Dark Light

Kadang untuk beberapa orang memiliki kisah yang mengharuskannya berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain. Begitu juga dengan saya. Meski bila dilihat dari jaraknya, perpindahan saya tidaklah terlalu jauh. Namun tetap saja setiap perpindahan kita butuh banyak penyesuaian. Hal ini yang membuat saya sesekali merindukan berpindah pindah saat berdiam diri seperti sekarang (Hingga tulisan ini saya buat, sudah 2 bulan lebih saya harus meminimalisir pergerakan saya di kamar kos #curcol).

Masih melanjutkan empat tulisan saya sebelumnya, cerita berlanjut pada akhir tahun 2015 yakni saat akhir studi saya di Jogja. Pada satu tulisan sebelumnya saya bercerita tentang bagaimana keseruan dan perjuangan saya melakukan penelitian akhir di Dieng. Dan tentu saja dalam penelitian tersebut masih sama seperti cerita-cerita sebelumnya banyak sekali orang baik yang terlibat. Baik secara langsung pada penulisan seperti Dosen pembimbing dan penguji saya dan juga pihak-pihak lain yang memiliki peran pada kelancaran saya melakukan penelitian tersebut.

Oia, saya merasa sangat beruntung mendapat Pembimbing-pembimbing yang menurut saya sangat oke baik di Skripsi saya dan juga pada saat itu saat saya mengerjakan Thesis. Saya selalu mendapatkan Profesor yang perhatian detailnya luar biasa. Profesor Junun Sartohadi, merupakan dosen pembimbing utama di Thesis saya. Dari awal pertemuan beliau sudah mewanti-wanti saya bagaimana ketanya bimbingan dengan beliau. Dia berkata dan benar-benar mencari kita saat kita menghilang tanpa kabar walau hanya dua minggu saja.

Profesor Junun (yang berkaus Putih) Sedang memberikan penjelasan pada mahasiswa Geoinformasi (entah batch berapa) saya meminjam foto ini dari webnya (Geo-informasi Untuk manajemen Bencana UGM)

Oia, setiap Bulan Ramadhan Prof Junun juga memiliki sejenis acara buka puasa bersama dengan para mahasiswa bimbingannya dari mahasiswa S3, S2 hingga mahasiswa S1-nya. Pada saat itu, yang paling membuat saya terpukau adalah saat beliau memberikan bincang-bincang untuk mengenalkan mahasiswa mahasiswanya Nama, judul penelitian dan juga hal-hal menarik dari setiap penelitiannya. Buat saya yang sulit sekali untuk sekedar mengapal nama, Ini Prof Junun bisa mengapal nama, Judul penelitian kita hingga sekelumit kisah kisahnya.

Ada satu pesan yang selalu di ulang oleh pembimbing saya waktu itu. “Menulis itu salah satu cara kita untuk berkomunikasi standar yang paling efektif. mau sepintar apapun kita kalau kita masih belum bisa mengutarakan ide atau pendapat kita dalam bentuk tulisan maka ide dan pendapat kita itu sulit untuk diwujudkan. Untuk itu, Editorial adalah hal yang sangat penting untuk terus kita pelajari. Oleh karena itu metode pembinaan yang diberikan oleh Prof Junun saat itu benar-benar per paragraf dan sub bab, sehingga setiap ide yang ingin disampaikan akan ia lihat dan didiskusikan.

Kalimantan Lagi, Namun Kali Ini Asap Sedang Tebal tebalnya

Sembari menunggu proses administrasi untuk kelulusan, saya diajak oleh teman saya bernama Mas Listyo untuk membantu proyek pemetaan Zona Nilai Tanah di Tamiang Layang di Kalimantan Tengah. Karena tertarik dengan kesempatan tersebut akhirnya saya menerima ajakan dari teman saya tersebut untuk pergi ke Kalimantan. Saya berangkat dengan teman saya lainnya, Eko. Saya dan Eko berangkat ke malang dulu untuk bertemu dengan koordinator dalam Project tersebut yakni Bang Robi. Kabarnya dia dulu juga merupakan pemain sepak bola profesional.

Setelah berkemas kemas sejenak di Musala, untuk mandi dan beristirahat, kami pun pergi ke bandara di Surabaya. Namun sayangnya, karena kabut asap di Kalimantan sedang tebal tabalnya saat itu kami penerbangan kami pun ditunda menjadi hari berikutnya.

Dengan berbagai hambatan terkait penerbangan, akhirnya kami pun berhasil untuk terbang dan mendarat ke Kalimantan, namun karena asap yang masih tebal kami tidak bisa naik pesawat menuju Palangkaraya dan memilih penerbangan ke Banjarmasin. Saat mendarat di Banjarmasin, saya melihat helikopter bertuliskan BNPB sedang mengudara sambil membawa wadah air yang sangat besar. Untuk ke Kalimantan Tengah kami akhirnya menelusuri dengan Jalur Darat yang lumayan panjang.

Salah satu foto lahan yang terbakar saat melakukan survey untuk pemetaan Zona Nilai Tanah di tahun 2015 di Kalimantan.

Sesampai di lokasi project, kami pun beristirahat dan keesokannya bertemu dengan client kami. Udara Kalimantan saat itu masih berkabut karena asap. rasanya pengap kurang nyaman saat bernapas. Mirisnya situasi semacam itu sudah sering dialami oleh penduduk di sana. Jika penasaran bagaimana rasanya, mungkin bisa kita bayangkan ya pengapnya seperti saat kita masuk ke warung sate yang penuh dengan asap tapi aromanya tidak ada aroma daging sate nikmat yang terbakar. Yang bersisa hanya pengap dan pedih di hidung dan mata saja.

harga Tanah ternyata sensitif dan Hampir dihantam orang sana

Saat memulai kerja kami membagi tim menjadi dua yakni Mas Listyo dengan bang Robi, sedangkan saya dengan Eko. Kami mewawancarai dan beberapa warga di sana dan menanyakan beberapa pertanyaan serta harga tanah di sekitar kampung mereka. Karena sudah mengantongi surat dari pemerintah setempat di sana tanpa khawatir kami-pun menelusuri kampung-kampung mencari RT setempat untuk meminta ijin sembari bertanya tanya dan melakukan plotting harga tanah di sana.

Hingga saya dan Eko bertemu dengan salah satu responden dengan gelagat yang sedang tidak bersahabat. Pria berbadan cukup berotot dan bernada bicara tinggi saat kami memperkenalkan diri dan bertanya tanya mengenai harga tanah di sana. Saya menyadari, proses pendekatan kami pada saat itu memang masih sangat pemula sehingga akhirnya apa yang ditakutkan pun terjadi. Gelagat yang sedang kurang bersahabat itu akhirnya meledak dan kami diajak berkelahi. Wow, saya dan kawan saya yang saat itu sedang panik akhirnya meminta maaf karena sudah mengusik dan undur diri. Untungnya saat itu ada orang lain (teman orang yang marah tadi) menahan temannya itu dan berbicara baik-baik dengan kami untuk melanjutkan perjalanan saja.

Saat itu kami menyadari ternyata apa yang kami lakukan cukup ngeri-ngeri sedap. Dan untungnya hanya satu saja orang yang kami temui seperti itu, sedangkan lainnya cukup bersahabat dan baik kepada kami bahkan beberapa orang menyuguhi kami dengan camilan dan minum meski kami datang hanya untuk sebentar dan bertanya tanya saja.

Harga tanah di sana menurut saya menjadi issu yang sensitif bagi beberapa orang. Mungkin tidak hanya di sana saja melainkan di tempat lain juga seperti itu dan tentunya dengan permasalahan yang bisa saja berbeda. Setelah kejadian itu kami pun melanjutkan perjalanan dan melihat beberapa lahan yang sedang dibakar serta jalan tanah berdebu tebal tempat lalu lalang truk truk besar yang membawa ber ton ton batu bara.

Feature Photo by Vladyslav Dukhin from Pexels

Leave a Reply

Related Posts
Total
0
Share