main

BukuPsikologiUncategorized

[Buku] The Leader Who had No Title “Seni Memimpin Tanpa Jabatan” karya Robin Sharman

October 15, 2019 — by dewaputuam0

cooperation-hands-handshake-1198171-960x640.jpg
Buku Seni memimpin tanpa jabatan karya Robin Sharman memberikan kita pengalaman baru akan sebuah buku pengembangan diri yang cukup renyah dan mudah dibaca. Jauh lebih penting dari pada itu buku ini pula mengingatkan kita agar kita tidak terjebak dalam 10 penyesalan manusia, apa itu? silahkan baca buku ini hehehe (Sumber ilustrasi: Young On Top)

Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit mengulas tentang buku menarik yang baru saja saya baca. Sebuah buku dengan judul yang bagi saya, terlihat agak kurang santai dan berkesan seperti pola pola pikir penuh dengan angan dan rasa optimis akan diri sendiri yang berlebih. Itu adalah pandangan awal saya terhadap judul dan design buku karya Robin Sharman. satu satunya hal yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini adalah latarbelakang penulis yang merupakan konsultan kepemimpinan di berbagai perusahaan besar seperti Microsoft, GE, Nike, FedEx dan IBM.

Dari latarbelakang yang demikian kece menurut saya dan masuk kategori best seller international, akhirnya saya menilai buku ini layak saya baca dan berharap akan menemukan banyak poin menarik di buku ini. Meski cara saya memilih buku yang seperti ini berkesan sedikit nista tapi nyatanya saya jarang kecewa dengan buku-buku yang saya pilih dengan cara seperti ini hehehe.

Buku karya Robin Sharman tidak mengecewakan saya, buku ini secara garis besar menyajikan cara dan nilai yang unik untuk sebuah buku pengembangan diri. Saat membaca buku ini kita akan sedikit dijauhkan dari kesan buku panduan yang membosankan, dan membaca buku ini berasa seperti membaca novel dengan alur cerita yang cukup enak diikuti.

Kita tidak diberikan kisah kisah sukses seseorang yang saat ini sudah sukses tapi kita diajak bergerak justru dari sebuah kisah seorang penjaga toko buku yang biasa saja

Sosok pemimpin bagi sebagian besar orang selalu diidentikan pada “Pemimpin” yang diangkat serta dilekatkan pada jabatan tertentu. Hal inilah yang kemudian membawa kita pada berbagai pemikiran yang menyesatkan (Sumber ilustrasi: Varoun Baga)

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, buku ini disampaikan bak sebuah novel dengan alur cerita yang cukup menarik. Melalui buku ini kita akan dibawa pada sebuah kisah seorang penjaga toko buku bernama Blake yang sedang berada dikondisi yang mungkin sedang dialami bagi sebagian orang saat ini. Kondisi sudah tidak ada gairah dan hanya bekerja sekena dan alakadarnya saja. Entah karena kecewa, ataupun sidah tidak bisa mengharapkan apa apalagi (eeee malah curhat hehehe). Dan kemudian suatu hari, blake dipertemukan dengan seorang rekan kerja nyentrik, dengan gaya berpakaian yang isa dikatakan ajaib bernama Tommy.

Di balik keajaiban dan kenyentrikan rekan kerjanya tersebut ternyata ada sesuatu fakta yang tidak dapat dianggap biasa. Dialah seseorang yang selalu menyandang karyawan terbaik di perusahaan pertokoan buku tersebut selama bertahun tahun dengan hadiah liburan ke berbagai tempat berkali kali. Dia juga sudah berkali kali diajukan untuk menjadi pimpinan di perusahaan tersebut namun berkali kali pula ia tolak. Dari segi materi pria itu juga sudah masuk kategori yang tidak berkekurangan sama sekali. Dan pria tersebut ternyata teman dari almarhum ayahnya blake. Sebuah cerita yang begitu klise dan sering kita temukan di novel novel ya hehehhe.

Dari pertemuan ini kemudian dimulailah perbincangan dan petualangan Blake dan Tommy untuk menyelami dunia kepemimpinan tanpa jabatan yang selama ini dijalani oleh Tommy dan membawanya ke kesuksesan seperti ini. Ada suatu ide menarik dalam perbincangan pertama mereka berdua yang membuat saya sexikit tersadar meski sebelumnya dalam beberaa buku menyebutkan bahwa dirikita tidak begitu spesial namun dalam buku ini kita juga diajarkan diri kitq pun tidak begitu tidak spesial. Kita lah satu satunya yang bisa menjadi diri kita sebaik baiknya. Di umur yang singkat manusia (960 bulan) akan sangat disayangkan bila kita tidak bekerja secara maksimal mengeluarkan segala apa yang ada dan diberikan Tuhan pada kita.

“Apa yang lebih sempurna dari pada melihat dunia yang “sedikit membaik” karena keberadaan dan perbuatan kita selama ini.”

Robin Sharman

Di beberapa buku menyebutkan kita bukanlah orang yang begitu spesial jadi tidak perlu terlalu dipikirkan dan terhanyut dalam penyesalan bila kita melakukan kesalahan. Kebanyakan dari kita bukan orang spesial yang dapat menyelamatkan dan memberikan pengaruh serta perubahan besar pada dunia. Ini adalah pola pikir yang menurut saya benar dan realistis namun benar pula kalau kita memang tidak begitu tidak spesial sehingga meskipun sedikit, kita sebenarnya bisa membuat dunia lebih baik dengan kerja kita.

Para Guru nyentrik yang mengajarkan kita secara perlahan tentang tidak hanya menjadi pemimpin tanpa jabatan, tetapi bagaimana menjadi kita yang seutuhnya

Bagi sebagian orang, mendengarkan hanyalah menunggu orang lain selesai berbicara agar mereka dapat menjawab dengan ucapan yang dipersiapkan, Dan pemimpin sejati mengambil peluang langkanya hal tersebut untuk tetap “Mendengar” (Sumber ilustrasi Keegan Everitt from Pexels )

Tommy kemudian membawa Blake mengunjungi keempat guru yang membuat dirinya menjadi pemimpin tanpa jabatan seperti sekarang. Keempat guru tersebut menurut saya sangat unik dan berkarakter hingga memberikan pada kita gambaran yang lebih menarik tentang apa apa saja yang sedang mereka bahas. Unik kata itu yang pertama kali terucap, ketika membaca karakter para guru di buku ini. Masing masing guru tersebut juga mengajarkan beberapa nilai penting terkait topik tersebut dalam satu singkatan.

  1. Seorang pelayan hotel bintang 5 yang menyampaikan bahwa “Kita tidak butuh jabatan untuk memimpin” . Aturan dasar dalam topik ini dirangkum dalam singkatan “IMAGE” (Inovation, Mastery, Authenticity, Guts dan Ethics). Kutipan penting yang menurut saya paling menarik adalah “Tak ada pemimpin hebat mencapai tangga tertinggi dengan berpegang erat pada alasan berdasar rasa takut. Korban selalu punya alasan, sampai mati. Dan, secara umum, orang yang ahli mengarang alasan biasanya tidak mahir melakukan yang lain.
  2. Seorang pemain ski profesional yang menyampaikan masa masa bergejolak membentuk pemimpin hebat . Sebagai pemain sekaligus pelatih ski profesional tentu sangat familiar dengan konsep konsep seperti ini, dalam bermain ski akan sangat sulit bila dilakukan di tempat landai (tidak ada tantangan sama sekali). Banyak konsep menarik di bab ini. Lima aturan penting untuk sebagai respon dan memanfaatkan masa masa bergejolak dirangkum dalam kata SPARK (Speak wit candor, Prioritize, Adversity breeds opportunity, Respond versus react, Kudos to everyone). qoutes yang menurut saya paling menarik dari bagian ini adalah “Kau dapat berbicara dengan terbuka dan mengungkap semua yang perlu kau sampaikan pada siapapun selama kau menggunakan bahasa yang pantas dan menjaga harga diri pendengarnya.” Qoute ini saya rasa sangat sesuai dengan beberapa polemik yang kita hadapi saat ini, terkadang kita lalai dalam hal menjaga harga diri pendengar atau orang yang sedanh kita bicarakan dan dengan pongahnya berkata ini hanya sebuah kritik yang mau tidak mau akan selalu ada.
  3. Seorang tukang kebun yang mantan CEO perusahaan besar menyampaikan topik “Semakin dalam hubunganmu, semakin kuat kepemimpinan mu” . Lima aturan yang terangkum dalam topik ini adalah “HUMAN” (Helpfulnes, Understanding, Mingle, Amuse dan NUrture). Quote yang menurut saya paling mengesankan dan mengena adalah “Bagi sebagian orang, mendengarkan hanyalah menunggu orang lain selesai berbicara agar mereka dapat menjawab dengan ucapan yang dipersiapkan.”
  4. Seorang tukang pijat refleksi yang legendaris dan menjadi langganan para pembesar untuk merefresh tubuh mereka. Dari guru ini kita akan diajak untuk belajar “Untuk menjadi pemimpin besar, Jadilah orang besar terlebih dahulu.” . Lima aturan dasar untuk mencapai hal tersebut adalah “SHINE” (See clearly, Health is wealth, Inspiration matters, Neglect not your family, Elevate your lifestyle). Quote yang menurut saya paling menarik adalah “Orang orang sebenarnya mendapat masalah ketika semua yang mereka miliki menjadi landasan siapa diri mereka dan identitas mereka di dunia. Karena jika mereka kehilangan semua itu, mereka juga kehilangan diri mereka sendiri”

Dari keempat guru tersebut dengan berbagai narasi dan latar belakang yang mereka miliki kita akan dihadapkan suatu drama yang menarik untuk diikuti perkembangannya, meskipun memang tidak se intens ketegangan seperti saat kita membaca buku bukunya Dan Brown. Namun Robin Sharman telah menunjukan kualitasnya sebagai konsultan kepemimpinan perusahaan perusahaan besar.

Namun sama halnya dengan buku buku terjemahan kebanyakan, buku inipun seakan sedikit hilang ruhnya khususnya saat joke joke diberikan antar karakter dan juga beberapa istilah menjadi kurang memberikan suasana sebenarnya yang diinginkan penulis aslinya sehingga makna dan nilai yang diberikan penulis sulit tercerna secara maksimal. Hal ini beberapa kali saya temukan dalam tulisan khususnya pada saat para tokoh memberikan singkatan singkatan yang saat di alih bahasakan menjadi canggung dan sedikit aneh.

Featured image by Mica Asato from Pexels

BukuDaily LifePsikologiUncategorized

Kenalan Sama Diri Sendiri

January 15, 2019 — by dewaputuam4

fc70650b208d0812fca26853e99c1409-960x640.png

Saya baru tersadar, selama ini kita terlalu sibuk mengenal orang lain hingga kita lupa untuk berkenalan pada diri kita sendiri.

Keinginan saya untuk membuat tulisan ini terihlami dari buku yang saya sedang saya baca beberapa hari ini yaitu buku “Better than Before” karya Gretchen Rubin. Sejauh yang saya baca (saya belum selesai baca hehehe) Ada satu konsep yang baru saya ketahui dan menurut saya cukup menarik dari buku ini yaitu tentang konsep Empat Tendensi Manusia yang ada pada bab Mengenal Diri Sendiri. Pada tulisan ini saya akan mencoba sedikit mengulas hal tersebut, karena menurut saya ini penting agar setidaknya kita sadar “Meskipun kita sama, tetapi kita cukup berbeda untuk disamakan”. AGak jelimet ya bahasa saya, intinya si kita sebagai mausia punya keunikan masing masing termasuk tendensi kita (kecenderungan) kita untuk merespons sebuah ekspektasi.

Kenali dulu Diri Sendiri Sebelum Mengenal yang Lain ?

Mengenali diri sendiri, menurut saya sama pentingnya atau jika boleh ekstrim saya rasa bahkan jauh lebih penting dari mengenal orang orang disekitar kita. Hal itu cukup masuk akal karena bagaimana kita bisa dengan yakin mampu mengenal orang lain bila dengan diri kita sendiripun kita tidak kenal. Kenal yang saya maksud disini bukan hanya terbatas pada nama namun lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud juga bukanlah kenal secara fisik, yang seolah olah kita hanyalah seonggok daging dengan aliran adarah didalamnya saya ingin lebih jauh lagi. Kenal yang saya maksud disini bukan pula kenal sifat sifat yang teramalkan dalam Astrologi, Shio atau apapun itu.

Another Me (Sumber: graffitiprints.com)

Siapa kita sebenarnya? siapa yang memikirkan untuk membuat tulisan ini, siapa pula yang memerintahkan jari jemari saya untuk menyatakan apa yang dipikirannya kedalam bentuk tulisan di blog ini. Dan siapa sang kesadaran ini yang saat ini dengan bingungnya bertanya melalui tulisan ini.

Saya baru sampai pada pertanyaan yang berkutat pada keingintahuan saya tentan “siapa kah saya ini” sudah cukup membingungkan, belum lagi pertanyaan seperti apa saya sebenarnya dan juga belum pada pertanya apa yang sebenarnya saya inginkan dalam sesuatu yang di sebut “hidup” ini. Nah,.. saya semakin bingung kan. -_____-
Kenapa pertanyaan pertanyaan ditulisan ini menjadi semakin rumit ya, padahal rencana awal tulisan saya hanya ingin membahas tentang konsep empat tendensi yang ditawarkan oleh Gretchen Rubin. Mungkin pertanyaan pertanyaan tadi tidak dapat saya jawab disini atau lebih tepatnya tidak begitu penting (untuk kalian) jika saya tuliskan disini karena saya yakin jika kalian tanayakan hal tersebut pada diri kalian sendiri akan menghasilkan jawaban yang berbeda beda pula.

Untuk Sementara, Kenali Diri Sendiri seperti Orang Lain

Mungkin kalian bingung kenapa saya menuliskan sub judul “Untuk Sementara, Kenali Dirimu Seperti Orang Lain”. Saya secara sengaja memberikan judul seperti itu karena iseng belaka. Menurut saya konsep pengenalan diri sendiri yang di tawarkan buku-buku, video, tentunya termasuk tulisan ini itu dari orang lain, yang untuk sementara bukan lah suatu yang salah bila kita gunakan untuk mengenali diri kita sendiri. Yah meskipun bukan suatu yang 100% benar juga sih, tapi tetap ada gunanya lah ya, dan menurut saya konsep yang diberikan Gretchen Rubin cukup menarik.

Ini konsep pembagian manusia menjadi empat kelompok berdasarkan tendensinya atau dengan kata lain kecenderungan orang dalam merespon ekspektasi. Saat menetukan dan melakukan sesuatu sesuatu, kita biasanya akan menetapkan sebuah ekspektasi untuk diri kita sendiri. Ada dua jenis ekspektasi berdasarkan sumbernya yaitu ekspektasi eksternal (mematuhi aturan aturan, harapan dan kepercayaan orang lain) dan ekspektasi internal seperti (resolusi, keinginan keinginan pribadi kita untuk lebih sehat, untuk lebih lebih lebih lainnya) Secara sadar ataupun tidak sadar, secara bersamaan kita mendapatkan keda jenis ekspektasi itu di semua kegiatan kita. Menurut Gretchen Rubin, setidaknya ada 4 kombinasi respon yang akan diberikan kita pada kedua tipe ekspektasi tersebut, 1 kombinasi respon tersebut dilambangkan sebagai satu Tendensi. Jadi setidaknya ada 4 Tendensi Bawaan manusia untuk merespon ekspektasi. Keempat Tendensi tersebut antara lain Upholder, Questioner, Obliger dan Rebel. Secara sederhana ke empat tendensi tersebut dapat diringkas melalui gambar diagram dibawah ini.

Empat Tendensi Gretchen Rubin (SUmber Gambar:The Four Tendencies Quiz)

Saya akan menjelaskan satu persatu ciri keempat tendensi tersebut menurut Gretchen Rubin agar seidaknya kita bisa memahami bahwa kita sebenarnya memiliki perbedaan kecenderungan satu sama lain, sukur sukur bia digunakan teman teman untuk mengefektifkan kampanye kampanye yang biasanya sih beberapa bulan ini bakal banyak tu juru kampanye dadakan yang berseliweran di facebook dengan segala rupa tingkah lucunya hehehe. Oke saya mulai penjelasan terkait 4 tendensi:

Upholder

Bagi Uphoalder Kedisiplinan adalah kebebasan. Si pecinta kedisiplinan ini merespon ekspektasi internal dan eksternal dengan senang hati. Dari mulai bangun tidur mereka sudah berpikir “Apa tugas dan Jadwal yang harus dikerjakan hari ini?”. Upholder biasanya orang yang dapat sangat diandalkan oleh orang lain dan juga tentunya diri mereka sendiri. Akan tetapi terkadang akan terlihat berlebihan karena mereka terlalu kaku terhadap peraturan bahkan untuk peraturan peraturan tak tertulis yang tidak begitu penting, kalau saya melihatnya seperti penjilat sih hehehe ternyata mereka bukan penjilat ya dan mereka memang memiliki kebiasaan unik seperti itu. Kekurangan dari upholder akan tampak bila ia dihadapkan pada ekspektasi yang tidak jelas atau tidak ada aturan yang jelas.

Questioner

Tipe orang yang memiliki tendensi ini merupakan orang yang sangat kritis. Mereka akan menanyakan semua jenis ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka hanya akan merespon jika mereka dapat menyimpulkan bahwa ekspektasi tersebut masuk akal. Mereka biasanya bangun pagi dan bertanya ” Apa yang perlu sya kerjakan dan kenapa?”. Ketika tidak ada jawaban apa dan kenapanya mereka tidur lagi #eh. Questioner termotivasi oleh alasan yang masuk akal, atau setidaknya apa yang mereka percayaisebagai alasan yang masuk akal. Kekurangan Questioner jika begitu akaut dapat menderita Analysis Paralysis yakni memikirkan sesuatu secara berulang ulang tanpa menemukan solusi jadi agak terkesan plin-plan hehehe sepertinya saya kenal orang yang seperti ini tapi yasudahlah lanjut ke berikutnya

Obliger

Obliger merupakan tipe orang dengan tendensi untuk dapat memenuhi ekspektasi eksternal namun merasa kesulitan untuk memenuhi ekspektasi internal. Sekilas orang orang ini yang biasanya suka berkorban atau malah dikorbankan. Obliger sangat baik dalam mewujudkan keinginan dan tenggang waktu dari pihak luar, mereka berusaha sangat keras untuk memenuhi tanggung jawab mereka, namun sayangnya mereka kesulitan untuk memotivasi diri sendiri untuk memenuhi ekspektasi mereka sehingga terkadang kehidupan mereka terbengkalai dan terus dikorbankan karena takut mengecewakan orang lain. Beban atas ekspektasidari pihak luar seringkali membuat obliger rentan terhadap kelelahan. Hal ini karena mereka sulit untuk mengatakan “tidak” pada orang lain.

Rebel

Kelompok rebel merupakan kelompok orang yang menentang semua ekspektasi baik internal maupun eksternal. Mereka memilih untuk bertindak berdasarkan pilihan kebebasan. Rebel akan bangun tidur dan berpikir “Apa yang ingin saya lakukan hari ini?”. Rebel bekerja untuk mencapai tujuan mereka sendiri, selagi mereka menolak untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Aset terbaik rebel yang bermanfaat besar bagi komunitas yang di huni golongan lain adalah “suara mereka yang biasanya sangat berbeda dengan orang kebanyakan.” Terkadang perbedaan perbedaan yang rebel ciptakan justru dapat menyelamatkan komunitas tersebut. Atau malah menjerumuskan hehehe. Sisi negar=ti seorang Rebel yang sering membuat frustasi orang disekitarnya adalah mereka tidak dapat diminta atau disuruh melakukan apapun tidak peduli saat itu orang mengandalkannya, ada peraturan dan lewajiban, asal mereka tidak ingin maka mereka tidak melakukan.

Ada suatu trik untuk meminta bantuan atau meminta seorang rebel melakukan sesuatu. Kita dapat memanfaatkan sifat alaminya untuk membangkang dengan meminta anatu mengatakan sesuatu yang sebaliknya. Rebel tidak suka diperintah atau disuruh, untuk meminta sesuatu pada rebel cukup dengan memberikan informsi yang dapat berguna bagi mereka untuk membuat keputusan, menunjuk masalahnya sebagai pertanyaan yang bisa mereka jawab sendiri dan biarkan mereka memutuskan dan bertindak tanpa ada yang menyaksikan.

Meski menyukai kebebasan dan menolak adanya hirarki dan peraturan, ada sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Kita mungkin akan sering menemukan orang orang rebel justru tertarik pada institusi yang banyak peraturan seperti militer. Mungkin rebel juga membutuhkan batasan untuk dapat tunduk, berkembang dan memberontak. Rebel akan merasa gelisah bila tidak ada aturan yang bisa dilanggar hehehe.

Tendensi orang memang tidak pure salah satu dari empat tendensi itu namun lebih sering ditemukan merupakan kombinasi 2 atau lebih dari keempat tendensi tersebut. Namun biasanya akan ada satu tendensi yang lebih dominan. Yah meskipun menurut saya dengan mengetahui tendensi kita sebenarnya apa itu belumlah cukup untuk mengenal jauh diri kita sendiri. Namun setidaknya ada sedikit lah pencerahan tentang seperti apa kecenderungan kita, untuk hal lainnya kita bisa cari dari berbagai sumber bacaan seperti tentunya buku buku keagamaan (yang bagi saya merupakan manual book tentang kita). Hal ini tentunya tida saya bahas disini hehehe. eh ada kemungkinan akan saya bahas di posting selanjutnya ding

Saya kira sekian saja post sata pada hari ini soalnya sudah terlalu panjang dan akan sangat menjemukan bila saya lanjutkan.

Salam

Dewa Putu A

Keterangan Tambahan:
Feature Image di depan adalah lkarya dari Firestar97 di link ini gambar Surreal yang bagus ya hehehe