main

FilmHiburan

[FIlm] Morgan (2016) karya Luke Scott

August 1, 2021 — by dewaputuam0

Capture-960x642.png

Minggu ini tampak begitu panas ya. Agak sedikit malas rasanya untuk jogging sore di minggu ini untuk sekedar menjaga Konsistensi dalam berolahraga dan menjaga kebugaran. hahaha alasan yang remeh tapi lumayan berdampak setidaknya untuk beberapa bulan ini sejak PPKM di Bali setiap sabtu dan minggu sore saya sempatkan untuk berolahraga.

Oia selain dalam berolahraga, saya juga sedang berusaha konsisten untuk membaca, bermain musik dan juga menulis. Salah satu bentuk usaha saya ya tulisan yang kawan kawan sedang baca saat ini. Mungkin tidak berat berat seperti pada tulisan sebelumnya Saya ingin menceritakan sebuah film yang semalam berhasil sedikit membuat saya terjaga hingga pukul 2 malam. Menurut saya film ini cukup menarik. Judulnya “Morgan”. Film ini keluaran tahun 2016 disutradarai Luke Scott dan diperankan oleh Anya Taylor‑Joy sebagai Morgan serta Kate Mara sebagai Lee Weathers. 

Alur Cerita Morgan Sang Manusia Buatan yang Memiliki Emosi dan Menginginkan Kebebasan

Sumber 20th Century Studios YouTube

[Spoiler Alert]

Pada dasarnya film ini menceritakan tentang sosok perempuan manusia buatan hasil rekayasa yang diberikan bernama “Morgan”. Manusia buatan tersebut pada dasarnya masih sangat muda dan baru berumur 5 tahun namun memiliki perawakan layaknya seorang gadis berumur 20-an tahun. Dalam film tersebut dijelaskan bahwa Morgan disini merupakan salah satu hasil dari lompatan teknologi yang sangat besar hingga ia dapat merasakan emosi layaknya manusia dan mempunyai kemampuan otonom atau dapat mengambil keputusan secara mandiri.

Konflik mulai muncul ketika Sosok “Morgan” ternyata menemui kegagalan pada sistem pengambilan keputusannya (Error) hingga dia melukai salah satu tim riset yang merawat dirinya. Kegagalan sistem tersebut disebabkan karena Morgan yang selama ini terkurung dalam sebuah lingkungan yang sangat kecil, diajak  oleh salah satu tim riset untuk jalan jalan melihat danau dan dikenalkan dengan konsep kebebasan sehingga dirinya yang saat itu belum siap memberikan respon yang tidak diinginkan.

Untuk mengatasi hal tersebut dikirim agen “Analis Risiko” dari perusahaan yang membiayai program Morgan yakni Lee Weathers. Agen tersebut ditugaskan untuk menganalisis risiko dari perkembangan proyek Morgan. Dan ia pun ditugaskan untuk melakukan “tindakan yang diperlukan” untuk menghabisi project morgan bila dirasa gagal. Di film ini ditunjukan konflik yang tidak hanya secara fisik namun konflik batin antara rasa memiliki (kecintaan) dari para peneliti kepada karyanya yang dalam hal ini adalah Morgan (dalam wujud manusia buatan) yang bila diperhatikan kece si aktingnya kelihatan kosong pandangannya.

Yah pada akhirnya dalam suatu uji yang dirancang untuk kecerdasan buatan, ternyata morgan tidak dapat lulus dan malah kembali mengalami error yang menyebabkan proyek Morgan harus dinyatakan gagal dan untuk Morgan harus dimatikan. Para peneliti yang tidak tega pun kemudian memberontak dan berusaha untuk menyelamatkan Morgan namun sayangnya malah terbunuh oleh Morgan, ciptaannya sendiri.

Akhirnya aksi laga pun dimulai dan morgan dengan dinginnya membunuh para penciptanya hingga tersisa satu saja seorang yang ia masih percaya dan yang sebelumnya mengajak dirinya bermain ke Danau. 

Lee Weathers pun mengejar dan memburu untuk membunuh Morgan. Dengan segala upaya akhirnya berhasil mengejar Morgan hingga ke sebuah danau yang dijanjikan oleh salah satu peneliti tersebut dan di sana Morgan akhirnya berhasil dibunuh oleh Lee Weathers yang ternyata merupakan salah satu manusia buatan sebelum morgan namun berbeda dengan Morgan yang memiliki emosi dan otonom, Lee Weather lebih dingin dan patuh terhadap misi yang diberikan kepadanya.

Morgan memiliki Ide Alur Cerita yang Menarik dengan Pembangunan Karakter yang Seperti Itu Saja

Photo by Tara Winstead from Pexels

Pada saat menonton film Morgan saya teringat akan dua hal yang pertama sebuah film lain yang mengangkat tema yang sama yakni Ex Machina karya Alex Garland. Yah, bila saya coba bandingkan film ini memang cukup jauh bila dibandingkan dengan Ex Machina yang saya anggap sebuah film yang dalam hal penyampaian bisa saya katakan nyaris sempurna. Namun dari segi ide masih mengangkat masalah yang sama yakni kecerdasan buatan yang berbalik melawan penciptanya.

Selain Ex Machina saya juga teringat pada buku yang sempat saya baca yakni Buku Army of None karya Paul Scarre yang saya pernah ulas dalam tulisan ini. Dari buku tersebut diceritakan banyak dilemma baik secara teknis maupun norma dalam menghadapi perkembangan mesin mesin otonom untuk peperangan.

Saya sebenarnya berharap sangat besar dari film ini di awal awal film. Saya berharap mendapatkan sajian konflik batin yang lebih mendalam dan perbenturan norma norma kemanusiaan dan segala eksistensinya yang ada. Namun sayangnya alih alih memberikan sajian konflik yang dalam film ini saya rasa justru kurang memberikan pembangunan karakter yang kuat dalam cerita.

Salah satu contoh yang sangat saya sesalkan, pada film ini menyebutkan bahwa Morgan memiliki kecerdasan yang sangat tinggi diatas orang orang kebanyakan namun alih alih memberikan tindakan tindakan yang cerdas, film justru menunjukan kemampuan Morgan sebagai cenayang yang mengetahui nama dan anak dari tokoh lainnya. Tidak ada kemampuan yang spesial dari kecerdasan buatan tersebut seperti memanipulasi pikiran, logika dan emosi orang seperti yang dilakukan di film Ex Machina. Yah saya akui memang kurang sedikit fair si jika saya membandingkan film ini dengan film sekelas Ex machina hehehe.

Sekian tulisan saya hari ini, jika disimpulkan film ini saya rasa masih termasuk filem yang menarik untuk ditonton namun jangan terlalu berharap akan dihadapkan dengan konflik batin yang sangat dalam. Namun saya rasa dalam beberapa adegan film ini sebenarnya sudah mencoba untuk membangun hal tersebut, namun ekspektasi saya saja ya yang mungkin terlalu tinggi. Saya rasa nilai 3.5 dari 5 film ini sangat layak untuk diberikan. Dari ide dan ekspresi tokoh utama yang dingin itu yang paling saya suka dan menurut saya sangat keren.

Saya rasa itu saja dulu yang dapat saya ceritakan dalam tulisan ini. Sampai jumpa pada tulisan saya berikutnya.

Salam

Dewa Putu Am

Feature Image by: IMDB

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Matinya Kepakaran karya Tom Nichols

July 25, 2021 — by dewaputuam0

20210725_195717-2-960x540.jpg
Photo by Uriel Mont from Pexels
“Sudut pandangku tentang mereka
Yang banyak tanya tanpa membaca
Katanya sekolah, tapi otaknya mana?
Tolong dirubah pola fikirnya”
-eńau,  Negara Lucu-

Sebuah lirik lagu yang cukup menyindir saya. Miris namun mau bagaimana lagi kan ya, kadang saya tidak luput dari sebuah perasaan yang menggap mengetahui segala hal. Dari kondisi sosial ekonomi negara kita, saham, teknologi terkini, kesehatan, psikologi dan apapun yang orang bicarakan meski kecil suka atau tidak suka selalu ada keinginan untuk dapat terlibat dalam perbincangan bahkan untuk debat pun kita siap. Tentunya dengan “sedikit” bantuan gawai yang terkoneksi dengan internet.

Halo semua, selamat berakhir pekan kawan, semoga semua sehat ya dalam kondisi sekarang. Jangan lupa banyak minum air putih, makan makanan yang sehat dan rajin olah raga ya. Masih terkait pada paragraf sebelumnya kali ini saya akan berbagi review saya tentang sebuah buku soal masalah “kepakaran kita”. Jika dirunut dari kepemilikan buku ini, pada dasarnya saya sudah punya dari kisaran tahun 2018 an namun masih dalam versi ebook, itu pun diberikan rekomendasi oleh salah satu teman saya di kantor yang lama.

Awal melihat, saya cukup tertarik namun hanya dibaca beberapa lembar saja dan saya tidak tahu mengapa tiba tiba malah beralih ke buku buku lainnya jadi terlupakan gitu aja. Hingga sampai satu atau dua tahun lagi akhirnya saya justru menemukan lagi yang kali ini berbahasa Indonesia. Beberapa kali saya tetap melewatkan buku ini dan membaca buku buku lainnya baru kemudian bulan juni lalu saya berkeinginan dan akhirnya membeli buku ini.

Dari segi fisik buku ini masuk kategori buku yang tidak terlalu tipis juga tidak terlalu tebal, rata rata kebanyakan buku sekarang yang ketebalannya hanya mencapai 300 lembar. Meskipun dari sisi desain cover saya termasuk orang yang kurang begitu puas. Namun secara umum dari sisi isinya buku ini termasuk oke dan banyak memberikan saya beberapa pandangan baru tentang fenomena “kematian Kepakaran” yang rasanya sudah lama sekali kita rasakan dan saya pun merasa sedikit khawatir dan cukup jengah dengan keadaan yang seperti ini.

Banyak gagasan menarik yang saya setujui dari buku ini, namun harus saya akui juga bahwa ada beberapa yang saya kurang setuju lebih kepada tendensinya saja. Saya kurang begitu suka suasana yang dibawakan penulis ke buku ini yang menurut saya seperti seorang “penggerutu yang pesimistis”. Meski si penulis juga mengakui hal tersebut dan memberikan satu bagian yang berisi hal hal positif tetapi saya rasa itu masih kurang cukup signifikan untuk menggantikan kesan yang sudah dibangun penulis pada setiap babnya.

Setiap Pendapat Sama baiknya Dengan Pendapat yang Lain?

Photo by freestocks.org from Pexels

Permasalahan awal yang diutarakan oleh penulis adalah kegelisahannya tentang berbagai fenomena yang berkembang di sekitar kita saat ini dimana banyak sekali orang berperan sebagai ahli. Dari murid, mahasiswa bahkan tidak jarang orang tua murid yang dengan segala kemahatahuannya mengajari guru atau dosen bagaimana mengajar yang baik dan benar hingga pada hal hal yang sebenarnya berbahaya  namun tetap dilakukan seperti orang orang yang dengan pengetahuan dan pemahaman luar biasanya “dari grup facebook, atau sekedar video youtube” beranggapan memahami ilmu kesehatan dan dalam situasi pandemi ini sebenarnya akan cukup mengerikan dampaknya yang tidak hanya berdampak pada kerugian diri sendiri bahkan bisa membahayakan nyawa orang lain. Dalam situasi yang sangat apes hal hal seperti ini bukan tidak mungkin akan berdampak hingga pada tumbangnya sistem kesehatan suatu wilayah yang semoga hal itu tidak terjadi ya.

Saat ini, entah itu atas nama “Demokrasi” atau hal lainnya. Kita diberikan kebebasan yang besar untuk mengutarakan berpendapat. Meskipun yang dibahas kasus kasus yang terjadi di Amerika tapi kondisinya ternyata tidak terlalu berbeda dengan apa yang terjadi saat ini di negeri kita. Atas nama demokrasi seringkali kita menganggap bahwa Setiap Pendapat Sama baiknya Dengan Pendapat yang Lain. 

Baik soal Sains maupun kebijakan, kesemua fenomena ini memiliki ciri menggelisahkan yang sama: pemaksaan bersifat solipsis yang menuntut agar semua pendapat diperlakukan sebagai kebenaran. Ketidaksetujuan seseorang seringkali diartikan tidak menghormati. Mengoreksi orang lain juga sering diartikan penghinaan. Kita yang menolak untuk mempertimbangkan pemikiran orang lain, betapapun pandangan itu tak masuk akal dan mengada ngada bisa dikatakan bahwa pikiran kita masih belum begitu luas.

Perkembangan Dunia Kampus yang Meresahkan dan Mempercepat Kematian dari Kepakaran

Photo by RF._.studio from Pexels

Perkembangan dunia kampus/ perguruan tinggi  juga tidak luput dari pembahasan dan dianggap menjadi salah satu penyebab matinya kepakaran kita. Bahkan dalam salah satu babnya Tom Nichols menuliskan bahwa “Perguruan tinggi kini dipasarkan seperti paket liburan selama beberapa tahun, bukan sebagai kontrak dengan institusi dan dosen untuk perjalanan pendidikan.

Model industri pendidikan telah merendahkan perguruan tinggi menjadi sekedar transaksi komersial, tempat mahasiswa diajarkan menjadi konsumen pemilih dan bukannya pemikir kritis. Itu semua membuat  kepakaran goyah, sekaligus memperkuat perlawanan terhadap ilmu yang telah mapan.

Cara pandang seperti ini membuat beberapa universitas bahkan memberikan kemudahan yang sangat besar bagi mahasiswa dalam mendapatkan nilai sehingga terjadi inflasi rataan nilai yang signifikan. Nilai kini tidak lagi berfungsi sebagai alat ukur kita dalam melihat sejauh mana seseorang memahami sebuah konsep namun lebih kepada daftar bahwa mahasiswa tersebut pernah bertemu konsep tersebut. 

Terlepas ia paham ataupun tidak. Hal ini tidak bisa kita salahkan kepada para dosen saja karena kalau mereka memberikan nilai yang benar benar objektif maka banyak implikasi yang mereka dapat dan juga pada kampus yang menjadi kurang diminati oleh mahasiswa. Sebagai pelanggan di toko pendidikan ini, mahasiswa selalu benar.

Kemudahan dalam mendapat  gelar membuat beberapa orang seperti kita terkena semacam delusi yang menganggap kita memahami dan sudah masuk kedalam kriteria “Pakar” (termasuk saya ini hehehe) meski pada kenyataannya tidak demikian mudah. Kampus pun kemudian menjelma dari sebelumnya merupakan suatu ekosistem pembelajaran dimana para mahasiswa dan dosen dapat bertukar gagasan dan pemikiran secara intens kini berubah menjadi badan usaha yang lebih “usaha”.

Simpulan dari Buku Keluh Kesah “Pakar” akan Kematiannya yang Menyedihkan

Photo by Polina Zimmerman from Pexels

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, Melalui buku ini saya mendapatkan banyak sekali gagasan yang menurut saya baru. Banyak aha momen yang saya dapat dari buku ini dan memberikan saya perspektif yang bahkan sebagian besar justru meruntuhkan pola pandang saya yang lama. Salah satu gagasan yang menurut saya menarik adalah tentang kondisi pendidikan tinggi yang juga sedikit saya bahas di sini.

Itu baru dari sisi sistem pendidikan. Dalam buku ini dibahas bagaimana percakapan keseharian kita, algoritma dalam mesin pencari (internet), gaya baru dari jurnalisme, hingga apa yang sekarang ini dilakukan para pakar justru semakin mendekatkan kita kepada “Kematian Kepakaran”. Hampir semua gagasan disini mengarahkan kita ke satu arah yang jelas bahwa kematian kepakaran itu sudah ada di depan mata kita dan terus berlangsung tidak peduli secara sadar ataupun tidak kita sadari yang kita lakukan sekarang justru mempercepatnya.

“Termasuk apa yang penulis lakukan dengan menulis buku ini”, atau mungkin termasuk yang saya lakukan dengan menulis ulasan tentang buku ini. Termasuk juga yang teman teman lakukan saat membaca tulisan saya di blog ini. Semua saja seperti itu ya hahaha. 

Kalau saya simpulkan, pada dasarnya buku ini sangat bagus untuk kita baca sebagai  pengingat dan meningkatkan kehati hatian kita agar apa yang terjadi sekarang dapat kita antisipasi dampaknya. Dan juga agar kita tidak terlalu terjerembab ke dalam hal hal negatif yang penulis banyak paparkan. Pada awalnya saya memang menyukai semua gagasan yang diberikan namun kemudian saya sejenak tersadar satu hal.

“Satu satunya hal yang tidak akan berubah adalah perubahan itu sendiri. Termasuk apa yang kita sebut dengan kepakaran. Kepakaran menurut saya tidak akan mati, namun akan bergeser dan berubah definisinya sesuai dengan perkembangan zaman”

Apa yang perlu kita lakukan bukan pada menyinyir segala kelemahan sistem serta kekurangan situasi yang ada di sekitar kita. Namun menurut saya kita lebih semestinya ikut memilih dan memilah lagi apa yang memang ada di dalam kendali kita “kepakaran kita” dan mengusahakan agar pergeseran definisi ini tidak merusak tujuan utama dari kepakaran itu sendiri untuk bermanfaat dan tetap memanusiakan manusia.

Sekian tulisan dari saya kali ini. Terimakasih atas kesediaan waktu teman teman sekalian untuk sekedar membaca tulisan saya yang hanya seorang remah remah rengginang ini.

Salam

Dewa Putu A.M.

Daily LifeOpiniUncategorized

Sebuah Buku Sejarah Berisikan Kisah Perjuangan Kita Saat Ini

July 18, 2021 — by dewaputuam2

pexels-josh-hild-4256852-960x640.jpg
Photo by Engin Akyurt from Pexels
(Photo by Engin Akyurt from Pexels)

Hai, Bagaimana kabar kalian di sana? Beberapa hari ini melelahkan ya kawan. Melihat pemberitaan yang ada, mengharuskan kita untuk mengakui bahwa kondisi sekarang memang tidak sedang baik baik saja. Tidak masalah untuk mengakui itu, bukanlah dosa kok. Tidak baik baik saja bukanlah kutukan yang harus disembunyikan. Kita tidak harus pura pura tegar bagai batu karang yang dihempas berbagai halangan yang merintang. Yah, kita memang hanya seorang manusia yang bisa saja merasakan terpuruk. 

Hidup terkadang memang jahat. jadi tak perlu bersusah payah membohongi dan berangan-angan tentang hari esok yang secara ajaib akan menjadi seperti sedia kala. Kita perlu menerima semuanya entah itu rasa manis ataupun rasa pahit yang menggigit. Tidak mudah memang, namun itu satu satunya yang perlu kita perbuat, sebelum kita berusaha mengobatinya,

Menerima kondisi kita bukan berarti kita harus dengan pongahnya bersiar kabar bahwa kita adalah korban dari tokoh khayalan kita yang semena mena memperlakukan kita dengan tidak adil. Kalau toh memang benar apakah semua itu akan menjadikan kita lebih baik? Atau setidaknya merasa lebih baik. Jika jawabannya Ia, maka lanjutkanlah apa yang kamu rasa benar.

Lagi pula, sekuat apapun usaha yang dilakukan, kita tidak akan bisa memaksakan apa yang menjadi rasa dan kuasa orang lain. Bersusah payah untuk mengubah apa yang diluar kendali kita seperti itu bukan hanya sia sia, namun mengganggu fokus kita yang seharusnya mengubah apa yang ada di dalam kendali kita. Itu saja cukup.

Kita Nomaden yang berpindah dari Satu Tempat Ketempat Lain, dan dari Satu Situasi ke Situasi Lainnya

(Photo by 祝 鹤槐 from Pexels)

Jika kita lihat lagi kebelakang, banyak hal yang sudah kita lewati sampai jadi seperti sekarang ini. Banyak hal yang kita lalui dengan berbagai rasa yang tersimpan meninggalkan kesan di dalam ingatan kita, entah itu kesan yang membuat kita tersenyum simpul ataupun kesan yang kadang membuat kita bergidik.

Kabar baiknya, kita sudah melalui itu semua. Kabar buruknya juga kita telah lalui itu semua. Meski dari frasa nya tampak sama, namun percayalah kita ketahui bersama kalau semua itu berbeda. Jika beruntung terkadang hal buruk akan berlalu begitu saja dan digantikan kebaikan yang berlimpah. Namun jika sedang terpuruk kadang hal buruk pun kemudian diselipi hal yang lebih buruk lagi.

Tapi setidaknya, alih alih menyerah, kita sudah sampai di sini sekarang. Ya, dengan perjuangan heroik yang luar biasa, kita terus bergerak. Kita terus melangkah walau tidak jarang kaki ini sudah lelah. Kalian hebat kawan.

Diakui atau tidak, perjalanan kita sekarang merupakan perjalanan yang luar biasa ya kawan. Kita terus berjuang dalam berbagai kesulitan yang menghadang, walau sebagian dari kita ada yang letih tertatih untuk sampai sini saat ini. Apapun jalan yang kita lalui itu setidaknya kita sampai sini sekarang. Kita tidak tahu dimana titik finis dari perjalanan kita kali  ini semua orang melukis kisah yang berbeda dengan tinta dan kanvas yang berbeda pula. 

Tetapi ada satu yang sama, Kita Semua Nomaden. Nomaden yang berpindah dari satu tempat ketempat lain, dan dari satu situasi ke situasi lainnya. Mungkin ada beberapa diantara kita, kerabat kita dan kawan kita yang tidak dapat melanjutkan perjalanan ini. Namun yang perlu kita tahu mereka mereka semua itu masihlah seorang pejuang, yang terus berjuang sampai garis akhir mereka dan kemudian terpisah menuju kisah yang selanjutnya. Sebuah kisah yang akan mempertemukan kita kembali di sana.

Sebuah Buku yang Menulis Tentang Perjalanan Kita

(Photo by Engin Akyurt from Pexels)

Pernah terbesit dalam benakku, apakah perjalanan kita ini sudah layak dijadikan sebagai tema besar dalam sebuah buku sejarah setebal ratusan bahkan ribuan lembar?

Coba kita berangan angan, perjalanan kita sekarang akan tercatat dalam buku sejarah dimana ada sebuah generasi terus melangkah bahkan dalam situasi  yang sangat sulit dan sangat mungkin untuk kalah. Generasi kita cukup tegar meski permasalahan harus kita akui terus bermunculan di sana sini.

Oh ia dalam buku itu kita juga akan ditulis sebagai generasi yang tidak pernah meninggalkan sisi manusia kita, dalam situasi  apapun. Kita saling menguatkan orang orang disekitar kita, kita selalu berbagi aura positif namun terjaga realistis. Berita bohong, saling tuding salah tanpa solusi entah apalah itu. Di generasi kita tidak pernah hal hal serendah itu bukan.

Tidak ada itu istilah covidiot, karena kita semua cerdas dan bijak dalam menghadapi ini semua. Tidak ada orang yang hanya bisa memaki maki dan julid kepada apa yang menjadi keharusan pihak berwenang namun salah dilakukan. Karena kita semua sadar bahwa kita semua memiliki keharusan dan kewenangan yang paling berpengaruh terhadap apa yang terjadi pada diri kita sendiri. Hal ini karena kita semua memahami, bahwa di situasi sulit seperti ini saling menyalahkan dan berkeluh kesah bukan hal yang bijak bahkan terbesit dalam alam pikir kita pun sepertinya tidak pernah. Kita sadar bahwa meskipun sulit, kita tidak akan pernah meninggalkan sisi kemanusiaan kita. 

Buku sejarah yang indah ya kalau ditulis seperti itu. Namun sebelum buku itu selesai ditulis, tetap bertahan ya kawan. Dan tetaplah berjuang sampai garis akhir. Cerita ini akan terus tertulis, apapun yang kita lakukan akan terus tertulis dalam kisah kita.

“Sejarah ditulis oleh pemenang”, demikian ungkapan Winston Churchill mantan perdana menteri Britain paling terkenal di dunia. Jadi untuk dapat menuliskan sejarah ini jadilah pemenang. Lakukan apapun yang kamu anggap benar tanpa melukai sisi kemanusiaan kita agar sejarah yang kita tulis akan tampak manis dan layak untuk dibanggakan kepada generasi generasi setelah kita. Akan seperti apa generasi kita dikenal sangat tergantung dari apa yang kita lakukan sekarang.

Salam Hangat Dari Saya

Dewa Putu AM

NB: Featured Image by Josh Hild from Pexels

BukuHiburanUncategorized

[Buku] Invested, 12 Bulan Menuju Financial Freedom karya Danielle Town

July 11, 2021 — by dewaputuam0

pexels-photo-6844402-960x1280.jpeg
Investasi terbaik yang memiliki perang paling penting dalam kehidupan kita mungkin bukanlah portofolio saham kita, emas kita juga bukan, bukan pula properti. Investasi terpenting kita bisa jadi lebih dekat dari semua itu bisa kesehatan, waktu untuk keluarga kita, dan pengetahuan yang kita konsumsi.

Kembali lagi bersama saya kawan. Pada tulisan ini saya tertarik untuk mengulas sebuah buku ketiga yang saya baca pada tahun ini. Buku berjudul Invested, 12 Bulan Menuju Financial Freedom karya Danielle Town. Dari judulnya akan mudah sekali menebak apa yang akan dibahas dalam buku ini yang tidak lain adalah tentang investasi. Lebih spesifik lagi tepatnya tentang investasi nilai (Value Investing) sebuah paradigma investasi yang sejak beberapa dekade terakhir banyak dianut oleh orang orang sampai sekarang. Sebut saja Warren Buffett dan para kroninya akan banyak dijumpai pada buku ini.

Saya membeli buku ini dari sebuah toko buku di Kota Denpasar bersamaan dengan kedua buku lain saat bermaksud ingin membeli gitar. 🙂 Saya akui akan terbaca agak random, tetapi itulah kejadian sesungguhnya hahaha. Saat itu saya merasa cukup bosan dan terbesit di pikiran untuk membeli gitar agar ada hiburan di kosan. Namun sesampainya di sana, saya melihat gitar gitar disana kurang menarik (terlampau mahal) akhirnya saya melirik lirik buku-buku saja sembari berpikir apakah saya harus mebeli gitar itu atau tidak. Beberapa kali putaran dengan pikiran kosong tiba tiba dengan cekatan tangan ku meraih tiga buku dan kemudian pulang. Buku ini salah satunya 🙂 . 

Jika dilihat dari bentuk fisiknya, buku ini memiliki ketebalan yang sedang sedang saja yakni hanya 384 halaman. Disain sampulnya pun kurang begitu mkenarik dan mirip sekali dengan buku buku investasi yang standar yakni tiga toples koin yang dijadikan sebagai pot tanaman. Entah apa maksud dari pemilihan ilustrasi yang demikian. Kenapa banyak sekali buku buku tentang investasi mengambil ilustrasi yang sedemikian membosankan. Mungkin mereka ingin mengambil makna bertumbuhnya ya, jadi seolah olah berinvestasi akan menumbuhkan uangmu dari kecil untuk kemudian menjadi semakin besar #entahlah.

Saya rasa cukup pendahuluannya. Kita sekarang memasuki pembahasan tentang buku ini ya. Karena meski dari segi desain buku ini cukup membosankan namun dari isi, buku ini masih saya golongkan dalam buku bacaan yang menarik untuk dibaca.

Kisah Keresahan Seorang Anak dari Investor Hebat yang Alergi dengan Investasi

Sosok Danielle Town sang penulis dan Ayahnya Phil Town membuat sebuah podcast berjudul (InvestED: The Rule #1 Investing Podcast Phil Town & Danielle Town terkait Investasi yang kemudian dituliskan dalam sebuah buku yang saya ulas dalam posting ini. Sumber Gambar: blog resmi Danielle Town (danielletown.com)

Ini yang saya rasa menjadi nilai unik dari buku Invested karya Danielle Town anak dari seorang investor dan motivator Amerika Phil Town. Pada awalnya saya berharap bahwa buku ini adalah buku seseorang yang dengan gigih berusaha keras ingin mencapai mimpinya berjuang berinvestasi dengan harapan menjadi kaya atau hal hal  mulia lainnya, khas buku buku pengembangan diri lainnya.

Ternyata saya salah. Buku ini lebih sederhana dan dari itu, dan bisa dikatakan apa yang dihadapi seperti dilema dan kekhawatiran kita akan masa depan ketakutan uang kita hilang dan berbagai permasalah permasalahan remeh seperti tidak percaya diri dengan kemampuan matematika atau hitung hitungan mungkin akan banyak yang mirip dengan kondisi para millennials saat ini. Ini juga yang menjadi kekhawatiran saya yang terkadang berpikir sebenarnya kita kerja keras seperti ini yang muter sana sini, kadang ada rapat malam malam, dead line, belum lagi harus berpikir keras sampai kadang limbung dunia bergoyang goyang itu untuk apa? Apakah kita akan seperti ini terus sampai usia senja kita nanti yang harus cari uang, dapat uang, makan, keluar uang, uang habis, cari uang lagi. Semua itu saya rasa melelahkan dan terasa sangat hampa tanpa makna.

Berat sekali ya, tapi kalau mau disederhanakan mungkin akan seperti ini. Kalau kita harus cari uang terus seperti ini untuk sekedar makan dan hidup. Yang jadi pertanyaan mendasar adalah sampai kapan kita kuat untuk bekerja dan mendapatkan uang? 

Sekarang justru terbaca mengerikan. Oke daripada terus berandai andai dan semakin mengerikan  bila dibayangkan. Kita kembali pada pembahasan tentang buku ini. Karena di dalam buku ini juga penulis mengalami keresahan yang sama dengan kita.

Buku ini juga diawali dengan kegelisahan sang penulis tentang masa depan keuangannya dan kesehatannya. Meski pada masa mudanya, sama seperti para para fresh graduate lainnya sangat idealis dan merasa pilihan hidupnya sudah menjadi tepat untuk memperindah masa depan keuangannya. Namun ternyata yang dihadapi saat ini tidak sesuai dengan ekspektasinya. Beragam keluhan, kerjaan yang sangat  padat, waktu yang banyak hilang dan terbuang bahkan untuk saat saat penting keluarga pun terlewat begitu saja karena derasnya arus kerjaan. Begitu juga dengan kesehatan fisik dan mental semakin terganggu yang menyebabkan ia harus mengkonsumsi beberapa obat hanya untuk dapat bekerja lagi di esok hari. Begitu terus hari hari yang ia lalui. 

Tidak hanya penulis, teman temannya pun merasakan hal yang sama dan memerlukan berbagai macam terapi hanya untuk bisa bekerja lagi. Belum lagi sebuah kenyataan pahit bila dilihat di level yang lebih tinggi lagi ditemui bahwa hanya sedikit orang yang dapat bertahan sampai habis masa jabatannya, yang lainnya berhenti karena alasan kesehatan atau meninggal dunia. “Kita semua lelah, dan menganggap wajar untuk merasa seperti itu karena hal ini sangat umum terjadi. “Bersandar” pada pekerjaan kita dianggap sebagai kebaikan. 

Beberapa permasalahan itu tidak asing bukan untuk kita kita di sini? Budaya kerja yang tidak begitu sehat tidak hanya dapat merusak berbagai hubungan pertemanan, keluarga. Namun juga dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental kita bahkan membahayakan nyawa kita. Di sini saya sepakat dengan penulis bahwa ini memang tidaklah sehat dan perlu ada sesuatu untuk mengubah ini semua. Setidaknya agar kita sendiri dapat terlepas dari alur yang seperti itu.

Penulis pun berpikir serupa, sehingga dia pun mengambil keputusan untuk menghubungi ayahnya yang seorang Investor Nilai yang hebat dan juga merupakan motivator untuk  hal itu. Ayahnya sebenarnya berkali kali berusaha untuk mempengaruhi penulis agar mau belajar berinvestasi. Namun karena trauma yang mendalam penulis akan hal hal berbau investasi plus matematika. Namun hal yang menjadi alasan utama adalah rasa kecewa penulis kepada ayahnya yang menghilang dan meninggalkan saat penulis kecil dan ibunya dalam kondisi sangat sulit secara finansial. Hal itulah yang menyebabkan ada dendam dari penulis kepada ayahnya saat itu. 

Kalau bukan karena kegamangannya tentang masa depan finasialnya serta beberapa keresahan nya itu, ditambah lagi ia tahu bahwa ayahnya sebenarnya orang yang tepat untuk ditanyai tentang masalahnya itu sebenarnya ia enggan menghubungi ayahnya. Dengan emosi berkecamuk akhirnya ia menghubungi ayahnya untuk meminta diajari tentang berinvestasi.

Buku ini tidak hanya secara murni memberikan kita berbagai pelajaran tentang bagaimana cara berinvestasi nilai yang baik. Namun lebih dari itu melalui buku ini Danielle Town membawa kita untuk ikut roller coaster emosinya keresahan, rasa takut, kemudian dilingkupi rasa bersemangat menggebu gebu, kemudian putus asa lagi kemudian bingung dan bergolak terus saat belajar tentang investasi bersama ayah yang ia benci. Membuat buku ini bak sebuah novel yang cukup menarik untuk diikuti jalan ceritanya tidak hanya sebatas ilmu ilmunya saja. Oh ia hampir saya lupa, seperti novel novel novel lainnya di buku ini selain ada beberapa konflik di pemeran utama, kita juga disuguhi cerita percintaan dirinya.

Berinvestasi pada Nilai dan Cerita Perusahaan yang ingin Kita Dukung

Investasi tidak hanya sebatas pada kita beli perusahaan dan kemudian pergi bergitu saja sambil berharap perusahaan itu akan berkembang dengan sendirinya. Berinvestasi tidak sespekulatif itu (Photo by Karolina Grabowska from Pexels)

Pada bab awal buku kita akan disuguhi keresahan penulis tentang masa depan finansialnya, dan kenapa sang penulis berniat untuk belajar dari ayahnya meski ia benci. Masih di awal pertemuan kita akan diajak penulis bersama ayahnya untuk memahami peraturan nomor 1 dan saya rasa satu satunya dalam berinvestasi yakni “Jangan Kehilangan Uangmu”. Di bagian ini kita akan dijelaskan bagaimana kita akan kehilangan uang kita bahkan jika kita hanya menaruhnya di bank. Kehilangan disini tidak sebatas pada nominalnya namun juga pada nilainya, atau dengan kata lain yang sederhana uang kita tergerus oleh inflasi.

Berikutnya kita akan dijelaskan tentang landscape investasi yang ada saat ini dimana sebagian besar uang yang beredar pada pasar saham merupakan dana dana kelolaan manajer investasi yang dihimpun dari orang orang yang entah sadar ataupun tidak sadar menempatkan uangnya di situ untuk dana pensiun. Di bagian ini sih yang membuat saya agak deg deg ser, karena pada bagian ini dikatakan bahwa para manajer investasi itu pada dasarnya tidak dibayar untuk menghasilkan uang dari uang yang berhasil dihimpun itu. Sehingga, ntah hasil investasinya berhasil berlipat ataupun justru berkurang mereka akan tetap diberi upah. Ini mekanisme dari reksa dana dan apapun itu bentuknya yang mengharuskan kita mempercayakan uang kita pada orang lain. 

Hal ini yang kemudian membuat saya sempat berpikir untuk memindahkan sebagian dana yang saya taruh ke reksa dana kepada bentukan investasi lain. Kalau saham semua sepertinya akan agak riskan memang mengingat volatilitasnya bikin deg deg ser. Untuk ini akan saya pikirkan lagi nanti.

Oke praktik kelam dari perusahaan manajemen investasi itu baru permulaan saja pikir saya. Maski ide ide yang ada dalam buku ini tidak kesemuanya harus kita taati, kita tetap  perlu memilah mana yang bagus dan mana yang “perlu ada sedikit penyesuaian” bila mau kita terapkan di sini. Saya sengaja menggunakan frasa “perlu ada sedikit penyesuaian” alih alih menggunakan frasa “tidak relevan” karena saya sadari hampir ke semua ide dalam buku ini masuk akal, sulit rasanya mencari yang tidak relevan kecuali nama nama perusahaannya. Namun jauh dari itu semua menarik dan sangat masuk akal untuk dicoba.Ada beberapa ide yang saya suka dalam buku ini.

Memilih misi apa yang harus dilakukan dengan uang kita. Ini mungkin sangat standar di setiap pelajaran terkait investasi kita perlu memberikan alasan spesifik atau tujuan yang jelas untuk uang kita kedepannya. Nilai nilai penting yang kita jadikan misi untuk uang kita tidak hanya terfokus sebatas pada “aspek finansial” saja. Meski tidak boleh dipungkiri menjadi salah satu bagian penting namun lebih dari itu nilai yang dimaksud dalam buku ini pada nilai nilai yang kita inginkan ada yang berbeda orang sangat mungkin akan berbeda. Karena berinvestasi pada suatu perusahaan memiliki arti yang sama dengan ikut mendukung perusahaan itu dalam mencapai nilai nilai mereka.

Contohnya seorang investor yang sangat konsen ke isu lingkungan boleh saja menghindari perusahaan perusahaan yang mendukung pelestarian lingkungan dan menghindari perusahaan yang jelas jelas merusak. Nilai disini sangatlah luas, dan dalam masuk kedalam bagaimana nilai pada visi dan misi perusahaan tersebut apakah bagus menurutmu, dan apakah menurutmu akan tetap  relevan dan baik di masa yang jauh ke depan. Nilai apa yang digunakan perusahaan dalam menjalankan usahanya, bagaimana ia memperlakukan pekerjanya, bagaimana dia mengelola sumberdaya alam atau berbagai pertimbangan lainnya.

Baru setelah kita menemukan daftar perusahaan perusahaan itu, kita menilai kembali apakah perusahaan tersebut diapresiasi dengan harga yang wajar. Untuk itu dalam buku ini juga kita diajarkan beberapa metode untuk membaca apakah suatu perusahaan memiliki keunggulan dibanding perusahaan lainnya, yang disebut dalam buku ini sebagai “Parit”.

Parit bekerja bak sebuah parit sungguhan yang biasanya dibangun mengelilingi sebuah benteng dan berguna untuk menghalau dan menciutkan nyali para lawan yang hendak menyerang. Dalam perusahaan, parit tersebut dapat terwujud dalam berbagai macam bentuk yang pada dasarnya membuat berkompetisi dengan perusahaan yang kita pilih semakin tidak relevan.

Selain tentang parit parit itu kemudian kita akan dibawa untuk membentuk mindset kita soal uang agar kita dapat mengendalikan rasa rakus dan ketakutan kita dalam berinvestasi sehingga tidak terjun pada dunia perjudian yang spekulatif alih alih berinvestasi sungguhan. Penentuan harga masuk akal dari sebuah perusahaan juga diajarkan di sini, meski ku agak agak lupa pada bagian ini. Agaknya memang buku ini merupakan jenis buku untuk dicoba coba terus ya tidak hanya dibaca saja. 

Oia pada dasarnya buku ini mengajari kita dalam berinvestasi untuk berpegang pada nilai dan cerita perusahaan. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu pembangun kita untuk melakukan aksi jual bilamana nilai dan cerita dari perusahaan yang kita pegang tersebut sudah tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Kesimpulan Saya tentang  Buku Invested, 12 Bulan Menuju Financial Freedom karya Danielle Town

Pada dasarnya buku ini adalah bacaan yang menarik bagi kita kita yang baru terjun ke dunia investasi. Dengan berbagai cara penyampaiannya yang seperti membaca novel, dalam buku ini tidak langsung memberikan kita indeks indeks, angka, rasio atau apapun itu yang biasa kita sering dengar dalam diskusi diskusi terkait investasi. Yang saya rasa pemula seperti saya akan cukup tidak nyaman dengan berbagai ketidaktahuan dan ketidakpahaman itu.

Buku ini setidaknya telah berusaha untuk mengajak kita memahami konsep dari berinvestasi nilai dengan lebih baik yang pasarnya mungkin untuk orang orang yang awam seperti saya. Karena target pasar level awam tersebut, mungkin bagi sebagian orang buku ini akan tampak menjemukan. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang investasi nilai secara holistik, buku ini pun menganjurkan kita untuk membaca beberapa buku lainnya.

Satu kekurangan yang saya rasakan dalam buku ini, karena cara penyampaiannya yang diusahakan menyerupai novel dengan berbagai konflik batin pada karakter didalamnya membuat buku ini terkadang kehilangan arah dan membahas hal hal yang sebenarnya tidak bermanfaat untuk dibahas. Dan ketika masuk kembali ke topik yang lebih serius sayangnya sedikit miss dan terasa ada bagian yang hilang. Khususnya pada bagian perhitungan nilai. Kenapa sang tokoh tiba tiba menjadi cerdas dalam berhitung dan menjelaskan pada para pembaca cara menghitungnya alih alih bertindak sebagai pihak yang seharusnya diajari oleh ayahnya? Jikalau sang tokoh bisa karena hal hal yang dilatih sebelumnya sepertinya kurang beberapa bagian untuk menjelaskan terlebih dahulu kenapa bisa jadi demikian.

Itu saja si yang bisa saya komentari terkait buku ini. Kembali lagi kalau harus menilai, rasanya cukup masuk akal bila saya menilai buku ini masuk pada bintang 4 dari 5 bintang. Dan saya merekomendasikan untuk membaca buku ini kepada teman teman yang baru masuk ke dunia investasi. Untuk yang sudah lama (senior) kurang disarankan sih.

Sekian dari saya, akhir kata saya ucapkan terimakasih untuk teman teman yang rela membaca tulisan saya yang cukup panjang ini. Saya tahu itu sulit dan butuh effort yang besar yah.

Salam hangat dari saya

Dewa Putu A.M.

BukuHiburanPsikologiSains Populer

[Buku] Sapiens, Kelahiran Umat Manusia (Grafis) karya Yuval Noah Harari

July 4, 2021 — by dewaputuam0

WhatsApp-Image-2021-07-04-at-4.09.18-PM-960x590.jpeg
Buku Sapiens Karya Youval Noah Harari, klik link ini untuk membaca ulasan resmi dari sang Penulis terkait buku ini. (Sumber Gambar ynharari.com)

Helo, kembali lagi saya menulis sebuah ulasan dari buku untuk yang kedua di tahun ini. Sebagai informasi, buku Sapiens versi naratif dari pengarang yang sama sebenarnya sudah pernah saya baca pada Bulan Oktober 2017 lalu dengan bintang 5/5 atau bisa dikatakan sempurna. Meskipun dari segi terjemahan buku yang saya baca saat itu agak sedikit saya keluhkan karena beberapa istilah menjadi sangat aneh terbaca.

Kembali ke timeline saat ini. Pada awal tahun 2021 di salah satu toko Buku di Denpasar akhirnya saya menemukan versi grafis buku ini teronggok begitu saja dalam salah satu raknya. Pada awal pertemuan, saya kurang begitu tertarik. Tetapi, berhubung saya sedang butuh  sedikit asupan ide ide baru untuk otak ini yang agaknya sudah bersarang laba laba karena sudah mulai jarang diajak mengunyah be-bukuan segar terlebih penilaian saya di buku versi narasinya cukup baik, maka dengan berpikir cukup panjang akhirnya saya coba membawa pulang buku.

Seperti dugaan saya sebelum saya membeli buku ini, ia ternyata terdiam sunyi di rak buku kosan saya. Hingga pada waktunya akhirnya setelah kepercayaan diri dan minat saya untuk membaca buku kembali hadir akhirnya dengan ini saya umumkan buku ini mampu saya selesai baca dalam waktu 2 malam. 🙂

Mungkin sudah cukup ya pembukaan dari tulisan saya saat ini, kita mulai dengan ulasannya. Semoga bermanfaat bagi teman teman pembaca, yang secara sengaja ataupun tidak sengaja mampir ke blog saya ini.

Mirip Kisah Superhero, Cerita Sapiens Diawali Dari Sekedar Makhluk Lemah Pinggiran Sabana

Kondisi awal Sapiens pada dasarnya bukan makhluk yang dominan dan bukan pula makhluk yang dianugerahi kekuatan lebih besar dibandingkan lainnya. Lemah sekali bila dibandingkan hewan hewan yang ada saat itu coba kita bandingkan dengan hewan hewan prasejarah yang jangankan predatornya, herbiforanya pun berukuran besar besar dan akan mudah ditebak siapa yang kalah bila kita pertandingkan Sapiens dengan hewan hewan lainnya. 

Salah satu keunggulan kita dibandingkan dengan hewan hewan lainnya adalah Otak kita. Bila dibandingkan dengan hewan hewan dengan bobot yang kira kira serupa, otak Sapiens sangat besar. Sebagai gambaran otak Simpanse sebesar 400 CM3, Domba 122 CM3 dan Homo Erectus sebesar 900 CM3, Sedangkan Sapiens 1300 CM3. Tapi perlu kita ketahui juga bahwa Sapiens masih kalah dengan Homo Neanderthal yang memiliki volume otak 1500 CM3.

Besarnya volume otak sapiens mengakibatkan beberapa implikasi pada besarnya kebutuhan energi untuk menyokong kerja otak. Meskipun bobot otak hanya sebesar 8% dari bobot tubuh keseluruhan, namun energi yang dibutuhkan mencapai 25%. Selain pada otak, energi juga perlu dialirkan ke jaringan saraf yang ada di seluruh tubuh, hal ini mengakibatkan proporsi energi yang dialirkan kepada otot jadi lebih kecil dibandingkan hewan lainnya sehingga Sapiens relatif memiliki kekuatan fisik yang lemah.

Selain dengan otaknya, Sapiens yang berjalan tegak dengan dua kaki juga memberikan beberapa keuntungan. Dengan berjalan tegak seperti itu, semakin banyak yang dapat dilakukan Sapiens menggunakan tangannya yang seiring proses evolusi yang berlangsung lama, jaringan saraf dan otot rumit berkembang di telapak tangan dan jemari sehingga penggunaan tangan oleh sapiens makin berkembang dari proses proses sederhana hingga proses rumit lainnya dari membuat dan menggunakan perkakas kompleks hingga sekarang sapiens mampu membuat berbagai hal.

Video Promosi dari Buku Sapiens, Kelahiran Umat Manusia (Grafis) karya Yuval Noah Harari dalam kanal Youtubenya

Menyesuaikan posisi tegak membawa tantangan tersendiri terutama punggung dan leher yang harus menyokong kepala dan bobot tubuh yang relatif besar. Itulah mengapa Sapiens sering sakit punggung ataupun leher. Dan perempuan membayar hal tersebut dengan lebih mahal. Berjalan tegak perlu pinggul yang lebih kecil dan mempersempit saluran peranakan, padahal bayi Sapiens justru membesar.Hingga seiring berjalannya proses evolusi, perempuan yang melahirkan bayi lebih dini dengan  otak dan kepala yang masih relatif kecil akan lebih mudah bertahan sehingga jika dibandingkan dengan hewan hewan lainnya yang bisa berdiri dan berjalan beberapa saat setelah terlahir, Sapiens terlahir prematur. 

Kondisi demikian yang menyebabkan membesarkan anak Sapiens selalu butuh bantuan anggota keluarga dan tetangga. Butuh sesuku untuk membesarkan seorang Sapiens. Itu sebabnya evolusi mengunggulkan manusia yang bisa membentuk ikatan sosial yang kuat. 

Secara paradoks, ketidakberdayaan bayi Sapiens ternyata merupakan berkah. Artinya Sapiens harus mengembangkan keterampilan sosial. Karena terlahir belum berkembang sempurna, sapiens dapat dididik dan menjalani sosialisasi jauh lebih baik dari hewan lain. 

Kalau dianalogikan, kebanyakan hewan lain terlahir bagaikan tembikar hingga upaya apapun untuk mengubah mereka hanya akan menggores atau mematahkan mereka. Sedangkan Sapiens bagaikan gelas meleleh yang bisa dipelintir, direntangkan dan dibentuk dengan keluwesan yang mengejutkan.

Sapiens Sang Maestro Fiksi yang Menjadi Unggul Karena Mereka Suka Bergosip dan Menjunjung Mitos 

Fiksi, meskipun terlihat sepele namun ternyata perannya dalam kehidupan kita sebagai manusia sangat lah besar dan menjadi salah satu aktor penting dalam perkembangan Sapiens hingga saat ini (Photo by Artem Podrez from Pexels)

Dalam duel satu lawan satu mungkin Sapiens akan kalah secara telak, namun dalam kemampuan membentuk koloni serta bekerja sama dalam jumlah yang sangat besar meskipun tidak saling mengenal Sapiens bisa dikatakan tak tertandingi bahkan  bila dibandingkan dengan keluarga lainnya yang telah punah. Kekuatan ini juga bisa dikatakan lebih dinamis bila dibandingkan dengan hewan hewan koloni seperti lebah dan rayap yang cenderung memiliki sistem yang sangat rigid sehingga bila terjadi masalah baik lebah maupun rayap tidak akan mampu menciptakan ulang sistem untuk mengatasi masalah tersebut. Koloni rayap tidak akan bisa membunuh ratu rayap dan membangun republik rayap.

Kemampuan untuk membangun sistem koloni pada sapiens tidak lepas dari cara berkomunikasi mereka yang dalam hal ini dapat dikatakan sebagai Maestro Fiksi. Kemampuan berkomunikasi pada Sapiens tidak hanya mampu menjelaskan objek objek fisik dan fakta saja, seperti adanya harimau, adanya makanan dan berbagai informasi serupa lainnya. 

Namun lebih dari itu sistem komunikasi sapiens bisa digunakan untuk menggambarkan situasi dengan lebih rinci dan yang terpenting lagi, mereka bisa mengarang kisah kisah fiksi dari keberadaan Sapiens dengan kepala harimau, keberadaan roh roh penunggu, entitas sebuah perusahaan, negara dan hal lainnya. Berdasarkan kepercayaan akan fiksi dan mitos itulah Sapiens berkenan mencurahkan pikiran, kekuatan dan energinya untuk melakukan kerjasama untuk  tujuan yang sama pada mitos tersebut.

Semua hal ini mengandalkan keterampilan kognitif yang sangat istimewa menggagas, mengingat mempelajari dan berkomunikasi. Keterampilan kognitif itu muncul sekitar 70.000 tahun silam dalam apa yang disebut sebagai Revolusi Kognitif. Sejak saat itu Sapiens selalu hidup dalam realitas ganda. Dari satu sisi realitas objektif berupa sungai pepohonan dan singa. Di sisi lain ada realitas yang diimajinasikan berupa Dewa Dewi, bangsa dan Perusahaan. Seiring berjalannya waktu, realitas yang dikhayalkan tersebut semakin digdaya. Sehingga kini kelestarian sungai, pohon dan singa bergantung pada kemurahan hati entitas yang diimajinasikan seperti Dewa Dewi, Negara Negara seperti Amerika Serikat, Indonesia, dan perusahaan-perusahaan seperti Google, Perkebunan Kelapa Sawit. 

Namun terlepas dari semua itu, perlu diakui bahwa kemampuan kita menciptakan realitas yang diimajinasikan dari kata kata memungkinkan banyak orang yang tak saling kenal bekerja sama secara efektif.

Penilaian Umum saya Terhadap Buku Sapiens, Kelahiran Umat Manusia (Grafis) karya Yuval Noah Harari

Secara umum saya sangat menikmati bagaimana Profesor Harari menceritakan perjalanan kita umat manusia (Sapiens) dalam proses kelahiran serta perkembangan awalnya. Menyenangkan dan banyak hal yang membuka pikiran saya ternyata berdiri dengan kedua kaki akan sebesar itu pengaruhnya dan juga peran dari Fiksi (Gosip) juga sebesar itu.

Banyak sekali wawasan yang saya dapatkan dari buku ini, dan akan sangat panjang bila saya tuliskan dalam sebuah posting dalam blog ini seperti bagaimana peran dari warisan nenek moyang kita saat Berburu Mengumpul, bagaimana Spesies kerabat Sapiens lainnya menghilang, dan juga diakhiri dengan kenyataan pahit tentang bagaimana Sapiens harus bertanggung jawab pada kerusakan ekologi serta kepunahan massal dari berbagai macam makhluk hidup baik di Daratan Australia hingga Daratan Amerika dengan makhluk hidup yang eksotis dan sebenarnya sangat disayangkan bila menghilang begitu saja.

Buku ini akan cocok dibaca bagi teman teman yang merasa ingin tahu dengan bagaimana manusia berkambang dan bereovolusi dengan cara penyampaiannya yang singkat dan ringan. Sekedar iseng ya tetapi saya yakin akan banyak hal bermanfaat yang teman teman dapatkan jika menyempatkan waktu untuk membaca buku ini.

Cara penyampaiannya melalui komik juga menjadi nilai tersendiri pada buku ini. Yang menariknya ternyata buku ini tidak hanya sebuah buku narasi yang dipaksakan untuk dibuatkan sebuah komik. Namun dari segi penceritaannya terlihat sekali dibuatkan secara sungguh sungguh dan mengalir bagaikan komik komik pada umumnya dengan berbagai permasalahan dan sedikit lelucon yang dibawakan tim penulis yang saya rasa sangat cukup dan tidak berlebih.

Jika dirangkum dengan semua kekerenan yang saya sebutkan tadi. Buku ini tetap layak diberikan nilai 5 dari 5 bintang, sama seperti buku versi naratifnya.

Oke sampai disini saja tulisan saya hari ini. Terimakasih atas kesediaan teman teman dengan membaca tulisan saya ini. Sampai jumpa lagi

Salam

Dewa Putu AM

BukuHiburanOpiniUncategorized

[Buku] Saya Kamu Mereka #Dirumahaja karya Mbo Ayu

June 30, 2021 — by dewaputuam0

20210630_234407-960x592.jpg
Ilustrasi tumpukan buku. Mungkin dari segi ukuran dan tema yang dibahas akan jauh berbeda dengan buku buku dibelakangnya. namun dari segi isi tak sesederhana itu kawan. Meski ringan untuk dibaca, buku ini tetap memberikan kita banyak pelajaran, tentang bagaimana Saya, Kamu, dan Mereka menjadi Kita saat menghadapi ini semua 🙂

Sekilas saya melihat tumpukan buku, di meja kerja kamar kos saya. yah, tumpukan buku, karena di tahun ini saya sedang dalam mode Kolektor dan entah mengapa enggan untuk membaca sampai habis. Saya merasa jenuh sekali, dan beberapa buku yang saya beli itu kurang menarik minat saya untuk membaca setidaknya dalam satu tahun belakangan ini bisa dikatakan tidak ada satu judulpun buku yang selesai saya baca #miris.

Jika terus beralasan tidak punya waktu membaca, sebenarnya tidak juga, karena waktu dulu 2017 sibuk tiap hari bolak balik Jakarta-Bogor berdesak desakan di kereta bisa beberapa buku dalam satu tahun. dan kemudian mulai tidak konsisten berkurang menjadi 20-an, belasan, tidak sampai sepuluh dan tahun ini belum ada sama sekali hahahaha #miris memang tetapi itu kenyataan yang harus saya akui meski saya tahu itu bukan hal yang penting untuk dibagi apalagi dibaca oleh teman teman sekalian.

Semakin lama tumpukan itu semakin tebal karena lapar mata dari judul judul buku yang saya anggap lucu dan menarik jika dibaca hingga judul judul buku serius yang meski tidak menarik namun akan saya butuhkan dalam kerja saya saat ini. Oia, ada juga 2 buku “pelangkah” dari adik saya yang saya bawa ke Bali. Ya Tuhan itupun belum saya baca [berdosanya saya].

Okay, cukup curhat colongan sebagai pembuka. langsung pada intinya saja, Pada bulan bulan ini saya ingin mencoba mengejar ketinggalan saya, saya merasa dosa dosa timbunan yang saya lakukan itu sudah mengerikan. Akhirnya saat ini saya mencoba menebusnya perlahan namun pasti. Se-perlahan sang air yang dengan tetes bertahunnya hingga kemudian mengoyak bebatuan. dan sepasti perasaanku padamu yang lama tak terungkap. [oke nice try,.. #skip]

Dan Pada Tanggal 30 Juni 2021, pecah telur juga. Baca Satu Buku Karya Mba Ayu. Sudah Lama Saya Membeli Buku Ini, Namun baru terbaca sekarang. Mohon maaf ya mbo 🙂

Tumpukan buku saya memang tidak se-ekstrim ini namun agar terlihat estetik saya pinjam photo by Min An from Pexels

Yeay, akhirnya pilihan buku pertama yang saya baca tahun ini jatuh pada Karya Mbo Ayu. Salah satu idola penulis dari Kompas, yang awal ku kenal saat Gunung Agung sedang ada acara besar di Tahun 2017.

Saya membeli buku ini langsung dari penulisnya :), karena saya penasaran bagaimana sensasinya membeli buku dari penulisnya langsung itu seperti apa. Dan benar saja dong, saya pun dapat buku itu plus tanda tangan asli penulis plus ada kata-katanya saat itu. Sebagai pembaca, tentu akan merasa senang bila dapat ucapan dari penulisnya dan itu menurut saya kesempatan yang langka :).

Tapi sayangnya, buku ini harus terbengkalai di Bali, kemudian saya bawa ke Lampung beberapa bulan lalu saat ini saya bawa lagi ke Bali :). Buku ini telah bertualang bersama saya mba, meskipun belum terbaca.

Tetapi tenang, malam ini dengan penuh kebanggaan akhirnya saya menjadikan buku ini sebagai buku pertama yang selesai saya baca. Dan seperti ekspektasi sebelum saya membelinya. Buku ini baguuuus mbo.

Seperti Judulnya, Buku ini secara tersurat maupun tersirat bercerita tentang Saya, Kamu dan Mereka dengan tag #dirumahaja

Jujur saat saya awal mau membaca sempat terpikirkan apakah buku ini akan masuk sebagai buku buku layanan masyarakat yang sering dibagikan oleh penyuluh “biasanya akan memiliki kesan kaku”. Saya sengaja memberikan tanfa kutip di bagian opini saya terkait kaku karena saya juga harus mengakui bahwa opini saya tersebut tidak boleh saya jadikan alasan untuk meng-generalisir semua buku model demikian.

Membaca buku ini saya seolah olah sedang membaca novel. Yang mana kata #dirumahaja yang diberikan pada judul buku seolah olah menjadi suatu trigger yang akan menjadi permasalahan utama yang dialami semua aktor dalam buku “Saya, Kamu dan Mereka”. Meski seperti yang kita ketahui bersama aktor sebenarnya dibalik kata #dirumahaja adalah Pandemi ini (meski di buku baru beberapa bulan) tak terasar dengan berat terasa, ternyata sudah jalan satu tahun.

Kembali pada topik dibuku ini, di buku ini kita akan diajak terjun dan merasakan bagai Saya, Kamu dan Mereka menyikapi semua ini dari berbagai perspektif dari ibu ibu yang kelimpungan membimbing anak anaknya sekolah dari rumah, Hingga para petugas garda terdepan (yang dalam hal ini diceritakan Kalaksa Karangasem) yang dalam dilema besar berusaha untuk membantu menangani kejadian luar biasa ini. Tentu tidak dilihat dari sisi teknis pontang pantingnya tapi dari sisi yang lebih humanis.

Meski begitu dekat, di saat yang bersamaan saya merasa begitu jauh dan buta saat membaca buku ini

Saat Aku, Kamu dan Mereka menjadi Kita, semuanya mungkin tidak akan menjadi mudah begitu saja. Tetapi setidaknya saat melihat yang lain ada yang lemah atau bahkan kita yang saat ini sedang lemah. Dengan sekedar kata “kita”, akan menyadarkan bahwa ada orang lain yang saat ini sama merasakan dan sama ingin kita tidak merasakan semua ini. “Kita sama sama ingin semua berakhir. Tidak sendiri,.. kita semua

Ya, dalam beberapa hal saya, kamu dan mereka sepertinya sudah sangat erat dan sangat memahami bahwa situasi saat ini benar benar sulit. Namun saya sadar ternyata saya tidak setahu itu saya pun juga tidak sepaham itu. masih banyak yang terlewat oleh saya, banyak sekali malahan. Tentang bagaimana sulitnya mengajar anak sendiri yang beda kelas dan beda kebutuhan yang diajarkan dan bagaimana berbagai orang bersikap dari ibu ibu yang ternyata malah kewalahan menentukan menu masakan hingga usaha yang musti berusaha untuk bertahan bagaimanapun caranya.

Meski saya yakin saya, kamu dan mereka kurang lebih sudah memahami situasi yang ada saat ini karena berada dekat sangat dekat dengan apa yang masih terjadi hingga saat ini atau paling tidak saat ini begitu mudah kita mengakses sumber sumber informasi yang secara gamblang menjelaskan situasi yang ada sekarang. Saya juga berada dalam lingkungan keluarga Guru, yang beberapa yang model perubahan kehidupan nya ternyata berkali-kali diulas dalam buku ini. Bagaimana sulitnya beradaptasi dengan kondisi sekarang beserta tuntutan dan harapan proses didik mendidik berjalan dengan normal. Padahal, kita semua tahu sistem kita memang tidak pernah dirancang untuk menghadapi ini. Mulai dari kompetensi gurunya, muridnya, hingga bagaimana sistem belajar mengajar itu berjalan memang belum siap pada saat itu dan mungkin kini pun belum sempurna juga kesiapannya. Saya tidak tahu saat ini sudah seperti apa semoga sudah semakin berkembang dan sudah membaik ya #kuharap seperti itu.

Saya suka dengan cara mbo Ayu menghadirkan berbagai pandangan para kenalannya dalam menghadapi situasi ini yang ternyata beraneka ragam dari berbagai profesi bahakan berbagai negara yang menyebabkan masalah masalahnya tidak jarang akan berbeda. Oia beberapa ilustrasinya juga menarik dan lucu, dalam buku ini banayak ilustrasi yang simple tapi bagus, agaknya kapan kapan menarik seperytinya kalu saya belajar menggambar ilustrasi dengan gaya seperti yang ada di buku ini. hehehe

Sekian dulu, ulasan dari saya. Sekedar sebagai penyemangat pribadi untuk kembali aktif di dunia tulis menulis di blog saya yang jarang tersentuh ini dan sekalian juga sebagai penyemangat diri untuk kembali membaca tumpukan buku yang ada.

Saya rasa buku “Saya, Kamu dan Mereka” menjadi buku yang manis untuk mengawali bacaan bacaan serta tulisan saya terkait buku di Tahun 2021 ini. Tunggu update dari saya lagi ya temans, semoga kita sehat selalu dan pandemi ini segera berakhir dan kita bisa besorak2 lagi berdesakan di bus, di kereta atau bersorak ria di dalam sebuah konser. 🙂 entah mengapa saya rindu jadi kaleng sarden dalam comuter line Jakarta Bogor #hiks.

Sekian dari saya. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya

Salam Dewa Putu A.M.

Daily LifeUncategorized

Banyak yang terjadi sejak terakhir kali ku tulis di sini

May 6, 2021 — by dewaputuam0

pexels-monstera-5708959-960x640.jpg

Hai, Apakabar para pembaca sekalian. Mungkinkah kalian merindukan tulisanku? mungkinkah kalain sejenak ingin sesekali membaca apa yang kutuliskan. Entah itu sembarang kata yang ku tebar tanpa makna, atau bahkan tulil serajut berlapis makna yang untuk menggalinya saja butuh memperbesar pupil mayta hingga batas maksimal wajarnya.

Yah, ku masih di sini, saat ini ku sedang duduk di sebuah kamar sambil menulis dan mendengarkan sebuah lagu cover “Talking to The Moon”. Bukan bukan ku sedang sendu, namun playlistnya saja yang tanpa sengaja memutar lagu itu.

Saat ku buat tulisan ini, rasa lelah cukup ada si, tetapi lelahnya lebih pada fisik yang baru saja selesai dari lari 2 putaran lapangan bajra sandi Denpasar. Cukup seru si lari lari kecil keliling lapangan tersebut, selain pemandangan yang lumayan nyaman dipandang mata, trackingnya juga masi masuk akal untuk berlari lari kecil. Terlebih dalam situasi pandemi seperti ini, yang berlari tidaklah begitu ramai sehingga tidak perlu tersendat sendat kecepatannya karena harus berpapasan dengan orang.

Dengan perlahan tapi pasti berkali kali kutarik batas jarakku, dari yang sebelumnya hanya mampu setengah lapangan kini sudah bisa satu putaran penuh dan semoga kedepannya bisa 1.5 lapangan dan seterusnya meningkat. (Photo by Dom Gould from Pexels)

Beberapa Bulan ini Banyak yang terjadi kawan, tapi apapun itu setidaknya masi bisa teratasi dan baik baik saja hingga sekarang, itulah yang terpenting bukan

Yang ingin ku ceritakan bukan sebuah keluh kesah tentang beratnya hidup. Sudah lah itu tidak lah menarik untuk dibagi dan diceritakan. Lebih baik kita bercerita tentang mimpi yang mungkin sebelumnya tertunda ahahaha. Ku akui dalam beberapa bulan terakhir memang banyak hal yang sempat terlewat, itu lah yang sangat disayangkan. yah kadang kita memang perlu mengistirahatkan diri sesaat untuk kembali bergerak.

#mungkin

Tapi setidaknya semua sudah teratasi sekarang, dan semua aman lah. Apapun masalah yang kemarin terjadi, semua perlahan teratasi dan kian membaik. Jika kawan kawan tanyakan apa yang ada dipikiran ku sekarang, ku mungkin akan menjawab kalau “Ku penasaran dengan apa yang akan terjadi esok” mungkin akan sangat menarik :).

Agar apa yang akan ku lakukan esok dapat lebih terarah, boleh lah saya cobaa riview apa apa saja yang terhalang dan belium tercapai pada bulan bulan sebelumnya yang dengan berat hati saya menyayangkan hal itu:

  • Buku masih belum ada yang selesai dibaca. Lumbung buku sudah menggunung dan dipenuhi sarang laba laba, menyedihkan lihatnya. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 8 buku pada bulan yang sama, di tahun ini justru belum sama sekali terbaca. Sekali lagi belum sama sekali terbaca T____T. Kapan bisa pinter kalau gini terus yak wkwkwk. Tapi jujur si soal ini ku merasa sedikit jenuh karena belum ada buku yang benar benar membuat ku tertarik untuk membacanya. Mungkin buku yang sedang ku tunggu kedatangannya karya Dee Lestari bisa buat mood membaca ku kembali. Dari pada baca buku buku yang membuat alis menekuk kan, agaknya memang perlu baca yang sedikit ringan.
  • Bacaan di Medium dan HBR juga jarang. ini juga ku merasa bodo sekali, dan suka blank kehabisan ide, Medium.com menurutku platform untuk mencari ide yang paling oke, karena penulis penulisnya relatif lebih keren dari pada media media mainstream. bahkan bisa dikatakan sangat jauh kualitasnya bila dibandingkan dengan Koran Utara Selatan, Koran Menit, Koran Di Tengah, Apalagi Koran bangku penonton. Jauh jauh sekali kualitasnya bila dibandingkan dengan koran koran bertebar iklan. Koran koran yang lebih banyak kolom iklannya dibandingkan bacaannya (malah curhat wkwkwkwk).
  • Baca saja jarang apalagi Menulis di Blog. Ini yang paling mudah terlihat, terakhir kali ku menulis Tulisan ini. Menurutku, ku masih punya waktu untuk sekedar mencurahkan ide dan gagasan kok, meski ada beberapa waktu yang bahkan untuk buang air saja terasa sangat sulit, tetapi 80% hariku masih lah bisa dialokasikan untuk sekedar menulis 400 kata. Semogga dari posting ini ku coba ya komitmen lagi agar setidaknya dalam seminggu ada satu tulisan yang akan saya bagikan.

Kira kira itu saja si, benar bukan curhat menye menye kan ya. Itu saja mungkin yang bisa saya bagikan hari ini kawan. Saya mau menyantap Babi guling dulu yang baru datang hehehe.

Salam

Dewa Putu AM

Feature Photo by Monstera from Pexels

Daily LifeOpiniPsikologi

[Re-Resolusi] Pengelolaan Keuangan, Saja?

February 6, 2021 — by dewaputuam0

pexels-karolina-grabowska-4386421-960x640.jpg

Helo, Salam Cuan hehehe, 

Berhubung di sekitar saya sekarang sedang ramai ramainya tag yang berhubungan dengan hal tersebut (Investasi, Saham, Cuan, dan lain sebagainya). Harus saya akui kalau dilihat-lihat saya juga masuk sebagai angkatan baru di pasar saham yang bertepatan dengan pandemi corona, bahkan ada beberapa senior yang menyebut kami kami ini sebagai Angkatan Corona atau Coronials. Tidak terlihat cukup baik sik tapi tidak terlalu buruk juga, nice lah hehehe. Jumlah kami cukup banyak btw, lebih dari 527 ribu orang atau meningkat 47,71% dari 2019 (Sumber Berita). 

Hingar bingar Sobat Cuan dalam mengumpulkan keping keping uang (Photo by Pixabay from Pexels)

Namun di balik hingar bingar jumlahnya yang sangat besar tersebut ternyata banyak pula yang terjun bebas tanpa persiapan dan dasar hingga dalam aksinya seringkali hanya ikut-ikutan semata. (termasuk saya mungkin) sehingga banyak dari Coronilas tersebut alih alih mengelola nafsu dan mendapat keuntungan mereka justru mengalami kerugian yang mungkin tidak dapat dikatakan kecil. Saya tidak membahas hal ini dalam tulisan saya, mengingat sudah banyak orang orang yang kece dan berpengalaman membahasnya seperti dua youtuber yang menjadi salah satu sumber informasi dan tempat saya belajar ringan tentang dunia investasi  Andika Sutoro Putra atau Felicia Putri Tjiasaka

Tidak hanya Sekedar Berinvestasi, namun Menata Kembali Keuangan

Pada tulisan ini saya ingin mencoba sedikit berbagi dengan teman-teman yang menurut saya justru lebih penting dan mendasar dari sekedar investasi. Hal ini juga beberapa kali disebutkan oleh beberapa orang yang menjadi panutan saya (termasuk Robert Kiyosaki, dalam bukunya Rich Dad, Poor Dad). Ini tentang pengelolaan Keuangan.  

Namun, dari apa yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan, saya mulai menyadari sesuatu hal, Investasi itu hanya sebagian kecil aspek dalam pengelolaan keuangan, hal inilah yang kemudian saya jadikan sebagai salah satu resolusi saya di tahun 2019 dan 2020 (Link). Pada dua tahun tersebut saya sedikit demi sedikit mulai merapikan pengelolaan keuangan saya. Beberapa poin utama yang saya lakukan sebagai berikut:

  1. Rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran dari hal yang menghabiskan biaya besar seperti membeli Laptop hingga hal remeh seperti membayar karcis parkir 2000 rupiah. Semua itu tercatat dengan rapi sejak 2019 sehingga aliran uang saya termonitor ke mana mana saja (tentu banyak ke jajan hehehe).
  2. Menyiapkan Dana Darurat dan “Dana Alokasi Khusus”, ini saya siapkan karena di akhir tahun 2019 lalu saya resign dari kantor lama dan memulai usaha baru dengan teman teman dan untuk itu saya berusaha mengamankan dahulu dana darurat kalau sewaktu-waktu apa yang saya lakukan tidak berjalan dengan mulus. Namun puji tuhan ternyata sangat mulus dan dapat kesempatan lain lainnya, hingga selain dana darurat juga saya sudah mengumpulkan dana Alokasi Khusus, untuk menikah hehehe.
  3. Mengelola Investasi, setelah kedua hal tersebut saya amankan, saya mulai merambah ke beberapa produk Investasi.Karena pada tahun 2019 saya masih fokus pada dana darurat, yang juga saya jadikan juga sebagai investasi, jadi saya cenderung bermain aman dengan menggunakan Emas dan Reksa Dana. Agar dari segi likuiditas masih aman dan dapat dipakai sewaktu waktu meski untuk reksa dana membutuhkan waktu sedikit lama dalam pencairannya yakni 2-3 hari kerja. Hingga masuk pada pertengahan tahun 2020, di tengah pandemi corona saya pun memanfaatkan momen tersebut untuk masuk ke produk investasi yang lebih agresif dan berisiko yakni Saham bersama Coronials lainnya. Namun alih alih membeli saham yang trend saya justru hanya berani pada saham saham yang menurut saya menjadi unggulan di 3 sektor saja (Perbankan BBRI, Konsumer ICBP, dan satu lagi TLKM, saya tidak tahu TLKM itu masuk sektor apa hehehe).

Dari pengelolaan keuangan tersebut sedikit demi sedikit ada perbaikan baik dalam pola pikir saya tentang uang dan bagaimana mengelolanya. Saya terus belajar dari berbagai sumber, tulis tulisan di medium, berita, youtube bahkan dari Tik Tok. Setiap bulannya, saya alokasikan sebagian penghasilan ke produk produk investasi yang saya miliki tergantung mana yang menurut saya harganya sedang masuk akal (diskon) biasanya saya akan alokasikan lebih besar disitu dibandingkan pada produk yang sedang gila-gilanya menghasilkan keuntungan, Istilah kerennya strategi “Average Down”. Beberapa prinsip yang saya pegang dalam pengelolaan keuangan adalah jangan taruh telur dalam satu keranjang, kelola emosi saat mengelola uang jangan terlalu nafsu, dan terakhir sisakan sedikit keraguan dalam setiap aksi yang kita lakukan.  Memang ketiga prinsip itu masih belum sempurna saya jalankan sehingga masih sering saya melakukan kesalahan dengan melakukan pembelian barang barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan (Boros). 

Dari Sekedar Menata Keuangan, Kini Ku ingin Menata Nilai

Meskipun cukup puas melihat hasil dari perbaikan pengelolaan keuangan saya di tahun 2019 dan 2020, namun saya merasa ada sesuatu yang kurang di situ. Entah kenapa, meskipun dari segi finansial sudah ada peningkatan yang cukup baik, saya merasa hampa dan nista. Saya merasa ini bukan lah saya.

Kenapa semua hanya berkutat tentang uang. Saya berpikir dan berdiskusi dengan beberapa orang tentang hal ini dan kembali merefleksikan hal hal lampau yang membuat saya bahagia dan bisa sampai di sini, timbul suatu pertanyaan besar. Dimanakah posisi uang, dan apa itu uang. Cukup naif memang bila kita menafikan arti penting dari uang. Namun cukup nista pula bila kita mengaitkan semua hal itu dengan uang. Hingga pada jumat lalu saya mendapatkan sebuah gagasan yang saya rasa sebuah rantai terputus dari apa yang menjadi kegelisahan saya selama ini, sebuah gagasan dari video yang berjudul Escaping the Rat Race: What School Failed to Teach You About Money karya James Jani. Dalam video tersebut, uang tidak hanya didefinisikan sebagai alat tukar, sebuah media untuk membayar tagihan, barang, ataupun jasa.

Uang hanyalah salah satu ekspresi/representasi dari sebuah nilai. Salah satu media kita untuk memberikan dan menilai suatu produk baik barang maupun jasa. Dengan definisi ini saya berpikir bahwa salah jika kita selama ini terus berfokus pada uang. Hal esensial yang perlu kita perhatikan seharusnya bukanlah uang, melainkan “Nilai”.

Kita sudah lama tenggelam dalam (Photo by Luca Nardone from Pexels)

Hal ini kemudian menjelaskan kenapa seseorang dalam waktu yang sama namun dapat menghasilkan uang yang jauh berbeda, karena seseorang tersebut memiliki nilai yang lebih untuk kemudian diekspresikan dalam bentuk uang. Sama seperti uang, nilai pun perlu kita kelola dengan baik agar memberikan hasil yang baik. Untuk mencapai itu saya rasa sudah saatnya saya menggeser sedikit target resolusi saya di tahun 2021 dan beberapa tahun kedepan yakni pada “perbaikan tata kelola nilai”. Jika kita analogikan seperti pengelolaan uang maka strategi perbaikan nilai yang menurut saya penting untuk diperhatikan adalah sebagai berikut:

  1. Memonitoring nilai kita, ini hal yang sulit namun tanpa mengetahui dimana posisi kita dan tanpa tujuan yang jelas seperti apa kita ingin dinilai maka tidak akan ada perbaikan nilai yang signifikan dapat kita lakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara lebih sering melakukan refleksi diri tentang apa apa yang telah terjadi dan apa apa saja yang telah kita lakukan untuk menyikapi apa yang terjadi tersebut. Dari refleksi tersebut terkadang akan timbul beberapa pertanyaan penting yang mengarah pada seharusnya saya bisa seperti ini bila memiliki nilai ini. 
  2. Menyiapkan nilai untuk keperluan darurat mungkin sulit untuk dibayangkan bentuknya seperti apa. Namun menurut saya nilai untuk keperluan darurat sama seperti dana darurat, yang dapat menolong kita atau setidaknya memberikan sedikit waktu kepada kita agar bisa kembali bangkit saat sesuatu terjadi tidak sesuai dengan rencana. Nilai untuk keperluan darurat bersifat esensial dan harus dimiliki oleh kita, dan harus dijaga selalu ada dalam diri kita, Nilai “kejujuran” adalah salah satunya. Dengan nilai kejujuran yang selalu kita bawa, berimbas pada nilai kepercayaan yang tentunya akan banyak akan membantu kita dan sangat kita butuhkan dalam masa masa sulit sekali pun.
  3. Meningkatkan aset dengan berinvestasi pada nilai diri. Jika berkaca lagi kebelakang, jika ditanyakan investasi apakah yang paling berpengaruh pada saya dalam dua tahun terakhir ini? Maka secara abstrak saya akan menjawab investasi pada diri (pada otak). Investasi terbaik yang pernah saya lakukan adalah ketika saya menghabiskan 300k untuk berlangganan pelatihan online terkait data, 150k untuk pelatihan Tableau, membeli buku Data seharga 200k dan 500k untuk bolak balik ke cafe Anomali untuk belajar hal hal baru terkait data sambil menyeruput kopi hangat. Selain semua hal tersebut tentunya ada beberapa investasi yang saya rasa tidak kalah berpengaruhnya dengan apa yang terjadi sekarang, yakni pada jejaring pertemanan dan jejaring rekan kerja seprofesi. 

Memang pada tahun 2020 saya berkutat pada pengelolaan data, namun sembari menyambangi berbagai tempat dan memetakan permasalahan pengelolaan data dan informasi khususnya kebencanaan di Provinsi Bali, saya menyadari ada satu hal yang lebih esensial daripada hanya berkutat pada data dan informasi yakni yang berkaitan dengan “Penyelesaian Masalah”. Nilai ini yang akan saya fokuskan untuk tingkatkan pada 2021, ada beberapa bahan literatur yang sedang saya kumpulkan dan pelajari untuk mencapai hal itu. Doakan ya kawan agar Nilai ku di 2021 ini akan meningkat dibanding tahun tahun sebelumnya. Meskipun tak bisa saya pungkiri konsep “Perbaikan tata kelola nilai” masihlah sangat abstrak untuk dijadikan sebuah fokus resolusi saya di tahun 2021 dan beberapa tahun seterusnya. Namun perlahan dan pasti dari hal abstrak itu saya meyakini akan memberikan hal yang jauh lebih berarti daripada sebelum sebelumnya. 

Menjadi lebih bernilai dan menjadi lebih berarti. Sebuah kata kata yang bagus bukan 🙂

Salam,

Dewa Putu AM.

Feature Photo by Karolina Grabowska from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Ini Putaran Lari yang Berat, Putaran 20 Ini Memberikan Kita Banyak Cerita, Namun Kali Ini Ijinkan Ku Dahulu yang Bercerita, Silahkan Duduk dan Menikmati Kopi Bersama Ku Sejenak.

January 1, 2021 — by dewaputuam0

pexels-jeswin-thomas-1280162-960x640.jpg
Sumber Gambar  Skitterphoto from Pexels

Ku berlari menuju sebuah pemberhentian sementara dalam sebuah marathon yang sangat panjang. Sebotol air mineral kuteguk tergesa gesa, memang membuat tersedak dan naik salah jalur menuju hidung tetapi waktu ku rasa tidak boleh disia siakan. Putaran marathon ini terasa berbeda dari putaran sebelumnya. Di putaran  ini kita dipaksa untuk bergerak sendiri tak lagi beriring iringan bersenda gurau dan apa sulit juga melakukan apa yang dulu biasa kita lakukan saat menapaki setiap jalurnya. 

Pada marathon putaran 20 ini banyak kerikil tajam dan kadang menyakitkan. Tapi di putaran 20 ini harus ku akui banyak sekali pelajaran yang telah kita dapatkan. Pelajaran dari setiap tapak langkah kaki kita pada jalan berkerikil yang kita lalui hingga halang rintang sungai, bukit kecil menanjjak hingga jurang curam yang kita sudah jelajah bersama. 

Ku menyeka keringat dan sedikit mengingat awal dari putaran 20 ku. Sedikit melihat ke belakang sambil menikmati udara segar pepohonan, rerumputan dan tanah yang menghamburkan aroma menghanyutkan akibat diguyur hujan semalam. Sedikit melegakan kita sudah sampai sejauh ini namun sedikit berdebar mengingat apa yang ada di putaran 20 bukan tidak mungkin masih akan kita tantang di putaran 21. Sedikit mengecewakan semua belum selesai dengan sempurna, tetapi maraton ini tetap berlanjut. Masih ada hal hal seru menunggu di depan sana.

Perpindahan Jalur Lari di Putaran Ini Memang Berat dan Gelap, Namun Pelita yang Kita Nyalakan Bersama Mengubah yang Benar Benar Gelap Menjadi Sedikit Temaram dan Perjumpaan Awal Kita dengan Halang Rintang Renik Bermahkota

Putaran 20 memang salah satu  putaran yang  spesial buat ku karena di awal  putaran ini ku mencoba untuk melanjutkan perjalanan dengan hal yang baru, setelah 3 putaran sebelumnya bersama tim orange yang menjelajah banyak jalur hancur dan tangis sedih orang terbang bersama capung di atas rerumputan kering terbakar, melewati tanah terbolak balik dan terhempas deburan ombak, akhirnya pada putaran 20 ku mencoba peruntungan di jalur yang lain. Jalu ini memang masih terasa gelap dan masih sedikit orang yang ikut berlari bersama namun kucoba langkahkan kaki di jalur ini dan ku pun berpikir akan ada hal yang menarik akan kulalui selanjutnya. 

Di awal putaran ini tanah begitu basah dan banyak genangan yang membangkitkan kenangan di 3 putaran lalu yang biasa berhadapan dengan genangan dan kenangan. Sedikit gregetan dan jengah jemari ini untuk ikut turut terjun bersama teman lama namun tak bisa. Ku sudah di jalur yang berbeda dengan mereka sekarang, meski saat banyak genangan di awal tahun tersebut hati ingin kembali berbicara dan menari namun saya rasa cukup sudah diputaran ini ku perlu belajar lagi hal hal baru. Itu poinnya, banyak hal baru yang harus saya pelajari di awal putaran 20.

Berlari Dalam Gelap Photo by Michael Foster from Pexels

Sedikit demi sedikit ku belajar tentang jalur baru ini, ku coba peruntungan untuk belajar menggunakan sepatu yang berbeda dengan sepatu yang dulu dan tali temali untuk mengencangkannya. Membuat temali itu menjadi sedap dipandang, setiap tetes keringat hembusan angin malam yang mengiringi langkahku belajar ku yakin suatu saat akan ku petik. Ku belajar sambil berlari perlahan ikut melihat bersama orang dari dunia yang berbeda beda walau kadang ada sedikit kerikil yang menusuk sela antara jempol kaki dan jemari lainnya. Ku belajar menulis dengan ikut pelatihan menulis, memang bukan untuk berlari namun  saya rasa itu cukup penting. Ku juga belajar membuat gambar dari angka angka dengan ikut beberapa pelatihan online, tentu tidak sambil berlari, itu semua kulakukan sembari menyeruput secangkir kopi di warung anomali.

Ada beberapa kesempatan ku harus bergeser untuk berbalik sejenak ke jalur yang lama yah untuk melintas sejenak yang tak ku sangka cukup menyakitkan. Keluhan dan jengah kadang memang muncul tetapi ku tau tak bisa berlama lama rasa segan, ragu dan  bercampur lapar  ku langkahkan kaki untuk belajar. Namun raut wajah teman perjalanan yang dulu  ramah dan riang tak kusangka di putaran 20 ini sudah cukup banyak perubahan. Keramahan itu sudah sedikit hilang dan ku kecewa namun yah semua sudah berubah mungkin ada banyak permasalahan yang hinggap, akhirnya perjumpaan itu tidak berlangsung cukup lama. Padahal ingin rasanya untuk mendengar cerita cerita mereka. Ku sadar kecanggungan dan rasa asing itu memang normal terlebih saat kita berpindah jalur dari jalur lama yang banyak memberikan kesan. Rasa sentimentil kita kadang sedikit merapuhkan bahkan pada orang orang yang punya nafas  kuat sekalipun. Hehehe

Kita lanjutkan lagi, beberapa hal terus ku lihat, perhatikan dan pelajari  di sela perjalanan dan istirahat beberapa lembar koran bergambar diagram batang dan kue tart, Jalur jalur sigmoid coba ku coba ukir pada tanah di dekat tempat istirahat sementara kala itu sembari sesekali iseng bertanya kabar dengan teman teman lama. Semua itu kulakukan dengan persisten. Sembari melihat berita tentang halang rintang jauh di timur seberang laut sana yang sesekali ku menulisnya namun bukan tentang halang rintang renik bermahkota itu tetapi pada bagaimana kita tetap menjadi manusia. Yup halang rintang renik bermahkota kala itu masih jauh di seberang lautan, namun ada rekan tim lari maraton saya yang baru yang tiba ke jalur ini kami bersembilan beberapa kali  mengadakan pertemuan untuk men Cari! Beberapa hal yang pantas kami cari!, memetakan dan membuat jaring jaring permasalahan tentang maraton bersama rekan yang sudah lama di jalur ini, pak sanjungan namanya. Beberapa perbaikan jalur gelap kami coba nyalakan sedikit demi sedikit lentera, belum begitu terang namun cukup temaram untuk membimbing langkah kita bukan nya itu hal yang baik bukan hehehe. Soal halangan renik bermahkota itu, jangan ditanya lagi bahkan kini semua telah ada dimana mana ya yah sudah lah mau bagaimana lagi ya itu sudah masa lalu, mahkotanya pun sudah berganti ganti dan kita tidak tahu akan kemana lagi.

Berlari di Dua Jalur, Melelahkan Memang Namun Ada Kalian dan kamu yang Menyemangatkan dan Memberi Harapan

Setelah berkutat di Jakarta ku putuskan untuk kembali ke rumah di Lampung. Banyak perdebatan dan sesekali juga kerikil yang menyayat hati. Lihat tu tetangga si-A sudah bisa beli rumah, lihat tu tetangga si B sudah menikah dan punya anak dan gajinya sekian juta lihat si Z sudah seperti ini. Kenapa kamu tidak seperti A daftar di sini daftar di situ.  Hehehe menyebalkan memang, tapi ya sudahlah walau kadang menusuk sekali dan tak kuat mendengar kata kata menyebalkan seperti itu tetapi ku rasa perjalanan masih panjang dan ku kuatkan saja sembari membaca beberapa buku ringan. Everything is F*cked karya mark manson, Talk to Stranger karya Malcolm Gladwel dan beberapa buku yang sayangnya belum berhasil saya selesaikan seperti buku Leonardo Da Vinci karyanya Walter Isaacson, Data Science for Business karya Foster Provost.

Akhir maret tetiba ada miscall dari “kenalan lama”. Sudah lama ku coba untuk menghubunginya hahaha. Walau awalnya ku kira hanya misscall tetapi, saat itu perbincangan cukup seru. Dan komunikasi dengannya memang cukup sulit si, untuk sekedar berbincang dengan nya sudah bersyukur sekali, hehehe. Biasanya hanya hai apa kabar, hai selamat ulang tahun ya hai selamat A hai selamat B. Setelah sekian lama tak bertegur sapa akhirnya saya bisa lagi berkomunikasi dengan kawan lama, dia baik dan ramah meski terkadang sulit dipahami namun dalam setiap istirahat pekan belakangan ku coba menghubungi untuk bertanya kabar dan mendengar suara khas dan tawa renyahnya sekaligus berdiskusi ringan dan berat untuk mendengar pendapat pendapat yang tak jarang sulit ditebak 1 jam 2 jam dan 4 jam. Ku cukup senang dan bahagia untuk hal itu nice and thank you 🙂 . Oke next, anggap aja ini kisah sudah cukup lah ya ku ceritakan. Ku sediki belepotan kalau harus cerita cerita soal yang macam ini. Ku lanjut cerita ke hal lain kalau begitu.

Photo by Samuel Silitonga from Pexels

Pada akhir juni ku mendapat kesempatan untuk berdiri di dua jalur ku pun terbang ke arah tanah asal leluhurku dulu. Untuk bergeser saat itu cukup rumit, banyak hal yang perlu dipersiapkan dan sangat ketat aturannya. Banyak keraguan ku saat itu. Yang pada waktu biasa melompat kesana hanya butuh waktu satu jam namun karena halang rintang renik bermahkota semua menjadi rumit, dari memperoleh perizinan sampai segala tes harus dijalani. Berbagai protokol dan jalur jalur lewat yang relatif sulit juga harus ditempuh bahkan harus menginap di tempat penginapan di bandara.

Sesampainya di jalur baru ku juga menemukan banyak hal baru dan pemandangan baru walau karena jalurnya memang searah dengan jalur 3 putaran ku yang lalu sesekali ku berpapasan dengan kawan lama dan guru lama, beberapa orang yang memberikan banyak waktu dan banyak ilmu pada ku dulu tetap berlari searah tujuan. Salah satu dari mereka ada Beliau yang sempat berpesan bahwa kita masih satu nafas.  Sedih memang kalau mengenang beliau kini sudah tidak ada. Beberapa pimpinan jalur yang di 3 putaran lalu berlari bersama juga kini sudah menjadi pemimpin kelompok yang lebih besar dan memiliki tempat yang lebih berkilau, Beliau beliau ini saya salut dan segan karena meski di tempat baru yang lebih nyaman beliau beliau ini masih ramah dan bersahaja seperti dulu bahkan sesekali ada yang menghubungi sekedar saling mengingatkan dan bertukar kabar.

Perjalanan terus berlanjut, kakiku sedikit terasa pegal namun ku tau kita tidak boleh menyerah. Pada putaran kali ini ku mendapat  tambahan semangat semangat baru dan harapan baru.  Perjalanan terus bergulir, tak lagi hanya kerikil yang menyertai kadang yang menusuk bak duri dari tumbuhan putri malu dan ilalang yang sekedar menyapa merasuk hingga dua cm ke dalam kulit. Namun yang paling menghalangi diri justru dari dalam diri kita sendiri sebuah perasaan yang sangat sulit untuk menghadapi rasa jenuh, rasa malas, dan rasa ingin menyerah disaat hal sulit terus bergelayut kesana kemari. Memang tak jarang tak mampu kita atasi dengan baik terkadang ku menang melawan namun tak jarang juga ku harus rela mengaku kalah. Ini yang sulit bukan. Karena sulit ku juga harus ku akui ku bahkan sering tidak mengakui hal itu.

Yang Menguatkan di Putaran 20 dan Harapan di Putaran 21 yang Mungkin Sama gelapnya namun Ku yakin Kita Bisa Melalui yang Ini Lagi

Hal yang menguatkan ku di putaran 20  tidak lain karena ku telah berinvestasi pada banyak hal. Bukan bukan investasi pada emas, pada reksa dana, saham atau pada perangkat pendukung saja namun investasi terbesar yang paling memberikan arti paling besar bagiku selama putaran 20 ini adalah investasiku pada diri sendiri pada otakku, pada hatiku dan juga tentunya pada hubungan ku pada yang lain bertegur sapa dan bertanya kabar. Karena semua itu, ditambahkan berbagai macam keberuntungan dan usaha ku boleh anggap putaran 20 ini berhasil kulewati dengan cukup baik. Untuk itu melalui tulisan ini ku ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan berkah dan karunianya selama ini, pada diriku yang tetap bertahan dan tangguh di masa sulit, kepada orang tua kepada teman yang terus mendukung, kepada “Dia” yang menenangkan dan menyenangkan, dan juga kepada para “guru-guru” yang selama ini membimbing setiap jalanku, pada rekan baru yang memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berarti dan pada semuanya yang meski sekelebat namun memberikan peran dengan berbagai porsinya. Ku mensyukuri semua itu. Berkat semua hal yang kusebutkan tadi target target ku di putaran 20 ini banyak yang tercapai bahkan terlampaui berlipat lipat. Menyenangkan sekaligus menegangkan.

Menjadi manusia, itu saya rasa akan menjadi kunci kita kedepannya. Bukan hanya manusia yang menginginkan hidup, bernapas dan berkembang biak namun menjadi manusia yang berharap dan berusaha untuk menorehkan arti pada manusia lainnya dan pada segala di sekitarnya. Di putaran 21 ini fokus ku akan tetap berinvestasi pada otak dan hati dan juga pada hubungan, meneruskan hal yang tertunda. Membaca berbagai referensi tentang penyelesaian permasalahan yang terstruktur (Lean Analytics, Six Sigma) dan belajar dalam mengelola data berupa kata lanjutan dari putaran 20 dan juga beberapa literatur lain yang saya temukan nanti. Target 25 buku pada putaran 20 lalu yang hanya berhasil saya selesaikan 7 agaknya sangat nista dan saya berharap di putaran 21 ini saya berhasil menuntaskan 30 buku. Saya juga akan membaca berbagai artikel artikel lucu dari HBR, dan Medium. Oia saya juga berusaha menulis blog setidaknya seminggu sekali ya. Soal hubungan pertemanan dan percintaan saya hanya bisa berusaha lebih konsisten dan persisten saja lalu kemudian serahkan pada yang diatas hehehe. Untuk hal ini perlu ketulusan luar biasa yang perlahan meski sulit perlu kita terus pelajari dan kita terapkan dalam keseharian. Yah sekali kali khilaf tidak apa. Memang hal ini tidak berkaitan terlalu erat dengan perlombaan lari kita namun entah perasaan saya saja namun saya yakin akan bermanfaat di kemudian hari.

Photo by Jeswin Thomas from Pexels

Soal kesehatan sudah sepatutnya ku akan menjaga kebiasaan-kebiasan baik berjogging di setiap minggu, dan makan makananan yang enak macam babi guling es krim, mie ayam hehehe. Terkait karir ada hal yang memang perlu sangat saya perbaiki baik dalam manajemen waktu dan pengelolaan mood saat bekerja agar lebih produktif, saya akan mulai mengetatkan dan menyehatkan jadwal kegiatan saya. Dan terkait finansial yang dulunya saya berharap meningkat 10 kali lipat dibandingkan putaran 19 ternyata secara mengejutkan berhasil tercapai. Yang saya harapkan pada putaran 21 ini akan saya bukan coba sepuluh kali lipat lagi namun lebih dari itu ku ingin menjadi lebih bijak dalam mengelola keuangan. Lebih banyak berinvestasi pada hal hal yang berguna dan bermakna sembari meningkatkan dan berjaga jaga agar tidak terjebak pada orientasi pada uang yang berlebihan dan saya rasa itu jelek sekali dan merusak kesenangan kita dalam bekerja. 

Itu saja yang kuharapkan di putaran 21. Saya rasa tulisan ini sudah terlampau panjang dan mengarah tidak tahu jundrungannya. Rencana ini memang masih sangat abstrak dan belum terperinci, saya sadar hal itu. Namun saya rasa berlayar tanpa peta akan mengasyikkan. #mungkin.

Selamat tahun baru semua. Mari kita berlari lagi, dan lalui semua ini bersama, mungkin berat di depan sana namun tidak ada salahnya kita untuk tetap berharap.

Yah, memang akhirnya putaran ini berhasil kita lalui bersama, namun kita pun mengetahui kalau tidak sedikit  yang kurang beruntung hingga mereka tidak mampu mencapai titik ini. Mereka yang kita kenal yang berbicara diskusi dan bercengkrama mungkin tidak akan lagi bisa melanjutkan marathon ini menuju putaran 21 22 dan putaran putaran selanjutnya. Namun ku tersadar ini bukanlah sekedar perlombaan maraton. Ada berbagai tongkat mimpi yang saling kita pertukarkan antara pelari satu dan pelari lain. Ada tongkat harapan yang kita bagi antara pelari satu dan pelari yang lain.  Ada pula tongkat berbalut tetes keringat, tangis bahkan darah yang kita genggam bersama untuk membawa perjalanan kita berarti bagi pelari pelari berikutnya. Maraton putaran kali ini memang cukup berat. Namun bukan berarti tidak ada harapan sama sekali, tidak ada mimpi yang bisa digapai tidak ada pertolongan yang bisa diharapkan. Dalam putaran ini kita diajarkan bersama tidak berbatas pada bersama dalam jarak. Namun lebih dari itu, kebersamaan memiliki artian yang lebih luas, kita punya satu nafas, kita punya satu arah. Tetap bersama mari kita bersama berlari melanjutkan hal yang telah kita rintis di putaran putaran terdahulu bersama pelari yang dahulu untuk menyongsong jalur dan senyum yang baru. Dengan begitu kita akan tetap menjadi manusia. 

NB:

Feature Photo by Jeswin Thomas from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Cerita tentang Tak Pasti

December 9, 2020 — by dewaputuam0

pexels-pixabay-258510-960x720.jpg

Aku pasti jatuh lagi yah,..

kata seorang anak kecil berkaki kecil kepada ayahnya sambil menuntun sepeda kecil beroda dua. Dua roda mungil tambahan yang biasa terpasang di kanan dan kiri roda belakang sepeda hilang entah kemana. Ia memiliki keinginan keras untuk menaiki sepedanya, namun hilangnya roda tambahan yang selama ini menopangnya membuat ia berpikir lebih banyak dari biasanya. Jatuh adalah satu satunya yang terpikir olehnya, sebuah bayangan ketakutan akan sakitnya saat jatuh terus bergelayut di antara alam pikirnya yang masih sebatas mata memandang saja.

Belajar Sepeda itu Sulit dan Menyakitkan Apalagi saat Terjatuh

Sambil tersenyum jahil sang ayah pun memutar bola matanya dan seketika sudah berganti wajah menjadi penuh semangat dan gairah, ia dengan perlahan berkata 

“Pasti jatuh..? yakin ?” senyumnya tersungging kecil menggoda anaknya yang sedang bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Bahunya mulai melebar dan merentangkan tangan bersiap siap menjaga jaga segala kemungkinan seiring gerakan si anak kecil itu yang mulai bersiap menaiki sepeda kecilnya itu. Tanpa sepengetahuan si anak kecil, ia memang telah menyembunyikan kedua roda tambahan dari sepeda kecil anaknya. Trik sederhana dan kebohongan kecil yang sengaja dilakukan agar si anak kecil itu dapat memulai kayuhan pertamanya tanpa ditopang roda bantu lagi.

Sepeda (Sumber: Photo by Roman Koval from Pexels)

Anak kecil berkaki kecil itu kembali ke posisi siap mengayuh sepeda kecilnya lagi dan sang ayah berada di sekitar anak kecil itu. Kaki kanannya  mulai diletakkan di pedal sepedanya dan memulai kayuhan pertamanya. Sepeda Pun mulai bergerak namun terhuyung kekanan dan kiri, genggaman anak kecil itu pada setang sepeda kecilnya masih belum terlatih untuk menjaga putaran ban sehingga meliuk kanan dan kiri sebelum jatuh terjerembab. Berkali kali anak kecil itu terjatuh lagi dan lagi hingga akhirnya bersama jingga langit senja, samar samar terlihat siluet anak kecil itu mengayuh sepedanya jauh dan terus menjauh dari sang ayah.

Dari apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir, banyak hal yang saya pelajari dari hal yang sangat remeh seperti menyimpan buah pisang di dalam lemari es ternyata bukan ide yang bagus karena pisang akan rusak dalam waktu semalam saja. Pelajaran tentang bersepeda,  Hingga hal hal yang kurang begitu sederhana seperti yah sudah lah tidak perlu dibahas di sini. Hehe.

Ini Cerita Tentang Tak Pasti

Namun pelajaran yang menurut saya penting dan menurut saya tetap relevan setidaknya hingga beberapa dekade ke depan adalah tentang “Ketidakpastian”. Dari apa yang terjadi selama ini “Ketidakpastian itu satu-satunya yang pasti”. 

Ku banyak belajar tentang ketidak pastian ini dari berbagai kegagalan yang saya hadapi selama ini, saya rasa semua orang tentu pernah merasakannya. Tentunya dengan porsinya masing masing. Adanya ketidakpastian yang menari indah bersama ekspektasi yang tinggi ditambah dengan bumbu bumbu kurangnya keberuntungan, dan berbagai faktor x kadang membawa kita pada kegagalan. Namun dalam berbagai situasi yang bumbu bumbunya sama tidak jarang justru membawa kita pada keberhasilan yang bahkan tidak pernah kita duga sebelumnya.

Jika tidak mau disebut semua, saya akan PD berkata bahwa “Hampir segala” hal disekitar kita mengandung suatu ketidakpastian. Ada ketidakpastian di dalam permainan dadu, dan bahkan ada pula ketidakpastian arah terbitnya Sang Raja Siang. Sang Mentari tidak pasti selalu terbit dari arah Timur. Beberapa bulan ini condong ke Utara lain waktu condong ke Selatan. Secara semu terus aja begitu berganti arah terbit sambil menebar ketidakpastian pada angin, hujan, badai dan sanak perudaraannya. Dalam sesuatu hal yang kita anggap pasti bukan tidak mungkin tanpa diduga akan ada suatu penyimpangan yang membuat kadar kepastian itu tidak lagi 100%. 

Hal ini menjadi kian tidak pasti saat kita sama sama memasuki tahun 2020 yang oleh sebagian orang “mungkin” menjadi salah satu tahun terburuk yang pernah kita rasakan. Saya mengatakan “mungkin” karena pernyataan itu juga mengandung ketidakpastian. Tentunya saya tidak ingin melanjutkan kalimat kini pada kemungkinan kemungkinan lainnya mengingat sudah terlalu banyak kehilangan yang kita rasakan pada tahun 2020 ini. Entahlah dengan 2021 yang akan kita songsong dalam waktu dekat ini.

Saat saya membuat tulisan ini awalnya saya sangat PD bahwa “Pasti itu tidak ada”. Dan ternyata setelah dipikir pikir, bahkan pernyataan itu pun bukan pernyataan yang pasti. Hah sudahlah agaknya tidaklah perlu kita terlalu memikirkan dan mencurahkan segala pikiran kita pada sesuatu yang tak pasti. Jika meminjam istilah pada film yang baru saja tamat pada minggu kini, 

“Berlayar tanpa Peta” agaknya menjadi sesuatu yang menarik untuk dilakukan, tentunya bukan serta merta dengan bodohnya bergerak tanpa kendali dan arah yang pasti. Tetapi saya justru melihat berlayar tanpa peta juga berarti dalam menjalani hidup tidaklah perlu mempunyai perencanaan yang terlalu detail dan membebani. Peta yang ada saat ini, tidaklah secara pasti menggambarkan situasi saat ini, bukan tidak mungkin banyak perubahan yang terjadi yang menyebabkan saat kita terlalu terpaku pada peta justru kita tidak mampu merespon apa apa saja yang terjadi sekarang dengan cekatan. Semua hal berubah dari ombak hingga angin, bahkan tujuan kita juga terkadang dalam suatu situasi diharuskan berubah karena sesuatu dan lain hal. Kembali lagi pada tidak pasti.

Namun apapun itu justru dengan ketidakpastian itulah yang membuat perjalanan kita menjadi menarik bukan. 🙂 (Jadi penasaran apa yang akan terjadi kedepannya).

Yup apapun yang ada di depan ntah itu menyakitkan ataupun justru menyenangkan agaknya akan semakin seru dan menarik. Mungkin ini awalan yang cukup baik untuk memulai perjalanan baru ini sebuah perjalanan yang panjang. Sebuah perjalanan yang tak pasti.

Feature Photo by Pixabay from Pexels