Pada 11 Mei 2025 lalu akhirnya saya mendapatkan kesempatan kembali untuk menjajal rute Trail Run di BTR 2025. Sebenrnya rute tahun ini masih sama dengan rute tahun 2024 lalu saat saya mencicipi event Trail Run untuk pertama kalainya. Namun tetap saja sensasi berlalri di gunung batur selalu istimewa. Yah saat naik memang lebih banyak waktu saya habiskan untuk berjalan perlahan seperti pendakian pada umumnya. Namun saat mendapatkan rute menurun yang masih oke untuk lari, tentu bisa lah di gass tipis tipis.
Rute 15 K Menyusuri Gunung Batur
Meskipun tertulis rute sejauh 15K namun dalam kenyataannya, jarak yang harus saya tempuh untuk menyelesaikan event lari lintas alam ini bisa mencapai 17K. Sebuah jarak yang tidak terlalu membebani sebenarnya jika berlari di jalan raya. Namun trail run seni nya bukan di situ. Ini naik turun gunung, untuk kelas 15K, kita akan dibawa naik turun gunung batur dan melintasi area Black lava.
Rutenya bervariasi dari jalan raya dan masuk hutan yang terus menanjak hingga kilometer 6 atau 7 dan kemudian turun sedikit dan terus menanjak hingga km 8 sampai puncak. baru setelah itu kita akan dibawa ke padang rumput dan juga melintasi turunan pasir di Pasir Culali.
Sekedar gambaran rute yang harus saya tempuh bisa dilihat pada sisipan dari catatan strava saya pada saat mengikuti Trail Run.
Dalam event ini ada beberapa kelas dari 7K, 15K, 30K, 60K dan kelas terbaru adalah 100K. Tentu sebagai orang yang masih pemula seperti saya 15K itu sudah menjadi tantangan yang sangat berat. Tantangannya bisa saya ibaratkan 15K itu satu level lebih tinggi dari HM di Road run, tetapi masih sedikit di bawah marathon. Itu kalau saya kira kira efort yang harus saya upayakan.
Tentu patokan ini akan bergantung dari rute setiap event ya, karena variasi rintangan yang diberikan setiap event akan berbeda. Bisa saja lebih mudah dan sangat mungkin juga justru lebih susah dari event lari BTR.
Terkait jarak ini, saya jadi tertarik untuk mencoba jarak lebih jauh di tahun depan, 30K sepertinya bisa menjadi tantangan yang cukup menarik. Namun tentunya harus lebih serius lagi mempersiapkan semuanya.
Trail Run jadi Kontenplasi Diri Colongan
Sepanjang perjalanan saya mencoba terus mensugesti diri saya untuk terus semangat dengan coba menganggap rute yang saya lalui semestinya mudah karena sudah pernah. Saya terus merancau “ayo ini pasti bisa lebih cepat dari sebelumnya”. Sambil sekali kali menikmati pemandangan dari setiap rute yang dilalui.
Strategi itu 80% berhasil, yah khususnya untuk “menikmati momen di setiap rute” nya. Namun karena terlalu menikmati momennya ada beberapa kali saya kehilangan kewaspadaan saya dan akhirnya terguling di turunan Pasir Culali dan menghasilkan oleh oleh luka di betis. Tidak terlalu parah tetapi malunya lumayan nyelekit hahaha.
Dan juga di kilometer terakhir juga saya terlalu pongah dan menyepelekan perjalanan sambil bernyanyi lagu “Manusia Kuat” dari Tulus tapi mengganti diksi kuat menjadi Rungkat. Jadinya manusia manusia rungkat, itu kitaa jiwa jiwa yang rungkat.
Tidak sampai 5 menit setelah bernyanyi itu, otot paha langsung tertarik dari semulanya hanya luka tipis saja di betis di KM terakhir jadinya terpincang pincang hehehe. memang kutukan sipahit lidah masih bisa berlaku ke diri sendiri ya.
Sepanjang perjalanan ini ada banyak pelajaran yang dapat saya rasakan. Di awal memang jalan hutan dan masih dengan rombongan meskipunsesekali ada pula yang tersalip dan kita juga menyalip, namun setidaknya gerbong masih banyak. Ini sama dengan kita yang banyak teman di awal awal kita sekolah, masih merasakan hal hal yang seragam dan semangat yang menggebu gebu.
Kilometer demi kilometerpun terlus dilalui. Sedikit demi sedikit kita bertemu puncak dan singgah sebentar menikmati pencapaian kita, namun tidak boleh terlena dengan puncak itu karena kita harus melanjutkan perjalanan meskipun dalam perjalanan itu terkadang menurun.
Keindahan dalam Bentuk yang Berbeda
Dalam perjalanan menuju puncak ke dua ternyata tidak semulus puncak pertama. Di perjalanan ini secara harfiah saya dihadapkan hujan badai akhirnya saya dengan basah kuyub terus menerjang badai itu dan justru dipermudah untuk menelusuri tanjakan berpasir. Hujan badai yang tampak menghambat justru membuat pasir ditanjakan menjadi lebih lekat dibanding biasanya sehingga sangat jauh lebih mudah untuk ditelusuri.
Di puncak ke dua meskipun dari segi keindahan tidak kalah jauh dari puncak pertama namun Hypenya sudah lebih tenang dan saya melanjutkan perjalanan menurun ke bawah dengan turunan yang curam dan berbatu.






Jika diceritakan ini sama ya seperti perjalanan hidup kita yang kita kira hambatan terkadang justru menjadi sesuatu yang mempermudah jalan kita ke puncak.
Namun seindah apapun di puncak, kita harus segera move on untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Meskipun tidak se puncak sebelumnya tetapi memberikan keindahannya dalam bentuk yang berbeda.
Yang dalam rute ini adalah padang rumput, turunan berpasir dan black lava yang tentunya tidak ada kalahnya dengan pemandangan yang ditawarkan di puncak. dengan keindahan yang berbeda :).









Leave a Reply