Ditengah banyaknya kejadian bencana akhir-akhir ini saya ingin melempar satu gagasan yang sebenarnya sudah umum di kalangan praktisi penanggulangan bencana. Seperti pada judul “Bencana Alam hanyalah Mitos”. Bahkan UNDRR (organisasi dalam naungan PBB untuk pengurangan risiko bencana) sedang gencar-gencarnya mengaungkan tagar #NoNaturalDisasters.

Jujur saja saya tertarik untuk membahas isu ini karena sedikit terusik oleh beberapa orang yang menyebarkan informasi tentang bencana yang sekilas memang terlihat benar namun bila kita lebih teliti lagi justru berpotensi menyesatkan realitas berpikir kita tentang bencana itu sendiri. Isu ini menyebarkan tidak hanya pada orang yang jarang terpapar diskursus tentang kebencanaan tetapi juga terkadang para ahli bencana.

Bencana tidak pernah bersifat “Alamiah”

unrecognizable person with umbrella on beach
Photo unrecognizable person with umbrella on beach by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Hal yang kita harus sepakati terlebih dahulu adalah, bahawa tempat tinggal kita “alam sekitar kita” ini adalah sesuatu yang dinamis. Banyak fenomena alam yang menabjubkan terjadi di sekitar kita seperti angin bertiup, air hujan yang jatuh turun melalui dalam tanah dan aliran permukaan menuju galur galur sungai dan sampai ke laut, deburan ombak, bahkan gunung api yang bergelora menyemburkan meterial yang seringkali menyuburkan tanah. Semua fenomena ini berbagai aktivitas geologi, meteorologist bahkan biologis terus terjadi berulang di bumi kita dan akan terus berulan sedemikian rupa. Inilah yang mungkin bisa dikatakan sebagai sesuatu yang “Alami”, yang semestinya terjadi di alam.

Kemudian coba bayangkan ada sebuah baliho yang sangat besar dan tak terwawat, berisi iklan properti perumahan murah di pinggir sungai yang ternyata menghalangi angin yang kebetulan sedang mengalir dengan agak kencang. “Baaam”, papan reklame tersebut jatuh menghantam sebuah mobil yang sedang parkir di bawahnya, yang sayangnya di dalam mobil itu ada seorang yang sedang tertidur.

Terdengar sebuah radio samar samar menyampaikan pesan “bahwa kota itu dengan probabilitas 90% berpotensi terjadi cuaca ekstrim dengan kecepatan lebih dari 65 knot yang bergarak dari arah timur akibat pusat tekanan rendah muncul di sekitar kota tersebut”. Di sebelah mobil ringsek tersebut ikut rusak juga sebuah papan informasi huruf P dengan coretan berwarna merah.

Yang menjadi pertanyaan dari cerita di atas, apakah kejadian ini merupakan “bencana alam” Angin Kencang atau Cuaca Ekstrem? Tentu sekedar angin saja tidak akan membahayakan kita, bahkan angin yang kencang akan menjadi berkah bila termanfaatkan seperti angin kencang di turbin angin pembangkit listrik, angin untuk menerbangkan layangan maupun angin untuk nelayan melaut. Angin yang sama, namun kenapa angin satu disebut bencana dan angin lainnya justru anugrah.

Bencana terjadi selalu karena ada “Sesuatu”

Kembali ke contoh sebelumnya, tentang angin kencang yang menyebabkan korban, selalu ada sesuatu yang mengiringi terjadinya bencana. Alam akan selalu begitu dan akan tetap begitu baik tanpa atau dengan adanya campur tangan kita. Angin kencang yang mengalir akan bergerak begitu saja jika tidak terhalangi papan reklame. Dan akan tetap bergerak jika papan reklame tersebut memang dibangun dengan struktur yang baik dan terawat. Ini yang bagi para praktisi disebut sebagai variabel kerentanan. Sedangkan orang yang tidak mengindahkan aturan Parkir tersebut disebut dengan kerentanan sosial, dimana orang abai dengan tanda peringatan yang ada.

Hal yang menarik di contoh ini adalah sudah adanya peringatan di radio, walau dengan informasi yang sangat teknis dan sepertinya sulit untuk dipahami orang orang awam. Ini yang sering terjadi di sekitar kita sepertinya ya, di mana informasi yang disampaikan tidak begitu manusiawi untuk dapat dipahami oelah banyak orang, sehingga infromasi yang didengar itu hanya sekedar terdengar tetapi tidak didengar. Informasi ini meggambarkan bahwa kapasitas pemahaman masyarakat terhadap situasi (peringatan yang ada) masih kecil.

Penanganan Bencana juga Butuh Sesuatu

Dalam bahasa ringkasnya, Bencana teradi selalu karena ada sesuatu yang membuat rentan dan juga kapasitas yang minim. Hal ini tentunya tidak hanya berlaku pada contoh bencana angin kencang seperti yang dicontohkan di atas, tetapi semua jenis bencana berlaku demikian. Termasuk banyak bencana yang terjadi saat ini. Banyak orang yang menyampaikan bahwa kejadian bencana kebakaran hutan di Indonesia adalah bencana yang disebabkan oleh manusia dan tata kelola yang buruk. Hal ini tidak sepenuhnya salah tapi masih belum sepenuhnya benar. Bencana alam adalah hal yang kompleks yang di dalamnya merupakan hasil dari berbagai macam kesalahan dan kegagalan baik itu sisi pemerintahnya, sisi akademisi, sisi dunia usaha, sisi masyarakat dan tidak ada pihak yang terlepas dari dosa bencana ini.

Jika kita anggap kesalahan dan keteledoran kita yang menyebabkan kejadian bencana ini sebagai dosa. Maka terjadinya bencana adalah buah hasil dari dosa berjamaah kita semua. Boleh saja kita menyalahkan pemerintah yang masih belum optimal menanganani bencana belum optimal menyediakan kebijakan dan inisiasi yang mampu menghindarkan kita dari bencana atau minimal meminimalisir dampaknya pada kita.

Namun tentunya tidak dapat berhenti di situ saja. Isu kebencanaan perlu diakui bahwa hanyalah isu yang akan ramai ketika sudah benar benar terjadi. Saat kita aman sentosa kita cenderung abai dan secara sadar dan tidak sadar justru membuat kita semakin rentan terhadap bencana.

Belajar dari kejadian bencana gempa di berbagai daerah, bisa dikatakan bahwa bukan gempa yang membunuh, tetapi kekuatan desain infrastruktur dan rumah yang kita bangun cenderung lemah terhadap guncangan sehingga dengan adanya sedikit guncangan akan mengakibatkan bangunan rata dengan tanah. Hal ini terjadi hampir di semua daerah dimana setelah diselidiki ternyata banyak bangunan roboh tidak mempunyai struktur rangka bangunan yang proper. Belum lagi dari posisi bangunan yang ternyata berada di daerah bantaran sungai dan juga tebing tinggi yang tentunya memposisikan diri pada risiko bencana seperti tanah longsor dan juga banjir maupun banjir bandang.