagi.”

Kita sudah mencoba merangkaikan dan menguntai logika yang ada pada pepatah “Berakit rakit kehulu, berenang renang ketepian”. Berdasarkan logika yang panjang lebar coba kita rakit akhirnya sampailah kita pada sebuah makna tersembunyi atau makna lapis kedua dalam pepatah tersebut. Ini adalah sebuah pesan bagi orang orang penentang arus. Orang orang unik dan berani berbeda dari lainnya, orang orang yang mungkin tanghuh atau mungkin saja bodoh.

Makna Tersembunyi “Berakit-rakit ke Hulu, Berenang-renang ke Tepian

Menjalani hidup yang menentang arus memang sangat berat, namun bukan berarti tidak mungkin. Kita dapat melakukan segala hal dengan memaksimalkan apa apa saja yang kita miliki baik kekuatan, kecerdikan maupun pengalaman. Meskipun adakalnya kita dapatsaja menemui suatu tantangan yang sangat berat, saat itulah kita harus tetap terus berjuang. Bilamana tujuan masih dekat kita bisa terus memberikan tenaga tenaga terakhir kita untuk mencapainya, namun bila tujuan masih jauh dan tak terjangkau jangan malu untuk menggunakan tenaga terakhir kita untuk sekedar menyelamatkan diri agar tidak mati dan bisa mencoba lagi di kemudian hari.

Versi pendek

“Hidup berbeda dengan kebanyakan itu susah, jika ingin mencapai tujuan kita yang berbeda, kita harus berani bertindak lebih, baik untuk sampai ataupun sekedar menciptakan peluang untuk mencoba lagi. “

(Dewa Putu AM, 2019)

Sepertinya agak banyak bualan ya yang tersebar pada tulisan saya kali ini. Mencoba merombak dan menemukan kembali makna makna terpendam dari pepatah dan karya jaman dulu lainnya juga sepertinya menarik untuk dijadikan tulisan tulisan berikutnya. Namun untuk tulisan ini saya sudahi sampai sini saja dulu karena lagi lagi dan lagi terlalu panjang

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Pustaka dan Gambar dalam Tulisan Ini
  • Gambar 1 yang ada bapak bapak naik rakit di sebuah sungai di negeri Tiongkok, Gambar ini jugalah yang saya gunakan sebagai Feature Image sumber 雅惠 游 from Pixabay.
  • Gambar 2 tentang kondisi sungai di dekat hulu yang biasanya berbatu dan ber arus deras (Image by jwvein from Pixabay)
  • Gambar 3 tentang orang orang yang menaiki rakit modern untuk arung jeram (Image by julianomarini from Pixabay)

BukuDaily LifePsikologi

“Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya

March 30, 2019 — by dewaputuam3

fog-1208283_1920-960x641.jpg
Ilustrasi tentang hilang dan mungkin terlupakan (Image by Free-Photos from Pixabay)

“Dew, gimana cara untuk ngelupain seseorang ya, saya dah berusaha susah payah tapi tetep keinget lagi sama dia” tiba tiba saya dapat pertanyaan ini dari salah satu teman saya. Mendapat pertanyaan tersebut saya pun menjawab “Jangan kamu lupain dia, teruslah ingat dia sesering mungkin bahkan kalau bisa kepoin semua postingan dalam media sosial dia, nanti toh saat kamu jenuh dan lelah dengan sendirinya kamu akan melupakannya.” Ini jawaban saya saat itu, yah meski tidak persis benar perkata seperti demikian tetapi pada intinya sama lah seperti ini. Mungkin cara yang saya utarakan ini akan terkesan aneh bagi kalian tetapi sejujurnya saya memberikan saran tersebut dari sebuah buku yang pernah saya baca dan bukan serta merta dari pengalaman. Sebuah buku berjudul Man’s Search for Meaning Karya Viktor E. Frankl.

Saya kurang paham kenapa orang itu menanyakan hal tersebut kepada saya, mungkin karena saya gampang banget ngelupain orang ya, khususnya dalam hal nama. Mengingat adalah salah satu kelemahan yang ada pada diri saya, saya kurang mampu mengingat nama orang bahkan untuk beberapa jam saja. Hingga akhir akhir ini saat berkenalan dengan seseorang yang baru saya temui, jika saya rasa akan bertemu lagi dan berbincang bincang saya biasanya akan menuliskan namanya pada catatan di smartphone saya agar seawktu waktu saat berbincang saya dapat menyebutkan nama mereka, meskipun saat ingin mengawali percakapan saya tentunya mengecek catatan saya untuk memastikan nama yang saya sebutkan tepat.

“Paradoxical Intention”, Sebuah Paradox Tersembunyi yang Selalu Menentang Keinginan Kita

Ada beberapa konsep menarik yang diutarakan dan ditawarkan oleh Victor dalam bukunya, namun konsep yang akan saya bahas dalam tulisan ini hanya satu konsep yakni sebuah paradox yang secara sadar ataupun tidak sadar sering kita alami di kehidupan sehari hari. Mungkin kalian pernah ingin mencari sesuatu seperti remot televisi misalnya, tetapi anehnya benda itu tidak dapat kita temui saat itu hingga akhirnya kita tidak menginginkan untuk mencarinya dan secara ajaib benda tersebut muncul di hadapan kita. Atau saat kita sedang ngidam makan mie ayam gerobak dorong langganan kita, tapi apa daya kita tunggu berlama lama tak juga datang. Namun saat suatu hari perut kita kenyang atau ada banyak sekali lauk di rumah kita, secara tidak berperi keperutan pedagang mie ayam tersebut dengan merdunya memukul mukul gong besar dan lewat di depan rumah kita.

Saya tidak paham kenapa saya ingin menggunakan ilustrasi ini, saya rasa ilustrasi ini juga tidak begitu menggambarkan apa yang saya tulis di tulisan ini. Tapi ilustrasi ini tampak keren ya (Image by Jonny Lindner from Pixabay )

Beberapa kejadian di dalam kehidup kita terkadang sebegitu bercanda. Mereka hilang tak tergapai saat kita ingin dan butuhkan. Dan muncul begitu saja tanpa alasan saat kita sama sekali tidak membutuhkan. Bercanda banget kan ya terlihatnya. Peristiwa peristiwa inilah yang disebut oleh Victor sebagai “Paradoxical Intention”. Paradox ini didasarkan pada dua fakta yang pertama adalah hilangnya suatu hal saat kita menginginkan secara berlebihan dan fakta kedua yang berkebalikan adalah kemunculan suatu hal saat kita tidak menginginkan bahkan sangat takut hal itu muncul atau terjadi.

Berpegang pada konsep inilah yang kemudian saya menyarankan pada teman saya tersebut untuk menghentikan usahanya untuk melupakan seseorang. Hal ini saya sampaikan karena saya rasa ia sangat ngotot untuk melupakan orang itu atau dengan kata lain ia tidak ingin bahkan takut untuk sekedar mengingat orang yang mungkin telah menyakitkannya tersebut. Hal inilah yang tanpa ia sadari justru mengaktifkan efek dari Paradoxical Intention yang berdampak pada semakin munculnya ingatan ingatan tentang seseorang yang ingin ia lupakan.

Untuk mengatasi hal tersebut saya menyarankan sebuah paradox yang sama. Bukan mendukung untuk melupakan, saya justru memintanya untuk mengingat orang yang ingin itu dengan cara cara yang biasa hingga cara yang menurut saya juga sedikit konyol dan ekstrim yakni menstalking orang yang ingin ia lupakan tersebut setiap hari hehehe.

Saya tidak tahu cara yang sarankan berhasil atau tidak untuk teman saya itu, tetapi setidaknya hingga saat ini ia tidak pernah lagi curcol saya tentang hal ini. Eh beberapa kali masih kumatan seperti itu ding hanya intensitasnya sepertinya sudah sedikit berkurang. Saya menulis artikel ini pun mungkin dia akan terpelatuk dan ingat kembali, hehehe sorry sistah. Saya rasa tulisan ini perlu saya buat dan menarik untuk dibagikan. Tenang aja namamu tidak saya sebut ditulisan ini kan. Hehehe

Kita mungkin pernah menginginkan sesuatu dengan berlebihan, hingga tanpa sadar dengan adanya Paradoxical Intention dirimu justru semakin menjauh dari apa yang kamu inginkan. Inginlah secara sederhana, sesederhana dirimu yang ingin hidup dengan hanya bernafas.

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa segitu saja dulu tulisan saya hari ini, Saya harap semua dari kalian dapat memanfaatkan Paradoxical Intention dengan baik. Karena biar bagaimanapun juga sama seperti lainnya selalu ada dua sisi dari suatu hal sisi baik dan sisi buruk. Kita mendapatkan sisi yang mana tergantung dari apa yang kita pilih dan bagaimana usaha kita, jangan terlalu serius menghadapi sebuah hal dan jangan pula terlalu bercanda. Cukup yang sedang sedang saja.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Referensi dan Gambar
  • Konsep Paradoxical Intention adalah konsep Viktor E. Frankl yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning
  • Feature Image dan Ilustrasi pertama adalah karya Free-Photos from Pixabay
  • Gambar Ikan yang dinaikin manusia pada ilustrasi ke dua adalah karya Jonny Lindner from Pixabay

Daily LifeGameHiburanPsikologiUncategorized

Cerita Tentang PUBG dan Kehidupan

January 27, 2019 — by dewaputuam0

9fc0a20d-38ca-4c27-8628-73475cc7c252_PUBGMobile_5-960x640.jpg
PUBG Sanhok (Sumber: bgr.in )

Tulisan ini saya buat sebagai jawaban atas request teman saya yang menginginkan tulisan terkait PUBG dan teman lainnya request tentang Kehidupan #haseek. Kedua topik tersebut tampaknya kurang begitu nyambung ya, tetapi cukup menarik jika kita coba hubung hubungkan hehehe. Saya kurang begitu yakin kengemengan saya dapat tertahan dalam postingan ini, jadi sekedar mengingatkan buat teman teman pembaca, jangan terlalu percaya dengan tulisan saya kali ini karena tidak semuanya benar namun cukup fair juga kan kalau saya bilang tulisan ini tidak semuanya juga salah #sip. Mulai ke topik,

Sekilas Tentang PUBG [Mobile]

Permainan PUBG mobile merupakan permaianan game dalam perangkat mobile (ios dan android) yang karya Tencent Games. Pada dasarnya ini merupakan sebuah game battle royal dimana 100 pemain tanpa senjata diterjunkan pada suatu wilayah yang luas, saling sikut cepat2an cari senjata dan perlengkapan kemudian baku tembak untuk menjadi satu satunya yang dapat bertahan hidup hingga akhir (sesederhana itu sudah). Dalam permainan ini kita bisa memilih pertandingan solo, duo atau squad, tapi biasanya lebih seru squad, karena kita bisa bacot bacotan (melepas semua emosi) sama teman atau malah dibacotin satu tim, konyol2an atau pun bisa juga serius membentuk strategi agar bisa bertahan sampai akhir.

Dalam tulisan ini tentunya saya tidak akan memberikan trik trik agar bisa dapat chicken dinner (istilah untuk solo, duo atau squad yang berhasil bertahan hingga akhir). Saya tidak memberikan hal hal itu karena sudah banyak orang diluar sana yang menuliskan entah itu dalam bentuk blog ataupun vlog. Oleh karena itu kali ini saya mencoba untuk sedikit bercerita tentang apa apa saja trik bermain dalam PUBG yang mungkin saja bermanfaat di dunia nyata.

Belajar Hidup dari Game PUBG

Ada beberapa aspek dalam permainan PUBG mobile yang dapat kita jadikan pelajaran yang cukup menarik dan bagi saya cukup sesuai diterapkan dalam hidup kita. Mungkin terdengar berlebihan, namun menurut saya kita bisa belajar dari mana saja, ya termasuk dari sebuah game yang tentunya tidak serta merta dapat kita terapkan secara bodoh, cukup ambil intinya saja.

  • Dimulai dari Terjun Bebas : Permainan ini dimulai dari terjun bebas dan sebenarnya strategi sudah harus mulai disusun apakah kita akan memainkan tipe permainan yang offensive yang barbar atau ingin permainan yang tenang dan cenderung defensive? Penentuan strategi inilah yang kemudian menentukan dimana dan kapan kita akan terjun. Keraguan sedikit saja dan tidak adanya strategi yang jelas akan mengantarkan kita keawal permainan lagi dengan lebih cepat (terlalu dini mati dan masuk lobby hehehe). Begitu juga dengan hidup, sebelum masuk ke suatu stage, kita perlu dengan cepat menentuakan tipe peran yang akan kita mainkan, ingin menjadi seseorang yang offensive dan terus memberikan tindakan tindakan yang menjadi triger lainnya atau ingin memainkan peran yang pasif dan hanya merespon aksi aksi dari pihak lain. Sama seperti permainan, terlambat kita menentukan tipe permainan kita, terlambat kita terjun maka terlambat ula kita akan melakukan aksi ataupun respon. Keterlambatan disini tentunya tidak hanya memberikan dampak se-cere masuk lobi, namun bisa lebih dari itu. Diluar dari itu semua, ada satu poin sangat penting yakni kata “Terjun”, ntah itu hasilnya seperti apa, namun dengan kita terjun kesempatan akan selalu terbuka.
  • Melooting Apa yang Ada : Setelah kita terjun di lokasi yang kita kehenaki, yah meskipun terkadang kita perlu terjun di tempat lain karena keterlambatan kita atau faktor-faktor lain, satu kegiatan yang harus kita lakukan sesegera mungkin ajadalh “Looting” mungut barang barang yang ada apapun itu tapi paling penting adalah barang barang yang kita perlukan untuk menyerang dan bertahan baik itu senjata, ataupun pelindung. Sama seperti hidup, ketika kita terjun maka kitapun harus mengambil hal hal dasar apapun yang sekiranya akan kita perlukan dalam permainan, tak perlu memilah milah, (ambil semua dahulu) ketika dirasa sudah mencukupi kebutuhan dasar barulah kita boleh mulai memilah milah dan mencari apa yang kita inginkan. Dalam melooting pun kita tidak boleh terlena dan terdiam terlalu lama di suatu dan kita harus terus bergerak ke lokasi lokasi lainnya untuk memaksimalkan pendapatan kita. Poin pentingnya adalah kita harus ambil apapun yang kita butuhkan terlebih dahulu baru ambil yang kita inginkan.
  • Menyerang, Bertahan atau Kabur : Jika kita selamat dari fase looting me looting saatnya kita mulai memainkan peran kita. Kita memiliki cara tersendiri dalam bermain, ada yang terang terangan menyerang, ada yang sembunyi sembunyi menyerang, ada yang sembuyi sembunyi sembunyi aja, ada pula yang tunggu di serang dahulu namun (saya biasanya memilih kabur hehehe). Apapun yang kita lakukan ntah itu menyerang, bertahan ataupun kabur harus didasari dengan pertimbangan yang matang baik posisi, waktu dan situasi yang ada. Kita boleh barbar, tapi bodoh jangan lah. Sekali kali tak papa si untuk seru seruan hehehe. Poin pentingnya apa yaaa,.. saya juga tidak sebegitu paham dalam hal ini karena setiap orang punya seninya sendiri. Tapi dari beberapa trik yang saya baca dan coba ada satu yang perlu kita lakukan yaitu “Bergerak”. Ya, kita harus terus bergerak (bukan gerak gerakan tidak perlu) tetapi gerak yang pasti ntah itu bergerak untuk segera menyerang, bergerak ke batu/dinding untuk bertahan atau bergerak dengan cepat untuk kabur. Yang jelas kita harus selalu bergerak, karena yang berubah tidak hanya kita dan lawan kita namun lingkuman pun senan tiasa bergerak, yang tidak bergerak tentu akan mati konyol. Dalam hidup kadang kita menemukan halangan, hambatan atau bahkan tantangan. Kita boleh saja bediam diri sejenak, namun ingatlah kita harus terus bergerak untuk mencapai apa yang kita inginkan, gerakan disini tidak melulu lurus ke titik tujuan, karena sekali lagi saya tentunya mengingat bahwa kita punya cara masing masing yang dalam hal ini cara kita bergerak menuju tujuan yang kita inginkan.
  • Jangan Terlalu Serius, Ini Hanya sebuah Game : Saya rasa ini suatu farasa yang tepat dan menjadi penutup yang cakep untuk tulisan ini. Kita boleh serius menentukan strategi, kita boleh serius menentukan langkah dan tindakan, kita juga boleh serius dalam terus berjalannnya kita. Namun,… ada satu hal yang harus selalu kita ingat “Jangan Terlalu Serius lah,… Ini Hanya Sebuah Game. Terkadang kita kesal karena dikecewakan oleh tindakan rekan satu tim tak jarang pula kita kecewa oleh tindakan konyol sendiri atau sedikit penyesalan karena kita tidak melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan. Namun apapun itu kita juga perlu ingat “Ini hanya sebuah game” Nikmati lah setiap momennnya. Yah, saya akui terkadang hidup memang tidak sesederhana dan sebercanda itu, Frase “Ingat ini hanya sebuah game” yang saya maksud disini bukan sekedar pada menyepelekan tentang hal hal yang kita lakukan. Frase ini lebih dari itu kawan :). Frase ini tentang kesadaran akan diri kita tentang apa yang sedang kita lakukan dan hadapi sebenarnya. Kita harus sadar apa yang sebenarnya sedang kita lakukan dan seperti apa dampaknya baik untuk diri kita maupun orang lain kedepannya. Dengan memahami apa yang sedang kita lakukan dan dampaknya, setidaknya kita dapat memebrikan respon yang wajar dan cukup (tidak kurang dan tidak berlebihan) sehingga energi kita cukup untuk mengantipasi game berikutnya :).

Mungkin cukup sekian saja hal hal yang pelu saya tuliskan kali ini mengingat jumlah kata dalam postingan ini sudah melampaui 1000 kata yang mungkin sudah membosankan bagi beberapa dari kalian. Silahkan looting apa apa saja yang baik dalam tulisan ini dan lupakan saja apa apa yang tidak penting. Salam hangat dari saya.

Dewa Putu AM