main

BencanaOpiniPsikologiUncategorized

Cerita Tentang Riuh di “Stadion tanpa Pertandingan”

September 22, 2020 — by dewaputuam0

pexels-garret-schappacher-2115874-960x1174.jpg

Hei, bangun kawan.

Tetiba samar suara seseorang membangunkanku, kucoba buka mata dan mulai memasang telinga ini untuk kembali tersadar. Entah berapa lama ku tertidur hingga lupa saat ini sedang berada dimana. Suasana ini begitu asing bagiku. Puluhan, mungkin tidak, ini jelas lebih dari itu. Ratusan pun ku yakin sudah terlewat. Saya rasa ini ribuan. Mungkin sekitar 90 sampai 100 ribu, gumamku dalam hati. Atau kita anggap saja ini 99.354 orang. Kita samakan saja dengan kapasitas tempat duduk Stadion milik klub bola raksasa dunia Barcelona yakni Camp Nou. Angka yang cukup riuh ya. 

“Hei kenapa kamu malah bengong” suara yang membangunkanku kembali muncul dan kali ini tidak samar karena telingaku saat ini sudah mulai terpasang rapi untuk kembali bekerja seperti semula. Kantuk yang terawal tadi bergelayut kuat menutup kelopak mata dan dan menyayupkan ke semua indraku kini tergantikan dengan rasa bingung dan limbung khas layaknya orang yang memang baru bangun dari tidurnya.  

Ramai penonton sepak bola, saya tidak tahu ini stadion mana. Hanya keramaiannya saja yang ingin saya tampilkan dan ingin rasakan di sini (Photo by Riccardo Bresciani from Pexels)

Riuh suara ribuan orang perpaduan antara dengungan lebah madu beradu tidak karuan dengan teriak teriakan khas menyakitkan telinga ku yang baru beberapa detik lalu terlelap tidur bersama indra penglihatan dan indera perasa milikku. Genderang besar, lebih dari satu bergelegar bertabuh-tabuh tidak karuan dan tentu saja tidak membantu sama sekali dalam mengharmoniskan suara lebah dan teriakan orang orang yang ada.  Payah sekali memang, gumamku lagi dalam hati.

“Ku cari cemilan dan kopi dulu ya, sepertinya kamu masih ngantuk ya, dari tadi kulihat mata kamu masih kosong dan belum benar benar disini” Sapa orang tadi dan kemudian berdiri mengorek ngorek saku tasnya mengambil beberapa lembar uang kertas lalu beranjak pergi.

Benar saja, nampaknya ku memang sedang berada di sebuah stadion sepak bola yang sangat megah. Ku melihat sekeliling ku, orang orang disini sangat beraneka ragam. Dari warna rambut sampai warna kulit, meski sebagian jelas terlihat beberapa seperti berasal dari Indonesia, pahatan wajah dan gestur yang khas itu tampaknya masih jelas terlihat dari sekian banyak orang #mungkin. 

Ramai Riuh Mereka Mereka itu di sini, dari Tribun Penonton

Orang orang disekitarku sangat beragam dari usia dini sekali sampai usia senja yang tampaknya menuju malam. Ada yang sendiri duduk termenung sambil memakan cemilan dan minuman ringan. Ada yang berdua mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua. Ada yang bertiga bahkan ada yang rombongan, mungkin mereka itu sekeluarga. Dari kakeknya, neneknya, ibunya, dan cucu cucunya. Mereka bercanda dan bersenda gurau saling melemparkan senyuman dan berbagi camilan. Bahkan sesekali tampak pula seorang ibu yang sedang memangku anaknya yang masih sangat kecil. Heran sih kenapa anak sekecil itu dibawa ke tempat seramai ini. Namun saya membuang jauh jauh pertanyaan itu, ku yakin ada alasan spesifik yang memang mengharuskan anak sekecil itu dibawa kemari. 

Mataku menyapu sekeliling. Perhatianku tertuju pada seorang wanita, mungkin berumur 30 tahunan sedang kesulitan menelpon seseorang diluar sana. Dalam keriuhan seperti ini memang sulit untuk sekedar berbicara via telepon entah itu terganggu oleh keriuhan yang ada atau secara kejam terbawa angin dan membaur entah kemana. Angin tampaknya memang menjadi salah satu yang menghalangi keperluannya itu, sayup sayup suaranya bahkan sampai pada telingaku yang terpaut tiga bangku sebelahnya. Sayup terdengar “Jaga baik baik si kecil ya pa, jangan lupa makan…. Ssskkkkk”. Itu saja yang mampu ku dengar. Tampaknya ia sedang berpesan pada suaminya yang sedang mengurus anak di rumah. 

Ku tersenyum kecil melihatnya. Aneh, kenapa malah si ibunya yang pergi nonton di stadion ini bukan si ayah. Tersenyum senyum kecil ku melihat kejanggalan itu. Belum sempat senyum kecil ini ku tuntaskan, mataku kembali ditunjukan pemandangan yang sulit untuk dilewatkan. Seseorang di bawah ku sedang mengetikan sesuatu pesan pada ibunya. 

“Bagaimana kabar ibu di rumah?” ,.. Begitu kira kira sekilas pesan yang “tak sengaja” terbaca olehku. Oke, harus ku akui itu bukan tidak sengaja tapi memang sengaja ku lirik dengan sedikit trik (mengikat tali sepatu untuk menunduk dan mengintip pesan itu hehe). Laki laki seumuranku ini ternyata sedang mengirim pesan kepada ibunya.

Ku terus menyisir melihat hal hal yang kuanggap menarik untuk dilihat lagi, banyak sekali hal unik di sini. Entah apa yang mereka tunggu sendari tadi. Lapangan hijau di bawah sana belum ada tanda tanda akan ada sebuah pertandingan, disini juga tidak ada tanda tanda konser besar apalagi sebuah kampanye politik. Entah apa yang mereka tonton dari tadi. Untuk apa mereka bersorak bila tak ada pertandingan yang sedang mereka tonton, untuk apa pula mereka bersedih.

Ku berpikir kejanggalan-kejanggalan yang sebelumnya tidak tertangkap oleh sapuan mata ini kini mulai muncul perlahan lahan. Kenapa mereka ini, apa yang sedang mereka tontong. Mereka berpakaian biasa, bahkan ada yang berpakaian yang tidak umum kita temukan dalam sebuah pertandingan bola. Semula ku menganggap memang kostum kreatif mereka yang sedikit nyeleneh, sama seperti pertandingan bola yang terkadang ada saja yang berkostum aneh namun meriah. Namun kali ini berbeda, aneh dan tidak meriah bercampur jadi satu. Berbaju seperti dokter lengkap dengan masker dan perangkat seram lainnya. Meski ada yang berkaus bola namun kebanyakan dari mereka berpakaian biasa dari T-shirt biasa hingga jas yang rapi. Apakah ini memang pertandingan bola memang temanya tidak umum.

Ini minumanmu, Seperti yang Kamu Lihat Kami yang di Sini Beberapa Bulan Lalu Masih Bersama Kalian, Sebagian Lagi Baru Sedetik yang Lalu Datang ke Sini

Minuman ini untuk mu, segarkan sejenak pikiranmu dan coba lihat sekali lagi apa yang ada. Jangan ada yang tertinggal (Photo by Darius Krause from Pexels)

“Hei ini minuman untukmu” Orang yang diawal tadi membangunkanku membawaku satu cup minuman ringan. 

“Kenapa? Masih ngantuk kah, oia mungkin kamu heran dengan stadion ini ya. Kamu memang belum di sini, dan ku harap kamu tidak di sini si, ku harap begitu. Ku sengaja ajak dirimu sesaat kesini untuk sesekali mengunjungi kami. Kami hanya ingin bilang, 

Ini kami. Yang kamu lihat sekarang ini hanya satu dari sepuluh stadion yang ada. Seperti yang kamu lihat tadi kami seperti kalian ya, punya keluarga dan punya orang orang yang kami sayangi dan menyayangi kami. Kami bukan hanya angka kawan.” katanya lirih sambil memberikan senyuman kecil 

Ku terbangun dari tidurku, kali ini bukan di stadion yang riuh tadi. Hanya di sebuah sebuah kamar kecil yang sepi. Ku sejenak melihat jam tangan dan kemudian membuka laptopku untuk menulis tentang ini Cerita riuh stadion tanpa pertandingan.

Tulisan ini terinspirasi dari Video Narasi yang berjudul Mengapa Data dan Angka Kasus Positif di Indonesia Diragukan? | Buka Mata.

(Feature Photo by Garret Schappacher from Pexels)

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Normal Baru” untuk para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

May 10, 2020 — by dewaputuam0

man-in-black-jacket-in-front-of-bicycle-4008393-960x640.jpg
Dalam beberapa perjalanan kita, kadang ada tawa kadang ada tangis. Semua pengalaman itu memindahkan dan menggerakan kita dari situasi satu ke situasi lainnya ntah itu lebih baik ataupun lebih buruk. Kita memang merindukan perjalanan kita memang merindukan semua hingar bingar pesta itu, namun satu yang paling kita rindukan adalah “Momen Kebersamaan kita dengan orang orang yang kita cintai” (Photo by Rodolfo Quirós from Pexels )

Hai, bagaimana kabar teman teman sekalian sekarang, masih sehat kan. Semoga kita semua diberikan kesehatan ya dan semoga juga pandemi ini segera diselesaikan agar kita dapat hidup “Normal” kembali. Mungkin akan sama, mungkin akan sedikit berbeda, dan bukan tidak mungkin juga akan sangat berbeda dengan “Normal” yang sebelumnya kita rasakan. Apapun bentuk normal yang teman teman bayangkan dan percayai, ijinkan saya untuk mengutip satu quotes yang menurut saya akan sangat relevan untuk situasi sekarang ini dari seseorang yang hampir dari kita semu mengenalnya.

We can not solve our problems with the same level of thinking that created them.

-Einstein-

Sebuah permasalahan tidak akan dapat terselesaikan pada level berpikir yang sama dimana masalah tersebut terbentuk. Begitu juga dengan permasalahan Pandemi Covid19 ini yang tidak akan terselesaikan begitu saja pada level berpikir yang sama dimana permasalahan ini terbentuk. Dengan kata lain, agar permasalahan Per-Covid an ini segera berakhir kita perlu meningkatkan level berpikir kita, kemampuan kita, lebih jauh lagi kita harus menjadi pribadi yang lebih baik dari pada sebelumnya. “We must, come back better guys!”.

Jika teman teman yang sedang membaca artikel ini adalah orang orang terpilih yang berhubungan langsung dengan penangana Covid19 ntah itu para boss, rekan maupun kenalan saya di BNPB, praktisi kesehatan dan organisasi kemanusiaan lainnya terimakasih atas perjuangan kalian dan saya mohon berusahalah lebih keras lagi- sedikit lagi agar kita kelak bisa tersenyum sekali lagi. Kami semua disini percaya dan bergantung pada teman teman sekalian. Kalian luar biasa 🙂 .

Ku tahu memang berat namun percayalah kalain bisa. Dan untuk teman teman yang tidak tersangkut paut langsung dengan penanganan covid19 ini, percayalah teman teman juga sebenarnyalah salah satu kunci keberhasilan kita untuk melewati ini semua. Dalam setiap kisah perjuangan, berhasil atau tidaknya ada kontribusi teman teman di dalamnya.

Ini Sekolah kita bersama, Ini ujian kita. Mungkin sebagian dari kita tidak mampu melewati ini “Sendiri”. Tapi jika bersama, rasanya kita pasti bisa kok

Kita masuk sama sama kita juga harus lulus sama sama. Jika kata BillGates dan Istrinya, kelulusan ini bukan sekedar berjalan ke atas panggung dan mengambil lembaran ijazah. Lebih dari itu, kelulusan ini menandakan awal dari fase kehidupan kita selanjutnya yang tentunya sangat berarti untuk dirayakan terlebih karena kita berhasil melewati cobaan yang begitu berat (Photo by malcolm garret from Pexels)

Ada sebuah artikel menarik karya Bill dan Melinda Gates dalam blognya yang berjudul “Our message to the class of 2020”. Dalam tulisan tersebut Mereka menganalogikan pandemi ini sebagai sebuah kelas 2020. Sebuah kelas global dimana kita belajar banyak sekali hal baru. Dalam kelas 2020 ini kita belajar tidak hanya permasalahan yang jauh diseberang lautan namun sebuah permasalahan kita bersama wabah penyakit, segala macam bencana akibat perubahan iklim, ketidak setaraan gender dan juga kelaparan berdampak pada setiap dari kita di belahan bumi bagian manapun.

Kita memang berada dalam situasi yang sulit dan getir, kita tidak perlu menyangkal itu dan membohongi bahwa ini baik-baik saja. Bahkan untuk sebagaian dari kita mungkin saja akan mengalami situasi yang lebih pelik lagi dari semua ini baik dari kondisi kesehatan dan atau kondisi perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun membayar semua hutang. Meski banyak pelajaran yang menyedihkan melihat ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan kesakitan namun tidak sedikit pula pelajaran yang baik untuk kita bawa di kemudian hari nanti yang membuat kita tersadar tentang masih adanya sisi kemanusiaan didalam diri kita.

Saya jadi teringat pesan salah satu guru saya, 12 tahun yang lalu saat mau ujian nasional SMA. “Wa, kamu sama teman-teman mu kan masuk sekolah ini bareng bareng. Jadi lulus juga bareng bareng ya. Jangan lupa saling membantu ya”. Ini tentang ujian dan disana ada sebuah prinsip yang diajarkan yaitu kita masuk sama sama kita juga harus keluar sama sama, jangan sampai ada yang tertinggal. Dalam situasi seperti sekarang, kita masuk ujian yang sama yang bernama Pandemi Covid19. Sama seperti ujian pada umumnya, meskipun soal dan permasalahan yang diberikan memanglah sama namun kemampuan kita menanganinya tidaklah sama ada yang mudah saja mengerjakan dan melewatinya dengan nilai sempurna, ada yang mudah mengerjakan namun ternyata salah semua, ada yang berkeringat diri kesulitan saat menjawab namun hasilnya tidak buruk dan bahkan bisa dibanggakan namun tentunya ada pula yang kesulitan dan hasilnya pun merah menyala berkobar menyalakan getir dan nestapa. Tingkat kesulitan yang kita dapati saat menghadapi ujian ini tidaklah selalu sama.

Jika mengambil istilah posting intagramTV yang populer itu, “Kita tidak di perahu yang sama” meski kita menghadapi badai yang sama. Meski saya rasa sedikit kurang tepat cara meanganalogikannya sebagai badai, karena akan semakin mempersulit bagi kita untuk melihat hal baik dari badai dibandingkan “sebuah ujian”. Jadi saya lebih memilih menggunakan istilah ujian dibandingkan badai, bukan masalah benar atau salah tetapi sekedar untuk mengatur maindset saya agar melihat situasi ini sebagai sesuatu yang lebih dapat kita hadapi.

Ujian seperti ini “Nyontek dan Bekerja sama itu Legal!” Manfaatkan semua peluang agar kita bisa melewati ini semua bersama

Ini akan menjadi sejarah kawan. Kita akan menceritakan ini pada anak cucu kita kelak. Bukan hanya sebuah cerita tentang kebetulan dan takdir, namun lebih dari itu. Ini sebuah cerita tentang kita yang tidak pernah menyerah dan terus berjuang untuk hidup kita dan untuk dapat mewarsikan dunia ini pada generasi berikutnya. Kisah yang bagus bukan untuk jadi sejarah. Yuk kita mulai tulis cerita itu. ( Photo by Janko Ferlic from Pexels )

Jika di ujian lainnya kita tidak diperbolehkan mencontek, untungnya di ujian 2020 ini nyontek itu legal hehehe. Kita dapat meniru dan belajar hal yang baik dilakukan oleh orang lain. Menirunya pun tidak begitu sulit, dengan sedikit usaha untuk menelusuri melalui jejaring Internet, dengan mudah kita akan melihat apa apa saja yang telah dilakukan orang orang disekitar kita bahakan orang orang dibelahan bumi lainnya. Meski tentunya kita juga harus sedikit memilah milah kira kira mana yang relevan dan mana yang tidak relevan. Bukankah itu juga yang kita temukan kala kita nyontek? tidak selamanya kita menyontek orang yang jawabannya benar dan bisa saja kita akan mendapat zonk.

Untuk menentukan apakah itu jawaban yang benar atau salah tidaklah mudah. Terlebih dalam kelas 2020 ini kita semua sama sama berhadapan dengan sesuatu yang memang baru. Jika hal demikian yang terjadi, biasanya kita mencontek siapa? tentunya bukan pada orang-orang random tak jelas kredibilitasnya seperti saya kan. Kerdibilitas, kemapuan orang orang disini menjadi kunci, jadi untuk kita sekarang cukup percayakan saja pada ahlinya. Namun tidak sepenuhnya permasalahan ini kita jawab dengan melihat dan hanya mengikuti para ahli tersebut karena ini ujian kita masing masing. Setiap permasalahan tentunya memberikan dampak yang tidak selamanya sama. Untuk menyelesaikan permasalahan yang bersifat personal tersebut kita perlu juga mengambil langkah dan berjuang sendiri. Ntah itu permasalahan kesehatan ataupun Ekonomi kita, berhasil atau tidaknya ada kontribusi kita secara individual di situ. Jadi selain berjuang bersama, dalam waktu yang sama kita berjuang sendiri sendiri.

Satu-satunya cara untuk menguatkan diri agar permasalahan yang bersifat personal kita dapat teratasi adalah “Naik Level” ingat qoute dari mbah Enstein yang saya sandur di awal tadi. We can not solve our problems with the same level of thinking that created them. Kita harus berevolusi dan menjadi dirikita yang lebih baik lagi baik dari yang paling dasar dan abstrak seperti kemampuan pemikiran kita, emosi kita, hingga pada kemampuan fisik kita yang juga harus lebih sehat lagi.

Ada beberapa langkah sederhana yang telah saya lakukan dalam beberapa bulan karantina pribadi di kelas 2020 ini, mungkin kita melakukan hal yang sama mungkin juga tidak, mungkin ini dapat dijadikan ide untuk kalian sembari menjalani hidup kita dirumah, namun mungkin saja saran ini tidak begitu ada gunanya. Kita semua punya permasalahan masing masing kan :). Pada prinsipnya sih saya ingin waktu yang diberikan oleh kelas 2020 ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan saya secara vertikal (lebih mendalami bidang keahlian saya) dan juga horisontal (memperbanyak kemampuan kemampuan baru).

  1. Baca buku: kegiatan ini mungkin sedikit membosankan untuk sebagian orang namun dalam kondisi seperti sekarang agaknya membaca buku bisa menjadi salah satu alternatif untuk memperkaya pengetahuan kita. Ada tiga buku yang menurut saya bagus untuk dibaca kala pandemi:
    • Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl, buku tentang logoterapi yang ditulis oleh mantan tahanan kamp pengkonsentrasian nazi yang terkenal mengerikan yang dimana semua kebebasan direngut dan terus menghadapi hari antara hidup dan mati. Gagasan yang disampaikan dalam buku ini saya rasa sangat relefan untuk menghadapi masa yang sangat sulit dan penuh siksaan.
    • Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Ini adalah buku tentang filosofi Stoa atau Stoicsm. Melalui buku ini kita diajarkan berbagai hal namun yang paling mengena adalah soal dikotomi kendali yang memisahkan mana yang dibawah kendali dan mana yang di luar kendali kita. Buku ini bisa membuat kita tidak membuang buang waktu pada hal hal yang tidak bisa kita kendalikan dan lebih terfokus pada apa yang dapat kita kendalikan. Untuk ulasan lebih jelas soal buku ini bisa teman teman baca melalui link ini.
    • Everything is F*cked karya Mark Manson. Sebuah buku tentang harapan yang tidak hanya menyuruh kita berharap secara kosong namun lebih pada realisistis dan bertanggung jawab terhadap harapan harapan kita. Dalam bahasa indonesia buku ini diterjemahkan sebagai “Segala galanya Ambyar” sesuai sekali bukan dengan kondisi sekarang. Teman teman bisa membaca ulasannya melalui link ini.
  2. Ikuti Pelatihan dan Seminar Online. Saat pandemi seperti ini jadi banyak diskon untuk pelatihan/seminar online, bahkan ada beberapa yang mengeratiskan. Rugi rasanya kalau segala kesempatan ini kita lewatkan begitu saja #Iyakan. Sebagai contoh saya bulan lalu sampai sekarang mengambil paket premium yang diskon untuk pelatihan data sains dari DQLabs lumayan lah latian koding tipis tipis siapa tau kan dan saya yakin akan berguna saat kita lulus kelas 2020 nanti. Pelatihan yang dapat teman teman ikuti bisa berupa pelatihan komputer, pelatihan gizi anak, pelatihan memasak, menjahit, hingga pelatihan untuk olah raga di rumah untuk menjaga kebugaran. Semua itu terserah mana yang temen temen sukai dan minati.
  3. Tetap Menjaga silaturahmi dengan Kawan dan Sahabat: Komunikasi adalah kunci. Meski kita harus menjaga jarak selama pandemi ini namun jangan biarkan jarak fisik ini juga memisahkan memperjauh jarak komunikasi kita pada teman teman kita. (ku kemarin sempat keluar dari salah satu grup temen temen mantan kantor sik, bukan untuk melebarkan jarak tapi biar g ganggu saja kesibukan mereka sekarang soalnya saya rasa akhir akhir ini ku malah banyak ngeganggu hehehe) tapi secara personal tetap lah saya coba sesekali sekedar saling berbagi kabar dan candaan meski tidak jarang agak hambar dan gring tapi tak apa lah bisa dimaklumi dalam kondisi darurat seperti ini #Yekan.

Ketiga poin tersebut pada dasarnya adalah pengalihan Investasi. Investasi yang tidak hanya secara finansial namun juga personal kita. Saat situasi yang tidak begitu jelas ini. Berbagai instrumen investasi (Saham, Reksa Dana, Emas) menjadi goyang dan tak tahu akan kemana arahnya. Saat seperti inilah kita menggeserkan portofolio investasi kita pada investasi personal maupun interaksi interpersonal kita. Bisa ke otak dengan cara memperbanyak ilmu baik melalui buku bacaan ataupun pelatihan. Investasi juga perlu pada kesehatan kita dengan cara berolah raga secara lebih teratur (ini saya masih belum sih). Selain kedua hal itu kita juga perlu melakukan investasi pada hubungan interpersonal kita dengan orang orang didekat kita, teman kita, sahabat kita dan orang orang lain sebagai sesama masyarakat dunia ini 🙂

Kelas 2020 memanglah kelas yang berat dengan berbagai ujian yang tak kalah beratnya. Namun bukan karena beratnya ini membenarkan kita untuk egois dengan menyelamatkan diri kita sendiri dan meninggalakan teman teman kita, Abai. ntah lulus atau tidak. Itu jahat kawan. “Kita masuk kelas ini bersama jadi lulus juga akan indah bila tetap bersama bukan. Lalu kita akan rayakan kelulusan ini ditemani dengan secangkir teh dan biskuit sambil cerita tentang hari ini, tentang perjuangan kita, tentang sisi kemanusiaan kita yang tak pernah mati meski dihadang peliknya pandemi. Semua itu akan manis, asal kita lakukan bersama. Untuk menuju “Normal Baru” untuk kita para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

Yuk kita berjuang bersama

Sampai jumpa pada tahpan selanjutnya kawan

salam hangat dari saya

Dewa Putu AM.

(Feature Photo by Kate Trifo from Pexels)

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Mari Berpikir Positif Tentang Hari Ini” Agaknya Bukanlah Pilihan yang Baik untuk Saat Ini Kawan

April 19, 2020 — by dewaputuam2

person-standing-beside-car-1853537-960x1440.jpg
Sudah berapa lama ini semua terjadi, apakah akan kembali masa seperti dahulu, sebuah masa saat setiap paginya kita melihat wajah ceria wajah kusut bercampur aduk dalam kerumunan makhluk makhluk pagi yang berkerumun bergerak memulai aktifitas hari barunya, atau akan ada Normal yang baru yang mengubah semua? ( Photo by Artem Beliaikin from Pexels )

Haloo, setelah sekian lama akhirnya saya menulis lagi, mungkin ada yang rindu dengan gaya tulisan saya yang hambar tanpa hati, atau ada yang skip skip saja. Apapun kesan kalian, saya harap teman teman semua tetap diberikan kesehatan ya, tetap hidup dan kita akan bertemu esok hari #janji. Oke, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pikir dan gagasan yang tentu tidak serta merta muncul begitu saja dari saya, melainkan terinspirasi dari beberapa buku yang paling banyak mempengaruhi si  filosofi teras karya Henry Manampiring dan Everything is F*ck karya Mark Manson.

Ini tentang bahayanya berpikir positif dengan segala kiasan kiasan yang dibawa bersamanya seperti. “Hei semua baik baik saja, ini tidaklah seburuk itu. Setelah ini akan ada kebaikan. Itu terlalu berlebihan, cobalah lihat dari sudut pandang ini nilai yang besar itu akan tampak kecil kok. Pada intinya “berpikirlah positif” dalam kondisi apapun dan bagaimanapun termasuk situasi seperti sekarang ini. Dalam kondisi pandemi, yang meski dampak terburuknya adalah banyak nyawa melayang, namun dampak ekonominya juga tidak boleh serta merta kita sepelekan.

Berpikir positif seakan menjadi salah satu kiblat yang diagung agungkan bagi sebagian orang. Hal ini saya rasa oke oke saja, tidak masalah bahkan memang bagus. Sampai suatu hari saya menemukan sebuah tulisan tentang penyajian data kematian yang sebelumnya dibandingkan dengan jumlah terkonfirmasi sekarang diubah menjadi per satu juta populasi. Sampai di sini semua  masih saya anggap oke oke saja. Karena dengan cara itu setidaknya angka berubah menjadi kecil dan urutan Indonesia menjadi masih bisa dimaafkan lah dalam Pandemi ini. Terlepas dari teknik statistik preman yang digunakan, sudahlah tak apa yang terpenting terlihat cantik, bukannya fungsi statistik itu untuk menipu? Tidak ada yang benar dalam statistik, namun sebagian memiliki manfaat begitu kata seorang dosen statistika di kampus saya dahulu yang masih teringat oleh saya.

Jika semua baik baik saja, lalu dimana permasalahannya. Permasalahannya ada di kita. Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah artikel yang menarik, Saya tidak ingin membahas isinya, intinya cukup negatif yang menginfokan bahwa Indonesia sekarang sudah menduduki puncak klasmen sementara di kawasan Asia Tenggara. Cukup menyeramkan, namun dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas hal itu. Saya justru ingin berdiskusi tentang diskusi para Netizen di bagian komentarnya hahahha. Disana terlihat jelas mana orang orang yang pesimis dan mana pihak  yang berpikir positif. Mereka saling bertarung adu jempol. Kedua gagasan dari mereka terlihat masuk akal dan menyentuh ada yang menggunakan gagasan per satu juta yang tadi saya sebutkan hingga menganggap Indonesia tidak seburuk itu dan kemudian ada yang menimpali, seberapapun itu itu nyawa manusia bukan sekedar angka. Hampir setiap berita buruk selalu ditimpali seperti itu dan terkadang dibumbui hal hal positif yang menyentuh lainnya.

Berpikir negatif memanglah tidak baik dan membuat banyak permasalahan menjadi lebih berat dari seharusnya, apalagi jika yang kita pikirkan hanya yang negatif saja. Lalu bagaimana dengan berpikir positif? apakah itu menyelesaikan masalah atau memperingan masalah? Jika kita tarik kebelakang sebelum semua seperti ini kita sudah kenyang dengan puisi puisi positif yang menyatakan bahwa kita kebal Corona, bahkan banyak sekali memenya yang menebarkan aura positif. Apakah semua itu menghindarkan kita dari masalah? Terserah si mau diakui atau tidak, nyatanya semua sudah seperti sekarang. Itu saja cukup.

Ok, permasalahan Berpikir Positif kita kesampingkan dulu dan kita biarkan mengendap dulu dalam pikiran kita. Yang perlu dicatat sekarang adalah berpikir positif itu juga tidak lepas dari kekurangan, sama halnya dengan berpikir negatif. Sulit dicerna memang, saya pun merasakan demikian ketika menemukan gagasan ini dalam kedua buku karya Henry Manampiring dan Mark Manson sebelumnya.

Sembari menunggu mengendap, saya ingin ke topik lain yang rasanya cukup menarik untuk disampaikan di sini.

Ini bukan tentang memilih Kemanusiaan dan Ekonomi, karena pada dasarnya kesempatan kita memilih itu tidak ada.

Hei,.. Apa yang kamu pikirkan dan rasakan sekarang, masihkan kalian berharap atau justru sedang dalam proses jatuh yang tidak tau kapan mencapai dasarnya. ( Photo by Burst from Pexels)

Mari kita cicipi sebentar cara berpikir negatif, coba kita angankan berbagai kemungkinan terburuk yang sedang kita hadapi dan akan kita hadapi. Dalam filosofi Stoa, cara berpikir seperti ini cukup ampuh untuk merunut segala kemungkinan yang ada dan menyiapkan mental kita untuk segala kemungkinan tersebut, meskipun faktanya sesuatu terburuk yang kita pikirkan tersebut pada akhirnya tidak akan terjadi, atau paling tidak tidak akan terjadi dalam tingkatan yang kita pikirkan. #semoga.

Saya melihat, setidaknya ada dua isu yang dipertentangkan oleh kita sepanjang bulan bersama kekasih baru kita yang bernama Covid19 ini.

  • Kemanusiaan: dampak langsung dari virus corona yang paling dekat adalah kesehatan kita dan dengan berat hati harus kita akui nyawa kita pun terancam. Meskipun tingkat kematiannya tidak begitu besar #katanya, namun kemampuan persebarannya tidak dapat diremehkan sama sekali.  Ini teman teman pasti sudah sering dengar dan membaca, bahkan mungkin juga seperti saya yang sudah bosan mendengarnya. Tetapi saya disadarkan oleh sebuah artikel Tomas Pueyo dalam situs medium, kejadian pandemi seperti ini ternyata memberikan dampak kesehatan lainnya yakni penurunan kapasitas sistem kesehatan kita (rumah sakit maupun sdm nya). Jumlah sumber daya  medis yang kini banyak difokuskan untuk menangani corona. Dalam kondisi tertentu akan mengakibatkan penurunan kapasitas dalam penanganan kesehatan lainnya baik yang berupa kejadian kejadian yang biasa terjadi (kecelakaan dan penanganan penyakit kronis) maupun kejadian luar biasa seperti potensi bencana yang sewaktu waktu bisa saja terjadi. Dampak terburuk dari segi kemanusiaan yang terpikir oleh saya tentunya jumlah kematian yang tinggi, bukan hanya kematian langsung oleh virus namun juga kematian yang disebabkan oleh lumpuhnya fasilitas kesehatan kita. Hal ini dapat lebih buruk lagi bilamana terjadi bencana besar seperti yang beberapa tahun kemarin. Siapkah kita untuk ini?
  • Ekonomi: sudah mulai terasa untuk sebagian orang dampak dari corona ini terhadap kondisi ekonomi kita dari saham saham yang bertumbangan, omset omset usaha yang turun hingga pemecatan besar besaran.   Jika kita melihat secara sederhana, memanglah mudah menentukan prioritas antara kemanusiaan dan ekonomi. Namun pilihan tidaklah sesederhana itu. Coba kita pikirkan lagi deh, ini bukanlah sebuah pilihan yang sederhana, dimana saat kita menghempaskan satu pilihan maka pilihan lain akan menjadi pilihan yang teratasi dengan baik. Ekonomi itu mengikat banyak aspek kehidupan dan bahkan mengikat #kehidupan itu sendiri. Perekonomian yang hancur dapat menjalar pada permasalahan permasalahan dari yang remeh seperti tidak dapatnya terlalu hura hura hingga pada sesuatu yang serius seperti potensi kenaikan kriminalitas, kesehatan mental dan fisik kita dan juga keberlangsungan hidup. Beberapa kanal berita menyebutkan 60% ekonomi kita bergantung pada usaha nonformal, atau jika dihitung secara kasar 150 juta orang. Jika semua itu lumpuh, dan lapar maka semua hal dapat saja terjadi. Bukankah ini permasalahan kemanusiaan juga

Kita disini bukan untuk diskusi apakah pemerintah harus pilih yang mana? tapi lebih pada apapun yang diambil pemerintah, kedua dampak tersebut pasti akan datang pada kita. Kembali pada topik berpikir positif dan Negatif yang sebelumnya kita bahas, sisi mana yang ingin kita ambil sekarang. Apakah kita harus berpikir bahwa kita saat ini sedang baik baik saja, atau panik dan merasa putus harapan. Kedua pilihan tersebut tampak buruk.

Akui dan dan Menyerahlah, buanglah semua harapan kosong kita, tidak baik loh terlalu mabuk akan semua hal positif hanya untuk menghindar dari sesuatu yang buruk dan tidak kita inginkan.

Apakah keberdaan “Harapan” itu baik, meski memang ia yang menarik para hati pahlawan untuk melakukan hal hal heroik, namun “harapan” pula lah yang dipegang dan dijadikan pembenaran bagi Hitler dengan Nazi-nya serta para pemimpin otoriter kejam dalam melakukan aksinya. Lalu apakah “Harapan” itu masih baik? ( Photo by Designecologist from Pexels)

Kejujuran tidak hanya diterapkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Namun justru penting  kita jadikan sarat saat kita berinteraksi dengan diri sendiri. Jika memang tidak baik baik saja, janganlah menambah beban diri dengan berbohong semua baik baik saja. Akuilah bahwa kondisi ini memang tidak sedang baik baik saja bagi kita. Kita perlu akui itu karena kita hanya dapat mengubah sesuatu yang memang milik kita, milik “Aku”. Jika ingin mengubah sesuatu, langkah paling pertama adalah mengakui bahwa “itu” adalah masalah. Poin pentingnya disini adalah buang lah harapan, buanglah ekspektasi. Hal ini juga yang membuat kita terhindar dari cara berpikir negatif. Kita tidak akan putus asa dan juga tidak akan putus harapan jika tidak ada Asa dan harapan yang kita pegang dengan keras. Itu memang tidak mudah untuk kita lakukan 100%. Seiring datangnya masalah kita secara tanpa sadar akan melekatkan asa dan harapan di belakangnya. sebuah asa yang membuat kita berjuang namun membuat kita juga terpuruk saat tak mampu mencapainya.

Semua orang akan mendapatkan paket permasalahannya sendiri dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Akan sangat jahat dan bohong bila ada seseorang yang berkata “Aku paham apa yang kau rasakan”. Tidak, kita tidak akan pernah paham secara utuh apa yang orang lain rasakan. Kita berbeda, masalah yang sama tidak serta merta memberikan dampak yang sama untuk semua orang. Kita tidak dapat memukul rata semua permasalahan dengan satu solusi sederhana. Namun, ada suatu frasa yang menurut saya cocok dijadikan kandidat utama untuk  “solusi sederhana” yang pada kalimat sebelumnya saya sangkal.

Amor Fati

Amor Fati merupakan frasa dalam bahasa latin. Amor (Love) dan Fati (Fate), dalam bahasa Indonesia Amor Fati dapat diartikan sebagai  “Cinta Terhadap Takdir”. Kata Amor Fati sering saya temukan dalam berbagai buku terkait filosofi stoa baik dalam buku filosofi teras nya Henry Manampiring maupun buku Everything is F*ck nya Mark Manson. Amor Fati dalam bahasa sehari hari artinya mirip kata “Nrimo” dalam bahasa jawa, atau suatu frase yang digunakan untuk menggambarkan suatu sikap yang melihat segala hal dalam satu kesatuan sisi baik maupun buruknya secara utuh. Kalau kata mbah Surip “I love you full”. Kita harus mencintainya secara utuh. Ini langkah awal yang saya maksud “mengakui” sebelumnya. Kita perlu mengakui kalau memang ada masalah dan itu sudah takdir kita di zaman sekarang ini. Terlepas itu karma atau apapun alasan kita untuk menunda pengakuan permasalahan ini bukan lagi pada ranah kita.

Setelah kita akui tentang adanya permasalahan ini permasalahan memang belumlah selesai namun paling tidak kita tahu dan akui bahwa saat ini memang ada permasalahan, dan itu perlu agar kita dapat “kendali” untuk  menyelesaikan atau paling tidak kita siapkan untuk hadapi. Poin kendali disini menjadi penting untuk ditekankan karena kita memang tak bisa melakukan apapun pada sesuatu yang kendalinya tidak pada diri kita.

Saya mencoba merangkum sedikit dua poin utama masalah yang sebelumnya kita bahas. Permasalahan pertama adalah banyaknya kematian (mungkin kita akan termasuk di dalamnya), dan untuk permasalahan kedua terkait ekonomi kita bisa jatuh semakin miskin hingga sulit untuk menyambung hidup di tengah situasi yang juga sulit dan penuh kriminalitas. Jika di lihat lihat lagi ternyata serem juga ya.

Permasalahan kemanusiaan tidak hanya berkutat pada hidup dan mati. Namun untuk menyederhanakannya kita batasi saja pada terancamnya hidup banyak orang akibat virus ini. Ok, bila sebagian orang mengatakan rata rata tingkat kematiannya kecil hanya 4%, untuk kasus Indonesia 10%, namun jika persebarannya seluar biasa ini jangankan 10%, satu persen pun merupakan angka yang besar. Sebagai gambaran, menurut hasil survey BPS penduduk Jakarta tahun 2020  diperkirakan mencapai 10.5 juta orang, maka jika kita anggap 1% nya saja yang terpapar maka yang positif bisa mencapai 100k orang terpapar dan 4% dari itu sekitar 4000 jiwa. Ini perhitungan sangat kotor untuk menggambarkan kepada kita seberapa besar 4% itu. yang jadi pertanyaan apakah hanya 1% yang akan terpapar, bisa aja lebih rendah dari itu #semoga. Dan satu hal yang perlu kita ingat angka itu bukan sekedar angka tanpa makna. Angka itu mewakili kita, manusia yang memiliki orang yang menyayangi maupun disayangi.

Permasalahan yang ada disini adalah penyakit, baik persebarannya ataupun tingkat kematiannya. Melihat dan memilah hal yang ada dibawah kendali dengan yang diluar kendali maka secara global persebaran dan tingkat kematian di Indonesia apalagi global bukan dibawah kendali kebanyakan dari kita, kalaupun ada maka kendali itu sangatlah kecil. Namun dari kendali kecil itulah yang harus kita manfaatkan secara maksimal. Intinya kita tidak boleh berpartisipasi menyebarkan virus dan juga tidak boleh mati. Sesederhana dua itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Berikut ini setidaknya ada 3 aktivitas yang bisa saya list sampai saat ini, ketiga hal tersebut saya rangkum dari apa yang ada disekitar saya baik di lingkungan pertemanan maupun sosial media  saat ini. Ketiga aktifitas itu antara lain:

  1. Rebahan (tetap diam di rumah), ini jargon jargon yang sering berseliweran di sekitar kita ya, dan memang membosankan tapi mau bagaimana lagi itu hal paling minim yang memang berada dalam kendali kita. Saya cukup expert dalam bidang #rebahan ini, jika ada yang butuh saran dan konsultasi terkait trik trik rebahan bisa kontak saya 🙂
  2. Membantu apa yang bisa kita bantu, Selain rebahan dan diam di rumah kita juga dapat melakukan hal hal yang menurut saya heroik seperti ikut urun dana untuk membantu sesama melalui pihak pihak yang memang terpercaya. Hal hal lain yang dapat kita lakukan juga dengan cara urun pikiran dalam diskusi diskusi online, dan lain sebagainya. Kita semua memiliki peran berbeda untuk ini.
  3. Saling menguatkan, saling bertanya kabar dengan teman teman juga akan seru dan membantu, kita bisa sekali kali saling sapa melalui video call  bersama keluarga atau teman sekedar menghilangkan sedikit jenuh dan menjaga kewarasan jiwa kita bersama.

Lanjut ke permasalahan kedua. Ini tidak kalah penting dengan masalah kemanusiaan. Jika masalah kemanusiaan berkutat pada bagaimana kita mempertahankan dan menjaga orang orang di sekitar kita, maka ekonomi perlu untuk menjaga masa depan kita. Dunia setelah Pandemi ini akan sangat berbeda, maka kita perlu bersiap. Di dalam kondisi dunia yang semakin tidak pasti ini, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan segalanya, kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan kita selama ini. Putus asa dan harapan memang tidak membantu, namun terus ber asa dan berharap pun tidak pula banyak membantu. Amor Fati menjadi jurus andalan untuk kita pakai dalam situasi seperti ini. Kita terima dan cintai dulu kondisi yang kita alami sekarang baik dan buruknya. Memang tidak mudah bila hal hal itu terlalu buruk, namun akan lebih buruk bila kita menghabiskan energi dan waktu untuk hal hal yang sia sia seperti terus menyangkal kondisi sekarang yang memang sedang buruk.

Mana yang bernilai bagi kita, mana yang akan menjadi prioritas kita menentukan langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya. Dalam kondisi sekarang kita diberikan waktu sejenak untuk kembali memikirkan itu semua kawan. ( Photo by Helena Lopes from Pexels )

Ada sebuah tulisan dalam Ashley Abramson melalui platform medium yang saya baru baca beberapa hari lalu, yang saya rasa setidaknya dapat kita pegang sebagai kerangka kerja kita untuk menghadapi situasi sulit ini. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kemungkinan Come Back kita dari krisis ini dengan cantik.

  1. Mari kita evaluasi dan klarifikasi kembali nilai nilai yang ada dalam diri kita, yang mungkin membedakan kita pada yang lain dan selama ini selalu memberikan dampak pada kita baik positif maupun negatif. Kejujuran kita kah, kemampuan kita beradaptasi kah, keramahan kita kah,kemalasan kita kah, semua itu yang mungkin melekat pada kita coba untuk dievaluasi ulang mana yang masih relevan untuk hari ini dan esok dan mana yang sudah tidak relevan.
  2. Audit prioritas kita, selama ini kita disibukkan oleh banyak hal dan secar disadari atau tidak disadari seringkali kita melakukan hal yang tidak ada manfaatnya atau sia sia. Dalam kondisi dimana kita berdiam diri dirumah memberikan kita waktu untuk berdiam diri dan berkontemplasi tentang apa apa saja yang penting bagi kita dan apa yang tidak penting apakah itu keluarga, diri kita sendiri, persahabatan, kesehatan, uang atau apa? jika pada poin sebelumnya kita fokus pada nilai kita, kini kita fokus pada tujuan kita yang prioritas dan paling penting serta bermakna.
  3. Geser rutinitas kita. Setelah kita mengetahui posisi awal kita (nilai kita) dan memahami mana tujuan yang kita inginkan (prioritas) maka langkah selanjutnya adalah melihat jalan mana yang paling relevan. Apa yang kita perlu lakukan dan dapat kita lakukan. Jika ada kegiatan kita yang kurang relevan dengan nilai maupun prioritas kita maka jangan ragu untuk menggeser ke kegiatan yang lebih relevan.

Posisi Amor Fati tidak memilih positif atau negatif. Posis inilah yang saya rasa paling baik saat ini dimana kita tidak dirundung pada keputusasaan tanpa dasar dan juga tidak dimabukan oleh perasaan positif yang terlalu tinggi tanpa logika.

Lalu pihak mana sekarang yang teman teman pilih? tetap terpuruk dan memikirkan segala keburukan yang ada, mengeluh dan mengeluh setiap hari atau berpikiran positif dan selalu berharap akan ada pelangi di setiap selesainya badai. Atau Amor Fati,… Semua diserahkan pada kalian Teman 🙂

Feature Photo by Artem Saranin from Pexels

BencanaLingkunganOpiniPopular TheoryPsikologiUncategorized

Hati Hati terjebak Dehumanisasi dalam menyikapi kasus Covid19, dan “Lainnya”

February 15, 2020 — by dewaputuam0

eyes-portrait-person-girl-18495-960x655.jpg
Terkadang kita bergerak terlalu cepat, entah untuk mengejar apa. Hingga kita suatu waktu tanpa sengaja tersadar sudah banyak yang kita tinggalkan (Photo by Mike Chai from Pexels))

Saya ingin berdiskusi sedikit tentang apa yang mengganggu dan meresahkan pikiran saya dalam satu bulan terakhir ini. Teman-teman tentu mengikuti atau paling tidak sudah pernah mendengar bahwa saat ini terjadi suatu tragedi kemanusiaan yang bisa dikatakan sangat besar dan menyedihkan sedang berkembang di Wilayah China daratan serta puluhan negara di sekiarnya. Ini tentang Covid19, yang hingga data terakhir yang saya dapatkan (15 Februari 2020 dari data yang ditampilkan pada dasboard milik Johns Hopkins CSSE) jumlah korban meninggal sudah mencapai 1527 dari 67,091 kasus yang terkonfirmasi.

Itu bukanlah angka yang sedikit, dan yang paling menyedihkan itu bukanlah hanya sekedar angka. Itu semua nyawa manusia, entitas yang sama dengan orang-orang di sekitar kita, entitas yang sama dengan orang-orang yang kita sayang, dan tentunya entitas yang sama pula dengan yang selalu kita temukan saat kita memandang cermin. Yup itu jumlah manusia seperti kita, punya keluarga yang menyayangi mereka dan juga ada teman dan keluarga yang mereka sayangi. Itu sama sekali bukan hanya sebuah angka statistik belaka.

Dehumanisasi?, Ini bukanlah isu yang baru saja ada dan hanya pada saat Covid19, Namun isu ini sudah lama sekali ada, bahkan juga digunakan saat perang berkecamuk. Namun sekarang bukanlah perang.

Dehumanisasi tidak hanya membayangi Covid19 saja. Namun lebih dari itu, dehumanisasi terus menjebak kita dengan berbagai cara membuat kita hanya melihat hitan dan putih saja tanpa adanya wilayah abu-abu sedikitpun. ( Photo by Umberto Shaw from Pexels )

Dengan tidak mengurangi rasa duka dan simpati kepada para penderita serta para korban meninggal dunia akbat virus ini, saya rasa kita perlu membahas dan mendiskusikan bagaimana cara kita menyikapinya. Sangatlah mungkin bila kita (termasuk saya) sering sekali belum dapat menyikapinya dengan baik sisi kemanusiaan ini dengan sempurna dan sering pula kita terpeleset kemudian terjebak oleh dehumanisasi. Orang yang sudah terperangkap jerat dehumanisasi terkadang jelas terlihat, namun terkadang senyap tak terdeteksi oleh sensor apapun. Persebarannya bahkan jauh lebih cepat dari Covid19. Manusia yang sudah terlanjur terkikis kemanusiaannya, akan sulit bisa dianggap manusia secara utuh lagi. Merka yang seperti itu tak ubahnya seperti zombie. Meski masih berwujud manusia tetapi kehilangan esensi dari manusia itu sendiri.

Ini bukanlah isu yang baru saja muncul, dehumanisasi seringkali muncul dalam bentuk dan wujud yang beraneka ragam. Dari hal yang sesederhana “Itu bukan urusanku karena mereka bukan keluargaku” hingga pada wujud yang sulit terbayangkan bahkan menjatuhkan yang sudah jatuh “Ini hukuman Tuhan untuk mereka, karena telah berlaku begitu selama ini”. Mungkin kedua kasus itu masuk diakal sehat teman teman, mungkin saja tidak. Kenapa saya bilang bregitu, coba teman-teman lihat ketiga video ini (Bukan Covid19_1, Bukan Covid19_2, Bukan Covid19_3). Bagaimana pendapat kalian tentang ketiga video diatas. Kita tidak dapat mendebat dengan semua itu. Saya hanya ingin sedikit menunjukan bahawa kita juga tidak sesuci itu, kita sangat mungkin sama seperti orang orang yang sebelumnya saya sebutkan. Sangat mungkin kalau kita juga sebenarnya sedang terpeleset dan terjerembak dalam jurang dehumanisasi.

Kita menjadi Zombie bukan karena kita tergigit oleh zombie ataupun terserang virus. Tetapi kita sendiri yang secara suka rela memilih untuk menjadi zombie

Saya tidak ingin menambahkan caption lagi, namun teman teman akan mengartikan sendiri pada akhir cerita ini ( Photo by omar alnahi from Pexels )

Pada dasarnya dehumanisasi dapat kita artikan sebagai “penghilangan harkat manusia atau tindakan menyangkal kemanusiaan terhadap manusia lainnya.” (Sumber) . Konsep Dehumanisasi yang ingin saya bahas pada tulisan ini adalah sebuah konsep yang saya baca dari sebuah buku karya Paul Scharre yang berjudul Army of None (pernah saya review dalam tautan ini). Yang menarik dari buku tersebut, sang penulis menjabarkan dengan gamblang jalur-jalur yang dapat mendehumanisasi kita baik digunakan secara sengaja ‘terencana’ seperti yang biasa digunakan tentara saat perang, digunakan para teroris meradikalisasikan para pengikutnya dan Juga dehumanisasi yang “tanpa disengaja” mendekap kita tanpa kita ketahui baik melalui karya seni ataupun entitas-entitas lainnya. Dalam bukunya, Paul Scharre setidaknya menjabarkan ada lima cara/jalan untuk mendehumanisasi seseorang.

  • Pertama, mengkondisikan lingkungan psikologis seseorang dengan berbagai cara seperti salah satunya adalah memaparkannya pada informasi dan situasi situasi ekstrim. Contoh saat bencana, saat kita sama sama menjadi korban dan sangat membutuhkan bantuan akan “sulit” bagi kita untuk sekedar membantu. Saya bilang sulit bukan berati tidak ada, karena dalam beberapa kasus ada orang hebat di luar sana yang tetap membantu tanpa memikirkan dirinya sendiri. Hal ini sebenarnya mengingatkan saya pada tiga video yang saya bagikan sebelumnya, tapi yasudah lah ya.
  • Kedua adalah meberikan tekanan berdasarkan kekuasaan, baik dengan fisik langsung maupun tindakan tindakan yang menyebabkan seseorang tidak berdaya untuk menolak. Hal ini tampaknya sudah jelas, dehumanisasi dapat terjadi karena ada suatu kekuatan besar yang mengintimidasi di belakang mereka baik itu manusia lain, organisasi atau bahkan yang lebih besar lagi. Hal ini juga yang membuat saya kurang begitu suka dengan pendekatan dan pembelajaran keagamaan dengan menekankan ketakutan akan sosok Pencipta bukannya Kemaha Pengasihannya itu sendiri.
  • Cara ketiga adalah mendifusikan tanggung jawab dengan cara pembagian tugas yang guyub dan rumit sehingga mengaburkan fakta terkait siapa yang bertanggung jawab sebenarnya. Pembagian tugas memanglah baik namun saat rantai tugas dan kewenangan menjadi terlalu panjang maka terkadang kita tidak sadar yang kita hadapi tidak lain dan tidak bukan adalah nyawa manusia.
  • Cara keempat adalah dehumanisasi manusia lain dengan mengikis sisi humanisnya baik secara langsung maupun dengan narasi yang berputar yang memberikan sisi jahat, hewan dan tidak manusiawinya sosok atau kelompok tersebut, dengan kata laian mereka digambarkan jauh dari sisi manusia. Cara lainnya adalah menggantikan target manusia lain itu menjadi objek-objek fisik atau abstrak lainnya seperti bangunan, ras, bangsa dan lainya yang kemudian secara tidak langsung juga memberikan dampak pada manusia yang telah dilekatkan oleh analogi tersebut. Kedua dehumanisasi dengan mengidentifikasikan entitas manusia sebagai sosok bukan manusia ini pasti sering teman teman temukan, dari pengaburan sisi kemanusiaan secara tidak sengaja dengan menganalogikan nyawa manusia hanya dalam sebuah catatan statistik belaka, ras atau bangsa lalim hingga pada penggambaran sosok manusia itu sebagai kejahatan yang tidak termaaafkan hingga layak disebut setan atau apapun itu (silahkan teman2 lihat dalam kolom komentar ketiga video yang saya bagikan sebelumnya).
  • Cara kelima dan terakhir adalah membuat suatu jarak fisik dan psikologis antara seseorang dengan manusia lainnya hingga kemudian juga dapat memberikan efek dehumanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jarak fisik dan juga memisahkan kemudian meningkatkan perbedaan perbedaan antara manusia di kelompok mereka dan ‘manusia lain’ di kelompok lain yang berseberangan sehingga muncul penggolongan yang ekstrim. Hal ini yang kemudian membuat kita terkadang berpikir “Di sana kan jauh ya, untuk apa kita memikirkan mereka, toh mereka juga bukan keluarga kita dan tidak kenal juga dengan kita. Jadi tidak lah perlu bersusah payah memikirkan mereka”.

Banyak juga ya ternyata cara kita tereleset pada lubang dehumanisasi. Jika kita baca, sepertinya memang terlihat sangat jelas bagaimana proses dehumanisasi itu. Namun sayangnya dalam keseharian kita, jarang sekali lubang lubang itu terlihat dengan jelas dan menjadikannya sulit dihindari. Terlebih lagi mungkinlah kelima cara dehumanisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan terkombinasi menjadi suatu permasalahan yang samar dan sulit untuk kita tebak kemana arahnya.

Itu saja sih hal yang ingin saya bagikan dalam tulisan ini. Semoga tulisan ini sedikit menyadarkan kita termasuk pengingat bagi saya akan adanya musuh sejati yang besar bagi kita semua. Musuh yang sangat dekat bahkan lebih dekat dari rambut di atas dahi kita. Musuh yang merusak kerja otak kita dan mengarahkan kita menuju kegelapan, menjadikan kita sosok yang menyerupai Zombie yang jauh dari sisi humanis. Jika itu terus berlanjut dan tidak ditanggulangi mungkin manusia akan musnah dan digantikan oleh sosok sosok yang tidak ingin kita kenal lagi bahkan malu untuk diakui pernah menjadi manusia sebelumnya.

Zombie Apocalypse bukan disebabkan oleh T Virus, Flaka, Covid19 atau apapun itu. Zombie Apocalypse justru datang lebih senyap dari itu semua, menyebar dari pikiran seseorang kepikiran orang lainnya tanpa perantara dan vektor yang nyata. Namun persebarannya jauh lebih cepat dan mengerikan dari yang pernah kita duga sebelumnya hingga saat kita membaca tulisan ini pun sangat mungkin kalau kita sudah sedikit terjangkit oleh fenomena itu. —-> Play me

Salam

Dewa Putu AM

Pada dasarnya tulisan ini sudah selesai sampai di sini, silahkan teman teman skip jika memang ingin skip, namun saya ingin menambahkan sedikit saja.

Saya pada awalnya ingin menunjukan hal ini pada postingan saya sekarang. Namun Issue dehumanisasi tampaknya lebih penting dan lebih dapat kita tanggulangi ketimbang permasalahan Covid19 sehingga saya pada postingan utama hanya membahas terkait dehumanisasi tersebut. Saya dalam beberapa hari ini tertarik dengan analisis dan visualisasi data. Namun apa yang saya dapatkan ketika mengelola data tersebut serem sih. Seuma orang mungkin tahu bahwa persebaran Covid19 termasuk sangat cepat. Dari sini kemudian saya mencoba melakukan analisis sederhana untuk melihat akan seperti apa eskalasi Covid19 kedepannya. Saya harap perkiraan ini salah, namun bila tidak ditanggulangi secara cepat dan baik dan kecepatan pertambahannya tetap seperti ini kasus Covid19 akan semakin besar dan berlipat ganda pada akhir bulan Februari atau Awal Bulan Maret. Kalian dapat melihat analisis tersebut pada dasboard yang saya susun dalam tautan ini.

Namun seperti yang saya bahas pada postingan utama saya, yang bisa kita lakukan selain lebih menjaga kesehatan kita dengan berbagai cara yang sudah dianjurkan berbagai istitusi pemerintah, kita juga tidak perlu panik. Namun perlu diingat, yang sekarang menderita di sana samalah seperti kita, terlepas dari persepsi apapun teman-teman kepada mereka janganlan mengaburkan fakta bahwa mereka juga manusia.

Dan kemudian untuk kasus pemulangan (ex WNI yang tergabung ISIS) saya tidak dapat berdiskusi banyak. Saya pun tidak begitu setuju jikalau nanti ada niatan pemulangan mereka begitu saja. Namun perlu diingat perlakuan yang seperti itu tidak begitu berbeda dengan “identitas kejam dan berbahaya” yang kita sematkan pada mereka. Apakah kini kita sama saja dengan mereka? lalu bagaimana kita seharusnya bersikap? Sayapun tidak tahu, biarkan waktu yang menjawab ini semua.

Sudahlah

BencanaLingkunganOpiniUncategorized

Menilik Ulang Pesta Asap 2019 yang besar nan Meriah

November 6, 2019 — by dewaputuam0

2504589369.jpg
“Keindahan” yang terpancar saat hutan terbakar. Coba bayangkan seberapa banyak hewan dan tumbuhan yang ikut hangus melayang dan tersiasiakan disana. Tidak banyak mungkin.[mungkin] (Sumber: National Geographic Indonesia – Grid.ID)

Kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 meninggalakan banyak kisah dan pembelajaran bagi kita. Pembelajaran yang seperti biasa yang sangatlah mungkin akan hanya sekedar menjadi pembelajaran saja tanpa adanya aksi aksi strategis dan nyata. Bila pada tahun sebelumnya di tahun 2018 kita menggembor gemborkan keberhasilan kita dalan menangkal kebakaran hutan beserta aksi heroik para pemadam dalam mengendalikan api. Aksi heroik secara harafiah, karena mereka tidak hanya mengorbankan waktu mereka saja untuk melakukan hal tersebut namun juga bertaruh kesehatan bahkan nyawa mereka.

Pada tahun ini kita terbungkam oleh pekatnya asap di berbagai daerah. Asap menyebar ke penjuru wilayah hingga terkadang melewati batas negara dan menyapa tetangga. Saling menyalahkan dan bercuci tangan pun tak terhindar, berbeda sekali dengan tahun kemarin yang saling klaim keberhasilan. Kemana mereka yang kemarin mengklaim keberhasilan mereka? apakah mereka terdiam terbungkam oleh pekatnya asap kali ini. Tidak, mereka tidak berpangku tangan saja, mereka bergerak kalang kabut memadamkan api, yups mereka dengan berbagai orang dibawahnya. Saya ada dibawah sana, titik kecil yang sangat kecil hingga mungkin tidak terlihat oleh mata.

Pesta rutin tahunan, Namun kenapa kita seolah suka terlena tidak pernah belajar

Tahun lalu saat di deploy di Sumatera Selatan untuk mengurusi operasi pengaman Asian Games bebas asap, saya sempat berbincang pada seorang dibalik layar. Dengan mata berkaca kaca ia bercerita betapa sulitnya mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Ia mengatakan bahwa 2018 kita selamat karena iklim memang sedang berpihak pada kita. Musim kering yang tidak begitu intens menyebabkan kebakaran relatif mudah dipadamkan dan masih dapat ditanggulangi. Meskipun berjibaku keras menangani kebakaran semua itu masih untung dan terbantu dengan iklim yang memang sedang bersahabat. Pada kesempatan itu pul dengan mata yang masih berkaca kaca bahwa ia sedikit resah dengan musim kering 2019 yang kabarnya akan terjadi El Nino, yang menurutnya akan berdampak pada intens dan sulitnya kebakaran yang akan terjadi.

Setahun kemudian, apa yang ditakutkan beliaupun terjadi. Iklim dengan El Ninonya menunjukan sesuatu yang tidak sebersahabat tahun lalu. Kebakaran hebat terus menghantam berbagai wilayah di Indonesia. TIdak hanya terjadi pada daerah daerah yang sudah berlangganan terbakar, namun juga mayoritas gunung gunung di pulau Jawa dan Nusa tenggara seakan kompak menyulurkan lidah lidah api membakar lahan pada tahun ini. Saat kebakaran hebat terjadi pemadaman darat hingga penggunaan helikopter untuk melakukan water bombing adalah suatu usaha yang berada di batas tipis di antara harapan dan ketidak mungkinan. Kebakaran yang begitu luas dan masif akan sangat sulit bahkan dengan berat hati saya katakan itu tidak mungkin dipadamkan.

Jika dianalogikan seakan kita sedang ingin memadamkan kebakaran yang terjadi di sebuah rumah dengan sesendok demi sesendok air. Mungkin terlihat terlalu berlebihan namun cobalah teman teman lihat kebakaran yang saya sisipkan dibawah ini dan bandingkan seberapa banyak air yang ditumpahkan helikopter dan seberapa besarnya kebakaran yang sayangnya sangat banyak yang jauh lebih besar dari kebakaran yang saya tampilkan pada gambar ini.

Lokasi kebakaran hutan dan lahan yang mayoritas dikatakan berada di lahan gambut meningkatkan level ketidakmungkinan dan bahaya dalam menanganinya. Bila di tanah tanah lainnya kebakaran selalu sangat jelas terlihat dimana letak apinya. Kebakaran di lahan gambut berbeda. Saat lahan gambut terbakar, yang terbakar tidak hanya dipermukaan saja namun jauh dibawah tanah sehingga akan terlihat tanah yang berasap saja bila kita gali dalam tanah tersebut maka akan terlihat bagian dalamnya telah hangus terbakar. Kebakaran ini dapat merambat jauh melalui bawah tanah dan muncul lagi ditempat lain. Terlihat bercanda ya, namun akibat yang ditumbulkannya sayangnya tidak sebercanda itu. Berdasarkan data kementerian kesehatan yang dirilis September 2019 hampir 1 Juta orang menderita infeksi saluran pernapasan akibat kebakaran hutan yang terjadi.

Ini salah mereka, salah perusahaan besar dan pemerintah! dan bukan salah kita, dan lalu apakah kita peduli dengan semua itu? hanya ikut ikutan mengeluh, menghujat dan meramaikan beranda maya kita, dan itu saja

Jagat maya ramai akan keluh kesah, doa, hujatan bahkan kutukan pada siapapun yang “umum” katakan bersalah. Entah itu pemerintah ataupun para kara kambing terbakar hangus lainnya. Kita butuh sesuatu yang kita persalahkan. “Itu cukup bagi kita” itu cukup adil bagi kita sambil menikmati satu bungkus mie instan dan satu cup plastik kopi di tangan. Lincahnya tarian jemari kita menguntai satu demi satu kata penuh dengan kebajikan dan terkadang disisipi “candaan” ringan akan apa yang sudah dan sedang terjadi. Miris memang, disatu sisi kita menyalahkan gilanya pembakaran untuk pembukaan lahan dan perluasan perkebunan namun disisi lain kita justru menjadi pasar yang begitu rakus menikmati produk turunan dari apa yang mereka bakar tersebut.

Dengan iseng saya mencoba menelisik sedikit bagaimana si ketertarikan kita pada isu isu seperti kebakaran hutan dan asap. Meskipun dapat ditebak, sama seperti bencana bencana pada umumnya rasa ingin tahu kita pada isu isu seperti ini hanya anget anget tai ayam saja. Akan melonjak naik bila memang sudah heboh. Kebanyakan dari kita adalah orang orang yang latah dan mengikuti arus saja. Saat semua berbicara A maka kita akan berbicara A. Hingga pada suatu waktu A akan dilupakan, kitapun akan lupa tanpa bekas. Tak ada lagi pelajaran bahkan ingatan yang kita simpan sekedar untuk bahan menghadapi masa yang akan datang. Hal berulang selalu terjadi.

Ada sebuah kata bijak yang selalu terngiang dalam benak saya dan mungkin teman teman sudah sering pula mendengar kata kata ini dalam bentuk lain. Kejadian seperti ini, baik kebakaran hutan, membeludaknya sampah dan beberapa keburukan yang terjadi disekitar kita terjadi tidak hanya karena banyak orang jahat yang melakukan kejahatan, namun karena banyaknya orang baik yang tidak lagi peduli.

Sudahlah semua itu mungkin sudah berlalu dan kita saat ini sedang memasuki lembar baru. Kebakaran hutan dan lahan bersama dengan Asapnya yang mencekik kita berbulan bulan kini akan tergantikan dengan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Yang menjadi pertanyaan besar dan paling penting kita ungkap pertama dan segera bukalah seberapa besar dampak karhutla dan asap pada bulan bulan lalu, tetapi seharusnya seberapa banyak pembelajaran yang kita dapat pada kesalahan kita lalu yang dapat kita kerjakan dan perbaiki di masa kedepannya. Tidak mungkin 0 kan. Saya yakin tidak mungkin 0. Karena saya percaya kita adalah orang orang yang selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Kita selalu peduli dengan hutan dan kita selalu peduli dengan segala kekayaan hayati di sekitar kita. Saya yakin itu. [mungkin]

BencanaMeteorologiPsikologiSains AtmosfirUncategorized

Ini Cerita Tentang Hujan Buatan yang Melanggar Hukum Tuhan?

September 21, 2019 — by dewaputuam0

blur-blurred-background-close-up-1915182-960x1440.jpg
Photo by Noelle Otto from Pexels.

Di tengah hembusan asap yang pekat akhirnya hujan turun juga. Hujan yang digadang gadang sebagai salah satu keberhasialan dari sekian banyak usaha modifikasi cuaca ini turun dengan begitu lebat. Di sebuah teras gubuk kecil di salah satu daerah yang sekian lama menutup diri dan mengilang dalam pekat kabut menyesakkan itu duduk seorang kakek dengan cucunya. Dua cngkir air berisikan minuman berwarna hitam pekat dan coklat kemerahan mengepulkan uap air berwarna putih tipis tertiup angin dan hendak memasuki rumah.

Aroma sangit menyesakkan yang berhari bahkan berminggu menyengat sedikit terganti dengan aroma aroma tanah yang menari dihantam butiran air. Pekat sangit memanglah belum menghilang namun bersembunyi dan mengintai sejenak dan menunggu waktu yang tepat untuk memukul setiap hidung dan paru makhluk bernapas di dekatnya.

“Kek,… Apakah hujan seperti ini menentang hukum alam, menentang apa yang digariskan tuhan kah?” celoteh sang cucu sambil mengusap perlahan gawai yang ia pandangi sendari tadi. Pendaran cahaya gawainya memnyelimuti wajak sang cucu membentuk kontur kontur berona terang dari hidung hingga tiga per empat pipinya. Dari bayangan yang terpantul dimatanya terlihat jelas dominasi cahaya biru putih memancar dari gawainya.

Ketika Sang Kakek Bercerita Tentang Hujan dan Kita

“Kenapa kau tanyakan begitu cu?” tanya sang kakek sambil sedikit mencondongkan badannya untuk sedikit menggeserkan lipatan perutnya kearah yang lebih nyaman serta membagi nyeri persendian tulang tulang bagian kannyannya kearah tulang lain di bagian kiri. “woy narator, jangan gambarin gerakan kakek ini sedetail itu dong, saya memang tua tapi tidak serenta itu ya? keh keh keh” kata sang kakek kepada saya (penulis). “Oke siap kek, monggo dilanjutkan adegannya” jawab saya sambil terus menulis.

(Photo by Aleksandar Pasaric from Pexels )

“Oke cu, kita lanjut. Tadi gimana cu” tanya sang kakek sambil menggeser lipatan perutnya dan membagi nyeri punggunya kearah pinggangnya lagi dan kini matanya menyorot tajam pada saya mengisyaratkan sesuatu yang sepertinya saya paham apa maksudnya.

“Ini kek, tadi saya sedang baca berita tentang penanganan kebakaran hutan hari ini. Berita bagusnya kek, tim modifikasi cuaca telah berhasil mendatangkan hujan ini. Jadi hujan yang sekarang kita rasakan ini salah satu hasil dari tim modifikasi cuaca kek. Tapi yang buat saya berpikir ada yang berkomentar kalau usaha seperti ini melanggar hukum tuhan kek. Benarkah begitu kek?” tanya sang cucu sembari menunjukan apa yang ia lihat sendari tadi di gawainya.

Sejenak kakek mendekat kearah sang cucu dan mengenakan kacamata yang tadi terguntai dan terselip di saku bajunya. Setelah sekian lama berkomat kamit membaca berita tersebut akhirnya sang kakek bersuara lagi “uhuk uhuk uhuk” ia kemudian menserusup kopi hitam pekat untuk meredakan tenggorokannya. “Jadi gini cu, kakek ingin meluruskan sedikit. buat hujan buatan itu tidak ujug ujug dari tidak ada angin tidak ada awan langsung bisa disulap ada hujan. Hujan buatan itu pada intinya hanya ningkatin kemungkinan hujan dari sebelumnya yang sudah memang ada namun masih kecil kemungkinannya. Jadi sebenere mirip mirip lah prinsipnya sama kita bertani yang kita lakuin apapun yang kita bisa ngatur jarak tanam, kasi pupuk dan nyediain air buat ningkatin hasil.”

Perlawanan Terbesarkita Hukum Alam Bukan Pada Saat Kita Memodifikasi Cuaca.

Photo by Gabriela Palai from Pexels

“Untuk menyemai hujan kita perlu memahami bagaimana itu proses terbentuknya butir butir hujan diawan, apa yang menyebabkan uap uap air disana menjadi air disana menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan memukul daratan. Itu ada seninya cu, dengan katalain kita harus paham dulu hukum hukum yang ada disana yang ternyata untuk membentuk butir butir hujan perlu ada partikel kondensasi.

Yah kalau di dunia nyata bisa dianggap sebagai profokatornya lah, dialah yang bertanggung jawab untuk menarik massa (air dan uap air) untuk berkerumun dan kemudian membentuk butir butir hujan. Kita tetap harus mengikuti hukum tersebut untuk sedikitlah menginterferensi, mengikuti dan bukan malah melawannya.” Ucap sang kakek kembali menggeser geser kerut lipat pada kulitnya sembari membenahi posisi tulang rentanya dan melirik tajam lagi kepada sang penulis.

“Cu,.. Perlawanan dan penyangkalan terbesar yang kita pada alam bukan pada apa yang kita perbuat untuk mendatangkan hujan, bukan pula pada bagaimana orang yang “membakar” hutan hutan demi uang.

Perlawanan kita pada hukum alam terbesar kita adalah tidak menggunakan dengan baik satu satunya pembeda kita dengan tumbuhan dan hewan hewan diluar sana” ucap sang kakek sambil menunjuk keningnya sambir berucap “Rasional kita cu”

Kakek Putu 2019

Setelah berucap demikian, sang kakek beranjak dari kursi santainya dan berjalan gontai perlahan melewati pintu. Tangan kirinya menggenggam lembaran surat kabar yang tidak jelas tulisannnya dan didominasi warna putih yang katanya suatu ekspresi untuk menggambarkan mengganggunya asap. Tangan kanannya yang keriput dan sedikit bergetar memegang cangkir kopinya yang sudah kosong, habis diminumnya saat asik berbincang dengan sang cucu. Gerak kakinya perlahan menyusuri lantai kayu dan suara decit antara sandal dan lantai nyaris tidak terdengar oleh suara derasnya air hujan. “Nek, minta kopi lagi dong” ucapnya sambil memasuki rumah munyilnya.

Feature Image by Nur Andi Ravsanjani Gusma from Pexels

BencanaUncategorized

Kita Biarkan Saja mereka Terbunuh Perlahan?

September 15, 2019 — by dewaputuam2

e006fbb31a0ea88b3ea227299e8fdf39ba6fca3e-960x636.jpg
Karena tebalnya kabut asap, anak kecil ini sulit untuk melihat. Ada sesuatu kenyataan yang pahit ditunjukan pada gambar ini. Dalam serbuan kabut asap yang demikian hebat di sejumlah wilayah Indonesia anak anak kecil seperti inilah yang paling rawan untuk terdampak bahkan dapat mengancam jiwa mereka. Selain tubuhnya belum kuat, perlindungan seperti masker pun tidak didesain untuk mereka sehingga meski fungsi masker dalam memfilter udara tidak optimal, selain itu jenis masker yang digunakan pun kebanyakan tidak untuk partikel partikel yang kecil sehingga sangat besar kemungkinan polutan asap tetap masuk kedalam paru paru mereka. (Sumber: Detik)

Ini bukanlah issu yang menarik untuk sebagian orang, bukan pula isu yang penting juga. Ini hanyalah isu lingkungan, isu yang hanya digaungkan oleh sekian dikit orang yang berteriak teriak selamatkan alam, selamatkan bumi yang begitu klise dan seabstrak isu perubahan iklim. Isu ini tidaklah semeriah pesta politik pemilihan presiden, tak semeriah aksi KPK, bahkan tak semeriah peristiwa menyedihkan Pembullian “Satu Orang” Audrey. Yah tidak apa, issu ini memanglah tidak penting.

Sebagai paragraf pembuka, sepertinya agak berlebihan ya, tapi itulah yang saya lihat dari kita saat ini. Saya katakan kita di sini karena ini bukanlah terjadi pada orang lain namun juga terjadi pada saya dan mungkin juga teman teman yang sedang membaca tulisan saya ini. Kitalah yang secara tidak langsung telah membiarkan mereka terbunuh secara perlahan. Yups secara perlahan karena budaya konsumsi kita yang begitu barbar akan produk produk berbasis minyak sawit untuk di Indonesia. Dan juga budaya tidak peduli kita yang orang sekarang bilang “Santuy”. Ini yang menurut saya paling berbahaya. Dalam kasus kebakaran hutan yang kemudian berdampak pada bencana kabut asap, bukan karena semakin banyak orang jahat yang membakar lah yang membuat semua ini semakin parah, namun karena semakin banyak orang baik yang tidak peduli.

Bukan karena semakin banyak orang jahat yang membakar lah yang membuat semua ini semakin parah, namun karena semakin banyak orang baik yang tidak peduli.

(Tukang Daging Orang Utan Asap, 2019)

Keledai pun Tidak Pernah Jatuh di Lubang yang Sama, Namun Kenapa Kita Hobi Sekali Pesta Asap Seperti Ini?

Pemadaman baik melalui pemadaman darat maupun udara memanglah sudah dilakukan dengan sangat serius Puluhan ribu orang terlibat disana dari Pemerintah (tentara dan beberapa kementerian), NGO dan juga swadaya masyarakat. Meski beberapa kasus memang cukup efektif dan mampu memadamkan namun tidak sedikit pula mereka harus berhadapan dengan kemustahilan. Untuk kita yang berada diluar lapangan memang mudah saja menilai ini bagus ini belum serius, namun kita tidak tidak tahu seberapa besar kesehatan dan seberapa banyak harapan hidup yang mereka korbankan untuk itu.

Issu kebakaran hutan dan lahan bukanlah isu yang baru-baru ini muncul. Sudah berkali-kali terjadi dan bahkan sudah menjadi trend. Saat kemarau terjadi pasti ada saja kebakaran hutan dan lahan dengan lokasi di provinsi provinsi itu saja seolah mereka memang sudah berlangganan setiap tahunnya Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur. Ketuju provinsi itulah yang sering mengalami kebakaran hutan dan lahan. Untuk Provinsi kadang juga ikut-ikutan nyebat mengasap.

Keledai pun tidak pernah jatuh dilubang yang sama. Itu kata pepatah, setidaknya kebakaran hutan pun tidak akan dilokasi yang sama. Saat tahun lalu terbakar maka kecil kemungkinan akan terbakar lagi di tahun ini malahan sudah menghijau dengan tumbuhan berpola bentuk bintang berbaris rapi akan terlihat dari foto angkasa, yang terbakar mungkin hutan disebelahnya yang terbakar lagi kemudian. Kembali ke pada pepatah keledai yang tidak jatuh di lubang yang sama, mungkin akan muncul pertanyaan kenapa kebakaran hutan masih saja terjadi.

Meskipun memang ada kebakaran hutan yang diakibatkan oleh proses alami, namun lebih dari 90%nya melibatkan manusia dan disengaja untuk dibakar. Saya rasa frasa “kebakaran hutan dan lahan” akan lebih tepat disebut sebagai “pembakaran hutan dan lahan” karena ada unsur kesengajaan di sana. Membakar adalah metode termurah dan tercepat dalam membongkar hutan untuk dijadikan lahan. Hanya bermodalkan pemantik api dan sedikit bahan bakar kita sudah dapat membuka dan membersihkan hutan berhektar hektar. Coba dibandingkan dengan harga penyewaan alat berat butuh berapa banyak uang dan berapa lama? Terkait hal ini ada suatu quotes bagus dari si Bung.

Masalahnya bukan terbakar, tapi dibakar. Ada perbedaan antara ketidaksengajaan, dengan kesengajaan. Hitung segala keuntungan, apa sebanding dengan paru paru yang mesti dikorbankan?

(Fiersa Besari, 2019)

Kebakaran Hutan Bukan Sekedar Kasus Perusakan Lingkungan, Ini Adalah Kasus Pembunuhan Bahkan Sudah Dapat Digolongkan Sebagai Genosida

Anak anak adalah satu dari sekian banyak kelompok rentan dari bencana kabut asap ini. Baik dari segi tubuh yang belum dewasa dan kuat serta ketidak pedulian mereka semakin memperparah kerentanan mereka akan dampak asap yang bisa saja menggaggu tumbuh kembang mereka di kemudian hari. Asap kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak kesehatan namun juga merusak masa depan mereka (Sumber gambar: Konfrontasi)

Metode dehumanisasi kasus kebakaran hutan yang hanya sekedar pada kasus perusakan lingkungan, salah satu sumber karbon terbesar yang memicu perubahan iklim, ataupun sekedar trans boundary haze dan berbagai issu lainnya seringkali mengkaburkan, mengalihkan dan menjauhkan kita pada sesuatu yang lebih penting dan seharusnya menjadi fokus utama kita “Kemanusiaan”. Dehumanisasi halus yang mengkaburkan isu kemanusiaan dengan hal hal yang sekedar dekat dengan manusia atau bahkan jauh dari kemanusiaan mengikis dan menghilangkan empati kita sehingga tidak jarang kita tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi saat ini dan hanya berpikiran bahwa issu yang sekarang terjadi sekedar hutan yang terbakar saja. Sedangkan issu issu kemanusiaan yang menjadi korban beberapa hanya sekedar menjadi pemanis.

Kebakaran hutan bukan sekedar kasus perusakan lingkungan, ini adalah kasus pembunuhan bahkan sudah dapat digolongkan sebagai genosida. Ini adalah kasus pembunuhan secara masal, tidak hanya pada keanekaragaman hayati yang dibakar namun pada masyarakat sekitar. Partikel partikel asap kebakaran yang berukuran sangat kecil <10 mikron (PM10) dapat masuk kedalam paru paru dan menimbulkan berbagai penyakit pernapasan, untuk beberapa orang yang sehat dalam rentang konsentrasi tertentu masih dapat bertahan namun untuk orang orang tertentu hal ini dapat berdampak pada kematian.

Sebagai sedikit gambaran, ijinkan saya untuk sedikit menjauh dari sisi manusia dan beralih pada karbon yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan yang terjadi akhir akhir ini. Namun ada satu yang perlu diingat, parameter fisik inijuga lah yang kemudian berdampak baik secara langsung ataupun tidak langsung pada penduduk setempat. Di bawah ini adalah suatu model sebaran CO yang saya sisipkan dari aplikasi windy. Dalam peta ini dapat terlihat bahwa kadar CO diwilayah wilayah terdampak bencana kabut asap seperti Riau, Jambi dan Kalimantan konsentrasinya sangat tinggi.

Kondisi yang demikian ini berimplikasi pada semakin berbahaya wilayah tersebut terhadap kesehatan penapasan teman teman bahkan saudara kita di sana. Hal ini bukanlah yang pertama, entah berapa kali mereka sudah merasakannya setiap tahun selalu seperti ini. Hidup dalam kepungan asap sangatlah berat, kita tidak bisa berlari untuk menghindar. Kemanapun kita pergi semua akan sama di luar rumah, di dalam rumah semua masih menyesakkan dada kita. Tidak hanya itu mata pun pedih jika berlama lama ditempat seperti itu.

Tahun 2015 lalu saya pernah merasakannya sesaat (hanya beberapa hari) itu sudah sangat tidak nyaman bagi saya apalagi bagi mereka yang mengalami hal tersebut dalam jangka waktu yang sangat lama. Saya tidak bisa lagi membayangkan sebesar apalagi ketidak nyamanan mereka.

Mereka mungkinlah memang kuat, tapi apakah memang sekuat itu. Harus sampai kapan lagi mereka merasakan pekatnya asap? Apa yang bisa kita lakukan? tidak adakah? Haruskah kita biarkan saja mereka terbunuh perlahan karena itu? Jawaban ada dalam hati kita masing masing. Dan sya yakin teman teman juga sepakat bahwa jawaban itupun tidak dibutuhkan. Yang mereka butuhkan dari kita hanya tindakan nyata dari kita. Untuk mereka, agar mereka dapat terhindar dari “Asap” A.S.A.P. (As Soon As Posible).

BencanaBukuDaily LifePsikologiUncategorized

Tetap Menjadi Manusia saat Menyikapi dan Menghadapi Bencana dengan Filosofi Stoa

August 1, 2019 — by dewaputuam0

beach-blue-skies-by-the-sea-934718-960x645.jpg
Kita terlalu sibuk mengurusi dan mengkawatirkan apa yang tidak dalam kendali kita dan sayangnya pula terlalu sering mengabaikan apa yang ada dalam kendali kita. Saat kita berharap lebih pada apa yang tidak bisa kita kendalikan disitulah kita akan merasa gelisah dan takut kehilangan dengan cara yang konyol. Dikotomi kendali inilah yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis topik terkait hal ini (Sumber Ilustrasi: Pixabay @ www.pexels.com)

Isu gempabumi dan tsunami di laut selatan Jawa, meletusnya kembali gunung Takuban Perahu, potensi gempa dan tsunami Lombok dan isu isu terkait kebencanaan lainnya sering kali menyebabkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat yang kini begitu melek tekhnologi dan sangat mudah mengakses informasi. Bagi sebagian orang yang berkecimpung dan sering bersinggungan dengan bidang ilmu kebumian tentunya tidak akan heran dengan isu isu seperti ini karena memang dengan lokasi Indonesia yang “demikian strategis” mau tidak mau suka atau pun tidak suka hal itulah yang kemudian berdampak pada besarnya kemungkinan terjadi bencana seperti gempabumi, tsunami dan erupsi gunung api. Namun kita juga janganlah lupa bahwa “strategis”nya posisi indonesia itu juga yang memberikan kita kekayaan yang begitu berlimpah saat ini baik berlimpahnya minyak dan bahan tambang, suburnya tanah serta keindahan keindahan lainnya yang terkadang tidak dimiliki oleh negara negara lain.

Rasa khawatir masyarakat kita akan berbagai informasi yang meresahkan tidak sepenuhnya salah tersebut mengakibatkan beberapa dampak yang kontraprodktif bahkan dari beberapa tulisan yang saya sempat baca sebagian dari mereka ada yang sangat ketakutan dan memutuskan untuk mengungsi dan menjauhi tempat tempat yang diisukan tersebut. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya apakah ketakutan yang seperti itu diperlukan dan baik dalam menyikapi potensi bencana yang ada? Jika benar perlu dimanakah kita akan berlindung, Saat menjauhi laut karena takut tsunami kita lari kegunung namun gunung juga bisa meletus, kalaupun tidak gunung lereng lereng terjal diperbukitan pun bisa saja longsor dan menelan kita setiap saat. Belum lagi potensi bencana bencana lain seperti angin puting beliung, banjir, kecelakaan kendaraan, meteor, virus. “Actually There are no place to hide dude.

Hingga beberapa minggu yang lalu saya menemukan sebuah buku yang berjudul Filosofi Teras karya Henri Manampiring. Dari buku ini kita akan diajak untuk berkenalan dengan suatu Filosofi (“Teras” terjemahan bebas dari Stoa) yang ternyata telah ada dan berkembang di Yunani sejak 2000 tahun yang lalu. Saya rasa filosofi ini dapat dengan mudah kita manfaatkan sebagai salah satu panduan hidup kita yang tentunya dapat kita jadikan sebagai salah satu panduan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menguraikan beberapa prinsip dasar dari filosofi ini yang dapat dan sudah pula digunakan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Sudah disini saya maksudan karena prinsip prinsip ini bukanlah hal baru dan sudah banyak orang saya lihat dan temui di daerah bencana menerapkannya dalam memnghadapi apa yang terjadi pada mereka yang dalam hal ini adalah bencana.

Kebahagiaan dan Kedamaian Dicapai Saat Kita “Selaras dengan Alam”, Begitu juga dengan sebaliknya

Selaras dengan alam tidaklah sertamerta harus mengikuti alam tanpa daya untuk berperilaku lainnya. Seperti pada islustrasi ini, Batu ini tidaklah tersusun secara alamiah, namun dengan menselaraskan titik berat batu batu tersebut dengan sedemikian rupa dan mengikuti hukum serta proses yang ada dialam maka batu tersebut dapat kita susun sesuai dengan keinginan kita. Namun kita tidaklah bisa berharap batu tersebut tersusun seperti itu selamanya karena bisa saja suatu ketika batu tersebut tersapu oleh banjir, ataupun tersenggol seekor monyet yang sedang hendak meminum air di sungai. (Sumber Gambar: Pixabay @ www.pexels.com)

Dalam filosofi stoa kita diajak untuk hidup selaras dengan alam. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam menjalani filosofi ini. Selaras dengan alam yang dimaksudkan tidak hanya sekedar mencintai alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon ataupun segala macam kampanye cinta lingkungan lain yang terdengar agak sedikit retoris belakangan ini. Konsep selaras yang mereka utarakan lebih pada memposisikan diri selayaknya manusia dengan segala kelebihannya, sebuah keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yakni dalam hal berpikir dengan menggunakan nalar rasionya. Selaras dengan alam berartimenempatkan diri sebagai enitas makhluk hidup yang bernalar dan rasional.

Kebahagiaan dan kedamaian dicapai saat kita “selaras dengan alam” berarti sebagai manusia yang igin bahagia kita harus selalu berpegang pada nalar dan pikiran rasional kita. Kita tidak boleh terjebak dalam hal hal yang tidak rasional dan jauh dari nalar kita. Jika hal ini tidak dapat kita penuhi gelisah, rasa kawatir dan takut akan selalu memeluk erat kita. Hal hal yang tidak rasional dan diluar nalar terkait bencana sering saya temui menjadi sesuatu yang viral dan menghantui masyarakat kita. Dari hal hal sepele seperti menekan tombol like atau mengetik angka 1 di satu postingan media sosial agar terhindar dari petaka hingga pada hal hal tidak asional yang tidak ada lucu lucunya sama sekali seperti isu akan adanya bencana besar. Bagi sebagian orang yang jauh dari lokasi bencana mungkin menganggap hal itu bercanda saja, namun mereka mungkin tidak tahu di lokasi bencana hal itu tidak sebercanda yang mereka kira karena berkaitan dengan hidup dan mati banyak orang.

Selain selaras dengan alam, filosofi stoa juga percaya bahwa segala sesuatu baik entitas ataupun kejadian dalam hidup ini ini tidaklah berdiri sendiri namun melimiliki jalianan yang saling terhubung dan terkait. Keterkaitan segala sesuatu di dalam hidup disebut sebagai interconectedness. Begitu juga dengan bencana dengan segala dampak yang ditimbulkannya baik secara struktural seperti pepohonan yang tumbang, bangunan yang runtuh hingga pada para korban luka, hilang dan meninggal. Ada jalinan sebab akibat pada itu semua, dari strukturnya yang kurang baik dan tidak selaras dengan alam lingkungan sekitarnya, sistem peringatan dini yang belum layak, hingga pada pemahaman masyarakat setempat terkait potensi dan cara selamat dari bencana yang kurang memadai. Untuk mengurangi akibatnya tentulah kita perlu mengelola penyebabnya dengan baik. Ini bukanlah suatu tindakan perlawanan dan mengingkari apa yang terjadi, namun justru dengan melakukan kesemua itu kita telah selaras dengan alam dengan menjadi manusia seutuhnya yang menggunakan nalar, akal sehat dan rasionya dalam menghadapi bencana.

Dikotomi dan Trikotomi Kendali, dan Kaitannya dalam Sikap Kita pada Isu Bencana

Kita sebagai manusia hanya dapat melakukan dan berkuasa pada sedikit hal yang berada dibawah kendali kita. Namun ingatlah bahkan itusaja sudah cukup dan jangan cemas karenany. Jalani apa yang dapat kitalakukan biarkan semesta menjawab kita sepertiapa episode selanjutny. (Sumber Ilustrasi: Pixabay )

“Ada suatu hal yang perlu diingat, tidak segala hal dalam hidup berada di bawah kendali kita.” Kata kata ini mungkin terlihat sangat sederhana namun justru disinilah hal paling menarik dan menurut saya paling penting diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Dengan bahasa sederhananya prinsip inilah yang paling ngena bagi saya dan akan lebih menunjukan manfaatnya lagi saat kita berhadapan dengan bencana. Beberapa orang yang saya temui secara sadar ataupun tidak telah menerapkan prinsip ini dalam menyikapi dan menghadapi bencana yang melanda kehidupan mereka. Saat bencana terjadi mereka tidak begitu memusingkan apa apa saja yang diluar batas kendali mereka dan berfokus pada apa saja yang berada dalam kendali mereka secara maksimal dan optimal. Menyaksikan hal ini terkadang saya terharu akan ketegaran mereka sampai yah meskipun malu mengakuinya kadang saya sendiri pun meneteskan air mata terharu, masih manusiawi kan ya. Mereka orang orang yang hebat.

“Bapak, bolehkah saya meminjam truk bapak untuk mendistribusikan logistik. ada beberapa desa yang sampai sekarang kesulitan mendapatkan logistik pak. Untuk pengamanan dan bahan bakar kami yang tanggung pak. Kami hanya ingin membantu warga disana pak, kami kelompok pemuda ingin melakukan apa saja yang bisa kami perbuat untuk saudara saudara kami yang sedang terkena musibah pak. Tolonglah kami pak” Saat berkoordinasi terkait data dengan tentara yang bertugas saat di Palu tahun lalu saya mendengarkan perbincangan seorang pemuda yang sudah lusuh dan terlihat sekali kelelahan sedang meminta bantuan kendaraan untuk mendistribusikan logistik. Dua pemuda itu dari cerita mereka sebelumnya ikut membantu SAR mengefakuasi beberapa korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dan sekarang mereka mengerahkan tenaga mereka untuk membantu pendistribusian logistik. Melihat kesungguhan mereka dari pihak tentara yang bertugas pun membantu mereka baik kendaraan maupun tenaga personil untuk berama sama mendistribusikan ke lokasi yang dimaksud pemuda tersebut.

Konsep dikotomi kendali mengajak kita untuk memisahkan dengan jelas apa apa saja yang berada dibawah kendali kita dan apa apa saja yang berada diluar kendali kita. Filosofi stoa mengajarkan pada kita untuk terfokus pada hal yang berada di kendali kita dan tidak terlalu memusingkan apa yang berada diluar kendali kita. Seperti pada cerita pemuda tadi mereka melakukan apa yang berada dibawah kendali mereka yakni inisiatif mereka untuk melakukan apa yang dapat mereka perbuat seperti membantu dan bahkan juga keputusan mereka untuk meminta bantuan kendaraan pada petugas. Meskipun disetujui atau tidaknya permintaan mereka atas inisiatif mereka meminjam kendaraan adalah hal yang berada diluar kendali mereka namun setidaknya mereka telah melakukan semua yang ada di dalam kendali mereka.

Ketika orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka akan merasa terganggu, ketakutan dan labil

Quotes by Epirectus (Disunting dari tulisan Henry M, FIlosofi Teras)

Hingga kemudian seiring dengan perkembangan jaman, beberapa filsuf juga menyadari bahwa dari kesekian hal yang tidak berada di bawah kendali tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Dengan kata lain ada beberapa hal yang dapat dikendalikan hingga batas tertentu saja. Dari sinilah kemudian dikotomi kendali yang tadinya hanya membagi hal dalam kelas yang bisa dikendalikan dan kelas yang tidak bisa dikendalikan menjadi Trikotomi Kendali yang mengkelaskan hal kedalam tiga bagian yakni yang bisa dikendalikan, yang tidak bisa dikendalikan , dan ketiga adalah yang bisa dikendalikan sebagian.

Konsep dikotomi ataupun trikotomi kendali dari filosofi stoa ini sudah menjawab apa yang terjadi dengan masyarakat kita yang beberapa waktu belakangan ini diliputi oleh keresahan dan kegelisahan yang tidak perlu. Isu potensi gempa dan tsunami yang besar dan mengerikan di selatan jawa hingga Nusa Tenggara, gempa didaerah lembang, isu kekeringan panjang, isu gunung meletus, banjir jakarta, dan isu isu mengerikan lainnya. Jikalau itu benar, semua itu tidaklah berada dalam kendali kita, jadi jangan dipusingkan secara berlebihan, gelisah, dan ketakutan hingga melakukan hal hal yang kitra produktif dengan menghujat, ikut menebar hoax, dan berspekulasi hal hal yang terlalu jauh dan mengada ngada. Konsep dikotomi kendali dalam filosofi stoa mengajarkan kita untuk berfokus pada apa yang berada dibawah kendali kita.

Jangan terlalu membebani diri kita dengan hal yang tidak perlu karena itu pasti sangat melelahkan dan menyita banyak waktu. Waktu kita yang sedikit dan tenaga kita yang pas pasan sepertinya akan lebih baik bila kita manfaatkan dan fokuskan pada hal-hal yang dibawah kendali dan bisa kita lakukan seperti contoh paling sederhananya bila kejadian bencana itu terjadi kira kira apa yang perlu kita lakukan. Mencari tahu dan memahami potensi potensi bencana di wilayah kita masing masing, dan mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk mengurangi risikonya dari menyesuaikan struktur bangunan dengan potensi bencana yang ada. Kita perlu tahu apa tanda tandanya, apakah ada kode kode khusus atau sistem peringatan dini khusus yang ada lingkungan kita saat bencana terjadi. Kita juga dapat memastikan jalur evakuasi kalau toh bencana benar benar terjadi tetap layak dilewati dan bebas dari hambatan.

Tetapi memang si harus kita akui, saat terjadi bencana bukanlah saat saat yang dapat kita phami dengan mudah dan bukan pula sesuatu yang dapat kita hadapi. Rasa limbung, bingung dan tanpa arah menjadi hal yang banyak orang alami saat terdampak bencana. Bersedih bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam filosofi stoa. Meskipun demikian kita tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan itu bahkan sampai dibawa mati (Seneca). Ada sesuatu yang menarik dan menurut saya sangat mengharukan lagi saya temukan pada saat saya ditugaskan di Palu saat itu. Saat itu sudah larut malam (sekitar pukul 9 malam), ada seorang bapak bapak mengunjungi pos kami dan menanyakan kabar anaknya yang ikut menjadi korban kedaysatan tsunami saat itu. Pada mulanya saya sempat berpikir bahwa sosok bapak itu akan terlihat sangat bersedih dan bukan tidak mungkin tangisnya tidak terbendung saat datang pada kami. Namun ternyata semua itu salah besar. Meski masih terlihat jelas kesedihan mendalam pada diri seorang bapak itu namun dirinya masih tegar dan saya tidak bisa berkata apa apa melihat itu semua. Saya tidak tahu pula harus berekpresi apa saat mendengar perkataan bapak itu. Ia sudah iklas akan kepergian anaknya. Dia datang kepada kami hanya ingin meminta bantuan kepada kami untuk memastikan bahwa jasat yang ditemukan oleh tim dilapangan dan dikabarkan anaknya itu adalah benar anaknya. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Gempa, Tsunami, Banjir, Longsor dan semua lainnya adalah suatu keniscayaan yang alamiah terjadi selama bumi ini masih berputar. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Apapun yang kita lakukan tidak akan merubah hal itu. Namun keinginan kita untuk bertahan dan hidup meski terpapar kesua itu jugalah sesuatu yang alamiah, tidak akan ada yang dapat menghentikan keingian kita itu. Memang kita tidak akan dapat membuat gempabumi atau tsunami agar tidak pernah terjadi, Namun kita selalu bisa membuat diri kita aman dan selamat dari itu semua. Itu masih bisa masih bisa kita lakukan karena apa yang kita pikirkan apa yang kita lakukan berada dibawah kendali kita masih ada di bawah kendali kita sebagai manusia yang tetap menjadi manusia saat menyikapi dan menghadapi bencana.

Sumber Sumber yang saya gunakan dalam tulisan Ini

  • Buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini) karya Henri Manampiring dan dipublikasikan oleh Penerbit Buku Kompas
  • Featured Photo in this post is design by Tom Swinnen from Pexels

ArcGISBencanaGISLingkunganQGISUncategorized

Data Kependudukan dari Kecerdasan Buatan Milik Facebook, Meh?

July 11, 2019 — by dewaputuam0

bigstock-group-of-people-in-form-of-wor-262052332-1560760029753-960x610.jpg
Ilustrasi Populasi Dunia. Data populasi di suatu wilayah adalah data yang saya rasa paling dalam manajemen bencana dan kebutuhan akan data ini akan semakin meningkat saat dilaksanakan operasi. Pengetahuan kita tentang kepadatan penduduk suatu wilayah terdampak pada fase awal akan mepermudah kita menentukan wilayah manayang harus kita jadikan prioritas dalam operasi. (Sumber gambar: Bigstock )

Saya pertama kali mengetahuin keberadaan data ini dari salah satu mahasiswa yang pernah magang di kantor kami sekitar tahun 2018 an. Saat itu dirinya berdiskusi ringan tentang tantangan seorang dosennya untuk mengkaji penggunaan data kependudukan yang disediakan dan dibagikan secara bebas oleh facebook untuk keperluan manajemen bencana, saya lupa fokusnya kebagian mananya. Pada saat saya cukup antusias untuk mendownload dan melihat-lihat kira kira wawsan seperti apa yang akan bisa didapatkan dari data tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan beberapa antrian tugas dari kantor akhirnya keberadaan data tersebut terlupakan hingga berbulan bulan.

Hingga beberapa minggu lalu saya menemukan sebuah artikel yang ditampilkan di feed google news saya yang membahas “Data kependudukan dari Facebook”. Agar tidak bernasip sama seperti sebelumnya maka pada artikel ini saya akan menuliskan sedikit tentang data kependudukan dari facebook ini, yang “mungkin” akan coba sa explore dan maksimalkan penggunaannya dalam bidang yang saya geluti saat ini, manajemen bencana. Tulisan ini saya tujukan sebagai pengingat sekaligus berbagi dan bahan diskusi mungkin dari teman teman sekalian ada yang tertarik mengolah data dari facebook ini baik di bidang yang sama seperti saya taupun bidang lainnya.

Data Kependudukan untuk Operasi Kemanusiaan

Ilustrasi seseorang didaerah terpencil yang sedang terkena musibah, Dengan data kependudukan yang presisi dan detail secara kewilayahan, wilayah wilayah seperti ini akan sukar termonitor oleh para pegiat kebencanaan. Beberapa kasus pernah terjadi saat penanggulangan bencana di Indonesia dimana beberapa kelompok masyarakat terisolir dan susah untuk mengakses ertolongan dan bantuan. (Sumber foto di sandur dari akun Parij Borgohain @Pexels.com)

Data penduduk merupakan salah satu data kunci dalam suatu operasi operasi kemanusiaan dalam hal ini darurat bencana. Tanpa data penduduk yang detail suatu operasi akan menjadi sporadis dan tidak taktis. Kurangnya pengetahuan kita terkait sebaran pendudu disuatu wilayah terdampak bencana akan berdampak buruk pada suatu operasi sehingga meningkatkan kemungkinan kesalahan dalam penentuan prioritas wilayah dan juga beberapa wilayah terisolir akan semakin besar kemungkinannya untuk terlewat.

Sayangnya data kependudukan yang kita dan sebagaian besar negara berkembang lainnya miliki seringkali sukar untuk diakses dan dianalisis sesegera mungkin. Hal ini bisa dikarenakan wilayah yang terlalu luas sehingga sensus berkala dalam interval waktu yang pendek sulit untuk dilakukan, format data yang disediakan pun juga membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat diolah dan diapakai dalam operasi yang membutuhkan waktu sangat cepat dalam penyediaan datanya. Jikapun ada, masih pula perlu diolah lebih lanjut untuk mengetahui pemusatan penduduk dalam suatu wilayah administrasi karena seperti yang kita ketahui bersama penduduk suatu wilayah tidak selamanya tersebar secara merata baik di unit desa, kecamatan, kabupaten dan unit unit lainnya. Penduduk cenderung berkelompok dan dari yang kami temui cenderung membentuk pola terstruktur dan berhimpitan dengan akses jalan.

Sedikit Berkenalan dengan Data Kependudukan yang Dibagikan oleh Facebook

Ilustrasi data populasi Facebook. Data Populasi yang saya bahas disini, menurut facebook (Sumber Ilustrasi: Thorsten Gätz @flickr.com)

Data sebaran penduduk secara spasial sangat diperlukan dalam manajemen bencana. Oleh karena itu, Facebook dengan tim yang dibentuknya terdiri dari para peneliti kecerdasan buatan, data saintist dengan tekhnologi mereka membuat dan membagikan data kependudukan seluruh dunia dengan resolusi spasial yang bisa dikatakan tinggi yakni sebesar 30 x 30 meter persegi) bila dibandingkan dengan resolusi spasial data sejenis World Pop yang memiliki resolusi spasial 1×1 km2. Data Kependudukan tersebut dibagikan oleh Fecebook dan dapat digunakan secara bebas dalam tautan ini.

Resolusi spasial disini menurut saya cukup signifikan pengaruhnya dalam memberikan gambaran nyata sebaran penduduk secara nyata pada saat terjadi bencana. Ada sedikit pengalaman saya bersama teman teman ketika mengolah data kependudukan dengan resolusi spasial yang masih kurang baik saat operasi erupsi gunung agung pada akhir tahun 2017 hingga awal tahun 2018 lalu. Saat terjadi penurunan status dari awas menuju siaga, kami ditugaskan untuk memperkirakan jumlah penduduk yang masuk dalam zona bahaya yang baru akan dirilis oleh PVMBG. Saat menggunakan data Worldpop dan InaRISKpop, perkiraan jumlah penduduk yang berada di dalam zona bahaya masih banyak bahkan seingat saya menyentuh angka ribuan. Untungnya salah satu teman saya berinisiatif untuk melakukan cek ulang dengan menggunakan foto satelit resolusi tinggi yang tersedia bebas melalui google maps, dan benar saja ternyata didaerah tersebut tidak ada lagi bangunan.

Hal ini besar kemungkinan disebabkan oleh kurang begitu baiknya logika yang digunakan dalam memprediksi penduduk yang dilakukan oleh Worldpop khsususnya wilayah wilayah di dekat gunung berapi aktif. Keaktifn gunung api yang terkadang memunculkan lava pijar ada kemungkinan justru dideteksi oleh Worldpops sebagai pemukiman. Hal lainnya yang paling mungkin adalah masih rendahnya resolusi spasial yang ada sehingga pada wilayah yang relatif sempit, kemampuan data tersebut untuk menunjukan variasi spasialnya menjadi berkurang dan cenderung salah.

Logika yang Digunakan Facebook dalam Membuat Data Kependudukan

Visualisasi proses yang dilakukan oleh Facebook dalam mengidentifikasi wilayah wilayah yang terdapat bangunan dan menghapus wilayah wilayah yang tidak terdapat bangunan.

Secara sederhana dalam tulisan resmi mereka pada tautan ini, Facebook memetakan populasi dengan cara mengidentifikasi wilayah wilayah yang memiliki bangunan dari sekian banyak citra satelit resolusi tinggi (0.5×0.5 meter) yang bila dikalkulasikan seluruh datanya menyita kapasitas memori sebesar 1.5 Petabytes (1500 Terabyte). Mengingat proporsi lahan terbangun di seluruh dunia yang sangat kecil bila dibandingkan lahan tidak terbangun, maka menggunakan citra resolusi tinggi 0.5 meter cenderung menyulitkan dan bila dibandingkan maka peluang suatu lahan adalah lahan terbangun berada pada kisaran 1:100000. Oleh karena itu facebook melakukan proses selanjutnya dan menggabungkan 64×64 pixcel dari citra tersebut menjadi satu petak baru sebesar 30×30 meter. Dan petak petak inilah yang kemudian dilakukan analisis.

Contoh petak petak citra resolusi tinggi seluas 30 meter yang teridentifikasi oleh AI milik facebook sebagai wilayah yang terdapat bangunan. (Sumber gambar: Facebook AI)

Data data tersebut kemudian disiapkan untuk dianalisis oleh kecerdasan buatan milik Facebook untuk menentukan dari 11.5 Miliar kotak kotak wilayah yang dianalisis mana yang merupakan wilayah terdapat bangunan dan kemudian juga dipisahkan dari wilayah yang tidak terdapat bangunan. Sebagai data awal untuk melatih AI nya tersebut Facebook juga menggunakan lebih dari 100 juta data berlabel bangunan dari Openstreetmap yang merupakan data hasil digitasi orang orang diseluruh dunia yang dibagikan dan dapat dipergunakan secara bebas untuk keperluan kemanusiaan dan lain sebagainya.

Data data hasil analisis tersebut kemudian dengan bekerja sama dengan pemerintah setempat serta NGO dijadikan sebagai patokan persebaran penduduk yang kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan data kependudukan berdasarkan wilayah administratif untuk memperkirakan jumlah penduduk per pixcel data. Melalui data ini kita tidak hanya tahu suatu desa berpenduduk berapa saja, namun juga dari desa tersebut para penduduknya tersebar diwilayah bagian mana saja.

Karena data ini masih tergolong baru, dalam penggunaannya masih diperlukan beberapa penyesuaian dan pengelolaan lebih lanjut baik dalam bentuk riset riset awal maupun pengujian langsung saat terjadi bencana. Ada satu hal kelemahan yang saya temukan dalam data ini, yaitu data ini cenderung menyamaratakan jumlah penduduk pada setiap pixcel pada unit administrasi terkecilnya. Padahal seperti yang kita ketahui, dalam unit administrasi yang sama kepadatan bangunan tentunya akan berbeda. Olehkarena itu perlu dilakukan beberapa pengkajian khusus lagi serta penyesuaian lebih lanjut dengan data data terbaru dan melakukan pengolahan dengan data kependudukan dengan unit administrasi yang lebih detail lagi agar potensi data ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kemanusiaan.

BencanaDaily LifeUncategorized

“Posting Tanpa Kata” Terakhir dari Pak Topo Untuk Kita

July 7, 2019 — by dewaputuam0

94f0692f41e2d91cf608104c67ef78cb964e0433-960x642.jpg
Sutopo Purwo Nugroho, sosok inspiratif yang selalu cepat sigap dalam memberikan informnasi bencana di Indonesia. Kadang saya sendiri heran bagaimana ia mengatur waktunya hingga seolah olah ia tidak pernah lelah dan terlewat dalam menginfokan bencana. Selamat jalan Pak Topo (Sumber Foto Berita Tagar)

Pagi tadi Indonesia mendapatkan kabar duka dari seorang yang mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Bapak Sutopo Purwo Nugroho yang biasa dikenal sebagai Pak Topo telah meninggalkan kita semua pada pukul 02.00 waktu Guangzhou, Tiongkok. Beliau adalah seorang yang kita kenal sebagai Informan bencana Indonesia, Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang selalu berada di garda depan dalam pemberitaan kebencanaan di Indonesia.

Dedikasi dan pengabdiannya pada bidang kemanusiaan khususnya kebencanaan di Indonesia membuat kita pasti sepakat bahwa ia adalah salah satu yang terbaik. Dedikasi beliau ditunjukan secara nyata dari keseharian beliau dalam melaksanakan tugasnya yang selalu sigap dan cepat memberikan informasi informasi hampir dimanapun dan dalam situasi apapun. Terkadang saya sedikit bingung apa yang membuat beliau begitu, untuk ukuran orang sehat pun rasa rasanya sedikit dari kita yang dapat mengimbangi dedikasi beliau.

Sebagai salah satu penghormatan bagi beliau sekaligus pengingat bagi saya dan teman teman tentang pernah adanya sosok seperti beliau di tengah tengah kita, maka saya membuat putuskan untuk membuat tulisan sederhana ini. Ini tentang “Posting Tanpa Kata” Terakhir dari Twitter Sang Informan Bencana Kita, Pak Topo.

“Posting Tanpa Kata” Terakhir dari Twitter Pak Topo

Pada mulanya saya ingin mengulas sesuatu yang saya rasa menarik dari apa yang dibagikan Pak Topo terakhir kali dalam media akun Twitternya kepada kita. Sebuah gambar kepulauan nusantara dan dihiasi titik titik kuning dan merah. Hal yang berbeda dari postingan sebelumnya adalah pada postingan ini tidak sama sekali diberikan kata kata “Tanpa Kata”. Mengingat kemampuan menulis beliau yang diatas rata rata, maka akan cukup aneh bila beliau membagikan begitu saja sebuah gambar tanpa ada penjelasan apapun didalamnya. Berikut adalah postingan yang beliau bagikan di Twitter pada tanggal 15 Juni sebelum keberangkatan beliau ke Guangzhou.

Sebagai informasi, gambar itu diambil dari situs monitoring hotspot yang di kelola oleh Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), jika penasaran teman teman dapat mengakses tautan ini. Melalui situs milik Lapan ini beliau mendapatkan informasi tentang sebaran titik yang diduga terjadi kebakaran hutan dan lahan, mengingat akhir akhir ini kita akan memasuki musim kemarau yang biasanya akan banyak terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Melihat apa yang dibagikan ini saya sedikit tersenyum getir, dan berkata didalam hati, Pak, sempat sempatnya bapak mengingatkan kami untuk bersiap menghadapi kebakaran hutan dalam keadaan seperti itu 🙁 .

Pak, pesan apa yang bapak berikan kepada kami melalui posting tersebut pak. Apa yang ingin bapak sampaikan kepada kita melalui gambar tanpa kata dari bapak yang bapak bagikan itu. Gambar memang membingungkan pak, berjuta makna dapat kita maknai dari sebuah gambar.

Sesaat saya berpikir dan akhirnya tersadar, Ada satu lagi “posting tanpa kata” yang selalu Pak Topo bagikan pada kita. Posting tanpa kata itu kadang bahkan sering kali tertutup dengan tulisan tulisan bapak selama ini. Sebuah “Postingan Tanpa Kata” yang saat ini justru paling nyaring berkata bahkan lebih nyaring dari kata kata yang tertuang dalam bentuk tulisan sekalipun pak.

Sebuah “posting tanpa kata” tersebut bapak sampaikan melalui apa yang bapak bagikan dan tunjukan selama ini kepada kami, “Dedikasi bapak, Perjuangan, dan Rasa cinta bapak pada kemanusiaan lebih dari apapun dan tidak bisa dihalangi oleh apapun”. Selamat Jalan Pak Topo, Selamat jalan sang Guru Selamat, Sang Informan Bencana. Bapak adalah pahlawan kemanusiaan khususnya dibidang kebencanaan di Indonesia. Terimakasih Pak Topo, kami akan merindukanmu.

“Hidup itu bukan soal panjang atau pendeknya usia, namun seberapa besar kita dapat membantu orang lain”

Pak Topo