Pada tanggal 17 Juni 2025 kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang inisiasi Unit Layanan Disabibilas dari beberapa Provinsi dampingan Project SIAP SIAGA. Dalam kegiatan tersebut banyak sekali hal yang menurut saya membuka cara pandang saya mengenai Difabel.
Salah satunya adalah penggunaan kata Difabel (Diferen Abilitas) tetimbang penggunaan kata DIsabilitas, makna dari kata difabel memanglah lebih baik. Kata Disabilitas yang saat ini saat ini lebih banyak digunakan dalam berbagai kebijakan sebenarnya sudah lebih baik bila dibandingkan dengan kata sebelumnya yakni Tuna atau Cacat. Namun demikian kata “Dis” disini bermakna ketidak atau ketiadaan ini yang sebenarnya akan lebih etis bila digantikan dengan kata Dif “Diference” yang lebih menekankan pada perbedaan kemampuan.
Itu baru dari penggunaan frasa untuk penamaannya, dari satu hari penuh belajar dengan para pakar dibidangnya ini tetunya banyak sekali wawasan baru yang saya dapatkan. Mungkin sekilas saya bagikan dalam tulisan ini.
Bukan sekedar Kondisi Internal namun Juga Hambatan Akses
Teman teman Difabel kita, sebenarnya memiliki kemampuan dan keberdayaan yang sama seperti kita bahkan dalam beberapa hal justru memiliki kelebihan yang tidak kaleng kaleng. Hanya saja memang harus diakui juga di tengah masyarakat kini masih saja banyak stigma negatif yang sayangnya menutupi berbagai hal menabjubkan dari mereka. Ini bukan kalimat kiasan, karena kenyataannya memang seperti itu dan ditunjukan langsung oleh para pembicara, fasilitator dan peserta di kegiatan ini.
Ada satu kutipan dari Cak Fu (Seorang Fasilitator acara tersebut yang difabel fisik
“Apapun yang anda lihat tentang disabilitas itu hanya perspektif dan bukan fakta, apapun yang anda dengar hanya opini bukan kebenaran, kecuali anda mengalaminya sendiri”
Saya sangat suka kutipan ini karena harus saya akui bahwa tidak jarang kita merasa “sangat tahu soal difabel” sehingga dalam beberapa kesempatan kita “mengira-ngira” apa yang dibutuhkan.
Dalam menjalankan kehidupannya dan juga berkarya, rekan kita yang difabel bukan hanya terhambat karena keberagaman internal dalam diri mereka, namun juga hambatan yang bersifat eksternal (akses).
Salah satu contohnya, yang mungkin beberapa kali menjadi sorotan dan mudah terlihat adalah keberadaan jalur kuning untuk difabel netra yang ada di trotoar-trotoar kita yang masih banyak yang ramah difabel dengan Guiding Block yang penempatannya baik. Belum lagi akses pada fasilitas umum lain yang umumnya masih belum ramah difabel.
Batasan batasan eksternal inilah yang kemudian membuat rekan difabel menjadi kesulitan jangankan untuk berkarya seperti kita bahkan untuk hal hal basic saja sulit. Meskipun demikian, dalam segala hambatan dari eksternal yang masih belum banyak terurus tersebut, beberapa diantara mereka dengan laur biasa menghasilkan berbagai macam karya, apalagi kalau hambatan eksternal itu bisa sedikit demi sedikit kita kurangi. Bayangkan seberapa kaya kita akan potensi potensi karya dari mereka kedepannya.
bencana Bisa menghadirkan Difabel Baru
Dalam konteks penanganan bencana, pemahaman tentang difabel menjadi semakin penting. Hal ini mengingat kejadian bencana bisa saja menambah atau juga memperparah rekan rekan kita yang difabel.
Hal ini disampaikan oleh pembicara dalam pemaparannya, bahwa rekan rekan difabel sensorik (tuli dan netra) sering mengalami kendala dalam mengakses informasi peringatan dini dan juga kejadian bencana. Hal ini mengakibatkan keterlambatan mereka dalam merespon terhadap informasi tersebut sehingga potensi dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan lainnya.
Berbeda dengan difabel sensorik yang sulit terhambat dalam memahami situasi yang ada, rekan kita yang difabel fisik mendapatkan tantangan dalam merespon. Contoh yang disampaikan pembicara, dalam kejadian bencana seperti banjir dan gempa tentu rekan difabel fisik akan membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk menyelamatkan diri.
Dan dilokasi pengungsian hal ini juga menjadi pertimbangan yang berat juga karena tidak semua tempat menyediakan mereka akses yang mudah terkhusus untuk keperluan dasar salah satunya urusan ke toilet misalnya.
Selain pada rekan kita yang difabel, kita semua sebenarnya juga punya potensi untuk jadi difabel baru akibat bencana. Dan di sini biasanya akan lebih berat karena selain secara fisik, secara psikologi juga akan terdampak, dan dari sisi keluarga juga akan kesulitan untuk beradaptasi dengan “kondisi baru” dari para difabel akibat bencana. Dengan penanganan yang tidak tepat justru akan berakibat fatal.
Oleh karena itu, melalui pembelajaran yang dilakukan di tanggal 17 Juni tersebut, dari Bali kemudian belajar dan berinisiasi untuk membentuk Unit Layanan Disabilitas untuk Penaggulangan Bencana yang semoga dapat terwujud di bulan Agustus ini. #Semoga ya segala urusan baik ini dapat lancar terlaksana :).
Mungkin itu saja dari saya pada tulisan ini
Sepertinya menarik kalau memasukan isight soal ini lagi ya di blog saya, dan mungkin teman teman juga tertarik membaca tulisan lain saya seperti Filosofi Nguwongke WOng
Salam
Dewa Putu A.M.









Leave a Reply