main

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Matinya Kepakaran karya Tom Nichols

July 25, 2021 — by dewaputuam0

20210725_195717-2-960x540.jpg
Photo by Uriel Mont from Pexels
“Sudut pandangku tentang mereka
Yang banyak tanya tanpa membaca
Katanya sekolah, tapi otaknya mana?
Tolong dirubah pola fikirnya”
-eńau,  Negara Lucu-

Sebuah lirik lagu yang cukup menyindir saya. Miris namun mau bagaimana lagi kan ya, kadang saya tidak luput dari sebuah perasaan yang menggap mengetahui segala hal. Dari kondisi sosial ekonomi negara kita, saham, teknologi terkini, kesehatan, psikologi dan apapun yang orang bicarakan meski kecil suka atau tidak suka selalu ada keinginan untuk dapat terlibat dalam perbincangan bahkan untuk debat pun kita siap. Tentunya dengan “sedikit” bantuan gawai yang terkoneksi dengan internet.

Halo semua, selamat berakhir pekan kawan, semoga semua sehat ya dalam kondisi sekarang. Jangan lupa banyak minum air putih, makan makanan yang sehat dan rajin olah raga ya. Masih terkait pada paragraf sebelumnya kali ini saya akan berbagi review saya tentang sebuah buku soal masalah “kepakaran kita”. Jika dirunut dari kepemilikan buku ini, pada dasarnya saya sudah punya dari kisaran tahun 2018 an namun masih dalam versi ebook, itu pun diberikan rekomendasi oleh salah satu teman saya di kantor yang lama.

Awal melihat, saya cukup tertarik namun hanya dibaca beberapa lembar saja dan saya tidak tahu mengapa tiba tiba malah beralih ke buku buku lainnya jadi terlupakan gitu aja. Hingga sampai satu atau dua tahun lagi akhirnya saya justru menemukan lagi yang kali ini berbahasa Indonesia. Beberapa kali saya tetap melewatkan buku ini dan membaca buku buku lainnya baru kemudian bulan juni lalu saya berkeinginan dan akhirnya membeli buku ini.

Dari segi fisik buku ini masuk kategori buku yang tidak terlalu tipis juga tidak terlalu tebal, rata rata kebanyakan buku sekarang yang ketebalannya hanya mencapai 300 lembar. Meskipun dari sisi desain cover saya termasuk orang yang kurang begitu puas. Namun secara umum dari sisi isinya buku ini termasuk oke dan banyak memberikan saya beberapa pandangan baru tentang fenomena “kematian Kepakaran” yang rasanya sudah lama sekali kita rasakan dan saya pun merasa sedikit khawatir dan cukup jengah dengan keadaan yang seperti ini.

Banyak gagasan menarik yang saya setujui dari buku ini, namun harus saya akui juga bahwa ada beberapa yang saya kurang setuju lebih kepada tendensinya saja. Saya kurang begitu suka suasana yang dibawakan penulis ke buku ini yang menurut saya seperti seorang “penggerutu yang pesimistis”. Meski si penulis juga mengakui hal tersebut dan memberikan satu bagian yang berisi hal hal positif tetapi saya rasa itu masih kurang cukup signifikan untuk menggantikan kesan yang sudah dibangun penulis pada setiap babnya.

Setiap Pendapat Sama baiknya Dengan Pendapat yang Lain?

Photo by freestocks.org from Pexels

Permasalahan awal yang diutarakan oleh penulis adalah kegelisahannya tentang berbagai fenomena yang berkembang di sekitar kita saat ini dimana banyak sekali orang berperan sebagai ahli. Dari murid, mahasiswa bahkan tidak jarang orang tua murid yang dengan segala kemahatahuannya mengajari guru atau dosen bagaimana mengajar yang baik dan benar hingga pada hal hal yang sebenarnya berbahaya  namun tetap dilakukan seperti orang orang yang dengan pengetahuan dan pemahaman luar biasanya “dari grup facebook, atau sekedar video youtube” beranggapan memahami ilmu kesehatan dan dalam situasi pandemi ini sebenarnya akan cukup mengerikan dampaknya yang tidak hanya berdampak pada kerugian diri sendiri bahkan bisa membahayakan nyawa orang lain. Dalam situasi yang sangat apes hal hal seperti ini bukan tidak mungkin akan berdampak hingga pada tumbangnya sistem kesehatan suatu wilayah yang semoga hal itu tidak terjadi ya.

Saat ini, entah itu atas nama “Demokrasi” atau hal lainnya. Kita diberikan kebebasan yang besar untuk mengutarakan berpendapat. Meskipun yang dibahas kasus kasus yang terjadi di Amerika tapi kondisinya ternyata tidak terlalu berbeda dengan apa yang terjadi saat ini di negeri kita. Atas nama demokrasi seringkali kita menganggap bahwa Setiap Pendapat Sama baiknya Dengan Pendapat yang Lain. 

Baik soal Sains maupun kebijakan, kesemua fenomena ini memiliki ciri menggelisahkan yang sama: pemaksaan bersifat solipsis yang menuntut agar semua pendapat diperlakukan sebagai kebenaran. Ketidaksetujuan seseorang seringkali diartikan tidak menghormati. Mengoreksi orang lain juga sering diartikan penghinaan. Kita yang menolak untuk mempertimbangkan pemikiran orang lain, betapapun pandangan itu tak masuk akal dan mengada ngada bisa dikatakan bahwa pikiran kita masih belum begitu luas.

Perkembangan Dunia Kampus yang Meresahkan dan Mempercepat Kematian dari Kepakaran

Photo by RF._.studio from Pexels

Perkembangan dunia kampus/ perguruan tinggi  juga tidak luput dari pembahasan dan dianggap menjadi salah satu penyebab matinya kepakaran kita. Bahkan dalam salah satu babnya Tom Nichols menuliskan bahwa “Perguruan tinggi kini dipasarkan seperti paket liburan selama beberapa tahun, bukan sebagai kontrak dengan institusi dan dosen untuk perjalanan pendidikan.

Model industri pendidikan telah merendahkan perguruan tinggi menjadi sekedar transaksi komersial, tempat mahasiswa diajarkan menjadi konsumen pemilih dan bukannya pemikir kritis. Itu semua membuat  kepakaran goyah, sekaligus memperkuat perlawanan terhadap ilmu yang telah mapan.

Cara pandang seperti ini membuat beberapa universitas bahkan memberikan kemudahan yang sangat besar bagi mahasiswa dalam mendapatkan nilai sehingga terjadi inflasi rataan nilai yang signifikan. Nilai kini tidak lagi berfungsi sebagai alat ukur kita dalam melihat sejauh mana seseorang memahami sebuah konsep namun lebih kepada daftar bahwa mahasiswa tersebut pernah bertemu konsep tersebut. 

Terlepas ia paham ataupun tidak. Hal ini tidak bisa kita salahkan kepada para dosen saja karena kalau mereka memberikan nilai yang benar benar objektif maka banyak implikasi yang mereka dapat dan juga pada kampus yang menjadi kurang diminati oleh mahasiswa. Sebagai pelanggan di toko pendidikan ini, mahasiswa selalu benar.

Kemudahan dalam mendapat  gelar membuat beberapa orang seperti kita terkena semacam delusi yang menganggap kita memahami dan sudah masuk kedalam kriteria “Pakar” (termasuk saya ini hehehe) meski pada kenyataannya tidak demikian mudah. Kampus pun kemudian menjelma dari sebelumnya merupakan suatu ekosistem pembelajaran dimana para mahasiswa dan dosen dapat bertukar gagasan dan pemikiran secara intens kini berubah menjadi badan usaha yang lebih “usaha”.

Simpulan dari Buku Keluh Kesah “Pakar” akan Kematiannya yang Menyedihkan

Photo by Polina Zimmerman from Pexels

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, Melalui buku ini saya mendapatkan banyak sekali gagasan yang menurut saya baru. Banyak aha momen yang saya dapat dari buku ini dan memberikan saya perspektif yang bahkan sebagian besar justru meruntuhkan pola pandang saya yang lama. Salah satu gagasan yang menurut saya menarik adalah tentang kondisi pendidikan tinggi yang juga sedikit saya bahas di sini.

Itu baru dari sisi sistem pendidikan. Dalam buku ini dibahas bagaimana percakapan keseharian kita, algoritma dalam mesin pencari (internet), gaya baru dari jurnalisme, hingga apa yang sekarang ini dilakukan para pakar justru semakin mendekatkan kita kepada “Kematian Kepakaran”. Hampir semua gagasan disini mengarahkan kita ke satu arah yang jelas bahwa kematian kepakaran itu sudah ada di depan mata kita dan terus berlangsung tidak peduli secara sadar ataupun tidak kita sadari yang kita lakukan sekarang justru mempercepatnya.

“Termasuk apa yang penulis lakukan dengan menulis buku ini”, atau mungkin termasuk yang saya lakukan dengan menulis ulasan tentang buku ini. Termasuk juga yang teman teman lakukan saat membaca tulisan saya di blog ini. Semua saja seperti itu ya hahaha. 

Kalau saya simpulkan, pada dasarnya buku ini sangat bagus untuk kita baca sebagai  pengingat dan meningkatkan kehati hatian kita agar apa yang terjadi sekarang dapat kita antisipasi dampaknya. Dan juga agar kita tidak terlalu terjerembab ke dalam hal hal negatif yang penulis banyak paparkan. Pada awalnya saya memang menyukai semua gagasan yang diberikan namun kemudian saya sejenak tersadar satu hal.

“Satu satunya hal yang tidak akan berubah adalah perubahan itu sendiri. Termasuk apa yang kita sebut dengan kepakaran. Kepakaran menurut saya tidak akan mati, namun akan bergeser dan berubah definisinya sesuai dengan perkembangan zaman”

Apa yang perlu kita lakukan bukan pada menyinyir segala kelemahan sistem serta kekurangan situasi yang ada di sekitar kita. Namun menurut saya kita lebih semestinya ikut memilih dan memilah lagi apa yang memang ada di dalam kendali kita “kepakaran kita” dan mengusahakan agar pergeseran definisi ini tidak merusak tujuan utama dari kepakaran itu sendiri untuk bermanfaat dan tetap memanusiakan manusia.

Sekian tulisan dari saya kali ini. Terimakasih atas kesediaan waktu teman teman sekalian untuk sekedar membaca tulisan saya yang hanya seorang remah remah rengginang ini.

Salam

Dewa Putu A.M.

Daily LifeOpiniUncategorized

Sebuah Buku Sejarah Berisikan Kisah Perjuangan Kita Saat Ini

July 18, 2021 — by dewaputuam2

pexels-josh-hild-4256852-960x640.jpg
Photo by Engin Akyurt from Pexels
(Photo by Engin Akyurt from Pexels)

Hai, Bagaimana kabar kalian di sana? Beberapa hari ini melelahkan ya kawan. Melihat pemberitaan yang ada, mengharuskan kita untuk mengakui bahwa kondisi sekarang memang tidak sedang baik baik saja. Tidak masalah untuk mengakui itu, bukanlah dosa kok. Tidak baik baik saja bukanlah kutukan yang harus disembunyikan. Kita tidak harus pura pura tegar bagai batu karang yang dihempas berbagai halangan yang merintang. Yah, kita memang hanya seorang manusia yang bisa saja merasakan terpuruk. 

Hidup terkadang memang jahat. jadi tak perlu bersusah payah membohongi dan berangan-angan tentang hari esok yang secara ajaib akan menjadi seperti sedia kala. Kita perlu menerima semuanya entah itu rasa manis ataupun rasa pahit yang menggigit. Tidak mudah memang, namun itu satu satunya yang perlu kita perbuat, sebelum kita berusaha mengobatinya,

Menerima kondisi kita bukan berarti kita harus dengan pongahnya bersiar kabar bahwa kita adalah korban dari tokoh khayalan kita yang semena mena memperlakukan kita dengan tidak adil. Kalau toh memang benar apakah semua itu akan menjadikan kita lebih baik? Atau setidaknya merasa lebih baik. Jika jawabannya Ia, maka lanjutkanlah apa yang kamu rasa benar.

Lagi pula, sekuat apapun usaha yang dilakukan, kita tidak akan bisa memaksakan apa yang menjadi rasa dan kuasa orang lain. Bersusah payah untuk mengubah apa yang diluar kendali kita seperti itu bukan hanya sia sia, namun mengganggu fokus kita yang seharusnya mengubah apa yang ada di dalam kendali kita. Itu saja cukup.

Kita Nomaden yang berpindah dari Satu Tempat Ketempat Lain, dan dari Satu Situasi ke Situasi Lainnya

(Photo by 祝 鹤槐 from Pexels)

Jika kita lihat lagi kebelakang, banyak hal yang sudah kita lewati sampai jadi seperti sekarang ini. Banyak hal yang kita lalui dengan berbagai rasa yang tersimpan meninggalkan kesan di dalam ingatan kita, entah itu kesan yang membuat kita tersenyum simpul ataupun kesan yang kadang membuat kita bergidik.

Kabar baiknya, kita sudah melalui itu semua. Kabar buruknya juga kita telah lalui itu semua. Meski dari frasa nya tampak sama, namun percayalah kita ketahui bersama kalau semua itu berbeda. Jika beruntung terkadang hal buruk akan berlalu begitu saja dan digantikan kebaikan yang berlimpah. Namun jika sedang terpuruk kadang hal buruk pun kemudian diselipi hal yang lebih buruk lagi.

Tapi setidaknya, alih alih menyerah, kita sudah sampai di sini sekarang. Ya, dengan perjuangan heroik yang luar biasa, kita terus bergerak. Kita terus melangkah walau tidak jarang kaki ini sudah lelah. Kalian hebat kawan.

Diakui atau tidak, perjalanan kita sekarang merupakan perjalanan yang luar biasa ya kawan. Kita terus berjuang dalam berbagai kesulitan yang menghadang, walau sebagian dari kita ada yang letih tertatih untuk sampai sini saat ini. Apapun jalan yang kita lalui itu setidaknya kita sampai sini sekarang. Kita tidak tahu dimana titik finis dari perjalanan kita kali  ini semua orang melukis kisah yang berbeda dengan tinta dan kanvas yang berbeda pula. 

Tetapi ada satu yang sama, Kita Semua Nomaden. Nomaden yang berpindah dari satu tempat ketempat lain, dan dari satu situasi ke situasi lainnya. Mungkin ada beberapa diantara kita, kerabat kita dan kawan kita yang tidak dapat melanjutkan perjalanan ini. Namun yang perlu kita tahu mereka mereka semua itu masihlah seorang pejuang, yang terus berjuang sampai garis akhir mereka dan kemudian terpisah menuju kisah yang selanjutnya. Sebuah kisah yang akan mempertemukan kita kembali di sana.

Sebuah Buku yang Menulis Tentang Perjalanan Kita

(Photo by Engin Akyurt from Pexels)

Pernah terbesit dalam benakku, apakah perjalanan kita ini sudah layak dijadikan sebagai tema besar dalam sebuah buku sejarah setebal ratusan bahkan ribuan lembar?

Coba kita berangan angan, perjalanan kita sekarang akan tercatat dalam buku sejarah dimana ada sebuah generasi terus melangkah bahkan dalam situasi  yang sangat sulit dan sangat mungkin untuk kalah. Generasi kita cukup tegar meski permasalahan harus kita akui terus bermunculan di sana sini.

Oh ia dalam buku itu kita juga akan ditulis sebagai generasi yang tidak pernah meninggalkan sisi manusia kita, dalam situasi  apapun. Kita saling menguatkan orang orang disekitar kita, kita selalu berbagi aura positif namun terjaga realistis. Berita bohong, saling tuding salah tanpa solusi entah apalah itu. Di generasi kita tidak pernah hal hal serendah itu bukan.

Tidak ada itu istilah covidiot, karena kita semua cerdas dan bijak dalam menghadapi ini semua. Tidak ada orang yang hanya bisa memaki maki dan julid kepada apa yang menjadi keharusan pihak berwenang namun salah dilakukan. Karena kita semua sadar bahwa kita semua memiliki keharusan dan kewenangan yang paling berpengaruh terhadap apa yang terjadi pada diri kita sendiri. Hal ini karena kita semua memahami, bahwa di situasi sulit seperti ini saling menyalahkan dan berkeluh kesah bukan hal yang bijak bahkan terbesit dalam alam pikir kita pun sepertinya tidak pernah. Kita sadar bahwa meskipun sulit, kita tidak akan pernah meninggalkan sisi kemanusiaan kita. 

Buku sejarah yang indah ya kalau ditulis seperti itu. Namun sebelum buku itu selesai ditulis, tetap bertahan ya kawan. Dan tetaplah berjuang sampai garis akhir. Cerita ini akan terus tertulis, apapun yang kita lakukan akan terus tertulis dalam kisah kita.

“Sejarah ditulis oleh pemenang”, demikian ungkapan Winston Churchill mantan perdana menteri Britain paling terkenal di dunia. Jadi untuk dapat menuliskan sejarah ini jadilah pemenang. Lakukan apapun yang kamu anggap benar tanpa melukai sisi kemanusiaan kita agar sejarah yang kita tulis akan tampak manis dan layak untuk dibanggakan kepada generasi generasi setelah kita. Akan seperti apa generasi kita dikenal sangat tergantung dari apa yang kita lakukan sekarang.

Salam Hangat Dari Saya

Dewa Putu AM

NB: Featured Image by Josh Hild from Pexels

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Invested, 12 Bulan Menuju Financial Freedom karya Danielle Town

July 11, 2021 — by dewaputuam0

pexels-photo-6844402-960x1280.jpeg
Investasi terbaik yang memiliki perang paling penting dalam kehidupan kita mungkin bukanlah portofolio saham kita, emas kita juga bukan, bukan pula properti. Investasi terpenting kita bisa jadi lebih dekat dari semua itu bisa kesehatan, waktu untuk keluarga kita, dan pengetahuan yang kita konsumsi.

Kembali lagi bersama saya kawan. Pada tulisan ini saya tertarik untuk mengulas sebuah buku ketiga yang saya baca pada tahun ini. Buku berjudul Invested, 12 Bulan Menuju Financial Freedom karya Danielle Town. Dari judulnya akan mudah sekali menebak apa yang akan dibahas dalam buku ini yang tidak lain adalah tentang investasi. Lebih spesifik lagi tepatnya tentang investasi nilai (Value Investing) sebuah paradigma investasi yang sejak beberapa dekade terakhir banyak dianut oleh orang orang sampai sekarang. Sebut saja Warren Buffett dan para kroninya akan banyak dijumpai pada buku ini.

Saya membeli buku ini dari sebuah toko buku di Kota Denpasar bersamaan dengan kedua buku lain saat bermaksud ingin membeli gitar. 🙂 Saya akui akan terbaca agak random, tetapi itulah kejadian sesungguhnya hahaha. Saat itu saya merasa cukup bosan dan terbesit di pikiran untuk membeli gitar agar ada hiburan di kosan. Namun sesampainya di sana, saya melihat gitar gitar disana kurang menarik (terlampau mahal) akhirnya saya melirik lirik buku-buku saja sembari berpikir apakah saya harus mebeli gitar itu atau tidak. Beberapa kali putaran dengan pikiran kosong tiba tiba dengan cekatan tangan ku meraih tiga buku dan kemudian pulang. Buku ini salah satunya 🙂 . 

Jika dilihat dari bentuk fisiknya, buku ini memiliki ketebalan yang sedang sedang saja yakni hanya 384 halaman. Disain sampulnya pun kurang begitu mkenarik dan mirip sekali dengan buku buku investasi yang standar yakni tiga toples koin yang dijadikan sebagai pot tanaman. Entah apa maksud dari pemilihan ilustrasi yang demikian. Kenapa banyak sekali buku buku tentang investasi mengambil ilustrasi yang sedemikian membosankan. Mungkin mereka ingin mengambil makna bertumbuhnya ya, jadi seolah olah berinvestasi akan menumbuhkan uangmu dari kecil untuk kemudian menjadi semakin besar #entahlah.

Saya rasa cukup pendahuluannya. Kita sekarang memasuki pembahasan tentang buku ini ya. Karena meski dari segi desain buku ini cukup membosankan namun dari isi, buku ini masih saya golongkan dalam buku bacaan yang menarik untuk dibaca.

Kisah Keresahan Seorang Anak dari Investor Hebat yang Alergi dengan Investasi

Sosok Danielle Town sang penulis dan Ayahnya Phil Town membuat sebuah podcast berjudul (InvestED: The Rule #1 Investing Podcast Phil Town & Danielle Town terkait Investasi yang kemudian dituliskan dalam sebuah buku yang saya ulas dalam posting ini. Sumber Gambar: blog resmi Danielle Town (danielletown.com)

Ini yang saya rasa menjadi nilai unik dari buku Invested karya Danielle Town anak dari seorang investor dan motivator Amerika Phil Town. Pada awalnya saya berharap bahwa buku ini adalah buku seseorang yang dengan gigih berusaha keras ingin mencapai mimpinya berjuang berinvestasi dengan harapan menjadi kaya atau hal hal  mulia lainnya, khas buku buku pengembangan diri lainnya.

Ternyata saya salah. Buku ini lebih sederhana dan dari itu, dan bisa dikatakan apa yang dihadapi seperti dilema dan kekhawatiran kita akan masa depan ketakutan uang kita hilang dan berbagai permasalah permasalahan remeh seperti tidak percaya diri dengan kemampuan matematika atau hitung hitungan mungkin akan banyak yang mirip dengan kondisi para millennials saat ini. Ini juga yang menjadi kekhawatiran saya yang terkadang berpikir sebenarnya kita kerja keras seperti ini yang muter sana sini, kadang ada rapat malam malam, dead line, belum lagi harus berpikir keras sampai kadang limbung dunia bergoyang goyang itu untuk apa? Apakah kita akan seperti ini terus sampai usia senja kita nanti yang harus cari uang, dapat uang, makan, keluar uang, uang habis, cari uang lagi. Semua itu saya rasa melelahkan dan terasa sangat hampa tanpa makna.

Berat sekali ya, tapi kalau mau disederhanakan mungkin akan seperti ini. Kalau kita harus cari uang terus seperti ini untuk sekedar makan dan hidup. Yang jadi pertanyaan mendasar adalah sampai kapan kita kuat untuk bekerja dan mendapatkan uang? 

Sekarang justru terbaca mengerikan. Oke daripada terus berandai andai dan semakin mengerikan  bila dibayangkan. Kita kembali pada pembahasan tentang buku ini. Karena di dalam buku ini juga penulis mengalami keresahan yang sama dengan kita.

Buku ini juga diawali dengan kegelisahan sang penulis tentang masa depan keuangannya dan kesehatannya. Meski pada masa mudanya, sama seperti para para fresh graduate lainnya sangat idealis dan merasa pilihan hidupnya sudah menjadi tepat untuk memperindah masa depan keuangannya. Namun ternyata yang dihadapi saat ini tidak sesuai dengan ekspektasinya. Beragam keluhan, kerjaan yang sangat  padat, waktu yang banyak hilang dan terbuang bahkan untuk saat saat penting keluarga pun terlewat begitu saja karena derasnya arus kerjaan. Begitu juga dengan kesehatan fisik dan mental semakin terganggu yang menyebabkan ia harus mengkonsumsi beberapa obat hanya untuk dapat bekerja lagi di esok hari. Begitu terus hari hari yang ia lalui. 

Tidak hanya penulis, teman temannya pun merasakan hal yang sama dan memerlukan berbagai macam terapi hanya untuk bisa bekerja lagi. Belum lagi sebuah kenyataan pahit bila dilihat di level yang lebih tinggi lagi ditemui bahwa hanya sedikit orang yang dapat bertahan sampai habis masa jabatannya, yang lainnya berhenti karena alasan kesehatan atau meninggal dunia. “Kita semua lelah, dan menganggap wajar untuk merasa seperti itu karena hal ini sangat umum terjadi. “Bersandar” pada pekerjaan kita dianggap sebagai kebaikan. 

Beberapa permasalahan itu tidak asing bukan untuk kita kita di sini? Budaya kerja yang tidak begitu sehat tidak hanya dapat merusak berbagai hubungan pertemanan, keluarga. Namun juga dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental kita bahkan membahayakan nyawa kita. Di sini saya sepakat dengan penulis bahwa ini memang tidaklah sehat dan perlu ada sesuatu untuk mengubah ini semua. Setidaknya agar kita sendiri dapat terlepas dari alur yang seperti itu.

Penulis pun berpikir serupa, sehingga dia pun mengambil keputusan untuk menghubungi ayahnya yang seorang Investor Nilai yang hebat dan juga merupakan motivator untuk  hal itu. Ayahnya sebenarnya berkali kali berusaha untuk mempengaruhi penulis agar mau belajar berinvestasi. Namun karena trauma yang mendalam penulis akan hal hal berbau investasi plus matematika. Namun hal yang menjadi alasan utama adalah rasa kecewa penulis kepada ayahnya yang menghilang dan meninggalkan saat penulis kecil dan ibunya dalam kondisi sangat sulit secara finansial. Hal itulah yang menyebabkan ada dendam dari penulis kepada ayahnya saat itu. 

Kalau bukan karena kegamangannya tentang masa depan finasialnya serta beberapa keresahan nya itu, ditambah lagi ia tahu bahwa ayahnya sebenarnya orang yang tepat untuk ditanyai tentang masalahnya itu sebenarnya ia enggan menghubungi ayahnya. Dengan emosi berkecamuk akhirnya ia menghubungi ayahnya untuk meminta diajari tentang berinvestasi.

Buku ini tidak hanya secara murni memberikan kita berbagai pelajaran tentang bagaimana cara berinvestasi nilai yang baik. Namun lebih dari itu melalui buku ini Danielle Town membawa kita untuk ikut roller coaster emosinya keresahan, rasa takut, kemudian dilingkupi rasa bersemangat menggebu gebu, kemudian putus asa lagi kemudian bingung dan bergolak terus saat belajar tentang investasi bersama ayah yang ia benci. Membuat buku ini bak sebuah novel yang cukup menarik untuk diikuti jalan ceritanya tidak hanya sebatas ilmu ilmunya saja. Oh ia hampir saya lupa, seperti novel novel novel lainnya di buku ini selain ada beberapa konflik di pemeran utama, kita juga disuguhi cerita percintaan dirinya.

Berinvestasi pada Nilai dan Cerita Perusahaan yang ingin Kita Dukung

Investasi tidak hanya sebatas pada kita beli perusahaan dan kemudian pergi bergitu saja sambil berharap perusahaan itu akan berkembang dengan sendirinya. Berinvestasi tidak sespekulatif itu (Photo by Karolina Grabowska from Pexels)

Pada bab awal buku kita akan disuguhi keresahan penulis tentang masa depan finansialnya, dan kenapa sang penulis berniat untuk belajar dari ayahnya meski ia benci. Masih di awal pertemuan kita akan diajak penulis bersama ayahnya untuk memahami peraturan nomor 1 dan saya rasa satu satunya dalam berinvestasi yakni “Jangan Kehilangan Uangmu”. Di bagian ini kita akan dijelaskan bagaimana kita akan kehilangan uang kita bahkan jika kita hanya menaruhnya di bank. Kehilangan disini tidak sebatas pada nominalnya namun juga pada nilainya, atau dengan kata lain yang sederhana uang kita tergerus oleh inflasi.

Berikutnya kita akan dijelaskan tentang landscape investasi yang ada saat ini dimana sebagian besar uang yang beredar pada pasar saham merupakan dana dana kelolaan manajer investasi yang dihimpun dari orang orang yang entah sadar ataupun tidak sadar menempatkan uangnya di situ untuk dana pensiun. Di bagian ini sih yang membuat saya agak deg deg ser, karena pada bagian ini dikatakan bahwa para manajer investasi itu pada dasarnya tidak dibayar untuk menghasilkan uang dari uang yang berhasil dihimpun itu. Sehingga, ntah hasil investasinya berhasil berlipat ataupun justru berkurang mereka akan tetap diberi upah. Ini mekanisme dari reksa dana dan apapun itu bentuknya yang mengharuskan kita mempercayakan uang kita pada orang lain. 

Hal ini yang kemudian membuat saya sempat berpikir untuk memindahkan sebagian dana yang saya taruh ke reksa dana kepada bentukan investasi lain. Kalau saham semua sepertinya akan agak riskan memang mengingat volatilitasnya bikin deg deg ser. Untuk ini akan saya pikirkan lagi nanti.

Oke praktik kelam dari perusahaan manajemen investasi itu baru permulaan saja pikir saya. Maski ide ide yang ada dalam buku ini tidak kesemuanya harus kita taati, kita tetap  perlu memilah mana yang bagus dan mana yang “perlu ada sedikit penyesuaian” bila mau kita terapkan di sini. Saya sengaja menggunakan frasa “perlu ada sedikit penyesuaian” alih alih menggunakan frasa “tidak relevan” karena saya sadari hampir ke semua ide dalam buku ini masuk akal, sulit rasanya mencari yang tidak relevan kecuali nama nama perusahaannya. Namun jauh dari itu semua menarik dan sangat masuk akal untuk dicoba.Ada beberapa ide yang saya suka dalam buku ini.

Memilih misi apa yang harus dilakukan dengan uang kita. Ini mungkin sangat standar di setiap pelajaran terkait investasi kita perlu memberikan alasan spesifik atau tujuan yang jelas untuk uang kita kedepannya. Nilai nilai penting yang kita jadikan misi untuk uang kita tidak hanya terfokus sebatas pada “aspek finansial” saja. Meski tidak boleh dipungkiri menjadi salah satu bagian penting namun lebih dari itu nilai yang dimaksud dalam buku ini pada nilai nilai yang kita inginkan ada yang berbeda orang sangat mungkin akan berbeda. Karena berinvestasi pada suatu perusahaan memiliki arti yang sama dengan ikut mendukung perusahaan itu dalam mencapai nilai nilai mereka.

Contohnya seorang investor yang sangat konsen ke isu lingkungan boleh saja menghindari perusahaan perusahaan yang mendukung pelestarian lingkungan dan menghindari perusahaan yang jelas jelas merusak. Nilai disini sangatlah luas, dan dalam masuk kedalam bagaimana nilai pada visi dan misi perusahaan tersebut apakah bagus menurutmu, dan apakah menurutmu akan tetap  relevan dan baik di masa yang jauh ke depan. Nilai apa yang digunakan perusahaan dalam menjalankan usahanya, bagaimana ia memperlakukan pekerjanya, bagaimana dia mengelola sumberdaya alam atau berbagai pertimbangan lainnya.

Baru setelah kita menemukan daftar perusahaan perusahaan itu, kita menilai kembali apakah perusahaan tersebut diapresiasi dengan harga yang wajar. Untuk itu dalam buku ini juga kita diajarkan beberapa metode untuk membaca apakah suatu perusahaan memiliki keunggulan dibanding perusahaan lainnya, yang disebut dalam buku ini sebagai “Parit”.

Parit bekerja bak sebuah parit sungguhan yang biasanya dibangun mengelilingi sebuah benteng dan berguna untuk menghalau dan menciutkan nyali para lawan yang hendak menyerang. Dalam perusahaan, parit tersebut dapat terwujud dalam berbagai macam bentuk yang pada dasarnya membuat berkompetisi dengan perusahaan yang kita pilih semakin tidak relevan.

Selain tentang parit parit itu kemudian kita akan dibawa untuk membentuk mindset kita soal uang agar kita dapat mengendalikan rasa rakus dan ketakutan kita dalam berinvestasi sehingga tidak terjun pada dunia perjudian yang spekulatif alih alih berinvestasi sungguhan. Penentuan harga masuk akal dari sebuah perusahaan juga diajarkan di sini, meski ku agak agak lupa pada bagian ini. Agaknya memang buku ini merupakan jenis buku untuk dicoba coba terus ya tidak hanya dibaca saja. 

Oia pada dasarnya buku ini mengajari kita dalam berinvestasi untuk berpegang pada nilai dan cerita perusahaan. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu pembangun kita untuk melakukan aksi jual bilamana nilai dan cerita dari perusahaan yang kita pegang tersebut sudah tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Kesimpulan Saya tentang  Buku Invested, 12 Bulan Menuju Financial Freedom karya Danielle Town

Pada dasarnya buku ini adalah bacaan yang menarik bagi kita kita yang baru terjun ke dunia investasi. Dengan berbagai cara penyampaiannya yang seperti membaca novel, dalam buku ini tidak langsung memberikan kita indeks indeks, angka, rasio atau apapun itu yang biasa kita sering dengar dalam diskusi diskusi terkait investasi. Yang saya rasa pemula seperti saya akan cukup tidak nyaman dengan berbagai ketidaktahuan dan ketidakpahaman itu.

Buku ini setidaknya telah berusaha untuk mengajak kita memahami konsep dari berinvestasi nilai dengan lebih baik yang pasarnya mungkin untuk orang orang yang awam seperti saya. Karena target pasar level awam tersebut, mungkin bagi sebagian orang buku ini akan tampak menjemukan. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang investasi nilai secara holistik, buku ini pun menganjurkan kita untuk membaca beberapa buku lainnya.

Satu kekurangan yang saya rasakan dalam buku ini, karena cara penyampaiannya yang diusahakan menyerupai novel dengan berbagai konflik batin pada karakter didalamnya membuat buku ini terkadang kehilangan arah dan membahas hal hal yang sebenarnya tidak bermanfaat untuk dibahas. Dan ketika masuk kembali ke topik yang lebih serius sayangnya sedikit miss dan terasa ada bagian yang hilang. Khususnya pada bagian perhitungan nilai. Kenapa sang tokoh tiba tiba menjadi cerdas dalam berhitung dan menjelaskan pada para pembaca cara menghitungnya alih alih bertindak sebagai pihak yang seharusnya diajari oleh ayahnya? Jikalau sang tokoh bisa karena hal hal yang dilatih sebelumnya sepertinya kurang beberapa bagian untuk menjelaskan terlebih dahulu kenapa bisa jadi demikian.

Itu saja si yang bisa saya komentari terkait buku ini. Kembali lagi kalau harus menilai, rasanya cukup masuk akal bila saya menilai buku ini masuk pada bintang 4 dari 5 bintang. Dan saya merekomendasikan untuk membaca buku ini kepada teman teman yang baru masuk ke dunia investasi. Untuk yang sudah lama (senior) kurang disarankan sih.

Sekian dari saya, akhir kata saya ucapkan terimakasih untuk teman teman yang rela membaca tulisan saya yang cukup panjang ini. Saya tahu itu sulit dan butuh effort yang besar yah.

Salam hangat dari saya

Dewa Putu A.M.

BukuHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Saya Kamu Mereka #Dirumahaja karya Mbo Ayu

June 30, 2021 — by dewaputuam0

20210630_234407-960x592.jpg
Ilustrasi tumpukan buku. Mungkin dari segi ukuran dan tema yang dibahas akan jauh berbeda dengan buku buku dibelakangnya. namun dari segi isi tak sesederhana itu kawan. Meski ringan untuk dibaca, buku ini tetap memberikan kita banyak pelajaran, tentang bagaimana Saya, Kamu, dan Mereka menjadi Kita saat menghadapi ini semua 🙂

Sekilas saya melihat tumpukan buku, di meja kerja kamar kos saya. yah, tumpukan buku, karena di tahun ini saya sedang dalam mode Kolektor dan entah mengapa enggan untuk membaca sampai habis. Saya merasa jenuh sekali, dan beberapa buku yang saya beli itu kurang menarik minat saya untuk membaca setidaknya dalam satu tahun belakangan ini bisa dikatakan tidak ada satu judulpun buku yang selesai saya baca #miris.

Jika terus beralasan tidak punya waktu membaca, sebenarnya tidak juga, karena waktu dulu 2017 sibuk tiap hari bolak balik Jakarta-Bogor berdesak desakan di kereta bisa beberapa buku dalam satu tahun. dan kemudian mulai tidak konsisten berkurang menjadi 20-an, belasan, tidak sampai sepuluh dan tahun ini belum ada sama sekali hahahaha #miris memang tetapi itu kenyataan yang harus saya akui meski saya tahu itu bukan hal yang penting untuk dibagi apalagi dibaca oleh teman teman sekalian.

Semakin lama tumpukan itu semakin tebal karena lapar mata dari judul judul buku yang saya anggap lucu dan menarik jika dibaca hingga judul judul buku serius yang meski tidak menarik namun akan saya butuhkan dalam kerja saya saat ini. Oia, ada juga 2 buku “pelangkah” dari adik saya yang saya bawa ke Bali. Ya Tuhan itupun belum saya baca [berdosanya saya].

Okay, cukup curhat colongan sebagai pembuka. langsung pada intinya saja, Pada bulan bulan ini saya ingin mencoba mengejar ketinggalan saya, saya merasa dosa dosa timbunan yang saya lakukan itu sudah mengerikan. Akhirnya saat ini saya mencoba menebusnya perlahan namun pasti. Se-perlahan sang air yang dengan tetes bertahunnya hingga kemudian mengoyak bebatuan. dan sepasti perasaanku padamu yang lama tak terungkap. [oke nice try,.. #skip]

Dan Pada Tanggal 30 Juni 2021, pecah telur juga. Baca Satu Buku Karya Mba Ayu. Sudah Lama Saya Membeli Buku Ini, Namun baru terbaca sekarang. Mohon maaf ya mbo 🙂

Tumpukan buku saya memang tidak se-ekstrim ini namun agar terlihat estetik saya pinjam photo by Min An from Pexels

Yeay, akhirnya pilihan buku pertama yang saya baca tahun ini jatuh pada Karya Mbo Ayu. Salah satu idola penulis dari Kompas, yang awal ku kenal saat Gunung Agung sedang ada acara besar di Tahun 2017.

Saya membeli buku ini langsung dari penulisnya :), karena saya penasaran bagaimana sensasinya membeli buku dari penulisnya langsung itu seperti apa. Dan benar saja dong, saya pun dapat buku itu plus tanda tangan asli penulis plus ada kata-katanya saat itu. Sebagai pembaca, tentu akan merasa senang bila dapat ucapan dari penulisnya dan itu menurut saya kesempatan yang langka :).

Tapi sayangnya, buku ini harus terbengkalai di Bali, kemudian saya bawa ke Lampung beberapa bulan lalu saat ini saya bawa lagi ke Bali :). Buku ini telah bertualang bersama saya mba, meskipun belum terbaca.

Tetapi tenang, malam ini dengan penuh kebanggaan akhirnya saya menjadikan buku ini sebagai buku pertama yang selesai saya baca. Dan seperti ekspektasi sebelum saya membelinya. Buku ini baguuuus mbo.

Seperti Judulnya, Buku ini secara tersurat maupun tersirat bercerita tentang Saya, Kamu dan Mereka dengan tag #dirumahaja

Jujur saat saya awal mau membaca sempat terpikirkan apakah buku ini akan masuk sebagai buku buku layanan masyarakat yang sering dibagikan oleh penyuluh “biasanya akan memiliki kesan kaku”. Saya sengaja memberikan tanfa kutip di bagian opini saya terkait kaku karena saya juga harus mengakui bahwa opini saya tersebut tidak boleh saya jadikan alasan untuk meng-generalisir semua buku model demikian.

Membaca buku ini saya seolah olah sedang membaca novel. Yang mana kata #dirumahaja yang diberikan pada judul buku seolah olah menjadi suatu trigger yang akan menjadi permasalahan utama yang dialami semua aktor dalam buku “Saya, Kamu dan Mereka”. Meski seperti yang kita ketahui bersama aktor sebenarnya dibalik kata #dirumahaja adalah Pandemi ini (meski di buku baru beberapa bulan) tak terasar dengan berat terasa, ternyata sudah jalan satu tahun.

Kembali pada topik dibuku ini, di buku ini kita akan diajak terjun dan merasakan bagai Saya, Kamu dan Mereka menyikapi semua ini dari berbagai perspektif dari ibu ibu yang kelimpungan membimbing anak anaknya sekolah dari rumah, Hingga para petugas garda terdepan (yang dalam hal ini diceritakan Kalaksa Karangasem) yang dalam dilema besar berusaha untuk membantu menangani kejadian luar biasa ini. Tentu tidak dilihat dari sisi teknis pontang pantingnya tapi dari sisi yang lebih humanis.

Meski begitu dekat, di saat yang bersamaan saya merasa begitu jauh dan buta saat membaca buku ini

Saat Aku, Kamu dan Mereka menjadi Kita, semuanya mungkin tidak akan menjadi mudah begitu saja. Tetapi setidaknya saat melihat yang lain ada yang lemah atau bahkan kita yang saat ini sedang lemah. Dengan sekedar kata “kita”, akan menyadarkan bahwa ada orang lain yang saat ini sama merasakan dan sama ingin kita tidak merasakan semua ini. “Kita sama sama ingin semua berakhir. Tidak sendiri,.. kita semua

Ya, dalam beberapa hal saya, kamu dan mereka sepertinya sudah sangat erat dan sangat memahami bahwa situasi saat ini benar benar sulit. Namun saya sadar ternyata saya tidak setahu itu saya pun juga tidak sepaham itu. masih banyak yang terlewat oleh saya, banyak sekali malahan. Tentang bagaimana sulitnya mengajar anak sendiri yang beda kelas dan beda kebutuhan yang diajarkan dan bagaimana berbagai orang bersikap dari ibu ibu yang ternyata malah kewalahan menentukan menu masakan hingga usaha yang musti berusaha untuk bertahan bagaimanapun caranya.

Meski saya yakin saya, kamu dan mereka kurang lebih sudah memahami situasi yang ada saat ini karena berada dekat sangat dekat dengan apa yang masih terjadi hingga saat ini atau paling tidak saat ini begitu mudah kita mengakses sumber sumber informasi yang secara gamblang menjelaskan situasi yang ada sekarang. Saya juga berada dalam lingkungan keluarga Guru, yang beberapa yang model perubahan kehidupan nya ternyata berkali-kali diulas dalam buku ini. Bagaimana sulitnya beradaptasi dengan kondisi sekarang beserta tuntutan dan harapan proses didik mendidik berjalan dengan normal. Padahal, kita semua tahu sistem kita memang tidak pernah dirancang untuk menghadapi ini. Mulai dari kompetensi gurunya, muridnya, hingga bagaimana sistem belajar mengajar itu berjalan memang belum siap pada saat itu dan mungkin kini pun belum sempurna juga kesiapannya. Saya tidak tahu saat ini sudah seperti apa semoga sudah semakin berkembang dan sudah membaik ya #kuharap seperti itu.

Saya suka dengan cara mbo Ayu menghadirkan berbagai pandangan para kenalannya dalam menghadapi situasi ini yang ternyata beraneka ragam dari berbagai profesi bahakan berbagai negara yang menyebabkan masalah masalahnya tidak jarang akan berbeda. Oia beberapa ilustrasinya juga menarik dan lucu, dalam buku ini banayak ilustrasi yang simple tapi bagus, agaknya kapan kapan menarik seperytinya kalu saya belajar menggambar ilustrasi dengan gaya seperti yang ada di buku ini. hehehe

Sekian dulu, ulasan dari saya. Sekedar sebagai penyemangat pribadi untuk kembali aktif di dunia tulis menulis di blog saya yang jarang tersentuh ini dan sekalian juga sebagai penyemangat diri untuk kembali membaca tumpukan buku yang ada.

Saya rasa buku “Saya, Kamu dan Mereka” menjadi buku yang manis untuk mengawali bacaan bacaan serta tulisan saya terkait buku di Tahun 2021 ini. Tunggu update dari saya lagi ya temans, semoga kita sehat selalu dan pandemi ini segera berakhir dan kita bisa besorak2 lagi berdesakan di bus, di kereta atau bersorak ria di dalam sebuah konser. 🙂 entah mengapa saya rindu jadi kaleng sarden dalam comuter line Jakarta Bogor #hiks.

Sekian dari saya. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya

Salam Dewa Putu A.M.

Daily LifeUncategorized

Banyak yang terjadi sejak terakhir kali ku tulis di sini

May 6, 2021 — by dewaputuam0

pexels-monstera-5708959-960x640.jpg

Hai, Apakabar para pembaca sekalian. Mungkinkah kalian merindukan tulisanku? mungkinkah kalain sejenak ingin sesekali membaca apa yang kutuliskan. Entah itu sembarang kata yang ku tebar tanpa makna, atau bahkan tulil serajut berlapis makna yang untuk menggalinya saja butuh memperbesar pupil mayta hingga batas maksimal wajarnya.

Yah, ku masih di sini, saat ini ku sedang duduk di sebuah kamar sambil menulis dan mendengarkan sebuah lagu cover “Talking to The Moon”. Bukan bukan ku sedang sendu, namun playlistnya saja yang tanpa sengaja memutar lagu itu.

Saat ku buat tulisan ini, rasa lelah cukup ada si, tetapi lelahnya lebih pada fisik yang baru saja selesai dari lari 2 putaran lapangan bajra sandi Denpasar. Cukup seru si lari lari kecil keliling lapangan tersebut, selain pemandangan yang lumayan nyaman dipandang mata, trackingnya juga masi masuk akal untuk berlari lari kecil. Terlebih dalam situasi pandemi seperti ini, yang berlari tidaklah begitu ramai sehingga tidak perlu tersendat sendat kecepatannya karena harus berpapasan dengan orang.

Dengan perlahan tapi pasti berkali kali kutarik batas jarakku, dari yang sebelumnya hanya mampu setengah lapangan kini sudah bisa satu putaran penuh dan semoga kedepannya bisa 1.5 lapangan dan seterusnya meningkat. (Photo by Dom Gould from Pexels)

Beberapa Bulan ini Banyak yang terjadi kawan, tapi apapun itu setidaknya masi bisa teratasi dan baik baik saja hingga sekarang, itulah yang terpenting bukan

Yang ingin ku ceritakan bukan sebuah keluh kesah tentang beratnya hidup. Sudah lah itu tidak lah menarik untuk dibagi dan diceritakan. Lebih baik kita bercerita tentang mimpi yang mungkin sebelumnya tertunda ahahaha. Ku akui dalam beberapa bulan terakhir memang banyak hal yang sempat terlewat, itu lah yang sangat disayangkan. yah kadang kita memang perlu mengistirahatkan diri sesaat untuk kembali bergerak.

#mungkin

Tapi setidaknya semua sudah teratasi sekarang, dan semua aman lah. Apapun masalah yang kemarin terjadi, semua perlahan teratasi dan kian membaik. Jika kawan kawan tanyakan apa yang ada dipikiran ku sekarang, ku mungkin akan menjawab kalau “Ku penasaran dengan apa yang akan terjadi esok” mungkin akan sangat menarik :).

Agar apa yang akan ku lakukan esok dapat lebih terarah, boleh lah saya cobaa riview apa apa saja yang terhalang dan belium tercapai pada bulan bulan sebelumnya yang dengan berat hati saya menyayangkan hal itu:

  • Buku masih belum ada yang selesai dibaca. Lumbung buku sudah menggunung dan dipenuhi sarang laba laba, menyedihkan lihatnya. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 8 buku pada bulan yang sama, di tahun ini justru belum sama sekali terbaca. Sekali lagi belum sama sekali terbaca T____T. Kapan bisa pinter kalau gini terus yak wkwkwk. Tapi jujur si soal ini ku merasa sedikit jenuh karena belum ada buku yang benar benar membuat ku tertarik untuk membacanya. Mungkin buku yang sedang ku tunggu kedatangannya karya Dee Lestari bisa buat mood membaca ku kembali. Dari pada baca buku buku yang membuat alis menekuk kan, agaknya memang perlu baca yang sedikit ringan.
  • Bacaan di Medium dan HBR juga jarang. ini juga ku merasa bodo sekali, dan suka blank kehabisan ide, Medium.com menurutku platform untuk mencari ide yang paling oke, karena penulis penulisnya relatif lebih keren dari pada media media mainstream. bahkan bisa dikatakan sangat jauh kualitasnya bila dibandingkan dengan Koran Utara Selatan, Koran Menit, Koran Di Tengah, Apalagi Koran bangku penonton. Jauh jauh sekali kualitasnya bila dibandingkan dengan koran koran bertebar iklan. Koran koran yang lebih banyak kolom iklannya dibandingkan bacaannya (malah curhat wkwkwkwk).
  • Baca saja jarang apalagi Menulis di Blog. Ini yang paling mudah terlihat, terakhir kali ku menulis Tulisan ini. Menurutku, ku masih punya waktu untuk sekedar mencurahkan ide dan gagasan kok, meski ada beberapa waktu yang bahkan untuk buang air saja terasa sangat sulit, tetapi 80% hariku masih lah bisa dialokasikan untuk sekedar menulis 400 kata. Semogga dari posting ini ku coba ya komitmen lagi agar setidaknya dalam seminggu ada satu tulisan yang akan saya bagikan.

Kira kira itu saja si, benar bukan curhat menye menye kan ya. Itu saja mungkin yang bisa saya bagikan hari ini kawan. Saya mau menyantap Babi guling dulu yang baru datang hehehe.

Salam

Dewa Putu AM

Feature Photo by Monstera from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Ini Putaran Lari yang Berat, Putaran 20 Ini Memberikan Kita Banyak Cerita, Namun Kali Ini Ijinkan Ku Dahulu yang Bercerita, Silahkan Duduk dan Menikmati Kopi Bersama Ku Sejenak.

January 1, 2021 — by dewaputuam0

pexels-jeswin-thomas-1280162-960x640.jpg
Sumber Gambar  Skitterphoto from Pexels

Ku berlari menuju sebuah pemberhentian sementara dalam sebuah marathon yang sangat panjang. Sebotol air mineral kuteguk tergesa gesa, memang membuat tersedak dan naik salah jalur menuju hidung tetapi waktu ku rasa tidak boleh disia siakan. Putaran marathon ini terasa berbeda dari putaran sebelumnya. Di putaran  ini kita dipaksa untuk bergerak sendiri tak lagi beriring iringan bersenda gurau dan apa sulit juga melakukan apa yang dulu biasa kita lakukan saat menapaki setiap jalurnya. 

Pada marathon putaran 20 ini banyak kerikil tajam dan kadang menyakitkan. Tapi di putaran 20 ini harus ku akui banyak sekali pelajaran yang telah kita dapatkan. Pelajaran dari setiap tapak langkah kaki kita pada jalan berkerikil yang kita lalui hingga halang rintang sungai, bukit kecil menanjjak hingga jurang curam yang kita sudah jelajah bersama. 

Ku menyeka keringat dan sedikit mengingat awal dari putaran 20 ku. Sedikit melihat ke belakang sambil menikmati udara segar pepohonan, rerumputan dan tanah yang menghamburkan aroma menghanyutkan akibat diguyur hujan semalam. Sedikit melegakan kita sudah sampai sejauh ini namun sedikit berdebar mengingat apa yang ada di putaran 20 bukan tidak mungkin masih akan kita tantang di putaran 21. Sedikit mengecewakan semua belum selesai dengan sempurna, tetapi maraton ini tetap berlanjut. Masih ada hal hal seru menunggu di depan sana.

Perpindahan Jalur Lari di Putaran Ini Memang Berat dan Gelap, Namun Pelita yang Kita Nyalakan Bersama Mengubah yang Benar Benar Gelap Menjadi Sedikit Temaram dan Perjumpaan Awal Kita dengan Halang Rintang Renik Bermahkota

Putaran 20 memang salah satu  putaran yang  spesial buat ku karena di awal  putaran ini ku mencoba untuk melanjutkan perjalanan dengan hal yang baru, setelah 3 putaran sebelumnya bersama tim orange yang menjelajah banyak jalur hancur dan tangis sedih orang terbang bersama capung di atas rerumputan kering terbakar, melewati tanah terbolak balik dan terhempas deburan ombak, akhirnya pada putaran 20 ku mencoba peruntungan di jalur yang lain. Jalu ini memang masih terasa gelap dan masih sedikit orang yang ikut berlari bersama namun kucoba langkahkan kaki di jalur ini dan ku pun berpikir akan ada hal yang menarik akan kulalui selanjutnya. 

Di awal putaran ini tanah begitu basah dan banyak genangan yang membangkitkan kenangan di 3 putaran lalu yang biasa berhadapan dengan genangan dan kenangan. Sedikit gregetan dan jengah jemari ini untuk ikut turut terjun bersama teman lama namun tak bisa. Ku sudah di jalur yang berbeda dengan mereka sekarang, meski saat banyak genangan di awal tahun tersebut hati ingin kembali berbicara dan menari namun saya rasa cukup sudah diputaran ini ku perlu belajar lagi hal hal baru. Itu poinnya, banyak hal baru yang harus saya pelajari di awal putaran 20.

Berlari Dalam Gelap Photo by Michael Foster from Pexels

Sedikit demi sedikit ku belajar tentang jalur baru ini, ku coba peruntungan untuk belajar menggunakan sepatu yang berbeda dengan sepatu yang dulu dan tali temali untuk mengencangkannya. Membuat temali itu menjadi sedap dipandang, setiap tetes keringat hembusan angin malam yang mengiringi langkahku belajar ku yakin suatu saat akan ku petik. Ku belajar sambil berlari perlahan ikut melihat bersama orang dari dunia yang berbeda beda walau kadang ada sedikit kerikil yang menusuk sela antara jempol kaki dan jemari lainnya. Ku belajar menulis dengan ikut pelatihan menulis, memang bukan untuk berlari namun  saya rasa itu cukup penting. Ku juga belajar membuat gambar dari angka angka dengan ikut beberapa pelatihan online, tentu tidak sambil berlari, itu semua kulakukan sembari menyeruput secangkir kopi di warung anomali.

Ada beberapa kesempatan ku harus bergeser untuk berbalik sejenak ke jalur yang lama yah untuk melintas sejenak yang tak ku sangka cukup menyakitkan. Keluhan dan jengah kadang memang muncul tetapi ku tau tak bisa berlama lama rasa segan, ragu dan  bercampur lapar  ku langkahkan kaki untuk belajar. Namun raut wajah teman perjalanan yang dulu  ramah dan riang tak kusangka di putaran 20 ini sudah cukup banyak perubahan. Keramahan itu sudah sedikit hilang dan ku kecewa namun yah semua sudah berubah mungkin ada banyak permasalahan yang hinggap, akhirnya perjumpaan itu tidak berlangsung cukup lama. Padahal ingin rasanya untuk mendengar cerita cerita mereka. Ku sadar kecanggungan dan rasa asing itu memang normal terlebih saat kita berpindah jalur dari jalur lama yang banyak memberikan kesan. Rasa sentimentil kita kadang sedikit merapuhkan bahkan pada orang orang yang punya nafas  kuat sekalipun. Hehehe

Kita lanjutkan lagi, beberapa hal terus ku lihat, perhatikan dan pelajari  di sela perjalanan dan istirahat beberapa lembar koran bergambar diagram batang dan kue tart, Jalur jalur sigmoid coba ku coba ukir pada tanah di dekat tempat istirahat sementara kala itu sembari sesekali iseng bertanya kabar dengan teman teman lama. Semua itu kulakukan dengan persisten. Sembari melihat berita tentang halang rintang jauh di timur seberang laut sana yang sesekali ku menulisnya namun bukan tentang halang rintang renik bermahkota itu tetapi pada bagaimana kita tetap menjadi manusia. Yup halang rintang renik bermahkota kala itu masih jauh di seberang lautan, namun ada rekan tim lari maraton saya yang baru yang tiba ke jalur ini kami bersembilan beberapa kali  mengadakan pertemuan untuk men Cari! Beberapa hal yang pantas kami cari!, memetakan dan membuat jaring jaring permasalahan tentang maraton bersama rekan yang sudah lama di jalur ini, pak sanjungan namanya. Beberapa perbaikan jalur gelap kami coba nyalakan sedikit demi sedikit lentera, belum begitu terang namun cukup temaram untuk membimbing langkah kita bukan nya itu hal yang baik bukan hehehe. Soal halangan renik bermahkota itu, jangan ditanya lagi bahkan kini semua telah ada dimana mana ya yah sudah lah mau bagaimana lagi ya itu sudah masa lalu, mahkotanya pun sudah berganti ganti dan kita tidak tahu akan kemana lagi.

Berlari di Dua Jalur, Melelahkan Memang Namun Ada Kalian dan kamu yang Menyemangatkan dan Memberi Harapan

Setelah berkutat di Jakarta ku putuskan untuk kembali ke rumah di Lampung. Banyak perdebatan dan sesekali juga kerikil yang menyayat hati. Lihat tu tetangga si-A sudah bisa beli rumah, lihat tu tetangga si B sudah menikah dan punya anak dan gajinya sekian juta lihat si Z sudah seperti ini. Kenapa kamu tidak seperti A daftar di sini daftar di situ.  Hehehe menyebalkan memang, tapi ya sudahlah walau kadang menusuk sekali dan tak kuat mendengar kata kata menyebalkan seperti itu tetapi ku rasa perjalanan masih panjang dan ku kuatkan saja sembari membaca beberapa buku ringan. Everything is F*cked karya mark manson, Talk to Stranger karya Malcolm Gladwel dan beberapa buku yang sayangnya belum berhasil saya selesaikan seperti buku Leonardo Da Vinci karyanya Walter Isaacson, Data Science for Business karya Foster Provost.

Akhir maret tetiba ada miscall dari “kenalan lama”. Sudah lama ku coba untuk menghubunginya hahaha. Walau awalnya ku kira hanya misscall tetapi, saat itu perbincangan cukup seru. Dan komunikasi dengannya memang cukup sulit si, untuk sekedar berbincang dengan nya sudah bersyukur sekali, hehehe. Biasanya hanya hai apa kabar, hai selamat ulang tahun ya hai selamat A hai selamat B. Setelah sekian lama tak bertegur sapa akhirnya saya bisa lagi berkomunikasi dengan kawan lama, dia baik dan ramah meski terkadang sulit dipahami namun dalam setiap istirahat pekan belakangan ku coba menghubungi untuk bertanya kabar dan mendengar suara khas dan tawa renyahnya sekaligus berdiskusi ringan dan berat untuk mendengar pendapat pendapat yang tak jarang sulit ditebak 1 jam 2 jam dan 4 jam. Ku cukup senang dan bahagia untuk hal itu nice and thank you 🙂 . Oke next, anggap aja ini kisah sudah cukup lah ya ku ceritakan. Ku sediki belepotan kalau harus cerita cerita soal yang macam ini. Ku lanjut cerita ke hal lain kalau begitu.

Photo by Samuel Silitonga from Pexels

Pada akhir juni ku mendapat kesempatan untuk berdiri di dua jalur ku pun terbang ke arah tanah asal leluhurku dulu. Untuk bergeser saat itu cukup rumit, banyak hal yang perlu dipersiapkan dan sangat ketat aturannya. Banyak keraguan ku saat itu. Yang pada waktu biasa melompat kesana hanya butuh waktu satu jam namun karena halang rintang renik bermahkota semua menjadi rumit, dari memperoleh perizinan sampai segala tes harus dijalani. Berbagai protokol dan jalur jalur lewat yang relatif sulit juga harus ditempuh bahkan harus menginap di tempat penginapan di bandara.

Sesampainya di jalur baru ku juga menemukan banyak hal baru dan pemandangan baru walau karena jalurnya memang searah dengan jalur 3 putaran ku yang lalu sesekali ku berpapasan dengan kawan lama dan guru lama, beberapa orang yang memberikan banyak waktu dan banyak ilmu pada ku dulu tetap berlari searah tujuan. Salah satu dari mereka ada Beliau yang sempat berpesan bahwa kita masih satu nafas.  Sedih memang kalau mengenang beliau kini sudah tidak ada. Beberapa pimpinan jalur yang di 3 putaran lalu berlari bersama juga kini sudah menjadi pemimpin kelompok yang lebih besar dan memiliki tempat yang lebih berkilau, Beliau beliau ini saya salut dan segan karena meski di tempat baru yang lebih nyaman beliau beliau ini masih ramah dan bersahaja seperti dulu bahkan sesekali ada yang menghubungi sekedar saling mengingatkan dan bertukar kabar.

Perjalanan terus berlanjut, kakiku sedikit terasa pegal namun ku tau kita tidak boleh menyerah. Pada putaran kali ini ku mendapat  tambahan semangat semangat baru dan harapan baru.  Perjalanan terus bergulir, tak lagi hanya kerikil yang menyertai kadang yang menusuk bak duri dari tumbuhan putri malu dan ilalang yang sekedar menyapa merasuk hingga dua cm ke dalam kulit. Namun yang paling menghalangi diri justru dari dalam diri kita sendiri sebuah perasaan yang sangat sulit untuk menghadapi rasa jenuh, rasa malas, dan rasa ingin menyerah disaat hal sulit terus bergelayut kesana kemari. Memang tak jarang tak mampu kita atasi dengan baik terkadang ku menang melawan namun tak jarang juga ku harus rela mengaku kalah. Ini yang sulit bukan. Karena sulit ku juga harus ku akui ku bahkan sering tidak mengakui hal itu.

Yang Menguatkan di Putaran 20 dan Harapan di Putaran 21 yang Mungkin Sama gelapnya namun Ku yakin Kita Bisa Melalui yang Ini Lagi

Hal yang menguatkan ku di putaran 20  tidak lain karena ku telah berinvestasi pada banyak hal. Bukan bukan investasi pada emas, pada reksa dana, saham atau pada perangkat pendukung saja namun investasi terbesar yang paling memberikan arti paling besar bagiku selama putaran 20 ini adalah investasiku pada diri sendiri pada otakku, pada hatiku dan juga tentunya pada hubungan ku pada yang lain bertegur sapa dan bertanya kabar. Karena semua itu, ditambahkan berbagai macam keberuntungan dan usaha ku boleh anggap putaran 20 ini berhasil kulewati dengan cukup baik. Untuk itu melalui tulisan ini ku ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan berkah dan karunianya selama ini, pada diriku yang tetap bertahan dan tangguh di masa sulit, kepada orang tua kepada teman yang terus mendukung, kepada “Dia” yang menenangkan dan menyenangkan, dan juga kepada para “guru-guru” yang selama ini membimbing setiap jalanku, pada rekan baru yang memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berarti dan pada semuanya yang meski sekelebat namun memberikan peran dengan berbagai porsinya. Ku mensyukuri semua itu. Berkat semua hal yang kusebutkan tadi target target ku di putaran 20 ini banyak yang tercapai bahkan terlampaui berlipat lipat. Menyenangkan sekaligus menegangkan.

Menjadi manusia, itu saya rasa akan menjadi kunci kita kedepannya. Bukan hanya manusia yang menginginkan hidup, bernapas dan berkembang biak namun menjadi manusia yang berharap dan berusaha untuk menorehkan arti pada manusia lainnya dan pada segala di sekitarnya. Di putaran 21 ini fokus ku akan tetap berinvestasi pada otak dan hati dan juga pada hubungan, meneruskan hal yang tertunda. Membaca berbagai referensi tentang penyelesaian permasalahan yang terstruktur (Lean Analytics, Six Sigma) dan belajar dalam mengelola data berupa kata lanjutan dari putaran 20 dan juga beberapa literatur lain yang saya temukan nanti. Target 25 buku pada putaran 20 lalu yang hanya berhasil saya selesaikan 7 agaknya sangat nista dan saya berharap di putaran 21 ini saya berhasil menuntaskan 30 buku. Saya juga akan membaca berbagai artikel artikel lucu dari HBR, dan Medium. Oia saya juga berusaha menulis blog setidaknya seminggu sekali ya. Soal hubungan pertemanan dan percintaan saya hanya bisa berusaha lebih konsisten dan persisten saja lalu kemudian serahkan pada yang diatas hehehe. Untuk hal ini perlu ketulusan luar biasa yang perlahan meski sulit perlu kita terus pelajari dan kita terapkan dalam keseharian. Yah sekali kali khilaf tidak apa. Memang hal ini tidak berkaitan terlalu erat dengan perlombaan lari kita namun entah perasaan saya saja namun saya yakin akan bermanfaat di kemudian hari.

Photo by Jeswin Thomas from Pexels

Soal kesehatan sudah sepatutnya ku akan menjaga kebiasaan-kebiasan baik berjogging di setiap minggu, dan makan makananan yang enak macam babi guling es krim, mie ayam hehehe. Terkait karir ada hal yang memang perlu sangat saya perbaiki baik dalam manajemen waktu dan pengelolaan mood saat bekerja agar lebih produktif, saya akan mulai mengetatkan dan menyehatkan jadwal kegiatan saya. Dan terkait finansial yang dulunya saya berharap meningkat 10 kali lipat dibandingkan putaran 19 ternyata secara mengejutkan berhasil tercapai. Yang saya harapkan pada putaran 21 ini akan saya bukan coba sepuluh kali lipat lagi namun lebih dari itu ku ingin menjadi lebih bijak dalam mengelola keuangan. Lebih banyak berinvestasi pada hal hal yang berguna dan bermakna sembari meningkatkan dan berjaga jaga agar tidak terjebak pada orientasi pada uang yang berlebihan dan saya rasa itu jelek sekali dan merusak kesenangan kita dalam bekerja. 

Itu saja yang kuharapkan di putaran 21. Saya rasa tulisan ini sudah terlampau panjang dan mengarah tidak tahu jundrungannya. Rencana ini memang masih sangat abstrak dan belum terperinci, saya sadar hal itu. Namun saya rasa berlayar tanpa peta akan mengasyikkan. #mungkin.

Selamat tahun baru semua. Mari kita berlari lagi, dan lalui semua ini bersama, mungkin berat di depan sana namun tidak ada salahnya kita untuk tetap berharap.

Yah, memang akhirnya putaran ini berhasil kita lalui bersama, namun kita pun mengetahui kalau tidak sedikit  yang kurang beruntung hingga mereka tidak mampu mencapai titik ini. Mereka yang kita kenal yang berbicara diskusi dan bercengkrama mungkin tidak akan lagi bisa melanjutkan marathon ini menuju putaran 21 22 dan putaran putaran selanjutnya. Namun ku tersadar ini bukanlah sekedar perlombaan maraton. Ada berbagai tongkat mimpi yang saling kita pertukarkan antara pelari satu dan pelari lain. Ada tongkat harapan yang kita bagi antara pelari satu dan pelari yang lain.  Ada pula tongkat berbalut tetes keringat, tangis bahkan darah yang kita genggam bersama untuk membawa perjalanan kita berarti bagi pelari pelari berikutnya. Maraton putaran kali ini memang cukup berat. Namun bukan berarti tidak ada harapan sama sekali, tidak ada mimpi yang bisa digapai tidak ada pertolongan yang bisa diharapkan. Dalam putaran ini kita diajarkan bersama tidak berbatas pada bersama dalam jarak. Namun lebih dari itu, kebersamaan memiliki artian yang lebih luas, kita punya satu nafas, kita punya satu arah. Tetap bersama mari kita bersama berlari melanjutkan hal yang telah kita rintis di putaran putaran terdahulu bersama pelari yang dahulu untuk menyongsong jalur dan senyum yang baru. Dengan begitu kita akan tetap menjadi manusia. 

NB:

Feature Photo by Jeswin Thomas from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Cerita tentang Tak Pasti

December 9, 2020 — by dewaputuam0

pexels-pixabay-258510-960x720.jpg

Aku pasti jatuh lagi yah,..

kata seorang anak kecil berkaki kecil kepada ayahnya sambil menuntun sepeda kecil beroda dua. Dua roda mungil tambahan yang biasa terpasang di kanan dan kiri roda belakang sepeda hilang entah kemana. Ia memiliki keinginan keras untuk menaiki sepedanya, namun hilangnya roda tambahan yang selama ini menopangnya membuat ia berpikir lebih banyak dari biasanya. Jatuh adalah satu satunya yang terpikir olehnya, sebuah bayangan ketakutan akan sakitnya saat jatuh terus bergelayut di antara alam pikirnya yang masih sebatas mata memandang saja.

Belajar Sepeda itu Sulit dan Menyakitkan Apalagi saat Terjatuh

Sambil tersenyum jahil sang ayah pun memutar bola matanya dan seketika sudah berganti wajah menjadi penuh semangat dan gairah, ia dengan perlahan berkata 

“Pasti jatuh..? yakin ?” senyumnya tersungging kecil menggoda anaknya yang sedang bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Bahunya mulai melebar dan merentangkan tangan bersiap siap menjaga jaga segala kemungkinan seiring gerakan si anak kecil itu yang mulai bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Tanpa sepengetahuan si anak kecil, ia memang telah menyembunyikan kedua roda tambahan dari sepeda kecil anaknya. Trik sederhana dan kebohongan kecil yang sengaja dilakukan agar si anak kecil itu dapat memulai kayuhan pertamanya tanpa ditopang roda bantu lagi.

Sepeda (Sumber: Photo by Roman Koval from Pexels)

Anak kecil berkaki kecil itu kembali ke posisi siap mengayuh sepeda kecilnya lagi dan sang ayah berada di sekitar anak kecil itu. Kaki kanannya  mulai diletakkan di pedal sepedanya dan memulai kayuhan pertamanya. Sepeda Pun mulai bergerak namun terhuyung kekanan dan kiri, genggaman anak kecil itu pada setang sepeda kecilnya masih belum terlatih untuk menjaga putaran ban sehingga meliuk kanan dan kiri sebelum jatuh terjerembab. Berkali kali anak kecil itu terjatuh lagi dan lagi hingga akhirnya bersama jingga langit senja, samar samar terlihat siluet anak kecil itu mengayuh sepedanya jauh dan terus menjauh dari sang ayah.

Dari apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir, banyak hal yang saya pelajari dari hal yang sangat remeh seperti menyimpan buah pisang di dalam lemari es ternyata bukan ide yang bagus karena pisang akan rusak dalam waktu semalam saja. Pelajaran tentang bersepeda,  Hingga hal hal yang kurang begitu sederhana seperti yah sudah lah tidak perlu dibahas di sini. Hehe.

Ini Cerita Tentang Tak Pasti

Namun pelajaran yang menurut saya penting dan menurut saya tetap relevan setidaknya hingga beberapa dekade ke depan adalah tentang “Ketidakpastian”. Dari apa yang terjadi selama ini “Ketidakpastian itu satu-satunya yang pasti”. 

Ku banyak belajar tentang ketidak pastian ini dari berbagai kegagalan yang saya hadapi selama ini, saya rasa semua orang tentu pernah merasakannya. Tentunya dengan porsinya masing masing. Adanya ketidakpastian yang menari indah bersama ekspektasi yang tinggi ditambah dengan bumbu bumbu kurangnya keberuntungan, dan berbagai faktor x kadang membawa kita pada kegagalan. Namun dalam berbagai situasi yang bumbu bumbunya sama tidak jarang justru membawa kita pada keberhasilan yang bahkan tidak pernah kita duga sebelumnya.

Jika tidak mau disebut semua, saya akan PD berkata bahwa “Hampir segala” hal disekitar kita mengandung suatu ketidakpastian. Ada ketidakpastian di dalam permainan dadu, dan bahkan ada pula ketidakpastian arah terbitnya Sang Raja Siang. Sang Mentari tidak pasti selalu terbit dari arah Timur. Beberapa bulan ini condong ke Utara lain waktu condong ke Selatan. Secara semu terus aja begitu berganti arah terbit sambil menebar ketidakpastian pada angin, hujan, badai dan sanak perudaraannya. Dalam sesuatu hal yang kita anggap pasti bukan tidak mungkin tanpa diduga akan ada suatu penyimpangan yang membuat kadar kepastian itu tidak lagi 100%. 

Hal ini menjadi kian tidak pasti saat kita sama sama memasuki tahun 2020 yang oleh sebagian orang “mungkin” menjadi salah satu tahun terburuk yang pernah kita rasakan. Saya mengatakan “mungkin” karena pernyataan itu juga mengandung ketidakpastian. Tentunya saya tidak ingin melanjutkan kalimat kini pada kemungkinan kemungkinan lainnya mengingat sudah terlalu banyak kehilangan yang kita rasakan pada tahun 2020 ini. Entahlah dengan 2021 yang akan kita songsong dalam waktu dekat ini.

Saat saya membuat tulisan ini awalnya saya sangat PD bahwa “Pasti itu tidak ada”. Dan ternyata setelah dipikir pikir, bahkan pernyataan itu pun bukan pernyataan yang pasti. Hah sudahlah agaknya tidaklah perlu kita terlalu memikirkan dan mencurahkan segala pikiran kita pada sesuatu yang tak pasti. Jika meminjam istilah pada film yang baru saja tamat pada minggu kini, 

“Berlayar tanpa Peta” agaknya menjadi sesuatu yang menarik untuk dilakukan, tentunya bukan serta merta dengan bodohnya bergerak tanpa kendali dan arah yang pasti. Tetapi saya justru melihat berlayar tanpa peta juga berarti dalam menjalani hidup tidaklah perlu mempunyai perencanaan yang terlalu detail dan membebani. Peta yang ada saat ini, tidaklah secara pasti menggambarkan situasi saat ini, bukan tidak mungkin banyak perubahan yang terjadi yang menyebabkan saat kita terlalu terpaku pada peta justru kita tidak mampu merespon apa apa saja yang terjadi sekarang dengan cekatan. Semua hal berubah dari ombak hingga angin, bahkan tujuan kita juga terkadang dalam suatu situasi diharuskan berubah karena sesuatu dan lain hal. Kembali lagi pada tidak pasti.

Namun apapun itu justru dengan ketidakpastian itulah yang membuat perjalanan kita menjadi menarik bukan. 🙂 (Jadi penasaran apa yang akan terjadi kedepannya).

Yup apapun yang ada di depan ntah itu menyakitkan ataupun justru menyenangkan agaknya akan semakin seru dan menarik. Mungkin ini awalan yang cukup baik untuk memulai perjalanan baru ini sebuah perjalanan yang panjang. Sebuah perjalanan yang tak pasti.

Feature Photo by Pixabay from Pexels

BencanaOpiniPsikologiUncategorized

Cerita Tentang Riuh di “Stadion tanpa Pertandingan”

September 22, 2020 — by dewaputuam0

pexels-garret-schappacher-2115874-960x1174.jpg

Hei, bangun kawan.

Tetiba samar suara seseorang membangunkanku, kucoba buka mata dan mulai memasang telinga ini untuk kembali tersadar. Entah berapa lama ku tertidur hingga lupa saat ini sedang berada dimana. Suasana ini begitu asing bagiku. Puluhan, mungkin tidak, ini jelas lebih dari itu. Ratusan pun ku yakin sudah terlewat. Saya rasa ini ribuan. Mungkin sekitar 90 sampai 100 ribu, gumamku dalam hati. Atau kita anggap saja ini 99.354 orang. Kita samakan saja dengan kapasitas tempat duduk Stadion milik klub bola raksasa dunia Barcelona yakni Camp Nou. Angka yang cukup riuh ya. 

“Hei kenapa kamu malah bengong” suara yang membangunkanku kembali muncul dan kali ini tidak samar karena telingaku saat ini sudah mulai terpasang rapi untuk kembali bekerja seperti semula. Kantuk yang terawal tadi bergelayut kuat menutup kelopak mata dan dan menyayupkan ke semua indraku kini tergantikan dengan rasa bingung dan limbung khas layaknya orang yang memang baru bangun dari tidurnya.  

Ramai penonton sepak bola, saya tidak tahu ini stadion mana. Hanya keramaiannya saja yang ingin saya tampilkan dan ingin rasakan di sini (Photo by Riccardo Bresciani from Pexels)

Riuh suara ribuan orang perpaduan antara dengungan lebah madu beradu tidak karuan dengan teriak teriakan khas menyakitkan telinga ku yang baru beberapa detik lalu terlelap tidur bersama indra penglihatan dan indera perasa milikku. Genderang besar, lebih dari satu bergelegar bertabuh-tabuh tidak karuan dan tentu saja tidak membantu sama sekali dalam mengharmoniskan suara lebah dan teriakan orang orang yang ada.  Payah sekali memang, gumamku lagi dalam hati.

“Ku cari cemilan dan kopi dulu ya, sepertinya kamu masih ngantuk ya, dari tadi kulihat mata kamu masih kosong dan belum benar benar disini” Sapa orang tadi dan kemudian berdiri mengorek ngorek saku tasnya mengambil beberapa lembar uang kertas lalu beranjak pergi.

Benar saja, nampaknya ku memang sedang berada di sebuah stadion sepak bola yang sangat megah. Ku melihat sekeliling ku, orang orang disini sangat beraneka ragam. Dari warna rambut sampai warna kulit, meski sebagian jelas terlihat beberapa seperti berasal dari Indonesia, pahatan wajah dan gestur yang khas itu tampaknya masih jelas terlihat dari sekian banyak orang #mungkin. 

Ramai Riuh Mereka Mereka itu di sini, dari Tribun Penonton

Orang orang disekitarku sangat beragam dari usia dini sekali sampai usia senja yang tampaknya menuju malam. Ada yang sendiri duduk termenung sambil memakan cemilan dan minuman ringan. Ada yang berdua mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua. Ada yang bertiga bahkan ada yang rombongan, mungkin mereka itu sekeluarga. Dari kakeknya, neneknya, ibunya, dan cucu cucunya. Mereka bercanda dan bersenda gurau saling melemparkan senyuman dan berbagi camilan. Bahkan sesekali tampak pula seorang ibu yang sedang memangku anaknya yang masih sangat kecil. Heran sih kenapa anak sekecil itu dibawa ke tempat seramai ini. Namun saya membuang jauh jauh pertanyaan itu, ku yakin ada alasan spesifik yang memang mengharuskan anak sekecil itu dibawa kemari. 

Mataku menyapu sekeliling. Perhatianku tertuju pada seorang wanita, mungkin berumur 30 tahunan sedang kesulitan menelpon seseorang diluar sana. Dalam keriuhan seperti ini memang sulit untuk sekedar berbicara via telepon entah itu terganggu oleh keriuhan yang ada atau secara kejam terbawa angin dan membaur entah kemana. Angin tampaknya memang menjadi salah satu yang menghalangi keperluannya itu, sayup sayup suaranya bahkan sampai pada telingaku yang terpaut tiga bangku sebelahnya. Sayup terdengar “Jaga baik baik si kecil ya pa, jangan lupa makan…. Ssskkkkk”. Itu saja yang mampu ku dengar. Tampaknya ia sedang berpesan pada suaminya yang sedang mengurus anak di rumah. 

Ku tersenyum kecil melihatnya. Aneh, kenapa malah si ibunya yang pergi nonton di stadion ini bukan si ayah. Tersenyum senyum kecil ku melihat kejanggalan itu. Belum sempat senyum kecil ini ku tuntaskan, mataku kembali ditunjukan pemandangan yang sulit untuk dilewatkan. Seseorang di bawah ku sedang mengetikan sesuatu pesan pada ibunya. 

“Bagaimana kabar ibu di rumah?” ,.. Begitu kira kira sekilas pesan yang “tak sengaja” terbaca olehku. Oke, harus ku akui itu bukan tidak sengaja tapi memang sengaja ku lirik dengan sedikit trik (mengikat tali sepatu untuk menunduk dan mengintip pesan itu hehe). Laki laki seumuranku ini ternyata sedang mengirim pesan kepada ibunya.

Ku terus menyisir melihat hal hal yang kuanggap menarik untuk dilihat lagi, banyak sekali hal unik di sini. Entah apa yang mereka tunggu sendari tadi. Lapangan hijau di bawah sana belum ada tanda tanda akan ada sebuah pertandingan, disini juga tidak ada tanda tanda konser besar apalagi sebuah kampanye politik. Entah apa yang mereka tonton dari tadi. Untuk apa mereka bersorak bila tak ada pertandingan yang sedang mereka tonton, untuk apa pula mereka bersedih.

Ku berpikir kejanggalan-kejanggalan yang sebelumnya tidak tertangkap oleh sapuan mata ini kini mulai muncul perlahan lahan. Kenapa mereka ini, apa yang sedang mereka tontong. Mereka berpakaian biasa, bahkan ada yang berpakaian yang tidak umum kita temukan dalam sebuah pertandingan bola. Semula ku menganggap memang kostum kreatif mereka yang sedikit nyeleneh, sama seperti pertandingan bola yang terkadang ada saja yang berkostum aneh namun meriah. Namun kali ini berbeda, aneh dan tidak meriah bercampur jadi satu. Berbaju seperti dokter lengkap dengan masker dan perangkat seram lainnya. Meski ada yang berkaus bola namun kebanyakan dari mereka berpakaian biasa dari T-shirt biasa hingga jas yang rapi. Apakah ini memang pertandingan bola memang temanya tidak umum.

Ini minumanmu, Seperti yang Kamu Lihat Kami yang di Sini Beberapa Bulan Lalu Masih Bersama Kalian, Sebagian Lagi Baru Sedetik yang Lalu Datang ke Sini

Minuman ini untuk mu, segarkan sejenak pikiranmu dan coba lihat sekali lagi apa yang ada. Jangan ada yang tertinggal (Photo by Darius Krause from Pexels)

“Hei ini minuman untukmu” Orang yang diawal tadi membangunkanku membawaku satu cup minuman ringan. 

“Kenapa? Masih ngantuk kah, oia mungkin kamu heran dengan stadion ini ya. Kamu memang belum di sini, dan ku harap kamu tidak di sini si, ku harap begitu. Ku sengaja ajak dirimu sesaat kesini untuk sesekali mengunjungi kami. Kami hanya ingin bilang, 

Ini kami. Yang kamu lihat sekarang ini hanya satu dari sepuluh stadion yang ada. Seperti yang kamu lihat tadi kami seperti kalian ya, punya keluarga dan punya orang orang yang kami sayangi dan menyayangi kami. Kami bukan hanya angka kawan.” katanya lirih sambil memberikan senyuman kecil 

Ku terbangun dari tidurku, kali ini bukan di stadion yang riuh tadi. Hanya di sebuah sebuah kamar kecil yang sepi. Ku sejenak melihat jam tangan dan kemudian membuka laptopku untuk menulis tentang ini Cerita riuh stadion tanpa pertandingan.

Tulisan ini terinspirasi dari Video Narasi yang berjudul Mengapa Data dan Angka Kasus Positif di Indonesia Diragukan? | Buka Mata.

(Feature Photo by Garret Schappacher from Pexels)

Daily LifeOpiniUncategorized

Apa itu Kemerdekan?

August 17, 2020 — by dewaputuam0

pexels-bayu-jefri-1387037-960x638.jpg

Ku membuat tulisan ini sembari memandangi langit langit dalam kamar kosan 4×4 meter. Jemari menari di atas papan ketik, tidak tahu dan tidak tentu akan menulis apa, biarlah, kubiarkan ini semua terjadi. Sudah sekian lama mungkin ia menjerit dipaksa untuk menulis, dan menari untuk sesuatu hal yang lebih serius dari biasa biasanya. Mungkin ini dapat saya anggap sebagai sedikit dari sekian banyak arti dari kemerdekaan. Kemerdekaan untuk menjadikan jari jemari di atas papan ketik mengutarakan hal hal yang ingin diungkapkan tidak perlu mengikuti aturan aturan baku yang ada, tidak mengikuti arahan yang ada, tidak memerlukan tujuan yang spesifik. Meski tentunya hasilnya tidak akan seserius itu, namun setidaknya beberapa menit yang berharga ini kubiarkan jemari ini merdeka untuk menulis.

Merdeka itu tentang apa? APakah sekedar pada bebas melakukan apapun yang kita inginkan? sesederhana itukah hal yang diimpikan dan diperjuangkan oleh para pahlawan kita terdahulu? (Photo by ahmad syahrir from Pexels)

Kadang memang kebahagiaan akan kemerdekaan sesederhana itu saja, tidak lebih dan tidak kurang, hanya pada kemerdekaan spesifik, entah itu menulis, membaca, berlari, berteriak atau hanya sekedar menghempaskan  tubuh ke atas kasur, dan kemudian melekat dan dan bukan hanya untuk yang sesaat #taat. Terlalu dipaksakan ya, hahaha, tak apa, ini kemerdekaan menulis apa yang diinginkan oleh jemari ini untuk tertulis maka akan tertulislah. 

Saya tidak begitu paham dan mengerti apa yang akan dihasilkan tulisan ini namun ini terus mengalir tanpa perlu penjelasan sedikitpun. Tanpa perlu ada keraguan sedikitpun, hanya menulis apa yang ingin diungkap saja. Mari kita berbicara tentang hari ini, bukan sesuatu yang spesial namun hanya ingin bicara tentang hari ini saja, tidak lebih namun juga tidak begitu kurang. Apa itu kemerdekaan dimata kalian? 

Apa itu kebebasan?

Setiap orang bukan tidak mungkin atau malah bisa dikatakan sangat normal bila memiliki definisinya sendiri sendiri. Entah itu kemerdekaan dari sesuatu hal fisis, suatu esensi yang terjelaskan oleh kelima indra kita seperti ujaran yang tertangkap oleh indra pendengar, gerakan yang tertangkap oleh indra pendengar, sentuhan yang tertangkap oleh indra perasa, rasa asin, manis, pedas yang tertangkap oleh indera pengecap, bahkan kentut yang menusuk langsung tak terbendung ke relung hidung. Maaf saya terlalu frontal menyebutkan kentut, karena saya kurang begitu tau kebebasan seperti apa yang dapat terasa oleh indra penciuman kita selain kentut. Oia, mungkin kita bisa menggantikan sebagai kebebasan untuk memilih harum atau bau ? mungkin itu sedikit lebih enak terlihat di mata dan terbaca pikiran teman teman. Itu semua kemerdekan dari suatu hal fisis yang terjelaskan oleh apa yang ditangkap oleh kelima indra kita. 

Ada bentuk/esensi yang tentunya tidak boleh kita lupakan untuk dimerdekan. suatu esensi yang layak pula kita merdeka kan. Esensi ini tidak dapat kita rasakan dan tangkap melalui kelima indra kita, sebuah esensi yang sangat halus. Ia tak mampu terkekang dan terjajah oleh apapun di luar dari diri kita. Yah, hanya diri kita lah yang dapat dan sayangnya sangat sering mengengkang dan menjajah esensi ini. “Pikiran kita” dan “Perasa kita”. 

Kapan terakhir kali kita memerdekakan kedua hal itu?

Merdeka itu apa, kawan, apakah hanya sekedar pada kebebasan untuk bertindak dan melakukan apapun yang ingin kita lakukan. Apa hanya sesederhana itu saja yang diperjuangkan oleh para pahlawan kita sampai mereka rela mengorbankan jiwa dan raga mereka? Hanya seperti itukah. Atau kemerdekaan itu memiliki arti yang lebih luas lagi, memiliki arti yang juga merdeka tanpa terbatas oleh arti yang sempit dan mengengkang.

Dirgahayu yang ke 75 Negeriku —-:Indonesia:—-

(Dewa Putu AM, 17 Agustus 2020)

Disclaimer
Feature Photo by Bayu jefri from Pexels

BencanaDaily LifeOpiniPsikologiUncategorized

“Normal Baru” untuk para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

May 10, 2020 — by dewaputuam0

man-in-black-jacket-in-front-of-bicycle-4008393-960x640.jpg
Dalam beberapa perjalanan kita, kadang ada tawa kadang ada tangis. Semua pengalaman itu memindahkan dan menggerakan kita dari situasi satu ke situasi lainnya ntah itu lebih baik ataupun lebih buruk. Kita memang merindukan perjalanan kita memang merindukan semua hingar bingar pesta itu, namun satu yang paling kita rindukan adalah “Momen Kebersamaan kita dengan orang orang yang kita cintai” (Photo by Rodolfo Quirós from Pexels )

Hai, bagaimana kabar teman teman sekalian sekarang, masih sehat kan. Semoga kita semua diberikan kesehatan ya dan semoga juga pandemi ini segera diselesaikan agar kita dapat hidup “Normal” kembali. Mungkin akan sama, mungkin akan sedikit berbeda, dan bukan tidak mungkin juga akan sangat berbeda dengan “Normal” yang sebelumnya kita rasakan. Apapun bentuk normal yang teman teman bayangkan dan percayai, ijinkan saya untuk mengutip satu quotes yang menurut saya akan sangat relevan untuk situasi sekarang ini dari seseorang yang hampir dari kita semu mengenalnya.

We can not solve our problems with the same level of thinking that created them.

-Einstein-

Sebuah permasalahan tidak akan dapat terselesaikan pada level berpikir yang sama dimana masalah tersebut terbentuk. Begitu juga dengan permasalahan Pandemi Covid19 ini yang tidak akan terselesaikan begitu saja pada level berpikir yang sama dimana permasalahan ini terbentuk. Dengan kata lain, agar permasalahan Per-Covid an ini segera berakhir kita perlu meningkatkan level berpikir kita, kemampuan kita, lebih jauh lagi kita harus menjadi pribadi yang lebih baik dari pada sebelumnya. “We must, come back better guys!”.

Jika teman teman yang sedang membaca artikel ini adalah orang orang terpilih yang berhubungan langsung dengan penangana Covid19 ntah itu para boss, rekan maupun kenalan saya di BNPB, praktisi kesehatan dan organisasi kemanusiaan lainnya terimakasih atas perjuangan kalian dan saya mohon berusahalah lebih keras lagi- sedikit lagi agar kita kelak bisa tersenyum sekali lagi. Kami semua disini percaya dan bergantung pada teman teman sekalian. Kalian luar biasa 🙂 .

Ku tahu memang berat namun percayalah kalain bisa. Dan untuk teman teman yang tidak tersangkut paut langsung dengan penanganan covid19 ini, percayalah teman teman juga sebenarnyalah salah satu kunci keberhasilan kita untuk melewati ini semua. Dalam setiap kisah perjuangan, berhasil atau tidaknya ada kontribusi teman teman di dalamnya.

Ini Sekolah kita bersama, Ini ujian kita. Mungkin sebagian dari kita tidak mampu melewati ini “Sendiri”. Tapi jika bersama, rasanya kita pasti bisa kok

Kita masuk sama sama kita juga harus lulus sama sama. Jika kata BillGates dan Istrinya, kelulusan ini bukan sekedar berjalan ke atas panggung dan mengambil lembaran ijazah. Lebih dari itu, kelulusan ini menandakan awal dari fase kehidupan kita selanjutnya yang tentunya sangat berarti untuk dirayakan terlebih karena kita berhasil melewati cobaan yang begitu berat (Photo by malcolm garret from Pexels)

Ada sebuah artikel menarik karya Bill dan Melinda Gates dalam blognya yang berjudul “Our message to the class of 2020”. Dalam tulisan tersebut Mereka menganalogikan pandemi ini sebagai sebuah kelas 2020. Sebuah kelas global dimana kita belajar banyak sekali hal baru. Dalam kelas 2020 ini kita belajar tidak hanya permasalahan yang jauh diseberang lautan namun sebuah permasalahan kita bersama wabah penyakit, segala macam bencana akibat perubahan iklim, ketidak setaraan gender dan juga kelaparan berdampak pada setiap dari kita di belahan bumi bagian manapun.

Kita memang berada dalam situasi yang sulit dan getir, kita tidak perlu menyangkal itu dan membohongi bahwa ini baik-baik saja. Bahkan untuk sebagaian dari kita mungkin saja akan mengalami situasi yang lebih pelik lagi dari semua ini baik dari kondisi kesehatan dan atau kondisi perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun membayar semua hutang. Meski banyak pelajaran yang menyedihkan melihat ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan kesakitan namun tidak sedikit pula pelajaran yang baik untuk kita bawa di kemudian hari nanti yang membuat kita tersadar tentang masih adanya sisi kemanusiaan didalam diri kita.

Saya jadi teringat pesan salah satu guru saya, 12 tahun yang lalu saat mau ujian nasional SMA. “Wa, kamu sama teman-teman mu kan masuk sekolah ini bareng bareng. Jadi lulus juga bareng bareng ya. Jangan lupa saling membantu ya”. Ini tentang ujian dan disana ada sebuah prinsip yang diajarkan yaitu kita masuk sama sama kita juga harus keluar sama sama, jangan sampai ada yang tertinggal. Dalam situasi seperti sekarang, kita masuk ujian yang sama yang bernama Pandemi Covid19. Sama seperti ujian pada umumnya, meskipun soal dan permasalahan yang diberikan memanglah sama namun kemampuan kita menanganinya tidaklah sama ada yang mudah saja mengerjakan dan melewatinya dengan nilai sempurna, ada yang mudah mengerjakan namun ternyata salah semua, ada yang berkeringat diri kesulitan saat menjawab namun hasilnya tidak buruk dan bahkan bisa dibanggakan namun tentunya ada pula yang kesulitan dan hasilnya pun merah menyala berkobar menyalakan getir dan nestapa. Tingkat kesulitan yang kita dapati saat menghadapi ujian ini tidaklah selalu sama.

Jika mengambil istilah posting intagramTV yang populer itu, “Kita tidak di perahu yang sama” meski kita menghadapi badai yang sama. Meski saya rasa sedikit kurang tepat cara meanganalogikannya sebagai badai, karena akan semakin mempersulit bagi kita untuk melihat hal baik dari badai dibandingkan “sebuah ujian”. Jadi saya lebih memilih menggunakan istilah ujian dibandingkan badai, bukan masalah benar atau salah tetapi sekedar untuk mengatur maindset saya agar melihat situasi ini sebagai sesuatu yang lebih dapat kita hadapi.

Ujian seperti ini “Nyontek dan Bekerja sama itu Legal!” Manfaatkan semua peluang agar kita bisa melewati ini semua bersama

Ini akan menjadi sejarah kawan. Kita akan menceritakan ini pada anak cucu kita kelak. Bukan hanya sebuah cerita tentang kebetulan dan takdir, namun lebih dari itu. Ini sebuah cerita tentang kita yang tidak pernah menyerah dan terus berjuang untuk hidup kita dan untuk dapat mewarsikan dunia ini pada generasi berikutnya. Kisah yang bagus bukan untuk jadi sejarah. Yuk kita mulai tulis cerita itu. ( Photo by Janko Ferlic from Pexels )

Jika di ujian lainnya kita tidak diperbolehkan mencontek, untungnya di ujian 2020 ini nyontek itu legal hehehe. Kita dapat meniru dan belajar hal yang baik dilakukan oleh orang lain. Menirunya pun tidak begitu sulit, dengan sedikit usaha untuk menelusuri melalui jejaring Internet, dengan mudah kita akan melihat apa apa saja yang telah dilakukan orang orang disekitar kita bahakan orang orang dibelahan bumi lainnya. Meski tentunya kita juga harus sedikit memilah milah kira kira mana yang relevan dan mana yang tidak relevan. Bukankah itu juga yang kita temukan kala kita nyontek? tidak selamanya kita menyontek orang yang jawabannya benar dan bisa saja kita akan mendapat zonk.

Untuk menentukan apakah itu jawaban yang benar atau salah tidaklah mudah. Terlebih dalam kelas 2020 ini kita semua sama sama berhadapan dengan sesuatu yang memang baru. Jika hal demikian yang terjadi, biasanya kita mencontek siapa? tentunya bukan pada orang-orang random tak jelas kredibilitasnya seperti saya kan. Kerdibilitas, kemapuan orang orang disini menjadi kunci, jadi untuk kita sekarang cukup percayakan saja pada ahlinya. Namun tidak sepenuhnya permasalahan ini kita jawab dengan melihat dan hanya mengikuti para ahli tersebut karena ini ujian kita masing masing. Setiap permasalahan tentunya memberikan dampak yang tidak selamanya sama. Untuk menyelesaikan permasalahan yang bersifat personal tersebut kita perlu juga mengambil langkah dan berjuang sendiri. Ntah itu permasalahan kesehatan ataupun Ekonomi kita, berhasil atau tidaknya ada kontribusi kita secara individual di situ. Jadi selain berjuang bersama, dalam waktu yang sama kita berjuang sendiri sendiri.

Satu-satunya cara untuk menguatkan diri agar permasalahan yang bersifat personal kita dapat teratasi adalah “Naik Level” ingat qoute dari mbah Enstein yang saya sandur di awal tadi. We can not solve our problems with the same level of thinking that created them. Kita harus berevolusi dan menjadi dirikita yang lebih baik lagi baik dari yang paling dasar dan abstrak seperti kemampuan pemikiran kita, emosi kita, hingga pada kemampuan fisik kita yang juga harus lebih sehat lagi.

Ada beberapa langkah sederhana yang telah saya lakukan dalam beberapa bulan karantina pribadi di kelas 2020 ini, mungkin kita melakukan hal yang sama mungkin juga tidak, mungkin ini dapat dijadikan ide untuk kalian sembari menjalani hidup kita dirumah, namun mungkin saja saran ini tidak begitu ada gunanya. Kita semua punya permasalahan masing masing kan :). Pada prinsipnya sih saya ingin waktu yang diberikan oleh kelas 2020 ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan saya secara vertikal (lebih mendalami bidang keahlian saya) dan juga horisontal (memperbanyak kemampuan kemampuan baru).

  1. Baca buku: kegiatan ini mungkin sedikit membosankan untuk sebagian orang namun dalam kondisi seperti sekarang agaknya membaca buku bisa menjadi salah satu alternatif untuk memperkaya pengetahuan kita. Ada tiga buku yang menurut saya bagus untuk dibaca kala pandemi:
    • Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl, buku tentang logoterapi yang ditulis oleh mantan tahanan kamp pengkonsentrasian nazi yang terkenal mengerikan yang dimana semua kebebasan direngut dan terus menghadapi hari antara hidup dan mati. Gagasan yang disampaikan dalam buku ini saya rasa sangat relefan untuk menghadapi masa yang sangat sulit dan penuh siksaan.
    • Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Ini adalah buku tentang filosofi Stoa atau Stoicsm. Melalui buku ini kita diajarkan berbagai hal namun yang paling mengena adalah soal dikotomi kendali yang memisahkan mana yang dibawah kendali dan mana yang di luar kendali kita. Buku ini bisa membuat kita tidak membuang buang waktu pada hal hal yang tidak bisa kita kendalikan dan lebih terfokus pada apa yang dapat kita kendalikan. Untuk ulasan lebih jelas soal buku ini bisa teman teman baca melalui link ini.
    • Everything is F*cked karya Mark Manson. Sebuah buku tentang harapan yang tidak hanya menyuruh kita berharap secara kosong namun lebih pada realisistis dan bertanggung jawab terhadap harapan harapan kita. Dalam bahasa indonesia buku ini diterjemahkan sebagai “Segala galanya Ambyar” sesuai sekali bukan dengan kondisi sekarang. Teman teman bisa membaca ulasannya melalui link ini.
  2. Ikuti Pelatihan dan Seminar Online. Saat pandemi seperti ini jadi banyak diskon untuk pelatihan/seminar online, bahkan ada beberapa yang mengeratiskan. Rugi rasanya kalau segala kesempatan ini kita lewatkan begitu saja #Iyakan. Sebagai contoh saya bulan lalu sampai sekarang mengambil paket premium yang diskon untuk pelatihan data sains dari DQLabs lumayan lah latian koding tipis tipis siapa tau kan dan saya yakin akan berguna saat kita lulus kelas 2020 nanti. Pelatihan yang dapat teman teman ikuti bisa berupa pelatihan komputer, pelatihan gizi anak, pelatihan memasak, menjahit, hingga pelatihan untuk olah raga di rumah untuk menjaga kebugaran. Semua itu terserah mana yang temen temen sukai dan minati.
  3. Tetap Menjaga silaturahmi dengan Kawan dan Sahabat: Komunikasi adalah kunci. Meski kita harus menjaga jarak selama pandemi ini namun jangan biarkan jarak fisik ini juga memisahkan memperjauh jarak komunikasi kita pada teman teman kita. (ku kemarin sempat keluar dari salah satu grup temen temen mantan kantor sik, bukan untuk melebarkan jarak tapi biar g ganggu saja kesibukan mereka sekarang soalnya saya rasa akhir akhir ini ku malah banyak ngeganggu hehehe) tapi secara personal tetap lah saya coba sesekali sekedar saling berbagi kabar dan candaan meski tidak jarang agak hambar dan gring tapi tak apa lah bisa dimaklumi dalam kondisi darurat seperti ini #Yekan.

Ketiga poin tersebut pada dasarnya adalah pengalihan Investasi. Investasi yang tidak hanya secara finansial namun juga personal kita. Saat situasi yang tidak begitu jelas ini. Berbagai instrumen investasi (Saham, Reksa Dana, Emas) menjadi goyang dan tak tahu akan kemana arahnya. Saat seperti inilah kita menggeserkan portofolio investasi kita pada investasi personal maupun interaksi interpersonal kita. Bisa ke otak dengan cara memperbanyak ilmu baik melalui buku bacaan ataupun pelatihan. Investasi juga perlu pada kesehatan kita dengan cara berolah raga secara lebih teratur (ini saya masih belum sih). Selain kedua hal itu kita juga perlu melakukan investasi pada hubungan interpersonal kita dengan orang orang didekat kita, teman kita, sahabat kita dan orang orang lain sebagai sesama masyarakat dunia ini 🙂

Kelas 2020 memanglah kelas yang berat dengan berbagai ujian yang tak kalah beratnya. Namun bukan karena beratnya ini membenarkan kita untuk egois dengan menyelamatkan diri kita sendiri dan meninggalakan teman teman kita, Abai. ntah lulus atau tidak. Itu jahat kawan. “Kita masuk kelas ini bersama jadi lulus juga akan indah bila tetap bersama bukan. Lalu kita akan rayakan kelulusan ini ditemani dengan secangkir teh dan biskuit sambil cerita tentang hari ini, tentang perjuangan kita, tentang sisi kemanusiaan kita yang tak pernah mati meski dihadang peliknya pandemi. Semua itu akan manis, asal kita lakukan bersama. Untuk menuju “Normal Baru” untuk kita para Calon Lulusan Jalur Pandemi Covid19

Yuk kita berjuang bersama

Sampai jumpa pada tahpan selanjutnya kawan

salam hangat dari saya

Dewa Putu AM.

(Feature Photo by Kate Trifo from Pexels)