main

BukuHiburanPsikologiSains Populer

[Buku] Sapiens, Kelahiran Umat Manusia (Grafis) karya Yuval Noah Harari

July 4, 2021 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2021-07-04-at-4.09.18-PM-960x590.jpeg
Buku Sapiens Karya Youval Noah Harari, klik link ini untuk membaca ulasan resmi dari sang Penulis terkait buku ini. (Sumber Gambar ynharari.com)

Helo, kembali lagi saya menulis sebuah ulasan dari buku untuk yang kedua di tahun ini. Sebagai informasi, buku Sapiens versi naratif dari pengarang yang sama sebenarnya sudah pernah saya baca pada Bulan Oktober 2017 lalu dengan bintang 5/5 atau bisa dikatakan sempurna. Meskipun dari segi terjemahan buku yang saya baca saat itu agak sedikit saya keluhkan karena beberapa istilah menjadi sangat aneh terbaca.

Kembali ke timeline saat ini. Pada awal tahun 2021 di salah satu toko Buku di Denpasar akhirnya saya menemukan versi grafis buku ini teronggok begitu saja dalam salah satu raknya. Pada awal pertemuan, saya kurang begitu tertarik. Tetapi, berhubung saya sedang butuh  sedikit asupan ide ide baru untuk otak ini yang agaknya sudah bersarang laba laba karena sudah mulai jarang diajak mengunyah be-bukuan segar terlebih penilaian saya di buku versi narasinya cukup baik, maka dengan berpikir cukup panjang akhirnya saya coba membawa pulang buku.

Seperti dugaan saya sebelum saya membeli buku ini, ia ternyata terdiam sunyi di rak buku kosan saya. Hingga pada waktunya akhirnya setelah kepercayaan diri dan minat saya untuk membaca buku kembali hadir akhirnya dengan ini saya umumkan buku ini mampu saya selesai baca dalam waktu 2 malam. 🙂

Mungkin sudah cukup ya pembukaan dari tulisan saya saat ini, kita mulai dengan ulasannya. Semoga bermanfaat bagi teman teman pembaca, yang secara sengaja ataupun tidak sengaja mampir ke blog saya ini.

Mirip Kisah Superhero, Cerita Sapiens Diawali Dari Sekedar Makhluk Lemah Pinggiran Sabana

Kondisi awal Sapiens pada dasarnya bukan makhluk yang dominan dan bukan pula makhluk yang dianugerahi kekuatan lebih besar dibandingkan lainnya. Lemah sekali bila dibandingkan hewan hewan yang ada saat itu coba kita bandingkan dengan hewan hewan prasejarah yang jangankan predatornya, herbiforanya pun berukuran besar besar dan akan mudah ditebak siapa yang kalah bila kita pertandingkan Sapiens dengan hewan hewan lainnya. 

Salah satu keunggulan kita dibandingkan dengan hewan hewan lainnya adalah Otak kita. Bila dibandingkan dengan hewan hewan dengan bobot yang kira kira serupa, otak Sapiens sangat besar. Sebagai gambaran otak Simpanse sebesar 400 CM3, Domba 122 CM3 dan Homo Erectus sebesar 900 CM3, Sedangkan Sapiens 1300 CM3. Tapi perlu kita ketahui juga bahwa Sapiens masih kalah dengan Homo Neanderthal yang memiliki volume otak 1500 CM3.

Besarnya volume otak sapiens mengakibatkan beberapa implikasi pada besarnya kebutuhan energi untuk menyokong kerja otak. Meskipun bobot otak hanya sebesar 8% dari bobot tubuh keseluruhan, namun energi yang dibutuhkan mencapai 25%. Selain pada otak, energi juga perlu dialirkan ke jaringan saraf yang ada di seluruh tubuh, hal ini mengakibatkan proporsi energi yang dialirkan kepada otot jadi lebih kecil dibandingkan hewan lainnya sehingga Sapiens relatif memiliki kekuatan fisik yang lemah.

Selain dengan otaknya, Sapiens yang berjalan tegak dengan dua kaki juga memberikan beberapa keuntungan. Dengan berjalan tegak seperti itu, semakin banyak yang dapat dilakukan Sapiens menggunakan tangannya yang seiring proses evolusi yang berlangsung lama, jaringan saraf dan otot rumit berkembang di telapak tangan dan jemari sehingga penggunaan tangan oleh sapiens makin berkembang dari proses proses sederhana hingga proses rumit lainnya dari membuat dan menggunakan perkakas kompleks hingga sekarang sapiens mampu membuat berbagai hal.

Video Promosi dari Buku Sapiens, Kelahiran Umat Manusia (Grafis) karya Yuval Noah Harari dalam kanal Youtubenya

Menyesuaikan posisi tegak membawa tantangan tersendiri terutama punggung dan leher yang harus menyokong kepala dan bobot tubuh yang relatif besar. Itulah mengapa Sapiens sering sakit punggung ataupun leher. Dan perempuan membayar hal tersebut dengan lebih mahal. Berjalan tegak perlu pinggul yang lebih kecil dan mempersempit saluran peranakan, padahal bayi Sapiens justru membesar.Hingga seiring berjalannya proses evolusi, perempuan yang melahirkan bayi lebih dini dengan  otak dan kepala yang masih relatif kecil akan lebih mudah bertahan sehingga jika dibandingkan dengan hewan hewan lainnya yang bisa berdiri dan berjalan beberapa saat setelah terlahir, Sapiens terlahir prematur. 

Kondisi demikian yang menyebabkan membesarkan anak Sapiens selalu butuh bantuan anggota keluarga dan tetangga. Butuh sesuku untuk membesarkan seorang Sapiens. Itu sebabnya evolusi mengunggulkan manusia yang bisa membentuk ikatan sosial yang kuat. 

Secara paradoks, ketidakberdayaan bayi Sapiens ternyata merupakan berkah. Artinya Sapiens harus mengembangkan keterampilan sosial. Karena terlahir belum berkembang sempurna, sapiens dapat dididik dan menjalani sosialisasi jauh lebih baik dari hewan lain. 

Kalau dianalogikan, kebanyakan hewan lain terlahir bagaikan tembikar hingga upaya apapun untuk mengubah mereka hanya akan menggores atau mematahkan mereka. Sedangkan Sapiens bagaikan gelas meleleh yang bisa dipelintir, direntangkan dan dibentuk dengan keluwesan yang mengejutkan.

Sapiens Sang Maestro Fiksi yang Menjadi Unggul Karena Mereka Suka Bergosip dan Menjunjung Mitos 

Fiksi, meskipun terlihat sepele namun ternyata perannya dalam kehidupan kita sebagai manusia sangat lah besar dan menjadi salah satu aktor penting dalam perkembangan Sapiens hingga saat ini (Photo by Artem Podrez from Pexels)

Dalam duel satu lawan satu mungkin Sapiens akan kalah secara telak, namun dalam kemampuan membentuk koloni serta bekerja sama dalam jumlah yang sangat besar meskipun tidak saling mengenal Sapiens bisa dikatakan tak tertandingi bahkan  bila dibandingkan dengan keluarga lainnya yang telah punah. Kekuatan ini juga bisa dikatakan lebih dinamis bila dibandingkan dengan hewan hewan koloni seperti lebah dan rayap yang cenderung memiliki sistem yang sangat rigid sehingga bila terjadi masalah baik lebah maupun rayap tidak akan mampu menciptakan ulang sistem untuk mengatasi masalah tersebut. Koloni rayap tidak akan bisa membunuh ratu rayap dan membangun republik rayap.

Kemampuan untuk membangun sistem koloni pada sapiens tidak lepas dari cara berkomunikasi mereka yang dalam hal ini dapat dikatakan sebagai Maestro Fiksi. Kemampuan berkomunikasi pada Sapiens tidak hanya mampu menjelaskan objek objek fisik dan fakta saja, seperti adanya harimau, adanya makanan dan berbagai informasi serupa lainnya. 

Namun lebih dari itu sistem komunikasi sapiens bisa digunakan untuk menggambarkan situasi dengan lebih rinci dan yang terpenting lagi, mereka bisa mengarang kisah kisah fiksi dari keberadaan Sapiens dengan kepala harimau, keberadaan roh roh penunggu, entitas sebuah perusahaan, negara dan hal lainnya. Berdasarkan kepercayaan akan fiksi dan mitos itulah Sapiens berkenan mencurahkan pikiran, kekuatan dan energinya untuk melakukan kerjasama untuk  tujuan yang sama pada mitos tersebut.

Semua hal ini mengandalkan keterampilan kognitif yang sangat istimewa menggagas, mengingat mempelajari dan berkomunikasi. Keterampilan kognitif itu muncul sekitar 70.000 tahun silam dalam apa yang disebut sebagai Revolusi Kognitif. Sejak saat itu Sapiens selalu hidup dalam realitas ganda. Dari satu sisi realitas objektif berupa sungai pepohonan dan singa. Di sisi lain ada realitas yang diimajinasikan berupa Dewa Dewi, bangsa dan Perusahaan. Seiring berjalannya waktu, realitas yang dikhayalkan tersebut semakin digdaya. Sehingga kini kelestarian sungai, pohon dan singa bergantung pada kemurahan hati entitas yang diimajinasikan seperti Dewa Dewi, Negara Negara seperti Amerika Serikat, Indonesia, dan perusahaan-perusahaan seperti Google, Perkebunan Kelapa Sawit. 

Namun terlepas dari semua itu, perlu diakui bahwa kemampuan kita menciptakan realitas yang diimajinasikan dari kata kata memungkinkan banyak orang yang tak saling kenal bekerja sama secara efektif.

Penilaian Umum saya Terhadap Buku Sapiens, Kelahiran Umat Manusia (Grafis) karya Yuval Noah Harari

Secara umum saya sangat menikmati bagaimana Profesor Harari menceritakan perjalanan kita umat manusia (Sapiens) dalam proses kelahiran serta perkembangan awalnya. Menyenangkan dan banyak hal yang membuka pikiran saya ternyata berdiri dengan kedua kaki akan sebesar itu pengaruhnya dan juga peran dari Fiksi (Gosip) juga sebesar itu.

Banyak sekali wawasan yang saya dapatkan dari buku ini, dan akan sangat panjang bila saya tuliskan dalam sebuah posting dalam blog ini seperti bagaimana peran dari warisan nenek moyang kita saat Berburu Mengumpul, bagaimana Spesies kerabat Sapiens lainnya menghilang, dan juga diakhiri dengan kenyataan pahit tentang bagaimana Sapiens harus bertanggung jawab pada kerusakan ekologi serta kepunahan massal dari berbagai macam makhluk hidup baik di Daratan Australia hingga Daratan Amerika dengan makhluk hidup yang eksotis dan sebenarnya sangat disayangkan bila menghilang begitu saja.

Buku ini akan cocok dibaca bagi teman teman yang merasa ingin tahu dengan bagaimana manusia berkambang dan bereovolusi dengan cara penyampaiannya yang singkat dan ringan. Sekedar iseng ya tetapi saya yakin akan banyak hal bermanfaat yang teman teman dapatkan jika menyempatkan waktu untuk membaca buku ini.

Cara penyampaiannya melalui komik juga menjadi nilai tersendiri pada buku ini. Yang menariknya ternyata buku ini tidak hanya sebuah buku narasi yang dipaksakan untuk dibuatkan sebuah komik. Namun dari segi penceritaannya terlihat sekali dibuatkan secara sungguh sungguh dan mengalir bagaikan komik komik pada umumnya dengan berbagai permasalahan dan sedikit lelucon yang dibawakan tim penulis yang saya rasa sangat cukup dan tidak berlebih.

Jika dirangkum dengan semua kekerenan yang saya sebutkan tadi. Buku ini tetap layak diberikan nilai 5 dari 5 bintang, sama seperti buku versi naratifnya.

Oke sampai disini saja tulisan saya hari ini. Terimakasih atas kesediaan teman teman dengan membaca tulisan saya ini. Sampai jumpa lagi

Salam

Dewa Putu AM

Daily LifeOpiniPsikologi

[Re-Resolusi] Pengelolaan Keuangan, Saja?

February 6, 2021 — by dewaputuam0

pexels-karolina-grabowska-4386421-960x640.jpg

Helo, Salam Cuan hehehe, 

Berhubung di sekitar saya sekarang sedang ramai ramainya tag yang berhubungan dengan hal tersebut (Investasi, Saham, Cuan, dan lain sebagainya). Harus saya akui kalau dilihat-lihat saya juga masuk sebagai angkatan baru di pasar saham yang bertepatan dengan pandemi corona, bahkan ada beberapa senior yang menyebut kami kami ini sebagai Angkatan Corona atau Coronials. Tidak terlihat cukup baik sik tapi tidak terlalu buruk juga, nice lah hehehe. Jumlah kami cukup banyak btw, lebih dari 527 ribu orang atau meningkat 47,71% dari 2019 (Sumber Berita). 

Hingar bingar Sobat Cuan dalam mengumpulkan keping keping uang (Photo by Pixabay from Pexels)

Namun di balik hingar bingar jumlahnya yang sangat besar tersebut ternyata banyak pula yang terjun bebas tanpa persiapan dan dasar hingga dalam aksinya seringkali hanya ikut-ikutan semata. (termasuk saya mungkin) sehingga banyak dari Coronilas tersebut alih alih mengelola nafsu dan mendapat keuntungan mereka justru mengalami kerugian yang mungkin tidak dapat dikatakan kecil. Saya tidak membahas hal ini dalam tulisan saya, mengingat sudah banyak orang orang yang kece dan berpengalaman membahasnya seperti dua youtuber yang menjadi salah satu sumber informasi dan tempat saya belajar ringan tentang dunia investasi  Andika Sutoro Putra atau Felicia Putri Tjiasaka

Tidak hanya Sekedar Berinvestasi, namun Menata Kembali Keuangan

Pada tulisan ini saya ingin mencoba sedikit berbagi dengan teman-teman yang menurut saya justru lebih penting dan mendasar dari sekedar investasi. Hal ini juga beberapa kali disebutkan oleh beberapa orang yang menjadi panutan saya (termasuk Robert Kiyosaki, dalam bukunya Rich Dad, Poor Dad). Ini tentang pengelolaan Keuangan.  

Namun, dari apa yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan, saya mulai menyadari sesuatu hal, Investasi itu hanya sebagian kecil aspek dalam pengelolaan keuangan, hal inilah yang kemudian saya jadikan sebagai salah satu resolusi saya di tahun 2019 dan 2020 (Link). Pada dua tahun tersebut saya sedikit demi sedikit mulai merapikan pengelolaan keuangan saya. Beberapa poin utama yang saya lakukan sebagai berikut:

  1. Rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran dari hal yang menghabiskan biaya besar seperti membeli Laptop hingga hal remeh seperti membayar karcis parkir 2000 rupiah. Semua itu tercatat dengan rapi sejak 2019 sehingga aliran uang saya termonitor ke mana mana saja (tentu banyak ke jajan hehehe).
  2. Menyiapkan Dana Darurat dan “Dana Alokasi Khusus”, ini saya siapkan karena di akhir tahun 2019 lalu saya resign dari kantor lama dan memulai usaha baru dengan teman teman dan untuk itu saya berusaha mengamankan dahulu dana darurat kalau sewaktu-waktu apa yang saya lakukan tidak berjalan dengan mulus. Namun puji tuhan ternyata sangat mulus dan dapat kesempatan lain lainnya, hingga selain dana darurat juga saya sudah mengumpulkan dana Alokasi Khusus, untuk menikah hehehe.
  3. Mengelola Investasi, setelah kedua hal tersebut saya amankan, saya mulai merambah ke beberapa produk Investasi.Karena pada tahun 2019 saya masih fokus pada dana darurat, yang juga saya jadikan juga sebagai investasi, jadi saya cenderung bermain aman dengan menggunakan Emas dan Reksa Dana. Agar dari segi likuiditas masih aman dan dapat dipakai sewaktu waktu meski untuk reksa dana membutuhkan waktu sedikit lama dalam pencairannya yakni 2-3 hari kerja. Hingga masuk pada pertengahan tahun 2020, di tengah pandemi corona saya pun memanfaatkan momen tersebut untuk masuk ke produk investasi yang lebih agresif dan berisiko yakni Saham bersama Coronials lainnya. Namun alih alih membeli saham yang trend saya justru hanya berani pada saham saham yang menurut saya menjadi unggulan di 3 sektor saja (Perbankan BBRI, Konsumer ICBP, dan satu lagi TLKM, saya tidak tahu TLKM itu masuk sektor apa hehehe).

Dari pengelolaan keuangan tersebut sedikit demi sedikit ada perbaikan baik dalam pola pikir saya tentang uang dan bagaimana mengelolanya. Saya terus belajar dari berbagai sumber, tulis tulisan di medium, berita, youtube bahkan dari Tik Tok. Setiap bulannya, saya alokasikan sebagian penghasilan ke produk produk investasi yang saya miliki tergantung mana yang menurut saya harganya sedang masuk akal (diskon) biasanya saya akan alokasikan lebih besar disitu dibandingkan pada produk yang sedang gila-gilanya menghasilkan keuntungan, Istilah kerennya strategi “Average Down”. Beberapa prinsip yang saya pegang dalam pengelolaan keuangan adalah jangan taruh telur dalam satu keranjang, kelola emosi saat mengelola uang jangan terlalu nafsu, dan terakhir sisakan sedikit keraguan dalam setiap aksi yang kita lakukan.  Memang ketiga prinsip itu masih belum sempurna saya jalankan sehingga masih sering saya melakukan kesalahan dengan melakukan pembelian barang barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan (Boros). 

Dari Sekedar Menata Keuangan, Kini Ku ingin Menata Nilai

Meskipun cukup puas melihat hasil dari perbaikan pengelolaan keuangan saya di tahun 2019 dan 2020, namun saya merasa ada sesuatu yang kurang di situ. Entah kenapa, meskipun dari segi finansial sudah ada peningkatan yang cukup baik, saya merasa hampa dan nista. Saya merasa ini bukan lah saya.

Kenapa semua hanya berkutat tentang uang. Saya berpikir dan berdiskusi dengan beberapa orang tentang hal ini dan kembali merefleksikan hal hal lampau yang membuat saya bahagia dan bisa sampai di sini, timbul suatu pertanyaan besar. Dimanakah posisi uang, dan apa itu uang. Cukup naif memang bila kita menafikan arti penting dari uang. Namun cukup nista pula bila kita mengaitkan semua hal itu dengan uang. Hingga pada jumat lalu saya mendapatkan sebuah gagasan yang saya rasa sebuah rantai terputus dari apa yang menjadi kegelisahan saya selama ini, sebuah gagasan dari video yang berjudul Escaping the Rat Race: What School Failed to Teach You About Money karya James Jani. Dalam video tersebut, uang tidak hanya didefinisikan sebagai alat tukar, sebuah media untuk membayar tagihan, barang, ataupun jasa.

Uang hanyalah salah satu ekspresi/representasi dari sebuah nilai. Salah satu media kita untuk memberikan dan menilai suatu produk baik barang maupun jasa. Dengan definisi ini saya berpikir bahwa salah jika kita selama ini terus berfokus pada uang. Hal esensial yang perlu kita perhatikan seharusnya bukanlah uang, melainkan “Nilai”.

Kita sudah lama tenggelam dalam (Photo by Luca Nardone from Pexels)

Hal ini kemudian menjelaskan kenapa seseorang dalam waktu yang sama namun dapat menghasilkan uang yang jauh berbeda, karena seseorang tersebut memiliki nilai yang lebih untuk kemudian diekspresikan dalam bentuk uang. Sama seperti uang, nilai pun perlu kita kelola dengan baik agar memberikan hasil yang baik. Untuk mencapai itu saya rasa sudah saatnya saya menggeser sedikit target resolusi saya di tahun 2021 dan beberapa tahun kedepan yakni pada “perbaikan tata kelola nilai”. Jika kita analogikan seperti pengelolaan uang maka strategi perbaikan nilai yang menurut saya penting untuk diperhatikan adalah sebagai berikut:

  1. Memonitoring nilai kita, ini hal yang sulit namun tanpa mengetahui dimana posisi kita dan tanpa tujuan yang jelas seperti apa kita ingin dinilai maka tidak akan ada perbaikan nilai yang signifikan dapat kita lakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara lebih sering melakukan refleksi diri tentang apa apa yang telah terjadi dan apa apa saja yang telah kita lakukan untuk menyikapi apa yang terjadi tersebut. Dari refleksi tersebut terkadang akan timbul beberapa pertanyaan penting yang mengarah pada seharusnya saya bisa seperti ini bila memiliki nilai ini. 
  2. Menyiapkan nilai untuk keperluan darurat mungkin sulit untuk dibayangkan bentuknya seperti apa. Namun menurut saya nilai untuk keperluan darurat sama seperti dana darurat, yang dapat menolong kita atau setidaknya memberikan sedikit waktu kepada kita agar bisa kembali bangkit saat sesuatu terjadi tidak sesuai dengan rencana. Nilai untuk keperluan darurat bersifat esensial dan harus dimiliki oleh kita, dan harus dijaga selalu ada dalam diri kita, Nilai “kejujuran” adalah salah satunya. Dengan nilai kejujuran yang selalu kita bawa, berimbas pada nilai kepercayaan yang tentunya akan banyak akan membantu kita dan sangat kita butuhkan dalam masa masa sulit sekali pun.
  3. Meningkatkan aset dengan berinvestasi pada nilai diri. Jika berkaca lagi kebelakang, jika ditanyakan investasi apakah yang paling berpengaruh pada saya dalam dua tahun terakhir ini? Maka secara abstrak saya akan menjawab investasi pada diri (pada otak). Investasi terbaik yang pernah saya lakukan adalah ketika saya menghabiskan 300k untuk berlangganan pelatihan online terkait data, 150k untuk pelatihan Tableau, membeli buku Data seharga 200k dan 500k untuk bolak balik ke cafe Anomali untuk belajar hal hal baru terkait data sambil menyeruput kopi hangat. Selain semua hal tersebut tentunya ada beberapa investasi yang saya rasa tidak kalah berpengaruhnya dengan apa yang terjadi sekarang, yakni pada jejaring pertemanan dan jejaring rekan kerja seprofesi. 

Memang pada tahun 2020 saya berkutat pada pengelolaan data, namun sembari menyambangi berbagai tempat dan memetakan permasalahan pengelolaan data dan informasi khususnya kebencanaan di Provinsi Bali, saya menyadari ada satu hal yang lebih esensial daripada hanya berkutat pada data dan informasi yakni yang berkaitan dengan “Penyelesaian Masalah”. Nilai ini yang akan saya fokuskan untuk tingkatkan pada 2021, ada beberapa bahan literatur yang sedang saya kumpulkan dan pelajari untuk mencapai hal itu. Doakan ya kawan agar Nilai ku di 2021 ini akan meningkat dibanding tahun tahun sebelumnya. Meskipun tak bisa saya pungkiri konsep “Perbaikan tata kelola nilai” masihlah sangat abstrak untuk dijadikan sebuah fokus resolusi saya di tahun 2021 dan beberapa tahun seterusnya. Namun perlahan dan pasti dari hal abstrak itu saya meyakini akan memberikan hal yang jauh lebih berarti daripada sebelum sebelumnya. 

Menjadi lebih bernilai dan menjadi lebih berarti. Sebuah kata kata yang bagus bukan 🙂

Salam,

Dewa Putu AM.

Feature Photo by Karolina Grabowska from Pexels

BencanaOpiniPsikologiUncategorized

Cerita Tentang Riuh di “Stadion tanpa Pertandingan”

September 22, 2020 — by dewaputuam0

pexels-garret-schappacher-2115874-960x1174.jpg

Hei, bangun kawan.

Tetiba samar suara seseorang membangunkanku, kucoba buka mata dan mulai memasang telinga ini untuk kembali tersadar. Entah berapa lama ku tertidur hingga lupa saat ini sedang berada dimana. Suasana ini begitu asing bagiku. Puluhan, mungkin tidak, ini jelas lebih dari itu. Ratusan pun ku yakin sudah terlewat. Saya rasa ini ribuan. Mungkin sekitar 90 sampai 100 ribu, gumamku dalam hati. Atau kita anggap saja ini 99.354 orang. Kita samakan saja dengan kapasitas tempat duduk Stadion milik klub bola raksasa dunia Barcelona yakni Camp Nou. Angka yang cukup riuh ya. 

“Hei kenapa kamu malah bengong” suara yang membangunkanku kembali muncul dan kali ini tidak samar karena telingaku saat ini sudah mulai terpasang rapi untuk kembali bekerja seperti semula. Kantuk yang terawal tadi bergelayut kuat menutup kelopak mata dan dan menyayupkan ke semua indraku kini tergantikan dengan rasa bingung dan limbung khas layaknya orang yang memang baru bangun dari tidurnya.  

Ramai penonton sepak bola, saya tidak tahu ini stadion mana. Hanya keramaiannya saja yang ingin saya tampilkan dan ingin rasakan di sini (Photo by Riccardo Bresciani from Pexels)

Riuh suara ribuan orang perpaduan antara dengungan lebah madu beradu tidak karuan dengan teriak teriakan khas menyakitkan telinga ku yang baru beberapa detik lalu terlelap tidur bersama indra penglihatan dan indera perasa milikku. Genderang besar, lebih dari satu bergelegar bertabuh-tabuh tidak karuan dan tentu saja tidak membantu sama sekali dalam mengharmoniskan suara lebah dan teriakan orang orang yang ada.  Payah sekali memang, gumamku lagi dalam hati.

“Ku cari cemilan dan kopi dulu ya, sepertinya kamu masih ngantuk ya, dari tadi kulihat mata kamu masih kosong dan belum benar benar disini” Sapa orang tadi dan kemudian berdiri mengorek ngorek saku tasnya mengambil beberapa lembar uang kertas lalu beranjak pergi.

Benar saja, nampaknya ku memang sedang berada di sebuah stadion sepak bola yang sangat megah. Ku melihat sekeliling ku, orang orang disini sangat beraneka ragam. Dari warna rambut sampai warna kulit, meski sebagian jelas terlihat beberapa seperti berasal dari Indonesia, pahatan wajah dan gestur yang khas itu tampaknya masih jelas terlihat dari sekian banyak orang #mungkin. 

Ramai Riuh Mereka Mereka itu di sini, dari Tribun Penonton

Orang orang disekitarku sangat beragam dari usia dini sekali sampai usia senja yang tampaknya menuju malam. Ada yang sendiri duduk termenung sambil memakan cemilan dan minuman ringan. Ada yang berdua mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua. Ada yang bertiga bahkan ada yang rombongan, mungkin mereka itu sekeluarga. Dari kakeknya, neneknya, ibunya, dan cucu cucunya. Mereka bercanda dan bersenda gurau saling melemparkan senyuman dan berbagi camilan. Bahkan sesekali tampak pula seorang ibu yang sedang memangku anaknya yang masih sangat kecil. Heran sih kenapa anak sekecil itu dibawa ke tempat seramai ini. Namun saya membuang jauh jauh pertanyaan itu, ku yakin ada alasan spesifik yang memang mengharuskan anak sekecil itu dibawa kemari. 

Mataku menyapu sekeliling. Perhatianku tertuju pada seorang wanita, mungkin berumur 30 tahunan sedang kesulitan menelpon seseorang diluar sana. Dalam keriuhan seperti ini memang sulit untuk sekedar berbicara via telepon entah itu terganggu oleh keriuhan yang ada atau secara kejam terbawa angin dan membaur entah kemana. Angin tampaknya memang menjadi salah satu yang menghalangi keperluannya itu, sayup sayup suaranya bahkan sampai pada telingaku yang terpaut tiga bangku sebelahnya. Sayup terdengar “Jaga baik baik si kecil ya pa, jangan lupa makan…. Ssskkkkk”. Itu saja yang mampu ku dengar. Tampaknya ia sedang berpesan pada suaminya yang sedang mengurus anak di rumah. 

Ku tersenyum kecil melihatnya. Aneh, kenapa malah si ibunya yang pergi nonton di stadion ini bukan si ayah. Tersenyum senyum kecil ku melihat kejanggalan itu. Belum sempat senyum kecil ini ku tuntaskan, mataku kembali ditunjukan pemandangan yang sulit untuk dilewatkan. Seseorang di bawah ku sedang mengetikan sesuatu pesan pada ibunya. 

“Bagaimana kabar ibu di rumah?” ,.. Begitu kira kira sekilas pesan yang “tak sengaja” terbaca olehku. Oke, harus ku akui itu bukan tidak sengaja tapi memang sengaja ku lirik dengan sedikit trik (mengikat tali sepatu untuk menunduk dan mengintip pesan itu hehe). Laki laki seumuranku ini ternyata sedang mengirim pesan kepada ibunya.

Ku terus menyisir melihat hal hal yang kuanggap menarik untuk dilihat lagi, banyak sekali hal unik di sini. Entah apa yang mereka tunggu sendari tadi. Lapangan hijau di bawah sana belum ada tanda tanda akan ada sebuah pertandingan, disini juga tidak ada tanda tanda konser besar apalagi sebuah kampanye politik. Entah apa yang mereka tonton dari tadi. Untuk apa mereka bersorak bila tak ada pertandingan yang sedang mereka tonton, untuk apa pula mereka bersedih.

Ku berpikir kejanggalan-kejanggalan yang sebelumnya tidak tertangkap oleh sapuan mata ini kini mulai muncul perlahan lahan. Kenapa mereka ini, apa yang sedang mereka tontong. Mereka berpakaian biasa, bahkan ada yang berpakaian yang tidak umum kita temukan dalam sebuah pertandingan bola. Semula ku menganggap memang kostum kreatif mereka yang sedikit nyeleneh, sama seperti pertandingan bola yang terkadang ada saja yang berkostum aneh namun meriah. Namun kali ini berbeda, aneh dan tidak meriah bercampur jadi satu. Berbaju seperti dokter lengkap dengan masker dan perangkat seram lainnya. Meski ada yang berkaus bola namun kebanyakan dari mereka berpakaian biasa dari T-shirt biasa hingga jas yang rapi. Apakah ini memang pertandingan bola memang temanya tidak umum.

Ini minumanmu, Seperti yang Kamu Lihat Kami yang di Sini Beberapa Bulan Lalu Masih Bersama Kalian, Sebagian Lagi Baru Sedetik yang Lalu Datang ke Sini

Minuman ini untuk mu, segarkan sejenak pikiranmu dan coba lihat sekali lagi apa yang ada. Jangan ada yang tertinggal (Photo by Darius Krause from Pexels)

“Hei ini minuman untukmu” Orang yang diawal tadi membangunkanku membawaku satu cup minuman ringan. 

“Kenapa? Masih ngantuk kah, oia mungkin kamu heran dengan stadion ini ya. Kamu memang belum di sini, dan ku harap kamu tidak di sini si, ku harap begitu. Ku sengaja ajak dirimu sesaat kesini untuk sesekali mengunjungi kami. Kami hanya ingin bilang, 

Ini kami. Yang kamu lihat sekarang ini hanya satu dari sepuluh stadion yang ada. Seperti yang kamu lihat tadi kami seperti kalian ya, punya keluarga dan punya orang orang yang kami sayangi dan menyayangi kami. Kami bukan hanya angka kawan.” katanya lirih sambil memberikan senyuman kecil 

Ku terbangun dari tidurku, kali ini bukan di stadion yang riuh tadi. Hanya di sebuah sebuah kamar kecil yang sepi. Ku sejenak melihat jam tangan dan kemudian membuka laptopku untuk menulis tentang ini Cerita riuh stadion tanpa pertandingan.

Tulisan ini terinspirasi dari Video Narasi yang berjudul Mengapa Data dan Angka Kasus Positif di Indonesia Diragukan? | Buka Mata.

(Feature Photo by Garret Schappacher from Pexels)

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Normal Baru” untuk para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

May 10, 2020 — by dewaputuam0

man-in-black-jacket-in-front-of-bicycle-4008393-960x640.jpg
Dalam beberapa perjalanan kita, kadang ada tawa kadang ada tangis. Semua pengalaman itu memindahkan dan menggerakan kita dari situasi satu ke situasi lainnya ntah itu lebih baik ataupun lebih buruk. Kita memang merindukan perjalanan kita memang merindukan semua hingar bingar pesta itu, namun satu yang paling kita rindukan adalah “Momen Kebersamaan kita dengan orang orang yang kita cintai” (Photo by Rodolfo Quirós from Pexels )

Hai, bagaimana kabar teman teman sekalian sekarang, masih sehat kan. Semoga kita semua diberikan kesehatan ya dan semoga juga pandemi ini segera diselesaikan agar kita dapat hidup “Normal” kembali. Mungkin akan sama, mungkin akan sedikit berbeda, dan bukan tidak mungkin juga akan sangat berbeda dengan “Normal” yang sebelumnya kita rasakan. Apapun bentuk normal yang teman teman bayangkan dan percayai, ijinkan saya untuk mengutip satu quotes yang menurut saya akan sangat relevan untuk situasi sekarang ini dari seseorang yang hampir dari kita semu mengenalnya.

We can not solve our problems with the same level of thinking that created them.

-Einstein-

Sebuah permasalahan tidak akan dapat terselesaikan pada level berpikir yang sama dimana masalah tersebut terbentuk. Begitu juga dengan permasalahan Pandemi Covid19 ini yang tidak akan terselesaikan begitu saja pada level berpikir yang sama dimana permasalahan ini terbentuk. Dengan kata lain, agar permasalahan Per-Covid an ini segera berakhir kita perlu meningkatkan level berpikir kita, kemampuan kita, lebih jauh lagi kita harus menjadi pribadi yang lebih baik dari pada sebelumnya. “We must, come back better guys!”.

Jika teman teman yang sedang membaca artikel ini adalah orang orang terpilih yang berhubungan langsung dengan penangana Covid19 ntah itu para boss, rekan maupun kenalan saya di BNPB, praktisi kesehatan dan organisasi kemanusiaan lainnya terimakasih atas perjuangan kalian dan saya mohon berusahalah lebih keras lagi- sedikit lagi agar kita kelak bisa tersenyum sekali lagi. Kami semua disini percaya dan bergantung pada teman teman sekalian. Kalian luar biasa 🙂 .

Ku tahu memang berat namun percayalah kalain bisa. Dan untuk teman teman yang tidak tersangkut paut langsung dengan penanganan covid19 ini, percayalah teman teman juga sebenarnyalah salah satu kunci keberhasilan kita untuk melewati ini semua. Dalam setiap kisah perjuangan, berhasil atau tidaknya ada kontribusi teman teman di dalamnya.

Ini Sekolah kita bersama, Ini ujian kita. Mungkin sebagian dari kita tidak mampu melewati ini “Sendiri”. Tapi jika bersama, rasanya kita pasti bisa kok

Kita masuk sama sama kita juga harus lulus sama sama. Jika kata BillGates dan Istrinya, kelulusan ini bukan sekedar berjalan ke atas panggung dan mengambil lembaran ijazah. Lebih dari itu, kelulusan ini menandakan awal dari fase kehidupan kita selanjutnya yang tentunya sangat berarti untuk dirayakan terlebih karena kita berhasil melewati cobaan yang begitu berat (Photo by malcolm garret from Pexels)

Ada sebuah artikel menarik karya Bill dan Melinda Gates dalam blognya yang berjudul “Our message to the class of 2020”. Dalam tulisan tersebut Mereka menganalogikan pandemi ini sebagai sebuah kelas 2020. Sebuah kelas global dimana kita belajar banyak sekali hal baru. Dalam kelas 2020 ini kita belajar tidak hanya permasalahan yang jauh diseberang lautan namun sebuah permasalahan kita bersama wabah penyakit, segala macam bencana akibat perubahan iklim, ketidak setaraan gender dan juga kelaparan berdampak pada setiap dari kita di belahan bumi bagian manapun.

Kita memang berada dalam situasi yang sulit dan getir, kita tidak perlu menyangkal itu dan membohongi bahwa ini baik-baik saja. Bahkan untuk sebagaian dari kita mungkin saja akan mengalami situasi yang lebih pelik lagi dari semua ini baik dari kondisi kesehatan dan atau kondisi perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun membayar semua hutang. Meski banyak pelajaran yang menyedihkan melihat ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan kesakitan namun tidak sedikit pula pelajaran yang baik untuk kita bawa di kemudian hari nanti yang membuat kita tersadar tentang masih adanya sisi kemanusiaan didalam diri kita.

Saya jadi teringat pesan salah satu guru saya, 12 tahun yang lalu saat mau ujian nasional SMA. “Wa, kamu sama teman-teman mu kan masuk sekolah ini bareng bareng. Jadi lulus juga bareng bareng ya. Jangan lupa saling membantu ya”. Ini tentang ujian dan disana ada sebuah prinsip yang diajarkan yaitu kita masuk sama sama kita juga harus keluar sama sama, jangan sampai ada yang tertinggal. Dalam situasi seperti sekarang, kita masuk ujian yang sama yang bernama Pandemi Covid19. Sama seperti ujian pada umumnya, meskipun soal dan permasalahan yang diberikan memanglah sama namun kemampuan kita menanganinya tidaklah sama ada yang mudah saja mengerjakan dan melewatinya dengan nilai sempurna, ada yang mudah mengerjakan namun ternyata salah semua, ada yang berkeringat diri kesulitan saat menjawab namun hasilnya tidak buruk dan bahkan bisa dibanggakan namun tentunya ada pula yang kesulitan dan hasilnya pun merah menyala berkobar menyalakan getir dan nestapa. Tingkat kesulitan yang kita dapati saat menghadapi ujian ini tidaklah selalu sama.

Jika mengambil istilah posting intagramTV yang populer itu, “Kita tidak di perahu yang sama” meski kita menghadapi badai yang sama. Meski saya rasa sedikit kurang tepat cara meanganalogikannya sebagai badai, karena akan semakin mempersulit bagi kita untuk melihat hal baik dari badai dibandingkan “sebuah ujian”. Jadi saya lebih memilih menggunakan istilah ujian dibandingkan badai, bukan masalah benar atau salah tetapi sekedar untuk mengatur maindset saya agar melihat situasi ini sebagai sesuatu yang lebih dapat kita hadapi.

Ujian seperti ini “Nyontek dan Bekerja sama itu Legal!” Manfaatkan semua peluang agar kita bisa melewati ini semua bersama

Ini akan menjadi sejarah kawan. Kita akan menceritakan ini pada anak cucu kita kelak. Bukan hanya sebuah cerita tentang kebetulan dan takdir, namun lebih dari itu. Ini sebuah cerita tentang kita yang tidak pernah menyerah dan terus berjuang untuk hidup kita dan untuk dapat mewarsikan dunia ini pada generasi berikutnya. Kisah yang bagus bukan untuk jadi sejarah. Yuk kita mulai tulis cerita itu. ( Photo by Janko Ferlic from Pexels )

Jika di ujian lainnya kita tidak diperbolehkan mencontek, untungnya di ujian 2020 ini nyontek itu legal hehehe. Kita dapat meniru dan belajar hal yang baik dilakukan oleh orang lain. Menirunya pun tidak begitu sulit, dengan sedikit usaha untuk menelusuri melalui jejaring Internet, dengan mudah kita akan melihat apa apa saja yang telah dilakukan orang orang disekitar kita bahakan orang orang dibelahan bumi lainnya. Meski tentunya kita juga harus sedikit memilah milah kira kira mana yang relevan dan mana yang tidak relevan. Bukankah itu juga yang kita temukan kala kita nyontek? tidak selamanya kita menyontek orang yang jawabannya benar dan bisa saja kita akan mendapat zonk.

Untuk menentukan apakah itu jawaban yang benar atau salah tidaklah mudah. Terlebih dalam kelas 2020 ini kita semua sama sama berhadapan dengan sesuatu yang memang baru. Jika hal demikian yang terjadi, biasanya kita mencontek siapa? tentunya bukan pada orang-orang random tak jelas kredibilitasnya seperti saya kan. Kerdibilitas, kemapuan orang orang disini menjadi kunci, jadi untuk kita sekarang cukup percayakan saja pada ahlinya. Namun tidak sepenuhnya permasalahan ini kita jawab dengan melihat dan hanya mengikuti para ahli tersebut karena ini ujian kita masing masing. Setiap permasalahan tentunya memberikan dampak yang tidak selamanya sama. Untuk menyelesaikan permasalahan yang bersifat personal tersebut kita perlu juga mengambil langkah dan berjuang sendiri. Ntah itu permasalahan kesehatan ataupun Ekonomi kita, berhasil atau tidaknya ada kontribusi kita secara individual di situ. Jadi selain berjuang bersama, dalam waktu yang sama kita berjuang sendiri sendiri.

Satu-satunya cara untuk menguatkan diri agar permasalahan yang bersifat personal kita dapat teratasi adalah “Naik Level” ingat qoute dari mbah Enstein yang saya sandur di awal tadi. We can not solve our problems with the same level of thinking that created them. Kita harus berevolusi dan menjadi dirikita yang lebih baik lagi baik dari yang paling dasar dan abstrak seperti kemampuan pemikiran kita, emosi kita, hingga pada kemampuan fisik kita yang juga harus lebih sehat lagi.

Ada beberapa langkah sederhana yang telah saya lakukan dalam beberapa bulan karantina pribadi di kelas 2020 ini, mungkin kita melakukan hal yang sama mungkin juga tidak, mungkin ini dapat dijadikan ide untuk kalian sembari menjalani hidup kita dirumah, namun mungkin saja saran ini tidak begitu ada gunanya. Kita semua punya permasalahan masing masing kan :). Pada prinsipnya sih saya ingin waktu yang diberikan oleh kelas 2020 ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan saya secara vertikal (lebih mendalami bidang keahlian saya) dan juga horisontal (memperbanyak kemampuan kemampuan baru).

  1. Baca buku: kegiatan ini mungkin sedikit membosankan untuk sebagian orang namun dalam kondisi seperti sekarang agaknya membaca buku bisa menjadi salah satu alternatif untuk memperkaya pengetahuan kita. Ada tiga buku yang menurut saya bagus untuk dibaca kala pandemi:
    • Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl, buku tentang logoterapi yang ditulis oleh mantan tahanan kamp pengkonsentrasian nazi yang terkenal mengerikan yang dimana semua kebebasan direngut dan terus menghadapi hari antara hidup dan mati. Gagasan yang disampaikan dalam buku ini saya rasa sangat relefan untuk menghadapi masa yang sangat sulit dan penuh siksaan.
    • Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Ini adalah buku tentang filosofi Stoa atau Stoicsm. Melalui buku ini kita diajarkan berbagai hal namun yang paling mengena adalah soal dikotomi kendali yang memisahkan mana yang dibawah kendali dan mana yang di luar kendali kita. Buku ini bisa membuat kita tidak membuang buang waktu pada hal hal yang tidak bisa kita kendalikan dan lebih terfokus pada apa yang dapat kita kendalikan. Untuk ulasan lebih jelas soal buku ini bisa teman teman baca melalui link ini.
    • Everything is F*cked karya Mark Manson. Sebuah buku tentang harapan yang tidak hanya menyuruh kita berharap secara kosong namun lebih pada realisistis dan bertanggung jawab terhadap harapan harapan kita. Dalam bahasa indonesia buku ini diterjemahkan sebagai “Segala galanya Ambyar” sesuai sekali bukan dengan kondisi sekarang. Teman teman bisa membaca ulasannya melalui link ini.
  2. Ikuti Pelatihan dan Seminar Online. Saat pandemi seperti ini jadi banyak diskon untuk pelatihan/seminar online, bahkan ada beberapa yang mengeratiskan. Rugi rasanya kalau segala kesempatan ini kita lewatkan begitu saja #Iyakan. Sebagai contoh saya bulan lalu sampai sekarang mengambil paket premium yang diskon untuk pelatihan data sains dari DQLabs lumayan lah latian koding tipis tipis siapa tau kan dan saya yakin akan berguna saat kita lulus kelas 2020 nanti. Pelatihan yang dapat teman teman ikuti bisa berupa pelatihan komputer, pelatihan gizi anak, pelatihan memasak, menjahit, hingga pelatihan untuk olah raga di rumah untuk menjaga kebugaran. Semua itu terserah mana yang temen temen sukai dan minati.
  3. Tetap Menjaga silaturahmi dengan Kawan dan Sahabat: Komunikasi adalah kunci. Meski kita harus menjaga jarak selama pandemi ini namun jangan biarkan jarak fisik ini juga memisahkan memperjauh jarak komunikasi kita pada teman teman kita. (ku kemarin sempat keluar dari salah satu grup temen temen mantan kantor sik, bukan untuk melebarkan jarak tapi biar g ganggu saja kesibukan mereka sekarang soalnya saya rasa akhir akhir ini ku malah banyak ngeganggu hehehe) tapi secara personal tetap lah saya coba sesekali sekedar saling berbagi kabar dan candaan meski tidak jarang agak hambar dan gring tapi tak apa lah bisa dimaklumi dalam kondisi darurat seperti ini #Yekan.

Ketiga poin tersebut pada dasarnya adalah pengalihan Investasi. Investasi yang tidak hanya secara finansial namun juga personal kita. Saat situasi yang tidak begitu jelas ini. Berbagai instrumen investasi (Saham, Reksa Dana, Emas) menjadi goyang dan tak tahu akan kemana arahnya. Saat seperti inilah kita menggeserkan portofolio investasi kita pada investasi personal maupun interaksi interpersonal kita. Bisa ke otak dengan cara memperbanyak ilmu baik melalui buku bacaan ataupun pelatihan. Investasi juga perlu pada kesehatan kita dengan cara berolah raga secara lebih teratur (ini saya masih belum sih). Selain kedua hal itu kita juga perlu melakukan investasi pada hubungan interpersonal kita dengan orang orang didekat kita, teman kita, sahabat kita dan orang orang lain sebagai sesama masyarakat dunia ini 🙂

Kelas 2020 memanglah kelas yang berat dengan berbagai ujian yang tak kalah beratnya. Namun bukan karena beratnya ini membenarkan kita untuk egois dengan menyelamatkan diri kita sendiri dan meninggalakan teman teman kita, Abai. ntah lulus atau tidak. Itu jahat kawan. “Kita masuk kelas ini bersama jadi lulus juga akan indah bila tetap bersama bukan. Lalu kita akan rayakan kelulusan ini ditemani dengan secangkir teh dan biskuit sambil cerita tentang hari ini, tentang perjuangan kita, tentang sisi kemanusiaan kita yang tak pernah mati meski dihadang peliknya pandemi. Semua itu akan manis, asal kita lakukan bersama. Untuk menuju “Normal Baru” untuk kita para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

Yuk kita berjuang bersama

Sampai jumpa pada tahpan selanjutnya kawan

salam hangat dari saya

Dewa Putu AM.

(Feature Photo by Kate Trifo from Pexels)

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] Talking to Strangers: What We Should Know About the People We Don’t Know Karya Malcolm Gladwell

May 6, 2020 — by dewaputuam4

amanda-knox2-960x641.jpg
Saat semua ini selesai, kita akan kembali pada kebiasaan kita bertemu orang asing berbincang, berinteraksi, bertransaksi. meski terkadang tidak harus kenal dan ingat untuk kemudian hari. Tetapi orang orang asing selalu berpapasan dengan hidup kita entah disuatu tempat atau suatu masa (Photo by Aleksandar Pasaric from Pexels)

Ini salah satu penulis favorit saya. Malcolm Gladwell , seiap bukunya selalu memikat perhatian saya. Gagasan yang gurih dan sangat dekat dengan keseharian kita ia sampaikan dengan begitu mendalam namun masih tetap nyaman untuk diikuti dan nikmati. Fokus, itu yang saya suka dari karya karyanya Gladwell. Setiap bukunya selalu memuat hanya satu gagasan inti yang kuat untuk kemudian ia bahas dari berbagai sisi dan sudut pandang. Ini yang menurut saya Galdwell berbeda dari penulis kebanyakan yang tidak jarang terhanyut dalam ide idenya sehingga seringkali terlalu banyak gagasan yang diberikan, hingga fokus kita menyebar dan terlalu luas.

Sebagai awalan saya coba list satu per satu beberapa gagasan dalam setiap karya Gladwell yang saya suka. Kita dikenalkan pada konsep bagaimana sebuah informasi yang viral dan melekat melalui bukunya yang berjudul “Tipping Point”. Kita juga di ajak melihat dan mengingat tentang cara kita berpikir melalui “Blink”, kalau kata saya si berpikir pakai tulang belakang (reflek) hehehe, ternyata 80% kegiatan kita dipengaruhi oleh gaya berpikir kita yang rapuh ini. Gladwell juga menunjukan kepada kita konsep si lemah yang sebenarnya tidak lemah melawan si kuat yang sebenarnya justru lemah melalui buku “David and Goliath”. Lalu Konsep si jenius yang pencilan dan ternyata bukan “tidak sengaja menjadi” pencilan melalui bukunya yang berjudul “Outlier”. Kita diingatkan juga tentang “Ketidaktahuan kita” melalui buku berjudul What Dog Saw”.

Gladwell memang seperti itu, satu gagasan kemudian memberikan twist twist yang mungkin sebagian dari kita akan banyak mengalami “Lha” “What”, “Oh” dan “Aha” moment. Dan datang lah bukunya yang berjudul Talking to Strangers: What We Should Know About the People We Don’t Know . Setelah saya baca, jika harus memilih satu kata saja yang menggambarkan buku ini, satu kata tersebut adalah “Kapan Gwww bisa nulis seperti diaaaaa,..”. Mohon maaf saya kelepasan. Karena saya rasa buku ini keren banget dan memberikan saya pemahaman baru dan tidak jarang juga saya jadi merasa perlu merekonstruksikan lagi cara berpikir saya selama ini.

Kita sering menganggap bahwa kita “Mengenal” Siapa Orang Asing itu, bgaimana sikapnya dan apa yang ia sudah lakukan. Namun sayangnya kita tidak se “Cenayang” itu kawan

Orang tidak dikenal tidak selamanya tidak kita kenal sama sekali, bukan hanya orang yang kita kenal sekilas lalu saja. Namun bisa pula orang yang sangat dekat dengan kita dengan kehidupan kita. Hingga suatu hari tetiba sesuatu mengubah itu dan memporak randakan semua pemahaman kita tentang dirinya dan menggesernya dari dikenal menjadi “Tidak Dikenal” ( Photo by Tidekig from Pexels )

Secara garis besar buku ini menceritakan ke “sok tahu” an kita terhadap orang yang “tidak kita kenal”. Ada dua frasa yang saya berikan tanda petik disini karena dua frasa itu lah yang kemudian tersirat dibahas dengan mendalam dalam buku Gladwell ini. Keras memang bila mengatakan “sok tahu”. Namun saya rasa seperti itulah kita selama ini. Jangankan untuk orang orang awam seperti kita, bahkan Intelijen Amerika yang jika di film film kita rasa mereka memiliki insting dan kerangka berpikir yang tinggi hingga kita “rasa” juga tidak akan ada yang terlewatkan dari pengawasan mereka. Namun nyatanya merekapun tak luput dari kesalahan “mengenal” yang berakibat fatal dan membawa Ana Belén Montes, seorang mata-mata Kuba yang paling merugikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Yang menarik dari kasus Montes adalah keberhasilannya menjadi orang berpengaruh dalam salah satu institusi Intelijen di Amerika ( Defense Intelligence Agency ). Montes sebenarnya tidak begitu sempurna dalam menyamar dan menjalankan perannya sebagai agen ganda beberapa kali ia menunjukan hal hal mencurigakan dan rekan rekannya pun mengetahui itu. Namun “ketidak sempurnaan” cara berpikir kita jugalah yang kemudian memperdaya para rekan rekan Montes yang kemudian mentolelir segala kejanggalan yang ada.

Tidak hanya itu kejadian “Salah Mengenal” yang berakhir fatal. Sebelum masa perang dunia ke dua banyak petinggi dari beberapa negara juga ternyata salah mengenal The Führer (Hitler) yang dikira mereka tidak akan memecah perang dunia ke dua. Kasus pedopilia seorang yang sangat ramah. Kasus salah tangkap polisi pada Amanda Knox, karena sikapnya yang terlalu mencurigakan dan tidak umum (Ini gw jadi takut sik, orang orang seperti ini akan jadi kambing hitam pertama jika ada kasus kasus pembunuhan).

Ini Buku Tentang Kepolosan Kita yang Menganggap Semua Orang Selalu “Jujur” dan Ketidak Sadaran Kita bahwa Segala Hal Selalu Berkaitan dengan “Konteks”

Knoxx berjalan bersamanya di tempat kejadian perkara. Selagi memakai sepatu bot pelindung, Knoxx memutar badannya dan berkata “Ta-dah” ( Source: Time Magazine )

Jujur disini didefinisikan tidak hanya sebagai lawan kata dari bohong (kesesuaian antara kata dan kejadian sebenarnya) namun lebih luas lagi dari pada itu. Jujur didefinisikan sebagai kesesuaian kata, perbuatan dan atau sikap seseorang terhadap suatu hal. Sebagai contoh pada kasus Amanda Knox , meski tidak ada bukti kuat yang menunjukan bahwa ia pembunuh.

Penyidik utama kasus itu, Edgardo Giobbi, berkata dia meragukan Knoxx sejak Knoxx berjalan bersamanya di tempat kejadian perkara. Selagi memakai sepatu bot pelindung, Knoxx memutar badannya dan berkata “Ta-dah” —- Ini salah satu bagian dari buku yang menurut saya paling epic.

Saya membayangkan ini sosok Knoxx seperti Harley Queen, tengil aneh dan tidak sengaja buka pintu lihat ada mayat lalu dijebloskan dengan tuduhan pembunuhan yang setelah beberapa tahun ternyata terbukti bukan di yang bersalah. Ngenes ceritanya, Ini juga dimaksud sebagai ketidak jujuran antara apa yang terjadi (dia tidak membunuh) dengan sikapnya yang cenderung cuek dan tidak memiliki banyak empati, akhir membuat dirinya dituduh demikian.

Buku ini bercerita tentang kepolosan kita yang menganggap semua orang selalu “Jujur” dan ketidak-sadaran kita bahwa segala hal selalu berkaitan dengan “Konteks”. Kita selalu menganggap apa yang terlihat dan terdengar dari luar menggambarkan keadaan sebenarnya. Kita terlalu percaya pada orang kita juga terlalu percaya pada dirikita bahwa kita bisa membaca mimik orang dan mengenalinya seolah olah orang itu “selalu” memiliki mimik yang jelas bak pemain teater. Yang menunjukan mimik sedih saat dirinya dirundung pilu, tertawa saat bahagia, belingsakan misah misuh saat gelisah dan ada yang ditutupi.

Mengenal seseorang dengan baik emanglah rumit. Namun ternyata semua itu lebih sulit lagi karena ternyata sifat dan tingkah laku seseorang berkaitan erat dengan “Konteks”, dari konteks yang bersifat keruangan, Waktu hingga pada konteks yang bersifat situasional. Hal ini dicontohkan oleh Gladwell dengan kasus kasus kejahatan yang ternyata melekat pada lokasi lokasi tertentu saja, dan kasus kasus bunuh diri di London ternyata terikat pada situasi London dulu yang menggunakan gas alam (yang mengandung racun) untuk kebutuhan sehari hari. Dari buku ini kita diajarkan bahwa kita tidak lah mengenal semua yang ada didepan kita, mungkin hanya sedikit kenal namun tidak selamanya kenal cukup dalam. Yup tidak dikenal cukup dalam, dan semua itu akan semakin sulit dikenal saat ada minuman keras ikut berdansa dalam interaksi kita itu.

Seselesainya membaca buku ini, saya jadi berpikir. Apakah arti “orang asing” sebenarnya. Ia bukan hanya orang berjubah hitam yang berdiri di pinggir gank yang gelap berlatarkan hujan. Ia bukan hanya orang yang sepintas lalu, orang ntah dari mana yang sepintas berhenti, bersapa pada kita dan kemudian berlalu begitu saja. Tidak tidak hanya sampai segitu makna “orang asing”, bahkan orang yang palng dekat dengan kita pun terkadang dalam Konteks tertentu dapat dikatakan sebagai orang asing.

Buku terbaru karya Gladwell ini tampaknya akan menjadi satu dari 10 buku yang saya rekomendasiin untuk di baca di tahun 2020. Gladwell memang jarang mengecewakan. Yup meski saya kurang begitu suka dengan buku sebelumnya yang berjudul “What the Dog Saw” itu karena kesannya agak terlalu luas dan tidak jelas gagasan utamanya mengarah kemana (Source: NPR )

Oia, kurang rasanya jika saya hanya mengagung agungkan buku ini saja tanpa diimbangi dari kekurangan. Secara keseluruhan buku ini memanglah bagus menurut saya namun, dalam versi ebook terbitan gramedianya saya rasa buruk sekali, bukan permasalahan terjemahan namun lebih pada keberadaan watermark yang berupa text aktif (bukan gambar) yang justru sangat mengganggu saat ingin menandai atau menghighlight bagian bagian yang menarik. Keberadaan watermark yang berupa text menyebabkan huruf huruf pada kalimat didekatnya menjadi teraduk acak sehingga saat di highlight sulit untuk dibaca. Padahal highlight dan kemudahan penelusurannya merupakan fitur kunci dalam versi ebook yang membuat ebook lebih menarik dari versi cetaknya. Itu sangat saya sayangkan sehingga dalam google playnya saya terpaksa memberikan bintang 1 dari 5 untuk percetakan Gramedia.

Itu saja dulu dari saya, semoga bermanfaat dan mungkin bisa jadi rekomendasi buku yang akan teman teman baca saat harus tetap di rumah seperti sekarang ini. Salam hangat dari saya

Dewa.

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Mari Berpikir Positif Tentang Hari Ini” Agaknya Bukanlah Pilihan yang Baik untuk Saat Ini Kawan

April 19, 2020 — by dewaputuam2

person-standing-beside-car-1853537-960x1440.jpg
Sudah berapa lama ini semua terjadi, apakah akan kembali masa seperti dahulu, sebuah masa saat setiap paginya kita melihat wajah ceria wajah kusut bercampur aduk dalam kerumunan makhluk makhluk pagi yang berkerumun bergerak memulai aktifitas hari barunya, atau akan ada Normal yang baru yang mengubah semua? ( Photo by Artem Beliaikin from Pexels )

Haloo, setelah sekian lama akhirnya saya menulis lagi, mungkin ada yang rindu dengan gaya tulisan saya yang hambar tanpa hati, atau ada yang skip skip saja. Apapun kesan kalian, saya harap teman teman semua tetap diberikan kesehatan ya, tetap hidup dan kita akan bertemu esok hari #janji. Oke, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pikir dan gagasan yang tentu tidak serta merta muncul begitu saja dari saya, melainkan terinspirasi dari beberapa buku yang paling banyak mempengaruhi si  filosofi teras karya Henry Manampiring dan Everything is F*ck karya Mark Manson.

Ini tentang bahayanya berpikir positif dengan segala kiasan kiasan yang dibawa bersamanya seperti. “Hei semua baik baik saja, ini tidaklah seburuk itu. Setelah ini akan ada kebaikan. Itu terlalu berlebihan, cobalah lihat dari sudut pandang ini nilai yang besar itu akan tampak kecil kok. Pada intinya “berpikirlah positif” dalam kondisi apapun dan bagaimanapun termasuk situasi seperti sekarang ini. Dalam kondisi pandemi, yang meski dampak terburuknya adalah banyak nyawa melayang, namun dampak ekonominya juga tidak boleh serta merta kita sepelekan.

Berpikir positif seakan menjadi salah satu kiblat yang diagung agungkan bagi sebagian orang. Hal ini saya rasa oke oke saja, tidak masalah bahkan memang bagus. Sampai suatu hari saya menemukan sebuah tulisan tentang penyajian data kematian yang sebelumnya dibandingkan dengan jumlah terkonfirmasi sekarang diubah menjadi per satu juta populasi. Sampai di sini semua  masih saya anggap oke oke saja. Karena dengan cara itu setidaknya angka berubah menjadi kecil dan urutan Indonesia menjadi masih bisa dimaafkan lah dalam Pandemi ini. Terlepas dari teknik statistik preman yang digunakan, sudahlah tak apa yang terpenting terlihat cantik, bukannya fungsi statistik itu untuk menipu? Tidak ada yang benar dalam statistik, namun sebagian memiliki manfaat begitu kata seorang dosen statistika di kampus saya dahulu yang masih teringat oleh saya.

Jika semua baik baik saja, lalu dimana permasalahannya. Permasalahannya ada di kita. Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah artikel yang menarik, Saya tidak ingin membahas isinya, intinya cukup negatif yang menginfokan bahwa Indonesia sekarang sudah menduduki puncak klasmen sementara di kawasan Asia Tenggara. Cukup menyeramkan, namun dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas hal itu. Saya justru ingin berdiskusi tentang diskusi para Netizen di bagian komentarnya hahahha. Disana terlihat jelas mana orang orang yang pesimis dan mana pihak  yang berpikir positif. Mereka saling bertarung adu jempol. Kedua gagasan dari mereka terlihat masuk akal dan menyentuh ada yang menggunakan gagasan per satu juta yang tadi saya sebutkan hingga menganggap Indonesia tidak seburuk itu dan kemudian ada yang menimpali, seberapapun itu itu nyawa manusia bukan sekedar angka. Hampir setiap berita buruk selalu ditimpali seperti itu dan terkadang dibumbui hal hal positif yang menyentuh lainnya.

Berpikir negatif memanglah tidak baik dan membuat banyak permasalahan menjadi lebih berat dari seharusnya, apalagi jika yang kita pikirkan hanya yang negatif saja. Lalu bagaimana dengan berpikir positif? apakah itu menyelesaikan masalah atau memperingan masalah? Jika kita tarik kebelakang sebelum semua seperti ini kita sudah kenyang dengan puisi puisi positif yang menyatakan bahwa kita kebal Corona, bahkan banyak sekali memenya yang menebarkan aura positif. Apakah semua itu menghindarkan kita dari masalah? Terserah si mau diakui atau tidak, nyatanya semua sudah seperti sekarang. Itu saja cukup.

Ok, permasalahan Berpikir Positif kita kesampingkan dulu dan kita biarkan mengendap dulu dalam pikiran kita. Yang perlu dicatat sekarang adalah berpikir positif itu juga tidak lepas dari kekurangan, sama halnya dengan berpikir negatif. Sulit dicerna memang, saya pun merasakan demikian ketika menemukan gagasan ini dalam kedua buku karya Henry Manampiring dan Mark Manson sebelumnya.

Sembari menunggu mengendap, saya ingin ke topik lain yang rasanya cukup menarik untuk disampaikan di sini.

Ini bukan tentang memilih Kemanusiaan dan Ekonomi, karena pada dasarnya kesempatan kita memilih itu tidak ada.

Hei,.. Apa yang kamu pikirkan dan rasakan sekarang, masihkan kalian berharap atau justru sedang dalam proses jatuh yang tidak tau kapan mencapai dasarnya. ( Photo by Burst from Pexels)

Mari kita cicipi sebentar cara berpikir negatif, coba kita angankan berbagai kemungkinan terburuk yang sedang kita hadapi dan akan kita hadapi. Dalam filosofi Stoa, cara berpikir seperti ini cukup ampuh untuk merunut segala kemungkinan yang ada dan menyiapkan mental kita untuk segala kemungkinan tersebut, meskipun faktanya sesuatu terburuk yang kita pikirkan tersebut pada akhirnya tidak akan terjadi, atau paling tidak tidak akan terjadi dalam tingkatan yang kita pikirkan. #semoga.

Saya melihat, setidaknya ada dua isu yang dipertentangkan oleh kita sepanjang bulan bersama kekasih baru kita yang bernama Covid19 ini.

  • Kemanusiaan: dampak langsung dari virus corona yang paling dekat adalah kesehatan kita dan dengan berat hati harus kita akui nyawa kita pun terancam. Meskipun tingkat kematiannya tidak begitu besar #katanya, namun kemampuan persebarannya tidak dapat diremehkan sama sekali.  Ini teman teman pasti sudah sering dengar dan membaca, bahkan mungkin juga seperti saya yang sudah bosan mendengarnya. Tetapi saya disadarkan oleh sebuah artikel Tomas Pueyo dalam situs medium, kejadian pandemi seperti ini ternyata memberikan dampak kesehatan lainnya yakni penurunan kapasitas sistem kesehatan kita (rumah sakit maupun sdm nya). Jumlah sumber daya  medis yang kini banyak difokuskan untuk menangani corona. Dalam kondisi tertentu akan mengakibatkan penurunan kapasitas dalam penanganan kesehatan lainnya baik yang berupa kejadian kejadian yang biasa terjadi (kecelakaan dan penanganan penyakit kronis) maupun kejadian luar biasa seperti potensi bencana yang sewaktu waktu bisa saja terjadi. Dampak terburuk dari segi kemanusiaan yang terpikir oleh saya tentunya jumlah kematian yang tinggi, bukan hanya kematian langsung oleh virus namun juga kematian yang disebabkan oleh lumpuhnya fasilitas kesehatan kita. Hal ini dapat lebih buruk lagi bilamana terjadi bencana besar seperti yang beberapa tahun kemarin. Siapkah kita untuk ini?
  • Ekonomi: sudah mulai terasa untuk sebagian orang dampak dari corona ini terhadap kondisi ekonomi kita dari saham saham yang bertumbangan, omset omset usaha yang turun hingga pemecatan besar besaran.   Jika kita melihat secara sederhana, memanglah mudah menentukan prioritas antara kemanusiaan dan ekonomi. Namun pilihan tidaklah sesederhana itu. Coba kita pikirkan lagi deh, ini bukanlah sebuah pilihan yang sederhana, dimana saat kita menghempaskan satu pilihan maka pilihan lain akan menjadi pilihan yang teratasi dengan baik. Ekonomi itu mengikat banyak aspek kehidupan dan bahkan mengikat #kehidupan itu sendiri. Perekonomian yang hancur dapat menjalar pada permasalahan permasalahan dari yang remeh seperti tidak dapatnya terlalu hura hura hingga pada sesuatu yang serius seperti potensi kenaikan kriminalitas, kesehatan mental dan fisik kita dan juga keberlangsungan hidup. Beberapa kanal berita menyebutkan 60% ekonomi kita bergantung pada usaha nonformal, atau jika dihitung secara kasar 150 juta orang. Jika semua itu lumpuh, dan lapar maka semua hal dapat saja terjadi. Bukankah ini permasalahan kemanusiaan juga

Kita disini bukan untuk diskusi apakah pemerintah harus pilih yang mana? tapi lebih pada apapun yang diambil pemerintah, kedua dampak tersebut pasti akan datang pada kita. Kembali pada topik berpikir positif dan Negatif yang sebelumnya kita bahas, sisi mana yang ingin kita ambil sekarang. Apakah kita harus berpikir bahwa kita saat ini sedang baik baik saja, atau panik dan merasa putus harapan. Kedua pilihan tersebut tampak buruk.

Akui dan dan Menyerahlah, buanglah semua harapan kosong kita, tidak baik loh terlalu mabuk akan semua hal positif hanya untuk menghindar dari sesuatu yang buruk dan tidak kita inginkan.

Apakah keberdaan “Harapan” itu baik, meski memang ia yang menarik para hati pahlawan untuk melakukan hal hal heroik, namun “harapan” pula lah yang dipegang dan dijadikan pembenaran bagi Hitler dengan Nazi-nya serta para pemimpin otoriter kejam dalam melakukan aksinya. Lalu apakah “Harapan” itu masih baik? ( Photo by Designecologist from Pexels)

Kejujuran tidak hanya diterapkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Namun justru penting  kita jadikan sarat saat kita berinteraksi dengan diri sendiri. Jika memang tidak baik baik saja, janganlah menambah beban diri dengan berbohong semua baik baik saja. Akuilah bahwa kondisi ini memang tidak sedang baik baik saja bagi kita. Kita perlu akui itu karena kita hanya dapat mengubah sesuatu yang memang milik kita, milik “Aku”. Jika ingin mengubah sesuatu, langkah paling pertama adalah mengakui bahwa “itu” adalah masalah. Poin pentingnya disini adalah buang lah harapan, buanglah ekspektasi. Hal ini juga yang membuat kita terhindar dari cara berpikir negatif. Kita tidak akan putus asa dan juga tidak akan putus harapan jika tidak ada Asa dan harapan yang kita pegang dengan keras. Itu memang tidak mudah untuk kita lakukan 100%. Seiring datangnya masalah kita secara tanpa sadar akan melekatkan asa dan harapan di belakangnya. sebuah asa yang membuat kita berjuang namun membuat kita juga terpuruk saat tak mampu mencapainya.

Semua orang akan mendapatkan paket permasalahannya sendiri dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Akan sangat jahat dan bohong bila ada seseorang yang berkata “Aku paham apa yang kau rasakan”. Tidak, kita tidak akan pernah paham secara utuh apa yang orang lain rasakan. Kita berbeda, masalah yang sama tidak serta merta memberikan dampak yang sama untuk semua orang. Kita tidak dapat memukul rata semua permasalahan dengan satu solusi sederhana. Namun, ada suatu frasa yang menurut saya cocok dijadikan kandidat utama untuk  “solusi sederhana” yang pada kalimat sebelumnya saya sangkal.

Amor Fati

Amor Fati merupakan frasa dalam bahasa latin. Amor (Love) dan Fati (Fate), dalam bahasa Indonesia Amor Fati dapat diartikan sebagai  “Cinta Terhadap Takdir”. Kata Amor Fati sering saya temukan dalam berbagai buku terkait filosofi stoa baik dalam buku filosofi teras nya Henry Manampiring maupun buku Everything is F*ck nya Mark Manson. Amor Fati dalam bahasa sehari hari artinya mirip kata “Nrimo” dalam bahasa jawa, atau suatu frase yang digunakan untuk menggambarkan suatu sikap yang melihat segala hal dalam satu kesatuan sisi baik maupun buruknya secara utuh. Kalau kata mbah Surip “I love you full”. Kita harus mencintainya secara utuh. Ini langkah awal yang saya maksud “mengakui” sebelumnya. Kita perlu mengakui kalau memang ada masalah dan itu sudah takdir kita di zaman sekarang ini. Terlepas itu karma atau apapun alasan kita untuk menunda pengakuan permasalahan ini bukan lagi pada ranah kita.

Setelah kita akui tentang adanya permasalahan ini permasalahan memang belumlah selesai namun paling tidak kita tahu dan akui bahwa saat ini memang ada permasalahan, dan itu perlu agar kita dapat “kendali” untuk  menyelesaikan atau paling tidak kita siapkan untuk hadapi. Poin kendali disini menjadi penting untuk ditekankan karena kita memang tak bisa melakukan apapun pada sesuatu yang kendalinya tidak pada diri kita.

Saya mencoba merangkum sedikit dua poin utama masalah yang sebelumnya kita bahas. Permasalahan pertama adalah banyaknya kematian (mungkin kita akan termasuk di dalamnya), dan untuk permasalahan kedua terkait ekonomi kita bisa jatuh semakin miskin hingga sulit untuk menyambung hidup di tengah situasi yang juga sulit dan penuh kriminalitas. Jika di lihat lihat lagi ternyata serem juga ya.

Permasalahan kemanusiaan tidak hanya berkutat pada hidup dan mati. Namun untuk menyederhanakannya kita batasi saja pada terancamnya hidup banyak orang akibat virus ini. Ok, bila sebagian orang mengatakan rata rata tingkat kematiannya kecil hanya 4%, untuk kasus Indonesia 10%, namun jika persebarannya seluar biasa ini jangankan 10%, satu persen pun merupakan angka yang besar. Sebagai gambaran, menurut hasil survey BPS penduduk Jakarta tahun 2020  diperkirakan mencapai 10.5 juta orang, maka jika kita anggap 1% nya saja yang terpapar maka yang positif bisa mencapai 100k orang terpapar dan 4% dari itu sekitar 4000 jiwa. Ini perhitungan sangat kotor untuk menggambarkan kepada kita seberapa besar 4% itu. yang jadi pertanyaan apakah hanya 1% yang akan terpapar, bisa aja lebih rendah dari itu #semoga. Dan satu hal yang perlu kita ingat angka itu bukan sekedar angka tanpa makna. Angka itu mewakili kita, manusia yang memiliki orang yang menyayangi maupun disayangi.

Permasalahan yang ada disini adalah penyakit, baik persebarannya ataupun tingkat kematiannya. Melihat dan memilah hal yang ada dibawah kendali dengan yang diluar kendali maka secara global persebaran dan tingkat kematian di Indonesia apalagi global bukan dibawah kendali kebanyakan dari kita, kalaupun ada maka kendali itu sangatlah kecil. Namun dari kendali kecil itulah yang harus kita manfaatkan secara maksimal. Intinya kita tidak boleh berpartisipasi menyebarkan virus dan juga tidak boleh mati. Sesederhana dua itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Berikut ini setidaknya ada 3 aktivitas yang bisa saya list sampai saat ini, ketiga hal tersebut saya rangkum dari apa yang ada disekitar saya baik di lingkungan pertemanan maupun sosial media  saat ini. Ketiga aktifitas itu antara lain:

  1. Rebahan (tetap diam di rumah), ini jargon jargon yang sering berseliweran di sekitar kita ya, dan memang membosankan tapi mau bagaimana lagi itu hal paling minim yang memang berada dalam kendali kita. Saya cukup expert dalam bidang #rebahan ini, jika ada yang butuh saran dan konsultasi terkait trik trik rebahan bisa kontak saya 🙂
  2. Membantu apa yang bisa kita bantu, Selain rebahan dan diam di rumah kita juga dapat melakukan hal hal yang menurut saya heroik seperti ikut urun dana untuk membantu sesama melalui pihak pihak yang memang terpercaya. Hal hal lain yang dapat kita lakukan juga dengan cara urun pikiran dalam diskusi diskusi online, dan lain sebagainya. Kita semua memiliki peran berbeda untuk ini.
  3. Saling menguatkan, saling bertanya kabar dengan teman teman juga akan seru dan membantu, kita bisa sekali kali saling sapa melalui video call  bersama keluarga atau teman sekedar menghilangkan sedikit jenuh dan menjaga kewarasan jiwa kita bersama.

Lanjut ke permasalahan kedua. Ini tidak kalah penting dengan masalah kemanusiaan. Jika masalah kemanusiaan berkutat pada bagaimana kita mempertahankan dan menjaga orang orang di sekitar kita, maka ekonomi perlu untuk menjaga masa depan kita. Dunia setelah Pandemi ini akan sangat berbeda, maka kita perlu bersiap. Di dalam kondisi dunia yang semakin tidak pasti ini, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan segalanya, kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan kita selama ini. Putus asa dan harapan memang tidak membantu, namun terus ber asa dan berharap pun tidak pula banyak membantu. Amor Fati menjadi jurus andalan untuk kita pakai dalam situasi seperti ini. Kita terima dan cintai dulu kondisi yang kita alami sekarang baik dan buruknya. Memang tidak mudah bila hal hal itu terlalu buruk, namun akan lebih buruk bila kita menghabiskan energi dan waktu untuk hal hal yang sia sia seperti terus menyangkal kondisi sekarang yang memang sedang buruk.

Mana yang bernilai bagi kita, mana yang akan menjadi prioritas kita menentukan langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya. Dalam kondisi sekarang kita diberikan waktu sejenak untuk kembali memikirkan itu semua kawan. ( Photo by Helena Lopes from Pexels )

Ada sebuah tulisan dalam Ashley Abramson melalui platform medium yang saya baru baca beberapa hari lalu, yang saya rasa setidaknya dapat kita pegang sebagai kerangka kerja kita untuk menghadapi situasi sulit ini. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kemungkinan Come Back kita dari krisis ini dengan cantik.

  1. Mari kita evaluasi dan klarifikasi kembali nilai nilai yang ada dalam diri kita, yang mungkin membedakan kita pada yang lain dan selama ini selalu memberikan dampak pada kita baik positif maupun negatif. Kejujuran kita kah, kemampuan kita beradaptasi kah, keramahan kita kah,kemalasan kita kah, semua itu yang mungkin melekat pada kita coba untuk dievaluasi ulang mana yang masih relevan untuk hari ini dan esok dan mana yang sudah tidak relevan.
  2. Audit prioritas kita, selama ini kita disibukkan oleh banyak hal dan secar disadari atau tidak disadari seringkali kita melakukan hal yang tidak ada manfaatnya atau sia sia. Dalam kondisi dimana kita berdiam diri dirumah memberikan kita waktu untuk berdiam diri dan berkontemplasi tentang apa apa saja yang penting bagi kita dan apa yang tidak penting apakah itu keluarga, diri kita sendiri, persahabatan, kesehatan, uang atau apa? jika pada poin sebelumnya kita fokus pada nilai kita, kini kita fokus pada tujuan kita yang prioritas dan paling penting serta bermakna.
  3. Geser rutinitas kita. Setelah kita mengetahui posisi awal kita (nilai kita) dan memahami mana tujuan yang kita inginkan (prioritas) maka langkah selanjutnya adalah melihat jalan mana yang paling relevan. Apa yang kita perlu lakukan dan dapat kita lakukan. Jika ada kegiatan kita yang kurang relevan dengan nilai maupun prioritas kita maka jangan ragu untuk menggeser ke kegiatan yang lebih relevan.

Posisi Amor Fati tidak memilih positif atau negatif. Posis inilah yang saya rasa paling baik saat ini dimana kita tidak dirundung pada keputusasaan tanpa dasar dan juga tidak dimabukan oleh perasaan positif yang terlalu tinggi tanpa logika.

Lalu pihak mana sekarang yang teman teman pilih? tetap terpuruk dan memikirkan segala keburukan yang ada, mengeluh dan mengeluh setiap hari atau berpikiran positif dan selalu berharap akan ada pelangi di setiap selesainya badai. Atau Amor Fati,… Semua diserahkan pada kalian Teman 🙂

Feature Photo by Artem Saranin from Pexels

BukuDaily LifeOpiniPopular TheoryPsikologiUncategorized

Covid19 dan Kenapa “Mereka” menolak ‘fakta’ dan tidak menuruti anjuran dari “Yang Bukan Mereka”?

March 22, 2020 — by dewaputuam0

person-holding-sign-3951608-960x640.jpg
Tangan kita penuh warna, (Photo by Sharon McCutcheon from Pexels )

Beberapa minggu belakangan ini saya merasa mulai bosan dan suntuk dengan topik pemberitaan dan pembicaraan yang beredar di sekeliling saya. Mungkin teman teman juga merasakan hal yang sama. Pada awal awal pandemik bahkan sampai sekarang, meskipun bosan melanda saya tetap mengikuti terus perkembangan yang ada karena jujur saya sedikit panik dan skeptis dengan penanganan yang ada sekarang yang jika harus berkata jahat, yup kita sudah terlambat 2 bulan.

Tapi ya sudahlah, terlepas dari semua itu tidaklah penting memikirkan hal yang sudah lalu.., Oia saya juga risih dengan pemikiran beberapa orang yang terlalu fokus pada apa kedepannya. Entah itu mengatakan Indonesia hari ini adalah Italia 2 minggu lalu. What the #meeh do you think bro n sist? kalian ingin hal serupa terjadi di sini? yang harus lebih kita pikirkan adalah tentang hari ini, bukan tentang lalu ataupun esok. Boleh kita menatap kedepan, atau kebelakang itu tidaklah haram selama masih ada makna yang bisa kita ambil.

Stop misuh2nya, pada tulisan ini saya ingin sedikit berdiskusi tentang perilaku denial “Mereka“. Kata “mereka” sengaja saya gunakan untuk mengakomodir jikalau teman2 berkelok maaf saya tidak termasuk. 🙂

Fakta, Apa itu fakta. Kita tidak berpikir dan bertindak berdasarkan “Fakta” melainkan berdasarkan “Rasa”

Saya tidak tahu darimana harus memulainya tetapi Perkembangan covid19 semakin meresahkan belakangan ini menyebabkan pemerintah kita akhirnya mengambil kebijakan dan arahan sekaligus mengenalkan kepada kita beberapa istilah baru, canggih dan mungkin asing bagi sebagian orang (termasuk bagi saya hehe) yakni Social Distancing dan Work from home (WFH). Segala hal dilakukan pemerintah dan melalui berbagai media, baik media cetak,elektronik televisi, berita berita online, kanal youtube dan segala media yang ada bahkan melalui media purba seperti sms pun digunakan pemerintah kita untuk memberikan informasi dan “fakta” terkait Covid19 dengan segala printilannya yang saya yakin nih teman-teman sudah sering mendapatkannya dari yang info resmi maupun hoax.

Pemerintah dan kebanyakan dari para pengambil keputusan pun terus memperbaharui namu sayangnya juga beberapa kali diselingi dengan saling cekal dan klaim mulai dari tampilam mana yang paling bagus lagi canggih hingga isu yang “penting” tentang informasi siapa yang benar dan mana yang salah, mulai dari jumlah korban, jumlah positive,siapa yg berhak membagikan data itu, data dan fakta apa yg boleh dibagikan data dan fakta mana yang kurang perlu atau bahkan tak etis bila dibagikan.

Saking seru, heboh dan canggihnya mereka mengelola fakta dan informasi, hingga membuat kadang kita lupa pada sesuatu yang seharusnya menjadi pertanyaan inti dan terpenting untuk dijawab. Apakah informasi itu tadi efektif, dan mampu “Menggerakan” masyarakat kita?

yang dalam hal ini untuk diam di rumah dan menjaga jarak aman atau apapun itu arahannya. (coba lihat dan lirik sekeliling) jawabanya bisa jadi berbeda,.. berbeda dari yg diinginkan hingga tidak jarang muncul keluhan kenapa dia seperti ini kenapa masih saja tidak peduli dengan arahan dan masih pelesiran kemana2 melakukan aktifitas seperti biasa sembari berbagai penyakit. Kesal memang,.. dan kadang kita tidak habis pikir dengan tindakan yg orang orang tadi.

Memang sedikit tidak nyaman dan mengengkang, tetapi mau bagaimana lagi. Photo by cottonbro from Pexels

Apakah masyarakat kita memang sebodoh” ini apakah se denial ini terhadap kasus yang hingga saat ini telah menelan korban jiwa belasan ribu dan besar kemungkinan akan terus bertambah,.. mungkin dari negara kita akan menyumbang lagi (semoga tidak banyak atau bahkan cukup segini saja tidak usah ada tambahan lagi) itu tentu harapan kita bersama #meskikecilkemungkinan.

Apakah fakta yang mendukung kurang? apakah fakta2 dan informasi itu masih sulit dipahami? apakah mereka memang bodoh?

Sebelum menjawab itu semua,… baiklah, kita anggap dulu fakta dan informasi yang diberikan pemerintah dan berbagai praktisi lainnya masih kurang kuat dan kurang mudah dipahami dan masih sangat baru bagi otak otak beku kami kaum rebahan santuy ini. Namun coba duduk sebentar dan coba lirik disekitar kita, pernahkah teman teman melihat bungkus rokok? se-eksplisit apa dampak dampak (fakta) dari rokok yang jelas sekali digambarkan di bungkusnya? apa pendapat teman2, apakah fakta2 tersebut masih kurang, apakah fakta2 itu sulit dipahami, apakah fakta2 tersebut hal yang baru? kita tahu bersama seperti apa efektifitas fakta2 itu pada perokok dan calon perokok baru. efektifkah ?

“Dunia ini tidak digerakan oleh informasi, orang orang tidak membuat keputusan berdasarkan kebenaran atau fakta fakta.Dunia ini digerakan oleh perasaan , dan atau “sebuah nilai” yang akan mengambil posisi lebih tinggi dari fakta tersebut. 

Mark Manson (Everything is F*ck)

Beranjak dari gagasan inilah saya jadi berpikir apakah hal yang terjadi pada peringatan kesehatan pada bungkus rokok juga terjadi dengan peringatan pemerintah soal pengendalian Covid19 akhir akhir ini. Besar kemungkinan hal itu terjadi. Jika kita telusuri baik lagi konten yang beredar selama ini, informasi dan segala himbauan yang dibuat serta disebarkan baik oleh pemerintah kita maupun berbagai praktisi terkait sudah sangat banyak bahkan berlebih. Dari segi kekayaan informasinya serta variasi cara penyampaian maupun sudut pandangnya pun sangat beragam. Sehingga sedikit sekali aspek dan fakta terkait Covid19 yang terlewat dibahas oleh mereka mereka.

Segala media pun digunakan oleh teman teman kita itu dengan segala ancaman yang ada. Dari yang sekedar tulisan ringan dalam chat yang mudah di sebar, story Instagram, Infografis, video, podcast, berita, artikel online, berita elektronik hingga tulisan tulisan ilmiah terus menyebarkan fakta fakta yang ada. Hingga, kecil juga ada satu dari kita yang tidak terpapar informasi informasi tersebut.

Permasalahan kemudahan akses dan kemudahan untuk memahami isi dari pesan pesan itu pun menurut saya tidak menjadi masalah yang berarti, karena segala arahan sudah diinformasikan dengan sangat praktis dan mudah sekali dipahami juga dilaksanakan. Dan untuk pertanyan apakah kita kita yang denial segala informasi dan arahan itu orang bodoh. Mungkin saja sih, mungkin kami kami ini terkadang bodoh (atau sering) dan tidak patuh hingga menolak segala fakta yang ada. 🙂

Bukan Mereka Tetapi Kita lah yang seperti ini dan otak kita bekerja seperti ini, menyedihkan si, tapi memang itu adanya

Untuk orang orang yang memang suka berdiam diri di kosan atau rumah biasanya tidaklah susah untuk tetap diam dalam waktu yang lama. Namun untuk beberapa orang diam di rumah akan memberikan tekanan cukup besar. Ada yang tertekan hanya pada psikologisnya biasanya pada orang orang yang aktif di luar (ekstrovet), namun tidak sedikit pula yang tekanan datang bukan hanya pada psikologisnya namun juga akan menghadapi tekanan ekonomi secara kuat bila ia tidak beraktifitas normal.

Ada sebuah gagasan menarik saya temukan dari buku Everything is F*ck karya Mark manson dan buku berjudul Blink: The Power of Thinking Without Thinking karya Malcolm Gladwell. Dalam kedua buku tersebut terdapat sebuah gagasan tentang cara berpikir kita (manusia) yang pada dasarnya dipengaruhi oleh kedua otak kita yang memiliki karakter yang sangat berbeda. Untuk mempermudah kita sebut saja satu otak logis sedangkan otak lainnya adalah otak perasa. Umumnya kita “berpikir” bahwa bahwa otak logislah (sang pemikir) yang menentukan dan berkuasa pada setiap tingkah laku kita. Namun, dari kedua buku tersebut diperlihatkan bahwa pemahaman umum kita tadi tidaklah tepat. Alih alih dikendalikan oleh logika, kita justru dikendalikan oleh otak perasa.

Apakah dikendalikan perasaan menjadikan kita tak ubahnya seperti Monyet? 🙂 menurut saya ada ianya ada juga tidaknya terserah dari bagian mana kita memandang (Photo by Pixabay from Pexels )

Mark Manson menganalogikan bahwa kesadaran diri kita ibarat sebuah mobil dimana sang otak perasa duduk sebagai sopir dan otak pemikir duduk di samping sebagai navigator, tidak peduli seberapa ilmiahnya kita pada akhirnya otak perasa lah yang menyetir mobil kesadaran kita. Otak perasa menghasilkan emosi emosi yang membuat kit bergerak untuk bertindak, dan Otak Pemikir menyarankan dimana tindakan itu harus dilakukan. Kata kuncinya disini adalah menyarankan, karena otak pemikir tidak dapat mengendalikan otak perasa maka ia akan hanya mempengaruhi walaupun terkadang sangat kuat tapi tidak jarang pula sangat lemah karena pada dasarnya otak perasa memiliki karakter yang keras kepala. Jika ada suatu nilai yang ingin ia tuju maka dia akan memperjuangkannya meskipun banyak fakta dan data yang menghadang tujuan mereka itu.

Semua orang memiliki kepentingannya masing masing dan memiliki “suatu nilai” yang ia perjuangkan dan menurut mereka tidak dapat di halangi “hanya” oleh issu Corona dengan berbagai fakta dan data yang ia bawa. “Suatu nilai” inilah yang menjadi fokus utama kita. “Suatu nilai” yang telah lama mereka perjuangkan ini bisa berupa hal hal yang berwujud seperti orang tua, keluarga, teman, uang, makanan hingga nilai nilai tak berwujud (abstrak) seperti rasa bahagia, kekeluargaan, pertemanan, kedamaian, hingga keimanan mereka (yang sifatnya religius).

Melalui gagasan ini, dapat dijelaskan mengapa meskipun data dan fakta keburukan rokok begitu tergambar dengan gamblang, namun tetap saja permintaan akan rokok tetap tinggi. Hal ini dikarenakan pihak pengiklan modern terus mensugesti dan membuat nilai lain dari sebuah rokok dalam produk produk iklannya. Dalam iklan rokok yang tidak menunjukan bagaimana merokok itu tentu akan sering kita temukan simbol simbol yang memberikan kesan pria sejati, macho, jantan, kebebasan dan segala hal yang menurut kita keren lainnya. Tekhnik pemasaran seperti ini digagas oleh Edward Bernays sejak tahun 1928. Alih alih memberikan fakta fakta tentang suatu produk, ia justru melekatkan produk tersebut pada sebuah nilai penting.

Hal serupa saya duga juga yang terjadi pada informasi dan segala arahan terkait Covid19 yang tidak begitu mempengaruhi tindakan beberapa kalangan. Ini terjadi bukan sekedar karena kurangnya fakta dan data yang mereka dapatkan namun lebih pada kurangnya penekanan nilai yang mereka anggap penting. Semisal, dalam beberapa kasus ajakan untuk diam dirumah untuk sebagian orang justru bertabrakan dengan nilai keimanan mereka untuk selalu melakukan ibadah apapun yang terjadi. Bahkan jikalau hal buruk terjadi akan mereka anggap sebagai kebaikan. Ini bukan karena fakta dan data yang tidak mereka dapatkan atau pahami namun nilai yang ditekankan kepada mereka tidaklah sebesar nilai relijius mereka. Begitu pula dalam kasus kasus lainya dimana ajakan terkait kasus Covid19 harus berhadapan dengan nilai lain seperti kekeluargaan, pertemanan, ekonomi, dan nilai lainnya yang teman teman mungkin pernah mendapati berbagai jenisnya. Tentu bila seseorang “merasa” arahan terkait Covid19 yang diberikan itu memiliki nilai tidak setinggi nilai yang sedang mereka perjuangkan maka arahan itu tidak akan mereka turuti dan muncul sebagai tindakan denial seperti yang sudah sering kita temukan bersama.

Untuk menanggulangi permasalahan tersebut dan meningkatkan keefektifan dari informasi Covid19 yang diberikan ada baiknya tidak hanya fakta saja yang ditekankan namun juga perlu adanya penekanan pada nilai nilai penting lainnya seperti kekeluargaan, ekonomi, hingga pada nilai nilai religi. Tidak harus dipertentangkan, namun cukup di sinergikan saja dengan nilai nilai yang ada. Secara teori memang terlihat mudah namun dalam prakteknya saya akui memanglah sebuah hal yang sulit. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Nyatanya sudah banyak informasi informasi yang beredar sekarang sudah menyentuh hal hal tersebut, hanya kadang ada yang terlewat saja sehingga masih banyak yang denial.

Salah satu cara penyampaian pesan yang saya sukai adalah berita berita maupun gambar dokter yang sedang berjuang untuk “Nilai kemanusiaan”. Masih banyak kampanye lain yang entah dirancang khusus atau secara tidak sengaja menekankan pada sebuah nilai kekeluargaan dan nilai nilai lain yang merangsang otak perasa kita. Namun tidak sedikit pula kampanye dan informasi yang disampaikan hanya menyampaikan fakta fakta hambar tanpa penekanan pada makna yang jelas. Penekanan pada nilai yang merangsang rasa empati otak perasa kita menjadi lebih penting ketimbang hanya memberikan alasan alasan logis teoritis saja. Karena nilai nilai inilah yang mampu memberikan efek gerakan.

Itu saja sih yang ingin saya diskusikan dalam tulisan ini. Merangkum dari kesemua bahasan yang saya berikan panjang lebar sebelumnya. Arahan, Infromasi atau apapun itu yang bertujuan pada suatu pergerakan ntah itu pergerakan untuk membeli barang atau dalam kasus ini berupa pergerakan untuk melakukan dan taat terhadap arahan yang diberikan pemerintah. Fakta memanglah penting, namun jangan juga melupakan untuk penekanan pada suatu nilai yang merangsang otak perasa kita. Nilai nilai tersebut banyak macamnya dan perlu diurai lebih detail lagi dan disesuaikan dengan kasus yang ada.

Akhir kata saya ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi tingginya pada para pahlawan kemanusiaan yang kita miliki sekarang. Mereka yang digaris depan seperti petugas kesehatan dokter maupun perawat dan tenaga medis lainnya hingga para petugas dan praktisi dibelakang mereka, bagian data, administrasi, manajemeb kedaruratan dan segala pihak yang terlibat bukanlah manusia super yang kebal dengan segala hal, mereka juga takut. Mereka mengorbankan waktu tenaga bahkan kesehan mereka demi orang lain (salut saya buat temen temen disana).

Feature Photo by cottonbro from Pexels

BencanaLingkunganOpiniPopular TheoryPsikologiUncategorized

Hati Hati terjebak Dehumanisasi dalam menyikapi kasus Covid19, dan “Lainnya”

February 15, 2020 — by dewaputuam0

eyes-portrait-person-girl-18495-960x655.jpg
Terkadang kita bergerak terlalu cepat, entah untuk mengejar apa. Hingga kita suatu waktu tanpa sengaja tersadar sudah banyak yang kita tinggalkan (Photo by Mike Chai from Pexels))

Saya ingin berdiskusi sedikit tentang apa yang mengganggu dan meresahkan pikiran saya dalam satu bulan terakhir ini. Teman-teman tentu mengikuti atau paling tidak sudah pernah mendengar bahwa saat ini terjadi suatu tragedi kemanusiaan yang bisa dikatakan sangat besar dan menyedihkan sedang berkembang di Wilayah China daratan serta puluhan negara di sekiarnya. Ini tentang Covid19, yang hingga data terakhir yang saya dapatkan (15 Februari 2020 dari data yang ditampilkan pada dasboard milik Johns Hopkins CSSE) jumlah korban meninggal sudah mencapai 1527 dari 67,091 kasus yang terkonfirmasi.

Itu bukanlah angka yang sedikit, dan yang paling menyedihkan itu bukanlah hanya sekedar angka. Itu semua nyawa manusia, entitas yang sama dengan orang-orang di sekitar kita, entitas yang sama dengan orang-orang yang kita sayang, dan tentunya entitas yang sama pula dengan yang selalu kita temukan saat kita memandang cermin. Yup itu jumlah manusia seperti kita, punya keluarga yang menyayangi mereka dan juga ada teman dan keluarga yang mereka sayangi. Itu sama sekali bukan hanya sebuah angka statistik belaka.

Dehumanisasi?, Ini bukanlah isu yang baru saja ada dan hanya pada saat Covid19, Namun isu ini sudah lama sekali ada, bahkan juga digunakan saat perang berkecamuk. Namun sekarang bukanlah perang.

Dehumanisasi tidak hanya membayangi Covid19 saja. Namun lebih dari itu, dehumanisasi terus menjebak kita dengan berbagai cara membuat kita hanya melihat hitan dan putih saja tanpa adanya wilayah abu-abu sedikitpun. ( Photo by Umberto Shaw from Pexels )

Dengan tidak mengurangi rasa duka dan simpati kepada para penderita serta para korban meninggal dunia akbat virus ini, saya rasa kita perlu membahas dan mendiskusikan bagaimana cara kita menyikapinya. Sangatlah mungkin bila kita (termasuk saya) sering sekali belum dapat menyikapinya dengan baik sisi kemanusiaan ini dengan sempurna dan sering pula kita terpeleset kemudian terjebak oleh dehumanisasi. Orang yang sudah terperangkap jerat dehumanisasi terkadang jelas terlihat, namun terkadang senyap tak terdeteksi oleh sensor apapun. Persebarannya bahkan jauh lebih cepat dari Covid19. Manusia yang sudah terlanjur terkikis kemanusiaannya, akan sulit bisa dianggap manusia secara utuh lagi. Merka yang seperti itu tak ubahnya seperti zombie. Meski masih berwujud manusia tetapi kehilangan esensi dari manusia itu sendiri.

Ini bukanlah isu yang baru saja muncul, dehumanisasi seringkali muncul dalam bentuk dan wujud yang beraneka ragam. Dari hal yang sesederhana “Itu bukan urusanku karena mereka bukan keluargaku” hingga pada wujud yang sulit terbayangkan bahkan menjatuhkan yang sudah jatuh “Ini hukuman Tuhan untuk mereka, karena telah berlaku begitu selama ini”. Mungkin kedua kasus itu masuk diakal sehat teman teman, mungkin saja tidak. Kenapa saya bilang bregitu, coba teman-teman lihat ketiga video ini (Bukan Covid19_1, Bukan Covid19_2, Bukan Covid19_3). Bagaimana pendapat kalian tentang ketiga video diatas. Kita tidak dapat mendebat dengan semua itu. Saya hanya ingin sedikit menunjukan bahawa kita juga tidak sesuci itu, kita sangat mungkin sama seperti orang orang yang sebelumnya saya sebutkan. Sangat mungkin kalau kita juga sebenarnya sedang terpeleset dan terjerembak dalam jurang dehumanisasi.

Kita menjadi Zombie bukan karena kita tergigit oleh zombie ataupun terserang virus. Tetapi kita sendiri yang secara suka rela memilih untuk menjadi zombie

Saya tidak ingin menambahkan caption lagi, namun teman teman akan mengartikan sendiri pada akhir cerita ini ( Photo by omar alnahi from Pexels )

Pada dasarnya dehumanisasi dapat kita artikan sebagai “penghilangan harkat manusia atau tindakan menyangkal kemanusiaan terhadap manusia lainnya.” (Sumber) . Konsep Dehumanisasi yang ingin saya bahas pada tulisan ini adalah sebuah konsep yang saya baca dari sebuah buku karya Paul Scharre yang berjudul Army of None (pernah saya review dalam tautan ini). Yang menarik dari buku tersebut, sang penulis menjabarkan dengan gamblang jalur-jalur yang dapat mendehumanisasi kita baik digunakan secara sengaja ‘terencana’ seperti yang biasa digunakan tentara saat perang, digunakan para teroris meradikalisasikan para pengikutnya dan Juga dehumanisasi yang “tanpa disengaja” mendekap kita tanpa kita ketahui baik melalui karya seni ataupun entitas-entitas lainnya. Dalam bukunya, Paul Scharre setidaknya menjabarkan ada lima cara/jalan untuk mendehumanisasi seseorang.

  • Pertama, mengkondisikan lingkungan psikologis seseorang dengan berbagai cara seperti salah satunya adalah memaparkannya pada informasi dan situasi situasi ekstrim. Contoh saat bencana, saat kita sama sama menjadi korban dan sangat membutuhkan bantuan akan “sulit” bagi kita untuk sekedar membantu. Saya bilang sulit bukan berati tidak ada, karena dalam beberapa kasus ada orang hebat di luar sana yang tetap membantu tanpa memikirkan dirinya sendiri. Hal ini sebenarnya mengingatkan saya pada tiga video yang saya bagikan sebelumnya, tapi yasudah lah ya.
  • Kedua adalah meberikan tekanan berdasarkan kekuasaan, baik dengan fisik langsung maupun tindakan tindakan yang menyebabkan seseorang tidak berdaya untuk menolak. Hal ini tampaknya sudah jelas, dehumanisasi dapat terjadi karena ada suatu kekuatan besar yang mengintimidasi di belakang mereka baik itu manusia lain, organisasi atau bahkan yang lebih besar lagi. Hal ini juga yang membuat saya kurang begitu suka dengan pendekatan dan pembelajaran keagamaan dengan menekankan ketakutan akan sosok Pencipta bukannya Kemaha Pengasihannya itu sendiri.
  • Cara ketiga adalah mendifusikan tanggung jawab dengan cara pembagian tugas yang guyub dan rumit sehingga mengaburkan fakta terkait siapa yang bertanggung jawab sebenarnya. Pembagian tugas memanglah baik namun saat rantai tugas dan kewenangan menjadi terlalu panjang maka terkadang kita tidak sadar yang kita hadapi tidak lain dan tidak bukan adalah nyawa manusia.
  • Cara keempat adalah dehumanisasi manusia lain dengan mengikis sisi humanisnya baik secara langsung maupun dengan narasi yang berputar yang memberikan sisi jahat, hewan dan tidak manusiawinya sosok atau kelompok tersebut, dengan kata laian mereka digambarkan jauh dari sisi manusia. Cara lainnya adalah menggantikan target manusia lain itu menjadi objek-objek fisik atau abstrak lainnya seperti bangunan, ras, bangsa dan lainya yang kemudian secara tidak langsung juga memberikan dampak pada manusia yang telah dilekatkan oleh analogi tersebut. Kedua dehumanisasi dengan mengidentifikasikan entitas manusia sebagai sosok bukan manusia ini pasti sering teman teman temukan, dari pengaburan sisi kemanusiaan secara tidak sengaja dengan menganalogikan nyawa manusia hanya dalam sebuah catatan statistik belaka, ras atau bangsa lalim hingga pada penggambaran sosok manusia itu sebagai kejahatan yang tidak termaaafkan hingga layak disebut setan atau apapun itu (silahkan teman2 lihat dalam kolom komentar ketiga video yang saya bagikan sebelumnya).
  • Cara kelima dan terakhir adalah membuat suatu jarak fisik dan psikologis antara seseorang dengan manusia lainnya hingga kemudian juga dapat memberikan efek dehumanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jarak fisik dan juga memisahkan kemudian meningkatkan perbedaan perbedaan antara manusia di kelompok mereka dan ‘manusia lain’ di kelompok lain yang berseberangan sehingga muncul penggolongan yang ekstrim. Hal ini yang kemudian membuat kita terkadang berpikir “Di sana kan jauh ya, untuk apa kita memikirkan mereka, toh mereka juga bukan keluarga kita dan tidak kenal juga dengan kita. Jadi tidak lah perlu bersusah payah memikirkan mereka”.

Banyak juga ya ternyata cara kita tereleset pada lubang dehumanisasi. Jika kita baca, sepertinya memang terlihat sangat jelas bagaimana proses dehumanisasi itu. Namun sayangnya dalam keseharian kita, jarang sekali lubang lubang itu terlihat dengan jelas dan menjadikannya sulit dihindari. Terlebih lagi mungkinlah kelima cara dehumanisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan terkombinasi menjadi suatu permasalahan yang samar dan sulit untuk kita tebak kemana arahnya.

Itu saja sih hal yang ingin saya bagikan dalam tulisan ini. Semoga tulisan ini sedikit menyadarkan kita termasuk pengingat bagi saya akan adanya musuh sejati yang besar bagi kita semua. Musuh yang sangat dekat bahkan lebih dekat dari rambut di atas dahi kita. Musuh yang merusak kerja otak kita dan mengarahkan kita menuju kegelapan, menjadikan kita sosok yang menyerupai Zombie yang jauh dari sisi humanis. Jika itu terus berlanjut dan tidak ditanggulangi mungkin manusia akan musnah dan digantikan oleh sosok sosok yang tidak ingin kita kenal lagi bahkan malu untuk diakui pernah menjadi manusia sebelumnya.

Zombie Apocalypse bukan disebabkan oleh T Virus, Flaka, Covid19 atau apapun itu. Zombie Apocalypse justru datang lebih senyap dari itu semua, menyebar dari pikiran seseorang kepikiran orang lainnya tanpa perantara dan vektor yang nyata. Namun persebarannya jauh lebih cepat dan mengerikan dari yang pernah kita duga sebelumnya hingga saat kita membaca tulisan ini pun sangat mungkin kalau kita sudah sedikit terjangkit oleh fenomena itu. —-> Play me

Salam

Dewa Putu AM

Pada dasarnya tulisan ini sudah selesai sampai di sini, silahkan teman teman skip jika memang ingin skip, namun saya ingin menambahkan sedikit saja.

Saya pada awalnya ingin menunjukan hal ini pada postingan saya sekarang. Namun Issue dehumanisasi tampaknya lebih penting dan lebih dapat kita tanggulangi ketimbang permasalahan Covid19 sehingga saya pada postingan utama hanya membahas terkait dehumanisasi tersebut. Saya dalam beberapa hari ini tertarik dengan analisis dan visualisasi data. Namun apa yang saya dapatkan ketika mengelola data tersebut serem sih. Seuma orang mungkin tahu bahwa persebaran Covid19 termasuk sangat cepat. Dari sini kemudian saya mencoba melakukan analisis sederhana untuk melihat akan seperti apa eskalasi Covid19 kedepannya. Saya harap perkiraan ini salah, namun bila tidak ditanggulangi secara cepat dan baik dan kecepatan pertambahannya tetap seperti ini kasus Covid19 akan semakin besar dan berlipat ganda pada akhir bulan Februari atau Awal Bulan Maret. Kalian dapat melihat analisis tersebut pada dasboard yang saya susun dalam tautan ini.

Namun seperti yang saya bahas pada postingan utama saya, yang bisa kita lakukan selain lebih menjaga kesehatan kita dengan berbagai cara yang sudah dianjurkan berbagai istitusi pemerintah, kita juga tidak perlu panik. Namun perlu diingat, yang sekarang menderita di sana samalah seperti kita, terlepas dari persepsi apapun teman-teman kepada mereka janganlan mengaburkan fakta bahwa mereka juga manusia.

Dan kemudian untuk kasus pemulangan (ex WNI yang tergabung ISIS) saya tidak dapat berdiskusi banyak. Saya pun tidak begitu setuju jikalau nanti ada niatan pemulangan mereka begitu saja. Namun perlu diingat perlakuan yang seperti itu tidak begitu berbeda dengan “identitas kejam dan berbahaya” yang kita sematkan pada mereka. Apakah kini kita sama saja dengan mereka? lalu bagaimana kita seharusnya bersikap? Sayapun tidak tahu, biarkan waktu yang menjawab ini semua.

Sudahlah

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] Hit Refresh karya Satya Nandela, Sebuah Autobiografi seorang CEO Microsoft

October 31, 2019 — by dewaputuam0

microsoft-satya-nadella-bing-ceo-960x640.jpg
Gagasan-gagasan selalu menggairahkan saya. EMpati telah membumikan dan memusatkan diri saya- Satya Nandella (Sumber foto: Investor’s Business Daily)

Sebuah biografi biasanya menggambarkan masa masa lalu seorang tokoh dari perjalanan meniti karirnya yang penuh dengan dilema hingga kemudian sukses. Dari buku buku tersebut kita akan diajarkan kegigihan dan keunikan kerangka berpikir para tokoh dalam menghadapi permasalahan permasalahan yang “saat itu” ia temui. Hal yang membuat saya suka membaca buku buku emacam ini adalah berbagai nilai nilai yang menurut saya lebih relevan dan membumi karena dileatkan pada tokoh yang memang menganut nilai tersebut dikehidupannya dan bukan hanya sesuatu konsep yang masih abstrak.

Buku ini menawarkan formula yang berbeda dari biografi kebanyakan, tidak hanya menceritakan “sejarah” yang telah lalu sang CEO, buku ini justru menceritakan pembentukan kerangka berpikir sang CEO yang membawanya pada keputusan keputusan lalu dan juga memberikan gambaran tujuan gerak Microsoft kedepannya. Ini bukanlah buku biografi biasa namun lebih pada catatan harian sang CEO yang jalan ceritanya masih berlanjut hingga saat ini.

Generik namun masih menarik di Awal, Cerita awal mula perjalanan seorang Nandella

Satya Nandella sedang bermain kriket, olahraga faforitnya. Dari permainan inilah ia belajar banyak terkait kepemimpinan (Sumber foto: Dreamcricket)

Kisah Nandella diawali dengan kecintaannya akan olah raga Kriket. Seperti negara negara persemakmuran Inggris pada umumnya mencintai olahraga kriket, India adalh salah satunya. Olah raga kriket merupakan passion terbesar Nandella selain kecintaannya pada komputer. Ia sempat menjadi anggota tim kriket sekolahnya dan mengikuti berbagai pertandingan hingga level nasional. Dari permainan kriket inilah Nandela muda mendapatkan prinsip-prinsip terkait membangun tim dan kepemimpinan yang hingga saat ini terus ia pegang dan juga saat ia memegang status sebagai CEO Nicrosoft.

  • Prinsip pertama adalah bersaing dengan penuh semangat dan gairah
  • Prinsip kedua, seorang pemain jagoan yang tak menomorsatukan tim akan menghancurkan seluruh tim tersebut
  • Prinsip yang paling penting dari kesemua itu adalah “Pemimpin harus tahu kapan saatnya turun tangan dan kapan membangun kepercayaan diri seseorang atau satu tim.

Kerja sama tim adalah hal yang wajib selalu dijaga oleh setiap organisasi bahkan untuk organisasi yang berbasis tekhnologi seperti Microsoft. Dalam kerja sama tersebut juga perlu melibatkan empati dari para anggotanya untuk memberikan nyawa dan jiwa pada produk produk yang dihasilkan. Menurut Nandella, Tekhnologi tak lebih dari kumpulan jiwa para pembuatnya. Ketika para pesaing mendefinisikan produk mereka sebagai mobile, Microsoft justru mendefinisikan sebagai mobilitas pengalaman manusia. Mereka fokus mendefinisikan diri tidak hanya sekedar alat yang mobile (bisa dibawa kemana mana) namun lebih dari itu dengan produk-produk merekalah pengalaman pengalaman manusia akan termobilisasi.

Melalui buku ini, Mereka mengakui kesalahan, kelengahan dan berujung pada kekalahan Microsoft pada pergeseran tekhnologi yang belakangan ini terjadi. Namun mereka tidak akan kalah lagi kali ini

Apel melambangkan sebuah ide, udah itu aja. Buku ini juga menggambarkan persaingan antara Microsoft dan Aple serta perusahaan perusahaan lainya. Meski pada satu bagian mereka bersaing namun mereka juga bekerja sama untuk bagian lainnya lagi dan saat krisis terjadi (saat kasus Snowden) para perusahaan ini pun di saling bekerjasama untuk mengembalikan kepercayaan para pelanggan mereka pada tekhnologi Photo by Pixabay from Pexels

Microsoft telah kalah dalam menyikapi perubahan tekhnologi yang terjadi belakangan ini khususnya ketika Aple dan Android membawa komputer pada setiap genggaman tangan manusia menyebabkan visi untuk menyediakan komputer pada setiap meja menjadi visi yang tidak lagi relevan. Budaya saling bersaing diperusahaan disertai budaya budaya kurang baik yang berkembang membuat jiwa jiwa ingin berubah dan menjadikan Microsoft berjaya kembali bergejolak di banyak karyawan namun tertekan dan tidak bisa berbuat apa apa. Saat Nandella memimpin sedikit demi sedikit Microsoft berubah dan mulai kembali menunjukan taringnya.

Dalam buku ini dijelaskan bagaimana Microsoft dengan serius mengembangkan produk produk mereka dan pertaruhan besar pada tekhnologi tekhnologi inti seperti Komputasi Awan, Kecerdasan Buatan, dan juga komputer quantum. Menariknya buku ini juga membahas kegelisahan kegelisahan yang dialami oleh Nandela saat bertemu pemimpin pemimpin negara-negara tidak hanya negara maju namun juga berkembang yang menginginkan andil besar dari tekhnologi untuk kemajuan bangsa. Negara negara berkembang cenderung ingin mendirikan Sillicon Valley dengan meminta para perusahaan tekhnologi besar membuka kantor cabang di negara mereka. Nandela menilai hal itu bukanlah solusi yang tepat.

Menurut Nandella suatu negara yang ingin mengembangkan negara mereka justru perlu menggali potensi potensi lokal yang ada dan memperbesar intensitas penggunaan tekhnologi tekhnologi terbaru yang ada maka perkembangan akan menjadi jauh lebih baik dan optimal. Pemberdayaan sumberdaya lokal akan jauh lebih baik dan optimal dalam menyelesaikan permasalahan permasalahan unik yang ada di suatu negara. Untuk mengejar potensi penuh tekhnologi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara perlu meningkatkan kualitas pendidikan dan inovasi lokal.

(Pendidikan+Inovasi)*Intensitas Pemanfaatan Tekhnologi= Pertumbuhan Ekonomi.

Seperti yang disampaikan oleh Profesor Comin, Anda tak perlu menemukan roda, tetapi anda harus cepat mengadopsinya karena “Masyarakat yang cepat memanfaatkan alat baru kemungkinan besar akan lebih produktif”

Kunci perubahan budaya adalah pemberdayaan individu. Kadang kita meremehkan apa yang dapat kita kerjakan sendirian untuk mewujudkannya, dan terlalu berlebihan menilai apa yang harus dilakukan orang lain untuk kita.

Satya Nandella

Secara umum buku ini menurut saya sangat bagus dan menari. Penceritaannya dan permasalahan permasalahan yang dibahas dibuku ini masih relevan untuk menggambarkan apa yang saat ini sedang terjadi dan akan kemana Microsoft di masa yang akan datang. Permasalahn permasalah etis khususnya saat pembahasan terkait privasi, dan kaitan antara AI dan ketersediaan pekerjaan dibahas secara menarik dari buku ini.

  • Sumber Foto Cover Time

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Ini Bukan Tentang Dunia Melainkan Cara Kita Melihat Dunia

October 27, 2019 — by dewaputuam0

alex-alvarez-F4Q_-YiPY7U-unsplash-960x640.jpg
Kita semua melihat dari filter berbeda yang terbentuk oleh kita dan lingkungan kita sebagai sesuatu yang unik. Kita berbeda tidak hanya dari sikap kita terhadap sesuatu namun sejak kita melihat sesuatu. Photo by Maurício Mascaro from Pexels

Pada hari blogger tahun ini saya ingin berbagi pikir sekaligus berdiskusi tentang cara kita melihat. Dari cara kita melihat, merasakan inilah yang kemudian membingkai pola pikir kita dalam mengelola suatu permasalahan entah itu permasalahan sepele dari sekedar gaya menyisir rambut hingga permasalahan permasalahan yang lebih prinsip seperti Politik mungkin atau idealisme. Pemahaman akan adanya beda cara kita melihat agaknya merupakan kesadaran yang perlu sekali kita miliki dalam kehidupan kita saat ini. Banyak sekali permasalahan dan kesalahpahaman datang dari tidak sadarnya diri kita pada tidak mesti sama nya cara orang lain memandang dengan cara kita. Sedikit menjelimet ya bahasa yang saya gunakan. Akan tetapi sesuatu yang penting disini adalah kesadaran kita bahwa cara kita melihat itu sangat mungkin berbeda dengan orang lain.

Saya begitu heran dan sekaligus terkesima akan kayanya perbedaan diantara kita, khususnya pola kita memendang. Beberapa waktu saya terheran kenapa beberapa orang tidak memahami konsep yang terlihat begitu sederhana kenapa tidak ada yang melihat kesalahan yang begitu jelas terhampar nyata. Kenapa ini kenapa itu. Hey begitu juga dengan saya, kenapa ada juga konsep dan kesalahan yang butuh waktu lama atau bahkan tidak dapat sama sekali saya pahami. Hal inilah yang secara nista kemudian membuat saya beberapakali terjebak pada debat konyol meributkan sesuatu yang “berbeda”. Debat yang lucu sekaligus payah ini terjadi saat kita mempertahankan ego masing masing untuk mengadu dan menaklukan pola pikir lawan kita.

Semua Benda dan Hal Itu Bersifat Netral, Kitalah Yang Memberikan Mereka Nilai Baik-Buruk Sejak Kita Melihat

Kita tidak dapat terhindar sepenuhnya dari bias-nya kita melihat juga bias-nya kita berpikir hingga Photo by Alex Alvarez on Unsplash

Kadang kita bias memaknai mana yang fakta mana yang hanya persepsi kita. Kita terjebak dengan cara kita melihat dan kerangka berpikir kita sendiri hingga sebuah nilai kita anggap suatu fakta yang universal benar dan harus benar bagi semua orang. Pola pikir inilah yang kemudian membawa kita pada apa yang saya sebut perdebatan konyol sebelumnya. Kita yang saya maksud disini tentunya termasuk saya, saya pun demikian sukar untuk terlepas dari bias seperti ini. Ini hal yang lumrah kita lakukan dan manusiawi sekali. Hal yang penting bagi kita bukanlah untuk lepas pada bias bias itu namun jauh lebih sederhana dari itu karena kita hanya perlu menyadari bahwa apa yang kita anggap fakta sebenarnya bukanlah fakta.

Saya lupa konsep ini terinspirasi dari buku mana, mungkin dari buku karya Henri Manampiring berjudul Filosofi Teras. Ada suatu metafora menarik untuk menggambarkan berbedanya cara memandang kita. Coba bayangkan kita sedang duduk di dalam kamar dan kita sedang melihat ke arah taman di luar. Di tengah taman kita melihat seekor Gajah duduk di Jungkat Jungkit sedang beradu pandang dengan kita sambil mengenakan kacamata berwarna biru. Melihat kejanggalan tersebut kita pun menghubungi teman kita yang rumahnya ada di seberang rumah kita.

Dengan semangat kita bercerita tentang kejanggalan Gajar menggunakan kacamata yang saat ini sedang saya lihat. Karena rumah teman kita itu tidak dapat melihat langsung ke arah taman maka teman kita itu hanya anggut anggut namun tidak percaya dengan apa yang sedang kita bicarakan. Teman kita yang saya telepon itu tidak percaya ada gajah naik jungkat jungkit dan kenapa ada gajah di taman. Ini yang menarik, saya rasa dan tebak teman teman yang saat ini sedang membaca tulisan saya memiliki sebuah pertanyaan dan justru menyoroti alasan kenapa saya memberikan contoh yang begitu aneh dan tidak nyambung sama sekali dengan bahan pembahasan kita saat ini.

Inilah yang saya maksud dengan penilaian kita muncul bahkan saat kita melihat. Bagi “saya” yang saat itu melihat seekor gajah sedang bermain jungkat jungkit mungkin akan ter heran (merasakan ada sesuatu yang salah) saat melihat gajah menggunakan kaca mata karena ukuran kepala gajah yang begitu besar akan repot sekali membuat kaca matanya. Sedangkan teman saya ditelepon akan keheranan saat mengetahui ada gajah, karena baginya tidaklah umum ada seekor gajah masuk ke taman kota. Dan bagi para pembaca justru menyoroti ada yang salah dengan contoh yang diberikan.

Bila kita baca lagi secara seksama narasi yang sebelumnya saya berikan bukanlah sesuatu yang aneh (ini persepsi saya). Atau mungkin merupakan narasi yang janggal dan tidak masuk akal (ini persepsi lainnya yang mungkin muncul). Tetapi satu hal yang pasti cerita yang saya sampaikan tadi tidaklah ada nilainya baik itu nilai kejanggalan kemasukakalan atau lain sebagainya. Nilai nilai yang demikian itu berasal dari kita. Apa yang telah terjadi pada kita selama ini memiliki andil yang besar pada kerangka melihat apa yang kita gunakan, mana yang kita tonjolkan dan mana yang kita buat blur. Untuk hal ini kita semua unik.