main

BencanaMeteorologiPsikologiSains AtmosfirUncategorized

Ini Cerita Tentang Hujan Buatan yang Melanggar Hukum Tuhan?

September 21, 2019 — by dewaputuam0

blur-blurred-background-close-up-1915182-960x1440.jpg
Photo by Noelle Otto from Pexels.

Di tengah hembusan asap yang pekat akhirnya hujan turun juga. Hujan yang digadang gadang sebagai salah satu keberhasialan dari sekian banyak usaha modifikasi cuaca ini turun dengan begitu lebat. Di sebuah teras gubuk kecil di salah satu daerah yang sekian lama menutup diri dan mengilang dalam pekat kabut menyesakkan itu duduk seorang kakek dengan cucunya. Dua cngkir air berisikan minuman berwarna hitam pekat dan coklat kemerahan mengepulkan uap air berwarna putih tipis tertiup angin dan hendak memasuki rumah.

Aroma sangit menyesakkan yang berhari bahkan berminggu menyengat sedikit terganti dengan aroma aroma tanah yang menari dihantam butiran air. Pekat sangit memanglah belum menghilang namun bersembunyi dan mengintai sejenak dan menunggu waktu yang tepat untuk memukul setiap hidung dan paru makhluk bernapas di dekatnya.

“Kek,… Apakah hujan seperti ini menentang hukum alam, menentang apa yang digariskan tuhan kah?” celoteh sang cucu sambil mengusap perlahan gawai yang ia pandangi sendari tadi. Pendaran cahaya gawainya memnyelimuti wajak sang cucu membentuk kontur kontur berona terang dari hidung hingga tiga per empat pipinya. Dari bayangan yang terpantul dimatanya terlihat jelas dominasi cahaya biru putih memancar dari gawainya.

Ketika Sang Kakek Bercerita Tentang Hujan dan Kita

“Kenapa kau tanyakan begitu cu?” tanya sang kakek sambil sedikit mencondongkan badannya untuk sedikit menggeserkan lipatan perutnya kearah yang lebih nyaman serta membagi nyeri persendian tulang tulang bagian kannyannya kearah tulang lain di bagian kiri. “woy narator, jangan gambarin gerakan kakek ini sedetail itu dong, saya memang tua tapi tidak serenta itu ya? keh keh keh” kata sang kakek kepada saya (penulis). “Oke siap kek, monggo dilanjutkan adegannya” jawab saya sambil terus menulis.

(Photo by Aleksandar Pasaric from Pexels )

“Oke cu, kita lanjut. Tadi gimana cu” tanya sang kakek sambil menggeser lipatan perutnya dan membagi nyeri punggunya kearah pinggangnya lagi dan kini matanya menyorot tajam pada saya mengisyaratkan sesuatu yang sepertinya saya paham apa maksudnya.

“Ini kek, tadi saya sedang baca berita tentang penanganan kebakaran hutan hari ini. Berita bagusnya kek, tim modifikasi cuaca telah berhasil mendatangkan hujan ini. Jadi hujan yang sekarang kita rasakan ini salah satu hasil dari tim modifikasi cuaca kek. Tapi yang buat saya berpikir ada yang berkomentar kalau usaha seperti ini melanggar hukum tuhan kek. Benarkah begitu kek?” tanya sang cucu sembari menunjukan apa yang ia lihat sendari tadi di gawainya.

Sejenak kakek mendekat kearah sang cucu dan mengenakan kacamata yang tadi terguntai dan terselip di saku bajunya. Setelah sekian lama berkomat kamit membaca berita tersebut akhirnya sang kakek bersuara lagi “uhuk uhuk uhuk” ia kemudian menserusup kopi hitam pekat untuk meredakan tenggorokannya. “Jadi gini cu, kakek ingin meluruskan sedikit. buat hujan buatan itu tidak ujug ujug dari tidak ada angin tidak ada awan langsung bisa disulap ada hujan. Hujan buatan itu pada intinya hanya ningkatin kemungkinan hujan dari sebelumnya yang sudah memang ada namun masih kecil kemungkinannya. Jadi sebenere mirip mirip lah prinsipnya sama kita bertani yang kita lakuin apapun yang kita bisa ngatur jarak tanam, kasi pupuk dan nyediain air buat ningkatin hasil.”

Perlawanan Terbesarkita Hukum Alam Bukan Pada Saat Kita Memodifikasi Cuaca.

Photo by Gabriela Palai from Pexels

“Untuk menyemai hujan kita perlu memahami bagaimana itu proses terbentuknya butir butir hujan diawan, apa yang menyebabkan uap uap air disana menjadi air disana menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan memukul daratan. Itu ada seninya cu, dengan katalain kita harus paham dulu hukum hukum yang ada disana yang ternyata untuk membentuk butir butir hujan perlu ada partikel kondensasi.

Yah kalau di dunia nyata bisa dianggap sebagai profokatornya lah, dialah yang bertanggung jawab untuk menarik massa (air dan uap air) untuk berkerumun dan kemudian membentuk butir butir hujan. Kita tetap harus mengikuti hukum tersebut untuk sedikitlah menginterferensi, mengikuti dan bukan malah melawannya.” Ucap sang kakek kembali menggeser geser kerut lipat pada kulitnya sembari membenahi posisi tulang rentanya dan melirik tajam lagi kepada sang penulis.

“Cu,.. Perlawanan dan penyangkalan terbesar yang kita pada alam bukan pada apa yang kita perbuat untuk mendatangkan hujan, bukan pula pada bagaimana orang yang “membakar” hutan hutan demi uang.

Perlawanan kita pada hukum alam terbesar kita adalah tidak menggunakan dengan baik satu satunya pembeda kita dengan tumbuhan dan hewan hewan diluar sana” ucap sang kakek sambil menunjuk keningnya sambir berucap “Rasional kita cu”

Kakek Putu 2019

Setelah berucap demikian, sang kakek beranjak dari kursi santainya dan berjalan gontai perlahan melewati pintu. Tangan kirinya menggenggam lembaran surat kabar yang tidak jelas tulisannnya dan didominasi warna putih yang katanya suatu ekspresi untuk menggambarkan mengganggunya asap. Tangan kanannya yang keriput dan sedikit bergetar memegang cangkir kopinya yang sudah kosong, habis diminumnya saat asik berbincang dengan sang cucu. Gerak kakinya perlahan menyusuri lantai kayu dan suara decit antara sandal dan lantai nyaris tidak terdengar oleh suara derasnya air hujan. “Nek, minta kopi lagi dong” ucapnya sambil memasuki rumah munyilnya.

Feature Image by Nur Andi Ravsanjani Gusma from Pexels

BencanaDaily LifeLingkunganMeteorologiOpiniUncategorized

Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap

July 7, 2019 — by dewaputuam0

2017_05_02_26133_1493689431._large-960x642.jpg
Kondisi Jakarta dalam Sepekan Terakhir Tertup oleh Polusi Udara Bahkan dalam Suatu kanal Berita, Kota Jakarta Dituding Sebagai Kota Terpolusi di Dunia. (Sumber gambar: The Jakarta Post)

Jika teman teman tinggal atau sempat singgah di Jakarta tentunya juga merasakan dalam sepekan terakhir kita jarang sekali melihat langit biru di pagi hari. Suasana pagi kita dalam sepekan ini selalu diselimuti kabut, namun sedikit menyesakkan. Hal ini akan tampak begitu jelas bila dilihat dari ketinggian pada lantai tertentu yang mana akan terlihat lapisan kabut yang menutupi kota, sebagai gambaran kira-kira serupa dengan ilustrasi yang saya sandur dari situs berita Jakarta Post di Atas. Jika dilihat sebenarnya kondisi Jakarta yang demikian cukup indah, memiliki kesan sedikit retro dan klasik seperti salah satu filter yang ada didalam aplikasi Instagram. Antara sedih, takut dan takjub, terkadang saya sendiri pun bingung untuk berekspresi seperti apa untuk menanggapi foneomena yang terjadi ini.

Polusi di wilayah Jakarta memanglah bukan suatu peristiwa yang baru, malasah ini sudahlah lama ada dan sama seperti isu isu terkait kebencanaan lain, isu terkait polusi udara juga selalu timbul dan tenggelam dengan cepat. Isu isu seperti ini akan sangat cepat viral pada saat saat tertentu (biasanya saat kritis) namun cepat pula tenggelam dan menghilang tanpa penyelesaian yang konkrit apalagi menyeluruh. Miris memang, namun itulah yang kita temukan dilapangan selama ini adalah PM2.5 yang konsentrasinya mengkhawatirkan dalam beberapa minggu bahkan bulan belakangan ini. Data konsentrasi PM2.5 yang mudah di akases oleh banyak orang adalah data yang disediakan oleh Konsulat AS yang saya tampilkan melalui widget realtime yang disediakan mereka dibawah ini.

Melirik Pembunuh Senyap yang Menjadi Perbincangan “Hangat” di Jakarta Minggu Ini

Terlepas dari kemirisan hal tersebut, untuk memonitoring tingkat polusi di suatu wilayah ada beberapa variabel yang biasa di hitung dan di cermati. Beberapa variabel itu meliputi konsentrasi TSP (Total Partikulat Tersuspensi, biasanya ukurannya masih cukup besar), PM10 (Partikulat<10 micrometer), serta PM2.5 (Partikulat <2.5). Jika kita melihat variabel TSP dan PM10, meskipun beberapa kali masik kategori tidak sehat namun kondisi demikian pada waktu tertentu saja. Yang menjadi permasalahan dan diangkat isunya oleh beberapa orang seminggu terakhir ini adalah konsentrasi PM2.5.

Berdasarkan data hasil monitoring variabel ini yang dilakukan oleh BMKG di lokasi Kemayoran, hingga tanggal 6 Juli pada pukul 10.00-17.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di wilayah Kemayoran berada diatas ambang batas untuk konsentrasi jenis polutan tersebut. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari BMKG dalam tautan ini Nilai Ambang Batas (NAB) adalah Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan untuk PM 2.5 berada dalam udara ambien. NAB PM2.5 = 65 ugram/m3.

Hal serupa (kondisi PM2.5 yang berbahaya) juga tercatat dalam sensor yang ditempatkan di Konsulat AS dengan menggunakan indeks AQI (Air Quality Index). Berikut adalah kondisi terbaru terkait konsentrasi PM2.5 yang tercatat oleh sensor di Konsulat AS di Jakarta Pusat. Informasi terkait AQI di wilayah ini saya sapatkan dan sisipkan melalui tautan ini.

Dari informasi pemantauan tersebut di atas dapat kita lihat bahwa konsentrasi PM2.5 berada didominasi oleh status berwarna orange yang berarti tidak sehat untuk beberapa orang yang sensitif dan merah yang berarti termasuk tidak sehat untuk semua orang baik yang sehat bahkan sangat berbahaya bagi orang sensitif. Kondisi udara yang demikian kurang sehat dapat memicu terjadinya beberapa penyakit yang tentunya berhubungan dengan pernapasan. Berasarkan U.S. EPA beberapa dampak bagi kesehatan yang disebabkan oleh konsentrasi PM2.5 yang tinggi meliputi peningkatan risiko penyakit jantung, paru-paru meningkatnya potensi kematian dini bagi penderita kardiopulmoner.

Untuk menghindari dampak dampak tersebut atau setidaknya mengurangi dampaknya, para pengidap penyakit pernapasan, jantung, serta kelompok umur rentan seperti anak anak dan orang tua sebaiknya tidak keluar rumah maupun kerja dalam waktu yang panjang. Untuk ulasan terkait dampak lebih jelasnya dapat di baca secara agak lebih lengkap pada tautan berita di Trito.

Jebakan Inversi, Diduga Sebagai Dalang Polusi yang Tertahan dan Berkepanjangan Ini

Pada hari senin lalu saya berkesempatan mendampingi salah satu atasan saya untuk mengikuti rapat yang membahas terkait masalah ini. Hal yang menarik dalam pembahasan tersebut dan dipaparkan oleh BMKG dan BPPT adalah pembahasan tentang salah satu fenomena meteorologi yang bisa kita sebut sebagai Jebakan Inversi (Inversion Trap). Penjelasan terkait fenomena ini dapat digambarkan secara sederhana melalui ilustrasi dibawah ini.

Ilustrasi jebakan inversi yang menyebabkan polutan tidak dapat naik ke atmosfir bagian atas dan terbaurkan. Lapisan inversi ini menahan polutan berdiamdiri di dekat permukaan sehingga kadar polusi di lapisan atmosfer bagian bawah tersebut meningkat secara drastis dan sukar untuk turun. (Sumber ilustrasi: Waikato Regional Council)

Secara awam, jebakan inversi ini dapat kita ibaratkan sebagai suatu selimut di lapisan atmosfer yang menahan udara dibawah sehingga sukar naik keatas. Kondisi demikian disebabkan keberadaan suatu lapisan yang justru memiliki suhu lebih hangat dibandingkan daerah dibawahnya sehingga udara yang reltif dingin di bagian bawah tidak mampu terangkat dan menembus lapisan tersebut hal ini dikarenakan masa udara dingin lebih berat dibandingkan masa udara yang lebih hangat.

Suatu lapisan atmosfer yang mana memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan lapisan bawahnya (meningkat seiring peningkatan ketinggian) ini disebut sebagai lapisan inversi. Keberadaan lapisan inilah yang menjebak masa udara yang relatif lebih dingin dibawahnya karena lapisan dibawah ini memiliki pola semakin keatas semakin bersuhu rendah (lapisan laps rate).

Fenomena jebakan inversi biasa terjadi pada waktu waktu peralihan, baik pagi hari, sore hari mapun sebelum dan setelah hujan. Kondisi yang demikian dapat dengan mudah kita lihat bilamana kita membakar sampah pada sore menjelang malam yang biasanya asap asap pembakaran tersebut seringkali justru menyebar ke segala arah karena tidak dapat dengan mudah untuk naik ke atas.

Dalam situasi yang cukup ekstrim dan sangat berbahaya fenomena ini juga dapat terjadi di spot spot gas beracun seperti yang banyak terdapat di kawasan Dieng contohnya di Kawah Timbang. Saat sebelum dan sesudah hujan juga pagi pagi serta menjelang malam hari biasanya warga sekitar wilayah tersebut akan menghindari jalur jalur gas beracun dikarenakan gas beracun yang mengalir keluar dari kawah kawah tersebut tidak terbaur keatas dan justru tertahan di lapisan bawah. Kondisi ini dapat berakibat fatal bagi orang yang secara tidak sengaja melewati jalur tersebut dan dapat menimbulkan kematian seketika.

Kembali pada topik permasalahan sebelumnya. Fenomena jebakan inversi memanglah berpotensi untuk meningkatkan dampak tertumpuknya polutan di lapisan atmosfer bagian bawah. Namun tidak pula kita melimpahkan semua kesalahan peningkatan polutan tersebut pada fenomena alam yang sebenarnya bukanlah hal yang langka tersebut. KIta tidak akan dapat mengatasi permasalahan ini dengan hanya melakukan suatu tindakan untuk mempengaruhi kondisi yang ‘diduga’ memperparah saja. Namun yang menurut saya paling penting dan paling utama untuk ditindak lanjuti adalah “Sumber Polutan” itu sendiri.

Kita sudah terlalu lama membiarkan udara di Jakarta membunuh kita secara senyap. Yang menjadi pertanyaan dan sebenarnya tidak boleh hanya menjadi suatu pertanyaan saja adalah. “Apakah kita membiarkan begitu saja Pembunuh senyap ini terus beraksi?” Ah biarlah waktu yang menjawab, hitung hitung mengurangi populasi. Mungkin itu yang ada di dalam pikiran kita yang paling dalam. Jika itu yang ada dalam benak mu.

“Ijinkan Jakarta Membunuhmu Dalam Senyap”

(Dewa Putu AM)

BencanaDaily LifeKlimatologiUncategorized

Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Selalu Terlindung dan Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya

April 12, 2019 — by dewaputuam4

GretaThunberg_2018X-embed-960x540.jpg
Ilustrasi yang digunakan dalam Petisi Change.org untuk memberikan dukungan agar ditegakaannya keadilan untuk Audrey, saya tidak tahu ilustrasi ini karyanya siapa tetapi saya mendapatkan gambar ini dari liputan6.com

Awalan namun Bukan Awal dari Kisah Panjang “Rantai” Pembulian Ini

Dalam dua hari belakangan ini banyak sekali beredar pemberitaan terkait kasus pembulian keji yang berlangsung di Pontianak dengan korban serta pelaku merupakan anak anak di bawah umur. Pembahasan kian memanas dan menajam ketika muncul sebuah wacana damai dan tidak melanjutkan ke ranah hukum oleh KPAI setempat.

Dari sinilah para netijen yang mungkin sudah geram dengan maraknya kasus pembulian yang berujung pada ketidakadilan bagi sang korban akhirnya mengambil peran. Tagar #Justiceforaudrey pun membahana di jagat dunia maya, namun sayangnya pula ada beberapa segelitir orang yang justru terperosok pada aksi aksi CyberBullying.

Terlepas dari aksi-aksi tidak terpuji oleh sebagian kecil simpatisan bersumbu pendek yang ikut ikutan menggunakan semangat tagar #Justiceforaudrey, mayoritas dari kita tentunya sepakat bahwa apapun itu aksinya bullying adalah sebuah aksi yang jahat dan para pelakunya harus di hukum seberat beratnya.

Kejadian yang memicu tagar tersebut bukanlah suatu peristiwa remeh dan sekedarnya saja, ini adalah salah satu contoh kecil dari sekian banyak pembulian-pembulian yang semakin hari kian mengkhawatirkan, jika semua ini selalu dibiarkan dan diselesaikan terlalu lembek tanpa ada tindakan tegas yang memberikan efek jera ditakutkan kejadian kejadian ini akan semakin menjadi jadi.

Perilaku Bully Ada di Sekitar Kita dan “Sangat Dekat” dengan Kita

Greta Thunberg adalah Salah Satu Korban Pembullyan Tersadis yang Pernah Terjadi di Dalam Sejarah Ini dan Berani Berbicara Lantang Dan Beraksi Melawan Para Pembullynya.

Aksi bully baik itu berupa tindakan verbal maupun fisik akan terus diingat dan berdampak panjang bagi para korbannya. Beberapa bahkan dapat merengut masa depan para korban. Atau dalam situasi yang sangat ekstrim dapat merengut nyawa sang korban.

Sudah seperti pengetahuan umum bahwa aksi bullying seringkali terjadi di sekitar kita atau justru mungkin kita juga pernah berada dipihak sang korban dan bukan hal yang tidak mungkin kitalah sang pelaku bullying tersebut baik secara sadar maupun tidak sadar. Perilaku Mem-Bully dapat hadir dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Mulai dari orang dewasa, remaja hingga anak anak. Korbannya pun sangat beragam baik dari segi umur, jenis kelamin, pekerjaan dan status sosialnya.

Bahkan pada beberapa kasus ternyata juga terjadi bullying tidak hanya terjadi pada Manusia namun juga pada hewan. Seperti berita heboh tentang pengecetan monyet di Taiwan dan beberapa berita berita lainnya seperti penganiayaan orang utan yang dulu sempat menjadi pemberitaan di media nasional.

Saya ingin mencoba merunut kembali apa apa saja yang sebelumnya kita bahas bersama. Pertama, bahwa aksi pembulian apapun itu baik verbal apalagi fisik adalah sebuah tindakan yang jahat dan dalam kondisi terjentu sudah masuk pada tindak kejahatan. Kedua, aksi pembulian akan berdampak besar dan panjang bagi para korbannya, hal inilah yang kemudian kita perlu memperjuangkan keadilan untuk para korbannya. Ketiga, Pembullian yang yang sudah masuk kedalam tindakan jahat (kriminal) harus diproses secara hukum jika perlu harus dihukum seberat beratnya siapapun itu pelakunya agar menimbulkan efek jera.

Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Terlihat Jelas namun Selalu Terlindung dan Ia Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya

Setelah berpanjang lebar membahas tentang pembulian yang terjadi saat ini. Ijinkan saya untuk mengungkap sekaligus mengingatkan tentang adanya satu pembully mungkin dapat dikatakan tersadis dalam sejarah yang sampai saat ini terlihat jelas apa yang mereka lakukan, namun sayangnya ia selalu terlindung dan juga bahkan sering tidak mengakui kesalahannya itu. Saya tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan orang orang ini apakah cukup disebut sebagai pembully atau bahkan lebih tepat bila disebut penjahat tersadis?

Hingga saat ini bayak pembulian yang ia lakukan, korbannya juga sudah sangat banyak dan yang paling parah adalah sebuah kenyataan bahwa mereka inilah yang telah merengut masa depan banyak anak bahkan anaknya sendiri. Mereka tahu apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah, namun dengan manufer sangat canggihnya dan segala hal superiornya mereka dapat mengelak dengan dalil demi kemslahatan yang lebih luas merekapun selalu berkilah. Akibat tindakan mereka ini sudah banyak korban kehilangan tempat tinggal, kehilangan masa depan, bahkan kehilangan nyawa. Namun sayangnya mereka tetap diam dan kemudian terus meneruskan pembuliannya itu.

Pembulian ini telah dilakukan mereka sejak lama dan hingga kini pun masih terus berlangsung. Sejak dulu para korban dan orang orang yang sadar terus memperjuangkan keadialan ini. Namun belum ada hasil nyata yang secara signifikan mengurangi pembullyan ini, karena kebanyakan dari kita pun melindunginya. Hukuman apa yang pantas bagi pembully ini? berkaca dari kasus kasus bully lainnya kita selalu bersuara lantang untuk menghukum para pembully? kenapa pada kasus ini kita sendiri sangat lembek dan justru tidak peduli sama sekali. Kita peduli pada pembulian yang terjadi pada satu orang, namun pedulikah kita pada pembulian ratusan, ribuan bahkan jutaan orang lainnya? Tidak, percayakah kalain kalau kita cenderung diam dan bungkam untuk pembully ini. Suara lantang kita seolah tetiba senyap menghadapi pembuli ini.

“Karena kita tahu bahwa “Pembully Tersadis dalam Sejarah yang Terlihat Jelas namun Selalu Terlindung dan Ia Tidak Pernah Mengakui Kesalahannya” itu adalah kita sendiri.”

Dewa Putu AM, 2019

Kitalah si jahat itu, yang membulli se isi planet ini, hingga titik paling ekstrim. Ketamakan kita, hingar bingar janji akan kebahagiaan kita telah mengorbankan segalanya dan membawa planet ini berada pada kerusakan teramat berat dan menghancurkan masa depan bumi dan segala macam kehidupan di dalamnya.

Hingga pada pertengahan tahun lalu, muncul lah sebuah gerakan yang di inisiasi oleh seorang anak perempuan bernama Greta Thunberg dari sekolahan di swedia. Sebuah gerakan yang menuntut keadilan dan tanggung jawab akan apa yang hingga saat ini diperbuat oleh generasi kita yang telah dengan semena mena merengut masa depan mereka para generasi muda sang pewaris dunia ini dimasa mendatang.

Hukuman apa yang pantas untuk Kita untuk Semua Ini? Atau jikpun kita sadar, apakah yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan kita itu?

Tentu Sekedar kata tidak dapat menyelesaikan, Kita perlu bertindak #JusticeForEarth #JusticeForFutureGeneration

BencanaMeteorologiUncategorized

Jejak Banjir yang Sebelumnya Tak Terlihat dan Terceritakan

March 19, 2019 — by dewaputuam0

1552553794718-01-960x509.jpeg
Pemandangan Diluar Sebuah Kamar yang tampak bagus dan menggoda untuk dikunjungi namun sayangnya saat itu terlalu lelah dan tak sempat saya gapai hehehe (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Sebuah Perjalanan dari Bendungan ke Bendung dan Sand Pocket Penjaga Makasar

Pada pertengahan bulan Maret ini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi suatu lokasi yang pada akhir Januari lalu banyak diberitakan dengan segala kisah suram dan heroik didalamnya. Sebuah bencana banjir yang tanpa disangka sangka terjadi begitu saja dan merengut stidaknya 68 jiwa. Bencana tersebut tentunya menyita perhatian banyak pihak dari berbagai perspektif dari hal hal bersifas teknis hingga kejadian heroik seorang nenek yang berusaha menyelamatkan seorang cucunya.

Mendapat kesempatan untuk terjun ke lokasi, meskipun sudah cukup lama berlalu kejadiannya saya tentunya sedikit antusias hehehe namun sebenarnya ada sedikit rasa tidak enak dengan tim shift saya di kantor yang sering kali saya tinggal. Yah saya memang saat itu baru saja pulang dari cuti yang cukup panjang dan benar benar baru gabung kerja bersama tim lagi. Namun apaboleh buat dan sepertinya menarik, dengan sedikit sungkan sungkan tapi mau akhirnya saya menyanggupi untuk ikut berkunjung ke sebuah Waduk di Sulawesi Selatan yang sempat menjadi bahan perbincangan beberapa bulan lalu, “Waduk Bili Bili”.

Tentang Dua Pilihan Sulit di Waduk Bili-Bili yang kemudian “dipersalahkan”
Banjir yang Terjadi di Sulawesi Selatan yang Banyak diberitakan disebabkan oleh dibukanya Pintu Bendungan Bili Bili (Sumber Foto: KOMPAS.com/ABDUL HAQ)

Jika kita menelusuri kembali pemeberitaan pemberitaan terkait banjir di Sulawesi Selatan pada awaln tahun 2019, akan kita temui bahwa mayoritas dari pemberitaan menjurus pada satu kesimpulan bahwa kejadian banjir yang sangat besar tersebut dikarenakan (atau setidaknya diperparah) oleh dibukanya pintu wadu Bili-Bili. Begitu pula yang saya pikirkan pada akhir bulan Januari tersebut. Kemudian muncul suatu pemikiran dalam benak saya tentang apakah yang sebenarnya dilakukan oleh para petugas wadauk Bili-Bili pada saat kejadian.

Hingga saat kunjungan kewaduk tersebut, mereka menjelaskan tentang pilahan sulit yang mereka hadapi pada saat kejadian banjir tersebut. Tentang keadaan dimana mereka diharuskan memilih sebuah pilihan terbaik diantara yang buruk. Pilihan pertama adalah pilihan yang mungkin dipikirkan sebagian orang yakni tetap menutup waduk bili bili saat terjadi banjir besar di wilayah hilir. Pilihan ini sebenarnya juga dipikirkan oleh para petugas dan pengambil keputusan disana namun ada konsekuensi sangat besar yang membuntuti pilihan tersebut yakni peluang jebolnya Bendungan yang tentunya akan berdampak pada banjir yang jauh lebih besar. Didasari oleh pertimbangan tersebut dan untuk mengamankan bendungan lah akhirnya mereka memilih pilihan ke dua yakni membuka dan tentunya banjir yang sudah terjadi akan meningkat, namun setidaknya tidak akan sebesar bilamana bendungan Bili Bili Jebol.

Mendengar hal tersebut saya sebenarnya cukup terkejut karena saya bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu. Saya jadi merasa bersalah karena beberapa bulan yang lalu saat kejadian banjir disana sempa ada beberapa pemikiran bahawa ada suatu kesalahan besar yang terjadi disana saat itu. Yah meskipun tentunya tidak sepenuhnya benar namun untuk saat kejadian, pembukaan pintu bendungan tersebut masih dapat dimaklumi, dan mereka saat itu sebenarnya sudah menaikan batas tinggi air saat membukanya dan sedikit bermain dengan bahaya jebolnya tanggul agar memberi sedikit waktu yang bilamana harus mengikuti SOP pembukaan bendungan seharusnya justru dibuka lebih awal lagi.

Jejak Mega Longsor Masa Lalu, Kini Menjadi Berkah, Diambil Secara Serakah dan Kemudian Membawa Kita ke Bencana Air Bah
WIlayah terjadinya Mega Longsor pada Tahun 2004, Saat itu Salah satu dinding Kaldera Gunung Bawakaraeng runtuh dan materialnya terus tertransport melalui aliran sungai Jeneberang hingga saat ini saat artikel ini ditulis. (Sumber Foto: Medium.com)

Perjalanan pun berlanjut baik ruang dan waktu. Perjalanan waktu membawa kita kembali pada kejadian Mega Longsor Kaldera Gunung Bawakaraeng yang terjadi pada akhir Maret tahun 2004. Kejadiang longsornya sebuah kaldera gunung tersebut membawa material dengan julah yang sangat besar dan mengakibatkan setidaknya 30-an jiwa melayang (sumber: Seindes, Medium.com dalam link ini). Besarnya kejadian tersebut menyebabkan dampaknya masih dirasakan oleh Sulawesi Selatan Hingga saat ini. Material longsoran pada lima tahun yang lalu tersebut masih terus terbawa oleh aliran sungai Jeneberang dan mengendap di sekitarannya. Hal ini yang kemudian menghidupkan perkonomian disekitar wilayah tersebut dengan pertambangan batu yang sangat masif yang entah sampai kapan akan habis.

Material longsoran yang terbawa air jeneberang selain membawa berkah juga menjadi perhatian serius dari pengelola bendungan karena dapat menumpuk dibendungan dan mengakibatkan pendangkalan dini bendungan Bili-Bili. Hal ini berakibat pada penurunan kapasitas tampung bendungan tersebut yang jika tidak ditangani akan berdampak pada semakin pendeknya umur bendungan atau bahkan justru membahayakan wilayah hilir. Untuk mengatasi hal tersebut hingga saat ini telah di bangun 27 Sabo atau disebut sebagai Sand pocket yang berfungsi sebagai penampung material materlial agar tidak masuk kedalam bendungan.

Penambangan Batu di Sekitaran Sabo atau Sand Pocket yang Sebenarnya Membatu Pengendalian Sedimen Waduk Namun dalam Kondisi Tertentu Justru Sudah Mulai Merusak Fungsi Sabo dalam Menjaga Laju Sedimentasi di Waduk Bili Bili. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di sekitaran sand pocket itu kini menjadi wilayah tambang batu dan pasir yang sangat menjanjikan. Dalam kadar tertentu dan teratur sebenarnya penambangan ini membantu fungsi sand pocket agar ruang untuk pengendapan material tetap terjaga. namun yang terjadi saat ini seperti yang diceritakan salah satu petugas, para penambang justru mulai mengganggu fungsi sand pocket karena menambang dan memakan badan sungai yang mengakibatkan sungai menjadi semakin lebar dan fungsi sand pocket pun berkurang keefektifannnya sehingga saat terjadi banjir Awal Januari 2019 lalu 2 San Pocket pun rusak parah. Dengan rusaknya dua sand pocket tersebut tentunya berkurang pula fungsi perlindungan sand pocket untuk melindungi laju pendangkalan di Bendungan Bili Bili yang sangat tinggi. Hal ini tentunya berbahaya dan dapat menjadi bom waktu yang akan memberikan dampak besar dikemudian hari.

Untuk mengatasi hal tersebut saat ini para pengambil keputusan sedang melakukan berbagai cara seperti perbaikan dan penambahan peralatan guna mengeruk sedimen yang ada di bendungan dan menambah sand pocket di atas bendungan bili bili guna mengurangi laju pergerakan material longsoran dari Gunung Bawakaraeng. tentunya hal tersebut masih kurang efektif jika penambangan di sekitaran Sungai Jeneberang masih semasif sekarang dan tanpa pengaturan dan manajemen yang lebih baik lagi. Kita tentunya tidak dapat begitu saja, mematikan kegiatan ekonomi penambangan disana, dan justru sebenarnya dalam dosis yang pas penambangan tersebut sangat membantu dalam pengurangan sedimentasi. Untuk hal tersebut tentu perlu ada penataan kembali dan usaha serius dari berbagai pihak untuk mencarikan jalan keluar terbaik dan solusi yang saling menguntungkan dan tidak membahayakan masyarakat lain.

Ini Hanya Sebuah Cerita yang Tertutup oleh “Ketidaktahuan” dalam gelapnya menapaki jejak di Dunia Digital

Waduk Bili Bili, Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan yang tampak megah dan Indah, Untuk pengoperasiannya agar optimal perlu dukungan dari berbagai pihak agar fungsi fusngi bendungan dalam mengendalikan air saat banjir, sumber air pdam, listrik dan pengairan sawah tetap terjaga. (Sumber Foto: Kompas Regional)

Jika kita menelusuri informasi kejadian terkait banjir yang terjadi di Sulawesi Selatan, disana banyak dikatakan bahwa pembukaan bendungan Bili-Bili merupakan penyebabnya. Hal itu bukan lah suatu yang salah, pada kenyataannya bendungan Bili-Bili lah yang menyebabkan banjir yang terjadi di Sulawesi Selatan pada akhir Januari lalu menjadi begitu besar. Dengan adanya pembukaan bendungan bili bili masa air yang sebelumnya sudah banyak menggenangi bagian hilir Sungai Jeneberang menjadi semakin tergenang saat Bendungan Bili-Bili di buka. Akan tetapi kita perlu juga ingat bahwa tentunya pilihan untuk pembukaan waduk tersebut bukanlah pilihan yang mudah, dan mereka telah menentukan pilihan terbaik diantara yang buruk. Kita perlu lah mengapresiasi hal tersebut dan mengapresiasi pula keberanian mereka menentukan pilahan pelik tersebut.

Peristiwa di Bili-Bili mengajarkan saya akan suatu hal, bahwa kita bukanlah siapa siapa, dan tidak tahu apa apa jadi janganlah dengan mudah menyimpulkan suatu hal tanpa menanyakan langsung kepada orang orang yang terlibat. Informasi informasi yang bertebaran saat ini memang begitu mudah dan cepat kita dapatkan, namun sayangnya banyak dari informasi informasi tersebut telah terkontaminasi oleh pemikiran pemikiran subyektif dari para penulisnya (termasuk saya hehehe). Kasus Bili bili ini hanyalah sebuah cerita dari sekian banyak cerita yang tertutup oleh “Ketidaktahuan” dalam gelapnya menapaki jejak dalam dunia Digital.

Sekian dari saya, saya rasa sudah lagi lagi terlalu panjang. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Salam,

Dewa Putu AM

BencanaKlimatologiSains AtmosfirUncategorized

Riau Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap

March 1, 2019 — by dewaputuam2

burn-burning-fire-51951-960x627.jpg

Kemarin tanggal 28 Februari 2019, BNPB melalui Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Wisnu Widjaja melakukan konfrensi pers terkait karhutla yang terjadi di Riau akhir akhir ini. Dalam beberapa berita menyebutkan bahwa beliau memprediksi bahwa musim musim karhutla di Riau akan berlangsung terus pada Bulan Maret dan kemudian akan terbakar lagi pada bulan Bulan Juni. Berita berita tersebut tentunya akan menjadi momok yang begitu menakutkan bagi warga Riau dan sekitar mengingat hingga saat ini sekitar 2671 kasus infeksi saluran pernapasan di daerah Dumai dan Sekitarnya (Sumber: Tempo). Jika berkaca pada pengalaman saya waktu bekerja ditengah kabut asap pada tahun 2015 di Tamiang Layang di Kalimantan Tengah terpapar asap itu sungguh tidak nyaman. Baju jadi bau asap dan untuk bernapas rasanya tidak enak karena bercampur bau bau an dan upil jadi lebih banyak diproduksi (hehehe).

Pasien yang terpapar Asap (Sumber: Tempo)

Kembali kepada prediksi bulan Maret dan Juni, Bagi sebagian orang mungkin sedikit dibuat heran dengan banyak berita yang menyebutkan Riau sudah terbakar sejak Januari, Februari. Keheranan ini biasanya dialami oleh orang orang yang tinggal di Daerah Jawa, Bali dan Sumatera bagian Selatan. Hal ini dikarenakan pada bulan bulan tersebut Wilayah Jawa dan sekitar sedang mengalami musim penghujan yang tentunya kecil kemungkinan terjadi kebakaran hutan dan lahan pada waktu waktu tersebut. Dalam Klimatologi, secara sederhana Indonesia memiliki 3 tipe curah hujan umum yaitu tipe curah hujan monsunal, curah hujan equatorial dan curah hujan lokal.

Untuk Permulaan, Kita Salahkan saja Dulu Iklimnya

Wilayah yang memiliki tipe curah hujan Monsunal seperti Jawa, Bali, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara mengalami musim penghujan pada Bulan Januari-Maret dan kemudian akan mengalami kmarau sejak Maret hingga September, kemudian Hujan lagi. Berbeda dengan Monsunal, wilayah wilayah seperti Sumatera bagian Utara hingga Tengah, Kalimantan, Sebagian Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua yang memiliki curah hujan tipe Equatorial justru pada bulan Januari- Maret mengalami musim kering dan kemudian kering lagi pada Mei-Juli. Hal ini lah yang menjadi dasar prediksi BNPB sebelumnya. Pada bulan Maret dan kemudian dilanjutkan Bulan Juni tersebut secara klimatologis Wilayah Riau dan beberapa wilayah yang bertipe equatorial akan mengalami musim kering. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat melalui Gambar dibawah ini.

Sumber (Bayong 1999 melalui Kadarsah[dot]Wordpress[dot]com)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebakaran di Indonesia banyak diakibatkan oleh pembukaan lahan untuk perkebunan. Begitu juga yang saat ini terjadi di Riau. Hal ini disampaikan oleh Raffles B. Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan dimuat dalam Tempo. Beliau menyebutkan bahwa kebakaran lahan di Riau kebanyakan memnag diakibatkan oleh kesengajaan membuka lahan perkebunan kelapa sawit.

Kita Butuh Antibiotik untuk Menangani Karhutla

Jika memang ada unsur kesengajaan disana, maka dapat dikatakan bahwa prediksi prediksi terkait lokasi kebakaran hutan yang selama ini dilakukan para ahli BMKG dengan FDRS-nya dan CCROM dengan kebakaranhutan.id nya, monitoring air tanah oleh Badar Restorasi Gambut, monitoring hotspot oleh LAPAN dan BMKG hanya berguna untuk menebak waktu dan lokasi yang tepat untuk para pembakar melakukan aksinya. Atau setidaknya menebak kira kira dimana para pembakar akan membakar lahan. Saya disini tidak mengatkan bahwa usaha usaha yang instansi instasi tersebut tidak berguna. Apa yang mereka lakukan sangat berguna namun menurut saya ada kurang satu aksi yang sangat penting bukan dari instansi instansi teknis dan juga instansi berbasis riset namun instansi penegak hukum.

Jika saya boleh menganalogikan kebakaran hutan adalah sebuah penyakit, maka usaha dan aksi para Kementerian dan lembaga adalah obat pereda panas, obat pereda batuk dan pengurang rasa mual. Namun agar penyebab gejala gejala tersebut dapat diatasi maka kita perlu Antibiotik yang membunuh sumber (penyebab) gejala gejala penyakit tersebut yang dalam hal ini karena penyakit sebenarnya adalah ulah manusia dan bukan iklim, maupun kelembban tanah maka usaha utama untuk mengendalikannya tidak lain adalah usaha di bidang hukum dan sosial serta ekonomi. Saya menambahkan bidang sosial disini karena tidak semua kegiatan pembakaran tersebut sesederhana yang salah di tangkap dan dipenjara. Ada permasalahan sosial yang kompleks sedang terjadi disana yang tentunya penyelesaiannnya juga harus didekati dengan pendekatan ilmu sosial dan ekonomi.

Pendekatan politik akan melengkapi racikan antibiotik yang sebelumnya sudah diisi dengan hukum, sosial dan ekonomi. Permasalahan ini tentu tidak dapat diatasi oleh remah remah kerupuk kaum proletar seperti saya, suara pun sudah pasti tidak didengar dan di gubris. Butuh banyak kaum elit yang memang mengesampingkan ego pribadi dan sektoralnya untuk menanggulangi masalah ini. Selain mengesampingkan ego, mereka mereka ini juga perlu mengamani dirinya dengan perlindungan berlapis lapis karena yang dihadapi mereka bukan sesuatu yang main main. Ada triliun-triliunan rupiah berputar dan bertarung di mimbar kebakaran hutan dan lahan dari hulu seperti perkebunan-perkebunan hingga hilir seperti usaha usaha pemadamannya penyewaan heli misalnya yang tentunya akan keluar angka fantastis bila dihitung.

View this post on Instagram

Water Bombing

A post shared by dewa putu am (@dewaputuam) on

Pengalaman Naik Heli saat Patroli Aseangames Bebas Asap 2018

Tanpa adanya aksi aksi yang bersifat antibiotik, saya ragu karhutla dapat kita tangani dengan baik dan kita dapat terlepas dari aksi aksi yang hanya berkutat pada tukang memadamkan api. Kita pun akan semakin banyak menemukan berita berita tentang ribuan korban yang berjatuhan karena penyakit pernapasan. Dan kemudian berita tersebut akan dikalahkan oleh berita protesnya para tetangga yang kita asapi sepanjang kemarau. Kita tidak tahu pasti akan sampai sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan, para pecinta alam mungkin akan berkoar koar tentang hilangnya kekayaan hayati indonesia. Namun saya rasa tidak hanya itu, Karhutla tidak lah hanya membakar kekayaan hayati kita, namun membakar pula kekayaan hati kita yang tetap diam melihat orang merendahkan diri dengan menjual nyawa dan masa depan jutaan orang hanya demi uang semata (omong kosong sekali ya hehehe). yah tapi jauh dari itu, kita membutuhkan antibiotik untuk permasalahan karhutla, ntah itu secara harfiah berarti “bersifat Anti-bio” atau secara tersirat saja sudah cukup.

Tanpa itu semua Riau dan Wilayah lainnya akan Tetap Berkobar, Membara dan Kemudian Meng-Asap #Mungkinselamanya hingga pohon terakhir tumbang dan berakhir pada musium yang bertuliskan “Dulu sekali kami memiliki hutan yang kaya namun kami gagal menjaganya”

(Dewa Putu AM, 2019)

Sekian dari saya, kalau saya ulik ulik lebih dalam lagi akan berbahaya hehehe saya masih sayang nyawa. Akhir kata

Salam

Dewa Putu AM.

Sumber Featured Image Pixabay.com

MeteorologiPopular TheoryPsikologiSains AtmosfirUncategorized

Siklus Pipis Dinosaurus

February 12, 2019 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2019-02-11-at-11.17.44-PM-960x509.jpeg

Hujan ini dari pipisnya siapa, dalam hati ku berguman sambil berbicara sendiri. Jari jemari pada lengan kiriku sendari tadi sibuk menunjuk butir hujan satu persatu. Sedangkan jari pada lengan lainnya mengatup dan bergerak lincah seakan sedang menghitung sesuatu. Tetiba keheningan sirna akan celetukan orang di samping yang tidak tahu sudah sejak kapan ada di sana “Wa,.. lu seorang Pluviophile ya?” tanyanya. Mendengar pertanyaan tersebut, saya menghentikan kegiatan saya dan memandang matanya dengan tajam, sejenak saya berpikir dan kemudian menjawab pertanyaannya dengan perlahan. “Pluviophile tu apa ya, saya baru dengar istilah itu e?” Saya menjawab sekenanya.

Mendengar jawaban tersebut teman saya membalikan badan dan kemudian berlalu begitu saja tanpa alasan yang jelas. Yah, kira kira begitu saja untuk paragraf intro dalam tulisan saya kali ini, cukup sederhana dan saya rasa lumayan tidak bagus dan tidak mewakili inti dari semua yang akan saya tuliskan dalam postingan kali ini.

View this post on Instagram

Djakarta Kini persi Diagonal

A post shared by dewa putu am (@dewaputuam) on

Secara sederhana Pluviophile dapat diartikan sebagai orang yang suka hujan, saat hujan seorang seperti ini dapat menemukan kedamaian dari kenikmatan tersendiri. Menurut saya pengertian diatas merupakan pengertian yang aneh dan saya tidak bisa habis pikir kenapa ada orang yang begitu menyukai hujan dan menemukan kedamaian didalamnya. Yah meskipun saya akui Pluviophile merupakan istilah yang cukup keren terbacanya, jadinya saya masukan kata tersebut dalam deskripsi akun instagram saya hehehe. Saya memang bukan seorang Pluviophile karena menurut saya hujan merupakan suatu fenomena cuaca biasa dan bukanlah sesuatu yang lebih spesial dari fenomena fenomena lainnya tidak lebih dari itu dan tentunya tidak juga kurang.

Siklus Pipis Dinosaurus

Kenapa saya tidak begitu suka dengan hujan, namun tidak bisa dikatakan bahwa saya tidak suka hujan juga. Saya hanya berpikir bahwa hujan hanyalah hujan sama dengan cerah yang hanyalah cerah. Namun sebenarnya ada satu hal menarik dari hujan. Apakah kalian menyadari nbahwa dalam setiap kejadian hujan, air yang turun adalah air yang sama dengan air pipis dari dinosaurus, air yang sama juga dengan air pipis kita hehehe, hanya saja air tersebut tidak serta merta terbang kelangit dan kemudian turun sebagai hujan. Dan mungkin lucunya lagi air yang sama itu juga yang selama ini kita minum hiyaksss,…. X____X

Saya akan coba menceritakan sedikit tentang siklus hidrologi yang dimulai dari pipis dinosaurus yang menguasai dunia selama 168 juta tahun. Dalam waktu tersebut cukup ,logis bila mereka untuk minum dan kemudian menghasilkan urine dalam jumlah yang melimpah. AIr urine dinosaurus yang melimpah ini kemudian jatuh ketanah dan atau ke sungai kemudian menuju laut. Beberapa air terserap tumbuhan untuk keperluan evapotranspirasi sedangkan sebagian lainnya masuk ke laut dan kemudian terevaporasi. Kedua proses tersebut (evaporasi dan transpirasi) kemudian masuk ke atmosfer dan terkonsentrasi membentuk butir butir awan. Awan yang sudah jenuh kemudian turun menjadi hujan.

Proses tersebut terus berlangsung hingga saat ini, entah sudah berapa kali si pipis dinosaurus tersebut berputar putar di darat laut dan udara dan beberapa kali pula telah diminum dan menjadi pipis makhluk lain lagi. Dan kemudian manusia datang meminum air tersebut hehehe. Untuk lebih terkait kita yang minum pipis dinosaurus dijelaskan dengan cakep di video dibawah ini.

Meskipun kita meminum pipis dinosaurus, dan pipis pipis makhluk sebelum kita, tapi kita patut bangga karena kita juga minum pipis nenek moyang kita #LuarBiasa. Oleh karea itu kita tidaklah boleh berbesar hati, dan berkata kita lebih hebat dari masa lalu, kita lebih unggul dan saat ini adalah kemajuan yang sangat hebat. Sehebat hebatnya kita, seprimitif primitifnya nenek moyang dan kebudayaan terdahulu, tetap kitalah yang minum urin mereka. Bagian ini sengaja saya tulis agar dalam posting saya kali ini ada sedikit pesan moralnya #Itu.

Sekian dari saya, Terimakasih karena telah membaca tulisan saya yang sedikit ngelantur ini dan kembali ke gaya penulisan masa masa awal nulis dulu. Salam hangat dari saya

Dewa Putu AM

BencanaMeteorologiSains AtmosfirUncategorized

Musim Hujan 2019 dan Bencana

January 13, 2019 — by dewaputuam0

Bencana-960x679.jpg

Musim Hujan 2019 dan Bencana. Dari judul yang saya pilih, bisa dilihat bahwa pada tulisan kali ini saya akan membahas suatu issu yang sedang seksi-seksinya dibahas penghujung tahun 2018 hingga awal tahun 2019. Dari kalangan muda hingga tua, cebong hingga kampret, dari orang orang yang expert dibidangnya hingga orang yang masih polos banyak membahas hal ini. Bencana dan manajemennya semakin populer di bicarakan oleh masyarakat Indonesia sejak kejadian kejadian bencana besar yang secara terus menerus terjadi dari Gempa Lombok, Gempa Sulawesi Tengah, Tsunami Selat Sunda hingga yang terbaru adalah tanah Longsor di Cisolok.

Dampak dari bencana bencana seperti gempa Bumi dan Tsunami bahkan saat ini kita di kenalkan bencana yang bernama likuifaksi memanglah besar, namun secara teori bencana bencana seperti ini memiliki periode ulang yang sangat panjang atau dengan kata lain kejadian bencana bencana tersebut sebenarnya langka. Kecuali memang kejadian gempa bumi yang jika kita amati sebenarnya terjadi setiap hari di Indonesia. Saya menyebut “kejadian gempa” secara sengaja agar membedakan gempa yang hanya sebuah kejadian dan gempa yang telah berubah menjadi bencana. Kedua hal itu adalah istilah yang berbeda, yang satu hanya sekilas lalu, sedangkan bencana itu yang memberikan dampak signifikan bagi kehidupan, penghidupan dan hidup kita sebagai manusia. Jadi meski “kejadian gempa” sering terjadi namun kejadian “bencana gempa” seperti Lombok dan Palu adalah kejadian yang langka (dan mudah mudahan akan seperti itu, itu harapan kita semua bukan?).

Dominasi Bencana Hidrometeorologi dan Dampaknya

Ada suatu fakta yang menarik, terlepas dari jumlah kejadian gempa yang sudah seperti jadwal belajar anak SMA (sering banget) namun seperti yang saya sebut sebelumnya itu hanya kejadian biasa dan alami dan belum menjadi bencana dan sebenarnya bencana yang paling sering terjadi hingga mendominasi kejadian Bencana di Indonesia adalah Bencana Hidrometeorologi yakni sekitar 90% dari total keseluruhan kejadian Bencana (ini menurut catatan BNPB).

Longsor Cisolok

Bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang terjadi karena dipicu oleh faktor faktor hidrometeorologi. Bencana-bencana yang masuk kedalam komplotan bencana hidrometeorologi antara lain (banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, dan kebakaran hutan). Dampak dari bencana Hidrometeorologi tentu tidak dapat kita abaikan begitu saja. Salah satu kejadian bencana hidrometeorologi yang baru baru ini terjadi adalah kejadian longsor di Cisolok Kabupaten Sukabumi yang mengakibatkan 30-an orang meninggal dunia. Kejadian kejadian bencana hidrometeorologi sebenarnya telah dapat diprediksi dan tentu telah dipublikasikan oleh Kementrian/ Lembaga terkait, yah meski kita akui terkadang masih banyak false alarm. Contoh lembaga yang secara rutin memberikan peringatan dini gerakan tanah adalah PVMBG melalui link vsi PVMBGnya (http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gerakan-tanah/peringatan-dini-gerakan-tanah) Dalam situsnya PVMBG dengan rutin memberikan peringatan lokasi lokasi yang memiliki peluang besar terjadi Gerakan Tanah (Longsor) setiap Bulan berdasarkan informasi tingkat ancaman gerakan tanah dan prediksi curah hujan pada bulan tersebut.

Bencana Hidrometeorologi di Musim Hujan 2019?

Bencana hidrometeorologi merupakan komplotan bencana yang faktor pemicunya berupa kejadian kejadian yang berkaitan dengan fenomena hidrometeorologi seperti hujan. Pada musim penghujan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang dan cuaca ekstrim biasanya akan semakin sering terjadi di wilayah Indonesia. Hingga 12 Januari 2018 tercatat setidaknya telah terjadi bencana Hidrometeorologi di 17 kabupaten di Indonesia.

  • 4 Kejadian Banjir di kabupaten Aceh, Banten, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan
  • 2 Kejadian Banjir Bandang di Kuningan dan Sanggau
  • 1 Kejadian Banjir dan Tanah Longsor di jayapura
  • 7 Kejadian Cuaca Ekstrim di Karawang, Bandung, Cirebon Magelang, Nganjuk, Pinrang dan Luwu
  • 1 Kejadian Tanah Longsor di Sukabumi
  • 2 Kejadian kebakaran Hutan di Aceh Jaya dan Bengkalis
Kejadian Bencana Hidrometeorologi 2019

Pada musim penghujan jumlah kejadian bencana hidrometeorologi biasanya akan mengalami peningkatan baik intensitas maupun frekuensi kejadiannya. Potensi terjadinya bencana hidrometeorologi akan terus meningkat hingga puncak musim penghujan yang pada beberapa daerah di Indonesia terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Untuk mengatasi hal tersebut sudah sepantasnya kita bisa melakukan persiapan agar dampak yang diakibatkan bencana bencana tersebut dapat diminimalisir. Kegiatan sederhana dan dapat kita lakukan sendiri di tempat tinggal kita adalah:

  • Kita harus mengetahui dan mengenali tempat tinggal kita lebih dekat lagi. Kita harus tahu bencana bencana apa yang sering terjadi di tempat tinggal kita. Biasanya namun tidak selalu nama dari tempat tinggal kita menggambarkan kondisi kondisi terdahulu seperti nama nama yang ada frase rawa, kali, sungai dan segala hal yang berhubungan dengan air bisa jadi tempat tersebut dulunya memang dipenuhi air. Cara lainnya tentu banyak ngobrol dengan orang orang disekitar, tanya apakah tempat kita sering banjir dulunya. Cara lainnya lagi teman teman dapat melihat melalui aplikasi InaRisk yang disediakan oleh BNPB di playstore Android untuk mengetahui risiko bencana apa di sekitar kita.
  • Kita harus selalu memonitor kondisi cuaca di sekitar wilayah kita. Saat ini telah banyak aplikasi yang menyediakan layanan prediksi cuaca. Jika ada potensi hujan lebat atau bahkan hujan lebat disertai petir maka lakukan tindakan tindakan berikut agar terhindar masalah.
    • Jauhi Pohon rindang dan baliho dan objek objek lain yang rawan tumbang. Saat terjadi hujan sangat deras biasanya disertai angin kencang yang bisa saja menumbangkan pohon dan baliho. Jika memiliki pohon pohon besar ada baiknya memangkas sebagian rantingnya agar tidak membahayakan.
    • Letakkan benda benda elektronik dan kabel kabel maupun instalasi listrik lainnya di tempat tinggi agar tidak membahayakan bilamana terjadi banjir.
    • Hindari tebing tebing yang rawan longsor. Dan laporkan ke BPBD setempat bila ditemukan retakan retakan atau mulai miringnya objek objek seperti tiang listrik yang berada di dekat tebing, kejadian longsor biasanya didahului oleh retakan retakan seperti ini dan tiang listrik yang miring menandakan adanya pergerakan tanah.
  • Ketahui jalur jalur evakuasi terdekat dan adakah peringatan dini di sekitar kita seperti kentongan atau lainnya yang biasa digunakan masyarakat untuk mengabarkan kejadian bencana. Jika ada kita perlu mengetahui kesemua itu agar tidak bingung dan dapat merespon dengan baik dan cepat bila benar benar terjadi. Lebih bagus lagi bila kita sekali kali melakukan latihan secara rutin. yah itung itung sembari lari pagi atau jalan jalan santai.
  • Ketahui nomor nomor darurat yang dapat kita hubungi saat kejadian darurat benar terjadi seperti nomor polisi, ambulan dan BPBD. Atau minimal nomor pak RT hehehe.

Saya rasa cukup segitu dulu yang dapat saya tuliskan dalam posting saya ini, sepertinya sudah panjang sekali hehehe. Akhir kata saya ucapkan terimakasih dan semoga kita dapat melalui musim hujan ini dengan seru dan berkah Amiiiiin.

Salam,

Dewa Putu AM