Dark Light
Mereka yang melakukan Cyberbulliying Saat ini, bukan tidak mungkin akan menjadi korbannya suatu saat nanti. Jadi pilihan tetap pada diri kita masing masing, tetap melakukannya, mencoba mengurangi atau bahkan menghentikan. (Sumber Ilustrasi: starshellstudent)

[highlight]Kebenaran di Jemari kita, Kesalahan Sepenuhnya Ada Pada di Diri Mereka[/highlight]

Terkadang atau munkin sering kita merasakan suatu sensasi yang berbeda dan nyaman saat berselancar melalui akun-akun media sosial kita. Sebuah perasaan dimana banyak orang disekitar kita berpandangan sama dengan apa yang kita anggap benar dan sama pula dengan apa yang kita anggap salah. Perasaan itulah yang kemudian membenarkan diri kita untuk menghakimi seseorang yang salah dan menjatuhkannya dengan sangat dalam hingga kita tak sadar kita telah menerjunkannya jauh dibawah harkatnya sebagai manusia.

Yang jadi pertanyaan, apakah saya juga melakukannya? Secara jujur saya akui kadang saya melakukan hal tersebut “secara sadar”, yang secara tidak sadarnya mungkin justru sering. Yah atas dasar itu dan dasar statement yang saya sebut sebelumnya tentang perasaan sama, saya rasa kalian juga pernah mengalami hal yang sama seperti saya. Jika tidak pernah berati kalian individu yang luar biasa dan layak sekali jadi panutan hehehe (the power of “hehehe”).

Jika dipikir pikir, hal ini cukup pelik memang, keberadaan sosial media yang dulu membuat kita dapat terhubung dan berinteraksi ke kawan kawan lama kita kini justru menjadi ladang pelam piasan emosi bagi sebagian orang. Ada hal yang salah dikit kita berbondong bondong menghakimi dengan santai dan tersenyum lebar dengan embel embel negri ber Flower lah atau negri +62. Tapi tidak saya pungkiri, terkadang kegiatan tersebut cukup seru, yah meskipun kita tahu dampaknya pada orang orang yang kita bully tersebut tentunya sakit namun tak berdarah. Saya juga pernah merasakan hal itu tapi yasudahlah, pada tulisan ini saya akan menyusun sebuah alasan kenapa pembulian itu terjadi, alasan ini tidak bermaksud membenarkan pembulian. Karena biar bagaimanapun pembullian adalah suatu hal yang tidak keren.

Alasan ini saya tulis hanya sebagai pengingat, bahwa yang kita lihat dan dan sensasi rasakan selama ini melalui jendela bernama sosial media tidaklah sepenuhnya benar. Ada suatu sistem yang bekerja disana agar kita merasakan sensasi “seolah olah” semua orang sependapat dengan kita, dan pandangan kita adalah pandangan mayoritas orang.

Cara Kerja Filter Bubble yang membentuk semacam ruang semu “bubble” yang sebenarnya bermanfat untuk memberikan saran saran iklan yang tepat sasarn namun ada dampak negatif yang tidak terlihat (Sumber Ilustrasi: sticky.digital

[highlight]Filter Bubble, Sebuah Algoritma yang Semakin Memisahkan Kita dari “Mereka”[/highlight]

Istilah Filter Bubble pertamakali diutarakan oleh seorang Aktifis Internet bernama Eli Pariser. Istilah ini digunakan untuk menyebutkan sebuah algoritma atau sebuah sistem yang secara seletif mendekatkan dan memberikan informasi yang sekiranya disukai seseorang melalui profil personal seseorang yang didapatkan melalui jejak jejak aktifitas digital mereka.Jejak digital yang dimaksud adalah terkait konten apa saja yang seseorang cari melalui mesin mesin pencari, apa saja yang mereka like/sukai, apa saja yang mereka lihat dengan view time yang lama, apa saja yang ia lihat sekilas lalu saja dan apapun aktifitas mereka dalam dunia digital sebenarnya dicatat dan digunakan untuk mempelajari sifat dan tendensi kita. Melalui informasi inoformasi tersebut maka akan terpetakan kesukaan dan ketidak sukaan seseorang terhadap suatu konten. Konten konten yang disukai akan semakin banyak diberikan sedangkan konten konten yang tidak disukai dan bertentangan dengan profil personal mereka akan dihindarkan.

Hal inilah yang membuat kita “seolah olah melihat” ide dan gagasan yang ada disekitar kita sesuai dengan keinginan kita. Dengan begitu banyaknya kita melihat ide, gagasan dan pandangan yang sesuai dengan ide, gagasan dan pandangan kita maka akan timbul sebuah perasaan bahwa kita berada dipihak mayoritas, dan kita berada di jalur yang benar. Padahal sebenarnya, ada banyak ide, gagasan dan cara pandang lain diluar sana yang mungkin sangat bertentangan dengan yang ada pada kita. Kita selama ini jarang melihat karena memang disembunyikan oleh algoritma filter buble ini. Jikapun ada yang tidak sengaja muncul, itulah yang kemudian menjadi bahan bulliyan oleh orang orang yang sepandangan dengan pandangan kita.

Filter bubble ini pada kenyataannya tidak hanya terjadi di dunia maya saja tetapi juga untuk beberapa orang juga mengalami hal serupa di dunia nyata. Sama seperti yang ada didunia Maya yang pada prinsipnya membatasi pandangan kita hanya pada keinginan dan minat dangkal masing masing pribadi kita saja, pada dunia nyata filter bubble juga akan berdampak pada orang orang yang pergaulannya sangat terbatas dan hanya mau berinteraksi dengan orang orang yang sepandangan dengan diri mereka. Hal inilah yang kemudian memunculkan tindakan tindakan tidak keren seperti menganggap dirinyalah bersama kelompok mereka yang paling benar sedangkan orang lain sepenuhnya salah. Lalu kemudian dari hal ini akan memunculkan bibit bibit yang membenarkan bullying hingga persekusi bagi orang orang yang salah.

Bagaimana cara kita agar tidak terjebak dalam jebakan filter bubble ini. Ada pepatah lama yang seringkali digunakan sebagai sindiran untuk orang yang kurang pengetahuan.

“Main Mu Kurang Jauh Nak, dan Pulangmu Kurang Malam.” Jika dirimu tidak Ingin terjebak dalam Filter Bubble, maka janganlah terlalu memilah milah teman agar sudut pandang semakin luas. Sekali kali boleh lah membaca dan mengakses informasi informasi yang mungkin berbeda atau bahkan bertentangan dengan apa yang kita yakini saat ini agar kita sekedar tahu bahwa selain pendapat kita ternyata ada juga “pendapat orang lain yang benar benar lain”

(Bacotan Dewa Putu AM, Salam Super)

Saya rasa sampai disitu saja tulisan saya kali ini agar sekali kali tulisan saya tidak terlalu panjang hehehe.

Salam

Dewa Putu AM

Feature Image by kaboompics on Pixabay

4 comments
  1. Iya juga sih ya jadi itu disebut buble filter membuat kita terjebak dengan dunia yang itu2 aja padahal begitu luas dunia ini. sama dengan katak dalam tempurung kah? atau beda?

    1. hoia ya mbk ada istilah katak dalam tempurung, saya lupa. tapi kalau dipikir pikir bubble filter memang mirip ya sama katak dalam tempurung, sepertinya maslah ini dah muncul dari dulu dulu banget ya, dengan istilah yang beda

Leave a Reply to ibadahmimpi.com Cancel reply

Related Posts
Total
0
Share