Dua kali saya diberi komentar oleh salah satu pimpinan saya di kantor untuk siap-siap digantikan AI. Dan mungkin ini juga yang menjadi pertanyaan banyak orang (khususnya knowledge worker) yang dalam kesehariannya selalu berkutat dengan data dan kata. Kedua hal ini yang makanan paling bergizi bagi AI dan tentunya peluang tergantikannya sangatlah besar.
Sejenak saya berpikir, AI memang secara sadar atau tidak sadar sudah menjadi bagian dalam keseharian kita. Dari perannya yang memberikan pilihan tentang konten untuk dikonsumsi, hingga yang beberapa tahun ini berupa chat berbasis LLM seperti chatGPT dan model lainnya yang sudah tidak terlalu asing juga kita gunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan kita. Sampai sejauh ini peran AI lebih banyak digunakan sebagai alat bantu merangkum dan menelusuri berbagai informasi, seperti situs pencarian tetapi informasi yang disediakan sudah masak. Inilah level awal dari Generatif AI yang selama ini kita kenal.
Di akhir tahun 2025 hinggal awal 2026 sebenarnya trend AI mulai berubah. AI yang sebelumnya bersifat pasif dan menjawab apa yang kita ingin tanyakan, saat ini mulai lebih kreatif bahkan proaktif mengerjakan tugas sesuai tujuan yang ingin kita capai. Beberapa AI memang diatur sedemikian rupa agar mematuhi alur kerja yang sudah ditentukan, sedangkan lainnya sudah menentukan sendiri alur yang ia akan tempuh demi menyelesaikan misi nya itu. Kedua hal ini lah yang saat ini sering disebut sebagai Agent AI (Rulebase Agent AI dan Agentic AI).
Banyak sekali perkembangan AI dan Agent AI saya ikuti dan coba saya pelajari secara otodidak baik dari beberapa artikel dari HBR, Medium maupun Youtube . Hingga akhirnya, beberapa bulan belakangan ini saya mendapatkan kesempatan baik untuk belajar bersama untuk mengenal Agent AI. Kesempatan ini saya dapatkan dari BPBD yang di tahun 2026 ingin memperkuat pengelolaan data dan informasinya melalui bantuan AI. Meskipun harus saya akui bahwa di awal sebenarnya saya sedikit ragu dengan konsep Agent AI ini, karena di awal tahun usecase dari Agent AI yang diperlihatkan selalu berkutat pada “memesan tiket pesawat” 😅 sudah berapa video memesan tiket pesawat diperagakan oleh agent AI di awal tahun itu.
Tapi seiring perkembangan tehnologi AI yang sangat cepat, Agent AI pun semakin terlihat use casenya. Pada tulisan ini saya akan sedikit bercerita tentang apa yang saya pelajari sekaligus yang sudah gunakan hingga saat ini, tentunya dalam konteks penanggulangan bencana.
Staff tanpa Emosi yang bekerja 24/7 secara terukur dan “konsisten”

Dalam beberapa penelitian terakhir ada indikasi bahwa AI mulai memiliki emosi, tetapi pada dasarnya AI khususnya yang berbasis LLM hanyalah sebuah rumus matematis kompleks untuk mengolah kata . Jadi apa yang dihasilkan tidak akan terlepas dari data “kata” yang diberikan untuk melatih model tersebut. Jadi hingga saat ini masih aman jika kita katakan bahwa AI masih merupakan mesin komputasi kata yang kompleks yang tidak memiliki emosi.
Hal ini penting diungkapkan diawal agar jangan sampai kita beranggapan bahwa AI itu sebuah entitas yang punya tanggung jawab terhadap apa yang dihasilkan baik secara moral maupun etis. AI hanyalah alat dan tanggung jawab dari hasil keluarannya tentu berada pada diri kita sendiri yang menggunakan.
Salah satu tanggung jawab yang sedang ramai adalah AI yang merupakan mesin komputasi canggih ini meskipun kian lama kiat kuat ternyata untuk melakukan kerjanya sangat boros sumber daya energi dan air. Jadi di awal kita perlu bijak juga dalam memanfaatkan AI. Terlebih jika kita ingin memperkerjakan AI 24/7 yang tentunya akan menghabiskan banyak sumber daya itu.
Terlepas dari semua tantangan yang ada bisa dikatakan salah satu keunggulan AI saat ini adalah kemampuan untuk beroperasi 24/7 dengan “konsistensi” yang lebih terukur. Saya beri tanda petik untuk kata konsisten karena pada dasarnya AI bukanlah model deterministik yang menghasilkan hal yang sama untuk masukan yang sama. AI merupakan model probabilitas yang keluarannya merupakan gambaran alur kata “paling mungkin” berdasarkan data hasil training AI dan bukan berdasarkan alur kata yang benar. Hal ini yang kemudian menyebabkan selalu ada peluang halusinasi dari AI. Untuk mengatasi ketidakkonsistenan ini ada baiknya kita memberi makan AI dengan konteks pengetahuan yang kita inginkan yang salah satu caranya melalui Retrieval-Augmented Generation (RAG).
Kombinasi antara bisa beroperasi 24/7 dengan kematangan akan konteks melalui pendekatan RAG ini menjadi faktor pembeda dari AI yang membuatnya bisa dioptimalkan untuk memberikan layanan tanpa jeda dengan kontekstual yang baik dan konsisten. Kedua hal ini khususnya di bidang kebencanaan akan menjadi alasan kuat untuk mengadopsi Agent AI dalam bisnis prosesnya.
Satu hal perlu dipahami bahwa kelemahan AI yang minim emosinya dan nir empati menyebabkan AI tentunya tidak dapat serta merta kita pergunakan secara langsung berhadapan dengan masyarakat terlebih dalam penaggulangan kebencanaan yang dalam penerapannya emosi dan empati menjadi salah satu kunci wajib yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu dalam setiap penerapannya perlu dipastikan bahwa AI tetap dipergunakan sebagai alat bantu bukan pengganti manusia. Dari sini sebenarnya sudah sedikit menjawab pertanyaan di awal tulisan ini.
Artificial Intelligence (AI) atau Intelligence Augmentations (IA)

Untuk menjawab pertanyaan awal tentang apakah kita para knowledge worker akan digantikan oleh AI? Jawabannya hampir sudah pasti ia dan akan tergantikan segera, karena dengan perkembangan model AI yang ada saat ini saja sudah melampaui kecerdasan orang kebanyakan termasuk saya tentunya 😅.
Pemahaman kontekstual pun sedikit banyak sudah mulai ditangani dengan berbagai macam cara. Keberadaan AI Agent akan menjadi ancaman nyata bagi para pekerja berbasis pengetahuan seperti yang saya kerjakan saat ini. Pernyataan “rasa” sebagai satu keunggulan hasil dari manusia saya rasa tidak cukup kuat untuk menolak perubahan besar akibat AI ini.
Dari satu pertanyaan awal itu kita perlu menjawab dengan apa yang kita “rasa“ susuai dengan “rasa” kita. Menurut saya ada dua pilihan yang tersisa untuk kita yaitu bergeser ke sektor lain (mungkin bisa ternak bebek ke desa) atau justru beradaptasi dengan perkembangan AI untuk membangun yang disebut dengan Intelligence Augmentations (IA).
Konsep IA pada dasarnya mengolahorasikan kecerdasan kognitif kita sebagai manusia yang mengetahui mana yang benar dan salah dengan kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan luar biasa dalam memahami pola. Sampai sejauh ini setidaknya ada beberapa poin strategi yang perlu kita lakukan saat ini agar tetap relevan untuk berkopetisi.
Ketika AI terus belajar maka kita harus Belajar Terus dengan Perkembangan AI

Meskipun kadang tentunya akan sangat menjenuhkan, tapi ini jadi salah satu poin penting agar tetap relevan ditengah perkembangan teknologi AI yang sangat cepat ini. Mungkin baru beberapa tahun yang lalu kecerdasan AI masih setara dengan anak TK, tapi perkembangan AI saat ini sudah jauh melampaui itu. Bisa dikatakan AI saat ini telah melampau kecerdasan hampir sebagian besar manusia dan bahkan dalam beberapa hal, jarak perbedaan itu terlihat sangat nyata.
Perkembangan yang perlu kita ikuti bukan hanya sebatas model mana yang paling cerdas tetapi saat ini perlombaan AI sudah menuju pada AI mana yang semakin relevan dan dapat disematkan dalam alur kegiatan kita. Salah satu yang sedang ramai adalah Muse dari Meta yang saat ini telah bisa diminta untuk berbelanja dan melakukan berbagai hal termasuk pesan tiket pesawat 😅.
Berbagai perangkat berbasis AI terus bermunculan dan terus merubah cara kita berinteraksi dan bekerja dengan menggunakan AI. Mungkin dulu kita hanya bisa berbincang bincang dengan AI melalui chatbot, saat ini kita bahkan sudah bisa meminta AI memegang kendali komputer kita untuk mengerjakan sesuatu melalui perintah suara. Cara ini (kerja melalui perintah suara) saya akui cukup seru untuk dilakukan tetapi setelah dicoba sepertinya masih perlu kita tunggu lagi perkembangannya kedepan.
Kesemua kerja itu dapat dilakukan dengan mengoptimalkan akses AI kepada basis pengetahuan kita baik melalui akses ke folder dokumen kuta secara langsung ataupun melalui basis pengetahuan berbasis data vector. Kedua hal ini yang menurut saya jadi hal kunci agar hasil yang dikeluarkan oleh AI diminimalisirkan dari halusinasi.
Model Context Protocol (MCP) menjadi hal wajib lainnya agar AI lebih berguna. Dengan adanya MCP, maka AI dapat menggunakan berbagai macam perangkat yang kita gunakan seperti aplikasi mencatat (Notion, office) aplikasi desain seperti Canva hingga aplikasi untuk pembuatan peta seperti QGIS. Saat ini yang paling kaya akan MCP ini adalah AI milik Antrhopic (Claude) dan milik OpenAI (ChatGPT). sedangkan Gemini masih kurang begitu banyak tools yang dapat terhubung.
Kedua hal tersebut jika dikombinasikan dengan tools untuk membuat alur kerja otomatisasi seperti n8n dan berbagai macam aplikasi lainnya (Openclaw, Hermes) dan lainnya, akan membuat AI dapat lebih bekerja untuk kita. Selebihnya ya tinggal dari kita saja untuk terus mengikuti perkembangan yang terjadi karena perkembangan AI itu memang secepat itu dah hampir tiap bulan akan ada hal baru yang terjadi.
Selain dari sisi teknologi nya Satu yang tidak kalah penting untuk dipelajari terkait AI adalah berbagai riset dan kajian tentang pemanfaatan AI yang sayangnya di Indonesia hal ini masih belum banyak saya lihat diulas secara mendalam. Beberapa artikel menarik tentang bagaimana peluang dan berbagai tantangan tentang penerapan AI justru banyak saya temukan dalam artikel yang dipublish di HBR.
Perkuat Strategi penggunaan AI dalam alur kerja kita

Pertama, kita harus menggunakan AI. Biar bagaimanapun penggunaan AI saat ini bukan lagi sebagai pilihan melainkan menjadi normal baru. Namun tentunya penggunaan AI ini perlu transparasi dan juga disertai dengan tanggung jawab penuh akan proses dan hasilnya. Jangan meng-outsourcing-kan daya pikir kita pada AI dengan menyerahkan 100% alur dan hasil kepada model AI itu. Karena sepengalaman saya, AI bisa sangat meyakinkan bahkan saat dia berhalusiansi.
Kita harus memperhatikan juga bagian mana yang bisa didelegasikan kepada AI dan bagian mana yang harus ada campur tangan pemikiran kita sebagai manusia. Untuk berbagai hal yang sangat berkaitan dengan etika dan moral , baiknya tidak boleh diberikan kepada AI. Istilah lainnya adalah kita perlu membuat Guardrail yang jelas saat kita ingin mngadopsi AI kedalam workflow kita. Pastikan selalu ada peran manusia dalam setiap flow nya (human in the loop).
Kedua, perkuat basis pengetahuan tacit dan explisit kita. Sebisa mungkin berbagai digitalisasikan pemikiran dan pemahaman kita baik dari artikel yang kita baca, konten, buku, diskusi dan berbagai hal sebaiknya mulai kita digitalisasikan agar kita memiliki kekayaan konteks yang dapat kita pergunakan sebagai referensi alur kerja AI kita.
Untuk itu yang saya lakukan saat ini memanfaatkan Obsidian Note, Apple Note dan juga Notion untuk mencatat berbagai informasi dan pengetahuan yang saya dapatkan baik dari diskusi, rapat, kegiatan, artikel bahkan video yang saya tonton. Ketiga tools pencatatan itu MCP nya sudah terhubung dengan aplikasi AI yang saya gunakan (Claude dan ChatGPT). Selain catatan tadi saya juga sedang mengeksplorasi untuk mengekstrksi pengetahuan dari buku dengan cara merubahnya menjadi Vector Database. Ini saya lakukan dengan tujuan agar AI yang saya gunakan dapat lebih memiliki konteks yang matang tentang lingkup kerja yang saya lakukan.
Ketiga yaitu Belajar Otomatisasi. Tanpa adanya otomatisasi, AI tetap hanya akan menjadi chatbot biasa yang hanya menjawab pertanyaan kita. Dengan adanya otomatisasi AI akan bekerja sesuai dengan alur kerja yang kita inginkan. Ini seperti kita membuat SOP untuk AI. Saya biasanya menggunakan sistem otomatisasi ini dengan kenggunakan triger waktu (sceduling) dan di Notion saya juga buat triger berupa perintah atau status kerja di page catatan saya.
Sejauh ini proses otomatisasi sistem bisa dilakukan dengan berbagai macam tools. Salah satu yang sudah lama ada dan sayangnya saya baru belajar adalah tools n8n. Tools ini pada dasarnya sebuah aplikasi yang dapat kita gunakan untuk membangun proses kerja (bentuknya seperti flowchart) yang didalmnyq bisa kita sertai juga dengan AI (meskipun tidak semuanya).
Ke Empat dan jadi yang terakhir adalah berani investasi ke AI baik dari sisi waktu maupun penbiayaan. Hal ini dikarenakan untuk dapat mengakses berbagai kemampuan AI yang lebih luas tentunya kita membutuhkan akses AI yang premium. Perbedaan AI gratis dan premium sangatlah nyata terasa bukan hanya dari sisi kuota token yang digunakan tetapi juga integrasinya dengan berbagai perangkat baik yang berada satu ekosistem maupun di luar ekosistem AI tersebut.
😅 Jujur ku sudah banyak menginvestasikan biaya dan waktu saya di sini. Dan saya rasa cukup worth it bila kita ingin mengeksplorasi AI dengan maksimal. Yah walau dalam beberapa hal masih banyak yang saya rasa masih terbuang percuma kuotanya karena belum terpakai banyak.
Setidaknya emoat itu saja yang selama ini saya jadikan patokan strategi saya untuk tetap relevan di era Agent AI ini. Dalam beberapa hal memang masih banyak yang perlu saya pelajari tetapi saya rasa ini jalan yang sudah tepat.
Bagaimana dengan mu? Apakah ada staregi dan kiat khusus untuk menghadapi perkembangan jaman kali ini? Oh ia meskipun penbahasan pada tulisan ini tentang AI, tetapi apa yang saya tulis di sini 100% tanpa campur tangan AI ya 🤣🤣.
Salam hangat dari saya
Dewa Putu AM