Dark Light

Hari ini kita mengobrol ringan saja ya. Saya ingin cerita tentang film Netflix yang beberapa hari lalu sempat saya tonton. Secara ringkas film ini bercerita tentang sebuah permainan mematikan yang diikuti oleh ratusan orang demi mendapatkan hadiah yang sangat besar (₩45.6 billion) atau sekitar Rp 554,496,000,000. Tentunya angka ini jumlah yang sangat besar. Untuk mendapatkan hadiah sebesar itu para peserta diharuskan memainkan enam macam permainan tradisional anak-anak Korea Selatan. Namun, high return tentunya ada high risk yang harus dihadapi bagi masing-masing peserta (kematian).

Dari konsep permainan mematikannya tersebut, bahkan dari permainan awal yang ditunjukkan film ini mirip dengan film “As the Gods Will” (2014) karya Takashi Miike. Konsep permainan mematikan sebenarnya banyak di jadikan tema sebuah film sebut saja beberapa yang pernah saya tonton Bettle Royal (2000 dan 2003) lalu As the Gods Will (2014), Alice in Borderland (2020).

Oh ia, film Saw juga bisalah dikategorikan sebagai film dengan konsep permainan mematikan. Namun konsep yang memadukan permainan anak-anak dengan aturan yang mematikan ya saya rasa saya baru menemukan dua film ini saja Squid Game dan As the Gods Will.

Terlepas dari kemiripan tema tadi, Squid Game tetap memberikan sentuhan yang berbeda tidak hanya parade merah darah saja yang ditampilkan tetapi lebih dari itu film ini memberikan kita berbagai konflik internal dari para pemainnya yang menarik untuk diikuti.

Uang, uang dan uang semua berawal dari keterpurukan finasial dari para aktor

Topeng panitianya macam kayak kartun golongan darah bukan sik hehehe. Sumber Gambar: SINDOnews

Permasalahan finansial menjadi trigger utama yang disajikan dalam film ini. Tokoh utama dan setiap pemain diceritakan memiliki permasalahan finansial yang saya rasa bisa saja kita alami jika kita tidak berhati hati dalam tindakan kita. Dari aktor utama yang terkena PHK dan kecanduan judi mengakibatkan ia harus terjerat dengan hutang yang sangat besar sehingga dia kemudian menggadaikan organ tubuhnya sebagai jaminan pelunasan hutang yang sudah berjibun tersebut.

Dibalik permasalahan untuk melunasi hutang hutangnya yang sangat besar. Seong Gi Hun (yang diperankan oleh Lee Jung Jae) juga harus menghadapi fakta bahwa anak kandungnya yang saat ini hak asuhnya dimiliki oleh sang istri akan dibawa ke Luar Negeri sehingga ia akan kesulitan untuk menemuinya. Untuk mendapatkan lagi hak asuhnya ia harus dinyatakan layak untuk memenuhi kehidupan sang anak (yah jika dilihat dari kisahnya tentu hal tersebut akan berat) mengingat untuk menghidupi dirinya sendiri saja akan sulit dalam situasi tersebut. Terlebih ibu nya juga ternyata mengalami sakit keras yang membutuhkan banyak biaya untuk berobat.

Ditengah permasalahan yang rumit tersebut ia akhirnya diajak dalam sebuah permainan yang pada mulanya ia tidak percaya akan ada permainan yang bisa memberikannya banyak uang. Untuk ini cukup masuk akal, si orang-orang dalam kenyataan pasti akan berpikir mengada ngada jika ditawarkan sebuah permainan tersebut.

Pada awalnya Seong Gi Hun ragu. Namun seiring dengan permasalahannya yang sulit untuk ditangani akhirnya ia mencoba peruntungan. pada mulanya dia masih belum memahami ia terlibat dalam permainan yang mematikan. Hingga saat permainan pertama dan melihat setengah dari jumlah peserta tewas dengan cara yang mengenaskan konflik mulai menjadi jadi.

Permainan yang pada dasarnya tidak ada unsur pemaksaan tersebut masih mengizinkan para pemainnya untuk berunding dan mengadakan pooling apakah masih ingin melanjutkan permainan atau tidak. Jika peserta yang ingin menyudahi permainan lebih banyak maka para pemain akan dipulangkan tanpa mendapatkan hadiah sepeser pun dan para peserta yang kalah (tewas0 akan dikirimkan uang sebesar 100juta won. Namun jika dilanjutkan maka setiap peserta yang tewas akan menggandakan jumlah hadiah.

Meski setelah permainan pertama para peserta ternyata memilih menyelesaikan permainan. Namun kemudian, ternyata sebagian peserta yang dikirimkan surat undangan lagi dan terimpit masalah yang sangat besar akhirnya pasrah dan mengikuti permainan itu kembali. Yah, karena uang akhirnya mereka kembali ke dalam permainan tersebut meskipun tahu bahwa nyawa mereka yang menjadi taruhannya.

Dari sini kita melihat, walau uang bukanlah segala galanya. Tetapi dengan sistem yang sekarang kita juga tidak bisa munafik dan harus mengakui bahwa banyak permasalahan sulit kita selesaikan dengan ketiadaan uang. Namun tentunya bijak dalam memaknai uang juga perlu kita tanamkan tentunya sehingga apa yang kita lakukan bukan serta merta dikendalikan oleh uang (luar biasa :0 ).

Ide Cerita dan cara penyampaian yang super Namun alur yang mudah di tebak bahkan dari awal cerita.

Jika mengikuti keseluruhan dari isi cerita, boleh dikatakan bahwa alur dari cerita ini sangat mudah untuk ditebak. Meskipun beberapa tokoh sempat di sembunyikan identitasnya namun bagi yang sudah terbiasa dengan pola pola yang demikian maka akan mudah untuk menebak siapa sosok di balik permainan tersebut.

Namun terlepas dari arah alur cerita yang mudah ditebak. Salah satu keunggulan dari film ini adalah cara penyampaian cerita dari film ini. Masing-masing karakter menurut saya memiliki kisah yang menarik disertai dengan konflik internal yang menurut saya cukup dalam di jabarkan sehingga “sedikit” masuk akal bilamana mereka dengan sukarela memainkan permainan berbahaya yang bisa kapan saja membunuh mereka demi uang yang begitu besar. Tokoh-tokoh ini menurut saya cukup mewakilkan watak watak yang bisa saja ada dalam diri kita jika berhadapan dengan permasalahan uang yang pelik.

Lee Jung‑jae sebagai Seong Gi‑Hun (Sumber Gambar allkpop)

Dari sang tokoh utama yang dengan lilitan hutangnya karena ia sangat suka berjudi. Bahkan lebih parahnya lagi ia mencuri uang simpanan dan juga mencairkan asuransi ibunya untuk berjudi. Ia memiliki hidup yang berantakan di mana ia sudah bercerai dengan istrinya dan terancam tidak dapat lagi bertemu dengan anak kandungnya karena istri dan anaknya akan pindah ke luar negeri (Amerika). Seiring berjalannya cerita dijelaskan berbagai masa lalunya yang kemudian membuatnya terjerat dalam hutang yang banyak hingga harus menggadaikan organ tubuhnya.

Ada yang menarik dari karakter dari tokoh utama ini. Ia tampak polos dan baik hampir ke semua orang. Bahkan dari kebaikannya itu terkadang justru mengharuskan dirinya terjebak dalam situasi yang sulit (People Pleasure banget). Namun dalam satu situasi akhirnya dia harus berbuat hal yang di luar nilai-nilainya yang menyebabkan pergolakan yang besar dan membuatnya sangat terguncang (di permainan kelereng). karakter ini tidak begitu konsisten sih, dari semulanya yang penjudi berat dan tega dengan ibunya tapi kenapa dia baik benar sama kakek-kakek yang out of no where ia kenali di dalam permainan?

Cho Sang‑woo sahabat tokoh utama anak emas lulusan universitas ternama dan selalu dibicarakan ibu dan tetangga tetangganya. 🙂 Kalau saya lihat anak emas ini terjebak dalam stereotip “orang cerdas yang harus sukses dan sempurna”. Ia terlihat tidak begitu nyaman dengan orang-orang di sekitarnya yang terus menyanjungnya. Ia mengikuti permainan mematikan itu karena ketamakannya yang membuatnya akhirnya terlilit hutang karena investasi bodong.

Kang Sae‑byeok gadis dari Korea Utara yang memerlukan uang untuk menyelamatkan membawa ibunya dari Korea Utara dan beberapa tokoh lainnya memiliki sifat dan permasalahan nya masing masing (tentunya dalam hal keuangan).

Kesimpulan “Review” Film Squid Games

Oke dari sisi design si karakter karakternya tidak bisa dipungkiri kalau film Squid Games memang bagus dan cakep banget. Saya suka design dari panitia panitianya dan suaranya yang seperti kroco-kroconya film power ranger juga mirip dengan kartun golongan darah khususnya Golongan darah “O”. yang notabenya juga berasal dari Korea Selatan.

Kira kira seperti ini Komik Golongan Darah dari Dongsun Park

Secara keseluruhan Film Squid Game menurut saya cocok mendapat nilai 7.5 dari 10. Dari sisi ide cerita menurut saya cukup menarik dan sifat dari masing-masing karakter yang cukup beraneka ragam. Meskipun dari sisi permainannya saya masih kurang begitu suka, esensi permainannya menurut saya justru tertutup dengan pergolakan batin dari para peserta dan kurang seru dah terlihat seperti permainan-permainan pemanis suasana saja. Selain itu juga ada beberapa yang tidak konsisten si idenya dari permainan yang menjunjung keadilan dan sportivitas.

Kalau dari kalian ada yang sedang mencari film film survval dengan drama yang kental film ini dengan senang hati akan saya rekomendasikan. Namun jangan berharap akan disajikan cara main yang penuh dengan strategi ya. Walau ada sebagian kecil, khususnya pada saat tarik tambang. Namun permainan lainnya yah gitu aja hanya bertabur darah saja.

Sekian dulu tulisan dari saya kali ini, Salam hangat dan salam sehat untuk kita semua. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya 🙂

Salam

Dewa Putu A.M.

Leave a Reply

Related Posts
Total
1
Share