main

BencanaOpiniPsikologiUncategorized

Cerita Tentang Riuh di “Stadion tanpa Pertandingan”

September 22, 2020 — by dewaputuam0

pexels-garret-schappacher-2115874-960x1174.jpg

Hei, bangun kawan.

Tetiba samar suara seseorang membangunkanku, kucoba buka mata dan mulai memasang telinga ini untuk kembali tersadar. Entah berapa lama ku tertidur hingga lupa saat ini sedang berada dimana. Suasana ini begitu asing bagiku. Puluhan, mungkin tidak, ini jelas lebih dari itu. Ratusan pun ku yakin sudah terlewat. Saya rasa ini ribuan. Mungkin sekitar 90 sampai 100 ribu, gumamku dalam hati. Atau kita anggap saja ini 99.354 orang. Kita samakan saja dengan kapasitas tempat duduk Stadion milik klub bola raksasa dunia Barcelona yakni Camp Nou. Angka yang cukup riuh ya. 

“Hei kenapa kamu malah bengong” suara yang membangunkanku kembali muncul dan kali ini tidak samar karena telingaku saat ini sudah mulai terpasang rapi untuk kembali bekerja seperti semula. Kantuk yang terawal tadi bergelayut kuat menutup kelopak mata dan dan menyayupkan ke semua indraku kini tergantikan dengan rasa bingung dan limbung khas layaknya orang yang memang baru bangun dari tidurnya.  

Ramai penonton sepak bola, saya tidak tahu ini stadion mana. Hanya keramaiannya saja yang ingin saya tampilkan dan ingin rasakan di sini (Photo by Riccardo Bresciani from Pexels)

Riuh suara ribuan orang perpaduan antara dengungan lebah madu beradu tidak karuan dengan teriak teriakan khas menyakitkan telinga ku yang baru beberapa detik lalu terlelap tidur bersama indra penglihatan dan indera perasa milikku. Genderang besar, lebih dari satu bergelegar bertabuh-tabuh tidak karuan dan tentu saja tidak membantu sama sekali dalam mengharmoniskan suara lebah dan teriakan orang orang yang ada.  Payah sekali memang, gumamku lagi dalam hati.

“Ku cari cemilan dan kopi dulu ya, sepertinya kamu masih ngantuk ya, dari tadi kulihat mata kamu masih kosong dan belum benar benar disini” Sapa orang tadi dan kemudian berdiri mengorek ngorek saku tasnya mengambil beberapa lembar uang kertas lalu beranjak pergi.

Benar saja, nampaknya ku memang sedang berada di sebuah stadion sepak bola yang sangat megah. Ku melihat sekeliling ku, orang orang disini sangat beraneka ragam. Dari warna rambut sampai warna kulit, meski sebagian jelas terlihat beberapa seperti berasal dari Indonesia, pahatan wajah dan gestur yang khas itu tampaknya masih jelas terlihat dari sekian banyak orang #mungkin. 

Ramai Riuh Mereka Mereka itu di sini, dari Tribun Penonton

Orang orang disekitarku sangat beragam dari usia dini sekali sampai usia senja yang tampaknya menuju malam. Ada yang sendiri duduk termenung sambil memakan cemilan dan minuman ringan. Ada yang berdua mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua. Ada yang bertiga bahkan ada yang rombongan, mungkin mereka itu sekeluarga. Dari kakeknya, neneknya, ibunya, dan cucu cucunya. Mereka bercanda dan bersenda gurau saling melemparkan senyuman dan berbagi camilan. Bahkan sesekali tampak pula seorang ibu yang sedang memangku anaknya yang masih sangat kecil. Heran sih kenapa anak sekecil itu dibawa ke tempat seramai ini. Namun saya membuang jauh jauh pertanyaan itu, ku yakin ada alasan spesifik yang memang mengharuskan anak sekecil itu dibawa kemari. 

Mataku menyapu sekeliling. Perhatianku tertuju pada seorang wanita, mungkin berumur 30 tahunan sedang kesulitan menelpon seseorang diluar sana. Dalam keriuhan seperti ini memang sulit untuk sekedar berbicara via telepon entah itu terganggu oleh keriuhan yang ada atau secara kejam terbawa angin dan membaur entah kemana. Angin tampaknya memang menjadi salah satu yang menghalangi keperluannya itu, sayup sayup suaranya bahkan sampai pada telingaku yang terpaut tiga bangku sebelahnya. Sayup terdengar “Jaga baik baik si kecil ya pa, jangan lupa makan…. Ssskkkkk”. Itu saja yang mampu ku dengar. Tampaknya ia sedang berpesan pada suaminya yang sedang mengurus anak di rumah. 

Ku tersenyum kecil melihatnya. Aneh, kenapa malah si ibunya yang pergi nonton di stadion ini bukan si ayah. Tersenyum senyum kecil ku melihat kejanggalan itu. Belum sempat senyum kecil ini ku tuntaskan, mataku kembali ditunjukan pemandangan yang sulit untuk dilewatkan. Seseorang di bawah ku sedang mengetikan sesuatu pesan pada ibunya. 

“Bagaimana kabar ibu di rumah?” ,.. Begitu kira kira sekilas pesan yang “tak sengaja” terbaca olehku. Oke, harus ku akui itu bukan tidak sengaja tapi memang sengaja ku lirik dengan sedikit trik (mengikat tali sepatu untuk menunduk dan mengintip pesan itu hehe). Laki laki seumuranku ini ternyata sedang mengirim pesan kepada ibunya.

Ku terus menyisir melihat hal hal yang kuanggap menarik untuk dilihat lagi, banyak sekali hal unik di sini. Entah apa yang mereka tunggu sendari tadi. Lapangan hijau di bawah sana belum ada tanda tanda akan ada sebuah pertandingan, disini juga tidak ada tanda tanda konser besar apalagi sebuah kampanye politik. Entah apa yang mereka tonton dari tadi. Untuk apa mereka bersorak bila tak ada pertandingan yang sedang mereka tonton, untuk apa pula mereka bersedih.

Ku berpikir kejanggalan-kejanggalan yang sebelumnya tidak tertangkap oleh sapuan mata ini kini mulai muncul perlahan lahan. Kenapa mereka ini, apa yang sedang mereka tontong. Mereka berpakaian biasa, bahkan ada yang berpakaian yang tidak umum kita temukan dalam sebuah pertandingan bola. Semula ku menganggap memang kostum kreatif mereka yang sedikit nyeleneh, sama seperti pertandingan bola yang terkadang ada saja yang berkostum aneh namun meriah. Namun kali ini berbeda, aneh dan tidak meriah bercampur jadi satu. Berbaju seperti dokter lengkap dengan masker dan perangkat seram lainnya. Meski ada yang berkaus bola namun kebanyakan dari mereka berpakaian biasa dari T-shirt biasa hingga jas yang rapi. Apakah ini memang pertandingan bola memang temanya tidak umum.

Ini minumanmu, Seperti yang Kamu Lihat Kami yang di Sini Beberapa Bulan Lalu Masih Bersama Kalian, Sebagian Lagi Baru Sedetik yang Lalu Datang ke Sini

Minuman ini untuk mu, segarkan sejenak pikiranmu dan coba lihat sekali lagi apa yang ada. Jangan ada yang tertinggal (Photo by Darius Krause from Pexels)

“Hei ini minuman untukmu” Orang yang diawal tadi membangunkanku membawaku satu cup minuman ringan. 

“Kenapa? Masih ngantuk kah, oia mungkin kamu heran dengan stadion ini ya. Kamu memang belum di sini, dan ku harap kamu tidak di sini si, ku harap begitu. Ku sengaja ajak dirimu sesaat kesini untuk sesekali mengunjungi kami. Kami hanya ingin bilang, 

Ini kami. Yang kamu lihat sekarang ini hanya satu dari sepuluh stadion yang ada. Seperti yang kamu lihat tadi kami seperti kalian ya, punya keluarga dan punya orang orang yang kami sayangi dan menyayangi kami. Kami bukan hanya angka kawan.” katanya lirih sambil memberikan senyuman kecil 

Ku terbangun dari tidurku, kali ini bukan di stadion yang riuh tadi. Hanya di sebuah sebuah kamar kecil yang sepi. Ku sejenak melihat jam tangan dan kemudian membuka laptopku untuk menulis tentang ini Cerita riuh stadion tanpa pertandingan.

Tulisan ini terinspirasi dari Video Narasi yang berjudul Mengapa Data dan Angka Kasus Positif di Indonesia Diragukan? | Buka Mata.

(Feature Photo by Garret Schappacher from Pexels)

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Normal Baru” untuk para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

May 10, 2020 — by dewaputuam0

man-in-black-jacket-in-front-of-bicycle-4008393-960x640.jpg
Dalam beberapa perjalanan kita, kadang ada tawa kadang ada tangis. Semua pengalaman itu memindahkan dan menggerakan kita dari situasi satu ke situasi lainnya ntah itu lebih baik ataupun lebih buruk. Kita memang merindukan perjalanan kita memang merindukan semua hingar bingar pesta itu, namun satu yang paling kita rindukan adalah “Momen Kebersamaan kita dengan orang orang yang kita cintai” (Photo by Rodolfo Quirós from Pexels )

Hai, bagaimana kabar teman teman sekalian sekarang, masih sehat kan. Semoga kita semua diberikan kesehatan ya dan semoga juga pandemi ini segera diselesaikan agar kita dapat hidup “Normal” kembali. Mungkin akan sama, mungkin akan sedikit berbeda, dan bukan tidak mungkin juga akan sangat berbeda dengan “Normal” yang sebelumnya kita rasakan. Apapun bentuk normal yang teman teman bayangkan dan percayai, ijinkan saya untuk mengutip satu quotes yang menurut saya akan sangat relevan untuk situasi sekarang ini dari seseorang yang hampir dari kita semu mengenalnya.

We can not solve our problems with the same level of thinking that created them.

-Einstein-

Sebuah permasalahan tidak akan dapat terselesaikan pada level berpikir yang sama dimana masalah tersebut terbentuk. Begitu juga dengan permasalahan Pandemi Covid19 ini yang tidak akan terselesaikan begitu saja pada level berpikir yang sama dimana permasalahan ini terbentuk. Dengan kata lain, agar permasalahan Per-Covid an ini segera berakhir kita perlu meningkatkan level berpikir kita, kemampuan kita, lebih jauh lagi kita harus menjadi pribadi yang lebih baik dari pada sebelumnya. “We must, come back better guys!”.

Jika teman teman yang sedang membaca artikel ini adalah orang orang terpilih yang berhubungan langsung dengan penangana Covid19 ntah itu para boss, rekan maupun kenalan saya di BNPB, praktisi kesehatan dan organisasi kemanusiaan lainnya terimakasih atas perjuangan kalian dan saya mohon berusahalah lebih keras lagi- sedikit lagi agar kita kelak bisa tersenyum sekali lagi. Kami semua disini percaya dan bergantung pada teman teman sekalian. Kalian luar biasa 🙂 .

Ku tahu memang berat namun percayalah kalain bisa. Dan untuk teman teman yang tidak tersangkut paut langsung dengan penanganan covid19 ini, percayalah teman teman juga sebenarnyalah salah satu kunci keberhasilan kita untuk melewati ini semua. Dalam setiap kisah perjuangan, berhasil atau tidaknya ada kontribusi teman teman di dalamnya.

Ini Sekolah kita bersama, Ini ujian kita. Mungkin sebagian dari kita tidak mampu melewati ini “Sendiri”. Tapi jika bersama, rasanya kita pasti bisa kok

Kita masuk sama sama kita juga harus lulus sama sama. Jika kata BillGates dan Istrinya, kelulusan ini bukan sekedar berjalan ke atas panggung dan mengambil lembaran ijazah. Lebih dari itu, kelulusan ini menandakan awal dari fase kehidupan kita selanjutnya yang tentunya sangat berarti untuk dirayakan terlebih karena kita berhasil melewati cobaan yang begitu berat (Photo by malcolm garret from Pexels)

Ada sebuah artikel menarik karya Bill dan Melinda Gates dalam blognya yang berjudul “Our message to the class of 2020”. Dalam tulisan tersebut Mereka menganalogikan pandemi ini sebagai sebuah kelas 2020. Sebuah kelas global dimana kita belajar banyak sekali hal baru. Dalam kelas 2020 ini kita belajar tidak hanya permasalahan yang jauh diseberang lautan namun sebuah permasalahan kita bersama wabah penyakit, segala macam bencana akibat perubahan iklim, ketidak setaraan gender dan juga kelaparan berdampak pada setiap dari kita di belahan bumi bagian manapun.

Kita memang berada dalam situasi yang sulit dan getir, kita tidak perlu menyangkal itu dan membohongi bahwa ini baik-baik saja. Bahkan untuk sebagaian dari kita mungkin saja akan mengalami situasi yang lebih pelik lagi dari semua ini baik dari kondisi kesehatan dan atau kondisi perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun membayar semua hutang. Meski banyak pelajaran yang menyedihkan melihat ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan kesakitan namun tidak sedikit pula pelajaran yang baik untuk kita bawa di kemudian hari nanti yang membuat kita tersadar tentang masih adanya sisi kemanusiaan didalam diri kita.

Saya jadi teringat pesan salah satu guru saya, 12 tahun yang lalu saat mau ujian nasional SMA. “Wa, kamu sama teman-teman mu kan masuk sekolah ini bareng bareng. Jadi lulus juga bareng bareng ya. Jangan lupa saling membantu ya”. Ini tentang ujian dan disana ada sebuah prinsip yang diajarkan yaitu kita masuk sama sama kita juga harus keluar sama sama, jangan sampai ada yang tertinggal. Dalam situasi seperti sekarang, kita masuk ujian yang sama yang bernama Pandemi Covid19. Sama seperti ujian pada umumnya, meskipun soal dan permasalahan yang diberikan memanglah sama namun kemampuan kita menanganinya tidaklah sama ada yang mudah saja mengerjakan dan melewatinya dengan nilai sempurna, ada yang mudah mengerjakan namun ternyata salah semua, ada yang berkeringat diri kesulitan saat menjawab namun hasilnya tidak buruk dan bahkan bisa dibanggakan namun tentunya ada pula yang kesulitan dan hasilnya pun merah menyala berkobar menyalakan getir dan nestapa. Tingkat kesulitan yang kita dapati saat menghadapi ujian ini tidaklah selalu sama.

Jika mengambil istilah posting intagramTV yang populer itu, “Kita tidak di perahu yang sama” meski kita menghadapi badai yang sama. Meski saya rasa sedikit kurang tepat cara meanganalogikannya sebagai badai, karena akan semakin mempersulit bagi kita untuk melihat hal baik dari badai dibandingkan “sebuah ujian”. Jadi saya lebih memilih menggunakan istilah ujian dibandingkan badai, bukan masalah benar atau salah tetapi sekedar untuk mengatur maindset saya agar melihat situasi ini sebagai sesuatu yang lebih dapat kita hadapi.

Ujian seperti ini “Nyontek dan Bekerja sama itu Legal!” Manfaatkan semua peluang agar kita bisa melewati ini semua bersama

Ini akan menjadi sejarah kawan. Kita akan menceritakan ini pada anak cucu kita kelak. Bukan hanya sebuah cerita tentang kebetulan dan takdir, namun lebih dari itu. Ini sebuah cerita tentang kita yang tidak pernah menyerah dan terus berjuang untuk hidup kita dan untuk dapat mewarsikan dunia ini pada generasi berikutnya. Kisah yang bagus bukan untuk jadi sejarah. Yuk kita mulai tulis cerita itu. ( Photo by Janko Ferlic from Pexels )

Jika di ujian lainnya kita tidak diperbolehkan mencontek, untungnya di ujian 2020 ini nyontek itu legal hehehe. Kita dapat meniru dan belajar hal yang baik dilakukan oleh orang lain. Menirunya pun tidak begitu sulit, dengan sedikit usaha untuk menelusuri melalui jejaring Internet, dengan mudah kita akan melihat apa apa saja yang telah dilakukan orang orang disekitar kita bahakan orang orang dibelahan bumi lainnya. Meski tentunya kita juga harus sedikit memilah milah kira kira mana yang relevan dan mana yang tidak relevan. Bukankah itu juga yang kita temukan kala kita nyontek? tidak selamanya kita menyontek orang yang jawabannya benar dan bisa saja kita akan mendapat zonk.

Untuk menentukan apakah itu jawaban yang benar atau salah tidaklah mudah. Terlebih dalam kelas 2020 ini kita semua sama sama berhadapan dengan sesuatu yang memang baru. Jika hal demikian yang terjadi, biasanya kita mencontek siapa? tentunya bukan pada orang-orang random tak jelas kredibilitasnya seperti saya kan. Kerdibilitas, kemapuan orang orang disini menjadi kunci, jadi untuk kita sekarang cukup percayakan saja pada ahlinya. Namun tidak sepenuhnya permasalahan ini kita jawab dengan melihat dan hanya mengikuti para ahli tersebut karena ini ujian kita masing masing. Setiap permasalahan tentunya memberikan dampak yang tidak selamanya sama. Untuk menyelesaikan permasalahan yang bersifat personal tersebut kita perlu juga mengambil langkah dan berjuang sendiri. Ntah itu permasalahan kesehatan ataupun Ekonomi kita, berhasil atau tidaknya ada kontribusi kita secara individual di situ. Jadi selain berjuang bersama, dalam waktu yang sama kita berjuang sendiri sendiri.

Satu-satunya cara untuk menguatkan diri agar permasalahan yang bersifat personal kita dapat teratasi adalah “Naik Level” ingat qoute dari mbah Enstein yang saya sandur di awal tadi. We can not solve our problems with the same level of thinking that created them. Kita harus berevolusi dan menjadi dirikita yang lebih baik lagi baik dari yang paling dasar dan abstrak seperti kemampuan pemikiran kita, emosi kita, hingga pada kemampuan fisik kita yang juga harus lebih sehat lagi.

Ada beberapa langkah sederhana yang telah saya lakukan dalam beberapa bulan karantina pribadi di kelas 2020 ini, mungkin kita melakukan hal yang sama mungkin juga tidak, mungkin ini dapat dijadikan ide untuk kalian sembari menjalani hidup kita dirumah, namun mungkin saja saran ini tidak begitu ada gunanya. Kita semua punya permasalahan masing masing kan :). Pada prinsipnya sih saya ingin waktu yang diberikan oleh kelas 2020 ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan saya secara vertikal (lebih mendalami bidang keahlian saya) dan juga horisontal (memperbanyak kemampuan kemampuan baru).

  1. Baca buku: kegiatan ini mungkin sedikit membosankan untuk sebagian orang namun dalam kondisi seperti sekarang agaknya membaca buku bisa menjadi salah satu alternatif untuk memperkaya pengetahuan kita. Ada tiga buku yang menurut saya bagus untuk dibaca kala pandemi:
    • Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl, buku tentang logoterapi yang ditulis oleh mantan tahanan kamp pengkonsentrasian nazi yang terkenal mengerikan yang dimana semua kebebasan direngut dan terus menghadapi hari antara hidup dan mati. Gagasan yang disampaikan dalam buku ini saya rasa sangat relefan untuk menghadapi masa yang sangat sulit dan penuh siksaan.
    • Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Ini adalah buku tentang filosofi Stoa atau Stoicsm. Melalui buku ini kita diajarkan berbagai hal namun yang paling mengena adalah soal dikotomi kendali yang memisahkan mana yang dibawah kendali dan mana yang di luar kendali kita. Buku ini bisa membuat kita tidak membuang buang waktu pada hal hal yang tidak bisa kita kendalikan dan lebih terfokus pada apa yang dapat kita kendalikan. Untuk ulasan lebih jelas soal buku ini bisa teman teman baca melalui link ini.
    • Everything is F*cked karya Mark Manson. Sebuah buku tentang harapan yang tidak hanya menyuruh kita berharap secara kosong namun lebih pada realisistis dan bertanggung jawab terhadap harapan harapan kita. Dalam bahasa indonesia buku ini diterjemahkan sebagai “Segala galanya Ambyar” sesuai sekali bukan dengan kondisi sekarang. Teman teman bisa membaca ulasannya melalui link ini.
  2. Ikuti Pelatihan dan Seminar Online. Saat pandemi seperti ini jadi banyak diskon untuk pelatihan/seminar online, bahkan ada beberapa yang mengeratiskan. Rugi rasanya kalau segala kesempatan ini kita lewatkan begitu saja #Iyakan. Sebagai contoh saya bulan lalu sampai sekarang mengambil paket premium yang diskon untuk pelatihan data sains dari DQLabs lumayan lah latian koding tipis tipis siapa tau kan dan saya yakin akan berguna saat kita lulus kelas 2020 nanti. Pelatihan yang dapat teman teman ikuti bisa berupa pelatihan komputer, pelatihan gizi anak, pelatihan memasak, menjahit, hingga pelatihan untuk olah raga di rumah untuk menjaga kebugaran. Semua itu terserah mana yang temen temen sukai dan minati.
  3. Tetap Menjaga silaturahmi dengan Kawan dan Sahabat: Komunikasi adalah kunci. Meski kita harus menjaga jarak selama pandemi ini namun jangan biarkan jarak fisik ini juga memisahkan memperjauh jarak komunikasi kita pada teman teman kita. (ku kemarin sempat keluar dari salah satu grup temen temen mantan kantor sik, bukan untuk melebarkan jarak tapi biar g ganggu saja kesibukan mereka sekarang soalnya saya rasa akhir akhir ini ku malah banyak ngeganggu hehehe) tapi secara personal tetap lah saya coba sesekali sekedar saling berbagi kabar dan candaan meski tidak jarang agak hambar dan gring tapi tak apa lah bisa dimaklumi dalam kondisi darurat seperti ini #Yekan.

Ketiga poin tersebut pada dasarnya adalah pengalihan Investasi. Investasi yang tidak hanya secara finansial namun juga personal kita. Saat situasi yang tidak begitu jelas ini. Berbagai instrumen investasi (Saham, Reksa Dana, Emas) menjadi goyang dan tak tahu akan kemana arahnya. Saat seperti inilah kita menggeserkan portofolio investasi kita pada investasi personal maupun interaksi interpersonal kita. Bisa ke otak dengan cara memperbanyak ilmu baik melalui buku bacaan ataupun pelatihan. Investasi juga perlu pada kesehatan kita dengan cara berolah raga secara lebih teratur (ini saya masih belum sih). Selain kedua hal itu kita juga perlu melakukan investasi pada hubungan interpersonal kita dengan orang orang didekat kita, teman kita, sahabat kita dan orang orang lain sebagai sesama masyarakat dunia ini 🙂

Kelas 2020 memanglah kelas yang berat dengan berbagai ujian yang tak kalah beratnya. Namun bukan karena beratnya ini membenarkan kita untuk egois dengan menyelamatkan diri kita sendiri dan meninggalakan teman teman kita, Abai. ntah lulus atau tidak. Itu jahat kawan. “Kita masuk kelas ini bersama jadi lulus juga akan indah bila tetap bersama bukan. Lalu kita akan rayakan kelulusan ini ditemani dengan secangkir teh dan biskuit sambil cerita tentang hari ini, tentang perjuangan kita, tentang sisi kemanusiaan kita yang tak pernah mati meski dihadang peliknya pandemi. Semua itu akan manis, asal kita lakukan bersama. Untuk menuju “Normal Baru” untuk kita para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

Yuk kita berjuang bersama

Sampai jumpa pada tahpan selanjutnya kawan

salam hangat dari saya

Dewa Putu AM.

(Feature Photo by Kate Trifo from Pexels)

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Mari Berpikir Positif Tentang Hari Ini” Agaknya Bukanlah Pilihan yang Baik untuk Saat Ini Kawan

April 19, 2020 — by dewaputuam2

person-standing-beside-car-1853537-960x1440.jpg
Sudah berapa lama ini semua terjadi, apakah akan kembali masa seperti dahulu, sebuah masa saat setiap paginya kita melihat wajah ceria wajah kusut bercampur aduk dalam kerumunan makhluk makhluk pagi yang berkerumun bergerak memulai aktifitas hari barunya, atau akan ada Normal yang baru yang mengubah semua? ( Photo by Artem Beliaikin from Pexels )

Haloo, setelah sekian lama akhirnya saya menulis lagi, mungkin ada yang rindu dengan gaya tulisan saya yang hambar tanpa hati, atau ada yang skip skip saja. Apapun kesan kalian, saya harap teman teman semua tetap diberikan kesehatan ya, tetap hidup dan kita akan bertemu esok hari #janji. Oke, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pikir dan gagasan yang tentu tidak serta merta muncul begitu saja dari saya, melainkan terinspirasi dari beberapa buku yang paling banyak mempengaruhi si  filosofi teras karya Henry Manampiring dan Everything is F*ck karya Mark Manson.

Ini tentang bahayanya berpikir positif dengan segala kiasan kiasan yang dibawa bersamanya seperti. “Hei semua baik baik saja, ini tidaklah seburuk itu. Setelah ini akan ada kebaikan. Itu terlalu berlebihan, cobalah lihat dari sudut pandang ini nilai yang besar itu akan tampak kecil kok. Pada intinya “berpikirlah positif” dalam kondisi apapun dan bagaimanapun termasuk situasi seperti sekarang ini. Dalam kondisi pandemi, yang meski dampak terburuknya adalah banyak nyawa melayang, namun dampak ekonominya juga tidak boleh serta merta kita sepelekan.

Berpikir positif seakan menjadi salah satu kiblat yang diagung agungkan bagi sebagian orang. Hal ini saya rasa oke oke saja, tidak masalah bahkan memang bagus. Sampai suatu hari saya menemukan sebuah tulisan tentang penyajian data kematian yang sebelumnya dibandingkan dengan jumlah terkonfirmasi sekarang diubah menjadi per satu juta populasi. Sampai di sini semua  masih saya anggap oke oke saja. Karena dengan cara itu setidaknya angka berubah menjadi kecil dan urutan Indonesia menjadi masih bisa dimaafkan lah dalam Pandemi ini. Terlepas dari teknik statistik preman yang digunakan, sudahlah tak apa yang terpenting terlihat cantik, bukannya fungsi statistik itu untuk menipu? Tidak ada yang benar dalam statistik, namun sebagian memiliki manfaat begitu kata seorang dosen statistika di kampus saya dahulu yang masih teringat oleh saya.

Jika semua baik baik saja, lalu dimana permasalahannya. Permasalahannya ada di kita. Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah artikel yang menarik, Saya tidak ingin membahas isinya, intinya cukup negatif yang menginfokan bahwa Indonesia sekarang sudah menduduki puncak klasmen sementara di kawasan Asia Tenggara. Cukup menyeramkan, namun dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas hal itu. Saya justru ingin berdiskusi tentang diskusi para Netizen di bagian komentarnya hahahha. Disana terlihat jelas mana orang orang yang pesimis dan mana pihak  yang berpikir positif. Mereka saling bertarung adu jempol. Kedua gagasan dari mereka terlihat masuk akal dan menyentuh ada yang menggunakan gagasan per satu juta yang tadi saya sebutkan hingga menganggap Indonesia tidak seburuk itu dan kemudian ada yang menimpali, seberapapun itu itu nyawa manusia bukan sekedar angka. Hampir setiap berita buruk selalu ditimpali seperti itu dan terkadang dibumbui hal hal positif yang menyentuh lainnya.

Berpikir negatif memanglah tidak baik dan membuat banyak permasalahan menjadi lebih berat dari seharusnya, apalagi jika yang kita pikirkan hanya yang negatif saja. Lalu bagaimana dengan berpikir positif? apakah itu menyelesaikan masalah atau memperingan masalah? Jika kita tarik kebelakang sebelum semua seperti ini kita sudah kenyang dengan puisi puisi positif yang menyatakan bahwa kita kebal Corona, bahkan banyak sekali memenya yang menebarkan aura positif. Apakah semua itu menghindarkan kita dari masalah? Terserah si mau diakui atau tidak, nyatanya semua sudah seperti sekarang. Itu saja cukup.

Ok, permasalahan Berpikir Positif kita kesampingkan dulu dan kita biarkan mengendap dulu dalam pikiran kita. Yang perlu dicatat sekarang adalah berpikir positif itu juga tidak lepas dari kekurangan, sama halnya dengan berpikir negatif. Sulit dicerna memang, saya pun merasakan demikian ketika menemukan gagasan ini dalam kedua buku karya Henry Manampiring dan Mark Manson sebelumnya.

Sembari menunggu mengendap, saya ingin ke topik lain yang rasanya cukup menarik untuk disampaikan di sini.

Ini bukan tentang memilih Kemanusiaan dan Ekonomi, karena pada dasarnya kesempatan kita memilih itu tidak ada.

Hei,.. Apa yang kamu pikirkan dan rasakan sekarang, masihkan kalian berharap atau justru sedang dalam proses jatuh yang tidak tau kapan mencapai dasarnya. ( Photo by Burst from Pexels)

Mari kita cicipi sebentar cara berpikir negatif, coba kita angankan berbagai kemungkinan terburuk yang sedang kita hadapi dan akan kita hadapi. Dalam filosofi Stoa, cara berpikir seperti ini cukup ampuh untuk merunut segala kemungkinan yang ada dan menyiapkan mental kita untuk segala kemungkinan tersebut, meskipun faktanya sesuatu terburuk yang kita pikirkan tersebut pada akhirnya tidak akan terjadi, atau paling tidak tidak akan terjadi dalam tingkatan yang kita pikirkan. #semoga.

Saya melihat, setidaknya ada dua isu yang dipertentangkan oleh kita sepanjang bulan bersama kekasih baru kita yang bernama Covid19 ini.

  • Kemanusiaan: dampak langsung dari virus corona yang paling dekat adalah kesehatan kita dan dengan berat hati harus kita akui nyawa kita pun terancam. Meskipun tingkat kematiannya tidak begitu besar #katanya, namun kemampuan persebarannya tidak dapat diremehkan sama sekali.  Ini teman teman pasti sudah sering dengar dan membaca, bahkan mungkin juga seperti saya yang sudah bosan mendengarnya. Tetapi saya disadarkan oleh sebuah artikel Tomas Pueyo dalam situs medium, kejadian pandemi seperti ini ternyata memberikan dampak kesehatan lainnya yakni penurunan kapasitas sistem kesehatan kita (rumah sakit maupun sdm nya). Jumlah sumber daya  medis yang kini banyak difokuskan untuk menangani corona. Dalam kondisi tertentu akan mengakibatkan penurunan kapasitas dalam penanganan kesehatan lainnya baik yang berupa kejadian kejadian yang biasa terjadi (kecelakaan dan penanganan penyakit kronis) maupun kejadian luar biasa seperti potensi bencana yang sewaktu waktu bisa saja terjadi. Dampak terburuk dari segi kemanusiaan yang terpikir oleh saya tentunya jumlah kematian yang tinggi, bukan hanya kematian langsung oleh virus namun juga kematian yang disebabkan oleh lumpuhnya fasilitas kesehatan kita. Hal ini dapat lebih buruk lagi bilamana terjadi bencana besar seperti yang beberapa tahun kemarin. Siapkah kita untuk ini?
  • Ekonomi: sudah mulai terasa untuk sebagian orang dampak dari corona ini terhadap kondisi ekonomi kita dari saham saham yang bertumbangan, omset omset usaha yang turun hingga pemecatan besar besaran.   Jika kita melihat secara sederhana, memanglah mudah menentukan prioritas antara kemanusiaan dan ekonomi. Namun pilihan tidaklah sesederhana itu. Coba kita pikirkan lagi deh, ini bukanlah sebuah pilihan yang sederhana, dimana saat kita menghempaskan satu pilihan maka pilihan lain akan menjadi pilihan yang teratasi dengan baik. Ekonomi itu mengikat banyak aspek kehidupan dan bahkan mengikat #kehidupan itu sendiri. Perekonomian yang hancur dapat menjalar pada permasalahan permasalahan dari yang remeh seperti tidak dapatnya terlalu hura hura hingga pada sesuatu yang serius seperti potensi kenaikan kriminalitas, kesehatan mental dan fisik kita dan juga keberlangsungan hidup. Beberapa kanal berita menyebutkan 60% ekonomi kita bergantung pada usaha nonformal, atau jika dihitung secara kasar 150 juta orang. Jika semua itu lumpuh, dan lapar maka semua hal dapat saja terjadi. Bukankah ini permasalahan kemanusiaan juga

Kita disini bukan untuk diskusi apakah pemerintah harus pilih yang mana? tapi lebih pada apapun yang diambil pemerintah, kedua dampak tersebut pasti akan datang pada kita. Kembali pada topik berpikir positif dan Negatif yang sebelumnya kita bahas, sisi mana yang ingin kita ambil sekarang. Apakah kita harus berpikir bahwa kita saat ini sedang baik baik saja, atau panik dan merasa putus harapan. Kedua pilihan tersebut tampak buruk.

Akui dan dan Menyerahlah, buanglah semua harapan kosong kita, tidak baik loh terlalu mabuk akan semua hal positif hanya untuk menghindar dari sesuatu yang buruk dan tidak kita inginkan.

Apakah keberdaan “Harapan” itu baik, meski memang ia yang menarik para hati pahlawan untuk melakukan hal hal heroik, namun “harapan” pula lah yang dipegang dan dijadikan pembenaran bagi Hitler dengan Nazi-nya serta para pemimpin otoriter kejam dalam melakukan aksinya. Lalu apakah “Harapan” itu masih baik? ( Photo by Designecologist from Pexels)

Kejujuran tidak hanya diterapkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Namun justru penting  kita jadikan sarat saat kita berinteraksi dengan diri sendiri. Jika memang tidak baik baik saja, janganlah menambah beban diri dengan berbohong semua baik baik saja. Akuilah bahwa kondisi ini memang tidak sedang baik baik saja bagi kita. Kita perlu akui itu karena kita hanya dapat mengubah sesuatu yang memang milik kita, milik “Aku”. Jika ingin mengubah sesuatu, langkah paling pertama adalah mengakui bahwa “itu” adalah masalah. Poin pentingnya disini adalah buang lah harapan, buanglah ekspektasi. Hal ini juga yang membuat kita terhindar dari cara berpikir negatif. Kita tidak akan putus asa dan juga tidak akan putus harapan jika tidak ada Asa dan harapan yang kita pegang dengan keras. Itu memang tidak mudah untuk kita lakukan 100%. Seiring datangnya masalah kita secara tanpa sadar akan melekatkan asa dan harapan di belakangnya. sebuah asa yang membuat kita berjuang namun membuat kita juga terpuruk saat tak mampu mencapainya.

Semua orang akan mendapatkan paket permasalahannya sendiri dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Akan sangat jahat dan bohong bila ada seseorang yang berkata “Aku paham apa yang kau rasakan”. Tidak, kita tidak akan pernah paham secara utuh apa yang orang lain rasakan. Kita berbeda, masalah yang sama tidak serta merta memberikan dampak yang sama untuk semua orang. Kita tidak dapat memukul rata semua permasalahan dengan satu solusi sederhana. Namun, ada suatu frasa yang menurut saya cocok dijadikan kandidat utama untuk  “solusi sederhana” yang pada kalimat sebelumnya saya sangkal.

Amor Fati

Amor Fati merupakan frasa dalam bahasa latin. Amor (Love) dan Fati (Fate), dalam bahasa Indonesia Amor Fati dapat diartikan sebagai  “Cinta Terhadap Takdir”. Kata Amor Fati sering saya temukan dalam berbagai buku terkait filosofi stoa baik dalam buku filosofi teras nya Henry Manampiring maupun buku Everything is F*ck nya Mark Manson. Amor Fati dalam bahasa sehari hari artinya mirip kata “Nrimo” dalam bahasa jawa, atau suatu frase yang digunakan untuk menggambarkan suatu sikap yang melihat segala hal dalam satu kesatuan sisi baik maupun buruknya secara utuh. Kalau kata mbah Surip “I love you full”. Kita harus mencintainya secara utuh. Ini langkah awal yang saya maksud “mengakui” sebelumnya. Kita perlu mengakui kalau memang ada masalah dan itu sudah takdir kita di zaman sekarang ini. Terlepas itu karma atau apapun alasan kita untuk menunda pengakuan permasalahan ini bukan lagi pada ranah kita.

Setelah kita akui tentang adanya permasalahan ini permasalahan memang belumlah selesai namun paling tidak kita tahu dan akui bahwa saat ini memang ada permasalahan, dan itu perlu agar kita dapat “kendali” untuk  menyelesaikan atau paling tidak kita siapkan untuk hadapi. Poin kendali disini menjadi penting untuk ditekankan karena kita memang tak bisa melakukan apapun pada sesuatu yang kendalinya tidak pada diri kita.

Saya mencoba merangkum sedikit dua poin utama masalah yang sebelumnya kita bahas. Permasalahan pertama adalah banyaknya kematian (mungkin kita akan termasuk di dalamnya), dan untuk permasalahan kedua terkait ekonomi kita bisa jatuh semakin miskin hingga sulit untuk menyambung hidup di tengah situasi yang juga sulit dan penuh kriminalitas. Jika di lihat lihat lagi ternyata serem juga ya.

Permasalahan kemanusiaan tidak hanya berkutat pada hidup dan mati. Namun untuk menyederhanakannya kita batasi saja pada terancamnya hidup banyak orang akibat virus ini. Ok, bila sebagian orang mengatakan rata rata tingkat kematiannya kecil hanya 4%, untuk kasus Indonesia 10%, namun jika persebarannya seluar biasa ini jangankan 10%, satu persen pun merupakan angka yang besar. Sebagai gambaran, menurut hasil survey BPS penduduk Jakarta tahun 2020  diperkirakan mencapai 10.5 juta orang, maka jika kita anggap 1% nya saja yang terpapar maka yang positif bisa mencapai 100k orang terpapar dan 4% dari itu sekitar 4000 jiwa. Ini perhitungan sangat kotor untuk menggambarkan kepada kita seberapa besar 4% itu. yang jadi pertanyaan apakah hanya 1% yang akan terpapar, bisa aja lebih rendah dari itu #semoga. Dan satu hal yang perlu kita ingat angka itu bukan sekedar angka tanpa makna. Angka itu mewakili kita, manusia yang memiliki orang yang menyayangi maupun disayangi.

Permasalahan yang ada disini adalah penyakit, baik persebarannya ataupun tingkat kematiannya. Melihat dan memilah hal yang ada dibawah kendali dengan yang diluar kendali maka secara global persebaran dan tingkat kematian di Indonesia apalagi global bukan dibawah kendali kebanyakan dari kita, kalaupun ada maka kendali itu sangatlah kecil. Namun dari kendali kecil itulah yang harus kita manfaatkan secara maksimal. Intinya kita tidak boleh berpartisipasi menyebarkan virus dan juga tidak boleh mati. Sesederhana dua itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Berikut ini setidaknya ada 3 aktivitas yang bisa saya list sampai saat ini, ketiga hal tersebut saya rangkum dari apa yang ada disekitar saya baik di lingkungan pertemanan maupun sosial media  saat ini. Ketiga aktifitas itu antara lain:

  1. Rebahan (tetap diam di rumah), ini jargon jargon yang sering berseliweran di sekitar kita ya, dan memang membosankan tapi mau bagaimana lagi itu hal paling minim yang memang berada dalam kendali kita. Saya cukup expert dalam bidang #rebahan ini, jika ada yang butuh saran dan konsultasi terkait trik trik rebahan bisa kontak saya 🙂
  2. Membantu apa yang bisa kita bantu, Selain rebahan dan diam di rumah kita juga dapat melakukan hal hal yang menurut saya heroik seperti ikut urun dana untuk membantu sesama melalui pihak pihak yang memang terpercaya. Hal hal lain yang dapat kita lakukan juga dengan cara urun pikiran dalam diskusi diskusi online, dan lain sebagainya. Kita semua memiliki peran berbeda untuk ini.
  3. Saling menguatkan, saling bertanya kabar dengan teman teman juga akan seru dan membantu, kita bisa sekali kali saling sapa melalui video call  bersama keluarga atau teman sekedar menghilangkan sedikit jenuh dan menjaga kewarasan jiwa kita bersama.

Lanjut ke permasalahan kedua. Ini tidak kalah penting dengan masalah kemanusiaan. Jika masalah kemanusiaan berkutat pada bagaimana kita mempertahankan dan menjaga orang orang di sekitar kita, maka ekonomi perlu untuk menjaga masa depan kita. Dunia setelah Pandemi ini akan sangat berbeda, maka kita perlu bersiap. Di dalam kondisi dunia yang semakin tidak pasti ini, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan segalanya, kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan kita selama ini. Putus asa dan harapan memang tidak membantu, namun terus ber asa dan berharap pun tidak pula banyak membantu. Amor Fati menjadi jurus andalan untuk kita pakai dalam situasi seperti ini. Kita terima dan cintai dulu kondisi yang kita alami sekarang baik dan buruknya. Memang tidak mudah bila hal hal itu terlalu buruk, namun akan lebih buruk bila kita menghabiskan energi dan waktu untuk hal hal yang sia sia seperti terus menyangkal kondisi sekarang yang memang sedang buruk.

Mana yang bernilai bagi kita, mana yang akan menjadi prioritas kita menentukan langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya. Dalam kondisi sekarang kita diberikan waktu sejenak untuk kembali memikirkan itu semua kawan. ( Photo by Helena Lopes from Pexels )

Ada sebuah tulisan dalam Ashley Abramson melalui platform medium yang saya baru baca beberapa hari lalu, yang saya rasa setidaknya dapat kita pegang sebagai kerangka kerja kita untuk menghadapi situasi sulit ini. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kemungkinan Come Back kita dari krisis ini dengan cantik.

  1. Mari kita evaluasi dan klarifikasi kembali nilai nilai yang ada dalam diri kita, yang mungkin membedakan kita pada yang lain dan selama ini selalu memberikan dampak pada kita baik positif maupun negatif. Kejujuran kita kah, kemampuan kita beradaptasi kah, keramahan kita kah,kemalasan kita kah, semua itu yang mungkin melekat pada kita coba untuk dievaluasi ulang mana yang masih relevan untuk hari ini dan esok dan mana yang sudah tidak relevan.
  2. Audit prioritas kita, selama ini kita disibukkan oleh banyak hal dan secar disadari atau tidak disadari seringkali kita melakukan hal yang tidak ada manfaatnya atau sia sia. Dalam kondisi dimana kita berdiam diri dirumah memberikan kita waktu untuk berdiam diri dan berkontemplasi tentang apa apa saja yang penting bagi kita dan apa yang tidak penting apakah itu keluarga, diri kita sendiri, persahabatan, kesehatan, uang atau apa? jika pada poin sebelumnya kita fokus pada nilai kita, kini kita fokus pada tujuan kita yang prioritas dan paling penting serta bermakna.
  3. Geser rutinitas kita. Setelah kita mengetahui posisi awal kita (nilai kita) dan memahami mana tujuan yang kita inginkan (prioritas) maka langkah selanjutnya adalah melihat jalan mana yang paling relevan. Apa yang kita perlu lakukan dan dapat kita lakukan. Jika ada kegiatan kita yang kurang relevan dengan nilai maupun prioritas kita maka jangan ragu untuk menggeser ke kegiatan yang lebih relevan.

Posisi Amor Fati tidak memilih positif atau negatif. Posis inilah yang saya rasa paling baik saat ini dimana kita tidak dirundung pada keputusasaan tanpa dasar dan juga tidak dimabukan oleh perasaan positif yang terlalu tinggi tanpa logika.

Lalu pihak mana sekarang yang teman teman pilih? tetap terpuruk dan memikirkan segala keburukan yang ada, mengeluh dan mengeluh setiap hari atau berpikiran positif dan selalu berharap akan ada pelangi di setiap selesainya badai. Atau Amor Fati,… Semua diserahkan pada kalian Teman 🙂

Feature Photo by Artem Saranin from Pexels