Di minggu ini saya mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi santai dengan salah satu orang penting dan pengambil keputusan dalam penanggulangan Kebencanaan di Bali. Dalam diskusi tersebut ada satu pendapat yang sebenarnya ironis namun menurut keyakinan saya hal itu memang fakta yang banyak ditemukan di lapangan.
Banyak keputusan diambil oleh orang yang tidak kompeten (bukan ahli nya)
Dalam pembicaraan tersebut beliau tidak mempermasalahkan faktor politik yang memang suka atau tidak suka akan memiliki pengaruh yang besar dan bahkan menjadi penentu. Sayangnya dalam beberapa kejadian tidak jarang keputusan yang diambil secara politis tersebut justru berlawanan dengan yang semestinya dilakukan. Kata “semestinya” saya gunakan di sini untuk menggantikan kata “seharusnya” karena saya juga ragu, karena dalam beberapa kasus keputusan yang “semestinya” itu kadang justru tidak se semesti itu untuk di lakukan 🤣.
Agak membingungkan ya bahasa saya. Pendek kata, dalam praktik kadang kita harus mengakui bahwa teori yang matang pun bisa tidak relevan dalam konteks tertentu.
Saat ini batasan antara Ahli dan “Ahli” semakin kabur
Saya jadi berpikir, tentang arti dari ahli itu semestinya bagaimana? Siapa yang bisa kita anggap sebagai ahli dan siapa yang bukan? Sampai sedalam dan harus seluas apa pemahamannya sehingga ahli itu kita sebut ahli. Apakah ahli itu ditunjukkan dari sertifikat yang dimiliki? Atau dari latar belakang pendidikannya? Atau pengalamannya?
Pertanyaan ini kian rumit ketika kita bertemu dengan kemudahan akses informasi yang ada saat ini yang sangat berlimpah ditambah kita ditemani model komputasi canggih yang bisa disebut dengan AI. Ah, apakah AI juga bisa disebut Ahli? Bahkan ada beberapa selentingan yang menyebutkan sekarang kita bisa punya teman selevel Doktor di saku kita.
Memang agak lucu, tapi jika batasan antara ahli dengan yang bukan ahli itu didasari oleh pengetahuannya dan mampu menjawab berbagai pertanyaan sulit bisa saja pernyataan itu sudah relevan di era saat ini. Karena perkembangan teknologi kita saat ini memang sudah sedemikian canggih sehingga bisa “Mengantongi Ahli”
Lalu jika semua orang saat ini bisa mengakses keahlian hanya melalui layar ponselnya apakah semua orang layak disebut ahli?
Menurut keyakinan saya “Ya bisa saja, dan semua orang sekarang ahli di semua bidang”
Kira kira itu yang ingin sekali saya katakan dan berharap Utopia itu bisa diwujudkan.
Tetapi sayangnya kita tidak pernah menyimpulkan bahwa se ekor burung beo bisa berkomunikasi dengan kita hanya karena ia bisa berbicara kan?
Saat burung beo berbicara kita jarang menganggapnya serius dan menganggap itu hanya bagian dari bercanda an. Menulis analogi ini saya jadi berpikir pasti dalam beberapa kesempatan, saya justru ada di posisi burung Beo itu.
Di titik ini, keresahan saya tidak lagi soal siapa ahli, tapi soal siapa yang kita percaya.
Frasa tentang Inkopetensi yang menyakitkan namun bagus untuk intropeksi diri
Kenapa saya ingin sekali membahas ini? Salah satu alasan saya adalah kejadian banjir di Sumatera dan berbagai kejadian lainnya yang dalam berbagai kesempatan saya baca kolom komentar banyak sekali frasa frasa seperti “Bodoh sekali”, “Payah” , “tolol” dan berbagai frasa yang erat kaitannya dengan pelabelan “inkopetensi” seseorang.
Dari berbagai peristiwa itu, Saya meyakini satu hal yakni banyak masyarakat sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil. Hal inilah yang kemudian membuat apapun yang muncul ketika tidak sesuai dengan “pemahaman umum” akan diserang dan di bodoh-bodohi dengan sumpah serapah.
Tapi meskipun dalam kondisi emosi tidak stabil, frasa-frasa “Bodoh”, “Tolol” dan berbagai sumpah serapah penanda Inkopetensi itu tetaplah patut menjadi refleksi dan pembelajaran. Di luar dari valid atau tidaknya kata kata tersebut ya. Karena saya yakin ada beberapa orang yang tidak layak mendapatkan title itu. Itu sebagian loh, dan menurut keyakinan saya sebagian lain nya ada yang memang bego sih 🤣.
Sama seperti peribahasa “Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”. Kita sebagai netizen pun juga kadang perlu intropeksi juga sih karena “Keahlian” yang selama ini kita rasakan kadang sudah terlewat batas. Sadar atau tidak sadar pastilah kita pernah di posisi burung beo yang berkomentar secara yakin dan percaya diri tanpa tau apa yang kita bicarakan itu sesuatu yang sebenarnya konyol dan bodoh.😝
Kepercayaan dan Kenyamanan kepada Ahli yang bukan “Ahli”
Di berbagai isu yang sedang viral, saya yakin akan selalu ada beberapa yang sebenarnya ahli bersuara tetapi tidak jarang sura itu justru tertutupi noise dari kicauan para “ahli” yang ironisnya lebih nyaring dan bergema. Hingga terdengar juga beberapa selentingan tentang tidak dihargai nya para ahli bila dibandingkan dengan para influencer.
Sepertinya tidak jarang kita mendengar berbagai keluhan dari ahli yang tidak didengar ini ya. 🙂↕️ Hal itu saya rasa masuk akal dan manusiawi bilamana “Ahli ahli” terabaikan dan tersakiti itu menyampaikan berbagai keluhannya. Dan kemudian menjadi topik diskusi panas yang baru. Dan sekedar menjadi topik yang baru hadir “lagi” saja. Hanya itu dan kemudian tenggelam lagi di tengah riuhnya antrean berbagai topik viral dari yang receh hingga topik yang mungkin bernilai lebih dari emas batangan.
Isu tentang “keahlian” ini menjadi salah satu keresahan saya dalam beberapa tahun belakangan ini. Selain bertanya kepada diri saya sendiri tentang “keahlian saya” yang saya yakini tidak seahli yang saya pikirkan dan klaim saat ini. Selain itu saya juga resah dengan berbagai pengambilan keputusan dari seseorang ahli apalagi yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup kita.
Misalnya Pilot, 🤣 jujurly setiap saya naik pesawat saya tidak pernah tenang karena selalu ngerasa aih ini pilot, mekanik dan semua yang ngurus pesawat ini beneran ahli atau engga ini. Akhirnya sepanjang perjalanan saya selalu komat kamit baca doa (tidak putus) karena ketakutan 🤣.
Kita akan percaya dan nyaman bila orang yang kita delegasikan untuk pengambilan keputusan penting adalah orang ahli. Percaya dan nyaman ini saya rasa tidak bisa dipisahkan. Salah satu contohnya adalah Pilot yang sebenarnya saya percaya, tetapi saya tidak nyaman. Ketidaknyamanan saya sebenarnya bukan karena pilot, kru dan sistem penerbangannya tetapi ada di diri saya sendiri yang memang tidak nyaman saat tidak menapak tanah dan takut ketinggian.
Begitu juga dengan keahlian dalam artian umum, diterima atau tidaknya suatu keahlian belum tentu karena faktor internal keahlian dari si ahli itu, bisa jadi dia belum mendapatkan kepercayaan. Atau sang ahli sudah dipercaya tetapi karena kondisi tertentu orang memang tidak nyaman.
Contohnya emosi tidak stabil yang sering kali muncul saat terjadi sesuatu yang menyedihkan seperti kejadian bencana alam yang masiv. Kondisi demikian sangat mungkin membuat kita tidak nyaman terlebih korban yang secara langsung merasakan kejadiannya.
Kepercayaan dan kenyamanan itu mungkin lebih didapat dari para Influencer yang memang ahli yang bahkan dalam kesehariannya selalu berhadapan dengan exposure dan engagement dari banyak orang.
Sebagai akhir dari tulisan ini saya ingin mengutarakan pertanyaan kepada ahli dan “ahli”. Apa definisi “keahlian” yang saat ini kamu kejar?
( Photo in featured image by Elīna Arāja )









Leave a Reply