FM di Borobudur Marathon 2025

Mengikuti event lari bisa jadi merupakan kegiatan tahunan saya sukai dalam beberapa tahun terakhir. Dari sekian event yang saya ikuti, Borobudur Marathon salah satu yang terbaik 🤣. Berbeda dari tahun 2024 lalu, saya akhirnya mendapatkan undian tiket untuk mengikuti Borobudur Marathon (BorMar) di kategori Full Marathon (FM). Sekedar informasi saja mungkin masih ada yang belum…


Mengikuti event lari bisa jadi merupakan kegiatan tahunan saya sukai dalam beberapa tahun terakhir. Dari sekian event yang saya ikuti, Borobudur Marathon salah satu yang terbaik 🤣.

Berbeda dari tahun 2024 lalu, saya akhirnya mendapatkan undian tiket untuk mengikuti Borobudur Marathon (BorMar) di kategori Full Marathon (FM). Sekedar informasi saja mungkin masih ada yang belum tahu bahwa di BorMar ada 3 kelas yakni 10K, Half Marathon (21 K) dan juga tentunya Full Marathon 42K.

Belajar dari Virgin FM ku di 2024 yang cukup tergopoh gopoh untuk finis, di tahun 2025 ini saya coba persiapkan dengan lebih baik.

Karena pengumuman di pertengahan tahun jadi tentu banyak waktu untuk persiapan. Beberapa diantaranya adalah ikut Gym 💪. Dari latihan yang saya lakukan beberapa bulan yah lumayan naik berat badan dan mayan memperkuat otot2 saya #aisssh mantabs kali bah.

Selain itu dalam beberapa kesempatan tentu saya juga latihan lari long run hingga 21K. Terlebih di bulan akhir saya upayakan agar bisa setiap minggu HM.

Di Awali dengan Delay 2 jam

Bulan November pun tiba, diawali dengan drama Delay pesawat macan terbang yang semestinya saya berangkat jam 6 sore nyatanya saya baru masuk pesawat jam 8 manam. Dan dampaknya saya haris kehilangan 2 tiket kereta (satu tiket saya beli di awal sekali dan sengaja saya beri waktu 2 jam, 🥲 Tetapi karena delay 2 jam saya coba beli lagi tiket setelahnya dan ternyata tidak terkejar juga.

Untungnya ada bapak bapak pegawai pajak yang baru balik dari Denpasar ke keluarganya di Jogja, jadi saya bisa patungan sewa taksi 😅 dari Bandara Kulon Progo sampai Jogja hehehe.

Sampai di Jogja turunnya dekat tugu Jogja

Sepanjang perjalanan ada beberapa hal uang kulihat dari Jogja yang ternyata makin bayak dibenahi khususnya di kawasan Sumbu Filosofis dari Tugu sampai Kraton yang saat ini rapi dan bagus ☺️.

Sudah minim pedagang yang menutupi toko toko gaya klasiknya. Ada si beberapa saja yang tertinggal, tapi secara umum dah makin bagus sik.

Foto foto di atas sebenarnya saya campur antara kedatangan dan juga sehabis Marathon hehehe nda papa ya karena untuk kadi lihat bahwa kawasan Malioboro sudah tidak lagi kumuh.

Race Pack Collection panjang macam Ular

Yang lumayan buat kesal di Borobudur Marathon dan sepertinya semacam PR berkepanjangan itu ya pengambilan paket Event nya (Race Pack Collection).

Saya berangkat jam 10 dan sehabis makan Sop Ayam Pak Min 2 mangkok, serta macet parahnya kendaraan di sekitar mal tempat pengambilan Race Pack.

Terimakasih untuk panitia yang bantu foto 😅 walau kurang oke si hasilnya itu miring dan sepatu terpotong tanggung banget

Sesampai di mal, di mulailah perjuangan untuk antre sangat panjang menjalar memenuhi 3 lantai mall 🤣, dan satu lagi signalnya ampun ampunan (masi PR yang sama dengan dua tahun lalu).

Untungnya di luar semua kelelahan antri, dari segi desain tempatnya tetep juara sik, dan ada satu lorong kas Borobudur Marathon yang canggih dengan tunjukan BIB kita bisa ditampilkan foto foto kita di event Borobudur Marathon sebelumnya 😍.

Ini fotoku waktu ikut Half Marathon di tahun 2023 bisa muncul di layar waktu saya lambaikan BIB saya 😗

Untuk lain nya sebenernya cukup standar RPC acara Marathon nasional lain yang berisi berbagai macam stand dari sponsor. Yup, sehabis itu saya balik ke Jogja, karena saya memang cari hotel di Jogja. Meskipun memang sangat jauh dari Magelang dan Jogja namun karena ada Shuttle Bus dari Jogja nanti saat akan masuk race.

Situasi lalu lintas di sekitar mall yang sangat padat dan macet parah, alhasil saya pun baru dapat Grab car setelah 45 menit menunggu. Dan untuk pesan dan naik Grab tersebut sengaja saya keluar jauh dari mall agar dapat sedikit signal.

Sedapat grab car saya menuju jogja dengan eajah gembira 😂 karena gass cari makan buat Carbo Loading Sate Klathak Pak Pong di Bantul 😂 enak poll gess hehehhe.

Tentang Strategi Lari di Borobudur Marathon saya yang Minim Logistik

Race day pun tiba, tanggal 16 November jam 1 dini hari saya berangkat dari hotel di Jogja menuju parkir bus di dekat titik nol Malioboro. Sesampai di bus saya memanfaatkan waktu untuk tidur, karena lumayan perjalanan sekitaran 2 jam menuju Borobudur.

Di Race village Borobudur sudah banyak sekali teman teman pelari dengan berbagai asal daerah dan juga berbagai usia. Semua terlihat cukup ceria menyambut race yang akan mereka ikuti. Ada juga yang bengong 😂 (saya salah satunya), agak sulit cari tempat beli minum di dekat lokasi untuk start. Beberapa kai saya keluar masuk coba cari dan tidak ketemu e.

Oh ia Hal yang paling saya suka saat ikut race seperti ini adalah “Kita tidak datang untuk berkompetisi mencari yang terbaik saat lari 😂. Bagi kita pelari rekreasional ini acara untuk bersenang senang. Kalaupun berkompetisi biasanya lebih untuk berkompetisi dengan diri sendiri.

Saat saya terbengong sendiri sambil pemanasan dikit dikit, tetiba saya disapa oleh seorang pelari. Seorang babak bapak berumur 60 tahunan. Beliau menyapa karena melihat saya bengong dan menanyakan apakah saya sedang baik baik saja.

Foto saya saat menunggu di lokasi Start 😂 minta tolong panitia buat foto, entah kenapa malah kelihatan foto tempelan ya

😂 Aslinya saat itu saya sedang ngantuk parah karena hanya tidur beberapa jam saja. Dan kerennya beliau umur segitu ikut Full Marathon dong dan lagi ini merupakan Marathon ke dua nya di tahun 2025. Dilihat dari barang bawaannya yang beberapa kali ditawarkan kepada saya, bapak itu sangat proper ya persiapannya. Namun saya menolak beberapa pemberiannya karena takut bapaknya malah jadi kekurangan logistik.

Saya cukup strategi ambil logistik yang disediakan panitia di jalan saja. Strategi ini bukan saya sengaja tetapi ya dengan padatnya kegiatan kerja di minggu sebelum race ini saya jadi terlewat beli logistik.

Strategi ini tidak disarankan tetapi menurut saya masih masuk akal, dengan catatan saya tidak boleh memaksakan diri dan jika memang sudah di luar batas kemampuan saya saya harus ikhlas untuk tidak finis. Karena finis sesungguhnya adalah ketika kita bisa menikmati setiap momen dan bisa sehat hingga sampai rumah kan ya 😃.

Lari Petualangan 42 kilometer yang Menyenangkan

Tembakan pistol di jam 4.30 pun menggelegar dan perlombaan dimulai. Karena padatnya pelari di kelas Marathon ini setelah tembakan mulai kita tidak serta merta dapat berlari. Untuk pelari gerbong belakang (karena target finis saya 6 jam saya masuk gerbong DD) kita harus berjalan perlahan dulu.

Baru beberapa kilometer awal kita bisa mulai berlari kecil sambil salip kanan kiri. Pada saat start ini saya biasanya akan menyambi pemanasan tipis tipis untuk memastikan semua otot kaki saya siap berlari di kilometer berikutnya. Dan satu lagi saya mencoba menikmati semua vibe yang ada namun harus dijaga agar tidak terlalu terpancing untuk berlari kencang.

Target awal saya hanyalah mencari gerbong lari yang masih memberikan kenyamanan kecepatan. Dan saya pilih gerbong lari subs 5.15 (target finis 5 jam 15 menit). Saya mencoba mempercepat lari saya hanya untuk mengejar rombongan pacer 5.15. Sesampainya pada rombongan mereka saya mulai menyinkronkan langkah lari saya dan cukup nyaman di pace 7.15an.

Orang baju kuning itu Pacer kami, dalam lari biasanya ada yang bertugas untuk menjadi penanda bergerak waktu dan kecepatan lari kita yang biasa disebut Pacer. Mereka biasanya membawa bendera dengan target lari masing masing.

Pelarian kami pun berlanjut dengan santai 😂, yang juara dan favorit dari para pelari dari Borobudur Marathon adalah masyarakatnya Magelang. Dan hal ini pun diamini oleh berbagai pelari lainnya. Mayoritas masyarakat yang dilewati jalur lari biasanya pada keluar rumah dan memberi kami semangat,.. sekali lagi ini bukan berlebihan 😍😍😍 hampir semua masyarakat keluar untuk support kami dengan berbagai cara.

Memang ada beberapa titik yang disiapkan panitia tetapi tidak kalah banyak juga yang memang dari masyarakatnya sendiri mereka berkumpul dari yang sekedar kasi semangat dan tidak sedikit yang mengeluarkan sound sistem untuk menyetel musik musik pemberi semangat.

Dari sekolah sekolah pun tidak kalah heboh, banyak dari mereka menyiapkan berbagai macam koreo yang berhasil membuat kami pelari hanyut terbawa suasana. 😂 Oh ia di awal lari juga ada yang nikahan di jalan ya beberapa pelari termasuk saya ikut kondangan dahulu hehhee.

Mungkin kalian bertanya apakah kami full lari dengan berbagai macam kehebohan itu. 😂 Jawabannya tentu tidak hahaha, hampir di semua spot kami bersenang senang saja, joget, teriak teriak bareng ada yang makan soto juga ada yang konser. Dan semua itu untuk setu seruan saja, melepas penat dari rutinitas yang ada.

Hal inilah yang kemudian Marathon kemarin bisa saja kita sebut bukan hanya event lari jarak jauh tetapi lebih seperti wisata dan bertamu ke magelang untuk sama sama bersenang senang. Ini petualangan, tidak ada saling kompetisi di sana, dan tetapi ya karena pada dadarnya ini event lari, tentunya beberapa dari kami ada yang cedera dan harus did not finish (DNF).

DNF itu hanyalah bagian dari semuanya dan tidak papa, yang penting semua masih bisa sehat dan pulang sampai rumah. Jadi saat lari kemarin saya selalu coba untuk sadar pada kemampuan diri dan berprinsip kalau memang sudah tidak oke maka saya harus putuskan DNF.

Manajemen Cedera di Kilometer 22 ke atas

Beberapa kali, khususnya setelah tanjakan Cinta yang kami temukan di km 22, lari menjadi semakin berat. Beberapa kali kaki saya terasa terkunci dengan ditandai otot yang terasa tiba tiba tertarik. Saat terjadi itu saya mencoba mengatur langkah dan napas, sesekali saya pun terpaksa berjalan tetapi berusaha untuk tetap berlari.

Berbagai macam cara saya terus berusaha untuk memahami kondisi diri. Saya mencoba melihat rutin Hearts Rate dan juga Pace saya. Saya mencoba agar lari saya tidak terlalu cepat hingga HR masuk zona 5 dan juga saya usahakan tidak terlalu lambat agar HR tetap terjaga di zone 2 sampai 4 saja.

Ini salah satu cheeriing yang oke sik dan niat banget

Hal ini saya lakukan karena menurut saya HR yang terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan berbahaya bagi jantung saya dan HR yang rendah akan justru tidak baik ketika berlari. Apalagi jika penurunan terjadi tiba tiba takut pingsan di jalan hehhehe.

Sepanjang jalur lari 25 ke atas sata mulai tidak bisa mengejar rombongan 5.15. Hal ini membuat saya harus mengusahakan strategi baru, yakni jalan kaki jika tidak kuat dan mulai lari lagi saat sudah sedikit kuat.

Saat berlari saya menggunakan sepatu Asics Magic Speed 4. Dengan adanya semi carbon di telapak, membuat sepatu lari ini memberikan sedikit dorongan saat kita berlari sehingga lari kita semakin cepat. Namun dengan sol yang cukup keras membuat beban di telapak menjadi cukup besar sehingga di KM 30 ke atas telapak kaki mulai terasa bengkak dan pedih untuk berlari. Dalam kondisi tersebut saya semakin sering berjalan.

Agak jamet ya kelihatan, padahal awalnya beli bandana itu biar jadi pelari Skena loh wkkwkwk…

Semua sakit mulai terus berganti dan membuat saya berkontenplasi kenapa saya di sini. Apa yang saya lakukan selama ini, apakah saya harus menyerah saat itu. KM 30 ke atas ada kilometer yang sangat berat di mana semakin sedikit yang akan memberi semangat. Yang tersisa hanya diri kita sendiri untuk terus yakin memberi semangat kepada diri sendiri.

Beberapa kali saya coba meminta pereda nyeri di medis dan terus berusaha tetap berjalan dan berlari secara terukur hingga akhirnya saya sedikit demi sedikit sampailah di titik Finis 🥹. Beberapa kali pingin menyerah karena sakit semua kaki saya dari telapak kaki betis kanan kiri, paha, dan kepala mulai kunang kunang.

Ruang Hampa di Keramaian setelah Finis

Setelah perjuangan yang panjang selama 5 jam 55 menit akhirnya saya finis sendirian nda ada orang yang saya kenal menyambut saya 😂 tapi nda papa lah ya, finis adalah finis.

Di depan saya ada beberapa orang didampingi teman komunitasnya berlari beriringan saling menyemangati “Kamu Bisaaaa”. Sesaat ku berpikir kalau dia bisa, apa aku bisa ya 😂. Ah nda papa pikir saya, toh selama ini juga hampir setiap hari hanya aku sendiri yang bisa tetap ada dan menyemangati diriku sendiri dan bilang “Dewaaa kamu bisaaa”.

Semakin dekat ke garis finis saya melihat lagi beberapa irang mulai disambut keluarganya sambil diberi teriakan semangat “Ayooo kamu bisaaa…”. Ku tetap berlari dan mulai terdiam. Ada juga orang yang sedang disambut pasangan nya, disambut anak nya, disambut berbagai hubungan yang kenal sama pelari itu.

Berusaha kontrol pace lari 😅

Ku terdiam dan terus berlari menuju garis finis. Ku sendiri melalui garis finis dan menahan agar keringat di kening ku tidak membasahi mata ku. Sambil berkata “Dewa kamu sendiri bisa kan ya 🥹. Ini kamu bisa finis ya, kamu hebat.

Setelah finis, ambil mendali dan baju finis saya mencari tempat untuk merebahkan badan sejenak dan tertidur di bawah pohon sambil menyesap segala sakit yang masih tersisa.

Dalam perjalanan lari ini saya berusaha untuk belajar menyelesaikan apa yang saya mulai, belajar menjalani semua rintangan dengan menikmati setiap momennya, belajar pula untuk menyadari batasan diri tetapi belajar pula untuk tetap meyakini diri bahwa diri ini bisa.

Ku berasil Finis dan dapat mendali itu kawan 🤣, ini kaki lumayan bergetar hahhaha

Mungkin itu saja si dari saya, dalam perjalanan saya kali ini saya banyak sekali belajar. 🤣 Dan satu lagi di perjalanan ini juga saya banyak sekali makan.

Saya resmi menjadi keluarga besar Marathoner Di Jogja

Prambanan Jogja Marathon sudah tahun 2024 dan saat ini Borobudur Marathon juga sudah, Next mana lagi ya ?


Leave a Reply

Total
0
Share