Dark Light
Investasi terbaik yang memiliki perang paling penting dalam kehidupan kita mungkin bukanlah portofolio saham kita, emas kita juga bukan, bukan pula properti. Investasi terpenting kita bisa jadi lebih dekat dari semua itu bisa kesehatan, waktu untuk keluarga kita, dan pengetahuan yang kita konsumsi.

Kembali lagi bersama saya kawan. Pada tulisan ini saya tertarik untuk mengulas sebuah buku ketiga yang saya baca pada tahun ini. Buku berjudul Invested, 12 Bulan Menuju Financial Freedom karya Danielle Town. Dari judulnya akan mudah sekali menebak apa yang akan dibahas dalam buku ini yang tidak lain adalah tentang investasi. Lebih spesifik lagi tepatnya tentang investasi nilai (Value Investing) sebuah paradigma investasi yang sejak beberapa dekade terakhir banyak dianut oleh orang orang sampai sekarang. Sebut saja Warren Buffett dan para kroninya akan banyak dijumpai pada buku ini.

Saya membeli buku ini dari sebuah toko buku di Kota Denpasar bersamaan dengan kedua buku lain saat bermaksud ingin membeli gitar. 🙂 Saya akui akan terbaca agak random, tetapi itulah kejadian sesungguhnya hahaha. Saat itu saya merasa cukup bosan dan terbesit di pikiran untuk membeli gitar agar ada hiburan di kosan. Namun sesampainya di sana, saya melihat gitar gitar disana kurang menarik (terlampau mahal) akhirnya saya melirik lirik buku-buku saja sembari berpikir apakah saya harus mebeli gitar itu atau tidak. Beberapa kali putaran dengan pikiran kosong tiba tiba dengan cekatan tangan ku meraih tiga buku dan kemudian pulang. Buku ini salah satunya 🙂 . 

Jika dilihat dari bentuk fisiknya, buku ini memiliki ketebalan yang sedang sedang saja yakni hanya 384 halaman. Disain sampulnya pun kurang begitu mkenarik dan mirip sekali dengan buku buku investasi yang standar yakni tiga toples koin yang dijadikan sebagai pot tanaman. Entah apa maksud dari pemilihan ilustrasi yang demikian. Kenapa banyak sekali buku buku tentang investasi mengambil ilustrasi yang sedemikian membosankan. Mungkin mereka ingin mengambil makna bertumbuhnya ya, jadi seolah olah berinvestasi akan menumbuhkan uangmu dari kecil untuk kemudian menjadi semakin besar #entahlah.

Saya rasa cukup pendahuluannya. Kita sekarang memasuki pembahasan tentang buku ini ya. Karena meski dari segi desain buku ini cukup membosankan namun dari isi, buku ini masih saya golongkan dalam buku bacaan yang menarik untuk dibaca.

Kisah Keresahan Seorang Anak dari Investor Hebat yang Alergi dengan Investasi

Sosok Danielle Town sang penulis dan Ayahnya Phil Town membuat sebuah podcast berjudul (InvestED: The Rule #1 Investing Podcast Phil Town & Danielle Town terkait Investasi yang kemudian dituliskan dalam sebuah buku yang saya ulas dalam posting ini. Sumber Gambar: blog resmi Danielle Town (danielletown.com)

Ini yang saya rasa menjadi nilai unik dari buku Invested karya Danielle Town anak dari seorang investor dan motivator Amerika Phil Town. Pada awalnya saya berharap bahwa buku ini adalah buku seseorang yang dengan gigih berusaha keras ingin mencapai mimpinya berjuang berinvestasi dengan harapan menjadi kaya atau hal hal  mulia lainnya, khas buku buku pengembangan diri lainnya.

Ternyata saya salah. Buku ini lebih sederhana dan dari itu, dan bisa dikatakan apa yang dihadapi seperti dilema dan kekhawatiran kita akan masa depan ketakutan uang kita hilang dan berbagai permasalah permasalahan remeh seperti tidak percaya diri dengan kemampuan matematika atau hitung hitungan mungkin akan banyak yang mirip dengan kondisi para millennials saat ini. Ini juga yang menjadi kekhawatiran saya yang terkadang berpikir sebenarnya kita kerja keras seperti ini yang muter sana sini, kadang ada rapat malam malam, dead line, belum lagi harus berpikir keras sampai kadang limbung dunia bergoyang goyang itu untuk apa? Apakah kita akan seperti ini terus sampai usia senja kita nanti yang harus cari uang, dapat uang, makan, keluar uang, uang habis, cari uang lagi. Semua itu saya rasa melelahkan dan terasa sangat hampa tanpa makna.

Berat sekali ya, tapi kalau mau disederhanakan mungkin akan seperti ini. Kalau kita harus cari uang terus seperti ini untuk sekedar makan dan hidup. Yang jadi pertanyaan mendasar adalah sampai kapan kita kuat untuk bekerja dan mendapatkan uang? 

Sekarang justru terbaca mengerikan. Oke daripada terus berandai andai dan semakin mengerikan  bila dibayangkan. Kita kembali pada pembahasan tentang buku ini. Karena di dalam buku ini juga penulis mengalami keresahan yang sama dengan kita.

Buku ini juga diawali dengan kegelisahan sang penulis tentang masa depan keuangannya dan kesehatannya. Meski pada masa mudanya, sama seperti para para fresh graduate lainnya sangat idealis dan merasa pilihan hidupnya sudah menjadi tepat untuk memperindah masa depan keuangannya. Namun ternyata yang dihadapi saat ini tidak sesuai dengan ekspektasinya. Beragam keluhan, kerjaan yang sangat  padat, waktu yang banyak hilang dan terbuang bahkan untuk saat saat penting keluarga pun terlewat begitu saja karena derasnya arus kerjaan. Begitu juga dengan kesehatan fisik dan mental semakin terganggu yang menyebabkan ia harus mengkonsumsi beberapa obat hanya untuk dapat bekerja lagi di esok hari. Begitu terus hari hari yang ia lalui. 

Tidak hanya penulis, teman temannya pun merasakan hal yang sama dan memerlukan berbagai macam terapi hanya untuk bisa bekerja lagi. Belum lagi sebuah kenyataan pahit bila dilihat di level yang lebih tinggi lagi ditemui bahwa hanya sedikit orang yang dapat bertahan sampai habis masa jabatannya, yang lainnya berhenti karena alasan kesehatan atau meninggal dunia. “Kita semua lelah, dan menganggap wajar untuk merasa seperti itu karena hal ini sangat umum terjadi. “Bersandar” pada pekerjaan kita dianggap sebagai kebaikan. 

Beberapa permasalahan itu tidak asing bukan untuk kita kita di sini? Budaya kerja yang tidak begitu sehat tidak hanya dapat merusak berbagai hubungan pertemanan, keluarga. Namun juga dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental kita bahkan membahayakan nyawa kita. Di sini saya sepakat dengan penulis bahwa ini memang tidaklah sehat dan perlu ada sesuatu untuk mengubah ini semua. Setidaknya agar kita sendiri dapat terlepas dari alur yang seperti itu.

Penulis pun berpikir serupa, sehingga dia pun mengambil keputusan untuk menghubungi ayahnya yang seorang Investor Nilai yang hebat dan juga merupakan motivator untuk  hal itu. Ayahnya sebenarnya berkali kali berusaha untuk mempengaruhi penulis agar mau belajar berinvestasi. Namun karena trauma yang mendalam penulis akan hal hal berbau investasi plus matematika. Namun hal yang menjadi alasan utama adalah rasa kecewa penulis kepada ayahnya yang menghilang dan meninggalkan saat penulis kecil dan ibunya dalam kondisi sangat sulit secara finansial. Hal itulah yang menyebabkan ada dendam dari penulis kepada ayahnya saat itu. 

Kalau bukan karena kegamangannya tentang masa depan finasialnya serta beberapa keresahan nya itu, ditambah lagi ia tahu bahwa ayahnya sebenarnya orang yang tepat untuk ditanyai tentang masalahnya itu sebenarnya ia enggan menghubungi ayahnya. Dengan emosi berkecamuk akhirnya ia menghubungi ayahnya untuk meminta diajari tentang berinvestasi.

Buku ini tidak hanya secara murni memberikan kita berbagai pelajaran tentang bagaimana cara berinvestasi nilai yang baik. Namun lebih dari itu melalui buku ini Danielle Town membawa kita untuk ikut roller coaster emosinya keresahan, rasa takut, kemudian dilingkupi rasa bersemangat menggebu gebu, kemudian putus asa lagi kemudian bingung dan bergolak terus saat belajar tentang investasi bersama ayah yang ia benci. Membuat buku ini bak sebuah novel yang cukup menarik untuk diikuti jalan ceritanya tidak hanya sebatas ilmu ilmunya saja. Oh ia hampir saya lupa, seperti novel novel novel lainnya di buku ini selain ada beberapa konflik di pemeran utama, kita juga disuguhi cerita percintaan dirinya.

Berinvestasi pada Nilai dan Cerita Perusahaan yang ingin Kita Dukung

Investasi tidak hanya sebatas pada kita beli perusahaan dan kemudian pergi bergitu saja sambil berharap perusahaan itu akan berkembang dengan sendirinya. Berinvestasi tidak sespekulatif itu (Photo by Karolina Grabowska from Pexels)

Pada bab awal buku kita akan disuguhi keresahan penulis tentang masa depan finansialnya, dan kenapa sang penulis berniat untuk belajar dari ayahnya meski ia benci. Masih di awal pertemuan kita akan diajak penulis bersama ayahnya untuk memahami peraturan nomor 1 dan saya rasa satu satunya dalam berinvestasi yakni “Jangan Kehilangan Uangmu”. Di bagian ini kita akan dijelaskan bagaimana kita akan kehilangan uang kita bahkan jika kita hanya menaruhnya di bank. Kehilangan disini tidak sebatas pada nominalnya namun juga pada nilainya, atau dengan kata lain yang sederhana uang kita tergerus oleh inflasi.

Berikutnya kita akan dijelaskan tentang landscape investasi yang ada saat ini dimana sebagian besar uang yang beredar pada pasar saham merupakan dana dana kelolaan manajer investasi yang dihimpun dari orang orang yang entah sadar ataupun tidak sadar menempatkan uangnya di situ untuk dana pensiun. Di bagian ini sih yang membuat saya agak deg deg ser, karena pada bagian ini dikatakan bahwa para manajer investasi itu pada dasarnya tidak dibayar untuk menghasilkan uang dari uang yang berhasil dihimpun itu. Sehingga, ntah hasil investasinya berhasil berlipat ataupun justru berkurang mereka akan tetap diberi upah. Ini mekanisme dari reksa dana dan apapun itu bentuknya yang mengharuskan kita mempercayakan uang kita pada orang lain. 

Hal ini yang kemudian membuat saya sempat berpikir untuk memindahkan sebagian dana yang saya taruh ke reksa dana kepada bentukan investasi lain. Kalau saham semua sepertinya akan agak riskan memang mengingat volatilitasnya bikin deg deg ser. Untuk ini akan saya pikirkan lagi nanti.

Oke praktik kelam dari perusahaan manajemen investasi itu baru permulaan saja pikir saya. Maski ide ide yang ada dalam buku ini tidak kesemuanya harus kita taati, kita tetap  perlu memilah mana yang bagus dan mana yang “perlu ada sedikit penyesuaian” bila mau kita terapkan di sini. Saya sengaja menggunakan frasa “perlu ada sedikit penyesuaian” alih alih menggunakan frasa “tidak relevan” karena saya sadari hampir ke semua ide dalam buku ini masuk akal, sulit rasanya mencari yang tidak relevan kecuali nama nama perusahaannya. Namun jauh dari itu semua menarik dan sangat masuk akal untuk dicoba.Ada beberapa ide yang saya suka dalam buku ini.

Memilih misi apa yang harus dilakukan dengan uang kita. Ini mungkin sangat standar di setiap pelajaran terkait investasi kita perlu memberikan alasan spesifik atau tujuan yang jelas untuk uang kita kedepannya. Nilai nilai penting yang kita jadikan misi untuk uang kita tidak hanya terfokus sebatas pada “aspek finansial” saja. Meski tidak boleh dipungkiri menjadi salah satu bagian penting namun lebih dari itu nilai yang dimaksud dalam buku ini pada nilai nilai yang kita inginkan ada yang berbeda orang sangat mungkin akan berbeda. Karena berinvestasi pada suatu perusahaan memiliki arti yang sama dengan ikut mendukung perusahaan itu dalam mencapai nilai nilai mereka.

Contohnya seorang investor yang sangat konsen ke isu lingkungan boleh saja menghindari perusahaan perusahaan yang mendukung pelestarian lingkungan dan menghindari perusahaan yang jelas jelas merusak. Nilai disini sangatlah luas, dan dalam masuk kedalam bagaimana nilai pada visi dan misi perusahaan tersebut apakah bagus menurutmu, dan apakah menurutmu akan tetap  relevan dan baik di masa yang jauh ke depan. Nilai apa yang digunakan perusahaan dalam menjalankan usahanya, bagaimana ia memperlakukan pekerjanya, bagaimana dia mengelola sumberdaya alam atau berbagai pertimbangan lainnya.

Baru setelah kita menemukan daftar perusahaan perusahaan itu, kita menilai kembali apakah perusahaan tersebut diapresiasi dengan harga yang wajar. Untuk itu dalam buku ini juga kita diajarkan beberapa metode untuk membaca apakah suatu perusahaan memiliki keunggulan dibanding perusahaan lainnya, yang disebut dalam buku ini sebagai “Parit”.

Parit bekerja bak sebuah parit sungguhan yang biasanya dibangun mengelilingi sebuah benteng dan berguna untuk menghalau dan menciutkan nyali para lawan yang hendak menyerang. Dalam perusahaan, parit tersebut dapat terwujud dalam berbagai macam bentuk yang pada dasarnya membuat berkompetisi dengan perusahaan yang kita pilih semakin tidak relevan.

Selain tentang parit parit itu kemudian kita akan dibawa untuk membentuk mindset kita soal uang agar kita dapat mengendalikan rasa rakus dan ketakutan kita dalam berinvestasi sehingga tidak terjun pada dunia perjudian yang spekulatif alih alih berinvestasi sungguhan. Penentuan harga masuk akal dari sebuah perusahaan juga diajarkan di sini, meski ku agak agak lupa pada bagian ini. Agaknya memang buku ini merupakan jenis buku untuk dicoba coba terus ya tidak hanya dibaca saja. 

Oia pada dasarnya buku ini mengajari kita dalam berinvestasi untuk berpegang pada nilai dan cerita perusahaan. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu pembangun kita untuk melakukan aksi jual bilamana nilai dan cerita dari perusahaan yang kita pegang tersebut sudah tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Kesimpulan Saya tentang  Buku Invested, 12 Bulan Menuju Financial Freedom karya Danielle Town

Pada dasarnya buku ini adalah bacaan yang menarik bagi kita kita yang baru terjun ke dunia investasi. Dengan berbagai cara penyampaiannya yang seperti membaca novel, dalam buku ini tidak langsung memberikan kita indeks indeks, angka, rasio atau apapun itu yang biasa kita sering dengar dalam diskusi diskusi terkait investasi. Yang saya rasa pemula seperti saya akan cukup tidak nyaman dengan berbagai ketidaktahuan dan ketidakpahaman itu.

Buku ini setidaknya telah berusaha untuk mengajak kita memahami konsep dari berinvestasi nilai dengan lebih baik yang pasarnya mungkin untuk orang orang yang awam seperti saya. Karena target pasar level awam tersebut, mungkin bagi sebagian orang buku ini akan tampak menjemukan. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang investasi nilai secara holistik, buku ini pun menganjurkan kita untuk membaca beberapa buku lainnya.

Satu kekurangan yang saya rasakan dalam buku ini, karena cara penyampaiannya yang diusahakan menyerupai novel dengan berbagai konflik batin pada karakter didalamnya membuat buku ini terkadang kehilangan arah dan membahas hal hal yang sebenarnya tidak bermanfaat untuk dibahas. Dan ketika masuk kembali ke topik yang lebih serius sayangnya sedikit miss dan terasa ada bagian yang hilang. Khususnya pada bagian perhitungan nilai. Kenapa sang tokoh tiba tiba menjadi cerdas dalam berhitung dan menjelaskan pada para pembaca cara menghitungnya alih alih bertindak sebagai pihak yang seharusnya diajari oleh ayahnya? Jikalau sang tokoh bisa karena hal hal yang dilatih sebelumnya sepertinya kurang beberapa bagian untuk menjelaskan terlebih dahulu kenapa bisa jadi demikian.

Itu saja si yang bisa saya komentari terkait buku ini. Kembali lagi kalau harus menilai, rasanya cukup masuk akal bila saya menilai buku ini masuk pada bintang 4 dari 5 bintang. Dan saya merekomendasikan untuk membaca buku ini kepada teman teman yang baru masuk ke dunia investasi. Untuk yang sudah lama (senior) kurang disarankan sih.

Sekian dari saya, akhir kata saya ucapkan terimakasih untuk teman teman yang rela membaca tulisan saya yang cukup panjang ini. Saya tahu itu sulit dan butuh effort yang besar yah.

Salam hangat dari saya

Dewa Putu A.M.

Leave a Reply

Related Posts
Total
1
Share