Buku inisangat underated, bahkan pada awalnya saya mengira buku ini buku yang menye menye yang mengumbar kesedihan. Dan setelah menyelesaikan membacanya, ternyata saya salah. Buku yang saya anggap menye menye ini ternyata buku tentang orang yang kuat saudara saudara. Ini tentang penerimaan perjuangan tanpa menyerah seorang anak sebatang kara dengan berbagai cobaan hidupnya.
Boy Candra dalam bukunya ini memberikan kita perspektif yang unik antara penerimaan nasib yang malang sekaligus juga keengganan untuk menyerah pada nasib. Segala pergelutan antara putus asa, menerima namun tak mau menyerah terus dinarasikan dengan apik dari kumpulan sajak yang diceritakan sebagai isi buku catatan seorang anak yang sedang dibaca seorang bapak tua yang nasib waktu mudanya mirip dengan anak itu.
Buku ini terfokus pada kisah anak muda tidak dikenal (melalui catatan catatan) dalam buku yang ditemukan oleh bapak bapak tua. Yah, kisah bapak bapak ini merupakan frame yang membungkus sekaligus gerbang awal kita untuk mendapatkan kisah yang sesungguhnya. Pendekatan yang menarik si 😊.
Kumpulan Puisi yang Menjalin Sebuah Cerita Tentang Kekuatan
“Bu, tidak ada teman menangis malam ini.Aku menenangkan air mataku sendirian. Aku mengusap dadaku sendirian. Aku menguatkan lagi diriku sendirian. Aku sering bicara pada diri sendiri. Lalu aku dan diriku mengenangmu untuk menguatkan diri di bumi ini”
Paragraf penuh dengan pergolakan batin antara rapuh kepasrahan, namun tetap ingin berjuang bertebaran di sebagian besar isi buku ini. Bukan toxic positifity yang mengagung agungkan semua hal akan baik baik saja, semua hal akan bisa berjalan bila kita terus optimis.

Bukan itu pandangan yang diambil di buku ini. Buku ini justru menghadirkan polosnya sang tokoh aku dan penerimaan dia terhadap kepedihan dan kesepian yang ia hadapi.
Ia mengakui semua hal sedih yang ia dapatkan saat menjalani hidupnya yang sebatang kara. Dia mengakui bahwa banyak sekali hal yang membuatnya semakin sepi dan terluka, tetapi kerennya dan juga dengan polosnya ia tetap ingin berjuang untuk menjalani hidup demi agar saat bertemu dengan ibunya yang sudah tiada ia bisa dengan bangga bercerita tentang bagaimana ia menjalani hidupnya. #Absolutly Cinema# 😍
Kesimpulan Ku Tentang buku ini
Singkat saja, beli sudah ini buku bagus dan recomended banget. Selain bukunya termasuk tipis dan ringan di baca juga buku ini bisa kasih kita sedih sedih terharu.
Jalan ceritanya termasuk enak untuk diikutin dan bertebaran kata kata indah yang bisa dijadikan quotes keren untuk diposting di sosial media kita si hehehe.
Dan yang paling saya suka dari buku ini dan berkali kali saya ungkapan di tulisan ini adalah cara pandang dan penyampaian di buku ini seperti jujur. Jujur terhadap diri memang tidak sedang baik baik saja tetapi tetap berusaha sepenuh tenaga untuk menghadapinya.
Dan coba baca kutipan dibawah ini lagi, yang tertulis pada cover belakang buku sekaligus menjadi hook utama saya kenapa saya tertarik untuk membaca buku ini.
“Jika nanti aku tidak pernah jadi yang terbaik seperti harapanmu, jika doa-doamu tentang aku ternyata tidak terkabul, tetaplah anggap aku anakmu. Selagi ada diriku di dunia ini, aku tidak akan pernah berhenti membuatmu merasa bangga memilikiku. Anak yang keras kepala meski banyak lelah menghadapi dunia”
Sedep banget kan ya bagaimana seorang Boy Candra menjalin kata kata nya. Tidak salah lah saya memilih buku ini sebagai buku ke 8 yang selesai saya baca di tahun ini. Baca ulasan buku yang saya baca sebelumnya.









Leave a Reply