main

Bencana

Konstruksi Data Sains untuk Manajemen Bencana di Indonesia

July 3, 2019 — by dewaputuam0

scrapyard-70908_1280-960x640.jpg
Kondisi Balaroa pada akhir tahun 2018. Jika dilihat secara sekilas, kita mungkin akan sulit untuk percaya bahwa sebelumnya wilayah ini adalah perumahan yang padat penduduk dan hingga kini belum ada angka yang pasti dan terpercaya untuk menggambarkan seberapa banyak korban yang masih tertimbun di sana. Pendekatan seperti apa yang perlu dilakukan untuk menduga itu semua?

Baru beberapa waktu yang lalu saya selesai membaca sebuah buku karya Seth Stephens yang berjudul Everybody Lies. Dalam buku tersebut dibahas dengan sangat menarik hal hal terkait peran data sains dan Big Data dalam mengungkap pengetahuan serta pemahaman baru tentang apa yang terjadi disekitar kita. Tidak sedikit apa yang diungkap oleh para data saintist tersebut adalah hal baru yang ternyata justru bertentangan dari apa yang selama ini kita yakini. Sembari membaca buku tersebut sesekali saya terbayang kondisi saya dan beberapa rekan saya saat sedang berada di lapangan dalam beberapa operasi penanganan darurat bencana Baik pada saat Gunung Agung, Gempa NTB, Gempa Sulteng dan Tsunami Banten.

Dalam beberapa operasi tersebut kami sering kali di tempatkan dalam tim Data dan Informasi. Sebuah tugas yang cukup berat bagi kami mengingat tidak jarang data yang datang dan harus kami olah adalah data yang jumlahnya sangat banyak dan juga mempunyai struktur yang sangat bervariasi (tanpa ada pakem struktur yang jelas) alhasil meski beberapa data berhasil dengan baik kami kelola, namun harus juga diakui bahwa tidak sedikit pula dari data tersebut yang kemudian hanya terkumpul begitu saja tanpa dapat kami telusuri dan peras Insightnya (wawasannya) secara optimal.

Mirisnya, jika dulu saya mengalami getirnya mengolah penelitian dengan data yang minim sekarang justru sebaliknya kami disini tenggelam di dalam lautan data. Sesekali saya tergelitik, mungkin ini juga dapat dikategorikan sebagai bencana banjir data bencana.

Melihat dan merasakan getir dan mirisnya tenggelam dalam data tanpa tahu memanfaatkan dan mengoptimalkannya memunculkan sebuah pertanyaan sekaligus tantangan besar di benak saya. Apakah kita akan selamanya seperti itu? Dapatkah kita mulai bergerak maju untuk mengoptimasi penggunaan data untuk mendukung aksi serta kebijakan dalam manajemen bencana kita ? Memahami dan mengkonstruksi data sains untuk manajemen bencana di Indonesia saya rasa menjadi suatu keharusan bagi kita, jika ingin menggerakan manajemen bencna kita ke tingkatan selanjutan.

Membongkar dan Merekonstruksi Definisi Data Bencana, “Data Bencana Tidak Sebatas Jumlah Kerusakan dan Korban Ferguso”

Dengan AI nya Facebook mampu mengidentifikasi wilayah wilayah bependuduk. Data ini kemudian diolah dan dikombinasikan dengan data penduduk untuk menghasilkan informasi sebaran penduduk seluruh dunia. Data data tersebut (data demografi resolusi tinggi 30×30 meter) dapat diakses secara gratis melalui situs berbagi data untuk kemanusiaan di tautan ini (Sumber Gambar dan Artikel terkait data demografi dari facebook dapat diakses melalui tautan ini)

“The power of Number”, saya kurang begitu nyaman dengan frasa tersebut. Tidak tahu mengapa dengan adanya frasa tersebut sudut pandang kita soal data hanya terbatas pada angka dan angka saja. Frasa tersebut kembali mencuat dalam salah satu grup chat kantor saat banyaknya media mainstream justru memfokuskan pada angka anka kejadian bencana dan bukan pada usaha usaha yang telah dan perlu dilakukan untuk mengatasi bencana bencana tersebut. Harus kita akui bahwa angka angka sangatlah menarik dan mayoritas data selalu diidentikan dengan data berjenis seperti ini.

Namun tidak boleh kita lupa juga bahwa ada banyak lagi jenis data selain angka yang bila kita kelola dengan baik akan menghasilkan wawasan yang tidak kalah penting dengan data yang disajikan dalam bentuk angka. Sebagai langkah awal dalam pemanfaatan data yang lebih baik, sudah saatnya kita menghapus persepsi kita yang mengidentikan data sebagai sesuatu yang tersaji dengan rapi didalam sebuah tabel. Secara khusus dalam manajemen bencana, kita juga perlu membongkar persepsi kita yang beranggapan bahwa data bencana yang hanya terbatas pada kerusakan dan korban. Baru kemudian kita merekonsruksi persepsi kita dan meyakinkan dirikita bahwa segala hal yang ada disekitar kita baik terlihat ataupun tidak terlihat adalah data.

Dalam bukunya yang berjudul Everybody Lies, Seth Stephens menyampaikan bahwa kerangka pikir yang dibawa oleh perkembangan Big Data memberikan kita peluang untuk mengelola dan menjaring lebih banyak lagi wawasan dari berbagai jenis data yang telah ada disekitar kita selama ini. Dari data data yang sudah sering kita kelola hingga data data yang mungkin jarang sekali kita lirik.

Memperlakukan “Gambar” Sebagai Data

Data jenis ini seringkali kita dapatkan namun sayangnya tidak sedikit dari jenis data ini hanya dimanfaatkan sebagai kelengkapan dokumen saja. Dengan adanya tekhnologi pengolahan data spasial (GIS) sebenarnya pengolahan data dengan jenis ini menjadi lebih baik dari sebelum sebelumnya, namun sayangnya dari yang saya lihat selama ini pemanfaatanya dominan masih pula sebatas pelangkap dokumen. Meski dalam beberapa kesempatan juga dijumpai pemanfaatan yang lebih mendalam, namun masih banyak pekerjaan rumah bagi kita agar data jenis ini dapat lebih diambil wawasannya lagi untuk kemudian dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam penentuan sebuah aksi atau kebijakan.

Contoh Dasboard Terkait Pemantauan Hotspot. Hotspot juga merupakan hasil pengolahan data yang berbentuk gambar yakni berupa citra satelit MODIS (Tera dan Aqua) serta citra SNPP. Data hotspot yang saya tampilkan dalam dasboard ini merupakan data yang diolah oleh Lapan yang mereka sediakan dalam platform mereka di tautan ini

Data dalam bentuk “gambar” tidak hanya terbatas pada gambar yang memiliki orientasi spasial, namun lebih dari itu pemanfaatan gambar gambar lain dari berbagai sumber memilik peluang pula untuk kita ambil wawasannya, data data tersebut saat ini tersebar dan mudah sekali didapatkan melalui berbagai macam platform baik grup grup chatting (WA dan telegram) dan juga media media sosial hingga berita berita yang disajikan dalam televisi ataupun situs berbagi video di internet. Selain dari sumber sumber tersebut data berupa gambar juga dapat kita akuisisi dari sumber lain seperti citra satelit, radar serta cctv. Salah satu contoh data tersebut dapat dilihat dari gambar sebelumnya tentang data demografi dengan memanfaatkan hasil analisis AI dari citra satelit yang dilakukan oleh Facebook.

Memperlakukan “Kata” Sebagai Data

Data berupa kata justru lebih banyak lagi dan mudah kita temukan saat ini. Dapat dikatakan bahwa data jenis ini merupakan data yang paling besar jumlahnya. Data data yang seperti ini dapat kita temukan dari laporan laporan situasi, paparan, surat surat, chat, berita berita online, tulisan di berbagai media sosial, hingga pada kata kunci yang banyak dicari oleh orang. Saking banyaknya data jenis ini yang beredar, membuat kita seringkali mengabaikan begitu saja dan hanya merekap dengan anggapan akan diperlukan jikalau nanti nanti ada yang bertanya. Padahal, dari data tersebut kita dapat mensarikannya kedalam wawasan (insight) yang dapat lebih berguna.

“Word Cloud” sebagai salah satu cara dalam memvisualisasikan data data berupa kata, Dengan menggunakan visualisisasi data data yang berupa kata baik dari kumpulan laporan, surat, chat, berita dan media sosial seperti ini kita dapat mengetahui isu apa yang paling banyak dibahas saat ini. (Sumber gambar: cu-portland.edu)

Dalam dunia politik data data dalam media sosial telah digunakan secara masif untuk mendapatkan informasi terkait sentimen dan persepsi masyarakat terhadap isu atau calon tertentu. Peluang ini pula dapat dimanfaatkan oleh para data saintist kebencanaan untuk menduga isu isu terkait bencana serta apa apa saja yang dibutuhkan masyarakat. Dengan ada pengelolaan yang baik, bukan tidak mungkin kesemua wawasan tersebut dapat disajikan secara realtime dalam dasboard tertentu. Hal ini yang beberapa minggu belakangan ini sedang saya coba untuk pahami dan saya pelajari. Bisa dibayangkan bila hal ini berhasil dilakukan maka isu isu kontra produktif dapat sesegera mungkin teratasi, dan permasalahan permasalahan juga dapat dengan segera tertangani secara tepat baik dari segi waktu, tempat dan situasi.

Memperlakukan “Segala Hal” Sebagai Data

Bukan hanya angka yang memiliki kekuatan, bukan hanya gambar yang memiliki kekuatan, bukan pula kata. Semua memiliki cara, kekuatan dan seni tersendiri dalam mengungkap fakta, yang menjadi bagian pembeda dari kesemua itu adalah peran dan kemampuan dari seorang atau sekelompok Data Saintist untuk memngungkap fakta fakta tersebut menjadi wawasan yang dapat dengan mudah dimengerti dan dipahami oleh penggunanya, baik para pelaku aksi maupun para pengambil kebijakan dalam manajemen bencana.

Ilustrasi tentang dua orang yang sedang berdiskusi tentang suatu topik dibantu dengan objek objek visual seperti grafik dan peta pikiran. Dari sini saya ingin memberikan penekanan bahwa data sains bukan hanya sekedar menganalisis jutaan data namun juga menyampaikan dwawasan yang kita dapatkan dari data data tersebut dengan cara sesederhana mungkin agar mudah dipahami. (Sumber ilustrasi rawpixel.com @ pexels.com)

Perkembangan Big Data selama ini justru membuat banyak orang tenggelam dalam data. Kita memiliki banyak sekali Terabytes data namun hanya sedikit wawasan penting yang dapat kita perloleh dari data tersebut. Big Data bukan hanya sekedar mengkoleksi data lebih banyak dan lebih banyak lagi, namun tentang mengumpulkan data yang benar. Dari sinilah seorang data saintist mengambil perannya.

Data sains adalah tentang menemukan pola dan memprediksi bagaimana satu variabel akan memberi dampak pada variabel lainnya.

Seth Stephens

Data sains memanfaatkan proses berpikir manusia secara natural dan intuitif yaitu ; menemukan pola memberika pemahaman terhadap pola tersebut; dan kemudian memberikan sedikit injeksi steroid (bisa berupa apapun baik berupa logika logika dasar ataupun hal hal lainnya yang terkadang terdengan konyol dan simple) . Dari kesemua tersebut berpotensi menunjukan kepada kita bahwa dunia ini bergerak sepenuhnya berbeda dengan anggapan kebanyakan dari kita sebelumnya.

[bersambung…]

BencanaDaily LifePsikologiSains PopulerUncategorized

Melirik Urgensi Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana

March 5, 2019 — by dewaputuam3

IMG_20181021_163022-01-960x540.jpeg

Untuk Awal Mari Kita Berkenalan Dengan Bencana yang Harus Kita Hadapi

Kondisi Setelah Bencana di Petobo, Disini kita melihat begitu dasyatnya dampak yang diberikan dari sebuah bencana. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada tahun 2018, Indonesia diterpa banyak sekali cobaan yang berat, Pada tahun tersebut kita mengalami banyak bencana alam yang sayangnya banyak pula menelan korban jiwa. Dari 2575 Kejadian Bencana yang terlapor pada tahun 2018 (Sumber:DIBI BNPB) setidaknya telah menyebabkan >4836 orang Meninggal/Hilang, >21,126 orang luka luka dan >10,333,306 orang mengungsi. Dari angka tersebut, bila kita bandingkan dengan jumlah penduduk indonesia yang sekitar 264 Juta, maka dapat dikatakan bahwa 4 dari 100 penduduk di Indonesia sudah menjadi Korban Meninggal, Luka atau Mengungsi akibat bencana tahun 2018 saja.

Masih ingatkah kalian Setidaknya ada beberapa bencana besar pada tahun 2018 yang menyita perhatian secara Nasional maupun Internasional Mulai dari Gempa Bumi di Lebak Banten pada bulan Januari yang dirasakan juga di Jakarta, Erupsi beberapa gunung (Gunung Sinabung, Gunung Merapi dan Gunung Agung dan Gunung Krakatau), Gempa Lombok, Gempa-Tsunami-Likuifaksi di Sulawesi Tenggara yang fotonya saya tampilkan dalam gambar awal dalam tulisan ini, Dan sebagai penutup tahun 2018 kitapun dikejutkan oleh silent tsunami akibat letusan Krakatau pada bulan Desember 2018.

“Dongeng Usang?” tentang Risiko Bencana di Indonesia yang Sangat Tinggi

“Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng” ingin rasanya saya menulis frasa seperti itu, namun frasa tentang pertemuan tiga lempeng tersebut agaknya sudah terlalu sering terbaca dan juga terlalu sering pula keluar masuk di telinga kita. Saya khawatir bila menceritakan bencana dari template frasa tersebut kalian akan kian bosan dan meninggalkan tulisan ini. Namun suka atau tidak suka, meskipun frasa itu sudah tua dan usang, itulah kenyataanya. Dengan perbedaan tipis antara anugerah dan musibah, fakta tentang tiga lempeng tersebut lah yang menyebabkan kita sering sekali merasakan Gempa gempa besar serta memberikan kita banyak sekali gunungapi aktif (127 Gunungapi). Sebagai sedikit gambaran tentang seberapa banyak kejadian gempa yang telah kita alami berikut saya sajikan peta tentang gempa besar yang terjadi selama tahun 2018 dan awal 2019 yang saya unduh dari USGS.

Meski dalam hal bencana, Indonesia berlimpah dari segi jumlah dan intensitasnya. Tidak boleh kita lupakan juga bahwa ada begitu anugerah yang diterima Indonesia yang tentunya tidak kalah besar bila dibandingkan bencana yang kita dapat. Dongeng usang tentang pertemuan tiga lempeng setidaknya telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati tanah kita yang bagaikan tanah surga. Sebuah tanah yang berlimpah kekayaan dan keindahannya persis seperti lagu yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Dengan banyaknya gunung berapi akibat pertemuan lempeng tersebut tanah tanah kita menjadi subur yang saking suburnya diibaratkan dapat menumbuhkan tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.

Kita kembali pada permasalahan bencana di Indonesia. Untuk menggambarkan dan memahami seberapa besar risiko bencana di suatu wilayah para peneliti dan pegiat kebencanaan biasanya menggunakan suatu Indeks Risiko. Dalam perhitungan indeks risiko (Risk), diperhitungkan beberapa indeks kunci yang meliputi Indeks Bahaya & Keterpaparan (Hazard & Exposure), Indeks Kerentanan (Vulnerability) dan Indeks Kapasitas (Capasity). Melalui Indeks indeks tersebut kita dapat melihat dan memahami seberapa besar Risiko bencana disuatu wilayah, seberapa besar bahaya dan jangkauan dari masing masing bencana di wilayah tersebut, Seberapa rentan penduduk diwilayah tersebut jika bencana terjadi, dan Seberapa besar dan kemampuan dan kesiapan pemerintah, masyarkat infrastruktur, peralatan dalam menghadapi suatu bencana.

Sedih atau Bangga? “Kita berada di Peringkat 4 se ASEAN !”

Berdasarkan hasil kajian INFORM (INdex FOr Risk Management) didapatkan bahwa Indonesia berada di Posisi nomor 4 dari negara negara ASEAN berdasarkan risiko terhadap krisis dan bencana. Nilai Risiko yang demikian besar tersebut dipengaruhi oleh tingkat bahaya terhadap krisis dan bencana alam di Indonesia yang sangat tinggi dan dari sisi ini kita berada pada posisi ke tiga setelah Filipina dan Myanmar. Ada suatu berita baik bila kita lihat dari grfik dibawah, terlihat bahwa meskipun tingkat bahaya kita besar kerentanan dan kekurangan kapasitas kita untuk menhadapi bencana cukup kecil atau dapat dikatakan bahwa sebenarnya kita secara sosial, politik ekonomi dan beberapa faktor lainnya, kita dinilai cukup tangguh menghadapi bencana, hal inilah yang tidak hanya perlu dipertahankan namun perlu kita buat lebih baik lagi di tahun tahun mendatang.

Tantangan Indonesia kedepan dalam menghadapi bencana tidaklah kecil. Semakin lama jumlah kejadian dan intensitas bencana yang kita alami juga kian meningkat. Dengan adanya perubahan iklim dan pemanasan global, kejadian bencana bencana Hidro-meteorologi seperti Banjir, Banjir Bandang, Tanahlongsor dan Kekeringan akan semakin kuat dan semakin sering menghampiri hari hari kita. Jumlah penduduk yang terus meningkat pula menyebabkan semakin besar kebutuhan akan tempat tinggal dan tempat keperluan lainnya yang sayangnya banyak dari tempat tempat tersebut merupakan lokasi yang tak layak dan berbahaya karena potensi kejadian bencana yang besar.

Tidak hanya dari segi kejadian bencana, penanganan bencana pun semakin lama semakin kompleks. Banyak hal yang perlu di hadapi, mulai dari masalah teknis dilapangan hingga gangguan gangguan kecil namun tidak bisa tidak di acuhkan seperti persebaran berita hoax dan berita meresahkan tidak bertanggung jawab. Jumlah, Intensitas dan kompleksitas penanganan bencana mengharuskan manajemen bercana di indonesia tidak bisa lagi dilakukan dengan cara business as usual. Harus ada pergeseran/shifting secara besar besaran baik dari kerangka berpikir hingga kerangka Implementasi. Pergeseran besar besaran ini dapat dilakukan dengan bantuan kerangka bepikir dan kerangka Implementasi baru yang ditawarkan dalam Revolusi Industri 4.0. Dengan kata lain saya sepakat dan ingin menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 pada Manajemen Bencana adalah suatu yang memiliki urgensitas yang tinggi diterapkan di Indonesia.

Setelah Berkenalan, Saatnya Kita Lirik Potensi Revolusi 4.0 dalam Merevolusi Manajemen Bencana di Negeri Kita

Bumi yang Serba Digital (Image by TheDigitalArtist on Pixabay)

Banyak orang menghubungkan Revolusi 4.0 pada pemanfaatan besar besaran terhadap tekhnologi-tekhnologi berbasis IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Tak ayal saat ini banyak Organisasi dan Instansi Pemerintah berlomba mengembar gemborkan bahwa mereka telah melakukan pergeseran besar-besaran menuju Industri 4.0. Tidak tahu kenapa, saya melihat semua itu sebagai sebuah kasus perkosaan anak dibawah umur ya. Saya mengatakan demikian karena pemanfaatan besar besaran terhadap basis tekhnologi penyusun Revolusi Industri 4.0 tersebut justru mengkerdilkan arti dari revolusi itu sendiri. Pemanfaatan besar besaran tanpa arah dan kerangka yang tepat akan menimbulkan perkembangan yang cepat namun rapuh dan tidak tahu akan kemana arahnya. Yah, itu hanya pemikiran skeptis saya, Tentunya orang orang di organisasi tersebut adalah orang orang hebat yang telah punya rencana besar terkait hal ini.

Ada satu buku bagus berjudul The Great Shifting karya Prof Rhenald Kasali yang memberikan gambaran pergeseran besar (revolusi) yang terjadi selama ini yang lebih dari sekedar pemanfaatan IoT, Big Data, AI, Drone dan Printer 3D. Menurut yang saya pahami dari buku ini, ada tiga point penting dari Revolusi 4.0 yang dapat diterapkan untuk merevolusi manajemen bencana di Indonesia. Pertama adalah Pergeseran dari time series menuju Realtime. Kedua, perubahan pola pikir owning menjadi Sharing. Dan Terakhir adalah Menguntai produk-produk terkait manajemen bencana saat ini dan masa depan dalam suatu Platform.

4.0 Membawa Kita dari Time Series Menuju Realtime

Era Time Series selama beberapa dasawarsa ini telah memberikan berbagai manfaat kepada kita di berbagai bidang. Melalui pemahaman pola perubahan suatu nilai terhadap waktu kita dapat memperkirakan kondisi di masa depan, tentunya dengan asumsi pola tersebut akan tetap konsisten atau setidaknya tidak mengalami perubahan secara signifikan di masa depan. Pemanfaatan kerangka berpikir time series ini dimanfaatkan di segala bidang termasuk dalam manajemen bencana sejak dulu hingga saat ini. Dengan menggunakan kerangka berpikir ini sering kali kita mendengar proyeksi dan prediksi tentang kebencanaan dimasa depan seperti kapan serta dimana akan muncul dan meningkatnya jenis bencana tertentu baik bencana bencana pada musim basah seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim hingga bencana bencana pada musim kemarau seperti kekeringan dan karhutla. Untuk bencana seperti erupsi gunung juga dilakukan analisis seperti ini sehingga kita tahu ada istilah status waspada, Siaga dan Awas pada gunung. Namun untuk gempa kita hanya dapat memahami polanya tanpa bisa menebak kapan ia akan terjadi.

Prediksi prediksi terkait kebencanaan baik untuk durasi waktu yang sebentar seperti prediksi pada bulan depan atau musim depan hingga durasi waktu yang sangat lama seperti 10 hingga 50 tahun kedepan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk berbagai alasan. Proyeksi dan prediksi demikian digunakan untuk mempersiapkan tindakan preventif, kesiapsiagaan atau melindungi aset aset kita dimasa depan. Untuk semua keperluan tersebut, pola pikir time series sudah cukup. Namun untuk keperluan sesuatu yang bersifat saat ini dan durasi waktu yang sangat pendek lainnya time series mulai kurang berdaya. Disaat inilah Revolusi 4.0 beserta barisan tekhnologi yang dibawanya mengambil peran penting.

Ilustrasi seorang pria yang sedang membaca berita online yang tentunya lebih cepat dari pada media media pemberitaan pada era sebelumnya (Image by kaboompics on Pixabay)

Tekhnologi-tekhnologi pengusung revolusi Industri 4.0 seperti IoT, Big Data dan AI membawa kerangka analisis statistik kita pada level selanjutnya, dari Time Series menuju Real Time. Dengan barisan tekhnologi tersebut, analisis analisis yang semula sangat sukar bahkan mendekati kata tidak mungkin saat ini dan kedepannya akan menjadi mungkin dan dan cepat. Ketiga tekhnologi kunci 4.0 berperan dalam membentuk suatu sistem penilaian Risiko Bencana, Sistem Penunjang Kesiapsiagaan & Peringatan Dini, serta Sistem Penanganan Darurat Bencana menjadi lebih baik dan cepat baik secara near real time hingga realtime.

Tekhnologi IoT saat ini telah dan akan terus dikembangkan untuk mengintegrasikan semua sensor sensor terkait kebencanaan. Tekhnologi pengelolaan Big Data pula sedikit demi sedikit telah dimanfaatkan oleh beberapa instansi untuk mengelola data data sangat besar dari segi jumlah, variasi dan cepat fluktuasi perubahannya, kebanyakan kementerian dan organisasi tersebut mengolah tumpukan big data-data berbentuk citra satelit, hasil model hingga data data tidak terstruktur seperti konten konten di media sosial, serta video dan photo dari alat alat yang mereka pasang. Untuk tekhnologi AI, tampaknya belum begitu berkembang dibandingkan dua tekhnologi sebelumnya. Ada beberapa instansi yang memproklamirkan tekhnologi AI yang mereka gunakan dalam penanganan terkait bencana. Berdasarkan hal hal diatas dapat dikatakan bahwa ketiga tekhnologi inilah yang nantinya membentuk dan membawa kerangka berpikir dan kerangka implementasi Manajemen Bencana di Indonesia dari Timeseries menuju Real Time.

Dari “Owning” Menuju “Sharing” yang Tak Terbatas dan Melampauinya

Jika pada era sebelumnya, kepemilikan aset pribadi merupakan suatu keharusan untuk berhasil menguasai suatu bidang, maka pada era Revolusi Industri 4.0 ini kita justru dihadapkan pada suatu fenomena yang menarik dan sangat kontras bila dibandingkan dengan era sebelumnya. Pada Era Revolusi Industri 4.0 atau dapat pula dianggap sebagai Era Society 5.0 kita berada pada suatu gerakan untuk saling berbagi nilai aset untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam budaya berbagi ini seorang pemilik aset dapat memonitisasi asetnya dengan cara berbagi, baik nilai hingga berbagi aset mereka. Saat ini kita dapat dan telah terbiasa untuk berbagi pakai atau sekedar menikmati nilai suatu barang. Budaya berbagi ini kini kian lama kian tidak terbatas dan dapat melampaui batas batas yang yang tidak pernah terpikirkan pada era sebelumnya.

Pada Era Revolusi Industri 4.0, orang kini tidak sungkan lagi untuk menumpang dan menumpangkan seseorang tak dikenal menuju lokasi yang ia inginkan (Gojek dan Grab), Di era ini orang tidak sungkan menginap dan menginapkan seseorang tidak dikenal pada aset propertinya (dengan Airbnb). Pada Era ini pula orang tidak lagi sungkan memberikan sebagian dari rejekinya untuk dikumpulkan seseorang yang tidak ia kenal untuk keperluan sosial seperti sumbangan pada korban bencana dan sebagainya (dengan Kitabisa.com).

Saling Berbagi dan Saling Melengkapi adalah salah satu kunci untuk Manajemen Bencana Indonesia yang Lebih Baik (Image by BarbaraBonanno on Pixabay)

Budaya dan kerangka berpikir saling berbagi seperti ini akan membawa dan meletakan Manajemen Bencana di Indonesia pada Manajemen Bencana yang lebih humanis. Dengan bantuan tekhnologi pengusung Revolusi 4.0 maka tidak adala lagi batasan dan halangan bagi kita untuk untuk saling menolong dan saling meringankan saudra saudara kita saat terjadi bencana. Tidak hanya terbatas pada bantuan barang dan uang, budaya berbagi pula tampaknya akan bergerak pada tindakan tindakan fisik yang lebih nyata seperti berbagi informasi dan tenaga yang berlandaskan pada asas kepercayaan untuk mengurangi kerentanan, serta meningkatkan kapasitas kita dalam menghadapi bencana.

“Sebuah Impian ?” Membangun Plaform Kebencanaan dan Keselamatannya

Ini merupakan akhir namun bukanlah pengakhiran, ini juga merupakan muara dan antarmuka dari segala pergeseran dan perubahan yang di bimbing Revolusi 4.0 untuk Manajemen Bencana di masa depan yang lebih baik. Pembangunan sebuah platform kebencanaan bukanlah terbatas membangun sebuah aplikasi kebencanaan dan melemparkannya pada ekosistem mobile baik IOS maupun Android. Kita tidak boleh terperangkap dengan logika produk ,meskipun terlihat modern dan canggih sebuah aplikasi yang hanya menjalankan suatu tujuan tertentu dan tidak memberikan ruang bagi para pengguna untuk saling berbagi dan berinteraksi hanyalah produk tekhnologi biasa dan belum dapat dikatakan sebagai sebuah Platform.

Platform yang dimaksud disini lebih dari sekedar sebuah “produk” aplikasi kebencanaan. Platform yang dimaksud disini adalah suatu media yang melayani pergeseran kerangka berpikir kita yang mulanya sekedar time series menuju realtime. Sebuah platform yang memberikan layanan peningkat pemahaman kita terhadap posisi kita terhadap bencana. Tidak hanya posisi dalam arti sempit yang menggambarkan lokasi namun juga posisi risiko kita secara personal. Dengan tekhnologi IoT, Big Data dan AI, platform ini harus secara realtime menganalisis seberapa besar risiko kita terhadap setiap bencana dari waktu ke waktu. Melalui platform tersebut kita juga dapat berkomunikasi dan menjalani bimbingan untuk meningkatkan ketahanan kita terhadap bencana. Dan bilamana sudah terjadi bencana platform tersebut pula yang akan mampu menganalisis secara cepat dan menginformasikan kepada otoritas berwenang bahwa kita berada dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan segera.

Kata Kata Mendiang Steve Job yang merupakan salah satu inovator yang mengakhiri jebakan Era Produk dan membawa kita masuk kedalam Era Platform seperti sekarang (Image by FirmBee on Pixabay)

Dari platform ini hasrat berbagi kita yang saat ini telah berangsur menjadi budaya dapat tersalurkan dan terlayani dengan baik untuk meringankan penderitaan para korban bencana. Dengan platform ini pula para investor dapat memahami prospek dan risiko aset dan investasinya terhadap krisis dan bencana. Sebuah platform bukan hanya sebuah aplikasi yang melayani kebutuhan kebutuhan namun lebih dari itu sebuah platform bencana yang dibutuhkan kedepan adalah sebuah platform yang membentuk suatu kesadaran dan kebudayaan yang aman terhadap bencana dan memberikan keleluasaan berinteraksi pada masing masing pengguna guna meningkatkan kapasitasnya menghadapi bencana dan mengamankan aset aset mereka dari bencana.

Yang menjadi pertanyan sekarang adalah apakah era platform dalam manajemen bencana hanya sebuah impian kosong yang sukar dan tidak mungkin direalisasikan? Atau justru sebaliknya dari hari kehari bulan kebulan dan tahun ketahun, dengan bantuan tekhnologi pendukung Revolusi Industri 4.0 manajemen bencana di Indonesia akan beranjak menuju Manajemen Bencana yang baru dan lebih baik.

Revolusi Industri 4.0 jangan hanya diarahkan pada usaha untuk memperkaya segelintir orang saja. Revolusi ini juga harus diarahkan pada peningkatan kemampuan kita dalam misi misi kemanusiaan yang dalam hal ini adalah Manajemen Bencana di Indonesia yang baru dan lebih baik agar dapat menyelamatkan Jiwa lebih banyak, menyelamatkan aset dan harta benda lebih banyak dan mengurangi dampak bencana terhadap sosial ekonomi dan penghidupan para penyitasnya.

(Dewa Putu AM, 2019)

Untuk sampai kesana mungkin butuh usaha dan waktu yang panjang. Tetapi untuk permulaan, kita dapat memberikan sedikit sumbangan pemikiran dan tenaga untuk kemajuan Manajemen Bencana di Indonesia.