Dark Light
Photo by Uriel Mont from Pexels
“Sudut pandangku tentang mereka
Yang banyak tanya tanpa membaca
Katanya sekolah, tapi otaknya mana?
Tolong dirubah pola fikirnya”
-eńau,  Negara Lucu-

Sebuah lirik lagu yang cukup menyindir saya. Miris namun mau bagaimana lagi kan ya, kadang saya tidak luput dari sebuah perasaan yang menggap mengetahui segala hal. Dari kondisi sosial ekonomi negara kita, saham, teknologi terkini, kesehatan, psikologi dan apapun yang orang bicarakan meski kecil suka atau tidak suka selalu ada keinginan untuk dapat terlibat dalam perbincangan bahkan untuk debat pun kita siap. Tentunya dengan “sedikit” bantuan gawai yang terkoneksi dengan internet.

Halo semua, selamat berakhir pekan kawan, semoga semua sehat ya dalam kondisi sekarang. Jangan lupa banyak minum air putih, makan makanan yang sehat dan rajin olah raga ya. Masih terkait pada paragraf sebelumnya kali ini saya akan berbagi review saya tentang sebuah buku soal masalah “kepakaran kita”. Jika dirunut dari kepemilikan buku ini, pada dasarnya saya sudah punya dari kisaran tahun 2018 an namun masih dalam versi ebook, itu pun diberikan rekomendasi oleh salah satu teman saya di kantor yang lama.

Awal melihat, saya cukup tertarik namun hanya dibaca beberapa lembar saja dan saya tidak tahu mengapa tiba tiba malah beralih ke buku buku lainnya jadi terlupakan gitu aja. Hingga sampai satu atau dua tahun lagi akhirnya saya justru menemukan lagi yang kali ini berbahasa Indonesia. Beberapa kali saya tetap melewatkan buku ini dan membaca buku buku lainnya baru kemudian bulan juni lalu saya berkeinginan dan akhirnya membeli buku ini.

Dari segi fisik buku ini masuk kategori buku yang tidak terlalu tipis juga tidak terlalu tebal, rata rata kebanyakan buku sekarang yang ketebalannya hanya mencapai 300 lembar. Meskipun dari sisi desain cover saya termasuk orang yang kurang begitu puas. Namun secara umum dari sisi isinya buku ini termasuk oke dan banyak memberikan saya beberapa pandangan baru tentang fenomena “kematian Kepakaran” yang rasanya sudah lama sekali kita rasakan dan saya pun merasa sedikit khawatir dan cukup jengah dengan keadaan yang seperti ini.

Banyak gagasan menarik yang saya setujui dari buku ini, namun harus saya akui juga bahwa ada beberapa yang saya kurang setuju lebih kepada tendensinya saja. Saya kurang begitu suka suasana yang dibawakan penulis ke buku ini yang menurut saya seperti seorang “penggerutu yang pesimistis”. Meski si penulis juga mengakui hal tersebut dan memberikan satu bagian yang berisi hal hal positif tetapi saya rasa itu masih kurang cukup signifikan untuk menggantikan kesan yang sudah dibangun penulis pada setiap babnya.

Setiap Pendapat Sama baiknya Dengan Pendapat yang Lain?

Photo by freestocks.org from Pexels

Permasalahan awal yang diutarakan oleh penulis adalah kegelisahannya tentang berbagai fenomena yang berkembang di sekitar kita saat ini dimana banyak sekali orang berperan sebagai ahli. Dari murid, mahasiswa bahkan tidak jarang orang tua murid yang dengan segala kemahatahuannya mengajari guru atau dosen bagaimana mengajar yang baik dan benar hingga pada hal hal yang sebenarnya berbahaya  namun tetap dilakukan seperti orang orang yang dengan pengetahuan dan pemahaman luar biasanya “dari grup facebook, atau sekedar video youtube” beranggapan memahami ilmu kesehatan dan dalam situasi pandemi ini sebenarnya akan cukup mengerikan dampaknya yang tidak hanya berdampak pada kerugian diri sendiri bahkan bisa membahayakan nyawa orang lain. Dalam situasi yang sangat apes hal hal seperti ini bukan tidak mungkin akan berdampak hingga pada tumbangnya sistem kesehatan suatu wilayah yang semoga hal itu tidak terjadi ya.

Saat ini, entah itu atas nama “Demokrasi” atau hal lainnya. Kita diberikan kebebasan yang besar untuk mengutarakan berpendapat. Meskipun yang dibahas kasus kasus yang terjadi di Amerika tapi kondisinya ternyata tidak terlalu berbeda dengan apa yang terjadi saat ini di negeri kita. Atas nama demokrasi seringkali kita menganggap bahwa Setiap Pendapat Sama baiknya Dengan Pendapat yang Lain. 

Baik soal Sains maupun kebijakan, kesemua fenomena ini memiliki ciri menggelisahkan yang sama: pemaksaan bersifat solipsis yang menuntut agar semua pendapat diperlakukan sebagai kebenaran. Ketidaksetujuan seseorang seringkali diartikan tidak menghormati. Mengoreksi orang lain juga sering diartikan penghinaan. Kita yang menolak untuk mempertimbangkan pemikiran orang lain, betapapun pandangan itu tak masuk akal dan mengada ngada bisa dikatakan bahwa pikiran kita masih belum begitu luas.

Perkembangan Dunia Kampus yang Meresahkan dan Mempercepat Kematian dari Kepakaran

Photo by RF._.studio from Pexels

Perkembangan dunia kampus/ perguruan tinggi  juga tidak luput dari pembahasan dan dianggap menjadi salah satu penyebab matinya kepakaran kita. Bahkan dalam salah satu babnya Tom Nichols menuliskan bahwa “Perguruan tinggi kini dipasarkan seperti paket liburan selama beberapa tahun, bukan sebagai kontrak dengan institusi dan dosen untuk perjalanan pendidikan.

Model industri pendidikan telah merendahkan perguruan tinggi menjadi sekedar transaksi komersial, tempat mahasiswa diajarkan menjadi konsumen pemilih dan bukannya pemikir kritis. Itu semua membuat  kepakaran goyah, sekaligus memperkuat perlawanan terhadap ilmu yang telah mapan.

Cara pandang seperti ini membuat beberapa universitas bahkan memberikan kemudahan yang sangat besar bagi mahasiswa dalam mendapatkan nilai sehingga terjadi inflasi rataan nilai yang signifikan. Nilai kini tidak lagi berfungsi sebagai alat ukur kita dalam melihat sejauh mana seseorang memahami sebuah konsep namun lebih kepada daftar bahwa mahasiswa tersebut pernah bertemu konsep tersebut. 

Terlepas ia paham ataupun tidak. Hal ini tidak bisa kita salahkan kepada para dosen saja karena kalau mereka memberikan nilai yang benar benar objektif maka banyak implikasi yang mereka dapat dan juga pada kampus yang menjadi kurang diminati oleh mahasiswa. Sebagai pelanggan di toko pendidikan ini, mahasiswa selalu benar.

Kemudahan dalam mendapat  gelar membuat beberapa orang seperti kita terkena semacam delusi yang menganggap kita memahami dan sudah masuk kedalam kriteria “Pakar” (termasuk saya ini hehehe) meski pada kenyataannya tidak demikian mudah. Kampus pun kemudian menjelma dari sebelumnya merupakan suatu ekosistem pembelajaran dimana para mahasiswa dan dosen dapat bertukar gagasan dan pemikiran secara intens kini berubah menjadi badan usaha yang lebih “usaha”.

Simpulan dari Buku Keluh Kesah “Pakar” akan Kematiannya yang Menyedihkan

Photo by Polina Zimmerman from Pexels

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, Melalui buku ini saya mendapatkan banyak sekali gagasan yang menurut saya baru. Banyak aha momen yang saya dapat dari buku ini dan memberikan saya perspektif yang bahkan sebagian besar justru meruntuhkan pola pandang saya yang lama. Salah satu gagasan yang menurut saya menarik adalah tentang kondisi pendidikan tinggi yang juga sedikit saya bahas di sini.

Itu baru dari sisi sistem pendidikan. Dalam buku ini dibahas bagaimana percakapan keseharian kita, algoritma dalam mesin pencari (internet), gaya baru dari jurnalisme, hingga apa yang sekarang ini dilakukan para pakar justru semakin mendekatkan kita kepada “Kematian Kepakaran”. Hampir semua gagasan disini mengarahkan kita ke satu arah yang jelas bahwa kematian kepakaran itu sudah ada di depan mata kita dan terus berlangsung tidak peduli secara sadar ataupun tidak kita sadari yang kita lakukan sekarang justru mempercepatnya.

“Termasuk apa yang penulis lakukan dengan menulis buku ini”, atau mungkin termasuk yang saya lakukan dengan menulis ulasan tentang buku ini. Termasuk juga yang teman teman lakukan saat membaca tulisan saya di blog ini. Semua saja seperti itu ya hahaha. 

Kalau saya simpulkan, pada dasarnya buku ini sangat bagus untuk kita baca sebagai  pengingat dan meningkatkan kehati hatian kita agar apa yang terjadi sekarang dapat kita antisipasi dampaknya. Dan juga agar kita tidak terlalu terjerembab ke dalam hal hal negatif yang penulis banyak paparkan. Pada awalnya saya memang menyukai semua gagasan yang diberikan namun kemudian saya sejenak tersadar satu hal.

“Satu satunya hal yang tidak akan berubah adalah perubahan itu sendiri. Termasuk apa yang kita sebut dengan kepakaran. Kepakaran menurut saya tidak akan mati, namun akan bergeser dan berubah definisinya sesuai dengan perkembangan zaman”

Apa yang perlu kita lakukan bukan pada menyinyir segala kelemahan sistem serta kekurangan situasi yang ada di sekitar kita. Namun menurut saya kita lebih semestinya ikut memilih dan memilah lagi apa yang memang ada di dalam kendali kita “kepakaran kita” dan mengusahakan agar pergeseran definisi ini tidak merusak tujuan utama dari kepakaran itu sendiri untuk bermanfaat dan tetap memanusiakan manusia.

Sekian tulisan dari saya kali ini. Terimakasih atas kesediaan waktu teman teman sekalian untuk sekedar membaca tulisan saya yang hanya seorang remah remah rengginang ini.

Salam

Dewa Putu A.M.

Leave a Reply

Related Posts
Total
1
Share