Salah satu film karya Cristopher Nolan yang kembali membawa Matt Damon kedalam (MMDU atau Missing Matt Damon Universe atau juga Get Him Home Cinematic Universe) 😂. Lagi-lagi pria itu menghilang dan kesulitan untuk pulang ya saudara saudara. Setelah tersesat di lubang hitam pada film Interstellar (2014), tertinggal di planet Mars dalam film The Martian (2015) sekarang nyebrang laut pun ia tersesat selama 20 tahun di film terbarunya yang berjudul The Odyssey (2026).

Terlepas dari kesialan mas Matt-matt ini, film The Odyssey tetaplah menjadi filem yang mewah, khas dari karyanya Nolan. Untuk ini tentunya sudah banyak sekali yang membahas ya entah dari sisi art nya, pilihan pada efek praktikal dan meminimalisir CGI dan pilihan pengambilan gambar dengan menggunakan 100% IMAX yang imersive. Karena banyak yang membahas, frame pembahasan tersebut sudah cukup padat dan jenuh.

Dan ada satu sudut pandang menarik juga dari video abang Ferry Irwandi. Ia membahas dari fenomena opini dan penghakiman dari masyarakat yang ada meski hanya memiliki informasi yang minim. Menariknya kerangka pikir ini (meskipun pelik) kemudian juga digunakan untuk melihat peristiwa tragis tentang masyarakat yang hakim sendiri yang sedang ramai di Bali. Videonya bisa dilihat tautan Youtube ini. Saya suka video tersebut karena cukup mudah untuk memahami isu yang sebenaranya berat dan cukup riskan untuk dibahas karena bisa saja akan menyinggung beberapa pihak.

Tidak Sepenuhnya Pergi tetapi Benar-Benar Pergi

Satu hal yang menarik tentang film-film yang mengambil tema “kepulangan” adalah alasan awal dari kepulangan itu sendiri yang tidak lain adalah “Pergi”. Tanpa pergi, tentunya pulang tidak begitu berarti bukan? Begitu juga dalm film yang menceritakan kisah Kepulangan Odysseus, seorang raja dari kerajaan Ithaca di Yunani yang sebelumnya pergi ke Perang Trojan.

Dalam film ini saya melihat bahwa ke”Pergian” dari Odysseus dan beberapa tokoh yang ikut dengannya tidak hanya ditunjukan dari satu sisi saja yakni Odysseus dan tentaranya pergi dari kampung halamannya, tetapi juga memperlihatkan berbagai dinamika prang orang yang ditinggalkan, bahkan dari hal “terkecil” anjing yang ditinggalkan. Kepergian bukan hanya sekedar perjalanan “Pergi” tetapi selalu diikuti kehilangan karena “DItinggalkan”.

Dengan berbagai macam alasan dan tujuan Kepergian baik karena kewajiban, atau bahkan keterpaksaan karena situasi yang tidak adil. Seperti kasusnya Sinon yang semestinya tidak ikut tetapi justru ikut berperang, yang menjadikannya sangat kontras dibandingkan para tentara lainnya. Dan kepergian yang seperti itu tidak jarang justru berakhir pada suatu yang menyakitkan, seperti yang dilihat Sinon mati di awal tanpa tahu bahwa apa yang ia bawa “Kuda Trojan” memuat tentara didalamnya. Yup Sinon ditipu dua kali, pertama pada undian untuk berperang dan kedua saat berperang.

Meskipun pergi, ia sebenarnya tidak benar-benar bersama kepergiannya itu, dan justru benar-benar pergi di menit awal film (kasian Sinon).

Selain kepergian secara fisik, pada film Odyssey juga menceritakan kepergian nilai-nilai moral yang selama ini dipegang oleh Odysseus. Kepergian pada nilai moral inilah yang sebenarnya saya lihat menjadi konflik utama dalam film ini. Terlihat dan ditekan kan sekali bagaimana Odysseus sebenarnya sangat memegang nilainya itu dari pantangannya berburu rusa tanpa diketahui oleh sang rusa. Yup Odysseus sengaja membuat suara dari senarnya untuk memberi tanda kepada rusa bahwa ia sedang memburunya.

Ironisnya, nilai itu jelas sekali dilanggar pada perang Trojan, yang menipu para tentara Troya (Trojan) dengan kuda trojan yang terkenal dan merupakan buah gagasan dari Odysseus. Yah, orang yang sama dengan seorang pemburu yang berpantang memburu tanpa diketahui oleh rusa buruan nya itu dengan cara memetik tali busurnya.

Ironi itu semakin pelik ketika kisah kisah perjuangannya yang melukai nilai dirinya itu ternyata menjadi lagu lagu heroik yang diceritakan oleh orang orang disekitar keluarganya yang dirindukan serta merindukannya. Para penyenandung syair-syair itu tidak mengenal sosok Odysseus, namun seolah olah sangat mengenalnya dan mengabarkan kepergiannya yang tiada kabar sebagai kematian.

Baik Odysseus, Sinon, dan beberapa lainnya yang terlibat dalam perang Trojan pergi tetapi tidak sepenuhnya pergi tetapi juga benar benar pergi dalam beberapa hal lainnya. Membingungkan ya, tapi itu kompleksitas dan keindahan yang saya tangkap dari film karya Nolan kali ini.

Perjalanan Pulang – Kita Tidak Sepenuhnya Pulang

Sama dengan kepergian, kata “Pulang” di sini juga tidak kalah kompleksitasnya banyak kombinasi kepulangan yang dihadirkan dan diceritakan di sini. Seperti “kepulangan” Sinon yang diikuti oleh “Kepulangan” ayahnya. Kepulangan raja Agamemnon yang ternyata setelah kepulangannya tidak disambut dengan baik dan justru dihianati oleh istrinya yang dalam kisahnya menjadi alasan peperangan Trojan ini. Dan sebagai menu utamanya Odysseus yang sangat sulit untuk sekedar pulang.

Sama seperti kepergian yang tidak benar benar pergi, Kepulangan Odysseus juga tidak benar benar pulang. Dalam film ini Nolan menceritakan kepulangan Odysseus dengan cidera moral yang mendalam. Film ini menceritakan trauma mendalam yang dialami seorang veteran perang dan menjadi metafora dari PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).

Dalam perang yang brutal di Trojan itu, nilai nilai moral Odysseus seakan tercabik, tidak hanya diperlihatkan dari ide “Kuda” nya itu tetapi justru lebih gelap lagi tentang jahatnya peperangan itu sendiri yang mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit bahkan juga merengut nyawa banyak orang yang tidak bersalah.

Kenyataan ini menjadi sesuatu hal besar yang memutar balikan persepsi saya dan mungkin beberapa penonton lainnya yang menganggap film ini sekedar tentang petualangan (hukuman) dari para dewa kepada Odysseus yang ingkar pada aturan dewa. Berkali kali kita dikecoh pada beberapa pantangan dan kutukan dari para dewa yang membawa kita menganggap bahwa terombang ambingnya Odysseus karena hukuman dewa atas pelanggaran nya.

Namun ternyata diakhir kemudian terungkap dari sosok Athena yang selama ini banyak terdiam bukan karena kebohongan kuda trojan yang dijadikan hadiah bagi Dewi Athena, tetapi justru karena kekecewaan dan perasaan bersalah Odysseus pada korban korban tak bersalah dari perang Trojan tersebut.