Sekarang sudah malas rasanya baca sosial media, sangat penuh sesak dengan kebencian dan provokasi, perdebatan tak berujung. Entah dari kapan ini bermula, tetapi setiap 10 kali swipe sekarang hampir 50% isinya melipir ke isu politik.
Berbagai candaan pun sekarang nyerempet nyerempet ke politik, jujurli itu membosankan dan ndak begitu asik. Terlepas dari si Pro ataupun kontra saya lihat sama saja kelakuannya. Tidak ada bedanya, sama-sama NPD yang terika NPD, dan memaksakan kehendaknya benar dan yang lain pasti salah. Sebenarnya saya ingin mengatakan situasi saat ini kalau dilihat diskusinya itu lebih mirip diskusi anak kecil yang ndak jelas jundrungannya, tapi yo sudah pada tua sudah pada berkumis dan bergincu jadi nggak begitu lucu untuk dilihatnya. Diskusi hanya teriak keras tidak jelas substansinya.
Mungkin beberapa kali saya secara tak sadar atau sesekali secara sadar mencari sedikit keseruan dengan terlibat melempar secuil pendapat, tetapi tetap belum bisa memahami apa yang membuat mereka begitu menikmati kegaduhan itu. Satu yang belakangan ini saya sadari, perdebatan itu semakin lama bukan mencari apa yang benar, melainkan mencari pelampiasan emosi sesaat saja, dari dunia yang mungkin dirasa tidak adil atau segala macam kelucuan yang tidak lucu-lucu amat bila dirasakan.
Antara berpikir dengan Otak atau Sumsum Tulang Belakang

Meskipun tentunya perlu juga saya sadari tidak semua memiliki alasan demikian. Tentunya masih banyak orang yang memang tulus dan peduli dengan apa yang terjadi sehingga ia banyak menyuarakan berbagai pendapatnya sebagai upayanya untuk memberikan “apa yang dianggapnya baik”. Frasa apa yang dianggapnya baik di sini saya sengaja karena baik menurut orang belum tentu akan baik pula menurut orang lainnya. Justru di sini yang kemudian menjadi pemicu keributan antar orang baik ini.
Dari sisi lainnya, ada satu lagi si lucu nan imut yang menjadi pembahasan saya saat ini. Berbaur dengan banyak alasan orang orang baik yang bertengkar itu muncullah beberapa orang Pemikir dengan Sumsum Tulang Belakang yang sangat mudah sekali terlihat dan terciri dari apa yang dia lakukan dan dia sampaikan.
Pemikir dengan sumsum tulang belakang ini sama seperti respons refleks pada manusia, setiap sinyal atau informasi yang diterima tidak sampai diolah di otak tetapi langsung diproses secara singkat dan secepat-cepatnya di sumsum tulang belakang lalu dikembalikan dalam bentuk respons. Tentunya terlalu mewah kalau kita berharap respons yang dihasilkan dari proses itu akan bermakna. Dan tentunya akan tahu bagaimana bentuk responsnya dan sering kita lihat kan ya? Akan banyak kebun binatang, kebencian, fitnah, dan berbagai macam kekonyolan akan terucap di sana.
Outsourcing Pikiran dan Emosi
Fenomena para pemikir dengan sumsum tulang belakang ini tidak muncul begitu saja. Sistem masyarakat dan perkembangan teknologi sekarang membawa kita untuk semakin menuju ke arah gaya pemikiran yang cepat tanpa perlu menghabiskan waktu untuk menikmati kerangka dan alur berpikirnya. Kita lebih banyak men-outsource-kan pikiran dan emosi kita pada orang lain atau “sistem tertentu”, baik kita sadari dan sayangnya sering kali tanpa pernah kita sadari.
Ini bukan hal yang baru, kita sering kali men-outsource-kan pikiran dan emosi kita pada sesuatu yang ada di luar kita. Beberapa di antaranya bisa jadi adalah hal yang baik seperti seorang anak yang di awal perkembangan dirinya mempercayakan penilaian yang baik dan salah pada orang tua dan orang di sekitarnya. Beberapa murid pada gurunya, bahkan umat dengan pemuka agamanya atau dengan kitab sucinya. Tentu banyak yang bilang ini adalah hal yang baik dan sudah berlangsung lama.
Di sisi lain, tidak bisa kita nafikan bahwa outsourcing itu tidak selalu bergerak sebagaimana mestinya dan justru menjerumuskan seperti komplotan penjahat dengan pimpinan penjahatnya atau berbagai peristiwa lainnya yang malas sekali saya sebutkan satu persatu. Dan outsourcing pikiran ini mencapai bentuknya yang paling berbahaya justru dalam sistem yang kita anggap bebas.
Sistem Demokratis dan Totalitarian

Saya jadi teringat sebuah konsep yang disampaikan oleh sejarawan Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Nexus. Dalam buku tersebut ia mendefinisikan demokrasi dan totalitarian dari sisi jejaring informasi yang dibentuk.
“Democratic systems allow information to flow freely along many independent channels, whereas Totalitarian systems strive to concentrate information in one hub.” -Yuval Noah H.-
Secara sederhana kita melihat sistem demokratis dan totalitarian memiliki perbedaan yang mencolok dari kebebasan alur informasinya. Sistem demokratis bekerja dengan cara membebaskan alur informasi sedangkan totalitarian ada suatu pengkonsentrasiannya. Yang jadi pertanyaan saya, sosial media yang dengan sengaja memilah dan memilihkan informasi kepada kita hanya yang sesuai dengan preferensi kita itu termasuk kebebasan alur informasi atau bukan?
Jawaban saya: sosial media justru menjadi sistem totalitarian yang terselubung dengan demokratis. Kita diperdaya merasa memiliki kebebasan untuk mendapat informasi dan mengutarakan pendapat, padahal kita sudah ditempatkan dalam ruang gema yang sangat mudah disusupi gagasan dan kepentingan “tidak bertanggung jawab”. Ilusi kebebasannya itulah yang berbahaya, karena kita tidak merasa dikontrol, kita tidak merasa perlu waspada.
Hal ini menjadi penting untuk dijawab karena konsekuensinya berpengaruh langsung terhadap hidup dan penghidupan kita. Dan ini sudah terjadi di banyak masa, beberapa tragedi kemanusiaan yang menghilangkan banyak nyawa karena kelakuan orang-orang yang hanya berpikir menggunakan sumsum tulang belakang. Tak ada verifikasi informasi, apa yang ada langsung di-share, emosi langsung kasih pendapat dan hujat. Tanpa berpikir bahwa di luar sana akan ada orang lain yang memiliki bentuk respons tidak hanya dalam verbal namun juga tindakan kekerasan fisik.
Ini bukan fiksi, dan sudah terjadi di banyak tempat seperti sejarah pemburuan penyihir “Witch Hunt” yang terjadi di Eropa dan Amerika, Tragedi Rohingya, tragedi perburuan dukun santet, dan berbagai tragedi lainnya yang sedikit banyaknya tersulut dan menjadi sangat besar karena ulah orang-orang bodoh ini.
Saat orang dengan enggannya berpikir mendalam dan melakukan riset sendiri, ia membiarkan dirinya terhanyut pada arus informasi yang sengaja disuapkan melalui video singkat yang diarahkan, atau bahkan melalui orang-orang influencer yang terserah dari Pro atau Kontra sama saja kelakuannya. Ini yang kemudian membuat emosi kita ikut dengan apa yang diberikan kepada kita tanpa mau melihat sisi lainnya. Karena kita merasa sisi lain itu salah dan tolol.
Secuil Pesan Manis untuk Mu
Tanpa kita sadari kita juga sebenarnya sama bodohnya dan hanya menjadi Pemikir yang membosankan itu yang hanya menggunakan sumsum tulang belakangnya. Seseorang yang terus secara refleks bereaksi kepada semua informasi yang diterima tanpa pernah benar-benar mencernanya dalam-dalam menggunakan otak kita yang imut ini. Sebodoh dan selucu itu memang, tapi jika kalian membaca sampai baris terakhir ini, saya merasa masih ada kesempatan untuk berubah, atau justru pendapat saya yang salah.
Karena Pemikir dengan Sumsum Tulang Belakang pasti tak akan sampai sini karena dia akan bosan membaca tulisan saya yang sepanjang ini. Begitu pun saya, sepertinya sudah bosan juga menulis. Jadi sekian dulu ya dari saya. Tetap gunakan otak kita ya kawan-kawan pemikir.
Catatan penting tambahan:
Tulisan ini juga saya post melalui akun medium saya di https://medium.com/@dputu56/para-pemikir-dengan-sumsum-tulang-belakang-yang-membosankan-b861e92eaeee
Feature Image by by Andre Moura from Pexels: https://www.pexels.com/photo/photo-of-woman-lying-beside-a-phone-2753486/









Leave a Reply