Dark Light

Rating: 4 out of 5.

Halo semua, ini merupakan tulisan pertama saya di tahun 2022 sekaligus menjadi buku pembuka yang saya selesai baca dari salah satu pengarang favorit yaitu Malcolm Gladwell. Beberapa buku pengarang ini memberikan banyak perspektif unik kepada saya. Dari buku Tipping Point yang memberikan kita gambaran mengapa suatu hal bisa viral; Outliers, tentang para pencilan yang sebenarnya bukan pencilan; David and Goliath, tentang keunggulan dan kelemahan yang semu; What Dog Saw, tentang perspektif; Blink, tentang lemahnya cara pemikiran kita; dan juga yang terakhir saya baca yakni buku Talking to Stranger, tentang payahnya kita dalam memahami sesuatu hal.

Berdasar pengalaman membaca yang cukup menyenangkan dengan karya penulis ini membuat saya cepat yakin untuk membeli karya terbarunya sekarang, The Bomber Mafia. Tema perang merupakan tema favorit dari sang penulis, ia menyampaikan hal tersebut pada bagian-bagian awal buku dan secara tersurat juga ia mengakui menghadapi dilema saat harus memilih bagian-bagian mana yang akan ia ulas dalam bukunya. Hal ini saya rasakan ketika membaca, bila dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya, saya merasakan ada yang berbeda dari tulisan beliau saat ini.

Buku ini menjelaskan tentang sekelompok orang bisa dibilang sebagai generasi-generasi awal dalam berkembangnya teknologi kedirgantaraan untuk perang. Karena masih sangat awam dikenal kala itu teknologi pesawat tempur masih dipandang sebelah mata dan sekedar hanya digunakan untuk mendukung angkatan darat dalam membuka jalan dan menguasai suatu wilayah.

Hingga suatu ketika, sekelompok perwira militer Amerika dikenal sebagai (Mafia Bomber), terutama Mayor Jenderal Haywood S. Hansell, mengembangkan doktrin militer tentang pemboman strategis siang hari sebagai sarana untuk mengalahkan musuh dengan pemboman udara ketinggian tinggi yang presisi.

Jika dilihat orang awam seperti saya tidak ada yang spesial dengan hal itu namun ternyata banyak cerita menarik yang membuat kisah ini kemudian dibawa oleh Gladwell untuk ia tulis dalam buku barunya.

Peperangan dua Doktrin Antara presisi dan brutal

Sumber gambar Ipsos.com

Buku ini tidak hanya menjelaskan teknologi yang berkembang kala itu. Lebih dari itu, pada buku ini banyak menceritakan bagaimana perang tidak hanya tentang pertempuran fisik yang saling menghancurkan tetapi pula tentang pertempuran doktrin. Di era Perang Dunia ke II saat itu, angkatan udara biasanya digunakan untuk meluluh lantakkan seluruh isi kota untuk memberikan efek jera pada musuh. Doktrin ini disebut sebagai Area Bombing yang digunakan oleh Britain’s Royal Air Force’ di bawah komando Marshal of the Royal Air Force Sir Arthur Harris.

Menentang atas banyaknya Kehancuran dan korban jiwa sia-sia yang diakibatkan dari doktrin tersebut, membawa para mafia Bomber yang dalam sebelum perang (pada masa panas panasnya dan menuju peperangan) selalu berdiskusi dalam sekolah penerbangannya bagaimana seharusnya secara cepat mengakhiri perang kemudian menggeser dari doktrin pengeboman area menjadi pengeboman presisi. Hal ini didukung oleh berkembangnya teknologi  Norden bombsight sebuah alat untuk membidik dan menjatuhkan bomb dengan tingkat akurasi tinggi sehingga pesawat pembawa bom bisa menjatuhkan bomb di daerah-daerah yang strategis.

Dalam doktrin pengeboman presisi ini, para mafia bomber berusaha untuk menjatuhkan bomb dan menghancurkan objek vital suatu wilayah sehingga pihak musuh menyerah dan perang dapat berlangsung lebih singkat dengan korban jiwa sipil yang minim.

Biar bagaimanapun juga Perang tetaplah Perang

Bomb Atom yang dijatuhkan di Hiroshima

Doktrin yang diajukan mafia Bomber terlihat simple ya, namun ternyata dalam penerapannya tidaklah sesimpel itu. Gladwell menceritakan dalam bukunya doktrin tersebut nyatanya mengalami banyak tantangan dari awal perencanaan menentukan objek strategis yang hendak menjadi sasaran hingga berbagai hambatan baik dari faktor alam maupun non alam.

Dalam buku ini dijelaskan pula sulitnya untuk membidik dari ketinggian pesawat tidak hanya berurusan dengan faktor teknis menentukan titik menjatuhkan bomb dan sasaran. Karena pembidik yang ada masih memanfaatkan optik (belum ada teknologi berbasis GPS seperti sekarang) sehingga dalam penerapannya perlu dilakukan pada siang hari yang merupakan suatu ide yang konyol mengingat terbang ke wilayah musuh pada siang hari akan menyebabkan pesawat akan menjadi sasaran empuk bagi musuh.

Selain itu faktor alam juga menjadi salah satu hambatan yang cukup besar salah satu contohnya adalah penemuan saluran angin dengan kecepatan sangat tinggi yang mengalir di wilayah udara jepang (sekarang disebut dengan Jet Stream) dan kemudian berbagai penghalang geografis seperti pegunungan Himalaya yang ternyata membuat proses pengebom an wilayah Jepang menjadi suatu yang rumit. baik dari sisi timur maupun dari sisi barat.

Perang tetaplah perang, doktrin apa pun dalam perang tetaplah menghasilkan korban yang sangat besar. Dalam buku ini pada bagian akhir menceritakan sekelumit kisah penaklukan jepang, yang pada mulanya saya sangka semata mata karena dijatuhkannya bomb atom pada dua kota yakni Hiroshima dan Nagasaki. Sebelum dijatuhkannya dua kota tersebut peluluh lantakan berbagai wilayah Jepang ternyata gencar dilakukan letusan 2 bomb atom hanyalah puncak dari semua itu yang kemudian kita semua tahu Jepang akhirnya menyerah.

Kesimpulan Buku

Buku ini pada dasarnya menarik untuk dibaca. Melalui buku ini kita tidak hanya dibawa pada kondisi mengerikannya perang dunia kedua. Namun kita akan dibawa lebih dalam pada peperangan antara doktrin pengeboman presisi melawan doktrin pengeboman area. Dalam setiap peperangan, peperangan doktrin tersebut juga tetap menyebabkan banyak nyawa melayang.

Saya ingin mengutip frqsa dari salah satu film buatan Indonesia Batle of Surabaya yang menurut saya cocok dengan apa yang dibahas pada saat ini.

“There is no glory in war!”

Leave a Reply

Related Posts
Total
1
Share